Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Jumlah pilihan untuk restorasi tidak langsung telah sangat


berkembang selama dekade terakhir. Dalam literatur, fungsi
utama dari semen dental adalah untuk mengisi ruang antara
bahan restorasi (definitif atau sementara) dan preparasi gigi
(atau implan sebagai sandaran), serta untuk meningkatkan
ketahanan

terhadap

restorasi

dislodgement

selama

fungsi.

Sangat penting, keberhasilan jangka panjang dari restorasi


sangat tergantung pada pilihan dan manipulasi semen gigi yang
tepat. Kehilangan retensi telah ditemukan menjadi salah satu
penyebab paling umum dari kegagalan restorasi.
Dalam literatur, meskipun istilah semen, luting,

bond

memiliki arti yang berbeda, istilah ini telah sering ditukar dalam
kondisi tertentu. Luting mengacu pada mekanisme dimana ikatan
mikromekanik terjadi antara objek yang akan berikatan. Bonding
adalah istilah bahwa interaksi kimia atau fisika terjadi untuk
kedua permukaan yang akan terikat. Semen adalah istilah umum
untuk suatu media adhesif sebagai pengikat dan/atau ikatan
mikromekanik antara dua permukaan. Secara umum, deskripsi
yang tepat dari bahan yang menghubungkan antara bahan
restorasi dan preparasi gigi (atau implan sebagai sandaran)
berupa semen dental.

Berdasarkan ketahanan yang diharapkan dari restorasi,


semen

dental

dapat

dibagi

menjadi

kelompok:

semen

sementara (temporer) dan permanen. Semua semen permanen


dipisah dalam 2 sub kelompok: semen luting dan bonding
cement. Saat ini ada 4 tipe semen luting yang umum digunakan,
termasuk semen zink fosfat, semen zink polikarboksilat, semen
glass ionomer konvensional, dan semen resin-modified glassionomer. Satu-satunya tipe bonding cement adalah semen resin,
yang terdiri dari subtipe yang berbeda. Dengan perkembangan
teknologi material, semen dental telah berkembang menjadi
bahan yang lebih kuat dan lebih tahan lama. Pilihan semen
dental menjadi semakin rumit karena bahan yang baru dan
prosedur aplikasi yang berubah. Oleh karena itu, tujuan dari
kajian ini adalah untuk membantu para dokter memahami secara
spesifik dari semen dental yang digunakan serta semen dental
untuk aplikasi klinis.

A. SEJARAH SEMEN DENTAL


Meskipun semen dental telah berkembang dari awal yang
sederhana, saat ini dokter gigi dihadapkan dengan opsi dari
pilihan yang luas. Gambar 1 memberikan gambaran tentang
perkembangan semen gigi dari masa lalu.

Gambar 1. Gambaran tentang perkembangan semen dental dari tahun


1850 hingga sekarang

B. FAKTOR

PENTING

UNTUK

PERTIMBANGKAN

KETIKA

MEMILIH SEMEN GIGI

Idealnya,

semen

dental

harus

memenuhi

persyaratan

biologis, fisik-mekanik, dan penanganan khusus untuk membuat


retensi restorasi pada preparasi gigi atau implan sebagai
sandaran dan menjaga integritas.
Sifat diperlukan untuk sementasi, yaitu:
- Biokompatibilitas yang baik: biokompatibel dengan pulpa dan
jaringan lunak gigi;
- Sifat fisik yang baik: ketebalan film yang tepat untuk
memastikan pemasangan resotarasi yang optimal, kelarutan
yang rendah, waktu kerja yang panjang dan waktu setting yang
singkat, viskositas rendah;
- Sifat mekanik baik: kekuatan compressive yang tinggi, kekuatan
bonding yang tinggi pada struktur gigi / bahan restoratif;
- Sifat penanganan baik: mudah untuk dicampur atau dibersihkan

C. SEMEN SEMENTARA
Semen sementara terdiri dari 2 kategori yaitu kalsium
hidroksida dan semen zink oxide eugenol. Awal dari semen
dental sementara adalah semen zink oxide eugenol, yang
diciptakan pada tahun 1850-an. Semen zink oxide eugenol dibuat
dengan mencampur bubuk oksida seng dan cairan eugenol.
Selama bertahun-tahun, semen zink oxide eugenol telah sering
digunakan

untuk

sementasi

sementara.

Meskipun

telah

didokumentasikan efek obtunding pada pulpa gigi, kelemahan


utamanya, termasuk penghambatan pada polimerisasi semen
resin dan ketebalan film yang tinggi, penggunaan yang terbatas
dalam praktek klinis sekarang. Banyak peneliti menemukan
berkurangn kekuatan bonding dari semen resin saat eugenol
yang

mengandung

semen

sementara

yang

digunakan

sebelumnya. Oleh karena itu, disarankan untuk penggunaan


eugenol-free pada sementasi sementara sebelum terjadi ikatan
pada semen resin. Dahulu semen dengan eugenol-free berarti
semen masih mengandung zink oxide, saat ini ada pilihan resin
atau

polikarboksilat

sementara,

misalnya,

Cement (Shofu).

berbasis
HY-Bond

eugenol-free

sebagai

Polycarboxylate

semen

Temporaray

Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa aplikasi semen


sementara

dengan

atau

tanpa

eugenol,

mengkontaminasi

struktur gigi, yang akhirnya dapat mempengaruhi kekuatan


ikatan semen definitif. Namun, studi terbaru menemukan bahwa
kekuatan bonding dari self adhesive resin semen (RelyX UNICEM,
3M ESP E) tetap tidak berubah ketika semen sementara
digunakan sebelumnya.

D. SEMEN DEFINITIF
Di masa lalu (dan masih sampai saat ini), istilah semen
permanen telah sering digunakan ketika menggambarkan semen
gigi untuk restorasi akhir. Beberapa semen dalam kategori ini
adalah: semen zink fosfat, semen zink polikarboksilat, semen
glass ionomer, semen resin-modified glass-ionomer dan semen
resin.
1. Semen Zink Fosfat
Semen ini adalah semen dental yang memilki track record
yang sukses dalam jangka panjang lebih dari satu abad sejak
diperkenalkan

pada

tahun

1880-an.

Semen

zink

fosfat

dicampur menggunakan cairan asam fosfat, dan bubuk yang


terdiri dari zink oksida dan magnesium oksida. Meskipun
penggunaannya telah sangat menurun sangat, jumlah dari

keberhasilan klinis secara signifikan

membuat semen zink

fosfat masih tersedia di banyak negara berkembang.


Semen zink fosfat kurang memilki ikatan kimia dengan
struktur gigi, kekuatan compressive yang sedang, dan
memilki tingkat kelarutan tinggi (0,36%). Setelah dicampur,
semen zink fosfat menunjukkan pH rendah yaitu 2. pH
kemudian meningkat dan mencapai 5,5 setelah 24 jam.
Meskipun

pH

awal

rendah,

Brannstrom

dan

Nyborg

melaporkan bahwa semen zink fosfat tidak memiliki efek


iritasi pada pulpa dan efek potensi iritasi daro semen zink
fosfat mungkin disebabkan oleh bakteri yang tersisa pada
permukaan gigi yang dipreparasi.
Namun, dalam praktek klinis, preparasi gigi dengan
Residual

Dentin

Thickness

(RDT)

yang

rendah

saat

disementasi dengan menggunakan semen zink fosfat dapat


menimbulkan sensitivitas selama dan setelah sementasi.
Karena sejarah panjang penggunaannya, semen seng fosfat
dianggap sebagai gold standard dibanding dengan semen
definitif lainnya. Fungsi dari semen fosfat adalah sebagai
bahan tambalan sementara, sebagai bahan basis dan liner,
sebagai bahan perekat inlay, jembatan dan pasak inti.
2. Semen Zink Polikarboksilat

Mirip

dengan

seng

semen

fosfat,

semen

zink

polikarboksilat juga merupakan semen reaksi asam-basa.


Semen ini dicampur dengan menggunakan asam poliakrilat
dan bubuk yang mengandung zink oksida dan magnesium
oksida.
Semen zink polikarboksilat, ditemukan pada tahun 1968,
adalah semen pertama menunjukkan adanya ikatan kimia
dengan struktur gigi. Keuntungan terbesar dari semen ini
adalah biokompatibilitas baik dengan pulpa gigi yang berasal
dari molekul dari asam poliakrilat yang besar dan oleh karena
itu tidak berpenetrasi ke dalam tubulus dentin.
Semen polikarboskilat yang berlebih akan lebih sulit untuk
dibuang

dibandingkan

dengan

semen

zinc

fosfat,

dan

terdapat beberapa bukti menunjukkan hal ini membuat


semen polikarboksilat memeiliki retensi yang lebih rendah
dibanding

semen

fosfat.

Penggunaannya

terbatas

pada

restorasi yang memilki retensi yang baik dan resistance form


dengan

iritasi

pulpa

yang

minimum.

Luting

agen

ini

direkomendasikan sebagai retensi preparasi jika iritasi pulpa


yang minimal.
Meskipun semen zink polikarboksilat menghasilkan ikatan
kimia dengan enamel dan dentin, penggunaannya telah
berkurang selama bertahun-tahun. Durelon (3M ESPE) dan

Tylok

Plus

(Dentsply)

adalah

contoh

dari

semen

zink

polikarboksilat. Fungsi dari semen polikarboksilat adalah


digunakan pada mahkota dan jembatan, serta pada inlay dan
onlay.
3. Semen glass ionomer
Semen ini adhesif dengan enamel dan dentin, serta
memiliki biokompatibilitas yang baik. Selain itu, semen ini
melepaskan

fluor

yang

memilki

efek

antikariogenik,

meskipun belum dikethaui secara klinis. Pada saat setting,


semen ini terlihat transluen, dimana hal ini menguntungkan
pada penggunaan proselen di bagain labial.
Sifat mekanis dari GIC umumnya lebih tinggi dibanding
semeng fosfat dan semen polikarboksialt. Kelemahannya
adalah, selama setting GIC mudah terkontaminasi, dan harus
dilapisi dengan coating agent (seperti Ketac Glaze, 3M ESPE)
atau petroleum gel atau denggan menempatkan band pada
semen selama 10 menit.
Walapun GI dapat menyebabkan sensitivitas tapi terlihat
sedikit respon pulpa khususnya jika ketebalan dentin yang
tersisa melebihi 1m. Efek samping seperti senstivitas pada
pasca

perawatan

dianggap

karena

kurangnya

biokompatibilitas yang berakibat pada kontaminasi bakteri


dari dentin daripada iritasi semen. GI dikenal sebagai semen

untung luting logam cor. Karena memiliki material yang


bagus, dan mengandung flouride sehingga dapat mencegah
karies sekunder.
Klasifikasi Glass Ionomer Cement:
a Tipe 1: Luting cement
b Tipe 2: restorasi
c Tipe 3: lining atau base
4. Semen Resin Modified glass-ionomer
Semen Resin Modified glass-ionomer kombinasi dari
teknologi dan kimia dari resin dan semen glass ionomer.
Semen dental ini diproduksi untuk mengatasi dua kelemahan
penting dari semen glass-ionomer konvensional, mudah
terkontaminasi dan memilki tingkat kelarutan yang tinggi.
Dibandingkan dengan semen glass-ionomer konvensional,
resin-modified
peningkatan

glass-ionomer
adhesi

terhadap

semen
struktur

menunjukkan
gigi,

kekuatan

compressive yang tinggi, dan tingkat kelarutan yang rendah


dan

kemungkinan

sementasi

ketika

rendahnya

efek

mempertahankan

sensitivitas
tingkat

pasca

pengeluaran

fluoride yang tinggi yang mirip dengan semen glass-ionomer


konvensional.
Sebuah studi in vivo menunjukkan bahwa pasien dengan
sementasi restorasi dengan menggunakan semen resinmodified glass-ionomer menunjukkan tingkat sensitivitas

10

yang

rendah

pasca

sementasi

dibandingkan

dengan

pengguanaan semen glass-ionomer konvensional dan semen


zink fosfat pada semua interval waktu uji yang berbeda.
5. Resin semen
Sebagai alternatif untuk semen reaksi asam-basa, semen
resin diperkenalkan pada pertengahan 1970-an. Semen resin
berdasar pada resin bisphenol-a-glisidil metakrilat (Bis-GMA)
dan metakrilat lainnya, yang dimodifikasi dari resin komposit
(bahan restoratif). Semen resin memiliki keuntungan yaitu
kekuatan compressive/bonding yang tinggi, kelarutan yang
rendah, dan estetika. Pada penelitian sebelumnya ketebalan
film yang tinggi dianggap sebagai salah satu kelemahan
utama dari semen resin.

Meskipun beberapa bahan memiliki kontraindikasi dalam


keadaan tertentu, pilihan terbaik adalah. Pada gambar 2 dan 3
berisi perbandingan dari berbagai bahan luting agent dan daftar
indikasi yang direkomendasikan untuk semen dental, yang dapat
berfungsi sebagai panduan bagi para praktisi dalam pemilihan
semen dental. Rekomendasi ini didasarkan pada pengamatan
klinis, penelitian, dan literatur.

11

Gambar 2. Perbandingan dari berbagai luting agent (Rosenstiel, 2001)

Gambar 3. Indikasi dan kontraindikasi dari tipe luting agent


(Rosenstiel, 2001)

12

Dengan peningkatan jenis restorasi tidak langsung, pilihan


semen

gigi

telah

menjadi

lebih

dan

lebih

sulit

dan

membingungkan bagi dokter. Semen definitif atau provisional


memiliki

kelemahan

penggunaan

secara

yang
umum.

unik

yang

Dengan

dapat

mencegah

demikian,

memahami

perbedaan antara masing-masing semen dental akan sangat


memberikan kontribusi untuk keberhasilan klinis dari restorasi.
Meskipun semen zink fosfat masih digunakan dalam praktek
klinis dan bahkan dianggap sebagai gold standard, kemajuan
teknologi dental selama dekade terakhir telah menghasilkan
bahan-bahan baru, yang pada akhirnya mungkin menggantikan
semen zink fosfat dalam waktu dekat. Dalam beberapa tahun
terakhir, dengan peningkatan jenis restorasi ceramic, telah
terjadi pergeseran jenis semen yang digunakan. Semen resin
(terutama semen resin self-adhesive) telah menjadi semakin
populer, terutama karena diindikasikan untuk penggunaan yang
luas dalam praktek sehari-hari. Meskipun semen resin selfadhesive secara signifikan meningkatkan kemudahan dalam
penggunaannya,

semen

ini

tidak

harus

dianggap

sebagai

pengganti semen resin konvensional dalam segala situasi.


Dokter harus memberikan pertimbangan khusus untuk
keuntungan dan kerugian dari setiap semen gigi.

13

PEMASANGAN MAHKOTA
Hal-hal

yang

perlu

diperhatikan

pada

saat

uji

coba

pemasangan mahkota
jaket menurut Martanto (1981), antara lain:
1 Titik kontak
Seringkali mahkota

terlampau

lebar

dalam

ukuran

mesiodistal sehingga tidak dapat masuk pada tempatnya


diantara gigi-gigi sebelahnya, oleh karena itu kontak yang

14

terlalu tebal dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Untuk


memeriksa titik kontak dapat menggunakan benang gigi.
2 Adaptasi
Keakuratan (fit) dari pinggiran servikal dengan pundak
diperiksa dengan sonde. Pada bagian pundak, pinggiran
mahkota tidak boleh ada ynag menekan gusi (overhang).
Jika terdapat kelebihan, maka pinggiran servikal dapat
menjadi tempat penimbunan sisa makanan sehingga dapat
menimbulkan peradangan pada gusi.
3 Oklusi
Tidak boleh terdapat trauma oklusi. Bagian-bagian yang
terlalu tinggi dapat dicek dengan menggunakan kertas
artikulasi, adanya teraan yang lebih tebal menunjukkan
terjadinya traumatik oklusi.
4 Bentuk
Bentuk dan ukuran mahkota jaket harus disesuaikan dengan
anatomi gigi.
5 Warna
Pilihan warna semen baru dilakukan setelah syarat adaptasi
dan bentuk

terpenuhi. Warna dari mahkota jaket harus

sesuai dengan gigi asli yang ada dalam rongga mulut.

15

DAFTAR PUSTAKA
Martanto, P. 1981. Teori dan Praktek: Ilmu Mahkota dan
Jembatan
Fixed Partial Prosthodontics. Edisi2. Penerbit Alumni
Bandung
Yu, H., Ming, Z., Hui, C. Proper Selection of
Contemporary Dental
Cements. Journal of Oral Health and Dental
Management 2014, 13(1)
Rosenstiel, S. F., Martin, F. L., Junhei F. 2001.
Contemporary Fixed
Prosthodontic. 3rd ed. United States of America:
Mosby, Inc

16

MAKALAH PROSTODONSIA

PEMASANGAN MAHKOTA
Yu, H., Ming, Z., Hui, C. Proper Selection of Contemporary Dental
Cements.
Journal of Oral Health and Dental Management 2014, 13(1)

Disadur oleh:
Tyara Mekarina
160112140017

Pembimbing:
drg. Deddy Firman, M.S.

17

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2016