Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini dan
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Kerangka Dasar Konseptual.
Dalam makalah ini, kami membahas materi mengenai Kerangka DASAR Konseptual yaitu
mencakup sub-bab Tujuan Pelaporan Keuangan dan Karakteristik Kualitatif Informasi
Akuntansi
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Bandung, Februari 2016

Penulis

Daftar Isi
KATA PENGANTAR................................................................................................... 1
BAB I...................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN................................................................................................... 3
1.1.

Latar Belakang........................................................................................... 3

1.2.

Ruang Lingkup........................................................................................... 3

1.3.

Manfaat.................................................................................................... 3

1.4.

Sistematika Penulisan...................................................................................4

BAB II..................................................................................................................... 5
BAB III.................................................................................................................. 17
PENUTUP........................................................................................................... 17
3.1.

Kesimpulan............................................................................................. 17

3.2.

Saran..................................................................................................... 17

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kerangka kerja konseptual memberikan adaptasi sistematik dalam standar
akuntansi bagi lingkungan bisnis yang terus berubah. FASB menggunakan kerangka
kerja konseptual untuk membekali perkembangan standar akuntansi yang baru secara
terorganisasi dan konsisten. Disamping itu, mempelajari kerangka kerja konseptual
FASB akan memudahkan seseorang untuk mengerti dan mengantisipasi standar masa
depan. Kerangka kerja konseptual menyebutkan tujuan dari pelaporan keuangan dan
karakteristik dari informasi akuntansi yang baik, mendefinisikan dengan tepat istilahistilah yang biasa digunakan seperti asset dan pendapatan serta menyediakan petunjuk
untuk pengakuan, pengukuran, dan pelaporan keuangan yang tepat. Dengan adanya
Standard Akuntansi Keuangan (SAK) yang baru, memberikan petunjuk-petunjuk dan
aturan-aturan pelaporan keuangan yang berbeda dari sebelumnya. Sehingga diperlukan
adanya publikasi kepada seluruh pelaku akuntansi di Indonesia agar menyesuaikan
dengan peraturan baru yang berlaku.

1.2. Ruang Lingkup


Materi yang kami bahas dalam makalah ini dan yang ingin kami beritahukan
kepada para pembaca adalah mengenai Rerangka Konseptual Akuntansi, yaitu
mencakup sub-bab Tujuan Pelaporan Keuangan dan Karakteristik Kualitatif Informasi
Akuntansi.

1.3 Manfaat
1.5.1. Manfaat bagi Pembaca
Kami berharap agar para pembaca dapat mengetahui secara rinci mengenai materi yang
kami bahas, yaitu mengenai rerangka konseptual akuntansi dan mempraktekkannya di
dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan akuntansi.
1.5.2. Manfaat bagi Penulis

Sama seperti yang telah disebutkan di atas, kami selaku penulis juga harus dapat
mempelajari dan menerapkan rerangka konseptual akuntansi dalam kegiatan sehari-hari
yang berkaitan dengan akuntansi.
1.4 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan sistem bab yang terdiri dari tiga
bab disertai dengan daftar pustaka, yaitu:
Bab I
Bab II
Bab III

BAB II
Pembahasan
Kerangka Konseptual Akuntansi
Menurut FASB, kerangka konseptual merupakan suatu konstitusi, suatu sistem yang
koheren dari hubungan antara tujuan dan fundamental yang dapat mendorong standar yang
konsisten dan yang menjelaskan sifat, fungsi serta keterbatasan akuntansi keuangan dan
laporan keuangan. Tujuan akan mengindentifikasikan sasaran dan maksud akuntansi,
sedangkan fundamental adalah konsep yang mendasari akuntansi, konsep yang memberikan
petunjuk dalam memilih kejadian untuk dicatat, mengukur kejadian tersebut, meringkas dan
mengkomunikasikan pada pihak-pihak yang berkepentingan.
Hirarki Konseptual
Financial Accounting Standard Board (FASB) telah mengusulkan suatu Kerangka
Dasar Konseptual (Conceptual Framework) sebagai suatu dasar untuk menetapkan standarstandar akuntansi. Suatu diagram dengan penjelasan ditunjukkan yang menjelaskan hubungan
antara berbagai unsur dalam kerangka dasar.
Berikut merupakan rerangka dasar konseptual dari Statements of Financial
Concepts (SFAC):
SFAC 1 (November 1978)

Tujuan-tujuan

akuntansi

untuk

perusahaan

SFAC 2 (May 1980)

bisnis.
Karakteristik-karakteristikkualitatif

SFAC 3 (Desember 1980)

keuangan.
Definisi unsur-unsur laporan keuangan untuk

informasi

perusahaan bisnis. Pernyataan ini digantikan


oleh SFAC 6, yang menekankan organisasi
SFAC 4 (Desember 1980)

nirlaba di samping perusahaan bisnis.


Tujuan-tujuan
akuntansi
untuk

SFAC 5 (Desember 1984)

perusahaan bisnis.
Definisi konsep-konsep seperti pengakuan,

bukan

realisasi, dan pengukuran untuk perusahaan


bisnis memberikan pedoman pada apa yang
harus dicakup dalam laporan keuangan dan
5

waktunya.
SFAC 6 menggantikan

SFAC 6 (Desember 1985)

SFAC

dengan

mendefinisikan unsur-unsur laporan keuangan


untuk semua perusahaan.

Hirarki Unsur-Unsur dalam suatu Rerangka Dasar Konseptual untuk Akuntansi dan
Pelaporan Keuangan

Istilah-istilah dalam hirarki yang ditunjukkan pada gambar diatas didefinisikan oleh
FASB dengan cara berikut:
Tujuan adalah suatu arahan atau akhir tindakan, suatu sasaran. Tujuan merupakan
subyek dari SFAC 1.
Informasi yang dibutuhkan mencakup identifikasi kategori yang luas dari informasi
akuntansi keuangan yang dibutuhkan oleh pemakai. Contohnya, beberapa tujuan yang
disebutkan dalam Studi Tujuan berhubungan dengan jenis-jenis laporan keuangan tertentu
yang dianggap penting untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai.
Karakteristik kualitatif merupakan ciri-ciri informasi akuntansi yang cenderung
untuk menambah kegunaannya. Karakteristik kualitatif dapat diharapkan:
a. Dapat bertahan terhadap pengujian waktu;
7

b. Pervasif, yaitu berlaku bagi semua satuan usaha akuntansi;


c. Dapat diterapkan, yaitu mampu diterapkan dan peka terhadap pengujian tujuan;
Fundamental merupakan konsep-konsep dasar yang mendasari pengukuran transaksi
dan kejadian dan mengungkapkannya dalam cara yang berarti bagi pemakai informasi
akuntansi. Fundamental mencakup definisi dari suatu satuan usaha akuntansi, aktiva,
kewajiban, laba, pendapatan, beban, realisasi, dan yang lainnya.
Standar merupakan pemecahan umum atas masalah-masalah akuntansi keuangan.
Interprestasi yaitu menjernihkan, menjelaskan, atau menguraikan secara panjang
lebar standar akuntansi dan pelaporan sebagai suatu alat bantu bagi penerapannya dalam
praktik akuntansi.
Praktik merupakan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dasar dari laporan
keuangan.

Tujuan tujuan akuntansi


Kesulitan utama dengan penekanan pada proses akuntansi dan struktur pelaporan
tradisional adalah bahwa istilah-istilah akuntansi, seperti laba-bersih, pendapatan, dan
pengukuran-pengukuran, seperti biaya historis, sedikit atau tidak mempunyai makna
penafsiran pada fenomena dunia nyata. Istilah-istilah ini merupakan artifak akuntan dan
meskipun artifak semcam itu berguna dalam pembuatan prediksi fenomena dunia nyata,
bukti-bukti tidak mendukung kesahihan pembuatan struktur akuntansi itu sebagai tujuan
dasarnya.
Pernyataan-pernyataan setelah itu menekankan pendekatan semantik, yang berfokus pada
pengukuran dan pelaporan kekayaan dalam istilah yang akrab bagi seorang ekonom. APB
Statement No. 4 misalnya, menetapkan tujuan-tujuan umum pelaporan keuangan sebagai
ketentuan dari informasi keuagan yang dapat diandalkan mengenai sumber dan kewajiban
ekonomi dari suatu satuan usaha. Dalam nada yang sama, Accounting Research Study No. 1
menyatakan tujuan akuntansi adalah:

1. Untuk mengukur sumberdaya yang dimiliki oleh satuan usaha tertentu


2. Untuk menunjukkan tuntutan-tuntutan terhadap dan kepentingan dalam satuan usaha
tersebut
3. Untuk mengukur perubahan dalam sumberdaya, tuntutan dan kepentingan tersebut
4. Untuk menetapkan perubahan itu pada periode waktu yang dapat ditentukan.
5. Untukmenyatakan hal- haldiatas dalam nilai uang sebagai satuan umum.

SFAC No. 1 Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises (1978)


Menurut

SFAC

No.

1 Objectives

of

Financial

Reporting

by

Business

Enterprises (1978), Menekankan pada tujuan pelaporan keuangan perusahaan yaitu untuk
menyediakan informasi yang berguna dalam proses pengambilan keputusan bisnis dan
ekonomi. Statement ini

merupakan

turunan

dari Trueblood

Reportdengan

beberapa judgment penilaian yang lebih berorientasi pada pengguna.


Statement ini mengakui adanya heterogenitas kelompok pengguna eksternal.
Meskipun demikian, statementini menyatakan bahwa pada umumnya para pengguna
eksternal tersebut mementingkan prediksi jumlah, waktu, dan ketidakpastian aliran kas di
masa mendatang. Oleh karena itu, tujuan pelaporan keuangan perusahaan didefinisikan secara
umum dan tidak menyasar pada kepentingan satu kelompok pengguna saja.
Statement ini berasumsi bahwa pengguna laporan keuangan memiliki kemampuan
dalam membaca informasi yang terdapat didalamnya. Selain itu, statement ini juga
menyatakan pentingnya stewardship untuk menaksir seberapa baik manajemen melaksanakan
tugas dan kewajibannya kepada pemilik dan pihak lain yang berkepentingan. Berikut ini
merupakan beberapa judgment penilaian penting yang dibuat melalui laporan:
1. Manfaat penggunaan informasi lebih besar daripada biaya yang digunakan untuk
menyediakan informasi tersebut.
2. Laporan akuntansi bukan satu- satunya sumber informasi mengenai perusahaan.
3. Accrual accounting sangat berguna dalam menaksir dan memprediksi earning
power dan aliran kas suatu perusahaan.
4. Informasi yang disediakan harus bermanfaat, tapi pengguna membuat keputusan dan
penaksiran mereka sendiri.

Dokumen ini tidak menyatakan statement mana yang harus dipakai dan bagaimana
formatnya. Namun dokumen ini menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan
informasi mengenai sumber ekonomi perusahaan, kewajiban, dan ekuitas pemilik.

Tujuan Laporan Keuangan Menurut FSAB


FASB meringkaskan tujuan-tujuan yang tampak dalam pernyataan tersebut dalam cara
berikut:
Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang berguna bagi investor dan
kreditor dan pemakai lain yang sekarang dan yang potensial mengambil keputusan rasional
untuk investasi, kredit yang serupa. Informasi tersebut harus dapat dimengerti oleh mereka
yang mempunyai pemahaman yang wajar atas kegiatan bisnis dan ekonomi dan bersedia
mempelajari informasi itu dengan cukup tekun.
Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi guna membantu investor dan
kreditor dan pemakai lain yang sekarang dan yang potensial dalam menetapkan jumlah,
waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas prospektif dari dividen atau bunga dan hasil dari
penjualan, penarikan, atau jatuh tempo surat berharga atau pinjaman. Karena arus kas
investor dan kreditor berkaitan dengan arus kas perusahaan pelaporan keuangan harus
menyediakan informasi guna membantu investor, kreditor, dan pihak lain menetapkan
jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari arus mask kas bersih ke perusahaan yang
bersangkutan.
Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai sumber daya ekonomi
dari suatu satuan usaha, tuntutan terhadap sumber daya tersebut (kewajiban satuan usaha
itu untuk mentransfer sumberdaya ke satuan usaha lain dan modal pemilik), dan pengaruh
transaksi, kejadian, dan situasi yang mengubah sumber dayanya dan tuntutannya pada
sumber daya tersebut.

Kelompok Pemakai
Masalah pertama adalah mendefinisikan kelompok pemakai utama. Beberapa
beragumentasi bahwa ini adala manajemen itu sendiri. Yang lain membela pekerja, atau
pelanggan, atau publik. FASB berpendapat bahwa pemegang saham, investor lain, dan
kreditor adalah pemakai utama akuntansi.

10

Mereka menyimpan dari asumsi-asumsi mereka mengenai kelompok pemakai utama bahwa
pelaporan keuangan harus berguna untuk pengambilan keputusan investasi, kredit, dan
keputusan sejenis. Kritik-kritik menanggapi bahwa keputusan semacam itu didasarkan pada
berbagai data prakiraan yang sebagian besar bersifat ekonomi dan bahwa peran akuntansi
hanyalah untuk meneguhkan data ini. Dengan kata lain, kritikus menganggap bahwa nilai
umpan balik informasi akuntansi adalah lebih penting daripada nilai peramalan.
FASB mempersempit fokus mereka bahkan leih jauh pada investor dengan
menyatakan bahwa:
Tujuan dasarnya berasal dari kebutuhan informasi pemakai luar yang kurang berwenang
untuk menyusun informasi keuangan yang mereka inginkan dari perusahaan dan karenanya
harus menggunakan informasi yang dikomunikasikan manajemen kepada mereka.
Dengan kata lain, fokus mereka adalah pada investor yang lebih kecil. Penekanan
pada pemakai eksternal yang kurang berwenang dalam SFAC 1 dikritik atas dasar bahwa
hipotesis pasar efisien, yang dibahas dalam bab berikut, menunjukan bahwa harga pasar
saham diciptakan oleh tindakan investor yang canggih. Jika ini masalahnya, tujuan pelaporan
keuangan seharusnya tidak menyediakan informasi untuk investor dengan kewenangan dan
kemampuan terbatas, tetapi lebih untuk membuat informasi yang tersedia bagi publik yang
sebaliknya bisa digunakan untuk memperoleh laba monopoli oleh mereka yang mempunyai
akses pada informasi rahasia atau dari dalam ini.

Tujuan Pemakai
Setiap kelompok pemakai dapat mempunyai tujuan yang berbeda untuk pelaporan
keuangan, sebagai contoh, para manajer dan auditor mereka seringkali berbeda dalam
persepsi terhadap tujuan yang tepat untuk akuntansi. Ada juga perbedaan di dalam kelompokkelompok. Sebagai contoh, manajer dari banyak perusahan yang lebih kecil, bersama dengan
auditor mereka, telah diketahui merasa bahwa proses penetapan standar dipengaruhi tujuantujuan perusahaan yang lebih besar. Demikian pula, banyak manajer organisasi nirlaba
merasa proses penetapan standar membias ke arah tujuan dari perusahaan yng mencari laba.
Berbagai sudut pandang ini menunjukan keinginan untuk penyajian laporan yang berbeda

11

untuk pemakai yang berbeda, atau untuk sejumlah besar informasi, yang banyak diantaranya
mungkin tidak relevan bagi pemakai tertentu.
Jika seseorang megambil gagasan untuk memproduksi serangkaian laporan tujuan
khsusus, orang harus memilih informasi yang relevan dari berbagai model ramalan dan
keputusan untuk pemakai. Adalah mungkin untuk menentukan model keputusan mana yang
sedang digunakan dengan mencari bagaimana pemakai sebenarnya mengambil keputusan dan
informasi apa yang mereka inginkan. Akan tetapi, prosedur ini mungkin tidak menuntun pada
hasil yang terbaik karena pemakai dibatasi oleh informasi akuntansi yang sekarang tersedia.
Demkian pula, mereka mungkin tidak menggunakan model terbaik berdasarkan informasi
yang disediakan untuk mereka.
FASB dan AICPA mengakui bahwa kekuatan argumen-argumen yang mendukung
laporan tujuan khusus, tetapi menentang blik bahwa pemakai mempunyai cukup kesamaan
sehingga serangkaian laporan tujuan umum mencukupi. Seperti dinyatakan oleh APB
Statement No 4:
Penekanan dalam akuntansi keuangan pada informasi tujuan umum didasarkan pada
anggapan bahwa sejumlah besar pemakai membutuhkan informasi yang sama. Informasi
tujuan umum tidak dimaksudkan untuk memuaskan kebutuhan khusus dari masing-masing
pemakai.
Dengan perkataan lain, laporan tujuan umum dimaksudkan untuk memuaskan
kebutuhan sejumlah terbesar pemakai yang mungkin ada.

Akuntabilitas
Namun kesulitan lain dalam penetapan tujuan-tujuan yang tepat untuk pelaporan
keuangan adalah bahwa pemakai hanyalah satu sisi dari persamaan informasi. Informasi
mempunyai potensi untuk mempengaruhi perilaku baik pemakai maupun pemasoknya.
Karena kedua belah pihak harus dipertimbangkan dalam trasnmisi informasi tersebut, dengan
perkataan lain, seorang harus memperhitungkan juga tujuan pemasok selain tujuan penerima.
Jika tidak ada yang lain, orang harus mempertimbangkan biaya penyediaan informasi.
Profesor Carnegie, Yuji Ijiri berusaha menghimpun berbagai pihak yang bersangkutan dalam
12

suatu model akuntabilitas yang di dalamnya ia mengabarkan adaya akuntor, akuntee, dan
akuntan. Ia mengemukakan bahwa dalam:
Suatu kerangka dasar berdasarkan akuntabilitas, tujuan akuntansi adalah untuk
meyediakan suatu sistem arus informasi yang adil di antara akuntor dan akuntee.
Berdasarkan hubungan akuntabilitias yang menadasari, akuntee mempunyai hak tertentu
untuk mengetahui; pada saat yang sama rerangka dasar ini mengakui bahwa akuntor juga
mempunyai hal untuk melindungi rahasia. Lebih banyak informasi mengenai akuntor tidak
selalu lebih baik. Mungkin lebih baik dari sudut pandang akuntee tetapi tidak demikian
halnya dari keseluruhan hubungan akuntabilitas.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan


SFAC No. 2 Qualitative Characteristics of Accounting Information (1980)
SFAC No. 2 ini menempatkan kepentingan pengambil keputusan sebagai pusat
perhatian. Manfaat informasi haruslah melebihi biaya untuk menyediakannya. Dengan
demikian understandability merupakan kualitas penting yang harus dipenuhi, sekaligus
menjadi hambatan besar.
Manfaat informasi akuntansi tercermin pada besarnya manfaat yang diperoleh
pengguna untuk mengambil keputusan. Dengan demikian, besarnya manfaat informasi
akuntansi terkait dengan tujuan prediktif dan akuntabilitas. Biaya langsung informasi terkait
dengan kegiatan mengumpulkan, menyiapkan, dan menyebarkan informasi. Selain itu,
informasi (misal sesuai segmentasi) yang dipublikasi dapat merugikan perusahaan dalam
menghadapi persaingan dalam industry. Sedangkan biaya tidak langsung terkait
dengan understandability informasi. Misalnya pengungkapan tambahan seperti yang diatur
dalam SFAS No. 33 terbukti tidak atau kurang dimengerti oleh pengguna. Masalah lain yaitu
terjadinya overload informasi atau kemampuan individu dan pasar dalam menyerap dan
menggunakan informasi.

13

Biaya informasi, baik langsung maupun tidak, melibatkan konsekuensi ekonomi yang
kemudian menimbulkan masalah penilaian (valuation). Oleh karena itu, sebuah usaha
diarahkan untuk berkonsentrasi pada karakteristikrepresentational faithfulness.
Dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) Nomor 2 Tahun 1980
tentang Qualitative Characteristics of Accounting Information mengisyaratkan bahwa
informasi akuntansi yang berkualitas harus menunjukkan manfaat yang lebih besar daripada
biaya yang dikeluarkan untuk menyajikan informasi tersebut, yang mana suatu informasi
akuntansi dapat dikatakan berkualitas jika para pengguna laporan keuangan berdasarkan
pemahaman dan pengetahuan mereka masing-masing dapat mengerti dan menggunakan
informasi akuntansi yang disajikan tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan.
karakteristik berikut ini merupakan prasyaratan normatif yang diperlukan agar laporan
keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki:
1. Relevansi
Pada dasarnya informasi yang relevan adalah informasi yang mempunyaihubungan
dengan masalah yang dihadapi. Informasi yang mempunyai hubungan sedikitnya dalam tiga
cara yaitu: dengan mempengaruhi tujuan, dengan mempengaruhi pemahaman, dan dengan
mempengaruhi keputusan.
Tujuan Relevansi yaitu tercapai bila informasi memungkinkan tujuan dari pengguna
dapat dicapai. Sulit untuk menentukan kapan tercapainya karena tujuan bersifat subjektif.
Relevansi

semantik,

tercapai

apabila

penerima

informasi

memahami

arti

sesungguhnya dari informasi yang dilaporkan. Pada intinya ini merupakan syarat mutlak akan
tetapi bukan tujuan akhir.
Relevansi keputusan, Tercapai apabila fasilitas keputusan informasi dibuat untuk
pemakai.
Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya
dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa
masa lalu atau masa kini, dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi
hasil evaluasi mereka di masa lalu. Dengan demikian, informasi laporan keuangan yang
relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Informasi dapat dikatakan
relevan jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Nilai umpan balik (feedback value), Informasi memungkinkan pengguna untuk
menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.
14

b. Nilai Peramalan (predictive value), Informasi dapat membantu pengguna untuk


memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa
kini.
c. Ketepatan waktu, Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan
berguna dalam pengambilan keputusan.sebelum kehilangan kapasitas untuk
mempengaruhi keputusan.
2. Keandalan
Keandalan, karakteristik khusus keputusan lain didefinisikan dalam SFAC No. 2
sebagai :
Kualitas informasi yang menjamin bahwa informasi secara wajar bebas dari
kesalahan dan bias dan secara jujur menyajikan apa yang dimaksudkan untuk dinyatakan.
Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan
kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara jujur, serta dapat diverifikasi. Informasi
mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka
penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan dan merugikan pengguna
laporan keuangan. Informasi yang andal, menurut FASB adalah suatu fungsi dari:
a. Kejujuran Penyajian (Representational Faithfulness)
FSAB Mendefinisikan kejujuran penajian sebagai: kekesuaian atau persetujuan antara
suatu ukuran atau deskripsi dan fenomena yang dimaksudkan untuk digambarkan.
Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang
seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan.
b. Dapat Diverifikasi (verifiability),
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan apabila pengujian
dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda, hasilnya tetap menunjukkan
simpulan yang tidak berbeda jauh.
c. Netralitas,
Bias, menurut FSAB adalah kecenderungan dari suatu ukuran untuk jatuh lebih sering
pada satu sisi daripada sisi yang lain dari yang dimaksudkan bukan cenderung jatuh
secara sama pada masing masing sisi. Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan
tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu.

15

3. Daya Banding
Daya Banding didefinisikan sebagai kualitas informasi yang memungkinkan pemakai
untuk mengidentifikasikan kesamaan dan perbedaan antara dua set fenomena ekonomi. Yang
pertama sebagian bergantung pada keseragaman dan yang terakhir pada konsistensi
Keseragaman
Istilah keseragaman (uniformity) menyiratkan bahwa kejadian yang serupa
diperhitungkan kesamaanya. Menurut ahli teori akuntansi Harri Welie, Jere Francis dan
Michael Tearney membedakan antara keseragaman terbatas ( finite) dan keseragaman kaku
(rigid). Akuntansi kerugian bersyarat merupakan contoj keseragaman bersyarat.Akuntansi
Biaya penelitian dan pegembangan contoh keseragaman kaku.
Penentang utama dari keseragaman didasarkan pada pernyataan bahwa:
1. Ini akan melanggar hak-hak dan kebebasan manajemen.
2. Ini akan menempatkan akuntansi dalam jaket pengikat peraturan dan prosedur yang
akan membuat laporan keuangan kurang dapat dibandingkan.
3. Ini akan menghambat kemajuan dan mencegah
Di pihak lain, argumen untuk beberapa tingkat keseragaman adalah:
1. Berbagai macam praktik praktik yang dapat diterima membuat daya banding antara
perusahaan berbeda tidak mungkin atau setidaknya sulit.
2. Kebebasan manajemen untuk memilih metode mereka sendiri bisa menimbulkan
kemungkinan bias melalui manipulasi informasi yang dilaporkan untuk menyesuaikan
pada tujuan mereka yang mengendalikan laporan.
3. Jika sektor swasta tidak mengambil langkah langkah untuk mencapai keseragaman
yang lebih besar, hal itu bisa ditetapkan oleh SEC atau beberapa lembaga pemerintah
lain.

Konsistensi
Konsistensi dapat, dan harus, diinterpretasikan lebih luas sebagai berarti
pengungkapan, setiap periode, dari semua informasi relevan yang penting bagi pemakai
untuk prediksi. Maka konsistensi menjadi suatu sarana untuk mencapai relevansi dan
bukan tujuan dalam dirinya sendiri. Akan halnya keseragaman, konsistensi pengungkapan
lebih penting daripada konistensi prosedur.

16

Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Menururt SFAC No.1 tujuan pelaporan keuangan perusahaan yaitu untuk
menyediakan informasi yang berguna dalam proses pengambilan keputusan bisnis dan
ekonomi. Statement ini merupakan turunan dari Trueblood Reportdengan beberapa judgment
penilaian yang lebih berorientasi pada pengguna.
SFAC No.2

berkaitan dengan karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi.

Karakteristik kualitas dari kemampuan untuk dimengerti (understandability) dari informasi


akuntansi dipengaruhi oleh pengguna dan pembuat informasi akuntansi.

3.2 Saran
Kerangka Konseptual dan Pelaporan Keuangan merupakan hal penting yang sangat
perlu dipelajari dalam memahami Teori Akuntansi, oleh karena itu marilah kita tingkatkan
pengetahuan dan pemahaman kita agar mampu mengaplikasikan dalam dunia praktek
nantinya.

17