Anda di halaman 1dari 9

JOURNAL READING

Management of Hyperemesis Gravidarum


Using Steroid Therapy

PEMBIMBING :

Kolonel CKM dr.Tri Joko W, SpOG

PENYUSUN :
Putri Ayu Puspasari NRP : 1410221002

KEPANITERAAN KLINIK
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN UPN VETERAN
JAKARTA

LEMBAR PENGESAHAN
Management of Hyperemesis Gravidarum Using Steroid Therapy

Disusun oleh :
Putri Ayu Puspasari (1410221002)

Journal Reading ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu prasyarat
mengikuti ujian kepaniteraan klinik Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Tk II
RST dr.Soedjono Magelang.

Magelang,

Oktober 2015

Mengetahui,
Pembimbing

Kolonel CKM dr.Tri Joko W, SpOG

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga
journal reading ini telah berhasil diselesaikan. journal yang berjudul Management of
Hyperemesis Gravidarum Using Steroid Therapy" dibuat sebagai salah satu persyaratan
mengikuti ujian kepaniteraan klinik Ilmu Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Tk II RST
dr.Soedjono Magelang.
Tiada gading yang tak retak dan tiada hasil yang indah tanpa dukungan pihak-pihak yang
telah memberikan pertolongan, demikianlah journal reading ini tersusun dan terselesaikan. Oleh
sebab itu, penulis menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terimahasih kepada :
1. Kolonel CKM dr.Tri Joko W, SpOG selaku pembimbing yang sabar dalam membimbing
dan memberikan pengarahan. Beliau juga telah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran
untuk memberikan bimbingan, masukan, serta koreksi demi kesempurnaan journal ini
2. Ucapan terimakasih kepada seluruh keluarga FK UPN 2010 terkhusus untuk sahabatsahabat tercinta dan semua pihak terkait yang telah membantu proses pembuatan journal
reading ini terimakasih untuk semangat dan kebersamaan selama ini.
Penulis menyadari bahwa journal reading ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu,
penulis mohon maaf jika terdapat kekurangan. Penulis berharap journal ini dapat memberikan
manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta bagi semua pihak yang membutuhkan.

Magelang, Oktober 2015


Penulis

Putri Ayu Puspasari

Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum Menggunakan Terapi Steroid


Sadaf Tufail, Farzana Kazmi, Sobia Nawaz, Maliha Sadaf, Farah Rehana
Department of Obstetrics & Gynaecology, Rawalpindi Medical College, Rawalpindi

Abstrak
Latar Belakang: Untuk membandingkan efektivitas jangka pendek dari pemberian steroid
dengan dimenhydrinate (antihistamin) untuk pengobatan hiperemesis gravidarum yang tak
terkontrol.
Metode: Dalam penelitian deskriptif ini lima puluh pasien menerima hidrokortison intravena 100
mg delapan jam sebagai dosis harian selama tiga hari. Selanjutnya , prednisolon oral 45 mg yang
dosisnya semakin dikurangi dalam jangka waktu 5 hari. Lima puluh pasien diberi
dimenhydrinate intravena 50 mg 3 kali sehari selama 3 hari, diikuti dengan tablet oral 50mg tiga
kali sehari selama 5 hari. Perkembangan pasien dipantau sehari-hari selama terapi dan diikuti 2
minggu pemberhentian terapi.
Hasil: Ada penurunan yang signifikan dari eposide muntah pada kelompok hidrokortison
dibandingkan dengan kelompok dimenhydrinate (p <.0001). Tidak ada satu pun pasien
dari kelompok hidrokortison yang relaps, namun delapan pasien yang mengkonsumsi
dimenhydrinate muntah kembali dalam jangka waktu 1 minggu setelah tidak diberikan terapi.
Kesimpulan: Pemberian kortikosteroid jangka pendek untuk mengobati hiperemesis gravidarum
tak terkontrol.
Kata Kunci: Hiperemesis, steroid, Dimenhydrinate

LATAR BELAKANG
Mual dan muntah adalah gejala yang paling umum yang dialami pada awal kehamilan.
Mual dan muntah yang berat berhubungan dengan morbiditas ibu meskipun tidak ada bukti
kelainan janin. Saat ini, 3% dari wanita mengalami ini hiperemesis gravidarum, bentuk dari
muntah yang berat karena kehamilan yang ditandai dengan adanya penurunan berat badan,
kelainan elektrolit, dehidrasi, dan ketonuria. Komplikasi ini terkait dengan hiperemesis
gravidarum meliputi iritasi mukosa di junction esophagus dan lambung (Mallory-Weiss) atau
perforasi esofagus dan Wernicke encephalopathy, gangguan neurologis yang ditandai oleh
kebingungan, disorientasi, bola mata terasa berputar (nystagmus), penglihatan ganda (diplopia),
dan koma, rhabdomyolysis, koagulopati, dan lahir bayi denan berat badan rendah. Dehidrasi
berat dapat mengakibatkan hipovolemia, yang bisa menyebabkan shock. Kegagalan ibu untuk
menambah berat badan dapat menyebabkan keterbelakangan pertumbuhan janin intra uterina.
Gejala biasanya mulai dirasakan antara 4 dan 7 minggu kehamilan dan puncaknya pada
minggu ke-16. Komplikasi serius akan timbul mungkin terjadi jika kondisi ini dibiarkan tidak
diobati. Wanita dengan hiperemesis gravidarum yang mendapatkan berat kurang dari 15,4 ons (7
kg) di seluruh kehamilan lebih mungkin untuk melahirkan bayi rendah berat badan dan
diperkirakan memiliki peningkatan risiko kelahiran prematur.
Perawatan umum wanita dengan hiperemesis yang berat dengan penggunaan terapi
steroid sudah banyak. Mobilisasi bertingkat seperti gerakan fisik bisa memperburuk rasa mual
yang mendasari. Saat keluar rumah sakit tidak bijak jika pemeberian cairan intravena lebih lama,
mungkin ini berhubungan dengan hilangnya kontrol saat perjalanan pulang ke rumah.
PASIEN DAN METODE
Dari Januari 2010 sampai Desember 2011, 100 wanita yang datang ke departemen
ginekologi Rumah Sakit District Head Quarter pasien mengeluh mual dan muntah selama paruh
pertama kehamilan (kehamilan kurang dari 20 minggu dan lebih dari 10 minggu) yang terdaftar
untuk membandingkan efektivitas steroid dengan lelompok dimenhydrinate,keduanya diberikan
secara intravena untuk 3 hari pertama dan kemudian secara oral selama 5 hari.
Wanita yang dianggap memenuhi syarat untuk penelitian ini adalah mereka yang
sebelumnya tidak mempunyai respon pada terapi rawat jalan dan yang menunjukkan hasil

pemeriksaan keton urin 3+ atau 4+ sebagai bukti dehidrasi berat atau penurunan berat badan
lebih dari 5 persen dari berat badan sebelum hamil. Sebelum dimasukkan ke dalam penelitian
USG dilakukan untuk menyingkirkan mola kehamilan, untuk mengkonfirmasi janin hidup, dan
untuk menetapkan usia kehamilan. Semua wanita menjalani penilaian dari fungsi tiroid, fungsi
hati, pankreas (amilase dan lipase) dan elektrolit.
Semua disediakan hidrasi intravena dengan kristaloid sampai ketonuria dibersihkan.
Cairan pertama kristaloid mengandung tiamin 100 mg. Wanita dibagi dalam 2 kelompok. Group
A diberikan Hidrokortison 100 mg intravena selama 3 hari diikuti oleh tappering rejimen
prednison oral ( 40 mg untuk hari 4 , 30 mg untuk hari 5 , 20 mg untuk hari 6 , dan 10 mg untuk
hari 7 ) .Group B diterapi dengan dimenhydrinate 10mg intravena setiap 8 jam untuk 3 hari
diikuti dengan rejimen yang sama diberikan oral selama 5 hari sampai keluar dari rumah sakit .
Kedua kelompok wanita diizinkan untuk makan makanan kecil berdasarkan permintaan dan
dihimbau tetap diet biasa sebagai toleransi pada waktu diizinkan untuk keluar rumah sakit. Setiap
wanita dianjurkan diet dan diberitau tentang memiliki makan kecil lebih sering.Pada saat keluar
rumah sakit , semua wanita diperintahkan untuk melaporkan kembali, jika muntah kambuh .
Wanita dibutuhkan pendaftaran kembali untuk hiperemesis gravidaru yang diberikan
dimenhydrinate oral.
HASIL
Seratus perempuan diikut sertakan antara Januari 2010 sampai Desember 2011.Tiga
pasien tidak ter follow up , dua dari kelompok dimenhydrinate dan satu dari kelompok steroid.
Ada 62 primigravida. Usia kehamilan antara 10 minggu - 20 minggu ( Tabel 1 ). Efek samping
obat tidak ditemukan dalam setiap pasien. Keparahan hiperemesis gravidarum dinilai dengan
jumlah muntah per hari dan penurunan berat badan pada kehamilan saat ini yang dibandingkan
dengan berat badan sebelum hamil, hal itu hampir sama antara dua kelompok ( Tabel 1 ) .
Setelah satu minggu pengobatan, delapan perempuan di kelompok steroid dan dua
puluh perempuan di kelompok dimenhydrinate masih muntah, diantara itu tiga orang pada
kelompok steroid dan enam belas dalam kelompok dimenhydrinate yang muntah lima atau lebih
dari lima kali sehari ( Tabel 2 ). Pasien yang muntah lebih dari lima kali sehari dilanjutkan
dengan terapi intravena selama tiga hari lagi.

25 perempuan, pada kelompok steroid, menurunkan frekuensi muntah dalam waktu 48


jam, sedangkan 16 merasa lebih baik setelah satu minggu terapi. 8 pasien masih muntah pada
akhir satu minggu terapi dan 1 pasien tidak terfollow up. Adapun kelompok dimenhydrinate
terdapat 11 pasien yang dapat menekan muntah dalam waktu 48 jam sementara 17 pasien merasa
lebih baik setelah satu minggu pengobatan, 20 pasien masih muntah dan 2 pasien tidak terfollow
up. Pengontrolan muntah jauh lebih baik dengan steroid karena jumlah pasien masih
membutuhkan infus intravena pada akhir minggu pertama terapi hanya 3 dalam kelompok steroid
dibandingkan 16 pasien dalam kelompok dimenhydrinate.
Jumlah pasien yang membutuhkan antiemetik di akhir minggu pertama pengobatan ada 8
pasien di kelompok steroid dibandingkan dengan 20 dalam kelompok dimenhydrinate. Tujuh
pasien dari kelompok dimenhydrinate yang diterima kembali dalam waktu satu minggu setelah
keluar rumah sakit tetapi tidak ada pasien dari kelompok steroid diterima kembali (Tabel 3).
Terdapat peningkatan signifikan lebih besar dalam tingkat kesejahteraan pada kelompok steroid.
Sebagian besar (67,32%) pasien dalam kelompok steroid yang menoleransi makanan peroral baik
pada dua minggu dalam follow up, dibandingkan dengan 39,58% pada kelompok
dimenhydrinate.

DISKUSI
Hiperemesis gravidarum berat penyebab dalam morbiditas ibu hamil. Indikasi untuk
penggunaan steroid pada hiperemesis gravidarum yang digambarkan. Kebanyakan protokol
menyarankan untuk menggunaan steroid setelah umur kehamilan 10 minggu dan dibatasi
penggunaanya hanya satu bulan. Dosis inisial biasanya tinggi, disapih pelan-pelan sampai
beberapa hari. Penelitian terkini menyatakan bahwa penghentian muntah yang diamati pada
sebagian besar pasien yaitu setelah dosis awal hidrokortison intravena. Terapi pemeliharaan
dengan prednisolon saat pasien keluar dari rumah sakit dalam beberapa hari, dapat kembali
makan normal , pengembalian massa otot yang hilang dan mendapatkan kembali berat badan
yang hilang. Penggunaan steroid biasanya untuk wanita yang tidak mempunyai respon obat lain
pada akhir trimester pertama dan kehilangan berat badan cepat karena mual dan muntah yang
berat. Penggunaan steroid untuk hiperemesis gravidarum menunjukkan manfaat terhadap
kesejahteraan , asupan makanan dan berat badan pasien. Penelitian telah menemukan efek
samping pada bayi sejak durasi pengobatan biasanya satu bulan atau kurang. Bagian
transplasenta prednisolon rendah , yang memprediksi efek minimal terhadap janin .

Ada banyak kecemasan di masa lalu , tentang hubungan yang mungkin antara
penggunaan steroid pada trimester pertama dan oral facial clefts , Penelitian yang dilakukan
Rodriguez Pinilla dan Martinez - Frias menunjukkan pengaruh yang signifikan dari penggunaan
steroid trimester pertama dan pada bibir sumbing, tapi tiga dari lima kasus yang diidentifikasi
muncul tidak mungkin relevan. Satu dari tiga hanya menerima dua dosis prednisolon setelah
delapan minggu kehamilan ketika fusi bibir sudah terjadi , yang lain dikaitkan dengan beberapa
kelainan dan ketiga menerima dosis penggantian hidrokortison . Sebuah studi yang lebih besar
menemukan bibir sumbing ditemukan sama antara kontrol dan pasien yang menggunakan steroid
pada trimester pertama dan gagal untuk menunjukkan hubungan antara penggunaan steroid
dalam trimester pertama dan bibir sumbing.
Meskipun keparahan muntah diperlukan untuk masuk dalam penelitian ini telah spesifik ,
muntah pada kehamilan dapat diakibatkan oleh berbagai penyebab. Beberapa wanita mungkin
memiliki muntah murni karena efek hormonal kehamilan tetapi pada yang lain faktor emosional
mungkin dominan.
KESIMPULAN
Terapi steroid untuk hiperemesis gravidarum, setelah minggu ke sepuluh kehamilan akan
menghindari ibu dan implikasi merusak janin.