Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
utama di Indonesia. Kekurangan gizi pada umumnya terjadi pada balita
karena pada umur tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat.
Balita

termasuk

kelompok

yang

rentan

gizi

di

suatu

kelompok

masyarakat di mana masa itu merupakan masa peralihan antara saat


disapih dan mul ai mengikuti pola makan orang dewasa.
Diperkirakan masih terdapat sekitar 1,7 juta balita terancam gizi
buruk yang keberadaannya tersebar di pelosok-pelosok Indonesia.
Jumlah balita di Indonesia menurut data Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) Tahun 2007 mencapai 17,2% dengan laju
pertumbuhan penduduk 2,7% per tahun. United Nations Childrens Fund
(UNICEF) melaporkan Indonesia berada di peringkat kelima dunia untuk
negara dengan jumlah anak yang terhambat pertumbuhannya paling
besar dengan perkiraan sebanyak 7,7 juta balita (Depkes RI, 2007). Di
beberapa provinsi seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama Bulan
Januari hingga Oktober 2009 tercatat lebih dari 600 kasus gizi buruk
yang pada umumnya menimpa balita dan 31 kasus di antaranya
mengakibatkan kematian (Rio, 2009).
Pemerintah terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat khususnya menangani masalah gizi balita karena hal itu
berpengaruh

terhadap

pencapaian

salah

satu

tujuan

Millennium

Development Goals (MDGs) pada Tahun 2015 yaitu mengurangi dua per
tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah lima tahun. Prevalensi
kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 25,8 % pada Tahun 2004
menjadi 18,4 % pada Tahun 2007, sedangkan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 menargetkan
penurunan prevalensi kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk) pada
anak balita adalah <15,0% pada Tahun 2014 (Sarjunani, 2009).
1

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization


(WHO) menjelaskan bahwa permasalahan gizi dapat ditunjukkan dengan
besarnya angka kejadian gizi buruk di negara tersebut (Wahyu, 2015). Di
Indonesia, angka kejadian gizi buruk menduduki peringkat ke 142 dari
170 negara dan terendah di ASEAN. Data WHO menyebutkan angka
kejadian gizi buruk pada balita di Indonesia tahun 2002 meningkat 8,3%
dan gizi kurang 27%. Tahun 2007 tercatat sebanyak empat juta balita
Indonesia mengalami gizi kurang dan 700 ribu anak dalam kategori gizi
buruk. Berdasarkan data dari Global Hunger Index tahun 2010, tingkat
kelaparan dan gizi buruk di Indonesia berada pada level serius, satu
tingkat di bawah level mengkhawatirkan.
Masalah gizi yang sering terjadi pada Balita antara lain adalah
masalah gizi kurang (BB/U), kependekan (TB/U), gizi lebih atau obesitas
(BB/TB). Dapat dilihat bahwasecara nasional prevalensi berat kurang
pada tahun 2010 adalah 17,9% yang terdiri dari4,9% gizi buruk dan
13,0% gizi kurang. Jika dibandingkan dengan angka prevalensinasional
tahun 2007 (18,4%) sudah terlihat ada penurunan. Penurunan terutama
terjadipada prevalensi gizi buruk yaitu dari 5,4% tahun 2007 menjadi
4,9% pada tahun2010 atau turun sebesar 0,5%, sedangkan prevalensi
gizi kurang masih tetap sebesar13,0 %. Bila dibandingkan dengan
pencapaian sasaran MDGS tahun 2015 yaitu 15,5 % maka prevalensi
berat kurang secara nasional harus diturunkan minimal sebesar 2,4 %
dalam periode 2011 sampai 2015.Dari 33 provinsi di Indonesia,
khususnya Sulawesi Tenggara menempati urutan ke-13 berdasarkan
indikator BB/U. Prevalensi kependekan (TB/U) secara nasional2010
sebesar 35,6 % yang berarti terjadi penurunan dari keadaan tahun
2007dimana

prevalensi

kependekan

sebesar

36,8%.

Prevalensi

kependekan sebesar 35,6% terdiri dari 18,5% sangat pendek dan 17,1%
pendek. Bila dibandingkan denganprevalensi sangat pendek dan pendek
tahun 2007 terlihat ada sedikit penurunan padaprevalensi sangat
pendek

dari

18,8%tahun

2007

menjadi
2

18,5

tahun

2010

danprevalensi pendek menurun dari 18,0 % tahun 2007 menjadi 17,1%


tahun 2010, dari 15 provinsi memiliki prevalensi kependekan di atas
angka prevalensi nasional. Urutan dari ke 15 provinsi tersebut dari yang
memiliki prevalensi tertinggi sampai terendah adalah Sulawesi tenggara
berada pada urutan ke-12 dari 15 Provinsi tersebut. Biladibandingkan
dengan batas non public health problem menurut WHO untuk
masalahkependekan sebesar 20%.
Berdasarkan indikator BB/TB Prevalensi sangat kurus secara
nasionaltahun 2010 masih cukup tinggi yaitu 6,0%dan tidak banyak
berbeda dengan keadaantahun 2007 sebesar 6,2%. Demikian pula
halnya dengan prevalensi kurus sebesar 7,3% pada tahun 2010 yang
tidak berbeda banyak dengan keadaan tahun 2007 sebesar 7,4%.
Secara keseluruhan prevalensi balita dengan BB/TB Kurus sedikit
menurun dari 13,6 % pada tahun 2007 menjadi 13,3% pada tahun 2010.
Dari 33 Provinsi Terdapat 19 provinsi yangmemiliki prevalensi kekurusan
diatas angka prevalensi nasional.Untuk Sulawesi Tenggara masuk dalam
urutan

ke-7.Menurut

UNHCR

masalah

kesehatan

masyarakat

sudahdianggap serius bila prevalensi BB/TB Kurus antara 10,1-15,0 %,


dandianggapkritis bila di atas 15,0%. Berdasarkan indikator BB/TB juga
dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita. Pada tahun 2010
prevalensi kegemukansecara nasional di Indonesia adalah 14,0%. Terjadi
peningkatan prevalensi kegemukan yaitu dari 12,2% tahun 2007
menjadi 14,0% tahun 2010 dan Sulawesi Tenggara sendiri menduduki
urutan ke-3 dari 12 Provinsi yang memiliki masalah kegemukan.
Tingginya kasus gizi buruk di Provinsi Sulawesi Tenggara secara
langsung disebabkan oleh 2 (dua) hal yaitu intake konsumsi yang masih
rendah, dan penyakit infeksi yang masih tinggi sedangkan secara tidak
langsung disebabkan karena kemiskinan, pendidikan, kondisi higiene
sanitasi dan pola asuh, termasuk di dalamnya pola pemberian makanan,
di sisi lain akses pelayanan kesehatan yang belum optimal juga turut
berperan.
3

Beberapa penelitian mengenai faktor-faktor determinan yang


berkontribusi terhadap status gizi pada balita antara lain: penelitian
yang dilakukan oleh Ratna (2008) mengenai faktor penyebab gizi buruk
pada anak balita di wilayah kerja puskesmas mata kota kendari
menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 21 responden
(84%) memiliki pendapatan keluarga yang kurang. Sedangkan dari 25
sampel kontrol sebagian besar 19 responden (76%) memiliki pendapatan
keluarga yang cukup. Hal ini berarti bahwa balita dengan pendapatan
keluarga yang kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk 16,62 kali
dibanding dengan balita yang memiliki pendapatan keluarga yang
cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang pendapatan
keluarganya
menderita

yang
gizi

kurang,

buruk

berpeluang

dibanding

16,62

kali

dengan balita

berisiko

untuk

yang pendapatan

keluarganya cukup. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan


keluarga merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di
Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.
Penelitian Yulianty (2008) yang menyatakan bahwa pengetahuan
ibu tentang gizi merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita
di Kecamatan Mandonga Kota Kendari. Pengetahuan ibu tentang gizi
yang rendah pada responden, berisiko mangalami gizi buruk pada balita
6,2 kali jika dibandingkan dengan pengetahuan ibu tentang gizi yang
cukup pada responden. Menurut Soekirman (2000) bahwa pengetahuan
ibu tentang gizi berpengaruh terhadap konsumsi pangan keluarga yang
pada akhirnya akan mempengaruhi status gizi keluarga tersebut. Namun
demikian pengetahuan ibu tentang gizi adalah faktor yang berpengaruh.
Penyebab rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi yaitu karena latar
belakang pendidikan yang masih sangat kurang, sehingga dapat
mempengaruhi

pengetahuan

seorang

ibu.

Sedangkan

menurut

penelitian yang dilakukan oleh Yuliana Hidayat dan Asrin Sumarni (2010)
tentang

analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian gizi buruk

pada balita di kabupaten kebumen tahun 2010. Diketahui bahwa 38,3%


4

balita menderita infeksi. Penyakit infeksi yang sering terjadi pada anakanak adalah diare dan ISPA. Diare dapat menyebabkan anak tidak
mempunyai nafsu makan sehingga terjadi kekurangan jumlah makanan
dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya yang dapat menyebabkan
gizi kurang (Tarigan, 2003).
Menurut penelitian Hafrida (2004), terdapat kecendrungan pola
asuh denganstatus gizi. Semakin baik pola asuh anak maka proporsi gizi
baik pada anak juga akan semakin besar. Dengan kata lain, jika pola
asuh anak di dalam keluarga semakin baik tentunya tingkat konsumsi
pangan anak juga akan semakin baik dan akhirnya akan mempengaruhi
keadaan gizi anak. Dari hasil penelitiannya dapat diketahui bahwa dari
40 responden terdapat 30 orang (75%) dengan pola asuh baik
mempunyai status gizi yang baik pula. Dan 10 orang (25%) dengan pola
asuh buruk mempunyai status gizi yang kurang.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti menjadi tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul Gambaran Status Gizipada Balita
dan

Faktor-faktor

determinan

di

Kabupaten

Bombana

Kecamatan

Rarowatu Utara.

B. RUMUSAN MASALAH
Adapun

rumusan

masalah

dalam

penelitian

ini

adalah:

Bagaimana Faktor Determinan dan Status Gizi pada Balita di Kabupaten


Bombana Kecamatan Rarowatu Utara?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Status Gizi pada Balita dan
Faktor-faktor determinan di Kabupaten Bombana Kecamatan
Rarowatu Utara.
5

2. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi

Status

Gizi

Balita

Di

kabupaten

BombanaKecamatan Rarowatu Utara


2. Mengetahui faktor asupan makan terhadap status gizi balita di
Kabupaten BombanaKecamatan Rarowatu Utara.
3. Mengetahui faktor penyakit infeksi terhadap status gizi balita di
Kabupaten BombanaKecamatan Rarowatu Utara.
4. Mengetahui faktor sanitasi terhadap status gizi balita di Kabupaten
BombanaKecamatan Rarowatu Utara
5. Mengetahui faktor ketersediaan pangan terhadap status gizi balita
di Kabupaten BombanaKecamatan Rarowatu Utara.
6. Mengetahui faktor pola asuh terhadap status gizi balita di
Kabupaten BombanaKecamatan Rarowatu Utara
7. Mengetahui faktor pengetahuan terhadap status gizi balita di
Kabupaten BombanaKecamatan Rarowatu Utara.
8. Mengetahui faktor pendapatan terhadap status gizi balita di
Kabupaten BombanaKecamatan Rarowatu Utara.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

menambah

ilmu

dan

pengetahuan bagi peneliti sehingga mampu mengetahui dan


memahami faktor-faktor determinan terhadap Status Gizi Balita.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat di jadikan sebagai sumber data
atau informasi bagi peneliti selanjutnya terutama penelitian yang
berhubungan dengan Faktor-Faktor Determinan terhadap Status Gizi
Balita.
3. Diharapkan bagi masyarakat agar lebih mengetahui dan memahami
tentang pentingnya status gizi, terutama para ibu guna menambah
wawasan tentang kesehatan gizi balita.

4. Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan


kebijaksanaan bagi program penanganan gizi guna meningkatkan
status gizi yang lebih baik.

BAB II
TINJAUN PUSTAKA
A. BALITA
Berdasarkan siklus daur kehidupan, balita atau anak bawah lima
tahun dikarakteristikkan menjadi 2 kelompok yaitu anak usia antara 1
sampai 3 tahun yang disebut batita atau toddler dan anak usia lebih dari
3 tahun sampai 5 tahun yang disebut usia pra sekolah atau preschool
children (Wooldridge N, 2005).
Pada usia 1-3 tahun pertumbuhan anak menjadi lebih lambat atau
tidak sepesat pada masa bayi. Secara rata-rata, pertambahan berat
badannya adalah sebesar 0,23 Kg perbulan dan penambahan tinggi
sebesar 1 cm perbulan. Perlambatan tinggi pertumbuhan pada balita
usia ini sejalan dengan penurunan dalam nafsu makan dan asupan
makanannya. Ini merupakan hal yang normal, namun di sisi lain asupan
energy dan zat lain yang adekuat sangatlah penting untuk memenuhi
kebutuhan gizinya (Wooldridge N,2005).
Pada usia 1-3 tahun, perkembangan balita ditandai peningkatan
yang cepat dalam gerakan motorik kasar dan halus, gerakannya menjadi
lebih bebas, melakukan eksplorasi lingkungan dan terjadi peningkatan
kemampuan bahasa (Wooldridge N,2005). Khusus untuk anak usia 12-24
bulan, milestone perkembangan yang penting antara lain adalah
berjalan, mengeksplorasi rumah dan sekeliling rumah, menyusun 2 atau
3 kotak, mengatakan 5 sampai 10 kata, naik turun tangga, menyusun
kotak,

menunjuk

mata

dan

hidungnya

dan

menyusun

kata

(Soetjiningsih, 1995).
B. STATUS GIZI BALITA
Status gizi adalah Status gizi status kesehatan yang dihasilkan
oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient (Beck 2002
dalam Jafar 2010). Menutut Almatsier (2005) status gizi didefinisikan
sebagai

suatu

keadaan

tubuh

akibat

penggunaan zat-zat gizi.


1. Pengertian Status Gizi
8

konsumsi

makanan

dan

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi


makanan dan penggunaan zat-zat gizi, dibedakan antara gizi kurang,
baik, dan lebih (Almatsier, 2002). Sedangkan menurut Supariasa, 2004,
status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variable tertentu, atau perwujudan dari nutrisi dalam bentuk variable
tertentu.
2. Penilaian Status Gizi
Menurut (Supariasa,2004), pada dasarnya penilaian status gizi
dapat dibagi dua yaitu secara langsung dan tidak langsung.
a. Penilaian Gizi Secara Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat
yaitu antropometri,klinis,biokoimia dan biofisik.
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia.
Ditinjau

dari

sudut

pandang

gizi,

maka

antropometri

gizi

berhubungan dengan berbagai macam penukuran dimensi tubuh


dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri sebagai indicator status gizi dapat dilakukan dengan
mengukur

beberapa

parameter,antara

lain:

umur,bereat

badan,tinggi badan,lingkar kepala,lingkar lengan,lingkar pinggul


dan tebal limak dibawah kulit.beberapa indeks antropometri yang
sering digunakkan yaitu berat badan menurut umur (BB/U) , tinggi
badan menurut

umur(TT/U) Dan berat badan menurut tinggi

badan(BB/TB).Berat badan adalah salah satu parameter yang


memberikan

gambaran

masa

tubuh.baerat

badan(BB)

juga

merupakan parameter antropometri yang sangat labil dalam


keadaan

normal

dimaan

keadaan

kesehatan

baik

dan

keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin,maka


BB berkembang mengikuti pertambahn umur (Supariasa, 2004).
Untuk menilai status gizi anak balita, maka angka berat
badan dan tinggi badan setiap anak balita dikonversikan ke dalam
9

nilai terstandar (Zscore) menggunakan baku antropometri anak


balita WHO 2005.
2. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk
menilai

status

gizi

masyrakat.metode

ini

didasarkan

atas

perubhan-perubahan yang terjadi duhubungkan dengan ketidak


cukupan zar gizi. Penggunaan metode ini umunnya untuk survey
klinis secara cepat(rapid clinical surveys).survei dirancang untuk
mendeteksi

secara

cepat

tanda-tanda

klinis

umum

dari

kekurangan salah satu atau lebih zat gizi.


3. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah specimen yang di uji
secara laboratories yang dilakukan berbagai macam jaringan
tubuh.jaringan tubuh yang diladigunakan antara lain darah, urine,
tinja,

dan

berupa

jaringan

tubuh

seperti

hati

dan

otot.

Penggunaan metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa


kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah
lagi.
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status

gizi

dengan

melihat

kemampuan

fungsi

(khususnya

jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumbya


dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta
senja epidemik (epidemic of night blindnes). Cara yang digunakan
adalah tes adaptasi gelap.
b. Penilain Status Gizi Secara Tidak Langsung
Penilain status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi tiga
yaitu
1. Survey Konsumsi Makanan
Survey konsumsi makanan adalah metode status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang
dikonsumsi.

Pengumpulan

data
10

konsusmsi

makanan

dapat

memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada


masyarakat,

keluarga,

dan

individu.

Survey

ini

dapat

mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan zat gizi.


2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan
menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian
akibat penyebab tertentu dan data lainya yang berhubungan
dengan gizi. Penggunaan pertimbangan sebagai bagian dari
indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
3. Factor Ekologi
Menurut (Bengoa, 1966) bahwa malnutrisi merupakan masalah
ekologi sebagai hasil interaksi beberapa factor fisik, biologis dan
lingkungan budaya. Pengukuran factor ekologi dipandang sangat
penting

untuk

mengetahui

penyebab

malnutrisi

disuatu

masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi


gizi (Schrimshaw, 1964).
C. POLA ASUH
Ada dasarnya pola asuh dapat diartikan seluruh cara perlakuan
orang tua yang diterapkan pada anak. Banyak ahli mengatakan
pengasuhan anak (child rearing) adalah bagian penting dan mendasar,
menyiapkan anak untuk menjadi masyarakat yang baik. Terlihat bahwa
pengasuhan anak menunjuk kepada pendidikan umum yang diterapkan
pengasuh terhadap anak berupa suatu proses interaksi antara orang tua
(pengasuh) dengan anak (yang diasuh). lnteraksi tersebut mencakup
perawatan seperti dan mencukupi kebutuhan makan, mendorong
keberhasilan dan melindungi, maupun sosialiasi yaitu mengajarkan
tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat.
Pola asuh gizi / makan adalah cara pemberian makanan yang
sesuai dengan kebutuhan anak yang diberikan dengan penuh kasih
sayang .
A. Prinsip Pola Asuh Gizi pada Balita
11

Setelah anak berumur satu tahun menunya harus bervariasi


untuk mencegah kebosanan dan diberi susu, serealia (seperti bubur
beras, roti), daging, sup, sayuran dan buah-buahan. Makanan padat
yang diberikan tidak perlu diblender lagi melainkan yang kasar
supaya anak yang sudah mempunyai gigi dapat belajar mengunyah.
Adakalanya anak tidak mau makan dan sebagai gantinya ibu
memberikan susu. Kebiasaan demikian akan mengarah ke diet yang
hanya terdiri dan susu saja. Berikan nasihat kepada ibu atau
pengasuhnya bahwa kebiasaan demikian tidak baik bagi anaknya.
Ibu harus dapat bertindak keras, jika anak sehat tidak mau makan
makanan padatnya, jangan diberikan susu sebagai pengganti akan
tetapi bawa pergi makanan itu dan coba lagi jika anak sudah lapar.
B. Yang Faktor-Faktor Mempengaruhi Pola Asuh Gizi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh gizi antara lain:
1. Tingkat Pendapatan Keluarga
Keadaan ekonomi keluarga relatif lebih mudah diukur dan
berpengaruh besar pada konsumsi pangan, dimana konsumsi
pangan pada balita ditentukan dan pola asuh gizi, terutama pada
keluarga golongan miskin. Hal ini disebabkan karena penduduk
golongan miskin menggunakan sebagian besar pendapatannya
untuk memenuhi kehutuhan makanan. Dua peubah ekonomi yang
cukup

dominan

sebagai

determinan

pola

asuh

gizi

adalah

pendapatan keluarga dan harga (baik harga pangan maupun harga


komoditas kebutuhan dasar).
Perubahan pendapatan dapat mempengaruhi perubahan pola
asuh gizi yang secara langsung mempengaruhi konsumsi pangan
pada

balita.

Meningkatnya

pendapatan

berarti

memperbesar

peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang


lebih baik. Sebaliknya penurunan pendapatan akan rnenyebabkan
12

penurunan dalam hal kualitas penurunan kuantitas pangan yang


dibeli.
2. Tingkat Pendidikan Ibu
Tingkat
manusia

pendidikan

untuk

adalah

rneningkatkan

jenjang

aktifitas

kepribadiannva

dan

dengan

usaha
jalan

membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, rasa, karsa,


cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera dan keterampilan
keterampilan) melalui pendidikan formal. Adapun tingkat pendidikan
di negara kita meliputi : pendidikan dasar, pendidikan rnenengah
dan pendidikan tinggi. Pendidikan orang tua merupakan salah satu
faktor yang penting dalarn tumbuh kembang anak. karena dengan
pendidikan yang baik, maka orang tua dapat menerima segala
informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang
baik/cara mempraktekkan pola asuh dalam kehidupan sehari-hari,
bagaimana cara menjaga kesehatan anak, pendidikannya dan
sebagainya.
3. Tingkat Pengetahuan Ibu
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan
gizi didasarkan pada tiga kenyataan :
1. Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan
kesejahteraan.
2. Setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang
dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk
pertumbuhan yang optimal, pemeliharaan dan energi.
3. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk
dapat

belajar

menggunakan

pangan

dengan

baik

bagi

kesejahteraan gizi. Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi


tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum
disetiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan
pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah
kurang gizi. Lain sebab yang penting dan gangguan gizi adalah
kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk
13

menerapkan informasi, dengan pengetahuan yang kurang dapat


menentukan pola asuh gizi yang dilaksanakan sehari-hari.
D. PENGETAHUAN IBU
Tingkat Pengetahuan :
a. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah merupakan hasil Tahu, dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan

terjadi

melalui

pancaindra

manusia,

yakni:

indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian


besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).
Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974)
mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru
( berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yakni:
1. Awereness (Kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam
arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (Objek).
2. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut.
Di sisni sikap objek sudah mulai timbul.
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini bearti sikap responden
sudah lebih baik lagi.
4. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.
5. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui
proses seperti ini, di mana didasari oleh pengetahuan, kesadaran,
dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng
(Long Lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh
pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama.
14

Pengetahuan

yang

dicakup

di

dalam

domain

Kognitif

mempunyai 6 tingkat, yakni:


1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik
dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Oleh sebab itu, tahu ini adalah merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur
bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan
sebagainya.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami dapat diartikan

sebagai

suatu

kemampuan

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan


dapat menginterpresikan materi tersebut secara benar. Orang
yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan,
dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi

yang

telah

dipelajari

(sebenarnya).

Aplikasi

di

penggunaan

hukum-hukum,

pada

sini

situasi

atau

kondisi

riil

dapat

diartikan

aplikasi

atau

rumus,

metode,

prinsip

dan

sebagainya dalam konteks atau situasi lain.


4. Analisis (Analysis)
Analisis

adalah

suatu

kemampuan

untuk

menjabarkan

materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi


masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada
kaitannya satu sama lain. kemampuan analisis ini dapat dilihat
dari

penggunaan

kata-kata

15

kerja:

dapat

menggambarkan

(membuat bagan), membedakan, memisahkaan, mengelopokkan,


dan sebagainya.
5. Sintestis (Synthesisi)
Sintesis menunjuk

kepada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu


bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi

yang

ada.

Misalnya:

dapat

menyusun,

dapat

merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan


sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang
telah ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan
sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Menurut Soekidjo (1997:130) pengukuran pengetahuan dapat
dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang
isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Tingkat pengetahuan gizi ibu adalah kemampuan seorang ibu
dalam

memahami

berhubungan

konsep

dengan

gizi.

dan

prinsip

Tingkat

serta

informasi

pengetahuan

yang

seseorang

dipengaruhi oleh pengalaman, faktor pendidikan, lingkungan, sosial,


sarana dan prasarana maupun derajat penyuluhan yang diperoleh
(Kismoyo, 2005).
Pengetahuan gizi meliputi pengetahuan tentang pemilihan
bahan

makanan

dan

konsumsi

sehari-hari

dengan

baik

dan

memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal


tubuh.

Pemilihan

dan

konsumsi

bahan

makanan

berpengaruh

terhadap status gizi seseorang. Status gizi baik atau optimal terjadi
apabila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Status gizi kurang tejadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu
atau lebih zat gizi essential. Sedangkan status gizi lebih terjadi
16

apabila tubuh memperoleh zat gizi dalam jumlah yang berlebihan


sehingga menimbulkan efek yang membahayakan (Almatsier, 2001).
Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan
gizi menurut Suhardjo (2003) didasarkan pada 3 kenyataan, yaitu :
a. Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan
kesejahteraan
b. Setiap

orang

hanya

akan

cukup

gizi

jika

makanan

yang

dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk


pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan, dan energi.
c. Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk
dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan
gizi.
Tingkat pengetahuan gizi ibu adalah kemampuan seorang ibu
dalam

memahami

konsep

dan

prinsip

serta

informasi

yang

berhubungan dengan gizi. Penentuan tingkat pengetahuan diperoleh


dengan cara skoring terhadap total pertanyaan

yang ada pada

kosioner, dan kriteria obyektifnya adalah :


a. Cukup : jika memiliki jumlah skor jawaban > 60 % terhadap total
skor.
b. Kurang : jika memiliki jumlah skor jawaban < 60% terhadap total
skor.
Pengetahuan Ibu adalah kemampuan ibu untuk menjawab
pertanyaan tentang pengetahuan mengenai gizi anak balita. Alat
ukur yang digunakan adalah kuesioner. Skala pengukurannya adalah
Ordinal dengan parameter dan kategori sebagai berikut :
a. Tinggi (76%-100%)
b. Sedang (56%-75%)
c. Rendah (55%) (Arikunto, 2006)
1. Pengetahuan gizi ibu tentang pedoman gizi seimbang
17

Pada anak usia 6-24 bulan, kebutuhan terhadap berbagai zat


gizi semakin meningkat dan tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari
ASI saja. Pada usia ini anak berada pada periode pertumbuhan dan
perkembangan cepat, mulai terpapar terhadap infeksi dan secara
fisik mulai aktif, sehingga kebutuhan terhadap zat gizi harus
terpenuhi dengan memperhitungkan aktivitas bayi/anak dan
keadaan infeksi. Agar mencapai gizi seimbang maka perlu
ditambah

dengan

Makanan

Pendamping

ASI

atau

MP-ASI,

sementara ASI tetap diberikan sampai bayi berusia 2 tahun. Pada


usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan kepada makanan lain,
mula-mula dalam bentuk lumat, makanan lembik dan selanjutnya
beralih ke makanan keluarga saat bayi berusia 1 tahun.
Ibu sebaiknya memahami bahwa pola pemberian makanan
secara seimbang pada usia dini akan berpengaruh terhadap selera
makan anak selanjutnya, sehingga pengenalan kepada makanan
yang beranekaragam pada periode ini menjadi sangat penting.
Secara bertahap, variasi makanan untuk bayi usia 6-24bulan
semakin ditingkatkan, bayi mulai diberikan sayuran dan buahbuahan, lauk pauk sumber protein hewani dan nabati, serta
makanan pokok sebagai sumber kalori. Demikian pula jumlahnya
ditambahkan secara bertahap dalam jumlah yang tidak berlebihan
dan dalam proporsi yang juga seimbang.
Menurut Suhardjo (2003:11) dalam penyediaan makanan
keluarga dalam hal ini biasanya dilakukan oleh seorang ibu,
banyak yang tidak memanfaatkan bahan makanan yang bergizi,
hal ini disebabkan salah satunya karena kurangnya pengetahuan
akan bahan makanan yang bergizi. Dalam penyediaan makanan
untuk keluarga khususnya bagi balita yang masih dalam proses
pertumbuhan

harus

diperhatikan

aspek

gizinya

sehingga

kebutuhan akan zat-zat gizi yang penting bagi tubuh dapat


terpenuhi seperti karbohidrat, protein, vitamin A dan zat besi.
18

Untuk dapat menyusun menu yang adekuat, seseorang


perlu memiliki pengetahuan mengenai bahan makanan dan zat
gizi, kebutuhan gizi seseorang serta pengetahuan hidangan dan
pengolahannya. (Soegeng Santoso dan Anne Lies Ranti, 1999 :
123).
Apabila

perilaku

penyediaan

makanan

didasari

oleh

pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku


tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku itu
tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan
berlangsung lama (Soekidjo Notoatmodjo, 2003 : 121). Dengan
kelanggengan tersebut akan tertanam kebiasaan pola makan yang
baik dalam keluarga khususnya pada balita.
2. Pengetahuan gizi tentang pemberian MP-ASI
Kepandaian memilih makanan yang merupakan sumbersumber zat gizi dalam mengolah bahan makanan yang merupakan
sumber-sumber zat gizi dalam mengolah bahan pangan yang
diberikan. Tingkat pengetahuan gizi yang rendah akan sulit dalam
penerimaan informasi dibanding dengan tingkat pengetahuan gizi
yang baik.
Perilaku pemberian MP ASI yang baik kepada bayi ditentukan
oleh

pengetahuan

ibu

tentang

MP

ASI.

Hal

sebagaimana

dikemukakan oleh Prabandari (2006) yang menyatakan bahwa


mutu makanan pendamping ASI yang diberikan pada bayi sangat
ditentukan oleh banyak faktor, di antaranya krisis ekonomi yang
berdampak pada peningkatan jumlah keluarga miskin di Indonesia
dan

berpengaruh

secara

langsung

pada

daya

beli

pangan

keluarga. Tingkat pengetahuan tentang makanan pendamping ASI


yang rendah dan disebabkan karena kurangnya informasi yang
diterima ibu khususnya mengenai makanan pendamping ASI.
Ficha

Elly

Kusumasari

(2012)

tentang

hubungan

pengetahuan ibu tentang makanan pendamping ASI terhadap


status gizi menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan kurang
19

sebagian besar memiliki anak dengan status gizi buruk (10,8%)


dan kurang (11,8%), selanjutnya ibu dengan pengetahuan cukup
sebagian memiliki anak dengan status gizi baik (20,4%), dan ibu
dengan pengetahuan baik memiliki anak dengan status gizi baik
(31,2,2%). Berdasarkan tabulasi tersebut menunjukkan semakin
baik pengetahuan ibu maka terdapat kecenderungan semakin baik
status gizi anak.
3. Pemilihan dan Pengolahan Bahan Makanan
Menurut

Suhardjo

(2003)

seorang

ibu

banyak

tidak

memanfaatkan bahan makanan yang bergizi, hal ini disebabkan


salah

satunya

makanan yang

karena

kurangnya

pengetahuan

akan

bahan

bergizi. Semakin banyak pengetahuan gizinya,

semakin diperhitungkan jenis dan kualitas makanan yang dipilih


untuk dikonsumsi. Ibu yang tidak mempunyai cukup pengetahuan
gizi, akan memilih makanan yang paling menarik pancaindera, dan
tidak

mengadakan

pilihan

berdasarkan

nilai

gizi

makanan.

Sebaliknya mereka yang semakin banyak pengetahuan gizinya,


lebih mempergunakan pertimbangan rasional dan pengetahuan
tentang gizi makanan tersebut. Pengetahuan gizi yang baik dapat
membantu seseorang belajar bagaimana menyimpan, mengolah
serta menggunakan bahan makanan yang berkualitas untuk
dikonsumsi (Wahyuni,2008).
E. PENYAKIT INFEKSI
1. Diare
a. Pengertian Diare
Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan
konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang
dikatakan menderita diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau
bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang
berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam. Pada bayi volume
tinja lebih dari 15g/kg/24 jam disebut diare. Pada umur 3 tahun, yang
20

volume tinjanya sudah sama dengan volume orang dewasa, volume


lebih dari 200 g/24 jam disebut diare (Depkes RI, 2010, Nelson 2000).
Laporan Riskesdas tahun 2007 menunjukkan bahwa penyakit
Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%)
dan pada balita (25,2%). Pada tahun 2010 kejadian luar biasa (KLB)
diare terjadi di 11 provinsi dengan jumlah penderita sebanyak 4,204
orang, jumlah kematian sebanyak 73 orang dengan CFR sebesar
1,74% (Depkes RI, 2010).
Klasifikasi diare kedalam jenis akut atau kronis bersifat mutlak,
tetapi biasanya diare harus berlangsung paling sedikit

2 minggu

untuk dapat disebut sebagai kronis. Hal ini didasarkan pada


anamnesis

umum

tentang

gejalah

diare,

baik

pada

jenis

gastroenteritis virus maupun bakteri akut pada anak yang bergizi baik
dengan system kekebalan baik (Nelson 2000).
Menurut Alania dkk dalam Santoso dan Ranti(1995), anak
balita lebih rentan menderita penyakit infeksi karena sudah mulai
bergerak aktif untuk bermain, sehingga sangat mudah terkontaminasi
oleh kotoran. Pudjiadi (2000) juga menjelaskan bahwa anak usia 2-5
tahun sudah mulai memiliki kebiasaan membeli makanan jajanan
yang belum tentu terjaga kebersihannya, baik dalam pengolahan
maupun penyajiannya, sehingga sangat mudah terkontaminasi oleh
kuman yang bisa menyebabkan diare. Sebagian besar anak yang
menderita diare mengalami demam (70,3%) dan penurunan nafsu
makan (81,1%). Demam timbul sebagai respon tubuh saat terjadinya
proses inflamasi akibat infeksi dan penurunan nafsu makan atau
asupan makanan terjadi sejalan dengan tingkat keparahan infeksi.
Semakin parah infeksi yang terjadi maka penurunan asupan makanan
akan semakin besar.
b. Tanda Dan Gejalah Diare
Adapun tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat
diare:
1. Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:
1) Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari
21

2.

2)
3)
4)
5)
Diare

Keadaan umum baik dan sadar


Mata normal dan air mata ada
Mulut dan lidah basah
Tidak merasa haus dan bisa minum
dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10%

3.

dari berat badan, dengan gejala sebagai berikut :


1) Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2) Kadang-kadang muntah, terasa haus
3) Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4) Aktivitas menurun
5) Mata cekung, mulut dan lidah kering
6) Gelisah dan mengantuk
7) Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung
Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10%

berat badan, dengan gejala:


1) Frekuensi buang air besar terus-menerus
2) Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3) Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4) Sangat lemah sampai tidak sadar
2. ISPA
a. Pengertian ISPA
ISPA adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah,
biasanya menular dan dapat menimbulkan gejala penyakit infeksi
mulai ringan sampai penyakit yang parah. Infeksi saluran pernapasan
akut disebabkan okeh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan
panas disertai salah satu atau lebih gejala : tenggorakan sakit atau
nyeri telan,pilek,batuk kering,atau berdahak. Period prevalence ISPA
dihitung dalam 1 bulan terahir (Riskesdas 2013).
ISPA adalah infeksi yang terutama mengenai struktur saluran
pernapasan di atas laring,tetapi kebanyakan,penyakit ini mengenai
bagian saluran atas dan bawah secara simultan atau berurutan.
Gambran patofisiologisnya meliputi infiltrat peradangan dan edema
mukosa, kongesti vaskuler,bertambahnya sekresi

mukus, dan

perubahan struktur dan fungsi siliare.


Berbagai mikroorganisme (terutama virus) terutama mampu
menyebabkan infeksi yang
dengan berbagai keparahan

tidak tampak atau gejala-gejala klinis


dan meluas sesuai
22

dengan faktor

hospes seperti umur,jenis kelamin,sebelumnya telah ada kontak


dengan agen,alergi, dan status nutrisi. Misalnya,pada berbagai
anggota dari keluarga yang sama,satu virus secara simultan dapat
menyebabkan cold khas pada orang tua,bronkiolitis pada bayi,croup
pada anak yang sedikit lebih tua,faringitis pada anak terpajan patigen
dengan kisaran yang lebar pada umur yang lebih dini. ( NELSON
2000)
b. Etiologi
Kebanyakan,infeksi saluran pernapasan akut disebabkan oleh
virus

dan

mikoplasma,kecuali

epiglotitis

akut.

Organisme

streptokokus dan difteria merupakan agen bakteri utama yang


mampu menyebabkan penyakit faring primer,bahkan pada kasus
tonsilofaringitis akut,sebagian besar penyakit berasal nonbakteri.
Walaupun

ada

banyak

hal

yang

tumpang

tindih,beberapa

mikrooganisme lebih mungkin menimbulkan sindrom pernapasan


tertentu

pada

yang

lain

dan

agen

tertentu

mempunyai

kecenderungan lebih besar dari pada yang lain untuk menimbulkan


penyakit yang berat. Beberapa virus (misalnya campak) dapat
dihubungkan dengan banyak sekali variasi gejala saluran pernapasan
dan bawah sebagai bagian dari gambaran klinis umum

yang

melibatkan sistem organ lainnya.


F. PELAYANAN KESEHATAN
1. Status Imunisasi
Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan
Imunisasi (PPI) pada anak dalam upaya menurunkan kejadian penyakit
pada anak. Program imunisasi untuk penyakit- penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang tercakup dalam PPI
adalah satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi DPT-HB, empat kali
imunisasi polio, dan satu kali imunisasi campak (Riskesdas, 2010).
23

Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan;
imunisasi polio pada bayi baru lahir, dan tiga dosis berikutnya diberikan
dengan jarak paling cepat empat minggu; imunisasi DPT-HB pada bayi
umur dua, tiga, empat bulan dengan interval minimal empat minggu;
dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. Dalam
Riskesdas, informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu
yang mempunyai balita umur 0-59 bulan (Riskesdas, 2010).
Untuk setiap jenis imunisasi, anak disebut sudah mendapat
imunisasi lengkap bila sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu
kali BCG, tiga kali DPT-HB, empat kali polio, dan satu kali imunisasi
campak. Oleh karena jadwal imunisasi untuk BCG, polio, DPT-HB, dan
campak yang berbeda, bayi umur 0-11 bulan tidak dianalisis cakupan
imunisasi. Hal ini disebabkan bila bayi umur 0-11 bulan dimasukkan
dalam analisis, dapat memberikan interpretasi yang berbeda karena
sebagian bayi belum mencapai umur untuk imunisasi tertentu, atau
belum mencapai frekuensi imunisasi tiga kali (Riskesdas, 2010).
Oleh karena itu hanya anak umur 12-23 bulan yang dimasukkan
dalam analisis imunisasi. Ada beberapa alasan untuk analisis imunisasi
hanya 12-23 bulan, yaitu karena imunisasi kelompok umur anak 12-23
bulan dapat mendekati perkiraan valid immunization, survei-survei lain
juga menggunakan umur 12-23 bulan untuk menilai cakupan imunisasi
sehingga dapat dibandingkan, dan bias karena ingatan ibu yang
diwawancara pada pengumpulan data lebih rendah dibanding kelompok
umur di atasnya. Walaupun referens umur untuk imunisasi adalah umur
12-23 bulan, tetapi hal tersebut hanya untuk metode pengumpulan
data, sedangkan dalam penyajian data tetap disebut sebagai imunisasi
bayi (Riskesdas, 2010).
2. Pemantauan Pertumbuhan Balita
Pemantauan pertumbuhan balita sangat penting dilakukan untuk
mengetahui adanya gangguan pertumbuhan (growth faltering) secara
dini. Untuk mengetahui pertumbuhan tersebut, penimbangan balita
24

setiap bulan sangat diperlukan. Penimbangan balita dapat dilakukan di


berbagai tempat seperti Posyandu, Polindes, Puskesmas atau sarana
pelayanan kesehatan yang lain (Riskesdas, 2010).
Pada Riskesdas 2010, ditanyakan frekuensi penimbangan anak
umur 6-59 bulan selama enam bulan terakhir yang dikelompokkan
menjadi

tidak

pernah

ditimbang

selama

enam

bulan

terakhir,

ditimbang 1-3 kali yang berarti penimbangan tidak teratur, dan 4-6
kali yang diartikan sebagai penimbangan teratur. Data pemantauan
pertumbuhan balita ditanyakan kepada ibu balita atau anggota rumah
tangga yang mengetahui.
Ada kecenderungan semakin tinggi kelompok umur anak, semakin
rendah cakupan penimbangan rutin ( 4 kali selama enam bulan
terakhir).

Sebaliknya semakin tinggi umur anak semakin tinggi pula

persentase anak yang tidak pernah ditimbang. Persentase penimbangan


anak baduta menurut jenis kelamin tidak berbeda, tetapi menurut
tempat tinggal ada kecenderungan di daerah perkotaan lebih tinggi
daripada perdesaan (Riskesdas, 2010).
Persentase penimbangan rutin ( 4 kali selama enam bulan
terakhir) menurut pendidikan dan status ekonomi tidak terlihat jelas
kecenderungannya. Kecenderungan terdapat pada kategori yang tidak
pernah ditimbang dimana terdapat kecenderungan semakin tinggi
tingkat pendidikan dan status ekonomi, semakin rendah persentase
anak umur 6-23 bulan yang tidak pernah ditimbang (Riskesdas, 2010).
Menurut tempat tinggal persentase pemanfaatan rumah sakit dan
Puskesmas sebagai tempat penimbangan balita lebih tinggi di perkotaan
daripada

di

perdesaan.

Sebaliknya,

persentase

penimbangan

di

Posyandu dan Polindes lebih tinggi di perdesaan daripada di perkotaan.


Ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan dan status
ekonomi semakin tinggi penimbangan di rumah sakit dan Puskesmas,
namun penimbangan di Posyandu dan Polindes semakin rendah
(Riskesdas, 2010).
3. Kepemilikan KMS
25

Data kepemilikan KMS menurut karakteristik anak balita, orangtua,


dan tempat tinggal. Persentase kepemilikan KMS menurut umur,
semakin tinggi umur anak semakin rendah persentase kepemilikan KMS
yang dapat menunjukkan. Persentase KMS yang sudah hilang semakin
tinggi dengan meningkatnya umur anak. Persentase kepemilikan KMS
menurut

jenis

kelamin

anak

balita

tidak

menunjukkan

adanya

perbedaan. Ada kecenderungan semakin tinggi kelompok umur semakin


rendah kepemilikan KMS yang dapat menunjukkan. Sebaliknya, semakin
tinggi tingkat pendidikan dan status ekonomi cenderung semakin rendah
persentase anak balita yang tidak pernah memiliki KMS (Riskesdas,
2010).
4. Pemberian Kapsul Vitamin A
Kapsul vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari
dan Agustus, sejak anak berusia enam bulan. Kapsul merah (dosis
100.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6-11 bulan dan kapsul biru (dosis
200.000 IU) untuk anak umur 12-59 bulan (Riskesdas, 2010).

5. Berat Badan Lahir


Kategori berat badan lahir anak balita dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu :< 2500 gram, 2500- 3999 gram, dan 4000 gram (Riskesdas,
2010).
6. Pola Pemberian ASI
Menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu
maupun bayinya. Bagi bayi, menyusui mempunyai peran penting yang
fundamental pada kelangsungan hidup bayi, kolostrum yang kaya
dengan zat antibodi, pertumbuhan yang baik, kesehatan, dan gizi bayi.
Untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas bayi dan balita, Inisiasi
menyusu dini mempunyai peran penting bagi ibu dalam merangsang
kontraksi uterus sehingga mengurangi perdarahan pasca melahirkan
(postpartum) (Riskesdas, 2010).
26

Menyusui dalam jangka panjang dapat memperpanjang jarak


kelahiran karena masa amenorhoe lebih panjang, pemulihan status gizi
yang lebih baik sebelum kehamilan berikutnya. UNICEF dan WHO
membuat rekomendasi pada ibu untuk menyusui eksklusif selama 6
bulan kepada bayinya. Sesudah usia 6 bulan bayi baru dapat diberikan
makanan pendamping ASI (MP-ASI) dengan tetap memberikan ASI
sampai

minimal

Kementerian

umur

Kesehatan

tahun.

juga

Pemerintah

merekomendasi

Indonesia
kepada

melalui

ibu

untuk

menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya (Riskesdas, 2010).


Air susu ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi, namun
tidak semua bayi mendapatkan ASI dari ibunya. Periode pemberian ASI
sebaiknya adalah sejak lahir sampai bayi berumur 2 tahun, tetapi tidak
semua b\ayi dapat disusui selama periode tersebut (Riskesdas, 2010).
Dalam laporan Riskesdas, pola menyusui dikelompokkan menjadi
tiga kategori, yaitu menyusui eksklusif, menyusui predominan, dan
menyusui parsial sesuai definisi World Health Organization (WHO)
Menyusui eksklusif adalah tidak memberi bayi makanan atau
minuman lain, termasuk air putih, selain menyusui (kecuali obatobatan

dan

vitamin

atau

mineral

tetes;

ASI

perah

juga

diperbolehkan). Pada Riskesdas 2010, menyusui eksklusif adalah


komposit dari pertanyaan: bayi masih disusui, sejak lahir tidak pernah
mendapatkan makanan atau minuman selain ASI, selama 24 jam

terakhir bayi hanya disusui (tidak diberi makanan selain ASI).


Menyusui predominan adalah menyusui bayi tetapi pernah

memberikan sedikit air atau minuman berbasis air, misalnya teh,


sebagai makanan/ minuman prelakteal sebelum ASI keluar. Pada
Riekesdas 2010, menyusui predominan komposit dari pertanyaan:
bayi masih disusui, selama 24 jam terakhir bayi hanya disusui, sejak
lahir tidak pernah mendapatkan makanan atau minuman kecuali

minuman berbasis air, yaitu air putih atau air teh.


Menyusui parsial adalah menyusui bayi serta diberikan makanan
buatan selain ASI, baik susu formula, bubur atau makanan lainnya
27

sebelum bayi berumur enam bulan, baik diberikan secara kontinyu


maupun diberikan sebagai makanan prelakteal. Pada Rieksedas 2010,
menyusui parsial adalah komposit dari pertanyaan: bayi masih
disusui, pernah diberi makanan prelakteal selain makanan atau
minuman berbasis air seperti susu formula, biskuit, bubur, nasi
lembek, pisang atau makanan yang lain.
G. SANITASI DAN HIGIENE
Higiene atau biasa juga disebut dengan kebersihan, adalah upaya
untuk memelihara hidup sehat yang meliputi kebersihan pribadi,
kehidupan bermasyarakat, dan kebersihan kerja. Kebersihan merupakan
suatu

perilaku

yang

diajarkan

dalam

kehidupan

manusia

untuk

mencegah timbulnya penyakit karena, pengaruh lingkungan serta


membuat kondisi lingkungan agar terjaga kesehatannya
Sanitasi dalam arti luas merupakan tindakan higienis untuk
meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit, sedangkan sanitasi
lingkungan merupakan usaha pengendalian diri dari semua faktor
lingkungan fisik manusia yang mungkin dapat menimbulkan hal-hal yang
merugikan bagi perkembangan fisik, kesehatan dan daya

tubuh

manusia. Di negara berkembang pada umumnya sanitasi kesehatan


berupa fasilitas yaitu penyediaan air bersih, metode pembuangan
kotoran manusia yang baik dan pendidikan higiene.
1. Ketersediaan Air Bersih
Dalam

dunia

kesehatan

khususnya

kesehatan

lingkungan,

perhatian air dikaitkan sebagai faktor perpindahan atau penularan


penyebab penyakit. Air membawa penyebab penyakit dari kotoran
(feces) penderita, kemudian sampai ke tubuh orang lain melalui
makanan, susu dan minuman. Air juga berperan untuk membawa
penyebab penyakit infeksi yang biasanya ditularkan melalui air yaitu
typus abdominalis. Manusia menggunakan air untuk berbagai keperluan
seperti mandi, cuci, kakus, produksi pangan, papan, dan sandang.
Mengingat bahwa berbagai penyakit dapat dibawa oleh air kepada
28

manusia pada saat manusia memanfaatkannya, maka tujuan utama


penyediaan air bersih bagi masyarakat adalah mencegah penyakit
bawaan air (Juli Soemirat, 2006: 108).
Setiap rumah tangga harus memiliki persediaan air bersih dalam
jumlah cukup, meskipun kebutuhan air bersih setiap rumah tangga
berbeda-beda. Sarana air bersih adalah semua sarana yang dipakai
sebagai sumber air bersih bagi penghuni rumah yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan seharihari sehingga perlu diperhatikan dalam
pendirian sarana air bersih. Apabila sarana air bersih dibuat memenuhi
syarat teknis kesehatan diharapkan tidak ada lagi pencemaran terhadap
air bersih, maka kualitas air yang diperoleh menjadi baik.
Sumber air bersih yang digunakan harus memenuhi syarat
kwantitas dan kwalitas. Syarat kwantitas yaitu jumlah air untuk
keperluan rumah tangga per hari. Sedangkan syarat kwalitas dilihat dari
syarat fisik, khemis dan bakteriologis. Syarat fisik air yaitu jernih, tidak
berasa, tidak berwarna dan tidak berbau.
Sumber air dibagi menjadi dua yaitu air dalam tanah (ground
water) dan air permukaan (surface water).
1) Air dalam tanah
Adalah air yang diperoleh dari pengumpulan air pada lapisan tanah
yang dalam. Air ini sangat bersih karena bebas dari pengotoran, tapi
seringkali mengandung mineral-mineral dalam kadar yang terlalu
tinggi. Misalnya : air sumur, air dari mata air.
2) Air permukaan
Adalah air yang terdapat pada permukaan tanah. Air permukaan
harus diolah terlebih dahulu sebelum dipergunakan karena umumnya
telah mengalami pengotoran. Misalnya : air kali, rawa, sungai, danau,
kolam dan air hujan.

2. Ketersediaan Jamban
29

Sarana pembuangan tinja yaitu tempat yang biasa digunakan


untuk buang air besar, berupa jamban. Jamban adalah suatu ruangan
yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri
atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa yang
dilengkapi

dengan

unit

penampungan

kotoran

dan

air

untuk

membersihkannya. Jenis-jenis jamban yang digunakan :


1) Jamban cemplung
Adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi
menyimpan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran
kedasar lubang.
2) Jamban tangki septic/leher angsa
Jamban ini klosetnya berbentuk leher angsa sehingga akan selalu
terisi air. Fungsi air ini gunanya sebagai sumbat sehingga bau busuk
dari cubluk tidak tercium di ruangan. Bila dipakai fesesnya terapung
sebentar dan apabila disiram air, baru masuk ke bagian yang
menurun untuk masuk ke tempat penampungannya.
3) Jamban plengsengan
Bila kloset yang digunakan tanpa sistem water seal, cirinya tidak ada
genangan air pada lubang kloset, tinjanya dialirkan ke tempat lain.
3. Ketersediaan SPAL
Yang dimaksud dengan air limbah (sewage) adalah excreta
manusia, air kotor dari dapur, kamar mandi dan W.C. Air limbah yang
berasal

dari

rumah

tangga

disebut

domestic

sewage.

Maksud

pengaturan pembuangan air limbah adalah :


1) Untuk mencegah pengotoran sumber air rumah tangga
2) Menghindari pengotoran tanah permukaan
3) Perlindungan air untuk ternak
4) Menghilangkan tempat berkembang biaknya bibit-bibit penyakit
(cacing dan sebagainya) dan vector penyebar penyakit (nyamuk, lalat
dan sebagainya).
5) Menghilangkan adanya baud an pemandangan yang tidak sedap.
Berikut ini adalah beberapa cara pembuangan air limbah:

30

1) SPAL atau sarana pembuangan air limbah, adalah sarana untuk


menampung air limbah yang konstruksinya berupa kolam/sumur
dengan dinding beton/plesteran semen yang dilengkapi dengan
saringan berupa batu kerikil dan atau sabut/bahan saringan sejenis
yang berfungsi menyaring air limbah agar tidak mencemari air tanah.
2) Penampungan tertutup di pekarangan adalah sarana untuk
menampung air limbah yang konstruksinya berupa kolam/sumur
tanpa dinding beton/plesteran semen dan saringan.
3) Penampungan terbuka di pekarangan berupa kolam galian tanah
yang tidak dilengkapi dengan saringan dan dibiarkan terbuka.
4) Penampungan di luar pekarangan
5) Tanpa penampungan (di tanah)
6) Langsung ke got/sungai
4. Sarana Pembuangan Sampah
Sampah merupakan semua zat/benda yang sudah tidak terpakai
lagi baik berasal dari rumah maupun sisa-sisa proses industry. Sampah
ini dibagi dalam:
1) Garbage adalah sisa pengolahan ataupun sisa makanan yang mudah
membusuk.
2) Rubbish adalah bahan-bahan sisa pengolahan yang tidak membusuk.
Rubbish ini ada yang mudah terbakar misalnya : kayu dan kertas.
Serta ada juga yang tidak mudah terbakar seperti kaleng, kawat dan
sebagainya.
Berikut ini beberapa cara pembuangan sampah yang biasa
dilakukan masyarakat:
1) Diangkut petugas, yaitu bila sampah dari rumahtangga tersebut
secara rutin diangkut oleh petugas kebersihan setempat untuk
dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah.
2) Ditimbun dalam tanah, bila sampah dari rumahtangga dibuang ke
lubang sampah dan dilakukan penimbunan dengan tanah.
3) Dibuat kompos, bila sampah yang dihasilkan tidak dibuang, tetapi
langsung ditampung dan diolah untuk dijadikan kompos untuk pupuk.
31

4) Dibakar, bila sampah yang dihasilkan langsung dibakar pada tempat


tertentu.
5) Dibuang ke kali/parit/laut, bila sampah yang dihasilkan langsung
dibuang

ke

kali/parit/sungai,

perilaku

ini

dapat

mencemari

lingkungan.
6) Dibuang sembarangan, bila sampah yang dihasilkan dibuang
disembarang tempat yang artinya rumah tangga tidak memiliki
sarana pembuangan sampah.
5. Mencuci Tangan
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan hygiene
sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air
dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata
rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah
satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan
seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan
pathogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak
langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaanpermukaan lain seperti handuk, gelas).
Mencuci tangan dengan sabun merupakan salah satu cara paling
efektif untuk mencegah penyakit diare dan ISPA, yang keduanya menjadi
penyebab utama kematian anak-anak. Setiap tahun sebanyak 3,5 juta
anak-anak diseluruh dunia mennggal sebelum mencapai umur 5 tahun
karena penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan dengan sabun juga
dapat mencegah infeksi kulit, mata, cacing yang tinggal didalam usus,
SARS, dan flu burung (kementerian RI 2014).
Perilaku hygiene cuci tangan pakai sabun meliputi mencuci tangan
dengan sabun sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah
buang air besar, setelah menceboki anak, dan setelah memegang
unggas/binatang.
H. KERAWANAN PANGAN
32

Kerawanan pangan merupakan suatu kondisi ketidakcukupan


pangan yang dialami daerah, masyarakat, atau rumah tangga, pada
waktu tertentu

untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi

pertumbuhan dan kesehatan masyarakat. Kerawanan pangan dapat


terjadi secara berulang, pada waktu tertentu(kronis) dapat pula terjadi
akibat keadaan darurat seperti bencana alam maupun bencana social
(transien) (Dewan kesehatan pangan, 2006). Semnetara menutu selien
et al. (2002) kerawanan pangan ditingkat wilayah maupun ditingkat
rumah tangga/individu merupakan kondisi tidak tercapainya ketahanan
pangan ditingkat wilayah maupu rumah tangga atau individu. Oleh
karena itu, membahas kerawanan pangan tidak terlepas dari konsep
ketahanan pangan.Ketahanan pangan merupakan terjemahan dari food
security, secara luas diartikan sebagai terjaminnya akses pangan bagi
setiap individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya agar dapat hidup
sehat

dan

beraktifitas.

Membahas

ketahanan

pangan(dan

juga

kerawanan pangan) pada dasarnya juga membahas hal-hal yang


menyebabkan orang tidak mencukupi kebutuhan pangannnya. Tidak
tercukupinya kebutuhan pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan.
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah
tangga yang tercermin dari ketersediaannya pangan yang cukup, baik,
jumlah maupun mutunya, aman dan terjangkau (PP RI, 2002 dalam
Aritonang, 2011) .
Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS)
Metode ini dikembangkan dalam Food and Nutrition Technical
Assistance Project (FANTA) USAID pada tahun 2007, namun telah
digunakan dibeberapa negara dengan beberapa penyesuaian. Dalam
metode ini, responden diberikan

pertanyaan yang mencakup domain

umum tentang kondisi kerawanan pangan keluarga. Jawaban atas


kuesioner ini dapat memberikan gambaran tentang kondisi ketahanan
pangan keluarga, yang dikelompokkan dalam 4 katergori berikut :
33

Food Secure (tahan pangan) : apabila responden menjawab tidak


pernah merasa khawatir akan kekurangan makanan, dan atau pernah
merasa khawatir tidak memiliki cukup makanan tetapi frekuensinya

jarang terjadi.
Food insecurity

not

evident

(rawan

kelaparan)

apabila

responden

pengaturan

manajemen

pangan

ketahanan

menjawab
keluarga

pangan

telah

karena

gangguan kebiasaan makan secara normal

tanpa

melakukan

telah

terjadi

(seperti tidak dapat

menyediakan makanan seimbang untuk keluarga, hanya mampu


-

membelikan makanan yang harganya murah untuk anak-anak)


Food insecurity with moderat hunger (rawan ketahanan pangan
dengan kelaparan sedang) : Jika responden menjawab intake
makanan

dalam

keluarga

berkurang

karena

makanan

yang

dikonsumsi sangat sedikit atau keluarga sudah mengalami kelaparan


(yang ditandai dengan anak tidak memperoleh makanan yang cukup,
pernah mengurangi porsi makan, pernah terjadi kurang makan
karena tidak cukup uang untuk membelinya, pernah merasa sangat
-

lapar tetapi tidak ada makanan dalam rumah.


Foodinsecurity with severe hunger (rawan ketahanan pangan dengan
kelaparan akut) : Jika responden menjawab intake makanan dalam
keluarga berkurang dalam jumlah

yang sangat besar, dialami oleh

seluruh anggota keluarga baik yang dewasa maupun anak-anak


(seperti

pernah

ada

anggota

keluarga

tidak

makan,

pernah

mengurangi porsi makan untuk anak-anak, pernah mengurangi


frekuensi makan dari biasanya, pernah tidak makan sehari-hari pada
anak-anak).(Sumber : Coates. J, dkk, 2007)
I. POLA MAKAN
Pola makan adalah berbagai informasi

yang

memberikan

gambaran mengenai jumlah dan jenis bahan makanan yang dimakan


setiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu
kelompok masyarakat tertentu. Pola makan juga dikatakan sebagai
suatu cara seseorang atau sekelompok orang atau keluarga memilih
34

makanan sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologis, psikologis,


kebudayaan dan sosial (Suhardjo, 1989).
Kebiasaan makan merupakan suatu istilah untuk menggambarkan
kebiasaan dalam perilaku yang berhubungan dengan makanan seperti
tata krama makan, frekuensi makan seseorang, pola makanan yang
dimakan, kepercayaan tentang makanan, distribusi makanan diantara
anggota keluarga, penerimaan terhadap makanan (suka atau tidak suka)
dan pemilihan bahan yang hendak dimakan. Jadi pola makan merupakan
suatu kebiasaan makan yang ada dalam suatu kelompok masyarakat
tertentu atau suatu keluarga dalam hal macam dan jumlah bahan
makanan yang di makan setiap hari.
A. Frekuensi Pangan
Frekuensi pemberian makanan sumber protein pada balita adalah
berapa kali perhari pemberian pangan sumber protein pada balita,
berapa kali dalam seminggu, hingga berapa kali per tahun, setelah itu
dibuat rata-rata harian. Seberapa sering makanan sumber protein
dikonsumsi dapat menjadi indikator kemungkinan kekurangan maupun
kelebihan protein. Cara menyajikan frekuensi pangan sumber protein
berdasarkan frekuensi yang paling sering dikonsumsi, baik protein
hewani maupun nabati.
B. Jenis makanan
Jenis makanan dapat dikelompokan menjadi dua yaitu makanan
utama dan makanan selingan. Makanan utama adalah makanan yang
dikonsumsi seseorang berupa makan pagi, makan siang, dan makan
malam yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah dan
minuman.
J. PENDAPATAN KELUARGA
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dian Handini, dkk dengan
judul hubungan tingkat pendapatan keluarga dengan status gizi balita di
wilayah kerja puskesmas kalijambe tahun 2013. Pendapatan Keluarga
adalah jumlah pendapatan tetap dan sampingan dari kepala keluarga,
35

ibu, dan anggota keluarga lain dalam 1 bulan dibagi jumlah seluruh
anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah per kapita per bulan
(Ernawati, 2006).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh zulhijah arifin, dkk dengan
judul hubungan pengetahuan dan sosial ekonomi dengan status gizi
balita di puskesmas lohia kecamatan lohia kabupatenmuna sulawesi
tenggara pada tahun 2013 menjelaskan bahwa status ekonomi keluarga
akan sangat mempengaruhi status gizi pada anak, dimana apabila
pendapatan keluarga cukup maka mutu makanan dalam keluarga akan
cenderung membaik, yakni pada umumnya jika tingkat pendapatan baik,
jumlah dan jenis makanan cenderung untuk membaik juga. Akan tetapi,
mutu makanan tidak selalu membaik kalau pendapatan keluarga itu
tidak digunakan untuk membeli bahan makanan yang berkualitas tinggi
yang diperlukan dalam penyajian makanan seimbang bagi anggota
keluarga. (Deddy Mulyadi tahun 2010) .
Menurut penelitian yang dilakukan oleh zulhijah arifin, dkk dengan
judul hubungan pengetahuan dan sosial ekonomi dengan status gizi
balita di puskesmas lohia kecamatan lohia kabupaten muna sulawesi
tenggara pada tahun 2013 menjelaskan bahwa tingkat pendapatan yang
rendah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap status gizi
keluarga. Keutuhan akan pangan sering kali tidak mencukupi kebutan
anggota, (Sari Prianto, 2005).
K. ASUPAN MAKAN
Asupan makanan

adalah

semua

jenis

makanan

dan

minuman yang dikonsumsi tubuh setiap hari. Umumnya asupan


makanan

di

pelajari untuk

di hubungkan dengan keadaan gizi

masyarakat suatu wilayah atau individu. Informasi ini dapat digunakan


untuk perencanaan pendidikan gizi khususnya untuk menyusun menu
atau intervensi untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM),
mulai dari keadaan kesehatan dan gizi serta produktivitasnya.
36

Mengetahui

asupan

makanan suatu kelompok masyarakat atau

individu merupakan salah satu cara untuk menduga keadaan gizi


kelompok masyarakat atau individu bersangkutan (Sumarno, dkk
dalam Gizi Indonesia 1997).
Dalam recall 24 jam metode, subyek dan orang tua atau pengasuh
mereka diminta oleh ahli gizi, yang telah terlatih dalam teknik
wawancara, mengingat asupan makanan yang tepat subyek selama
periode 24 jam sebelumnya atau sebelumnya hari. sehingga metode
menilai asupan aktual individu. Namun, satu 24 jam recall tidak cukup
untuk menggambarkan asupan biasa individu makanan dan nutrisi;
beberapa 24 jam ingat pada individu yang sama selama beberapa hari
diperlukan untuk mencapai tujuan ini. Namun demikian, beberapa satu
hari ingat pada individu yang berbeda dapat memberikan ukuran valid
asupan kelompok atau populasi.
Secara umum, mengingat wawancara dapat dilakukan pada anak
usia 8 tahun (Young, 1981; Livingstone dan Robson, 2000) dan pada
kebanyakan orang dewasa, kecuali bagi orang-orang dengan kenangan
yang buruk (misalnya, beberapa orang tua). Anak anak berusia 4 8
tahun harus diwawancarai bersama dengan pengasuh utama mereka,
biasanya ibu. Mungkin perlu untuk mewawancarai beberapa orang jika
anak anak di sekolah atau bermain di rumah teman teman, untuk
memastikan bahwa makanan yang dimakan jauh dari rumah dilaporkan.
Untuk kelompok usia muda ini, pertanyaan harus selalu diarahkan anak
(Sobo et al., 2000). Sangat sering ketika melakukan penarikan, terutama
pada anak anak, hasil wawancara sebagai recall konsensus, dengan
anggota

keluarga

membantu

responden

mengingat

jumlah

yang

dikonsumsi. Pendekatan konsensus ini terbukti meningkatkan akurasi


penarikan diet anak-anak AS (Eck et al., 1989).
Ketika 24 jam penarikan digunakan untuk mengkarakterisasi
asupan biasa ratarata dari kelompok populasi, subyek harus mewakili
populasi yang diteliti. Selain itu, survei harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga semua hari dalam seminggu sama sama terwakili. Dengan
37

cara ini, setiap hari dan minggu efek pada makanan atau nutrisi intake
akan diperhitungkan. Beban responden kecil untuk satu ingatan 24 jam,
sehingga kepatuhan yang umumnya tinggi. Metode cepat dan relatif
murah, dan dapat digunakan sama baiknya dengan kedua mata
pelajaran melek dan buta huruf.
Sebuah ingatan 24 jam telah digunakan dalam beberapa survei
gizi nasional, termasuk Survei Nasional Selandia Baru Gizi (Depkes,
1997), US National Health dan Nutrition Examination Survey (NHANES)
(NCHS, 1994), dan Survei Melanjutkan Pangan Intake oleh Individu
(CSFII) (USDA, 1998). Sejak tahun 2002, CSFII telah termasuk beberapa
pass ingat komputerisasi dengan sejumlah isyarat builtin untuk secara
khusus meningkatkan recall makanan dengan mudah diabaikan seperti
alkohol dan minuman beralkohol, permen, makanan ringan, dan roti.
CSFI ini sekarang terintegrasi dengan NHANES.
Sebuah modifikasi dari ingatan 24 jam - disebut sebuah 24h
interaktif ingat telah dikembangkan untuk mengumpulkan informasi
tentang penduduk pedesaan di negara negara berkembang (Ferguson
dkk, 1995). Modifikasi tercantum dalam Kotak 3.1 dan dibahas secara
lebih rinci dalam panduan yang berisi pedoman dan prosedur (Gibson
dan Ferguson, 1999) praktis. Semua wawancara recall harus dilakukan di
rumah responden bila memungkinkan, karena lingkungan yang akrab
mendorong

partisipasi,

meningkatkan

recall

dari

makanan

yang

dikonsumsi, dan memfasilitasi kalibrasi peralatan rumah tangga lokal


oleh pewawancara. pada akhirnya, keberhasilan tergantung pada
memori subjek, kemampuan subjek untuk menyampaikan perkiraan
yang

akurat

dari

ukuran

porsi

yang

dikonsumsi,

dan

kegigihan

pewawancara (Acheson et al., 1980).


Untuk meningkatkan recall dari makanan di negara negara
berkembang, peneliti dapat: Memberikan pelatihan kelompok estimasi
ukuran porsi sebelum ingat nyata. Pasokan gambar grafik pada hari
sebelum penarikan untuk digunakan sebagai checklist pada hari
makanan sebenarnya dikonsumsi, dan untuk perbandingan dengan
38

recall untuk mengurangi penyimpangan memori. Menyediakan mangkuk


dan piring untuk digunakan pada harihari ingat untuk membantu
responden

memvisualisasikan

jumlah

makanan

yang

dikonsumsi.

Timbang ukuran porsi replika asin dari makanan yang sebenarnya


dikonsumsi oleh responden. Kotak 3.1: Interaktif ingatan 24 jam
modifikasi disarankan untuk penduduk pedesaan di negaranegara
berkembang.
Kelebihan metode recall 24 jam, yaitu : (Supariasa, 2002)
- Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden.
- Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan
-

tempat yang luas untuk wawancara.


Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden.
Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf.
Dapat memberikan gambaran nyata yang benar benar dikonsumsi

individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.


Kekurangan metode recall 24 jam, yaitu : (Supariasa, 2002)
Tidak dapat menggambarkan asupan makan sehari hari, bila hanya

dilakukan recall satu hari.


Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden. Oleh
karena itu, responden harus mempunyai daya ingat yang baik,
sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia dibawah 7
tahun, orang tua berusia diatas 70 tahun dan orang yang hilang

ingatan atau orang yang pelupa.


The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden yang
kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate)
dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit

(under estimate).
Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam
menggunakan alat alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang

dipakai menurut kebiasaan masyarakat.


Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan

penelitian.
Untuk mendapat gambaran konsumsi makanan sehari hari recall
jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, hari akhir pecan, pada
39

saat melakukan upacara upacara keagamaan, selamatandan lain


lain.
Cara mengukur recall 24 jam yaitu dengan menanyakan kembali
dan

mencatat

semua

makanan

dan

minuman

yang

dikonsumsi

responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24


jam yang lalu. Kemudian menganalisis bahan makanan kedalam zat gizi
dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).Dan
membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (DKGA)
atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia (Supariasa, 2002).
L.

40

KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Teori

41

Kerangka Konsep

STATUS GIZI

Infeksi

Asupan

Pola
makan

Ketahanan
pangan

Pola asuh

sanitasi &
Hygine

Pendapatan
Pengetahuan

42

Yankes

VIM Matriks
No
1

Variabel
Status Gizi

Pola Asuh

Indikator
TB /U

Metode
Antropometri

Referensi
Supariasa

BB/U

Antropometri

2004

BB/TB
1. Pengetahuan ibu

Antropometri
Wawancara

Depkes 2010

dalam pemberian

dan

lembar

ASI Ekslusif dan

quesioner

pemberian makan
pendamping.
2. Perilaku ibu dalam
memberikan
makan pada
3

Pengetahuan

gizi

ibu

balita.
Pengetahuan gizi

Wawancara

ibu tentang

Dengan

pedoman gizi

Kuesioner

seimbang
Pengetahuan gizi

Wawancara

ibu tentang

Kuesioner

pemberian MP-ASI
Pengetahuan ibu

Wawancara

tentang pemilihan
dan pengolahan
4

Penyakit infeksi

bahan makanan
Diare dan ISPA :

Dengan

Dengan

Kemenkes

RI, 2014
Almatsier,

2001
Ficha Elly
Kusumasari,
2012
(Jurnal)

Kuesioner

Wawancara

Riskesdas

1 bulan

meggunakan

2007 dan

terakhir

kuesioner

Riskesdas

diare
Konsistensi BAB

Cair
Frekuensi BAB lebih
43

2013

dari 3 x
Perlakuan saat

diare
Batuk berdahak di
sertai pilek,
tenggorokkan sakit

Kesehatan Anak

atau nyeri
1 Status imunisasi
2 Pemantauan
pertumbuhan
balita
3 Kepemilikan KMS

Wawancara

Riskesdas

+ Catatan

2010

KMS, catatan

Riskesdas

buku KIA

2013

Kuesioner +
Catatan KMS

dan buku KIA


Kuesioner
4 Pemberian Kapsul
Vitamin A
5 Berat Badan Lahir
Kuesioner
6 Pola
Pemberian
ASI
6

Sanitasi dan
Hygiene Rumah
Tangga

Catatan KMS

Ketersediaan air

Observasi

bersih
Ketersediaan jamban
Ketersediaan SPAL
Sarana Pembuangan
Sampah
Mencuci tangan

Kerawanan Pangan

Wawancara
Lembar

Tingkat kerawanan
pangan

44

Riskesdas
2007
Riskesdas
2010
Riskesdas

Wawancara
dengan
menggunaka
n kuesioner
Wawancara
secara
langsung
dengan
mengunakan
kuesioner

2013
Indan Entjang,
2000
Coates.
J,dkk,2007

Pola Makan

FFQ

Pendapatan

Frekuensi makan
Jenis makanan
Pengeluaran pangan

Wawancara

Keluarga

dan pengeluaran non

dengan

pangan

menggunaak

Dian
Handin.Hubun
gan Tingkat

an alat bantu Pendapatan


kuesioner

Keluarga
Dengan Status
gizi Balita Di
Wilayah Kerja
Puskesmas
Kalijambe.201
3

10

Asupan makan

Tingkat kecukupan
energi dan protein

45

Recall 24 jam

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu Survey (cross sectional).
Survey (cross sectional) ialah suatu penelitian untuk mempelajari
dinamika kolerasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara
pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu
saat (point time approach). Penelitian cross sectional ini sering disebut
juga penelitian transversal, dan sering digunakan dalam penelitianpenelitian epidemiologi.
B. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Desa Hukaea Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana pada tanggal 2 7 November 2015.
C. Populasi Dan Sampel
1. Polulasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai
anak Balita di Desa Hukaea Kecamatan Rarowatu Utara kabupaten
Bombana.
2. Sampel
Jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 40
orang dengan menggunakan teknik Systematic Random Sampling
(SyRS).
D. Jenis Dan Cara Pengumpulan Data
1. Jenis Data
1. Data Primer
Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan
menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden yang
bersi pertanyaan serta jawaban yang telah disiapkan serta untuk
data kesehatan balita diperoleh dengan melihat catatan KMS,
catatan buku KIA.
2. Data sekunder
Data sekunder meliputi populasi dan keadaan umum lokasi
penelitian yang diperoleh dari camat atau kepala desa setempat.
46

2. CARA PENGUMPULAN DATA


1. STATUS GIZI
Cara pengumpulan status gizi balita adalah dengan data status
gizi balita diperoleh melalui pengukuran antropometri yaitu
dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB.
2. POLA ASUH, PENGETAHUAN GIZI IBU, PENYAKIT INFEKSI,
PELAYANAN

KESEHATAN,

KERAWANAN

PANGAN,

DAN

PENDAPATAN KELUARGA
Pola Asuh, Pengetahuan Gizi Ibu, Penyakit Infeksi, Pelayanan
Kesehatan,

Sanitasi

Dan

Higiene,

Kerawanan

Pangan,

Dan

Pendapatan Keluarga dikumpul dengan menanyakan beberapa


pertanyaan (wawancara) kepada responden dengan menggunakan
kuesioner.
3. SANITASI DAN HIGIENE
Cara pengumpulan data untuk ketersediaan air bersih, sarana
jamban, sarana SPAL, dan sarana pembuangan sampah dilakukan
dengan

mengamati/survey

langsung

dengan

menggunakan

lembar observasi. Sedangkan untuk kebiasaan mencuci tangan


dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner.
4. POLA MAKAN
Cara pengumpulan data
indikator

frekuensi

menggunakan

untuk

makan

variabel pola makan dalam

dan

jenis

makanan

adalah

metode FFQ dengan menggunakan alat bantu

kuesioner.
5. ASUPAN MAKAN
Cara pengumpulan data

untuk

variabel asupan makan dalam

indikator tingkat kecukupan enrgi protein adalah menggunakan


metode recall 24 jam selama 2 hari secara berturut-turut.

47

E. Pengolahan Data
Pengolahan data mengunakan software SPSS dengan
mengelompokkan kedalam beberapa kategori :
1. Status gizi
Data mengenai status gizi diolah berdasarkan nilai Zscore dari
masing-masing indikator tersebut dengan membandingkan dengan
nilai standar untuk :
a. Klasifikasi status gizi berdasarkan indeks BB/U :
Gizi buruk : Zscore < -3,0
Gizi kurang : Zscore -3,0 s/d Zscore < -2,0
Gizi baik : Zscore -2,0
b. Klasifikasi status gizi berdasarkan indikator TB/U:
Sangat pendek : Zscore <-3,0
Pendek : : Zscore - 3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal : Zscore -2,0
c. Klasifikasi status gizi berdasarkan indikator BB/TB:
Sangat kurus : Zscore < -3,0
Kurus : Zscore -3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal : Zscore -2,0 s/d Zscore 2,0
Gemuk : Zscore > 2,0
2. Pengetahuan Gizi Ibu
Data

mengenai

tingkat

pengetahuan

gizi

dan

tindakan

dikelompokan berdasarkan jawaban responden atas pertanyaan yang


di berikan, dengan kategori:
48

Cukup
Kurang

: nilai > 60% dari total skor


: nilai < 60% dari otal skor

3. Penyakit Infeksi
Data tentang variabel penyakit infeksi diolah dengan cara data
dikumpulkan berdasarkan indikator di atas yang kemudian di
kelompokkan menjadi dua ketegori, yaitu:
1. Ya : jika seseorang sering BAB lebih dari 3 kali dan memiliki
konsistensi cair
Tidak : sealain indikator diatas.
2. Ya : jika dalam 1 bulan terakhir pernah menderita panas di sertai
batuk kering atau berdahak dan pilek
Tidak : jika selain indicator diatas
4. PELAYANAN KESEHATAN
Status imunisasi

Lengkap : apabila mendapatkan semua


jenis imunisasi (1x BCG, 3x DPT HB, 4x

POLIO, 1x CAMPAK)
Tidak Lengkap : apabila tidak
mendapatkan semua jenis imunisasi (1x

Cakupan penimbangan

Tempat penimbangan

Kepemilikan KMS dan buku


KIA

BCG, 3x DPT HB, 4x POLIO, 1x CAMPAK)


Rutin : > 4 kali penimbangan selama 6

bulan terakhir
Tidak Rutin : > 4 kali penimbangan

selama 6 bulan terakhir


Polindes
Posyandu
Puskesmas
Rumah Sakit
Ya, dapat menunjukkan
Ya, tidak dapat menunjukkan (disimpan
49

Pemberian Kapsul Vitamin A

kader/bidan/posyandu)
Pernah memiliki tapi sudah hilang
Tidak pernah memiliki
Menerima : apabila mendapatkan kapsul
Vit A pada bulan Februari dan Agustus
Tidak menerima : apabila tidak
mendapatkan kapsul Vit A pada bulan

Berat Badan Lahir

Februari dan Agustus


BBLR : berat badan lahir <2500 gr
Normal : berat badan lahir antara 2500

3999 gr
Overweight : berat badan lahir 4000 gr

5. KERAWANAN PANGAN
Data tentang variabel kerawanan pangan
data

dikumpulkan

berdasarkan

indikator

diolah dengan cara


yang

kemudian

di

kelompokkan menjadi empat ketegori, yaitu:


1) HFIA kategori = 1 (Tahan Pangan) jika [(H1 = 0 atau H1a = 1) dan
H2

dan H3 dan H4 = 0 dan H5 dan H6 = 0 dan H7 = 0 dan H8 = 0


dan H9 = 0]
2) HFIA kategori = 2 (Rawan Pangan Tingkat Ringan) jika [(H1a = 2
atau H1a = 3 atau H2a = 1 atau H2a = 2 atau H2a = 3 atau H3a =
1

atau

H4a

1)

dan

H5

dan

H6 = 0 dan H7 = 0 dan H8 = 0 dan H9 = 0]


3) HFIA kategori = 3 (Rawan Pangan Tingkat Sedang) jika [(H3a = 2
atau H3a = 3 atau H4a = 2 atau H4a = 3 atau H5a = 1 atau H5a =
2

atau

H6a

H7 = 0 dan H8 = 0 dan H9 = 0]
50

atau

H6a

2)

dan

4) HFIA kategori = 4 (Rawan Pangan Tingkat Berat) jika [H5a = 3 atau


H6a = 3 atau H7a = 1 atau H7a = 2 atau H7a = 3 atau H8a = 1
atau

H8a

atau

H8a

atau

H9a = 1 atau H9a = 2 atau H9a = 3]

6. PENDAPATAN KELUARGA
Pendapatan keluarga, diolah berdasarkan jawaban responden,
seluruh bentuk pengeluaran baik itu pengeluaran pangan maupun
non pangan di konversi kebentuk rupiah, selanjutnya pengeluaran
pangan dibagi dengan total pengeluaran pangan dan non pangan
dikali 100%. Bila hasil yang didapatkan kurang dari 60% maka
pendapatan keluarga tersebut tergolong kurang. Sedangkan apabila
hasil yang didapatkan lebih dari sama dengan 60% maka keluarga
tersebut dikelompokkan dalam pendapatan cukup.
7. ASUPAN MAKAN
Data mengenai asupan makan di olah dengan membandingkan
kriteria objektif dalam kategori cukup atau kurang dengan kriteria
sebagai berikut :
Cukup : > 80 %
Kurang : < 80% (Supariasa dkk, 2002).
8. Pola Makan, Pola Asuh, Sanitasi dan Higiene
Diolah menggunakan program SPSS.
F. Analisa Dan Penyajian Data
Analisa

yang

digunakan

merupakan

Analisa

Univariat

yaitu

menganalisis variabel-variabel yang ada secara deskriptif dengan


menghitung distribusi frekuensi dan proporsinya. Data disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi sebagai acuan yang menjelaskan
51

variabel-variabel yang meliputi status gizi, pola asuh ibu, pelayanan


kesehatan, pengetahuan, kerawanan pangan, penyakit infeksi, pola
makan, tingkat pendapatan keluarga, tingkat kecukupan energi dan
protein serta sanitasi dan higiene Rumah Tangga.
G. Etika
Dalam pengambilan data dasar ini, pertama-tama mahasiswa (i)
melakukan perkenalan dan penyampaian tujuan dari pengambilan data
tersebut. Kemudian meminta persetujuan pada pihak responden untuk
dijadikan sampel dengan tanda tangan responden sebagai sebuah bukti
bahwa responden tersebut bersedia untuk dijadikan sampel dalam
penelitian ini.

52