Anda di halaman 1dari 78

LAPORAN AKHIR

IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM)

IbM KELOMPOK PEDULI HIPERTENSI DAN POSYANDU


LANSIA
Tahun I Dari Rencana 1 Tahun

Oleh :
Endang Triyanto, S. Kep., Ns., M.Kep
Arif Setyo Upoyo, S.Kep.,Ns., M.Kep.
Dr. Saryono, M.Kes

NIDN : 0002107804
NIDN : 0025038002
NIDN : 0010127605

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


NOPEMBER, 2013

ii

RINGKASAN

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang sering menimbulkan penyakit jantung.


Penderita ini banyak tersebar di Desa Pamijen Kec. Sokaraja Kab. Banyumas.
Kelompok Peduli Hipertensi (KPH) dibentuk dari, oleh dan untuk penderita hipertensi
sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat. Kondisi awal, keaktifan hanya 30% pada
kegiatan penyuluhan. Pengembangan KPH dilaksanakan melalui pelatihan dengan target
peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang mendukung penanganan
hipertensi. Pelatihan yang telah dilaksanakan adalah terapi relaksasi progresif, terapi
herbal, senam yoga, terapi musik, terapi aktivitas kelompok, diet hipertensi. Selain itu
dilakukan pendampingan dan konseling. Hasil pelatihan tersebut ternyata meningkatkan
kemampuan kader dalam mengelola hipertensi. Terdapat peningkatan keaktifan anggota
KPH. Keterampilan kader KPH tentang terapi relaksasi progresif meningkat. Peserta
pelatihan mampu melakukan redemonstrasi senam yoga dan terapi musik. Ketua Kader
KPH mampu memimpin proses terapi aktivitas kelompok kepada anggotanya.
Pembinaan dari puskesmas maupun dinas kesehatan harus ditingkatkan agar seluruh
kegiatan dapat berjalan secara kesinambungan.
Keyword : terapi, keperawatan, kelompok, peduli, hipertensi

iii

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh SWT atas segala nikmat dan
ridhlo-Nya, sehingga pengabdian kepada masyarakat skim IbM ini dapat
diselesaikan dengan baik. Judul pengabdian masyarakat ini adalah Pengembangan
Kelompok Peduli Hipertensi dan Posyandu Lansia Di Desa Pamijen, Kecamatan
Sokaraja, Banyumas.
Proses pengabdian kepada masyarakat ini tidak dapat terlaksana tanpa
dukungan dari berbagai pihak, diantaranya DIKTI, Universitas Jenderal Soedirman
dan Pemerintah Desa Pamijen, Sokaraja, Banyumas. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini secara khusus tim penyusun memberikan ucapan terima kasih yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah disebutkan. Namun demikian,
laporan pengabdian kepada masyarakat ini masih belum sempurna. Saran dan kritik
yang membangun, sangat penyusun harapkan. Penyusun berharap pengabdian
kepada masyarakat ini dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun tenaga kesehatan
di komunitas.

Tim Penyusun

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................


HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................
RINGKASAN ..................................................................................................
PRAKATA.......................................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI

i
ii
iii
iv
v
vi

PENDAHULUAN ..................................................................
TARGET DAN LUARAN .....................................................
METODE PELAKSANAAN .................................................
KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI ................................
HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................
KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................

1
3
4
7
8
21

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................


LAMPIRAN.....................................................................................................

22
25

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ketua Tim Sedang Memperagakan Salah Satu Gerakan


Terapi Relaksasi ......................................................................................
Gambar 2. Para Peserta Melakukan Peragaan Ulang Teknik Terapi Relaksasi ......
Gambar 3. Pelatihan Membuat Ramuan Herbal ......................................................
Gambar 4. Peragaan Ulang Senam Yoga Oleh Kader .............................................
Gambar 5. VCD Player Yang Digunakan Untuk Terapi Musik. .............................
Gambar 6. Para Peserta Pelatihan Sedang Memilih CD Terapi Musik ...................
Gambar 7. Peserta Pelatihan Sedang Melakukan Terapi Musik ..........................
Gambar 8. Ketua tim memberikan 100 keping CD terapi musik.........................
Gambar 9. Anggota Tim sedang Memberikan Penjelasan tentang
Terapi Aktivitas Kelompok .............................................................
Gambar 10. Proses Kegiatan TAK dipimpin Ketua Kader .................................
Gambar 11. Pelatihan Diet Hipertensi ..............................................................
Gambar 12. Penyuluhan Hipertensi Oleh Tim dan Kader ..................................
Gambar 13. Salah satu anggota KPH mengunjungi penderita hipertensi dan
dilakukan pemeriksaan tekanan darah.............................................
Gambar 14. Pemeriksaan Tekanan Darah Menggunakan Tensimeter Digital ..
Gambar 15. Pengukuran tekanan darah oleh tim dan konseling..........................
Gambar 16. Ketua Memberikan Buku Pedoman Kader Kepada Ketua Kader .......

vi

8
9
10
11
12
12
13
13
14
15
16
17
18
18
19
20

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Analisis Situasi
KPH di Pamijen Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas didirikan dalam

rangka meningkatkan partisipasi dan kemandirian masyarakat dalam menanggulangi


hipertensi. KPH didirikan pada tanggal 12 November 2009 dengan tujuan untuk
meningkatkan deteksi dini faktor risiko hipertensi, meningkatkan surveilans hipertensi,
mengkampanyekan pentingnya kontrol tekanan darah secara teratur, mengembangkan
kemampuan kader dan pembiayaan serta memperkuat jejaring pelayanan. KPH dibentuk
dengan konsep dari, oleh dan untuk hipertensi, artinya, para penderita hipertensi yang
sudah dilatih oleh kader yang bertindak sebagai pengurus KPH dapat mengajarkan
tentang penanganan hipertensi pada anggota yang baru. Masyarakat sangat menyambut
baik dengan adanya KPH seperti yang telah diungkapkan salah satu penderita hipertensi
pada tanggal 2 Mei 2012 saat pelaksanaan posyandu lansia sedang berlangsung.
Pengurus KPH berjumlah 10 orang kader. Saat ini anggota KPH yang merupakan
penderita hipertensi berjumlah 80 orang. Program yang dilakukan adalah penyuluhan
setiap 2 minggu sekali, pemeriksaan tekanan darah setiap minggu, terapi komplementer
(terapi musik, yoga, herbal) seminggu sekali dan terapi relaksasi progresif setiap tiga
hari sekali. Pengobatan oleh puskesmas dilaksanakan sebulan sekali. Dari sekian
program KPH, hanya pengobatan saja yang berjalan. Berbagai terapi komplementer
hanya sekali diawal pembentukan, akibat kader KPH yang sudah hafal prosedur senam
yoga, sekarang sudah pindah domisili. Terapi musik terhenti, selain karena alatnya rusak
juga disebabkan oleh pergantian terapis tanpa pelimpahan ketrampilan kepada kader
yang baru. Tensimeter sebagai alat pemeriksaan tekanan darah digital juga rusak.
Sebagian besar kader KPH pindah tugas sehingga terjadi kekurangan kader. Diet
hipertensi sama sekali tidak dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah
satu kader KPH tentang alasan diet tidak berjalan adalah tidak adanya buku pedoman
diet untuk kader. Kader KPH sebagai mitra juga mengungkapkan adanya keterbatasan

dana untuk mengadakan kegiatan. Sumber dana KPH bersumber dari iuran wajib
anggota sebesar Rp.5.000,- per bulan. Selain itu tidak ada pemasukan lain menyebabkan
kader sering sukarela bila mengadakan kegiatan.
Mitra kedua adalah posyandu lansia di Desa Pamijen, Sokaraja, Banyumas
dengan jumlah pengurus 10 orang, namun yang benar-benar aktif hanya 5 orang.
Berdasarkan hasil pre test dengan kader didapatkan data bahwa tingkat pengetahuan
tentang penatalaksanaan hipertensi yang meliputi diet penderita hipertensi, latihan
jasmani dan terapi relaksasi termasuk kategori rendah. Mitra mengungkapkan belum
mendapatkan pelatihan tentang hipertensi, hanya leflet yang diterima dari puskesmas
setempat. Mitra menambahkan, sebulan yang lalu ada anggota posyandu yang
meninggal karena sudah lama menderita hipertensi dan sudah komplikasi ke jantung.
Anggota yang meninggal ini, sudah lama tidak kontrol. Kader posyandu lansia sebagai
mitra mengungkapkan seringkali mendapatkan keluhan dari penderita hipertensi yang
bosan mengikuti terapi hipertensi, dikarenakan tekanan darah yang masih naik turun.
Hal ini membuat kebingungan bagi mitra untuk memberikan motivasi kepada penderita
hipertensi.

B.

Permasalahan Mitra
Secara ringkas dapat disimpulkan masalah yang dihadapi mitra adalah

1. Pergantian kader KPH tanpa diikuti pelatihan oleh tenaga kesehatan tentang terapi
komplementer (yoga, herbal, terapi musik) dan terapi relaksasi progresif untuk
menurunkan tekanan darah.
2. Keterbatasan alat pengukur tekanan darah dan alat terapi musik.
3. Belum adanya pedoman diet hipertensi yang sesuai dengan tingkat pemahaman
kader sebagai kelompok masyarakat yang awam.
4. Rendahnya

tingkat

pengetahuan

kader

tentang

penatalaksanaan

hipertensi

(pengetahuan, diet, latihan fisik dan terapi).


5. Kebingungan kader untuk memberikan motivasi kepada penderita hipertensi akibat
bosan melakukan terapi hipertensi.

BAB II
TARGET DAN LUARAN

Setelah kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini selesai, tercapai peningkatan


keterampilan kader dalam melakukan terapi relaksasi progresif sebesar 80%;
peningkatan 80% keterampilan kader memilih terapi herbal untuk hipertensi;
peningkatan 100% keterampilan kader untuk memperagakan senam yoga; peningkatan
keterampilan kader untuk melakukan terapi musik dominan frekuensi sedang sebesar
80%; peningkatan 80% keterampilan terapi aktivitas kelompok; peningkatan 90%
pengetahuan dan keterampilan mengelola diet hipertensi dan tersedianya pedoman diet
hipertensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat; peningkatan 80% pengetahuan
hipertensi bagi keluarga dan penderita; terpantaunya tekanan darah penderita hipertensi
dengan target 80%; dan terjadinya perubahan perilaku gaya hidup penderita minimal
60% dari jumlah penderita.
Target akan diukur menggunakan evaluasi pre test dan post test. Dari
keseluruhan target diharapkan penderita hipertensi terbebas dari komplikasi akibat
hipertensi. Luaran yang diharapkan dari Pengabdian Kepada Masyarakat skim Ipteks
bagi Masyarakat ini adalah publikasi ilmiah dan buku ajar keperawatan komunitas
khususnya bagi kelompok penderita hipertensi.

BAB III
METODE PELAKSANAAN

Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit tekanan darah tinggi
adalah dengan terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Berdasarkan konsep tersebut,
maka dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan berbagai tindakan.
Tindakan untuk mengatasi kasus hipertensi yang berbasis masyarakat agar lebih tepat
sasaran perlu dilakukan dalam wadah posyandu lansia dan KPH. Khalayak sasaran pada
kegiatan ini adalah kader KPH dan Posyandu Lansia di Desa Pamijen Kecamatan
Sokaraja Kabupaten Banyumas berjumlah 10 orang. Berdasarkan permasalahan pada
kedua mitra tersebut, maka disusun solusi berikut ini dengan terlebih dahulu melakukan
perekrutan kembali kader KPH.

1. Pelatihan Terapi Relaksasi Progresif


Pelatihan terapi relaksasi progresif dilaksanakan kepada 10 orang kader KPH diikuti
dengan pendampingan sampai benar-benar dapat menerapkannya kepada 10
penderita hipertensi. Selama pelatihan diperagakan secara langsung teknik terapi.
Para peserta pelatihan diberikan CD yang berisi video terapi relaksasi progresif
untuk panduan latihan di rumah. Penilaian dilakukan dengan observasi langsung
menggunakan bantuan cek list.
2. Pelatihan Terapi Herbal untuk Hipertensi
Pelatihan terapi herbal untuk menurunkan tekanan darah dengan membuat ramuan
herbal dilaksanakan kepada 10 orang kader KPH menggunakan bahan herbal
setempat. Pelatihan diberikan oleh pakar biomedik.
3. Pelatihan Senam Aerobik dan Yoga
Senam aerobik dan yoga diajarkan kepada kader melalui peragaan secara berulangulang hingga dapat mengikuti prosedur secara benar dan hafal. Penilaian
dilaksanakan menggunakan cek list terhadap gerakan senam. Peserta diberikan CD
video tentang senam aerobik dan yoga untuk hipertensi.

4. Pelatihan Terapi Musik Dominan Frekuensi Sedang


Pelatihan terapi musik dilakukan dengan menggunakan alat CD player yang
dihubungkan dengan earphone selama 30 menit per sesi. Berbagai jenis lagu yang
sudah dilakukan pengeditan menjadi dominan frekuensi sedang disiapkan dalam
bentuk CD. Peserta diberikan modul kit dan CD terapinya.
5. Pelatihan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terapi aktivitas kelompok dapat memotivasi peserta sesuai tujuan terapi. Pelatihan
terapi aktivitas kelompok dilakukan kepada 10 orang kader. Pelatihan ini terdiri atas
materi dan role play. Selanjutnya didampingi pelaksanaan TAK kepada 10 orang
penderita hipertensi yang dipandu oleh kader. Pelaksanaan TAK dengan media tape
recorder sebagai alat bantu terapi. Setiap peserta menceritakan pengalamannya
menjalani pengobatan. Peserta lain menanggapi dan memberi masukan atas masalah
yang dihadapi. Begitu seterusnya sehingga pada akhirnya tercapai solusi untuk
meningkatkan motivasi penderita untuk melakukan pencegahan dan pengobatan.
6. Pelatihan Diet Hipertensi
Pelatihan diet hipertensi diberikan oleh anggota yaitu Dr.Saryono,M.Kes yang ahli di
bidang biomedik. Pelatihan ini dilaksanakan sampai menyiapkan menu harian
penderita hipertensi. Pemilihan menu berdasarkan potensi lokal dengan harga yang
relatif murah.
7. Penyuluhan Perawatan Hipertensi
Penyuluhan akbar tentang hipertensi mengundang seluruh anggota KPH yang
merupakan penderita hipertensi menggunakan media LCD proyektor, dan leaflet.
8. Pendampingan Pemeriksaan Tekanan Darah
Pemeriksaan menggunakan alat digital tensimeter dengan standar WHO untuk
mengukur tekanan darah. Manset alat dipasang di lengan penderita hipertensi,
kemudian menghidupkan alatnya. Secara otomatis, alat akan memompa manset.
Setelah itu alat akan membuang udara dalam manset, bersamaan dengan itu akan
terbaca tekanan darah pada layar.

Kegiatan ini dapat membantu program kesehatan lansia khususnya penyakit tidak
menular Puskesmas Sokaraja dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dalam rangka
menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi melalui pemberdayaan
keluarga dan masyarakat. Peran Puskesmas adalah memberikan pengobatan gratis pada
kegiatan ini. Ipteks bagi masyarakat ini diharapkan sebagai media untuk mentransfer
ilmu pengetahuan para dosen di perguruan tinggi kepada masyarakat, sehingga
masyarakat hipertensi dapat mandiri dalam mengendalikan penyakitnya. Langkah
tersebut merupakan wujud pemberdayaan masyarakat yang dapat mengakselerasi
pencapaian tujuan pembangunan kesehatan melalui pencapaian tujuan Standar
Pelayanan Minimal Kabupaten Banyumas.

BAB IV
KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas


Jenderal Soedirman mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan ilmu melalui
riset. Hasil riset tersebut diterapkan guna membangun masyarakat menjadi mandiri.
Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sudah menjadi program rutin
bagi LPPM Unsoed setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara tim
dosen jurusan keperawatan, perawat Puskesmas Sokaraja, Kader KPH dan Posyandu
lansia di Desa Pamijen, Sokaraja, Banyumas.
Ketua pelaksana merupakan staf pengajar dari Jurusan Keperawatan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto yang
mempunyai kualifikasi pendidikan S2 keperawatan dengan peminatan keahlian bidang
keperawatan komunitas dan keluarga. Penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh
ketua pelaksana adalah tentang terapi komplementer yang salah satunya adalah terapi
musik dari sumber dana hibah bersaing DIKTI. Terapi musik dalam pengabdian kepada
masyarakat pernah dilakukan oleh ketua pelaksana, sehingga kegiatan ini sangat sesuai
dengan bidang spesialiasai ketua pelaksana. Anggota tim merupakan staf pengajar dari
fakultas yang sama yang memiliki minat besar terhadap hipertensi di masyarakat.
Berbagai pelatihan mulai dari terapi herbal, relaksasi pernah diikuti. Salah satu anggota
sudah bergelar doctor dan merupakan pakar dalam bidang biomedik.

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat skim Ipteks Bagi Masyarakat ini


dilaksanakan di Desa Pamijen Kecematan Sokaraja Kabupaten Banyumas. Tahap
persiapan sampai dengan penyusunan laporan kemajuan dimulai sejak bulan Mei sampai
dengan Nopember Tahun 2013. Penjelasan setiap kegiatan akan diuraikan di bawah ini.
a. Pelatihan Terapi Relaksasi Progresif.
Berikut ini gambar yang berhasil tim ambil selama kegiatan.

Gambar 1. Ketua Tim Sedang Memperagakan Salah Satu Gerakan Terapi Relaksasi

Pelatihan terapi relaksasi progresif dilaksanakan kepada 10 orang kader KPH dan
10 kader posyandu lansia dengan menggunakan media audio visual. Kehadiran peserta
100%. Keaktifan selama pelatihan berlangsung tampak dari berbagai pertanyaan dan
partisipasi peserta sampai semua gerakan terapi selesai. Selama pelatihan diperagakan
secara langsung teknik terapi. Para peserta pelatihan juga diberikan CD yang berisi
video terapi relaksasi progresif sebagai panduan latihan di rumah. Evaluasi dilakukan
oleh tim kepada peserta dengan cara redemonstrasi setelah selesai pelatihan yang dinilai

menggunakan cek list. Cek list ini berisi tentang prosedur terapi. Berdasarkan
pengamatan tim, diperoleh tingkat keberhasilan adalah 100%. Setelah dilakukan
redemonstrasi kedua, semua peserta mampu memperagakan teknik terapi dengan benar.

Gambar 2. Para Peserta Melakukan Peragaan Ulang Teknik Terapi Relaksasi

Peserta pelatihan mengungkapkan bahwa mereka akan mengajarkan ke penderita


hipertensi di desanya dan disepakati akan dilaksanakan setiap posyandu. Penderita
hipertensi yang berkunjung ke posyandu akan diajarkan terapi ini setelah dicek tekanan
darahnya.

b. Pelatihan Terapi Herbal untuk Hipertensi


Terapi herbal digunakan untuk menurunkan tekanan darah dengan membuat
ramuan herbal dilaksanakan kepada 10 orang kader KPH menggunakan bahan herbal
setempat yaitu pohon cimplukan, buah belimbing, seledri, pace dan daun kumis kucing.
Pelatihan diberikan dengan media tanaman herbal. Evaluasi dilakukan langsung kepada

peserta untuk membuat ramuan herbal sesuai pelatihan yang telah dilaksanakan dengan
observasi takarannya. Sejumlah 100% mampu melakukan secara benar dengan
didampingi. Beberapa bahan ramuan herbal yang dikenalkan tampak pada gambargambar di bawah ini.

Gambar 3. Pelatihan Membuat Ramuan Herbal


Salah satu resep ramuan herbal yang diperagakan adalah jus kombinasi 2 buah
mengkudu matang, 1 buah belimbing manis dan 100 gram seledri. Bahan tersebut
direbus dengan 250cc air sampai mendidih dan ditambahkan madu 1 sendok makan.
Selanjutnya ramuan ini diminum dalam keadaan hangat 1 gelas pagi dan malam hari.

c. Pelatihan Senam Yoga


Senam yoga diajarkan kepada kader melalui 2 kali peragaan. Sebelumnya
diajarkan menggunakan media audio visual dengan memutar CD senam yoga. Senam
yoga dalam CD tersebut memuat musik instrumental sebagai pengiring senam agar
peserta lebih meresapinya. Setelah pemutaran selesai, dilanjutkan peragaan oleh trainer.
Evaluasi dilakukan oleh tim terhadap peserta dengan disuruh memperagakan kembali
diakhir sesi pelatihan dan dinilai menggunakan cek list yang telah dipersiapkan.
Penilaian dilaksanakan menggunakan cek list terhadap gerakan senam. Hasil yang
diperoleh 5 orang sampel semuanya mampu melakukan dengan benar. Peserta diberikan
CD video tentang senam yoga untuk hipertensi. Di bawah ini ditampilkan gambar
peragaan senam yoga.

10

Gambar 4. Peragaan Ulang Senam Yoga Oleh Kader


Selama senam yoga tampak peserta terlihat konsentrasi terhadap gerakan dan
suara music instrumental yang diputarkan. Berdasarkan hasil wawancara yang
dilaksanakan diakhir sesi latihan untuk menilai efek senam yoga, para peserta merasakan
keadaan relaks selama dan akhir senam. Hal ini berarti senam yoga untuk menurunkan
tekanan darah tinggi berhasil.

d. Pelatihan Terapi Musik Dominan Frekuensi Sedang


Pelatihan terapi musik dilakukan dengan menggunakan alat CD player yang
dihubungkan dengan earphone selama 30 menit per sesi. Berbagai jenis lagu yang sudah
dilakukan pengeditan menjadi dominan frekuensi sedang yang telah disiapkan dalam
bentuk CD. Peserta diberikan CD tersebut untuk dipilih lagunya. Prinsip pelaksanaan
terapi musik ini adalah penderita hipertensi yang menyukai musik dan seting ruangan
yang tenang. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kegiatan ini dilakukan
pengukuran darah setelah terapi musik berakhir. Apabila tekanan darah peserta
mengalami penurunan, maka ini dikatakan berhasil. Pelatihan diarahkan agar peserta
dapat memperagakan cara melakukan terapi musik yang baik dan benar. Hasil penilaian
yang dilakukan terhadap kader 100% dinyatakan benar sesuai prosedur. Gambar di

11

bawah ini merupakan rangkaian pelatihan terapi musik yang telah dilaksanakan. Para
peserta mencoba memilih jenis lagu, selanjutnya mendengarkan musik melalui earphone
yang dihubungkan dengan pemutar musik.

Gambar 5. VCD Player Yang Digunakan Untuk Terapi Musik.


Alat tersebut berdaya listrik bateray AA sejumlah 2 buah. Untuk dapat
digunakan untuk terapi harus dihubungkan dengan earphone ke telinga klien/penderita.
Satu CD memuat 16-29 jenis lagu yang telah diedit menjadi dominan frekuensi sedang.
Semua peserta mendapatkan sebuah CD terapi yang dibagikan secara gratis dan bahkan
ditambahkan 5 buah CD tambahan.

Gambar 6. Para Peserta Pelatihan Sedang Memilih CD Terapi Musik

12

Gambar 7. Peserta Pelatihan Sedang Melakukan Terapi Musik

Gambar 8. Ketua tim memberikan 100 keping CD terapi musik

13

e. Pelatihan Terapi Aktivitas Kelompok


Terapi aktivitas kelompok dapat memotivasi peserta sesuai tujuan terapi.
Pelatihan terapi aktivitas kelompok dilakukan kepada 10 orang kader. Pelatihan ini
terdiri atas materi dan role play. Selanjutnya didampingi pelaksanaan TAK kepada 10
orang penderita hipertensi yang dipandu oleh kader. Pelaksanaan TAK dengan media
tape recorder sebagai alat bantu terapi. Peserta TAK diberikan ballpoint putar dan
diputarkan musik, ketika musik yang diputar berhenti, maka yang memegang ballpoint
diberikan kesempatan untuk menceritakan pengalamannya selama mengalami penyakit
hipertensi. Peserta lain menanggapi dan memberi masukan atas masalah yang dihadapi
penderita tersebut. Begitu seterusnya sehingga tercapai solusi untuk meningkatkan
motivasi penderita untuk melakukan pencegahan dan pengobatan.

Gambar 9. Anggota Tim sedang Memberikan Penjelasan tentang Terapi Aktivitas


Kelompok
Evaluasi dilakukan oleh tim kepada peserta pelatihan selama terapi aktivitas
kelompok berlangsung menggunakan cek list yang telah dipersiapkan. Cek list ini berisi
tentang prosedur terapi, mulai dari persiapan, pelaksanaan (keaktifan peserta terapi), dan
penutupan (pencapaian tujuan terapi). Pencapaian tujuan terapi dievaluasi secara

14

kualitatif dengan wawancara tentang motivasi penderita hipertensi seletah menjalani


terapi aktivitas kelompok. TAK ini berlangsung selama 30 menit dan peserta terlihat
aktif. Hasil wawancara disimpulkan penderita menyatakan peningkatan motivasi untuk
menjalani terapi hipertensi. Hal ini berarti terapi aktivitas kelompok dinyatakan berhasil.
Berikut ini gambar saat TAK berlangsung.

Gambar 10. Proses Kegiatan TAK dipimpin Ketua Kader


Gambar 10 menunjukkan bahwa ketua kelompok TAK sedang mendengarkan
salah satu peserta yang sedang menceritakan pengalamannya selama menderita
hipertensi. Peserta lain mendengarkan dengan seksama.

f. Pelatihan Diet Hipertensi


Pelatihan diet hipertensi dilaksanakan dengan menjelaskan jenis makanan yang
dibolehkan dan dihindari serta takarannya hingga menyiapkan menu harian penderita
hipertensi. Pemilihan menu berdasarkan potensi lokal dengan harga yang relatif murah
yaitu berupa sayuran dan buah. Peningkatan kemampuan kader dalam pelatihan diet

15

hipertensi dinilai setelah selesai pelatihan dengan cara memilih menu makanan yang
boleh dikonsumsi. Selama kegiatan ini, peserta pelatihan tampak serius mendengarkan.
Demikian juga saat diskusi, mereka banyak yang berkonsultasi tentang kesulitan
mempertahankan diet. Hal ini diungkapkan salah satu peserta yang mengaku sudah
terbiasa dengan makan-makanan gorengan dan asin terutama bagi suaminya. Pada akhir
sesi, ketika 5 peserta secara acak disuruh menjelaskan kembali diet hipertensi, sejumlah
100% mampu menyebutkan dengan benar.

Gambar 11. Pelatihan Diet Hipertensi


g. Penyuluhan Perawatan Hipertensi
Penyuluhan akbar tentang hipertensi mengundang seluruh anggota KPH yang
merupakan penderita hipertensi. Peserta yang hadir 20 orang. Kegiatan ini dilaksanakan
di luar ruangan menggunakan media LCD proyektor, laptop dan leaflet. Selama kegiatan
berlangsung, para peserta tampak mendengarkan dengan seksama dan tidak ada yang
meninggalkan tempat sampai penyuluhan selesai. Sebagian besar audience adalah lanjut
usia. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah pelatihan dengan memberikan pertanyaan

16

lisan tentang hipertensi dan perawatannya. Berdasarkan jawaban yang diberikan peserta,
dari 5 orang yang ditanya, 4 orang diantaranya mampu menjawab dengan benar.

Gambar 12. Penyuluhan Hipertensi Oleh Tim dan Kader

h. Pendampingan dan Konseling Pemeriksaan Tekanan Darah


Pemeriksaan menggunakan alat digital tensimeter dengan standar WHO untuk
mengukur tekanan darah. Kegiatan ini dibantu oleh mahasiswa semester akhir. Manset
alat dipasang di lengan penderita hipertensi, kemudian menghidupkan alatnya. Secara
otomatis, alat akan memompa manset. Setelah itu alat akan membuang udara dalam
manset, bersamaan dengan itu akan terbaca tekanan darah pada layar. Evaluasi
dilakukan oleh tim kepada peserta dengan observasi langsung terhadap ketepatan
menggunakan alat ukur tersebut. Pemeriksaan ini dilanjutkan oleh kader KPH.
Ketepatan prosedur dinilai dengan melihat indikator monitor alat yang menampilkan
hasil pengukuran tekanan darah kemudian dicatat. Hasil pencatatan pemeriksaan tekanan
darah yang terbanyak adalah pada rentang 160-180/85-100 mmHg.

17

Gambar 13. Salah satu anggota KPH mengunjungi penderita hipertensi dan dilakukan
pemeriksaan tekanan darah

Gambar 14. Pemeriksaan Tekanan Darah Menggunakan Tensimeter Digital

18

Langkah selanjutnya adalah melakukan pendampingan perubahan perilaku gaya


hidup penderita hipertensi berupa konseling kepada penderita dan keluarga. Kegiatan ini
dilakukan oleh Tim IbM dibantu oleh kader KPH. Tim memberikan pengarahan,
motivasi dan konseling terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Kader KPH menskrining
kelompok resiko dan apabila dinyatakan menderita tekanan darah tinggi, maka dimintai
kesediaannya untuk bergabung dalam wadah KPH. Seluruh anggota berhasil ditemukan,
dimotivasi untuk masuk menjadi anggota KPH. Selanjutnya dilakukan penyuluhan dan
diajarkan berbagai terapi untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Penderita yang
terjaring akan dilaporkan kepada Pembina KPH dan petugas kesehatan puskesmas.
Untuk merubah gaya hidup penderita hipertensi, kader KPH akan bekerja sama dengan
keluarga penderita secara bersama-sama melakukan serangkaian kegiatan. Kegiatan
yang dimaksud diarahkan untuk merubah perilaku tahap demi tahap sampai benar-benar
bebas dari resiko hipertensi.

Gambar 15. Pengukuran tekanan darah oleh tim dan konseling

Penyerahan buku pedoman kader KPH sebagai panduan mereka dalam


menjalankan tugasnya. Berikut ini gambar penyerahan sejumlah buku pedoman kader.

19

Gambar 16. Ketua Memberikan Buku Pedoman Kader Kepada Ketua Kader

Susunan kepanitiaan pengurus KPH yang baru adalah sebagai berikut.


Ketua

: Siti Solechah

Sekretaris

: Tiflatun

Bendahara

: Sumiyati

Seksi seksi :
Relaksasi

: Wiwit

Musik

: Nurul

Kontrol hipertensi : Hurustuti Handayani


Yoga

: Tuminah

Diet dan herbal

: Bu Jarot

Seluruh kader sepakat akan melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

20

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan di atas, maka dapat disimpulkan
hal-hal berikut ini.
1. Terdapat peningkatan keaktifan anggota KPH terbukti dari 100% kehadiran dalam
satu kegiatan.
2. Kader KPH mampu melakukan terapi relaksasi progresif dengan benar.
3. Selama pelatihan terapi herbal untuk hipertensi, para peserta mampu memperagakan
kembali dengan benar sejumlah 100%.
4. Peserta pelatihan mampu melakukan redemonstrasi senam yoga untuk hipertensi.
5. Kader KPH mampu melakukan terapi musik dominan frekuensi sedang
menggunakan alat yang telah disediakan.
6. Ketua Kader KPH mampu memimpin proses terapi aktivitas kelompok kepada
anggotanya secara aktif.
7. Pada akhir sesi, ketika para peserta disuruh menjelaskan kembali diet hipertensi,
sejumlah 100% mampu menyebutkan dengan benar.
8. Terdapat peningkatan pengetahuan penderita hipertensi sebesar 80%.
9. Hasil pencatatan pemeriksaan tekanan darah yang terbanyak adalah pada rentang
160-180/85-100 mmHg.
10. Seluruh kader sepakat akan melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

B. Saran
Pembinaan yang berkesinambungan dari Puskesmas maupun Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas harus selalu ditingkatkan agar KPH selalu berkembang pesat. Hal
ini bertujuan agar seluruh kegiatan KPH dapat berjalan secara kesinambungan.
Dukungan dari pemerintah desa agar selalu ditingkatkan. Kader KPH perlu mendapatkan
penyegaran kader setiap 6 bulan sekali.

21

DAFTAR PUSTAKA

Adinil, H. (2004). Penatalaksanaan Hipertensi Secara Komprehensif. Jurnal Kedokteran


Muhammadiyah 2(2).
American Hypertension Association. (2006). Alternative Treatments Hypertension. Dari
http://healthlibrary.epnet.com/print.aspx?chunkiid=11764 diunduh tanggal 10 Mei
2011
Asrin, Triyanto, E. dan Siti, M. (2008). Upaya Pengendalian Respon Emosional Pasien
Hipertensi dengan Terapi Musik Dominan Frekuensi Sedang. Soedirman Nursing
Journal 4(2)
Argacha & Adamopoulos.(2008).Acute Effects of Passive Smoking on Peripheral
Vascular Function. Diakses dari http://hyper.ahajournals.org/cgi/reprint506
diunduh tanggal 17 Mei 2011
Armilawaty, Amalia H, Amirudin R. (2007). Hipertensi dan Faktor Risikonya dalam
Kajian Epidemiologi. Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.
Asosiasi Terapi Musik Kanada. (2004). What music therapy is. Tersedia pada:
http://www.therapy-def_files\definition.htm (diakses 16 Mei 2011).
Augustin, P., & Hains, A. (2006). Effect of music on ambulatory surgery patients
preoperative anxiety. AORN Journal, 6 (4) 750-758.
Barnason, S., Zimmerman & Nieveen. (2005). The effect of music interventions on
anxiety in the patient after coronary artery bypass grafting. Heart & Lung Journal
of Critical Care, 24(2), 124-132
Campbell, D. (2002). Efek mozart. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Chlan, L. (2008). Complementary Therapy in Nursing. New York : Springer Publishing
Company, Inc
Chlan, L., Evans, D., Greenleaf, M., & Walker, J. (2000) Effects of a single music
therapy intervention on anxiety, discomfort, satisfaction, and compliance with
screening guidelines in outpatients undergoing flexible sigmoidoscopy.
Gastroenterology Nursing, 23 (4), 148-156.
Davis, Eshelman (2005). Panduan Relaksasi & Reduksi Stres. Jakarta : EGC

22

Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. 2010. Sepuluh Penyakit Terbanyak di


Kabupaten Banyumas Tahun 2010. Banyumas : Dinas Kesehatan Kabupaten
Banyumas.
Erviana, A. (2009). Pengaruh Pemberian Tehnik Relaksasi Terhadap Penurunan
Hipertensi Di Desa Tulangan Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri
Jawa Tengah. Jurnal Ners 1(2)
Hozawa, A., Okamura, T., Murakami, Y. (2007). Joint Impact Of Smoking And
Hypertension On Cardiovascular Disease and All-Cause Mortality in Japan.
Diakses dari http://www.jstage.jst.go.jp/article/hypres/30/12/1169/pdf tanggal 17
Mei 2011.
Hoeymans N, Smit HA, Verkleij H, Kromhout D. (2003). Cardiovascular Risk Factors.
Journal Epidemiology Community Health 5(7):739-750
Jones, A., & Field, T. (1999). Massage and music therapies attenuate frontal EEG
asymmetry in depressed adolescents. Fall, 34(i135), 529 536.
Kneafsey, R. (1997). The therapeutic use of music in care of elderly setting: A literature
review. Journal of Clinical Nursing, 6 (5), 341 - 346.
Kurniawan. (2002). Gizi Seimbang untuk Mencegah Hipertensi. Jakarta : FK Yarsi.
Lazaroff, I., & Shimsoni, R. (2000) Effect of medical resonance therapy music on
patient with psoriasis and neurodermatitis : A pilot study. Integrative
Physiological and Behavioral Science, 35 (i3), 189-197.
Lewis, Sharon, M., Margaret, M. H.,& Shanon R. D. (2000). Medical Surgical Nursing
Assesment and Management of Clinical Problems. St. Louis, Missouri: Mosby Inc.
Luluk, P. (2009). Pengaruh Pemberian Terapi Aktivitas Kelompok Terhadap Penurunan
Skor Depresi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan 12(2):115-126.
Mucci, K., & Mucci, R. (2000). The healing sound of music. Scotland: Findhorn Press.
Putu, Ni Luh. (2009). Perbedaaan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Wanita
Dewasa Yang Melakukan Senam Yoga Dan Penderita Hipertensi Padawanita
Dewasa Yang Tidak Melakukan Senamyoga. Jurnal Keperawatan Indonesia
7(2):12-21
Ramdhani, Neila. Putra, Adhyos, Aulia. (2006). Pengembangan terapi relaksasi
progresif. Jurnal Keperawatan Indonesia 4(2)

23

Ridjab, D. (2005). Pengaruh Aktifitas Fisik Terhadap Tekanan Darah. Jurnal Kedokteran
Atmajaya 4(2):73
Riskesdas. (2010). Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Jakarta : Badan
Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Sasmita, A. (2009). Pengaruh Senam Yoga Selama 12 Minggu Terhadap Tekanan Darah
Diastol dan Sistol Hipertensi. Media Keperawatan 1(1)

Shapo L, Pomerleau J, McKee M. (2003). Epidemiology of Hypertension and


Associated Cardiovascular Risk Factors in Albania. Journal Epidemiology
Community Health 5(7):734739
Sudoyo, A. Setyohadi, B., & Setiati, S. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta
: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Snyder, M., & Lindquist, R. (2008). Complementary/alternative therapies in nursing (3rd
Ed.). New York: Springer Publishing Company, Inc.
Susilowati, Kiki. (2009). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Terhadap Tingkat
Depresi Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Soedirman Nursing Journal 5(1)
Thaut, M.H. (1999). Music therapy in neurological rehabilitation. In Davis, W.B.,
Gfeller, K.E., & Thaut, M.H. (1999). An introduction to music therapy: Theory
and practice. The United States of America: A Devission of The Mc.Grae-Hill
Companies.
The Joanna Briggs Institute. (2004). Techniques and pressure for wound cleansing. Dari
http://www.joannabriggs.edu.au/best_practice/bp13.php tanggal 21 Mei 2011.
Veijo, A., Chlan, L., & Tracy, M.F. (1999). Music therapy in critical care : Indications
and guidelines for intervention. Critical Care Nurse, 19 (3):35-40.
Wade, A Hwheir, D N Cameron, A. (2003). Using a Problem Detection Study to
Identify and Compare Health Care Privider and Consumer Views of
Antihypertensive Therapy. Journal of Human Hypertension 17 (6).
WHO. (2009). Report of hypertensions. WHO/CDS/RBM/2001.35. Geneva 28-30
March 2009.

24

LAMPIRAN 1. Foto Sekretariat KPH

25

LAMPIRAN 2. Draft Artikel


PENGEMBANGAN KELOMPOK PEDULI HIPERTENSI SEBAGAI BENTUK
PEMBERDAYAAN KELUARGA DI DESA PAMIJEN, KECAMATAN
SOKARAJA, BANYUMAS
1,2,3

Endang Triyanto 1, Arif Setyo Upoyo 2, Saryono3


Dosen Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

ABSTRAK
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan terjadinya penyakit jantung.
Penderita hipertensi tersebar terbanyak di Banyumas adalah Desa Pamijen, Sokaraja.
Kelompok Peduli Hipertensi (KPH) dibentuk dengan konsep dari, oleh dan untuk
penderita hipertensi. Saat ini keaktifan hanya 30% pada kegiatan penyuluhan. Khalayak
sasaran adalah pengurus KPH di Pamijen, Sokaraja, Banyumas. Pengembangan KPH
dilaksanakan dengan serangkaian paket pelatihan kader. Pelatihan terapi relaksasi
progresif menggunakan media audio visual. Selama pelatihan diperagakan secara
langsung teknik terapi. Terapi herbal digunakan untuk menurunkan tekanan darah
dengan membuat ramuan herbal. Peserta diajarkan cara membuat ramuan herbal.
Pelatihan senam yoga dengan memutar CD senam yoga. Peserta diajarkan cara terapi
musik dengan benar. Penderita menyatakan peningkatan motivasi untuk menjalani terapi
hipertensi. Pelatihan diet hipertensi dilaksanakan dengan menjelaskan jenis makanan
yang dibolehkan dan dihindari serta takarannya. Berbagai paket pelatihan tersebut akan
meningkatkan kemampuan kader dalam mengelola KPH. Terdapat peningkatan
keaktifan anggota KPH. Keterampilan kader KPH tentang terapi relaksasi progresif
meningkat. Peserta pelatihan mampu melakukan redemonstrasi senam yoga dan terapi
musik. Ketua Kader KPH mampu memimpin proses terapi aktivitas kelompok kepada
anggotanya. Pembinaan dari puskesmas maupun dinas kesehatan harus ditingkatkan agar
seluruh kegiatan dapat berjalan secara kesinambungan.
Keyword : terapi, keperawatan, kelompok peduli, hipertensi
ABSTRACT
Uncontrolled hypertension can lead to heart disease. Hypertension patients is spread
most in Pamijen, Sokaraja, Banyumas. Hypertension Care Group was formed with the
concept of, by and for people with hypertension. Currently only 30% active in extension
activities. The audiences is 10 people KPH members in Pamijen, Sokaraja, Banyumas.
KPH development carried out by a series of cadre training packages. Progressive
relaxation training using audio visual media. During training directly demonstrated
therapeutic techniques. Herbal therapy is used to lower blood pressure by making herbal
potions. Participants are taught how to make herbal potions. Gymnastic training yoga
with yoga play CD gymnastics. Participants are taught how music therapy correctly.
Patients expressed increased motivation to undergo therapy of hypertension. Training

26

conducted with hypertension diet explain the types of foods allowed and avoided, and
proportion. Various training packages that will enhance the ability of cadres in managing
KPH. There is increased activity of members of the KPH. Skills KPH cadre of
progressive relaxation therapy increased. The trainees are able to do gymnastics yoga
and music therapy. Chairman KPH able to lead therapeutic group activities to their
members. Construction of health centers and health department should be improved so
that all activities can be run in continuity.
Keyword : nursing therapy, hypertension care group

PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan
kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi 140/90 mmHg. Hipertensi
sering disebut sebagai silent killer (pembunuh siluman), karena seringkali penderita
hipertensi bertahun-tahun tanpa merasakan sesuatu gangguan atau gejala. Penderita
hipertensi tersebar terbanyak di Desa Pamijen, Sokaraja, Banyumas.
Penanganan hipertensi dan lamanya pengobatan dianggap kompleks karena
tekanan darah cenderung tidak stabil. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk
membantu mengatasi hipertensi. Penulis berinisiatif bersama masyarakat untuk
mendirikan Kelompok Peduli Hipertensi (KPH) di Pamijen, Sokaraja, Banyumas dalam
rangka meningkatkan partisipasi dan kemandirian keluarga dalam mencegah dan
menanggulangi hipertensi. KPH dibentuk dengan konsep dari, oleh dan untuk penderita
hipertensi, artinya, para penderita hipertensi yang sudah dilatih oleh pengurus dapat
mengajarkan tentang penanganan hipertensi kepada anggota yang baru.
Program KPH meliputi penyuluhan setiap 2 minggu sekali, pemeriksaan tekanan
darah setiap minggu, terapi komplementer (terapi musik, yoga, herbal) setiap minggu
dan terapi relaksasi progresif setiap tiga hari sekali. Saat ini keaktifan anggota hanya
30% pada kegiatan penyuluhan dan terapi musik hipertensi. Harapannya melalui model
KPH ini dapat dijadikan wadah pertemuan para penderita hipertensi untuk berbagi
pengalaman dan saling mendukung penyembuhan sebagai bentuk pemberdayaan
masyarakat dalam penatalaksanaan hipertensi sehingga penderita hipertensi terhindar
dari komplikasi-komplikasi lanjut.
Kegiatan yang telah dilaksanakan baru penyuluhan hipertensi, diet hipertensi dan
terapi musik. Program kegiatan yang lain seperti terapi komplementer dan relaksasi
progresif belum pernah dilakukan, padahal terapi tersebut terbukti ilmiah dan sudah
banyak digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Terapi musik pada mitra saat ini
terhenti karena alatnya yang rusak. Tensimeter sebagai alat pemeriksaan tekanan darah
digital juga rusak. Kader KPH ada yang pindah tugas sehingga saat ini kader aktif hanya
3 orang yang berarti terjadi kekurangan kader. Diet hipertensi baru sebatas mengenalkan
jenis makanan saja, belum mampu melaksanakan pengelolaan diet dalam keluarga.
Berdasarkan wawancara yang dilaksanakan pada Juni 2011, kader menyatakan bahwa
mereka menginginkan penyegaran kader dan peningkatan kegiatan KPH. Tujuan umum

27

kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran


kader KPH dalam mengelola program kegiatan dalam mengatasi hipertensi.
METODE PELAKSANAAN
Khalayak sasaran kegiatan ini adalah pengurus KPH di Desa Pamijen Kecamatan
Sokaraja Kabupaten Banyumas. Tindakan untuk mengatasi hipertensi agar lebih tepat
sasaran perlu dilakukan dalam wadah kelompok masyarakat antara lain dengan
pengembangan KPH yang akan meningkatkan keaktifan penderita hipertensi. Kegiatan
ini dilaksanakan dengan penerapan ipteks bagi masyarakat melalui serangkaian pelatihan
tentang pengelolaan KPH, sebagai media untuk mentransfer ilmu pengetahuan para
dosen di perguruan tinggi kepada masyarakat, sehingga keluarga dan penderita
hipertensi dapat secara mandiri dalam mengendalikan penyakitnya. Langkah tersebut
merupakan wujud pemberdayaan masyarakat yang akan mengakselerasi pencapaian
tujuan pembangunan kesehatan melalui pencapaian tujuan Standar Pelayanan Minimal
Kabupaten Banyumas. Pelaksanaan kegiatan mulai Mei sampai dengan Oktober 2013.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Teknik relaksasi semakin sering dilakukan karena terbukti efektif mengurangi
ketegangan dan kecemasan, mengatasi insomnia dan asma (Ramdhani, 2006). Di
Indonesia, penelitian relaksasi progresif sudah cukup banyak dilakukan. Terapi relaksasi
progresif terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi
(Erviana, 2009). Pelatihan terapi relaksasi progresif dilaksanakan kepada 10 orang kader
KPH dengan media audio visual. Kehadiran peserta 100%. Keaktifan selama pelatihan
berlangsung tampak dari berbagai pertanyaan dan partisipasi peserta sampai semua
gerakan terapi selesai. Selama pelatihan diperagakan secara langsung teknik terapi. Para
peserta pelatihan juga diberikan CD yang berisi video terapi relaksasi progresif sebagai
panduan latihan di rumah. Evaluasi dilakukan oleh tim kepada peserta dengan cara
redemonstrasi setelah selesai pelatihan yang dinilai menggunakan cek list. Cek list ini
berisi tentang prosedur terapi. Setelah dilakukan redemonstrasi kedua, semua peserta
mampu memperagakan teknik terapi dengan benar. Peserta pelatihan mengungkapkan
bahwa mereka akan mengajarkan ke penderita hipertensi di desanya dan disepakati akan
dilaksanakan setiap posyandu. Penderita hipertensi yang berkunjung ke posyandu akan
diajarkan terapi ini setelah dicek tekanan darahnya.
Beragam terapi herbal yang telah terbukti secara ilmiah dapat menurunkan
tekanan darah (Snyder & Lindquist, 2008). Namun masih sangat terbatas masyarakat
mengetahuinya. Salah satu jenis herbal yang dapat digunakan adalah daun salam. Daun
salam berasal dari tumbuhan dengan nama latin syzygium polyanthum (Adinil, 2004).
Terapi herbal digunakan untuk menurunkan tekanan darah dengan membuat ramuan
herbal dilaksanakan kepada 10 orang kader KPH menggunakan bahan herbal setempat
yaitu pohon cimplukan, buah belimbing, seledri, pace dan daun kumis kucing. Pelatihan
diberikan dengan media tanaman herbal. Evaluasi dilakukan langsung kepada peserta
untuk membuat ramuan herbal sesuai pelatihan yang telah dilaksanakan dengan
observasi takarannya. Sejumlah 100% mampu melakukan secara benar dengan
didampingi.

28

Menurut penelitian Putu (2009) ternyata senam yoga dengan teratur selama 3045 menit dan dilakukan 3-4 kali seminggu terbukti lebih efektif menurunkan tekanan
darah (tekanan darah sistolik turun 4-8 mmHg). Senam yoga diajarkan kepada kader
melalui 2 kali peragaan. Sebelumnya diajarkan menggunakan media audio visual dengan
memutar CD senam yoga. Senam yoga dalam CD tersebut memuat musik instrumental
sebagai pengiring senam agar peserta lebih meresapinya. Setelah pemutaran selesai,
dilanjutkan peragaan oleh trainer.
Hasil penelitian Asrin, Endang Triyanto dan Siti Mulidah (2008) yang dilakukan
selama satu tahun menunjukkan bahwa terapi musik dominan berfrekuensi sedang (750
3000 Hz) terbukti efektif secara signifikan dalam menurunkan respon emosional
dengan indikator nadi, respirasi dan tekanan darah pada pasien hipertensi. Terapi musik
dilaksanakan dengan mendengarkan lagu-lagu yang dipilih pasien yang diputarkan
dengan CD player dan disalurkan melalui earphone selama 20 30 menit. Berbagai
jenis lagu yang sudah dilakukan pengeditan menjadi dominan frekuensi sedang yang
telah disiapkan dalam bentuk CD. Peserta diberikan CD tersebut untuk dipilih lagunya.
Prinsip pelaksanaan terapi musik ini adalah penderita hipertensi yang menyukai musik
dan seting ruangan yang tenang. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kegiatan
ini dilakukan pengukuran darah setelah terapi musik berakhir. Apabila tekanan darah
peserta mengalami penurunan, maka ini dikatakan berhasil. Pelatihan diarahkan agar
peserta dapat memperagakan cara melakukan terapi musik yang baik dan benar.
Hasil penelitian Luluk Purnomo (2009) menunjukkan ada pengaruh yang
signifikan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) terhadap penurunan skor depresi. TAK
adalah upaya yang dilakukan dengan mempertemukan para penderita hipertensi untuk
saling menceritakan, memotivasi dan pemecahan masalah (Susilowati, 2009). Terapi
aktivitas kelompok dapat memotivasi peserta sesuai tujuan terapi. Pelatihan terapi
aktivitas kelompok dilakukan kepada 10 orang kader. Pelatihan ini terdiri atas materi
dan role play. Selanjutnya didampingi pelaksanaan TAK kepada 10 orang penderita
hipertensi yang dipandu oleh kader. Pelaksanaan TAK dengan media tape recorder
sebagai alat bantu terapi. Peserta TAK diberikan ballpoint putar dan diputarkan musik,
ketika musik yang diputar berhenti, maka yang memegang ballpoint diberikan
kesempatan untuk menceritakan pengalamannya selama mengalami penyakit hipertensi.
Peserta lain menanggapi dan memberi masukan atas masalah yang dihadapi penderita
tersebut. Begitu seterusnya sehingga tercapai solusi untuk meningkatkan motivasi
penderita untuk melakukan pencegahan dan pengobatan.
Kurniawan (2002) menyimpulkan bahwa penurunan diet natrium dari 180 mmol
(10,5 g) per hari menjadi 80-100 mmol (4,7-5,8 g) per hari menurunkan tekanan darah
sistolik 4-6 mmHg. Vegetarian mempunyai tekanan darah lebih rendah dibandingkan
pemakan daging dan diet vegetarian pada penderita hipertensi dapat menurunkan
tekanan darah. Meningkatkan konsumsi buah dan sayuran menurunkan tekanan darah
3/1 mmHg, sedangkan mengurangi diet lemak menurunkan tekanan darah 6/3 mmHg.
Pelatihan diet hipertensi dilaksanakan dengan menjelaskan jenis makanan yang
dibolehkan dan dihindari serta takarannya hingga menyiapkan menu harian penderita
hipertensi. Pemilihan menu berdasarkan potensi lokal dengan harga yang relatif murah
yaitu berupa sayuran dan buah. Peningkatan kemampuan kader dalam pelatihan diet

29

hipertensi dinilai setelah selesai pelatihan dengan cara memilih menu makanan yang
boleh dikonsumsi. Selama kegiatan ini, peserta pelatihan tampak serius mendengarkan.
Penyuluhan akbar tentang hipertensi mengundang seluruh anggota KPH yang
merupakan penderita hipertensi. Peserta yang hadir 20 orang. Kegiatan ini dilaksanakan
di luar ruangan menggunakan media LCD proyektor, laptop dan leaflet. Selama kegiatan
berlangsung, para peserta tampak mendengarkan dengan seksama dan tidak ada yang
meninggalkan tempat sampai penyuluhan selesai. Sebagian besar audience adalah lanjut
usia. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah pelatihan dengan memberikan pertanyaan
lisan tentang hipertensi dan perawatannya.
Pemeriksaan menggunakan alat digital tensimeter dengan standar WHO untuk
mengukur tekanan darah. Kegiatan ini dibantu oleh mahasiswa semester akhir. Manset
alat dipasang di lengan penderita hipertensi, kemudian menghidupkan alatnya. Secara
otomatis, alat akan memompa manset. Setelah itu alat akan membuang udara dalam
manset, bersamaan dengan itu akan terbaca tekanan darah pada layar. Evaluasi
dilakukan oleh tim kepada peserta dengan observasi langsung terhadap ketepatan
menggunakan alat ukur tersebut. Pemeriksaan ini dilanjutkan oleh kader KPH.
Ketepatan prosedur dinilai dengan melihat indikator monitor alat yang menampilkan
hasil pengukuran tekanan darah kemudian dicatat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Terdapat peningkatan keaktifan anggota KPH terbukti dari 100% kehadiran
dalam satu kegiatan. Kader KPH mampu melakukan terapi relaksasi progresif dengan
benar. Selama pelatihan terapi herbal untuk hipertensi, para peserta mampu
memperagakan kembali dengan benar sejumlah 100%. Peserta pelatihan mampu
melakukan redemonstrasi senam yoga untuk hipertensi. Kader KPH mampu melakukan
terapi musik dominan frekuensi sedang menggunakan alat yang telah disediakan. Ketua
Kader KPH mampu memimpin proses terapi aktivitas kelompok kepada anggotanya
secara aktif.
Pada akhir sesi, ketika para peserta disuruh menjelaskan kembali diet hipertensi,
sejumlah 100% mampu menyebutkan dengan benar. Terdapat peningkatan pengetahuan
penderita hipertensi sebesar 80%. Pembinaan dari puskesmas maupun dinas kesehatan
harus ditingkatkan agar KPH selalu berkembang pesat. Hal ini bertujuan agar seluruh
kegiatan KPH dapat berjalan secara kesinambungan. Dukungan dari pemerintah desa
agar selalu ditingkatkan. Kader KPH perlu mendapatkan penyegaran kader setiap 6
bulan sekali.
DAFTAR PUSTAKA
Adinil, H. (2004). Penatalaksanaan Hipertensi Secara Komprehensif. Jurnal Kedokteran
Muhammadiyah 2(2).
American Hypertension Association. (2006). Alternative Treatments Hypertension. Dari
http://healthlibrary.epnet.com/print.aspx?chunkiid=11764 diunduh tanggal 10 Mei
2011
Asrin, Triyanto, E. dan Siti, M. (2008). Upaya Pengendalian Respon Emosional Pasien
Hipertensi dengan Terapi Musik Dominan Frekuensi Sedang. Soedirman Nursing
Journal 4(2)
30

Argacha & Adamopoulos.(2008).Acute Effects of Passive Smoking on Peripheral


Vascular Function. Diakses dari http://hyper.ahajournals.org/cgi/reprint506
diunduh tanggal 17 Mei 2011
Armilawaty, Amalia H, Amirudin R. (2007). Hipertensi dan Faktor Risikonya dalam
Kajian Epidemiologi. Bagian Epidemiologi FKM UNHAS.
Asosiasi Terapi Musik Kanada. (2004). What music therapy is. Tersedia pada:
http://www.therapy-def_files\definition.htm (diakses 16 Mei 2011).
Augustin, P., & Hains, A. (2006). Effect of music on ambulatory surgery patients
preoperative anxiety. AORN Journal, 6 (4) 750-758.
Barnason, S., Zimmerman & Nieveen. (2005). The effect of music interventions on
anxiety in the patient after coronary artery bypass grafting. Heart & Lung Journal
of Critical Care, 24(2), 124-132
Campbell, D. (2002). Efek mozart. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Chlan, L. (2008). Complementary Therapy in Nursing. New York : Springer Publishing
Company, Inc
Chlan, L., Evans, D., Greenleaf, M., & Walker, J. (2000) Effects of a single music
therapy intervention on anxiety, discomfort, satisfaction, and compliance with
screening guidelines in outpatients undergoing flexible sigmoidoscopy.
Gastroenterology Nursing, 23 (4), 148-156.
Davis, Eshelman (2005). Panduan Relaksasi & Reduksi Stres. Jakarta : EGC
Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. 2010. Sepuluh Penyakit Terbanyak di
Kabupaten Banyumas Tahun 2010. Banyumas : Dinas Kesehatan Kabupaten
Banyumas.
Erviana, A. (2009). Pengaruh Pemberian Tehnik Relaksasi Terhadap Penurunan
Hipertensi Di Desa Tulangan Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri
Jawa Tengah. Jurnal Ners 1(2)
Hozawa, A., Okamura, T., Murakami, Y. (2007). Joint Impact Of Smoking And
Hypertension On Cardiovascular Disease and All-Cause Mortality in Japan.
Diakses dari http://www.jstage.jst.go.jp/article/hypres/30/12/1169/pdf tanggal 17
Mei 2011.
Hoeymans N, Smit HA, Verkleij H, Kromhout D. (2003). Cardiovascular Risk Factors.
Journal Epidemiology Community Health 5(7):739-750
Jones, A., & Field, T. (1999). Massage and music therapies attenuate frontal EEG
asymmetry in depressed adolescents. Fall, 34(i135), 529 536.
Kneafsey, R. (1997). The therapeutic use of music in care of elderly setting: A literature
review. Journal of Clinical Nursing, 6 (5), 341 - 346.
Kurniawan. (2002). Gizi Seimbang untuk Mencegah Hipertensi. Jakarta : FK Yarsi.
Lazaroff, I., & Shimsoni, R. (2000) Effect of medical resonance therapy music on
patient with psoriasis and neurodermatitis : A pilot study. Integrative
Physiological and Behavioral Science, 35 (i3), 189-197.
Lewis, Sharon, M., Margaret, M. H.,& Shanon R. D. (2000). Medical Surgical Nursing
Assesment and Management of Clinical Problems. St. Louis, Missouri: Mosby Inc.
Luluk, P. (2009). Pengaruh Pemberian Terapi Aktivitas Kelompok Terhadap Penurunan
Skor Depresi di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan 12(2):115-126.
31

Mucci, K., & Mucci, R. (2000). The healing sound of music. Scotland: Findhorn Press.
Putu, Ni Luh. (2009). Perbedaaan Tekanan Darah Penderita Hipertensi Pada Wanita
Dewasa Yang Melakukan Senam Yoga Dan Penderita Hipertensi Padawanita
Dewasa Yang Tidak Melakukan Senamyoga. Jurnal Keperawatan Indonesia
7(2):12-21
Ramdhani, Neila. Putra, Adhyos, Aulia. (2006). Pengembangan terapi relaksasi
progresif. Jurnal Keperawatan Indonesia 4(2)
Ridjab, D. (2005). Pengaruh Aktifitas Fisik Terhadap Tekanan Darah. Jurnal Kedokteran
Atmajaya 4(2):73
Riskesdas. (2010). Laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Jakarta : Badan
Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.
Sasmita, A. (2009). Pengaruh Senam Yoga Selama 12 Minggu Terhadap Tekanan Darah
Diastol dan Sistol Hipertensi. Media Keperawatan 1(1)
Shapo L, Pomerleau J, McKee M. (2003). Epidemiology of Hypertension and
Associated Cardiovascular Risk Factors in Albania. Journal Epidemiology
Community Health 5(7):734739
Smeltzer, S.C., & Bare, B.G. (2000). Medical surgical nursing (9th ed.). Philadelphia:
Lippincott William & Wilkins.
Sudoyo, A. Setyohadi, B., & Setiati, S. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta
: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Snyder, M., & Lindquist, R. (2008). Complementary/alternative therapies in nursing (3rd
Ed.). New York: Springer Publishing Company, Inc.
Susilowati, Kiki. (2009). Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Terhadap Tingkat
Depresi Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Soedirman Nursing Journal 5(1)
Thaut, M.H. (1999). Music therapy in neurological rehabilitation. In Davis, W.B.,
Gfeller, K.E., & Thaut, M.H. (1999). An introduction to music therapy: Theory
and practice. The United States of America: A Devission of The Mc.Grae-Hill
Companies.
The Joanna Briggs Institute. (2004). Techniques and pressure for wound cleansing. Dari
http://www.joannabriggs.edu.au/best_practice/bp13.php tanggal 21 Mei 2011.
Veijo, A., Chlan, L., & Tracy, M.F. (1999). Music therapy in critical care : Indications
and guidelines for intervention. Critical Care Nurse, 19 (3):35-40.
Wade, A Hwheir, D N Cameron, A. (2003). Using a Problem Detection Study to
Identify and Compare Health Care Privider and Consumer Views of
Antihypertensive Therapy. Journal of Human Hypertension 17 (6).
WHO. (2009). Report of hypertensions. WHO/CDS/RBM/2001.35. Geneva 28-30
March 2009.

32

LAMPIRAN 3. Produk IbM berupa buku pedoman kader KPH.

BUKU PEDOMAN KADER


BAGI PENDERITA HIPERTENSI

Ibteks Bagi Masyarakat 2013

33

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk hipertensi telah menjadi
penyakit yang mematikan banyak penduduk di negara maju dan negara berkembang
lebih dari delapan dekade terakhir. Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran
darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas nilai normal, yaitu melebihi
140/90 mmHg. Berdasarkan etiologi, hipertensi dibedakan menjadi 2, yaitu; hipertensi
primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah suatu kondisi dimana
penyebab sekunder dari hipertensi tidak ditemukan.
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer (pembunuh siluman), karena
seringkali penderita hipertensi bertahun-tahun tanpa merasakan sesuatu gangguan atau
gejala. Tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti
jantung, otak ataupun ginjal. Gejala-gejala akibat hipertensi, seperti pusing, gangguan
penglihatan, dan sakit kepala, seringkali terjadi pada saat hipertensi sudah lanjut disaat
tekanan darah sudah mencapai angka tertentu yang bermakna.
Umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya umur.
Risiko untuk menderita hipertensi pada populasi 55 tahun yang tadinya tekanan
darahnya normal adalah 90%. Kebanyakan pasien mempunyai tekanan darah
prehipertensi sebelum mereka dipastikan menderita hipertensi. Sampai dengan umur 55
tahun, laki-laki lebih banyak menderita hipertensi dibanding perempuan. Dari umur 55
s/d 74 tahun, sedikit lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita
hipertensi. Pada populasi lansia (umur 60 tahun), prevalensi untuk hipertensi sebesar
65.4 %. Hipertensi ini pada dasarnya memiliki sifat yang cenderung tidak stabil dan sulit
untuk dikontrol, baik dengan tindakan pengobatan maupun dengan tindakan-tindakan
medis lainnya. Lebih parahnya jika kondisi hipertensi ini tidak terkontrol, maka dapat
mengakibatkan terjadinya infark jantung, gagal jantung, gagal ginjal, stroke, dan
kerusakan mata.

34

B. Tujuan
Tujuan penyusunan buku pedoman kader ini adalah untuk memberikan panduan
bagi kader dalam melaksanakan penanganan penderita hipertensi di daerahnya.

35

BAB 2
KONSEP HIPERTENSI

A. Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan
(morbiditas) dan angka kematian/ mortalitas. Menurut WHO, batas tekanan darah yang
masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85 mmHg, sedangkan bila lebih dari
140/90 mmHG dinyatakan sebagai hipertensi; dan di antara nilai tersebut disebut sebagai
normal-tinggi. (batasan tersebut diperuntukkan bagi individu dewasa diatas 18 tahun).
Batas tekanan darah yang masih dianggap normal adalah kurang dari 130/85
mmHg. Sebetulnya batas antara tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi tidaklah
jelas, sehingga klasifikasi hipertensi dibuat berdasarkan tingkat tingginya tekanan darah
yang mengakibatkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah (CBN,
2006).
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan
anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah dari pada orang
dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi
pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam
satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur
malam hari.

B. Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa


Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Pada Orang Dewasa
Kategori

Tekanan Darah Sistolik


Normal
dibawah 130 mmhg
Normal Tinggi
130-139 mmhg
Stadium 1 (Hipertensi Ringan) 140-159 mmhg
Stadium 2 (Hipertensi
160-179 mmhg
Sedang)
Stadium 3 (Hipertensi Berat)
180-209 mmhg

Tekanan Darah Diastolik


dibawah 85 mmhg
85-89 mmhg
90-99 mmhg
100-109 mmhg
110-119 mmhg

36

C. Penyebab
Menurut Smeltzer dan Bare (2000) penyebab hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Hipertensi esensial atau primer
Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat
diketahui. Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi esensial
sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. Onset hipertensi primer terjadi pada
usia 30-50 tahun. Hipertensi primer adalah suatu kondisi hipertensi dimana penyebab
lain dari hipertensi tidak ditemukan.
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi sekunder adalah hpertensi yang penyebabnya dapat diketahui, antara
lain kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit
kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme). Golongan terbesar dari penderita hipertensi
adalah hipertensia esensial, maka penyelidikan dan pengobatan lebih banyak ditujukan
ke penderita hipertensi esensial.
3. Faktor Resiko
a. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orang tua, maka dugaan
hipertensi lebih besar.
b. Wanita lebih banyak menderita hipertensi.
c. Faktor usia sangat berpengaruh terhadap hipertensi
d. Stres berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi.
e. Kegemukan

D. Tanda dan Gejala


Menurut Adinil (2004) gejala klinis yang dialami oleh para penderita hipertensi
biasanya berupa pusing, mudah marah, telinga berdengung, sukar tidur, sesak nafas, rasa
berat di tengkuk, mudah lelah, mata berkunang-kunang, dan mimisan (jarang
dilaporkan). Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala
sampai bertahun-tahun.

E. Komplikasi Hipertensi

37

1. Stroke
2. Gagal Jantung
3. Gagal ginjal
4. Kaki bengkak.
5. Koma.

38

BAB 3
TERAPI BAGI PENDERITA HIPERTENSI

A. Terapi Relaksasi Progresif


Relaksasi merupakan salah satu teknik pengelolaan diri yang didasarkan pada
cara kerja sistem syaraf yang terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah pada
penderita hipertensi (Erviana, 2009). Agar memperoleh manfaat dari respons relaksasi,
ketika melakukan teknik ini diperlukan lingkungan yang tenang, posisi yang nyaman
dan dapat mempergunakan rekaman latihan relaksasi. Alat ini akan membantu pasien
memfokuskan perhatian (konsentrasi) pada pelepasan ketegangan otot di setiap otot-otot
tubuh yang utama, sambil merasakan irama pernafasan.
Berikut adalah langkah yang dilakukan untuk terapi relaksasi progresif menurut
Ramdhani (2006) yang dilakukan dalam sebuah ruang (dapat tertutup atau terbuka) yang
memungkinkan udara bebas keluar masuk. Kursi yang dapat fleksibel naik dan turun
(lihat gambar 1) lebih diutamakan daripada tempat tidur, sehingga dapat diletakkan di
tempat-tempat yang diinginkan.

Di bawah ini dipaparkan masing-masing gerakan dan penjelasan mengenai otot


otot yang dilatih.

39

Gerakan pertama ditujukan untuk melatih otot tangan yang dilakukan dengan
cara menggenggam tangan kiri sambil membuat suatu kepalan. Klien diminta membuat
kepalan ini semakin kuat (gambar 2), sambil merasakan sensasi ketegangan yang terjadi.
Pada saat kepalan dilepaskan, klien dipandu untuk merasakan rileks selama 10 detik.
Gerakan pada tangan kiri ini dilakukan dua kali sehingga klien dapat membedakan
perbedaan antara ketegangan otot dan keadaan relaks yang dialami. Prosedur serupa juga
dilatihkan pada tangan kanan.
Gerakan kedua adalah gerakan untuk melatih otot tangan bagian belakang.
Gerakan ini dilakukan dengan cara menekuk kedua lengan ke belakang pada
pergelangan tangan sehingga otot-otot di tangan bagian belakang dan lengan bawah
menegang, jari-jari menghadap ke langit-langit (gambar 2). Gerakan ketiga adalah untuk
melatih otot-otot Biceps. Otot biceps adalah otot besar yang terdapat di bagian atas
pangkal lengan (lihat gambar 3). Gerakan ini diawali dengan menggenggam kedua

40

tangan sehingga menjadi kepalan kemudian membawa kedua kepalan ke pundak


sehingga otot-otot menjadi tegang.

Gerakan

keempat

ditujukan

untuk

melatih

otot-otot

bahu.

Relaksasi

untuk mengendurkan bagian otot-otot bahu dapat dilakukan dengan cara mengangkat
kedua bahu setinggi-tingginya seakan-akan bahu akan dibawa hingga menyentuh kedua
telinga. Fokus perhatian gerakan ini adalah kontras ketegangan yang terjadi di bahu,
punggung atas, dan leher.
Gerakan kelima sampai ke delapan adalah gerakan-gerakan yang ditujukan untuk
melemaskan otot-otot di wajah. Otot-otot wajah yang dilatih adalah otot-otot dahi, mata,
rahang, dan mulut. Gerakan untuk dahi dapat dilakukan dengan cara mengerutkan dahi
dan alis sampai otot-ototnya terasa dan kulitnya keriput. Gerakan yang ditujukan untuk
mengendurkan otot-otot mata diawali dengan menutup keras-keras mata sehingga dapat
dirasakan ketegangan di sekitar mata dan otot yang mengendalikan gerakan mata
(gambar 5).

41

Gerakan ketujuh bertujuan untuk mengendurkan ketegangan yang dialami oleh


otot-otot rahang dengan cara mengatupkan rahang, diikuti dengan menggigit gigi-gigi
sehingga ketegangan di sekitar otot-otot rahang. Gerakan kedelapan ini dilakukan untuk
mengendurkan otot-otot sekitar mulut. Bibir dimoncongkan sekuat-kuatnya sehingga
akan dirasakan ketegangan di sekitar mulut. Gerakan kesembilan (gambar 7) dan
gerakan kesepuluh (gambar 7) ditujukan untuk merilekskan otot-otot leher bagian depan
maupun belakang.
Gerakan diawali dengan otot leher bagian belakang baru kemudian otot leher
bagian depan. Klien dipandu meletakkan kepala sehingga dapat beristirahat, kemudian
diminta untuk menekankan kepala pada permukaan bantalan kursi sedemikian rupa
sehingga klien dapat merasakan ketegangan di bagian belakang leher dan punggung atas.

42

Sedangkan gerakan kesepuluh bertujuan untuk melatih otot leher bagian depan
(lihat gambar 7). Gerakan ini dilakukan dengan cara membawa kepala ke muka,
kemudian klien diminta untuk membenamkan dagu ke dadanya. Sehingga dapat
merasakan ketegangan di daerah leher bagian muka.

Gerakan kesebelas bertujuan untuk melatih otot-otot punggung. Gerakan ini


dapat dilakukan dengan cara mengangkat tubuh dari sandaran kursi, kemudian punggung
dilengkungkan, lalu busungkan dada sehingga tampak seperti pada gambar 6. Kondisi
tegang dipertahankan selama 10 detik, kemudian rileks. Pada saat rileks, letakkan tubuh
kembali ke kursi, sambil membiarkan otot-otot menjadi lemas.

43

Gerakan berikutnya adalah gerakan keduabelas dilakukan untuk melemaskan


otot-otot dada. Pada gerakan ini, klien diminta untuk menarik nafas panjang untuk
mengisi paru-paru dengan udara sebanyak-banyaknya. Posisi ini ditahan selama
beberapa saat, sambil merasakan ketegangan di bagian dada kemudian turun ke perut.
Pada saat ketegangan dilepas, klien dapat bernafas normal dengan lega. Sebagaimana
dengan gerakan yang lain, gerakan ini diulangi sekali lagi sehingga dapat dirasakan
perbedaan antara kondisi tegang dan rileks.

Setelah latihan otot-otot dada, gerakan ketigabelas bertujuan untuk melatih otototot perut. Gerakan ini dilakukan dengan cara menarik kuat-kuat perut ke dalam,
kemudian menahannya sampai perut menjadi kencang dank eras. Setelah 10 detik
dilepaskan bebas, kemudian diulang kembali seperti gerakan awal untuk perut ini.
Gerakan 14 dan 15 adalah gerakan-gerakan untuk otot-otot kaki. Gerakan ini dilakukan
secara berurutan.
Gerakan keempat belas bertujuan untuk melatih otot-otot paha, dilakukan dengan
cara meluruskan kedua belah telapak kaki (lihat gambar delapan) sehingga otot paha

44

terasa tegang. Gerakan ini dilanjutkan dengan mengunci lutut (lihat gambar 8),
sedemikian sehingga ketegangan pidah ke otot-otot betis. Sebagaimana prosedur
relaksasi otot, klien harus menahan posisi tegang selama 10 detik baru setelah itu
melepaskannya. Setiap gerakan dilakukan masing-masing dua kali.

B. Terapi Musik
Terapi

musik

menggunakan

musik

dan

elemen-elemen

musik

untuk

meningkatkan, memelihara, memperbaiki kesehatan mental, fisik, emosi, dan spiritual.


Percobaan tentang efek musik dalam keseharian telah dikerjakan. Asrin dan Triyanto
(2007) berdasarkan risetnya telah menemukan pemanfaatan musik yang memproduksi
bunyi-bunyi frekuensi sedang (750-3000 hertz) ternyata mampu secara signifikan
mengendalikan tekanan darah penderita hipertensi.
Bunyi-bunyi frekuensi sedang cenderung merangsang jantung, paru, dan emosi.
Bunyi dari musik yang bergetar membentuk pola dan menciptakan medan energi
resonansi dan gerakan di ruang sekitarnya. Energi akan diserap oleh tubuh manusia dan
energi-energi itu secara halus mengubah pernafasan, detak jantung, tekanan darah,
ketegangan otot, temperatur kulit, dan ritme-ritme internal lainnya.
Musik merupakan stimulus yang unik yang dapat mempengaruhi respon fisik dan
psikologi pendengar serta merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan
relaksasi fisiologis (yang diindikasikan dengan penurunan nadi, respirasi dan tekanan
darah). Lebih jauh, terkait dengan perubahan respon emosional yang bisa diukur melalui
perubahan suhu, nadi, respirasi, dan tekanan darah dalam beberapa penelitian Asrin dan
Triyanto (2007) menunjukkan adanya efek yang positif terhadap pemberian terapi
musik.
Hasil studi Asrin, Mulidah dan Triyanto (2007) menunjukkan mayoritas pasien
(79,8%) menyukai lagu kenangan. Sebagian kecil (8,3%) menyukai lagu keroncong dan
11,9% menyukai lagu campur sari. Lama hari terapi music terbanyak mencapai batas
normal tekanan darah adalah dalam waktu perlakuan 1 hari sejumlah 17 responden

45

(56,7%). Sedangkan yang paling sedikit adalah sejumlah satu responden (3,3%) dalam
waktu 3 hari.
Terapi musik dominan frekuensi sedang sangat signifikan untuk mengendalikan
respon tekanan darah pada pasien hipertensi. Prosedur terapi musik dilaksanakan dengan
mendengarkan lagu-lagu yang dipilih pasien yang diputarkan dengan CD player dan
disalurkan melalui earphone selama 20 30 menit. Sesi terapi diberikan sebanyak 3 kali
dalam sehari yaitu pagi, siang dan sore. Penderita hipertensi harus focus dan berada pada
ruangan yang tenang agar hasilnya maksimal.

C. Senam Aerobik dan Yoga


Senam hipertensi dilakukan dengan intensitas moderat (60-70 maksimum denyut
nadi), durasi 30-60 menit dengan frekuensi 3-5 kali/minggu (American Hypertension
Association, 2006). Menurut penelitian Putu (2009) ternyata senam yoga dengan teratur
selama 30-45 menit dan dilakukan 3-4 kali seminggu terbukti lebih efektif menurunkan
tekanan darah (tekanan darah sistolik turun 4-8 mmHg).
Aktivitas senam sangat bermanfaat bagi penatalaksanaan hipertensi. Latihan
jasmani moderat atau senam teratur dapat menurunkan berat badan dan memeliharanya
dalam jangka waktu yang lama. Kegiatan penurunan berat badan dan peningkatan massa
otot akan mengurangi jumlah lemak, sehingga membantu tubuh mempertahankan
tekanan darah. Setiap penurunan berat badan 5 kg akan menurunkan beban jantung
sebanyak 20%. Senam yang teratur dapat memperbaiki tingkat kesegaran jasmani,
sehingga penderita merasa fit, rasa cemas berkurang, timbul rasa senang dan rasa
percaya diri yang pada akhirnya kualitas hidupnya meningkat.
Senam yoga merupakan olahraga yang berfungsi untuk penyelarasan pikiran,
jiwa dan fisik seseorang. Senam yoga adalah sebuah aktivitas dimana seseorang
memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara
keseluruhan. Senam yoga juga bisa menyeimbangkan tubuh dan fikiran. Selain itu,
senam yoga dapat melancarkan aliran oksigen di dalam tubuh, sehingga tubuh pun sehat.

46

Intervensi senam yoga umumnya efektif dalam mengurangi berat badan, tekanan darah,
kadar glukosa dan kolesterol tinggi serta fikiran, relaksasi fisik dan emosional.
Gerakan senam yoga yang dipaparkan disini untuk lebih meringankan gejala dan
mengantisipasi supaya gejala hipertensi tidak timbul. Dengan berlatih yoga, otot tubuh
akan lebih lentur dan hal ini membuat peredaran darah lebih lancar, dan hasilnya
tekanan darah yang lebih normal. Beberapa posisi senam yoga untuk hipertensi adalah
sebagai berikut.
Postur (asana) Savasana disebut juga sebagai Yoga Nindra yang secara
harfiah berarti yoga tidur terlihat dalam gambar tersebut. Yoga Nindra menurut Claire
(2006) merupakan posisi relaksasi mendalam yang dapat melepaskan ketegangan fisik,
mental, emosi dan spiritual. Postur Savasana dilakukan dengan berbaring telentang lurus
dengan kedua kaki terentang menjauh dari garis tengah tubuh. Kedua tangan terentang di
kedua sisi tubuh dengan telapak tangan menghadap ke atas. Kepala bersandar dengan
leher lurus tidak tertekuk sehingga wajah/hidung mengarah lurus ke atap. Tulang bahu
harus lemas dan terentang lebar menyentuh lantai. Tulang ekor menyentuh lantai dengan
tulang punggung bawah tetap melengkung alami. Mungkin akan terasa lebih nyaman
jika meletakan bantalan di bawah lengkungan leher atau punggung.

Gambar : Posisi Yoga Nindra : Savasana

Latihan relaksasi dan meditasi Yoga dalam Good Life Entertainment (2004)
mengikuti tahapan latihan sebagai berikut. Persiapan awal pilih tempat yang tenang,
bersih dengan sirkulasi udara baik. Waktu latihan yang terbaik adalah fajar atau larut
malam. Gunakan pakaian longgar yang nyaman dan bertelanjang kaki. Jangan

47

memaksakan diri dan segera hentikan latihan jika tidak merasa nyaman. Demi
kelancaran, konsentrasi dan keberhasilan latihan, sebaiknya anda menghapal serta
memahami urutan langkah latihan dalam panduan ini di bawah ini, sebelum
melakukannya.

Sesi pertama (Relaksasi mendalam):


1. Berbaringlah lurus dengan mata terpejam dalam posisi Yoga Nindra atau Savasana.
Biarkan seluruh tubuh jatuh menyentuh alas pembaringan dengan telapak tangan
menghadap ke atas. Bernapaslah dengan normal.
2. Sekarang lemaskan seluruh tubuh anda sehingga terasa ringan tanpa bobot. Metoda
sederhana untuk melemaskan beberapa bagian tubuh dijelaskan di bawah ini :
a. Mata : Buka dan tutup mata bergantian selama 10 menit, kemudian ulangi 3
sampai 4 kali. Dengan perlahan gerakan mata ke arah atas-bawah dan lurus, ke
arah kiri-kanan dan lurus. Ulangi gerakan tersebut 2 sampai 3 kali.
b. Mulut dan lidah : Buka mulut selebarnya tanpa dipaksakan. Lipat lidah ke arah
tenggorokan. Tutup mulut anda dengan posisi lidah tetap terlipat kemudian tahan
sampai 10 detik. Selanjutnya buka mulut dan kembalikan lidah ke posisi
normalnya. Tutup mulut anda kemudian ulangi 2 sampai 3 kali.
c. Seluruh tubuh : tutup mata anda dan rasakan secara pikiran bagian tubuh
tertentu rileks. Yakinkan anda tidak merasakan tegang atau kaku pada bagian
tubuh itu. Buat gerakan ringan jika terasa kaku atau tegang seperti gerakan jari
ke atas-bawah, goyangkan bahu atau putar kepala dari satu sisi ke sisi lainnya
sekali atau dua kali. Selanjutnya lemaskan tubuh secara keseluruhan.
d. Konsentrasikan pikiran dan rasakan secara berurutan dari pinggang sampai
jempol kaki hingga terasa rileks.
e. Konsentrasikan dan rasakan secara berurutan dari pinggang sampai leher.
Kendurkan otot bagian perut, dada, pundak, punggung atas dan bawah.
Kendurkan jari-jari, telapak, pergelangan, lengan bawah dan lengan atas secara
berurutan satu persatu.

48

f. Konsentrasikan pikiran menuju bagian atas tubuh anda. Kendurkan otot wajah,
tulang rahang, bibir, pipi, alis, pelipis dan bagian kepala.
3. Sambil tetap menutup mata, sekarang tenangkan pikiran anda. Rasa tenang dan
santai dapat dicapai dengan membayangkan sesuatu yang menyenangkan atau obyek
yang dapat memberikan kenyamanan. Obyek yang dimaksud dapat berupa orang
atau tempat. Rasakan secara fisik dan pikiran sehingga anda serasa berhadapan
langsung atau berada di tempat tersebut.
4. Sekarang konsentrasikan pikiran terhadap pernapasan. Letakan telapak tangan kanan
anda di atas perut. Tarik napas dengan hidung lalu buanglah napas melalui mulut
dengan perlahan sesuai kemampuan anda. Rasakan perut mengembang saat menarik
napas dan sebaliknya perut tertarik ke dalam saat membuang napas. Lakukan selama
3 sampai 5 menit secara berirama.
5. Letakan tangan kanan kembali ke posisi semula di atas lantai. Bernapaslah normal.
Rasakan relaksasi secara utuh seperti anda akan tertidur. Pertahankan posisi ini
sampai 10 atau 15 menit. Jangan tergesa-gesa mengahiri latihan, nikmati saja
perasaan itu.
Efek ketenangan yang dicapai dari latihan sesi pertama dapat disempunakan
dengan melanjutkan latihan sesi kedua seperti dituliskan di bawah ini.

Sesi Kedua (Meditasi):


1. Duduk bersila dengan punggung tegak. Temukan posisi bersila yang senyaman
mungkin seperti salah satunya terlihat dalam gambar berikut ini.

49

Gambar Posisi bersila

2. Letakan punggung kedua tangan masing-masing di atas lutut sehingga telapak


tangan menghadap ke atas. Sentuh ujung ibu jari dengan jari telunjuk dan biarkan
jari tangan lainnya menghadap ke atas seperti gambar di atas. Tarik napas melalui
hidung kemudian bunyikan hurup A sambil membuang napas sampai habis.
Rasakan getaran suara di sekitar pusar dan tubuh bagian bawah. Lakukan sebanyak 3
kali pengulangan.

Gambar Posisi jari kesatu

50

3. Tetap pertahankan punggung kedua tangan masing-masing di atas lutut sehingga


telapak tangan menghadap ke atas. Sentuh ujung ibu jari dengan jari telunjuk tetapi
sekarang lipat jari tengah, jari manis dan kelingking menyentuh telapak tangan.
Tarik napas melalui hidung kemudian bunyikan hurup U sambil membuang
napas sampai habis. Rasakan getaran suara pada bagian tengah tubuh dan dada.
Lakukan sebanyak 3 kali pengulangan.
4. Tetap pertahankan punggung kedua tangan masing-masing di atas lutut sehingga
telapak tangan menghadap ke atas. Kepalkan kedua telapak tangan dengan
menggenggam ibu jari di dalamnya. Tarik napas melalui hidung dan kemudian
bunyikan hurup M sambil membuang napas sampai habis. Rasakan efek gema
dari suara M di bagian kepala dan muka. Lakukan sebanyak 3 kali pengulangan.
5. Rasakan setiap kumpulan otot dalam kondisi santai sempurna. Rasakan pernapasan
melambat dan rasakan ketenangan dalam pikiranmu.
6. Bayangkan anda duduk di bawah pohon yang rindang dengan danau yang tenang di
belakangnya. Langit terlihat biru dengan hiasan awan putih bersih. Rasakan hangat
sinar matahari dengan hembusan anginya sepoi-sepoi. Rasakan tercium bau tanah
sambil mendengarkan suara merdu kicau burung diantara gemerisik dedaunan.
Nikmati menjadi bagian dari ciptaan Tuhan yang luar biasa ini.
7. Rasakan energi penyembuhan yang hidup di sekeliling anda. Seraplah energi itu dan
rasakan diri anda sedang disembuhkan dari dalam. Rasakan setiap tekanan darah
berubah menjadi menurun.
8. Katakan kepada diri anda sendiri : tekanan darahku akan menurun. Lakukan
pengulangan sampai 9 (sembilan) kali.
9. Secara perlahan sadari dan rasakan pernapasan yang anda lakukan. Tetaplah fokus
pada perubahan yang dirasakan. Syukuri semua yang telah diberikan Tuhan.

D. Terapi Diet dan Herbal


Beberapa manfaat Rosella yaitu:
1. Memperlancar peredaran darah, mencegah tekanan darah tinggi, meningkatkan
kinerja usus & berfungsi sebagai tonik.

51

2. Pereda rasa nyeri.


3. Mempunyai efek anti-hipertensi, kram otot dan anti infeksi
4. Kandungan kalsium tinggi dapat mengurangi risiko osteoporosis dan membantu
pertumbuhan tulang.
5. Bunga Rosella memiliki kemampuan untuk membantu dalam metabolisme lemak.
6. Bunga Rosella dalam menurunkan tekanan darah melalui kemampuan dalam
mempertahankan elastisitas dinding pembuluh darah.
Peningkatan ekresi cairan tubuh yang disebabkan karena diuretik dapat
menurunkan tekanan darah. Adapun aturan minum teh Rosella adalah sebagai berikut:
seduh sekitar 10 gram bunga Rosella dalam 1 gelas (250 cc) selama 5 10 menit dan
kemudian disaring, diminum 2 kali sehari.
Jenis herbal lain yang dapat digunakan adalah daun salam. Tumbuhan ini
mengandung minyak asiri khususnya sitral dan eugenol, juga mengandung tanin dan
flavonoid. Jenis tanaman ini tumbuh liar di hutan, kebun atau pekarangan diatas daratan
rendah sampai pegunungan tinggi.
Daunnya rimbun berwarna hijau. Bunganya majemuk berwarna putih dan berbau
harum, bigitu pula daunnya bila diremas. Buahnya buni, ketika muda berwarna hijau
tetapi ketika masak menjadi merah kehitaman, rasanya sedikit sepat. Untuk mengobati
hipertensi diperlukan 20 lembar daun salam yang masih segar, lalu dicuci dengan bersih
dan direbus dengan tiga gelas air hingga menjadi satu gelas. Selanjutnya disaring dan
airnya diminum, sehari minum dua kali sebelum makan.

Gambar. Daun Salam

52

Pemberian edukasi dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku


penderita hipertensi dalam menjalankan diet yang sesuai. Terlalu banyak mengonsumsi
garam dapat meningkatkan tekanan darah hingga ke tingkat yang membahayakan.
Panduan terkini dari British Hypertension Society menganjurkan asupan natrium dibatasi
sampai kurang dari 2,4 gram sehari. Jumlah tersebut setara dengan 6 gram garam, yaitu
sekitar 1 sendok teh per hari. Penting untuk diingat bahwa banyak natrium (sodium)
tersembunyi dalam makanan, terutama makanan yang diproses. Mengurangi asupan
garam <100 mmol/hari (2,4 gram natrium atau 6 gram garam) bisa menurunkan TDS 2-8
mmHg.
Lemak dalam diet meningkatkan risiko terjadinya kenaikan tekanan darah.
Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari
hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari
minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat
menurunkan tekanan darah. Mengurangi diet lemak dapat menurunkan tekanan darah
TDS/TDD 6/3 mmHg.
Konsumsi sayur dan buah harus ditingkatkan. Jenis makanan ini sangat baik
untuk melawan penyakit hipertensi. Dengan mengonsumsi sayur dan buah secara teratur
dapat menurunkan risiko kematian akibat hipertensi, stroke, dan penyakit jantung
koroner, menurunkan tekanan darah, dan mencegah kanker. Mengonsumsi sayur dan
buah dengan teratur dapat menurunkan tekanan darah TDS/TDD 3/1 mmHg.
Makan ikan secara teratur sebagai cara mengurangi berat badan akan
menurunkan tekanan darah. Kurangi konsumsi sodium. Sumber sodium antara lain
makanan yang mengandung soda kue, baking powder, MSG (Mono Sodium Glutamat),
pengawet makanan atau natrium benzoat (terdapat didalam saos, kecap, selai, jelly),
makanan yang dibuat dari mentega serta obat yang mengandung natrium (obat sakit
kepala). Bagi penderita hipertensi, biasakan penggunaan obat dikonsultasikan dengan
dokter terlebih dahulu. Diet rendah kolestrol dan lemak terbatas.
Penurunan tekanan darah akan terjadi, apabila minum teh hijau secara teratur
sesuai takaran yang disajikan. Dosis teh hijau sangat bervariasi, tetapi biasanya berkisar

53

antara 1-10 gelas sehari. Dosis yang umum digunakan teh hijau berdasarkan jumlah
biasanya dikonsumsi di negara-negara Asia, yaitu sekitar 3 cangkir per hari, memberikan
240-320 mg bahan aktif, polifenol. Untuk membuat teh, orang biasanya menggunakan 1
sendok teh daun teh dalam 8 ons air mendidih. Untuk penderita hipertensi diperlukan
minum teh hijau sekitar 3 cangkir teh per hari. Sedangkan untuk mengurangi kolesterol,
maka pasien perlu minum 10 cangkir atau lebih per hari.
Resep lain untuk menurunkan tekanan darah adalah menggunakan bahan berupa
buah kesemek 1 buah, biji teratai 200 g, air 750 cc. Cara membuatnya adalah dengan
merebus biji teratai pada periuk yang terbuat dari tanah sampai mendidih dan matang.
Buah kesemek diiris lalu masukkan pada rebusan biji teratai. Selanjutnya, rebus lagi
hingga airnya tinggal 400 cc dan diminum secara rutin.
Resep kedua berbahan bawang putih 2 butir dikupas kulitnya, air matang hangat
1 gelas, Cara membuatnya adalah kunyah bawang putih lalu telan, lalu minumlah air
matang hangat. Lakukan 3 x 1 hari. Resep ketiga menggunakan buah mengkudu
(Morinda citrifolia) yang sudah masak 2 buah. Cara membuatnya adalah cuci sampai
bersih buah menkudu, lalu parut, peras, saring untuk diambil airnya. Minum ramuan
sehari dua sampai tiga kali.
Resep keempat untuk menurunkan hipertensi menggunakan daun meniran
genggam dicampur dengan air matang cangkir. Cara resepnya dimulai dengan daun
meniran ditumbuk dan digiling halus. Tambahkan air, lalu peras dan saring. Minum 2-3
x 1 hari. Ramuan diminum sekali habis. Resep kelima untuk hipertensi menggunakan
bahan 2 buah mengkudu (Morinda citrifolia) masak langsung dari pohon Madu satu
sendok makan. Cara membuatnya dengan mencuci sampai bersih buah mengkudu, lalu
peras untuk diambil airnya. Tambahkan madu satu sendok makan, aduk hingga merata,
saring Minum ramuan setiap dua hari sekali.
Resep Obat Herbal Menurunkan Hipertensi menggunakan delapan daun seledri
(apium graveolens) yang ditambah secukupnya dengan air bersih. Cara membuat
ramuan adalah ambil daun seledri, lalu cuci sampai bersih, tambahkan air bersih
secukupnya. Setelah itu remas-remaslah dengan tangan, kemudian diperas dan saring

54

untuk diambil airnya. Minum ramuan secara rutin sehari tiga kali sebanyak dua sendok
makan.
Resep Obat Herbal Menurunkan Hipertensi (Obat Darah Tinggi) 9 Bahan Buah
timun (Cucumis sativuz) segar 2 buah Air bersih Cara membuat Cuci sampai bersih
buah timun, lalu parut, peras dan saring untuk diambil airnya. Minum ramuan sehari dua
sampai tiga kali. Ramuan ini diminum sekali habis. Resep obat herbal untuk
menurunkan hipertensi menggunakan 10 buah timun (cucumis sativuz). Caranya adalah
ambil buah timun, lalu cuci sampai bersih. Setelah bersih kemudian dikukus dan
didinginkan. Makan kukusan buah timun sehari satu kali. Buah mengkudu (morinda
citrifolia) yang masak 2 buah lalu ditambah gula batu 8 gr. Langkah membuat
ramuannya adalah ambil buah mengkudu, lalu cuci sampai bersih, lalu tumbuk.
Kemudian peras dan saring untuk diambil airnya, tambahkan gula batu secukupnya.
Minum ramuan sehari satu kali.
Resep untuk menurunkan tekanan darah tinggi yang banyak diteliti adalah 15
bahan buah belimbing wuluh 5 buah Caranya adalah membuat cuci buah belimbing
wuluh sampai bersih. lalu parut, peras dan ambil airnya. Ramuan dapat diminum 1-2 x
hari. Resep berikutnya menggunakan ciplukan kering 5g dan air bersih 110 ml. Cara
membuatnya dengan mencuci ciplukan, lalu rebus dengan 110 ml air bersih selama
seperempat jam sambil sesekali diaduk, angkat lalu saring dan dinginkan. Minum
ramuan sehari dua kali, setiap minum sebanyak 100 ml. Jangan gunakan ramuan ini
lebih dari 24 jam.

55

BAB 4
PENCEGAHAN HIPERTENSI

Pencegahan penyakit adalah tindakan yang ditujukan untuk mencegah, menunda,


mengurangi, membasmi, mengeliminasi penyakit dan kecacatan. Penatalaksanaan
penyakit hipertensi merupakan upaya awal pencegahan sebelum seseorang menderita
hipertensi melalui program penyuluhan dan pengendalian faktor-faktor risiko kepada
masyarakat luas dengan memprioritaskan pada kelompok risiko tinggi. Tujuan
pencegahan primer adalah untuk mengurangi insidensi penyakit hipertensi dengan cara
mengendalikan faktor-faktor resiko agar tidak terjadi penyakit hipertensi. Contoh
kegiatan yang dapat dilakukan adalah pengaturan diet, perubahan gaya hidup,
manajemen stress dan lainnya.
Bina suasana dapat dilakukan dengan pemasangan poster, spanduk, iklan di
media masa baik elektronik maupun cetak. Pembentukan kelompok dukungan
masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan untuk memotivasi masyarakat luas perlu
dilakukan pada tahap pencegahan primer. Langkah ini terbukti mampu merubah perilaku
seseorang untuk melakukan tujuan yang hendak dicapai (Triyanto, 2011). Iklan layanan
masyarakat melalui pemasangan baliho juga turut berperan dalam promosi kesehatan.
Modifikasi gaya hidup yang penting adalah mengurangi berat badan untuk
individu yang gemuk; mengadopsi pola makan; diet rendah natrium; aktifitas fisik; dan
mengkonsumsi alkohol sedikit saja. Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan tekanan
darah cukup baik dengan terapi satu obat antihipertensi; mengurangi garam dan berat
badan dapat membebaskan pasien dari menggunakan obat. Program diet yang mudah
diterima adalah yang didisain untuk menurunkan berat badan secara perlahan-lahan pada
pasien yang gemuk dan obes disertai pembatasan pemasukan natrium dan alkohol.
Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan merupakan strategi utama dalam
pencegahan hipertensi. Tujuan pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan
dimaksudkan untuk perubahan perilaku seseorang dalam mencegah terjadinya kesakitan.
Penelitian Triyanto, Iskandar & Saryono (2012), menggambarkan bahwa pendidikan
kesehatan berpengaruh terhadap pilihan dan perubahan perilaku.

56

Upaya-upaya yang dilakukan dalam pencegahan terhadap penyakit hipertensi


antara lain :
1. Pola Makan yang Baik
Langkah yang dapat dilakukan seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya
adalah mengurangi asupan garam dan lemak tinggi. Disamping itu, perlunya
meningkatkan makan buah dan sayur. Setiap orang yang terbiasa dengan makanan yang
berlemak, kemudian diubah menjadi makanan yang termasuk vegetarian biasanya
membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian
dukungan keluarga. Pendidikan kesehatan yang intens disertai langkah promosi
kesehatan oleh tenaga kesehatan dan pemerintah dapat memotivasi masyarakat untuk
merubah perilaku pola makan ini.
Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita.
Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Modifikasi diet atau
pengaturan diet sangat penting pada klien hipertensi, tujuan utama dari pengaturan diet
hipertensi adalah mengatur tentang makanan sehat yang dapat mengontrol tekanan darah
tinggi dan mengurangi penyakiit kardiovaskuler. Secara garis besar, ada empat macam
diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekana darah yakni
diet rendah garam, diet rendah kolestrol, lemak terbatas serta tinggi serat, dan rendah
kalori bila kelebihan berat badan. Adapun yang disebut rendah garam bukan hanya
membatasi konsumsi garam dapur tetapi mengkonsumsi makanan rendah sodium atau
natrium (Na). Oleh karena itu, sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan diet
rendah garam adalah komposisi makanan yang harus mengandung cukup zatzat gizi,
baik kalori, protein, mineral maupun vitamin dan rendah sodium dan natrium.

2. Perubahan Gaya Hidup


a. Olahraga teratur
Olahraga sebaiknya dilakukan teratur dan bersifat aerobik, karena kedua sifat
inilah yang dapat menurunkan tekanan darah. Olahraga aerobik maksudnya olah raga
yang dilakukan secara terus-menerus Aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sekurang-

57

kurangnya 30 menit perhari dengan baik dan benar. Salah satu manfaat dari aktivitas
fisik yaitu menjaga tekanan darah tetap stabil dalam batas normal.
Contoh dari aktivitas fisik yang dapat menjaga kestabilan tekanan darah
misalnya olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak
3-4 kali seminggu. Olah raga juga dapat digunakan untuk mengurangi/ mencegah
obesitas dan mengurangi asupan garam ke dalam tubuh (tubuh yang berkeringat akan
mengeluarkan garam lewat kulit).

b. Menghentikan rokok
Tembakau mengandung nikotin yang memperkuat kerja jantung dan
menciutkan arteri kecil hingga sirkulasi darah berkurang dan tekanan darah meningkat.
Berhenti merokok merupakan perubahan gaya hidup yang paling kuat untuk mencegah
penyakit kardiovaskular pada penderita hipertensi. Dalam rangka menghentikan
kebiasaan merokok memang tergolong langkah yang sulit pada kebanyakan orang.
Apalagi sekarang ini banyak sekali bermunculan pabrik rokok yang menjamur di
belahan nusantara.
Merokok sangat besar perananya meningkatkan tekanan darah, hal ini
disebabkan oleh nikotin yag terdapat didalam rokok yang memicu hormon adrenalin
yang menyebabkan tekanan darah meningkat. Nikotin diserap oleh pembuluh-pembuluh
darah didalam paru dan diedarkan keseluruh aliran darah lainnya sehingga terjadi
penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan kerja jantung semakin meningkat
untuk memompa darah keseluruh tubuh melalui pembuluh darah yang sempit.
Berbagai iklan rokok di media masa baik cetak maupun elektronik sangatlah
gencar dilaksanakan. Peran pemerintah juga sangat minimal. Pemerintah masih belum
bisa mengambil kebijakan yang mendukung untuk berhentinya merokok. Kebijakan
yang dibuat masih setengah-setengah. Hal ini terbukti dari anjuran larangan merokok
yang tidak diimbangi dengan mengurangi produksi rokok.
Oleh karena itu, hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan
optimalisasi dukungan keluarga. Pendidikan dan promosi kesehatan berbasis keluarga
dapat menurunkan konsumsi rokok per hari. Pada pertemuan masyarakat hendaknya

58

dipasang poster larangan merokok di setiap rumah. Poster bahaya rokok yang dipasang
disetiap rumah terbukti mampu mengubah gaya hidup merokok.
Kesan bahwa merokok sebagai bukti laki-laki sejati harus dihilangkan.
Sebagian besar merokok dilakukan oleh laki-laki, maka sebagai istrinya harus mampu
memotivasi pasangan laki-lakinya untuk berhenti merokok. Melalui kegiatan promosi
kesehatan dalam bentuk perilaku hidup bersih dan sehat yang didalamnya terdapat
indikator dilarang merokok di dalam rumah sebaiknya ditegaskan menjadi dilarang
merokok sama sekali. Kampanye anti rokok setiap wilayah seharusnya dilakukan secara
optimal. Hasil penelitian Triyanto, (2010), dengan mengunakan pendekatan terapi
perilaku didapatkan hasil yang efektif dalam menurunkan konsumsi merokok.

c. Membatasi konsumsi alkohol


Konsumsi alkohol dalam jumlah sedang sebagai bagian dari pola makan yang
sehat dan bervariasi tidak merusak kesehatan. Namun demikian, minum alkohol secara
berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Pesta minuman keras
sangat berbahaya bagi kesehatan karena alkohol berkaitan dengan stroke. Menghindari
konsumsi alkohol bisa menurunkan 2-4 mmHg.

3. Mengurangi Kelebihan Berat Badan


Semua faktor risiko yang dapat dikendalikan, berat badan adalah salah satu
yang paling erat kaitannya dengan hipertensi. Dibandingkan dengan yang kurus, orang
yang gemuk lebih besar peluangnya mengalami hipertensi. Penurunan berat badan pada
penderita hipertensi dapat dilakukan melalui perubahan pola makan dan olah raga secara
teratur. Tekanan darah turun 5-20 mmHg per 10 kg penurunan BB.

4. Kontrol Tekanan Darah


Pemeriksaan tekanan darah secara teratur sebagai bentuk skrining dan juga
kepatuhan berobat bagi orang yang sudah pernah menderita hipertensi. Dalam
pemeriksaan dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak dua
menit, kemudian diperiksa ulang.

59

BAB 5
PENUTUP

Apabila semua program penatalaksanaan hipertensi dilaksanakan dengan baik, maka


diharapkan dapat menurunkan angka kematian dan koomplikasi akibat hipertensi.
Hipertensi dapat dicegah dan diobati. Kunci keberhasilan adalah adanya kepatuhan dan
perubahan gaya hidup seseorang. Peran kader menjadi sangat penting sebagai dukungan
masyarakat. Semoga buku pedoman ini bermanfaat bagi penderita hipertensi.

60

Lampiran 4. Biodata Tim IbM


CURICULUM VITAE KETUA
I. IDENTITAS DIRI
No
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.
1.6.
1.7.
1.8.

Nama Lengkap dan gelar


Jabatan Fungsional
NIP
Tempat,Tanggal Lahir
Alamat Rumah
Nomor Telepon/Fax
Nomor HP
Alamat Kantor

1.9. Nomor Telepon/Fax


1.10. Alamat e-mail
1.11. Mata Kuliah yg diampu

Endang Triyanto, S.Kep, Ns.,M.Kep


Lektor
197810022006041002
Kebumen, 2 Oktober 1978
Jl. Adipati Mersi 249 Purwokerto
081328379509
Jl. dr. Soeparno Karangwangkal Kotak Pos
115 Purwokerto 53123
0281-642838/0281-642838
endangtriyanto@yahoo.com
1. Keperawatan Komunitas
2. Keperawatan Gerontik
3. Metode Penelitian Kesehatan
4. Keperawatan Keluarga
5. Metodologi Keperawatan

II. RIWAYAT PENDIDIKAN


Program:
S1 + Profesi
Nama PT
Program Studi Ilmu
Keperawatan, Fakultas
Kedokteran, Universitas Gadjah
Mada
Lokasi PT
Yogyakarta
Bidang Ilmu Keperawatan
Gelar
S.Kep.,Ns
Tahun Lulus 2005

S2
Program Pasca Sarjana,
Fakultas Ilmu
Keperawatan, Universitas
Indonesia
Depok
Keperawatan Komunitas
M.Kep
2010

III. PENGALAMAN KERJA INSTITUSI


No
Pekerjaan
1.
Dosen di Akper Depkes Purwokerto
2.
Dosen di Akper Yakpermas Banyumas
3.
Ketua Profesi Jurusan Keperawatan FKIK UNSOED
4.
Dosen tetap dengan di Jurusan Keperawatan FKIK
UNSOED

Tahun
2001-2002
2002-2005
2005-2008
2005-sekarang

61

IV. PENGALAMAN PENELITIAN (tiga tahun terakhir)


No

Tahun

2008

2008

2009

2009

2009

2010

2010

2010

2010

Judul Karya Ilmiah


Gambaran Motivasi Perawat
Dalam Melakukan
Dokumentasi Keperawatan
di RSUD Prof.Dr Margono
Soekardjo Purwokerto
Gambaran
Pemanfaatan
Poliklinik Kesehatan Desa
Sebagai
Perpanjangan
Tangan
Puskesmas
Di
Kabupaten Purbalingga
Upaya Pengendalian Respon
Emosional Pasien Hipertensi
dengan
Terapi
Musik
Dominan Frekuensi Sedang
Peran Suami Terhadap Istri
yang
Menderita
Kista
Ovarium di Purwokerto
Hubungan Antara Dukungan
Suami dengan Tingkat Stres
Istri yang Menderita Kista
Ovarium di Purwokerto
Hubungan Antara Dukungan
Suami dengan Mekanisme
Koping Istri yang Menderita
Kista
Ovarium
di
Purwokerto
Pengalaman Remaja Dalam
Mendapatkan
Tugas
Perkembangan
Keluarga
Selama Masa Pubertas
Analisis Faktor-faktor yang
Mempengaruhi
Pasien
Hipertensi Menjalani Terapi
Alternatif Komplementer di
Klinik
Natura
Syifa
Banyumas
Penelitian yang
dipublikasikan melalui oral
presentation pada seminar
internasional 1st SEARAME

Posisi
Penulis

Pendanaan
Sumber

Jml
(Juta)

Peneliti
Utama

RSUDProf.Dr
Margono
Soekardjo
Purwokerto

7,5

Anggota

Dosen Muda

10

Anggota

Hibah
Bersaing

40

Peneliti
Utama

Mandiri

Peneliti
Utama

Mandiri

Peneliti
Utama

Mandiri

Peneliti
Utama

DIPA Jurusan
Keperawatan
Unsoed

Anggota

DIPA FKIK
Unsoed

Peneliti
Utama

DIPA Unsoed

10

62

10

2010

11

2011

12

2011

International Conference
and 5th Indonesian Scientific
Medical Education Expo
and Meeting di Jakarta
dengan judul : Level of
Anxiety at The First Time
Clinical Practice Nursing
Students Jenderal
Soedirman University
Stress And Coping
Mechanism In Nursing
Clinical Practice Student In
Jenderal Soedirman
University
Membuat Rancangan dan
Karya yang Dipatenkan
dengan judul : Deteksi Dini
Demam Berdarah Dengue
(DBD) Menggunakan
Teknologi Pengolahan Citra
Digital Berbasis Masyarakat
Penelitian yang
dipublikasikan melalui oral
presentation pada seminar
internasional Public Health
Nursing Conference 2011 in
Serawak, Malaysia judul
Adolescent Experiences In
Getting Family
Development Task During
Their Puberty :
Phenomenology Study

Anggota

Mandiri

Anggota

Sedang
diajukan ke
Dana DIPA
Unsoed

170

Peneliti
Utama

DIPA FKIK
dan Unsoed

10,5

V. PENGALAMAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT


No

Thn

2008

2008

Judul Pengabdian
Kepada Masyarakat
Terapi Musik untuk
Menurunkan
Hipertensi Primer di
Wilayah Puskesmas
Purwokerto
Sunatan Masal di
Pondok Pesantren

Khalayak
Sasaran

Posisi
Penulis

Pendanaan
Sumber
Jml (jt)

Masyarakat
penderita
hipertensi

Ketua

Anggaran
Rutin
Unsoed

Anak

Ketua

DIPA
Jurusan

63

2008

2010

2010

Bani Malik Kedung


Paruk, Ledug
Purwokerto
Pelatihan Squad of
Disaster and
Emergency Assistance
Basic Training pada
Mahasiswa
Masyarakat Kampus
Mahasiswa Jurusan
Keperawatan FKIK
Unsoed
Upaya Peningkatan
Kesehatan Keluarga
melalui Optimalisasi
Keluarga
Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat
Tatanan Rumah
Tangga
Pembentukan Pusat
Informasi
&
Konseling
Remaja Remaja
Remaja Mandiri Di
Pamijen, Sokaraja

Keperawatan
Unsoed

DIPA
Jurusan
Trainer
Keperawatan
Unsoed

Ketua

Ketua

DIPA
Jurusan
Keperawatan
Unsoed

Bapermas PKB
Banyumas

VI. PENGALAMAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH DALAM JURNAL

No

Posisi
Penulis

Tahun

Judul Karya Ilmiah

2008

Gambaran Motivasi Perawat


Dalam Melakukan Dokumentasi
Keperawatan di RSUD Prof.Dr
Margono Soekardjo Purwokerto

Gambaran
Pemanfaatan
Poliklinik
Kesehatan
Desa
2008 Sebagai Perpanjangan Tangan Anggota
Puskesmas
Di
Kabupaten
Purbalingga

2009

Peneliti
Utama

Upaya Pengendalian Respon


Anggota
Emosional Pasien Hipertensi

Keterangan
Jurnal
Keperawatan
Soedirman, ISSN
1907-6673,
Volume 2, No.3,
Juli 2008
Jurnal
Keperawatan
Soedirman, ISSN
1907-6673,
Volume 3, No.3,
Nopember 2008
Jurnal
Keperawatan

64

dengan Terapi Musik Dominan


Frekuensi Sedang

2009

Peran Suami Terhadap Istri yang


Peneliti
Menderita Kista Ovarium di
Utama
Purwokerto

2009

Hubungan Antara Dukungan


Suami dengan Tingkat Stres Istri Peneliti
yang Menderita Kista Ovarium Utama
di Purwokerto

2010

Hubungan Antara Dukungan


Suami
dengan
Mekanisme Peneliti
Koping Istri yang Menderita Utama
Kista Ovarium di Purwokerto

2010

Level of Anxiety at The First


Time Clinical Practice Nursing
Students Jenderal Soedirman
University

Peneliti
Utama

2010

Stress And Coping Mechanism


In Nursing Clinical Practice
Student In Jenderal Soedirman
University

Anggota

2011

Adolescent Experiences In
Getting Family Development

Peneliti
Utama

Soedirman, ISSN
1907-6673,
Volume 4, No.1,
Maret 2009
Jurnal
Keperawatan
Soedirman, ISSN
1907-6673,
Volume 4, No.2,
Juli 2009
Jurnal
Keperawatan
Soedirman, ISSN
1907-6673,
Volume 4, No.3,
November 2009
Jurnal
Keperawatan
Soedirman, ISSN
1907-6673,
Volume 5, No.1,
Maret 2010
Seminar
internasional 1st
SEARAME
International
Conference and 5th
Indonesian
Scientific Medical
Education Expo
and Meeting di
Jakarta
Seminar
internasional 1st
SEARAME
International
Conference and 5th
Indonesian
Scientific Medical
Education Expo
and Meeting di
Jakarta
Seminar
internasional

65

Task During Their Puberty :


Phenomenology Study

Public Health
Nursing
Conference 2011 in
Serawak, Malaysia

VII.PENGALAMAN PENULISAN BUKU


No

Tahun

2010

2011

2012

Judul Buku

Jumlah
Penerbit
Halaman
Buku Keperawatan Keluarga I
102
UPT Penerbitan
dan Percetakan
Unsoed
Kiat Keluarga dalam Merawat
UPT Penerbitan
Anak Remaja Selama Menjalani
dan Percetakan
75
Masa Pubertas
Unsoed
Buku
Strategi
Pelayanan
Graha Ilmu Press
112
Keperawatan Bagi Penderita AIDS
Yogyakarta

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Dan apabila dikemudian hari ternyata dijumpai
ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya.
Demikian biodata ini saya buat engan sebenar-benarnya.
Purwokerto, 28 Nop 2013
Ketua,

Endang Triyanto, S.Kep, Ns.,M.Kep

66

RIWAYAT HIDUP SINGKAT


ANGGOTA I
A. IDENTITAS
Nama
Tempat/Tanggal Lahir
Jenis Kelamin
NIDN
Pangkat/Golongan
Jabatan Fungsional
Institusi
Telp/Faks
Hp
Email

: Arif Setyo Upoyo,S.Kep,Ns, M.Kep


: Magelang, 25 Maret 1980
: Laki-Laki
: 0025038002
: Penata Muda /III.a
: Asisten Ahlli
: Jurusan Keperawatan FKIK
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
: (0281)642838
: 081327473549
: aik_250380@yahoo.com

B. RIWAYAT PENDIDIKAN
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nama Pendidikan
SD Negeri Magelang
SMP Negeri 2 Magelang
SPK Depkes Magelang
Akper Depkes Purwokerto
S1 Keperawatan FK UNDIP Semarang
Program Profesi Ners FK UNDIP Semarang
S2 Keperawatan Unpad Bandung

C. RIWAYAT PEKERJAAN
No
Pekerjaan
1.
Staf Pengajar Akper Depkes Purwokerto
2
Staf pengajar Stikes Harapan Bangsa Purwokerto
3
Dosen Jurusan Keperawatan,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Tahun Lulus
1992
1995
1998
2001
2004
2007
2012

Tahun
2001 - 2002
2004 - 2005
2005 - sekarang

67

D. KARYA ILMIAH
Asrin, Triyanto, E. dan Upoyo A, S. (2006) Analisis faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kejadian phlebitis di RSUD Purbalingga. Soedirman
Nursing Journal . 1(1) 20-27
Saryono, Upoyo, Handoyo (2006). Kadar Hemoglobin dan hematokrit pada pasien
yang akan menjalani hemodialisa di RS Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto, Jurnal Kesehatan Stikes muhammadiyah Gombong.
E.RIWAYAT PENGABDIAN
Penyuluhan hipertensi Kelompok Jamaah Haji, 2006
Pelatihan Kader Posyandu Lansia Purwokerto Kidul, 2008.
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Dan apabila dikemudian hari ternyata dijumpai
ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya. Demikian
biodata ini saya buat engan sebenar-benarnya.
Purwokerto, 28 Nop 2013
Yang menyatakan,

Arif Setyo Upoyo,S.Kep,Ns,M.Kep


NIDN. 0025038002

68

RIWAYAT HIDUP SINGKAT


ANGGOTA III
A. Identitas
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama dan Gelar akademik


Tempat dan Tanggal lahir
Jenis Kelamin
Fakultas/Program Studi
Pangkat/Golongan/NIP
Jabatan Fungsinal

: Dr. Saryono, SKp., MKes.


: Purbalingga, 10 Desember 1976
: Laki-laki
: FKIK/Keperawatan
: Penata/IIIC/197612102002121001
: Lektor
Ketua Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada
Masyarakat Jurusan Keperawatan FKIK Unsoed
7. Bidang Keahlian
: Biomedik
8. Alamat Kantor
: Jln. Dr Soeparno, Kampus Unsoed,
Karangwangkal, Purwokerto, Telp/fax; 0281
642838,
9. Alamat rumah
:Jl. Kenanga I, no I, Griya Tegalsari Indah,
Dukuhwaluh, Purwokerto, Banyumas. Telp
08122752061
10. Email
: sarbiokim@gmail.com
11. Lulusan yang telah dihasilkan : S1= 40 mahasiswa, D3= 30 mahasiswa
12. Mata kuliah yang diampu
: Biokimia dan Metodologi Penelitian
13. Riwayat Pendidikan
No Tahun
Perguruan tinggi
Bidang ilmu
pendidikan
1
1998-2001
Universitas Indonesia
S1 Ilmu Keperawatan
2
2002-2004
Universitas Gadjah Mada S2 Ilmu Biomedik
3
2006-2010
Universitas Gadjah Mada S3 Ilmu Biomedik
B. Pengalaman sebagai penerima program hibah
No Tahun
Judul artikel
1
2008 Higher G Allele frequency of
RET C2307T>G polymorphism
in
female
patients
with
Hirschsprung
disease
in
Yogyakarta, Indonesia.
2
2009 Hubungan
Mutasi
Dan
Polimorfisme Gena Reseptor
Endothelin-B Dengan Penyakit
Hirschsprung Di Yogyakarta
4
2009 A Singgle Nucleotide

Sumber dana
Dana Masyarakat
UGM

Peranan
Anggota

Hibah Doktor
UGM

Ketua

Hibah Penelitian

Ketua
69

2011

Polymorphism Of The RET


Proto-Oncogene Was OverRepresented In Indonesian
Patients With Sporadic
Hirschsprung Disease
Pengaruh teh hijau pada tikus
putih yang diinduksi FeSO4
per oral

untuk publikasi
Internasional,

Dana HPEQ

C. Pengalaman dalam bidang pengabdian masyarakat


No Judul kegiatan
Tahun Peranan
1
IPTEKS: Sosialisasi Deteksi Dini
2007
Ketua
Kanker Payudara dan Kanker Leher
Rahim di Desa Rempoah
Baturaden, Banyumas
2
KWU: Kuliah bidang
2008
Ketua
kewirausahaan
3
MKU: Bisnis bidang Kesehatan
2008
Ketua
4
Penyuluhan Nutrisi pada anak
2010
Pembicara

Anggota

Sumber dana
Penerapan
ipteks Dikti

Dikti
Dikti
LPPM

D. Pengalaman Penulisan Artikel Ilmiah Pada Jurnal/seminar


2010
RET single nucleotide polymorphism in
Universa Medicina,
Indonesians with sporadic hirschsprung disease vlo 29, no 2, hal 71(Saryono, Rochadi, Wiryatun Lestariana,
77
Wayan T Artama, Ahmad Hamim Sadewa)
2010
Hubungan Depresi dan dukungan keluarga
Jurnal keperawatan
terhadap kadar gula darah pada pasien diabetes
Soedirman, vol 5, no
mellitus tipe 2 di RSUD Sragen (Atyanti
1, hal 37-46
isworo, Saryono)
2010
Efek pendidikan kesehatan komunitas terhadap
Kesmasindo, vol 3,
pengetahuan, ketrampilan dan penerimaan
nomor 1, hal 01-07
tentang program deteksi dini kanker serviks di
desa rempoa, Kecamatan Baturaden, Banyumas
(Saryono, Mekar)
2008
Higher G allele frequency of RET c2307T>G
Paediatr indones, vol
polymorphism in female patients with
48 no 2, hal 88-92
Hirschsprung disease in Yogyakarta, Indonesia
(Saryono, Rochadi, Wiryatun Lestariana,
Wayan T Artama Ahmad Hamim Sadewa,)
2011
Peran biologi molekuler dalam pengembangan
PPNI Jawa Tengah

70

2011,
Maret
11-13

2011,
26-27
April
2009

praktik keperawatan, disampaikan dalam


Seminar nasional Keperawatan
The familys role in assissting
hypercholesterolemia individuals in controllig
serum cholesterol level, disampaikan pada
Public Health Nursing Conference di Kucing,
Serawak, Malaysia
The Nursing Role to Prevent a Hirschsprung
disease on Family with Genetic risk Factor,
disampaikan pada Cebu International Nursing
Conference di Cebu City, Philipina
Pemaparan hasil pelaksanaan program
pengabdian kepada masyarakat mono tahun,
pada tanggal 6-7 Mei 2009, di Bogor

Serawak Health
Departement,
Malaysia

Cebu Normal
University, Philipine

DP2M, Dirjen Dikti

E. Pengalaman Penulisan Buku Referensi


No Tahun Judul Buku
No ISBN
1.
2008 BIOKIMIA hormon
ISBN 978-979-1446-570
2
2008 Biokimia enzim
ISBN 918-979-18234-01
3

2009

Biokimia respirasi

2008

Biokimia pencernaan

2010

2010

Metodologi
penelitian Kesehatan
Biokimia reproduksi

Penerbit
Nuha medika

Global
internusa,
Purwokerto
ISBN 978-979-1446-36- Nuha medika
5
ISBN 978-979-17963-2- Rekatama,
3
jakarta
ISBN 978-979-1446-19- Nuha medika
8
ISBN 978-979-1446-21- Nuha medika
1

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara hukum. Dan apabila dikemudian hari ternyata dijumpai
ketidak sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima resikonya.
Demikian biodata ini saya buat engan sebenar-benarnya.
Purwokerto, 28 Nop 2013
Anggota

Dr. Saryono, S.Kp.,M.Kes

71

LOKASI KEGIATAN

Lokasi

RSU Margono
Soekardjo

Kampus FKIK

Jarak antara lokasi dengan kampus sekitar 5 km yang dapat ditempuh dengan kendaran
bermotor.

72

Anda mungkin juga menyukai