Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN SEMINAR

KONTROVERSI ISU LEGALISASI GANJA


DI INDONESIA: MANFAAT DAN BAHAYA
Universitas Indonesia, 14 November 2013

Hari Kamis 14 November 2013 Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang diwakili Dhira Narayana
mendapatkan kehormatan untuk menjadi narasumber Seminar Legalisasi Ganja di Universitas
Indonesia (UI). Benar-benar sebuah kehormatan karena LGN duduk sejajar dengan Prof. Adrianus
Eliasta Meliala, Ph. D., M.Si., M. SC (Guru Besar Kriminologi UI), Sabarinah B. Prasetyo, Dr, dr, M.Sc
(Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UI), dan Bpk. Supardi (Kasubdit. Dir. Bantuan BNN
merangkap Kepala BNN Jakarta Timur).
Seminar berjudul Kontroversi Isu Legalisasi Ganja di Indonesia : Manfaat dan Bahaya,
merupakan seminar yang diinisiai dan didanai oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Melalui
kerjasama yang telah mereka bangun dengan UI 3 tahun silam, seminar tersebut berupaya menguji
gagasan legalisasi ganja di depan cendekiawan Kriminologi dan Kesehatan Masyarakat. Selain itu,
seminar ini juga ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada civitas akademika mengenai
bahaya dan manfaat pohon ganja.
Dhira Narayana - LGN
Seperti biasa LGN selalu menjadi pembicara pertama
dan berbeda dengan seminar-seminar sebelumnya, waktu yang
diberikan pada seminar ini hanya 10 menit. Awalnya, Dhira
bercerita bagaimana dirinya mulai aktif menggunakan ganja
ketika berkuliah di UI tahun 2005. Hal tersebut yang kemudian
membuat dirinya mulai mengenal lebih dalam mengenai pohon
ganja. Beruntung, Dhira tidak pernah ketawan polisi atau BNN
selama masih aktif menggunakan ganja di masa kuliah. Apa
jadinya kalau waktu itu ketahuan?
Hingga di bulan April 2009, Dhira mulai bertemu
banyak orang yang memiliki keingintahuan besar yang sama
akan manfaat pohon ganja bagi kehidupan manusia; ada dari
kalangan aktivis, mahasiswa, pegawai swasta, pegawai negeri,
pengangguran, dan sebagainya. Diskusi semacam ini rutin
dilakukan semenjak itu. Hasilnya di tahun 2010 lahirlah sebuah organisasi rakyat yang bernama
Lingkar Ganja Nusantara (LGN).
Dalam seminar ini, materi yang disampaikan Dhira sebagai perwakilan LGN, sama seperti
yang selalu disampaikannya dalam beberapa bulan terakhir. Legalisasi ganja LGN adalah perjuangan
membuat sebuah regulasi (kebijakan) agar pohon ganja dapat dimanfaatkan berdasarkan ajaran
Pancasila. LGN menyadari bahwa kebijakan ganja yang saat ini tertuang dalam UU Narkotika No. 35
tahun 2009 telah mengingkari nilai-nilai Pancasila dan UUD45. Salah satu contohnya adalah

program Indonesia Bebas Narkoba dengan membumi hanguskan karya agung Tuhan Yang Maha Esa;
pohon ganja. Adakah ada sebuah ajaran ketuhanan yang mendidik manusia untuk membunuh
tanaman? LGN rasa yang ada malah kewajiban manusia untuk menjaga alamnya.
Dhira akhirnya mengajak peserta untuk melihat akar masalah tersebut. Ingatkah saudarasaudara dengan sejarah lahirnya bangsa Indonesia? sebuah bangsa yang lahir atas perjuangan
bangsa-bangsa di tanah nusantara melawan imperialisme yang telah bertahun-tahun menjajah.
Bangsa-bangsa yang ada di tanah nusantara tersebut akhirnya mau bersatu dalam sebuah
kesepakatan dasar yang bernama Pancasila.
Kalau saudara-saudara sadar, Pancasila dan UUD45 adalah sumber hukum tertinggi dari
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga tidak boleh ada satupun produk hukum yang boleh
melanggar kesepakatan dasar ini. Kalaupun ada yang melanggar berarti produk hukum tersebut
inkonstitusi. Dalam kasus lahir dan berjalannya UU Narkotika RI membuktikan bahwa negara kita
sedang berjalan di jalur yang menyimpang dari kesepakatan dasar itu. Yang pada kenyataannya UU
tersebut didasari oleh Konvensi PBB. Bayangkan Anda punya pacar, bagaimana kalau kesepakatan
kalian diingkari oleh satu pihak? Bukankah perpecahan yang terjadi.
Di akhir waktu presentasinya, LGN menegaskan bahwa pengingkaran UU Narkotika terhadap
Pancasila adalah alasan utama gagasan legalisasi ganja menjadi perjuangan gotong royong yang
harus dilakukan segenap bangsa Indonesia.

Supardi - Kasubdit. Dir. Bantuan BNN merangkap Kepala BNN Jakarta Timur
Pembicara kedua dalam seminar ini seharusnya Kepala BNN, Bpk. Anang Iskandar. Namun
karena ada pertemuan penting dengan negara-negara tetangga, beliau digantikan oleh Bapak
Supardi. Pertemuan LGN kali ini dengan Bapak Supardi adalah pertemuan kedua setelah sebelumnya
berjumpa dalam Bedah Buku Hikayat Pohon Ganja di Jakarta beberapa waktu lalu.
BNN memulai presentasi dengan menyatakan bahwa kami peduli dengan para penyalahguna
ganja. Hal ini dapat dilihat dari perubahan pendekatan yang diterapkan dalam UU Narkotika No. 35
tahun 2009 menjadi lebih humanis dan mengayomi. Penyalahguna dan korban penyalahguna ganja
sudah tidak dipenjara lagi tetapi direhabilitasi. Pada dasarnya, kami ini kasihan terhadap mereka dan
sudah menjadi tugas kami untuk menyelamatkan anak bangsa.

Semenjak UU Narkotika No. 35 tahun 2009 berlaku, BNN telah merehabilitasi 18.000 orang
yang menjadi korban dan menyalahgunakan Narkotika; termasuk ganja. Sayangnya BNN tidak dapat
mengemukakan jumlah residen pengguna ganja yang direhabilitasi. BNN juga telah bekerjasama
dengan kurang lebih 180 puskesmas untuk melakukan asesmen terhadap pecandu Narkotika.
Bapak Supardi kemudian berbicara soal riset yang dikembangkan BNN & UI tahun 2010
silam. Penelitian tersebut menemukan bahwa angka prevalensi penyalahguna narkotika di Indonesia
mencapai sudah mencapai 5,2 juta orang. Jumlah ini bertambah dengan signifikan dari 3,2 juta orang
di tahun 2008. Dengan keterbatasan jumlah tempat rehabilitasi yang dimiliki Republik Indonesia,
BNN berharap bantuan dari semua pihak dengan tetap berusaha semaksimal mungkin.
Tadi LGN sempat berbicara soal hemp (ganja industri) yang tidak memiliki kandungan
psikoaktif. Masalahnya ganja yang ada di Aceh itu bukan hemp dan memiliki kandungan psikoaktif
sampai 15%. Angka yang cukup tinggi dan dapat berbahaya. Sehingga BNN berusaha mengalihkan
pertanian ganja di Aceh menjadi pertanian nilam atau jagung. Di sini terlihat lagi sisi humanisme dari
UU Narkotika No.35 tahun 2009. Para petani ganja juga boleh memilih untuk berganti profesi
menjadi peternak kambing atau kerbau. Namun pada kenyataannya program tersebut gagal karena
BNN banyak mendapatkan intimidasi dari masyarakat.
Menanggapi gagasan legalisasi ganja LGN, BNN dengan tegas menyatakan bahwa mereka
tidak dapat melegalkan ganja karena beberapa dasar pertimbangan hukum yaitu Konvensi Tunggal
tentang Narkotika PBB tahun 1961 beserta Protokol tahun 1972 dan UU Narkotika No. 8 tahun 1976.
Yang mana menurut BNN dalam pembuatannya telah melalui diskusi panjang dengan berbagai pihak
terkait sehingga memenuhi nilai pengayoman dan kemanusian.

Sabarinah B. Prasetyo, Dr, dr, M.Sc (Fakultas Kesehatan Masyarakat UI)


Seusai BNN memberikan pemaparannya, narasumber
ketiga yang mendapatkan waktu dan tempat untuk presentasi
adalah Ibu Sabarinah. Dalam 10 menit ke depan beliau akan
berbicara tentang efek ganja bagi kesehatan manusia. Sebagian
besar materi yang dituangkan dalam presentasinya berasal dari
Buku Cannabis Use and Dependence: Public Health and Public
Policy yang diterbitkan oleh Universitas Cambridge, Inggris di
tahun 2003.
Dari katanya saja sudah jelas bahwa ganja adalah drugs.
Artinya ganja adalah obat-obatan. Dan manusia itu ternyata
mampu menghasilkan senyawa-senyawa yang menyerupai obatobatan ini di dalam dirinya sendiri. Namun apabila terjadi
penurunan produksi senyawa tersebut, manusia perlu
mengambilnya dari luar tubuh. Bagaimana dengan ganja?
Apakah dinamika tersebut berlaku juga untuk ganja?
Ya, begitulah kira-kira kinerja ganja dalam tubuh manusia. Ibu Sabarinah mulai menceritakan
lebih detail mengenai proses kerja ganja dalam sistem otak kita. Otak manusia itu terdiri dari

berjuta-juta sel syaraf dan setiap sel-sel tersebut terpisah. Tidak seperti pembuluh darah yang
menyambung di seluruh tubuh kita. Sel-sel syaraf tersebut memerlukan sebuah penghantar untuk
mengalirkan stimulus-stimulus sehingga tubuh kita mampu bereaksi.
Tubuh kita selalu mencari keseimbangan asupan ganja sendiri; dalam hal ini otak kita
melakukan proses adaptasi. Seandainya asupan ganja dari luar masuk, tubuh akan mengurangi
asupan ganjanya sendiri. Proses ini berlangusung selama pengguna ganja memasukan ganja dalam
jumlah tertentu dari luar tubuhnya. Bagi orang yang menyalahgunakan ganja terus menerus, otak
akan melakukan penyesuaikan diri agar memproduksi ganja dari dalam tubuh dengan jumlah yang
kecil. Proses ini kemudian menjadikan otak kita beradaptasi dengan kebiasaan tersebut dan
menjadikan seorang adiksi ganja.
Adiksi terhadap ganja bisa bersifat fisik atau psikologis. Dikatakan adiksi fisik karena ganja
dapat menimbulkan 2 hal; gejala putus zat (dalam bahasa jalanan: sakaw) dan toleransi. Umumnya
gejala putus zat jarang terjadi karena ganja dapat tinggal cukup lama di dalam lemak tubuh. Tapi
toleransi sangat umum ditemukan dalam kasus adiksi ganja. Toleransi yang dimaksud adalah seorang
pengguna ganja memerlukan dosis yang lebih banyak dari waktu-ke waktu untuk memperoleh efek
yang diinginkan. Selain itu, dikatakan adiksi psikologis karena memunculkan gejala craving (rasa
kangen) untuk merasakan kembali efek ganja. Namun beliau menambahkan di akhir bahwa 40% 60% adiksi ganja ditimbulkan oleh faktor keturunan.
Dalam dunia kedokteran, ganja dikategorikan sebagai obat depresan dan halusinogen.
Sedangkan efek umum yang didapat dari penggunaan ganja adalah pleasure (rasa nikmat) dan pain
avoidance (mencegah rasa sakit). Pengalaman tersebut dinilai Ibu Sabarinah terjadi karena sistem
otak manusia dikacaukan oleh cannabinoid (zat psikoaktif ganja).
Secara umum efek ganja dapat dibedakan dengan melihat dosis penggunaan. Dosis rendah
ganja dapat menimbulkan efek :
-

euforia,
perubahan dalam berpikir
berekspresi,
kemampuan indra meningkat,
talkative (luwes berbicara),
halusinasi,
menurunkan rasa mual,
meningkatkan nafsu makan,

dan

kinerja psikomotor menurun,


mulut kering,
mata merah,
sinusitis,
bronkitis,
radang akibat rusaknya saluran
pernapasan,
supresi imunitas (penurunan imun).

Dosis tinggi ganja dapat menyebabkan:


-

halusinasi visual
gangguan persepsi waktu
kecemasan,
paranoid dan panik
depresi,
penurunan konsentrasi,

lelah dan bingung,


menurunnya
daya
mengambil
keputusan,
depersonalisasi,
hilangnya memori jangka pendek,
penurunan kemampuan perencanaan

Disamping semua akibat yang dapat ditimbulkan dari penggunaan ganja, beliau juga
menemukan keterkaitan antara penggunaan ganja dengan psikosis atau skizofrenia. Menurut hasil
temuannya ganja dapat menjadi penyebab munculnya penyakit tersebut terutama dikalangan orang
yang memiliki predisposisi tinggi dalam genetiknya.
Beliau kembali mengajak peserta seminar pada hasil penelitian yang dilakukan bersama BNN
di tahun 2010. Studi tersebut juga menemukan bahwa ganja menjadi pintu masuk ke jenis-jenis
narkoba lainnya. Data tersebut juga memperlihatkan rokok sebagai pintu utama masuk ke dalam
lingkaran Narkoba. Walaupun beliau mengakui juga bahwa teori ini masih dalam perdebatan.
Di akhir presentasinya, Ibu Sabarinah mengingatkan bahwa efek penyalahgunaan ganja
mungkin belum terasa sekarang bagi penggunanya. Namun, efek ganja seperti yang telah disebutkan
beliau di awal tadi akan muncul dalam rentan waktu yang relatif lama. Hal ini juga sangat tergantung
dari faktor keturunan maupun lingkungan.

Prof. Adrianus Eliasta Meliala, Ph. D., M.Si., M. SC (Guru Besar Krimilonogi UI)
Narasumber terakhir dan yang paling ditunggu-tunggu peserta seminar akhirnya
mendapatkan waktu bicaranya. Prof. Adrianus seyogyanya mengingatkan civitas akademika bahwa
diskusi kontroversi memang seharusnya menjadi agenda rutin UI. Kalau bukan civitas akademika,
siapa lagi yang bertanggung jawab mengadakan dialog semacam ini. Beliau ternyata ingin
mengungkapkan kekecewaannya karena mengetahui bahwa seminar ini diinisiasi dan dibiayai oleh
BNN bukan oleh UI sendiri. Lebih parahnya lagi, seminar ini dinyatakan tertutup untuk masyarakat
umum kecuali civitas akademika. Bukankah ini berarti masturbasi.

Di awal pemaparannya, beliau melihat perlu adanya pemahaman yang tepat dalam
menggunakan terminologi legalisasi. Karena dalam istilah hukum, ada beberapa kata yang memiliki
arti mirip dengan legalisasi tetapi sesungguhnya memiliki pengertian yang sangat berbeda. Kata-kata
tersebut adalah kriminalisasi, legalisasi, kodifikasi dan penalisasi.

Kriminalisasi digunakan ketika pada awalnya suatu perbuatan dinyatakan sebagai perbuatan
bebas dan tidak memiliki unsur sanksi. Perbuatan itu mungkin membawa kebaikan atau manfaat
bagi pelakunya. Namun kemudian oleh suatu lembaga hukum dianggap membawa derita atau
mudarat bagi orang lain. Itulah sebenarnya kriminalisasi.
Seorang tersebut tidak akan bisa dihukum sebelum dilakukan proses kodifikasi. Oleh sebab
itu perlu adanya sebuah proses perundang-undangan untuk membuat sebuah undang-undang. Inilah
yang dimaksud dengan kodifikasi.
Sedangkan penalisasi diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan yang diancamkan
oleh kodifikasi, kemudian dihukum dengan cara penal.
Dalam konteks legalisasi, perlu dipahami dahulu bahwa memang ada pihak-pihak yang boleh
memberikan legalitas dan ada juga yang tidak boleh. Intinya harus ada proses tata negara yang
kemudian menjadikan sebuah perbuatan dianggap jahat dan kemudian dijatuhi hukuman. Maka
hukuman itu dianggap sebagai hukum yang legal.
Dalam tatanan yang lebih luas, kita bisa melihat dengan seksama bagaimana negara-negara
di dunia melakukan pendekatan kriminalisasi yang bersifat total terhadap pengguna ganja. Padahal
kita harus ingat pada pemaparan yang diberikan oleh Ibu Sabarinah bahwa terdapat degradasi
penggunaan ganja; dimulai dari pengguna ganja (mencoba), penyalahgunaan ganja dan akhirnya
sampai timbul adiksi ganja. Oleh karena itu dalam konteks kriminalisasi, negara seharusnya jangan
menunggu sampai seorang pengguna menjadi adiksi untuk dihukum, teapi negara harus
menghentikan warganya agar tidak sampai menyalahgunakan ganja.
Beliau juga mengulas tentang pemaparan LGN mengenai sistem global. Memang harus
diakui terjadinya konstelasi kekuatan politik dalam proses pembuatan Konvensi. Tetapi harus diingat
bahwa proses pembuatan Konvensi PBB harus melalui 6 tahap yang telah disepakati. Setelah itu, ada
4 tahap untuk merubahnya menjadi UU di sebuah negara. Pemaparan LGN seolah menunjukkan
bahwa Indonesia dengan bodoh menerima begitu saja kebijakan tersebut tanpa melalui proses?
Tentu setiap negara memiliki alasan untuk menggunakan pendekatan kriminalisasi.
Bagaimana kita membaca legalisasi ganja yang telah dilakukan oleh negara-negara barat?
Secara sosiologis, masyarakat barat adalah masyarakat yang terdidik, dewasa dan mampu
mendengarkan kata hatinya. Ketika terjadi legalisasi ganja, memang pada awalnya akan banyak
orang yang mencoba menggunakan ganja. Namun seiring berjalannya waktu, hanya sebagian orang
yang memang mau menempuh resiko efek ganja-seperti yang dikatakan oleh Ibu Sabarinah-yang
tetap menjadi pengguna. Oleh karena itu angka penggunaan ganjanya tetap stabil.
Kalau ganja dilegalkan pemakaiannya di Indonesia, penggunaannya akan selalu naik terus
dan terus. Itulah masyarakat kita. Beliau jelas tidak memilih gagasan tersebut karena tidak siap
dengan resiko yang harus dihadapinya.
Sedikit berbicara tentang politik. Hampir semua negara menganggap bahwa kejahatan
Narkotika sebagai extraordinary crime (kejahatan luar biasa). Kejahatan yang tingkatnya setara
dengan korupsi dan terorisme. Di satu sisi, Indonesia sebagai negara yang serba tergantung,
terbatas, penegakan hukumnya juga payah. Kalau kita melakukan dekriminalisasi sekarang, musuh
Indonesia akan semakin banyak dan Indonesia tidak akan siap menghadapi itu.

Contohnya, kita sebagai negara sering kekurangan uang cash. Kalau kita butuh uang cash,
tentu kita akan pinjam ke negara tetangga. Bagaimana jadinya kalau kita mengambil posisi
berseberangan dengan dunia internasional. Saat kita perlu uang cash, kita pinjam kemana? Oleh
karena itu kita perlu bersinergi dengan negara-negara di dunia.
Di akhir presentasinya beliau memberikan saran pada perjuangan LGN; kriminalisasi tapi
tidak dipenalisasi. Tidak masalah pengguna ganja dianggap sebagai perbuatan kriminal melalui UU,
tetapi pelakunya tersebut tidak dibawa ke penjara. Kita minta semacam legalitas kepada pemerintah
agar dilakukan hal-hal semacam itu. Dasar hukumnya dapat berupa diskresi atau diversi. Akhirnya
para pelaku ditempatkan di pusat-pusat rehabilisasi.
Namun bila negara sudah angkat tangan dengan kondisi tingginya angka rehabilitasi dan
anggaran pemerintah yang terbatas. Diversi sudah tidak lagi mampu digunakan, maka perlu
dilakukan kodifikasi terhadap pasal-pasal dalam UU Narkotika No. 35 tahun 2009. Tapi untuk sampai
tahap dekriminalisasi, mengganggap perbuatan menggunakan ganja sebagai perbuatan yang baikbaik saja; Menurutnya tidak mungkin.

Penutup
Dalam waktu yang begitu singkat ini, LGN tidak akan mampu menanggapi seluruh
pemaparan yang diberikan oleh narasumber. Sebagai organisasi rakyat, LGN hanya ingin
mengingatkan bahwa segala upaya perjuangan yang dilakukannya semata-mata untuk menegakkan
nilai-nilai Pancasila. Sebuah nilai yang telah lama dilupakan dan bahkan tidak mendapatkan tempat
lagi di masyarakat Indonesia. Cita-cita kami sederhana, melihat Indonesia adil, makmur dan sentosa.
Salam,
Tim LGN
Tanggapan LGN terhadap pemaparan para narasumber tidak sempat diutarakan dalam seminar
tersebut karena waktu yang begitu singkat. Jangan khawatir saudara-saudara, LGN akan
memberikan tanggapan tersebut segera.