Anda di halaman 1dari 47

MOTTO:

INRESIA BONNONG KEBO MATTAKKE PURA KADA, DOTAI JAPPO


ANNA KABORO BORO
(DISINI BENANG PUTIH YANG KENTAL YANG SUDAH DIKUATKAN,
LEBIH BAIK HANCUR DARI PADA DUSTA)

PRINSIP HIDUP TODAKKA KASERA


1. PERCAYA KEPADA TUHAN
2. MENGIKUTI PEMIMPIN
3. KERJA KERAS
4. JUJUR
5. TIDAK SOMBONG
6. BERTANGGUNG JAWAB
7. BERSIH HATI, PIKIRAN, DAN TUBUH
8. MEMILIKI RASA MALU
9. SABAR DAN TAWAKKAL DALAM MENJALANI
HIDUP

DI

DUNIA

AKHIRAT.
)

MENUJU

KEHIDUPAN

FILSAFAT PEMIMPIN
1. PAKALABBII

TAU

NAMUALAI

ATENA

NAMONYOMONG MUATORO (MULIAKANLAH


MANUSIA AMBIL HATINYA DAN MUDAHLAH
KAMU PERINTAH)- SUKU DAKKA.
2. KARAENGANGI TAUWA PUNNA EROK NUATAI
(MULIAKANLAH ORANG JIKA KAMU HENDAK
MEMERINTAHNYA)- SUKU MAKASSAR

LAGU DAERAH 1 :

URONG URONG TOMPOKKO MAI


ANNA JAJI PARENA
TOMATTONRO TONRO TUA
TOLIMPORO TODAKKA

LAGU DAERAH 2 :

CUA-CUA DEDEH
UMBE NAOLA
INRONA DAS
PUANA DAS
LAUTITTAI
APA NABAWA
KAJU TUNO
NAPAI KAJU TUNU
LAKAJJUADEDEH

Suku Dakka
Di Sulawesi Barat

(Eksistensi Suku Todakka)lewali Mamasa (Polmas) yang kini berubah nama menjadi
Polewali Mandar (Polman) ternyata banyak dihuni oleh beberapa suku. Selama ini
masyarakat luar hanya mengenal suku Mandar di daerah Sulawesi Barat, tetapi setelah
ditelusuri secara mendalam, ternyata di daerah Polman telah banyak ditemui suku
bangsa di daerah itu, diantaranya adalah suku Todakka, suku Pannei dan suku Pattae.
Ketiga jenis suku bangsa yang berada di daerah Polman itu masing-masing memiliki
bahasa yang berbeda dengan suku Mandar.

Seperti halnya kata besar dalam bahasa

Mandar disebut Kayyang, dalam bahasa Todakka disebut Katongko. Demikian pula kata
Makan, dalam bahasa mandar disebut mande dan dalam bahasa Todakka disebut
kumanre.
Adanya perbedaan bahasa itulah menguatkan asumsi bahwa suku Todakka memang ada
sejak zaman nenek moyang dulu bersamaan lahirnya suku-suku bangsa di nusantara ini,
termasuk suku Mandar.
Suku Todakka yang banyak mendiami daerah Kabupaten polman (Kecamatan Tapango,
Wonomulyo dan Kecamatan Matakali), Majene, mamuju, mamasa, mamuju utara sampai
ke negeri jiran Malaysia, Singapura, Brunai, Banlades, India, bahkan sampai Ketimur
Tengah dan Benua Amerika dan Eropa. Kini sudah banyak bercampur baur dengan sukusuku lainnya di nusantara ini, seperti suku mandar, Bugis, Makassar, Toraja, Jawa dan
masih banyak suku lainnya yang kawin mawin dengan suku Todakka. Dari perkawinan
beda suku itulah, membuat suku Tidakka makin kehilangan jati diri. Anak yang lahir dari

perkawinan antar suku inilah banyak yang tidak kenal suku aslinya, yakni Todakka, yang
mereka tahu selama ini adalah suku Mandar, Bugis dan suku lainnya yang selama ini
banyak muncul di masyarakat.
Kurangnya masyarakat Todakka yang mengakui dirinya sebagai suku Todakka, bukan
berarti suku Todakka makin berkurang, tetap saja bertambah sama dengan perkembangan
suku-suku lainnya, hanya saja dalam perkembangan zaman, suku Todakka

makin

tenggelam dengan suku-suku lainya. Orang Todakka kawin dengan suku Mandar, maka
yang ditonjolkan adalah suku Mandarny, demikian halnya dengan suku lainnya. Hal
seperti itulah, membuat suku Todakka kehilangan jati diri.
Saat daerah di Sulawesi Barat bergabung dengan Sulawesi Selatan, di Sulawesi Selatan
hanya dikenal empat suku bangsa yang mendiami Sulawesi Selatan, yakni suku
Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja, sedangkan suku lainnya yang penduduknya relative
kecil mulai tenggelam dan tidak pernah disebut dipermukaan.
Tenggelamnya suku-suku kecil di permukaan di daerah Polewali mandar maupun di
Sulawesi Barat umumnya, membuat generasi yang lahir belakangan ini, tidak mengenal
lagi suku aslinya, yakni suku Todakka, yang mereka tahu adalah suku Mandar. Demikian
halnya bahasa daerah sehari-harinya, mereka kebanyakan menggunakan bahasa Mandar,
sedangkan bahasa Todakka terasa asing baginya, walaupun mereka tahu artinya, tapi tak
mampu mengucapkannya. Kondisi seperti inilah membuat budaya suku Todakka dimasa
datang akan lenyap di permukaan.
Namun

begitu,

hingga kini masih banyak orang-orang tua di

daerah Kecamatan

Tapango, Matakali, Wonomulyo, mapilli yang memelihara budaya Todakka. Mereka tak
mau dikatakan suku Mandar,

dan lebih

bersemangat bila disebut suku Todakka.

Demikian halnya dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Todakka. Walaupun


anak-anak mereka dari suku Todakka ini, lebih kental berbahasa mandar ketimbang
bahasa Todakka. Inilah salah satu ancaman hilangnya budaya Todakka dimasa datang.
H. Salamun, salah seorang pemuka suku Todakka mengatakan, bahwa suku Todakka
sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu, bersamaan lahirnya suku-suku bangsa di
nusantara ini, namun dalam perkembangannya, suku Todakka seakan tenggelam sebagai
akibat dari kebijakan Pemerintah yang hanya memperkenalkan 4 macam suku bangsa di
Sulawesi selatan dulu, yakni suku Makassar, Bugis , Mandar dan Toraja. Padahal , kata
H. Salamun, suku kecil di Sulawesi Selatan memiliki latar belakang bahasa dan budaya
yang berbeda dengan suku lainnya. Inilah yang membuat, banyak suku kecil di daerah
Mandar tetap bertahan, seperti halnya dalam berbahasa Todakka, para orang-orang tua
Todakka masih tetap melestarikannya, tetapi bagi generasi muda, sudah banyak yang
melupakannya dan lebih cenderung ke bahasa Mandar.
Menelusuri beberapa daerah pedesaan di kecamatan Tapango, Wonomulyo dan Matakali,
nampaknya masih banyak warga, khususnya orang-orang tua yang masih memelihara
budaya Todakka, khususnya menyangkut bahasa Todakka. Sesama orang tua Todakka,
mereka lebih cenderung berbahasa Todakka, namun bagi anak-anak mereka yang sudah
terkontaminasi dengan budaya Mandar dan budaya lainnya, mereka merasa asing dengan
bahasa daerahnya sendiri.
Para generasi Todakka sekarang, mereka hanya tahu bahwa Todakka adalah bagian dari
suku Mandar, sehingga bahasa daerah yang dikenalnya hanya bahasa Mandar, sedangkan
bahasa Todakka yang merupakan bahasa asli nenek moyangnya, terlupakan begitu saja.

Mereka beranggapan, bahwa Todakka bukanlah suku bangsa, dan hanya bagian dari
sebuah perkampungan kecil di daerah Mandar.
Untuk melestarikan budaya Todakka kedepan, perlu kiranya dibentuk suatu lembaga
adat Todakka. Dengan lembaga adat Todakka ini, para orang tua

dengan mudah

memperkenalkan budaya Todakka pada generasi muda. Demikian halnya bahasa


Todakka, jangan sampai hilang di permukaan. Orang tua harus membudayakan bahasa
todakka bagi anak-anaknya, khusnya dalam berkomunikasi setiap harinya. Bahasa
Todakka harus bisa menjadi bahasa pengantar dalam pergaulan sehari-hari, baik antar
anggota keluarga maupun sesama anggota masyarakat.
Para orang-orang tua suku Todakka di daerah Tapango yang merupakan kolompok
mayoritas suku Todakka, kini masih banyak yang memelihara adat dan budaya Todakka,
seperti halnya dalam adat perkawinan, kematian, pesta panen, acara aqiqah dan kebiasaan
lainnya. Dalam acara kematian misalnya, suku Todakka beranggapan, bahwa si mati itu
selama 40 hari rohnya masih ada di rumah tempat tinggal. Keberadaan roh si mati itu
disimbolkan dengan kain kafan yang ada dalam tempat tidur. Setiap harinya diberi
makanan nasi empat rupa juga ayam panggang, namun pada akhirnya

sipemilik

rumahlah yang memakannya.


Walau masih banyak orang tua yang masih memegang teguh adat istiadat suku Todakka,
namun generasi sekarang nampaknya sudah banyak yang tidak peduli dengan tradisi
nenek moyangnya. Mereka lebih cenderung larut dalam peradaban di abad modern ini.
Suku Todakka selama ini memang dikenal sangat terbuka, mau menerima suku apa saja
yang masuk ke daerahnya. Seperti halnya masuknya orang jawa untuk bertransmigrasi di
daerah itu, membuat daerah itu kian maju. Namun dampaknya, orang Jawa yang telah

lama bermukim di daerah transmigrasi terus berkembang, hingga

daerah yang

ditempatinya diubah menjadi nama yang berbau jawa, yakni Wonomulyo yang kini
menjadi salah satui wilayah kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman).
Masuknya orang jawa di daerah Polman, membuat suku Todakka banyak berakulturasi
dengan budaya Jawa, Bugis, Mandar, Toraja, Pattai, Pannei. Orang jawa juga banyak
yang kawin dengan suku Todakka. Akulturasi dua budaya yang berbeda inilah, membuat
budaya daerah setempat semakin terkikis, akhirnya menghilang. Begitu juga dengan
suku-suku lainnya seperti Bugis, Mandar, Toraja, Pattai, Pannei, hingga budaya Todakka
hampir mengalami kepunahan.**

Asal Usul Suku Todakka


Berdasarkan hasil observasi di lapangan di daerah Polewali Mandar, suku Todakka itu
sudah ada bersamaan dengan suku-suku lainnya di nusantara ini, baik itu suku Mandar,
Bugis, Makassar dan Toraja, hanya saja, suku Todakka ini masuk dalam golongan
minoritas, hingga mereka banyak yang larut dalam suku yang mayoritas di daerah itu,
yakni suku Mandar.
Todakka, sesuai dengan namanya, berasal dari dua suku kata yakni kata To yang
menunjukkan orang atau kelompok masyarakat sedangkan kata Dakka adalah nama
dari suku itu. Kata Dakka sendiri dalam bahasa suku Todakka sama artinya Tau Pia
(orang baik-baik) atau Tumacoa (bahasa Todakka) yang berarti orang yang baik-baik,
atau yang yang mencintai kebenaran dan membenci namanya kejahatan.. Kalau ada
kejahatan yang terjadi di wilayahnya, mereka berupaya memberantasnya.
Kata Todakka di daerah Polman, selain berupa suku bangsa, juga ditemukan dalam
nama-nama sungai dan gunung dalam bahasa masyarakat setempat disebut Buttu, salu,

seperti salu Dakka dan Buttu Dakka. Konon sungai dakka dan di gunung dakka itulah,
merupakan kawasan yang sangat besar artinya bagi kehidupan suku Todakka, karena di
sekitar Buntu Dakka yang dibawanya mengalir air sungai menuju daerah persawahan
dan tambak, merupakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat suku Todakka. Itulah
sebabnya, mengapa sungai dan gunung itu disebut Todakka.
Namun begitu, dalam bahasa Bugis ditemukan kata yang mirip dengan Dakka, seperti
Madakka yang berarti haus. Apakah kata Madekka yang berarti haus ini ada kaitannya
dengan legenda sungai Dakka yang memberikan sumber penghidupan pada masyarakat di
di sektor pertanian dan pertambakan. Begitu juga dengan kata lain dalam bahasa bugis
maddakka yang berarti berlindung, ini dapat dimaknai bahwa tempat yang subur dan
damai ini yang di huni suku terdahulu namanya suku Dakka di tempati orang-orang bugis
perantau berlingdung dalam mencari kehidupan mereka., sehingga suku bugis hari dapat
eksis di tanah Dakka dalam mencari kehidupan yang lebih baik di bandingkann ditanah
kelahiran mereka yakni di tanah Bugis.
Begitu juga dalam bahasa Arab ditemukan kata dakka yang berarti halus atau lembut ini
berarti bahwa suka dakka adalah salah satu suku yang memiliki sifat kehalusan dan
kelembutan dalam kehidupan bermasyarakatnya.selain makna tersebut di atas ditemukan
juga makna lain yakni menghancurkan atau memecahkan.Ini berarti suku dakka selain
memiliki sifat yang halus dan lembut juga memiliki sifat penghancur atau pemecah. Sifat
penghacur atau pemecah yang dimiliki suku todakka berarti suku yang berjuang untuk
menghancurkan kebatilan dan memperjuangkan kebenaran.
Sebelum Islam masuk ke daerah Todakka maupun daerah Mandar,

agama atau

kepercayaan yang dianut oleh masyarakat setempat adalah animism dan dinamisme yang

dalam bahasa Toraja disebut Aluk Tudolo. Tapi setelah Islam masuk, maka otomatis,
Islam merubah pola hidup masyarakat Todakka maupun Mandar umumnya. Mereka
hidup dan berperilaku secara islami

sesuai tuntutan syariat Islam. Walaupun

animismenya tidak hilang 100 persen,

dan hingga kini masih banyak berpengaruh,

seperti dalam pesta panen, perkawinan, mereka sering mendatangi tempat keramat untuk
memohon restu, sambil membawa sesajen agar panennya berhasil. Seperti ke Buttu
Binato.
Dalam Al Quran kata Dakka juga dikenal , yakni dalam Surah Al Fajar, dimana ada
disebutkan kata Dakkan-Dakka yang berarti Penghancur atau Pelurus. Kalau demikian,
apakah suku Todakka adalah suku penghancur dalam arti kata pemberani. Dengan sifat
dan perilaku yang islami, suku Todakka akan melawan kebatilan dan sekaligus
meluruskannya menuju jalan yang benar.
Menurut informasi Hamma bin Launu, salah seorang tokoh masyarakat Todakka, bahwa
suku Todakka pada zaman kerajaan silam, telah

banyak dijadikan sebagai panglima

perang di kerajaan Balanipa (Mandar) maupun kerajaan lainnya seperti kerajaan Gowa,
dimana Mandar dan Gowa adalah dua kerajaan yang bersahabat untuk melawan kaum
penjajah di Nusantara ini.
Hamma masih teringat dengan keberanian kakeknya bernama Daeng Launu(Puang
Tambariah). Daeng Launu pada zamannya. Ia memiliki ilmu kebal dan punya keberanian
melawan belanda. Demikian halnya kakeknya terdahulu, memiliki ilmu yang sama,
membuat suku Todakka sangat dikagumi oleh Raja-raja Mandar, bugis dan Makassar
dimasa kerajaan silam.

Kalau begitu, benar kata dalam Al Quran yang berarti Dakka atau Dakkan yang berarti
penghancur atau pelurus yang kalau dibahasakan berarti pemberani dalam menegakkan
syariat islam..
Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa Todakka itu berasal dari kata Dakka yang
merupakan Ibukota dari Negara Bangladesh. Apakah suku Todakka, nenek moyangnya
berasal dari Dakka Banglades? Ini memang tidak masuk akal, negeri yang begitu nun
jauh diseberang lautan, kok bisa terdampar ke daerah Polman. Tapi kalau dilakukan
penulusuran sejarah, bisa jadi, sebab pada masa kerajaan Silam, Negeri Sulawesi yang
didalamnya berdiri beberapa Kerajaan, diantaranya kerajaan Gowa, Bone, Mandar,
memiliki dermaga

internasional, yakni

Dermaga Sombaopu, yang telah banyak

disinggahi oleh pedagang dari Negara lain di dunia ini, termasuk dari India

atau

Bangladesh.
Kedatangannya ke negeri ini dengan maksud berdagang kain atau keramik. Kerejaan
Gowa dulunya menjalin persahabatan dengan Kerajaan Mandar,

sangat membuka

peluang bagi pedagang asing untuk masuk ke polosok desa, termasuk di daerah Todakka.
Bisa jadi, pedagang dari Banglades inilah, kawin dengan orang Mandar, dan
membuahkan banyak turunan. Turunan mereka itulah, kemudian dinamakan To Dakka
artinya orang yang berasal dari negeri Dakka Banglades. Tapi ini masih memerlukan
penelitian mendalam tentang hubungan Todakka dengan Banglades.**

Nenek Moyang Suku Todakka


1. Tomakaka Benato,

Untuk mengungkap asal usul suku Todakka ini, di daerah Tapango ada sebuah bukit
yang berada di atas ketinggian 200 meter DPL, namanya Buttu Benato. Di puncak Buttu
Benato itulah, terdapat sebuah makam kuno yang diyakini oleh suku Todakka sebagai
nenek moyangnya.
Menurut penuturan Hamma bin Launu, tokoh masyarakat Todakka, sejak dari zaman
nenek moyangnya, hingga kini, banyak warga setempat yang melakuan ziarah ke makam
Buttu Benato. Maksud kedatanganya bermacam-macam, ada yang ingin cari jodoh
terutama bagi muda mudi, memulai tanam padi dengan harapan panennya berhasil, dan
masih banyak maksud lainnya untuk datang berziarah. Setiap peziarah membawa
sesajen, berupa daun sirih yang sudah dilipat, juga ada yang melakukan pesta kecilkecilan di puncak Benato dengan cara memotong kambing untuk melepas nazarnya.
Pada zaman purba, beberapa daerah sudah dihuni oleh masyarakat yang hidup secara
berkelompok. Salah seorang diantara mereka diangkat menjadi pemimpin yang disebut
kepala suku sebagai orang yang dituakan dalam kelompoknya.
Menurut Hamma, pada zaman dulu memang pernah berdiri sebuah kerajaan di daerah
Todakka, namanya Kerajaan Dakka. Raja Todakka yang pertama bernama Benato.
Istananya dibangun di puncak sebuah bukit, namanya yang kini disebut Buttu Benato.
Itulah sebabnya, mengapa makam Buttu Benato sering banyak diziarahi orang.
Mengenai asal usul kedatangan Benato

sebagai nenek moyang

suku Todakka ini,

muncul bermacam-macam versi, ada yang mengatakan, bahwa munculnya Benato


sebagai pemimpn mereka, berasal dari negeri kayangan. Ini sangat sesuai dengan faham
animisme atau faham Aluk Tudolo yang dianut oleh suku Todakka sebelum Islam masuk
ke daerah Todakka.

Benatolah yang dianggap dapat mempersatukan suku Todakka yang saat itu dilanda
perang saudara, karena tidak adanya pemimpin yang punya kharisma untuk
mempersatukan suku Todakka. Kedatangan Benato dari kayangan, dianggap sebagai
simbol pemersatu. Semua pihak yang bertikai sepakat berdamai dan tunduk atas perintah
Raja Benato.
Warga Todakka saat itu, tak ingin kehilangan rajanya untuk kembali ke kayangan. Selain
mengangkatnya sebagai Raja, juga mendirikan sebuah istana di puncak gunung. Istana
yang dibangun warga Todakka itu lain dari yang lain. Istananya dibangun dengan satu
tiang yang terkenal dengan dengan istilah Istana Mesa Anririnna Sapona Tomakaka
Benato (dalam bahasa makassar disebut

sitilah Benteng Sipappa). Di istana Benteng

Sipappa itulah, Raja Benato melaksanakan pemerintahan. Hingga kini, bekas tiang istana
masih bisa disaksikan di puncak Buttu Benato, dekat makam Tomakaka Benato.
Raja Benato memerintah secara bijaksana, ia sangat disukai oleh rakyatnya. Dengan
sistem pemerintahan yang baik,

rakyat Todakka diperintahkan untuk bekerja keras

memanfaatkan sumberdaya alam disekitarnya. Sesuai kondisi daerah di Todakka, yang


terdiri dari daerah persawahan, pertambakan dan perbukitan, Raja Benato minta pada
warganya untuk bertani, bertambak, agar rakyatnya hidup sejahtera. Perintah Raja
Benato itu dilaksanakan dengan baik, membuat rakyat Todakka hidupnya sejahtera, rukun
dan damai.
Setelah memerintah sekian tahun lamanya, usia Raja Benato semakin tua. Ia mewariskan
kerajaan itu pada anaknya, tentu saja atas persetujuan dari para tokoh masyarakat yang
merupakan wakil dari beberapa kelompok masyarakat. Begitu seterusnya, hingga
kerajaan Todakka akhirnya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik INdonesia.

Konon, menurut cerita legenda, itu terjadi saat pasukan kerajaan Gowa menyerbu
beberapa kerajaan di sekitar daerah Todakka, seperti kerajaan Pannei, Pattae dan Mandar.
Kala itu, pasukan

dari daerah Mandar yang diperkuat oleh pasukan dari kerajaan

Todakka, Pannei, Pattae, ditambah dengan pasukan dari Toraja, membuat Gowa kalah.
Begitu juga serangan-serangan yang dilakukan kerajaan Bugis selalu dipatahkan oleh
perlawanan raja-raja Dakka, Pannei, Mandar dan Pattae.
Keberhasilan raja Todakka, Pannei, Pattae dan Toraja itulah, mereka membuat suatu
perjanjian sehidup semati yang disebut dengan istilah Sipamandi Tau. Dari perjanjian
itulah. Mereka membentuk sebuah kerejaan besar, namanya Kerajaan Mandar. Dengan
terbentuknya Kerajaan Mandar inilah, nama Todakka dan Toraja menghilang, karena
dibawa naungan Kerajaan Mandar. Namun kemudian, Toraja bangkit, hingga kini nama
Toraja masih dikenal sebagai salah satu suku bangsa di Sulawesi Selatan. Sedangkan
Todakka, tenggelam dalam suku Mandar. Itulah sebabnya, mengapa yang dikenal di
Sulawesi Barat hanyalah suku Mandar, sedangkan suku kecil lainnya seperti Todakka,
Pannei, Pattae kurang dikenal.
Menurut Baco bin Jepe Tomakaka Benato yang dulunya menjadi Raja di Kerajaan
Todakka, memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Ia memiliki beberapa daerah
kekuasaan, seperti Tapango, Batu, Rappang, Labasang, Matakali, Bulung, Limporo,
Galeso, Puccero, Kampuno, Katopong, Napo

yang jumlahnya mencapai 23 daerah

perkampungan yang cukup luas.


Jepe menambahkan,

dulunya Mandar dan Todakka pernah bersengketa masalah

perbatasan wilayah, maka untuk membuktikan dimana batas wilayah mandar dan

Todakka itu, Tomakaka Benato minta pada Tomakaka Passokorang untuk menunjukkan
batas wilayahnya.
Tomakaka Passokorang yang ditunjuk sebagai penengah masalah perbatasan itu, tidak
secara langsung menujukkan batas-batasnya, tetapi ia menunjuk batas dengan caranya
sendiri, yakni, Tomakaka Passokorang mencabut rumpun bamboo, lalu melemparkannya
sejauh mungkin. Dimana jatuhnya lemparan rumpun bamboo itu, disitu pulalah batas
wilayah Todakka Mandar.
Ketika Raja Benato wafat dan dimakamkan di Puncak sebuah bukit dekat istana Mesa
Anririnna. Makam Raja Benato kini masih tetap dilestarikan oleh suku Todakka, dan kini
dikeramatkan. Setiap saat, ada warga yang datang bersiarah dengan berbagai tujuan,
seperti memulai musim tanam atau pesta panen, atau juga ada yang ingin cari jodoh.
Terkabulnya nasar yang diucapkan diatas makam Raja Benato itulah, orang sering pesta
potong kambing atau sapi didekat makam itu.
Untuk mengenang jasa-jasa Raja Benato, maka warga Todakka mengabadikan namanya
pada gunung itu dengan nama Buttu Benato. Buttu Benato yang terkenal kesuburannya,
telah banyak ditumbuhi berbagai jenis pepohonan. Sesuai dengan program Pemerintah
untuk menjadikan daerah Todakka-Mandar sebagai penghasil

coklat, maka

semua

daerah perbukitan, termasuk Buttu Benato ditanami pohon coklat, dan coklat di Buttu
Benato itu tumbuh subur.**

2.

Todakka dari Banglades

Versi lain mengatakan, bahwa Todakka itu berasal dari Banglades, yang beribukota
Dakha. Versi ini memang sangat beralasan, sebab pada zaman kerajaan silam, telah
banyak pedagang dari Negara lainnya di dunia ini masuk ke daerah Mandar, diantaranya
dari India juga Banglades, juga dari Negara Arab.
Kedatangan pedagang dari Banglades, tak hanya sekedar berdagang, tetapi mereka juga
kawin dengan warga setempat hingga akhirnya beranak pinak di negeri Todakka.
Turunan mereka dari Bangladesh itulah, kemudian menamakan dirinya sebagai suku
Dakka, artinya suku yang berasal dari Dakha Banglades. Kalau Todakka itu berasal dari
Bangladesh, lalu apa ciri-ciri orang Banglades yang terdapat dalam suku Todakka?
Menurut informasi dari Ahmad Kasim, salah seorang tokoh masyarakat Todakka, salah
satu tanda persamaan yang bisa dilihat adalah nampak pada hidung orang Todakka
mancung, sama dengan orang India atau Banglades. Disamping itu, suku Todakka juga
terkenal sebagai pemberani, sama halnya dengan organisasi macam Tamil di Banglades
yang hingga kini telah banyak melakukan perlawanan terhadap pemerintah India yang
sekarang mayoritas Bergama Hindu dan Budha.
Selain itu, pada masa penjajahan silam, Pemerintah kolonial Belanda juga banyak
menyewa tentara bayaran, diantaranya diambil dari India. Pasukan dari India khusunya
dari Kalkutta (Dalam bahasa Makassar disebut Kalakatta artinya pasukan dari Kaluktta),
tidak menutup kemungkinan mereka kawin dengan gadis dari daerah ini.

Turunan dari

mereka itulah akhirnya mereka membentuk suatu kelompok masyarakat dari Kalkutta
atau Bangladesh (Dakka). Kelompok itulah kemudian dinamakan Todakka, yang
merupakan salah satu suku bangsa di daerah Sulawesi Barat. Namun asal usul kedatangan

nenek moyang orang Todakka dari Bangladesh atau India masih perlu penelusuran
sejarah secara mendalam.
Daerah Dakka yang dulunya adalah sahabat dari Kerajaan Gowa, dimana di sekitar
Bandar niaga Internasional Sombaopu, berdiri beberapa kantor perwakilan dagang dari
beberapa Negara atau kerajaan di dunia, diantaranya dari Arab, India, termasuk
Bangladesh juga dari Negara Eropa dan Asia.
Sebagai sahabat kerajaan Gowa,

Maraddia Balanipa Mandar membuka pintu bagi

pedagang aisng untuk masuk ke wilayahnya. Mungkin saja ada pedagang dari
Bangladesh yang kawin dengan salah satu suku di daerah tersebut, dan dari turunan
mereka itu kemudian membentuk suatu kelompok kaum yang diberi nama suku Todakka,
artinya kelompok kaum yang nenek moyangnya berasal dari Dakka (Bangkadesh).
Dihubungkan dengan sifat pemberani orang Todakka sama dengan Organisasi Macan
Tamil di Bangladesh, memperkuat asumsi, bahwa Todakka itu nenek moyangnya berasal
dari Bangladesh.
Persamaan lainnya antara suku Todakka dengan orang Bangladesh, dapat dilihat dari
peralatan dapur yang dipakai. Seperti Belanga yang dalam bahasa Todakka disebut
kuring. Menurut Ahmad Kasim, kuring ini juga banyak

dipakai oleh orang India

termasuk Bangladesh.
3. Manusia Berbulu di Daerah Bulung sebagai Nenek Moyang Suku Todakka
Bullungh adalah sejenis mahluk halus yang menjaga pekuburan tua di kampung Bullung.
Mashluk itu sering menampakkan diri. Menurut informasi masyarakat sekitar, Bullung
yang sering menampakkan dirinya itu, bentuknya tinggi besar , badan berbulu dan hitam
menyeramkan. Itulah sebabnya, mengapa kampung disekitar itu dinamakan Bullung.

Pekuburan tua di Bullung seriung dikeramatkan oleh masyarakat. Banyak warga yang
berziarah ke makam tua itu, dengan harapan mereka tidak diganggu oleh roh-roh jahat
yang menjaga kuburan itu.
Menurut Muhlis, mahluk halus bullung ini sering merasuki seseorang, membuat mereka
tak berdaya. Dalam kondisi seperti itulah, orang yang kerasukan Bullung itu diobati
dukun. Sering keluar ucapan dari pasien, bahwa ia adalah bullung sebagai penjaga
kuburan tua itu.
Setelah pasien sembuh, pasien itu kemudian bercerita bahwa bentuk manusia berbulu itu
badannya besar, tinggi dan hitam menyeramkan. Ia memang takut melihat manusia
berbulu itu, tetapi disaat kerasukan, ia pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa.
Menurut informasi masyarakat sekitar, manusia berbulu yang bentuknya tinggi, besar,
hitam dan berbulu itu, tak lain adalah nenek moyang suku Todakka. Bulung ini menjaga
kuburan tua, termasuk makam ayah handa Daeng Launu yang dikuburkan di Bulung.
Di pemakaman Bulung, ada beberapa Tubarani yang dikuburkan disitu, seperti ayah
handa dan saudara Daeng Launu, dimana pada masa hidupnya muncul sebagai sosok
pemberani dalam menentang penjajahan di bumi Dakka.**
4. Maddakka (tempat berlindung)
Pada zaman dahulu kala kerajaan dakka banyak disinggahi orang-orang perantau
atau orang yang mencari kehidupan yang lebih baik dari kampung halamannya.
Seperti perantau dari tanah Bugis, Makassar, Jawa, papua, Kalimantan dan lain
sebagainya, karna dari segi denografi dan geografis kerajaan Dakka sangat baik
untuk melangsungkan kehidupan di dunia ini. Bukti nyata yang dapat disaksikan
sekarang adalah banyaknya suku yang mendiami tanah Dakka dan berkembang

biak melakukan aktifitasnya sehari-hari, baik sebagai nelayan, petani, pekebun,


buruh bagunan, pegawai, polisi, tentara, pegawai negeri sipil dan lain-lain.
Dari peengambaran di atas dapat dimaknai bahwa suku Dakka adalah salah satu
suku

yang

sangat

menghargai

tamu

yang

datang

di

kampung

halamannya,sehingga sampai sekarang suku-suku tersebut di atas masih dapat


eksis di tanah Dakka bersama dengan suku Todakka.
Maddakka dalam bahasa bugis berarti tempat berlindung, ini berarti bahwa suku
dakka dapat memberi perlindungan bagi siapapun yang datang di tanah Dakka.
baik perlindungan rasa aman, rasa lapar, rasa haus, orang-orang Dakka dapat
membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka sehingga rasa puas diterima dari
pelayanan suku Dakka. Rasa kasih sayang orang-orang Dakka kepada tamunya itu
yang menyebabkan Allah swt menurungkan rahmatnya kepada suku Dakka
sehingga wilayahnya dari dulu sampai sekarang berlimpah-ruah rejekinya. Ini
terbukti persawahan tiga kali dalam setahun panen padi. kelapa, coklat, buahbuahan dapat berbuah dengan baik, begitu juga dengan tambaknya yang sangat
baik seperti ikan bandeng, mujahir, udang maupun ikan lainnya dapat hidup dan
berkembang biak dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dakka dan sukusuku lainnya yang ada di tanah Dakka tersebut. Dahulu kala wajarlah orang-orang
bugis berkata tanah Dakka sebagai tempat Maddaka atau tempat berlindung karna
orang-orang bugis merasakan betul akan keramah tamahan suku Dakka terhadap
mereka dan sampai sekarang orang Bugis, jawa, Makassar, Mandar, Kalimantan,
Papuan dapat hidup di tanah dakka.

Kisah Suku Dakka


1.Burung Tekukur di Buttu Kanakkarrang
Menurut legenda masyarakat Todakka, bahwa pada zaman Nabi Nuh pernah dunia ini
ditenggelamkan, karena penduduknya banyak yang ingkar dengan

perintah Allah.

Mereka banyak melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, seperti berzinah,
berjudi. Karena tak mau mengikuti perintah-Nya, Allah menurunkan azab pada penduduk
bumi berupa banjir besar, membuat dunia ini tenggelam.
Sebelum terjadi banjir itulah, pengikut Nabi Nuh disuruh membuat perahu diatas bukit,
dimana warga saat itu mencap pengikut Nabi Nuh sebagai orang gila, karena membuat
perahu di atas bukit, seharusnya dekat pantai. Anjuran Nabi Nuh untuk ikut perintah
Allah sama sekali tidak dihiraukan.
Ketika bencana alam itu tiba, yang ditandai turunnya hujan deras yang turun terus
menerus hingga bertahun-tahun lamanya, membuat dunia ini tenggelam. Perahu yang
dibuat di atas bukit itu, Nabi Nuh kemudian mengajak semua kaumnya, juga satwa
maupun binatang diajak naik perahu untuk menyelamatkan diri.
Salah satu perahu pengikut Nabi Nuh yang sampai ke daerah Sulawesi, dimana di atasnya
terdapat seekor burung tekukur yang dengan setia ikut dalam perjalanan panjang itu.
Ketika sampai di sebuah puncak bukit, salah seorang pengikut Nabi Nuh memerintahkan
burung tekukur untuk turun ke puncak bukit itu. Dari informasi burung tekukur tersebut,
akhirnya perahu yang telah lama terombang-ambing di tengah laut itu, akhirnya sungga
di sebuah puncak perbukitan. Puncak bukit itu kemudian diberi nama Buttu
Kanakkarrang atau puncak batu karang.

Bagi sebagian masayarakat Todakka, ada sebuah mitos diyakini secara turun temurung.
Mereka takkan memelihara burung tekukur, sebab bilamana mereka menyentuh tangan
pada burung tekukur itu, bisa membuat burung itu cepat mati. Mitos itu sudah dibuktikan
oleh beberapa orang Todakka, dimana burung tekukur piaraan mereka banyak yang mati.
Dari pada pelihara mati, mereka lebih suka melihat burung tekukur itu bebas berkeliaran,
karena burung ini sangat besar jasanya untuk menunjukkan nenek moyang mereka untuk
menemukan suatu negeri untuk bertempat tinggal menetap. Inilah yang merupakan asal
mula kedatangan manusia di negeri Todakka.
Mungkin saja, dari sekian banyak pengikut Nabi Nuh itu, ada yang berasal dari India
maupun Bangladesh atau dari negeri Arab. Turunan mereka yang jumlahnya banyak ,
membuat kelompok suku, yang diberi nama suku Todakka.
Sebagai bukti bahwa dunia ini pernah tenggelam pada zaman Nabi Nuh dulu, selain
disebutkan dalam Al Quran, di puncak Buttu Kanakkarrang sana, juga banyak terdapat
batu karang. Di dalam batu karang itu, banyak ditemui kulit kerang dan batu karang
bercampur pasir putih.Ini menadakan, bahwa saat dunia tenggelam, kerang-kerang laut
lari ke puncak gunung berkembang biak.
Di puncak bukit itu, kini dibangun sebuah

stasium pemancar televisi , dimana

disekelilingnya banyak ditumbuhi pepohonan dan disana sini banyak terdapat tumpukan
atu besar yang menandakan bahwa bukit itu pernah runtuh.**

2. Batu Toke

Menurut riwayat, suku Todakka pada masa kerajaan silam, terkenal dengan
keramahtamahan dan keberaniannya. Suku Todakka sering banyak dijadikan sebagai
prajurit kerajaan, bahkan tidak sedikit diantaranya berhasil menjadi Panglima perang
dalam wilayah kerajaan sekitarnya, bahkan sampai ketanah Jawa dan Sumatra sampai
kenegri jiran Malaysia, Brunai dan sampai ke benua Asia.
Keberanian suku Todakka, tentu saja karena mereka memiliki ilmu bela diri juga ilmu
kebal dari senjata tajam maupun senjata api. Mereka juga banyak taktik dalam melakukan
perlawanan terhadap musuh. Mereka bergerilya di hutan-hutan, kemudian setelah melihat
konvoi musuh, mereka menghadangnya secara membabibuta.
Tak heran, ketika perang antar kerajaan dimasa silam, kerajaan Todakka sulit ditembus
oleh musuh. Pernah prajurit kerajaan Bone menyerang beberapa wilayah di Kerajaan

Mandar, tetapi pasukan Bone itu sulit menaklukkan kerajaan Todakka, karena mereka
memiliki keberanian dan taktik perang yang lebih menguasai medan di daerah hutan dan
gunung-gunung.
Salah satu taktik yang dimiliki oleh suku Todakka dalam melumpuhkan musuhmusuhnya adalah membuat jebakan yang tidak terbaca oleh lawan. Ketika lawan
melewati jalan yang dipasangi jebakan, secepat itu pula suku Todakka memghadangnya
hingga membuat lawan tak berdaya.
Salah satu jebakan yang sangat terkenal dan kini sudah melegenda, adalah jebakan Batu
Toke. Suku Todakka yang menempati beberapa wilayah perbukitan atau pegunungan di
daerah daka. Mereka terlihat lincah dalam melewati antara gunung satu dengan gunung
lainnya tanpa merasa lelah. Dari atas gunung itulah, mereka membuat jebakan, pada
beberapa jalan yang sering dilewati oleh musuh-musuhnya. Mereka menggelindingkan
batu besar dari atas gunung ketika melihat konvoi musuh sudah berada di bawah jepakan
yang dipasangnya. Batu besar yang mengelinding dari

atas gunung itu, mampu

melumpuhkan lawannya. Disaat musuh tak berdaya, mereka menyerang lagi dari dekat
hingga membuat musuh-musuhnya lumpuh total.
Pada zaman penjajahan belanda silam, Todakka sulit ditembus oleh lawan. Pernah
pasukan Arung Palakka menyerang daerah Mandar, tetapi mereka tidak bisa menembus
pertahanan suku Todakka. Pihak belanda hanya menyisir daerah perkotaan.
Salah satu batu besar yang dijadikan oleh suku Todakka sebagai jebakan untuk
melumpuhkan tentara belanda, adalah sebuah batu besar yang ada di puncak Buttu Toke.
Batu sebesar kerbau itu digantung di akar pohon. Ketika melihat konvoi kendaraan yang
pas berada dibawah jalan itu, maka secepat itu pula suku Todakka melepaskan jebakan,

dan batu langsung jatu menuju sasaran. Kendaraan tentara belanda penyet terkena batu
besar, sebagian prajuritnya mati tertimpa batu besar. Kemudian pasukan yang masih
hidup, secepat itu pula dihadang secara membabi buta hingga membuat pasukan belanda
tak berdaya dan terbunuh semua.
Salah satu jebakan batu besar yang pernah dipasang oleh suku Todakka, adalah yang
terdapat di puncak Buttu Tokke. Jebakan batu itu. Sejak zaman penjajahan silam hingga
kini tak pernah dilepaskan, hingga

akhirnya

menggelantung di atas sebuah pohon besar.

batu sebesar kerbau itu terus

Karena usianya sudah

ratusan tahun

membuat batu itu, kini sudah merapat ke tanah, tapi masih nampak ikatannya di atas
sebuah pohon besar.
Batu besar yang tergantung di atas buttu Toke itulah. Kini masih bisa disaksikan, bahkan
batu Toke itu sudah melegenda bagi masyarakat Todakka. Banyak warga sekitar setiap
saat bersiarah ke batu Tokke itu sambil membawa sesajen sebagai persembahan pada roh
halus yang menjaga batu itu.
Pak Yos salah seorang warga yang tinggal di dekat batu Toke itu mengakui, kalau banyak
warga sering datang berziarah ke Batu Toke itu. Bahkan katanya, sering terjadi
penampakan dengan berbagai wajah, ada berupa nenek-nenek, ada juga berupa wanita
cantik yang sering duduk di pinggir jalan menggoda pemakai jalan yang melintas.
Menurtu Karlota, istri Pak Yos, pernah ia didatangi oleh seorang nenek-nenek yang
membawa guci. Guci yang dibawanya itu kemudian diberikan kepadanya, tapi kemudian
sang nenk itu menangis. Istri Pak Yos kemudian mengembalikan guci itu pada si nenek,
kemudian masuk ke hutan dan lenyap berlahan-lahan.

Lenyapnya sang nenek itu, menyadarkan Karlota, bahwa orang tua yang datang tadi
bukanlah orang tua sembarangan, tetapi itu adalah wujud dari penjaga Batu Toke yang
ada diatas puncak gunung itu. Rupanya kedatangan nenek ke rumahnya, karena, hutan di
sekitar batu Tokke baru saja terbakar. Pemilik hutan itu membakar alang-alang yang ada
dalam lahannya, hingga membuat penjaganya lari.
Demikian halnya keponakan Pak Yos, bernama Ani, ia pernah melihat cewek cantik
yang duduk di atas sebuah batu pada tengah malam. Setelah ia mencoba mendekat
cewek itu, yang dikiranya kesepian seorang diri, tiba-tiba cewek itu berubah menjadi
sebuah mahluk yang sangat menyeramkan. Atas kejadian itulah, Ani dan kawankawannya ambil langkah seribu.
Kawasan disekitar Batu Tokke, merupakan kawasan hutan pinus, yang kini dijadikan
sebagai salah satu obyek wisata. Udaranya dingin dan segar, sehingga pada siang hari
banyak muda-mudi yang berkunjung ke hutan pinus itu.**
4. Kubbu Abola
Di daerah Todakka ada beberapa kubur yang bertuah salah satu yang bertuah tersebut
adalah Kubbu Abola.(kuburan Abola) Kubbu Abola, munurut Puang Sail tokoh Dakka
Limboro mengatakan bahwa dulunya kubbu Abola itu adalah tempat bergenangnya
kerbau yang luas, namun ada salah satu tokoh suku Dakka yang wafat dan mau
dikuburkan dan di carikan tempat, namun

secara tiba-tiba daerah rawa, tempat

bergenangya kerbau tiba-tiba naik membumbung dengan tanah yang keras disertai
bebatuan, maka tokoh Todakka tersebut dikuburkan.
Seiring perjalanan zaman, kuburan Abola tersebut yang berada di tengan persawahan
mengalami penyempitan daerah akibat, petani sawah yang tak tau sejarah suku todakka

selalu menggikis masuk sehingga menjadi agak kecil dari kikisan tersebut. Pada suatu
waktu petani yang mencangkul pinggiran kuburan tersebut mendapatkan suara dari dalam
kubur tersebut untuk tidak selalu mengjankul pinggiran kuburan tersebut. Setelah itu ada
beberapa petani sawah terkapar ditempat tersebut bahkan ada yang meninggal di sekitar
kuburan bertuah tersebut.
5. Kubu Tosalama

6. Buttu Patula
Buttu Patula adalah salah satu gunung yang ada di tanah Todakka yang terletak di tengah
persawahan sekarang, yang dulunya adalah sebuah hutan belantara yang menyeramkan,
namun seiring dengan kemajuan zaman hutan belantara itu menjadi sawah yang subur
bagi masyarakat Todakka yang mendiami disekitar Buttu Patula itu. Konon kabarnya
menurut indo Jariah mengatakan bahwa Buttu Patula itu penghuninya adalah makhluk
halus sejenis bangsa Jin.
Induk jariah yang memeiliki kebun di bawah kaki Gunung Patula sering melihat makhluk
aneh yang turun dari puncak gunung Patula beramai-ramai dengan berbagai macam
peralatan yang di bawa turun kedaerah persawahan di sekitarnya. lanjut Jariah
mengatakan bahwa seseorang pernah menegur makhluk tersebut dengan kasar bahkan
melemparinya, namun apa yang terjadi secara tiba-tiba orang tersebut jatuh terkapar
akibat ulahnya tersebut. Induk Jariyah menguraikan lebih lanjut bahwa puncak keramaian

suara-suara aneh didengar itu mulai malam hari sampai di pagi hari. Dipuncak gunung
Patula yang bisa tumbah hanya rumput alang-alang.
Menurut Muklis salah seorang tokoh Dakka mengatakan bahwa dalam perut gunung
Patula itu ada sebongkah emas yang dijaga ketat oleh makhluk halus yang sering
menampakkan dirinya di siang hari. Gununng Patula itu memiliki luas kurang lebih 10 ha
di situlah bongkahan emas itu berada dalam perut gunung tersebut. Pada gunung Patula
itu terdapat kuburan suku-Suku Dakka terdahulu, di kuburan itu ditumbuhi beberapa
pohon mangga beragam jenis dan buahnya serta rasa pahit manisnya berbeda-beda pula.
menurut Masik salah seorang tokoh Todakka menceritakan ketika pergi mengambil buah
mangga yang jatuh di sekitar kuburan tersebut dia sering dilempari pasir dan tidak
diketahui darimana sumber keberadaanya. Dia berkeyakinan bahwa lemparan pasir
tersebut itu adalah penjaga gunung Patula sekaligus penjaga kuburan yang ditumbuhi
pohon mangga tersebut. Namun sebagian gunung Patula itu dapat tumbuh berbagai
macam pepohonan, seperti pohon beringin yang besar, sebagai tempat bermain-mainnya
mahluk penjaga buttu Patula tersebut. Menurut Indo Ati ibunda penulis mengatakan
bahwa pernah ada orang membuat rumah di Gunung Patula dan tinggal disana, tidak lama
mereka tinggal seluruh penghuni rumah itu meninggal, itulah sebabnya kenapa gunung
tersebut dinamai Gunung Patula
7. Buttu Dakka (Gunung Dakka)
Buttu dakka adalah salah satu gunung yang sangat sarat dengan makna sejarah
kerna gunung dakka ini membawa nama salah satu suku yang tertua yang ada di
Sulawesi barat khususnya di kabupaten Polman. Buttu Dakka pada masa kerajaan
dakka dijadikan sebagai tempat pertemuan raja dengan pasukannya menyusun

strategi dalam menghadapi serangan dari suku-suku lain yang mau menjajah atau
mengusai daerah Dakka saat itu.di dekat buttu dakka ada sebuah pohon yang
sangat besar yang sering ditempati orang-orang Dakka beristirahat dari perjalan
rumahnya ke buttu Dakka, atau tempat berlindung jika hujan dan panas terik
matahari yang membakar kulit. Pohon tersebut adalah pohon katapang. Dari
pohon katapang yang sangat besar itu akhirnya penduduk yang mendiami sekitar
pohon itu di sebut dengan daerah katopong salah satu wilayah kekuasaan kerajaan
Dakka, sampai sekarang ini katapang menjadi desa. Namanya Desa Dakka. Pada
zaman penjajahan belanda dan Jepang buttu dakka di jadikan benteng perlawanan
dalam menghadapi serangang yang di lakukan bangsa belanda maupun bangsa
jepang

8. Kame-kame dan Kembaran Buaya


Kame-kame adalah tambak yang besar dalam bahasa dakka disebut pengempan katongko
yang dimiliki oleh keturunan nenek moyang Daeng Launu atau Puang Tambaria, dimana
setiap musim kemarau sebagian besar penduduk suku Todakka dan penduduk lainnya,
datang menangkap ikan secara ramai-ramai. Kame-kame ini banyak ikan yang
berkembang biak mulai dari ikan kecil sampai dengan ikan besar. Banyaknya ikan yang

ada dikame-kame itu disebabkan oleh karna ada buaya yang menjaga tambak tersebut,
menurut Halawi mengatakan bahwa buaya itu adalah kembaran dari puang Tambaria.
Buaya tersebut sering naik kedaratan menemui kembarannya. Atau puang Tambariah
yang turun kekame-kame berdialog antar saudara kembar dengan bahasanya tersendiri.
Apabila kembarannya puang tambaria mau menyeberang sungai yang luas dan tidak ada
perahu maka kembaran buaya tersebut yang datang membawa menyebrang sungai.
Menurut Muhammad Amir mengatakan bahwa Jika puang Tambaria itu membutuhkan
kembarannya yang ada dikame-kame (empang yang besar) cukup saja dia menepuk air
tiga kali maka datanglah kembaran buaya tersebut untuk memenuhi hajat atau kebutuhan
puang Tambaria, seperti ketika ingin menyebran sungai, atau ingin menangkap ikan,
maka ikan datang secara berombongan mengikuti buaya kembarang Puang Tambaria,
maka puang Tambaria mudah menangkap ikan dengan jaring atau pukat.
Kame-kame itu terletak di daerah kampuno, dimana daerah kampuno terletak kurang
lebih 3 kilometer dari pinggir laut yang ada di daerah tersebut. Seiring dengan
perkembangan zaman dan berjalannya umur manusia, maka tibalah kondisi sakit yang
menimpa Daeng launu yang mengatarkan kepada kematiannya. Setelah kematian Daeng
Launu, tersebar informasi dari masyarakat Dakka dan keturunanya bahwa kembaran
buaya daeng Launu juga menghilang dan tidak ditemukan lagi keberadaanya di kamekame.
Kame-kame sekarang telah menjadi empan yang telah terpetak-petak, bahkan ada yang
dijadikan sawah, serta kebun yang telah digarap oleh keturunana Daeng Launu dan
masyarakat umum. Kame-kame dulu sampai sekarang selalu memberikan kehidupan bagi

suku Dakka dan masyarakat yang datang kemudian hari baik pada zaman penjajahan
Belanda, Jepang sampai kepada Negara Indonesia sekarang ini.
6. Jagung dan Parakang
Jagung salah satu makanan pokok bagi suku todakka, ketika terjadi musim kemarau yang
berkepanjagan. suatu ketika terjadi kemarau panjang, ada salah seorang pemuda dakka
bertanya kepada seorang nenek yang tinggal berkebung di Buttu kalongae (gunung yang
banyak dihuni binatang kaki seribu), bagaimana caranya ketemu dengan tobaine
parakang (gadis kuntilanak)? Tanya pemuda tadi, maka nenek menjawab, ketika jagung
mulai mengeluarkan kencupnya dan menguraikan rambut-rambut sampai panjang, maka
berjalanlah ditengah kebung jagungku di tengah malam sekitar jam 12 malam dengan
cara telangjang bulat, pasti kamu ketemu gadis kuntilanak yang cantik. Tapi dengan
syarat tidak boleh berkata-kata dan berteriak ketika ketemu atau melihat gadis kuntilanak
tersebut.
Pemuda gagah tersebut, memulai pada malam pertama, datanglah kekebung nenek
tersebut dan masuk dalam area jagung, lalu membuka seluruh pakaiannya baru beberapa
menit berjalan mengelilingi kebun jagung tersebut tiba-tiba melihat begitu banyak gadis
yang menghisap kencup jagung serta rambut-rambut jagung tersebut. Karna sakin
banyaknya gadis yang dilihat sehingga tidak berani mendekat sehingga pada malam itu
dia mengambil langkah seribu kembali kerumahnya.
Beberapa hari berikutnya pemuda tersebut mengulangi lagi keinginannya untuk ketemu
gadis kuntilanak yang sudah dia lihat 3 hari yang lalu, ketika masuk dalam area jagung
tersebut, alangkah kagetnya karna secara tiba-tiba gadis cantik datang menghapirinya
dengan rambut yang panjang terurai, badan tinggi semampai sangat sensual sekali,

namun anehnya keduakaki gadis cantik tersebut tedak menyentuh ketanah. Gadis cantik
tersebut mengelilingi di area kebun ditengah keheningan malam, seiring dengan sifat
kelaki-lakian pemuda tersebut tergoda, dalam ketergodaanya, dia juga merasa
bulukuduknya terus berdiri. Antara rasa takut dan rasa tertarik kepada gadis cantik
tersebut membuat rasa takut hilang dan mencullah rasa keberanian untuk mendekati dan
memeluk gadis cantik tersebut, namun apa yang terjadi ketika memeluk gadis itu yang
terasa hanyalah ibarat memeluk angin yang hampa, dan suara gadis tersebut tertawa
dengan cengengesan.
Tawa cengengesan gadis tersebut berbarengan dengan lolongan anjing malam yang
menambah suasana semakin hening dan menjekam, dalam kesadaran pemuda itu
terperangah dan kaget bukan kepalang, akhirnya lari dari kebung jagung itu dengan
tunggang langang. Al hasil pemuda tersebut sampai dirumahnya dan langsung masuk
kamar dengan tubuh menggigil dibarenggi dengan rasa takut mendalam, pada malam itu
pemuda tersebut tidak bisa tidur akibat peristiwa tersebut. Pagi harinya pemuda tersebut
tidak dapat bangun dari tempat tidurnya karna sakit, setelah seminggu menderita sakit
akhirnya pemuda tersebut meninggal dunia.
7. Belut dan poppo
Suku Dakka adalah salah satu yang mempercayai adanya bangsa, Popo, sejenis manusi
yang memakan manusia yang sementara sakit dan memakan bayi yang baru dilahirkan.
Dalam tradisi suku Dakka apabila ada orang yang sakit atau bayi yang baru dilahirkan
maka wajib disampingnya ada bawang merah dan pisau kecil sebagai salah satu
penyangkal dari kejahatan makhluk Poppo. Selai bawang merah dan pisau, suku dakka
juga mempercayai akan kekuatan garam dalam mengusir poppo dengan cara menaburi

sekitar rumah garam laut, baik di atas rumah maupun di bawah kolom rumah agar poppo
tidak mendekat. Poppo yang biasa beroperasi dimalam hari diketahui kedatangannya
dengan cara makhluk poppo itu bersuara seperti pooh, pooh, pooh, biasanya suara itu di
dengar keras disekitar rumah orang yang sakit dan orang yang baru melahirkan. Selain
kedua rumah yang paling disukai di datanggi di atas, juga rumah yang kumuh khususnya
pembuangan kotoran cucian piring dan kencingnya yang luas lagi kotor dalam bahasa
dakkanya ciccameong (comberang) rumahnya luas dan kotor.
Suku Dakka menyakini ciccameong yang luas lagi kotor itulah tempat bermain dan
mencari makanannya yang paling enak selain memakan darah orang sakit dan darah bayi
yang masih kecil.
Ciccameong yang luas lagi kotor tidak akan didatangi poppo kalau disimpang
didalamnya Bale Lengrong (ikan belut), karna ikan belut juga sangat ditakuti oleh
manusia sebangsa dengan poppo.
Suatu ketika terjadi rasa kecurigaan yang tenggi pada masyarakat terhadap salah satu
rumah yang diduga adalah salah seorang yang sering memamakan orang sakit atau bayi,
maka masyarakat Dakka saat itu masih kebingungan menentukan bahwa rumah salah
seorang warga Dakka itu betul sebagai pelakunya. Maka ditengah kebimbagan itu tibatiba ada salah seorang warga Dakka berkata bahwa lemparkan kedalam comberang rumah
itu seokor ikan belut, kalau dia bertahan tinggal dalam seminggu berarti orang itu bukan
pelakunnya tapi kalau besok pagi dia tinggalkan itu rumah karna semalam dilemparkan
kecomberangnya belut berarti orang itu termasuk

poppokong atau manusia poppo.

Ternyata setelah dilemparkan belut kedalam comberang rumahnya pada malam hari, pada

pagi hari itu juga penghuni rumah itu meninggalkan rumahnya dan pindah
diperkampungan lain.
8. Bale salo (Ikan Gabus)
Suku dakka yang memiliki geografis yang sangat baik karna memiliki daerah gunung,
persawahan, empang air tawar dan lautan yang luas membuat suku dakka termasuk suku
yang banyak mendapatkan limpahan rezeki dari Allah swt. Sehingga tanah Dakka banyak
didatanggi suku bangsa seperti Bugis, Jawa, Makassar, Toraja dan suku lainnya yang ada
di nusantara ini bahka ada bangsa kulit putih seperti Belanda, portugis, jepang dan cina
untuk mendapatkan sebagian rezeki yang banyak itu.
Salah satu hasil ikan tawar yang sangat menggiurkan dan punya nilai jual yang tinggi
adalah ikan gabus atau bale salo yang sekarang selain dikomsumsi sebagai ikan pedaging
bagi kelurga sekarang sudah di jadikan obat dalam bentuk tablet yang sangat ampuh
dalam penyembuhan luka dalam atau bekas operasi ini telah dibuktikan oleh tenaga
medis dalam konteks kekinian.
Dahulu kala sebagian suku Dakka tidak makan bale salo (ikan Gabus) karna mereka
beranggapan bahwa ikan gabus itu adalah saudara kembarnya. Kejadian itu bermula
ketika seorang ibu melahirkan dua anak kembar yang satunya adalah manusia yang
satunya lagi ikan gabus (bale Salo). Maka ibu itu menangis dan terseduh-seduh ketika
melihat anaknya yang satu adalah seekor ikan gabus, tiba-tiba ikan gabus itu berkata
kepada ibunya, bu janganlah bersedih bawalah aku kesungai karna disungai itulah
tempatku berkembang biak, maka dalam kesedihan ibu tersebut dia membawa bayi ikan
gabusnya dan dilepaskanlah kesungai tersebut. Itulah sebabnya sungai-sungai atau rawarawa yang ada di tanah Dakka pasti ada ikan gabusnya karna tanah Dakka adalah tanah

tumpah darahnya juga. Itu dapat di saksikan sampai sekarang seperti di kame-kame,
lingrung, parapah, sungai mapilli, sungai dakka dan yang lainnya pasti ada ikan
gabusnya.
Tanda-tanda keturunan kembaran ikan gabus pertama tidak dapat memakan ikan gabus
karna mereka beranggapan saudara kembarnya. Apabila mereka memakan ikan gabus
maka akan melepuhlah kulitnya seperti kurap atau kudis bahkan kulitnya bisa berubah
seperti kulit ikan gabus. Kedua apabila mendeirukan rumah dipinggir sungai atau rawarawa maka disiang dan malam hari akan sering didatangi ikan gabus dengan cara
melompat dari sungai atau rawa masuk dalam bawah kolom rumah bahkan biasa naik di
atas rumahnya berbaring atau tergeletak, sebagai wujud persaudaraannya bahwa mereka
satu turunan.
Ketiga apabila mereka menanam padi maka dalam daerah persawahannya pasti ada ikan
gabus yang berkeliran didalam sawah atau di saluran airnya banyak ditemukan ikan
gabus atau bale salo.
9. BUDAK ZAMAN KERAJAAN
Pada zaman kerajaan silam, perdagangan budak makin marak. Ada sebuah daerah di
wilayah kerajaan Todakka, dimana daerah itu disebut Alli-Alli artinya jual beli. Konon di
daerah itulah, dijadikan sebagai pasar budak. Setiap pemimpin atau orang kaya yang
ingin ada hamba sahaja, membeli budak di pasar Alli-alli, Budak yang sudah dibeli itu,
harus setiap pada tuannya, termasuk rela dikuburkan hidup-hidup di dekat makam
tuannya.
Di Todakka, ada ada salah seorang raja yang pernah memerintah kerajaan dakka namanya
Puang Baropo. Dia banyak memiliki Budak atau hamba sahayaja. Ketika Raja Baropo

wafat, maka sang budakpun dikubur hidup-hidup sampai leher di dekat makam Raja
Baropo.

10. Daeng Launu salah satu Tokoh dari Suku Todakka


Daeng Launu semasa hidupnya dikenal sebagai seorang pemberani (Tubarani). Ia
mewarisi sifat ayahnya

yang juga sebagai seorang Tuibarani

yang sangat gigih

menentang kehadiran tentara Belanda di bumi nusantara ini.


Sebagai seorang Tubarani, Daeng Launu bukan hanya memiliki ilmu beladiri dan ilmu
kebal dari senjata tajam, juga memiliki taktik perang dan memiliki sifat kepemimpinan
yang kharismatik, sehingga banyak mendapat simpatik dari masyarakat.
Sikap pemberani Daeng Launu dalam menentang kehadiran Belanda di Bumi dakka ini,
telah banyak mendapat dukungan dari masyarakat dakka. Mereka bersatu padu untuk
menggalang kekuatan melawan penjajahan, walaupun mereka mengunakan

bambu

runcing atau sebjata tradisional lainnya, tetapi dengan semangat yang membara disertai
dengan pekikan Allahu Akar semangat pasukan Todakka pimpinan Daeng Launu ini
semakin membara.
Menurut Baco bin Jepe,

Ada

legenda yang berkembang di masyarakat yang

menceritakan, bahwa Daeng Launu memiliki

beragam jenis taktik perang dalam

melumpuhkan musuh, selain taktik gerilya, ia juga punya cara untuk melumpuhkan
lawan dalam satu kampong. Caranya ia mengambil seekor kerbau, lalu kerbau itu
dibungkus dengan ijuk, lalu disiram dengan minyak tanah. Ketika kerbau yang
terbungkus ijuk itu disulut api, maka kerbau itu mengamuk masuk rumah penduduk satu
ke penduduk lainnya, hingga menimbulkan kebakaran hebat. Disaat lawan sedang sibuk-

sibuknya memadamkan api, maka kesempatan bagi pasukan Daeng launu

untuk

melakukan penyerangan.
Taktik perang lainnya, adalah bergerilya di dalam hutan dan daerah pegunungan serta
melakukan penghadangan terhadap konvoi belanda di beberapa tempat, diantaranya di
Batu Toke, dengan cara menghadang musuh dengan menjatuhkan batu gunung besar dari
puncak gunung.
Bahkan menurut Jepe, Daeng Launu juga memiliki sebuah keris sakti, namanya lamba
Tujua. Salah satu kesaktian keris ini, bilamana sudah berhadapan dengan musuh, maka
musuh yang didepannya jadi lumpuh dan tak bisa berbuat apa-apa. Dalam keadaan
musuh tak berdaya, maka secepat itu pula Daeng Launu dan pasukanya menyerang
lawan-lawanya hingga semuanya terbunuh.
Ketika masa kerajaan silam, berdiri beberapa kerajaan, diantaranya kerajaan Dakka.
Untuk memilih dan melantik Raja Dakka ini, harus ada restu dari keturunan Daeng Launu
sebagai orang yang ditokohkan dalam wilayah kerajan itu. Itulah sebabnya Daeng Launu
mendapat julukan dari warganya dengan istilah Indro Aruang artinya mamanya Raja.
Ada juga cerita yang menceritakan, bahwa Daeng Launu itu mampu menjinakkan buaya
yang ganas. Sepanjang pesisir Polman, terdapat rawa-rawa yang cukup luas, dari situ
pulalah buaya berkembang biak. Dari sekian banyak buaya, ada salah satu jenis buaya
diantaranya yang dikeramatkan, yaklni buaya putih. Buaya putih ini menurut cerita orang
Todakka, dianggap sebagai kembar manusia.
Sebagai buaya kembar manusia,

tentunya buaya ini punya perasaan sama dengan

manusia, artinya bilamana buaya ini disakiiti atau habitatnya dirusak, maka

semua

buaya di muara akan mengamuk, demikian pula sebaliknya, bilamana manusia berbuat

baik padanya, maka buaya akan banyak menolong umat manusia. Mereka pantan
memangsa manusia yang baik-baik.
Ganasnya buaya di muara Sungai Dakka, menurut

Muhklis, salah seorang tokoh

masyarakat Todakka, itu dibuktikan dengan memangsa seseorang yang sedang berjalan
menuju empangnya. Ia tak melihat buaya yang mengintai dibawah pematang, tiba-tiba
buaya itu langsung memukulkan ekornya dan secepat itu pula menerkam mangsanya.
Menghindari buaya berbuat ganas, maka warga setempat setiap saat menaruh telur di
sudut pematang sawah, dengan harapan buaya itu tidak memangsanya.
Menurut baco Jepe Daeng Launu, memiliki ilmu

yang bisa menaklukkan buaya,

termasuk buaya ganas sekalipun.


Ketika Daeng Launu melihat buaya di tengah muara, ia menyempatkan diri ke pinggir
muara sambil memanggil buaya dengan mantranya. Buaya yang ada didekat itu, bergegas
menuju Daeng Launu. Buaya terlihat akrab dengan daeng Lunu.
Sebagai pemanku adat di masyarakat suku Todakka, Daeng Launu juga memiliki
beberapa areal persawahan dan tambak yang cukup luas. Ia adalah tuan tanah di negeri
Todakka yang sangat disegani oleh warganya.

Lahan yang luas itu, bukanlah

diperuntukkan untuk dirinya dan keluarganya sendiri, akan tetapi sebagian besar lahan
miliknya diperuntukkan bagi masyarakat.
Menurut Rabaniah, salah seorang cucu daeng Launu, dahulu, semua empang dan
sawah yang ada di hamparan persawahan di kampuno itu sebagian besar milik Daeng
Launu, namun sekarang, baik tambak maupun lahan persawahan tinggal sedikit yan
dimiliki keturunannya.

Mengapa harta warisan Daeng Launu banyak beralih ke orang lain? Menurut Baco Jepe,
habisnya lahan dan tambak milik Daeng Launu, karena memang beliau

terlalu cepat

terharu melihat orang-orang miskin yang datang padanya. Ketika ada seseorang yang
mengaku tak punya lahan untuk bercocok tanam, maka rasa iba daeng Launu ini muncul.
Ia lalu memberikan sebagian lahannya pada si miskin untuk bertampat tinggal dan
sekaligus bercocok tanam. Namun kemudian, simiskin yang diberi lahan itu, sudah
keenakan tinggal pada lahan yang diberikan itu, bahkan disitu pula beranak pinak, hingga
akhirnya anak cucunya melupakan, bahwa lahan yang ditempati itu sebenarnya pinjaman
dari Daeng Launu. Sebagian besar tanah milik yang diberikan itu sudah ada suratsuratnya, sehingga sangat menyulitkan bagi ahliwaris Dg Launu untuk menuntutnya. Para
ahliwaris daeng Launu juga tak ingin menuntut tanah warisan atau tambak mereka,
mereka pasrah dan menyerahkan semuanya itu pada Yang Mahakuasa, karena mereka
sadar, bahwa lahan yang telah diberikan Daeng Launu itu, merupakan amal jariah,
sehingga tak satupun ahli waris Dang Launu berniat menuntutnya.
Suatu ketika, Daeng Launu berjalan menuju pasar, tiba-tiba dari jauh ia melihat seorang
putri Raja yang diusung oleh pengawalnya dengan tandu kerajaan. Putri itu namanya
Kaci, ia sangat cantik jelita. Daeng Launu ingin sekali memperistrikan putri Tumakaka
Biru dari Binuang itu.
Untuk meminang menculik putri Tumakaka Biru itu, memang sangat sulit, karena dkawal
oleh beberapa pengawal kerajaan. Namun begitu, Daeng Launu tidak patah semangat,
dengan caranya sendiri, ia nekad menculik putri cantik itu untuk dijadikan istrinya. Ia
berhasil menculik putri Tumakaka Biru dan melarikannya masuk ke hutan, kemudian
dibawah ke daerah Todakka.

Penculikan putrid Tomakaka Biru itu, membuat Tumakaka Binuang marah, ia menyuruh
40 orang pengawal istana yang dipimpin oleh Baco Pakkira untuk mencari putri Binuang,
dan minta putrinya dikenbalikan, dan penculiknya ditangkap hidup ataupun mati.
Pencarian itu disertai oleh kakanya putri Tumakaka bernama Mariati. Setelah mereka
mengetahui persembunyian daeng Lanun bersama putri Tumakaka, maka Daeng Launu
dengan ilmu yang dimilikinya, membuat

pengawal istana Binuan tadinya ingin

menangkap Daeng Launu tiba-tiba berbaik hati padanya, bahkan kakaknya Mariati,
tinggal di Todakka dan kawin dengan orang Todakka.**

KEPERCAYAAN DAN BUDAYA SUKU DAKKA


1. Memelihara ari-ari bayi

2. Memberi makan kepada arwah nenek moyang suku Dakka

3. Acara kematian suku Dakka

4. cara mappacci pengantin baru suku dakka

Acara baca doa setelah mappacci

5. Pembacaan barzanji dimalam pengantin baru suku dakka