Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH TERMODINAMIKA

KOMPRESI UAP

DI SUSUN OLEH:

NAMA : M ALVIN DIMAS WIJAYA


NIM

: 141331002

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT SAINS & TEKNOLOGI AKPRIND
YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah
menolong penulis dalam menyelesaikan tugas ini dengan penuh kemudahan.
Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas dengan baik..
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah termodinamika
dan untuk pembaca dapat memperluas ilmu mengenai sistem pembangkit uap
yang digunakan untuk bergelut dalam pembangkitan tenaga uap. Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penulis
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin

Yogyakarta, 29-11-2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Rumusan masalah
1.4 Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mesin Pendingin
2.2 Siklus Pendingin
2.3 Bahan Pendingin
2.4 Katup Ekspansi Otomatik
2.5 Katuk Ekspansi Termostatik
2.6 Macam-macam Siklus Kompresi
2.7 Cara Kerja
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem refrigerasi telah memainkan peranan yang sangat penting saat ini.
Hal ini terlihat dari semakin banyaknya penggunaan sistem ini baik di industri
maupun rumah tangga. Sebagai contoh adalah pada pemrosesan maupun
pengawetan makanan, penyerapan kalor dari bahan-bahan kimia, pengkondisian
udara dan sebagainya. Sistem refrigerasi sangat menunjang peningkatan kualitas
hidup manusia. Kemajuan dalam bidang refrigerasi akhir-akhir ini adalah akibat
dari perkembangan sistem kontrol yang menunjang kinerja dari sistem refrigerasi.
Apalikasi dari sistem refrigerasi tidak terbatas, tetapi yang paling banyak
digunakan adalah untuk pengawetan makanan dan pendingin suhu, misalnya
lemasi es gambar 1 freezer, cold strorage, air conditioner/AC Window, AC split
dan AC mobil. Dengan perkembangan teknologi saat ini, refrigeran (bahan
pendingin) yang di pasarkan dituntut untuk ramah lingkungan, disamping aspek
teknis lainnya yang diperlukan. Apapun refrigeran yang dipakai, semua memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing oleh karena itu, diperlukan kebijakan
dalam memilih refrigerant yang paling aman berdasarkan kepentingan saat ini dan
masa yang akan datang. Pada sistem refrigerasi terdapat beberapa komponen
utama yaitu kompresor untuk menaikkan tekanan refrigeran, kondenser untuk
membuang panas dari refrigeran, alat ekspansi untuk menurunkan tekanan
refrigeran, dan evaporator untuk menyerap panas dari luar kedalam refrigeran.
Pada makalah ini akan dibahas lebih dalam mengenai sistem refrigerasi, baik itu
siklus siklus pada refrigerasi, macam macam refrigerant yang digunakan dalam
proses refrigerasi, dll.
1.2 Tujuan
a. Sebagai syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Termodinamika
b. Memahami prinsip kerja dari berbagai jenis siklus refrigerasi
c. Memahami konsep dasar perubahan bentuk energi di siklussiklus refrigerasi
d. Mengetahui jenis jenis dari refrigeran serta memilih refrigeran yang sesuai

1.3 Rumusan Masalah


a.Apakah yang dimaksud dengan mesin pendingin ?
b.Apa sajakah macam macam dari siklus Refrigerasi ?
1.4Manfaat
a.Mahasiswa dapat memahami prinsip kerja dari berbagai jenis siklus refrigerasi
b.Mahasiswa dapat memahami konsep dasar perubahan bentuk energi di siklus
refrigerasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Mesin Pendingin


Mesin Pendingin adalah suatu peralatan yang digunakan untuk

mendinginkan air, atau peralatan yang berfungsi untuk memindahkan panas dari
suatu tempat yang temperaturnya lebih tinggi. Di dalam sistem pendinginan dalam
menjaga temperatur rendah memerlukan pembuangan kalor dari produk pada
temperatur rendah ke tempat pembuangan kalor yang lebih tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan bahwa
fluida yang bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung menjadi lebih dingin
jika dibiarkan mengembang. Jika perubahan tekanan cukup tinggi, maka gas yang
ditekan akan menjadi lebih panas daripada sumber dingin di luar (contoh udara
diluar) dan gas yang mengembang akan menjadi lebih dingin daripada suhu
dingin yang dikehendaki. Dalam kasus ini, fluida digunakan untuk mendinginkan
lingkungan bersuhu rendah dan membuang panas ke lingkungan yang bersuhu
tinggi.
Siklus refrigerasi kompresi uap memiliki dua keuntungan. Pertama,
sejumlah besar energi panas diperlukan untuk merubah cairan menjadi uap, dan
oleh karena itu banyak panas yang dapat dibuang dari ruang yang disejukkan.
Kedua, sifat-sifat isothermal penguapan membolehkan pengambilan panas tanpa
menaikan suhu fluida kerja ke suhu berapapun didinginkan. Hal ini berarti bahwa
laju perpindahan panas menjadi tinggi, sebab semakin dekat suhu fluida kerja
mendekati suhu sekitarnya akan semakin rendah laju perpindahan panasnya.
Prinsip kerja mesin pendingin adalah jika motor penggerak berputar maka
akan memutar kompresor. Dengan berputar kompresor, refrigeran akan naik suhu
maupun tekanannya. Hal ini disebabkan molekul-molekul dari refrigeran bergerak
lebih cepat akibat proses kompresi. Gas dari refrigeran akan merambat pada pipa
pipa kondensor dan media pendinginan.

Pada bagian kondensor diusahakan adanya media pendinginan yang baik,


sebab dengan adanya pendinginan yang baik pada bagian kondensor akan
membantu memperlancar terjadinya proses kondensasi. Temperatur dan tekanan
gas refrigeran akan naik sampai keseimbangan dicapai. Setelah terjadi
keseimbangan proses kondensasi (pengembunan) gas refrigeran mengalir
menerusi saluran cairan tekanan tinggi menuju refrigeran control setelah melewati
drier strainer (saringan).
Siklus (daur) kompresi uap merupakan daur yang terbanyak digunakan
dalam sistem refrigerasi. Pada daur ini ditekan dan kemudian diembunkan
menjadi cairan, lalu tekanannya diturunkan agar cairan tersebut dapat menguap
kembali.
2.2.

Siklus Pendinginan
Waktu kompresor sedang bekerja suhu dan tekanan refrigeran yang

mengalir ke kondensor, pipa kapiler, dryer, evaporator akan menjadi tinggi. Klep
tekan (discharge valve) menjadi terbuka dan klep hisap (sunction tube) menutup,
dengan terbukanya klep tekan uap yang dipompa oleh kompresor keluar melalui
celah-celah klep tersebut dan masuk kedalam saluran tekan. Refrigeran yang
masuk kedalam pipa kondensor panasnya akan diserap oleh udara yang mengalir
melalui sela-sela pipa. Kondensor akan melepaskan panas dan mengubah
refrigeran yang bersuhu tinggi menjadi cairan bertekanan tinggi. Uap yang berada
dalam kondensor akan turun suhunya dengan tekanan yang tinggi dan menjadi
cairan. Cairan tersebut mengalir kedalam dryer dan capillary tube yang
mempunyai lubang diameter yang kecil sehingga tekanan diturunkan menjadi
rendah sesuai temperatur pada evaporator.
2.3.

Bahan Pendingin
Bahan pendingin atau refrigeran adalah suatu zat yang mudah diubah

wujudnya dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Untuk dapat terjadinya suatu
proses pendinginan diperlukan suatu bahan pendingin atau refrigeran yang

digunakan untuk mengambil panas dari evaporator dan membuangnya dalam


kondensor.
Terdapat berbagai jenis refrigeran yang digunakan dalam sistim kompresi uap.
Suhu refrigerasi yang dibutuhkan sangat menentukan dalam pemilihan fluida.
Refrigeran yang umum digunakan adalah yang termasuk kedalam keluarga
chlorinated fluorocarbons.
Bahan pendingin (refrigeran) banyak sekali macamnya, tetapi tidak
satupun yang dapat dipakai untuk semua keperluan pendinginan. Suatu bahan
pendingin mempunyai syaratsyarat untuk keperluan proses pendinginan antara
lain :
1. Tidak beracun dan tidak berbau dalam semua keadaan.
2. Tidak dapat terbakar atau meledak bila bercampur dengan udara,
minyak pelumas dan sebagainya
3.

Tidak menyebabkan korosi terhadap bahan logam yang dipakai pada


sistem pendingin.

4. Bila terjadi kebocoran mudah diketahui dengan alatalat yang


sederhana maupun dengan alat detector kobocoran.
5. Mempunyai titik didih dan tekanan kondensasi yang rendah.
6. Mempunyai kalor laten penguapan yang besar, agar panas yang diserap
evaporator sebesarbesarnya.
7. Viskositas dalam fase cair maupun fase gas rendah agar aliran
refrigeran dalam pipa sekecil mungkin.
8. Harganya tidak mahal dan mudah diperoleh.
9. Konduktifitas thermal yang tinggi.

10. Konstanta dieletrika dari refrigeran yang kecil, tahanan lisrtrik yang
besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik.
11. Tidak merusak tubuh manusia.

2.4 Katup Ekspansi Otomatik


Katup ekspansi otomatik digunakan untuk mengatur jumlah refrigeran yang
masuk pada evaporator dalam batas yang sama dengan kapasitas isap kompresor.
Selama sistem sedang bekerja, katup tersebut dapat mempertahankan tekanan
evaporator dan tekanan saluran isap tetap konstan, sehingga beban kompresor juga
menjadi konstan.
Pada dasarnya katup tersebut terdiri dari : jarum dan dudukanya, diafragma,
sebuah pegas dengan baut pengatur, sebuah saringan pada bagian masuk. Katup
ekspansi otomatik bekerja berdasarkan tekanan yang seimbang pada diafragma,
dari dua tekanan yang berlawanan dan saling mengimbangi. Prinsip kerja katup
ekspansi otomatik adalah apabila tekanan evaporator menekan diafragma keatas,
membuat lubang saluran refrigeran menutup.
2.5 Katup Ekpansi Termostatik
Katup ekspansi termostatik merupakan alat pengatur refrigeran yang paling
banyak dipakai untuk sistem pendinginan. Katup ekspansi tersebut dapat
mengatur jumlah refrigeran yang mengalir dalam evaporator sesuai dengan beban
evaporator yang maksimum pada setiap keadaan beban evaporator yang berubahubah. Katup ekspansi termostatik dapat mempertahankan uap panas lanjut yang
konstan.
Katup ekspansi tersebut tidak mengatur tekanan dan temperatur dalam
evaporator, tetapi mengontrol jumlah refrigeran yang mengalir masuk dalam

evaporator. Refrigeran yang mengalir melalui katup ekspansi termostatik lalu pada
evaporator, selain dikontrol oleh tekanan rendah dalam evaporator, juga oleh
temperatur dan tekanan pada akhir evaporator.

2.6 Macam-macam Siklus Kompresi Uap


1. Daur Refrigerasi Carnot
Daur ini merupakan keblikan dari mesin kalor, dimana energi disalurkan
dari suhu rendah menuju suhu yang lebih tinggi. Dengan kata lain daur
refrigerasi

membutuhkan

kerja

luar

untuk

dapat

bekerja.

Prosesproses yang membentuk daur Carnot adalah :


1 2 kompresi adiabatik
2 3 pelepasan kalor isotermal
3 4 ekspansi adiabatik
4 1 pemasukan kalor isotermal
Seluruh proses pada daur Carnot secara termodinamik bersifat
reversibel (dapat dibalik). Oleh karenanya proses 1 2 dan 3 4 bersifat
isentropik. Penyerapan kalor dari sumber bersuhu rendah pada proses 4 1
merupakan tujuan utama dari daur ini. Seluruh proses lainnya pada daur
berfungsi sedemikian rupa sehingga energi bersuhu rendah dapat dikeluarkan
ke lingkungan yang bersuhu lebih tinggi. Daur carnot ini terdiri dari proses
proses reversibel yang menjadikan efisiensinya menjadi lebih tinggi dari yang
dapat dicapai oleh daur nyata. Hal yang penting dari daur Carnot adalah daur
ini merupakan pembanding yang standar dan dengan daur tersebut

memberikan pedoman tentang suhu suhu yang harus dipertahankan


sehingga diperoleh keefektifan yang maksimum.
2. Daur Kompresi Uap Standar
Proses proses yang membentuk daur ini adalah :
1 2 kompresi adiabatik dan reversibel, dari uap jenuh menuju tekanan
kondensor.
2 3 pelepasan kalor reversibel pada tekanan konstan, menyebabkan
penurunan panas lanjut (desuperheating) dan pengembunan refrigeran.
3 4 ekspansi tidak reversibel pada entalpi konstan, dan cairan jenuh
menuju tekanan evaporator.
4 1 penambahan kalor reversibel pada tekanan tetap, yang menyebabkan
penguapan menuju uap jenuh
Untuk mengetahui prestasi Prestasi daur kompresi uap standar terlebih
dahulu harus diketahui beberapa besaran seperti : kerja kompresi, laju
pengeluaran kalor, dampak refrigerasi, koefisien prestasi, Coefficient of
Performance (COP). Istilah prestasi di dalam daur refrigerasi disebut dengan
Koefisien Prestasi. Yang didefinisikan sebagai perbandingan antara refrigerasi
yang bermanfaat terhadap kerja bersih, yang identik dengan jumlah hasil yang
diinginkan tgerhadap jumlah pengeluaran.
3. Daur kompresi Uap Nyata
Daur ini mengalami pengurangan efisiensi dibanding dengan daur
standar. Perbedaan penting antara daur nyata dengan daur standar terletak
pada penurunan tekanan di dalam kondensor dan evaporator, dalam
pembawahdinginan cairan yang meninggalkan kondensor, dan dalam
pemanasan lanjut uap yang meninggalkan evaporator. Daur standar dianggap
tidak mengalami penurunan tekanan pada kondensor dan evaporator. Tetapi

pada daur nyata, terjadi penurunan tekanan karena adanya gesekan. Akibat
dari penurunan tekanan ini, kompresi pada titik 1 dan 2 memerlukan lebih
banyak kerja dibanding dengan daur standar.
2.7 Cara Kerja
Cara kerja dari mesin pendingin dengan siklus refrigerasi kompresi uap adalah
sebagai berikut :
Fluida kerja dikompresikan di dalam kompresor dari tingkat keadaan 1 ke tingkat
keadaan 2, pada tekanan tinggi ini fluida kerja ini diembunkan di dalam
kondensor ke tingkat keadaan 3 dan kemudian diekspansikan dengan katup
ekspansi ke tingkat keadaan 4 dan berevaporasi di dalam evaporator kembali ke
tingkat keadaan 1.
Sistem pendinginan ini terdiri dari beberapa alat utama yang pokok untuk dapat
terjadinya proses kompresi uap, yaitu :
a. Kompresor, berfungsi untuk menaikkan tekanan refrigerant.
b. Kondensor berfungsi mendinginkan atau mengembunkan refrigerant berarti
terjadi panas yang dibuang di dalam kondensor.
c. Katup ekspansi, berfungsi untuk mengeskpansikan refrigerant secara entalpi
konstan dan tidak ada panas yang diserap maupun dibuang pada proses ekspansi
untuk menurunkan tekanan refrigerant.
d. Evaporator, berfungsi untuk memanaskan atau menguapkan refrigerant, berarti
ada panas yang diserap oleh refrigerant sehingga terjadi efek pendinginan pada
lingkungan sekitarnya.
Untuk mengetahui kemampuan mesin pendingin maka digunakan koefisien
performansi (Coefficient of Performance, COP), yang dimaksud dengan COP
adalah perbandingan antara efek pendinginan dan kerja yang dilakukan oleh
kompresor.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Siklus refrigerasi kompresi mengambil keuntungan dari kenyataan
bahwa fluida yang bertekanan tinggi pada suhu tertentu cenderung
menjadi lebih dingin jika dibiarkan mengembang. Prinsip kerja mesin
pendingin adalah jika motor penggerak berputar maka akan memutar
kompresor.

DAFTAR PUSTAKA
https://gregoriusagung.wordpress.com/2010/12/11/mesin-pendinginsiklus-kompresi-uap/
http://teknik-pendingin.blogspot.co.id/2008/09/sistim-refrigerasikompresi-uap.html
http://catatan-teknik.blogspot.co.id/2010/10/cara-kerja-airconditioner.html