Anda di halaman 1dari 13

Kontraksi Sumasi dan Tetani

Sumasi merupakan penjumlahan kontraksi kedutan otot (twitch) untuk


meningkatkan kontraksi otot. Pada umumnya sumasi terjadi melalui 2 cara
yaitu:
1. Dengan meningkatkan motor unit motorik yang berkontraksi secara
serentak
2. Dengan cara meningkatkan kecepatan kontraksi tiap motor unit
Sumasi kontraksi ada dua macam :
1.

Sumasi temporal
Disebut juga sumasi gelombang karena bentuknya seperti gelombang.
Sumasi temporal dapat terjadi dengan cara mengubah interval rangsangan
(waktu istirahat antara rangsangan pertama dan kedua diperpendek
sehingga rangsangan kedua tepat saat kontraksi pertama akan relaksasi).
Akibatnya kontraksi pertama dan kedua bersatu menjadi satu kontraksi yang
lebih besar (sumasi kontraksi).

2.

Sumasi spasial
Disebut juga multiple motor unit summation karena pertambahan
besar/amplitudo kontraksi akibat pertambahan intensitas rangsangan.
Dengan meningkatkan intensitas rangsangan maka makin banyak motor unit
yang terangsang, akibatnya kontraksi akan semakin besar.
Pada umumnya sumasi dapat terjadi dengan cara meningkatkan jumlah unit
motorik yang berkontraksi secara serentak dan dengan meningkatkan
kecepatan kontraksi tiap unit motorik.

Kontraksi Somasi dan Kontraksi Tetani


Kontraksi somasi merupakan hasil kekuatan kontraksi otot setelah adanya rangsangan yang
mengalami relaksasi sempurna. Sedangkan kontraksi tetani dibagi menjadi dua yakni kontraksi
tetani bergerigi dengan kontraksi tetani lurus. Kontraksi tetani bergiri ialah pertambahan panjang
kekuatan kontraksi otot yang sempat mengalami relaksasi sempurna yang kemudian dirangsang
kembali. Sedangkan kontraksi tetani lurus merupakan pertambahan kontraksi otot setelah

dirangsang yang tidak mengalami relaksasi sempurna sehingga terbentuk diagram pada kertas
kimograf berupa garis lurus.
1. Jelaskan perbedaan antara rangsangan liminal dan nilai ambang!
Jawaban :
Rangsangan liminal
: Rangsangan terkecil yang dapat menimbulkan
potensial aksi (menggambarkan kontraksi otot terkecil) karena mencapai nilai ambang
sehingga menyebabkan otot dapat berkontraksi
Nilai ambang
: Nilai minimal yang dibutuhkan
untuk menimbulkan
potensial aksi. ( Ganong: hal 52)
2. Jelaskan perbedaan antara rangsangan maksimal dan supramaksimal!
Jawaban :
Rangsangan maksimal

: Rangsangan terkecil yang dapat mengaktifkan semua serat


saraf untuk menimbulkan potensial aksi maksimal.
Rangsangan supramaksimal : Rangsangan dengan intensitas lebih tinggi dari rangsangan
maksimal tetapi kekuatan yang dihasilkan sama dengan rangsangan maksimal.
3. Jelaskan perbedaan antara kontraksi maksimal dan supramaksimal!
Jawaban :
Kontraksi maksimal adalah kontraksi otot yang paling besar atau paling tinggi nilainya.
Kontraksi maksimum terjadi bila terdapat tumpang tindih maksimum antara filament aktin dan
jembatan penyebrangan filament myosin.
(Guyton, 1997)
Kontraksi supramaksimal adalah kontraksi yang memiliki besar yang sama dengan kontraksi
maksimal. Hal ini disebabkan karena semua saraf telah diaktifkan, sehingga tidak bisa memiliki
besaran yang lebih besar lagi.
Beda kontraksi maksimal dan kontraksi supramaksimal terletak pada besarnya intensitas
rangsangan tetapi tidak ada perbedaan pada kekuatan atau besarnya kontraksi yang
ditimbulkan.
4. Jelaskan hubungan antara hukum All or None dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
praktikum ini!
Jawaban :
Otot mempunyai hukum All or none law hukum berlaku untuk 1 serabut otot, artinya bila 1
serabut otot dirangsang, maka akan berkontraksi bila rangsangnya lebih besar dari nilai ambang
rangsang, otot tidak berkontraksi bila nilai rangsangnya lebih kecil dari ambang rangsang. Ketika

otot dirangsang maksimal maka keseluruhan serabut saraf akan langsung aktif sehingga akan
berkontraksi langsung seluruhnya. Pada otot rangka tidak terjadi hukum ini, hal ini dibuktikan
dengan rangsangan liminal sehingga rangsangan maksimal yang menunjukkan angka berbedabeda. Hukum ini hanya dapat bekerja pada otot polos dan otot jantung saja.
Jadi pada percobaan ini, jika nilai rangsang pada otot katak tidak lebih besar dari nilai ambang
rangsangnya maka tidak akan terjadi kontraksi
5. Bandingkan dan beri penjelasan mengenai perbedaan antara kontraksi after loaded dengan
kontraksi preloaded!
Jawaban :
Pada beban yang sama, kontraksi afterloaded menunjukkan kontraksi yang lebih panjang (cm)
dari pada kontraksi preloaded misal dengan beban 25-55 gram, tetapi menunjukkan kontraksi
yang lebih pendek pada beban 15 gram. Kontraksi afterloaded sudah tidak berkontraksi lagi pada
beban 65 gram, sedangkan kontraksi preloaded masih berkontraksi .
Pre loaded adalah penetapan derajat regangan otot ketika otot mulai berkontraksi. (Guyton ,
2007). Otot teregang sebelum kontraksi.
After loaded adalah penetapan beban yang dilawan oleh kontraksi otot.
(Guyton, 2007). Otot tidak teregang sebelum kontraksi. Peregangan diberikan pada saat otot
berkontraksi.
6. Jelaskan perbedaan antara summation contraction dengan tetanic contraction!
Jawaban :
Sumasi merupakan penjumlahan kontraksi kedutan otot untuk meningkatkan intensitas
keseluruhan kontraksi otot. Pada umumnya sumasi terjadi melalui 2 cara yaitu: dengan
meningkatkan jumlah unit motorik yang berkontraksi secara bersama-sama, yaitu sumasi serabut
multipel dan dengan meningkatkan frekuensi kontraksi yang sering disebut sumasi frekuensi dan
dapat menimbulkan tetani.
Sumasi serabut motori : Otot skelet terdiri dari banyak unit motorik dan masing-masing unit
motorik memiliki kepekaan atau nilai ambang yang berbeda tergantung pada besar-kecilnya
serabut otot penyusunnya. Apabila SSP mengirim sinyal yang lemah untuk menimbulkan
kontraksi, yang lebih sering terangsang adalah unit motorik dengan serabut otot yang kecil

dibanding dengan serabut otot yang besar. Kemudian, dengan penambahan sinyal maka semakin
banyak unit motorik yang ikut terangsang. Penyebab perbedaan respons masing-masing unit
motorik adalah besar kecilnya serabut saraf motori yang menginervasinya. Jadi, kedutan otot
(kontraksi maksimum keseluruhan otot) akan terjadi saat intensitas stimulus cukup untuk seluruh
serabut.
Sumasi frekuensi dan tetanisasi : sumasi yang terjadi pada otot skelet itu bergantung pada
seberapa besar frekuensi perangsangan yang menimbulkan komtraksi. Pada frekuensi rendah,
otot itu dapat melakukan kontraksi dan relaksasi secara sempurna. Namun, dengan adanya
peningkatan frekuensi rangsangan, maka kontraksi baru akan muncul sebelum kontraksi
terdahulu berakhir. Sebagai akibatnya, sebagian kontraksi yang kedua akan ditambahkan pada
kontraksi pertama sehingga kekuatan kontraksi total meningkat secara progresif bersama dengan
peningkatan frekuensi. Bila frekuensi mencapai titik kritis, terjadilah kontraksi yang begitu cepat
tanpa relaksasi sehingga pada kontraksi-kontraksi tersebut benar-benar menyatu dan tampak
sebagai garis lurus dalam grafik yang terbaca dalam paktikum. Inilah yang disebut tetani yang
sempurna. Apabila penambahan frekuensi tetap dilanjutkan, maka tidak ada pengaruhnya bagi
peningkatan daya kontraksi otot lebih lanjut.
7. Bagaimana caranya untuk mendapatkan kontraksi tetani bergerigi (incomplete tetanic
contraction) dan kontraksi tetani lurus (complete tetanic contraction)?
Jawaban :
Kontraksi tetani adalah kontraksi yang terjadi jika frekuensi stimulus meningkat melebihi batas
relaksasi otot, dimana kontraksi akan bergabung menjadi kontraksi yang panjang dan kuat. Tetani
sebagian disebabkan karena sifat-sifat liat otot dan sebagian dari kenyataan bahwa keadaan
aktivitas serat otot pulsatil yang banyak bergabung menjadi keadaan aktivasi kontinu yang lama.
Tetani ada dua macam:
1. Tetani bergerigi, didapatkan bila intensitas frekuensi lebih kecil sehingga otot masih dapat
berelaksasi yang kemudian disambung dengan kontraksi lagi.
2. Tetani lurus, didapatkan bila intensitas yang lebih besar dan cepat sehingga tidak memberi
kesempatan untuk berelaksasi.
8. Mengapa digunakan rangsangan maksimal untuk menimbulkan kontraksi tetani?
Jawaban :

Karena pemberian rangsangan maksimal akan menyebabkan otot berkontraksi secara maksimal
pula, akibat dari berkontraksinya semua unit motor. Sehingga kontraksi tetani dapat dicapai
dengan cepat.

KONTRAKSI OTOT POLOS (SMOOTH MUSCLE)


LAMBUNG KATAK
Sel otot polos berbentuk gelendong mempunyai diameter 2-5 micron dan panjangnya 60-200
micron.
Ada dua tipe otot polos :
1. Multi unit smooth muscle
2. Visceral unit smooth muscle

1. Otot olos Multi Unit (Multi Unit Smooth Muscle)


Masing-masing serat berdiri sendiri, diinervasi oeh single nerve ending seperti pada otot skelet
(skeletal muscle fiber). Pada permukaan luar dari tiap serat otot ditutup oleh lapisan yang disebut
basement membrane like substance, yang merupakan glukoprotein.
Sifat otot ini yang paling penting ialah bahwa kontraksi mereka hampir seluruhnya kaena
rangsangan saraf dan sangat sedikit oleh faktor stimulasi dari local tissue. Pada otot ini tidak
terjadi kontraksi yang spontan.
Contoh :
-

Otot ciliary dari mata.

Iris dari mata.

Nictating membran yang menutup mata dari beberapa binatang tingkat rendah.

Pilo erector muscle : meyebabkan berdirinya rambut.

Otot-otot polos dari pembuluh-pembuluh darah besar.

1. Otot Polos Visceral (Visceral Smooth Muscle)


Sel-sel otot ini terletah berhimpitan satu sama lain, dimana membran antara sel-sel berdekatan
saling berlekatan seluruhnya atau sebagian, oleh karenanya tipe ini disebut unitary smooth
muscle.
Contoh:
-

Dinding alat pencernaan makanan

Saluran empedu

Ureter

Uterus

Membran potensial otot polos besarnya bervariasi, berkisar antara 55 sampai 69 milivolt.
Potensial aksi dari visceral smooth muscle ada 2 macam yaitu:
1. 1. Spike potential
2. Action potential dengan plateau

Potensial aksi dapat terjadi dengan beberapa jalan:


1. Oleh hormon pada smooth muscle.
2. Efek hormon pada smooth muscle.
3. Transmitter substance dari serat saraf.
4. Terjadi secara spontan dalam muscle fiber itu sendiri.
Action potential sebagian besar terjadi pada smooth muscle itu sendiri tanda ada extrinsic
stimulus. Ini biasanya dihubungkan dengan suatu basic slow wave rhythm dari membrane
potential. Slow wave itu sendiri bukan suatu action potential. Tetapi apabila slow wave tersebut
meningkat mencapai nilai ambang (kira-kira 35 milivolt), suatu action potential akan timbul dan
meyebar ke seluruh bagian dari visceral smooth muscle, hingga kemudian terjadi kontraksi.
Karena itu slow waves sering disebut pula sebagai gelombang pace maker.
Masalah

Bagaimanakah pengaruh substansi adrenergic dan cholinergic yaitu obat : asetilkolin , adrenalin,
pilokarpin, sulfas atropin terhadap komponen kontraksi : frekuensi, amplitudo, maupun tonus
pada otot polos lambung katak (visceral smooth muscle) in-vitro.
Tujuan
Mengukur dan mengetahui pengaruh substansi adrenergic dan cholinergic yaitu obat :
asetilkolin, adrenalin, pilokarpin, sulfas atropin terhadap komponen kontraksi : frekuensi,
amplitudo ataupun tonus pada otot polos lambungkatak (visceral smooth muxcle) in-vitro.
1. II. METODE KERJA
Alat
1. Kimograf
2. Kertas pencatat (milli meter block)
3. Tabung perendam lambung
4. Benang
5. Penulis tanda kontraksi
6. Gunting
7. Pisau bedah (scalpel)
8. Pinset
9. Penusuk otak/medulla spinalis
10. Papan katak
Bahan
1. Lambung katak
2. Obat-obatan yang akan diukur efek adrenergik atau kolinergiknya
a. adrenalin

0,01%

b. asetilkolin

0,50%

c. sulfas atropin

0,01%

d. pilokarpin

0,50%

1. Larutan thyrode
Larutan thyrod ini komposisinya (NaCl, KCl, MgCl 2, NaHCO3, NaH2PO4, glukosa, dan
aquadest) mendekati komposisi cair tubuh katak. Dalam praktikum ini larutan thyrode
difungsikan untuk merendam lambung katak.
Tata Kerja
1. Siapkan sediaan otot polos lambung katak.
2. Ikatlah bagian pylorus lambung katak sedistal mungkin dan bagian cardia seproximal
mungkin dengan benang, kemudian potonglah bagian pylorus di sebelah distal dari
ikatan, dan potonglah bagian cardia disebelah proximal dari ikatan.
3. Angkatlah dengan segera potonglah lambung tersebut dan masukkan ke dalam larutan
thyrode dalam tabung peredam supaya lambung tersebut tidak sampai rusak.
4. Sebelum lambug tersebut dimasukkan dalam tabung perendam, larutan thyrode tersebut
dialiri dengan oksigen dengan kecepatan optimal (jangan terlalau besar atau terlalu kecil).
5. Ikatlah ujung cardia pada kait dalam tabung peredam, sedang ujung pylorus dihubungkan
dengan benang pada penulis, hingga percobaan pencatatan gerakan gerakan lambung
bisa dimulai.
6. Catatlah gerakan lambung yang normal sebanyak kira-kira 10 kali kontraksi sambil
memperhatikan frekwensi, amplitudo serta tonusnya setiap akan mengawali pengamatan
terhadap pengaruh suatu obat / bahan. Setelah itu mulailah menyelidiki pengaruh
beberapa macam obat-obatan terhadap kontraksi otot polos lambung.
7. Teteskanlah 3 tetes adrenalin kedalam tabung peredam dan catatlah pada kimograf
pengaruh obat tersebut terhadap kontraksi lambung. Apabila pengaruhnya kurang nyata,
teteskan lagi setiap kali 3 tetes, hingga terlihat jelas efeknya.
8. Setelah cukup mempelajari pengaruh suatu macam obat, cucilah lambung katak tersebut
dengan jalan mengganti cairan didalam tabung peredam dengan cairan thyrode yang baru
(dicuci sampai 2 kali).
9. Kerjakanlah hal tersebut diatas dengan obat-obat: asetilkolin, sulfas atropin dan
pilokarpin.
1. III. Hasil
PERLAKUA PENGAMATAN EFEK OBAT
N

Jenis Obat
Normal
(Kontrol)
Asetilkolin
Adrenalin
Pilokarpin
Sulfas
Atropin

Frekuensi(kontrak Amplitudo(millimete Tonus(naik/tetap/turu


si per menit)
r)
n)
2
3
Tetap
7 / 19
0
3
5/3

3
0
4
2

Naik
Turun
Naik
Turun

1. IV. PEMBAHASAN
Diskusi Hasil
Sifat-sifat otot polos pada keadaan normal adalah:
a)

Rythmicity : terjadinya kontraksi secara ritmis dari otot polos tanpa rangsangan dari luar.

b)
Tonik Kontraksi : otot polos mempunyai tonus tertentu baik dalam keadaan relaksasi
maupun kontraksi. Otot polos dapat mempertahankan keadaan tetap berkontraksi dalam jangka
waktu lama.
c)
Plasticity : pada otot polos visceral pada panjang yang sama bisa memiliki tonus yang
berlainan.
Pada keadaan normal (kontrol) :
Dalam keadaan normal, di mana lambung katak direndam di dalam larutan thyrode, gambaran
kontraksinya menunjukkan tonus yang tetap. Pada pencatatan grafik kontraksi, tampak garis
lurus-lengkung-lurus-lengkung yang cukup teratur dan tetap dalam jangka waktu yang cukup
lama. Tinggi tonus (amplitudo) antara satu lengkung dan lengkung yang lain rata-rata sama
panjang, meski tidak benar-benar tepat sama panjang. Ini menunjukkan adanya sifat plasticity.
Dan panjang amplitudo yang didapatkan sekitar 3 mm. Frekuensi normal yang diperoleh adalah
2 kontaksi per menit. Keadaan normal ini diciptakan dengan tanpa memberi rangsangan dari luar
(belum diberi rangsangan dari substansi adrenergik maupun cholinergik).
Pemberian Asetilkolin :
Dari hasil percobaan didapatkan proyeksi grafik kontraksi dengan tonus yang semakin lama
semakin naik. Amplitudo yang didapatkan hampir sama dengan amplitudo pada saat kondisi
normal (kontrol), yakni kurang lebih 3 mm. Frekuensi yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan
frekuensi kondisi normal.
Asetilkolin bersifat meningkatkan kontraksi karena :

Asetilkolin memberikan efek menurunkan potensial membran, menaikkan frekuensi


spike,sehingga rythmicity meningkat.
-

Meningkatkan kontraksi ritmik dan tonik yang menaikkan tonus asetilkolin.

Kerja identik dengan rangsangan parasimpatik.

Pemberian asetilkolin mengakibatkan potesial membran menurun sehingga permeabilitas


terhadap ion naik, maka terjadilah kontraksi akibat adanya relaksasi.
Pemberian Adrenalin :
Dengan pemberian adrenalin, proyeksi kontraksi otot polos lambung katak menunjukkan garis
mendatar yang semakin lama semakin menurun meski dengan kemiringan yang tidak begitu
tajam. Hal ini menunjukkan bahwa tonusnya dalah turun. Dengan diperolehnya garis mendatar
ini pula, tidak dapat dilihat amplitudo nya, sehingga dapat dikatakan amplitudo sama dengan 0
(nol), demikian halnya dengan frekuensi yang diperoleh.
Adrenalin adalah salah satu golongan epinefrin sehingga menurut teori bersifat :
-

Menurunkan frekuensi potensial spike dan otot menjadi lebih rileks.

Meningkatkan potensial membran.

Bekerja identik dengan rangsangan simpatis.

Efek adrenalin berlawanan dengan asetilkolin.

Adrenalin bersifat simpatis yang mengakibatkan relaksasi pada otot polos visceral dimana
pemberian adrenalin mengakibatkan potensial membran meningkat sehingga permeabilitas
terhadap ion turun sehingga otot lebih rileks. Dalam percobaan yang telah dilakukan didapatkan
hasil yang sesuai dengan teori.
Pemberian Pilokarpin :
Pemberian pilokarpin mengakibatkan frekuensi menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan
frekuensi pada keadaan normal. Tonus yang dihasilkan adalah tonus naik. Dari pengukuran
panjang amplitudo garis proyeksi kontraksinya juga diperoleh panjang amplitudo yang lebih
besar daripada amplitudo pada kondisi normal.
Pilokarpin menaikkan tonus otot polos karena :
-

Menurunkan potensial membran.

Frekuensi potensial spike meningkat.

Ritme kontraksi dan tonus meningkat.

Pilokarpin identik dengan rangsangan parasimpatis.

Pilokarpin memiliki fungsi sama dengan asetilkolin, tapi bekerja lebih lama daripada
asetilkolin, karena tak begitu cepat dirusak oleh enzim achethylcholinnesrterase.
Obat ini dapat menimbulkan efek parasimpatik yang khusus dan bekerja langsung pada reseptor
cholinergic tipe muskarinik.
Pemberian Sulfas Atropin :
Dari hasil percobaan terakhir ini, didapatkan panjang amplitudo yang lebih kecil daripada
amplitudo pada kondisi normal. Frekuensinya lebih cepat dibandingkan dengan frekuensi kondisi
normal. Frekuensi ini tidak sesuai dengan teori. Tonus yang dihasilkan adalah tonus turun.
Sulfas Atropin menurunkan kontraksi otot polos sebab :
-

Memperbesar potensial membran

Menurunkan frekuensi potensial spike.

Otot menjadi rileks.

Bersifat identik dengan rangsangan simpatik.

Sulfas atropin merupakan obat yang dapat menurunkan kontraksi otot polos. Sulfas atropin
termasuk acethylcholine competitive inhibitor substance / obat anti muskarinik. Cara kerjanya
menghambat kerja asetilkolin pada organ efektor cholinergic tipe muskarinik.
Diskusi Jawaban Pertanyaan
1. Pada praktikum kontraksi otot polos lambung katak ini tidak digunakan larutan Ringer
melainkan larutan thyrode karena larutan Thyrode mempunyai komposisi berupa NaCl,
KCl, MgCl2, NaHCO3, NaH2PO4, glukosa dan aquadest. Sehingga larutan tersebut
memiliki komposisi yang mendekati komposisi cair tubuh.
1. Bila posisi cardia diletakkan di bagian atas (berhubungan dengan penulis otot), maka
kontraksi tidak akan terjadi karena sphincter cardia akan terbuka jika diatasnya terdapat
tahanan. Jadi, jika posisi lambung dibalik, maka lambung seolah-olah terbuka dan tidak
ada tahanan sehingga tidak terjadi kontraksi.
1. Pengaruh asetilkolin :
Asetilkolin memberikan efek menurunkan potensial membran, menaikkan frekuensi
spike,sehingga rythmicity meningkat.

Meningkatkan kontraksi ritmik dan tonik yang menaikkan tonus asetilkolin.

Pengaruh adrenalin :
-

Menurunkan frekuensi potensial spike dan otot menjadi lebih rileks

Meningkatkan potensial membran.

Bekerja identik dengan rangsangan simpatis.

Efek adrenalin berlawanan dengan asetilkolin

Pengaruh pilokarpin :
-

Menurunkan potensial membran.

Frekuensi potensial spike meningkat

Ritme kontraksi dan tonus meningkat

Pilokarpin identik dengan rangsangan parasimpatis

Sulfas Atropin menurunkan kontraksi otot polos sebab :


-

Memperbesar potensial membran

Menurunkan frekuensi potensial spike

Otot menjadi rileks


1. Pengklasifikasian :
1. Obat kolinergik

adrenergik

sulfat atropin
1. Obat adrenergik

asetilkolin

pilokarpin
1. V. KEPUSTAKAAN

Guyton, Arthur C.1997.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed 17.AGC: Jakarta