Anda di halaman 1dari 26

Daftar isi

Daftar isi..
Pendahuluan
1.1.
Karbohidrat

Biokimia Karbohidrat

1.2.

...
1.2.1.
Monosakarida ....
1.2.2.
Oligosakarida ..
1.2.3.
Polisakarida
1.2.4.
Homopolisakarida ..
1.2.5.
Heteropolisakarida ..
1.3.
Sifat Kimia Karbohidrat
..
1.4.
Reaksi Pengenalan Karbohidrat
...
Tujuan

1.5.

.
Metode Kerja ...
2.1. Alat dan bahan .
2.2. Prosedur kerja .
Hasil Analisis Karbohidrat .
Pembahasan
Kesimpulan ..
Daftar Pustaka

PENDAHULUAN
1

1
2

1.1.

Karbohidrat
Karbohidrat adalah segolongan besar senyawa organik yang paling melimpah di bumi.

Karbohidrat adalah senyawa-senyawa aldehida atau keton alcohol yang mengandung unsur C, H
atau O. Senyawa-senyawa ini menyusun sebagian besar bahan organic didunia karena
multipelnya pada semua bentuk kehidupan.
Karbohidrat atau sakarida adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau
senyawa yang dihidrolisis dari keduanya. Unsur utama penyusun karbohidrat adalah karbon,
hydrogen dan oksigen. Jumlah atom hydrogen dan oksigen memilik perbandingan 2:1 seperti
molekul air, misalnya glukosa 12:6 atau 2:1 ; sukrosa 22:11 atau 2:1. Karena perbandingan
tersebut orang dulunya menduga karbohidrat merupakan penggabungan dari karbon dan
hidrat atau air sehingga molekul ini disebut karbohidrat. Walaupun penamaan ini tidak tepat,
molekul ini tetap dinamakan karbohidrat hingga sekarang.
Karbohidrat merupakan pusat metabolisme tanaman hijau dan organism fotosintetik lain
yang menggunakan energi matahari untuk melakukan pembentukan karbohidrat. Karbohidrat
yang

terdapat dalam bentuk pati dan gula berfungsi sebagai bagian utama energy yang

dikonsumsi oleh kebanyakan organism dimuka bumi ini. Sebagai pati dan glikogen, karbohidrat
berfungsi sebagai penyedia sementara glukosa. Karbohidrat dapat juga berfungsi sebagai
penyangga di dalam dinding sel bakteri dan tanaman serta pada jaringan pengikat dan dinding sel
organism hewan. Karbohidrat jenis lain dapat berperan sebagai pelumas sendi kerangka, sebagai
perekat diantara sel, dan senyawa pemberi spesifisitas biologipada permukaan sel hewan.
Sifat kimia karbohidrat berhubungan erat dengan gugus fungsi yang dimilikinya, seperti
gugus OH, gugus aldehida dan gugus keton. Beberapa jenis karbohidrat mempunyai sifat dapat
mereduksi, terutama dalam suasana basa karena adanya gugus aldehida atau keton bebas dalam
molekul karbohidrat. Sifat iini dapat digunakan untuk identifiasi karbohidrat dan tampak pada
reaksi reduksi ion-ion logam misalnya ion Cu++ dan ion Ag+.
Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup, yaitu :

Karbohidrat bertindak sebagai sumber energy, bahan bakar, dan zat antara metabolisme.
Pati pada tumbuh-tumbuhan dan glikogen pada binatang adalah polisakarida yang dapat
2

dengan cepat dimobilisasi untuk mengahsilkan glukosa, bahan bakar utama untuk
pembentukan energi. ATP, alat tukar energi bebas yang universal adalah derivate gula

terfosforilasi, sebagaimana banyaknya koenzim.


Gula ribose dan deoksiribosa membentuk sebagian kerangka struktur RNA dan DNA.
Fleksibilitas cincin kedua gula ini penting pada penyimpanan dan ekspresi informasi

genetic.
Polisakarida adalah elemen struktur dinding sel bakteri dan tubuh-tumbuhan, dan rangka
luar artropoda. Ternyata, selulosa konstituen utama dinding sel tumbuh-tumbuhan, adalah

salah satu senyawa organic yang paling berlimpah ruah pada biosfir.
Karbohidrat berikatan dengan banyak protein dan lipid. Misalnya, unit-unit gula
glikoforin, suatu protein integrak membrane, sel-sel darah merah atu lapisan anion yang
sangat polar.

1.2.

Biokimia Karbohidrat
Karbohidrat terdiri dari berbagai senyawa yang sangat melimpah di alam. Senyawa yang

termasuk dalam biomolekul ini dapat digolongkan dalam berbagai macam. Penggolongan
karbohidrat dapat dilakukan berdasarkan bentuk cincin sikliknya, yaitu golongan furanosa,
bila karbohidrat tersebut mempunyai cincin beranggota 5 dan piranosa, bila mempunyai
cincin beranggotakan 6. Atom karbon suatu moekul gula dinomori mulai dari ujung yang
paling dekat dengan aldehid atau keton.
Sebagai suatu molekul polimer seperti asam nukleat dan protein, maka karbohidrat dapat
juga digolongkan berdasarkan jumlah monomer penyusunnya. Ada tiga jenis karbohidrat
berdasarkan penggolongan ini, yaitu : monosakarida, oligosakarida dan polisakarida.
1.2.1. Monosakarida
Monosakarida merupakan senyawa karbohidrat yang paling sederhana yang tidak
dapat dihidrolisis lagi. Beberapa molekul monosakarida mengandung unsure nitrogen dan
sulfur. Monosakarida mempunyai rumus kimia (CH 2O)n dimana n = 3 atau lebih. Jika
gugs karbonil pada ujung rantai monosakarida adalah turunan aldehida, maka
monosakarida ini disebut aldosa. Dan bila gugusnya merupakan turunan keton maka
monosakarida tersebut dinamakan ketosa. Monosakarida aldosa yang paling sederhana
adalah dihidroksiaseton.
3

Kedua monosakarida sederhana tersebut masing masing mempunyai 3 atom


karbon (triosa). Monosakarida lain mempunyai 4 atom karbon, (tetrosa), 5 atom karbon
(pentose), dan 6 atom karbon (heksosa). Heksosa, zat manis dan bentuk kristalin adalah
salah satu monosakarida terpenting. Beberapa contoh heksosa sehari-hari adalah gula
tebu, gula gandum, gula susu, pati, dan selulosa. Pentose yang umum adalah ribose yaitu
slah satu unit penyusun mononukleotida asam nukleat.

Monosakarida
Triosa
Tetrosa
Pentosa
Heksosa

Rumus Molekul
C3H6O3
C4H8O4
C5H10O5
C6H12O6

Aldosa
Gliserosa
Eritrosa
Ribosa
Glukosa

Ketosa
Dihidroksi aseton
Eritrulosa
Ribulosa
Fruktosa

MONOSAKARIDA : STEREOKIMIA

Banyak penelitian terdahulu tentang struktur oleh Fischer dan orang lain telah
didasarkan atas heksosa glukosa ( C6H12O6) yang merupakan monosakarida pusat
baik bagi dunia tumbuhan maupun hewan.
Dua bentuk bayangan cermin atau enansiomer bersesuaian dengan tiap pusat
asimetrik . jadi untuk aldoheksosa didapat 2 pangkat 4 kemudian stereoisomer.
Konfigurasi untuk monosakarida dengan lebih dari 3 karbon didasarkan pada konfigurasi
relative dari pusat asimetrik yang paling jauh dari gugus karbonil.
Monosakarida : Struktur Cincin

Aldehida dan keton bereaksi dengan alcohol


hemiasetal

membentuk masing masing

dan hemiaketal. Karena monosakarida baik gugus aldehida atau keton

ditambah gugus gugus alcohol , makan pembentukan hemiasetal atau hemiketal dapat
terjadi didalam untuk menghasilkan suatu struktur cincin atau lingkaran. Karena adanya
tegangan sudut ikatan,struktur cinicin beranggota 5 dan 6 lebih menguntukngkan bagi
pula. Dalam hal ini dua bentuk yang jelas dihasilkan tergantung pada apakah gugus
4

alcohol bereaksi dengan karbon karbonil dari atas atau dari bawah bidang gugus
karrbonil. Kedua bentuk ini yang ditandai dengan dan saling berhubungan dengan
cara ini disebut sebagaio anomer . Dalam larutan kedua bentuk anomer ada dalam
keseimbangan dengan bentuk rantai terbuka.
Bila D glukosa murni , D glukosa atau D glukosa alam dilarutkan
dalam air,larutan yang terjadi adalah campuran keseimbangan yang sama dari ,,dan
bentuk rantai terbuka . perubahan antar bentuk dan disebut mutarotasi dan dikatalisasi
oleh enzim disebut mutarotase.
Struktur cincin beranggotakan enam maka yang dihasilkan dari pembentukan
hemiase =tal dalam , dalam aldoheksosa disebut cincin piranosa menurut struktur
heterosiklik piran. Ketosa dpaat mengalami pembentukan cincin serupa melalui struktur
hemjiketal . Aldoopentosa ,ketoheksosa , dan dalam beberapa hal aldoheksosa juga dapat
menghasilkan bentuk bentuk cincin yang beranggota lima mata yang dikenal sebagai
struktur furanosa .
Bentuk piranosa lebih disukai oleh kebanyakan aldo heksosa. Bentuk furanosa
terdapat dalam jumalh yang lebih besar pada kebanyakan ketogeksosa dan aldopentosa.
Seperti dalam hal sikloheksam ,ala cincin piranosa dapat meruapakan bentuk kursi atau
perahu , tergantung oada sifat sifat sterik dari gula secara individual. Glukosa misalnya
lebih sering mempunyai konformasi kursi dalam kedua bentuk anomerik.

Glukosa
Glukosa,suatu gula monosakarida , adalah salah satu kerbohidrat terpenting yang

digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu
hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami ( D-glukosa ) disebut juga
dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kearah kanan.
Dalam alam glukosa dihasilkan dari reaksi antara karbondioksida dan air dengan
bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun. Proses ini disebut fotosintesis dan glukosa
yang terbentuk terus digunakan untuk pembentukan amilum atau selulosa.

Fungsi glukosa antara lain adalah sumber energy tubuh,pemasok karbon dalam
sintesis protein oleh tubuh , pemanis atau pengganti laktosa.

a.

b.

c.

Gambar: a. D-Glukosa; b.-D-Glukosa; c. -D-Glukosa

Fruktosa
Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai sifat memutar cahaya

terpolarisasi kekiri dan karenanya disebut levulosa. Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa
dengan pereaksi seliwanoff, yaitu larutan resorsinol dalam asam HCl. Dengan perekasi ini
mula mula fruktosa diubah menjadi hidroksimetilfurfural yang selanjutnya bereaksi dengan
resorsinol membentuk senyawa yang berwarna merah. Perekasi seliwanof ini khas untuk
menunjukkan adanya ketosa. Fruktosa berikatan dengan glukosa membentuk sukrosa ,yaitu
gula yang biasa digunakan sehari hari sebagai pemanis,dan berasal dari tebu atau bit.

a.

b.

Gambar a. struktur fruktosa terbuka; b. struktur siklis

Fungsi fruktosa antara lain adalah pelengkap nutrisi secara parental/oral,keadaan


darurat diabetes, industri es krim agar tidak pecah ketika telah terbentuk adukan yang halus.
Galaktosa
Monosakarida ini jarang terdapat bebas dalam alam. Umunya berikatan dengan glukosa
dalam bentuk laktosa,yaitu gula yang terdapar dalam susu. Galaktosa mempunyai sifat
memutar bidang cahaya terpolarisasi kekanan.

a.

b.

c.

Gambar :a. D-galaktosa; b. -D-Galaktosa; c. -D-galaktosa


Pada proses dioksidasi oleh asam nitrat pekat dan dalam keadaan panas galaktosa
menghasilkan asam musat yang kurang larut dalam air bila dibandingkan dengan asam
sekarat yang dihasilkan oleh oksidasi glukosa. Pembentukan asam musat ini dapat
dijadikan cara identifikasi galaktosa , karena Kristal asam musat mudah dimurnikan dan
diketahui bentuk Kristal maupun titik leburnya.

1.2.2.

Oligosakarida
Oligosakarida
satuan

monosakarida

yang paling umum adalah disakarida ,yang tersusun dari dua


yang

digabungkan

oleh

ikatan

glikosida

yang

dapat

dihidrolisasikan. Sejumlah trisakarida dan oligosakarida tingkat tinggi didapat dalam


alam tetapi kita akan membatasi perhatian kita pada disakarida yang umum
maltose,sukrosa , dan laktosa.

Sukrosa
7

Sukrosa adalah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang berasal dari tebu
maupun dari bit. Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan
fruktosa.
Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa, yaitu
antara atom karbon nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada fruktosa
melalui atom oksigen. Kedua atom karbon tersebut adalah atom karbon yang mempunyai
gugus OH glikosidik atau atom karbon yang merupakan gugus aldehida pada glukosa
dan gugus keton pada fruktosa. Oleh karena itu, molekul sukrosa tidak mempunyai gugus
OH glikosidik. Dengan demikian sukrosa tidak mempunyai sifat dapat mereduksi ionion Cu++ atau Ag++ dan juga tidak membentuk osazon. Fungsi sukrosa antara lain
adalah memberi rasa manis.

Gambar: Sukrosa (-D-glukopiranosil--D-fruktofuranosida)

Laktosa
Dengan hidrolisis laktosa akan menghasilkan galaktosa dan glukosa. Ikatan galaktosa
dan glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon nomor 4
pada glukosa. Olek karena itu, molekul laktosa masih mempunyai gugus OH glikosidik.
Dengan demikian laktosa mempunyai sifat mereduksi dan inutarotasi. Apabila laktosa
dihidrolisis kemudian dipanaskan dengan asam nitrat akan terbentuk asam musat.
Fungsi laktosa antara lain adalah bahan pengencer untuk obat keras dan tablet, bahan
makanan bayi.

Gambar: laktosa
8

Maltosa
Maltosa adalah suatu disakarida yang terbentuk dari dua molekul glukosa. Ikatan
yang terjadi ialah antara atom karbon nomor 1 dan atom karbon nomor 4, oleh karenanya
maltose masih mempunai gugus OH glikosidi dan dengan demikian masih mempunyai
sifat mereduksi. Maltose merupakan hasil antara dalam proses hidrolisis amilum dengan
asam maupun dengan enzim.
Fungsi maltose antara lain adalah sebagi pemanis, akstrak malt yang mudah
dicerna, pereaksi fermentatif.

Gambar : Maltosa (bentuk )


(-D-glukopiranosil--D-Glukopiranosa)
Ikatan glikosida yang terbentuk antara satuan monosakarida secara kimia indentik
dengan suatu asetal (dalam hal aldosa) atau suatu ketal ( dalam hal ketosa) . Asetal
terbentuk dari reaksi hemiasetal dan alcohol . Hemiasetal bereaksi dengan alcohol dengan
cara yang sama untuk menghasilkan ketal. Karena monosakarida dalam bentuk
lingkarannya mempunyai baik gugus hidroksil maupun gugus hemiasetal atau hemiketal ,
maka mungkin untuk menerapkan kimia yang baru saja kita bicarakan untuk mengetahui
bagaimana dua atau lebih satuan monosakarida dapat digabung menjadi satu.
Disakarida merupakan glikosida yang terbentuk apabila suatu monosakarida
bereaksi sebagai alcohol dan satu lagi bereaksi sebagai hemiasetal. Disakarida yang
paling sederhana barangkali adalah maltose , yang pada hidrolisa menghasilkan larutan
D-glukosa murni.
Sukrosa ( Gula Tebu ) merupakan disakarida yang barangkali paling banyak kita
mendapatkan pengalaman secara langsung. Karena ikatan glikosida terbentuk dari

hidroksil anomerik dari kedua satuan monosakarida , maka sukrosa bukanlah gula
pereduksi. Jadi ia tidak mengalami mutarotasi. Sukrosa dapat dihidrolisa baik secara
enzimatik maupun secara kimia untuk menghasilkan suatu campuran keseimbangan dari
glukosa dan fruktosa yang lebih manis untuk berat yang sama daripada sukrosa.
Campuran ini disebut gula invert karena hidrolisa disertai dengan pembalikan pemutaran
optic dari searah jarum jam ( dektrorotasi ) menjadi lawan jarum jam (levorotasi). Madu
merupakan bentuk yang terdapat dialam yang terdiri sebagian besar gula invert.
Laktosa atau gula susu hanya terdapat dalam susu. Laktosa dengan hidrolisa
menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa

1.2.3. Polisakarida
Bagian terbesar dari molekul karbohidrat dalam alam terdiri dari bentuk
polisakarida berbobot molekul tinggi , yang digunakan baik untuk keperluan structural
maupun untuk penimbangan energy kimia. Karena hubungan kovalen dasar antara satuan
satuan mono-m dalam suatu polisakarida adalah ikatan glikosida,maka poliskarida juga
disebut glikan. Ada jarak yang maha luas dari variasi dalam komponen dan sifat sfat
structural dari poliskarida. Ada perbedaan dalam tabiat monoskarida yang membentuk
satuan pengulang,dalam panjangnya rantai ,dan dalam adanya dan luasnya percabangan.
Pada umumnya sebuah contoh polisakarida tertentu yang murni mengandung
molekul molekul dengan tingkat polimerisasi yang beranekaragaman yaitu dalam hal
bobot molekulnya,adalah terperinci secara tepat, maka poliskarida diktakan polidispers
,karena suatu contoh tertentu mengandung molekul polisakarida dari bermacam macam
panjang rantai. Homopoliskarida menghasilkan sebuah larutan dari hanya satu jenis
monosakarida setelah mengalami hidrolisa sempurna. Heteropolisakarida menghasilkan
larutan yang mengandung gula gula amino disebut sebagai mukopolisakarida. Contoh
polisakarida adalah amilum, glikogen, dekstrin, dan selulosa.

10

Amilum
Polisakarida ini terdapat banyak dialam, yaitu pada sebagian besar tumbuhan.
Amilum terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari
glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin.
Butir-butir pati tidak larut dalam air dingin tetapi apabila suspense dalam air
dipanaskan, maka akan terjadi suatu larutan koloid yang kental. Larutan koloid ini
apabila diberi larutan iodium akan berwarna biru. Warna biru tersebut disebabkan oleh
molekul amilosa yang membentuk senyawa. Amilpektin dengan iodium akan
memberikan warna ungu atau warna merah lembayung. Amilum dapat dihidrolisis
sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga
dapat dilakukan dengan bantuan enzim amylase.

Glikogen
Seperti amilum, glikogen juga menghasilkan glukosa pada proses hidrolisis.
Dengan iodium, glikogen menghasilkan warna merah. Struktur glikogen serupa dengan
struktur amilopektin yaitu merupakan rantai glukosa yang mempunyai cabang.

Dekstrin
Pada reaksi hidrolisis parsial, amilum terpecah menjadi molekul-molekul yang
lebih kecil yang dikenal dengan nama dekstrin. Jadi, dekstrin adalah hasil antara ada
proses hidrolisis amilum sebelum terbentuk maltose. Larutan dekstrin banyak digunakan
sebagai bahan perekat.

Selulosa
Selulosa ialah sebagian organic dengan formula (C6H10O5)n. Ia merupakan
kandungan utama dalam serat tumbuhan, yang berfungsi sebagai komponen struktur
tumbuhan, yang berfungsi sebagai komponen struktur tumbuhan. Selulosa ialah satu
polimer yang mengandung unit-unit glukosa jenis anomer yang membolehkan selulosa
membentuk satu rantai yang sangat panjang. Selulosa tidak larut dalam air, tetapi larut
dalam larutan kuprik hidroksida berammonia. Selulosa juga larut dalam larutan zink
klorida barasid hidroklorik. Selulosa tidak memberi warna biru dengan iodin.

11

1.2.4. Homopolisakarida
Banyak homopolisakarida bekerja sebagai cadangan karbohidrat bagi organism
dimana ia terdapat. Misalnya laminaran cadangan karbohidrat dari rumput lautt laminaria
ddapat mebentuk sebanyak 50%berat kering daun rumput laut tergantung pada
musimnya . Kita tentu mengenal pati gandum dan pati jagung yang meruapakan
cadangan makanan karbohidrat bagi kedua tumbuhan ini.
Pati terbagi menjadi dua golongan : amilopektin dan amilosa. Amilosa molekul
makro liniar ; amilopektin bercabang. Bobot molecular pati dapat berkisar sampai jutaan.
Satuan pengulang dasar bagi kedua amilosa dan amilopektin adalah satuan maltose :
Maltose pati mempunyai dua akhiran yang berbeda : akhiran tak pereduksi
dengan gugus OH nomor 4 yang bebas dan akhir pereduksi dengan gugus OH bebas
anomerik. Percabangan dalam amilopektin berlangsung kira-kira sekali setiap 25 satuan
glukosa di dalam rantai polisakarida.
Hidrolisa secara enzimatik dari pati merupakan proses penting pada pencernaan.
Kita dapat membagi enzim penghidrolisa pati menjadi dua klas : amylase dari air liur
dan cairan pancreas , dan amylase dari biji-bijian yang sedang bertunas. Istilah yang
bentuk untuk suatu -amilase adalah -1,4-glukan , 4-glukanohidrolase.
Iodium dalam larutan dalam air dengan kanji menjadi terserap oleh molekul
molekul kanji yang dalam keadaan sangat terhidratasikan , menghasilkan warna biru tua.
Warnanya tergantung pada ukuran rata-rata molekulnya. Kita dapat menghidrolisa pati
dengan mengamati perubahan warnanya denga iodium : selulosa dan kitin meruapakan
dua polisakarida structural yang patut mendapatkan perhatian karena berlimpah ruahnya
dialam. Selulosa dan pati menghasilkan larutan yang sama dari D-glukosa setelah
hidrolisis sempurna. Akan tetapi didalam mulut roti putih menghasilkan rasa manis
karena hidrolisa pati oleh amylase air liur , sedang katun dalam mulut yang merupakan
selulosa murni,tidak mengeluarkan rasa manis. Perbedaan structural antara selulosa yang
tidak terhidrolisasikan dan dengan demikian tidak dapat dicerna oleh -amilase dalam
cairan pencernaan manusia.

12

1.2.5. Heteropolisakarida
Beranekaragaman polisakarida yang luas mengandung dua atau lebih satuan
monosakarida. Banyak getah nabtai mengandung tidak kurang dari empat satuan
monosakarida yang berbeda. Beberapa getah nabati agar agar dan caraegeenan
meruapakn bahan pengisi penting dalam teknologi makanan.
Asam hialuronat meruapakan heteropolisakarida yang merupakan unsure penting
dari jaringan penghubung dari hewan.
Pada pH fisiologik molekul asam hialuronat men jadi sama sekali terhidratasikan
akibat adanya banyak gugus fungsional karboksilat anionic. Ini menghasilkan suatu gel ,
atau cairan kentyal tergantung pada ukuran molekul . asam hialuronat didalam jaringan
biasanya bertalian dengan bahan protein.bekerja sebagai unsure penting dari zat dasar ata
matrik yang mengikat sel sel menjadi satu didalam jaringan penghubung / penyambung
dan juga terdapar didalam cairan lender pelumas dari sendi-sendi dan didalam cairan
yang bekerja seperti lensa dari mata. Kebanyakan racun ular dan lebah menmgandung
suatu factor pemencar yang terdiri dari suatu enzim yaitu hialuronidase yang
melakukan hidrolisa asam hialuronat dan dengan demikian memudahkan tersebarnya zat
zat berbisa dalam racun keseluruh jaringan.
1.3.
Sifat Kimia Karbohidrat
Sifat mereduksi
Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai sifat dapat mereduksi, terutama
dalam suasana basa. Sifat sebagai reduktor ini dapat digunakan untuk keperluan
identifikasi karbohidrat. Sifat mereduksi ini disebabkan oleh adanya gugus aldehida atau
keton bebas dalam molekul karbohidrat. Sifat ini tampak pada reaksi reduksi ion-ion
logam misalnya, ion Cu++ dan ion Ag+ yang terdapat pada pereaksi-pereaksi tertentu.
Beberapa contoh diberikan berikut ini :
o Pereaksi Fehling
Pereaksi fehling terdiri atas dua larutan, yaitu larutan Fehling A
dan karutan Fehling B. Larutan fehling A adalah larutan CuSo4 dalam air,
sedangkan larutan fehling B adalah larutan garam K Natatrat dan NaOH

13

dalam air. Dalam pereaksi ion-ion Cu++ akan direduksi menjadi ion Cu+
yang dalam suasana basa akan mengendapkan senagai Cu2O.
Dengan larutan glukosa 1%, pereaksi fehling menghasilkan
endapan berwarna merah bata, sedangkan apabila digunakan larutan yang
lebih encer misalnya larutan glukosa 0,1%, endapan yang terjadi berwarna
hijau kekuningan.
o Pereaksi Benedict
Pereaksi ini berupa larutan yang mengandung kuprisulfat,
natriumkarbonat dan natriumsitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu++ dari
kuprisulfat menjadi ion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu 2O.
Endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata.
Warna endapan ini tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang
diperiksa.
o Pereaksi Barfoed
Pereaksi ini terdiri atas larutan kupriasetat dan asam asetat dalam
air, dan digunakan untuk membedakan anatara monosakarida dengan
disakarida.

Monosakarida

dapat

mereduksi

lebih

cepat

daripada

disakarida. Jadi Cu2O terbentuk lebih cepat oleh monosakarida dari pada

oleh disakarida.
Pembentukan furfural
Dalam larutan asam yang encer, walaupun dipanaskan, monosakarida umunya stabil.
Tetapi, apabila dipanaskan dengan asam kuat yang pekat, monosakarida menghasilkan
furfural atau derivatnya. Reaksi pembentukan furfural ini adalah reaksi dehidrasi atau
pelepasan moekul air dari suatu senyawa.
o Pereaksi Molisch
Pereaksi molisch terdiri atas larutan naftol dalam alcohol.
Misalnya apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan glukosa,
kemudian secara hati-hati ditambahkan asam sulfat pekat, akan terbentuk
dua lapisan zat cair. Pada batasanatara kedua lapisan itu akan terjadi warna
ungu karena terjasi reaksi kondensasi antara furfural dengan naftol.
Reaksi ini dapat digunakan untuk menentukan ada tidaknya karbohidrat.

Pembentukan osazon

14

Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas akan
membentuk osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazin berlebih. Osazon yang terjadi
mempunai bentuk Kristal dan titi lebur yang khas bagi masing-masing karbohidrat. Hal
ini merupakan salah satu cara untuk membedakan beberapa monosakarida.

Pembentukan ester
Adanya gugus hidroksil pada karbohidrat memungkinkan terjadinya ester apabila
direaksikan dengan asam. Monosakarida mempunyai beberapa gugus OH dan dngan
asam fofat dapat menghendakinya menghasilkan ester asam fosfat.

Isomerisasi
Bila dilarutkan dalam basa encer, monosakarida menjadi tidak stabil. Sebagai
contohnya, glukosa dalam basa encer sebagian akan berubah menjadi fruktosa dan
manosa.

Pembentukan glikosida
Bila glukosa direaksikan dengan metilalkohol, akan menghasilkan 2 senyawa.
Senyawa yang terbentuk adalah suatu asetal dan disebut secara umum glikosida.

1.4.
Reaksi Pengenalan Karbohidrat
1.4.1. Uji Molisch
Karbohidrat oleh asam anorganik pekat akan dihidrolisis menjadi monosakarida.
Dehidrasi monosakarida jenis pentose oleh asam sulfat pekat menjadi furfural dan
golongan heksosa menghasilkan hidroksi-metilfurfural. Pereaksi molisch yang terdiri atas
naftol dalam alcohol akan bereaksi dengan furfural membentuk senyawa kompleks
berwarna ungu.

15

1.4.2. Uji Iod


Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks adsorbs
berwarna yang spesifik. Amilum atau pati dengan iodium menghasilkan warna biru,
dekstrin menghasilkan warna merah anggur, sedangkan glikogen dan sebagian pati yang
terhidrolisis bereaksi dengan iodium membentuk warna merah coklat.
1.4.3. Uji Benedict
Gula yang mempunyai gugus aldehida atau keton bebas akan mrerduksi ion Cu 2+ ,
yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata.

1.4.4. Uji Barfoed

16

Ion Cu2+ (dari pereaksi Barfoed) dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat
oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan endapan Cu2O
berwarna merah bata.

1.4.5. Uji Seliwanoff


Dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dan dengan
penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks
berwarna orange.

1.5.

Tujuan Percobaan :
a. Mengetahui adanya karbohidrat dalam suatu bahan.
b. Mengidntifikasi jenis karbohidrat.
c. Menentukan gula pereduksi.

17

METODE KERJA
2.1. ALAT DAN BAHAN :
Tabung reaksi, pipet tetes, reagen, plat tetes, sampel dan berbagai bahan biologis.
2.2. PROSEDUR :
1. Uji Molish
3 ml larutan uji (glukosa, sukrosa, pati susu, mentega cair dan putih telor) dimasukkan
dalam tabung reaksi, tambahkan 2 tetes pereaksi Molish, kemudian tambahkan perlahanlahan melalui dinding tabung, 3 ml asam sulfat pekat (jangan dikocok). Amati apa yang
terjadi. Terbentuk warna merah-violet pada kedua perbatasan menunjukkan hasil positif.
2. Uji Benedict
3 ml larutan Benedict dimasukkan ke 5 tabung reaksi, tambahkan ke dalam masing-masing
tabung secara berurut, glukosa 1, sukrosa 1, fruktosa 1, laktosa 1 dan amilum 1.
Kocok perlahan, panaskan dalam penangas air selama 5 menit atau didihkan selama 2 menit.
Dinginkan dan amati warna dan endapan yang terbentuk. Hasil positif bila terdapat endapan
warna hijau, kuning atau merah bata.
3. Uji Barfoed
Empat tabung reaksi, masing-masing berisi 1 ml sukrosa 1, laktosa 1, maltose 1 dan
glukosa 1, ditambahkan 1 ml pereaksi Barfoed, dipanaskan dalam penangas selama 3
menit, dingin dalam air selama 2 menit. Tambahkan 1 ml pereaksi warna fosfomolibdat.
Dicampur pelan-pelan. Amati yang terjadi. Warna biru gelap dan endapan merah bata
menunjukkan adanya monosakarida.

4. Uji Fehling
Glukosa 1, sukrosa 1, fruktosa 1, laktosa 1 dan amilum 1 masing-masing 1 ml,
dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda, ditambahkan 2 ml fehling A dan 2 ml
fehling B, dipanaskan dalam penangas air selama 5 menit. Amati perubahan yang terjadi.
Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata.
5. Uji Seliwanoff
18

Siapkan 4 tabung reaksi yang masing-masing diisi dengan 3 ml pereaksi Seliwanoff,


ditambahkan 10 tetes glukosa, fruktosa, laktosa dan sukrosa. Dipanaskan 1 menit. Jika
terbentuk endapan, maka endapan disaring, kemudian dilarutkan dalam alkohol. Amati
perubahan yang terjadi! Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya warna merah.
6. Uji Iod
Teteskan 2 tetes amilum, dextrin, gum arab, ke plat tes, tambahkan 2 tetes larutan iod. Amati
perubahan warna.
7. Presipitasi Polisakari
2 ml pati, dextrin, gum arab, di tabung reaksi yang berbeda, ditambah alkohol 96
perlahan-lahan sampai terbentuk endapan. Ulangi dengan menggunakan ammonium sulfat
jenuh sebagai pengganti alkohol.

19

Hasil Pengamatan Analisis Karbohidrat


Reaksi Uji
Uji Molisch

Uji Benedict

Uji Barfoed

Uji Fehling
20

Hasil Pengamatan
Kesimpulan
+
Glukosa : terdapat cincin ungu

ditengah larutan
Sukrosa : terdapat cincin ungu tipis

ditengah larutan
Pati : terdapat cincin ungu tipis

ditengah larutan
Susu : terdapat cincin ungu tipis

ditengah larutan
Mentega cair : tidak terdapat cincin

ungu tipis ditengah larutan


Putih telur : terdapat cincin ungu

tipis ditengah larutan


Glukosa 1% : terdapat endapan

warna merah bata


Sukrosa 1% : terdapat endapan

+
+

warna hijau
Fruktosa 1% : terdapat endapan

warna merah bata


Laktosa 1% : terdapat endapan

warna merah bata


Amilum 1% :

perubahan warna / tetap


Sukrosa 1% : terjadi endapan biru

muda
Laktosa 1% : terjadi endapan biru

muda
Maltosa 1% : terjadi endapan biru

muda
Glukosa 1% : terjadi endapan merah

pada larutan biru tua.


Glukosa 1% : terbentuk endapan

tidak

+
+

+
_

terjadi
_
_

_
+

Uji
Seliwanoff
Uji Iod

Uji
Presipitasi

merah bata.
Sukrosa 1%

endapan merah bata.


Fruktosa 1% : terbentuk endapan

merah bata.
Laktosa 1%: terbentuk endapan

merah bata .
Amilum 1%:

_
:

tidak

tidak

terbentuk

+
_

terbentuk

endapan merah bata.


Glukosa : bening merah bata
Fruktosa : tetap bening
Laktosa : bening merah bata
Sukrosa : tetap bening
Amilum : biru tua
Dextrin : orange kemerahan
Gum arab : merah bata
alkohol
+ NH4SO4
Pati
keruh
tidak ada

Dextrin

Keruh

endapan
Tidak ada

Gum arab

keruh

endapan
Tidak ada
endapan

21

_
+
_
+
+
_
_
+ alkohol
+

+ NH4SO4
_

PEMBAHASAN

Pada percobaan uji Molisch, tabung yang berisi glukosa, sukrosa, pati, susu, mentega cair
dan putih telur terbentuk cincin berwarna ungu yang terdapat diantara kedua lapisan zat
cair tersebut. Hal ini membuktikan bahwa glukosa, sukrosa, pati susu, dan putih telur
mengandung karbohidrat. Hasil positif menunjukkan bahwa bahan tersebut mengadung
karbohidrat. Hal tersebut ditandai dengan terbentuknya cincin berwarna ungu di antara 2
lapisan yang terbentuk. Hal ini dapat terjadi karena karbohidrat akan dihidrolisis oleh
asam sulfat pekat menjadi furtural atau hidroksi-metilfurtural yang kemudian akan
bereaksi dengan pereaksi molisch, yang terdiri atas -naftol dalam alkohol membentuk
senyawa kompleks berwarna ungu.

Pada percobaan Benedict , tabung 1 sampai 5 ditambahkan larutan benedict dan


ditambahkan masing masing tabung secara berurutan, glukosa 1% , sukrosa 1%,
fruktosa 1%, laktosa 1% dan amilum 1%. Setelah dipanaskan ternyata terdapat endapan
warna hijau pada sukrosa 1% dan pada glukosa 1%, fruktosa 1% dan laktosa 1% terdapat
endapan merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata glukosa 1%, fruktosa 1% dan
laktosa 1% adalah larutan yang mengandung gula pereduksi. Sedangkan amilum 1%
adalah larutan yang mengandung gula nonpereduksi. Hasil positif terdapat pada
glukosa,sukrosa, fruktosa dan laktosa yang menunjukkan adanya gula pereduksi pada
bahan tersebut. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya endapan berwarna hijau, kuning,
merah bata. Endapan dapat terjadi karena gula yang mempunyai gugus aldehid dan keton
akan mereduksi ion Cu 2+ yang kemudian menjadi Cu2O berwarna merah bata.

Pada percobaan Barfoed, tabung 1 sampai 4 ditambahkan larutan barfoed dan


ditambahkan masing masing tabung secara berurutan, sukrosa 1%, laktosa 1%, maltosa
1% dan glukosa 1%. Setelah dipanaskan dan diberi pereaksi warna fosfomolibdat, hanya
glukosa 1% yang terdapat endapan merah bata pada larutan biru tua. Sedangkan sukrosa
1%, laktosa 1%, dan maltose 1% tidak terdapat endapan merah bata. Hasil positif terdapat
pada glukosa yang berarti bahwa bahan tersebut mengandung monosakarida. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya endapan berwarna merah bata. Endapan terjadi karena ion
Cu2+ (dari pereaksi barfoed) dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula

22

pereduksi monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan endapan Cu 2O berwarna


bata.

Pada percobaan fehling, glukosa 1%, fruktosa 1%, dan laktosa 1% terdapat endapan
merah bata. Hasil positif terdapat pada glukosa, fruktosa dan laktosa yang berarti bahwa
bahan-bahan tersebut mengandung monosakarida sebagai gula pereduksi. Setelah
pemanasan muncul endapan merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa pada tabung
tersebut terdapat karbohidrat pereduksi yaitu monosakarida. Endapan itu tadi berasal dari
Fehling yang memiliki ion Cu2+ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan
diendapkan berwarna merah bata (Cu2O).

Pada percobaan Seliwanoff, hasil positif terdapat pada fruktosa dan sukrosa yang berarti
bahwa bahan-bahan tersebut mengandung karbohidrat yang tergolong ketosa. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya endapan ketika dipanaskan dan setelah endapan disaring dan
dilarutkan dalam alkohol . Setelah itu terjadi perubahan warna menjadi merah. Perubahan
warna terjadi karena dehidrasi fruktosa HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural.

Pada uji Iod ,hasil positif terdapat pada amilum, dextrin dan gum arab yang berarti bahwa
bahan-bahan tersebut mengandung polisakarida. Hal ini ditunjukkan dengan timbulnya
warna hitam dan coklat kemerahan pada larutan.

Presipitasi karbohidrat adalah pengendapan yang terjadi karena penggumpalan yang


parsial. Presipitasai disebabkan oleh berkurangnya kelarutan karbohidrat yang terjadi
karena perubahan kimia. Seperti halnya denaturasi karbohidrat, presipitasi juga
disebabkan oleh faktor kimia dan fisika. Semua faktor yang terjadi pada denaturasi juga
terjadi pada presipitasi karbohidrat. Presipitasi disebabkan oleh pengembangan molekul
karbohidrat akibat unfolding. Presipitasi juga terjadi akibat tergangguna kestabilan koloid
yang disebabkan oleh menurunnya muatan elektrostatik karbohidrat sehingga gaya
gravitasi akan lebih dominan dibandingkan gaya tolak-menolak antar molekul. Jadi
presipitasi karbohidrat merupakan fenomena berkurangnya larutan. Pada Uji Presipitasi
Polisakari, hasil positif terdapat pada pati, dextrin dan gum arab untuk yang ditambah
23

dengan alkohol 96% sedangkan hasil positif yang ditambah ammonium sulfat hanya gum
arab. Hal ini ditunjukkan timbulnya endapan ketika alkohol / ammonium sulfat
ditambahkan. Itu berarti bahan-bahan tersebut mengandung polisakarida.

24

KESIMPULAN

Pada uji Molisch, glukosa, sukrosa, pati, susu, dan putih telur positif mengandung
karbohidrat. Pada uji Benedict, glukosa 1% , sukrosa 1%, fruktosa 1%, laktosa 1%

positif mengandung gula pereduksi.


Pada uji Barfoed, hanya glukosa 1% positif menunjukkan adanya monosakarida. Pada uji

Fehling, glukosa 1%, fruktosa 1%, laktosa 1% positif mengandung gula pereduksi.
Pada uji Seliwanoff, fruktosa dan sukrosa positif adanya gugus ketosa. Pada uji Iod,

amilum, dextrin dan gum arab positif mengandung karbohidrat polisakarida.


Pada uji Presipitasi polisakarida, amilum, dekstrin dan gum arab diberi alcohol

menunjukkan hasil positif mengandung karbohidrat polisakarida.


Untuk mengidentifikasi adanya gula pereduksi pada suatu bahan dapat menggunakan uji

Fehling.
Untuk mengidentifikasi jenis karbohidrat yang terkandung dalam suatu bahan dapat
menggunakan uji Barfoed untuk mengetahui adanya monosakarida dan uji Iod untuk

mengetahui adanya polisakarida.


Untuk menguji adanya gugus aldehida pada suatu bahan dapat digunakan uji Benedict
dan untuk menguji adanya ketosa atau karbohidrat yang mengandung gugus keton dapat
digunakan uji Seliwanoff.

25

Daftar Pustaka

Hamid, Abdul. 2001. Biokimia : Metabolisme Biomolekul. Bandung : Penerbit


ALFABETA.
Martoharsono, Soeharsono. 2000. Biokimia jilid 2. Yogyakarta : Penerbit Gadjah Mada
University Press.
S. Page, David. 1989. Prinsip Prinsip Biokimia Edisi Kedua. Jakarta : Penerbit
Erlangga.
Yazid, Estien, dkk.2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa Analisis.
Yogyakarta : Penerbit ANDI.

26