Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi ekonomi global terutama perekonomian China yang menjadi andalan Asia
Tenggara diperkirakan belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, pendapatan masyarakat
menurun sehingga daya beli konsumen merosot dan akhirnya berdampak pada ekonomi
nasional yang hanya tumbuh 4,8 % pada tahun 2015, lebih rendah dibandingkan dengan
tahun sebelumnya 5,02 %. Meski demikian, kinerja sektor industri ternyata cukup tinggi
sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi (Kementerian Perindustrian, 2015).
Pada tahun 2016, berdasarkan kajian Kemenperin, beberapa sektor manufaktur
ditargetkan menjadi penggerak pertumbuhan industri. Salah satu sektor tersebut ialah
industri kimia yang pertumbuhannya diperkirakan sebesar 8,5 - 8,7 %. Pertumbuhan ini
relatif tinggi karena meningkatnya kebutuhan bahan kimia dari berbagai kelompok
industri, contohnya industri asam sitrat yang merupakan salah satu penyokong utama
dalam industri makanan dan minuman.

IMPOR ASAM SITRAT


50000000
40000000

Kapasitas (Kg)

30000000
20000000
10000000
0

32088647
2013

38789049

40158908

2014

2015

Tahun

Industri asam sitrat merupakan industri hulu yang memproduksi asam sitrat melalui proses
fermentasi dengan mikrorganisme. Asam sitrat digunakan luas sebagai bahan baku
produksi seperti industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, dan produk kimia lainnya
(Vandenberghe dkk, 1999). Asam sitrat memiliki harga jual yang murah sehingga asam
sitrat mengalami kenaikan permintaan (Soccol dkk, 2006). Kenaikan permintaan di
Indonesia dapat ditinjau dari impor asam sitrat yang meningkat, hal ini dapat dilihat pada
Gambar 1.1. Namun, semua kebutuhan asam sitrat di Indonesia dipenuhi oleh impor
karena tidak adanya produsen asam sitrat dalam negeri.

Gambar 1.1 Grafik Impor Asam Sitrat Indonesia


Sumber : Badan Pusat Statistika
Dengan demikian, peluang pendirian pabrik asam sitrat sangatlah besar. Industri ini
akan membantu mengurangi impor, memenuhi kebutuhan bahan baku berbagai industri
dalam negeri, dan bila memungkinkan untuk komoditas ekspor yang dapat meningkatkan
devisa negara.
1.2 Bahan Baku
Asam sitrat ialah asam organik lemah yang diproduksi secara komersial melalui
fermentasi dengan mikroorganisme pada temperatur 27-30 C (suhu kamar). Zat pati
dihidrolisis menjadi monosakarida lalu dikonversi menjadi asam sitrat (Berovic dkk,
2007).
Beberapa bahan baku yang umum digunakan dalam industri berupa sukrosa atau
molase dengan menggunakan teknik fermentasi submerged. Namun, saat ini telah banyak
dikembangkan teknik fermentasi padat yang memiliki lebih banyak kelebihan
dibandingkan dengan fermentasi submerged. Bahan baku yang dapat digunakan pada
teknik fermentasi padat ialah limbah atau produk samping dari proses lain yang
mengandung zat pati seperti ampas tebu, ampas singkong, cangkang sawit, dan kulit kopi
(Prado dkk, 2005).
Menurut Vandenberghe dkk 1999, Subtrat yang menghasilkan konversi asam sitrat
tertinggi melalui teknik fermentasi padat ialah ampas singkong dibandingkan dengan
ampas tebu dan kulit kopi. Hal ini disebabkan jumlah komposisi zat pati dalam ampas
singkong lebih banyak dibandingkan subtrat lainnya dan banyak protein seperti thiamine
and niacin. Ampas singkong di Indonesia memiliki zat penyusun sebagai berikut :
Tabel 1.1 Komposisi Zat Penyusun Ampas Singkong di Indonesia
Zat Penyusun
karbohidrat
Protein
Lemak
Serat
Air

Persentase (%)
67,93 - 68,30
1,45 1,70
0,22 0,30
9,42 10,54
19,70 20,20%

Sumber : Hendri, 1999


Ampas singkong merupakan limbah dari industri tapioka. Ketersediaan ampas
singkong meningkat seiring dengan bertambahnya produksi tepung tapioka. Produksi
tepung tapioka di Indonesia sebesar Menurut Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
Provinsi Lampung (2003), setiap produksi 250 kg tepung tapioka akan dihasilkan 114
kg ampas. Maka, ampas tapioka yang dihasilkan sebesar per tahun.

Ampas singkong banyak digunakan sebagai pengganti pakan ternak karena memiliki
nilai gizi yang sama dengan dedak, namun hanya dijual dengan harga murah. Oleh karena
itu, nilai jual ampas singkong akan meningkat apabila diolah menjadi asam sitrat.
Maka dari itu, bahan baku yang dipilih untuk memproduksi asam sitrat adalah ampas
singkong yang diperoleh dari pabrik tepung tapioka karena menghasilkan konversi tinggi
dan keberadaannya yang melimpah, serta menambah nilai ekonomis pada ampas singkong
itu sendiri.
Beberapa mikroorganisme berupa bakteri, jamur, dan ragi dapat menghasilkan asam
sitrat. Akan tetapi, asam sitrat yang dihasilkan tidak dapat meningkat kecuali pada kondisi
mikroorganisme yang drastis dan tidak stabil. Sedangkan, jamur Aspergillus niger dapat
menghasilkan asam sitrat secara kontinu dan memiliki beberapa kelebihan yaitu
penanganan yang mudah, keberagaman bahan baku, dan konversi yang tinggi.Oleh karena
itu, A. niger secara umum digunakan pada pabrik asam sitrat. A. niger memiliki beragam
strain dan menghasilkan konversi optimum pada bahan baku tertentu. Untuk pembuatan
asam sitrat menggunakan bahan baku ampas singkong, digunakan A. niger LPB-21 dengan
yield 67% (Vandenberghe dkk, 1999).