Anda di halaman 1dari 5

Nama

Kelas / Semester
Pekerjaan
Jam Penyerahan

: Zico Rochman Afif


: Ekonomi Syariah / VI
: Tenaga Kependidikan
: _________

PSIKOLOGI INDUSTRI

PENGERTIAN.
Psikologi industry/organisasi merupakan suatu ilmu yang di dalam psikologi, adapun
pengertian dari psikologi industry/organisasi dari beberapa tokoh, yaitu:
1. Guion (1983), Psikologi industri organisasi adalah studi tentang hubungan antara
manusia dengan dunia kerja. Riset terhadap manusia kemana mereka pergi, mereka
bertemu dan apa yang mereka lakukan untuk memenuhi kehidupannya.
2. lum dan Taylor (1968), Psikologi industri organisasi adalah aplikasi yang simple atau
pendalaman dari fakta-fakta dan prinsip-prinsip psikologis yang berkaitan dengan manusia
dalam konteks bisnis dan industri.
3. A.S. Munandar (1994), Psikologi industri organisasi adalah ilmu yg mempelajari
perilaku manusia dalam peranannya sebagai tenaga kerja & konsumen baik secara
perorangan maupun secara kelompok.
4. Munsterberg (dalam Berry 1998) adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia
dalam dunia kerja.
Jadi Psikologi industry dan organisasi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam
perannya sebagai tenaga kerja dan konsumen yang baik secara perorangan maupun secara
kelompok untuk kepentingan dan kemanfaatan bersama.

TEORI-TEORI PSIKOLOGI INDUSTRI


1. Teori Connectionist
Teori connectionist (keterkaitan) didasarkan pada asosiasi antara rangsangan dan
jawaban; pembelajaran dipostulasi sebagai suatu pengembangan perilaku (jawaban) sebagai
hasil dari suatu subjek dipaparkan kepada suatu rangsang. Persepsi dan penyadaran (insight)
tidak dianggap sebagai pengaruh yang bermakna dalam proses pembelajaran. Termasuk dalam
teori keterkaitan ini adalah Classical conditioning, Pavlov dan penganutnya, reinforcement
theory dan operant conditioning.

-PSIKOLOGI INDUSTRI-

2. Teori Cognitive
Teori ini mencakup proses penyadaran / pemahaman (insight) dan kognitif
(pengenalan). Para cognitivist menolak proposisi bahwa perilaku manusia hanya didasarkan
pada rangsang-jawaban (stimulus response). Menurut Chisnall (1995) para cognitivist
memandang pembelajaran sebagai proses dari merestruktur pengetahuan yang telah ada pada
seseorang dalam kaitannya dalam masalah khusus. Penstrukturan kembali dari persepsi
menghasilkan suatu penyadaran/pemahaman, yang merupakan cirri yang menonjol dari suatu
kegiatan intelektual.
Teori kognitif dari pembelajaran sangat bermakna karena mereka memperhatikan
pembentukan dan akibat/pengaruh sikap terhadap perilaku, dan orang dianggap sebagai
pemecah masalah yang aktif yang dipengaruhi oleh lingkungannya.

3. Teori Contingency
Model contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967).
Dalam teori ini menyebutkan bahwa tinggi rendahnya prestasi kerja suatu kelompok
dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin yang sejauh mana pemimpin dapat
mengendalikan dan mempengaruhi suati situasi tertentu.

4. Teori Hierarchical Needs


Teori ini dicetuskan oleh Abraham Maslow. Menurut Maslow kondisi manusia berada
pada kondisi mengejar yang berkesinambung. Jika satu kebutuhan terpenuhi maka langsung
kebutuhan tersebut diganti oleh kebutuhan yang lain. Ada lima kelompok kebutuhan, yaitu :
Kebutuhan Fisiologikal
Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan sosial
Kebutuhan akan harga diri, dan
Kebutuhan untuk aktualisasi diri.

5. Teori Mc. Clelland (Teori Motivasi Berprestasi)


a. Need For Achievment
Ada beberapa orang yang memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil. Mereka lebih
mengejar prestasi pribadi daripada imbalan terhadap keberhasilan. Mereka bergairah untuk
melakukan sesuatu lebih baik dan lebih efisien jika dibandingkan dengan hasil sebelumnya.

-PSIKOLOGI INDUSTRI-

b. Need For Affiliation


Kebutuhan akan kehangatan dan sokongan dalam kehidupannya atau hubungannya
dengan orang lain. Kebutuhan ini akan mengarahkan tingkah laku individu untuk melekukan
hubungan yang akrab dengan orang lain. Orang-orang dengan need affiliation yang tinggi ialah
orang yang berusaha mendapatkan persahabatan.

c. Need For Power


Adanya keinginan yang kuat untuk mengendalikan orang lain, intuk mempengaruhi
orang lain dan untuk memiliki dampak terhadap orang lain.

6. Teori Dua Faktor


Teori ini dinamakan juga teori hygiene-motivation. Teori ini dikembangkan oleh Hezberg.
Hezberg menemukan bahwa factor-faktor yang menimbulkan kepuasan kerja berbeda dengan
faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor yang menimbulkan
kepuasan kerja dinamakan faktor motivator, yang merupakan faktor intrinsic dari pekerjaan
yaitu :
a. Tanggung jawab
b. Kemajuan
c. Pekerjaan itu sendiri
d. Capaian
e. Pengakuan.
Sedangkan faktor-faktor yang menimbulkan ketidakpuasan berkaitan dengan konteks dari
pekerjaan, dengan faktor-faktor ekstrinsik dari pekerjaan, dan meliputi faktor-faktor :
a. Administrasi dan kebijakan perusahaan
b. Penyeliaan
c. Gaji
d. Hubungan antarpribadi
e. Kondisi kerja.
7. Teori Keadilan (Equity Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Adams mengungkap batasan tentang apa yang dianggap
adil atau wajar oleh orang dalam kebudayaan kita ini, dan dengan reaksi-reaksi mereka kalau
berada dalam situasi-situasi yang dipersepsikan sebagai tidak adil/wajar. Salah satu asumsi dari
Adams ialah bahwa jika orang melakukan pekerjaannya dengan imbalan gaji/penghasilan,
mereka memikirkan tentang apa yang mereka berikan pada pekerjaannya (masukan) dan apa
yang mereka terima untuk keluaran kerja mereka.

-PSIKOLOGI INDUSTRI-

KONTRIBUSI PSIKOLOGI TERHADAP PENDIDIKAN

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah
digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah
memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan
kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.

Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum. Kajian psikologi


pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan
dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari
berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini
memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan out pendidikan dapat berjalan
dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik. Secara psikologis,
manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian

psikologis dalam

pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap


individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan
serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya. Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu
menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan
potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan
saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya
pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam
kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus
menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian dalam
pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan
aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks; (2)
pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning outcomes), dan (4) standarisasi
kemampuan siswa

Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran Kajian psikologi pendidikan


telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya
sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti: teori classical conditioning, connectionism,
operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya.
Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada
kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses
-PSIKOLOGI INDUSTRI-

pembelajaran. Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah
prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo, 2002)
mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
a. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan.
b. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan
karena dipaksakan oleh orang lain.
c. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan
tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
d. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
e. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
f. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
g. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk
pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya. Seseorang memerlukan bantuan dan
bimbingan dari orang lain.
h. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami.
Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
i. Di samping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar
tujuan-tujuan lain.
j. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
k. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
l. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian Penilaiain pendidikan
merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat
keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan
perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau
pembelajaran tertentu. Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata
dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah
dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat
maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini
masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude
Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya. Pemahaman
kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian

lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan
proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai
perkembangan individu yang optimal. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan
psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

-PSIKOLOGI INDUSTRI-