Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA


SEP 26
Posted by ANGGA

MAKALAH
ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
Tentang
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Disusun Oleh :
Ketua Kelompok
:
Margareta Ester
( 102410101072 )
Anggota Kelompok
:
Angga Ari W.
( 102410101070 )
Angga Riswanda
Risha Prasetyo

( 102410101073 )
( 102410101076 )

Nur Azizi H.
Ahmad Syafiq K.

( 102410101077 )
( 102410101086 )

Barik Maulana K. ( 102410101107 )


Mochammad Faizal ( 102410101108 )
Hamdan H.

( 102410101119 )

Program Studi Sistem Informasi


UNIVERSITAS JEMBER
2010
bab i
pendahuluan
1.1

Latar Belakang

Pada hakekatnya manusia telah diberi anugrah oleh Allah SWT berupa akal dan nafsu, akal dan
nafsu inilah yang mendorong manusia untuk menciptakan sesuatu yang dapat mewujudkan citacita atau penghargaannya. Dalam mewujudkan cita-cita tersebut manusia telah menciptakan
sains, teknologi dan seni sebagai salah satu sarana sehingga sejak saat itu kehidupan manusia
mulai berubah. Selain itu sains, teknologi, dan seni juga telah mempengaruhi peradapan manusia
dalam kehidupannya terutama dalam bidang budaya.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan seni diharapkan dapat memberikan pengaruh yang
positif terhadap bidang-bidang lain, khususnya budaya yang menjadi kebanggaan bangsa
Indonesia. Pemanfaatan kemajuan teknologi, dan seni secara baik haruslah diterapkan, sehingga
dapat menjaga kelestarian budaya bangsa.
Manusia tidak dapat lepas dari kebudayaan, disebabkan kebudayaan merupakan cara beradaptasi
manusia dengan lingkungannya yang merupakan warisan sosial. Dan kebudayaan itu sendiri bagi
manusia berguna untuk mengatur hubungan antar manusia dan sebagai wadah masyarakat menuju
taraf hidup tertentu yang lebih baik, manusiawi, dan berperi kemanusiaan.
1.2
1.
2.

1.3

Rumusan Masalah
Apa pengertian dan fungsi kebudayaan ?
Bagaimana jenis dan ragam kebudayaan di lingkungan masyarakat ?
1.
Bagaimana fungsi akal dan budi manusia dalam menanggapi pengembangan kebudayaan
?
2.
Bagaimana memperlakukan manusia melalui pemahaman terhadap konsep dasar budaya
?
3.
Jelaskan proses dan perubahan budaya !
4.
Jelaskan problematika sosial kebudayaan !
Tujuan dan manfaat

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk
memahami segala aspek tentang kebudayaan seperti halnya : pengertian kebudayaan, fungsi
kebudayaan, jenis dan ragam kebudayaan, fungsi akal dan budi dalam pengembangan kebudayaan,
proses dan perubahan kebudayaan, serta problematika sosial budaya.
Kita sebagai subyek yang berperan utama mempunyai peranan yang sangat penting dalam aspek
sebagai pelaku budaya. Dengan kita menjaga kelestarian budaya maka kita dapat melestarikan
kebiasaan-kebiasaan yang membentuk pribadi kita masing-masing. Budaya merupakan ciri khas
dari suatu daerah yang menggambarkan hubungan kebersamaan atau panutan di antara
masyarakat setempat.
Dari banyak ragam budaya yang ada masing-masing memiliki arti atau pengertian masing-masing
dari budaya tersebut. Dan cara melakukannya juga berbeda-beda, ini menunjukkan bahwa budaya
merupakan cerminan dari diri seseorang.
Banyak manfaat yang kita peroleh dari kita mengikuti budaya, namun bukan budaya yang
menyimpang. Melainkan, budaya yang sudah kita tekuni mulai dari kita lahir yang sudah menjadi
kebiasaan dalam masyarakat setempat. Kebersamaan, gotong royong, kekeluargaan dan hubungan
timbal balik lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1
Pengertian dan Fungsi Kebudayaan
2.1.1
Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan
diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Makna ini kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang hanya
merujuk pada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian. Istilah
kebudayaan ini berasal dari bahasa latin Cultura dari kata dasar colere yang berarti berkembang
atau tumbuh.
Dalam ilmu-ilmu sosial istilah kebudayaan sesungguhnya memiliki makna bervariasi yang sebagian
diantaranya bersumber dari keragaman model yang mencoba menjelaskan hubungan antara
individu, masyarakat, dan kebudayaan.
Setiap individu menjalankan kegiatan dan menganut keyakinannya sesuai dengan warisan sosial
atau kebudayaannya. Hal ini bukan semata-mata karena adanya sanksi tersebut, atau karena
mereka merasa menemukan unsur-unsur motivasional dan emosional yang memuaskan dengan
menekuni kegiatan-kegiatan dan keyakinan cultural tersebut.
Dalam rumusan ini , istilah warisan sosial disamakan dengan istilah kebudayaan. Lebih jauh, model
tersebut menyatakan bahwa kebudayaan atau warisan sosial lebih adaptif baik secara sosial
maupun individual, mudah dipelajari, mampu bertahan dalam waktu lama, normative dan mampu
menimbulkan motivasi. Namun tinjauan empiris terhadapnya memunculkan definisi terbaru
tentang kebudayaan seperti yang diberikan EB Taylor[1], Kebudayaan adalah keseluruhan
kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adab, serta
kemampuan dan kebisaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat
Kebanyakan ilmuwan sosial membatasi definisi kebudayaan sehingga hanya mencakup aspek
tertentu dari warisan sosial. Biasanya pengertian kebudayaan dibatasi pada warisan sosial yang
bersifat mental atau non fisik. Sedangkan aspek fisik dan artefak sengaja disisihkan. Hanya saja
definisi yang terlanjur berkembang adalah definisi sebelumnya dimana kebudayaan diartikan
bukan sekedar istilah deskriptif bagi sekumpulan gagasan, tindakan dan obyek, melainkan juga
merujuk pada entitas-entitas mentalyang menjadi pijakan tindakan dan munculnya obyek
tertentu.
Consensus yang kini dianut oleh para ilmuwan sosial masih menyisihkan aspek emosional dan
motivasional dari istilah kebudayaan, dan mereka tetap terfokus maknanya sebagai himpunan
pengetahuan, pemahaman atau proposisi. Namun mereka mengakui bahwa, sebagian
proposisikultural membangkitkan emosi dan motivasi yang kuat. Dalam kasus ini proposisi tersebut
dikatakan telah terinternalisasi.[2]

Sebagian ilmuwan sosial bahkan berusaha membatasi lagi pengertian istilah kebudayaan tersebut
hingga hanya mencakup bagian-bagian warisan sosial yang melibatkan representasi atas hal-hal
yang dianggap penting, tidak termasuk norma-norma atau pengethauan procedural mengenai
bagaimana sesuatu harus dikerjakan (Schneider, 1968)[3] Sementara itu ada pula yang membatasi
pegertian kebudayaan sebagai makna-makna simbolik yang mengandung muatan representasi dan
mengkomunikasikannya dengan peristiwa nyata. Geertz menggunakan makna ini secara eksklusif
sehingga ia tidak saja mengesampingkan aspek-aspek afektif, motivasional, dan normative dari
warisan sosial namun juga mempermasalahkan penerapan makna kebudayaan dalam individu.
Menurutnya, kebudayaan hanya berkaitan dengan makna-makna public yang terus berlaku
meskipun berada diluar jangkauan pengetahuan individu ; contohnya mungkin adala lajabar yang
dianggap selalu benar dan berlaku, meski sedikit saja orang yang menguasainya.[4]
Perselisihan mengenai definisi kebudayaan itu mengandung argumen-argumen implisit tentang
sebab-sebab atau asal mula warisan sosial. Misalnya saja ada kontroversi mengenai koheren atau
tidaknya kebudayaan itu sehingga lebih lanjut kita dapat mempertanyakan sifat alamiahnya. Disisi
lain para ilmuwan sosial memendang keragaman dan kontradiksi di seputar pengertian atau
definisi kebudayaan itu sebagai sesuatu yang wajar. Meskipun hamper setiap elemen kebudayaan
dapat ditemukan pada hubungan-hubungan natar elemen seperti yang ditunjukkan oleh Malinowski
dalam Argonauts of the Western Pacifis (1922)[5]. Tidak banyak bukti yang mendukung dugaan
akan adanya pola tunggal hubungan tersebut seperti yang dikemukakan oleh Ruth Benedict dalam
bukunya Pattern of Culture (1934)[6].
Berbagai persoalan yang melingkupi upaya intergrasi definisi-definisi kebudayaan terkait dengan
masalah lain, yakni apakan kebudayaan itu merupakan suatu entitas padu atau tidak. Jika
kebudayaan dipandang sebagai suatu kumpulan elemen yang tidak memebentuk kesatuan koheren,
maka yang harus diperhitungkan adalah fakta bahwa warisan sosial senantiasa melebur dalam
suatu masyarakat. Sebaliknya jika kita menganggap kebudayaan itu sebagai suatu kesatuan
koheren, maka kumpulan elemen-elemennya bisa dipisahkan dan dibedakan satu sama lain.[7]
Kerancuan tersebut lebih jauh membangkitkan minat untuk menelaah koherensi dan integrasi
kebudayaan, mengingat dalam kenyataannya pengetahuan anggota masyarakattentang
kebudayaan mereka tidaklah sama. Hanya saja tidak ada metodeyang telah terbukti handal untuk
mengukur sejauh mana koherensi dan integrasi sebuah kebudayaan. Bahkan muncul bukti-bukti
yang menunjukkan bahwa elemen-elemen budaya cenderung dapat digolongkan menjadi dua
bagian besar. Pertama adalah sejumlah kecil elemen yang hampir dipunyai oleh semua anggota
masyarakat sehingga diantara mereka dapat tercipta suatu hubungan yang saling pengertian.
(misalnya lampu merah berarti tanda berhenti), sedangkan yang keduaadalah elemenelemenkultural yang hanya diketahui oleh sebagian anggota masyarakat yang menyandang status
sosial tertentu.(misalnya, pelanggaran ketentuan kontrak tidak bisa diterima)[8]
Dibalik kerancuan definisi ini terdapat masalah-masalah penting lainnya yang juga harus
dipecahkan. Keragaman definisi kebudayaan itu sendiri dapat dipahami sebagai giatnya upaya
mengungkap hubungan kausalitas antara berbagai elemen warisan sosial. Sebagai contoh , dibalik
pembatasan definisi kebudayaan pada aspek-aspek presentasional dari warisan sosial itu terletak
hipotesis yang menyatakan bahwa norma-norma, reaksi emosional, motivasi dan sebagainya sangat

ditentukan oleh kesepakatan awal tentang keberadaan, hakekat dan label atas sesuatu hal.
Misalnya saja norma kebersamaan dan perasaan terikat dalam kekerabatan hanya akan tercipta
jika ada system kategori yang membedakan kerabat dan non kerabat. Demikian pula definisi
cultural kerabat sebagai orang-orang yang memiliki hubungan darah mengisyaraktkan adanya
kesamaan identitas yang memudahkan pembedaannya. Jika representasi cultural memang
memiliki hubugan kausalitas dengan norma-norma, sentiment dan motif, maka pendefinisian
kebudayaan sebagai representasi telah memusatkan perhatioan pada apa yang paling penting.
Hanya saja keuntungan dari focus yang tajam itu dipunahkan oleh ketergantungan definisi itu
terhadap asumsi-asumsi yang melandasinya, yang acap kali kelewat sederhana.[9]
Komponen utama kebudayaan :

Individu

Masyarakat

alam
Dari catatan Supartono, 1992, terdapat 170 definisi kebudayaan. Catatan terakhir Rafael Raga
Manan ada 300 buah, beberapa diantaranya :

Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh
kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi
berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Robert H Lowie

Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup
kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang diperoleh
bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang didapat melalui
pendidikan formal atau informal

Keesing

Kebudayaan adalah totalitas pengetahuan manusia, pengalaman yang terakumulasi dan yang
ditransmisikan secara sosial

Koentjaraningrat

Kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan
belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya

Rafael Raga Manan

Kebudayaan adalah cara khas manusia beradaptasi dengan lingkungannya, yakni cara manusia
membangun alam guna memenuhi keinginan-keinginan serta tujuan hidupnya, yang dilihat sebagai
proses humanisasi.

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi[10]

Kebudayaan merupakan hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan
teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah.
2.1.2

Fungsi kebudayaan

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam
kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggota-anggotanya seperti kekuatan alam, maupun
yang bersumber dari persaingan manusia itu sendiri untuk mempertahankan kehidupannya.
Manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan baik dibidang materiil maupun spiritual.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut diatas, untuk sebagian besar dipenuhi oelh kebudayaan yang
bersumber dari masyarakat itu sendiri. Hasil karya masyarakat menghasikan teknologi atau
kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama melindungi masyarakat terhadap
lingkungan. Pada masyarakat yang taraf kebudayaannya lebih tinggi, teknologi memungkinkan
untuk pemanfaatan hasil alam bahkan munghkin untuk menguasai alam. Di sisi lain karsa
masyarakat mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata
tertib dalam pergaulan masyarakatnya.
Kebudayaan berguna bagi manusia untuk melindungi diriterhadap alam, mengatur hubungan antar
manusia, dan sebagai wadah dari segenap perasaan manusia. Kebudayaan akan mendasari,
mendukung, dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat bertahan, menggerakkan
serta membawa masyarakat kepada taraf hidup tertentu yaitu hidup yang lebih baik, manusiawi,
dan berperi-kemanusiaan.
2.2 Jenis dan Ragam Kebudayaan di Masyarakat
Mohammad Yusuf Melatoa dalam Ensiklopedia Suku Bangsa Di Indonesia menyatakan Indonesia
terdiri dari 500 etnis suku bangsa yang tinggal di lebih dari 17.000 pulau besar dan kecil. Mereka
masing-masing memiliki kebudayaan yang berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan itu dalam kita
lihat dengan menelaah unsur-unsur kebudayaan seperti dibawah ini.
Unsur-unsur kebudayaan menurut C Kluckhohn dalam bukunya Universal

Categories

Culture meliputi Cultural universals yaitu [11]:


q Peralatan dan perlengkapan hidup ( pakaian, perumahan, alat-alat produksi, transportasi)
q Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi,
distribusi )
q Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, perkawinan)

of

q Bahasa (lisan maupun tertulis)


q Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dll)
q Sistem pengetahuan
q Religi (system kepercayaan)
Cultural universals tersebut dapat dijabarkan lagi kedalam unsure-unsur yang lebih kecil. Ralph
Linton menyebutnya kegiatan-kegiatan kebudayaan atau cultural activity.[12] Sebagao contoh
cultural universals pencaharian hidup dan ekonomi antara lain mencakup kegiatan-kegiatan
seperti pertanian, peternakan, system produksi, dll. Kesenian misalnya meliputi kegiatan seni tari,
seni rupa dll. Selanjutnya Ralph Linton merinci kegiatan-kegiatan kebudayaan tersebut menjadi
unsure-unsur yang lebih kecil lagi yang disebutnya trait-complex. Misalnya kegiatan pertanian
menetap meliputi unsure-unsur irigasi, sistem pengolahan tanah dengan bajak, system hak milik
atas tanah, dan sebagainya. Selanjutnya trait complex mengolah tanah dengan bajak akan dapat
dipecah ke dalam unsure yang lebih kecil umpamanya hewan-hewan yang menarik bajak, teknik
pengendalian bajak, dan sebagainya.
Akhirnya sebagai unsur kebudayaan yang terkecil membentuk trait adalah items. Bila diambil
contoh alat bajak terdiri dari gabungan alat-alat yang lebih kecil yang dapat dilepaskan, tetapi
pada hakekatnya merupakan satu kesatuan. Apabila salah satu bagian bajak tersebut dihilangkan,
maka tak dapat menjalankan fungsinya sebagai bajak.
Ciri Kebudayaan :

Bersifat menyeluruh

Berkembang dalam ruang / bidang geografis tertentu

Berpusat pada perwujudan nilai-nilai tertentu


Wujud kebudayaan

Ide : tingkah laku dalam tata hidup

Produk : sebagai ekspresi pribadi

Sarana hidup

Nilai dalam bentuk lahir


Sifat kebudayaan

Beraneka ragam

Diteruskan dan diajarkan

Dapat dijabarkan :
Biologi
Psikologi
Sosiologi : manusia sebagai pembentuk kebudayaan

Berstruktur terbagi atas item-item

Mempunyai nilai
Statis dan dinamis
Terbagi pada bidang dan aspek

2.3 Fungsi Akal Dan Budi Manusia Dalam Pengembangan Budaya


Akal adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia. Berpikir adalah
perbuatan operasional yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan
hidup manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa fungsi akal adalah untuk berfikir.
Kemampuan berfikir manusia mempunyai fungsi mengingat kembali apa yang telah diketahui
sebagai tugas dasarnya untuk memecahkan masalah dan akhirnya membentuk tingkah laku.
Budi adalah akal yang merupakan unsur rohani dalam kebudayaan. Budi diartikan sebagai batin
manusia, panduan akal dan perasaan yang dapat menimbang baik buruk segala sesuatu.
Jadi jelas bahwa fungsi akal dan budi manusia adalah menunjukkan martabat manusia dan
kemanusiaan sebagai pemegang amanah makhluk tertinggi di alam raya ini.
Kegiatan-kegiatan yang dipelajari itu merupakan salah satu bagian dari kebudayaan masyarakat
secara keseluruhan. Didalamnya juga termasuk artefak dan berbagai kontruksi proporsi kompleks
yang terekspresikan dalam system symbol yang kemudian terhimpun dalam bahasa. Melalui
symbol-simbol itulah tercipta keragaman entitas yang sangat kaya yang kemudian disebut sebagai
obyek konstruksi cultural sepoerti uang, system kenegaran, pernikahan, permainan, hukum, dan
sebagainya, yang keberadaannya sangat ditentukan oleh kepatuhan terhadap system aturan yang
membentuknya. System gagasan dan simbolik warisan sosial itu sangatlah penting karena kegiatankegiatan adaptif manusia sedemikian kompleks dan beragam sehingga mereka tidak bisa
mempelajari semuanya sendiri sejak awal. Serta manusia juga memiliki kemampuan daya sebagai
berikut :

Akal, intelegensia dan intuisi

Dengan kadar intelegensia yang dimiliki manusia mampu belajar sehingga menjadi cerdas,
memiliki pengetahuan dan mampu menciptakan teknologi. Intuisi menurut Supartono sering
setengah disadari, tanpa diikuti proses berfikir cermat, namun bisa menuntun pada suatu
keyakinan.

Perasaan dan emosi

Perasaan adalah kemampuan psikis yang dimiliki seseorang, baik yang berasal dari rangsangan di
dalam atau diluar dirinya. Emosi adalah rasa hati, sering berbentuk perasaan yang kuat, yang
dapat menguasai seseorang, tetapi tidak berlangsung lama

Kemauan

Kemauan adalah keinginan, kehendak untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kemauan dalam
arti positif adalah dorongan kehendak yang terarah pada tujuan hidup yang dikendalikan oleh akal
budi.

Fantasi

Fantasi adalah paduan unsur pemikiran dan perasaan yang ada pada manusia untuk menciptakan
kreasi baru yang dapat dinikmati.

Perilaku

Perilaku adalah tabiat atau kelakuan, merupakan jati diri seseorang yang berasal dari lahir sebagai
factor keturunan yang kemudian diwarnai oleh factor lingkungannya.
Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia,
namun manusia sendiri adalah produk kebudayaan. Peter L Berger menyebutnya sebagai
dialektika fundamental yang terdiri dari tiga tahap yaitu :

Tahap eksternalisasi, yaitu proses pencurahan diri manusia secara terus menerus kedalam dunia
melalui aktifitas fisik dan mental

Tahap obyektifitas, yaitu tahap aktifitas manusia menghasilkan realita obyektif, yang berada
diluar diri manusia

Tahap internalisasi, yaitu tahap dimana realitas obyektif hasil ciptaan manusia dicerap oleh
manusia kembali.
Manusia sebagai makhluk budaya adalah pencipta kebudayaan. Kebudayaan adalah ekspresi
eksistensi manusia didunia.
2.4 Memperlakukan manusia melalui pemahaman terhadap konsep budaya dasar
Berbagai cara untuk memanusiakan manusia :
2.4.1.1

Keadilan

Keadilan adalah salah satu moral dasar bagi kehidupan manusia. Keadilan mengacui pada suatu
tindakan baik yang mesti dilakukan oleh setiap manusia.
2.4.1.2

Penderitaan

Penderitaan adalah teman paling setia kemanusiaan. Ini melengkapi cirri paradoksal yang
menandai eksistensi manusia didunia.
2.4.1.3

Cintakasih

Cintakasih adalah perasaan suka kepada seseorang yang disertai belas kasihan. Cinta merupakan
sikap dasar ideal yang memungkinkan dimensi sosial manusi menemukan bentuknya yang khas
manusiawi
2.4.1.4

Tanggungjawab

Tanggungjawab adalah kwajiban melakukan tugas tertentu yang dasarnya adalah hakikat
keberadaan manusia sebagai makhluk yang mau menjadi baik dan memperoleh kebahagiaan.
2.4.1.5

Pengabdian

Pengabdian diartikan sebagai perihal memperhamba diri kepada tugas-tugas yang dianggap mulia
2.4.1.6

Pandangan hidup

Pandangan hidup berkenaan dengan eksistensi manusia didunia dalam hubungannya dengan Tuhan,
dengan sesame dan dengan alam tempat kita berdiam.
2.4.1.7

Keindahan

Eksistensi manusia didunia diliputi dan digairahkan oleh keindahan. Manusia tidak hanya penerima
pasif tetapi juga pencipta keindahan bagi kehidupan.
2.4.1.8

Kegelisahan

Kegelisahan merupakan gambaran keadaan seseorang yang tidak tenteram hati maupun
perbuatannya, merasa khawatir tidak tenang dalam tingkah laku, dan merupakan salah satu
ekspresi kecemasan.
2.5 Proses dan Perubahan Kebudayaan
Proses pembudayaan adalah tindakan yang menimbulkan dan menjadikan sesuatu lebih bermakna
untuk kemanusiaan. Proses tersebut diantaranya :
1.
a.
Internalisasi
Merupakan proses pencerapan realitas obyektif dalam kehidupan manusia.
1.

b.

Sosialisasi

Proses interaksi terus menerus yang memungkinkan manusia memperoleh identitas diri
serta ketrampilan-ketrampiulan sosial. Dalam keseharian sosialisasi bisa dikatakan sebagai proses
menjelaskan sesuatu kepada anggota masyarakat agar mengetahui adanya suatu konsep,
kebijakan, suatu peraturan yang menyangkut hak dan kwajiban mereka.
1.

c.

Enkulturasi

Enkulturasi adalah pencemplungan seseorang kedalam suatu lingkungan kebudayaan,


dimana desain khusus untuk kehidupan kelihatan sebagai sesuatu yang alamiah belaka.
1.

d.

Difusi

Meleburnya suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain sehingga menjadi satu


kebudayaan.
1.

e.

Akulturasi

Akulturasi adalah percampuran dua atau lebih kebudayaan yang dalam percampuran
itu masing-masing unsurnya masih kelihatan.
1.

f.

Asimilasi

Asimilasi adalah proses peleburan dari kebudayaan satu ke kebudayaan lain.

Perubahan sosial dan kebudayaan merupakan segala perubahan pada lembaga-lembaga


kemasyarakatan di dalam suataau masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk
didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam
masyarakat.
Setiap masyarakat selama hidupnya pasti mengalami perubahan, perubahan bagi masyarakat yang
bersangkutan maupun bagi orang luar yang menelaahnya, dapat berupa perubahan-perubahan
yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya
terbatas maupun luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada
juga yang cepat.
Perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perilaku,
organisasi, susunan, lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat,
kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan seterusnya. Dengan diakuinya dinamika sebagai inti
jiwa masyarakat, maka banyak sarjana sosiologi modern yang mencurahkan perhatiannya pada
masalah-masalah perubahan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat. Masalah tersebut menjadi
lebih penting dalam hubungannya dengan pembangunan ekonomi yang diusahakan oleh banyak
masyarakat dari Negara yang kemerdekaan politiknya setelah perang dunia kedua.
Faktor-faktor penyebab perubahan sosial dan kebudayaan
a. faktor intern
Bertambah atau berkurangnya penduduk
Penemuan-penemuan baru (inovation discoveri [gagasan] invention [diterapkan dalam
masyarakat]

Pertentangan-pertentangan dalam masyarakat (konflik)


Pemberontakan / revolusi
b. faktor ekstern
Perubahan lingkungan fisik manusia ( bencana alam )
Pengaruh kebudayaan masyarakat lain
Peperangan

Faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya proses perubahan sosial :


v Faktor-faktor yang mendorong :

Kontak dengan kebudayaan lain

Sistem pendidikan yang maju

Sikap menghargai hasil karya orang lain dan keinginan untuk maju

Toleransi terhadap perbuatan menyimpang

Sistem lapisan masyarakat yang terbuka

Penduduk yang heterogen

Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu

Orientasi ke depan

Nilai meningkatkan taraf hidup


v Faktor-faktor yang menghambat :

Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain

Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat

Sikap masyarakat yang tradisional

Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam dengan kuat (vested Interest)

Rasa takut terjadinya kegoyahan dalam integrasi kebudayaan

Prasangka terhadap hal baru

Hambatan ideologis

Kebiasaan

Sikap pasrah
2.5 Problematika sosial kebudayaan
Manusia dan Budaya Unggul[13]
Buku Stephen R Covey berjudul The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness setidaknya
menjadi pemicu diskusi tentang budaya unggul akhir-akhir ini. Para cerdik cendekia pun ribut
mencari apa yang sebenarnya unggul dalam diri kita dan apa memang ada keunggulan itu. Tidak
main-main, bahkan Bapak Presiden merasa perlu menyampaikan kepada rakyatnya untuk
melahirkan budaya unggul dalam bangsa ini.

Dalam maksud yang sederhana, budaya unggul akan bisa memulihkan harga diri dan martabat
bangsa ini menjadi bangsa yang tidak mudah dilecehkan dan diharapkan mampu mengatasi krisis
berkepanjangan dan seterusnya. Jika budaya unggul bisa didiskusikan bersama seiring dengan
manusia unggul, setidaknya apa yang dinyatakan oleh Covey sebagai manusia dengan predikat
greatness membawa ingatan kita pada apa yang oleh filosof Jerman, Friedrich Wilhelm Nietzsche
(1844-1900), dinyatakan sebagai uebermensch yang dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan
sebagai superman. Kebudayaan merupakan identitas dari manusia.
Untuk melahirkan budaya unggul, terlebih dahulu manusia harus bisa menjawab tantangan yang
ada dalam dirinya sendiri. Manusia unggul tidak lahir dari situasi statis, melainkan dari proses
dinamis. Tidak saja dalam pengertian bagaimana upaya menemukan talenta terbaik dalam diri
seseorang, melainkan upaya untuk terus-menerus menjadi manusia yang lebih (over).
Dalam pengertian ini, Ignas Kleden (2004) menyatakan bahwa manusia hanya akan berhasil
menjadi manusia melalui proses ueberwindung atau overcoming (dalam bahasa Inggris). Anjuran
untuk berproses menjadi manusia unggul sudah dinyatakan dengan amat jelas dalam Also Sprach
Zarathustra. Jelas sekali ketika Nietzsche menulis bahwa pertanyaan pertama dan satu-satunya
yang dianjurkan oleh Zarathustra adalah Wie Wird der Mensch ueberwubden (bagaimana caranya
manusia mengatasi manusia).
Pengertiannya, untuk lahir sebagai superman, manusia harus terus-menerus mengatasi dirinya
sebagai manusia. Untuk menjadi manusia unggul, manusia harus bisa meningkatkan dirinya dari
sekadar manusiawi (humanus) menjadi lebih manusiawi (humanior). Manusia unggul keluar dari
proses dinamis dan penuh tantangan, manusia yang bisa menggunakan kehendak dan kuasanya
untuk mengatasi rasa lemahnya. Nietzsche adalah filsuf yang begitu yakin bahwa manusia harus
berdiri di atas sifat-sifat konkretnya.
Manusia bukanlah suatu konsep abstrak sebagaimana dipahami oleh kaum idealis atau juga kaum
materialis. Keduanya sering melahirkan pandangan-pandangan dunia yang bersifat statis. Padahal,
hidup dan kehidupan itu sendiri merupakan sesuatu yang dinamis dan bergerak terus-menerus.
Bukankah Nietzsche sendiri menyatakan, man is something that is to be surpassed (Manusia adalah
sesuatu yang harus dilampaui). Atau dengan yakin ia menyatakan, what is great in man is that he
is a bridge and not a goal; what is lovable in man is that he is an over- going and down-going ( Apa
yang agung dalam diri manusia adalah bahwa dia adalah jembatan dan bukan tujuan; apa yang
patut dicinta dalam diri manusia adalah bahwa dia adalah perjalanan naik dan turun ).
Melahirkan manusia unggul jangan disalahpahami hanya dengan pengertian meloloskan siswa-siswa
berprestasi yang mampu merengkuh juara olimpiade fisika, matematika, atau kimia. Menjadi
manusia unggul biasa dialami oleh siapa saja yang mampu mengatasi kediriannya menuju kedirian
yang lebih. Sifat serakah dan senang korupsi adalah manusiawi dan bahkan menjadi bagian tak
terpisah dari manusia. Untuk lahir menjadi manusia unggul, seseorang harus bergerak untuk

memperbarui kemanusiawiannya menjadi lebih manusiawi dengan menjelma menjadi manusia


yang tidak serakah dan senang korupsi.
Seorang pejabat akan bernilai lebih jika setiap saat dia berhasil mengawasi dan menekan nafsu
korupsinya. Dalam mengarungi bahtera kehidupan yang nyata itulah manusia diberi kuasa untuk
memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri. Dia harus menciptakan nilai-nilai untuk dirinya
sendiri pada saat perjalanan kehidupan tersebut.
Di sini dapat dipahami mengapa Nietzsche amat membenci pada mereka yang mudah menyerahkan
diri pada skema nilai-nilai yang diciptakan di luar dirinya sendiri. Nietzsche menyebut mereka
sebagai manusia bermoral gerombolan atau bermoral budak. Mereka adalah para pengecut
yang hanya bisa berlindung di balik nilai-nilai yang menjerat kedigdayaannya.
The ignorant, to be sure, the people-they are like a river on which a boat floateth along; and in
the boat sit the estimates of value, solemn and disguised. Mereka seperti sebuah sungai yang di
atasnya mengambang sebuah perahu; dan di dalam perahu itu duduk nilai yang dihargai, penuh
kemeriahan dan samaran.
Manusia unggul, jika mau merujuk pada Nietzsche, bisa lahir dan dilahirkan dari manusia yang tak
lagi menggantungkan diri segala tekanan dari luar. Dengan tidak memperpanjang segala
kontroversi pendapat Nietzsche, budaya unggul dalam perspektif ini bisa dijadikan rujukan untuk
mengembalikan jati diri dan martabat kebangsaan yang hancur di tengah keserakahan modal,
penguasa, utang luar negeri, bahkan terorisme.
Komodifikasi kebudayaan
Ada kesan bahwa kebudayaan semakin mejadi komoditas. Kebudayaan seakan-akan diapropriasi
oleh elite politik, elite intelektual, elite birokrat, elite system pendidikan atau elite budaya
sendiri. Apropriasi itu berlangsung atas dua jalur. Pertama, terungkap dalam pembicaraan tentang
kebudayaan masyarakat yang dikatakan tidak cocok untuk pembangunan. Menurut jalur ini budaya
masyarakat perlu direkayasa supaya sesuai dengan pembangunan. Yang merekayasa adalah elite
yang berbeda dari masyarakat yang menganggap dirinya sudah mempunyai budaya yang sesuai
dengan pembangunan. Jalur itu juga melegitimasi penundaan proses demokratisasi : selama
masyarakat masih memiliki mentalitas yang tidak cocok dengan pembangunan, ia belum dapat ikut
dalam proses penentuan arah perjalanan bangsa Indonesia.
Kedua, berkebalikan dengan yang pertama, yaitu jalur keprihatinan terhadap budaya bangsa. Dia
mendapat ekspresi dalam dua sub lagu yang bersama menghasilkan paduan suara atau duet
harmoniselite yang prihatin. Sub lagu yang pertama disebut lagu museum ; unsure-unsur positif
warisan budaya bangsa perlu dilestarikan. Disini termasuk pakaian nasional, tari-tarian, sopan
santun ketimuran, kekeluargaan, gotong royong dan lain-lain. Dengan menetapkan apa yang
termasuk budaya bangsa, elite menetapkan kelakuan masyarakat yang mana sesuai dan yang mana
tidak sesuai.

Sub-lagu yang kedua mau melindungi budaya nasional terhadap pengeruh buruk dari luar. Elite
yang menganggap diri berwenang untuk menetapkan sikap-sikap mana yang tidak sesuai dengan
budaya bangsa. Disini kita mendengarkan bahwa bangsa Indonesia tidak mengenal oposisi, bahwa
masyarakat kita bermusyawarah daripada memperjuangkan hak-haknya, tidak bersikap
konfrontatif, bahwa bertindak berdasarkan keyakinan sendiri adalah individualisme, dan oleh
karena itu asing.[14]
Hal-hal diatas secara tegas menyatakan bahwa demi budaya bangsa elitelah yang sebaiknya
menentukan arah pembangunan.
Tantangan Kebudayaan
Masyarakat kita yang berbudaya akan beruntung apabila mengenal dan akrab dengan beberapa
kebudayaan barat. Sama dengan orang barat yang mengenal dan mencintai kebudayaankebudayaan Timur. Pertemuan dengan kebudayaan lain selalu memperkaya kita sendiri.
Mengagumi karya karya seni Italia, atau menelusuri filsafat Perancis bagi orang timur pasti sangat
rewarding. Yang pasti menarik, pelancongan ke dalam kebudayaan lain tidak cenderung
memiskinkan persepsi tentang kebudayaan sendiri, melainkan memperkaya.
Kebudayaan yang sungguh-sungguh mengancam kita adalah kebudayaan modern tiruan. Dia
mengancam karena tidak sejati, tidak substansial, semu, dan ersatz. Kebudayaan itu membuat
kita menjadi manusia plastic, manusia tanpa kepribadian, manusia terasing, manusia kosong,
manusia latah.[15]
Kebudayaan tiruan itu mempunyai daya tarik luarbiasa sehingga mampu menyedot pandangan kita
tentang nilai, dasar harga diri, dan status. Ia menawarkan kemewahan, kepenuhan hidup,
kemantapan diri, asal kita mau berpikir sendiri, dan berhenti membuat penilaian sendiri.
Kebudayaan yang dikatakan modern itu membuat kita lepas dari kebudayaan tradisional kita
sendiri, dan sekaligus tidak menyentuh kebudayaan teknologis modern yang sesungguhnya.
Akhirnya kita hanya seolah-olah menjadi manusia modern.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan
diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya.
Dari pembahasan diatas kami dapat simpulkan bahwa manusia berhubungan erat dengan
kebudayaan yang ada pada lingkungan sekitarnya. Karena kebudayaan tersebut merupakan cara

beradaptasi untuk mengatur hubungan antar manusia sebagai wadah masyarakat menuju taraf
hidup tertentu.
Kebudayaan berpengaruh dalam membentuk pribadi seseorang sehingga mengharuskan manusia
untuk mengikuti norma-norma yang ada pada budaya tersebut.
Dengan demikian, budaya patokan cara hidup manusia di tempat dia berada. Selain itu dalam
kebudayaan mengajarkan tentang keimanan
3.2 Saran
Kita sebagai mahluk berbudaya semestinya melestarikan budaya yang kita punya,
jangan sampai budaya yang kita punya tidak kita lestarikan dan sampai punah. Karena siapa lagi
jika bukan kita penerus bangsa yang melestarikan?
Kita lestarikan baik-baik budaya yang telah kita punya agar tidak diakui oleh bangsa lain.