Anda di halaman 1dari 21

Makalah Mata Kuliah Farmakologi Kemoterapi

I.

Definisi
Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan parasite protozoa

dari genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.
Terdapat empat spesies plasmodium penyebab malaria pada manusia yaitu,
Plasmodium

vivax, Plasmodium

falciparum, Plasmodium

malariae

dan

Plasmodium ovale (Anies, 2007).


Antimalaria adalah obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan gejala dari suatu infeksi parasit penyebab malaria atau obat yang
ditujukan untuk menghilangkan parasit penyebab malaria.Maksud pemberian obat
antimalarial ini yaitu sebagai profilaksis, sebagai terapeutik atau untuk mencegah
transmisi (Natadisastra,2009).
Obat sebagai profilaksis yaitu obat yang mencegah seseorang terkena
malaria atau timbulnya gejala klinis, misalnya pada seseorang yang akan
mengunjungi daerah endemic malaria. Profilaksis absolut yaitu membasmi
sporozoit yang baru ditularkan oleh Anopheles. Profilaksis kausal adalah yaitu
membasmi parasit stadium dini dalam jaringan hati, sebelum merozoit hati
dilepaskan ke dalam darah. Profilaksis klinis yaitu mengurangi, menekan
parasitemia sedemikian rendah sehingga tidak menimbulkan gejala klinik
(Natadisastra,2009).
Obat sebagai terapi atau kuratif adalah obat pada penderita malaria yang
digunakan untuk menyembuhkan infeksi, pengobatan serangan akut juga
radikal.Sedangkan obat untuk menccegah transmisi yaitu obat obat yang efektif
terhadap gametosit sehingga dapat mencegah infeksi pada Anopheles atau
mempengaruhi proses dalam nyamuk (Natadisastra,2009).
II.

Patofisiologi
Parasit penyebab malaria pertama kali menginfeksi sel-sel hati dan

kemudian berpindah ke eritrosit. Infeksi akan menyebabkan hemolysis berat pada


sel sel darah merah. Pada titik ini semakin banyak parasite yang dibebaskan ke
dalam sirkulasi dan timbul siklus infeksi berikutnya (Handayani dan Haribowo,
2008).

Manusia ini merupakan hospes antara temapt plasmodium mengadakan


skizogoni (siklus aseksual), sedangkan nyamuk Anopheles merupakan vektor dan
hospes definitif tempat terjadinya siklus seksual. Pada manusia, parasit ini hidup
dalam sel tubuh dalam sel tubuh dan sel darah merah. Siklus hidup parasit malaria
dan patofisiologinya dapat dilihat pada gambar berikut :

Siklus Aseksual
Infeksi malaria terjadi dengan masuknya sporozoit melalui gigitan nyamuk
Anopheles yang terinfeksi parasit. Dengan masuknya sporozoit ini dimulailah
siklus aseksual plasmodium. Sporozoit ini akan masuk ke sirkulasi darah dan
menetap di sel parenkim hati untuk bermultiplikasi dan berkembang menjadi
skizon jaringan. Skizon jaringan ini selanjutnya akan pecah dan akan melepaskan
beribu-ribu merozoit yang akan masuk ke sirkulasi darah dan akan menginvasi
eritrosit (Gunawan et al. 2012).
Parasit dalam eritrosit ini akan memperbanyak diri membentuk trofozoit
dan akhirnya terbentuk skizon yang matang. Eritrosit yang mengandung skizon
kemudian pecah melepaskan merozoit ke sirkulasi, sebagian merozoit ini
memasuki eritrosit lain dan mengulangi lagi fase skizogoni . Penghancuran
eritrosit yang terjadi secara periodic inilah yang menimbulkan gejala khas malaria,
yaitu demam diikuti menggigil (Gunawan et al. 2012).

Siklus Seksual
Sebagian dari merozoit tidak masuk ke eritrosit, tetapi berdiferensiasi
menjadi gamet jantan (mikrogamet) dan betina (makrogamet) yang akan
berpindah saat nyamuk menggigit pasien. Dengan demikian siklus seksual
dimulai. Gametosit berdiferensiasi lebih lanjut menjadi gamet jantan dan betina.
Pembuahan ini terjadi dalam usus nyamuk. Zigot yang tadi akan berkembang
menjadi sporozoit dan berpindah ke kelenjar saliva nyamuk dan menginfeksi
manusia lain melalui gigitan (Gunawan et al. 2012).
Dari infeksi yang ditimbulkan tadi akan menimbulkan beberapa gejala
pada seseorang yang terinfeksi oleh parasite Plasmodium, seperti demam yang
bisa disertai dengan menggigil, sakit kepala, sakit pada otot badan, mual, muntah,
berkeringat, kejang-kejang bahkan koma (Anies, 2007).

III.

Jenis Malaria
Jenis malaria paling ringan adalah malaria tertian yang disebabkan oleh

Plasmodium Vivax, dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali
setelah gejala pertama terjadi (Dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi).
Malaria tropica disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan merupakan
penyebab sebagian kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering
menghalangi jalan darah ke otak sehingga dapat menyebabkan koma hingga
kematian. Malaria kuartana disebabkan oleh Plasmodium malariae, memiliki masa
inkubasi yang lebih lama daripada malaria tropika dan tertian. Gejala pertama
biasanya tidak terjadi anatara 18-40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut
akan berulang kembali setiap tiga hari (Anies, 2007).
IV.

Penggolongan Obat Anti Jamur


IV.1. Obat Antimalaria secara umum.
1. Derivat Quinolin : kloroquin dan turunannya
2. Antifolat
: Sulfonamid, primetamin dan proguanil
3. Antimikroba
: Tetrasiklin, dosisiklin dan klindamisin
4. Derivat artemisin
5. Derivat lain
: Atovakuon

IV.2.

(Gunawan et al, 2012).


Obat obat antimalaria menurut pengelompokan secara

kimiawi terdiri atas :


1. Alkaloid kina, yaitu kina (kuinin dan kuinidin)
2. 4-aminokuinolin, yaitu klorokuin,amodiakuin
3. 8-aminokuinolin, yaitu primakuin
4. Diaminopirimidin, yaitu primetamin
5. Sulfonamid dan sulfon, yaitu sulfadoksin, sulfadiazine, sulfon
6. 9-aminoakridin, yaitu mepakrin, atebrin
7. Biguanid, yaitu proguanil, sikloguanil, kloroguanil
8. 4-kuinolin methanol, yaitu meflokuin
9. Antibiotika, yaitu tetrasiklin, dosisiklin
(Natadisastra,2009).
IV.3.

Obat Antimalaria yang tergantung pada tempat parasit berada

dalam siklus hidupnya.


1. Obat Skizontisida atau disebut juga dengan obat skizontisida darah
yang bekerja terhadap Plasmodium sp.yang berada di dalam eritrosit.
Yang termasuk ke dalam obat golongan ini adalah klorokuin,
amodiakuin, kina, proguanil, dan primetamin.
2. Skizontisida jaringan primer untuk mencegah masuknya parasite ke
dalam eritrosit. Contoh obatnya adalah primetamin dan proguanil
3. AntiRelapse yang bekerja terhadap Plasmodium sp.yang berada diluar
eritrosit terutama dalam stadium hipnozoit, disebut juga sebagai
skizontisida jaringan sekunder atau skizontisisda hati. Contoh obatnya
yaitu, primakui, pamakuin, kuinakrin
4. Gametosida yang beekrja terhadap gametosit yaitu primakuin,
klorokuin,amodiakuin atau kina.
5. Sporontosida bekerja dengan cara mencegah sporogoni di dalam
nyamuk yaitu proguanil, dan primakuin
6. Pengobatan radikal dengan kombinasi obat antirelaps dan skizonisida
(Natadisastra,2009).
V.

Mekanisme Kerja Obat Anti Malaria


V.1. Derivat Quinolin
Mekanisme kerja dari obat antimalarial quinolin ini masih kontroversi.

Salah satu mekanisme yang penting adalah penghambatan aktivitas polymerase


heme plasmodia. Polimerase heme plasmodia ini berperan mendetoksifikasi heme
ferriprotoporphyrin IX menjadi bentuk hemozoin yang tidak toksik Heme ini

merupakan senyawa yang bersifat membranolitik dan terbentuk dari pemecahan


hemoglobin di vakuol makanan parasite. Peningkatan heme di dalam parasite ini
akan menimbulkan lisis membrane parasitt (Gunawan et al, 2012).
V.2. Antifolat
Jalur sintetis asam folat ini merupakan salah satu target kerja dari obat
antimalaria. Pada dasarnya asam folat ini. Asam folat ini sangat penting untuk
produksi purin dan sintesis asam nukleat bagi parasit. Obat golongan antifolat ini
akan bekerja pada enzim enzim yng berada pada jalur sintesis asam folat (Staf
Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Reaksi yang ditimbulkan dari obat golongan antifolat ini sangat luas
sehingga dapat mengganggu sintesa DNA, melalui deplesi pada tetradihidrofolate
yang merupakan kofaktor yang penting pada jalur folat. Ada dua jalur penting
yang terkait dari sintesis asam folat ini, yang pertama yaitu sebagai kompetitif
inhibitor pada enzim dihidroolat reduktase (DHFR), kelompok tersebut antara lain
primetamin, biguanid proguanil serta klorproguanil, dan yang kedua adalah
sebagai kompetitif inhibitor dari enzim dihidropteroat sintetase (DHPS) (Nduati et
al,2005).
Primetamin yang bekerja terhadap enzim DHFR akan membuat parasite
tidak mampu membentuk asam tetrahidrofolat . Dengan demikian parasit tidak
mampu melanjutkan siklus hidupnya dan akhirnya akan difagosit. Sulfadoksin
yang bekerja berkompetisi dengan PABA (para amino benzoic acid) untuk
berikatan dengan enzim DHPS, sehingga pembentukan asam dihidrofolat akan
terganggu. Dengan demikian asam folat yang dibutuhkan parasite tidak dihasilkan
(Nduati et al,2005). Mekanisme sintesis asam folat dapat dilihat sebagai berikut :

V.3.

Obat Anti Mikroba

Obat antimikroba yang digunakan untuk antimalarial adalah golongan


tetrasiklin dan klindamisin. Obat antimikroba ini adalah merupakan obat yang
digunakan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme
penyebab infeksi dengan cara menghambat sintesis protein (Kee dan Hayes,
1996).
Golongan tetrasiklin ini akan menghambat sintesis protein pada sel parasit.
Tetrasiklin ini akan mengikat sub unit ribosom 30S dan akan menghambat
pengikatan aminoasil-tRNA terhadap tempat pengikatannya pada ribosom
ribosom (Marks et al, 1996).
V.4. Derivat Artemisin
Secara umum mekanisme kerja dari artemisin sebagai antimalarial ini
adalah dengan cara komponen artemisin ini akan diaktivasi oleh heme atau
molekul Fe untuk memproduksi radikal bebas dan elektrofilik (Alkilasi)

intermediet, kemudian tahap selanjutnya akan terjadi reksi spesies yang reaktif
diikuti perusakan pada membrane spesifik dari parasite malaria yang terhubung
dengan protein (Bousema, 2003).
Struktur jembatan feroksida pada pada molekul artemisin ini diputus oleh
ion Fe2+ (ion Fe ini ) menjadi radikal bebas yang sangat reaktif. Radikal-radikal
artemisin ini kemudian menghambat dan memodifikasi berbagai macam molekul
dalam dalam parasite sehingga parasitnya akan mati. Seperti diketahui bahwa
sumber

ion

Fe2+intrasel

ini

adalah

heme

(komponen

penting

dalam

hemoglobin).Oleh karena itu Fe2+ bertanggung jawab dalam mengaktifkan


artemisin untuk membunuh parasite (Bousema, 2003).
V.5. Atovakuon
Obat ini merupakan suatu derivat hidroksinaftokuinon. Obat ini bekerja
secara selektif mempengaruhi transport electron dan proses biosintesis lain
seperti ATP dan pirimidin di mitokondria Plasmodium sp sehingga menjadi
kolaps. Obat ini efektif pada stadium darah plasmodium, bentuk takizoit dan
kiste Taxoplasma gondii dan fungi Plasmodium carinii. Efek sinergis terjadi bila
proguanil digabungkan dengan obat ini karena proguanil meningkatkan
kolapsnya membrane mitokondria. Kombinasi obat ini efektif untuk profilaksis
dan pengobatan Plasmodium falciparum yang resisten majemuk, Plasmodium
vivax dan Plasmodium ovale (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI,
2009).

VI.

Obat yang Digunakan Sebagai Antimalaria


1. Klorokuin
Klorokuin ( 7-kloro-4-(4-dietilamino-1-metil-butil-amino) kuinolin ialah

turunan 4-aminokuinolin (Gunawan et al, 2012).


Mekanisme Kerja
Salah satu mekanisme yang penting dari klorokuin ini adalah dengan
menghambat aktivitas polymerase heme plasmodia (Gunawan et al, 2012).
Farmakokinetik
Absorpsi klorokuin setelah pemberian oral terjadi lengkap dan cepat, dan
makanan akan mempercepat absorpsi ini. Kadar puncak dalam plasma dicapai
setalah 3-5 jam. Kira-kira 55% dari jumlah obat dalam plasma akan terikat pada

non diffusible plasma constituent. Klorokuin lebih banyak terikat di jaringan.


Sebaliknya pada otak dan medla spinalis hanya mengandung klorokuin 10-30 kali
kadar plasmanya. Metabolisme klorokuin dalam tubuh berlangsung lambat sekali
dan metabolitnya monodesetilklorokuin dan bisdesetilklorokuin, waktu paruh
terminalnya berkisar antara 30-60 hari. dan diekskresi melalui urin (Gunawan et al,
2012).
Indikasi
Klorokuin digunakan sebagai antimalaria yang sangat efektif

terhadap

parasit dalam fase eritrosit, dan sama sekali tidak efektif terhadap parasite di
jaringan. Efektivitasnya sangat tinggi terhada Plasmodium vivax, Plasmodium
malariae, Plasmodium ovale, dan strain Plasmodium falciparum yang peka
terhadap klorokuin (Gunawan et al, 2012).
Efek Samping
Efek samping yang mungkin ditimbulkan pada pemberian klorokuin adalah
berupa sakit kepala ringan, gangguan pencernaan, gangguan penglihatan dan
gatal-gatal. Pemberian klorokuin dalam jangka waktu lama dengan dosis 250
mg/hari dapat menimbulkan ototoksisitas dan retinopati yang meningkat. Dosis
tinggi parenteral yang diberikan secara cepat dapat menimbulkan toksisitas
terutama pada sistem kardiovaskuler berupa hipotensi, vasodilatasi, penekanan
fungsi miokard, yang pada akhirnya menyebabkan henti jantung (Gunawan et al,
2012).
KontraIndikasi
Klorokuin harus digunakan hati hati pada pasien dengan penyakit hari,
pasien gangguan saluran cerna, neurologic dan dan darah yang berat. Apabila
terjadi gangguan selama terapi, maka pengobatan harus dihentikan. Pada pasien
dengan defisiensi G6PD, klorokuin dapat menyebabkan hemolysis. Tidak
digunakan bersamaan dengan meflokuin karena akan meningkatkan risiko kejang
dan tidak digunakan bersamaan dengan antikonvulsan karena dapat menurunkan
aktivitas antikonvulsan (Gunawan et al, 2012).
2.

Kina
Kina adalah alkaloid yang diperoleh dari kulit pohon sinkona (Gunawan et

al, 2012).
Mekanisme Kerja

Mekanisme kerja antimalarianya yaitu berkaitan dengan gugus kuinolin


yang dimilikinya dan sebagian disebabkan karena kina merupakan basa lemah
sehingga akan memiliki kepekaan yang tinggi di dalam vakuola dari plasmodium,
sehingga akan menghambat aktivitas heme polymerase, sehingga terbentuk sustrat
yang bersifat sitotoksik (Gunawan et al, 2012).
Farmakokinetik
Absorpsi dari kina sangat baik, baik yang diberiakn secara oral amupun
intramuscular. Untuk pemberian per oral, lebih dari 80% diabsorpsi terutama
melalui usus bagian atas. Kadar punck plasmanya dicapai dalam waktu 3-8jam
dengan waktu paruh kurnag lebih 11 jam.Obat ini dimetabolisme di hati dn
hanya 20% dari dosis yang diberikan diekskresikan dalam bentuk urin.
Ekskresinya melalui ginjal lebih cepat pada urin asam dibandingkan dalam
kondisi alkalin (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Indikasi
Digunakan untuk pengobatan malaria

(Staf Pengajar Departemen

Farmakologi UNSRI, 2009).


Efek samping
Efek sampingnya biasanya ringan berupa gangguan saluran cerna seperti
mual, muntah dan diare . Sinkonisme dapat terjadi berupa kumpulan gejala
seperti, tinitu, sakit kepala, gangguan visual (mata kabur, persepsi warna yang
salah, rabun senja dan diplopia), hipoglikemia serat hipotensi yang timbul
berkaitan dengan dosis pemberian kina. Asma, anemia hemolitik ringan dan
leukopenia dapat terjadi meskipun jarang . Efek samping yang fatal adalah
berupa kematian yang biasanya terjadi saat diberikan dosis pada 2-8 gram (Staf
Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Kontraindikasi
Pasien dengan kondisis Diabetes Melitus, hipersensitivitas, neuritis optic
atau tinnitus, tanda tanda hemolysis dan miastenia gravis (Staf Pengajar
Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
3. Hidroksiklorokuin
Farmakokinetik

Hidroksiklorokuin ini diabsorpsi secara cepat pada saluran cerna,


distribusinya sangat tinggi pada plasma dan jaringan, tetapi eliminasinya sangat
lambat (Schlagenhauf dan Lawlor 2008).
Indikasi
Untuk infeksi karena parasite Plasmodium falciparum dan sebagai
pengobatan profilaksis antimalaria (Schlagenhauf dan Lawlor 2008).
Efek Samping
Efek samping berupa sakit kepala ringan, gangguan pencernaan, gangguan
penglihatan dan gatal-gatal (Gunawan et al, 2012).
KontraIndikasi
Obat ini memiliki kontraindikasi dengan pasien yang mengalami
abnormalitas retina (Schlagenhauf dan Lawlor 2008).
4. Meflokuin
Meflokuin digunakan untuk mencegh dan mengobati malaria yang resisten
klorokuin dan Plasmodium falciparum yang resisten dengan berbagai macam obat
(Gunawan et al, 2012).
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari meflokuin smpai saat ini belum jelas, tetapi diduga
mirip kina. Penelitian menunjukan bahwa kemungkinan obat ini bekerja dengan
menghambat polimerasi heme dan membentuk komplek toksik dengan komponen
lain di Plasmodium. Obat ini bersifat skizontosid darah yang kuat terutama untuk
ebntuk trofozoit matur dan bentuk skizon, serta bersifat sporontosidal ( Gunawan
et al, 2012).
Farmakokinetik
Mefloquin memiliki absorpsi pada 2.1 jam setelah pemberian secara oral.
Puncak konsentrasi dalam plasma berada pada waktu 17 jam Mefloquin ini akan
dimetabolisme di hati , dan metabolit utamanya berupa asam karboksilat.
Ekskresinya terutama melalui empedu dan tinja (Schlagenhauf dan Lawlor 2008).
Indikasi
Untuk pengobatan malaria tanpa komplikasi, digunakan untuk profilaksis
malaria (Kresnawati, 2010).
Efek Samping
Mual, muntah, diare, nyeri perut, menurunnya nafsu makan, suli tidur,
mimpi buruk, gangguan saraf dan psikiatri, gangguan sensorik dan motoric,
tremor, ataxia, gangguan penglihatan, telinga berdengung, kebingungan,
halusinasi, jantung berdebar, nyeri otot (Kresnawati, 2010).

KontraIndikasi
Pasien dengan riwayat gangguan psikiatri seperti depresi atau kejang-kejang
(Kresnawati, 2010).
5. Primakuin
Primakuin atau 8-(4-amino-1metilbutilamino)-6-metakuinolin ialah turunan
8-aminokuinolin Primakuin adalah antimalarial yang dikombinasikan dengan
klorokuin dalam pengobatan malaria. Obat ini efektif terhadap gametosid dari
semua Plasmodium sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit. Juga efektif
terhadap bentuk hipnozoit dari malaria vivax dan ovale sehingga dapat digunakan
untuk pengobatan radikal dan mencegah relaps. Obat ini tidak memilikiefek yang
nyata terhadap bentuk aseksual parasite di darah sehingga selalu digunakan
bersamaan dengan skizontosida darah dan tidak pernah digunakan sebagai obat
tunggal (Azlin,2004).
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari primakuin samapi saat ini belum diketahui secara
pasti, tetapi ahnaya diduga bekerja sebagai mediator oksidasi reduksi parasi.
Obat ini efektif ada stadium hepatic lanjut an bentuk laten di jaringan P.vivaks
dan P.ovale, sehingga bermanfaat secara klinis untuk pengobatan radikal
terhadap malaria yang relaps (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI,
2009).
Farmakokinetik
Setelah pemberian peroral, primakuin segera diabsorpsi dan didistribusikan
luas ke jaringan. Metabolismenya berlangsung cepat dan hanya sebagian kecil
dari dosis yang diberikan yang diekskresi ke urin dalam bentuk asal. Pada
pemberian dosis tunggal, konsentrasi plasma mencapai maksimum dalam 3 jam,
dan waktu paruh eliminasinya 6 jam. Metabolisme oksidatif primakuin
menghasilkan tiga metabolit yaitu turunan karboksil merupakan turunan utama
yang memiliki aktivitas tidak toksik sedangkan metabolit lainnya memiliki
aktivitas hemolitik (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009)
Indikasi
Primakuin ini digunakan dalam penyembuhan radikal malaria pada
Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale (Staf Pengajar Departemen
Farmakologi UNSRI, 2009).

Efek Samping
Efek samping yang paling berat dari primakuin ialah anemia hemolitik akut.
Dengan penggunaan dosis tinggi akan menimbulkan spasme usus, gangguan
lambung,

memeperberat

gangguan

di

perut,

dan

menyebabkan

methemoglobinemia dan sianosis (Staf Pengajar Departemen Farmakologi


UNSRI, 2009).
KontraIndikasi
Primakuin dikontaindikasikan pada pasien dengan penyakit sistemik yang
berat yang cenderung mengalami granulositopenia misalnya artritis rheumatoid
dan lupus eritematosus. Tidak dianjurkan diberikan bersamaan dengan obat lain
yang dapat menimbulkan hemolysis dan obat yang dpat menyebabkan depresi
sumsum tulang (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
6. Proguanil
Proguanil atau disebut dengan kloroguanid ditemukan pada 1945 dan
merupakan derivate biguanid. Di dalam tubuh obat ini diubah menjadi
metabolitnya, yaitu siklik triazin yang bersifat skinzontosida darah (Staf Pengajar
Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Mekanisme Kerja
Menghambat aktivitas enzim dihidrofolat sintetase sehingga parasite tidak
dapat mensitesa asam folat yang merupakan unsur mutlak bagi pembentukan
DNA dan RNA, sehingga pembelahan intinya akan terganggu (Staf Pengajar
Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Farmakokinetik
Absorpsi dari proguanil ini sangat lambat. Setelah pemberian dosis tunggal,
konsentrasi obat ini dalam plasma dicapai dalam waktu 5 jam dengan waktu
paruh lebih kurang 20 jam. Obat ini di oksidasi menjadi dua metabolit, yaitu 4klorofenil-biguanid yang merupakan metabolit tidak aktif dan sikloguanil yang
meruapkan metabolit aktifnya. Kurang lebih 40-60-% dari obat yang diabsorpsi ,
diekskresikan melalui urin dalam bentuk utuh ataupun dalam bentuk metabolit
aktif (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Indikasi
Obat ini digunakan untuk sebaagai profilaksis penyakit malaria
Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Efek Samping

(Staf

Dengan dosis harian profilaksis 200-300mg, efek samping minimal dan


biasanya berupa diare dan nausea. Dalam dosis besar (1 gram atau lebih), dapat
menyebabkan mual, muntah, nyeri perut dan hematuria. Meskipun jarang dapat
juga terjadi hilangnya rambut dan ulkus di mulut (Staf Pengajar Departemen
Farmakologi UNSRI, 2009).
KontraIndikasi
Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan gangguan fungsi hati (Staf
Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
7. Primetamin
Primetamin ialah turunan pirimidin, nama kimianya adalah 2,4diamino-5-pklorofenil-6-etil-pirimidin (Gunawan et al, 2012).
Mekanisme Kerja
Primetamin bekerja terhadap parasite dalam bentuk eritrosit dengan cara
menghambat dihidrofolat reduktase, dengan memblok secara tidak langsung
sintesis asam nukleat parasite sehingga menimbulkan gagalnya pembentukan
skizon di dalam hati. Obat ini merupakan skizontosida darah yang bekerja lambat
dan diduga aktif pada bentuk preeritrositik parasite malaria dan menghambat
perkembangan sporozoit di vektor nyamuk (Staf Pengajar Departemen
Farmakologi UNSRI, 2009).
Farmakokinetik
Penyerapan primetamin di saluran cerna berlangsung lambat tetapi lengkap.
Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma diccapai dalam waktu 4-6 jam.
Konsentrasi obat yang berefek supresi dapat menetap di dalam darah selama kirakira 2 minggu. Obat ini ditimbun terutama di ginjal, paru, hati, dan limpa
kemudian diekskresi lambat dengan waktu paruh kira-kira 4 hari. Metabolitnya
diekskresi melalui urin (Gunawan et al, 2012).
Indikasi
Primetamin digunakan sebagai skizontosid darah akibat parasit malaria
(Gunawan et al, 2012).
Efek Samping
Pada dosis besar akan mengakibatkan terjadinya anemia makrositik yang
serupa dengan yang terjadi pada defisiensi asam folat (Gunawan et al, 2012).
KontraIndikasi
Pasien yang mengalami hipersensitivitas terhadap primetamin (Gunawan et
al, 2012).

8. Tetrasiklin
Tetrasiklin adalah antibiotic yang bersifat skintosida darah untuk semua
spesies plasmodium dan skizontosida jaringan. Obat ini perlu dikombinasikan
dengan obat antimalarial lain yang bekerja cepat dan menghasilkan efek potensial.
Tetrasiklin merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk garam
natriumnya mudah larut air (Tarigan, 2003).
Mekanisme Kerja
Tetrasiklin ini bersifat bakeriostatik dengan menghmbat sintesis protein. Hal
ini dengan cara mengikat ribosom 30 S sehingga t-RNA tidak menempel pada
ribosom yang mengakibatkan tidak terbentuknya amino asetil RNA. Antibiotik ini
juga dilaporkan juga berperan dalam mengikat ion Fe dan Mg (Tarigan, 2003).
Farmakokinetik
Absorpsi dari tetrasiklin kira-kira 30-80% diserap lewat saluran cerna.
Absorpsi ini sebagian besar berlangsung dilambung dan usus halus bagian atas.
Dalam plasma, semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah
yang bervariasi. Dalam cairan serebrospinal kadar golongan tetrasiklin ini hanya
10-20% kadar dalam serum. Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti
dihati sehingga aman diberikan pada pasien gagal ginjal Golongan tetrasiklin
diekskresi melalui urin berdasarkan filtrasi glomerulus. Pada pemberian per oral
kira-kira 20-55% golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Golongan
tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali
kadar serum (Gunawan et al, 2012).
Indikasi
Digunakan untuk profilaksis infeksi karena parasit malaria seperti
Plasmodium falciparum yang resistensi terhadap klorokuin

(Gunawan et al,

2012).
Efek Samping
Dapat terjadi superinfeksi oleh kuman resistensi dan jamur. Superinfeksi
candida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, kadang menyebabkan infeksi
sistemik. Superinfeksi juga dapat menyebabkan diare. Enterokolitis stafilokokus
dan colitis pseudomembranosa (Gunawan et al, 2012).
KontraIndikasi

Tidak digunakan pada wanita hamil, bila tidak ada indikasi kuat jangan
diberikan pada anak-anak. Tidak diberikan pada pasien yang hipersensitif
terhadap obat ini (Gunawan et al, 2012).
9. Dosisiklin
Dosisiklin adalah turunan dai tetrasiklin yang mempunyai aktifitas yang
hampir sama dengan tetrasiklin. Perbedaannya adalah dosisiklin diabsorpsi lebih
baik dan memiliki waktu paruh yang lama. Dosisiklin digunakna untuk profilaksis
bagi daerah daerah endemic yang terjangkit P.falciparum(Gunawan et al, 2012).
Mekanisme Kerja
Golongan tetrasiklin ini menghambat sintesis protein bakteri pada
ribosomnya. Dosisiklin memperlambat pertumbuhan bakteri yang sensitif dengan
cara mengganggu produksi protein yang diperlukan bagi pertumbuhan bakteri
dengan cara berikatan dengan ribosom 30 S dan menghalangi masuknya komplek
tRNA (Gunawan et al, 2012).
Farmakokinetik
Absorpsi dari dosisiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini sebagian besar
berlangsung di almbung dan usus halus bagian atas. Masa paruh dosisiklin tidak
berubah pada infusiensi ginjal. Dalam plasma dosisiklin ini terikat oleh protein
plasma. Dalam cairan serebrospinal kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20%
kadar dalam serum. Daya penetrasi dosisiklin ini baik terhadap jaringan. Obat ini
mengalami metabolisme yang sangat berarti dihati dan diekskresi melalui urin
berdasarkan filtrasi glomerulus (Gunawan et al, 2012).
Indikasi
Digunakan untuk profilaksis infeksi karena parasit malaria seperti
Plasmodium falciparum yang resistensi terhadap klorokuin

(Gunawan et al,

2012).
Efek Samping
Dapat terjadi superinfeksi oleh kuman resistensi dan jamur. Superinfeksi
candida biasanya terjadi dalam rongga mulut, faring, kadang menyebabkan infeksi
sistemik. Superinfeksi juga dapat menyebabkan diare. Enterokolitis stafilokokus
dan colitis pseudomembranosa (Gunawan et al, 2012).
KontarIndikasi

Tidak digunakan pada wanita hamil, bila tidak ada indikasi kuat jangan
diberikan pada anak-anak. Tidak diberikan pada pasien yang hipersensitif
terhadap obat ini (Gunawan et al, 2012).
10. Sulfonamid
Farmakokinetik
Absorpsi melalui saluran cerrna mudah dan cepat. Kira-kira 70-100% dosis
oral sulfonamide di absorpsi melalui saluran cerna dan dapat ditemukan dalam
urin 30 menit setelah pemberian.Absorpsi terutama terjadi di usus halus. Semua
sulfonamide terikat pada protein plasma terutama pada albumin. Obat ini tersebar
ke seluruh jaringan tubuh, karena itu berguna untuk infeksi sistemik. Dalam cairan
tubuh kadar obat bentuk bebas mencapai 50-80% dalam darah. Dalam tubuh, sulfa
mengalami asetilasi dan oksidasi. Hampir semua obat diekskresi melalui ginjal,
baik dalam bentuk asetil maupun bentuk bebas. Masa paruh sulfonamid
tergantung pada keadaan fungsi ginjal. Sebagian kecil di ekskresikan melalui
tinja, empedu, dan air susu ibu (Gunawan et al, 2012).
Indikasi
Untuk infeksi akut pada saluran kemih, digunakan untu disentri
basiler,meningitis,

nokardiasis,

aktinomikosis,

infeksi

oleh

stafilokokus,

shigelosis, pengobatan infeksi Plasmodium falsiparum (Staf Pengajar Departemen


Farmakologi UNSRI,2009).
Efek Samping
Dapat menyebabkan lesi di kulit, hipersensitivitas dan hipoglikemia
(Gunawan et al, 2012).
Kontraindikasi
Tidakdigunakan pada pasien penyakit ginjal, insufiensi jantung, defisiensi
bawaan

dari

glukosa-6-fosfat-dehidrigenase,

kerusakan

parenkim

hati,

hipersensitifitas terhadap sulfonamide dan wanita hamil (Gunawan et al, 2012).


11. Artemisin dan Derivatnya
Artemisin merupakan senyawa seskuiterpen lakton yang diekstrak dari
tanaman Artemisia annua. Merupakan obat yang berasal dari Cina ( Qinghoosu )
yang memberikan efektivitas yang tinggi terhadap strain yang multiresisten.
Senyawa ini menunjukan sifat skizontosida darah yang cepat, sehingga digunakan
untuk infeksi malaria yang berat ( Sukarban et al, 1995).
Mekanisme Kerja

Secara umum mekanisme kerja dari artemisin sebagai antimalarial ini


adalah dengan cara komponen artemisin ini akan diaktivasi oleh heme atau
molekul Fe untuk memproduksi radikal bebas dan elektrofilik (Alkilasi)
intermediet, kemudian tahap selanjutnya akan terjadi reksi spesies yang reaktif
diikuti perusakan pada membrane spesifik dari parasite malaria yang terhubung
dengan protein (Bousema, 2003).
Struktur jembatan feroksida pada pada molekul artemisin ini diputus oleh
ion Fe2+ (ion Fe ini ) menjadi radikal bebas yang sangat reaktif. Radikal-radikal
artemisin ini kemudian menghambat dan memodifikasi berbagai macam molekul
dalam dalam parasite sehingga parasitnya akan mati. Seperti diketahui bahwa
sumber

ion

Fe2+intrasel

ini

adalah

heme

(komponen

penting

dalam

hemoglobin).Oleh karena itu Fe2+ bertanggung jawab dalam mengaktifkan


artemisin untuk membunuh parasite (Bousema, 2003).
Farmakokinetik
Penelitian farmakokinetik terhadap obat ini belum banyak dilaporkan.
Beberapa laporan menyatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
kadar puncak plasma berkisar beberapa menit sampai beberapa jam bergantung
pada formulasi dan cara pemberian. Ikatannya terhadap protein plasma pun
bervariasi. Artemer dan Artesunat , keduanya diubah menjadi dihidroartemisin .
artemisin sendiri dimetabolisme paling sedikit menjadi 4 metabolit. Waktu paruh
obat ini diperkirakan hanya 45 menit. Hanya sedikit dari dosis pemberian yang
ditemukan dalam urin (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Indikasi
Obat ini cocok untuk malaria akut termasuk malaria berat dan pada
Plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin

(Staf Pengajar

Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).


Efek Samping
Meskipun diberian lebih dari 7 hari dengan dosis terapeutik , obat ini aman
bagi penderita. Efek samping yang biasa terjadi dapat berupa sakit kepala, gejala
saluran cerna, gatal dan demam. Blok jantung sementara (Meningkatnya interval
QT), jumlah retikulosit dan neutrofil yang menurun serta meningkatnya aspartate
aminotransferase serum pernah dilaporkan, tetapi kebermaknaan klinisnya belum
diketahui (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Kontra Indikasi

Pasien yang mengalami gangguan jantung dan gangguan neurologic (Staf


Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
12. Klindamisin
Klindamisin merupakan derivate semisintetik dari linkomisin. Rumus
bangunnya mirip seperti linkomisin. Perbedaannya hanya pada 1 gugus hidroksil
pada linkomisin yang diganti dengan atom Cl. Obat ini merupakan obat
skizontosida darah (Gunawan et al, 2012).
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari klindamisisn adalah sama dengan eritromisin yaitu
mengikat secara irreversible pada tempat sub unit ribosom 50 S, sehingga
menghambat langkah translokasi sintesis protein (Chambers, 1998).
Farmakokinetik
Klindamisin diserap hampir lengkap pada pemberian oral. Adanya makanan
dalam lambung tidak mempengaruhi absorpsi obat ini. Setelah pemberian dosis
oral 150 mg tercapai kadar puncak plasma 2-3 mcg/mL dalam waktu 1 jam
dengan waktu paruh 2.7 jam Klindamisin didistribusikaan baik ke dalam cairan
tubuh, jaringan dan tulang kecuali cairan serebrospinal. Sebanyak 90% terikat
dengan protein plasma. Hanya 10% klindamisin dalam bentuk diekskresikan
dalam bentuk urin. Ekskresinya dapat juga melalui empedu dan feses. Sebagian
besar dimetabolisme menjadi N-demetilklindamisin dan klindamisin sulfoksid
(Chambers, 1998).
Indikasi
Klindamisin dapat digunakan untuk infeksi parasite pada malaria terutama
Plasmodium falciparum dalam pasien yang resisten terhadap klorokuin
(Chambers, 1998).
Efek Samping
Dapat terjadi diare. Kolitis pseudomembran dapat berkembang selama atau
setelah pengobatan dengan dosisiklin, yang dapat berikatan fatal. Efek terhadap
saluran cerna adalah mual, muntah, nyeri abdominal dan rasa tidak mengenakan
pada mulut. Dapat juga mengalami hipersensitivitas seperti ruam kulit (Chambers,
1998).
Kontraindikasi
Sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang memiliki gangguan lambung
kronis serta pasien dengan terapi obat pelemas otot (Chambers, 1998).

13. Atovkuon
Obat ini merupakan suatu derivat hidroksinaftokuinon (Staf Pengajar
Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Mekanisme kerja
Obat ini bekerja secara selektif mempengaruhi transport electron dan proses
biosintesis lain seperti ATP dan pirimidin di mitokondria Plasmodium sp sehingga
menjadi kolaps (Gunawan , 2012).
Farmakokinetik
Karena sedikit larut dalam air, ketersediaan hayati dari atovakuon
bergantung pada formualsinya. Bentuk ketersediaan suspensi hayati 2 kali lipat
daripada bentuk tablet. Absorpsinya lambat serta bervariasi dan akan meningkat 23x lipat dengan adanya makanan berlemak. Lebih dari 99% obat ini berikatan
dengan protein plasma sehingga konsentrasinya dalam cairan serebrospinalis lebih
kecil dari <1% dibandingkan yang berada dalam plasma. Kadar puncak
plasmanya sering muncul 2 kali setelah pemberian dosis tunggal. , dan yang
pertama terjadi dalam waktu 1-8jam dan puncak kedua berkisar 1 sampai dengan
4 hari kemudian. Karena siklus enterohepatiknya panjang, waktu apruhnya pun
berkisar 1,5-3 hari. Obat ini diekskresikan melalui empedu, dan lebih kurang 94%
ditemukan dalam tinja dalam bentuk utuh serta bentuk sangat kecil yang
ditemukan dalam urine (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Indikasi
Digunakan untuk penyakit malaria, khususnya karena Plasmodium carinii
terutama pada penderit yang tidak dapat menerima kotrimoksazol ataupun
pentamidin dan untuk Taxoplasmosis Gondii

(Staf Pengajar Departemen

Farmakologi UNSRI, 2009).


Efek Samping
Efek sampingnya di saluran cerna berupa mual, muntah, nyeri epigastrium,
dan sakit kepala. Selain itu dapat berupa makulopapular terjadi pada kurang lebih
20% kasus, biasanya ringan dan erat kaitannya dengan dosis pemberian. Efek
samping lainnya pernah dilaporkan adalah aminotransferase di hati (Staf Pengajar
Departemen Farmakologi UNSRI, 2009).
Kontraindikasi

Penderita dengan riwayat reaksi alergi kulit. Untuk anak anak, orang tua,
wanita hamil dan menyusui (Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI,
2009).

Daftar Pustaka
Anies. 2007. Manajemen

Berbasis

Lingkungan

Solusi

Mencegah

dan

Menanggulangi Penyakit Menular. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.


Azlin, Emil. 2004. Obat Anti Malaria. Medan : FK USU.
Bousema,Jt. 2003. Treatment Failure of Pyrimethamine-Sulphadoxine and
Induction of Plasmodium falciparum Gametocytaemia in Children in
Kenya. Trop.Med.Int.Health:8:427-430.
Chambers, HF. 1998. Chlorampheniol, Tetracycline, Macrolides, Clindamycin dan
Streptogamins Dalam Katzung BG. Penyunting: Basic dan Clinical
Pharmacology Edisi ke 7. America : Appleton & lange.

Gunawan et al. 2012. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FK
UI.
Handayani, Wiwik dan Andi Sulistyo Haribowo. 2008. Asuhan Keperawatan pada
Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika.
Kee, Joyce L dan Evelyn R Hayes. 1996. Farmakologi : pendekatan Proses
Keperawatan. Jakarta : EGC.
Kresnawati, Lisnawati. 2010. Mefloquin.Tersedia di : http://milissehat.web.id/?
p=1105
Schlagenhauf, Patricia dan Lawlor. 2008. Travelers Malaria. Switzerland : BC
Decker Inc.
Marks, Dawn B et al. Alih bahasa oleh Brahm. 1996. Biokimia Kedokteran
Dasar : Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta:EGC.
Natadisastra, Djaenudin. 2009. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:EGC.
Nduati, et al. 2005.2,4-Diaminopteridin-Based Compound as Precusor for de
novo Synthesis Antifolat. Am.Soc. For Micro.49(9):3652-3657.
Staf Pengajar Departemen Farmakologi UNSRI. 2009. Kumpulan Kuliah
Farmakologi Edisi 2. Jakarta: EGC.
Sukarban , et al.1995. Farmakologi dan Terapi Ed. 4. Jakarta : Gaya Baru.
Tarigan, J. 2003. Kombinasi Kina Tetrasiklin Pada Pengobatan Malaria
Falsiparum Tanpa Komplikasi Di Daerah Resisten Multidrug Malaria. Medan:
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK USU.