Anda di halaman 1dari 4

DEMONSTRASI CARA

TEKNIK PENYUNTIKAN IKAN DAN DOSIS OVAPRIM


Oleh:
Endri Hendriansyah, S.Pi
NIP. 19811228 201101 1 002

I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Penyuntikan hormon pada kegiatan budidaya sangat penting untuk dilakukan karena
berfungsi untuk merangsang terjadinya peningkatan proses fisiologis reproduksi akibat
adanya peningkatan jumlah hormon dalam tubuh. Secara prinsip, penambahan hormon dapat
dilakukan baik melalui

penyuntikan maupun melalui oral. Pemijahan secara alami dan

menunggu waktu atau musim ikan memijah tidak efektif dalam memprodukssi ikan/individu
baru secara maksimal. Sebetulnya,dengan menggunakan rangsangan hormon dalam tubuh
ikan, pemijahan dapat dilakukan kapan saja asalkan gonad dalam tubuh ikan sudah
mengalami pematangan. Meskipun keberhasilan pemijahan ditentukan oleh keberhasilan
proses pematangan akhir gonad yang sejalan dengan penambahan hormonal, namun teknik
penyuntikan sendiri bukanlah merupakan suatu penentu keberhasilan tersebut.
1.2 Tujuan
Demonstrasi cara ini bertujuan mengetahui teknik penyuntikan pada ikan dan mengetahui
dosis ovaprim yang digunakan pada saat penyeragaman dan pematangan akhir gonad ikan
serta mengetahui organ target penyuntikan.
II. METODOLOGI
2.1. Waktu dan Tempat
2.2 Alat dan Bahan
Peralatan yang dipakai pada saat demonstrasi cara: syring, baki tempat ikan, akuades
dan serbet atau tissu sedangkan bahan yang digunakan adalah 2 ekor ikan lele jantan dan
betina serta ovaprim.
2.3. Prosedur Kerja
Pertama sekali ikan yang akan disuntik diperiksa ciri kelamin sekundernya. Jumlah
ikan yang didemonstrasi-carakan sebanyak 2ekor. Induk lele ditangkap dan dipegang,
kemudian digunakan kain untuk menutup dan memegang kepala ikan dan memegang pangkal

ekornya. Hormon disedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan,
misalnya 0,5 ml untuk ikan yang berjenis kelamin jantan dan 0,3ml untuk yang berjenis
kelamin betina. Setelah ovaprim berada dalam jarum suntik kemudian dilakukan
mengenceran dengan menyedot kembali akuades dengan perbandingan yang sama. Kemudian
hormon disuntikkan padaikan ke dalam daging lele di bagian intavena, intar muscular dan
intra cranial. Pada saat penyuntikan ovaprim diusahakan posisi jarum suntik berada
antarasudut 40 45. Kedalaman jarum suntik 1 cm dan disesuaikan dengan besar kecilnya
tubuh ikan. Penyuntikan dilakukan perlahan dan hati-hati. Setelah obat didorong masuk,
jarum dicabut kemudian bekas suntikkan diurut perlahan-lahandangan dengan jari telunjuk
atau jempol beberapa saat agar obat tidak keluar.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Pembahasan
Ikan terdiri atas alat kelamin, gonad, kelenjar hipofisa, dan saraf yang berhubungan
dengan alat perkembangan alat reproduksi. System reproduksi tersebut saling berhubungan
satu dengan yang lain dan berinteraksi dengan kondisi lingkungan. Sumantadinata(1997)
mengatakan bahwa reproduksi ikan dikendalikan oleh tiga sumbu utama, yaitu hipotalamus,
hipofisa, dan gonad. Secara alami, sistem kerja reproduksi ikan dimulai dari keadaan
lingkungan seperti suhu, cahaya, dan cuaca yang diterima oleh organ perasa dan
meneruskannya ke system saraf. Selanjutnya, hipotalamus melepasakan GnRH (gonadotropin
releasing hormon) yang bekerja merangsang kelenjar hipofisa untuk melepaskan GtH
(gonadotropin). Gonadotropin akan berfungsi dalam perkembangan dan pematangan gonad
serta pemijahan (Amri,2008). Gonad sebagai organ reproduksi ikan merupakan salah satu
dari 3 komponen yang terlibat dalam reproduksi ikan, selain sinyal lingkungan dan sistem
hormon. Dalam proses pematangan gonad, sinyal lingkungan yang diterima oleh sistem saraf
pusat ikan itu akan diteruskan ke hipotalamus. Akibatnya, hipotalamus melepaskan hormon
GnRH. (Gonadotropin realizing hormon) yang selanjutnya bekerja pada kelenjar hipofisa.
Pada saat dilakukan penyuntikan sebaiknya ikan dibungkus dengan kain dan menutup
mata ikan agar tidak lepas. Pada ikan yang lebih besar biasanya penyuntikkan dilakukan

lebih dari satu orang, yakni orang pertama memegang ekor dan kepala, sedangkan orang yang
lainnya menyuntikkan hormon ovaprim. Santoso(1997) menambahkan penyuntikan
disarankan mengarah ke bagian depan(arah kepala) ikan, agar tidak mengenai organ bagian
pencernaan dan tulang ikan. Apabila mengenai organ tersebut maka proses penyuntikkan
tidak akan memacu kelenjar hipofisa untuk mengeluarkan hormon GnRH dalam proses
pemijahan (tidakterjadinya proses pemijahan). Banyak halyang harus diperhatikan ada saat
melakukan penyuntikan, diantaranya: menggunakan jarum suntik yang tajam (bila
memungkinkan gunakan single use syringe), lakukan penyuntikan pada daerah yang memiliki
daging tebal untuk menghindari penyuntikan terkena tulang, jarum suntik diposisikan
menghadap mata untk menghindari kesalahan pembacaan jumlah hormon yang dimasukkan,
masukkan hormon dengan menekan spuit secara perlahan hindari adanya stress berlebihan
pada

ikandan cabut

jarum

suntik

secara

perlahan

guna

menghindari

adanya

pembalikanhormon keluar tubuh. Menurut Sutisna dan Sutarmanto (1995), teknik


penyuntikan dengan arah jarum suntik membuat sudut 60o dari ekor bagian belakang dan
jarum dimasukkan sedalam kurang lebih 1,5 cm. Hal ini ditujukkan supaya ovaprim benar
benar masuk ke bagian organ target.
Teknik penyuntikan hormon pada ikan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu intra
muscular (penyuntikan kedalamotot), intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut), dan
intra cranial(penyuntikan di kepala) (Susanto, 1999). Dari ketiga teknik penyuntikkan yang
paling umum dan mudah dilakukan adalah intra muscular,karena pada bagian ini tidak
merusak organ yang penting bagi ikan dalam melakukan proses metabolisme seperti biasanya
dan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan lainnya. Menurut Muhammad dkk
(2001) secara intramuscular yaitu pada 5 sisik ke belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirip
punggung ikan. Metode penyuntikan

lebih umum digunakan, baik penyuntikan melalui

bagian punggung (intra-muscular) ataupun melalui bagian perut (intra-peritoneal.


Penyuntikan hormon ke organ otot (intra muscular) memiliki resiko kerusakan organ kecil
dan penyebaran hormon lebih cepat menyebar ke seluruh tubuh namun obat kemungkinan
dapat keluar kembali dari tubuh dan dapat menyebabkan iritasi pada bagian tubuh
ikan.Sedangkan penyuntikan pada rongga perut (intra vena) pelaksanaanya lebih praktis dan
tidak terlalu memperhitungkan volume hormon yang akan disuntikkan tetapi kerja dan
peyebaran hormon lebih lambat dan rentan terhadap iritasi. Pada penyuntikan hormon di
kepala (intra cranial) kelebihannya cepat dan tepat pada sasaran namun beresiko tinggi
terhadap kelangsungan hidup ikan.

Ovaprim digunakan sebagai agen perangsang bagi ikan untuk memijah, kandungan
GnRH akan menstimulus pituatari untuk mensekresikan GtH I dan GtH II. Sedangkan anti
dopamin menghambat hipotalamus dalam mensekresi dopamin yang memerintahkan pituatari
menghentikan sekresi GtH I dan GtH II. Ovaprim pada ikan berfungsi untuk menekan musim
pemijahan, mengatur kematangan gonad selama musim pemijahan normal, merangsang
produksi sperma pada jantan untuk periode waktu yang lama dan volume yang lebih banyak,
merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan, maksimalkan potensi reproduksi,
mempertahankan materi genetik pada beberapa ikan yang terancam punah dan
mempersingkat periode pemijahan lebih efektif bila dibandingkan dengan menggunakan
hormon hipofisa.
Dosis yang diberikan pada ikan memengaruhi waktu memijah dari ikan yang
bersangkutan. Sebagai perbandingan, dibawah ini terdapat data hasil penelitian Zudin
Assubukin (2001), Dept. Of Animal Husbandry mengenai waktu latensi pemijahan yang
tercepat sampai terlama adalah sebagai berikut: dosis 0,3 ml/kg/bw (507 menit; 8.27 jam),
diikuti dengan dosis 0,4 ml/kg/bw (573 menit; 9.33 jam), 0,2 ml/kg/bw (576 menit; 9.36 jam)
dosis 0,5 ml/kg/bw (607 menit; 10.17 jam), dan dosis 0,1 ml/kg/bw (691 menit; 11.31jam),
sedangkan kontrol tidak mengalami ovulasi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa penggunaan hormon ovaprim dengan dosis yang berbeda terhadap waktu
latensi pemijahan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah sebagai berikut: waktu latensi
pemijahan pada dosis 0,3 ml/kg/bw, hatching rate (HR) pada dosis 0,4 ml/kg/bw dan survival
rate (SR) pada dosis 0,3 ml/kg/bw. Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan penggunaan
hormon ovaprim yang optimum untuk pemijahan ikan lele dumbo adalah 0,3 ml/kg/bw.
IV. KESIMPULAN
Dari demonstrasi yang dilakukan diharapkan pembenih ikan lele dapat mengetahui cara
dan melakukan penyuntikan hormon yang baik dan benar serta mengetahui dosis yang
digunakan pada saat penyuntikan yang dibutuhkan dan organ yang menjadi target
penyuntikan ovaprim.
DAFTAR PUSTAKA
Santoso,1997. Teknik penyuntikan sperma pada ikan. http://www.teknik penyntikan
sperma (13Noovember 2009)
Sumantadinata, 1995. Pemijahan lele dumbo. http://ikanmania.wordpress.
(13Noovember 2009)
Khairumandan Amri K, 2008. Buku pintarbudidaya 15 ikan konsumsi.
Agromedia:Jakarta