Anda di halaman 1dari 6

Lake Lanoux Case

Kasus Lake Lanoux Tahun 1957 antara Perancis Vs Spanyol


A. Kasus Posisi
Kasus Lake Lanoux bermula dari rencana Perancis memanfaatkan potensi danau Lanoux
untuk keperluan pendirian hydroelectric. Spanyol berkeberatan terhadap rencana itu, karena
khawatir sungai-sungai Spanyol yang besumber pada danau itu mengalami pencemaran
akibat limbah kimia dan perubahan suhu yang dihasilkan oleh teknologi yang digunakan,
yang membahayakan kekayaan hayati sungai tersebut. Atas pertimbangan tersebut Spanyol
mengajukan keberatan terhadap rencana Perancis. Dengan demikian terjadilah sengketa
kepentingan antara kedua negara bersangkutan.
Arbitrase yang dibentuk untuk menyelesaikan sengketa itu menggunakan asas good faith
untuk menyelesaikan kasus tersebut. Arbitrase dalam keputusannya menyatakan antara lain :
according to the rule of good faith, the state is under the obligation to take into
consideration the various interest involved, to seek to give them every satisfaction compatible
with the pursuit of its own interst..
Bahwa Negara hulu mempunyai kewajiban untuk mempertimbangan seluruh kepentingan
yang terkait dengan setiap kegiatan yang ia lakukan didalam wilayahnya. Pertimbangan itu
dimaksudkan untuk untuk menjamin tercapainya tujuan-tujuan kegiatan tersebut secara baik.
Dalam perspektif prinsip good faith, setiap negara hendaknya hanya melakukan kegiatankegiatan yang bermanfaat dan juga baik bagi dirinya. Apa yang bermanfaat dan baik bagi
dirinya, hendaknya juga dirasakan sama oleh negara lain, dan apa yang dirasakan merugikan
oleh negara lain hendaknya juga dirasakan merugikan oleh negara pelaku kegiatan.
Dengan demikian suatu negara hendaknya tidak mengerjakan kegiatan yang hanya
menguntungkan dirinya dan merugikan negara lain, atau setiap negara hendaknya
mengerjakan kegiatan-kegiatan yang tidak merugikan semua pihak.
Prinsip diatas mengandung 2 (dua) makna, yang pertama, negara hulu wajib
mepertimbangkan kepentingan negara hilir, yang kedua, negara hulu dalam menetapkan
rencana-rencananya, atau bertindak didalam wilayahnya tidaklah perlu menunggu
persetujuan-persetujuan negara hilir, namun demikian adalah wajib bagi negara hulu untuk
mempertimbangkan kepentingan negara hilir, agar tindakan yang dilakukan tidak
menimbulkan kerugian terhadap negara hilir.
B. Arbitrase
Bahwa kita dapat menemukan definisi tentang arbitase dari berbagai produk
hukum, seperti dalam hukum positif Indonesia, yaitu Menurut Pasal 1 angka 1 Undang
Undang Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang
didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang

bersengketa. Ketentuan tentang Arbitrase juga diatur pada penjelasan pasal 3 ayat (1)
Undang-Undang No.14 Tahun 1970 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman
menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luar Pengadilan atas dasar perdamaian atau
melalui wasit (arbitrase) tetap diperbolehkan. Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam
2
(dua)
bentuk,
yaitu:
1. Klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak
sebelum
timbul
sengketa
(Factum
de
compromitendo);
atau
2. Suatu perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa
(Akta Kompromis).
Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badan-badan arbitrase
seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), atau yang internasional seperti The
Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris, The
Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes
(ICSID) di Washington. Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase
sendiri-sendiri.
Bahwa BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausularbitrase
bagai berikut:Semua sengketa yang timbul dari perjanjianini, akan diselesaikan dan diputus
oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur
arbitrase BANI,yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa,sebagai
keputusan dalam tingkat pertama dan tingkat terakhir. Standar klausul arbitrase UNCITRAL
(United
Nation
Comission
ofInternational
Trade
Law)
adalah:
Setiap sengketa, pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian
ini, atau wan prestasi, pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui
arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL.
C. Kelebihan dan Kekurangan Arbitrase
Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui Penjelasan Umum Undang Undang
Nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa melalui
arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan. Keunggulan itu adalah:
a.Kerahasiaan sengketa para pihak terjamin ;
b. Keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat dihindari
c. Para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman, memiliki latar belakang yang
cukupmengenai
masalah
yang
disengketakan,
serta
jujur
dan
adil
;
d. Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk penyelesaian masalahnya para pihak
dapat
memilih
tempat
penyelenggaraan
arbitrase
;
e. Putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur
sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan.
Para ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai keunggulan arbitrase. Menurut
Prof. Subekti bagi dunia perdagangan atau bisnis, penyelesaian sengketa lewat arbitrase atau
perwasitan, mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan dengan cepat,
oleh para ahli, dan secara rahasia. Sementara HMN Purwosutjipto mengemukakan arti
pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:

1.Penyelesaian
sengketa
dapat
dilakasanakan
dengan
cepat
2.Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang diper-sengketakan, yang
diharapkan
mampu
membuat
putusan
yang
memuaskan
para
pihak
3. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak.
4. Putusan peradilan wasit dirahasiakan, sehingga umum tidak mengetahui tentang
kelemahan-kelemahan perushaan yang bersangkutan. Sifat rahasia pada putusan perwasitan
inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha.
Disamping keunggulan arbitrase seperti tersebut diatas, arbitrase juga memiliki kelemahan
arbitrase. Dari praktek yang berjalan di Indonesia, kelemahan arbitrase adalah masih sulitnya
upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase, padahal pengaturan untuk eksekusi putusan
arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas. Disamping itu dapat juga ditarik
beberapa
kelemahan
arbitrase
yaitu:
a.Hanya baik dan tersedia daengan baik terhadap perusahaan-perusahaan bonafide
b.Kurangnya unsur finality
c.Kurangnya power untuk menggiring para pihak ke settlement.
d.Kurangnya power untuk menghadirkan barang bukti, saksi dan lain-lain.
e.Kurangnya power untuk hal law enforcement dan eksekusi keputusan
f.Tidak dapat menghasilkan solusi yang bersifat preventif.
g.Kualitas keputusannya sangat bergantung pada kualitas para arbiter itu sendiri, tanpa ada
norma yang cukup untuk menjaga standar mutu keputusan arbitrase. Oleh karena itu sering
disebut An arbitration is as good as arbitrators.
D. Pelaksanaan Keputusan Badan Arbitrase Komersial Internasional Menurut Konvensi

NewYork1958.
Salah satu fokus utama dalam Konvensi New York 1958, yakni Convetion on the
Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang ditandatangani 10 Juni 1958
di kota New York. Ketika Konvensi ini lahir, para pakar arbitrase waktu itu mengakui bahwa
Konvensi ini merupakan satu langakh perbaikan dalam hal pengakuan dan pelaksanaan suatu
keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri, khusunya di antara negara anggota Konvensi.
Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni 1959. Konvensi ini hanya
mensyaratkan tiga ratifikasi agar berlaku. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak
jumlah ratifikasi ketiga terpenuhi. Pada waktu meratifikasi atau mengikatkan diri (aksesi)
terhadap konvensi, negara-negara dapat mengajukan persyaratan (reservasi) terhadap isi
ketentuan Konvensi New York (pasal 1). Terdapat dua persyaratan yang diperkenankan, yang
pertama adalah persyaratan resiprositas (reciprocity-reservation). Yang kedua adalah
persyaratan komersial (commercial-reservation). Konsekuensi dari diajukannya persyaratan
pertma, yaitu bahwa negara yang bersangkutan baru akan menerapkan ketentuan Konvensi
apabila keputusan arbitrase tersebut dibuat di negara yang juga adalah anggota Konvensi
New York. Apabila keputusan tersebut ternyata dibuat di negara yang bukan anggota, maka
negara tersebut tidak akan menerapkan ketentuan Konvensi.

Persyaratan komersial berarti bahwa suatu negara yang telah meratifikasi Konvensi
New York hanya akan menerapkan ketentuan Konvensi terhadap sengketa-sengketa
komersial menurut hukum nasionalnya. Konvensi ini mengandung 16 pasal. Dari pasalpasal ini dapat ditarik 5 prinsip berikut dibawah ini:
Prinsip pertama, yakni Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan
keputusan arbitrase luar negeri dan menempatkan keputusan tersebut pada kedudukan yang
sama dengan keputusan peradilan nasional. Prinsip kedua, yakni Konvensi ini mengakui
prinsip keputusan arbitrase yang mengikat tanpa perlu ditarik dalam keputusannya. Prinsip
ketiga, yaitu Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double enforcement
process). Prinsip keempat, Konvensi New York mensyaratkan penyedrhanaan dokumentasi
yang diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan Konvensi. Prinsip
kelima, Konvensi New York lebih lengkap, lebih komprehensif daripada hukum nasional
pada umumnya. Berbeda dengan hukum nasional pada umumnya yang hanya mengatur
tentang pelaksanaan (enforcement) suatu keputusan pengadilan (termasuk arbitrase),
Konvensi New York juga mengatur tentang pengakuan (recognition) terhadap suatu
keputusan arbitrase.
Ketentuan utama Konvensi terdapat dalam pasal I, III dan V. Menurut pasal I,
Konvensi berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang dibuat dalam wilayah suatu negara
selain daripada negara di mana pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase itu diminta
dan berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang bukan domestic di suatu negara di mana
pengakuan dan pelaksanaannya diminta.
Pasal III mewajibkan setiap negara peserta untuk mengakui keputusan arbitrase yang
dibuat di luar negeri mempunyai kekuatan hukum dan melaksanakannya sesuai dengan
hukum (acara) nasional di mana keputusan tersebut akan dilaksanakan. Seperti telah
dikemukakan diatas, ketentuan pasal ini hanya pokoknya saja tentang pelaksanaan keputusan
arbitrase, tidak detail. Konvensi hanya menyebutkan saja tentang daya mengikat suatu
keputusan dan tentang bagaimana pelaksanaan atau eksekusinya. Konvensi tidak
mengaturnya siapa pihak yang berwenang untuk mengeksekusi keputusan tersebut;
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung.
Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk
menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. Prinsipnya yaitu bahwa
pihak yang mengajukan penolakan keputusan arbitrase harus mengajukan dan membuktikan
alasan-alasan penolakan tersebut. Pasal ini memuat 7 alasan penolakan pelaksanaan suatu
keputusan arbitrase, yaitu
1. Bahwa para pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut ternyata menurut hukum
nasionalnya tidak mampu atau menurut hukum yang mengatur perjanjian tersebut atau
menurut hukum negara di mana keputusan tersebut dibuat apabila tidak ada petunjuk hukum
mana
yang
berlaku.
2. Pihak terhdap mana keputusan diminta tidak diberikan pemberitahuan yang sepatutnya
tentang penunjukan arbitrator atau persidangan arbitrase atau tidak dapat mengajukan
kasusnya.
3. Keputusan yang dikeluarkan tidak menyangkut hal-hal yang diserahkan untuk diputuskan
oleh arbitrase, atau keputusan tersebut mengandung hal-hal yang berada di luar dari hal-hal
yang seharusnya diputuskan, atau

4. Komposisi wewenang arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan persetujuan
para pihak, atau, tidak sesuai dengan hukum nasional tempat arbitrase berlangsung, atau
5. Keputusan tersebut belum mengikat terhadap para pihak atau dikesampingkan atau
ditangguhkan oleh pejabat yang berwenang di negara di mana keputusan dibuat
E. Prinsip Itikad Baik

Prinsip intikad baik dapat dikatakan sebagai prinsip fundamental dan paling sentral dalam
penyelesaian sengketa antarnegara, prinsip ini mensyaratkan dan mewajibkan adanya itikad
baik dari para pihak dalam menyelesaikan sengketanya. Prinsip good faith ini tercantum
dalam Manila Declaration Section 1 paragraph 1, yang berbunyi ;
All state shall act in good faith and in conformity with the purpose and pinciples
enshrired in the charter of the United Nations with a view to avoiding disputes among
themselves
Prinsip selain good faith tercantum dalam Manila Declaration juga terdapat dalam Bali
Concord 1976 Pasal 13, yang menyatakan : The high contracting parties shall have the
determination and good faith to prevent disputes from arising. Dalam penyelesaian sengketa
prinsip good faith tercermin dalam 2 (dua) tahap, yang pertama prinsip itikad baik
diisyaratkan untuk mencegah timbulnya sengeketa yang dapat mempengaruhi hubungan baik
antarnegara, yang kedua, bahwa prinsip good faith ini diisyaratkan harus ada ketika para
pihak menyeleslam aikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa yang dikenal
dalam hukum internasional.
Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada pihak ketiga yang netral yang
mengeluarkan putusan bersifat final dan mengikat (binding). Penyerahan suatu sengketa
kepada arbitrase dapat dilakukan dengan pembuatan suatu compromis, yaitu penyerahan
kepada arbitrase suatu sengketa yang lahir atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrase
dalam suatu perjanjian, sebelum sengketanya lahir (clause compromissoire).
Penggunaan arbitrase dalam arti modern dikenal pada waktu dikeluarkannyaThe Hague
Convention for the Pacific Settlement of Internasional Disputes tahun 1899 dan 1907, dimana
konvensi ini telah melahirkan suatu badan arbitrase internasional (Permanent Court of
Arbitration).
Pemilihan arbitrator sepenuhnya berada pada kesepakatan para pihak, biasanya arbitrator
yang dipilih adalah mereka yang telah ahli mengenai pokok sengketa serta diharuskan untuk
netral. Setelah arbitrator ditunjuk selanjutnya arbitrator menetapkan terms of reference atau
aturan permainan (hukum acara) yang menjadi patokan kerja. Terms of reference ini memuat
tentang pokok masalah yang akan diselesaikan, kewenangan yuridiksi arbitrator dan aturanaturan (acara) sidang arbitrase, yang semua isinya teserbut harus disepakati oleh para pihak
yang besengketa.

https://ciils.wordpress.com/2008/04/06/lake-lanoux-case/