Anda di halaman 1dari 58

ANTIBIOTIKA

HUBUNGAN OBAT-PARASIT
HOST

DRUG

PARASIT

Respon Antibiotika dalam tubuh


dapat tidak sesuai dengan respon
invitro
Disebabkan:
Aktivitas metabolisme mikroorganisme
Lokasi mikroorganisme
Konsentrasi obat

Aktivitas metabolisme
mikroorganisme
Dalam tabung (invitro) aktivitas

metabolisme relatif sama / homogen


Dalam tubuh ada bakteri yang
aktivitas metabolisme rendah
sensitifitas bakteri terhadap obat
menurun
Sintesa dinding sel menurun bakteri
menjadi resisten terhadap obat yang
berpengaruh terhadap dinding sel

Lokasi mikroorganisme
Dalam tabung, bakteri dapat terpapar

obat secara langsung


Dalam tubuh, bakteri dapat berada di
dalam sel/ jaringan
Kemampuan obat masuk ke sel host
tidak sama.
konsentrasi tetrasiklin di dalam monosit dan

dalam cairan tubuh hampir sama.


Konsentrasi intraselular streptomisin : 5-10%
dari konsentrasi ekstraselular

Konsentrasi obat
Konsentrasi obat dalam tubuh dipengaruhi
oleh:
Absorbsi obat lewat usus / jaringan tidak
selalu sama
Ada inaktivasi dan ekskresi obat
fluktuasi konsentrasi obat bakteri
terpapar obat dengan konsentrasi yang
tidak stabil
Distribusi obat
Pengaruh substansi dalam tubuh

Distribusi obat
Dalam tabung distribusi merata

bakteri terpapar obat dengan


konsentrasi yang sama
Distribusi obat dalam tubuh tidak sama
antara dalam cairan, jaringan, organ
Adanya pus dapat mengabsorbsi obat
obat dapat digunakan lokal injeksi/
topikal

Pengaruh substansi dalam


tubuh

Dalam tabung aktivitas obat dapat

dipengaruhi oleh protein/ lipid/ garam


yang ada dalam media
Dalam tubuh,
obat dapat berikatan dengan protein dalam

darah/ fosfolipid/ asam nukleat


Obat dapat diabsorbsi dalam eksudat/ sel/
debris
Dalam necrotic tissue penurunan pH
berpengaruh pada aktivitas obat
(aminoglikosida)

KEGUNAAN ANTIBIOTIKA
Pengobatan penyakit infeksi
Pengobatan pada Kecurigaan infeksi

(Preumptive therapy)
Profilaksis terhadap infeksi

PENGOBATAN PENYAKIT INFEKSI


Pengobatan penyakit infeksi berdasarkan

diagnosa laboratoris dan hasil uji


sensitivitas bakteri terhadap antibiotika

PRESUMPTIVE THERAPY
Terapi antibiotika diberikan pada pasien

(empiric therapy) dengan gejala infeksi,


tetapi hasil kultur tidak ada bakteri
patogen atau ditemukan flora normal
Gejala a.l.: demam, lemah, keringat
dingin, erythema, edema, rasa sakit
Hasil laboratorium a.l.: kenaikan jumlah
leukosit, kenaikan sedimentasi eritrosit
Perlu diperhatikan apakah infeksi
termasuk INOS

Antibiotik untuk pencegahan


Pemberian antibiotik sebagai profilaksi
sebelum operasi:
Sebelum tidakan dimulai
Kalau diberikan lama sebelum operasi
membunuh flora normal bakteri yang resisten
terakumulasi
Antibiotik harus sampai pada luka operasi
Antibiotik harus poten terhadap bakteri

kontaminan
Kerugian: antibiotik membunuh flora
normal yang berfungsi sebagai
pertahanan tubuh

PROPHYLAXIS
Ada 4 katagori:
Surgical prophylaxis: kondisi pasien,

kondisi operasi, jenis operasi/ jenis luka


Medical prophylaxis: pada kondisi
resiko tinggi
Primary and Secondary prophylaxis

PRIMARY AND SECONDARY


PROPHYLAXIS
Primary prophylaxis:

* Untuk mencegah terjadinya kolonisasi bakteri


pada host
* Mencegah penyebaran bakteri ke jaringan yang
lebih
dalam
* (surgical prophylaxis termasuk primary
prophylaxis)
Secondary prophylaxis:

* Mencegah terjadinya penyakit setelah diketahui


adanya infeksi
* Contoh: diberikan pengobatan pada orang dengan
tuberkulin positif tapi tidak tampak gejala sakit

Seleksi antibiotika
Seleksi antibiotika tergantung:
* Hasil uji kepekaan
* Farmako kinetik obat
* Faktor inang

Farmako kinetik mempelajari obat


tentang absorbsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi
Farmakodinamik mempelajari
konsentrasi obat pada reseptor dan
respon yang ditimbulkan
Pemilihan obat meliputi:

Kemampuan obat mencapai target


Rute/ cara penggunaan obat
Konsentrasi obat di tempat infeksi

Kemampuan obat mencapai target


Tergantung pada :

Kuatnya ikatan dengan protein


* Makin kuat ikatannya makin rendah
aktivitasnya
Kemampuan menembus barier
* Obat sampai ke LCS harus dapat melalui bloodbrain barrier (tight junction)
* Obat yang polar lebih sukar mencapai LCS
* Ada obat yang dikeluarkan dari LCS secara aktif
dengan mekanisme transport anionik (misal penicilin
G, konsentrasi Penisilin dan
dari kons di plasma)

sefalosporin di LCS 0,5-5%

Kemampuan obat berdifusi pasif


* Time-dependent (gol beta-laktam)
* Concentration-dependent (gol aminoglikosida)
* Tergantung kondisi obat (ukuran molekul,
polaritas)

Cara penggunaan obat


Faktor yang berpengaruh pada cara
penggunaan obat:

* stabilitas obat dalam lambung (asam)


* apakah obat dapat diabsorbsi
* kondisi host
* kesadaran
* keadaan infeksinya

Faktor inang yang berpengaruh pada


keberhasilan terapi antibiotika
Mekanisme pertahanan tubuh inang
Faktor lokal
Umur
Faktor genetik
Kehamilan
Alergi obat
Kelainan sistem syaraf

Imunitas tubuh
Apabila faktor imunitas baik keberhasilan

terapi tinggi
Bila ada kelainan sistem imunitas
keberhasilan terapi berkurang karena lebih
tergantung pada kemampuan obat

Faktor lokal
Pus mengikat aminoglikosida dan vankomisin
Hemoglobin pada hematom mengikat penisilin ,

tetrasiklin
pH redah
menurunkan aktivitas aminoglikosida,
eritromisin, klindamisin.
aktivitas naik: klortetrasiklin, nitrofurantoin
Abses sirkulasi darah menurun konsentrasi
obat
kurang diatasi dengan drainage
Alat tambahan dalam tubuh
* Bakteri dapat menempel pada alat dengan
menghasilkan polisakarida (biofilm) sukar
ditembus obat
* Adanya benda asing meningkatkan aktivitas sel
fagosit
bakteri dapat berlindung di dalam sel

Umur
* Tetrasiklin menyebabkan gigi kuning

pada anak
* Pada orang tua yang menggunakan
antasida mengurangi
absorbsi
obat
* Terjadi kernikterus karena pemberian
sulfonamid pada bayi: obat
berkompetisi dengan
bilirubin
berikatan dengan reseptor dengan
albumin plasma

Genetik

Kelainan genetik antara lain:


Terjadi asetilasi isoniasid dengan cepat
obat tidak efektif
Dapat terjadi hemolisis akut setelah
pemberian: sulfonamid, nitrofurantoin,
kloramfenikol, asam nalidiksat
Kehamilan
Streptomisin bayi kehilangan

pendengaran
Tetrasiklin berpengaruh pada tulang
dan gigi janin
Masa laktasi antibiotik masuk ASI

Alergi
Dapat timbul reaksi hipersensitif (timbul

rash) terhadap: sulfonamid, trimetropim,


nitrofurantoin, eritromisin
Kelainan syaraf
Aminoglikosida, polimiksin, kolistin

meningkatkan efek neuromuscular


blocking pada pasien myastenia gravis

KOMBINASI ANTIBIOTIKA
Kombinasi antibiotika digunakan bila:
Infeksi campuran
Infeksi berat dan belum diketahui
penyebabnya
Keuntungan pemakaian antibiotik
campuran:
Sembuh lebih cepat
Kemungkinan terjadinya multi resistens
kecil. Misal: Resistensi spontan karena
pemberian obat
A :10-7 dan obat B: 10-6
Resistensi terhadap AB 10-13

Kerugian penggunaan kombinasi


antibiotik
Toksisitas tidak hanya dari satu antibiotik
Harga lebih tinggi
Pada meningitis pneumokokus

Kemungkinan ada efek antagonis


Contoh: pada meningitis pneumokokus
Penisilin kematian 21%
Penisilin + klortetrasiklin kematian 79%

Superinfeksi
Adalah infeksi yang terjadi pada waktu

pengobatan penyakit infeksi


sebelumnya
Superinfeksi terjadi karena:
Flora normal terbunuh karena pemberian
antibiotik atau ada yang mengeluarkan
bakteriosin ada flora normal yang
dominan

Kesalahan penggunaan antibiotika


Memberikan antibiotik pada infeksi

bukan karena bakteri


Pengobatan demam yang belum
terdeteksi penyebabnya/ Tidak
berdasarkan data lab.
Dosis tidak tepat
Kesalahan cara pengobatan (misal perlu
drainage)
Kurang pertimbangan keadaan individu

PENGGOLONGAN DISINFEKTAN dan


ANTISEPTIK
Dasar penggolongan:
struktur senyawa
mekanisme aksinya
Gol Fenol dan Alkohol denaturasi protein
Halogen oksidasi dan halogenisasi protein
Klorin dan komponen yang mengandung
klorin
hipoklorit (HOCl)
Surfaktan dan Detergen merusak lipid

Penggolongan antiseptik/
disinfektan
Alkylating angent alkilasi gugus S-H,

COOH, NH2,OH (formaldehid)


Logam berat

presipitasi protoplasma
Ag bereaksi dengan gugus amino,
fosfat, tiol membentuk kompleks
dengan RNA, DNA, makromolekul lain
senyawa tidak larut
Hg berikatan dengan gugus tiol

Penggolongan antiseptik/ disinfektan


Khelator membentuk kelat dengan Fe/Cu
(heksaklorofen, oksiquinolon)
Etiloksida (ETD) gas untuk sterilisasi
ruang
Zat warna menghambat sintesa DNA
(akriflavin, gentian violet)

MEKANISME AKSI ANTIBIOTIKA


Menghambat sintesa dinding sel
Pada bakteri: menghambat sintesa peptidoglikan
Gol penisilin menghambat transpeptidase
Sikloserin struktur mirip D-alanin
Basitrasin menghambat penyambungan
N-asetilglukosaminN-asetil muramat
Pada fungi : gol Azol menghambat sintesa ergosterol
Mempengaruhi permeabilitas membran
sitoplasma
Merusak lipid permeabilitas turun komponen
sel keluar sel mati
Contoh: polimiksin, nistatin, amfoterisin B

Menghambat sintesa protein


Berikatan pada ribosom 30S: aminoglikosida,
tetrasiklin
Berikatan pada ribosom 50S: eritromisin,
kloramfenikol
Menghambat sintesa asam nukleat
Menghambat replikasi DNA bakteri gol quinolon
(siprofloksasin, asam nalidiksat, ofloksasin)
Menghambat sintesa RNA (transkripsi) : Rifampisin
Menghambat sintesa asam nukleat (komponen
penyusun
DNA, RNA) gol. Sulfonamid (trimetroprim,
sulfametoksasol)
Menghambat sintesa DNA virus: komponen analog
nukleosida (asiklovir, gansiklovir)

Dinding sel bakteri Gram


negatip
LPS: Lipo poli sakarida
A: protein OMP A
PP: protein porin
LP: lipo protein
PPS: periplasma
PG: peptidoglikan
CP: protein pembawa
CM: membran sitoplasma

Dinding sel bakteri


Gram positip:
A: peptidoglikan
B: protein
C: fosfolipid
D: glikolipid
E: fosfatidil glikolipid

MEKANISME TERJADINYA RESISTENSI


Kondisi permeabilitas membran
Faktor intrinsik : bakteri anaerob resisten
terhadap gol.
aminoglikosida
Faktor spesifik bakteri: kapsul, LPS, membran
luar,
lipid, asam teikoat
Faktor spesifik obat: struktur, ukuran molekul,
muatan +/-, hidrofobisitas
Porin
Modifikasi komponen pembawa molekul obat
berkurangnya transport obat
menurunnya ikatan dengan molekul target

Adanya perubahan molekul target


Perubahan biokimiawi (afinitas lebih besar)
Produksi molekul target berlebihan
Perubahann jalan sintesa

Obat dinonaktivkan
Kloramfenikol asetil transferasekloramfenikol
Betalaktamase gol beta laktam
Enzim lain: asetilase, adenilase, fosforilase

Ada molekul yang melindungi target


Vankomisin R, Tetrasiklin

Efluks
Obat dikeluarkan dari sel bakteri dengan
transport
aktiv

PENYEBARAN RESISTENSI
Transformasi

masuknya fragmen DNA pembawa sifat


resisten
kedalam sel bakteri
Transduksi
fragmen DNA pembawa sifat resisten
masuk
kedalam DNA bakteriofaga
masuk ke sel
bakteri lain
Konjugasi
Sifat resistensi ditularkan dari sel donor
ke sel
aseptor

IDENTIFIKASI RESISTENSI
Uji sensitivitas dengan Metoda Kirby
Bouwer
diukur zone radikal (tidak ada koloni disekitar disk)

Pemeriksaan KHM (kadar Hambat Minimum)


KHM kadar terkecil obat yang masih dapat
menghambat

pertumbuhan bakteri

KBM kadar terkecil obat yang masih dapat


membunuh

bakteri

Identifikasi gen pembawa sifat

resistensi :

PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk

memperbanyak fragmen DNA


Hibridisasi dengan prob DNA(fragmen DNA
pada gen
pembawa sifat resisten)

Uji sensitivitas bakteri

GOLONGAN PENISILIN
Mekanisme aksi:
* Menghambat sintesa peptidoglikan ( berikatan
dengan transpeptidase)
*

Menginduksi enzim yang menyebabkan otolisis

Aksi minor:

menghambat endopeptidase dan glikosidase (enzim


yang berperan pada pertumbuhan sel bakteri)
diduga juga menghambat sintesa RNA

Efektif terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif

(efektifitas bervariasi)

Golongan Penisilin
Penisilin didistribusikan keberbagai bagian

tubuh
Penisilin bersifat asam konsentrasi turun
dalam lingkungan basa (cairan prostat)
Penisilin dipakai dalam bentuk garam (muatan
negatif) tidak dapat melewati membran
secara pasif
Distribusi penisilin ke cairan spinal dihambat
oleh: blood-brain / blood-CSF barrier sampai
10%, tetapi tetap dapat mencapai kadar diatas
KHM

DINDING SEL BAKTERI

Golongan Penisilin
Antibiotik

Absorbsi (oral)

Penisilinase R

Spektrum

Penicillin G
Penicillin V

Variable (poor)
Good

No
No

Streptococcus, N.
meningitidis, beb
anaerob, spirochetes

Methicillin
Oxacillin, Cloxacillin,
Dicloxacillin
Nafcillin

Poor

Yes

Good

Yes

Variable

Yes

Ampicillin
Amoxicillin

Good
Excellent

No
No

L. monocytogebnes,
P. mirabilis, E. coli

Carbenicillin
Carbenicillin indanyl
Ticarcillin

Poor
Good
Poor

No
No
No

SDA, Pseudomonas,
Enterobacter,
Proteus

Mezlocillin
Piperacillin

Poor
Poor

No
No

Pseudomonas,
Enterobacter, beb
Klebsiella

S. aureus

CEPHALOSPORIN
Generasi (contoh)

laktamase

Spektrum

I: Cefazolin, Cephalotin,
Cephalexin, Cefadroxil

Sensitif

Streptococci, S. aureus,

II: Cefuroxime, Cefaclor, Cefoxitin,


Cefotetan

Resisten

E. coli, Klebsiella,
Proteus, H. influenzae,
Moraxella catarrhalis

III: Cefotaxime, Ceftriaxone,


Ceftazidine,

Resisten

Enterobacteriaceae,
Pseudomonas, Serratia,
N.gonorrhoeae, S. aureus,
S. pyogenes

IV: Cefepin

Resisten

Seperti generasi III, tapi


lebih resisten terhadap laktamase

AMINOGLIKOSIDA
Mekanisme

Berikatan irreversible dengan protein pada ribosom 30S


Untuk penetrasi kedalam sel bakteri: aerobic energydependent (proton- motive force)
Uptake dibantu inhibitor sintesa dinding sel (-lactam,
vancomycin) sinergis dengan gol -lactam

Efek
Poten terhadap bakteri aerob Gram negatif dan S. aureus
Tidak dapat digunakan terhadap bakteri anaerob dan
rikettsia
Misreading kode genetik (kecuali Spectinomycin)

Pemberian:
Cepat diabsorbsi ,melalui intramuskuler.
Aminoglikosida berupa kation sangat polar, sukar
diabsorbsi melalui gastrointestinal diberikan parenteral

QUINOLON
Target

DNA gyrase: menghambat terbentuknya


DNA superkoil pada konsentrasi 0,1 10
g/ml.
Quinolon menhambat topoisomerase II
eukaryote pada konsentrasi 100 1000
g/ml
Efek menurun bila:

pH rendah, dalam urin, ada kation


divalen (Mg, Ca)

REPLIKASI

MACROLIDE
Erythromycin
Oleandomycin
Spiramycin
Josamycin
Claritromycin
Diritromycin

Mekanisme:
memblok translokasi fase elongasi pada
sintesa protein

METRONIDAZOLE
Mekanisme:
Gugus nitro direduksi oleh enzym
nitroreduktase senyawa toxis / radikal
bebas
menghancurkan DNA
Efektif terhadap bakteri anaerob
Kecuali Actinomyces dan
Propionibacterium
Tinidazole dan Omidazole lebih efektif
terhadap bakteri anaerob

KLORAMFENIKOL
Mekanisme aksi: menghambat sintesa protein
Efek yang merugikan: menekan bone merrow,

aplastica anemia penggunaan hati-hati.


Biotransformasi: distribusi keseluruh tubuh.
Di hepar: 90% dikonjugasikan glukoronid, 2%

diasetilasi dan dehalogenasi, sisanya disekresikan


tanpa dimetabolisme
Incompatibilities: dengan erythromycin dan

vancomycin
Bioavaibility :
75-90% dosis oral diserap dan kadar puncak dicapai

dalam 2-3 jam, half life 3 jam.


Kloramfenikol cepat masuk jaringan otak,
cerebrospinal, cairan tubuh lain dan masuk plasenta.

TETRASIKLIN
Mekanisme aksi: menghambat sintesa protein
Efek yang merugikan: toksisitas rendah. Pada

beberapa orang dapat terjadi gangguan


gastrointestinal: nausea, vomiting, diare,
flatulence, anorrexia), pada anak: gigi menjadi
kuning, dapat masuk plasenta. Tidak boleh
diberikan pada kehamilan setelah 20minggu, dan
anak dibawah delapan tahun
Waktu paruh:
Short acting (dlp-9jam): oksitetrasikasiklin,

tetrasiklin,
intermediate acting (12-14 jam); demeklosiklin,
metasikllin,
long acting (16-19 jam): doksisiklin, minosiklin