Anda di halaman 1dari 18

Makalah

MAKROPALEONTOLOGI
Formasi Geologi Regional ( L.Tilamuta 1: 250.000 )

Oleh:
Nama : Moh Rizki rahman
Nim
Dosen Pengampu

: 471413017

: Bpk. RONAL HUTAGALUNG, S.T

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2015

KATA PENGANTAR

Marilah sejenak kita pusatkan seluruh energy kehidupan untuk memuja Tuhan
Yang Maha Esa yang menguasai dan menggenggam alam semesta. Puji syukur ke
hadirat ALLAH SWT karena hanya dengan qudrat dan iradat-Nyalah kami dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktumya.Shalawat beserta salam tak
hentinya tercurah kepada nabi Muhammad S.A.W yang telah membawa kita
menuju alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Makalah ini dibuat sebagai bentuk apresiasi kegiatan perkuliahan berupa tugas
pada

mata

kuliah

MAKROPALEONTOLOGI.

Makalah

ini

dibuat

berdasarkan materi pokok yang telah disepakati dalam perkuliahan dan kami
(penulis) mendapatkan kehormatan untuk menguraikan materi ini.
Sebagai penyusun, kami merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca untuk dijadikan acuan dalam penyusunan makalah dimasa yang akan
datang.Seperti kata pepatah, Tidak ada gading yang tidak retak yakni tidak ada
manusia yang sempurna.
Akhir kata kesalahan ada untuk disadari, dan kesalahan terjadi sebagai
syarat menuju kebenaran hakiki.

Billahi Taufik Wallhidyah


Gorontalo, Mei 2015
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.....................................................................................................i
Daftar Isi..............................................................................................................ii
BAB I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................12
1.3 Tujuan.............................................................................................12
1.4 Manfaat...........................................................................................12

BAB II

Tinjauan Pustaka
2.1 Fisiografi Regional.......13
2.2 Stratigrafi Regional..16

BAB III

Pembahasan

3.1 Formasi Lokodidi...........................................................................17


3.2 Formasi Dolokapa...........................................................................24
BAB IV Kesimpulan Dan Saran
4.1 Kesimpulan......................................................................................26
4.2 saran................................................................................................27
Daftar Pustaka.......................................................................................................

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Paleontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk bentuk
kehidupan yang pernah ada pada masa lampau termasuk evolusi dan interaksi satu
dengan lainnya serta lingkungan kehidupannya (paleoekologi) selama umur bumi
atau dalam skala waktu geologi terutama yang diwakili oleh fosil.
Sebagaimana ilmu sejarah yang mencoba untuk menjelaskan sebab sebab
dibandingkan dengan melakukan percobaan untuk mengamati gejala atau
dampaknya. Berbeda dengan mempelajari hewan atau tumbuhan yang hidup di
jaman sekarang, paleontologi menggunakan fosil atau jejak organisme yang
terawetkan di dalam lapisan kerak bumi, yang terawetkan oleh proses-proses
alami, sebagai sumber utama penelitian. Oleh karena itu paleontologi dapat
diartikan sebagai ilmu mengenai fosil sebab jejak jejak kehidupan masa lalu
terekam dalam fosil. Pengamatan paleontologi sudah didokumentasikan sejak
abad ke 5 sebelum masehi, dan ilmu ini baru berkembang pada abad ke 18 setelah
Georges Cuvier menerbitkan hasil pekerjaannya dalam Perbandingan Anatomi
dan kemudian berkembang secara cepat pada abad ke 19. Fosil yang dijumpai di
China sejak tahun 1990 telah memberi informasi baru tentang yang paling awal
terjadinya evolusi binatang-binatang, awal dari ikan, dinosaurus dan evolusi
burung dan mamalia. Paleontologi pada dasarnya berada diantara batas biologi
dan geologi dan saling berbagi dengan arkeologi yang batasnya sulit untuk
ditentukan. Sebagai pengetahuan, paleontologi juga berkembang menjadi
beberapa sub bagian, beberapa diantaranya mengfokuskan pada perbedaan
organisme fosil sedangkan lainnya menghususkan pada ekologi dan sejarah
lingkungannya, seperti iklim masa purba.
Tubuh fosil dan jejak fosil adalah merupakan bukti utama dari kehidupan
masa lampau, dan bukti geokimia dapat membantu untuk mengetahui evolusi dari
kehidupan sebelum organisme yang cukup besar tinggal sebagai fosil.
Memperkirakan umur dari sisa sisa adalah hal yang penting akan tetapi sulit,
kadangkala

lapisan

batuan

yang

bersebelahan

dimungkinkan

dilakukan

penanggalan radometrik yang memberikan umur absolut dengan akurasi dalam


0.5%, akan tetapi seringkali para ahli paleonotologi bergantung pada umur relatif
dalam menentukannya melalui biostratigrafi.
Untuk mengklasifikasi organisme purba pada umumnya sangat sulit,
kebanyakan organisme purba tidak cocok dengan Taksonomi Linnean yang
biasa dipakai untuk mengklasifikasikan kehidupan organisme dan para ahli
paleontologi

lebih

sering

menggunakan

klasifikasi

Cladistic

untuk

menggambarkan evolusinya melalui family trees. Taksonomi Linnaean adalah


bentuk khusus dari klasifikasi biologi (taksonomi) yang dibuat oleh Carl Linnaeus
sebagaimana disusun dalam bukunya Systema Naturae (1735) serta hasil
penelitiannya pada tahun tahun berikutnya. Dalam taksonomi dari Linneaeus
terdapat 3 Kingdom yang dibagi menjadi Kelas dan kemudian dibagi lagi menjadi
Orde, Famili, Genus, dan Spesies serta tingkatan yang lebih rendah dari
Spesies.Klasifikasi organisme yang didasarkan pada taksonomi secara tradisional
merupakan klasifikasi ilmiah. Istilah ini khususnya digunakan untuk membedakan
dengan Sistematika Cladistic.

1.2 RUMUSAN MASALAH

2. Bagaimana menentukan lingkungan pengendapan batuan didasarkan atas


sifat dan ekologi kehidupan fosil yang dikandung dalam batuan tersebut. ?
3. Bagaimana menentukan umur relatif batuan yang terdapat di alam
didasarkan atas kandungan fosilnya.?
4. Bagaimana menentukan anggota fosil serta menentukan umur fosil
tersebut.?
1.3 TUJUAN
1. Mahasiswa

mampu

menentukan

lingkungan

pengendapan

batuan

didasarkan atas sifat dan ekologi kehidupan fosil yang dikandung dalam
batuan tersebut.
2. Mahasiswa mampu menentukan umur relatif batuan yang terdapat di alam
didasarkan atas kandungan fosilnya.
3. Mahasiswa mampu mendeskripsikan anggota fosil serta menentukan umur
fosil tersebut
1.4 MANFAAT
Hasil dari makalah ini di harapkan dapat memberikan manfaat kepada semua
pihak,khususnya kepada mahasiswa untuk menambah ilmu pengetahuan dan
wawasan lebih tinggi,manfaat lain dari penulisan makalah ini adalah dengan
adanya penulisan makalah ini di harapkan dapat di jadikann acuan bagi para
mahasiswa untuk memotifasi para mahasiswa agar perkuliahan lebih baik lagi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Geologi Regional ( L.Tilamuta 1: 250.000 )


Gambar 4. L.Tilamuta ( 1 : 250.000 )

Secara regional, daerah ini termasuk dalam proses terbentuknya pulau


Sulawesi, dimana secara tektonik pulau Sulawesi terbentuk karena bertemunya
lempeng besar yakni ; lempeng India-Australia dibagian barat dan barat daya
bergerak relative ke timur laut, Lempeng erausia dibagian barat laut yang relative
stabil dan lempeng pasifik dibagian timur yang bergerak ke barat laut, Lempeng
kecil yakni ; Lempeng Filipina di bagian timur laut yang bergerak ke arah barat.
Pulau Sulawesi terletak pada zona pertemuan di antara tiga pergerakan
lempeng besar yang bertemu secara konvergen. Konvergensi ini menimbulkan
pengembangan semua jenis struktur di semua skala, termasuk subduksi dan zona
tumbukan, sesar dan thrust (Pasau dan Tanauma, 2011). Sesar Gorontalo
merupakan sesar mendatar dekstral (Katili, 1969; Sukamto, 1975)-anonim- yang
berlawanan arah dengan Sesar Palu Koro dan pola sesar sungkupnya yang
memperlihatkan arah yang konsekuen terhadap platform Banggai Sula sehingga

memberikan gambaran adanya kemungkinan kompresi mendatar yang disebabkan


oleh dorongan platform Banggai Sula kearah barat.
1.2 Statigrafi Regional
FORMASI LOKODIDI : Konglomerat, batupasir, batupasir
konglomeratan,

batupasir

tufan,

tuf,

batulempung,

serpih

hitam.satuan ini tersingkap baik di desa lokodidi di daerah pantai utara, bagian
barat lembar tilamuta, di lembah S.Malango bagian hulu,dan di daerah teluk
kwandang,tebal formasi ini kurang lebih 100 m.
FORMASI DOLOKAPA

batupasir wake, batulanau,

batulumpur, konglomerat, tuf, tuf lapilli, aglomerat, breksi


gunungapi, lava andesit sampai basal.satuan ini mempunyai sebaran yang cukup
luas, terdapat di bagian tengah dan utara daerah telitian,yaitu paleleh hingga
daerah kwandang.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1

FORMASI LOKODIDI
Satuan formasi ini tersingkap baik di desa lokodidi di daerah pantai utara,

bagian barat lembar tilamuta, di lembah S.Malango bagian hulu,dan di daerah


teluk kwandang,tebal formasi ini kurang lebih 100 m.umumnya memilki satuan
batuan berupa Konglomerat, batupasir, batupasir konglomeratan, batupasir tufan,
tuf, batulempung, serpih hitam.
Konglomerat berwarna coklat tersusun oleh kepingan batugamping,
andesit,dan kuarsa susu yang berukuran kerikil hingga kerakal, berbentuk
membulat,dengan masadasar tuf,terpilah buruk dengan kemas tertutup.
Batupasir berwarnah abu hingga coklat kemerahan, berbutir halus hingga
sedang.umumnya

kompak,

merupakan

sisipan

di

antara

serpih

dan

konglomerat.batuan ini bersifat konglomerat, berwarna abu-abu, tersusun oleh


butiran batuan andesit dan basal, berukuran 0,5-5 cm, terpilah buruk, bersifat
gampingan.
Batupasir tufan dan tuf berwarna putih hingga abu-abu muda, berbutir
sedang, dan agak kompak.batulempung berwarna abu-abu kehijauan dan
umumnya terkekarkan,berlapis dan agak tebal.sedangkan serpih berwarna hitam,
umunya kurang kompak, gampingan dan berstruktur perarian sejajar.
Di dalam batupasir, dijumpai fosil Globorotalia sp di mana spesimen jenis
ini sangat luas terekam dan merupakan kelompok spesies foraminifera plangton,
hubungan menunjukkan bukti kuat sebuah garis keturunan yang berkembang dari
keturunan Globorotaliidae umumnya lingkungan pengendapan satuan ini adalah
laut dangkal pada zona neritic tengah.

Foraminifera planktonik adalah foraminifera yang cara hidupnya


mengambang atau melayang di air, sehingga fosil ini sangat baik untuk
menentukan umur dari suatu lingkungan pengendapan (umur dari suatu batuan).

Family Globorotaliidae

Mempunyai test biconvex


Bentuk kamar subglobular, susunan kamar trochospiral
Aperture memanjang dari umbilicus ke pinggir test dan terletak pada dasar

pertural face
Pinggir test ada yang mempunyai keel dan ada yang tidak.

Genus Globorotalia
Bentuk test biconvex
Bentuk kamar subglobular / angular conical.
Aparture memanjang dari umbilicus ke pinggir test. Pada pinggir test
terdapat keel dan ada yang tidak.
Berdasarkan ada tidaknya keel maka genus ini dapat dibagi menjadi dua

sub genus, yaitu :


Subgenus Globorotalia
Subgenus ini mencakup seluruh glabarotalia yang mempunyai keel.
Membedakan subgenus ini dengan yang lainnya maka dalam penulisan
spesiesnya, biasanya diberi kode sebagai berikut :
Contoh : Globorotalia (G) tumida
a
b
c

Menerangkan genus.
Menerangkan subgenus.
Menerangkan species.
Subgenus Turborotalia
Beberapa spesies yang termasuk dalam subgenus ini :

Globorotalia tumida
Test trochospiral rendah sampai sedang, sisi spiral lebih convex daripada
sisi umbilical, permukaannya licin kecuali pada kamar dari putaran akhir dan
umbilical pada kamar akhir yang pustulose. Suture disisi spiral pada mulanya

melengkung halus lalu melengkung tajam mendekati akhir hampir lurus hingga
radial, pada distal kembali melengkung hampir tangensial ke peri-peri.

Globorotalia plesiotumida
Test trochospiral sangat rendah, biconvex, tertekan, peri-peri equatorial
globulate, keel tipis. Suture pada bagian spiral melengkung satu pada bagian yang
terakhir subradial, pada sisi distalnya melengkung sangat kuat. Umbilical sempit
dan tertutup dalam, aperture interiomarginal umbilical extra umbilical
melengkung lemah dibatasi oleh lip yang tipis
Stainforth et al (1975) memandang Globorotalia scitula prascitula sebagai
akar

keturunan

dari

beberapa

garis

menardiform

paling

awal

(G.

archaeomenardii-G. praemenardii) telah berkembang, dan garis kedua pada


Miosen Akhir (11 sampai 25 juta tahun lalu). Berdasarkan hal itu spesies menardii
awal bercabang dari G. scitula dari pengembangan sedikit halus dan karinasi pada
perifernya. Dari bukti belahan Karibia, G. scitula scitula (tanpa periferal keel dan
hanya memiliki 4 kamar pada whorl terakhir) tampak hanya pada subzona
Globorotalia fohsi peripheroronda, sementra G. archeomenardii, dengan periferal
keel dan 5 kamar pada whorl terakhir , diketahui sebagai awal Zona Praeorbulina
glomerosa. Dari bukti lainnya percabangan dalam Miosen Tengah kompleks
menardii dari G. scitula tidak sama. Blow (1969) dan Stainforth et al (1975)
memperkenalkan G. praescitula, sebuah kelanjutan G. scitula, mulai kemunculan
pertamanya di Zona Catapsydrax stainforthi.
Berdasarkan deskripsi bahwa fosil Globorotalia scitula praescitula Blow
memiliki Cangkang trocospiral rendah, biconvex yang seimbang. Periphery
equator agak lobulate. Axial periperi menyudut sampai agak menyudut, dinding
berpori halus, permukaan di sekitar shoulder rugose, kemudian halus pada kamar
berikutnya. Kamar tertekan kuat, tersusun dari tiga putaran, empat sampai lima
kamar terakhir membesar cepat. Sutra pada sisi spiral melengkung kuat.
Gambar 7. Globorotalia scitula prascitula

3.2

FORMASI DOLOKAPA

Satuan ini mempunyai sebaran yang cukup luas, secara keseluruhan


diperkirakan mencapai sekitar 2,000 m dan merupakan lingkungan pengendapan
inner sublitoral. berada di bagian tengah dan utara daerah telitian,yaitu paleleh
hingga daerah kwandang. Formasi ini memiliki satuan batuan terdiri dari
batupasir wake, batulanau, batulumpur, konglomerat, tuf, tuf lapilli, aglomerat,
breksi gunungapi, lava andesit sampai basal.
Batupasir wake berwarna abu-abu, berlapis baik, sangat kompak, dan
dijumpai struktur konvolut laminasi.konglomerat berwarna abu-abu, terpilah
buruk dengan kemas tertutup, kompak, dijumpai perlapisan bersusun, disebelah
timur kuandang konglomerat ini mengandung kepingan batugamping.
Tuf dan tuf lapilli berwarna putih sampai abu-abu muda dan abu-abu
kecoklatan, kompak dan berlapis buruk.sedangkan aglomerat berwarna abu-abu,
tersusun oleh kepingan batuan andesitan hingga basalan, dengan massadasar
tersusun oleh tuf, terpilah beruk dengan ukuran kepingan sekitar 2 sampai 5 cm
yang membulat tanggung sampai bersudut tanggung, dengan kemas tertutup dan
kompak.
Breksi berwarna abu-abu dan abu-abu gelap, tersusun oleh kepingan
batuan andesitan hingga basalan yang berukuran sekitar 2 sampai 8 cm,dengan
bersudut sampai bersudut tanggung, terpilah buruk dengan kemas tertutup,dan
umunya kompak, sedangkan lava umunya berwarna abu-abu sampai abu-abu tua,
bersifat andesitan hingga basalan, bertekstur afanitik,massif dan kompak.
Berdasarkan hasil analisis paleontology dan kedudukan statigrafinya yang
menindih takselaras formasi tinombo yang berumur Eosin, maka umur formasi
dolokapa

diperkirakan

miosen

tengah

hingga

miosen

akhir.lingkungan

pengendapan formasi ini adalah inner sublitoral dengan tebal formasi secara
keseluruhan diperkirakan mencapai 2.000 m.
Pada formasi ini didapatkan berupa fosil plangtonik yang menunjukan
umur tidak lebih tua dari miosen tengah di mana dijumpai fosil berupa Borotalia
minardii, fosil ini memiliki susunan kamar trochospiral, dan permukaan testnya

halus, berbentuk

bikonveks, aperture berupa interiormarginal extraumbilical

umbilical, aperturnya sangat kecil berupa celah dengan lip yang tipis, bentuk
kamar subangular tertekan, mempunyai 3 putaran, putaran kamar semakin ke luar
semakin besar, jumlah kamar pada bagian ventral 5 dan dorsal 15 kamar,
mempunyai 3 putaran, keadaan suturenya pada bagian ventral berbentuk spiral
dan dorsal berupa radial tertekan, umbilicalnya lebar dan dangkal, mempunyai
hiasan pada permukaan testnya berupa keel, komposisi testnya berupa gamping.
kisaran hidup 12 .23.fosil Borotalia minardi ini dapat hidup di bawah 200 meter
umunya berdinding tebal dan Sphaeroidinella dehiscens yang dapat hidup pada
kedalaman sekitar 300 meter.
Mnurut jenkis (1965) bawahwa fosil borotalia minardii dapat dilihat
berdasarkan batas-batas zona yang dapat dilakukan berdasarkan atas :
Kelimpahan jumlah individu pada jenis tertentu,
Perubahan arah putaran test yang tegas,
Peloncatan atau perubahan tegas dalam garis keturunan atau perubahan
yang tegas dari anggotanya,
Kemunculan dan kemusnahan jenis tertentu, baik secara berangsurangsur maupun tegas,
Bentuk permulaan dari kelompok (taxon) tertentu dalam evolusinya dan
perulangan bentuk dari anggotanya.
Pada formasi dolokapa menunjukan ciri lingkungan pengendapan laut
terbuka, yang merupakan produk mekanisme dalam kondisi transgresi, formasi ini
diendapkan pada kedalaman 100 - 200 m atau neritic tengah dengan mekanisme
pengendapan secara suspensi dalam kondisi transgresi. Fosil Globorotalia
minardii termasuk fosil indeks/fosil yaitu fosil yang dipergunakan sebagai
penunjuk umur relatif.
Gambar 9 : Fosil Globorotalia minardii

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Formasi Lokodidi merupakan satuan batuan seri molasa yang diendapkan
pada lingkungan darat hingga laut dangkal, formasi ini menindih selaras breksi
wobudu yang berumur pliosen awal,hingga umur dapat diduga pliosen akhir
hingga plistosen awal.formasi ini berada dibagian barat lembar tilamuta,di lembah
sungai malango bagian hulu dan di daerah teluk kuandang.
Formasi ini merupakan zona cekungan di tengah-tengah Provinsi Gorontalo,
yaitu Dataran Interior Paguyaman-Limboto. Dataran yang cukup luas yang
terbentang dari Lombongo sebelah timur Kota Gorontalo, menerus ke Gorontalo,
Danau Limboto, hingga Paguyaman, dan Botulantio di sebelah barat, merupakan
pembagi yang jelas antara pegunungan utara dan selatan. Dataran ini merupakan
cekungan yang diduga dikontrol oleh struktur patahan normal seperti dapat
diamati di sebelah utara Pohuwato di Pegunungan Dapi-Utilemba, atau di utara
Taludaa di Gunung Ali, Bone Bolango.
Sedangkan pada formasi Dolokapa merupakan lingkungan pengendapan inner
sublitoralyang berumur miosen tengah hingga awal miosen akhir, formasi ini
mempunyai pelemparan yang cukup luas terdapat dibagian tengah dan utara
telitian yaitu daerah paleleh hingga sekitar daerah kuandang.Berdasarkan hasil
analisis bahwa formasi ini menindih takselaras formasi tinombo yang berumur
eosin,bahwa pada formasi ini terdapat beberapa fosil plantong tersebut
menunjukan umur tidak lebih tua dari miosen tengah.
Formasi ini merupakan zona Pegunungan Utara Telongkabila-Boliohuto
umumnya terdiri dari formasi-formasi batuan gunung api Tersier dan batuan
plutonik. Zona ini dicirikan dengan pegunungan berlereng terjal dengan beberapa
puncaknya antara lain Gunung Tentolomatinan (2207 m), Gunung Bondalo (918
m), Gunung Pentolo (2051 m), Gunung Bian (1620 m), Gunung Pomonto (1490
m), Gunung Lemuli (1920 m), Gunung Boliohuto (2065 m), serta Gunung
Dolokapa (1770 m).
3.2 Saran

Demikianlah makalah dibuat agar bermanfaat. Di harapkan setelah


membaca makalah ini pembaca dapat lebih menggali lebih dalam untuk mencari
perkembangan dan kemajuan terbaru. Namun kritik dan saran sangat diperlukan
untuk lebih mengevalusi diri dan membangun kreativitas kerja.

DAFTAR PUSTAKA
Djauhari Noor. 2009. Pengantar Geologi-Fosil. Teknik geologi. Universitas negeri
Pakuan-Bogor.
Buku Pengantar Makropaleontologi Fosil, syarat terbentuknya fosil. Dan file
type PPT.
S.Bachri, Sukida & N.Ratman Geologi lembar tilamuta,Sulawesi.
Sukamto, R,1973, peta geologi tinjau daerah palu, Sulawesi skla 1:
250,000,puslitbang geologi, bandung.

Apandi ,T, 1977 peta goelogi lembar kotamobagu, Sulawesi skala 1:250.000,
puslitbang geologi, bandung,laporan terbuka.