Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KEBUNTINGAN
Kebuntingan adalah suatu periode sejak terjadinya fertilisasi sampai terjadi kelahiran
(Frandson, 1992). Kebuntingan merupakan keadaan di mana anak sedang berkembang dalam
uterus seekor hewan betina (Ilawati, 2009).
Menurut Salisbury dan Van Demark (1985) selama kebuntingan terjadi pertumbuhan
dan perkembangan individu baru yang merupakan hasil dari perbanyakan, pertumbuhan,
perubahan susunan serta fungsi sel. Perubahan tersebut meliputi bertambahnya volume dan
sirkulasi darah kelenjer uterus yang tumbuh membesar dan bekelokkelok serta infiltrasi sel
darah putih yang mempersiapkan saluran reproduksi betina untuk kebuntingan. Setiap
individu memiliki lama bunting bervariasi, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
faktor genetik, faktor maternal, fetal dan lingkungan. Contohnya sapi dara pada umur muda
akan mempunyai masa kebuntingan yang lebih pendek dari sapi yang lebih tua (Toelihere,
1981).

2.3 METODA DETEKSI KEBUNTINGAN


Menurut Lestari (2006), ada beberapa metoda diagnosa kebuntingan pada sapi,
a. Non Return to Estrus (NR)
Pada sapi dan kerbau, ketidakhadiran estrus setelah perkawinan digunakan secara luas
oleh peternak dan sentra-sentra IB sebagai indikator terjadinya kebuntingan, tetapi ketepatan
metoda ini tergantung dari ketepatan deteksi estrusnya. Pada kerbau, penggunaan metoda NR
ini tidak dapat dipercaya karena sulitnya mendeteksi estrus (Lestari, 2006).
b. Eksplarasi Rektal
Eksplorasi rektal adalah metoda diagnosa kebuntingan yang dapat dilakukan pada
ternak besar seperti kuda, kerbau dan sapi. Prosedurnya adalah palpasi uterus melalui dinding
rektum untuk meraba pembesaran yang terjadi selama kebuntingan, fetus atau membran
fetus. Teknik yang dapat digunakan pada tahap awal kebuntingan ini adalah akurat, dan
hasilnya dapat langsung diketahui. Sempitnya rongga pelvic pada kambing, domba dan babi

maka eksplorasi rektal untuk mengetahui isi uterus tidak dapat dilakukan (Arthur et.al.,
1996).
c. Ultrasonografi
Ultrasonography merupakan alat yang cukup modern, dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya kebuntingan pada ternak secara dini. Alat ini menggunakan probe untuk
mendeteksi adanya perubahan di dalam rongga abdomen. Alat ini dapat mendeteksi adanya
perubahan bentuk dan ukuran dari cornua uteri. Harga alat ini masih sangat mahal,diperlukan
operator yang terlatih untuk dapat menginterpretasikan gambar yang muncul pada monitor.
Ada resiko kehilangan embrio pada saat pemeriksaan akibat traumatik pada saat memasukkan
pobe. Pemeriksaan kebuntingan menggunakan alat ultrasonografi ini dapat dilakukan pada
usia kebuntingan antara 20 22 hari, namun lebih jelas pada usia kebuntingan diatas 30 hari (
Youngquist, 2003 dalam Lestari, 2006).

d. Diagnosa Imunologik
Menurut Lestari (2006) teknik Imunologik untuk diagnosa kebuntingan berdasarkan
pada pengukuran level cairan yang berasal dari konseptus, uterus atau ovarium yang
memasuki aliran darah induk, urin dan air susu. Test imonologik dapat mengukur dua macam
cairan yaitu: 1. Pregnancy Specific yang hadir dalam peredaran darah maternal yaitu eCG dan
EPF.
2. Pregnancy Not Specific, perubahan-perubahan selama kebuntingan, konsentrasi dalam
darah maternal,urin dan air susu, contohnya progesteron dan estrone sulfate.
Beberapa protein-like substance telah diidentifikasi dari dalam peredaran darah
maternal selama terjadi kebuntingan. Substansi ini merupakan produk yang berasal dari
konseptus yang dapat digunakan sebagai indikator adanya kebuntingan (Jainudeen dan Hafez,
2000).
e. Diagnosa Kebuntingan berdasarkan konsentrasi hormon
Pengukuran hormon-hormon kebuntingan dalam cairan tubuh dapat dilakukan dengan
metoda RIA dan ELISA. Metoda-metoda yang menggunakan plasma dan air susu ini, dapat
mendiagnosa kebuntingan pada ternak lebih dini dibandingkan dengan metoda rektal
(Jainudeen dan Hafez, 2000). Menurut Djojosoebagjo (1987) dalam Illawati (2009), metode

RIA mempunyai kemampuan untuk menentukan zat-zat fisiologis sampai konsentrasi yang
sangat rendah sekali mencapai konsentrasi pictogram (1 pg = 10-12 gram) untuk setiap satuan
ml. Dengan metode ini hampir semua hormon dapat diukur kadarnya. Akan tertapi secara
komersil, metoda RIA terlalu mahal untuk digunakan sebagai metoda diagnosis kebuntingan
(Partodihardjo, 1992).
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 1993. Urine-A Wasted. Renewable Natural Resource. Noragric,Norwegia.
Arthur, G. F.; Noakes, D.E.;Pearson, H. and Parkison,T.M. 1996. Veterinary
Reproduction and Obstetrics. London : W.B.Sounders.
Dilrukshi, H.N.N and Perera, A.N.F. 2009. Evaluation of an ancient technique to
diagnose the pregnancy in cattle using urine. No 1252245657 Pp (10-15).
Wayamba Journal of Animal Science.
Frandson. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Illawati, R. W. 2009. Efektifitas penggunaan berbagai volume asam sulfat pekat
(H2SO4) untuk menguji kandungan estrogen dalam urine sapi Brahman Cross
bunting. Skripsi. Sekolah Tinggi Peternakan. Sijunjung.
Istiana, S. 2010. Pemeriksaan Kebuntingan pada Ternak dengan Menggunakan Urine.
http://drhsitiistiana.blogspot.com/2010/07/pemeriksaan-kebuntinganpadaternak.html.
Jainudeen, M.R. and Hafez. E.S.E. 2000. Pregnancy Diagnosis. Dalam Hafez, E.S.E
and Hafez, B. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7ed.. Lippincott Williams &
Wilkins. Philadelphia.
Lestari, D.L. 2006. Metode Deteksi Kebuntingan Pada Ternak Sapi. Fakultas
Peternakan Universitas Padjadjaran.
Naswir. 2003. Pemanfaatan Urine Sapi Yang Dipermentasi sebagai Nutrisi Tanaman.
Pengantar Falsafah Sains. Program Pascasarjana. IPB. Bogor.
Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Bogor Selatan.

Nirmala, G.C., Veena, T., Jyothi, M.S and Suchitra, B.R. 2008. Effect of estrogen dan
progesteron an seed germination. Vol. I (8): 241-242. Veterinary World.
Novizan, 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agro Media Pustaka, Tangerang
Partodihadjo, S. 1992. Ilmu Reproduksi Ternak. Edisi ke-3. Sumber Widya, Jakarta.
Salisbury,G.W dan N. L. Van Demark. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi
Buatan pada sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Salisbury, Frank B. dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Hal. 3-16 dan 156160. Jilid I. Terjemahan ITB. Bandung.
Toelihere,M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung.
Wikipedia. 2011. Hormon Tumbuhan. http://id.wikipedia.org/wiki/ Hormon_tumbuhan.