Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN

PENGAMATAN SPORA BAKTERI

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH


Mikrobiologi
yang dibina oleh Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd

oleh
Kelompok 5 / Offering G
Alifa Rizki Nabila Putri (140342601363)
Eka Pratama Putri (140342600579)
Gizella Ayu Wilantika (140342600832)
Ida Wulandari (140342601331)
Stefanus Nahas (120342410319)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI

Februari 2016
A. Topik
Topik pada praktikum adalah pengamatan spora bakteri
B. Tanggal
Praktikum dilakukan pada Senin, 15 Februari 2016
C. Tujuan
1. Untuk memperoleh keterampilan pewarnaan spora bakteri
2. Untuk mengetahui ada tidaknya spora bakteri
D. Dasar Teori
Ada beberapa jenis bakteri tertentu yang mampu membentuk spora
yang tubuh di dalam sel. Spora yang tumbuh di dalam sel ini disebut dengan
endospora. Bakteri membentuk spora apabila kondisi lingkungan tidak
optimum lagi untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya misalnya:
medium mongering, kandungan nutrisi menyusut. Secara sederhana, dapat
dikatakan bahwa endospora merupakan sel yang mengalami dehidrasi dengan
dinding yang mengalami penebalan serta memiliki beberapa lapisan
tambahan. Dengan adanya kemampuan untuk membentuk spora ini, bakteri
tersebut dapat bertahan pada kondisi yang ekstrim.Menurut Pelczar (1986)
bakteri yang dapat membentuk endospore ini dapat hidup dan mengalami
tahapan-tahapan pertumbuhan sampai beberapa generasi, dan spora terbentuk
melalui sintesis protoplasma baru di dalam sitoplasma sel vegetatifnya.
Spora bersifat tahan terhadap tekanan fisik maupun kimiawi. Spora
bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa, diperlukan
teknik pewarnaan khusus. Menurut Volk & Wheeler (1988), dalam
pengamatan spora bakteri diperlukan pewarnaan tertentu yang dapat
menembus dinding tebal spora. Contoh dari pewarnaan yang dimaksudkan
oleh Volk & Wheeler tersebut adalah dengan penggunaan larutan hijau
malakit 5%, dan untuk memperjelas pengamatan, sel vegetative juga diwarnai
dengan larutan safranin 0,5% sehingga sel vegetative ini berwarna merah.

Dengan demikian ada atau tidaknya spora dapat teramati, bahkan posisi spora
di dalam tubuh sel vegetative juga dapat diidentifikasi.Namun ada juga zat
warna khusus untuk mewarnai spora dan di dalam proses pewarnaannya
melibatkan treatment pemanasan, yaitu; spora dipanaskan bersamaan dengan
zat warna tersebu tsehingga memudahkan zat warna tersebut untuk meresap
ke dalam dinding pelindung spora bakteri.

Beberapa spesies bakteri tertentu dapat membentuk spora. Spora


dihasilkan di dalam tubuh vegetatif bakteri tersebut, dapat berada di bagian
tengah (central), ujung (terminal) ataupun tepian sel. Pelczar (1986),
menyatakan bahwa spora merupakan tubuh bakteri yang secara metabolik
mengalami dormansi, dihasilkan pada faselanjut dalam pertumbuhan sel
bakteri yang sama seperti asalnya, yaitu sel vegetatif.
Spora bakteri ini dapat bertahan sangat lama, ia dapat hidup bertahuntahun bahkan berabad-abad jika berada dalam kondisi lingkungan yang
normal. Kebanyakan sel vegetatif akan mati pada suhu 60-70oC, namun
spora tetap hidup, spora bakteri ini dapat bertahan dalam air mendidih bahkan
selama 1 jam lebih. Selama kondisi lingkungan tidak menguntungkan, spora
akan

tetap

menjadi

spora,

sampai

kondisi

lingkungan

dianggap

menguntungkan, spora akan tumbuh menjadi satu sel bakteri yang baru dan
berkembangbiak secara normal (Volk & Wheeler, 1988).

E. Alat dan Bahan

Alat

1. Mikroskop

6. Mangkuk pewarna

2. Kaca benda

7. Lampu spiritus

3. Jarum inokulasi ujung lurus

8. Pipet

4. Jarum inokulasi ujung berkolong

9. Pinset

5. Kawat penyangga

Bahan
1. Biakan bakteri yang diperoleh dari Kegiatan Ke-II
2. Aquades steril
3. Kertas lensa
4. Alkohol 70%
5. Larutan hijau malakit 5%
6. Larutan safranin 0,5%
7. Lap
8. Korek api
9. Sabun cuci
10. Lisol
11. Tissue

F. Cara Kerja

Kaca benda dilewatkan di atas nyala api lampu spiritus

Setetes aquades steril diteteskan di atas kaca benda

Inokulum yang berasal dari koloni bakteri yang akan diperiksa diambil
secara aseptik, diletakkan di atas tetesan aquades, diratakan perlahan
dan ditunggu hingga mengering

Dilakukan fiksasi dengan cara sediaan dilewatkan di atas lampu spiritus


dengan cepat

Larutan hijau malakit diteteskan diatas sediaan, lalu sediaan dipanaskan


di atas nyala api spiritus selama 3 menit. Sediaan dijaga agar tidak
mendidih atau mengering. Selama pemanasan, sediaan dijepit dengan
pinset

Sediaan diletakkan di atas lewat penyangga yang diletakkan diatas


mangkuk pewarna. Sediaan dibiarkan sampai dingin.

Kelebihan larutan hijau malakit dicuci dengan air kran dalam botol
penyemprot

Larutan safranin diteteskan diatas sediaan tersebut dan dibiarkan selama 3


menit

Kelebihan safranin pada sediaan dicuci, lalu sediaan dikeringkan dan


diamati di bawah mikroskop

G. Data
No. Koloni

Ada/Tidak

Bentuk

Letak spora

Gambar

dan Lokasi

ada spora

Spora

Tidak Ada

Ada

Bulat

Dipinggir

Penangkapa
n Bakteri
1
(Gedung
Biologi Lantai
1)
Perbesaran 400 x
2
(Gedung

(lateralis)

Biologi Lantai
2)

P
erbesaran 400 x

H. Analisis Data
Praktikum pada pewarnaan spora ini menggunakan dua koloni. Pewarnaan
spora pada bakteri ini menggunakan safranin dan hijau malakit sebagai
pewarnanya. Sel vegetative pada bekteri akan menyerap safranin dan spora akan
menyerap warna dari hijau malakit. Pewarnaan spora baik koloni I dan koloni II
diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 400x dan didapatkan hasil
sebagai berikut : Pada koloni I tidak ditemukanuya spora, sedangkan pada koloni
II ditemukan adanya spora, bentuk spora dari koloni II adalah bulat dan letaknya
dipinggir (lateralis)
I.

Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengamati endospora bakteri
dengan menggunakan prosedur pewarnaan spora. Dimana reagen yang
digunakan adalah safranin 0,5% dan hijau malakait 5%. Pewarnaan dengan
safranin bertujuan sebagai counterstain yang digunakan untuk mewarnai
bagian sel endopora, sehingga sel bakterinya akan memberikan warna merah

atau merah muda . Metode pewarnaan spora berfungsi untuk mempermudah


pengamatan agar peneliti atau pengamat mampu membedakan endospora
dengan sel vegetatif ataupun mengamati bentuknya. Endospora tetap dapat
dilihat di bawah mikroskop meskipun tanpa pewarnaan dan tampak sebagai
bulatan transparan dan sangat refraktil. Endospora tidak mudah diwarnai
dengan zat pewarna pada umumnya, karena endospora sulit dibedakan
dengan badan inklusi (kedua-duanya transparan, sel vegetatif berwarna). Hal
tersebut yang menjadi dasar dari metode pewarnaan endospora dengan
larutan malacite green. Metode ini merupakan metode Shaeffor yang mana
foton endospora diwarnai pertama kali dengan larutan malacite green.
Pewarnaan tersebut sifatnya kuat karena dapat berpenetrasi ke dalam
endospora bakteri. Teknik tersebut akan menghasilkan warna hijau pada
endospora dan merah pada sel vegetatif (James 2002).
Dalam proses ini ketika hijau malakit diteteskan diatas sediaan dengan
cara hati-hat dan diratakan, pemerataan warna dilakukan agar waktu diamati
dimikroskop warna tidak terlalu tebal dan spora bisa terlihat. kemudiaan
sediaan tersebut difiksasi melalui proses pemanasan. Pemanasan akan
menyebabkan lapisan luar spora mengembang sehingga pori-pori dapat
membesar dan zat warna (larutan hijau malakit) meresap ke dalam dinding
pelindung spora bakteri. Setelah itu sediaan didinginkan. Pada proses
pendinginan ini warna hijau akan terserab didalam spora.

Warna hijau

malakit ini berfungsi sebagai indikator adanya spora bakteri. Sediaan yang
telah dibiarkan dingin selanjutnya akan dibilas dengan Aquadest untuk
menghilangkan kelebihan warna pada sediaan. Pewarnaan endospora dengan
larutan malacite green akan menunjukkan reaksi positif pada bakteri
penghasil endospora, yaitu larutan akan berikatan dengan spora sehingga saat
pencucian akan tetap berwarna hijau dan cat penutup atau safranin tidak bisa
diikat oleh endospora (Pearce 2009), Sehingga pewarna kedua (safranin)
dapat meresap pada sel vegetatif. Adanya pewarnaan kedua ini menyebabkan
sel vegetatif bakteri berwarna merah. Pewarnaan pada spora bakteri diamati
dibawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada koloni I tidak ditemukanya
spora. Hal ini ditandai dengan tidak ditemukanya titik hijau didalam sel

vegetative bakteri. Hal ini berarti bahwa kemungkinan bakteri pada koloni I
belum membutuhkan adanya spora karena nutrisi dalam lingkunganya/
medium masih mencukupi untuk bertahan hidup. Hal tersebut diperkuat oleh
pernyataan dari Sudjadi (2006) Spora bakteri merupakan bentuk bakteri yang
sedang dalam usaha mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar.
Segera setelah keadaan luar baik bagi bakteri tersebut, maka bungkus spora
akan pecah dan tumbuhlah bakteri. Spora juga disebut endospora jika masih
terletak di dalam sel bakteri. Endospora jauh lebih tahan terhadap pengaruh
luar yang buruk daripada bakteri biasa yaitu bakteri dalam bentuk vegetatif.
Sedangkan pada bakteri koloni II ditemukan adanya spora dengan
bentuk bulat dan letaknya dipinggir. Hal tersebut dapat dilihat pada saat
diamati dibawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 400x maka akan
terlihat bahwa pada sel vegetative bakteri yang bewarna merah akan terlihat
bintik hijau dibagian pinggir sel vegetative bakteri. Dengan adanya
kemampuan untuk membentuk spora ini, bakteri tersebut dapat bertahan pada
kondisi yang ekstrim. Menurut Pelczar (1986) bakteri yang dapat membentuk
endospore ini dapat hidup dan mengalami tahapan-tahapan pertumbuhan
sampai beberapa generasi, dan spora terbentuk melalui sintesis protoplasma
baru di dalam sitoplasma sel vegetatifnya.

J. Kesimpulan
1. Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan
biasa, diperlukan teknik pewarnaan khusus dengan penggunaan
larutan hijau malakit 5%, dan untuk memperjelas pengamatan, sel
vegetative juga diwarnai dengan larutan safranin 0,5% sehingga sel
vegetative ini berwarna merah dan spora akan berwarna hijau.
2. Adanya spora pada bakteri ditandai dengan warna hijau yang terdapat
pada bakteri, sel spora dapat terletak secara centralis, lateralis, dan
terminalis. Spora bakteri merupakan bentuk bakteri yang sedang

dalam usaha mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari luar.


Apabila pada bakteri tersebut tidak memiliki spora berarti bakteri
tersebut masih mampu untuk memenuhi nutrisi dalam lingkunganya/
medium masih mencukupi untuk bertahan hidup.

K. Diskusi
1. Apa fungsi spora bagi bakteri?
Jawab:
Fungsi spora bagi bakteri adalah untuk menjalankan fungsi pertahanan
apabila kondisi lingkungan tidak optimum lagi untuk pertumbuhan dan
perkembang

biakan

bakteri

tersebut,

misalnya

kandungan nutrisi menyusut, dan lain sebagainya.

medium

mengering,

2. Mengapa diperlukan pemanasan dalam proses pewarnaan spora? Jelaskan!


Jawab:
Fungsi pemanasan dalam proses pewarnaan spora dilakukan agar komponen
protein dari dinding dan membran sel bakteri menjadi rusak. Rusaknya
dinding dan membran sel bakteri menyebabkan safranin (pewarna) menjadi
mudah masuk dan mewarnai sel.

DAFTAR RUJUKAN
James Joyce. 2002. Prinsip-Prinsip Sains untuk Keperawatan. Retno Indah,
penerjemah; Jakarta: Erlangga.
Pearce Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Yuliani Sri,
penerjemah; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Pelczar MA, J Chan, ECS Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Hadioetomo RS,
penerjemah; Jakarta: UI Press.
Sudjadi, Bagod. 2006. Biologi Sains dalam Kehidupan: Jakarta: Yudhistira Ghalia
Indonesia.
Volk and Whleer, 1998. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Erlangga.

LAMPIRAN
No

Gambar

Keterangan

Pengamatan
pewarnaan spora
bakteri pada koloni
pertama

Perbesaran 400 x
2

Pengamatan
pewarnaan spora
bakteri pada koloni
kedua.

Perbesaran 400 x