Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMASARAN DAN TATANIAGA TERNAK

KUNJUNGAN PEMASARAN DI PASAR NGLANGON DAN


PEMASARAN DAY OLD DUCK (DOD) DI CAR FREE DAY SURAKARTA

Disusun oleh :
Kelompok IV
Ade Afrina Arifin
Anggita Yunia Putri
Atik Nurhidayati
Denny Kurniawan
Imam Tubagus Suwarto
Moh Misbachul Munir
Muhammad Fajrul Falah
Tiara Uji Lishianawati

H0513002
H0513016
H0513023
H0513035
H0513072
H0513089
H0513093
H0513136

LABORATORIUM SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN


PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM
PEMASARAN DAN TATANIAGA PETERNAKAN
KUNJUNGAN PEMASARAN DI PASAR NGLANGON DAN
PEMASARAN DAY OLD DUCK (DOD) DI CAR FREE DAY SURAKARTA

Disusun oleh :
KELOMPOK IV
Ade Afrina Arifin
Anggita Yunia Putri
Atik Nurhidayati
Denny Kurniawan
Imam Tubagus Suwarto
Moh Misbachul Munir
Muhammad Fajrul Falah
Tiara Uji Lishianawati

H0513002
H0513016
H0513023
H0513035
H0513072
H0513089
H0513093
H0513136

Telah diterima dan disetujui


Pada tanggal
Dosen Pengampu,

Asisten Praktikum,

Ayu Intan Sari, S.Pt., M.Sc


NIP. 198211032005012001

Muhammad Heru Prasetyo


NIM. H0512080

Mengetahui
Ketua Lab Sosek Peternakan

Ayu Intan Sari, S.Pt., M.Sc


NIP. 198211032005012001

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan Pemasaran dan
Tataniaga Ternak ini dengan baik dan lancar. Laporan ini disusun sebagai tugas
dalam rangkaian kegiatan mata kuliah Pemasaran dan Tataniaga Ternak.
Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, maka dari itu
kami ucapkan terima kasih kepada :
1.

Dosen pengampu mata kuliah Pemasaran dan Tataniaga Ternak Ayu Intan
Sari, S.Pt., M.Sc, Sutrisno Hadi P., S.Pt., M.Si., P.hD dan Shanti Emawati,
S.Pt., M,P yang telah memberikan bimbingan dan arahan sehingga kami lebih
mudah melaksanakan praktikum.

2.

Tim Asisten yang telah memberi dukungan, sekaligus bimbingan dan


masukan selama pelaksanaan praktikum hingga akhir penyusunan laporan ini.

3.

Teman-teman dan semua pihak yang turut membantu dalam proses


penyusunan laporan praktikum Pemasaran dan Tataniaga Ternak.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih terdapat

kekurangan. Penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun


demi kesempurnaan laporan ini. Penyusun berharap semoga laporan ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Surakarta, November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

iii

HALAMAN JUDUL......................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................

ii

KATA PENGANTAR.....................................................................................

iii

DAFTAR ISI..................................................................................................

iv

DAFTAR TABEL...........................................................................................

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

vi

BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................

A. Latar Belakang...................................................................................

B. Tujuan Praktikum...............................................................................

C. Manfaat Praktikum.............................................................................

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA...................................................................

BAB III. MATERI DAN METODE...............................................................

12

A. Materi Praktikum................................................................................

12

B. Waktu dan Tempat..............................................................................

12

C. Metode Pelaksanaan...........................................................................

12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................

13

A. Hasil Pengamatan...............................................................................

13

B. Pembahasan........................................................................................

24

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN........................................................

34

A. Kesimpulan.........................................................................................

34

B. Saran...................................................................................................

34

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

iv

Tabel 1. Data Ternak yang Datang ................................................................ 14


Tabel 2. Data Ternak yang Laku Terjual........................................................ 14

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Rantai Tataniaga Ternak di Pasar Nglangon Sragen..................


v

18

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemasaran adalah suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
vi

menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang


bernilai dengan pihak lain (Kotler, 2002). Tataniaga merupakan suatu kegiatan
dalam perekonomian, di samping faktor produksi dan konsumsi. Pemasaran
dan tataniaga sebagai salah satu komponen pasca produksi perlu mendapatkan
perhatian yang serius dalam usaha peternakan.
Tataniaga memiliki saluran tataniaga yang bekerja di dalamnya. Saluran
tataniaga adalah pergerakan barang-barang dari pihak produsen ke pihak
konsumen melalui lembaga tataniaga. Panjang pendeknya saluran tataniaga
yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung dari berbagai faktor. Faktorfaktor tersebut diantaranya jarak antara produsen ke konsumen, cepat tidaknya
produk rusak, skala produksi, dan posisi keuangan pengusaha (Siregar, 2007).
Saluran tataniaga yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda
pula kepada masing-masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga
tersebut.
Pasar hewan merupakan salah satu lembaga tataniaga yang terlibat
dalam proses pemasaran. Secara umum pasar hewan merupakan tempat
terjadinya transaksi jual dan beli hewan. Hewan yang biasanya dijual-belikan
yaitu hewan ternak (sapi, domba dan kambing). Ciri-ciri pasar hewan yaitu
adanya produsen yang biasanya peternak, adanya konsumen yang biasanya
konsumen langsung, adanya barang yang diperjualbelikan (hewan ternak). Calo
terkadang terdapat dalam transaksi jual-beli di pasar hewan (Dinas Pertanian
Kabupaten Garut, 2002). Melihat begitu pentingnya pemasaran dan tataniaga
sarana untuk produksi peternakan maka dalam praktikum Pemasaran dan
Tataniaga ini akan dipelajari tentang alur tataniaga sarana untuk produksi
peternakan dan tataniaga dipasar hewan ternak.
B. Tujuan
Tujuan dalam praktikum Pemasaran dan Tataniaga Ternak adalah :

vii

1. Mengetahui sirkulasi atau aliran komoditas peternakan mulai dari pasar


hewan, pedagang dan akhirnya sampai kepada tangan konsumen atau
peternak.
2. Mengetahui praktek pemasaran ternak dan menumbuhkan jiwa wirausaha
bagi

mahasiwa

serta

mengetahui

bagaimana

merencanakan

dan

melaksanakan pemasaran sebuah produk dengan baik.


3. Mengetahui aspek-aspek yang berlaku dalam proses pemasaran dan
tataniaga bidang peternakan serta mampu membahas permasalahan yang
terjadi selama proses pemasaran dan tataniaga berlangsung.
C. Manfaat
Manfaat praktikum Pemasaran dan Tataniaga Ternak ini bagi mahasiswa
antara lain :
1. Mahasiswa dapat menerapkan dilapangan khususnya berkaitan dengan
analisis fungsi-fungsi tataniaga peternakan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang lembaga tataniaga dan integrasinya,
bentuk pasar, pembentukan harga, elastisitas, biaya tataniaga, dan kebijakan
pemerintah berkaitan dengan tataniaga peternakan.
3. Mahasiswa dapat mengetahui dan mengkaji aspek-aspek yang berlaku
dalam proses pemasaran dan tataniaga bidang peternakan.
4. Memberikan pengetahuan tentang tataniaga dan permasalahan pemasaran
yang dihadapi peternak dari produsen sampai ketangan konsumen dalam
lapangan pemasaran sesungguhnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA

viii

A. Pasar
Pasar merupakan tempat terjadinya mekanisme pasar yang mencakup
informasi tentang jumlah kualitas, dan harga dari barang yang diperdagangkan.
Mekanisme tersebut menuntut penyaluran atau pemasaran produk dari
pedagang ke konsumen, sehingga sangat diperlukan dan segmen pasar yang
dituju. Seringkali terjadi negoisasi dalam melakukan kegiatan jual beli di pasar.
Negoisasi adalah proses yang dilakukan baik oleh tenaga penjual dan calon
dalam menawarkan konsesi khusus dengan upaya untuk mencapi perjanjian
penjualan (Lamb et al., 2001).
Definisi pasar sebagai produsen adalah sebagai tempat untuk menjual
barang-barang dan jasa-jasa sehingga konsumen tersebut dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginannya. Pengertian pasar bagi lembaga pemasaran
merupakan tempat untuk melakukan aktivitas usaha dengan melaksanakan
fungsi-fungsi pemasaran tertentu sehingga lembaga pemasaran dapat
keuntungan (Sudiyono, 2002).
Bentuk-bentuk pasar terbagi atas bagian : (1) Pasar monopoli adalah
suatu model pasar yang mempunyai ciri hanya terdapat satu penjual, (2) Pasar
duopoli adalah pasar yang terdiri dari dua orang penjual, yang menguasai
penawaran di pasar, sehingga mereka berdua dapat menentukan harga yang
memberikan laba terbesar kepada mereka, (3) Pasar oligopoli adalah suatu
bentuk pasar yang terdiri atas beberapa penjual yang biasanya terdiri dari dua
sampai sepuluh penjual, (4) Pasar persaingan sempurna adalah keadaan yang
terjadi apabila terdapat sejumlah besar produsen yang menghasilkan barang
yang identik, sedemikian banyaknya jumlah perusahaan tersebut sehingga tidak
ada diantara mereka yang bisa mempengaruhi harga pasar (Siregar, 2006).
Pasar merupakan salah satu penentu keberhasilan usaha. Langkah awal
pengembangan usaha peternakan adalah mengetahui sistem pemasaran. Bila
mekanisme pemasaran berjalan baik maka pihak yang terlibat akan
diuntungkan. Pendekatan yang dilakukan dalam pemasaran adalah pendekatan
fungsional, kelembagaan, produk, manajerial, dan sistem (Ratniati, 2007).

ix

Indonesia adalah negara dengan mayoritas konsumen berasal dari


kalangan menengah ke bawah. Kondisi ini menjadikan kosumen Indonesia
tergolong ke dalam konsumen yang sangat sensitif terhadap harga. Ketika
faktor harga rendah yang sebelumnya menjadi keunggulan pasar tradisional
mampu diruntuhkan oleh pasar modern, secara relatif tidak ada alasan
konsumen dari kalangan menengah ke bawah untuk tidak turut berbelanja ke
pasar modern dan meninggalkan pasar tradisional (Pindyck, 2001).
B. Pemasaran
Pemasaran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan mulai dari
pengumpulan produk, pengolahan, penyimpanan dan distribusi. Hasil dari
produk yang dihasilkan usaha tani di distribusikan langsung ke konsumen, dan
sebagian mengalami pengolahan lebih dulu lalu didistribusikan ke konsumen.
Pelaku-pelaku dalam kegiatan disini yaitu pengumpul produk, pengolah
produk, pedagang, penyalur ke konsumen pembuat peti dan kaleng
pembungkus produk olahan (Eviyati, 2005).
Pemasaran adalah salah satu kegiatan-kegiatan pokok dalam suatu
perusahaan

untuk

mempertahankan

hidup

dan

untuk

mendapatkan

laba/keuntungan. Kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dapat


memberikan kepuasan kepada konsumen agar perusahaan tetap bisa
berkembang, atau konsumen mempunyai pandangan baik terhadap perusahaan
tersebut. Pemasaran merupakan proses di mana perusahaan menciptakan nilai
bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan
dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya
(Kotler, 2002).
Sistem pemasaran mencakup kegunaan bentuk, waktu, tempat dan
kepemilikan. Panjang pendeknya rantai pemasaran ditentukan oleh beberapa
faktor, yaitu jarak dari produsen ke konsumen, daya tahan produk, skala
produksi, dan posisi keuangan pengusaha. Pemasaran yang baik akan
menjamin keberlanjutan pasokan dan permintaan. Rantai pemasaran perlu
diciptakan untuk menghindari salah pasok. Bentuk pemasaran dapat berupa
pasar hewan yang menjual bentuk ternak hidup atau tempat khusus untuk

penjualan unggas, sehingga konsumen dapat secara leluasa memilih produk


yang dipasarkan (Suryana, 2008).
Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang
menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen
kepada konsumen akhir, serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau
individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan
konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat, dan
bentuk yang diinginkan konsumen. Tugas lembaga pemasaran ini adalah
menjalankan fungsi-fungsi pemasaran, serta memenuhi keinginan konsumen
semaksimal mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga
pemasaran ini berupa margin pemasaran. Lembaga pemasaran ini dapat
digolongkan menurut penguasaannya terhadap komoditi yang dipasarkan dan
bentuk usahanya, meliputi agen perantara, makelar, pedagang pengumpul,
tengkulak, eksportir, importir, dan asuransi pemasaran (Sudiyono, 2002).
Konsep pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan
bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial
bagi kelangsungan hidup perusahaan. Bagian pemasaran suatu perusahaan
memegang peranan yang sangat penting dalam rangka mencapai besarnya
volume penjualan, karena dengan tercapainya sejumlah volume penjualan yang
diinginkan berarti kinerja bagian pemasaran dalam memperkenalkan produk
telah berjalan dengan benar. Penjualan dan pemasaran sering dianggap sama
tetapi sebenarnya berbeda (Swastha et al., 2005).
C. Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga adalah pergerakan barang-barang dari pihak produsen
ke pihak konsumen melalui lembaga tataniaga. Panjang pendeknya saluran
tataniaga yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung dari berbagai
faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya jarak antara produsen ke konsumen,
cepat tidaknya produk rusak, skala produksi, dan posisi keuangan pengusaha
(Siregar, 2007).
Faktor-faktor yang mendukung terciptanya tataniaga yang efisien
mencakup struktur pasar, lembaga tataniaga yang terlibat, dan transmisi harga.

xi

Pengukuran efisiensi tataniaga pertanian secara umum dapat dibedakan secara


kualitatif dan secara kuantatif. Ukuran secara kualitatif sebagai upaya
mengungkapkan keterkaitan tataniaga terhadap kesejahteraan masyarakat yang
menggunakan pendekatan teknik S-C-P, yaitu; market structure, market
conduct dan market performance (Soekartawi, 2002).
Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang
menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen
kepada konsumen akhir serta merupakan hubungan dengan badan usaha atau
individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan
konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat dan
bentuk yang diinginkan konsumen semaksimal mungkin (Sudiyono, 2002).
Pemasaran hasil peternakan merupakan suatu proses pemindahan
dengan membawa hasil ternak dari produsen ke konsumen. Perlu pihak yang
dapat mengatur proses pemasaran ini. Bantuan teknik tetap diprioritaskan
dengan dibentuknya lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah
dibidang ini. Berdasarkan tujuan pengugunaannya, maka hasil peternakan
dapat dikelompokkan ke dalam bahan mentah dan barang konsumsi. Bahan
mentah akan dibeli oleh pabrik atau usaha pengolahan untuk diolah menjadi
barang jadi. Barang konsumsi akan dibeli oleh konsumen akhir untuk
keperluan konsumsi. Pergerakan hasil peternakan bahan mentah dari produsen
sampai

industri

pengolahan

menggambarkan

proses

pengumpulan

(Rahardja 2003).
Saluran

tataniaga

adalah

serangkaian

lembaga yang melakukan

semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status


kepemilikannya dari produsen ke konsumen. Produsen memiliki peranan
utama dalam menghasilkan barang-barang dan sering melakukan sebagian
kegiatan pemasaran, sementara itu pedagang menyalurkan komoditas
dalam waktu, tempat, bentuk yang diinginkan konsumen. Hal ini berarti bahwa
saluran tataniaga yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda
pula kepada masing-masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga
tersebut (Kotler, 2002).

xii

D. Biaya Tataniaga
Harga adalah tingkat kemampuan suatu barang untuk ditukar dengan
barang yang lain atau uang. Margin adalah suatu istilah yang dipergunakan
untuk menyatakan perbedaan harga barang yang dibayar kepada penjual
pertama dan harga yang dibayar oleh pembeli terakhir. Margin pemasaran
dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sudut pandang harga dan biaya pemasaran,
pada analisis pemasaran yang sering menggunakan konsep marjin pemasaran
yang dipandang dari sisi harga ini (Sudiyono, 2002).
Penyaluran barang atau komoditi pertanian melalui beberpa proses
seperti pengangkutan, pengolahan (pengeringan, perubahan bentuk, dan
lainnya), pembiayaan retribusi, bongkar muat serta kegiatan lainnya. Semua
proses tersebut jelas membutuhkan biaya yang masing-masing tidak sama dan
memiliki proporsinya masing-masing. Bila jarak antara produsen dengan
konsumen pendek maka biaya pengangkutan bisa diperkecil. Jika tidak terjadi,
maka biaya pengangkutan bisa diperkecil. Jika tidak terjadi perubahan bentuk
atau perubahan volume atau mutu maka biaya pengolahan jadi ditiadakan.
Semakin panjang jarak dan makin banyak perantara (lembaga tataniaga) yang
terlibat dalam pemasaran, maka biaya pemasaran semakin tinggi, dan margin
tataniaga (selisih antara harga produsen dengan tingkat konsumen) juga
semakin besar (Daniel, 2002).
Biaya tataniaga mencakup jumlah pengeluaran perusahaan untuk
keperluan pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan penjualan hasil
produksinya dan jumlah pengeluaran oleh lembaga tataniaga (badan perantara)
dan laba (profit) yang diterima oleh badan bersangkutan. Biaya tataniaga suatu
macam produk biasanya diukur secara kasar dengan margin dan spread.
Margin adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan perbedaan harga
yang dibayar oleh pembeli terakhir. Keuntungan (laba) adalah perbedaan antara
penghasilan total dengan penbiayaan total dari operasi perusahaan. Keuntungan
maksimum untuk tingkat hasil tertentu diperoleh dengan cara memaksimumkan
selisih penghasilan total dengan biaya total tersebut atau meminimumkan biaya
untuk penghasilan (Hanafiah, 2006).

xiii

Marjin tataniaga didefinisikan sebagai perbedaan harga atau selisih


harga yang dibayar konsumen dengan harga yang diterima petani produsen
atau dapat pula dinyatakan sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan
tataniaga sejak dari tingkat produsen sampai ke titik konsumen akhir. Kegiatan
untuk memindahkan

barang

dari

titik

produsen

ke

titik

konsumen

membutuhkan pengeluaran baik fisik maupun materi. Pengeluaran yang harus


dilakukan untuk menyalurkan komoditi dari produsen ke konsumen disebut
biaya tataniaga (Stanton, 2001).
Margin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat
dinyatakan sebagai jumlah dari marjin pada masing-masing lembaga tataniaga
yang terlibat. Rendahnya biaya tataniaga suatu komoditi belum tentu
mencerminkan efisiensi yang tinggi.

Salah satu indikator yang berguna

dalam melihat efisiensi kegiatan tataniaga adalah dengan membandingkan


persentase atau bagian harga yang diterima petani (farmers share) terhadap
harga yang dibayar konsumen akhir (Jatmiko, 2004).
E. Perencanaan Pemasaran
Pemasaran dapat didefinisikan sebagai kegiatan bisnis yang mengatur
arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen sehingga sesuai dengan
waktu, tempat dan bentuk

yang dikehendaki pada harga yang dibayar

konsumen. Peranan informasi pasar perlu diperhatikan karena tidak ada


keputusan pemasaran yang baik tanpa didasarkan oleh fakta atau data. Oleh
karena itu, kebutuhan akan data atau fakta mungkin meningkat dalam rangka
intensifikasi dan ekstensifikasi pasar. Informasi pasar mengenai produk apa dan
yang bagaimana yang didiinginkan oleh kelompok konsumen

(Assauri,

2007).
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari berbagai
faktor

tersebut

adalah

masing-masing

individu

maupun

kelompok

mendapatkan kebutuhan dan keinginan. Hal tersebut bertujuan untuk


menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang memiliki nilai
komoditas (Rangkuti, 2004).

xiv

Berdasarkan definisi yang diberikan maka dapat disimpulkan bahwa


tujuan akhir daripada tataniaga adalah menempatkan barang-barang ke tangan
ke tangan konsumen akhir. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilaksanakan
perencanaan kegiatan-kegiatan tataniaga yang dibangun berdasarkan arus
barang yang meliputi proses pengumpulan (konsentrasi), proses pengimbangan
(equalisasi) dan proses penyebaran (dispersi) (Hanafiah, 2006).
Manajemen pemasaran akan dipecah atas kebijakan pemasaran yang
lazim disebut bauran pemasaran (marketing mix). Pertama adalah produk
(product), adalah mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan
pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan
mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil
tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa.
Kedua adalah harga (price), adalah suatu sistem manajemen perusahaan yang
akan menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus
menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos
angkut dan berbagai variabel bersangkutan. Ketiga adalah distribusi (place),
sebagian

besar

produsen

menggunakan

perantara

pemasaran

untuk

memasarkan produk, khususnya barang dengan membangun suatu saluran


distribusi yaitu sekelompok organisasi yang saling tergantung dalam
keterlibatan mereka dalam proses yang memungkinkan suatu produk tersedia
bagi penggunaan atau konsumsi oleh konsumen atau pengguna industrial.
Keempat adalah promosi (promotion), produk perlu dipromosikan kepada
masyarakat agar produk dikenal dan akhirnya dibeli (Kotler, 2002).
Strategi pemasaran yang biasa diambil, antara lain mencari sebuah
tempat yang strategis dimana banyak orang yang kita bidik untuk membeli
produk yang kita tawarkan sering lewat, menampilkan barang-barang yang bisa
mengundang atau memancing orang untuk datang dan melihat-lihat barang
yang kita tawarkan. Memberikan suasana yang nyaman kepada pengunjung,
memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada calon pembeli, memberikan
garansi terhadap barang yang kita jual. Memasang label harga pada semua
barang yang kita jual, memberikan diskon atau potongan harga jika membeli

xv

dalam jumlah besar, memberikan diskon khusus kepada pembeli yang sedang
berulangtahun,

menyediakan

fasilitas

pembayaran

yang

lengkap

dan

menyediakan fasilitas pengantaran barang yang dibeli secara gratis


(Siregar,2007).
F. Evaluasi Pemasaran
Evaluasi pemasaran dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
kekurangan pada proses pemasaran serta kelebihan-kelebihan yang ada saat
proses pemasaran. Hal ini dapat digunakan untuk menetapkan strategi
pemasaran yang didasarkan pada peluang-peluang atau opportunity, namun
dapat meminimalkan kelemahan (wealinesses) dan ancaman (threats)
(Rangkuti, 2004).
Produsen cenderung menggunakan metode yang lebih rumit dalam
menggunakan harga dibandingkan yang digunakan oleh para distributor. Satu
diantaranya adalah maksimalisasi keuntungan (profit maximixation), yang
terjadi ketika pendapatan marjinal (marginal revenue) sama dengan biaya
marjinal (marginal cost). Biaya marjinal merupakan perubahan dalam total
biaya yang berhubungan dengan perubahan satu unit dalam output
(Lamb et al., 2001).
Laporan

laba-rugi

merupakan

hasil

dari

kegiatan

operasional

perusahaan pada periode waktu tertentu. Terdapat informasi mengenai inflow


aset (revenue), outflow aset (expenses) dan kenaikan atau penurunan yang
dihasilkan oleh semua kegiatan tersebut. Evaluasi pemasaran dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar kekurangan pada proses pemasaran serta kelebihankelebihan yang ada saat proses pemasaran. Hal ini dapat digunakan untuk
menetapkan strategi pemasaran yang didasarkan pada peluang-peluang atau
opportunity. Namun dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman
(threats) (Sudiyono, 2002).
Evaluasi adalah suatu penilaian yang seobjektif mungkin mengenai
derajat dari seluruh pelayanan atau bagian-bagian komponennya dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dua elemen pertama adalah evaluasi
memerlukan perbandingan dari pencapaian suatu pelayanan atau prosedur

xvi

dengan beberapa standart. Standart ini dapat bersifat absolute atau


perbandingan. Elemen kunci kedua adalah objektif, makin banyak penemuan
dari latihan evaluasi terlihat menjadi penilaian dan prasangka dari evaluator
(Schiffman., et al, 2008).
Evaluasi adalah sebagai pekerjaan manajer yang berupa menetapkan
pekerjaan antara hasil yang benar-benar dicapai dengan pekerjaan yang
seharusnya dicapai menurut rencana serta menilai perbedaan-perbedaan
tersebut, kemudian dari penilaian itu digunakan untuk menentukan langkah
selanjutnya. Evaluasi juga digunakan untuk menentukan hasil atas pekerjaan
yang telah dilakukan. Evaluasi di tujukan pada tingkat keberhasilan ataupun
tingkat kegagalannya, untuk memperbaiki pekerjaan yang selanjutnya akan
dilakukan (Saladin, 2007).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi Praktikum

xvii

1. Praktikum I
Materi yang digunakan dalam praktikum I Pemasaran dan
Tataniaga Peternakan adalah melakukan kunjungan ke Pasar Hewan
Nglangon, Sragen.
2. Praktikum II
Materi yang digunakan dalam praktikum II Pemasaran dan
Tataniaga Peternakan adalah melakukan pemasaran ternak berupa Day Old
Duck (DOD).
B. Waktu dan Tempat
1. Praktikum I
Praktikum I Pemasaran dan Tataniaga Peternakan dilakukan pada
hari Kamis, 19 November 2015 pukul 08.00 09.30 WIB, bertempat di
pasar Nglangon, Sragen.
2. Praktikum II
Praktikum II Pemasaran dan Tataniaga Peternakan dilakukan pada
hari Minggu, 22 November pukul 05.30 08.30 WIB bertempat di area
Car Free Day Jalan Slamet Riyadi, Surakarta.
C. Metode Pelaksanaan
1. Praktikum I
Metode yang digunakan dalam praktikum I adalah wawancara,
pencatatan dan observasi kepada peternak dan pegawai pengurus pasar
Nglangon.
2. Praktikum II
Metode yang digunakan dalam praktikum II adalah memasarkan
ternakhasil ternak berupa Day Old Duck (DOD) di sekitar area Car Free
Day Jalan Slamet Riyadi dengan cara mendatangi dan menawarkan produk
kepada calon pembeli.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Praktikum I
xviii

1)

Nama Pasar

2) Lokasi Pasar
3)

: Pasar Hewan Nglangon


: Jl. Ring Road Utara, Sragen

Luas Pasar

: 3 hektar

4) Hari Pasaran

: Pahing

5) Kapasitas Pasar

a) Ternak Besar

: 700 - 1000 ekor

b) Ternak Kecil

: 200 ekor

6) Fasilitas Pasar

a) Loket

: ada, 3 unit

b) Timbangan

: ada, 1 unit

c) Sumur

: ada, 1 unit

d) Kios

: ada, 25 unit

e) Tambatan

: ada, 50 unit

f) Naungan

: tidak ada

g) Tempat parkir

: tidak ada

7) Pedagang yang terlibat di pasar :


a) Pedagang Besar

: 50 - 70 orang

b) Pedagang Pengumpul

: 50 - 70 orang

c) Pedagang Perantara

: 50 - 70 orang

d) Pedagang Pengencer

: 50 - 70 orang

8) Lembaga / Dinas yang terlibat di pasar :


a) Dinas Peternakan dan perikanan sebagai pengawas kesehatan hewan,
sanitasi lingkungan dan pelayanan PKB
b) Dinas Perdagangan berfungsi sebagai pengelolaan aset daerah (los)
dan pengelolaan retribusi

9) Keluar masuknya ternak di daerah setempat (aliran ternak) :


Ternak dibawa oleh peternak atau pedagang pengumpul yang berasal dari
daerah sekitar Sragen seperi Karanganyar, Solo, Boyolali, Ngawi,

xix

Wonogiri, Purwodadi, dsb. dan dijual oleh peternak di pasar hewn untuk
kembali dialirkan ke daerah-daerah pemasaran lain.
10) Jumlah dan harga daging saat pengamatan :
a) Sapi jantan berkisar antara Rp. 17.000.000,- Rp. 32.000.000,b) Sapi betina dara dan indukan antara Rp. 15.000.000,-
Rp. 30.000.000,c) Sapi pedet berkisar antara Rp. 5.000.000,- Rp. 10.000.000,d) Kambing dan Domba berkisar antara Rp. 750.000,-
Rp. 1.250.000,11) Peraturan-peraturan perdagangan ternak :
Berlaku peraturan perdagangan ternak tingkat daerah kabupaten Sragen
dan peraturan Nasional
12) Jumlah ternak yang diperdagangkan di pasar hewan (yang datang dan
yang laku terjual) selama 1 tahun :
Tabel 1. Data Ternak yang Datang
Jumlah yang Datang ke Pasar
Sapi
Kerbau
Ayam
Kambing Domba
Rata Rata
700
5 10
200
200
Total
700
5 10
200
200
Sumber : Laporan Sementara Praktikum Pemasaran dan Tata Niaga
Ternak 2015
Tabel 2. Data Ternak yang Laku Terjual
Bulan

Jumlah yang Laku Terjual


Sapi
Kerbau
Ayam Kambing Domba
Tidak
100
100
Rata Rata 400 600
Tentu
150
150
Tidak
100
100
Total
400 600
Tentu
150
150
Sumber : Laporan Sementara Praktikum Pemasaran dan Tata Niaga
Ternak 2015
Bulan

a. Perencanaan Pemasaran
1) Bagaimana proses perencanaan produksi diambil (SDM, Modal dan
Infrastruktur) ?

xx

a) SDM peternak rata-rata berpendidikan rendah dan merupakan


peternak bedasarkan pengalaman. Pedagang pengumpul, pengecer
dan perantara juga cenderung berpendidikan rendah. Hanya
mengandalkan pengalaman lapangan dan kurang mempedulikan
teori ilmiah atau teori perdagangan sesuai penelitian yang sudah
dilakukan sebelumnya.
b) Produksi dilakukan oleh masing-masing peternak, di lahan masingmasing. Modal hanya dikeluarkan oleh pedagang pengumpul
(blantik) untuk dijual kembali ke pengecer dan peternak selama
(proses produksi). Perantara penjual tidak membutuhkan modal
tetapi mendapat upah dari peternak atau pembeli.
c) Infrastruktur pasar, pasar dinaungi oleh dinas peternakan dan
perikanan serta dinas perdagangan yang terstruktur dan sesuai
fungsi masing-masing. Diberlakukan tarif retribusi ternak Rp.
4000,- / ekor untuk ternak besar dan Rp. 1000,- / ekor untuk ternak
kecil. Tarif pengawasan kesehatan hewan juga diberlakukan Rp.
1000,- / ekor untuk ternak besar dan Rp. 500,- / ekor untuk ternak
kecil.
2) Bagaimana perencanaan tataniaga/pemasaran hasil produksi, dengan
pendekatan SWOT analysis ?
a) Kekuatan
: Pasar dekat dengan daerah disekitarnya sehingga
mempermudah jangkauan lokasi oleh peternak untuk menjual
ternaknya.
b) Kelemahan

: Fasilitas pasar kurang memadai dan beberapa ada

yang rusak.
c) Peluang

: Akses pasar yang mudah sehingga mempermudah

peternak untuk memasarkan hewan ternaknya


d) Hambatan
: Masih banyaknya perantara atau calo yang
membuat rantai pemasaran semakin panjang dan membuat harga
ternak makin tinggi
3) Bagaimana perencanaan pengembangan / ekspansi pemasaran ?
Semakin tahun peternak makin banyak yang datang untuk berdagang
dan berasal dari berbagai daerah di sekitar Sragen dan memiliki
potensi untuk semakin luas hingga daerah sekitar Jawa Timur

xxi

4) Bagaimana kesesuaian antara rencana pemasaran dan realisasinya ?


Rencana pemasaran dan realisasinya di Pasar Hewan Nglanggon ini
cukup sesuai dengan peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah
terkait dan dilaksanakan oleh peternak sesuai pengalaman mereka
dengan berbagai metode pemasaran seperti ada yang langsung dijual
ke pengecer, melalui blantik atau perantara (calo). Adanya rantai
pemasaran yang panjang dan kurang efektif membuat rencana
pemasaran menjadi

agak terhambat dan agak sulit untuk

menyelesaikan permasalahan ini, sehingga solusi tentang rantai


pemasaran harus diatasi lebih baik oleh lembaga pengelola dan
penanggung jawab di Pasar Nglangon, Sragen.
b. Fungsi Pertukaran
1) Ternak anda beli dari siapa ?
Peternak lain dengan harga Rp. 25.000.000,- pada tanggal 17
November 2015. Sapi yang dibeli adalah sapi Po dengan jenis kelamin
betina dan sudah siap dikawinkan.
2) Ketika akan membeli ternak bagaimana cara anda mencari informasi ?
Bertanya secara langsung kepada penjual melalui posisi yang
ditawarkan.
3) Apabila menjual ternak, bagaimana cara anda mencari calon pembeli ?
Setiap ada yang datang ke pasar saya mencoba menawarkan, selain itu
saya juga hanya berdiam diri dan calon pembeli akan menghampiri
untuk menanyakan dagangan saya. Ada kalanya ketika sudah
langganan bisa langsung kontak via hp.
4) Dijual / dipasarkan kemana saja ternak yang hasil pembelian di pasar
hewan ?
Area solo raya maupun keluar daerah seperti Ngawi, Purwodadi.
5) Bagaimana cara anda menetapkan harga ketika menjual ternak ?
Penetapan harga didasarkan pada bangsa sapi, jenis kelamin, dan juga
postur tubuh.

xxii

6) Siapa yang menetapkan harga jual ternak ?


Yang menetapkan harga adalah pemilik ternak.
7) Bagaimana cara pembayarannya ?
Pembayaran dilakukan secara kontan.
8) Kepada siapa umumnya anda menjual ternak ?
Menjual kepada peternak lokal maupun kepada pengepul untuk dijual
keluar daerah Sragen.
9) Bagaimana cara anda menjual ternak ?
Menjual ke pasar hewan dengan mendatangi calon pembeli yang
datang ke pasar hewan ataupun didatangi calon pembeli langsung.
c. Fungsi Fasilitas
1) Fasilitas - fasilitas yang dipergunakan atau diperoleh dalam
pembelian?
Pengangkutan

ternak

ke

tempat

tujuan

menggunakan

mobil

pengangkut tetap dikenakan biaya tergantung jarak yang ditempuh,


biaya yang dikenakan biasanya Rp. 50.000,- sampai Rp. 100.000,-.
2) Apakah anda mengenal adanya asuransi ?
Tidak ada asuransi yang diterapkan dalam perdagangan hewan di
pasar Nglangon Sragen.
3) Apakah dalam sistem perdagangan ternak dikenal sistem ijon?
Dalam sistem perdagangan di pasar hewan Nglangon Sragen tidak
dikenal adanya sistem ijon.
4) Dari mana anda mengetahui soal harga ternak?
Harga ternak diketahui melalui pedagang yang biasa berjualan di pasar
ternak, harga naik dan turun sesuai harga pasar yang berlaku.
d. Fungsi Fisik
1) Apakah anda melakukan penyimpanan ternak anda sebelum dijual ?
Ternak tidak melalui proses penyimpanan, setelah diambil dari
peternak sapi langsung dijual ke pasar.
2) Berapa lama anda melakukan penyimpanan ?
Ternak tidak melalui proses penyimpanan
3) Berapa biaya yang harus dikeluarkan dalam masa penyimpanan
ternak?

xxiii

Tiadak ada biaya yang dikeluarkan dalam proses penyimpanan


4) Berapa jumlah ternak yang anda simpan sebelum dijual ?
Tidak ada ternak yang disimpan
e. Saluran Tataniaga
1) Lembaga tataniaga yang terlibat dalam saluran tataniaga:
a) Peternak
b) Belantik
c) Pedagang
d) Pembeli
2) Gambar rantai tataniaga ternak
Peternak

Belantik

Pembeli

Pedagang

Gambar 1. Rantai Tataniaga Ternak di Pasar Nglangon Sragen


f. Biaya pemasaran
1) Perhitungan harga pokok dan harga jual
Harga pokok

= Rp. 25.000.000,-

Harga jual

= Rp. 30.000.000,-

2) Biaya pemasaran
Biaya retribusi pasar

= Rp. 4.000,-

Biaya pengawasan kesehatan

= Rp. 1.000,-

Biaya Transportasi

= Rp. 50.000,- +
Rp. 55.000,-

3) Margin pemasaran
M = He Hp
= Rp. 30.000.000,- Rp. 25.000.000,= Rp. 5.000.000,xxiv

4) Perhitungan keuntungan / kerugian


Keuntungan = Pendapatan Pengeluaran
= Rp. 30.000.000,- ( Rp. 25.000.000,- + Rp. 55.000,- )
= Rp. 4.945.000,g. Evaluasi Pemasaran
1) Kekurangan
Panjangnya saluran pemasaran yaitu banyaknya penggeret (orang
yang menyediakan jasa mencarikan ternak untuk konsumen kepada
para blantik maupun pedagang) menyebabkan margin pemasaran
semakin besar dan harga yang diterima konsumen menjadi tinggi.
2) Kelebihan
Pasar buka secara rutin 5 hari sekali mengikuti pasaran jawa membuat
kegiatan jual beli dan pemasaran juga berlangsung secara rutin dan
teratur.
3) Kesimpulan umum tentang tataniaga/pemasaran ternak
Prospek pemasaran ternak masih memiliki peluang yang luas dan
terbuka lebar dengan daerah pemasaran yang masih banyak mengingat
daging merupakan sumber kebutuhan protein hewani bagi manusia.

2. Praktikum II
a. Perlakuan sebelum Pemasaran
1) Proses pemilihan / pembelian produk / hasil ternak :
DOD dipilih karena cenderung lebih kuat dan tahan penyakit daripada
unggas lainnya, DOD diperoleh dari membeli langsung ke peternak
bebek.
2) Spesifikasi produk / hasil produk :
a) Jenis

: Hewan ternak

b) Asal

: Sukoharjo

xxv

c) Harga

: Rp. 4.500,- per ekor

d) Keunggulan

: Kuat dan tahan terhadap penyakit

e) Kelemahan

: Bulu tampak kusam dan tidak teratur

f) Spesifikasi lain

: Umur 3 hari

3) Proses pengolahan :
Tidak melalui proses pengolahan.
4) Pengemasan / pengepakan :
DOD dikemas dengan cara dimasukkan ke dalam sangkar yang
berbentuk tabung yang telah dihias.
5) Pergudangan / penyimpanan :
Sebelum dipasarkan DOD disimpan dan dipelihara dalam kotak
berukuran 60cm X 40cm
6) Pengangkutan :
DOD dimasukkan kotak kemudian dibawa dengan menggunakan sepeda
motor ke tempat penjualan
b. Promosi Pemasaran / Penjualan
1) Teknik menjual produk :
Produk dijual dengan cara mendatangi langsung dan menawarkannya
kepada calon konsumen.
2) Mekanisme penggunaan media pemasaran :
a) Penggunaan media iklan
Tidak menggunakan media iklan.
b) Penggunaan media internet
Tidak menggunakan media internet.
c) Penggunaan media cetak ( pamflet, leaflet, spanduk dll.)
Menggunakan kertas poster yang berisi nama produk.
c. Biaya Pemasaran
1) Perhitungan harga pokok dan harga jual :
a) Harga pokok adalah DOD.
Harga pokok = Rp. 4.500,- x 20
= Rp. 90.000,-

xxvi

b) DOD yang terjual 20 ekor


Harga Jual = Rp. 10.000,- x 20
= Rp. 200.000,2) Biaya tataniaga :
a) Kandang

= Rp. 3.500,- x 20 = Rp. 70.000,-

b) Pita + Spidol + Kertas

Rp. 32.300,- +

c) Jumlah

Rp. 102.300,-

3) Margin tataniaga :
M = HE - Hp
= Rp. 200.000,- Rp. 90.000,= Rp. 110.000,4) Perhitungan keuntungan / kerugian :
Keuntungan = Pendapatan Pengeluaran
= Rp. 200.000,- ( Rp. 90.000,- + Rp. 102.300,- )
= Rp. 7.700,d. Segmentasi Pasar
1) Segmentasi berdasarkan geografis (wilayah)
Pemasaran DOD dilaksanakan di CFD Jl Slamet Riyadi Solo. Segmentasi
pasar yang telah ditentukan oleh asisten praktikum ini dirasa praktikan
kurang tepat untuk produk yang dipasarkan yaitu DOD karena CFD
bukan pasar yang potensial untuk ternak.
2) Segmentasi berdasarkan volume (pembeli potensial / tidak, pembeli
ringan / berat)
Pembagian pasar untuk penjualan DOD ini ditujukan untuk para pembeli
potensial. Pembeli potensial adalah memiliki daya beli yang semula tidak
mengenal produk yang ditawarkan namun dengan usaha promosi yang
dilakukan mereka mau menggunakan produk tersebut. Hal tersebut
mengingat tidak adanya pembeli tetap DOD di CFD, pembeli tetap DOD
biasanya membeli langsung ke pasar hewan.

xxvii

3) Segmentasi berdasarkan demografis (umur, kelamin, besar keluarga,


tingkat pendapatan / daya beli, pendidikan, jenis pekerjaan, aspek agama,
paham kebangsaan, status sosial, ragam lembaga) sebagai berikut:
Pemasaran produk DOD ditujukan untuk anak-anak dalam rentang umur
3-6 tahun laki-laki maupun perempuan dan dari keluarga kecil.
Segmentasi pasar yaitu untuk semua jenis pendidikan dan semua jenis
pekerjaan karena harga DOD yang terjangkau hanya Rp. 10.000,-, akan
tetapi biasanya pembeli adalah orang muslim yang membeli karena orang
non Islam cenderung memelihara anjing ataupun kucing dibandingkan
ternak serta orang-orang yang mempunyai status sosial terlalu tinggi
tidak menjadi target pasar.
4) Segmentasi berdasarkan benefit (social / profit oriented)
Segmentasi pasar untuk DOD yaitu berdasar sosial oriented, untuk
mendapatkan keuntungan nonmaterial berupa hiburan dan kesenangan
karena tujuan pembelian DOD bukan untuk diternak melainkan untuk
dijadikan hiburan ataupun mainan.
5) Segmentasi

berdasarkan

psikografis

(gaya

hidup

masyarakat,

kedinamisan masyarakat)
Segmentasi pasar untuk mereka yang mempunyai gaya hidup menengah
ke bawah karena orang-orang dengan gaya hidup glamor cenderung tidak
tertarik untuk membeli ternak meskipun tidak selalu seperti itu.
6) Segmentasi berdasarkan faktor pemasaran ( harga, kualitas produk,
kesetiaan pelanggan, penawaran, permintaan )
Segementasi pasar yaitu dengan memasang harga yang terjangkau semua
kalangan, berkualitas baik tapi tidak mencari kesetiaan pelanggan
berhubung kegiatan pemasaran hanya dilakukan sekali dalam rangka
praktikum dan mengingat produk yang dipasarkan adalah hewan ternak
yang cenderung tidak dijadikan langgangan sebagai mainan atau hiburan.
7) Segmentasi berdasarkan produk ruang ( produk volumineus, ringkas /
tidaknya suatu produk )

xxviii

Produk yang dijual cukup ringkas dan ukurannya juga tidak terlalu besar,
DOD dimasukkan ke dalam sangkar sehingga konsumen dapat dengan
mudah membawa produk tersebut.
e. Evaluasi Pemasaran
1) Kekurangan
Kekurangan dalam pemasaran Day Old Duck (DOD) yaitu banyaknya
pesaing yang juga menjual produk yang sama, kurang mampunya
membujuk calon pembeli agar membeli DOD yang dipasarkan dan
kurangnya kekompakan kelompok dalam memasarkan DOD yang dijual.
2) Kelebihan
Kelebihan dalam pemasaran DOD yaitu packaging yang menarik, adanya
media promosi yang mampu memberikan informasi terhadap DOD yang
dijual dan mendatangi setiap calon pembeli agar membeli DOD yang
dijual.
3) Kesimpulan umum tentang tataniaga / pemasaran produk tersebut
Kesimpulan umum tentang tataniaga / pemasaran DOD cukup baik
karena semua DOD yang dipasarkan berhasil terjual.

B. Pembahasan
1. Praktikum I
a. Deskripsi
Pasar Nglangon berlokasi di Jl. Ringroad utara, Sragen. Letak
pasar ini berada tepat di jalur yang menghubungkan Provinsi Jawa
Tengah dan Provinsi Jawa Timur. Pasar ini memiliki luas area sekitar 3
ha, dengan kapasitas 700 1000 ekor ternak besar dan 200 ekor ternak
kecil. Pasar ini buka tiap pahing pada kalender jawa.
Pasar Nglangon memiliki beberapa fasilitas diantaranya loket ada
3 unit, timbangan untuk sapi 1 unit, sumur 1 unit, los 25 unit, dan
tambatan 50 unit. Pasar ini dikelola oleh Dinas Peternakan dan Perikanan
serta Dinas Perdagangan. Jumlah pedagang yang terlibat di Pasar
Nglangon diantaranya pedagang besar 50 70 orang, pedagang

xxix

pengumpul 50 70 orang, pedagang perantara 50 -70 orang, dan


pengecer 50 70 orang.
Ternak yang dijual di Pasar Nglangon berasal dari berbagai
daerah seperti Sragen, Wonogiri, Karang Anyar, Ngawi, dan Boyolali.
Biaaya retribusi untuk sapi adalah Rp. 4000,-, sedangkan untuk kambing
adalah Rp. 1000,-. Harga ternak di Pasar Nglangon bervariasi
diantaranya sapi jantan berkisar antara Rp. 17.000.000,- Rp.
32.000.000,-, sapi betina dara dan indukan antara Rp. 15.000.000,- Rp.
30.000.000,-, sapi pedet berkisar antara Rp. 5.000.000,- Rp.
10.000.000,-, kambing dan domba berkisar antara Rp. 750.000,- Rp.
1.250.000,-.
Menurut Ratniati (2007), pasar merupakan salah satu penentu
keberhasilan usaha. Langkah awal pengembangan usaha peternakan
adalah mengetahui sistem pemasaran. Pihak yang terlibat akan
diuntungkan apabila mekanisme pemasaran berjalan baik. Pendekatan
yang dilakukan dalam pemasaran adalah pendekatan fungsional,
kelembagaan, produk, manajerial, dan sistem.
b. Perencanaan Pemasaran
Strategi pemasaran merupakan suatu manajemen yang disusun
untuk mempercepat pemecahan persolalan pemasaran dan membuat
keputusan - keputusan yang bersifat strategis. Setiap fungsi manajemen
memberikan kontribusi tertentu pada saat penyusunan strategi pada level
yang berbeda. Pemasaran merupakan fungsi yang memiliki kontak paling
besar dengan lingkungan eksternal, padahal perusahaan hanya memiliki
kendali yang terbatas terhadap lingkungan eksternal, oleh karena itu
pemasaran memainkan peranan penting dalam pengembangan strategi
(Fandy, 2000)
SDM peternak rata-rata berpendidikan rendah dan merupakan
peternak bedasarkan pengalaman. Pedagang pengumpul, pengecer dan
perantara juga cenderung berpendidikan rendah. Produksi dilakukan oleh

xxx

masing-masing peternak, di lahan masing-masing. Modal hanya


dikeluarkan oleh pedagang pengumpul ( blantik ) untuk dijual kembali ke
pengecer dan peternak selama ( proses produksi ). Pasar dinaungi oleh
dinas peternakan dan perikanan serta dinas perdagangan yang terstruktur
dan sesuai fungsi masing-masing.
Peternak, dari tahun ke tahun semakin banyak yang datang untuk
berdagang dan berasal dari berbagai daerah di sekitar Sragen dan
memiliki potensi untuk semakin luas hingga daerah sekitar Jawa Timur
dan hal ini akan meningkatkan ekspansi dari pemasaran. Rencana
pemasaran dan realisasinya di Pasar Hewan Nglangon ini cukup sesuai
dengan peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah. Rantai pemasaran
yang panjang dan kurang efektif membuat rencana pemasaran menjadi
agak terhambat dan agak sulit untuk menyelesaikan permasalahan ini,
sehingga solusi tentang rantai pemasaran harus diatasi lebih baik oleh
lembaga pengelola dan penanggung jawab di Pasar Nglangon, Sragen.

c. Fungsi Pertukaran
Menurut Sudiyono (2002), fungsi pertukaran dalam pemasaran
produk - produk pertanian meliputi kegiatan yang menyangkut
pengalihan hal pemilikan dalam sistem pemasaran. Fungsi pertukaran ini
terdiri dari fungsi penjualan dan pembelian, dalam melaksanakan fungsi
penjualan produsen atau lembaga pemasaran yang berada pada rantai
pemasaran sebelumnya harus memperhatikan kualitas, kuantitas, bentuk
dan waktu serta harga yang diinginkan konsumen ataupun lembaga
pemasaran yang ada pada rantai pemasaran. Fungsi pembeli ini
diperlukan untuk memiliki komoditi komoditi pertanian yang akan
dikonsumsi ataupun digunakan dalam proses produksi.
Ternak yang dijual di Pasar Nglangon pada umumnya harga
ternak ditetapkan berdasarkan usia, bangsa, dan jenis kelamin. Pedagang
yang berjualan di Pasar Nglangon mendapatkan ternak berasal dari

xxxi

peternak dan pedagang perantara. Pedagang di Pasar Nglangon mencari


calon pembeli dengan cara menawarkan ke calon pembeli atau calon
pembeli langsung mendatangi pedagang.
Transaksi jual beli di Pasar Nglangon dilakukan secara kontan,
oleh karena itu bila berkeinginan untuk beli, pembeli diharuskan
membawa uang kontan. Pedagang - pedagang di Pasar Nglangon
menetapkan harga jual berdasarkan harga pasaran dan kesepakatan
dengan semua pedagang. Ternak di Pasar Nglangon biasanya dijual ke
peternak lain atau dijual ke pedagang pengumpul.
d. Fungsi Fasilitas
Mayoritas pedagang di Pasar Nglangon tidak memberikan
fasilitas-fasilitas kepada pembeli. Fasilitas - fasilitas yang dimaksud
adalah bebas biaya transportasi / ongkos kirim, asuransi dan system ijon.
Fasilitas-fasilitas tersebut tidak disediakan namun seluruh sistem
transaksi jual beli berjalan secara normal.
Hasil wawancara kami dengan penjual ternak, mereka mengetahui
harga ternak melalui pedagang yang biasa berjualan di pasar ternak.
Harga ternak naik dan turun sesuai harga pasar yang berlaku. Harga
ternak di pasar Nglangon bervariasi tergantung jenis kelamin, besar
kecilnya ternak dan jenis ternak itu sendiri.
Menurut Suryana (2008), sistem pemasaran mencakup kegunaan
bentuk, waktu, tempat dan kepemilikan. Panjang pendeknya rantai
pemasaran ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu jarak dari produsen ke
konsumen, daya tahan produk, skala produksi, dan posisi keuangan
pengusaha. Pemasaran yang baik akan menjamin keberlanjutan pasokan
dan permintaan. Rantai pemasaran perlu diciptakan untuk menghindari
salah pasok. Bentuk pemasaran dapat berupa pasar hewan yang menjual
bentuk ternak hidup atau tempat khusus untuk penjualan unggas,
sehingga konsumen dapat secara leluasa memilih produk yang
dipasarkan.
e. Fungsi Fisik

xxxii

Menurut Sudiyono (2002), fungsi fisik meliputi kegiatan-kegiatan


yang secara langsung diberlakukan terhadap komoditi pertanian,
sehingga komoditi-komoditi pertanian tersebut mengalami tambahan
guna tempat dan guna waktu. Berdasarkan definisi fungsi fisik di atas,
maka fungsi fisik ini meliputi pengangkutan dan penyimpanan. Fungsi
pengangkutan ini meliputi perencanaan, pemilihan dan pergerakan alatalat transportasi dalam pemasaran produk-produk pertanian. Fungsi fisik
lainnya adalah penyimpanan, fungsi penyimpanan ini diperlukan karena
produksi komoditi pertanian bersifat musiman, sedangkan pola konsumsi
bersifat relatif tepat dari waktu ke waktu.
Para pedagang di Pasar Nglangon tidak melakukan proses
penyimpanan sebelum mereka menjual ternak. Para pedagang mengambil
ternak dari peternak ketika pasar buka, sehingga mereka tidak melakukan
penyimpanan ternak terlebih dahulu. Pedagang tidak perlu mengeluarkan
biaya untuk penyimpanan ternak, karena mereka tidak melakukan
penyimpanan terlebih dahulu.
Pedagang di Pasar Nglangon biasanya membawa ternak mereka
ke pasar dengan kendaraan bak terbuka. Pedagang mengambil ternak dari
peternak pada pagi hari kemudian langsung membawa ternak ke pasar.
Biaya untuk transportasi berkisar antara Rp. 50.000,- - Rp. 100.000,-.
f. Saluran Tataniaga
Menurut Siregar (2007), saluran tataniaga adalah pergerakan
barang-barang dari pihak produsen ke pihak konsumen melalui lembaga
tataniaga. Panjang pendeknya saluran tataniaga yang dilalui oleh suatu
hasil peternakan tergantung dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut
diantaranya jarak antara produsen ke konsumen, cepat tidaknya produk
rusak, skala produksi, dan posisi keuangan pengusaha.
Lembaga tataniaga yang terlibat di Pasar Nglangon adalah
peternak, blantik dan pedagang pengecer. Saluran tataniaga di Pasar
Nglangon sangat efisien dan tidak terlalu rumit. Blantik mendapatkan

xxxiii

ternak dari peternak yang kemudian oleh blantik dijual ke pedagang


pengecer.
Saluran tataniaga di Pasar Nglangon memiliki sedikit kekurangan
yaitu adanya calo dan penggeret. Calo dan penggeret menyebabkan
margin pemasaran semakin besar dan harga yang diterima konsumen
menjadi tinggi. Calo dan penggeret ini bisa dihindari oleh konsumen
dengan cara membeli ternak langsung ke pedagang pengecer atau ke
blantik tanpa perantara.
g. Biaya Pemasaran
Menurut Hanafiah (2006), biaya tataniaga mencakup jumlah
pengeluaran perusahaan untuk keperluan pelaksanaan kegiatan yang
berhubungan

dengan

penjualan

hasil

produksinya

dan

jumlah

pengeluaran oleh lembaga tataniaga (badan perantara) dan laba (profit)


yang diterima oleh badan bersangkutan. Biaya tataniaga suatu macam
produk biasanya diukur secara kasar dengan margin dan spread. Margin
adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan perbedaan harga
yang dibayar oleh pembeli terakhir. Keuntungan (laba) adalah perbedaan
antara penghasilan total dengan penbiayaan total dari operasi perusahaan.
Hasil wawancara dengan seorang pedagang diketahui bahwa
harga pokok dari sapi yang dibeli dari peternak adalah Rp. 25.000.000,dan harga jualnya adalah Rp. 30.000.000,-. Biaya pemasaran yang
dibutuhkan yaitu tarif retribusi sebesar Rp. 4.000,-, tarif pengawasan
kesehatan Rp. 1.000,-, dan transportasi Rp. 50.000,-. Margin pemasaran
berdasarkan data tersebut sebesar Rp. 5.000.000,- dan keuntungan yang
diperoleh pedagang sebesar Rp. 4.945.000,-.
Semakin besar margin pemasaran, maka semakin besar pula harga
yang akan diterima oleh konsumen. Perlu adanya upaya memangkas
saluran tataniaga agar harga yang diterima konsumen tidak terlalu tinggi.
Selain memangkas saluran tataniaga, mengurangi biaya pemasaran juga
bisa dilakukan untuk mengurangi harga yang diterima konsumen.
h. Evaluasi Pemasaran
Menurut Rangkuti (2004), evaluasi pemasaran dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar kekurangan pada proses pemasaran serta
xxxiv

kelebihan - kelebihan yang ada saat proses pemasaran. Hal ini dapat
digunakan untuk menetapkan strategi pemasaran. Strategi pemasaran
didasarkan pada peluang - peluang atau opportunity, namun dapat
meminimalkan kelemahan (wealinesses) dan ancaman (threats).
Pemasaran ternak di Pasar Hewan Nglangon memiliki
kekurangan yaitu saluran pemasaran yang kurang efektif yaitu adanya
calo dan penggeret (orang yang menyediakan jasa mencarikan ternak
untuk konsumen kepada para blantik maupun pedagang). Penggeret dan
calo menyebabkan harga yang diterima konsumen semakin tinggi.
Penggeret dan calo bisa dihindari dengan cara membeli ternak langsung
ke pengecer atau ke blantik tanpa perantara.
Pasar buka secara rutin 5 hari sekali mengikuti pasaran Jawa.
Kegiatan jual beli dan pemasaran juga berlangsung secara rutin dan
teratur. Prospek pemasaran ternak masih memiliki peluang yang luas dan
terbuka lebar dengan daerah pemasaran yang masih banyak mengingat
daging merupakan sumber kebutuhan protein hewani bagi manusia.
2. Praktikum II
a. Perlakuan sebelum Pemasaran
Praktikum pemasaran yang diadakan di Car Free Day Jl. Slamet
Riyadi kelompok kami berjualan komoditas hewan ternak yang berupa
DOD. DOD diperoleh dari peternak bebek di daerah Sukoharjo dengan
umur sekitar 4 hari. Alasan pemilihan DOD sebagai komoditas karena
memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik.
DOD tidak mengalami pengolahan sebelum dijual karena dijual
dalam kondisi hidup. Pengangkutan DOD dengan cara memasukkannya
ke dalam box dan dibawa menggunakan sepeda motor. Pengemasan
DOD yaitu dengan cara dimasukkan dalam sangkar yang telah dihias
dengan pita.
Menurut Eviyati (2005), hasil dari produk yang dihasilkan usaha
tani tidak semuanya di distribusikan langsung ke konsumen. Sebagian
mengalami pengolahan terlebih dahulu lalu didistribusikan ke konsumen.

xxxv

Pelaku-pelaku dalam kegiatan disini yaitu pengumpul produk, pengolah


produk, pedagang, penyalur ke konsumen pembuat peti dan kaleng
pembungkus produk olahan.
b. Promosi Pemasaran
Menurut Sistianingrum (2002), promosi merupakan salah satu unsur
kegiatan dari bauran pemasaran (marketing mix). Promosi menjadi media
informasi mengenal segala hal yang berkaitan dengan produk yang akan

ditawarkan perusahaan kepada konsumen. Efektivitas kegiatan promosi


penjualan akan sangat menentukan citra produk maupun citra perusahaan
dimata masyarakat, khususnya konsumen, pada akhirnya akan sangat
mempengaruhi tingkat permintaan konsumen atas produk yang
ditawarkan perusahaan.
Promosi DOD dilakukan dengan cara mendatangi langsung calon
pembeli dan menawarkannya. Promosi juga dilakukan dengan membawa
papan nama produk agar lebih menarik calon pembeli. Kemasan produk
yang menarik dan indah juga kami lakukan untuk menarik minat calon
pembeli.
Tidak semua calon pembeli mau langsung membeli DOD. Harus
melakukan sedikit upaya persuasif atau membujuk untuk meyakinkan
calon pembeli. Kebanyakan dari pembeli DOD adalah dari anak anak
dan juga ibu ibu.
c. Biaya Tataniaga
Dari hasil praktikum berjualan DOD, didapatkan biaya tataniaga
sebesar Rp. 102.300,-. Harga pokok DOD adalah Rp. 90.000,- dan biaya
operasionalnya Rp. 102.300- meliputi kandang, pita, spidol dan kertas.
Harga jual DOD yaitu Rp. 10.000,- / ekor.
Margin tataniaga adalah selisih antara harga yang diterima
produsen dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen, dengan
demikian rumus margin tataniaga yaitu :
M

= HE HP

Dimana :

xxxvi

= Margin tataniaga

HE

= harga eceran di tingkat pengecer

HP

= harga di tingkat produsen

Berdasarkan hasil perhitungan, margin tataniaga yang diperoleh


sebesar Rp. 110.000,-. Berdasarkan perhitungan kelompok kami
mendapatkan keuntungan dari penjualan DOD. Keuntungan tersebut di
dapatkan dari selisih antara biaya penjualan dengan biaya tataniaga.
Menurut Hanafiah (2006), biaya tataniaga mencakup jumlah
pengeluaran perusahaan untuk keperluan pelaksanaan kegiatan yang
berhubungan

dengan

penjualan

hasil

produksinya

dan

jumlah

pengeluaran oleh lembaga tataniaga (badan perantara) dan laba (profit)


yang diterima oleh badan bersangkutan. Biaya tataniaga suatu macam
produk biasanya diukur secara kasar dengan margin dan spread. Margin
adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan perbedaan harga
yang dibayar oleh pembeli terakhir. Keuntungan (laba) adalah perbedaan
antara penghasilan total dengan penbiayaan total dari operasi perusahaan.
d. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah tindakan mengidentifikasikan dan
membentuk kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah. Masingmasing segmen konsumen ini memiliki karakteristik, kebutuhan produk
dan bauran pemasaran tersendiri. Variabel yang berbeda digunakan untuk
mensegmentasikan pasar. Beberapa periset berusaha membentuk segmen
dengan

mencari

ciri-ciri

geografis,

demografis

dan

psikografis

(Rangkuti, 2004).
Pemilihan tempat di CFD untuk memasarkan DOD dirasa
bukanlah pilihan yang tepat. Hal tersebut dikarenakan CFD adalah
tempat untuk berolahraga dan mencari hiburan sehingga segmentasi
pasarnya ditujukan untuk pembeli potensial, yaitu mereka yang awalnya
tidak mengenal DOD yang dijual akan tetapi berkat promosi yang
dilakukan mereka akhinya mau membeli DOD. Pemasaran DOD di CFD
ini ditujukan untuk para orang tua yang memiliki anak usia 3-6 tahun.

xxxvii

Rata-rata pembeli potensial bertujuan untuk membeli DOD untuk


memberikan hiburan kepada anak mereka. Orang dari semua kalangan
cenderung mampu untuk membeli DOD karena harganya yang
terjangkau yaitu hanya Rp10.000.
Konsumen di daerah CFD ini tidak semua bisa menerima produk
peternakan yang ditawarkan karena berbagai alasan antara lain tidak
mempunyai lahan untuk memelihara itik, kondisi tempat tinggal ynag
berdempetan bisa menimbulkan konflik akibat bau kotoran itik. Tetapi
ada juga konsumen yang tertarik dengan DOD untuk dijadikan mainan.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik
konsumen di daerah CFD Surakarta ini tidak kritis dan mempunyai
respon yang kurang bagus terhadap produk peternakan khususnya DOD.
Segmentasi pasar untuk DOD yaitu berdasar sosial oriented, untuk
mendapatkan keuntungan nonmaterial berupa hiburan dan kesenangan
karena tujuan pembelian DOD bukan untuk diternak melainkan untuk
dijadikan hiburan ataupun mainan.
e. Evaluasi Pemasaran
Menurut Rangkuti (2004), evaluasi pemasaran dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar kekurangan pada proses pemasaran serta
kelebihan - kelebihan yang ada saat proses pemasaran. Evaluasi dapat
digunakan untuk menetapkan strategi pemasaran yang didasarkan pada
peluang-peluang

atau

opportunity.

Namun

dapat

meminimalkan

kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).


Evaluasi pemasaran ternak Day Old Duck (DOD) adalah dari segi
kelebihan yaitu packaging yang menarik, adanya media promosi yang
mampu memberikan informasi terhadap DOD yang dijual dan
mendatangi setiap calon pembeli agar membeli DOD yang dijual. Segi
kelemahannya yaitu banyaknya pesaing yang juga menjual produk yang
sama, kurang mampunya membujuk calon pembeli agar membeli DOD
yang dipasarkan. Selain itu kurangnya kekompakan kelompok dalam
memasarkan DOD yang dijual juga mempengaruhi penjualan DOD.

xxxviii

Secara keseluruhan tataniaga / pemasaran ternak DOD cukup


baik. Meskipun strategi pemasaran yang diterapkan kurang tepat, namun
20 DOD yang dipasarakan berhasil terjual semua. Total keuntungan yang
diperoleh adalah Rp. 7.700,-.

V.
A.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari Praktikum Pemasaran dan
Tataniaga Peternakan ini antara lain :
1.

Rantai tataniaga yang ada di Pasar Nglangon adalah peternak,


blantik, pedagang pengecer dan konsumen.

2.

Keuntungan yang diperoleh pedagang sapi di Pasar Nglangon


sebesar

Rp. 4.945.000,- dengan margin pemasaran sebesar Rp.

5.000.000,-.
3.

Fasilitas pasar meliputi loket, timbangan, sumur, kios dan tambatan.

4.

Tidak adanya penyimpanan ternak sebelum dijual.

5.

Keuntungan yang diperoleh ketika berdagang DOD adalah Rp.


7.700,- dengan margin pemasaran sebesar Rp. 110.000,-.

B. Saran
1. Sebaiknya dilakukan breafing dan pembagian terlebih dahulu sesaat
sebelum masuk ke dalam lokasi pasar, sehingga tidak terjadi kebingungan
saat sudah berada di dalam pasar.
xxxix

2. Sebaiknya dilakukan survey lokasi terlebih dahulu sebelum melakukan


praktik berjualan di Car Free Day, agar mengerti area-area yang diizinkan
untuk berjualan.

DAFTAR PUSTAKA
Assauri, S. 2007. Manajemen Pemasaran. Rajawali. Jakarta.
Daniel. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara. Jakarta.
Djaslim Saladin. 2007. Manajemen Pemasaran. Linda Karya. Bandung.
Eviyati, R. 2005. Tinjauan Agribisnis Peternakan. Jurnal Agrijati (1) Desember
2005. Fakultas Pertanian. Universitas Swadaya Gunungjati. Cirebon.
Hanafiah A. M dan Saefuddin A. M. 2006. Tataniaga Hasil Perikanan. Universitas
Indonesia. Jakarta.
Jatmiko, R.D. 2004. Pegantar Bisnis. Universitas Muhammdiyah Malang.
Malang.
Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran di Indonesia : Analisis, Perencanaan,
Implementasi dan Pengendalian. Salemba Empat. Jakarta.
Lamb, C., Joseph, Hair, Carl, M., 2001. Pemasaran. Salemba Empat. Jakarta.
Pindyck, Robert dan Rubinfeld, Daniel.L. 2001. Mikroekonomi, Edisi Keenam,
Jilid 1. PT.Indeks. Jakarta.
Rahardja. 2003. Ekonomi. Rineka Cipta. Jakarta.
Rangkuti, F. 2004. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Ratniati, N.K. 2007. Analisis Sistem Pemasaran Ternak Sapi Potong PT Great
Giant Livestock Company Lampung Tengah. Skripsi. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

xl

Schiffman, L.G dan Kanuk, Lesley L. 2008. Consumer Behavior. Perason Prestice
Hall. New Jersey.
Siregar. 2006. Materi Kuliah Tataniaga Hasil Ternak. Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin. Makassar
______. 2007. Materi Kuliah Tataniaga Hasil Ternak. Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi. Raja
Grafindo Persada. Jakarta
Stanton, William J. 2001. Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.
Sudiyono, A. 2002. Pemasaran Pertanian. UMM Press. Malang.
Suryana. 2008. Masalah dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi. Universitas
Pendidikan Indonesia. Jakarta.
Swastha, Basu dan Irawan. 2005. Manajemen Pemasaran Modern. Liberty.
Yogyakarta.

xli