Anda di halaman 1dari 82

BAB 5 Tatanan

Kelembagaan

PENGANTAR
Korupsi adalah masalah besar (kalau bukan terbesar) bangsa ini. Masalahnya beraneka ragam,
mulai dari upaya pencegahan dan pemberantasan sampai pada penanganan kasus korupsi sejak orde
barn yang mencapai lebih dari satu quadrillion rupiah (lebih dari Rp 1.000 triliun). Jumlah ini akan
terus meningkat, baik karena kasus baru maupun karena opportunity cost (berupa bunga atau yield
yang tidak diterima negara).
Oleh karena itu, bahasan mengenai tatanan kelembagaan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari pokok bahasan akuntansi forensik di Indonesia. Ada beberapa pendekatan untuk
membahas tatanan kelembagaan di bidang pemberantasan korupsi.
Pertama, membahas tatanan kelembagaan dari perkembangannya lintas waktu. Misalnya, sejak
lahirnya Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) sampai dengan perubahan atau amandemen
terakhirnya. UUD 1945 ini sudah mengalami empat kali perubahan sebagai berikut.

Perubahan

Disahkan pada tanggal

Pertama

19 Oktober 1999

Kedua

18 Agustus 2000

Ketiga

10 November 2001

Keempat
10 Agustus 2002
Pendekatan ini menekankan check and balance dalam sistem pemerintahan. Check
balance dapat mendorong pencegahan dan pemberantasan korupsi. Sebaliknya, tanoa l

WLB
SIK

and balance, korupsi akan menghancurkan seluruh tatanan pemerintahan yang dikenal
seb trias politica. Ada juga lembaga-lembaga yang lahir dari ketentuan perundangundan? bawah UUD.
Kedua, membahas tatanan kelembagaan yang khusus menangani pemberantasan
koru $j dari perkembangannya lintas waktu. Pendekatan ini menunjukkan apakah
pemerintah secar historis mempunyai komitmen memberantas korupsi. Lembaga
pemberantasan korupsi yang silih berganti, datang dan pergi, digembos atau dipreteli
ketika sedang naik daun mencerminkan kelemahan dalam komitmen untuk memberantas
korupsi.
Ketiga,

mengkaji

bagaimana

lembaga-lembaga

yang

berurusan

dengan

pemberantasan korupsi, berinteraksi satu sama lain. Apakah mereka saling mendukung,
tidak peduli satu sama lain, harus dikoordinasi oleh salah satu di antara mereka, saling
menjegal, atau yang satu merasa lebih berperan dari yang lain? Apakah ada perubahan
cara mereka berinteraksi bergantung pada tahap mana lembaga pemberantasan korupsi
itu berada?
Keempat, mengadakan studi banding lembaga-lembaga yang berurusan dengan
pemberantasan korupsi di berbagai negara. Apa cerita sukses atau kegagalan mereka?

Mengapa mereka sukses atau gagal? Apakah kita dapat


mengulang (replicate) sukses atau keunggulan mereka?
Sesudah pembahasan mengenai keempat pendekatan ini,
bab ini akan melihat secara khusus landskap atau arsitektur
audit pemerintahan di Indonesia.
Bab

ini

diakhiri

dengan

pembahasan

mengenai

kelompok penekan atau pressure group seperti pers dan LSM.


Kelompok penekan memainkan peran penting dalam
menegakkan keadilan pada umumnya, dan khususnya dalam
memberantas korupsi.

Forensik
TATANAN KELEMBAGAAN

Bagian IPengantar Akuntansi

.
HJ||H

UUD 45 menyebutkan lembaga negara atau lembaga


penyelenggara negara, baik di tingkat pusat maupun di daerah.
Secara sederhana, tatanan kelembagaan ini dapat dilihat
dalam Bagan 5.1.
Bagan 5.1 mengacu bab-bab dalam UUD 45 untuk
masing-masing lembaga negara. Dl tingkat pusat, ke delapan
lembaga negara ini setara kedudukannya.
Dalam Bagan 5.1, ada dua kotakbesar dengan bingkai
garis putus-putus. pengelomp0^ ini sekadar untuk
menyederhanakan presentasi. Kotak besar pertama berisi tiga
kotak k^ masing-masing: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
Dewan Perwakilan Daerah (DPD)> Majelis Permusyawaratan
Rakyat (MPR). Pengotakan ini sejalan dengan Pasal 2 a?a
Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan
Perwakilan Rakyat B Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih
melalui pemilihan umum dan diatur le dengan undangundang.

Bagan 5.1

DPR

DPD

X/l

MPR

PRESIDEN

MK

MA

KY

BPK

OH

Bab W BabVUA Bab II

P
E
M
D
A
P
E
M
D
A
Bab VI
Catata
n:
Babbab
dalam
bagan
ini
adalah
bab
dalam
UUD
45.

Kotak
besar kedua
juga
berisi
tiga
kotak
kecil,
masingmasing:
Mahkamah
Konstitusi
(MK),
Mahkamah
Agung (MA),
dan Komisi
Yudisial
(KY). Ketiga

Bab m

Bab IX_

Bab VIIIA

lembaga
negara
ini
diatur dalam
satu
bab,
yakni
Bab
IX, di UUD
45, dengan
judul
Bab
Kekuasaan
Kehakiman.
Di
tingkat pusat
kita melihat
empat
kelompok
kelembagaan
.
Pertama,
kelompok
lembaga
yang
mencerminka
n perwakilan
rakyat.
Menarik
sekali
penjelasan
UUD
45
mengenai
Pasal
23
yang
lama
yang
berisikan
paham
demokrasi
(penulis tidak
mencantumk
an dua alinea
dari
penjelasan
Pasal 23 ayat
5):

BAB VIII
HAL
KEUANGAN
Pasal 23 ayat
1,2,3,4 Ayat 1
memuat hak
begrooiing
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Cara
menetapkan
anggaran dan
pendapatan
belanja
adalah suatu
ukuran bagi
sifat
pemerintahan
negara.
Dalam
negara yang
berdasarkan
fascisme,
anggaran itu
semata-mata
ditetapkan
oleh
pemerintah.
Akan tetapi,
dalam negara
demokrasi
atau dalam
negara yang
berdasarkan
kedaulatan
rakyat,
seperti
Republik
Indonesia,
anggaran
pendapatan
dan belanja
itu ditetapkan
dengan
undangundang.
Artinya

dengan
persetujuan
Dewan
Perwakilan
Rakyat.
Betapa
caranya
rakyat
sebagai
bangsa akan
hidup
dan
dari
mana
didapatnya
belanja buat
hidup, harus
ditetapkan
oleh rakyat
itu sendiri,
dengan
perantaraan
dewan
perwakilanny
a.
Rakyat
menentukan
nasibnya
sendiri,
karena
itu
juga
cara
hidupnya.
Ayat I
Pasal
23
menyatakan
bahwa dalam
hal
menetapkan
pendapatan
dan belanja,
kedudukan
Dewan
Perwakilan
Rakyat lebih
kuat daripada
kedudukan
pemerintah.
Ini
tanda
kedaulatan
rakyat.

Oleh karena itu penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendi^ maka segala tin dakan yang
menempatkan beban kepada rakyat, seperti pajak dan lain-lainnya, har^ ditetapkan dengan undang-undang yaitu dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat.
Cara pemerintah mempergunakan uang belanja yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Raky^ harus sepadan dengan keputusan
tersebut. Untuk memeriksa tanggung jawab pemerintah itu periu ada suatu badan yang terlepas dari pengaruh dan kekuasaan
pemerintah. Suatu badan yang tundu^ kepada pemerintah tidak dapat melakukan kewajiban yang seberat itu. Sebaliknya badan itu
bukanlah pula badan yang berdiri di atas pemerintah.
Sebab itu kekuasaan dan kewajiban badan itu ditetapkan dengan undang-undang.

Kedua, adalah Presiden dan Wakil Presiden yang mewakili kekuasaan pemerintahan negara.
Ketiga, kelompok yang mewakili kekuasaan kehakiman. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada di bawahnya, dan Mahkamah Konstitusi. Untuk pembahasan tatanan kelembagaan dalam bab ini, kita hanya
akan melihat dua badan peradilan di bawah Mahkamah Agung, yakni Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi, baik yang berada di
Pusat maupun di Daerah. Badan peradilan lainnya terdiri atas badan-badan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama,
peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara.
Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain
dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.
I

Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji
undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang- Undang Dasar, memutuskan pembubaran partai politik, dan memutus persehsihan tentang hasil pemilihan umum.
Ketiga kelompok di atas merupakan perwujudan konsep trias politica dalam ketatanegaraan; ada kelompok atau cabang legislatif
(lembaga-lembaga perwakilan rakyat), eksekutif (kekuasaan pemerintahan negara), dan yudikatif (kekuasaan kehakiman).
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak merupakan bagian dari ketiga kekuatan atau kekuasaan tersebut di atas. Lembaga
semacam BPK dikenal dalam sistem ketatanegaraan negara- negara demokrasi. Nama generik untuk lembaga ini adalah Supreme Audit
Institutions (SAI)Menarik sekali untuk disimak, bagaimana bapak-bapak pendiri bangsa ini, khususnya Bung Hatta (Dr. Moh. Hatta)
memosisikan BPK.
Secara umum ada tiga model SAI, yakni Napoleonic system (kita sering kali mendenga* istilah sistem kontinental untuk
menggambarkan sistem ini), Westminster system (sister Anglo Saxon), dan Board system. Transparency International menjelaskan
ketiga mode ^ sebagai berikut.1
In the Napoleonic system, also known as the court system \ SAIs are part of
have both judicial and administrative authority and are independent of the legislative &
executive branches. This model is used in some European countries (such as France, Italy, Spain, Portugal and others) and most
Latin American and francophone African countries. In the Westminster system, used in many Commonwealth countries, the SAI
(referred to as the Auditor General) is an independent body that reports to parliament. The office serves no judicial function but,
where this is warranted, its findings may be passed to legal authorities for further action. The Board system, prevalent in Asia, is
similar to the Westminster model in that it is independent of the executive and helps parliament perform its oversight function. The
international body guiding the work ofSAIs is the International Organization of Supreme Audit Institutions (Intosai). It issues
international guidelines for auditing and financial management, develops corresponding methodologies, provides training and
promotes the exchange of information and know-how among its membership of over 170 SAIs.
Meskipun belajar di Negeri Belanda dan paham betul dengan sistem kontinental, Bung Hatta tidak memilih Napoleonic system
maupun Westminster system. Beliau menerapkan Board system yang diuraikan di atas.

SAI adalah lembaga-lembaga di tingkat nasional yang bertanggung jawab untuk mengaudit penerimaan dan belanja negara. Tujuan
utama SAI adalah mengawasi pengelolaan keuangan negara dan kualitas serta kredibilitas pelaporan keuangan pemerintah. SAI
menyampaikan informasi yang dibutuhkan lembaga perwakilan rakyat dan masyarakat luas, dan membuat pemerintah akuntabel terhadap
pengelolaan keuangan negara dan aset negara. Dengan tujuan utama ini, SAI dapat bertindak untuk membatasi peluang bagi malpraktik di
bidang keuangan negara dan penyalahgunaan kekuasaan. SAI adalah salah satu dari pilar-pilar utama sistem integritas nasional di
negaranya.2
Dari deskripsi Transparency International mengenai SAI tadi, kita dapat melihat hubungan segitiga sebagai berikut (lihat Bagan 5.2).

Bagan 5.2
Lembaga Perwakilan Rakyat (yang mempunyai hak bujet)

Pemerintah (pengelola keuangan negara)

SAI
(fungsi oversight)

Bagaimana dengan SAI di Indonesia? Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar dalam Bab VIII A mengatur, antara lain, tentang
BPK. Pasal 23E dalam bab ini berb ^ (garis bawah dari penulis):
(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negar diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang
bebas dan mandiri.
(2) Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada Dewan Perwakilan Raky at Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, sesuai
dengan kewenangannya.
(3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan undang-undang.
Bagan 5.3 difokuskan kepada lembaga negara dan lembaga kuasi negara yang berkaitan dengan sektor keuangan negara dan
pemberantasan tindak pidana korupsi.
Baris pertama dalam Bagan 5.3 menggabungkan lembaga negara dan perangkatnya di Pusat dan Daerah. Penggambarannya
berbeda dari apa yang ditunjukkan dalam Bagan 5.1, karena:
1. Bagan 5.3 ingin menunjukkan ke mana saja laporan hasil pemeriksaan, laporan hasil pemeriksaan kinerja, dan ikhtisar hasil
pemeriksaan BPK disampaikan. Ini adalah sesuai dengan amanat UUD 45 yang diatur lebih jauh dengan Undang- Undang
Nomor 15 Tahun 2004, yang pasal-pasalnya dikutip dalam alinea ini. Juga dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
mengenai BPK. Arus laporan ini, dalam Bagan 5.3, terlihat dari garis titik-titik yang dimulai dari BPK menuju ke DPR dan
DPD (Pasal 17 ayat 1 dan Pasal 18 ayat 1), DPRD (Pasal 17 ayat2), Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota (Pasal 17 ayat 3 dan 6,
dan Pasal 18 ayat 2), DPR/DPD/DPRD (Pasal 17 ayat 5). Apabila dalam pemeriksaan ditemukan unsur pidana, BPK
melaporkan kepada instansi yang berwewenang (kepolisian, kejaksaan, KPK), sesuai Pasal 14 ayat 1.
2. Bagan 5.3 lebih luas cakupannya dari Bagan 5.1. Pada saat ini ada sekitar 50- an lembaga kuasi negara yang didirikan dengan
bermacam-macam ketentuan perundang-undangan. Di antaranya, Komnas HAM, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Komisi
Anak dan Kesejahteraan Keluarga, Komisi Penyiaran Indonesia, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, dan lain-lain. Hal yang
dicantumkan dalam Bagan 5.3 hanyalah lembaga-lembaga kuasi negara yang berhubungan dengan fraud, khususnya tindak
pidana korupsi di sektor publik. Lembaga-lembaga m1 adalah: Komisi Kepolisian, Komisi Kejaksaan, Komisi Pemberantasan
Korups1 (KPK), dan Komisi Ombudsman.
3. Bagan 5.3 juga mencantumkan suatu kelompok lain, yang terlihat dalam Pengawas Intern. Dalam laporan tahunan (2004) Forum
Bersama APIP dijelaskan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) merupakan nomenklatura dipakai untuk mengidentifikasikan
audit di lingkungan pemerintah. Pada saat i, kita mengenal Inspektorat Jenderal Departemen, Inspektorat Utama/Inspe o LPND dan
Badan Pengawas Daerah (Bawasda) 3 Selain APIP yang disebu I di atas, penulis mengelompokkan BPKP, para pengawas di
pemerintah dae
(provinsi, kabupaten, kota), Satuan Pengendalian Intern di BUMN dan BUMD, satuan khusus (seperti Inspektorat Bidang Investigasi di Kementerian Keuangan), dan semua pengawas internal pemerintah
lainnya, ke dalam kotak Pengawas Intern.

Bagan 5.3

Di samping lembaga-lembaga di atas, ada lagi suatu lembaga yang memfasilitasi pengungkapan tindak kejahatan, termasuk TPK, yakni Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk kejahatan
pencucian uang dan Interpol (dalam kecurangan lintas batas negara). Khusus mengenai PPATK akan dibahas di Bab 15 dan 25.
Potongan-potongan yang tersebar dalam Bagan 5.1, dan Bagan 5.3 dikonsolidasikan dalam Bagan 5.4. Tentunya Bagan 5.4 ini menyederhanakan dunia nyatanya. Gambar ini menunjukkan komponen-komponen
besar dari tatanan kelembagaan yang kalau berfungsi dengan baik, merupakan cerminan dari masyarakat (yang dalam istilah Bapak-bapak Pendiri Bangsa kita) yang berkedaulatan rakyat.

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

Bagan 5.4 menunjukkan dua kelompok besar yaitu lembaga-lembaga penyelenggara negara yang
ditetapkan UUD 45 dan kelompok penekan. Tekanan atau tension dalam keseluruhan tatanan ini tidak lain
adalah bagian dari sistem check and balance yang menjamin tidak adanya kuasa mutlak di satu tangan.
Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak bersifat korup secara mutlak.4
Di antara lembaga-lembaga negara ada tekanan satu kepada yang lain, karena kemandirian dan
kewenangan yang diberikan oleh UUD 45 dan ketentuan perundangan lainnya. DPR dengan berbagai
haknya, seperti hak bujet, dapat menekan lembaga-lembaga negara lain dan lembaga-lembaga kuasi negara.
Melalui haklegislasinya, ia dapat mengatur lembaga-lembaga lain termasuk lembaga swasta melalui
penerbitan undang-undang. Sebaliknya, kekuasaan pemerintahan memungkinkannya menggunakan dana
APBN/APBD yang telah disetujui DPR/DPRD, dan menguasai informasi. Ini merupakan tekanan kepada
DPR/DPRD. BPK memeriksa akuntabilitas lembaga-lembaga negara dan kuasi negara dan melaporkannya
kepada DPR. Kekuasaan kehakiman memastikan bahwa kekuasaan pemerintah melaksanakan amanat UndangUndang Dasar 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya.
Kelompok penekan dalam Bagan 5.4 diwakili beberapa lembaga kuasi negara (LKN) dan LSM.
Dalam praktiknya ada kekuataan lain, seperti pers dan masyarakat. Kelompok penekan melalui
kewenangan yang berasal dari ketentuan perundang-undangan maupun karena pengakuan dan kepercayaan
yang mereka peroleh dari masyarakat, memberi tekanan kepada lembaga-lembaga penyelenggara. Tekanan
ini akan membuat atau diharapkan akan membua pihak lainnya menjadi waspada dan berhati-hati.
Kelompok penekan bisa juga kehilangan
daya tekannya karena praktik-praktik tidak sehat seperti menerima suap, memeras, dan lain- lain.
Kalau seluruh roda dalam tatanan kelembagaan tadi berputar dengan lancar, kita mengalami
kematangan dalam berdemokrasi. Biasanya yang menjadi acuan dari kematangan berdemokrasi adalah
negara-negara dengan tradisi Yunani-Romawi. Namun di sekitar kita di Asia pun kita dapat melihat contoh-

contoh yang baik. Di India dan Jepang perdebatan dan sindir-menyindir berlangsung dengan santun dan
eloquent, tidak kalah dengan keelokan perdebatan di Inggris atau Amerika Serikat. Di ekstrim lainnya kita
lihat Taiwan (dan sebelumnya Korea Selatan) di mana perdebatan diselesaikan dengan adu jotos. Di antara
kedua ekstrim itu kita menyaksikan keanggunan demokrasi dan aristokrasi Thailand, di mana pada saat
yang tepat kharisma tahta kerajaan menyelesaikan masalah politik yang berat. 5 Kekecewaan dari pihak
manapun terhadap roda-roda dalam tatanan kelembagaan dan ketidakmampuan menyampaikan aspirasi
secara demokratis akan mendorong parlemen jalanan (peoplespower di Filipina), aksi demonstrasi yang
anarkis, bentrokan antarkekuasaan dengan kekerasan, dan segala bentuk kekecewaan terhadap demokrasi.
Theodore Parker mendefinsikan demokrasi sebagai a government of all the people, by all the people,
for all the people, of course a government of the principles of eternal justice, the unchanging law of God;
for shortness* sake I will call it the idea of Freedom 6 Kalau semua rakyat (lewat lembaga-lembaga
negara tentunya) ikut memerintah, bayangkan tantangan yang dihadapi. Kepentingan di antara kita bisa
berbeda: kepentingan pekerja (kesejahteraan sebagian masyarakat) dan pemberi kerja (kebutuhan akan
investasi yang diharapkan mendatangkan kesejahteraan), kepentingan kelompok mayoritas (yang akan
menang melalui sistem pemilihan) dan kelompok minoritas (yang mempunyai hak asasi yang harus
dihormati), kepentingan menegakkan keadilan (kasus BLBI, kasus Timor Timur, dan lain- lain) dan
kepentingan masa depan (rekonsiliasi antara pemegang kekuasaan baru dan lama), dan seterusnya.
Tanpa tradisi berdemokrasi, kehidupan berdemokrasi bisa sangat melelahkan. Oleh karena itu, tradisi
ini harus terintegrasi dengan pendidikan sejak kecil di sekolah dan di rumah. Anak-anak diajarkan
mengungkapkan pendapat dan perasaannya secara lugas dan santun, dan di lain pihak, menghargai
pendapat orang lain, sekalipun kita tidak menerimanya. Hampir 2.500 tahun yang lalu, Plato melihat
demokrasi sebagai bentuk yang indah dalam pemerintahan, penuh dengan kebhinekaan dan
ketidakteraturan, dengan menganugerahkan kesetaraan kepada yang istimewa dan yang tidak istimewa.7
Tidak jarang, bangsa yang menemukan kembali demokrasi, rindu akan masa-masa di mana kekuasaan
mutlak bisa menyelesaikan masalah ekonomi dan pembangunan, masalah keamanan negara, dan lainlain masalah bangsa. Di antara pemimpin bangsa kita pun masih ada kerinduan semacam ini.
Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 akan memiliki tambahan alat kelengkapan baru, yakni
Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN). Hal itu diputuskan dalam pembahasan Rancangan
Undang-Undang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD yang prosesnya hampir mendekati
tahap akhir.8 Tujuan penambahan badan tersebut adalah untuk lebih mengoptimalkan fungsi pengawasan
DPR.
BAKN berwenang melaksanakan penyelidikan atas suatu kasus berdasarkan
audit Badan Pemeriksa Keuangan, masukan dari komisi, atau masukan masyarakat TU akan
diisi
12 sampai 13 anggota DPR senior yang pernah menjabat paling sedikit dua DP
BAKN didukung sekitar 30 staf yang memiliki latar belakang ilmu ekonomi.

la

Pratl

r^nOQo

Sikap akomodatif dalam kampanye pemilihan Presiden akan berdampak dalam tatanan
kelembagaan dan efektivitasnya. Di harian Kompas, Eep Saefulloh Fatah, Pengajar Departem Ilmu
Politik Universitas Indonesia, menulis:9

Akomodasi berlebih
Tiga potensi kekeliruan pertama berpotensi dibentuk oleh sikap akomodatif Yudhoyono yang
berlebihan. Pertama, mengakomodasi semua (23) partai peserta resmi koalisi penyokongnya ke dalam
kabinet dan/atau pos-pos pemerintahan lainnya. Akomodasi semacam ini ditandai oleh berlebihannya
jumlah dan proporsi wakil partai sambil terabaikannya kompetensi mereka.

11

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik


Kedua, mengakomodasi berlebihan wakil lima partai utama peserta koahsi ke dalam kabinet dan
pos-pos kantor eksekutif Presiden. Hal ini berpotensi membatasi kemungkinan terbentuknya kabinet
yang kompeten, profesional, dan punya integritas.
Ketiga, tergoda memperluas dukungan dalam legislatif dengan menarik masuk Partai Golkar ke
barisan pendukung pemerintahan melalui Munas Partai Golkar dan/atau PDI-P melalui pertukaran
kepentingan politik jangka pendek. Alhasil, SBY-Boediono akan tersokong oleh koalisi tambun
berkekuatan di atas 70 persen kursi legislatif.
Namun, sebagaimana terbukti sepanjang masa pemerintahan Yudhoyono-Kalla, koalisi tambun
itu akan sulit didisiplinkan. Resistensi dan perlawanan dari lembaga legislatif akan datang dari partaipartai penyokong pemerintahan. Alih-alih koalisi semacam ini, Yudhoyono lebih butuh koalisi
berkekuatan cukup (koalisi lima partai dalam pemilu presiden yang baru lalu) yang disiplin.

i-----------------i---------------------------------------------------------------Takkuat

1 ir

' ''ilifff

Tiga potensi kekeliruan berikutnya dibentuk oleh cenderung lemahnya kepemimpinan Yudhoyono.
Pertama, menjalankan politik balas budi secara berlebihan sebagaimana terlihat sejak 2004. Politik
balas budi berlebihan telah terbukti meningkatkan kerepotan selama lima tahun terakhir.
Kedua, tidak bersikap tegas terhadap kasus-kasus konflik kepentingan dalam pemerintahanny*
sehingga membatasi efektivitas manajemen pemerintahan dan kebijakan. Contoh terbaik soal irn
adalah berlarut-larutnya penyelesaian lumpur di Sidoarjo.
Ketiga, mengelola pemerintahan yang terlampau hati-hati, lamban, dan konservatif. Jang**1 lupa,
SBY-Boediono cenderung satu karakter, tidak saling komplementer sebagaimana ||| Kalla. Keduanya
berpotensi menjadi rem (bukan rem dan gas) dan memfasilitasi terbentukDrj pemerintahan yang
kurang sigap.
HIM

Di samping masalah yang dikemukakan Eep Saefulloh Fatah di atas juga ada ma serius lain
berkenaan dengan rekrutmen pejabat publik. Masalah ini dibahas harian KoW (lihat Kotak 5.1).

Kotak 5.1
Kegagalan Rekrutmen Pejabat Publik Kita
Harian Kompas, Jumat, 8 Mei 2009 berisi tulisan, analisis, dan ulasan mengenai buruknya rekrutmen
pejabat publik kita. Kotak ini berisi ringkasan dari tulisan, analisis, dan ulasan mengenai:
1. Calon pimpinan KPK yang lolos (Antasari Azhar) dan yang tidak lolos (Amien Sunaryadi) dari
seleksi DPR. Antasari terpilih menjadi Ketua KPK, dan kemudian menjadi terdakwa dalam suatu
kasus pidana. Ulasan Kompas ini berjudul Perekrutan Buruk, Pejabat Memble. [Catatan: Pada
penghujung 2009, Amien Sunaryadi menjadi salah satu anggota staf ahli Panitia Khusus Angket
Bank Centurylihat Suara Pembaruan, Rabu, 16 Desember 2009). '
2. Para komisioner (anggota Komisi Negara) yang terlibat kasus (tindak pidana korupsi dan pidana
umum) dengan ulasan berjudul Apakah yang Salah?
Antasari Azhar
Suatu hari di bulan September 2007, empat wartawan terkejut ketika disodori segepok uang dengan
pecahan 100 dolar AS oleh calon pimpinan KPK, Antasari Azhar. Antasari menyebut, uang tersebut adalah
uang transpor.
Para wartawan ini terkejut dan kesal karena calon pimpinan KPK, yang seharusnya memberantas
korupsi, justru mencoba menyuap. Antasari seolah-olah mengolok-olok etika dan kepatutan jurnalistik.
Para wartawan itu, salah satunya Karaniya Dharmasaputra kemudian melaporkan tindakan Antasari
kepada Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK. Mereka menelepon Mas Achmad Santosa, salah seorang
anggota panitia seleksi.
Mas Achmad Santosa pun berjanji akan mempertemukan mereka dengan panitia seleksi.
Belakangan, hanya tiga anggota panitia seleksi, yaitu Mas Achmad Santosa, Komaruddin Hidayat, dan
Frans Alexander Wospakrik, yang merespons. Mereka menemui para wartawan beberapa jam sebelum
menyampaikan 10 nama calon pimpinan KPK yang sudah diseleksi kepada Presiden. Nama Antasari tetap
lolos.
Takpuas dengan tanggapan Panitia Seleksi KPK, Karaniya dan kawan-kawan melaporkan tindakan
Antasari ke Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas). Hasilnya tetap sama. Tindakan Antasari yang
mencoba memberi uang kepada wartawan yang mewawancarainya tidak ditindaklanjuti.
Karaniya Dharmasaputra, saat dimintai tanggapan terkait dengan penahanan Antasari Azhar yang
diduga terlibat kasus pembunuhan ini, menyatakan, yang paling bertanggung jawab atas tercorengnya
nama KPK adalah Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK periode 2008-2011.
Sejak awal terbentuknya panitia seleksi, sudah banyak kritik dilontarkan terhadap komposisi panitia
seleksi, terlebih dengan dipimpin oleh seorang menteri. Berdasarkan pengamatan Kompas, selama proses
seleksi, nama-nama besar yang menjadi panitia seleksi jarang sekali datang menghadiri rapat. Mereka
baru serius mengikuti rapat menjelang akhir proses seleksi. Akibatnya, nama-nama kontroversial yang
masuk dalam daftar tidak bisa dicermati secara baik dari awal proses seleksi.
Terlebih lagi, panitia seleksi dalam konferensi pers pada 4 Juli 2007 mengungkapkan, kontroversi
dalam masyarakat yang menyertai seorang calon tidak menjadi pertimbangan Panitia Seleksi Calon
Pimpinan KPK. Panitia seleksi lebih mengandalkan melihat calon secara komprehensif, mulai dari
kepribadian, pengetahuan, hingga wawasan yang dimiliki. Meskipun banyak laporan masyarakat yang
masuk seputar rekam jejak para calon, panitia seleksi tidak menggubris.

142

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

Berdasarkan catatan Kompas, hasil rekam jejak terhadap Antasari Azhar yang dilaporkan sejumlah LSM
beragam, seperti keterlambatan dalam penanganan perkara eksekusi terpidana kasus Tommy Soeharto, anggota DPRD
Sumatra Barat, dan pemeriksaan Bupati Kepulauan Riau Hu^ Hood.
Putusan bebas murni terhadap Bupati Lonowe Lukman Abunawas juga diduga disebabkan unsur I kejaksaan yang
tidak pernah mengajukan bukti dan temuannya di persidangan. Menurut laporan ! LSM kepada panitia seleksi, sebelum
diputuskan bebas murni, Lukman Abunawas memberikan uangi sebesar Rp3 miliar kepada Antasari Azhar di Bangka
Belitung.
Begitu pun informasi yang diterima LSM tentang dugaan adanya pemberian uang Rp5 miliar 1 dari Bupati Muna
Ridwan Bae kepada Antasari, juga masuk dalam berkas laporan. Akan tetapi, semuai laporan tersebut tidak
dipertimbangkan oleh Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK.
Wakil Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo mengatakanj Antasari adalah salah
satu calon pimpinan KPK yang paling kontroversial.
Secara resmi kami sudah menyurati panitia seleksi agar mencoret Antasari Azhar sebagai calon pimpinan KPK.
Jejak rekam dia banyak cacat, kata Adnan.
Namun, panitia seleksi abai. Mereka juga tidak mendengarkan kritik masyarakat terkait adanya kebijakan mereka
memberikan kuota bagi penegak hukum, baik jaksa maupun polisi, untuk menjadi calon pimpinan KPK. Jadi,
meskipun para calon yang ada tidak cukup baik dan berintegritas, tetapi dengan adanya kebijakan kuota ini maka para
calon dari jaksa dan polisi berpeluang terpilih menjadi pimpinan KPK.
Mas Achmad Santosa mengakui, Antasari termasuk calon yang jejak rekamnya mendapat sorotan saat proses
seleksi. Seleksi pejabat publik memang memiliki banyak kelemahan. Tak hanya di KPK, tapi juga terjadi di KPU,
Komisi Yudisial, Komisi Kejaksaan, Komisi Kepolisian. Banyak orang yang berkualitas tidak terjaring, tetapi yang
punya banyak kelemahan yang akhirnya lolos. Kami dihadapkan pada minimnya pilihan, kata Achmad, yang menjadi
anggota panitia seleksi untuk sejumlah lembaga negara ini.
Lebih dari itu, menurut Achmad, yang lebih mengkhawatirkan adalah seleksi di DPR. Saya termasuk yang
terkejut, ketika kemudian Antasari yang terpilih menjadi ketua KPK, ujarnya.
Mengenai rekam jejak Antasari Azhar, Muhammad Assegaf selaku kuasa hukum Antasari mengatakan, sebelum
menjabat sebagai Ketua KPK soal rekam jejak kliennya sudah banyak diulasi sewaktu proses uji kelayakan dan
kepatutan calon pimpinan KPK. Baik oleh sejumlah LSM dan media massa.
Saya sudah kenal Antasari saat sebagai jaksa, tapi saya tidak tahu track record Antasari sebelum menjabat sebagai
Ketua KPK. Saya baru membaca rekam jejak Antasari yang diungkap LSM dan media massa, ujar Assegaf.
i

Amien Sunaryadi
Proses uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon pejabat publik di DPR memang tidak bisa dilepaskan dari
kepentingan fraksi-fraksi politik. Seperti politik dagang sapi, kata Adnan.
Jauh-jauh hari sebelum Komisi III DPR memilih lima calon pimpinan KPK, fraksi-fraksi di DPR ternyata sudah
gencar melakukan lobi di antara para pimpinan fraksi. (Kompas, 29 November 2007).
Diduga, dari pertemuan informal di Hotel Four Seasons Jakarta, 27 November 2007 malam. nama akan didorong
untuk diloloskan. Mereka adalah Antasari Azhar (kejaksaan), Bibit Samad Riafl| (kepolisian), Haryono Umar (BPKP),
Chandra M. Hamzah (pengacara), sedangkan dari pegawai || Mochammad Jasin. Ada juga yang menyebut Waluyo
(pegawai KPK juga).

Bab 5Tatanan Kelembagaan

JL^tO

Hasil voting para fraksz di Komisi III sama dengan hasil lobi informal di Hotel Four Seasons ini sehingga lima
nama yang terpilih adalah Antasari Azhar, Bibit Samad Rianto, Haryono Umar, Chandra M. Hamzah, dan Mochammad
Jasin.
Berdasarkan pengamatan Kompas selama proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III, pertanyaan yang
diajukan para anggota DPR kepada Antasari sangat minim, hanya seputar visi dan misinya jika kelak ia menjabat
sebagai pimpinan KPK. Pertanyaan-pertanyaan itu bisa dijawab dengan lancar oleh Antasari. Bahkan, saat Antasari
mengatakan, ia siap pasang badan jika untuk kasus apa pun agar KPK tidak menjadi alat untuk menzalimi seseorang,
dia disambut tepuk tangan meriah anggota Komisi III DPR.
Hal ini berbeda sekali saat para anggota Komisi III DPR mencecar Amien Sunaryadi, Wakil Ketua KPK periode
2004-2007, yang kembali mencalonkan diri. Bahkan, informasi Kompas dari salah seorang anggota Komisi III yang
diperoleh sebelum voting dilakukan menyebutkan, Komisi III DPR khawatir kalau memilih Amien Sunaryadi karena
KPK nanti akan seperti KPK jilid I yang sulit dikendalikan.
Komisioner yang terlibat kasus Daftar nama
anggota Komisi-komisi Negara yang terlibat kasus:
Nama

Jabatan

Ketua KPU
Nazaruddin Sjamsuddin
Mulyana W. Kusumah (2001-2005)
Anggota KPU
(2001-2005)

Rusadi Kantaprawira
Irawady Joenoes

Anggota KPU
(2001-2005)
Anggota Komisi
Yudisial (20052010)

Mohammad Iqbal
Anggota KPU (20062011)
Antasari Azhar

Ketua KPK (20072011)

Sumber: Harian Kompas, Jumat 8 Mei 2009.

Dugaan Kasus

Vonis

Korupsi dana rekanan dan asuransi


KPU
Suap auditor BPK

Tangerang, Banten 6
tahun (Kasasi MA
16/8/2006)
2 tahun penjara 7
bulan
(Pengadilan
Korupsi kotak suara pemilu
Tipikor 12/9/2005)
15 bulan (Pengadilan
Korupsi pengadaan tinta pemilu
Tipikor 13/12/2006)
Menerima uang Rp600 juta dan 30.000 4 tahun (Kasasi MA
dolar AS dari Freddy Santoso terkait
16/10/2006)
proyek pengadaan tanah untuk gedung 8 tahun (Kasasi MA
Komisi Yudisial
14/11/2008)
Menerima suap sebesar Rp500 juta dari
Presiden Direktur PT First Media, Billy
Sindoro
Terlibat kasus pembunuhan Nasrudin
Mulai diadili Pengadilan
Zulkarnaen, Direktur PT Putra
Tipikor 10/2/2009)
Rajawali Banjaran, yang tewas
Kasusnya masih
ditembak pada 14 Maret 2009 di
ditangani polisi

144

Bagian IPengantar Akuntansi

Forensik

LEMBAGA PEMBERANTASAN KORUPSI


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berdiri pada tanggal 29 Desember tahun 20oj
bukanlah lembaga pemberantasan korupsi yang pertama di Indonesia. KPK didirikan karen a
kelemahan aparat penegak hukum di bidang penyelidikan dan penyidikan (kepolisian dan
kejaksaan) dalam menghadapi tuntutan konvensi pemberantasan korupsi PBB (United Nations
Convention Against CorruptionUNCAC).
Sesudah KPK berdiri, dalam era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono lahir Tim
Pemburu Koruptor dan Timtastipikor yang dikomandoi oleh pimpinan Kejaksaan Agung.10
Tim Terpadu Pemburu Koruptor atau lebih dikenal dengan Tim Pemburu Koruptor yang
dibentuk pemerintah melalui Menko Politik, Hukum dan Keamanan pada 17 Desember 2004.
Tidak jelas dasar hukum pembentukan Tim Pemburu Koruptor ini. Tim beranggotakan sejumlah
instansi terkait seperti Menko Politik, Hukum, dan Keamanan; Kapolri; Jaksa Agung;
Departemen Luar Negeri; serta Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK).11
Tugas Tim Pemburu Koruptor selain memburu para koruptor yang kini bebas di luar negeri,
juga berupaya mengembalikan aset-aset milik negara yang dibawa mereka kabur ke luar negeri.
Ketua Tim Terpadu adalah Basrief Arief (Wakil Jaksa Agung) dengan pertimbangan jaksa adalah
eksekutor putusan pengadilan. Dirjen Administrasi Hukum Umum Zulkarnaen Yunus dalam Tim
Pemburu Koruptor bertugas mencari rekening para koruptor, sedangkan Direktur Jenderal
Imigrasi Imam Santoso bertugas mencari keberadaan para koruptor.
Awalnya tim ini hanya memburu terpidana yang melarikan diri. Akan tetapi, dalam
perkembangannya yang menjadi tersangka juga menjadi target. Tim sudah menetapkan 13
koruptor kakap untuk segera ditangkap. Saat ini tim gabungan berkonsentrasi memburu enam
terpidana korupsi dan tujuh tersangka korupsi yang kabur dari Indonesia. Sayangnya daftar
tersangka korupsi yang kabur tidak pernah disebutkan secara jelas, karena alasan confidential
Dari sisi tempat pelarian, mereka kebanyakan berada di Singapura, ada yang di AS, Kanada, dan
Cina.
Apa yang sudah dicapai Tim Pemburu Korupsi? Judul berita dalam majalah Tempo memberi
jawaban atas pertanyaan tersebut. Lihat Kotak 5.2.

Kotak 5.2
Kisah Tim Penangkap Angin
Di lapangan, taring tim yang terdiri atas jaksa, polisi, dan anggota Badan Intelijen Negara ini
ternya 8 tak seseram namanya. Ibarat pepatah, target yang dicapai jauh panggang dari api.
Sebelumnya, tim ini menetapkan 14 orang sebagai target. Sebagian di antaranya pa* 8
pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia yang sudah dijatuhi vonis penga
Mereka antara lain Samadikun Hartono (Komisaris Bank Modern), Bambang Sutrisno (Wakil Komisaris Utama
Bank Surya), dan Irawan Salim (Direktur Utama Bank Global). Di luar itu, ada buron kakap lain, seperti
Sudjiono Timan (Direktur PT Bahana), Maria Pauline Lumowa, serta Eddy Tansil, penggangsir duit Bapindo
yang kabur dari penjara Cipinang pada 1995.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

145

Kendati tim ini sudah terbang ke Australia, Hong Kong, Singapura, Cina, Swiss, dan Amerika Serikat, bisa
dibilang yang dibawa pulang lebih banyak angin. Hanya bisa mengendus, tapi tak tahu di mana persisnya
mereka tinggal, ujar seorang jaksa. Muchtar mengakui timnya kesulitan melacak di mana buruannya berada.
Muchtar menunjuk, beberapa buronnya kerap berada di Singapura. Di antaranya Bambang Sutrisno, yang sudah
divonis hukuman seumur hidup, dan Samadikun Hartono, yang dihukum empat tahun penjara.
Tim ini pun mengaku sulit melacak aset para koruptor yang ditengarai sudah banyak dipindahtangankan
itu. Hingga kini, satu-satunya isi rekening yang bisa diambil tim kejaksaan adalah milik Hendra Rahardja,
mantan pemilik Bank Harapan Sentosa, yang meninggal di Australia pada 2003. Pemerintah Hong Kong
bersedia menyerahkan duit Hendra ke Indonesia senilai US$800 ribu atau sekitar Rp8 miliar dengan syarat ada
sharing fee (komisi bagi hasil). Untuk syarat itu, karena tak ada pilihan lain, Indonesia setuju.
Sumber. Majalah Tempoy 26 Juli 2009.

Mengenai Tim Pemburu Koruptor ini, harian Kompas, 12 Agustus 2009, menulis Tak Jelas Kinerjanya,
Ditiadakan Saja. Pasalnya, hasil kerja tim di bawah koordinasi Menteri Koordinator Politik Hukum dan
Keamanan itu tidak jelas, bahkan tumpang tindih dengan bidang lain. Kompas mengutip anggota Komisi III
DPR, Gayus Lumbuun: Tidak seimbang antara biaya yang dikeluarkan dan hasil Tim Pemburu
mengembalikan aset negara. Kompas juga mengutip Hasril Hertanto (Ketua harian Masyarakat Pemantau
Peradilan Indonesia Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Kinerja Tim Pencari Tersangka dan Terpidana
Korupsi belum sebanding dengan namanya. Kinerjanya tidak pernah maksimal. Salah satu hambatannya adalah
sistem birokrasi di Indonesia dalam bidang hubungan timbal-balik antarnegara yang berada di tangan Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Kemudian ada Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang lebih dikenal dengan nama Timtas
Tipikor. Timtas Tipikor yang dibentuk berdasarkan Keppres No. 11 tahun 2005 beranggotakan 48 orang dari
kejaksaan, kepolisian, dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Secara resmi Timtas Tipikor dibubarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2007.
Pekerjaan yang belum selesai akan dilanjutkan kejaksaan dan kepolisian. luru bicara kepresidenan Andi
Mallarangeng mengatakan Presiden memutuskan tidak memperpanjang atau membentuk lembaga baru sejenis
Timtas Tipikor.
Silih bergantinya lembaga-lembaga di bidang pemberantasan korupsi menjadi inspirasi untuk membuat
karikatur seperti pada Figur 5.1.

Figur 5.1
,17MPfM8ERANTA#d
KONJPSi 1967

KOMIS! (MPAT

1970

..KOHiTEAHTi
TMPEN8CRANTAS
KORUPSi &70
KORUPSI 19SZ
,KOM)TPMB^TSN<
KOmsi
PEMERIKSA
TiWKOORDjNASiPFMtEMH- TMOUC PiOANA KOMrSi KOROP'S! 2002KCKAYAAN P&Jfi&AT
fWDAK Pi6ANA
HB6ARA <92?
KO&UfS

1999

Tugas
dan
Wewena
ng KPK
K
P
K
d
i
b
e
n
t
u
k
d
e
n
g
a
n
t
u
j
u
a
n
m
e
n
i

heu

TflSMTim
K
PVAMKO
HUKl
ZOOS',

n
g
k
at
k
a
n
d
a
y
a
g
u
n
a
d
a
n
h
a
si
l
g
u
n
a
te
r
h
a
d
a
p
u
p
a
y
a
p
e

m
b
e
r
a
n
ta
s
a
n
ti
n
d
a
k
p
i
d
a
n
a
k
o
r
u
p
si
.
K
P
K
a
d
al
a
h
le
m
b
a

g
a
n
e
g
a
r
a
y
a
n
g
d
al
a
m
m
el
a
k
s
a
n
a
k
a
n
t
u
g
a
s
d
a
n
w
e
w
e

n
a
n
g
n
y
a
b
e
rs
if
at
i
n
d
e
p
e
n
d
e
n
d
a
n
b
e
b
a
s
d
a
ri
p
e
n
g
a
r
u

h
k
e
k
u
a
s
a
a
n
m
a
n
a
p
u
n
.
D
al
a
m
m
e
n
ja
la
n
k
a
n
t
u
g
a
s
d
a

n
w
e
w
e
n
a
n
g
n
y
a,
K
P
K
m
e
n
g
a
n
u
t
a
s
a
s:
k
e
p
a
st
ia
n
h
u
k
u
m

,
k
et
e
r
b
u
k
a
a
n
,
a
k
u
n
ta
b
il
it
a
s,
k
e
p
e
n
ti
n
g
a
n
u
m
u
m
,
d
a

n
p
r
o
f
e
si
o
n
al
it
a
s.
K
P
K
b
e
rt
a
n
g
g
u
n
g
ja
w
a
b
k
e
p
a
d
a
p
u
b

li
k
d
a
n
m
e
n
y
a
m
p
ai
k
a
n
la
p
o
r
a
n
n
y
a
k
e
p
a
d
a
P
r
e
si
d
e
n
,

D
e
w
a
n
P
e
r
w
a
k
il
a
n
R
a
k
y
at
(
D
P
R
),
d
a
n
B
a
d
a
n
P
e
m
e
ri
k
s

a
K
e
u
a
n
g
a
n
(
B
P
K
).
T
u
g
a
st
u
g
a
s
K
P
K
m
el
i
p
u
ti
k
e
g
ia
ta
n
:
1.
koordi
nasi
denga
n
instan
si

yang
berwe
nang
melak
ukan
pembe
rantas
an
tindak

pidana
korups
i;
2.
superv
isi
terhad
ap
instan
si
yang
berwe
nang
melak
ukan
pembe
rantas
an
tindak

pidana
korups
i;
3.
p
e
n
y
el
i

d
i
k
a
n
,
p
e
n
y
i
d
i
k
a
n
,
d
a
n
p
e
n
u
n
t
u
ta
n
te
r
h
a
d
a
p
ti
n

d
a
k
p
i
d
a
n
a
k
o
r
u
p
si
;
4.
p
e
n
c
e
g
a
h
a
n
ti
n
d
a
k
p
i
d
a
n
a

k
o
r
u
p
si
;
5.
p
e
m
a
n
ta
u
a
n
(
m
o
n
it
o
r
i
n
g
)
p
e
n
y
el
e
n
g
g
a

r
a
a
n
p
e
m
e
ri
n
ta
h
a
n
n
e
g
a
r
a.
S
tr
u
k
t
u
r
o
r
g
a
n
is
a
si
K
P
K
d
a
p
at
d
il
i
h
at

d
al
a
m
B
a
g
a
n
5
.
5
.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

in
ir
i
c
CO
o
>
(0
Q
Q

14 7

*
*
*
fl
J2

|
a

$
u
m
ber
.
Ko
mi
si
Rp
m
be
ra
nt
aia
n
Ko
ru
psi
.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

14 7

Tugas Koordinasi
Dalam melaksanakan tugas koordinasi, KPK berwenang:
1 mengoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap
tindak pidana korupsi;
2. meletakkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana
korupsi3. meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi
terkait;
4. melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi;
5. meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

14 7

Umumnya koordinasi oleh KPK dilakukan dengan kepolisian dan kejaksaan.


Namun, Laporan Tahunan KPK juga menyebutkan instansi lain yang berwenang
dalam pemberantasan korupsi seperti BPK, BPKP, Inspektorat Jenderal di
departemen dan nondepartemen.
Bentuk koordinasi ini antara lain adalah diterimanya Surat Perintah
Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari kepolisian dan kejaksaan. Tabel 5.1
menunjukkan SPDP yang diterima KPK dari tahun 2004-2006 (Laporan Tahunan
2007 dan 2008 tidak mencantumkan data SPDP).

Tabel 5.1
Surat Perintah Dimulainya Penyidikan

Tahun
2004
2005
2006

Kepolisian
116
118
314

Kejaksaan
354
477
460

Jumlah
470
595
774

Tugas Supervisi
Dalam melaksanakan tugas supervisi, KPK berwenang:
1.

melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi yang menjalankan


tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi, dan
instansi yang dalam melaksanakan pelayanan publik,

2. mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang
sedang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan.
Dalam hal KPK mengambil alih penyidikan atau penuntutan, kepolisian atau
wajib menyerahkan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan
dokumen yang diperlukan dalam waktu paling lama 14 hari kerja sejak tanggal
diterimanya permin
KPK.
Penyerahan dilakukan dengan berita acara penyerahan, dan sejak saat itu tugas dan
kewenangan kepolisian atau kejaksaan beralih ke KPK.
Pengambilalihan penyidikan dan penuntutan oleh KPK dilakukan dengan alasan:
1. laporan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi tidak ditindaklanjuti;
2. penanganan tindak pidana korupsi berlarut-larut atau tertunda-tunda tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan;
3. penanganan tindak pidana korupsi ditujukan untuk melindungi pelaku tindak pidana korupsi
yang sesungguhnya;
4. penanganan tindak pidana korupsi mengandung unsur korupsi;

Bab 5Tatanan Kelembagaan

14 7

5. ada hambatan penanganan tindak pidana korupsi karena intervensi dari eksekutif, legislatif, atau
yudikatif;
6. keadaan lain yang menurut pertimbangan kepolisian atau kejaksaan, membuat penanganan tindak
pidana korupsi sulit dilaksanakan dengan baik dan dapat dipertanggungj awabkan.

Tugas Penyelidikan, Penyidikan, dan Penuntutan


KPK melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan yang:
1. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya
dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum atau penyelenggara negara;
2. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
3. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rpl miliar.
KPK berwenang untuk:

3.
4.
5.
6.
7.

1. melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan;


2. memerintahkan seseorang pergi ke luar negeri;
meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan
tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa;
memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang
diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain yang terkait;
memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk memberhentikan sementara tersangka
dari jabatannya;
meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi yang terkait;
menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya
atau pencabutan sementara perizinan, lisensi, serta konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka
atau terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan tindak pidana
korupsi yang sedang diperiksa;

8. meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara law, untuk melakukan
pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di lUar negeri;
9.

meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakuka n penangkapan,
penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang
ditangani.
Dari struktur organisasi di Bagan 5.5 terlihat kegiatan KPK dalam bidang penyelidikan,

penyidikan, dan penuntutan dilaksanakan oleh jajaran Deputi Bidang Penindakan yang membawahi
Direktorat Penyelidikan, Direktorat Penyidikan, dan Direktorat Penuntutan.
Kegiatan penindakan bersifat represif, menimbulkan efek jera, dan meredam niat untuk
melakukan tindak pidana korupsi. KPK tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian
penyidikan dan penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi.

14 7

Bab 5Tatanan Kelembagaan

Tabel 5.2 menyajikan statistik kegiatan penindakan KPK dari tahun 2004-2007, dalam jumlah
kasus atau perkara.

Tabel 5.2
Jumlak Kasus atau Perkara

Kegiatan/Pencapaian
Penyelidikan
Penyidikan
Penuntutan

2008
70
53
43

2007
68
29
24

Putusan dengan kekuatan hukum tetap


Eksekusi

7
21

21
23

2006
36
28
10
14

2005
31
19
19
5
5

2004
20
1
2
0

Catatan:
1. Tabel ini disusun dari Laporan Tahunan KPK. Penyajian data tidak selalu sama dari tahun ke
tahun.
2. Dalam Laporan 2007, ada keterangan bahwa 5 dari 68 kasus yang diselidiki, dilimpahkan ke
kepolisian dan kejaksaan.
3. Dalam Laporan 2008 disebutkan 7 dari 53 perkara yang disidik berasal dari tahun 2007. Dalam
Laporan 2007, ada keterangan bahwa dari 29 kasus yang disidik, 21 berasal dari tahun tersebut
dan 8 kasus dari tahun sebelumnya. Dalam Laporan 2005, ada keterangan bahwa seluruh 19 kasus
yang disidik berasal dari tahun tersebut.
4. Laporan 2008 menyebutkan penuntutan terdiri atas 6 perkara sisa tahun 2007 dan 37 pw
tahun 2008.
5. Laporan 2007 memerinci perkara yang mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu | P* tanpa
upaya hukum dan 13 dengan upaya hukum (banding atau kasasi).
6. Tidak ada statistik mengenai eksekusi untuk tahun 2006, sedangkan untuk tahun 2004
pertama), kemungkinan belum ada eksekusi.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

14 7

Kegiatan penindakan yang sangat menarik perhatian umum dalam tahun 2008 dan 2009
adalah penangkapan dan penyadapan percakapan telepon. Kotak 5.3 menjelaskan mengenai
tertangkap tangan menurut KUHAP dan dalam tindak pidana korupsi.

Kotak 5.3
Tertangkap Tangan
Tertangkap tangan adalah tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana
korupsi, atau dengan segera, sesudah, beberapa saat tindak pidana korupsi itu dilakukan atau
apabila sesaat kemudian ditemukan oleh khalayak ramai sebagai orang yang melakukannya, atau
apabila sesaat kemudian padanya diketemukan benda yang diduga keras sebagai hasil kejahatan
atau digun akan untuk melakukan tindak pidana itu yang menunjukkan bahwa ia adalah pelakunya
atau turut melakukan atau membantu melakukan tindak pidana itu (KUHAP atau Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana pada Pasal 1 butir ke-19).
Berdasarkan informasi atau pengaduan yang akurat atas dugaan terjadinya suatu tindak
pidana korupsi, KPK segera menindaklanjutinya dengan melakukan tindakan yang diperlukan.
Dalam hal seseorang tertangkap tangan melakukan tindak pidana korupsi, penyidik/penyelidik
dapat melakukan penangkapan tanpa Surat Perintah Penangkapan.
Tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pelaku yang tertangkap tangan akan dilanjutkan
dengan penyidikan atas perkara tersebut, apabila tindak pidana korupsi yang dilakukan memenuhi
kriteria perkara yang dapat ditangani oleh KPK. Dalam hal tindak pidana korupsi ternyata tidak
memenuhi kriteria perkara yang dapat ditangani oleh KPK, maka perkara tersebut diserahkan
kepada instansi Kepolisian/Kejaksaan dan perkembangan penanganannya disupervisi oleh KPK.
Sumber: Laporan KPK tahun 2007.
i 1 ^ EH I I--------------------------------------------------------------I
Khusus dalam hal ditemukannya unsur tindak pidana korupsi, terdapat penyelidik, penyidik,
dan penuntut dengan wewenang yang berbeda-beda (lihat Bagan 5.6).12

Bagan 5.6

KPK
UU 30/2002

Penyelidikan /

Penyidikan /

Penuntutan >

Peradilan
Peradila
n

UU 16/2004
KEJAKSAA
N

Penyelidikan

POLISI

UU 2/2002

Penyelidikan

Menurut Laporan Tahunan KPK tahun 2008, jumlah kerugian keuangan negara ya^ berhasil
diselamatkan dan telah disetorkan ke Kas Negara/Daerah dalam periode 1 Januari sampai dengan 15
Desember 2008, dari penanganan perkara tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut.

Sumber Pendapatan
Uang pengganti Tindak Pidana Korupsi yang ditetapkan pengadilan

dalam riba rupiah


390.917.318

Uang rampasan/sitaan hasil korupsi yang ditetapkan pengadilan


Hasil denda
Jasa giro
Ongkos perkara
Jumlah

12.319.293
2.600.000
515.160
260
406.352.031

Tugas Pencegahan
Dalam melaksanakan tugas pencegahan, KPK berwenang:
1. melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara negara;
2. menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi;
3. menyelenggarakan program pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan;
4. merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi pemberantasan tindak pidana korupsi;
5. melakukan kampanye antikorupsi kepada masyarakat umum;
6. melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.

Tugas Pemantauan (Monitoring)


Dalam melaksanakan tugas monitor, KPK berwenang:
1. melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi di semua lembaga negara dan pemerintah;
2. memberi saran kepada pimpinan lembaga negara dan pemerintah untuk melakukan perubahan jika berdasarkan
hasil pengkajian sistem pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi;
3. melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat dan Badan Pemeriksa Keuangan, jika
saran KPK mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan.
memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan
mengenai terjadinya tindak pidana korupsi; memberikan informasi kepada masyarakat yang memerlukan atau
memberikan bantuan untuk memperoleh data lain yang berkaitan dengan hasil penuntutan tindak pidana korupsi yang
ditanganinya;
menyusun laporan tahunan dan menyampaikannya kepada Presiden
I gewajiban dan Larangan
Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan
KPK berkewajiban untuk: 1.
Badan Pemeriksa Keuangan;
menegakkan sumpah jabatan;
menjalankan tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya berdasarkan
2.
asas-asas tersebut di atas.
3.

4.
5.

Pimpinan, tim penasihat, dan pegawai KPK


dilarang:

1. mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan
perkara tindak pidana korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alasan apa pun;
2. menangani perkara tindak pidana korupsi yang pelakunya mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda
dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dengan anggota Komisi Pemberantasan Korupsi yang
bersangkutan;
3. menjabat komisaris atau direksi suatu peseroan, organ yayasan, pengawas atau pengurus koperasi, dan jabatan
profesi lainnya atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan jabatan tersebut.
Setiap anggota KPK dan pegawai KPK yang melanggar larangan tersebut di atas, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Setiap anggota KPK dan pegawai KPK yang melakukan tindak pidana korupsi, pidananya
diperberat dengan menambah satu pertiga (1/3) dari ancaman pidana pokok.

I INTERAKSIANTARLEMBAGA DALAM MEMBERANTAS KORUPSI


Tergantung kapan kita melakukan pemotretan, terlihat mode interaksi antar lembaga yang terlibat
dalam pemberantasan korupsi, termasuk KPK, mengalami pasang surutnya.
Dalam masa pemilihan presiden (Pilpres) 2009 dan sesudahnya, ada banyak tulisan menanggapi
masa depan Komisi Pemberantasan Korupsi. Salah satu di antaranya menyatakan (Kotak 5.4).

Kotak 5.4
Lanjutkan (Membunuh) KPK
KPK tengah berjuang menghadapi sakratulmaut. Bukan tidak mungkin, malaikat maut sege rai mencabut nyawa KPK,
lembaga yang ditakuti dan dibenci para koruptor.
KPK berhasil menyentuh hampir semua episentrum korupsi yang selama ini sulit dijangkau lembaga penegak
hukum konvensional. Diakui atau tidak, sepanjang sejarah penegakan hukumdi negeri ini, belum pernah ada capaian
pemberantasan korupsi sebagaimana terjadi selama terbentuknya! KPK.
.
Dengan sepak terjang KPK, banyak kalangan merasa gerah. Terlebih saat KPK masukke wilayah- wilayah yang
selama ini mempunyai posisi politik amat kuat, termasuk penangkapan sejumlah anggota DPR yang terlibat kasus
korupsi.
Sebenarnya kegerahan atas langkah KPK bukan hanya muncul belakangan. Resistensi sudah muncul sejak KPK
menjamah kasus-kasus besar (skandal) korupsi. Resistensi lebih banyak datang dari mereka yang tersangkut kasus
korupsi, corruptors fight back.
Ketika kegerahan masuk wilayah para pengambil keputusan, eksistensi KPK benar-benar terancam. Misalnya,
bagaimana proses seleksi calon pimpinan KPK generasi kedua menyingkirkan sebagian figur yang dikenal memiliki
keberanian, integritas, dan kompetensi dalam proses fit and proper test di DPR. Atau dengan cara lain, melalui proses
legislasi, hingga kini RUU Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) masih jauh dari selesai.
Upaya Membunuh KPK
Terkuaknya dugaan keterlibatan Antasari Azhar dalam pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin
Zulkarnaen memberi dampak luar biasa atas eksistensi KPK. Melihat gejala yang ada, skandal kematian Nasrudin
potensial menjadi titik balik sekaligus menjadi seranganbalik terhadap KPK. Sejak skandal itu, upaya membunuh KPK
sepertinya berjalan secara sistematis.
...., betapa bernafsunya sebagian anggota DPR untuk menghentikan semua upaya penegakan hukum yang akan
dilakukan KPK. Argumentasi yang digunakan cukup sederhana, dengan nonaktifnya Antasari Azhar, pimpinan KPK
tidak lagi memenuhi syarat kolektif sebagaimana diisyaratkan Pasal 21UU KPK. Bagi mereka, kolektif harus berjumlah
lima orang. Jika pimpinan kurang dari lima, KPK tidak dapat lagi menjalankan kewenangan untuk melakukan
penyidikan atau penuntutan.
, argumentasi itu dibantah sebagian anggota DPR yang lain. Oleh karena itu, ibarat menepuk
air di dulang, argumentasi kolektivitas yang digunakan sebagian anggota DPR itu akhimya memercik ke muka sendiri.
Argumentasi kolektif itu lebih banyak datang dari anggota DPR yang selama in> bersuara miring terhadap eksistensi
KPK.
Sumber: sebagian dari tulisan Saldi Isra, Lanjutkan (Membunuh) KPK, dalam harian Komp^ Selasa, 14 Juli 2009.
.

Kekhawatiran mengenai tidak rampungnya Undang-Undang Tipikor juga menja perhatian Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. SBY yang memimpin rapat ^||^|| pemberantasan korupsi pada hari Senin, 13 Juli 2009 menegaskan: Apabila
DPRPe 2004-2009 gagal menyelesaikan Rancangan Undang-Undang tentang Pengadilan |||| Pidana Korupsi, Presiden
akan mengeluarkan peraturan presiden pengganti undang- ^ (Perppu) Rapat koordinasi dihadiri pejabat Mahkamah
Agung, Mahkamah Konstitusi,

Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), kepolisian, Kejaksaan
Agung, dan KPK.
Rapat koordinasi di atas menjadi perhatian pers karena pemberitaan mengenai rivalitas antarlembaga
yang sama-sama berurusan dengan pemberantasan korupsi. Salah satu berita besar dalam masa Pilpres 2009
dibahas di bawah.

gpK DIAUDIT BPKP?


Judul di atas, KPK diaudit BPKP? menandakan ada pemberitaan bahwa KPK akan diaudit BPKP. Ini
menimbulkan tanda tanya, Mengapa? Apa dasar hukumnya? Apa tujuannya? Perkembangan terakhir dari
berita ini adalah KPK tidak akan diaudit BPKP. Kalau sekadar kesimpangsiuran, itu biasa. Namun, adanya
rangkaian pemberitaan yang bertubi-tubi, membuat kasus ini menarik. Atau, pemberitaan yang bertubi-tubi
sekadar cerminan bulan kampanye pemilihan Presiden?
Pembahasan di bawah diambil dari kliping media massa. Insiden ini menunjukkan banyak hal, seperti
ketidakpahaman tentang KPK dan siapa yang berhak mengaudit KPK, dalam hal apa. Insiden ini juga
menunjukkan proses pengambilan keputusan (decision making process) di bidang eksekutif (pemerintah) dan
kelemahannya: siapa yang memerintahkan BPKP mengaudit KPK, apa bentuk perintahnya (lisan, tertulis),
apa tujuannya, dan seterusnya? Apakah insiden ini wujud persaingan antarinstansi? Atau upaya melumpuhkan
KPK? Insiden ini sudah terjadi, dan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Secara kronologis pemberitaan mengenai KPK diaudit BPKP adalah sebagai berikut. Diawali dengan
berita mengenai audit penyadapan KPK. Instansi yang disebut-sebut akan melakukan audit ini adalah
BPKP, BPPT, dan Kominfo. Lihat Kotak 5.5 di bawah.

Kotak 5.5
_____

^^

n-ij.. )

BPKP, BPPT dan Kominfo Siap Audit Penyadapan KPK


|KPK melakukan penyadapan terhadap sejumlah nomor atas teror yang diterima
Antasari Azhar. Beberapa lembaga negara siap mengaudit teknologi
penyadapan yang dimiliki KPK.
Kami akan kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kominfo untuk
bersama melakukan audit teknologi maupun teknik dan juga audit finansial, kata Kepala BPKP Didi
Widayadi di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jaksel, Kamis (25/6/2009).
Audit ini, diakui Didi, merupakan kelanjutan dari munculnya isu penyadapan yang suratnya
ditandataneani oleh Chandra Hamzah. Wakil ketua KPK tersebut telah dimintai keterangan oleh Polda Metro
Jaya. Didi memandang penting kehadiran KPK untuk memberantas korupsi di Indonesia.
.y

I'J Jg If .

Namun KPK bisa saja dibubarkan jika lembaga penegak hukum lainnya, polisi dan kinerjanya
membaik.
KPK itu sendiri kemudian institusi yang kita butuhkan, meski kapan kebutuhan itu atau pendek
tergantung kinerja penegakan hukum yang ada, kejaksaan dan kepolisian, tuturnya. f
Sumber: detikNews, Kamis, 25 Juni 2009.
Sore harinya Kompas.com memberitakan bagaimana perintah Presiden SBY diberikj (melalui isyarat).
Lihat Kotak 5.6 di bawah.

Kotak 5.6
BPKP Audit KPK Hanya Berdasar Isyarat* Presiden Kamis, 25 Juni 2009 | 15:53 WIB
JAKARTA, KOMPAS.comBadan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) akan melakukan audit
terhadap akuntabilitas keuangan dan kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam
waktu dekat. Namun, perintah audit ini hanya berdasar isyarat tidak langsung Presiden SBY melalui pemberitaan
media massa bahwa perlu ada early warning (peringatan awal) bagi KPK.
Jadi perintah itu kan ada yang langsung dan tidak langsung, maka sesuai warning di media yang kemarin
Bapak Presiden katakan terkait isu-isu kontroversial di KPK, terutama isu penyadapan maka BPKP selaku audit
melakukan ini, ujar Kepala BPKP Didi Widayadi saat mendatangi pimpinan KPK, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis
(25/6).
Menurut Didi, setelah melihat pemberitaan di media massa bahwa BPKP melakukan audit sehubungan dengan
isu maupun permasalahan kontroversial yang ada di KPK, BPKP akan lakukan audit terhadap kinerja dan
pertanggungjawaban keuangan KPK, termasuk hibah dan juga masalah kelembagaan. Persoalan ini dikembalikan ke
ranah profesional agar tidak menjadi isu-isu opini politik, ujarnya.
Terlebih lagi terkait isu kontroversial penyadapan, kami akan kerja sama dengan BPPT dan Depkominfo untuk
bersama melakukan audit teknologi maupun teknik, tegasnya.
Terkait perintah dari Presiden secara tak langsung, Didi mengatakan, perintah itu adalah amanah dari PP Nomor
60/2008 mengenai Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan amanat undang-undang.
Ditegaskan Didi, BPKP hanya menyerahkan hasil audit ini kepada Presiden. Namun, hasil audit tidak akan
diekspose ke media massa dan Presiden yang menentukan keputusannya. Secara kumulatif, Presiden akan terima
hasilnya dan akan menentukan, tegasnya.
Sumber: http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/25/15532179/BPKP.Audit.KPK.Hanya. Berdasar. Isyarat.
Presiden.______________________________________________ - - - y -

Sehari sesudah pernyataan Kepala BPKP, Presiden meminta Mensesneg mengecek kebenaran berita tersebut. Lihat
Kotak 5.7 di bawah.

Kotak 5.7
SBY Minta Audit KPK Tak Dipolitisir Jumat, 26/06/2009 | 16:24 WIB

JakartaPresiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Mensesneg Hatta Rajasa *8 melakukan
pengecekan terhadap berita Kepala BPKP Didi Widayadi yang mengaku diperint Presiden untuk melakukan
audit terhadap KPK.

Saya minta Mensesneg mengecek langkah ini supaya tertib sistem, aturan dan mekanisme, kata SBY saat
memberikan keterangan pers di Gelora Bung Kamo (GBK), Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2009).
SBY kembali menegaskan, tidak pernah memerintahkan Didi agar mengaudit KPK. SBY pun minta agar kasus
BPKP mengaudit KPK tidak dipolitisir. Jangan sampai dijadikan isu politik seolah benar adanya. Tidak ada dan tidak
benar, kata SBY.
Kepala BPKP Didi Widayadi, Kamis (25/6/2009) mengatakan mendapat tugas dari Presiden untuk mengaudit KPK.
Namun perintah. itu tidak diberikan secara tertulis.
Didi pun berkeras tindakan BPKP mengaudit KPK tidak menyalahi wewenang. Audit itu sesuai dengan PP 60/2008
Pasal 49 ayat 2c.
(iy/nrl)
Sumber: Luhur HertantodetikNews.

Dua hari kemudian, BPKP memberikan klarifikasi, sebagai tanggapan atas pernyataan yang dibuat dua hari
sebelumnya. Lihat Kotak 5.8.

Kotak 5.8
BPKP: Kami Tidak Audit Kinerja Lembaga Negara Sabtu, 27 Juni 2009 | 18:44 WIB
Jakarta (ANTARA News)Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Didi Widayadi, menegaskan
bahwa BPKP tidak mengaudit kinerja lembaga negara (komisioner).
Perlu kami tegaskan bahwa BPKP tidak mengaudit kinerja lembaga negara, kata Didi Widayadi dalam keterangan
persnya di Jakarta, Sabtu.
la mengatakan, BPKP tidak berada dalam kapasitas untuk menilai legalitas, kredibilitas, dan integritas institusi
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang direpresentasikan oleh Ketua/Wakil Ketua.
Fokus BPKP katanya, adalah dalam hal akuntabilitas keuangan negara yang tertib dan transparan, good
governance, peningkatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP).
Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas berita yang beredar mengenai rencana audit BPKP terhadap KPK.
BPKP sangat berkomitmen untuk mendukung kinerja KPK dalam upaya pemberantasan korupsi, katanya.
Pihaknya bahkan telah menandatangani MoU bersama KPK tentang komitmen BPKP yang akan selalumembantu
KPK dalam tugas penyelidikan dan penyidikan TPK oleh KPK. Sebaliknya KPK akan mendukung BPKP dalam upaya
kegiatan pengawasan yang bersifat preventif atau pencegahan.
Sejak KPK berdiri kami telah mempekerjakan 54 auditor yang dipilih melalui 1fit and proper test' untuk membantu
tugas KPK menangani kasus TPK. Jadi tidak benar BPKP akan menggembosi KPK katanya. j
|
Pendekatan audit operasional bertujuan untuk memberikan rekomendasi perbaikan dan kinerja kepada Sekjen KPK
selaku pengguna anggaran dan sebagai ujung tombak akuntabiiftss presiden dalam pengelolaan keuangan negara, katanya.
Sumber: diringkaskan dari berita Antara News.

Apa cerita di balik audit KPK oleh BPKP"? Antara New* menurunkan tulisan FX Dwi Mardjianto; tulisan ini
memerinci cerita di balik berita. Lihat Kotak 5.9.

Kotak 5.9
Cerita di Balik Audit KPK oleh BPKP Minggu, 28 hini 2009103:43 WIB
Jakarta (ANTARA News)Tan pa diduga, Badan Pengawasan Keuangan dan Ptembaagtuaan^ akan
melakukan
audit terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sdama uu. KPK pernah diaudit oleh BPKP.
Situasi ini
berubah menjadi polemik setelah isu politik ikut ounpat Ketua BPKP Didi Widayadi mengatakan,
BPKP akan
mengaudit penggunaun keuangan yang digunakan untuk membiayai segala kegiatan KPK.
BPKP meminta bantuan tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) w
Departemen
Komunikasi dan Inibrmatika untuk mengaudit teknologi dan per.ilatan tekmk KPK. termasuk alat
sadap.
Didi Widayadi mengakui audit terhadap KPK terkait langsung dengan pernyataan Prt'Miro Susilo Bambang
Yudhoyono tentang keberadaan KPK sebagai superboJv atau lembaga Jtang kuat.
lya, ada perintah langsung (presiden), tapi perintah langsung pimpinan tidak turu* tertulis, tapi kita bisa
isyaratkan early warning? kata Didi.
Inisiatif BPKP itu hanya berselang sehari dengan pernyataan Prtsiden Susiio Bam Yudhoyono tentang KPK.
Presiden mengatakan, kekuasaan yang terlalu kuat sangat mcmbahayakan. Yudhoyono men KPK sudah menjadi
power holder yang kiar biasa, kekuasannya sudah terlalu benar
Terkait KPK, saya wantl-wanti benar. Power must not go uncheck, KPK ini iuUah power yang luar biasa.
Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati hati," kata Yudhovurw kettk* mengunjungi redaksi Kompas dan
kemudian diberitakan oleh harian tersebut
Yudhoyono menginginkan semua pihak yang terlibat dalam upaya pemberantasan lb>rupt Ifl benar-benar bersih.
Kalau ada ke&alahan di KPK, apalagi terkait korupsi, yang malu buk,> s baity* tetapi juga
seluruh
rakyat Indonesia, Bagi saya tak ada yang kebal hukum di negrrt u*C menambahkan.
Sistematic
Kamis, 25 luni 2009, pagi han, gedung KPK tampak sepcrti biasa. Scntmiah Imiy*** I**** pembauni tindak pidana
korupsi itu bekerja seperti bu*a
Satu-satunya hal yang tidak btasa adalah keberadaaa te?umUh orang denffli piuttl#: Mereka bukan
pegawai
KPK. Beberapa dafi imre!^
Minbil raembawa alat komunikaai radia
Salah satu dari pria berdasi menghamptri krrumutun wartawan ymng *tdan$ duA* halaman
gedung KPK
Tanpa inemperkmalkandtri.pttailuhrfkaia. kemudian, dia menyebutkan seiumlah nama media maua,
lakvu>4 gutu
yang %vUng daftar hadir murid
Rata penataran akhttnya mendoeong para wvrtiwm untuk memnyakaa mak*ud daa ii pria. Sarabtl jongkok pertahan,
pita itu berbutk dengan nada itith, IMCP mengaudit KPK," katanya.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

Selama ini kan KPK ga pernah diaudit, kata pria itu, masih dengan nada lirih, seakan tidak ingin ucapan tersebut
terdengar orang lain di sekitarnya.
Pria tersebut tidak berbohong. Sesaat setelah sejumlah orang dengan alat komunikasi berlarian kesana-kemari, mobil
sedan hitam melesat dan berhenti tepat di depan gedung KPK. Kepala BPKP, Didi Widayadi keluar dari mobil tersebut.
Setelah disambut oleh Deputi Penindakan KPK, Ade Rahardja, Didi langsung memasuki gedung KPK. Semua
tampak sistematis dan teratur dengan baik, sehingga Didi bisa melangkah nyaman dengan perlindungan sejumlah staf dan
pengawal. Akibatnya, wartawan tidak berhasil mewawancarai purnawirawan perwira polisi tersebut.
Sepak terjang orang di sekitar Didi terus berlanjut hingga konferensi pers. Selama konferensi pers, sejumlah orang
berpakaian rapi dengan tanda BPKP tersemat di dada menyebar di ruang konferensi pers ketika Didi menjelaskan maksud
kedatangannya di KPK.
Beberapa dari mereka berlagak seperti humas yang sibuk merekam semua perkataan Didi. Sedangkan beberapa yang
lain mendekati wartawan dan menitipkan pertanyaan.
Mereka dengan terang-terangan meminta wartawan menanyakan beberapa pertanyaan, Apa kelemahan KPK?,
atau Apakah BPK juga akan diaudit?.
ANTARA News kemudian menanyakan kenapa ada titipan pertanyaan. Salah satu orang dari mereka yang tidak
menyebutkan nama langsung terdiam setelah ANTARA News bertanya, Ada agenda khusus ya? Setelah itu, konferensi
pers berjalan normal, tanpa intervensi dan titipan pertanyaan.
Tak terduga
Didi Widayadi menyampaikan rencana audit terhadap KPK dalam konferensi pers. Sebelum memberikan pernyataan
kepada wartawan, Didi sempat bertemu dengan pimpinan KPK. Pertemuan berlangsug relatif singkat, tidak sampai dua
jam.
Berdasar informasi, Didi hanya membicarakan masalah keberadaan petugas BPKP yang ditugaskan di KPK, tanpa
menyinggung soal audit. Namun, di hadapan wartawan, kalimat yang pertama kali diucapkan oleh Didi adalah rencana
audit terhadap KPK.
Hal itu dibenarkan oleh Penasihat KPK, Abdullah Hehamahua. Abdullah menyatakan, KPK dan BPKP awalnya
membicarakan tentang mekanisme penempatan petugas BPKP di KPK.
Abdullah menjelaskan, KPK masih membutuhkan keberadaan petugas BPKP untuk membantu KPK dalam
menghitung kerugian keuangan negara dalam perkara tindak pidana korupsi.
Tidak terduga, hal yang terungkap di hadapan wartawan adalah rencana BPKP untuk mengaudit KPK. Saya jadi
kaget, kata Abdullah dalam diskusi tentang KPK (27/6).
Selama konferensi pers, Didi lebih banyak mengelaborasi rencana audit. Dia juga membeberkan pentingnya KPK
diaudit dan wewenang BPKP untuk melakukan audit terhadap lembaga pembasmi korupsi itu.
Berdasar transkrip rekaman konferensi pers berdurasi 42 menit, Didi hanya mengulas masalah pegawai BPKP pada
akhir konferensi pers. Bagian akhir transkrip itu mengulas rencana perubahan mekanisme penempatan pegawai BPKP di
KPK.
BPKP akan menarik sejumlah petugas BPKP dari KPK. BPKP akan menugaskan petugasnya di KPK atas permintaan
KPK untuk satu tugas spesifik dan tidak dalam kurun waktu yang lama.
Kita tarik dulu. Tapi ini bukan upaya menggembosi KPK, kata Didi Widayadi.
Hal ini berbeda dengan konsep awal penempatan petugas BPKP di KPK. Awalnya, petugas BPKP ditugaskan di KPK
selama empat tahun dan bisa diperpanjang untuk empat tahun berikutnya,
Didi mengatakan, ada indikasi petugas BPKP yang ditugaskan di KPK tidak mau kembaH di BPKP. Terus terang,
gaji bekerja di BPKP lebih sedikit dari KPK, kata Didi.
Dia menegaskan, BPKP akan memberhentikan petugas BPKP yang meminta berhenti karena I hanya ingin bekerja
di KPK. Dia meminta pimpinan KPK untuk tidak mempekerj akan petugas BPKpi yang telah diberhentikan dengan
tidak hormat.

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

Rencana BPKP untuk mengaudit KPK ditentang oleh sejumlah kalangan. Mereka menganggap ! BPKP hanya
berwenang mengawasi penggunaan keuangan negara oleh lembaga yang bertanggung! jawab kepada presiden. BPKP
tidak berwenang mengaudit KPK yang notabene adalah lembaga! independen yang tidak bertanggung jawab kepada
Presiden.
Bahkan, beberapa kalangan menganggap rencana BPKP itu merupakan komoditas politik untuk menggenjot
perolehan suara atau menumbangkan lawan politik dalam kancah pemilihan umum presiden dan wakil presiden.
Polemik tersebut menghiasi pemberitaan di sejumlah media massa.
Meski ditentang, Didi Widayadi bersikeras akan tetap mengaudit KPK. Dia menganggap, BPKP adalah lembaga
yang berwenang mengaudit berbagai jenis mekanisme penggunaan keuangan negara.
Ini bukan audit secara lembaga, tetapi audit keuangan negara, katanya.
Sumber: Antara News.

Tanpa menyebut rencana audit KPK oleh BPKP, Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Indonesia Budget Centre
(IBC) membuat pernyataan keras: Bubarkan BPKP. Lihat Kotak 5.10.

Kotak 5.10
Kilas Politik dan Hukum Senin, 29 Juni 2009 | 03:26 WIB
Bubarkan BPKP
Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Indonesia Budget Centre (IBC) mendesak pemerintah agar membubarkan Badan
Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) karena menilai keefektifannya sebagai lembaga pengawas internal
rendah. Kedua lembaga itu, dalam pernyataan persnya, Minggu (28/6), menyarankan sebaiknya pemerintah
mengoptimalkan keberadaan auditor BPKP dengan meleburkan mereka ke dalam Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan
ke dalam pengawas intern* lainnya, seperti inspektorat jenderal dan Badan Pengawas Daerah. Langkah tersebut mereka
nilai penting untuk meningkatkan keefektifan pengawasan keuangan negara. (*/JOS)
Sumber: Kompas.

Apa kata KPK? KPK: Boleh Audit, Asal Ada Dasar Hukumnya Bandingkan dua pernyataan dan penjelasan BPKP
(Kotak 5.6 dan Kotak 5.10 di atas), dengan pernyataan dan penjelasan KPK di Kotak 5.11.

Kotak 5.11

KPK: Boleh Audit, Asal Ada Dasar Hukumnya Senin, 29 Juni 2009 j 15:16 WIB
Jakarta (ANTARA News)Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Johan Budi menyatakan KPK siap
diperiksa oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sepanjang ada dasar hukumnya.
Selama ada aturan dan undang-undang yang menaungi, maka KPK akan terbuka, kata Johan Budi di Jakarta,
Senin.
Sebaliknya, kalau tidak ada aturan atau undang-undangnya, pemeriksaan oleh siapa pun pasti ditolak KPK. "Saya
kira sikap KPK jelas, katanya.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

Sebelum ini, setiap tahun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengaudit penggunaan uang negara oleh KPK yang
pada dua tahun terakhir hasil auditnya selalu baik dengan wajar tanpa pengecualian.
Johan Budi menegaskan, selama ini KPK tidak pernah menghadapi persoalan dalam sistem pengelolaan
keuangannya.
Tidak hanya soal keuangan, audit juga berlaku pada hal-hal teknis seperti soal penyadapan yang sebelum ini
dilakukan oleh tim yang diantaranya dari Depkominfo dan tim independen.
Johan mengakui memang sudah ada pertemuan antara pimpinan KPK dengan pimpinan BPKP, namun belum ada
pembicaraan detail apa pun mengenai pelaksanaan audit di komisi pemburu para pelaku korupsi ini.
Ketika ditanya bantahan Presiden yang mengaku tidak pernah memerintahkan BPKP memeriksa KPK, Johan Budi
mengatakan biarlah penilaian itu diserahkan kepada masyarakat.
Yang pasti KPK transparan, terbuka, dan akuntabel, kata tegas Johan Budi.
Sumber: Antara News.

Selasa, 30 Juni 2009, muncul tanggapan dari Ketua MPR, nadanya keras. Lihat Kotak 5.12.

Kotak 5.12
Ketua MPR Ingatkan BPKP agar Batalkan Audit KPK Selasa, 30 Juni 2009 | 13:04 WIB
Jakarta (ANTARA News)Ketua MPR Hidayat Nurwahid mengingatkan Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan
(BPKP) untuk tidak melanjutkan rencananya melakukan audit terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena hal
itu sudah bukan lagi porsinya.
Kepada persdi ruang kerjanya di Gedung DPR Jakarta, Selasa, Hidayat mengatakan bahwa setiap lembaga negara
seharusnya bekerja sesuai dengan porsinya masing-masing.

32

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

Sementara yang berhak melakukan audit terhadap KPK sebagai suatu lembaga negara menurut Ketua
MPR itu, adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan institusi tersebut juga telah melakukannya.
Karenanya sudah sewajarnya apabila BPKP menghentikan rencananya mengaudit KPK ujarnya.
Selain itu, masih banyak kerja BPKP yang juga belum diselesaikan secara maksimal dan banyak
temuan-temuan BPK yang bersinggungan dengan BPKP sehingga membutuhkan keseriusan dan fokus
untuk bekerja.
Lebih lanjut Hidayat mengatakan bahwa dasar bagi rencana BPKP untuk melakukan rencana audit
terhadap KPK juga sangat lemah karena presiden sendiri telah membantah memberi perintah pada BPKP
melakukan hal itu.
Dengan demikian, menurut Hidayat, masyarakat justru bertanya-tanya dan jika rencana BPKP itu
terus dilanjutkan bakal ada kontroversi baru.
Ketika KPK sedang dirundung banyak masalah, ketuanya ditahan, UU Pengadilan Tipikor tidak
kunjung selesai dan sekarang tiba-tiba ada rencana audit, maka masyarakat pasti bertanya ada apa ini,
katanya.
Menurut Hidayat, kelembagaan KPK harus tetap diberdayakan dan tidak boleh dibonsai demi
menanggulangi korupsi yang sudah parah di negara ini.
Sumber: Antara News.

Apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan petunjuk kepada Kepala BPKP untuk
mengaudit KPK? Kali ini Antara News meliput temu pers dari 11 tokoh pengamat bidang politik. Lihat
Kotak 5.13.

Kotak 5.13
SBY Harus Panggil Ketua BPKP Rabu, 1 Juli 2009 | 05:09 WIB

. ^

Jakarta (ANTARA News)Pengamat Hukum Nasional Saldi Isra meminta Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk segera memanggil Kepala BPKP Didi Widayadi untuk memberikan klarifikasi benar atau
tidaknya yang bersangkutan diperintah presiden untuk mengaudit KPK.
Pemanggilan itu diperlukan sekaligus untuk membuktikan apakah nama SBY hanya dicatut untuk
suatu konspirasi busuk penggembosan gerakan anti korupsi, kata Saldi, dalam temu pers di gedung KPK,
di Jakarta, Selasa.
Temu pers itu juga dihadiri 11 tokoh pengamat bidang kebijakan publik, hukum dan anggota DPD
yakni Effendy Gazzali, Emerson Junto, Fadjroel Rachman, Hamid Chalid, Irman Putra Sidin. Ismed Hasan
Putro, Marwan Batu Bara, Ray Rangkuti, Rocky Gerung, Sukardi Rinakit, dan Zainal J Arifin Muchtar.
Mereka sengaja mendatangi KPK di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, guna
memberikan dukungan moral atas 'penggembosan' yang telah terjadi terhadap KPK.
Menurut Saldi, jika benar SBY tidak pernah memerintahkan Didi untuk mengaudit KPK, maka
Presiden harus membuktikan dengan memberikan sanksi keras kepada Kepala BPKP dan Kapolri untuk
dipecat.
Sanksi keras itu diperlukan dan kejelasannya harus disampaikan kepada publik. Karena publik
mempunyai hak untuk mengetahuinya, katanya.

Bab 5Tatanan Kelembagaan


Ia menjelaskan, Kepala BPKP yang juga adalah seorang purnawirawan polisi berbintang tiga
dengan begitu percaya diri menyambangi KPK dan sesumbar ingin mengaudit KPK atas perintah
presiden.
Langkah yang terlampau berani bahkan melampaui kewenangan yang diberikan oleh undangundang ini dapat dijadikan dasar dugaan bahwa adanya konspirasi antara Kepala BPKP, Kapolri, dan
Presiden selaku atasan kedua lembaga tersebut dalam agenda penggembosan KPK.
Kita bersyukur, Presiden SBY membantah telah memerintahkan lembaga di bawahnya untuk
melakukan audit kepada KPK, katanya, tetapi memang itu harus segera dibuktikan dengan segera
memanggil Didi.
Tindakan itu penting agar rakyat percaya bahwa presiden benar-benar memiliki komitmen kuat
pada upaya pemberantasan korupsi.
Jika langkah ini tidak segera diambil oleh presiden, maka jangan salahkan jika rakyat berpikir
bahwa presiden yang berwenang penuh atas Polri dan BPKP, merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari konspirasi besar itu.
Karena itu presiden boleh mengambil langkah nyata untuk menunjukkan komitmennya
semula bahwa ia akan memimpin sendiri upaya pemberantasan korupsi, sebagaimana dinyatakan
pada awal masa pemerintahannya, katanya.
Sumber: Antara News.
Pada tanggal yang sama juru bicara kepresidenan memberikan penjelasan tentang fungsi BPKP
dan bahwa audit terhadap KPK tidak sesuai dengan fungsi BPKP. Lihat Kotak 5.14.

Kotak 5.14
SURAKARTAPresiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin kembali mengingatkan Ketua Badan
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Didi Widayadi soal fungsi lembaga itu. Juru
bicara kepresidenan Andi Alfian Mallarangeng kemarin mengatakan, Presiden meminta MenteriSekretaris Negara Hatta Rajasa menelepon Didi Widayadi untuk menyampaikan penegasan itu.
Setelah itu, Hatta melapor kepada Presiden bahwa Didi sudah mengerti dan akan mematuhi apa yang
telah digariskan tersebut.
(Mereka itu) sebagai auditor internal pemerintah, kata Andi kemarin malam di Surakarta, di
sela acara pertemuan antara Yudhoyono dan para pengusaha.
Karena posisinya sebagai auditor internal, kata Andi, keinginan BPKP untuk melakukan audit
operasional terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi tidak sesuai dengan fungsinya. Sudah jelas
bahwa BPKP ikut sistem pemerintahan, sesuai dengan aturan undang-undang, yaitu auditor
internal, katanya. Dalam kesempatan itu Andi juga kembali membantah anggapan bahwa rencana
audit BPKP terhadap KPK itu merupakan perintah lisan dari Presiden Yudhoyono.
Rencana audit itu pertama kali diungkap oleh Didi saat ia bertandang ke kantor KPK, Kamis:
pekan lalu. Ketika itu ia menyatakan ada perintah langsung secara lisan dari Presiden Susilo Rain|
>9g)g Yudhoyono. Pernyataan Didi itu diprotes sejumlah kalangan. Bahkan berkembang anggapan
bahwa audit tersebut merupakan upaya menggembosi kewenangan KPK.
Sehari kemudian, Yudhoyono pun mengeluarkan bantahan. Saya juga terkejut laporan dari
menteri dan staf, membaca media massa, bahwa seolah-olah ada perintah Presiden igsf BPKP
mengaudit KPK, kata Yudhoyono dalam jumpa pers di sela peringatan Hari Anti-Narkoba di Gelora
Bung Karno. Presiden pun meminta Didi Widayadi menjelaskan kepada publik atas apa yang
dilakukannya itu.
Sumber: koran Tempo, 30 Juni 2009.

34

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

ANTI-CORRUPTION AGENCIES
Lembaga semacam KPK yang secara generik dikenal sebagai Anti-Corruption Agencies (ACA) tidak hanya
ada di Indonesia. Di banyak negara Agency ini disebut Commission atau Komisi (seperti KPK); namun, ada
juga yang menyebutnya Biro, seperti di Singapura, atau Badan seperti di Malaysia.
Sejak 1990, lebih dari 30 negara didunia mempunyai ACA. 13 Tabel 5.3 di bawah menyajikan ACA di
beberapa negara Asia, dengan terjemahan nama dalam bahasa Inggris. 14 Nama ACA di Malaysia adalah
Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (disingkat SPRM) atau Badan Pencegah Rasuah (disingkat
BPR).

Tabel 5.3
AntiCorruption Agencies di Beberapa Negara Asia

Anti-Corruption Agencies

Tahun Pendirian

Singapore Corrupt Practices Investigation Bureau


Malaysia Anti-Corruption Agency
Hong Kong Independent Commission Against Corruption

1952
1967
1974

Thailand National Counter Corruption Commission


South Korea Korean Independent Commission Against Corruption
Indonesia Corruption Eradication Commission

1999
, 2002
2003

Dari tabel tersebut terlihat bahwa Korea dan Indonesia termasuk negara-negara Asia yang belakangan
mempunyai ACA, sedangkan negara-negara lainnya sedang mempunyai ACA terlebih dulu. Sebenarnya
Indonesia sudah mempunyai bermacam-macam ACA dengan berbagai nama.
Ada dua model ACA, yakni multi-agency model dan single-agency model. Negara yang menerapkan
multi-agency model memanfaatkan lembaga-lembaga penegak hukum yang sudah ada (seperti kepolisian,
kejaksaan, pengawas pasar modal, pengawas perbankan/bank sentral, lembaga ombudsman, dan lain-lain)
dan membangun satu lembaga khusus. Indonesia adalah contoh negara yang menerapkan multi-agency
model Kebanyakan negara Eropa Barat dan Amerika Serikat juga menerapkan multi-agency model.
Afrika Selatan menerapkan multi-agency model di mana mandat untuk pemberantasan korupsi disebar
di antara kepolisian, kejaksaan, badan pemeriksa keuangan (auditorgeneral), dan lembaga perpajakannya
(revenue services), dan public service commission. Public service anticorruption unit mempunyai fungsi
koordinasi dan bertanggung jawab untuk mengembangkan dan mengimplementasikan strategi
pemberantasan korupsi di sektor publik.
Hong Kong dan Singapura menganut single-agency model Hanya ada satu ACA yang kuat dan
tersentralisasi. Singapura mengalami masalah korupsi yang hebat pada dasawarsa

Bab 5Tatanan
Kelembagaan
1950 dan 1960-an, Hong Kong pada dasawarsa 1970-an. Masalah korupsi ini menimbulkan krisis
kepercayaan di kalangan investor dan ancaman bagi politik dalam negeri. Respons Hong Kong
dan Singapura, sama. Mereka menciptakan lembaga yang bebas dari kontaminasi unsur-unsur
korup, dan lembaga ini diberi kuasa untuk membasmi korupsi. Singapura mendirikan Corruption
Practices Investigation Bureau (CPIB) dan Hong Kong, Independent Commission Against Corruption
(ICAC). CPIB dan ICAC menjadi tolok ukur atau standar bagi ACA yang terpusat ( centralized
anticorruption agencies) dan tangguh. Faktor penting keberhasilan mereka adalah terpusatnya
informasi dan inteligen dalam bidang korupsi dan pemberantasannya, sehingga masalah yang
sering timbul dari koordinasi antarlembaga negara, dapat ditekan. Dalam banyak tulisan dan
seminar internasional, Hong Kong dan Singapura menjadi contoh suksesnya ACA.
Bagi Indonesia sejak kemerdekaannya, kehadiran lembaga pemberantasan korupsi
merupakan kebutuhan nyata. Kita tidak berbeda dari Singapura. Yang membeda kedua negara
adalah niat (political will), konsistensi pelaksanaannya, dan tantangan yang dihadapi. Tantangan
yang dihadapi sering kali berkaitan erat dengan political will dan ancaman nyata terhadap ACA
yang mewujudkan eksistensinya.
Pengalaman Indonesia dan Singapura juga menunjukkan adanya dua pola kelahiran ACA.
Ada ACA yang lahir karena kesadaran bernegara yang sehat. Juga ada ACA yang lahir karena
negara yang bersangkutan meratifikasi United Nations Convention Against Corruption (UNCAC).
Indonesia melahirkan berbagai ACA dengan pola pertama, dengan segala pasang- surutnya. KPK
merupakan perwujudan dari ratifikasi UNCAC dan cerminan kelemahan aparat kepolisian dan
kejaksaan.
Apakah KPK masih diperlukan seandainya aparat kepolisian dan kejaksaan berhasil berbenah
diri? Atau apakah KPK justru akan hilang dari tatanan kelembagaan kita? Adakah peluang bagi
KPK untuk menjadi sangat tangguh, tersentralisasi, dan satu-satunya lembaga pemberantasan
korupsi (single-agency model) seperti Independent Commission Against Corruption (ICAC) di Hong
Kong? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut bergantung pada banyak faktor.
Bagan 5.7 menyajikan perbandingan lembaga pemberantasan korupsi di beberapa negara.15

LANDSKAP AUDIT PEMERINTAHAN


Dalam jargon administrasi negara istilah pemeriksaan digunakan dalam makna audit ekstern
(external audit), misalnya dalam kalimat Badan Pemeriksa Keuangan adalah satu- satunya
lembaga pemeriksa keuangan negara di Indonesia.
Oleh karena itu, banyak orang bertanya apakah Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP), Inspektorat Jenderal (di Departemen, Kementerian, LPND), Badan
Pengawasan Daerah (di pemerintah daerah), Satuan Pengawasan Intern (di BUMN), dan lembaga
lain yang melakukan audit intern (internal audit), tidak melakukan pemeriksaan? Dalam jargon
administrasi negara, lembaga-lembaga ini melakukan pengawasan.
Bagan 5.7

Karakteristil? Komisi Antikorupsi di Sejumlak Negara

Negara
Singapura

Nama
Komisi
CPIB

Tahun
Dibentuk
1952

Struktur
Organisasi
Divisi Operasi dan
Divisi Adminstrasi
serta Specialist
Support

Jumlah
Pegawai
80 (data 2000)

Jumlah Rata-rata
Pengaduan Per Tahun
780, diinvestigasi 371
(2002)

Melakukan
Bertanggung
Penuntutan
Jawab kepada
Sendiri
Perdana Menteri Ya

Dibiayai
oleh
Pemerintah

Zambia

AAC

1982
Penyidikan,
direorgani Pencegahan, dan
- sasi 1996 Pendidikan

255,30% adalah
penyidik (2002)

400

Presiden

Ya

Thailand

NCCC

1999

Data tidak tersedia

Data tidak tersedia

Parlemen

Ya

Hong Kong

ICAC

1974

1.338,76% adalah
pegawai
departemen
penindakan (2005)

3,500, tahun 2004


menerima 3.746
laporan korupsi

Parlemen

Tidak

Kenya

KACC,
Dulu
KACA

1987,
direorgani
- sasi dan
berubah
nama
2003

Data tidak tersedia

Parlemen
Tahun 2005,5.678
laporan. Setelah
dianalisis, 754
dilanjutkan investigasi
dan 1.436 diteruskan ke
departemen terkait.

Tidak,
bergantung
pada
Kejaksaan
Agung

Madagaskar

BIANCO

2005

Terdiri atas 11 biro


dan 4 departemen
Operations
(Penindakan),
Pencegahan
Korupsi, Hubungan
Kerja Sama
Investigasi dan
Pelacakan Aset,
Layanan Hukum,
Litbang, Pendidikan
dan Pencegahan,
Keuangan dan
Administrasi
Investigasi,
Pencegahan, dan
Layanan Masyarakat
Investigasi,
Pendidikan

Data tidak tersedia

Data tidak tersedia

Presiden

Data
tidak
tersedia

dan Penelitian, KontroV


dan Statistik

714,28% adalah
penyidik

Data tidak tersedia

Data tidak tersedia

Tanzania

PCB

1991

Tidak

Gabungan
antara
Pemerintah
dan Donor
Pemerintah
Pemerintah,
Total
Anggaran
2001:90
juta dolar
2005,
Pemerintah:
Ksh 591
juta Donor
LN: Ksh 5,2
juta
Data tidak
tersedia

Data tidak
tersedia

Bab5 Tatanan Kelembagaan

37

Tidak ada istilah generik untuk audit dalam kosa kata pemerintahan (administrasi
negara). Yang ada adalah pemeriksaan untuk audit ekstern, dan pengawasan untuk audit
intern. Oleh karena itu, judul bagian ini adalah Landskap Audit Pemerintahan (Government
Audit Landscape) dan bukan Landskap Pemeriksaan Keuangan Negara atau Landskap
Pengawasan Keuangan Negara. Dengan judul ini pembahasan dapat mencakup BPK maupun
lembaga-lembaga audit intern atau APIP (Aparat Pengawasan Internal Pemerintah).
Beberapa alinea di bawah diambil dari kajian Bank Dunia. 16 Indonesia tidak kekurangan
auditor. Pada tahun-tahun terakhir baik BPK maupun BPKP telah mendokumentasikan
kebocoran-kebocoran besar serta ketimpangan-ketimpangan luas. BPK mengklaim bahwa
selama tahun kalender 2001-2002 ketimpangan-ketimpangan pada bagian-bagian pemerintah
dan BUMN-BUMN (termasuk kurangnya bukti pendukung untuk pengeluaran) berdampak atas
sekitar US$60 miliar dana yang dianggarkan. Namun kedua badan tersebut telah mengeluh
bahwa pada umumnya laporan-laporan mereka diabaikan, tanpa ada tindakan terhadap pejabatpejabat yang terlibat.
Beberapa faktor melemahkan proses audit. Pertama, BPK menghadapi kendala-kendala
sumber daya yang parah. Anggaran yang disediakan oleh parlemen terbatas, dan stafnya
menurut laporan kurang memenuhi kualifikasi, dengan kurang dari 10 persen dari 2600
pegawainya merupakan akuntan berkualifikasi. Akan tetapi, jumlah auditor bukanlah penyebab
rendahnya kemampuan mereka untuk melaksanakan audit.17 Sebagai perbandingan, BPKP
mempunyai lebih 8000 pegawai, dengan kelompok inti cukup besar yang mempunyai
kualifikasi lebih baik. Ketimpangan ini mencerminkan kebijakan yang disengaja di zaman
Orde Baru untuk memusatkan perhatian pada badan audit internal. Di samping itu, walaupun
BPK merupakan lembaga tertinggi yang khusus diakui di dalam UUD Indonesia, ia harus
minta anggaran kepada Departemen Keuangan, dan kebijakan-kebijakan kepegawaiannya
ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
Kedua, tidak adanya undang-undang audit negara modern menyebabkan banyak
kerancuan di balik mana organisasi-organisasi yang ingin menghindari audit bisa bersembunyi.
Banyak organisasi, terutama militer, telah menolak untuk diaudit oleh BPK.
Ketiga, Parlemen, Departemen Keuangan, dan departemen-departemen teknis tidak
mempunyai proses yang digariskan secara jelas untuk menindaklanjuti temuan-temuan audit
dan mengambil alih langkah perbaikan, dan sebagai akibatnya tidak terjadi tindak lanjut
sistematis. Keempat, seperti dicatat, BPK tidak berwenang mengumumkan temuan-temuannya.
(Akan tetapi, sekarang temuan-temuannya dianggap berada di wilayah publik apabila diberikan
kepada parlemen, dan tidak ada ketentuan di dalam hukum yang tegas mencegah badan
tersebut untuk menyiarkan laporan-laporannya kepada pers). Akhirnya, jika badan tersebut
mengungkapkan korupsi, ia harus mengandalkan Kejaksaan Agung yang korup dan tidak
efisien dan badan-badan pengadilan untuk mengusut dan mengadili kasus tersebut.
Di samping kelemahan-kelemahan tersebut, terdapat sebagian duplikasi fungsi antara
BPK dan BPKP dan antara BPKP serta para inspektur jenderal. Buku Putih Departemen
Keuangan (2002) menyatakan bahwa BPK dengan bergulirnya waktu harus menjadi satusatunya badan audit eksternal, yang menyerap BPKP, walaupun pemerintah bisa
mempertahankan suatu

unit pemeriksaan keuangan kecil. Personalia BPKP juga dapat digunakan untuk memperW
manajemen keuangan pada departemen-departemen teknis.
Catatan penulis: sejakpenerbitan studi Bank Dunia di atas, sudah ada beberapa

perubahan

penting, terutama di BPK. Misalnya, peningkatan anggaran yang signifikan sejak tahun 2006
pengumuman secara terbuka hasil-hasil pemeriksaan (segera sesudah BPK menyampaikan
laporannya kepada DPR dan DPD), dan mulai dapat dimasukinya objek-objek pemeriksaan
yang dulunya masih tabu untuk diperiksa. Yang belum terjadi adalah yang dikemukakan dalam
Buku Putih Departemen Keuangan, yakni bahwa BPK menyerap BPKP, walaupun pemerintah
masih bisa mempertahankan suatu unit pengawasan keuangan kecil. Juga masih ada resistensi
yang kuat terhadap wacana di mana BPK memeriksa Yayasan, Dana Pensiun, dan Dana
Kesejahteraan Karyawan yang bersifat kedinasan, serta anak-anak perusahaan dari lembagalembaga negara. Entitas ini rawan korupsi dan kerugiannya cenderung dialihkan menjadi
beban keuangan negara melalui lembaga yang memayunginya. Ini merupakan contingent
liability yang seharusnya diungkapkan dalam catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
dan catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Berikut ini beberapa informasi mengenai BPKP.18 Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) lahir pada tahun 1936 berdasarkan besluit (Surat Keputusan) Nomor 44
Tanggal 31 Oktober 1936. Lahir sebagai Regering Accountantsdienst (Djawatan Akuntan
Negara, disingkat DAN). Dinas (dienst) ini meneliti pembukuan perusahaan negara dan
jawatan tertentu.19
Dalam tahun 1959 sampai 1966 DAN mengalami beberapa perubahan struktur dan
berganti nama menjadi Direktorat Djendral Pengawasan Keuangan Negara atau yang lebih
dikenal sebagai DJPKN. Perubahan struktur dan penataan kelembagaan tersebut terus berjalan
antara tahun 1968 sampai 1971.
Dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983 Tanggal 30 Mei 1983,
DJPKN berubah menjadi BPKP, sebuah Lembaga Pemerintah Non-departemen (LPND) yang
berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Dengan Keppres tersebut
maka BPKP secara resmi melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan keuangan
dan pembangunan. Lihat selanjutnya perubahan Keppres di Kotak 5.15.
BPKP memiliki 25 kantor perwakilan di provinsi sebagai berikut.
Perwakilan BPKP Provinsi
1. Daerah Istimewa Aceh
2. Sumatra Utara
3. Sumatra Barat
4. Riau
5. Jambi

Perwakilan BPKP Provinsi


11. Jawa Barat
12. Jawa Tengah
13. Daerah Istimewa Yogyakarta
14. Jawa Timur
15. Kalimantan Barat

Bab5 Tatanan Kelembagaan


6. Sumatra Selatan
7. Bengkulu
8. Lampung
9. Daerah Khusus Istimewa
10. Daerah Khusus Istimewa
Perwakilan BPKP Provinsi
21. Sulawesi Tengah
22. Sulawesi Utara
23. Sulawesi Tenggara

39

16. Kalimantan Timur


17. Kalimantan Selatan
18. Bali
Jakarta I
19. Nusa Tenggara Timur
Jakarta II
20. Sulawesi Selatan
Perwakilan BPKP Provinsi
24. Maluku
25. Irian Jaya

BPKP memberikan layanan kepada instansi pemerintah baik Departemen/LPND


maupun Pemerintah Daerah. Cakupan layanan yang diberikan oleh BPKP adalah:
1. Audit atas berbagai kegiatan unit kerja di lingkungan departemen/LPND maupun
pemerintah daerah
2. Policy evaluation
3. Optimalisasi penerimaan negara
4. Asistensi penerapan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah
5. Asistensi penerapan good corporate governance
6. Risk management based audit
7. Audit investigatif atas kasus berindikasi korupsi

Kotak 5.15
BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

>
>
>
>
>

BPKP adalah salah satu di antara 22 Lembaga Pemerintah Nondepartemen (LPND) yang
didirikan dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang kedudukan, tugas,
fungsi, kewenangan, susunan organisasi, dan tata kerja LPND. Keppres ini sendiri sudah
lima kali diubah dengan:
Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2002
Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 2002
Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2003
Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2004
Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2005

Ke-22 LPND tersebut adalah:


1. Lembaga Administrasi Negara disingkat LAN.
. .. t

2. Arsip Nasional Republik Indonesia disingkat ANRI.


3. Badan Kepegawaian Negara disingkat BKN.
4. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia disingkat PERPUSNAS.
5. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional disingkat BAPPENAS.
6. Badan Pusat Statistik disingkat BPS;
7. Badan Standardisasi Nasional disingkat BSN;
8. Badan Pengawas Tenaga Nuklir disingkat BAPETEN.

9. Badan Tenaga Nuklir Nasional disingkat BATAN.


10. Badan Intelijen Negara disingkat BIN.
11. Lembaga Sandi Negara disingkat LEMSANEG.
12. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional disingkat BKKBN.
13. Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional disingkat LAPAN.
14. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional disingkat BAKOSURTANAL.
15. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan disingkat BPKP.

Bab5 Tatanan Kelembagaan

41

16. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia disingkat LIPI.


17. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi disingkat BPPT.
18. Badan Koordinasi Penanaman Modal disingkat BKPM.
19. Badan Pertanahan Nasional disingkat BPN;
20. Badan Pengawasan Obat dan Makanan disingkat BPOM;
21. Lembaga Ketahanan Nasional disingkat LEMHANAS.
22. Badan Metereologi dan Geofisika disingkat BMG.
BPKP diatur dalam Bagian Kedelapanbelas (Pasal 52 sampai dengan 54) Keputusan Presiden
Nomor 103 Tahun 2001.

Forum Bersama Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (ForBes APIP) dalam


memberikan rekomendasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui adanya
permasalahan dalam sistem pengawasan di sektor publik.20 Lihat Kotak 5.16.

Kotak 5.16
Rekomendasi APIP kepada Presiden SBY
Peraturan Perundangan
Pada awal masa Orde Baru, terdapat Direktorat Jenderal
Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN) sebagai alat pemerintah dalam melakukan
pengawasan internal pemerintah. Dalam tahun 1974 dibentuk Inspektur Jenderal pada
setiap departemen, yang selanjutnya diikuti dengan terbentuknya Inspektorat Wilayah
Provinsi/Kabupaten/Kota. DJPKN selanjutnya diubah menjadi Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangungan (BPKP), dalam tahun 1983. Koordinasi di antara aparat
pengawasan intern pemerintah (APIP) diwadahi dengan Inpres 15 Tahun 1983.
Dalam era reformasi status dari Inpres tersebut menjadi tidak jelas. Terbitnya PP 20
Tahun 2001 dan Keppres 74 Tahun 2001, keduanya menangani pengawasan
penyelenggaraan pemerintah daerah, justru menimbulkan permasalahan pengawasan,
dalam hal ini kewenangan dan koordinasi, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Keluarnya Keppres 8 Tahun 2004 mengenai koordinasi pengawasan oleh kantor MenPAN
belum menyelesaikan masalah.
2. Organisasi dan Kelembagaan
Terdapatnya berbagai institusi pengawasan internal pemerintah, baik di tingkat pusat
maupun daerah, pada gilirannya menimbulkan berbagai permasalahan. Pertama,
kedudukan BPKP di bawah Presiden, Inspektur Jenderal di bawah Menteri, Inspektorat
Utama/Inspektur di bawah Kepala LPND, dan Badan Pengawasan Daerah di bawah
Kepala Daerah, sering menimbulkan pertanyaan mengenai indepedensi lembaga tersebut
dalam melaksanakan tugas dan fungSJ pengawasan terhadap institusi yang bersangkutan.
Kedua, terjadinya tumpang tindih pengawasan yang diakibatkan oleh belum optimalnya

koordinasi antar-institusi pengawasan, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, maupun


pelaporan hasil pengawasan. Kelemahan koordinasi juga sangat jelas terlihat dalam
hubungan dan pembagian tugas aparat pengawasan di pusa

Bab5 Tatanan Kelembagaan

43

dan di daerah. Ketiga, konsekuensi dari masalah pertama dan kedua, adalah kesulitan
institusi pengawasan untuk mencapai akuntabilitas publik yang optimal, oleh karena
tidak tercapainya check and balances antara principal (Presiden selaku kepala
pemerintahan) dan agent (APIP sebagai pelaksana pengawasan).
Hubungan APIP, Aparat Penegak Hukum, dan KPK
Pelaksanaan pengawasan internal pemerintah sangat erat kaitannya dengan peran
kejaksaan dan kepolisian sebagai aparat penegak hukum. Pada kenyatannya hubungan
tersebut tidak dapat dikatakan mulus, khususnya terdapat kasus di mana hasil
pengawasan APIP yang diserahkan kepada aparat penegak hukum tidak seluruhnya
ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Kasus lain terjadi di daerah dalam hal
pengambilan tindakan hukum oleh aparat penegak hukum tanpa melibatkan aparat
pengawasan daerah yang bersangkutan.
Dengan berdirinya KPK, tidak dengan sendirinya bermuara pada percepatan
pemberantasan korupsi. Diperlukan suatu mekanisme pengawasan menyeluruh, yang
memanfaatkan optimalisasi institusi-institusi pengawasan yang ada.
4. Hubungan Pengawasan Internal dan Eksternal BPK sebagai aparat pengawasan
eksternal pemerintah seharusnya menjadi mitra APIP. Tugas dan fungsi BPK yang pada
dasarnya berupa atestasi (pengujian), dalam bentuk audit, haruslah saling melengkapi
dengan tugas dan fungsi APIP yang pada dasarnya berupa increasing capability
building pada instansi pemerintah, baik dalam bentuk audit maupun kegiatan
pengawasan lainnya.
Kelemahan-kelemahan dalam mengomunikasikan rencana kerja pengawasan,
pelaksanaan pengawasan di lapangan, dan penggunaaan laporan APIP oleh BPK,
seharusnya dapat ditekan serendah mungkin, agar dapat tercapai sinergi pengawasan
yang optimal.
5. SDM Pengawasan
Pelaksanaan pengawasan sebagai suatu profesi membutuhkan kompetensi SDM yang
memadai. Kompetensi tersebut dapat diperoleh baik dari akademis maupun pengalaman
kerja. Harus diakui bahwa masih terdapat kesenjangan kompetensi, tidak saja di antara
APIP Pusat dan APIP Daerah, tetapi juga di antara APIP Pusat sendiri. Kesenjangan
tersebut mengakibatkan belum dapat tercapainya tujuan dan fungsi pengawasan
sebagaimana diharapkan oleh masyarakat luas.
Keberhasilan pengawasan juga amat ditentukan oleh tingkat kesejahteraan APIP.
Sistem remunerasi yang ada dewasa ini tidak memberikan insentif kepada APIP untuk
melaksanakan tugasnya dengan integritas yang tinggi.
Suatu hal yang terns perlu ditumbuhkembangkan adalah etika dan moral APIP, yang
menjadi bagian dari komunitas birokrasi publik dan masyarakat pada umumnya yang
memiliki values yang beragam, sehingga dapat menjadi benteng terakhir dari
keberadaan APIP itu sendiri.
M

Landskap audit pemerintahan kita dapat diringkaskan dalam matriks berikut (Tabel 5.4).
Dalam tabel ini ada tiga kelompok lembaga, yakni BPK yang mewakili external auditor dan
BPKP serta APIP lainnya yang mewakili internal auditor. Meskipun BPK dan BPKP mewakili

kelompok yang berbeda, mereka mempunyai persamaan. Sebaliknya, meskipun BPKP dan
APIP lainnya mewakili kelompok yang sama, mereka mempunyai perbedaan.

172

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

Tabel 5.4
Landskap Audit Pemerintanan

Dimensi
Eksternal/internal

BPK
External auditor

BPKP
Internal auditor

APIP Lainnya ~~
Internal auditor

Dasar hukum

UUD dan UU

Keppres

UU

Terpusat/tersebar
Perwakilan

Terpusat
Semua (33) provinsi

Terpusat
25 perwakilan

Lapor kepada

DPR

Presiden

Tersebar
Bagian dari struktur lembaga
yang bersangkutan
Pimpinan lembaga yang
bersangkutan

Dalam membandingkan ketiga kelompok auditor, dimensi di atas dapat ditambah, misalnya dengan:
jumlah dan mutu auditor dan sumber daya lainnya; kemampuan ketiga kelompok auditor menarik lulusan
terbaik dari perguruan tinggi khusus (seperti STAN) atau perguruan tinggi di luar STAN (perguruan tinggi
negeri maupun swasta); persepsi auditee atau objek yang diperiksa terhadap ketiga kelompok auditor
(misalnya: ditakuti, disegani/ dihormati, atau tidak dipedulikan/dicuekin); perpindahan atau migrasi
(misalnya apakah ada/banyak/sedikit perpindahan SDM dari BPKP ke BPK dan sebaliknya, atau dari
BPKPke Bawasda dan sebaliknya, atau dari BPKP ke SPI dan sebaliknya, dan seterusnya).
Dimensi-dimensi tersebut di atas merupakan indikasi atau proxy mengenai kekuatan atau kelemahan
lembaga-lembaga audit tersebut. Landasan hukum secara teoretis sangat penting. Namun, ia tidak
menjawab mengapa BPKP (yang didirikan dengan Keppres) lebih berjaya daripada BPK (yang didirikan
amanat UUD) di era Orde Baru. Bagaimana dengan sistem multi partai di era reformasi? Apakah perlu ada
perombakan atau pembaruan landskap audit pemerintah?
Dimensi penting lainnya adalah apakah lembaga-lembaga itu difokuskan kepada upaya pencegahan
dan pemberantasan korupsi secara umum, atau penyimpangan yang di dalam keuangan negara dikenal
sebagai waste, fraud, dan abuse?
Bulan Maret 2008 mengharapkan upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumpulkan para
inspektur jenderal (Irjen) departemen dan pimpinan Badan Pengawasan Daerah (Bawasda) se-Indonesia.
Dr. Adrianus Meliala (Pakar kriminologi Universitas Indonesia) mengatakan bahwa hal itu dapat membuat
gerah para pejabat tersebut. Kepada ANTARA, di Jakarta, Jumat (28 Maret 2009) malam, Adrianus
mengatakan upaya KPK terkait dengan kurangnya temuan dan laporan korupsi dari Inspektorat Jenderal
(Itjen) maupun Bawasda, mengingat selama ini laporan kasus korupsi lebih banyak berasal dari laporan
masyarakat.21
Masih tentang pertemuan antara KPK dengan para Irjen dan pimpinan Bawasda: ^
1.

Lembaga pengawasan internal pemerintah tersebut diusulkan diubah menjadi ba an


independen. Menurut Ketua KPK Antasari Azhar, peran lembaga penga^as^ internal kurang
maksimal antara lain karena pengawasnya merupakan bagian lembaga atau departemen yang
menjadi objek pengawasan. Menurutnya> ewuh pakewuh dan hambatan psikologis. Antasari

menjadi pembicara pada a


diskusi Efektivitas Peran Pengawas Internal pada Instansi Pemerintah yang
diselenggarakan KPK.
2. Hal senada diungkapkan anggota Komisi DPR Ryaas Rasyid. Menurut dia, restrukturisasi lembaga
berupa penggabungan Bawasda dan Irjen dinilai sangat penting. Saya mendorong supaya ada

Bab 5 Tatanan Kelembagaan

173

restrukturisasi aparat pengawasan internal. Korupsi harus diawali dari perbaikan manajemen
administrasi negara, ujarnya. Selama ini Bawasda dan Irjen tidak bisa menunjukkan kinerja
maksimal karena tidak mempunyai kewajiban untuk melaporkan penyimpangan di suatu lembaga
pemerintah kepada penegak hukum. Bahkan, Irjen dan Bawasda terkesan sungkan melaporkan
dugaan korupsi di lembaga yang diawasi karena pejabatnya diangkat oleh pemimpin departemen atau
kepala daerah. Dia mengusulkan, pengawasan yang baru ini nantinya bertanggung jawab langsung
kepada Presiden.
Dari berbagai kajian lembaga internasional, seminar, dan diskusi terlihat tiga pendapat
mengenai pembaruan landskap audit pemerintah, yakni:
1. Bubarkan BPKP dan sebarkan SDM-nya ke Inspektorat Jenderal dan Bawasda. Argumen untuk
pendapat ini adalah bahwa korupsi terjadi di lembaga negara yang harus diawasi dari dekat (di
tingkat lembaga), dengan memahami sepenuhnya tentang kondisi lembaga tersebut dan kekhasannya
(misalnya kekhasan Departemen Agama, Departemen Pertahanan dan Keamanan, dan lain-lain) yang
melahirkan pola waste, fraud, dan abuse yang khas pula.
2. Manfaatkan BPKP (atau berttuk lembaga baru seperti Badan Pengawasan Internal Pemerintah atau
BPIP) yang melakukan fungsi Inspektorat Jenderal dan Bawasda. Argumen untuk pendapat ini adalah
bahwa BPIP jauh lebih kuat dan independen terhadap lembaga yang diawasinya.
3. BPKP sebagai think tank saja, tidak usah besar namun efektif dalam memacu Inspektorat Jenderal
dan Bawasda. Pendapat ini adalah gabungan dari pendapat
-pertama dan kedua.

LSM dan Pers sebagai Kelompok Penekan


Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non-Governmental Organization (NGO) bersama
pers bukan bagian dari tatanan kelembagaan pemerintahan. Namun, LSM dan pers memainkan
peran penting dalam proses check-and-balance; peran mereka adalah sebagai kelompok
penekan atau pressure group.
LSM dan Pers menyuarakan rasa ketidakadilan di dalam masyarakat, misalnya penuntutan
oleh kejaksaan terhadap Prita Mulyasari yang di dalam e-mail-nya. mengeluhkan perlakuan
Rumah Sakit Omni International (Tangerang, Banten). Rumah Sakit Omni International
mengadukan kasus ini ke kepolisian.
Kejaksaan menuntut Prita dengan Pasal 310 dan 311KUHP mengenai pencemaran nama
baik dan penghinaan. Prita juga dikenai Pasal 27 ayat 3 UU 11/2008 ITE dengan ancaman
hukuman 6 tahun penjara. Tidak lama kemudian, Prita ditahan di LP Wanita Tangerang.

Media elektronik dan cetak memberitakan hal ini dengan hasil yang sangat memuasu Waktunya juga
tepat, yakni masa kampanye Pilpres 2009. Di bawah tekanan pers, pada ta 2 Juni 2009 kejaksaan
melepaskan ibu dua balita itu dari LP Wanita Tangerang yang Suj I dihuninya selama tiga minggu.
Sidang pengadilan dimulai pada tanggal 4 Mei 2009. Pada tanggal 25 Juni 2009 majelis I hakim
Pengadilan Negeri Tangerang mengabulkan keberatan Prita atas dakwaan jak$ a penuntut umum. Prita bebas
dari dakwaan tindak pidana. Salah satu pertimbangan majelis hakim yang diketuai Karel Tuppu karena
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE) yang menjerat Prita belum berlaku efektif.
Aturan itu baru berlaku pada April 2010 mendatang, membebaskan Prita.
Mengapa jaksa menggunakan UU ITE? Pers membongkar: Awalnya, penyidik kepolisian tidak
memasukkan UU ITE untuk menjerat Prita. Namun, Jaksa peneliti meminta agar penyidik memasukkan
ketentuan UU ITE. Karena ancaman hukuman di UU ITE cukup berat, Prita sempat ditahan. Berita ini
dibantah oleh Jaksa Agung Muda Pidana Umum (Jampidum) AH Ritonga. Ia menegaskan dakwaan
disusun berdasarkan berkas penyidik kepolisian.
Kasus Prita Mulyasari hanyalah satu di antara banyak kasus di mana LSM dan pers memainkan
peran sebagai kelompok penekan menentang ketidakadilan oleh aparat kepolisian, kejaksaan,
kehakiman sampai Mahkamah Agung.
Pada tanggal 18 Juli 2009, Jaksa Agung Hendarman Supandji memperoleh gelar Doktor H.C.
(honoris causa) dari almamaternya, Universitas Diponegoro. Dalam sidang senat terbuka, ia
menyampaikan makalah tentang Membangun Budaya Anti Korupsi.
LSM memprotes penganugerahan Doktor H. C. kepada Jaksa Agung atas dasar rekam jejaknya.
Dua berita di bawah menunjukkan kegigihan para LSM, walaupun mereka tidak seberhasil pers dalam
kasus Prita di atas. Lihat Kotak 5.17 dan 5.18.

Kotak 5.17
ICW Minta Undip Tinjau Pemberian Gelar Hendarman
JakartaPenggiat antikorupsi Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta pihak Universitas Diponegoro,
Semarang, Jawa Tengah meninjau ulang rencana pemberian gelar Honoris Causa kepada Jaksa Agung
Hendarman Supandji. Hal ini karena ICW menilai Hendarman belum berhasil.
Kita minta pihak Undip untuk meninjau ulang rencana pemberian Honoris Causa ini, || Wakil
Koordinator Bidang Hukum dan Monitoring Peradilan ICW Emerson Juntho dalam rilis yang diterima
detikcom, Kamis (16/7/2009).
Sebelumnya dikatakan, Hendarman rencananya akan menerima gelar Doctor Honoris Causal
Universitas Diponegoro pada Sabtu 18 Juli 2009. Penghargaan tersebut diberikan karena Hendarntfjj
yang merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro tahun 1972 ini dianggap t*r
menangani kasus korupsi.
..
Hal ini karena kinerja pemberantasan korupsi di bawah pimpinan Hendarman masih ja kata
berhasil, tambah Emerson.
Sebelumnya, Hendarman dikatakan ICW belum tuntas menyelesaikan kasus korupsi Kakap yang
selama ini ditangani Kejagung. Disebutkan ada 40 kasus kakap yang belum diselesaikannya.
Beberapa di antaranya adalah kasus mark up biaya pembangunan gedung menara PT Jamsostek,
k
Penyimpangan penyaluran dana BLBI pada PT Bank Pinaseaan senilai Rp411 miliar dan pengambilalihan
asset kredit PT Kiani Kertas oleh PT Bank Mandiri bekerjasama dengan PT Anugrah Cipta Investa (PT
ACI) dan PT Nusantara Energy (PT NEC) yang disidik 2005. (nov/ndr)

Sumber: detikNews, 16 Juli 2009.

Kotak 5.18
LSM Minta Undip Evaluasi Pemberian Gelar Hendarman
SEMARANGSejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Semarang meminta Universitas
Diponegoro (Undip) Semarang mengevaluasi kembali rencana pemberian gelar Doktor Honoris Causa
(doktor kehormatan, red) kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji. Kinerja Hendarman patut
dipertanyakan karena selama tiga tahun menjabat sebagai jaksa agung tidak ada prestasi yang menonjol,
kata Sekretaris Komisi Penyelidikan dan Pemberantasan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KP2KKN)
Jateng Eko Haryanto di Semarang, Jumat (17/7).
Eko mengatakan, seharusnya pemberian gelar doktor kehormatan tersebut hanya diberikan kepada
individu atau tokoh yang telah berkarya dan berjasa luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan dan
kemanusiaan. Jaksa Agung Hendarman Supandji akan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari
Undip Semarang pada Sabtu (18/7).
Berdasarkan analisis dan pemantauan KP2KKN Jateng, bahkan dari ICW, Hendarman justru tidak
berhasil dalam pemberantasan korupsi karena terbukti selama masa kepemimpinannya banyak kasus
korupsi besar di SP3-kan (dihentikan proses hukumnya, red). Setidaknya ada 40 kasus korupsi yang tidak
jelas penanganannya di Kejagung, termasukkasus-kasus korupsi yang ditangani Kejati dan Kejari yang ada
di seluruh Indonesia, katanya.
Selain itu, beberapa kebijakan promosi/mutasi jaksa bermasalah juga tidak berhasil dibenahi. Padahal
menurut UU Kejaksaan Nomor 16 Tahun 2004, jaksa agung merupakan penanggung jawab tertinggi
kejaksaan, termasuk kasus korupsi yang ditangani oleh pihak kejati dan kejari yang ada di seluruh
Indonesia.
Oleh karena itu, lanjut Eko, KP2KKN bersama LSM lainnya, seperti Lembaga Bantuan Hukum
(LBH) Semarang, Pattiro Semarang, KAMMI Daerah Semarang, BEM KM Undip, dan PBHI Jateng,
meminta Undip menghargai netralitas akademik institusi pendidikan dan jangan sampai ditunggangi
kepentingan sesaat. Kami berharappara alumni juga membuat gerakan penolakan dengan rencana
pemberian gelar Doktor Honoris Causa untuk Hendarman, katanya.ant/bur
Sumber: Republika Online> Jumat, 17 Juli 2009 | 18:42:00 WIB.

INILAH.COM. memberitakan, Undip membantah melacurkan diri terkait hal tersebut. Tidak politis,
yang kita lihat adalah keilmuan dan apa sumbangan terhadap pengembangan ilmu hukum, kata Dekan FH
Undip Arif Hidayat usai acara penganugerahan di Kampus Undip, Tembalang, Semarang.

Jaksa Agung Hendarman sudah sering mendapat kritikan ICW karena bernu peristiwa di jajarannya. Kutipan di
bawah ini menunjukkan sikapnya terhadap ICW di
2009. Lihat Kotak 5.19.

Kotak 5.19

naa

ca^

di

a*ai

Jaksa Tak Dapat Laporkan ICW


Jakarta, KompasSebagai institusi, Kejaksaan Agung tak dapat melaporkan Indonesia Corruption Watch.
Seharusnya kejaksaan menjawab laporan atau kritik ICW dengan memperlihatkan kinerjanya dalam
pemberantasan korupsi.
Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin S. di Jakarta, Jumat (9/1),
menyebutkan, kejaksaan adalah institusi negara yang seharusnya melindungi rakyat, bukan melawan
rakyat yang mengkritiknya. Kejaksaan boleh tersinggung dengan kritik dari ICW, tetapi hal itu harus
dijawab dengan kinerja yang baik.
Kalau kinerja kejaksaan dalam pemberantasan korupsi meningkat, secara langsung kan kritik ICW
tidak terbukti. Pengaduan itu justru memunculkan penilaian kejaksaan tengah berusaha menutupi
kelemahan kinerjanya, kata Boyamin lagi.
Secara terpisah, Kamis di Kantor Presiden, Jaksa Agung Hendarman Supandji mengaku kejaksaan
tidak alergi terhadap kritik. Namun, jika menyimpang, kejaksaan akan menempuh jalur hukum. ICW
diadukan ke polisi karena dinilai menghina institusi kejaksaan.
"Kami tidak alergi dengan kritik. Kalau menghina, mencemarkan nama baik, menyimpang dari situ,
kami pakai hak kami, tutur Jaksa Agung lagi.
Primus interpares
^
Anggota Komisi III DPR, T. Gayus Lumbuun, mengingatkan, Mahkamah Agung (MA), Kejaksaan, dan
Polri adalah primus interpares atau pemimpin rakyat di bidang hukum. Oleh karena itu, akan terjadi
konflik kepentingan, jika lembaga itu berkonflik dengan rakyat yang mengkritiknya, tetapi dinilai
memfitnah.
Dia mengingatkan pula, Pasal 220 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana menjelaskan, penuntut
umum dan hakim tidak boleh menangani perkara yang langsung atau tidak langsung terkait dirinya. Jika
pengaduan kejaksaan terhadap ICW diteruskan, tiada jaksa yang boleh menangani penuntutan perkara itu.
(inu/tra)
Sumber: Harian Kompas, Sabtu, 10 Januari 2009.

Pers internasional juga meliput masalah-masalah korupsi di tanah air. Meskipun $ berita serupa dengan
berita pers dalam negeri, pers luar negeri sering kali lebih lugas d* 11 fokus. Lihat misalnya pemberitaan
mengenai KPK dan tantangan yang dihadapinya, ol^ Straits Time dan The New York Times yang dikutip
dalam Kotak 5.20 dan Kotak 5.21.

Bab 5Tatanan Kelembagaan

177

Kotak 5.20
ANTI-GRAFT DRIVE IN INDONESIA
When draconian powers are called for
By John McBethSenior Writer
WHEN one of his close relatives was jailed last month on graft charges, it seemed to be the most
compelling evidence yet of President Susilo Bambang Yudhoyonos commitment to the anti-corruption
campaign that has defined his five-year rule.
But palace insiders say the 41/2 year sentence handed down to the central bank deputy governor
Aulia Pohan, the father of the Presidents daughter-in-law, created more waves in the family than
anyone realised.
That seems to explain why only a week later, Dr. Yudhoyono questioned the powers of the AntiCorruption Commission (KPK). I must caution the KPK, he said. Power must not go unchecked. The
KPK has become incredibly powerful. It seems to be accountable only to God.
For civil society groups, the comment could not have come at a worst time with the agency
seemingly under full-scale attack from the police, the Attorney-Generals Office and members of the
graft-tainted Parliament.
Given the experience of other countries, a backlash should have always been expected from vested
! interests, either through compromising key people or seeking to change regulations and laws.
Much of the current controversy stems from the arrest of now-suspended KPK chairman Antasari
Azhar, for allegedly ordering the murder of a businessman who had used his girlfriend to lure Antasari
into a blackmailers honey trap.
With police reportedly seeking to implicate a second commissioner in the plot and a third KPK
member under suspicion for allegedly faking a bribe, anti-graft campaigners are convinced there is a
concerted effort to undermine the agency.
Equally disturbing is a threatened Development Finance Comptroller audit of the KPK and and
parliamentary foot-dragging over a new Anti-Corruption Court Bill, which has to be passed before the
courts mandate runs out at years end.
With the presidential election behind him and now armed with a stronger mandate, Dr Yudhoyono
has been belatedly trying to reassure critics that his commitment is unwavering.
I remain the same as before, only more committed towards eradicating corruption, Constitutional
Court president Mohammad Mahfud quoted him saying at a private meeting on July 10. I could not
act before the election as people may have thought I was campaigning.
n
He repeated the reassurances at a subsequent Cabinet session, but Mr Mahfud told Tempo
magazine that Dr Yudhoyono still felt there should be tighter controls over the KPK s use of electronic
surveillance.
The agencys right to wiretap without a court order is allowed under the law that created the body
in 2003. It has been unsuccessfully challenged in the Constitutional Court seven different times.
In addition* a Communications Ministry regulation, which the commission actually initiated itself,
also ensures its work is subject to regular audits by an oversight committee of operators, providers and
regulators.

Bagian IPengantar Akuntansi


Forensik
Internal procedures dictate that a wiretap can only be done following the issuance of an Order for
Investigation - and it must be accompanied by documentation specifying the telephone numbers to be
bugged and their relevance to the case.
But the sensational Antasari case has called all that into question. While there is little evidence to
support his direct involvement, police had to be deterred from the planned July 2 arrest of a second KPK
commissioner, Chandra Hamza, who had signed off on an illegal wiretap.
It took a phone call from Cabinet Secretary Sudhi Silalahi, a close Yudhoyono confidant, to forestall
the move. But police investigations into KPK bribery allegations appear to be continuing despite the
Presidents calls for an end to inter-departmental rivalries.
Dr. Yudhoyono has made it clear that strong evidence is needed to support any allegations against
KPK staff. The President will always be the main factor in fighting corruption, former KPK member Erry
Hardjapamekas said to me.
Antasari was a controversial figure from the start, not only because of his checkered background, but
also because of widespread suspicions that pay-offs may have greased his parliamentary appointment in
late 2007.
Heading a new five-man commission and an agency that had finally reached full strength, the former
prosecutor initially surprised everyone with a series of high-profile cases that gave the antigraft campaign
real momentum.
But in focusing on parliamentarians, police officers and senior prosecutors, the KPKs uneasy
relationship with the rest of the law enforcement community began to crumble.
Antasaris arrest last May and his apparent willingness to tell police all he knows to escape a possible
death penalty has now led to disclosures that the KPK was also bugging Criminal Investigation
Department head Susno Duadjis phone.
An outraged Duadji was forced to deny reports that he had been recorded demanding an US$18
million (S$26 million) bribe in a case in which a local bank is accused of misselling fraudulent finandal
products.
But his rash warning that lizards should not challenge crocodiles was unfortunate. In a
Transparency International survey of the business community earlier this year, the police force was voted
Indonesias most corrupt institution for the second year running.
Indonesia Corruption Watch and everyone else involved in the anti-graft fight agrees that any
interference in the KPKs ability to wiretap or otherwise weaken its powers would be disastrous.
As another former KPK commissioner, Mr Amien Sunaryadi, told a recent briefing sponsored by the
United Nations Office on Drugs and Crime: In a very corrupt situation, an agency like the KPK must have
draconian powers
Sumber: Straits Time, 18 Juli 2009.

Kotak 5.21
Corruption Fighters Rouse Resistance in Indonesia
JAKARTA, IndonesiaIndonesia, a country that has long been regarded as one of the worlds|1H corrupt, has
won praise for combating graft in recent years. Leading the charge has been | a powerful government
institutionone whose successes have drawn fierce opposition that threatens its existence.

Bab 5Tatanan Kelembagaan


Armed with tools like warrantless wiretaps, the Corruption Eradication Commission confronted head-on
the endemic corruption that remains as a legacy of President Suhartos 32-year-long kleptocracy. Since it started
operating in late 2003, the commission has investigated, prosecuted and achieved a 100-percent conviction rate
in 86 cases of bribery and graft related to government procurements and budgets.
Local reporters camp daily outside the commissions imposing eight-story building here, where highranking businessmen, bureaucrats, bankers, governors, diplomats, lawmakers, prosecutors, police officials and
other previously untouchable members of Indonesian society have been made to discover a phenomenon new to
this country: the perp walk.
One of Indonesias most famous rock bands, Slank, even performed outside the building last year to show
support. The band took aim at members of Parliament, the institution generally considered the countrys most
corrupt, by singing: Who draws up laws? Draft bills for bucks.
According to Transparency International, a Berlin-based private organization dedicated to curbing
corruption, the modest progress Indonesia has made against corruption in the past half decade has resulted from
the commissions investigations and reforms inside a single ministry, the Ministry of Finance.
But now the nations Parliament, police force and attorney generals office have increasingly been caught
in the cross hairs of the anticorruption commissions investigations, and members of those bodies are trying to
midermine the commission, according to commission officials and watchdog groups.
The attacks against the commission grew so intense that Indonesias newly re-elected president, Susilo
Bambang Yudhoyono, summoned Indonesias top law enforcement officials on a recent morning. Sounding
Sometimes like a marriage counselor, he told them to avoid friction through better communication and
respect.
The meeting shone a rare, public spotlight on the particular difficulties of fighting corruption here. At
stake, experts say, is the very survival of the anticorruption commission, universally referred to as K.P.K., the
initials of its name in Indonesian.
Its now a very dangerous time for the KPK, said Teten Masduki, the secretary general of Transparency
Internationals chapter in Indonesia. Whether its the police, attorney generals office or Parliament, there is a
systematic agenda to destroy the KPK.
Some critics say that the commissions powers are too draconian and that defendants receive inadequate
protection at a special Corruption Court where they are tried. Even Mr. Yudhoyono, who has made fighting
corruption a main theme of his administration, said recently that the commission seems to be accountable only
to God.
Haryono Umar, one of the commissions four vice chairmen, said that its investigators were merely
following the 2002 law that created it, and that the commission was accountable to Parliament and other
government agencies.
According to the law, corruption is an extraordinary crime, so thats why it should be handled by
extraordinary means, Mr. Haryono said.
But because we are handling corruption very aggressively, he said, many people are not happy with
the KPK. However, he denied that other law enforcement officials were among them.
Likewise, Inspector Gen. Nanan Soekarna, a spokesman for the national police, said, We have good
relations with the KPK.
Current and former commission officials said relations with police officials and prosecut I started off
well but grew strained in the past year after corruption investigators began focusing on flj police and the
attorney generals office, long considered among the most corrupt institutions here Last I year, a former highranking police official was sentenced to two years in prison for misappropriate | funds while serving as
ambassador to Malaysia.

Now our relations are no good because the KPK. started picking on their high officials, said Erry
Riyana Hardjapamekas, a former deputy chairman at the commission. We suspect each other."
More recently, an active high-ranking police official, Susno Duadji, was wiretapped by the
commission and caught asking for a $1 million bribe. In an interview with Tempo, the countrys most'
respected magazine, the police official said he knew he was being wiretapped and played along witlj the
caller; in an allusion to the anticorruption commission and the police, he said, Its like a gecko! challenging a
crocodile.
The police, through leaks to the news media, threatened to arrest several commission officials on
corruption charges of their own and in a bizarre case involving their former chairman, Antasari Azhar. In
May, Mr. Antasari was arrested and accused of ordering the murder of a prominent businessman who was
blackmailing him over an affair with their mutual love interest, a golf caddy, according to the news media.
Watchdog groups say the anticorruption commission is facing a potentially more effective, though
passive, challenge from Parliament.
The challenge comes in the form of delays in passing new legislation governing the commission and
the court, after the Constitutional Court ruled in 2006 that the law establishing the two was
unconstitutional. The Constitutional Court gave the government until the end of2009 to create a new aw.
Watchdog groups say that Parliament has been sitting on the proposed bill in a strategy to kill the
anticorruption commission. Transparency International rates Parliament nine of whose members lave
been convicted by the special corruption court since 2007, mostly for bribery as Indonesias! most
corrupt institution.
,
I
Gayus Lumbuun, a lawmaker in the committee reviewing the proposed bill, said its passage was possible j
before the end of the year. We agree with T.I., he said in an interview, referring to Transparency;
nternational s rating. But we hope that T.I. also sees that there are members of Parliament who are J ethical
and trying to do good
Last year, Mr. Gayus led other lawmakers in threatening to sue Slank, the rock band, for singing
about legislators who draft bills for bucks. But they dropped the idea after one of their own was arrested
for bribery around the same time, and later sentenced to eight years in prison.
Even if the bill passes, the anticorruption effort could be weakened, according to Danang Widojoko, a
coordinator at Indonesia Corruption Watch, a private organization. He said the bill would strip the
commission of its prosecutorial authority and make the court less independent.
If Parliament fails to pass the bill, the president could extend the life of the anticorruption commission
and court by passing a special regulation to be reviewed by Parliament. Mr. Yudhoyono Was elected to his
second term by a large margin. But he also has longtime supporters in business* a country where
companies still depend largely on government contracts, experts said.
If hes serious about combating corruption, hell make sure the K.P.K. survives, said Mr-1|| of
Transparency International. That would make the people happy, but I dont know about thj others.
'
Sumber: The New York Times, 25 Juli 2009.
Dengan kemajuan teknologi, para kelompok penekan menggunakan Facebook. Ini pertama kali
dipraktikkan oleh Usman Yasin dalam menggalang dukungan untuk Bibit- Chandra (Pimpinan KPK) yang
dijadikan tersangka oleh kepolisian dan kejaksaan. Lihat Kotak 5.22.

Kotak 5.22
Mendukung Bibit-Chandra melalui Facebook Usman Yasin: Dari Genggaman Kugetarkan Istana

Bab 5Tatanan Kelembagaan


Judul lengkap tulisan di VIVAnews (Selasa, 10 November 2009) adalah, Facebook memunculkan fenomena
baru dari aksi bersama, yang mampu menggetarkan istanan. Tulisan itu memuat wawancara dengan Usman
Yasin, dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu dan Pendiri Gerakan Dukung Chandra-Bibit di Facebook.
Facebook lebih meriah dari biasanya. Tak hanya menjadi ajang curhat bagi para pengunjungnya, jejaring
sosial terpopuler di dunia itu telah menjadi jalur alternatif untuk menyampaikan aspirasi politik bagi para
facebooker tanah air.
Momentum itu dipicu oleh babak baru perseteruan antara cicak (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan
buaya5 (Polri), akibat penahanan dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi nonaktif Bibit Samad Riyanto
dan Chandra Hamzah, pada Kamis 29 Oktober 2009 sore. Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra
Hamzah & Bibit Samad Riyanto mencuat menjadi grup yang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Entah karena titelnya yang bombastis atau memang karena penahanan polisi mengoyak rasa keadilan
banyak orang, yang jelas kini jumlah anggota grup ini sudah melampaui dari harapan awalnya untuk
menghimpun dukungan dari sejuta facebookers.
Apa Anda Sebelumnya Mengenal Bibit dan Chandra?
Saya tidak mengenal keduanya secara pribadi. Saya mempelajari latar belakang keduanya dari Internet;
Saya pelajari profil keduanya. Dari situ saya mendapati bahwa mereka itu orangnya sederhana. Bibit adalah
Bekas Kapolda Kalimantan Timur, daerah yang memiliki banyak hasil kayunya, tidak mungkin dia tak bisa
punya uang, kalau mau. Artinya dia memang orang yang sederhana. Bukan >erarti ia tidak pernah punya
kesempatan untuk menjadi orang kaya. Tapi walau saya mengenalnya ]lanya sebatas dari informasi yang
tercatat di internet. Tapi saya memiliki keyakinan, apa yang mereka ?erjuangkan itu benar. Bila seseorang
berjuang berdasarkan kebenaran, maka dia akan berani untuk menghadapi siapa pun.
i
I
i . < *, tiih
vV.:4.-i},*.Sumber: VIVAnews, Selasa, 10 November 2009.

Pressure group sangat lazim dalam kehidupan demokrasi. Asas trias politica yang memisahkan ketiga
kekuasaan, dilahirkan dari pemikiran check and balance; satu kekuasaan mengawasi dan diawasi oleh kekuasaan
lainnya. Pers di Amerika Serikat, misalnya, dikenal sebagai Kekuasaan Keempat. 23 Dengan kekuasaan
(seharusnya) lahir tanggung jawab dan akuntabilitas; hal ini dipacu melalui check and balance tadi.
Pers di Indonesia memainkan peranan penting dalam menyoroti tingkah laku para pejabat, dalam
menyampaikan informasi (seperti temuan-temuan BPK dan BPKP) secara

182

Bagian IPengantar Akuntansi Forensik

sederhana dan cepat, dan dalam menindaklanjuti janji-janji pejabat lembaga negara
diucapkan ketika kampanye pemilihan umum.
Lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Masyarakat Transparensi Indonesia
dan Indonesian Corruption Watch juga menjadi pressure group dalam upaya pemberantasan TPK.
Lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, mempunyai program global dala^ memerangi
korupsi. Bank Dunia dan ADB bekerja sama dengan BPK (dulunya BPKP) dalam mengaudit proyekproyek mereka di Indonesia. Mereka ini semua, dan masih ada lagi lembaga lain yang mungkin belum
disebutkan di sini, memainkan peran penting sebagai kelompok penekan.

PENGADILAN TIPIKOR
Pada tanggal 19 Desember 2006 Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan atas judicial
review terhadap Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi. Permohonan judicial review itu diajukan oleh beberapa tersangka dalam kasus
tindak pidana korupsi di Komisi Pemilihan Umum.

Dari beberapa butir yang diajukan dalam permohonan judicial review, hanya satuyang dikabulkan oleh
Mahkamah Konstitusi, yakni pembentukan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Pengadilan Tipikor)
dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 (Pasal 53). Mahkamah Konstitusi memutuskan
Pengadilan Tipikor harus dibentuk dengan undang- undang tersendiri sebelum akhir Desember 2009.
Pada tanggal 29 Oktober 2009, Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi diundangkan. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi merupakan pengadilan
khusus yang berada di dalam lingkungan peradilan umum. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
berkedudukan di setiap ibukota kabupaten/kota di Indonesia, yang jumlahnya hampir 500.
Mahkamah Agung memastikan pengadilan tindak pidana korupsi terbentukdi tujuh provinsi dalam
tahun 2010.
Dari pantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) selama lima tahun terakhir, komitmen
pengadilan umum justru dipertanyakan. Banyak terdakwa kasus korupsi yang diadili pengadilan
umum, yang semuanya terdiri atas hakim karier, justru dibebaskan. Ini berbeda dari Pengadilan
Tipikor, yang memadukan hakim karier dan hakim ad hoc, yan? selama ini tidak pernah
membebaskan terdakwa korupsi dari hukuman.
ICW menjuluki hakim karier sebagai juara membebaskan terdakwa korupsi. Pantauan ICW
di sejumlah pengadilan umum selama lima tahun terakhir sejak 2005, menunjukkan jumlah
terdakwa kasus korupsi yang bebas di pengadilan umum bukan berkurang, tetaP malah meningkat.
Dan terdakwa yang dihukum, hukumannya cenderung ringan.
Dalam semester I tahun 2009, dari 199 perkara dan 222 terdakwa korupsi yang H dan
diputus di pengadilan umum, mulai dari pengadilan negeri, pengadilan tingg1* 60 Mahkamah
Agung yang terpantau ICW, 153 terdakwa divonis bebas. Hanya 69 terdakwa bersalah; banyak
terdakwa yang divonis di bawah satu tahun penjara. Demikian diungkap _ Koordinator Divisi
Hukum dan Monitoring ICW Illian Deta Arta Sari, Rabu 5 Agustus di Jakarta.

Dari pengamatan ICW, ada lima pengadilan yang paling banyak membebaskan terdakwa
korupsi, yakni PN Makasar (38 terdakwa), Mahkamah Agung (13 terdakwa), PN Gresik (9
terdakwa), PN Manado (8 terdakwa), dan PN Solo (8 terdakwa).
Di Pengadilan Tipikor keadaannya berbeda. Pada semester 1-2009, dari 29 perkara dengan 32
terdakwa yang diperiksa dan diputus, tidak ada satu pun yang divonis bebas. Semua terdakwa
divonis bersalah. Pengadilan Tipikor juga tak pernah menjatuhkan vonis percobaan atau di bawah
satu tahun penjara. Rata-rata divonis di atas empat tahun. Demikian kata Febri Diansyah, peneliti
ICW.
Pantauan ICW yang menemukan bahwa hakim karier banyak membebaskan terdakwa korupsi
tidak membuat kaget ahli hukum dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Muhammad Jamin.
Karena kinerja peradilan umum tidak maksimal dalam menangani kasus korupsi, Pengadilan
Tipikor dibentuk, katanya. Namun, diakuinya, banyak faktor yang membuat terdakwa korupsi
dibebaskan di pengadilan umum.

CATATAN KAKI
1

Theodorus M. Tuanakotta, Profesi Auditing di Sektor Swasta dan Publik mendukung Demokrasi
Ekonomi dan Politik dalam Economics Business Accounting Review, Edisi II/April 2006, him. 24.
2
Ibid., him. 23.
3
ForBes APIP, Laporan Tahunan 2004.
Ungkapan Power tends to corrupt and absolutpower tends to corrupt absolutely dikutip dari surat Lord
Acton (John Emerich Edward Dalberg-Acton) kepada Bishop Mandell Creighton, tanggal 5 April 1887.
Mingguan Time tanggal 17 April 2006 (halaman 17) menulis tentang Raja Bhumibol Adulyadej dan
pengunduran diri PM Thaksin Shinawatra sebagai berikut.
Thailands constitutional monarch He rarely expresses his views on political issues. But he is deeply
revered by Thais, so government leaders often turn to him for guidance. Thaksin cited the June
celebrations of the Kings 60 years on the throne as a key reason to end the political stalemate.
Some protest leaders have called on the King to name a new Prime Minister.

Diambil dari Indonesia Corruption Watch, Evaluasi Setahun Pemerintahan SBY-j^n Oktober 2004-20
Oktober 2005), terbitan tahun 2005 (http://www.antikorupsi
i i ia

tfflOcjI

satutahunsby.paj).
Go
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Abdul Hakim Ritonga berpendapat W | Tim Pemburu
Koruptor yang mencari tersangka dan terpidana korupsi, lebih te j dijabat Jaksa Agung Muda Tindak Pidana
Khusus dan Jaksa Agung Muda Intelie Mereka harus memiliki latar belakang dalam menangani perkara
korupsi. Dua wak Jaksa Agung sebelumnya menjabat ketua tim pencari tersangka dan terpidana korup^
[Sumber: Harian Kompas, 10 Agustus 2009].
12
Diadaptasi dari presentasi Drs. Amien Sunaryadi dalam kuliah Akuntansi Forensik di Program Maksi UI tahun
2005.
13
Lihat
tulisan Patrick Meagher dan Caryn Voland (dari IRIS Center, University of Maryland) untuk United
States Agency for International Development (USAID), Anti- Corruption Agencies: Office of Democracy and
Governance Anticorruption Program Brief, Juni 2006.
Jon S. T. Quah, Presentation at the Friedrich Egbert Stiftung Workshop on Curbing Corruption in
Southeast Asia: A Workshop for Parliamentarians (Manila, 26-28 September 2005).
Sumber KPK, dikutip dari harian Kompas, 20 Januari 2010.
Patrick Meagher dan Caryn Voland, Anti-Corruption Agencies: Office of Democracy and Governance
Anticorruption Program Brief
Bank Dunia (World Bank) menerbitkan studi ini dalam dua bahasa. Kutipan disini diambil dari edisi bahasa
Indonesianya yang berjudul Memerangi Korupsi di Indonesia; Memperkuat Akuntabilitas untuk
Kemajuan. Pembaca yang mengalami kesulitan dengan bahasa Indonesia yang dipakai dalam edisi ini,
dapat menggunakan edisi bahasa Inggrisnya Combating Corruption in Indonesia: Enhancing
Accountability for Development Lihat Bank Dunia, Memerangi Korupsi di Indonesia: Memperkuat
Akuntabilitas untuk Kemajuan, him. 86-97.
18 Diambil dari beberapa sumber, utamanya situs Web BPKP.
19 Penulis menelusuri regerings accountantsdienst yang disebut dalam situs Web BP ke arsip-arsip Hindia
Belanda yang tersedia di Internet. Ada dua hal yang ditemukan. Pertama, istilah yang dipakai adalah
gouvernements accountantsdienst dan bukan regennp accountantsdienst, meskipun maknanya sama. Kedua,
surat putusan (besluit) yangdibo*1 Gubernur Jenderal Hindia Belanda dikeluarkan tahun 1941 dan bukan
1936.
Di bawah ini Penulis mengutip dan menerjemahkan arsip tersebut:
Gouvernements accountantsdienst-Deze dienst is feitelijk een dienst van de Indische It Regering.
oktober 1941 Gouvernementsbesluit van 8 oktober 1941 M- opgericht bij besluit van de GouverneurGeneraal van Nederlands-Indie.

Nederla^'

In

(Dinas Akuntan Pemerintah {gouvernements accountantsdienst)-Dims ini sesungP ^ merupakan dinas dari
Pemerintah Hindia Belanda sebagaimana dimuat dalam Pemerintah (gouvernements-besluit) tanggal 8 Oktober
1941 nomor lzyangdi*1 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Dari John Bartlett, Bartlett's Familiar Quotations, Sixteenth Edition yang mengutip dari khotbah Theodore
Parker di Music Hall, Boston, tanggal 4 Juli 1854. William Herndon dalam bukunya Abraham Lincoln, mencatat
bahwa Lincoln menggarisbawahi khotbah Parker ini. Ungkapan dalam khotbah Parker itu kemudian dikenal
sebagai ucapan Lincoln.

Bab 5Tatanan
Kelembagaan

20

Forbes APIP, op.cit.

21

ANTARA News, 29 Maret 2008.

22

Seputar Indonesia, 28 Maret 2008.


23 Pentingnya

kebebasan pers terlihat dari berita di mingguan Tempo tanggal 16 April 2006 halaman 108:

Kenya
Bank Dunia Dukung Kebebasan Pers
Bank Dunia menambahkan syarat adanya kebebasan pers dalam daftar yang harus dipenuhi Kenya untuk
mendapatkan bantuan. Direktur Bank Dunia untuk Kenya, Eritrea, dan Somalia, Collin Bruce, pekan lalu
menyatakan akan membekukan bantuan lebih dari US$265 juta jika pemerintah masih menyerang dan
membatasi media massa. Saat ini media massa di Kenya menyorot korupsi di berbagai sektor kepentingan
publik.
Ada 30 polisi dan milisi menembaki kantor koran dan station TV milik Kelompok Standard. Media
itu telah memberitakan kasus-kasus korupsi para pejabat publik. Diberitakannya, persetujuan kredit dari
Bank Dunia senilai US$145 juta yang dikucurkan pada Januari lalu telah dikorupsi. Akibatnya, sisa dana
lain yang lebih besar dibekukan Bank Dunia sampai pemerintah Kenya berjanji akan membuka keran
kebebasan pers.

Dalam wawancara dengan Tempo (23 April 2006), Direktur Utama Bank Dunia, Paul Wolfwitz,
mengatakan, Sejujurnya kami dapat menunjukkan, di negara-negara yang memiliki pers yang bagus,
tingkat korupsinya rendah.

Bab 5Tatanan
Kelembagaan

Diterjemahkan bebas dari kutipan dalam John Bartlett, Bartletts Familiar Quotations, Sixteenth
Edition.
8
Harian Kompas, 22 Juli 2009.
Eep Saefulloh Fatah, Sembilan Potensi Kekeliruan Yudhoyono, harian Kompas, Selasa, 18
Agustus 2009.

Anda mungkin juga menyukai