Anda di halaman 1dari 45

SCHIZOPHRENIA

Amanda Fitriadhianti Kadar


030.10.024

GANGGUAN JIWA

ORGANIK

PSIKOTIK

FUNGSIONAL

SCHIZOPHRENIA

GANGGUAN JIWA
Menurut Townsend (1996)
mental illness adalah
respon maladaptive
terhadap stressor dari
lingkungan dalam/luar
ditunjukkan dengan
pikiran, perasaan, dan
tingkah laku yang tidak
sesuai dengan norma lokal
dan kultural dan
mengganggu fungsi sosial,
kerja, dan fisik individu.

Konsep gangguan jiwa dari


PPDGJ II yang merujuk ke
DSM-III
adalah sindrom atau pola
perilaku, atau psikologi
seseorang, yang secara
klinik cukup bermakna,
dan yang secara khas
berkaitan dengan suatu
gejala penderitaan
(distress) atau hendaya
(impairment/disability) di
dalam satu atau lebih
fungsi yang penting dari
manusia (Maslim, 2002).

American Psychiatric
Association (1994),
gejala atau pola dari
tingkah laku psikologi yang
tampak secara klinis yang
terjadi pada seseorang dari
berhubungan dengan
keadaan distress (gejala
yang menyakitkan) atau
ketidakmampuan
(gangguan pada satu area
atau lebih dari fungsifungsi penting) yang
meningkatkan risiko
terhadap kematian, nyeri,
ketidakmampuan atau
kehilangan kebebasan yang
penting dan tidak jarang
respon tersebut dapat
diterima pada kondisi
tertentu.

Psikotik

Mental
organik

Fungsional

1. Demensia
2. Delirium
3. Gangguan Amnestik
4. Gangguan kognitif
yang tidak dapat
ditentukan

1. Skizofrenia
2. Gangguan afektif
berat
3. Gangguan paranoid
4. Psikosis non organik
lainnya

SKIZOFRENIA

DEFINISI
Schizo = perpecahan / split

Phrenos = mind
Terjadinya suatu perpecahan
pikiran, perilaku, dan perasaan.

Sejarah Skizofrenia
Sejarah skizofrenia sejalan dengan sejarah
psikiatri.

Sudah dikenal berabad-abad, namun sekitar


100 tahun lalu dikenal di kepustakaan.
2 tokoh kunci skizofrenia:
1. Emil Kraepelin (1856-1926)
2. Eugen Bleuler (1857-1939)

Emil Kraepelin (1856-1926)


Melatinkan istilah Morel
menjadi Demence precoce /
Dementia prekox
Demensia = kemunduran intelegensia
Prekox = muda, sebelum waktunya

Demensia yang terjadi pada


usia dini, ditandai dengan
proses kognitif yang makin
lama makin memburuk,
disertai dengan gejala klinis
berupa halusinasi dan waham.

Eugen Bleuler (1857-1939)


Memperkenalkan istilah Skizofrenia

mengungkapkan adanya perpecahan pikiran, emosi, dan perilaku


pasien yang mengalami gangguan.

Gejala pelengkap: Waham dan halusinasi.

Perbedaan dengan konsep Kraepelin: perburukan proses kognitif


penderita Skizofrenia.

Teori Lain:
Meyer,

Sullivan,

pendiri
psikobiologi:
gangguan
mental
karena reaksi
terhadap
berbagai
stress
kehidupan.

pendiri
psikoanalitik
interpersonal:
isolasi sosial
sebagai
penyebab.

Ernst
Kreschmer ,
Lebih sering
pada pasien
bertubuh
astenik,
atletik,
displatik
daripada tipe
tubuh piknis.

Gabriel Langfelt
Membagi 2 kelompok psikotik berat
True Skizofrenia (depersonalisasi, autisme, emosi
tumpul, derealisasi. Onset terjadi secara perlahan)
psikosis skizofreniform.

Kriteria diagnosis:
Simptom
Perubahan kepribadian (terlihat aneh)
Tipe katatonik (gelisah, stupor)
Psikosis paranoid (depersonalisasi, derealisasi,
waham)
Halusinasi kronis

Perjalanan penyakit (kurang lebih 5 tahun)

Kurt Schneider (1887-1967)


First rank
symptom

Audible thought, voices arguing / discussing,


voices commenting, somatic passivity
experiences of influenced thought, thought
broadcasting, delusional persepsi.

Second
rank
symptom

Gangguan persepsi lain, ide yang bersifat


waham tiba-tiba, kebingungan, perubahan
mood depresi dan euforik, kemiskinan emosi.

Karl Jasper
Seorang
psikiater dan
filosof,
penyumbang
utama
berdirinya
psikoanalisis.

Mendekati
psikopatologi
dengan gagasan
tidak terdapat
kerangka kerja
konseptual atau
prinsip dasar
yang kuat.

Pekerjaannya
telah
menyamakan
pengertian
psikologis dari
tanda dan
gejala
skizofrenia,
seperti waham
dan halusinasi.

Epidemiologi
Prevalensi 1 1,5 % dari populasi di dunia.
Insiden 1 / 10.000 orang per tahun.
Jenis Kelamin: laki-laki = wanita
Usia: puncak onset laki-laki 15-25 thn,
perempuan 25-35 thn.
20%-50% penderita Skizofrenia mencoba
bunuh diri, 10% berhasil melakukannya.

ETIOLOGI :
a. Model diatesis stres ( biologis, psikososial, dan lingkungan)

Seseorang yang rentan (diatesis) terkena stresor


lebih mudah.
Genetik : kromosom X 1, 3, 5, 11 dihubungkan
dengan COMT (catechol-O-Methyl Transferase)
dalam encoding dopamin.
Lingkungan emosional yang tidak stabil, stresor
sosial, diskriminasi, sosial ekonomi rendah
(down ward drift hipotesis) Skizofrenia >>

Faktor Genetik
Kecenderungan seseorang
menderita skizofrenia
berhubungan dengan
kedekatan hubungan
keluarga (>> pada derajat
pertama dan kedua)

Kembar monozigot 4-5


x dizigot

9 linkage sites: 1q, 5q, 6p,


6q, 8p, 10p, 13q, 15q dan
22q

FAKTOR GENETIK
Genetik rentan
skizofrenia

Faktor
lingkungan

Faktor biologi dan


psikososial mencegah /
menyebabkan skizofrenia
pada individu yang rentan
secara genetik

SKIZOFRENIA

Faktor neurobiologis (lobus frontalis,


sistm limbik, ganglia basalis)
Neurotransmiter:
Dopamin
Srotonin
GABA

Neuropatologi
Sistem limbik:
Peranan dalam
mengendalikan emosi.
Gejala disorganisasi;
peningkatan aliran
darah daerah korteks
singulat dan striatum
Ganglia Basalis:
Gejala positif;
peningkatan aliran
darah di daerah
temporomedial
Halusinasi;
perubahan aliran
darah regio
hipokampus,
parahipokampus,
amigdala

Pencintraan Otak
Comuted Tomography
MRI pelebaran
daerah ventrikular III
dan lateral, terutama
bila gejala negatif
menonjol; implikasi
perubahan daerah
periventrikular limbik
striata, mengecilnya
ukuran dari lobus
frontal dan temporal.
PET (positron emission
tomography)
aktivitas lobus frontal
<<
EEG hilangnya
aktivitas gamma band;
melemahnya integrasi
jaringan saraf di otak.

A. SKIZOFRENIA

Gejala skizofrenia
meliputi gejala
positif dan negatif :

GEJALA POSITIF : peningkatan atau


gangguan fungsi normal seperti : waham,
halusinasi, peningkatan pembicaraan, asosiasi
longgar dan katatonia
GEJALA NEGATIF : pengurangan atau
kehilangan fungsi normal seperti : ekspresi
efektif tumpul atau datar, kemiskinan
pembiacaraan atau pikiran, anhedonia,
kurang motivasi, penarikan diri.

KRITERIA DIAGNOSTIK Skizofrenia


1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat
jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejalagejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. Thought echo, Thought insertion or withdrawal, Thought
broadcasting.
b. Delusion of control, Delusion of influence, Delusion of
passivity, Delusion perception.
c. Halusional Auditorik ; Suara halusinasi yang berkomentar
secara terus menerus terhadap prilaku pasien, Mendiskusikan
perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara atau Jenis suara halusinasi lain yang
berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut
budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang
mustahi, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa
(misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi
dengan mahluk asing atau dunia lain)

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu
ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami
sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau
pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah
(excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atau
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan
respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya
yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial
dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa
semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neureptika.

telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih


Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan,
tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute),
dan penarikan diri secara sosial.

Skizofrenia Paranoid F20.0


1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan :
Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a) Suara suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing);
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain lain
perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol;
c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion
of control), dipengaruhi (deusion of influence), atau passivity (delusion of
passivity), dan keyakinan dikejar kejar beraneka ragam, adalah yang paling khas;

Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala


katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol

SKIZOFRENIA HEBREFRENIK/TERDISORGANISASI (F20.1)

1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

2. Diagnosis henefrenia untuk pertama kalinya hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset 15 25 tahun)

3. Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian
untuk menentukan diagnosis.

4. Untuk diagnosis hebrefrenik yang meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan
lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
a) Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk
selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan atau hampa perasaan;
b) Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropiate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan
puas diri (self satisfied), senyum sendiri (self absorbed smilling) atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa
menyeringai ( grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluahan hipokondriakal, dan
ungkapan kata yang diulang ulang (reiterated phrase).
c) Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren.

5. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta


gangguan proses pikir umumnya menonjol halusinasi atau
waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol
(fleeting and fragmentary delusions and hallucinations).
Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan
(determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga
perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku
tanpa tujuan (aimless)dan tanpa maksud (empty of
puspose) adanya suatu preokupasi yang dangkal dan
bersifat dibuat buat terhadap agama, filsafat dan tema
abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahamijalan pikiran pasien.

SKIZOFRENIA KATATONIK (F20.2)


1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofenia

2. Satu atau lebih perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktifitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktifitas spontan) atau mutisme
(tidak berbicara);
b) Gaduh gelisah ( tampak jelas aktifitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal);
c) Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi
tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau
pergerakan kearah yang berlawanan);
e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuhyang kaku untuk melawan upaya menggerakan dirinya);
f) Fleksibilitas cerea/waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
g) Gejala gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata - kata
serta kalimat kalimat.

3. Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dan gangguan katatonik, diagnosis
skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala gejala
lain. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala gejala katatonik bukan petunjuk untuk diagnosis
skizofrenia.
Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol dan obat
obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif

SKIZOFRENIA TAK TERINCI


1. Memenuhi
kriteria umum
untuk diagnosis
skizofrenia.

2. Tidak
memenuhi
kriteria untuk
diagnosis
skizofrenia
paranoid,
hebefrenik, atau
katatonik.

3. Tidak
memenuhi
kriteria untuk
skizofrenia
residual atau
depresi
pascaskizofrenia.

DEPRESI PASCA SKIZOFRENIA (F.20.4)


1. Diagnosis harus ditegakan hanya kalau:
a) Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria umum
skizofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
b) Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi
mendominasi gambaran klinisnya)
c) Gejala gejala depresif menonjol dan mengganggu, memenuhi
paling sedikit kriteria untuk episode depresif (F32.-), dan telah ada
dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.

2. Apabila pasien tidak menunjukkan lagi gejala


skizofrenia, diagnosis menjadi episode depresif (F32.-).
Bila gejala skizofrenia masih jelas dan menonjol,
diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia
yang sesuai (F20.0-F20.3).

F20.5 Skizofrenia
Residual
F20.6 Skizofrenia
Simpleks

INDIKASI MASUK RUMAH


SAKIT

Tujuan untuk
diagnosis

Menstabilkan
dosis obat

Keamanan pasien
( sucide/homicid
e)

Perilaku yang
sangat kacau

Perawatan diri
yang buruk

Terapi
somatik
Antipsikotik

Terapi
Psikososial
Terapi
perilaku
Terapi
brorientasi
keluarga
Terapi
kelompok

Psikoterapi
individual

Terdapat 3 kelompok besar antipsikotik yang dipergunakan masa


kini, yaitu :
Dopamin Reseptor Antagonis
Kekurangannya :
50 % penderita tetap tidak banyak perbaikan
Efek samping yang cukup serius ( tardive diskinesia dam neuroleptik malignan
sindrom )
Beberapa kelompok obat yang sering dipergunakan :
Chlorpromazine ( 100 )
Trifluoperazine ( 5 )
Haloperidol
( 2-5 )
Thionidazine ( 100 )

(II) Risperindon ( Risperidal )


Lebih efektif
Efek samping neurologik sangat berkurang
Dapat mengatasi poitif dan negatif symtomps

(III) Clozapine
Kekurangan : agranulositosis dan harganya mahal
Kelebihannya : tidak menyebabkan tardive diskimesia

PROGNOSIS
PROGNOSIS KEARAH BAIK
Onset akut dengan faktor pencetus yang jelas
Riwayat hubungan sosial & pekerjaan yang baik
(premorbid)
Adanya gejala afektif
Subtipe paranoid
Subtipe katatonik
Sudah menikah
Banyak symptoms positif
Kebingungan
Tension, Cemas hostilitas

PROGNOSIS KEARAH BURUK


(1) Onset perlahan-lahan dengan faktor pencetus tidak
jelas
(2) Riwayat hubungan sosial dan pekerjaan buruk
( premorbid )
(3) Menarik diri , tingka laku yang artistik
(4) Tipe Herbefrenik dan tipe tak tergolongkan
(5) Belum menikah
(6) Riwayat skizofrenia dalam keluarga
(7) Adanya gejala neurologik
(8) Banyak symptom negatif
(9) Tidak ada gejala afektif atau hostilitas yang jelas

B. GANGGUAN WAHAM
MENETAP
Sekelompok gangguan jiwa
dengan waham-waham yang
berlangsung lama, dan
merupakan satu-satunya gejala
klinik yang khas atau yang
mencolok serta tidak dapat
digolongkan sebagai gangguan
organik, skizofrenik atau afektif.

DIAGNOSIS
GANGGUAN WAHAM
MENETAP

Pedoman diagnosis gangguan waham


(1) Merupakan satu-satunya gejala atau gejala yang
paling mencolok
(2) Sudah berlangsung paling sedikit 3 bulan
(3) Bila terdapat gejala depresi, maka gejala waham
harus tetap ada pada saat depresinya hilang
(4) Tidak disebabkan penyakit otak, tidak terdapat
halusinasi, dan tanpa riwayat skizofrenia

Gangguan Waham Menetap


Lainnya
Gangguan waham menetap yang tidak
memenuhi kriteria untuk gangguan
waham.
Termasuk : Gangguan waham dengan
halusinasi yang
Tidak memenuhi kriteria skizofrenia
Gangguan waham menetap kurang 3
bulan

PERJALANAN PENYAKIT GANGGUAN


WAHAM MENETAP
1. Kurang dari 25% menjadi skizofrenia
2. Kurang dari 10% menjadi gangguan afektif
3. 50% sembuh untuk waktu yang lama
4. 20% hanya penurun gejala
5. 30% tidak mengalami perubahan gejala

C. Psikosis Akut
Gangguan psikosis akut dan
sementara adalah sekelompok
gangguan jiwa yang :
Onsetnya akut ( 2 minggu)
Sindrom polimorfik
Ada stresor yang jelas
Tidak memenuhi kriteria episode manik
atau depresif
Tidak ada penyebab organik

Beberapa Gangguan Jiwa Gangguan Psikosis


Akut atau Sementara
Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa
Gejala Skizofrenia
(a) Onset harus akut (dari suatu keadaan non psikotik
sampai keadaan psikotik yang jelas dalam kurun waktu 2
minggu atau kurang);
(b) Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham yang
berubah dalam jenis dan intensitasnya dari hari ke hari
atau dalam hari yang sama ;
(c) Harus ada keadaan emosional yang
beranekaragamnya;
(d) Walaupun gejala-gejalanya beraneka ragam, tidak
satupun dari gejala itu ada secara cukup konsisten dapat
memenuhi kriteria skizofrenia atau episode manik atau
episode depresif.

Gangguan Psikotik Polimorfik Akut


dengan Gejala Skizofrenia
Memenuhi kriteria yang khas untuk gangguan
psikotik polimorfik akut.
Disertai gejala-gejala yang memenuhi kriteria
untuk diagnosis Skizofrenia yang harus sudah
ada untuk sebagian besar waktu sejak
munculnya gambaran klinis psikotik itu secara
jelas.
Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk
lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah
menjadi skizofrenia.

Gangguan Psikotik Lir Skizofrenia Akut


Suatu gangguan psikotik akut dengan gejala yang
stabil dan memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi
hanya berlangsung kurang dari satu bulan lamanya.
Pedoman Diagnosis
(1) Onset psikotiknya akut (dua minggu atau
kurang)
(2) Memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi lamanya
kurang 1 bulan.
(3) Tidak memenuhi kriteria psikosis pilimorfik
akut.

Gangguan Psikotik Akut Lainnya


dengan Predominan Waham
Gambaran klinis berupa waham
dan halusinasi yang cukup stabil,
tetapi tidak memenuhi skizofrenia.
Sering berupa waham kejaran dan
waham rujukan, dan halusinasi
pendengaran.

D. GANGGUAN SKIZOAFEKTIF

PENGERTIAN

Suatu gangguan jiwa yang gejala


skizofrenia dan gejala afektif terjadi
bersamaan dan sama-sama menonjol.
Onset yang tiba-tiba pada masa remaja ;
fungsi pramorbid baik ; terdapat stresor
yang jelas ; riwayat keluarga dan
gangguan afektif.
Prevalensi : % ; lebih banyak pada
wanita.
Prognosis lebih buruk dari gangguan
depresif maupun bipolar ; tetapi lebih
baik dari skizofrenia.

1. Pedoman Diagnosis Gangguan Skizoafektif


Gejala Skizofrenia dan gangguan afektif
sama-sama menonjol atau dalam beberapa
hari sesudah yang lain, tetapi dalam satu
episode penyakit (tidak memenuhi kriteria
diagnosis skizofrenia maupun gangguan
DIAGNOSIS
afektif).
2. Beberapa Tipe Skizoafektif
Gangguan Skizoafektif tipe Manik
Gangguan Skizoafektif tipe Depresif
Gangguan Skizoafektif tipe Campuran

Terimakasih