Anda di halaman 1dari 6

KARAKTERISTIK DAN ANALISA LERENG

I.

PENDAHULUAN
Geomorfologi ilmu yang mempelajari tentang bentuk muka bumi, yang meliputi

pandangan luas sebagai cakupan satu kenampakan sebagai bentang alam (landscape) sampai
pada satuan terkecil sebagai bentuk lahan (landform). Lobeck (1939) dalam bukunya
Geomorphology: An Introduction to the study of landscapes . mengemukakan bahwa faktor faktor yang diperhatikan dalam mempelajari geomorfologi, yaitu: (1). Struktur (2). Proses dan (3). Stadia,
karena ketiga faktor tersebut dikenal sebagai prinsip-prinsip dasar geomorfologi dan merupakan satu kesatuan
dalam mempelajari geomorfologi.
Arti dan kedudukan ketiga faktor tersebut dalam studi geomorfologi yaitu Struktur untuk mempelajari
bentuk bentang alam suatu daerah, maka hal yang pertama harus diketahui adalah struktur geologi dari daerah
tersebut. Struktur geologi adalah faktor penting dalam evolusi bentang alam dan struktur itu tercerminkan pada
muka bumi, maka jelas bahwa bentang alam suatu daerah itu dikontrol/dikendalikan oleh struktur geologinya.
Proses adalah semua gaya yang berdampak terhadap penghancuran (perombakan) bentuk bentang alam yang
terjadi akibat gaya endogen. Stadia/tingkatan bentang alam (proses geomorfik) dinyatakan untuk mengetahui
seberapa jauh tingkat kerusakan yang telah terjadi dan dalam tahapan/stadia apa kondisi bentang alam saat ini.
Untuk menyatakan tingkatan digunakan istilah: (1) Muda, (2) Dewasa dan (3) Tua. Sehubungan dengan
prinsip-prinsip dasar geomorfologi, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai Karakteristik
dan Analisa Lereng.

II. KARAKTERISTIK DAN ANALISA LERENG


Lereng adalah kenampakan permukaan alam yang disebabkan adanya beda tinggi, bentuk
lereng bergantung pada proses erosi, gerakan tanah dan pelapukan. Bentuk lereng merupakan
cerminan proses geomorfologi eksogen atau endogen yang berkembang pada suatu daerah dan secara garis
besar dapat dibedakan menjadi : - Bentuk lereng cembung. - Bentuk lereng lurus - Bentuk lereng cekung.
Bentuk lereng cembung biasanya terjadi pada daerah - daerah yang disusun oleh material - material
batuan yang relatif keras atau sisa - sisa gawir sesar atau bidan longsoran (mass wasting) yang telah
tererosi pada bagian tepi atasnya. Bentuk lereng lurus, biasanya terjadi pada daerah - daerah lereng vulkanik
yang disusun oleh material - material vulkanik halus atau bidang longsoran (landslide). Bentuk lereng cekung
biasanya terjadi pada daerah - daerah yang disusun oleh material - material batuan lunak atau bidang longsoran
(slump). Untuk menyatakan tingkatan (proses geomorfik) digunakan istilah: (1) Muda, (2) Dewasa dan
(3) Tua.
Muda

Dewasa

Tua

Gambar. Siklus geomorfologi Muda, Dewasa, dan Tua

Proses geomorfologi endogen yang membentuk perbukitan intrusi dan gunungapi adalah sebagai
berikut :
1. Bentuk lahan perbukitan intrusi :
Bentuk perbukitan menyerupai kubah dan berpola terpisah (soliter).
Pola aliran radial sentripetal (menyebar keluar dari titik pusat).
Bentuk lereng relatif cembung.
Garis kontur pada peta topografi relatif rapat.

2. Bentuk lahan perbukitan struktural


a) Perlipatan :
Bentuk perbukitan memanjang.
Pola aliran paralel dan rektangular.
Bentuk lereng hampir lurus dan simetris pada sisi yang berlawanan.
Garis kontur pada peta topografi relatif renggang.
b) Patahan (sesar normal dan sesar naik) :

Bentuk perbukitan tidak menerus dan tidak simetris.

Pola aliran paralel atau rektangular.

Bentuk lereng relatif cekung dan tidak simetris pada kedua lereng yang
berlawanan.

Garis kontur pada peta topografi pada bagian patahan sangat rapat.

c) Patahan (sesar geser) :

Bentuk perbukitan berbelok atau tergeser (tidak menerus).

Pola aliran rektangular.

Bentuk lereng lurus dan tidak beraturan.

Garis kontur pada peta topografi renggang sampai rapat.

3. Bentuk lahan gunungapi (vulkanik):


a. Bentuk pegunungan kerucut.
b. Pola aliran radial pada bagian puncak dan pola aliran pada lereng tengah sampai lereng bawah
lurus (elongate).
c. Memiliki kawah dan lubang kepundan.
Garis kontur pada peta topografi pada bagian puncak relatif rapat, dan pada bagian lereng tengah
sampai lereng bawah agak renggang sampai renggang
Lereng merupakan bagian dari bentuk lahan yang dapat memberikan informasi
kondisi-kondisi proses yang berpengaruh terhadap bentuk lahan, sehingga dengan
memberikan penilaian terhadap lereng tersebut dapat ditarik kesimpulan dengan tegas
mengenai tata nama satuan geomorfologi secara rinci.

Ukuran penilaian lereng dapat dilakukan terhadap kemiringan lereng dan panjang lereng,
sehingga tata nama satuan geomorfologi dapat lebih dirinci dan tujuan-tujuan tertentu, seperti
perhitungan tingkat erosi, kestabilan lereng dan perencanaan wilayah dapat dikaji lebih lanjut.
Ukuran kemiringan lereng untuk menilai suatu bentuk lahan adalah sebagai berikut :

Klasifikasi Relief menurut van Zuidam, 1985


Sudut Lereng

Beda Tinggi

(%)

(M)

Datar atau hampir datar

02

<5

Bergelombang/miring landai

37

5 50

Bergelombang/miring

8 13

50 75

Berbukit bergelombang/miring

14 20

75 200

Berbukit tersayat tajam/terjal

21 55

200 500

Pegunungan
tajam

56 140

500 1000

>140

>1000

Satuan Relief

tersayat

tajam/sangat

Pegunungan /sangat curam

Perlapisan batuan yang miring searah


lereng rentan terhadap gerakan massa.
Bertambahnya sudut lereng akibat
aktivitas sungai, bertambahnya beban
massa batuan akibat bertambahnya
kandungan air, dapat memicu terjadinya
gerakan massa.

Bidang retakan miring searah lereng


rentan terhadap gerakan massa.
Bertambahnya lebar bidang retakan
akibat pelapukan kimiawi dapat
mengurangi kuat geser batuan dan
menjadi faktor pemicu terjadinya
gerakan massa.
Gambar. Faktor Geologi dalam Kestabilan Lereng

DAFTAR PUSTAKA
A.K Lobeck. 1939, Geomorphology: An Introduction to the Study of Landscapes.
Anugrahadi, Ir. Afiat. 2002, Buku Pedoman Praktikum Geomorfologi dan Geologi Foto .
Universitas Trisakti , Jakarta
Sampurno, Buku Kumpulan Edaran Kuliah Geomorfologi, Jurusan Teknik Geologi, Institut
Teknologi Bandung, Bandung
Van Zuidam. R. A.. 1983, Guide to Geomorfhology Ariel Photographic Interpretation and
Mapping, ITC Enschede The Nederland. Desaunettes, J. R., 1977. Cataloque of
Landforms for Indonesia, FAO/UNDP Land Capability Apraisol Project Paper No. 13.
Sri, Bogor.
Van Zuidam, R. A.., 1985. Aerial Photo Interpretation in Terrain Analysis and
Geomorphologic Mapping. Smith Publisher, The Hague, ITC.

Wikipedia.org, Karakteristik Lereng, http://en.wikipedia.org/wiki/Karakteristik Lereng


Wikipedia.org, Geomorfologi, http://en.wikipedia.org/wiki/Geomorfologi