Anda di halaman 1dari 88

Pengertian Termoregulasi

Termoregulasi

adalah

Suatu

pengaturan

fisiologis

tubuh

manusia

mengenai

keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat
dipertahankan secara konstan.
Keseimbangan suhu tubuh diregulasi oleh mekanisme fisiologis dan prilaku. Agar suhu
tubuh tetap konstan dan berada dalam batasan normal, hubungan antara prodksi panas dan
pengeluaran panas harus dipertahankan. Hubungan diregulasi melalui mekanisme neurologis
dan kardiovaskular. Perawat menerapkan pengetahuan mekanisme kontrol suhu untuk
meningkatkan regulasi suhu.
Hipotalamus yang terletak antara hemisfer serebral, mengontror suhu tubuh
sebagaimana kerja termostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan perubahan ringan pada
suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontror pengeluaran panas, dan hipotalamus posterior
mengontror produksi panas.
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi termoregulasi
Banyak faktor yang mempengaruhi suhu tubuh. Perubahan pada suhu tubuh dalam
rentang normal terjadi ketika hubungan antara produksi panas dan kehilangan panas diganggu
oleh variabel fisiologis atau prilaku. Berikut adalah faktor yang mempengarui suhu tubuh :
a. Usia
Pada saat lahir, bayi meninggalkan lingkungan yang hangat, yang relatif konstan, masuk
dalam lingkungan yang suhunya berfluktuasi dengan cepat.suhu tubuh bayi dapat berespon
secara drastis terhadap perubahan suhu lingkungan. Bayi baru lahir mengeluaran lebih dari
30% panas tubuhnya melalui kepala oleh karena itu perlu menggunakan penutup kepala
untuk mencegah pengeluaran panas. Bila terlindung dari ingkungan yang ektrem, suhu tubuh
bayi dipertahankan pada 35,5 C sampai 39,5C. Produksi panas akan meningkat seiring
dengan pertumbuhan bayi memasuki anak-anak. Perbedaan secara individu 0,25C sampai
0,55 C adalah normal (Whaley and Wong, 1995).
Regulasi suhu tidak stabil sampai pubertas. Rentang suhu normal turun secara berangsur
sanpai seseorang mendekati masa lansia. Lansia mempunyai rentang suhu tubuh lebih sempit
daripada dewasa awal. Suhu oral 35 C tidak lazim pada lansia dalam cuaca dingin. Nmun
rentang shu tubuh pada lansia sekitar 36 C. Lansia terutama sensitif terhadap suhu yang
ektrem karena kemunduran mekanisme kontrol, terutama pada kontrol vasomotor ( kontrol

vasokonstriksi dan vasodilatasi), penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas


kelenjr keringat dan penurunan metabolisme.
b. Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dalam pemecahan karbohidrat dan
lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan produksi panas. Segala jenis
olahraga dapat meningkatkan produksi panas akibatnya meningkatkan suhu tubuh. Olahraga
berat yang lama, seperti lari jaak jauh, dapat meningatkan suhu tubuh untuk sementara
sampai 41 C.
c. Kadar hormon
Secara umum, wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar dibandingkan
pria. Variasi hormonal selama siklus menstruasi menyebabkan fluktuasi suhu tubuh.
Kadarprogesteron meningkat dan menurun secara bertahap selama siklus menstruasi. Bila
kadar progesteron rendah, suhu tubuh beberapa derajat dibawah kadar batas. Suhu tubuh yang
rendah berlangsung sampai terjadi ovulasi. Perubahan suhu juga terjadi pada wanita
menopause. Wanita yang sudah berhenti mentruasi dapat mengalami periode panas tubuh dan
berkeringat banyak, 30 detik sampai 5 menit. Hal tersebut karena kontrol vasomotor yang
tidak stabil dalam melakukan vasodilatasi dan vasokontriksi (Bobak, 1993)
d. Irama sirkadian
Suhu tubuh berubah secara normal 0,5 C sampai 1 C selama periode 24 jam.
Bagaimanapun, suhumerupakan irama stabil pada manusia. Suhu tubuh paling rendah
biasanya antara pukul 1:00 dan 4:00 dini hari. Sepanjang hari suhu tubuh naik, sampai seitar
pukul 18:00 dan kemudian turun seperti pada dini hari. Penting diketahui, pola suhu tidak
secara otomatis pada orang yang bekerja pada malam hari dan tidur di siang hari. Perlu waktu
1-3 minggu untuk perputaran itu berubah. Secara umum, irama suhu sirkadian tidak berubah
sesuai usia. Penelitian menunjukkan, puncak suhu tubuh adalah dini hari pada lansia
(lenz,1984)
e. Stres
Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan
persarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas saat masuk
rumah sakit atau tempat praktik dokter, suhu tubuhnya dapat lebih tinggi dari normal
f.

Lingkungan

Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji dalam ruangan yang sangat
hangat, klien mungkin tidak mampu meregulasi suhu tubuh melalui mekanisme pengluaranpanas dan suhu tubuh akan naik. Jika kien berada di lingkungan tanpa baju hangat, suhu tubh
mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas yang konduktif. Bayi
dan lansia paling sering dipengaruhi oleh suhu lingkungan karena mekaisme suhu mereka
kurang efisien.

Perubahan suhu
Perubahan suhu tubuh di luar rentang normal mempengaruhi set point hipotalamus.
Perubahan ini dapat berhubungan dengan produksi panas yang berlebihan, pengeluaran panas
yang berlebihan, produksi panas minimal. Pengeluaran panas minimal atau setiap gabungan
dari perubahan tersebut. Sifat perubahan tersebut mempengauhi masalah klinis yang dialami
klien.

a.

Demam
Demam atau hiperpireksia terjadi karena mekanisme pengeluara panas tidak mampu
untuk

mempertahankan

mengakibatkan

kecepatan

peningkatan

suhu

pengeluaran
tubuh

kelebihan

abnormal.

produksi

Tingkat

panas,

ketika

yang
demam

mengancamkesehatan seringkali merupkan sumber yang diperdebatkan di antara pemberi


perawatan kesehatan. Demam biasanya tidak berbahaya jika berada pada suhu dibawah 39
C. Pembacaan suhu tunggal mungkin tidak menandakan demam. Davis dan lentz (1989)
merekomendasikan untuk menentukan demam berdasarkan beberapa pembacaan suhu dalam
waktu yang berbeda pada satu hari dibandingkan dengan suhu normal tersebut pada waktu
yang sama, di samping terhadap tanda vital dan gejala infeksi. Demam sebenarnya
merupakan akibat dari perubahan set point hipotalamus.
b. Kelelahan akibat panas
Kelelehan akibat panas terjadi bila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan
cairan dan elektrolit secara berlebih. Disebabkan oleh lingkungan yang terpajan panas. Tanda
dan gejala kurang volume cairan adalah hal yang umum selama kelelehan akibat panas.
Tindakan pertama yaitu memindahkan klien ke lingkungan yg lebih dingin serta memperbaiki
keseimbangan cairan dan elektrolit.
c.

Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh sehubungan

dengan ketidakmampuan tubuh

untuk

meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas adalah hipertermia. Setiap

penyakit atautrauma pada hipotalamus dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas.


Hipertermia malignan adalah kondisi bawaan tidak dapat mengontrol produksi panas, yang
terjadi ketika orang yang rentan menggunakan obat-obatan anestetik tertentu.
d. Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat
mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstroke, kedaruratan
yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yg tinggi. Klien berisiko termasuk yang
masih sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme,
diabetes atau alkoholik. Yang juga termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat
yang menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas (mis. Fenotiasin,
antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta- adrenergik) dan mereka
yang menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. Atlet, pekerja kontruksi dan
petani). Tanda dan gejala heatstroke termasuk gamang, konfusi, delirium, sangat haus, mual,
kram otot, gangguan visual, dan bahkan inkotinensia. Tanda yang paling dari heatstroke
adalah kulit yang hangat dan kering.
Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangn elektrolit sangat berat dan
malfungsi hipotalamus. Heatstroke dengan suhu lebih besar dari 40,5 C mengakibatkan
kerusakan jaringan pada sel dari semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh
kadang-kadang setinggi 45 C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ
yang terlebih dahulu terkena karena sensitivitasnyaterhdap ketidakseimbangan elektrolit. Jika
kondisi terus berlanjut, klien menjadi tidak sadar, pupil tidak reaktif. Terjadi kerusakan
nourologis yang permanen kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai.
e.

hipotermia
pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin mempengaruhi
kemampuan tubuh untuk memproduksi panas, mengakibatkan hipotermia. Hipotermia
diklasifikasikan melalui pengukuran suhu inti. Hal tersebut dapat terjadi kebetulan atau tidak
sengaja selama prosedur bedah untuk mengurangi kebutuhan metabolik dan kebutuhan tubuh
terhada oksigen.
Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan tidak diketahui selama
beberapa jam. Ketika suhu tubuh turun menjadi 35 C, klien menglami gemetar yang tidak
terkontrol, hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menila. Jika suhu tubuh turun di bawah
34,4 C, frekuensi jantung, pernafasan, dan tekanan darah turun. kulit menjadi sianotik.

2.3 Askep klien dengan gangguan termoregulasi


Perubahan fisiologi tentang regulasi suhu tubuh membantu perawat untuk mengkaji
respons klien terhadap gangguan tubuh dan dapat dilakukan tindakan secara aman. Tindakan
mandiri dapat meningkatkan kenyamanan. Tindakan ini menambah efek terapi pengobatan
selama sakit. Banyak tindakan yang juga dapat diajarkan kepada anggota keluarga, orang tua
anak atau pemberi perawatan lain.
a.

Pengkajian

Tempat
Ada banyak tempat untuk mengkaji suhu inti dan permukaan tubuh. Suhu inti dari arteri
paru, esofagus dan kandung kemih digunakan untuk perawatan intensif. Pengukuran ini
membutuhkan peralatan yang di psang invasif secara terus-menerus dalam rongga atau organ
tubuh. Peralatan ini haus memiliki pembacaan akurat yang secara cepet dan terus-menerus
menunjukkan pembacaan pada monitor elektronik.
Tempat yang paling sering digunakan untuk pengukuran suhu ini juga invasif tetapi
dapat digunakan secara intermiten. Termasuk membran timpani, mulut rektum dan aksila.
Lapisan termometer noninvasif yang disiapkan secara kimia juga dapat digunkan pada kulit.
Tempat pengukuran seperti oral, rektal, aksila dan kulit menghandalkan sirkulasi efektif darah
pada tempat pengukuran.panas dari darah di alirkan ke alat termometer. Suhu timpani
mengandalkan radiasi panas tubuh erhadap sensor inframerah. Karena suplai darah arteri
membran timpani dianggap sebagai suhu inti.
Untuk memastikan bacaan suhu yang akurat, setiap tempat harus diukur dengan akurat.
Variasi suhu yang didapatkan bergantung pada tempat pengukuran, tetapi harus antara 36 C
dan 38 C. Walaupun temuan riset dari banyak dari banyak didapati pertentangan; secara
umum diterima bahwa suhu rektal biasanya 0,5 C lebih tinggi dari suhu oraldan suhu aksila
0,5 C lebih rendah dari suhu oral. Setiap tempat pengukuran tersebut memiliki keuntungan
dan kerugian. Perawat memilih tempat yang paling aman dan akurat untuk pasien. Perlu
dilakukan pengukuran pada tempat yang sama bila pengukuran tersebut di ulang.

Termometer
Ada tiga jenis termometer yang digunakan untuk menentukan suhu tubuh adalah air
raksa-kaca, elektronik dan sekali pakai. Perawat bertanggung jawab untuk banyak menetahui
dan terampil dalam menggunakan alat ukur yang dipilih. Tingkat pendidikan inservice dapat
mempengaruhi keakuratan dan reabilitas pembacaan suhu. Setiap alat pengukuran

menggunakan derajat celsius atau skala fahrenheit. Termometer elektronik membuat perawat
dapat mengonversi skala dengan cara mngaktifkan tombol.
Termometer air raksa-kaca
Termometer air raksa-kaca adalah termometer yang paling dikenal, telah digunakan sejak
abad ke-15. termometer tersebut terbuat dari kaca yang pada salah satu ujungnya ditutup dan
jung lainya dengan bentolan berisi air raksa. Ada 3 jenis termometer kaca, yaitu oral
( ujungnya ramping), stubby, dan rektal (ujungnya berbentuk buah pir). Ujung termometer
oral langsing, sehingga memungkinkan pentolan lebih banyak terpapar pada pembuluh darah
di dalam mulut. Termometer oral biasanya memiliki ujung berwarna biru. Termometer stubby
biasanya lebih pendek dan lebih gemuk dari pada jenis oral. Dapat digunakan mengukur suhu
dimana saja. Termometer rektar memiliki ujung yang tumpul atau runcing, untuk mencegah
trauma terhadap jaringan rektal pada saat insersi. Termometer ini biasanya di kenali dengan
ujung yang berwarna merah. Keterlambatan waktu pencatatan dan dan mudah pecah
merupakan kerugian dari termometer air raksa-kaca. Keuntungan dari termometer air raksakaca adalah harga murah, mudah diperoleh, dan banyak tersedia.
Termometer elektronik
Termometer elektronik terdiri atas unit tampilan tenaga batere yang dapat diisi ulang,
kabel kawat yang tipis dan alas yang memproses suhu yang dibungkus dengan kantung
plastik sekali pakai. Salah satu bentuk termometer elektronik menggunakan alat seperti
pensil. Probe tersendiri yang anti pecah tersedia untuk oral dan rektal. Probe untuk oral dapat
juga digunakan untuk mengukur suhu di aksila. Selama 20 sampai 50 detik dari insersi,
pembacaan terlihat pada unit tampilan tanda bunyi yang terdengar bila puncak pembacaan
suhu terukur.
Bentuk lain dari termometer elektronik digunakan secara khusus untuk pengukuran
timpanik. Spekulum otoskop dengan ujung sensor inframerah mendeteksi penyebaran panas
dari membran timpani. Dalam 2 sampai 5 detik dari mulai dimasukkan ke dalam kanal
auditorius, hasilnya terlihat pada layar. Tanda bunyi terdengar saat puncak bacaan suhu telah
tercapai.
Termometer sekai pakai
Termometer sekali pakai dan penggunaan tunggal berbentuk strip kecil yang terbuat dari
plastik dengan sensor suhu pada salah satu ujungnya. Sensor tersebut terdiri atas matrik dari
lekukan seperti titik yang mengandung bahan kimia yang larut dan berubah warna pada

perbedaan suhu. Digunakan untuk suhu oral dan aksila, terutama pada anak-anak. Dipakai
dengan cara yang sama dengan termometer aksila dan digunakan hanya sekali. Waktu yang
dibutuhkan untuk menunjukkan suhu hanya 60 detik (Ericksonet al, 1996). Termometer di
ambil dan dibaca setelah sekitar 10 detik supaya stabil.
Bentuk lain dari termometer sekali pakai adalah koyo (patch) atau pita sensitif suhu.
Digunakan pada dahi atau abdomen, koyo akan berubah warna pada suhu yang berbeda.
Kedua jenis termometer sekali pakai ini berguna untuk mengetahi suhu, khususnya pada
bayi yang baru lahir.
b. Diagnosa keperawatan
Perawat mengkaji temuan pengkajian dan mengelompokkan karateristik yang ditentukan
untuk membuat diagnosa keperawatan. Misalnya, pada peningkatan suhu tubuh, kulit
kemerahan, kulit hangat saat disentuh, dan takikardia menandakan diagnosis, hipertermia.
Diagnosis keperawatan mengidentifikasi risiko klien terhadap perubahan suhu tubuh atau
perubahan suhu yang aktual. Jika klien memiliki faktor resiko, perawat meminimalkan atau
menghilangkan faktor yang meningkatkan perubahan suhu. Pengkajian suhu di batas
normalmengarah pada diagnosa keperawatan.
Pada contohnya hipertermia, faktor yang berhubungan dengan aktivitas yang berat akan
menghasilkan intervensi yang sangat berdeda daripada faktor yang berhubungan dengan
ketidakmampuan atau berkeringat.
Proses Diagnostik Keperawatan terhadap Termoregulasi
pengkajian

Batasan karakteristik

Diagnosa keperawatan

Ukur tanda vital, termasuk suhu,Peningkatan suhu tubuh diHipertermia


nadi, pernapasan
Palpasi kulit

atas batas normal


Takikardia

Observasi penampilan dan prilakuTakipnea


klien saat berbicara dan istirahat Kulit hangat
Gelisah
Tampak kemerahan
c. Perencanaan

berhubungan
proses infeksi

yang
dengan

Klien yang beresiko mengalami perubahan suhu membutuhkan rencana perawatan


individu yang ditunjukkan dengan mempertahankan normotermia dan mengurangi faktor
resiko. Hasil yang diharapkan ditetapkan untuk menentukan kemajuan ke arah kembalinya
suhu tubuh ke batas normal. Rencana perawatan bagi klien dengan perubahan suhu yang
aktual berfokus pada pemulihan normotermia, meminimalkan komplikasi dan meningkatkan
kenyamanan. (lihat rencana keperawatan)
Rencana asuhan keperawatan untuk hipertermia
Diagnosa keperawatan : hipertermia yang berhubungan dengan proses infeksi
Definisi : hipertermia adalah kondisi ketika suhu tubuh individu meningkat di atas batasan
suhu normalnya.
tujuan

Hasil yg diharapkan

intervensi

rasional

Klien akan kembali keSuhu tubuh turun palingPertahankan


suhuSuhu ruangan sekitar dapat
batasan suhu tubuh sedikit 1C setelah ruangan pada 21C meningkatkan
suhu
normal pada 21/2
terapi (pada 19/2)
kecuali jika klien tubuh. Namun menggigil
harus dihindari karena
Klien mencapai rasaSuhu tubuh tetap sama menggigil
suhu
nyaman dan istirahat antara
36C-38CBerikan
asetaminofen meningkatkan
pada 21/2
smpai paling sedikit sesuai program medik tubuh (Guyton, 1991)
24 jam (pada 20/2)

apabila suhu lebihAntiseptik menurunkan set


point
Klien
mampu tinggi dari 39C
beristirahat denganKurangi
penutupPakaian yang basah atau
tenang pada 21/2
ekternal pada tubuh terlalu basah mencegah
klien . jaga supaya pengeluaran
panas
pakaian dan alas melalui radiasi, konveksi
tempat tidur tetap dan konduksi
kering
d. Implementasi
diagnosa

implementasi

Hipertermia yang berhubungan dengan prosesMemantau keadaan klien


infeksi

Memberikan asetaminofel
Mengukur suhu klien

e. Evaluasi
Semua intervensi keperawatan dievaluasi dengan membandingkan respon aktual klien
terhadap hasil yang diharapkan dari rencana perawatan.hal ini menunjukkan apakah tujuan
keperawatan telah terpenuhi atau apakah dibutuhkan revisi terhadap rencana.
Evaluasi interensi terhadap hipertermia

tujuan

Tindakan evaluasi

Suhu tubuh klien akan kembali


Pantau suhu
ke batas normal
intervensi

tubuh

Hasil yang diharapkan


setelah
Suhu tubuh paling sedikit 1C
setelah terapi

Klien mendapatkan rasa nyaman


Tanyakan apa yang dirasakan
Suhu tubuh tetap berada antara
dan istirahat pada 21/2
klien
36C dan 38C selama
Observasi adanya kegelisahan, paling sedikit 24 jam pada
20/2
kelemahan.
Klien menyatakan kepuasan
terhadap istirahat dan tidur
meningkat
Klien dapat istirahat dan tidur
dengan tenang.

II.

PEMBAHASAN
Hipotalamus
Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama
untuk memelihara keseimbangan energi dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai
termostat tubuh, dengan menerima informasi dari berbagai bagian tubuh di kulit. Penyesuaian
dikoordinasi dengan sangat rumit dalam mekanisme penambahan dan pengurangan suhu
sesuai dengan keperluan untuk mengorekasi setiap penyimpangan suhu inti dari nilai patokan
normal. Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan suhu darah sekecil 0,01C
(Sherwood, 1996).
Hipotalamus terus-menerus mendapat informasi mengenai suhu kulit dan suhu inti
melalui reseptor khusus yang peka terhadap suhu yang disebut termoreseptor (reseptor
hangat, dingin dan nyeri di perifer). Reseptor suhu sangat aktif selama perubahan temperatur.
Sensasi suhu primer diadaptasi dengan sangat cepat. Suhu inti dipantau oleh termoreseptor
sentral yang terletak di hipotalamus serta di susunan syaraf pusat dan organ abdomen
(Sherwood, 1996).
Di hipotalamus diketahui terdapat 2 pusat pengaturan suhu, yaitu di regio posterior dan
anteror. Regio posterior diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memicu refleks yang
memperantarai produksi panas dan konservasi panas. Sedang, regio anterior yang diaktifkan
oleh rasa hangat, memicu refleks yang memperantarai pengurangan panas.

Termoregulasi pada Manusia


Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen
pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan
saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang
konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ
tubuh yang saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis
sensor pengatur suhu, yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada
jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari
kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan
kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur pengeluaran panas dan produksi panas
untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh.
Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan
sensor dingin melalui peredaran darah.
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan.
Melalui evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan modifikasi sistim
sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat
exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Mausia
menggunakan baju merupakan salah satu perilaku unik dalam termoregulasi
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam
keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan
mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di
hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu
panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi
bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang
disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan
pada 37C. apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang
untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara
menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali
pada titik tetap..
Tubuh kita dilengkapi berbagai sistem pengaturan canggih, termasuk pengaturan suhu
tubuh. Manusia memiliki pusat pengaturan suhu tubuh (termostat), terletak di bagian otak

yang disebut dengan hipotalamus. Pusat pengaturan suhu tubuh itu mematok suhu badan kita
di satu titik yang disebut set point.
Hipotalamus bertugas mempertahankan suhu tubuh agar senantiasa konstan, berkisar
pada suhu 37C. Itu sebabnya, di mana pun manusia berada, di kutub atau di padang pasir,
suhu tubuh harus selalu diupayakan stabil, sehingga manusia disebut sebagai makhluk yang
mampu beradaptasi. Termostat hipotalamus bekerja berdasarkan asupan dari ujung saraf dan
suhu darah yang beredar di tubuh. Di udara dingin hipotalamus akan membuat program agar
tubuh tidak kedinginan, dengan menaikkan set point alias menaikkan suhu tubuh. Caranya
dengan mengerutkan pembuluh darah, badan menggigil dan tampak pucat.
Sedangkan di udara panas, hipotalamus tentu saja harus menurunkan suhu tubuh
untuk mencegah heatstroke. Caranya dengan mengeluarkan panas melalui penguapan.
Pembuluh darah melebar, pernapasan pun menjadi lebih cepat. Karena itu, pada saat
kepanasan, selain berkeringat, kulit kita juga tampak kemerahan (flushing).
Organ Pengatur Suhu Tubuh
-

Pusat pengatur panas dalam tubuh adalah Hypothalamus, Hipothalamus ini dikenal sebagai
thermostat yang berada dibawah otak.

Hipothalamus anterior berfungsi mengatur pembuangan panas

Hipothalamus posterior berfungsi mengatur upaya penyimpanan panas

Mekanisme pengaturan suhu

Kulit --> Reseptor ferifer --> hipotalamus (posterior dan anterior) --> Preoptika hypotalamus
--> Nervus eferent --> kehilangan/pembentukan panas
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak
jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada
uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100%
lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang
tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat
adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu

yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan


metabolisme.
3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam
tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi
50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 1015% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan,
fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone
pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar
120% untuk tiap peningkatan suhu 10C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 30%. Hal
ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan
metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami
penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal
cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup
baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan
yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan
antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat
meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 40,0 C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat
menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen
yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh.

Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan
mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh
dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya,
lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan
lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui
pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis
arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa
yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi
panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan
radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.

III.

PENUTUP
Dari hasil penulisan makalah ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama untuk
memelihara keseimbangan energi dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai termostat
tubuh, dengan menerima informasi dari berbagai bagian tubuh di kulit.
2. Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang
ke lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu
konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah perubahan panas tubuh hewan
karena kontakdengan suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan
udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet.
Radiasi dapat mentransfer panas antar objek yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh,
radiasi sinar matahari. Evaporasi adalah proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang
ditranformasikan dalam bentuk gas.
3. Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen
pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus,
dan saraf eferen serta termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu
tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya
4. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
-

Kecepatan metabolisme basal

Rangsangan saraf simpatis

Hormone pertumbuhan

Hormone tiroid
Hormone kelamin
Demam ( peradangan )

Status gizi
Aktivitas
Gangguan organ
Lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadican.

2011.

Termogulasi

Psda

Manusia.

http://ahmadihcan.blogspot.com/2011/01/termoregulasi-pada-manusia-makalah.html
Aninomaus.

2011.

Metabolisme

Suhu

Tubuh.

http://www.duniaperawat.com/2011/04/metabolisme-suhu-tubuh.html
_____.

2009.

Termogulasi

Pengaturan

Suhu

Tubuh.

http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhutubuh/
Aya,. A. 2010. Pengaturan Suhu Tubuh. http://www.duniaperawat.com/2011/04/metabolismesuhu-tubuh.html

FISIOLOGI TERMOREGULASI
SUHU INTI DAN SUHU KULIT
Suhu jaringan bagian dalam tubuh (suhu inti atau core temperature) hampir
selalu konstan, berfluktuasi sepanjang hari dalam rentang sempit, hanya sekitar
1F ( 0,6C) kecuali dalam keadaan demam. Manusia dapat terpapar pada suhu
serendah 55F atau setinggi 130F dengan tetap mempertahankan suhu inti
mendekati konstan. Mekanisme yang mengendalikan suhu tubuh menunjukkan suatu
sistem pengaturan yang amat baik.
Berbeda dengan suhu inti, suhu kulit naik-turun dipengaruhi suhu lingkungan.
Hal ini penting karena salah satu fungsi kulit adalah melepaskan panas ke
lingkungan.

SUHU TUBUH NORMAL


Tidak ada nilai tunggal suhu yang dapat dianggap sebagai satu-satunya nilai
suhu normal, karena pengukuran pada banyak orang normal memperlihatkan
berbagai variasi suhu pada berbagai keadaan dan aktivitas sepanjang hari, seperti
yang dilukiskan dalam Gambar 1, mulai kurang dari 97F (36C) sampai lebih dari

99F (37,5C). Suhu normal rata-rata secara umum adalah antara 98,0 F sampai
98,6 F (36,7C sampai 37C) bila diukur per oral, dan kira-kira 1F atau 0,6C lebih
tinggi bila diukur per rektal.

Suhu tubuh sedikit bervariasi pada kerja fisik dan pada suhu lingkungan yang
ekstrem, karena mekanisme pengaturan suhu tidak 100 persen tepat. Bila dibentuk
panas yang berlebihan di dalam tubuh karena kerja fisik yang melelahkan, suhu
rektal akan meningkat sampai setinggi 101F-104F. Sebaliknya, ketika tubuh
terpapar dengan suhu yang dingin, suhu rektal dapat turun sampai di bawah nilai
96F.

KESEIMBANGAN PRODUKSI PANAS DAN KEHILANGAN PANAS


Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya
panas, timbul kelebihan panas dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat. Sebaliknya,
bila kehilangan panas lebih besar, suhu tubuh menurun. Keseimbangan antara
produksi panas dan hilangnya panas serta mekanisme yang mengatur masingmasing proses tersebut dijelaskan pada bagian berikut.

Produksi Panas
Produksi panas adalah produk tambahan metabolisme. Faktor-faktor yang
menentukan laju produksi panas (laju metabolisme tubuh) meliputi:
(1) laju metabolisme basal dari semua sel tubuh;
(2)

laju cadangan metabolisme yang disebabkan oleh aktivitas otot, termasuk kontraksi otot yang disebabkan oleh menggigil;

(3)

metabolisme tambahan yang disebabkan oleh pengaruh tiroksin (dan


sebagian kecil hormon lain, seperti hormon pertumbuhan dan testosteron)
terhadap sel;

(4)

metabolisme

tambahan

yang

disebabkan

oleh

norepinefrin, dan perangsangan simpatis terhadap sel;

efek

epinefrin,

(5)

metabolisme tambahan yang disebabkan oleh meningkatnya aktivitas


kimiawi di dalam sel sendiri, terutama bila temperatur sel meningkat.

Kehilangan Panas
Sebagian besar produksi panas di dalam tubuh dihasilkan oleh proses
metabolisme pada organ dalam, terutama dalam hati, otak, jantung, dan
otot rangka selama kerja. Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan
jaringan yang lebih dalam ke kulit, di mana panas hilang ke udara dan
lingkungan sekitar. Oleh karena itu, laju hilangnya panas ditentukan
hampir seluruhnya oleh dua faktor:
(1)

seberapa cepat panas dapat dikonduksi dari tempat panas dihasilkan


dalam inti tubuh ke kulit

(2)

seberapa cepat panas kemudian dapat dihantarkan dari kulit ke


sekitarnya. Marilah kita mulai dengan mendiskusikan sistim insulator yang
menyekat inti dari permukaan kulit.

Sistem Penyekat Tubuh


Kulit, jaringan subkutan, dan terutama lemak dari jaringan subkutan
merupakan suatu penyekat panas dari tubuh. Lemak menyalurkan panas
hanya sepertiga kecepatan jaringan lain. Bila tidak ada darah yang
mengalir dari organ internal yang panas ke kulit, daya penyekat yang
dimiliki oleh tubuh laki-laki normal kira-kira sebanding dengan tiga
perempat kali daya penyekat pakaian biasa. Pada perempuan, penyekatan
ini masih lebih baik.

Aliran Darah ke Kulit dari Inti Tubuh Menyediakan Pemindahan Panas


Pembuluh darah menembus jaringan penyekat subkutan dan dengan
segera menyebar sebanyak-banyaknya di bawah kulit. Yang penting
terutama adalah pleksus venosus yang disuplai oleh aliran darah dari
kapiler kulit, ditunjukkan dalam Gambar 2. Pada area tubuh yang paling
banyak terpapar tangan, kaki, dan telinga darah juga disuplai
langsung ke pleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang
sangat berotot.

Kecepatan aliran darah ke dalam pleksus venosa bervariasi dari


sedikit di atas 0% sampai setinggi 30 persen dari total curah jantung.
Kecepatan aliran darah yang tinggi menyebabkan konduksi panas yang
disalurkan dari inti tubuh ke kulit sangat efisien, sedangkan reduksi
kecepatan aliran darah menurunkan efisiensi konduksi panas dari inti
tubuh. Gambar 3 memperlihatkan secara kuantitatif efek aliran darah kulit
pada konduksi panas dari inti tubuh ke permukaan kulit, menggambarkan
peningkatan konduksi panas hampir delapan kali lipat antara keadaan
vasokonstriksi penuh dan keadaan vasodilatasi penuh.
Oleh karena itu, kulit merupakan sistem pengatur "radiator panas"
yang efektif, dan aliran darah ke kulit adalah mekanisme penyebaran
panas yang paling efektif dari inti tubuh ke kulit.

PENGATURAN KONDUKSI PANAS KE KULIT OLEH SISTEM SARAF


SIMPATIS
Konduksi panas ke kulit oleh darah diatur oleh tingkat vasokonstriksi
arteriol dan anastomosis arteriovenosa yang mensuplai darah ke pleksus
venosa kulit. Selanjutnya vasokonstriksi ini hampir seluruhnya dikontrol
oleh

sistem

saraf

simpatis

dalam

memberikan

respons

terhadap

perubahan suhu inti tubuh dan perubahan suhu lingkungan. Hal ini akan
dibicarakan kemudian pada bab ini yang berhubungan dengan pengaturan
suhu tubuh oleh hipotalamus.

Fisika Dasar Bagaimana Panas Hilang dari Permukaan Kulit


Berbagai cara panas hilang dari kulit ke lingkungan ditunjukkan pada
Gambar 4. Cara tersebut meliputi radiasi, konduksi, dan evaporasi dan
dapat dijelaskan berikut ini:

1)

Radiasi

Kehilangan panas melalui radiasi berarti kehilangan dalam bentuk


gelombang panas infra merah, suatu jenis gelombang elektromagnetik.
Sebagian besar gelombang panas infra merah yang memancar dari tubuh
memiliki panjang gelombang 5 sampai 20 mikrometer, 10 sampai 30 kali
panjang gelombang cahaya. Semua benda yang tidak pada suhu nol absolut memancarkan panas seperti gelombang tersebut. Tubuh manusia
menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang panas juga
dipancarkan dari dinding dan benda-benda lain ke tubuh. Bila suhu tubuh
lebih tinggi dari suhu lingkungan, kuantitas panas yang lebih besar
dipancarkan keluar dari tubuh ke lingkungan. Seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 4, orang yang telanjang pada suhu kamar yang normal
kehilangan panas kira-kira 60 persen dari kehilangan panas total melalui
radiasi.

2)

Konduksi
Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4, hanya sejumlah kecil panas
yang biasanya hilang dari tubuh melalui konduksi langsung dari permukaan tubuh ke benda-benda

lain, seperti kursi atau tempat tidur.

Sebaliknya, kehilangan panas melalui konduksi ke udara memang


mencerminkan bagian kehilangan panas tubuh yang cukup besar (kira-kira
15 persen) walaupun dalam keadaan normal. Diingatkan kembali bahwa
panas adalah energi kinetik dari gerakan molekul, dan molekul-molekul
yang menyusun kulit tubuh terus-menerus mengalami gerakan vibrasi.
Sebagian besar energi dari gerakan ini dapat dipindahkan ke udara bila
suhu udara lebih dingin dari kulit, sehingga meningkatkan kecepatan
gerakan molekul-molekul udara. Sekali suhu udara yang berlekatan
dengan kulit menjadi sama dengan suhu kulit, tidak terjadi lagi kehilangan
panas dari tubuh ke udara. Oleh karena itu, konduksi panas dari tubuh ke
udara mempunyai keterbatasan kecuali bila udara yang dipanaskan
bergerak

dari

kulit

sehingga

udara

baru

secara

terus

bersentuhan dengan kulit, fenomena ini disebut konveksi udara.

3)

Konveksi

menerus

Pemindahan panas dari tubuh melalui konveksi udara secara umum


disebut kehilangan panas melalui konveksi. Sebenarnya, panas pertamatama harus di-konduksi ke udara

kemudian dibawa melalui aliran

konveksi.
Sejumlah kecil konveksi hampir selalu terjadi di sekitar tubuh akibat
kecenderungan udara di sekitar kulit untuk bergerak naik sewaktu menjadi
panas. Oleh karena itu, orang telanjang yang duduk di ruangan yang nyaman tanpa gerakan udara yang besar masih tetap kehilangan sekitar 15
persen dari panas tubuhnya melalui konduksi ke udara kemudian oleh
konveksi udara menjauhi tubuhnya.

Efek Pendinginan oleh Angin


Bila tubuh terpapar angin, lapisan udara yang berbatasan dengan
kulit digantikan terus menerus oleh udara baru jauh lebih cepat dari
keadaan normal, dan kehilangan panas melalui konveksi meningkat. Efek
pendinginan oleh angin pada kecepatan rendah mendekati akar kuadrat
kecepatan angin. Misalnya, angin dengan kecepatan 4 km/jam memiliki
efektivitas pendinginan kira-kira dua kali dari angin dengan kecepatan
1km/jam.

Konduksi dan Konveksi Panas pada Paparan Air


Air memiliki kemampuan menyerap panas beberapa ribu kali lebih
besar daripada udara, sehingga setiap unit bagian air yang berdekatan ke
kulit dapat mengabsorbsi jumlah kuantitas panas yang lebih besar
daripada udara. Juga, konduktivitas air terhadap panas terlihat sangat
berbeda

dengan

konduktivitas

udara.

Oleh

karena

itu,

kecepatan

kehilangan panas ke air pada suhu yang cukup rendah jauh lebih besar
daripada kecepatan kehilangan panas ke udara pada suhu yang sama.
Saat air dan udara sangat dingin, kecepatan kehilangan panas ke udara
menjadi hampir sama besar dengan air, karena air dan udara pada
dasarnya mampu membawa semua panas yang dapat berdifusi melalui
penyekat subkutan kulit.

4)

Evaporasi
Bila air berevaporasi dari permukaan tubuh, panas sebesar 0,58
Kalori (kilokalori) hilang untuk setiap satu gram air yang mengalami
evaporasi. Bahkan bila seseorang tidak berkeringat sekalipun, air masih
berevaporasi secara tidak kelihatan dari kulit dan paru-paru dengan
kecepatan sekitar 450 sampai 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan
kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 sampai 16 Kalori
per jam. Evaporasi air melalui kulit dan paru-paru yang tidak kelihatan ini
tidak dapat dikendalikaan untuk tujuan pengaturan suhu karena evaporasi
tersebut dihasilkan dari
permukaan

kulit

dan

difusi molekul air terus menerus melalui

permukaan

kehilangan panas melalui

sistem

pernapasan.

evaporasi keringat

Akan

tetapi,

dapat diatur dengan

pengaturan kecepatan berkeringat, yang akan dibicarakan kemudian pada


modul ini.
Evaporasi merupakan mekanisme pendinginan yang penting pada
suhu udara sangat tinggi. Selama suhu kulit lebih tinggi dari suhu
lingkungan, panas dapat hilang melalui radiasi dan konduksi. Tetapi ketika
suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu kulit, tubuh memperoleh panas
melalui radiasi dan konduksi. Dalam keadaan seperti ini, satu-satunya cara
tubuh melepaskan panas adalah dengan evaporasi. Oleh sebab itu,
setiap faktor yang mencegah evaporasi yang adekuat ketika suhu
lingkungan lebih tinggi dari suhu kulit akan menyebabkan peningkatan
suhu tubuh. Hal ini kadang terjadi pada manusia yang dilahirkan dengan
kelainan kelenjar keringat. Orang ini dapat tahan terhadap suhu dingin
seperti halnya orang normal, tetapi mereka hampir mati akibat serangan
panas pada daerah tropis, karena tanpa sistem pendinginan evaporatif,
orang ini tidak dapat mencegah peningkatan suhu tubuh ketika suhu
udara lebih tinggi dari suhu tubuh.

EFEK PAKAIAN PADA KEHILANGAN PANAS


Pakaian mengurung udara di antara kulit dan rajutan pakaian yang
mengakibatkan kecepatan kehilangan panas tubuh melalui konduksi dan

konveksi sangat ditekan. Pakaian dengan bahan biasa menurunkan


kecepatan kehilangan panas kira-kira setengah dari tubuh yang telanjang,
sedangkan pakaian kutub dapat menurunkan kecepatan kehilangan panas
paling sedikit sampai seperenam kali.
Sekitar setengah dari panas yang dipindahkan dari kulit ke pakaian
dipancarkan melalui radiasi ke pakaian dan bukan dipancarkan melalui
konduksi melewati ruang kecil. Oleh sebab itu, melapisi bagian dalam
pakaian dengan lapisan emas tipis, yang memantulkan panas kembali ke
tubuh, membuat perangkat penyekat pakaian tersebut jauh lebih efektif
daripada bila tidak dilapisi. Dengan menggunakan teknik ini, pakaian yang
digunakan di kutub dapat dikurangi beratnya sampai setengahnya.
Efektivitas pakaian dalam mempertahankan suhu tubuh hampir
hilang semuanya bila pakaian menjadi basah karena konduktivitas air
yang tinggi meningkatkan kecepatan pemindahan panas sebesar 20 kali
lipat atau lebih. Oleh karena itu, salah satu faktor terpenting untuk
melindungi tubuh terhadap udara dingin di kutub adalah menjaga dengan
sangat hati-hati agar pakaian tidak basah. Tentu saja, seseorang harus
berhati-hati untuk tidak menjadi kepanasan walaupun untuk sementara
waktu, karena dengan berkeringat di dalam pakaian akan membuat
pakaian tersebut kurang efektif sebagai penyekat.

Berkeringat dan Pengaturannya oleh Sistem Saraf Otonom


Rangsangan pada area preoptik di bagian anterior hipotalamus baik
secara elektrik atau oleh panas yang berlebihan akan menyebabkan
berkeringat.

Impuls

dari

area

yang

menyebabkan

berkeringat

ini

dipindahkan melalui jaras otonom ke medula spinalis dan kemudian


melalui jaras simpatis ke kulit di seluruh tubuh.
Diingatkan kembali dari pembahasan tentang sistem saraf otonom
bahwa kelenjar keringat dipersarafi oleh serabut-serabut saraf kolinergik
(serabut

yang

mensekresikan

asetilkolin).

Kelenjar

ini

dapat

juga

dirangsang oleh epinefrin atau norepinefrin yang bersirkulasi dalam darah,


walaupun kelenjar itu sendiri tidak memiliki persarafan adrenergik. Hal ini
penting selama kerja fisik, saat hormon disekresikan oleh medula adrenal

dan tubuh perlu melepaskan panas yang berlebihan yang dihasilkan oleh
otot yang aktif.

MEKANISME SEKRESI KERINGAT.


Dalam Gambar 5, kelenjar keringat diperlihatkan berbentuk tubular
yang terdiri dari dua bagian: (1) bagian bergelung di subdermis dalam
yang mensekresi keringat, dan (2) bagian duktus yang berjalan keluar
melalui dermis dan epidermis kulit. Seperti juga pada kelenjar lainnya,
bagian sekretorik kelenjar keringat mensekresi cairan yang disebut sekret
primer atau sekret prekursor; kemudian konsentrasi zat-zat dalam cairan
tersebut dimodifikasi sewaktu cairan itu mengalir melalui duktus.
Sekret prekusor keringat adalah hasil sekresi aktif dari sel-sel epitel
yang terletak pada bagian gulungan dari kelenjar keringat. Serat saraf
simpatis kolinergik berakhir pada atau dekat sel-sel kelenjar yang
mengeluarkan sekret tersebut.

Komposisi sekret prekusor mirip dengan yang terdapat pada plasma


namun tidak mengandung protein plasma. Konsentrasi natrium sekitar
142 mEq/liter dan klorida sekitar 104 mEq/liter, dengan konsentrasi zat
terlarut lain yang lebih kecil dalam plasma. Sewaktu larutan prekusor ini
mengalir melalui bagian duktus dari kelenjar, larutan ini mengalami
modifikasi melalui reabsorpsi sebagian besar ion natrium dan klorida.
Tingkat reabsorpsi ini

bergantung pada kecepatan berkeringat sebagai

berikut
Apabila kelenjar keringat hanya dirangsang sedikit, cairan prekusor
mengalir melalui duktus dengan lambat. Dalam hal ini, pada dasarnya
hampir semua ion natrium dan klorida direabsorbsi, dan konsentrasi
masing-masing ion ini turun menjadi 5 mEq/liter. Hal ini mengurangi
tekanan osmotik cairan keringat tersebut sangat rendah sehingga
sebagian besar cairan kemudian juga direabsorbsi, yang memekatkan
sebagian besar kandungan unsur lainnya. Oleh karena itu, pada kecepatan
berkeringat yang rendah, kandungan unsur seperti urea, asam laktat, dan
ion kalium biasanya konsentrasinya sangat tinggi.

Sebaliknya, ketika kelenjar keringat dirangsang dengan kuat oleh


sistem saraf simpatis, sekret prekusor dibentuk dalam jumlah yang
banyak, dan duktus kini hanya mereabsorbsi natrium klorida sedikit lebih
dari setengahnya; konsentrasi ion-ion natrium dan klorida kemudian
biasanya meningkat (pada orang yang tidak dapat menyesuaikan diri
,dengan iklim) sampai tingkat maksimum sekitar 50 sampai 60 mEq/liter,
sedikit lebih rendah dari setengah konsentrasi dalam plasma. Lebih lanjut
lagi, keringat mengalir melalui tubulus kelenjar begitu cepatnya sehingga
hanya sedikit air yang direabsorbsi. Oleh karena itu, konsentrasi unsur
terlarut lainnya dari keringat hanya sedikit meningkat: urea menjadi
sekitar dua kali dari plasma, asam laktat sekitar 4 kali, dan kalium sekitar
1,2 kali.
Perhatikan terutama besarnya kehilangan natrium klorida dalam
keringat bila orang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim. Hal ini
cukup berbeda bila orang telah terbiasa dengan panas, seperti berikut ini.

AKLIMATISASI MEKANISME BERKERINGAT PERANAN ALDOSTERON


Walaupun seseorang yang normal dan tidak dapat menyesuaikan diri
dengan iklim kadang dapat membentuk keringat lebih dari 1 liter per jam,
ketika terpapar pada cuaca panas selama 1 sampai 6 minggu, orang
tersebut akan secara perlahan-lahan berkeringat lebih banyak, seringkali
meningkatkan sekresi maksimal keringat 2 sampai 3 liter/jam. Evaporasi
keringat yang lebih banyak ini dapat memindahkan panas dari tubuh
dengan kecepatan lebih dari 10 kali kecepatan pembentukan panas basal
normal. Peningkatan efektivitas mekanisme berkeringat ini disebabkan
oleh peningkatan langsung pada kemampuan kelenjar keringat itu sendiri.
Kepentingan aklimatisasi adalah penurunan konsentrasi natrium
klorida dalam keringat yang memungkinkan konservasi garam yang lebih
baik secara perlahan-lahan. Sebagian besar efek ini disebabkan oleh
peningkatan

sekresi

aldosteron,

yang

selanjutnya

dihasilkan

dari

penurunan kadar natrium klorida dalam cairan ekstraselular dan plasma.


Orang yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim, yang banyak
berkeringat sering kehilangan garam sebesar 15 sampai 30 gram setiap
hari

untuk

beberapa

hari

pertama.

Setelah

sampai

minggu

menyesuaikan diri, kehilangan garam biasanya turun menjadi 3 sampai 5


gram/hari.

Kehilangan Panas melalui Terengah-engah


Banyak hewan tingkat rendah memiliki sedikit kemampuan untuk
menghilangkan panas dari permukaan tubuhnya karena dua alasan: (1)
permukaan tubuh biasanya ditutupi oleh bulu dan (2) kulit dari sebagian
besar hewan tingkat rendah tidak disuplai dengan kelenjar keringat, yang
mencegah sebagian besar hilangnya panas melalui evaporasi dari kulit.
Suatu mekanisme pengganti, mekanisme terengah-engah, digunakan oleh
banyak hewan tingkat rendah sebagai alat untuk menghilangkan panas.
Fenomena terengah-engah "dihidupkan" oleh pusat pengatur suhu di
otak. Yaitu, bila darah menjadi terlalu panas, hipotalamus menimbulkan
sinyal neurogenik untuk menurunkan temperaiur tubuh. Satu dari sinyal
ini

menimbulkan

terengah-engah.

Proses

terengah-engah

yang

sebenarnya diatur oleh pusat terengah-engah yang berhubungan dekat


dengan pusat pernapasan pneumotaksik di dalam pons.
Bila seekor hewan terengah-engah, hewan tersebut bernapas masuk
dan keluar dengan cepat, sehingga jumlah besar udara yang baru dari luar
berkontak dengan bagian atas susunan pernapasan; proses ini akan
mendinginkan darah di dalam mukosa sebagai akibat evaporasi air dari
permukaan

mukosa,

terutama

evaporasi

saliva

dari

lidah.

Namun

terengah-engah tidak meningkatkan ventilasi alveolar lebih dari yang


dibutuhkan untuk kontrol gas darah yang tepat karena setiap pernapasan
sangat dangkal; oleh karena itu, sebagian besar udara yang masuk ke
alveoli adalah udara ruang mati.

PENGATURAN SUHU TUBUH PERANAN HIPOTALAMUS


Gambar 6 menggambarkan perkiraan tentang apa yang terjadi pada
suhu tubuh orang telanjang setelah beberapa jam terpapar terhadap
udara kering berkisar dari 30 sampai 160F. Gambaran yang tepat dari
kurva ini tergantung pada gerakan udara, jumlah kelembaban dalam
udara dan bahkan sifat alam di sekitarnya. Pada umumnya tubuh yang

telanjang pada udara kering bersuhu antara 55 dan 130F mampu


mempertahankan suhu inti tubuh normal antara 97 dan 100 F.
Suhu tubuh diatur hampir seluruhnya oleh mekanisme persarafan
umpan balik, dan hampir semua mekanisme ini terjadi melalui pusat
pengaturan suhu yang terletak pada hipotalamus. Agar mekanisme
umpan balik ini dapat berlangsung, harus juga tersedia pendetektor suhu
untuk menentukan kapan suhu tubuh menjadi sangat panas atau sangat
dingin.

Deteksi Termostatik Suhu pada Hipotalamus Peranan Hipotalamus


Anterior-Area Preoptik
Telah dilakukan percobaan pemanasan dan pendinginan pada suatu
area kecil di otak dengan menggunakan alat yang disebut thermode. Alat
kecil seperti jarum ini dipanaskan dengan alat elektrik atau dialirkan air
panas atau didinginkan dengan air dingin. Area utama dalam otak di mana
panas yang dihasilkan oleh thermode mempengaruhi pengaturan suhu
tubuh terdiri dari nukleus preoptik dan nukleus hipotalamik anterior
hipotalamus.
Dengan menggunakan thermode, area preoptik hipotalamus anterior
diketahui mengandung sejumlah besar neuron yang sensitif terhadap
panas yang jumlahnya kira-kira sepertiga neuron yang sensitif terhadap
dingin. Neuron-neuron ini diyakini berfungsi sebagai sensor suhu untuk
mengontrol suhu tubuh.
Neuron-neuron yang sensitif terhadap panas ini meningkatkan
kecepatan kerjanya sesuai dengan peningkatan suhu, kecepatannya dapat
meningkat 2 sampai 10 kali lipat pada kenaikan suhu tubuh sebesar 10C.
Neuron

yang

sensitif

terhadap

dingin,

sebaliknya,

meningkatkan

kecepatan kerjanya saat suhu tubuh turun.


Apabila area preoptik dipanaskan, kulit di seluruh tubuh dengan
segera mengeluarkan banyak keringat, sementara pada waktu yang sama
pembuluh darah kulit di seluruh tubuh menjadi sangat berdilatasi. Jadi, hal
ini merupakan reaksi yang cepat untuk menyebabkan tubuh kehilangan
panas, dengan demikian membantu mengembalikan suhu tubuh kembali

normal. Di samping itu, pembentukan panas tubuh yang berlebihan


dihambat. Oleh karena itu, jelas bahwa area preoptik dari hipotalamus
memiliki kemampuan untuk berfungsi sebagai termostatik pusat kontrol
suhu tubuh.

Deteksi Suhu dengan Reseptor pada kulit dan Jaringan Dalam Tubuh
Walaupun sinyal yang ditimbulkan oleh reseptor suhu dari hipotalamus
sangat kuat dalam mengatur suhu tubuh, reseptor suhu pada bagian lain
dari tubuh juga mempunyai peranan penting dalam pengaturan suhu. Hal
ini terjadi pada reseptor suhu di kulit dan beberapa jaringan khusus dalam
tubuh.
Diingatkan kembali dari pembicaraan mengenai reseptor sensoris, bahwa
kulit dibantu oleh reseptor dingin dan panas. Reseptor dingin terdapat
jauh lebih banyak daripada reseptor panas; tepatnya, terdapat 10 kali
lebih banyak di seluruh kulit. Oleh karena itu, deteksi suhu oleh reseptor
perifer ini lebih peka terhadap suhu sejuk dan dingin daripada suhu
hangat.
Apabila seluruh kulit tubuh menggigil, terjadi pengaruh refleks yang segera
dibangkitkan untuk meningkatkan suhu tubuh melalui beberapa cara,
sebagai berikut:
(1) memberikan rangsangan kuat sehingga menyebabkan menggigil, dengan
akibat meningkatnya kecepatan pembentukan panas tubuh;
(2) menghambat proses berkeringat bila hal ini harus terjadi
(3)

meningkatkan vasokonstriksi kulit untuk menghilangkan pemindahan


panas tubuh ke kulit
Reseptor suhu tubuh bagian dalam juga ditemukan pada bagian tertentu
dari tubuh, terutama di medula spinalis, organ dalam abdomen, dan di
sekitar vena-vena besar. Reseptor dalam ini berbeda fungsinya dengan
reseptor kulit, karena reseptor tersebut lebih banyak terpapar dengan
suhu inti tubuh daripada suhu permukaan tubuh. Namun, seperti halnya
reseptor suhu kulit, reseptor tersebut lebih banyak mendeteksi dingin

daripada hangat. Adalah suatu kemungkinan bahwa baik reseptor kulit


maupun reseptor tubuh bagian dalam berperan mencegah hipotermia,
yaitu mencegah suhu tubuh yang rendah.

Hipotalamus Posterior Menjumlahkan Sinyal Sensoris Temperatur


Pusat dan Perifer
Walaupun banyak sinyal sensoris temperatur berasal dari reseptor
perifer, sinyal ini membantu pengaturan suhu tubuh terutama melalui
hipotalamus. Area pada hipotalamus yang dirangsang oleh sinyal sensoris
ini adalah suatu area yang terletak secara bilateral dalam hipotalamus
posterior kira-kira setinggi korpus mamilaris. Sinyal sensoris temperatur
dari hipotalamus anterior-area preoptik juga dipindahkan ke dalam area
hipotalamus posterior ini. Di sini sinyal dari area preoptik dan sinyal dari
perifer tubuh digabung untuk mengatur reaksi pembentukan panas atau
reaksi penyimpanan panas tubuh.

Mekanisme Efektor Neural Yang Menurunkan atau Meningkatkan


Temperatur Tubuh
Sewaktu
temperatur

pusat

tubuh

temperatur

terlalu

panas

hipotalamus
atau

terlalu

mendeteksi
dingin,

pusat

bahwa
akan

memberikan prosedur penurunan atau peningkatan temperatur yang


sesuai. Mahasiswa lebih banyak mengetahui hal ini dari pengalaman pribadi, tetapi gambaran khususnya adalah sebagai berikut.

Mekanisme Penurunan Temperatur Bila Tubuh Terlalu Panas


Sistem pengatur temperatur menggunakan tiga mekanisme penting untuk
menurunkan panas tubuh ketika temperatur menjadi sangat tinggi:

1.

Vasodilatasi. Pada hampir semua area tubuh, pembuluh darah kulit


berdilatasi dengan kuat. Hal ini disebabkan oleh hambatan dari pusat
simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokonstriksi.
Vasodilatasi penuh akan meningkatkan kecepatan pemindahan panas ke
kulit sebanyak delapan kali lipat.

2.

Berkeringat. Efek dari peningkatan temperatur yang menyebabkan


berkeringat digambarkan oleh garis kurva utuh pada Gambar 73-7, yang
memperlihatkan

peningkatan

kecepatan

kehilangan

panas

melaui

evaporasi yang dihasilkan dari berkeringat ketika temperatur inti tubuh


meningkat

di

atas

temperatur

kritis

370C

(98,60F).

Peningkatan

tempertaur tubuh 10C menyebabkan keringat yang cukup banyak untuk


membuang 10 kali lebih besar kecepatan metabolisme basal dari
pembentukan panas tubuh
3.

Penurunan

pembentukan

panas.

Mekanisme

yang

menyebabkan

pembentukan panas yang berlebihan, seperti menggigil dan termogenesis


kimia dihambat dengan kuat.

Mekanisme Peningkatan Tenmperatur Saat Tubuh Terlalu Dingin


Ketika

tubuh

terlalu

dingin,

sistem

pengaturan

temperatur

mengadakan prosedur yang sangat berlawanan, yaitu:


1.

Vasokonstriksi kulit di seluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh rangsangan


pusat simpatis hipotalamus posterior.

2.

Piloereksi. Piloereksi berarti rambut "berdiri pada akarnya." Rangsangan


simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat ke folikel rambut
berkontraksi, yang menyebabkan rambut berdiri tegak. Hal ini tidak
penting pada manusia, tetapi pada hewan yang lebih rendah, berdirinya
rambut memungkinkan mereka untuk membentuk lapisan tebal "isolator
udara" di atas kulit sehingga pemindahan panas ke lingkungan sangat
ditekan.

3.

Peningkatan pembentukan panas. Pembentukan panas oleh sistem


metabolisme meningkat dengan (a) menggigil, (b) rangsangan simpatis

pembentukan panas, dan (c) sekresi tiroksin. Hal ini membutuhkan


keterangan tambahan, sebagai berikut:
Rangsangan Hipotalamik terhadap Menggigil. Terletak pada
bagian dorsomedial dari hipotalamus posterior dekat dinding ventrikel
ketiga adalah suatu area yang disebut pusat motorik primer untuk menggigil. Area ini normalnya dihambat oleh sinyal dari pusat panas pada area
preoptik-hipotalamus anterior tetapi dirangsang oleh sinyal dingin dari
kulit dan medula spinalis. Oleh karena itu, seperti yang ditunjukkan oleh
peningkatan yang tiba-tiba dalam "produksi panas" (Iihat kurva putusputus dalam Gambar 7), pusat ini teraktivasi ketika temperatur tubuh
turun bahkan hanya sedikit di bawah derajat temperatur kritis. Pusat ini
kemudian meneruskan sinyal yang menyebabkan menggigil melalui
traktus bilateral turun ke batang otak, ke dalam kolumna lateralis medula
spinalis, dan akhirnya, ke neuron-neuron motorik anterior. Sinyal ini tidak
teratur,

dan

tidak

benar-benar

menyebabkan

gerakan

otot

yang

sebenarnya. Sebaliknya, sinyal tersebut meningkatkan tonus otot rangka


di seluruh tubuh. Ketika tonus meningkat di atas tingkat kritis tertentu,
proses menggigil dimulai. Kemungkinan hal ini dihasilkan dari umpan balik
osilasi mekanisme refleks regangan dari gelondong otot. Selama proses
menggigil maksimum, pembentukan panas tubuh dapat meningkat
sebesar empat sampai lima kali dari normal.

Eksitasi Kimiawi "Simpatis" Pembentukan


Panas. Perangsangan simpatis maupun norepinefrin dan epinefrin
yang

bersirkulasi

kecepatan

dalam

metabolisme

darah
selular

dapat
dengan

menyebabkan
cepat;

efek

peningkatan
ini

disebut

termogenesis kimia, dan hal ini dihasilkan sebagian dari kemampuan


norepinefrin dan epinefrin untuk memisahkan fosforilasi oksidatif, yang
berarti bahwa kelebihan makanan akan dioksidasi dan oleh karena itu
melepaskan energi dalam bentuk panas tetapi tidak menyebabkan
pembentukan adenosin trifosfat.
Derajat termogenesis kimia yang terjadi pada hewan hampir
sebanding dengan jumlah lemak coklat yang dikandung pada jaringan
hewan. Lemak ini merupakan jenis lemak yang mengandung sejumlah be-

sar mitokondria khusus tempat terjadinya pemisahan oksidasi. Sel-sel ini


dipersarafi oleh persarafan simpatis yang kuat.
Proses

penyesuaian

diri

terhadap

iklim sangat

mempengaruhi

intensitas termogenesis kimia; beberapa hewan, seperti tikus, yang telah


terpapar beberapa minggu dengan lingkungan yang dingin, memperlihatkan peningkatan pembentukan panas sebesar 100 sampai 500 persen
ketika terpapar secara tiba-tiba dengan udara dingin, sebaliknya, pada
hewan yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan iklim, memberikan
respons dengan meningkatkan pembentukan panas kira-kira sebesar
sepertiganya.
Pada manusia dewasa, yang hampir tidak memiliki lemak coklat,
jarang

sekali

bahwa

termogenesis

kimia

meningkatkan

kecepatan

pembentukan panas lebih dari 10 sampai 15 persen. Akan tetapi, pada


bayi, yang memang memiliki sejumlah kecil lemak coklat pada ruang
interskapula,

termogenesis

kimia

dapat

meningkatkan

kecepatan

pembentukan panas sebesar 100 persen, yang kemungkinan merupakan


faktor penting dalam mempertahankan temperatur normal tubuh pada
neonatus.
Peningkatan

Keluaran

Tiroksin

sebagai

Penyebab

Peningkatan Pembentukan Panas Jangka Panjang. Pendinginan area


preoptik-hipotalamus anterior juga meningkatkan pembentukan hormon
neurosekretorik hormon pelepas-tirotropin oleh hipotalamus. Hormon ini
diangkut melalui vena porta hipotalamus ke kelenjar hipofisis anterior, di
mana hormon merangsang sekresi hormon perangsang-tiroid Hormon
perangsang-tiroid sebaliknya, merangsang peningkatan keluaran tiroksin
oleh

kelenjar

tiroid.

Peningkatan

tiroksin

meningkatkan

kecepatan

metabolisme selular di seluruh tubuh. Peningkatan metabolisme ini tidak


terjadi segera tetapi membutuhkan waktu beberapa minggu agar kelenjar
tiroid menjadi hipertrofi sebelum mencapai tingkat sekresi tiroksin yang
baru.
Pemaparan hewan terhadap udara dingin yang berlebihan selama
beberapa minggu dapat menyebabkan ukuran kelenjar tiroid hewan
tersebut meningkat 20 sampai 40 persen. Akan tetapi, manusia jarang
membiarkan dirinya terpapar terhadap derajat udara dingin seperti yang

terjadi pada hewan. Oleh karena itu, kita masih tidak mengerti, secara
kuantitatif, berapa penting metode adaptasi tiroid terhadap dingin pada
manusia. Pengukuran yang terpisah telah memperlihatkan bahwa anggota
militer yang ditugaskan di kutub mengalami peningkatan kecepatan metabolisme; demikian juga dengan orang Eskimo yang memiliki kelainan
kecepatan metabolisme yang tinggi. Juga, efek rangsangan udara dingin
yang terus menerus pada kelenjar tiroid mungkin dapat menjelaskan
insiden goiter tiroid toksika yang lebih tinggi pada orang yang tinggal di
iklim yang lebih dingin daripada mereka yang tinggal di iklim yang lebih
hangat.

Konsep "Set-Point" untuk Pengaturan Temperatur


Dalam contoh Gambar 7, sangat jelas bahwa pada temperatur inti
tubuh yang kritis, pada tingkat hampir tepat 37.1C, terjadi perubahan
drastis pada kecepatan kehilangan panas dan kecepatan pembentukan
panas. Pada temperatur di atas tingkat ini, kecepatan kehilangan panas
lebih besar dari kecepatan pembentukan panas, sehingga temperatur
tubuh turun dan mencapai kembali tingkat 37,1C. Pada temperatur di
bawah tingkat ini, kecepatan pembentukan panas lebih besar dari
kecepatan kehilangan panas, sehingga temperatur tubuh kini meningkat
dan kembali mencapai tingkat 37,1C. Tingkat temperatur kritis ini disebut
"set-point" dari mekanisme pengaturan temperatur. Semua mekanisme
pengaturan

temperatur

terus

menerus

berupaya

untuk

me-

ngembalikan suhu tubuh kembali ke tingkat set-point.

PEROLEHAN UMPAN BALIK UNTUK PENGATURAN TEMPERATUR TUBUH. Mari


kita ingat kembali sejenak pembicaraan mengenai perolehan umpan balik
dari sistem pengatur yang telah dibicarakan pada kuliah dasar-dasar
fisiologi. Perolehan umpan balik merupakan suatu pengukuran efektivitas
sistem pengatur. Dalam hal pengaturan temperatur tubuh, penting bagi
temperatur tubuh internal untuk berubah sedikit walaupun temperatur
lingkungan sangat berubah. Perolehan umpan balik sistem pengaturan
temperatur

sama

dengan

rasio

perubahan

temperatur

lingkungan

terhadap perubahan temperatur tubuh dikurangi 1,0. (Iihat Bab 1 untuk

rumus tersebut). Percobaan telah memperlihatkan bahwa temperatur


tubuh manusia berubah sekitar 1C untuk setiap perubahan temperatur
lingkungan 25C sampai 30C. Oleh karena itu, umpan balik yang dicapai
keseluruhan mekanisme untuk mengatur temperatur tubuh rata-rata
sekitar 27 (28/1,0 1,0 = 27), yang merupakan pencapaian yang sangat
ekstrem

bagi

sistem

pengaturan

biologis

(sebagai

contoh,

sistem

pengaturan baroreseptor tekanan arterial, memiliki pencapaian kurang


dari 2).

Mengukur Suhu Tubuh

Mengukur suhu tubuh dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu yang paling umum
adalah dengan melakukan pengukuran di ketiak, mulut dan dubur. Termometer yang
digunakan,sebaiknya termometer digital (elektronik) untuk memberikan hasil yang
tepat dan akurat.
Mengukur Suhu Tubuh Di Bawah Ketiak

Pengukuran suhu tubuh yang paling umum dan mudah adalah di ketiak. Langkah
pengukuran sebagai berikut:

Ujung termometer dibersihkan.

Letakkan ujung termometer di ketiak, dan jepit dengan erat.

Tahan termometer hingga berbunyi.

Termometer dikeluarkan dan baca hasilnya.

Bersihkan termometer.

Mengukur Suhu Tubuh Lewat Mulut

Mengukur suhu tubuh yang paling mudah dan memberikan hasil yang cukup akurat
adalah melalui mulut. Untuk mengukur suhu tubuh ini dilakukan dengan langkah
sebagai berikut:

Ujung termometer dibersihkan.

Masukkan ujung termometer ke bawah lidah.

Tahan termometer dalam mulut minimal 1 menit, atau sampai termometer


berbunyi.

Keluarkan termometer dan baca hasilnya.

Bersihkan termometer kembali.

Mengukur Suhu Tubuh Lewat Dubur

Tempat lain

untuk mengukur suhu tubuh adalah di dubur. Namun pengukuran di tempat ini cukup
merepotkan, terutama pada bayi atau anak-anak. Langkah pengukuran pada
bayi/anak-anak dilakukan sebagai berikut:

Oleskan pelumas (Aquagel) pada ujung termometer.

Tengkurapkan atau telentangkan bayi di pangkuan.

Masukkan 1,5-2,5 cm ujung termometer ke dalam dubur dengan hati-hati.

Tahan posisi tersebut hingga termometer berbunyi. Posisi bayi harus


ditahan idak bergerak, sebab jika bergerak, dapat menyebabkan
termometer masuk lebih dalam dan menyebabkan luka.

Keluarkan termometer dan baca hasilnya.

Pengukuran suhu tubuh di dubur memberikan hasil yang paling akurat. Sebagai
catatan, jangan gunakan termometer di dubur untuk melakukan pengukuran di tempat
lain, terutama di mulut. Tahukan alasannya?

PENGUKURAN SUHU TUBUH


A.

Pengertian

Suhu tubuh merupakan keseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas dari tubuh,
yang diukur dalam unit panas yang disebut derajat.

B.

Fisiologi

Suhu yang di maksud adalah panas atau dingin suatu substansi. Suhu tubuh adalah
perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses tubuh dan jumlah panas yang
hilang ke lingkungan luar.
Panas yang diproduksi pengeluaran panas = suhu tubuh
Meskipun dalam kondisi tubuh yang ekstrim dan aktivitas fisik, mekanisme kontrol suhu
manusia tetap menjaga suhu inti atau suhu jaringan dalam relative konstans. Bagaimana pun
suhu permukaan berfluktuasi bergantung pada aliran darah ke kulit dan jumlah panas yang
hilang ke lingkungan luar. Karena fluktuasi suhu permukaan ini, suhu yang dpat diterima
berkisar dari 36C sampai 38C.Fungsi jaringan dan sel tubuh paling baik dalam rentang
suhu yang relative sempit.
Tempat pengukuran suhu (oral, rectal, aksila, membran timpani, esophagus, arteri pulmoner,
atau bahkan kandung kemih ) merupakan salah satu faktor ang menentukan suhu tubuh klien
dalam rentang sempit ini. Untuk dewasa awal yang sehat rata-rata suhu oral 37C. Pada
praktik klink, perawat mempelajari kisaran suhu dank lien individu. Tidak ada nilai suhu
yang berlaku untuk semua orang.
Pengukuran suhu tubuh ditunjukan untuk memproleh suhu inti jaringan tubuh rata-rata ang
representatif. Suhu normal rata-rata bervariasi bergantung lokasi pengukuran. Tempat
pengukuran suhu inti merupakan indicator suhu tubuh yang lebih dapat diandalkan daripada
tempat yang menunjukan suhu permukaan.
Tempat pengukuran suhu inti dan suhu permukaan sebagai berikut:
Suhu inti
Rectum
Membran timpani
Esofagus
Arteri pulmoner
Kandung kemih

Suhu permukaan
Kulit
Aksila
Oral

Arteri pulmoner menunjukan nilai yang paling representative karena darah bercampur dari
semua bagian tubuh. Pengukuran suhu pada arteri pulmoner merupakan standar dibandingkan
dengan semua tempat ang dikatakan akurat.
C.

Regulasi

Keseimbangan suhu tubuh diregulasi oleh mekanisme fisiologi dan prilaku. Agar suhu tubuh
tetap konstan dan berada dalam batas normal, hubungan antara produksi panas dan
pengeluaran panas harus di pertahankan. Hubungan diregulasi melalui mekanisme neurologis
dan kardiovaskular.

Kontrol neural dan vaskular

Proses pengaturan suhu terletak pada hypotalamus. Hipotalamus terletak antara hemisfer
serebral, mengontrol suhu tubuh sebagaimana kerja termostat dalam rumah. Suhu yang
nyaman adalahset point dimana system panas beroprasi. Di rumah, turunnya suhu
ruangan , mengaktifkan perapian, sebalik nya naik nya suhu mematikan perapian hipotalamus
merasakan perubahan ringan pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol pengeluaran
panas dan posterior mengontrol produksi panas.
Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set-poin, inpuls akan
dikirimkan untuk menurunkan suhu tubuh. (Perhatikan gambar)
Mekanisme pengeluaran panas termasuk berkeringat fasodilatasi (pelebaran) pembulu darah,
dan hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke pembuluh darah permukaan
untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika hipotalamus posterior merasakan suhu tubuh
rebih rendah dari set point, mekanisme konserpasi panas bekerja. Vasokonstriksik
(penyempitan pembuluh darah) mengurangi aliran darah ke kulit dan ekstrimitas.
Kompensasi produksi panas di stimulasi melalui kontraksi otot volunter dan getar atau
menggigil pada otot. Bila Vasokonstriksik tidak efektif dalam pencegahan tambahan
pengeluran panas, tubuh mulai menggigil. Lesi atau trauma pada hipotalamus atau kord
spinalis yang membawa pesan hipotalamus, dapat menyebabkan perubahan serius pada
kontrol suhu.
D.

Produksi panas

Panas diproduksi didalam tubuh melalui metabolisme, yang merupakan reaksi kimia pada
semua sel tubuh. Makanan merupakan sumber bahan bakar yang utama bagi metabolism.
Termogulasi membutuhkan fungsi normal dari proses produksi panas. Reaksi kimia seluler
membutuhkan energi untuk membentuk adenosine trifosfat (ATP). Jumlah energy yang
digunakan untuk metabolisme adalah laju metabolik. Aktivitas yang memerlukan tambahan
reaksi kimia meningkatkan laju metabolik. Bila metabolism meningkat, panas tambahan akan
diproduksi. Ketika metabolisme menurun, panas yang diproduksi akan lebih sedikit. Produksi
panas terjadi selama istirahat, gerakan otot polos, getaran dan termogenesis tanpa menggigil.
1. Metabolisme basal menghasilkan panas yang diproduksi tubuh saat istirahat. Jumlah
rata-rata laju metabolik basal (BMR) bergantung pada luas permukaan tubuh.
Hormon tiroid juga mempengaruhi BMR. Dengan cara meningkatkan pemecahan
glukosa dan lemak tubuh, hormone tiroid meningkatkan laju reaksi kimia pada
hamper seluruh sel tubuh. Bila hormone tiroid direaksi dalam jumlah besar, BMR
dapat meningkatkan 100% diatas normal. Tidak adanya hormone tiroid dapat
mengurangi setengah jumlah BMR, yang menyebabkan penurunan produksi panas.
Stimulasi system saraf simpatis oleh neropinefrin dan epinefrin juga dapat
meningkatkan laju metabolic jaringan tubuh. Mediator kimia ini menyebabkan
glukosa darah turun, yang akan menstimulasi sel untuk menghasilkan glukosa.
Hormone seks pria, testosterone meningkatkan BMR. Pria memiliki BMR yang lebih
tinggi dari pada wanita.
2. Gerakan volunteer seperti aktivitas otot selama latihan, membutuhkan tambahan
energi. Laju metabolic dapat menigkat diatas 2000 kali normal. Produksi panas dapat
meningkat di atas 50 kali normal.

3. Menggigil merupakan respons tubuh involunter terhadap suhu yang berbeda dalam
tubuh. Gerakan otot skelet selama menggigil membutuhkan energi yang signifikan.
Menggigil dapat meningkatkan produksi panas 5 5 kali lebih besar dari normal.
Panas diproduksi untuk mempertahankan suhu tubuh.
E.

Macam-Macam Suhu

Ada 2 jenis suhu tubuh :


1. Suhu intiSuhu inti merupakan suhu jaringan tubuh bagian dalam seperti rongga
abdomen dan rongga pelvis.Suhu inti ini relative konstan. Suhu tubuh inti yang
normal berada dalam satu rentang suhu
2. Suhu permukaanSuhu permukaan merupakan suhu pada kulit jaringan subkutan, dan
lemak.Suhu permukaan akan meningkat atau menurun sebagai respon terhadap
lingkungan.
F.

Suhu Tubuh Normal

Usia

Suhu (Celcius)

Baru lahir

36,8

1 tahun

36,8

5-8 tahun

37,0

10 tahun

37,0

Remaja

37,0

Dewasa

37,0

Lansia (>70 thn)

36,0

G.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh

1. Usia
Bayi sangat di pengaruhi oleh suhu lingkungan dan harus di lindungi dari perubahan suhu
yang sangat ekstrim. Suhu tubuh anak akan terus bervariasi dibandingkan suhu orang dewasa
hingga menginjak pubertas atau masa remaja. Sebagai lansia terutama mereka yang berusia
diatas 75 tahun, beresiko mengalami hipotermia (suhu tubuh dibawah 36 C) karena berbagai
alasan diantaranya :
1. Diet makanan yang tidak adekuat
2. Kehilangan lemak subkutan
3. Kurangnya aktifitas
4. Variasi diurnal (irama sirkadian)
Suhu tubuh normalnya akan berubah sepanjang hari, dengan perbedaan 1C antara pagi dan
sore hari. Titik suhu tubuh tertinggi biasanya terjadi antara pukul 20.00 dan 24.00 dan titik
suhu tubuh terendah saat tidur, yaitu pada pukul 04.00 dan jam 06.00.
2. Olahraga
Kerja berat dan olahraga yang keras dapat meningkatkan suhu tubuh hinga 38,3-40C apabila
di ukur mulai rectal
3. Hormon
Wanita biasanya mengalami fluktuasi hormone lebih sering dari pada pria. Pada wanita
sekresi prpogensterone pada saat ovulasi akan meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3- 0,6C
4. Strees
Stimulasi pada system sarap simpatis dapat meningkatkan epinefrin dan norepunefrin yang
akan meningkatkan aktifitas metabolism basal dan produksi panas. Perawat dapat
memperkirakan bahwa klian yang sangat stres atau sangat cemas akana mengalami
peningkatan suhu karna alasan tersebut.

5. Linkungan
Suhu tubuh yang ekstrem dapat mempengaruhi sitem pengaturan suhu tubuh seseorang .
1. H.

Kelebihan Dan Kekurangan Lokasi Pengukuran Suhu Tubuh

No Lokasi

Keuntungan

Mudah di akses dan nyaman

Oral

Rectal

Hasil reliabel

Menunjukan suhu inti

Tidak nyaman dan lebih


tidak menyenangkan bagi
kien .

Sulit dilakukan pada klien


yang tidak dapat miring
kanan dan kiiri

Dapat melukai rectum


setelah pembedahan
rectum

Berespon secepat
thermometer oral ketika
terjadinya perubahan pada
suhu anteri, fakta yang

Kekurangan

Thermometer kaca
dapat pecah bila
tergigit

Nilai tidak akurat


apabila kilen
barusajan
mengkomsumsi
cairan atau
makanan yang
dingin, panas, dan
merokok

Dapat melukai
mulut setelah
pembedahan oral

berpotensi
membahayakan bagi klien
yang febris karena biasa
saja diperoleh informasi
yang salah

Aksila

Memb ran
timpani

Adanya fase dapat


mengganggu penepatan
thermometer

Apabila fase lunak


thermometer dapat masuk
pada fase dan bukan
menempel pada rectum.

Aman dan noninvasif

Mudah di akses

Mencerminkan suhu inti

Sangat cepat

Dapat menimbulkan rasa


yang tidak nyaman dan
beresiko melukai
membrane apabila ujung
thermometer di masukan
terlalu jauh kedalam
lubang telinga

Pengukuran yang
berulang dapat
menunjukan hasil yang
berbeda

Hasil pengukuran pada


membrane timpani
sebelah kanan dan sebelah
kiri dapat berbeda.

ada serumen dapat


mempengaruhi bacaan

Thermometer harus di
pasang untuk waktu yang
lama agar memperoleh
hasil yang akurat

hasil.
5

Kulit

Murah

Memberi pembacaan yang


kontinu

Aman dan non invasif


o Pengukuran lebih
lambat dari tempat
pengukuran lain
selama perubahan
suhu, khususnya
pada saat
hipertemia
o Diaphoresis atau
keringat dapat
mengganggu
adhesi

1. I.

Pengeluaran Panas

Panas akan keluar dari tubuh melalui proses :

Radiasi : perpindahan panas dari permukaan suatu objek kepermukaan lain tanpa
keduanya bersentuhan (thibodeau dan patton 1993). Panas melalui gelombang
electromagnetic. Aliran darah dari organ internal inti membawa panas ke kulit dan ke
pembuluh darah permukaan. Jumlah panas yang dibawa kepermukaan tergantung dari
tingkat vasokonstriksi dan vasodilatasi yang di atur oleh hipotalamus. Panas yang
menyebar dari kulit ke setiap objek yang lebih dingin di sekelilingnya . penyebaran
meningkat bila perbedaan suhu antara objek juga meningkat.

contoh : 60% pengeluaran panas pada seseorang yang tidak mengenakan pakaian dan berdiri
pada ruangan dengan suhu normal adalah melalui radiasi (Guyton, 1996)

Konduksi : perpindahan panas dari suatu molekul ke molekul lainnya yang suhunya
lebih rendah. Terjadinya kontak langsung antara molekul dan biasanya menyebabkan
kehilangan panas yang sangat sedikit, misalnya :ketika tubuh direndam air yang
dingin. Jumlah perpindahan panas tergantung pada perbedaan suhu dan jumlah serta
lama kontak antar molekul.

Konveksi : merupakan perpindahan panas melalui aliran udara, tubuh biasanya


memiliki sedikit udara hangat sekelilingnya. Udara hangat ini naik dan digantikan

oleh udara yang lebih dingin, sehingga individual akan selalu kehilangan sedikit panas
lewat konveksi.

Evaporasi : proses perpindahan energi panas ketika cairan tubuh berubah menjadi
gas. Selama evaporasi, kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang
menguap (Guyton, 1991). Tubuh secara continue kehilangan panas melalui evaporasi.
Kira-kira 600-900 ml sehari menguap dari kulit dan paru, mengakibatkan kehilangan
air dan panas. Kehilangan normal ini di pertimbangkan kehilangan air tidak kasat
mata dan tidak memakai peran utama dalam mengatur suhu.

1. J.

Macam-Macam Thermometer
1. Thermometer air raksa-kaca : thermometer yang terubuat dari tabung kaca
yang pada salah satu ujungnya ditutup dan ujung lainnya dengan pentolan air
raksa

Ada 3 jenis thermometer kaca, yaitu


1. Oral (ujungnya ramping)
2. Stubby, dan
3. Rectal (ujungnya berbentuk buah pir).
Gambar !
Thermometer Elektronik : thermometer yang terdiri atas unit tampilan tenaga baterai yang
dapat diisi ulang, kabel kawat yang tipis dan alas yang memproses suhu yang di bungkus
dengan kantung plastik sekali pakai.
Gambar !
Thermometer Kimia Sekali Pakai : thermometer yang digunakan sekali pakai dan
penggunaan tunggal berbentuk strip kecil yang terbuat dari plastik dengan sensor suhu pada
pada salah satu ujungnya.
Gambar !
Plester Sensitif Suhu : thermometer pengukur suhu yang berbentuk plester yang dapat
digunakan untuk memperoleh gambaran umum suhu permukaan tubuh. Alat ini tidak
mengindikasikan suhu inti tubuh. Plester ini berisi cairan krostal, ketika alat ini diletakan
pada kukit biasanya dahi atau abdomen, digit suhu pada plester ini akan berespon berubah
warna sesuai suhu pasien.
Gambar !
Thermometer Inframerah : thermometer yang dapat mendeteksi panas tubuh dalamm
bentuk energi inframerah yang dipancarkan oleh suatu sumber panas, di saluran telinga yaitu
membrane timpani.

Gambar !
K.

Perubahan suhu

Perubahan suhu tubuh di luar rentang normal mempengaruhi set point hipotalamus.
Perubahan ini dapat berhubungan dengan produksi panas yang berlebihan, pengeluaran panas
yang berlebihan/dan produksi panas yang minimal. Pada Sifat perubahan tsb mempengaruhi
masalah klinis yang dialami klien.
1. Demam
Hiperpireksia atau demam terjadi karena mekanisme pengeluaran panas tidak mampu untuk
mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas, yang mengakibatkan
peningkatan suhu tubuh abnormal. Tingkat ketika demam mengancam kesehatan seringkali
merupakan sumber yang diperdebatkan diantara pemberi perawat kesehatan. Demam
biasanyatidak berbahaya jika berada pada suhu dinawah 39C.
Berikut beberapa pola demam :

Terus menerus : tingginya menetap lebih dari 24 jam bervariasi 1C sampai 2C.

Intermiten : demam memuncak secara berseling dengan suhu normal. Suhu kembali
normal paling sedikit dalam 24 jam.

Remiten : demam memuncak dan turun tanpa kembali ke tingkat suhu normal.

Relaps : periode episode demam diselingi dengan tingkat suhu normal, episode
demam dan normotemia dapat memanjang lebih dari 24 jam.

2. Kelelahan akibat panas


Kelelahan akibat panas terjadi apabila diaphoresis yang banyak mengakibatkan kehilangan
cairan dan elektrolit yang berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang sangat panas. Tanda
dan gejala kurangnya volume cairan adalah hal yang umum selama kelelahan akibat panas.
Tindakan yang pertama yaitu memindahkan klien kelingkungan yang lebih dingin serta
memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit.
4. Hipertermia
Hipertermia yaitu peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidak mampuan tubuh untuk
meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas.
5. Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat
mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstroke. Klien yang
beresiko termasuk yang masih sangat mudaatau sangat tua yang memiliki penyakit
kaediovaskular, hipotoroidisme, diabetes, atau alkoholik. Yang juga termasuk beresiko adalah
yang mengkonsumsi orang yang dapat menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan

panas (miss : Fenotiazim, antikolirgenik, diuretic, amfetamin dan antagonis resptor betaadrenergik) dan mereka yang menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (miss : atlet,
pekerja kontruksi dam petani)
Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangan elektrolit sangat berat dan malfungsi
hupotalamus. Heatstroke dengan suhu >40,5C mengakibatkan kerusakan jarungan jaringan
pada sel dari semua organ tubuh.
6. Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan
tubuh untuk memproduksi panas akibat hipotermia.
Ketika suhu tubuh turun menjadi 35C klien mengalami gemetar yang todak terkontrol,
hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menilai. Jika suhu tubuh menurun dibawah 34,4C
frekuensi jantung pernafasan dan tekanan dalam turun.
Jika hipotermia terus berlangsung, klien akan mengalami disritmia jantung, kehilangan
kesadaran dan tidak responsif terhadap stimulus nyeri. Dalam kasus hipotermia berat, klien
dapat menunjukan tanda klinis yang mirip dengan orang mati misalnya tidak ada respon
terhadap stimulus dan nadi serta pernafasan sangat lemah.
Berikut klasifikasi hpotermia :

Celcius (C)

Fahrenheit (F)

33 36

91,4 96,8

30 33

86,0 91,4

27 30

80,6 86,0

<30

<80,6

Ringan

Sedang

Berat

Sangat berat

DAFTAR PUSTAKA

Gabriel J. F, 1996 , Fisika Kedokteran , Jakarta : EGC

Hidayat, A . Aziz Alimul, 2008 , Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia , Jakarta : Salemba
Merdeka
Potter A. Patricia, 1996 , Fundamental Keperawatan , Jakarta : EGC

Suhu tubuh dalam fungsi optimalnya menetap pada rentang sempit, suhu tubuh orang dewasa
normal rata-rata adalah 37C. Tidak ada suhu tunggal yang normal bagi masing-masing
individu,
karena
tergantung
pada
faktor
lingkungan.
Panas secara normal diproduksi oleh tubuh dalam empat cara:

Suatu proses konstan dengan metabolisme basal --> 55% - 60% energi tubuh
seseorang digunakan untuk produksi panas.

Latihan meningkatkan kerja otot --> meningkatkan mebolisma --> produksi panas
meningkat.

Sekresi hormone tiroid --> meningkatkan pemecahan lemak glukosa --> meningatkan
produksi panas.

Saat gula darah turun --> merangsang saraf simpatis --> merangsang epinefrin dan
norephinefrin --> meningkatkan produksi panas.

Suhu tubuh hilang melalui empat cara, dan gangguan pada mekanisme ini dapat
menyebabkan terjadinya hipertermia atau demam.

Suhu hilang melalui proses radiasi --> Di mana perpindahan panas dari permukaan
suatu obyek ke obyek lain tanpa ada kontak langsung.

Suhu hilang melalui konduksi --> Perpindahan panas dari suatu obyek dengan cara
kontak langsung.

Suhu hilang akibat proses konveksi --> Udara tubuh sekitar kulit mengalir ke udara
yang lebih dingin.

Suhu hilang melalui proses evaporasi --> Kehilangan panas melalui penguapan lewat
keringat.

Tubuh secara normal mempertahankan keseimbangan antara produksi dan kehilangan suhu
melalui system pengendali suhu.

Hiphotalamus bekerja sebagai sebuah thermostat --> dilakukan oleh


hypothalamus posterior yang sensitive terhadap suhu di bawah temperature normal,
dan hipothalamus anterior yang peka terhadap suhu di atas normal.

Arterior di kulit --> melakukan vasokontriksi bila suhu di bawah normal, dan
vasodilatasi bila suhu di atas normal.

Kelenjar keringat --> bila suhu di bawah normal kelenjar keringat akan mengurangi
produksi keringat, bila suhu di atas normal kelenjar keringat akan meningkatkan
produksi keringat.

Erector muscle --> melaksanakan konteraksi otot halus bila dingin sehingga bulubulu merinding, dan relaksasi bila suhu panas sehingga bulu-bulu datar.

Otot skeletal --> pengaturan kerja volunteer dan involunter bila suhu di bawah
normal menggigil dan loncat-loncat, bila suhu di atas normal kerja volunteer dengan
kipas-kipas atau lainnya.

Kelenjar endokrin --> bila suhu di bawah normal hormone ephinefrin dan tiroid
akan memecahkan lemak untuk meningkatkan metabolisme, bila suhu di atas normal
metabolisme dikurangi.

Suhu tubuh diatur seluruhnya oleh mekanisme persarapan umpan balik semua mekanisme
terjadi melalui pusat pengaturan suhu yang terletak pada hypothalamus.
Mekanisme penurunan temperature bila tubuh terlalu panas:

Vasodilatasi pembuluh darah kulit --> Semua area dalam tubuh, pembuluh darah
kulit berdilatasi kuat, sehingga vasodilatasi penuh meningkatkan pemindahan panas
ke kulit. Hal ini disebabkan oleh hambatan pusat simpatis di hipotalamus posterior
yang menyebabkan vasokontriksi.

Berkeringat --> Peningkatan kecepatan kehilangan panas melalui evaporasi yang


dihasilkan dari berkeringat. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C, menyebabkan
pengeluaran keringat cukup banyak untuk membuang 10x kecepatan pembentukan
panas basal.

Penurunan pembentukan panas --> Mekanisme yang menyebabkan pembentukan


panas berlebih, seperti menggigil dan termogenesis kimia, di hambat dengan kuat.

Mekanisme peningkatan temperature saat tubuh terlalu dingin:

Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh --> Hal ini disebabkan oleh rangsangan dari
pusat simpatis hipotalamus posterior.

Piloereksi --> Yang berarti berdiri pada akarnya --> Rangsangan simpatis
menyebabkan arektor pili yang melekat ke folikel rambut berkontraksi, sehingga
rambut berdiri tegak, walaupun mekanisme ini pada manusia tidak berpengaruh, pada
hewan memungkinkan untuk membentuk lapisan tebal isolator udara yang
bersebelahan dengan kulit, sehingga pemindahan panas ke lingkungan sangat ditekan.

Peningkatan pembentukan panas --> Pembentukan panas oleh system metabolisme


meningkat dengan memicu terjadinya menggigil, rangsangan simpatis untuk
pembentukan panas, dan sekresi tiroksin.

Pengukuran

Suhu

Tubuh

Pada

Penderita

Demam

(Hipertermia)

Demam adalah peningkatan suhu tubuh dari variasi suhu normal sehari-hari yang
berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus. Suhu tubuh normal
berkisar antara 36,5-37,2C. Derajat suhu yang dapat dikatakan demam adalah rectal
temperature =38,0C atau oral temperature =37,5C atau axillary temperature =37,2C.
Pirogen seperti bakteri, virus dan antigen tertentu dapat meningkatkan suhu tubuh dengan
meningkatkan
set
point
di
hypothalamus.
Demam merupakan suatu kondisi kegagalan pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) akibat
ketidakmampuan tubuh melepaskan / mengeluarkan panas (misal pada heat stroke) atau
produksi panas yang berlebihan oleh tubuh dengan pelepasan panas dalam laju yang normal.
Pathofisiologi demam
Infeksi atau peradangan --> fagositosis oleh netrofil --> mengeluarkan zat pyrogen endogen
--> merangsang prostaglanding --> meningkatkan set point di hypothalamus --> mengawali
respon dingin --> produksi panas meningkat, pengurangan panas menurun --> suhu tubuh
mengikuti
set
point
baru
-->
demam.
Respon fisiologi dari demam meliputi hal-hal berikut ini:

Produksi dan penyimpangan panas melalui vasokonstriksi, gemetar dan piloereksi.

Meningkatkan metabolisme dan kebutuhan oksigen.

Meningkatkan kecepatan jantung dan respirasi.

Gelisah dan disorientasi bila kebutuhan oksigen tidak terpenuhi.

Pengkajian
Saat memeriksa klien demam:

Inspeksi dan palpasi kulit untuk mengetahui suhu, kelembaban dan turgor.

Tanyakan apakah klien mengalami sakit kepala, mialgia, menggigil, mual, kelemahan,
kelelahan, anoreksia atau fotopobia.

Catat muntah atau diare, observasi prilaku seperti kebingungan, disorientasi dan
kegelisahan.

Inspeksi kondisi mukosa mulut untuk adanya penebalan, lesi dan penurunan salivasi.

Alat khusus
Alat-alat berikut ini digunakan dalam memeriksa suhu tubuh:

Air raksa dalam thermometer kaca.

Thermometer elektronik dengan plastic penutup pelindung sekali pakai digunakan


oral atau rectal.

Thermometer sekali pakai, thermometer pemakaian tunggal dapat digunakan untuk


pengukuran suhu oral atau ditempelkan pada kulit.

Persiapan
Pilihlah sisi pengukuran yang paling cocok berdasarkan pada umur, daerah yang dapat diukur
atau kondisi klinis.

Oral --> paling mudah dilakukan, hasil pembacaan akurat. Tidak cocok digunakan
pada klien seperti bayi, anak atau klien tidak sadar dan mengalami pembedahan
mulut.

Rektal --> Pembacaan hasil lebih akurat, digunakan pada bayi.

Ketiak --> Aman tidak mengganggu.

Persiapan klien:

Berikan klien posisi yang tepat.

Jelaskan prosedur dan kegunaannya.

Sediakan semua alat dan bahan.

Cuci tangan dan gunakan tehnik aseptic.

Catatan : gunakan sarung tangan sekali pakai pada tangan yang dominant untuk mengukur
suhu
oral
dan
rectal.

Pengukuran oral:

Gunakan sarung tangan sekali pakai.

Pegang thermometer air raksa pada bagian belakang yang sitandai warna / puncak
batang thermometer.

Cuci dalam air dingin, keringkan thermometer dengan tisu dari ujung kaca kearah jari
dengan gerak rotasi.

Baca tingkat air raksa. Tempatkan thermometer di bawah lidah klien dalam kantung
sublingual, lateral ke tengah rahang.

Minta klien untuk menahan thermometer dengan bibir (hindari dari gigitan).

Biarkan thermometer di tempat tersebut untuk pembacaan yang akurat (thermometer


kaca 2 sampai 3 menit tergantung pada kebijakan RS).

Keluarkan thermometer dengan hati-hati, lap bersih, bacalah tingkat air raksanya

Turunkan lagi thermometer dan simpan dengan baik atau kembalikan ketempat
penyimpangan.

Pengukuran suhu rectal:

Periharalah privasi klien dengan tirai atau pintu tertutup, atau posisi. gunakan sarung
tangan.

Cuci, bersihkan dan turunkan thermometer dengan tehnik yang sama dengan
pengukuran oral.

Pasang pelindung rectal, lumasi ujung tabung dengan pelican 1 sampai 1,5 inci.

Buka anus dengan menaikkan bokong atas dengan tangan yang dominant. Masukan
perlahan thermometer ke dalam anus ke arah umbilicus 1,5 inci pada dewasa dan 0,5
inci pada bayi.

Biarkan thermometer selama 2 menit untuk pembacaan yang akurat.

Keluarkan thermometer dan lap bersih dengan gerak rotasi, lap area anal untuk
membersihkan pelumas atau faeses.

Baca tingkat air raksa, bantu klien ke posisi yang nyaman.

Cucilah thermometer dalam air sabun hangat dan bilaslah dalam air dingin dan
kembalikan penutup ketempatnya, keringkan dan simpan kembali pada tempatnya.

Pengukuran ketiak:

Jaga privasi klien dengan tirai atau pintu tertutup.

Bilaslah thermometer kaca air raksa dalam air dingin, dilap bersih dan turunkan.

Buka pakaian atau gaun bahu dan lengan, masukkan thermometer ke tengah ketiak,
turunkan lengan klien, dan silangkan lengan bawah klien.

Biarkan termometer di tempat untuk pembacaan yang akurat 5-10 menit.

Angkat thermometer dan lap bersih dengan garakkan rotasi, bacalah tingkat air raksa.

Turunkan thermometer dan kembalikan ke tempat penyimpanan, cuci tangan.

Dokumentasikan.

Suhu tubuh normal :

Bayi baru lahir : 36 37,2c (axilla)

3 tahun : 36,4 37c (axilla)

10 tahun : 36,4 37c (oral)

16 tahun : 36,4 37c (oral

Berapa Suhu Tubuh Normal Manusia?

Selama ini banyak orang menganggap suhu tubuh normal manusia berada pada titik
37 derajat Celcius. Benar, rata-rata suhu tubuh normal manusia memang berada pada
kisaran tersebut. Tapi kenyataannya suhu tubuh normal tidak selalu pada titik 37
derajat Celcius. Suhu tubuh yang normal bisa berada di antara 36,5-37,5 derajat
Celcius.
Suhu tubuh normal bisa berubah sepanjang hari. Biasanya, suhu terendah terjadi pada
pagi hari dan akan naik 0,6 derajat Celcius pada sore hari. Aktivitas yang Anda
lakukan sehari-hari juga bisa memengaruhi suhu tubuh. Contohnya ketika Anda
berolahraga di hari yang panas maka suhu tubuh dapat naik 0,6 derajat Celcius.
Suhu tubuh normal juga bisa berbeda, entah lebih tinggi atau lebih rendah, ketika
seorang wanita berovulasi atau saat siklus menstruasi.

Berbahayakah Suhu Tubuh Rendah atau Tinggi?

Pahami lebih jauh mengenai tingkat suhu tubuh karena suhu tubuh yang terlalu rendah
maupun terlalu tinggi berpotensi menimbulkan kondisi yang lebih parah.
Suhu tubuh rendah
Suhu tubuh rendah bisa disebut sebagai hipotermia. Suhu tubuh yang terlalu rendah
dapat mengancam jiwa karena memperlambat sistem kerja saraf dan pernapasan,
serta peredaran darah.
Seseorang dikatakan mengalami hipotermia jika suhu tubuh berada di bawah 35
derajat Celcius. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terkena paparan cuaca dingin
seperti terlalu lama berada di tempat dingin, tidak memakai pakaian hangat saat di
tempat dingin, atau terjatuh ke dalam air yang sangat dingin.
Pahami pula gejala-gejala terjadinya hipotermia. Pada orang dewasa, gejala yang akan
dirasakan antara lain menggigil, bicara tidak jelas, pernapasan yang pendek dan pelan,
serta perlahan-lahan hilang kesadaran. Sementara gejala yang terjadi pada bayi adalah
kulit dingin dan berwarna merah, tidak berenergi, dan menangis tanpa tenaga.
Jika kedinginan, pakailah pakaian yang lebih tebal dan hangat. Usahakan agar tubuh
selalu kering. Konsumsi minuman hangat seperti rebusan air jahe. Mandi air hangat
dan berpelukan juga bisa menjadi pilihan. Jika mencurigai seseorang mengalami
hipotermia, segera bawa ke rumah sakit terdekat karena ini merupakan kondisi
darurat.
Suhu tubuh tinggi
Hipertermia adalah kondisi ketika suhu tubuh berada pada titik lebih dari 38,3 derajat
Celcius. Hipertermia terjadi ketika tubuh gagal mengatur suhu sehingga suhu tubuh
pun terus meningkat. Sengatan panas akan dirasakan oleh pengidap hipertemia.
Demam berbeda dari hipertermia. Seseorang dikatakan mengalami demam ketika
suhu tubuhnya berada di atas 37,5 derajat Celcius. Demam adalah peningkatan suhu
tubuh dalam tingkat yang sepenuhnya terkendali oleh sistem pengaturan suhu tubuh
sedangkan hipertermia adalah meningkatnya suhu tubuh di luar kendali sistem
tersebut.
Sengatan panas umumnya berkembang ketika seseorang berada di lingkungan yang
panas dan tubuh tidak mampu mendinginkan diri secara efektif. Suhu tubuh yang
tinggi dan berkelanjutan dapat menyebabkan dehidrasi parah dan merusak organ
tubuh secara permanen, seperti otak. Oleh karena itu, kondisi ini memerlukan
penanganan medis secepatnya.

Orang dewasa dengan suhu tubuh 39,4 derajat Celcius dan anak-anak dengan suhu
tubuh 38 derajat Celcius disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter.
Ukur Suhu Tubuh
Berbagai cara bisa dilakukan untuk mengukur suhu tubuh. Anda bisa menggunakan
termometer dengan beragam jenis sesuai kebutuhan.

Termometer telinga. Sesuai namanya, termometer berbentuk kerucut


kecil ini digunakan pada telinga. Suhu tubuh bisa terlihat di layar digital
dalam hitungan detik.

Termometer elektronik. Terbuat dari plastik dan ujungnya menyerupai


pensil. Termometer ini dapat digunakan di ketiak, mulut, atau rektum
(anus). Jenis ini mudah digunakan dan dibaca.

Termometer dahi. Termometer ini menggunakan suhu kulit untuk


menentukan suhu tubuh. Penggunaan termometer berbentuk tipis ini
cukup ditempel pada dahi.

Termometer arteri temporal. Bisa digunakan untuk mengukur suhu


tubuh pada bagian dahi.

Termometer sekali pakai. Jenis ini bisa dipakai sekali di mulut atau
rektum. Bisa juga dipakai untuk mengukur suhu terus-menerus selama 48
jam pada kulit bayi. Termometer ini aman, namun tidak seakurat
termometer elektornik dan telinga.

Termometer dot. Berbentuk seperti dot bayi. Cukup letakkan


termometer ini di mulut bayi saat mengukur suhu. Termometer ini
terbilang kurang efektif dan efisien karena butuh waktu lama untuk
memunculkan hasilnya ditambah hasilnya tidak seakurat jenis termometer
lain.

Penyebab Tidak Akuratnya Termometer


Terdapat beberapa faktor yang umumnya tanpa disengaja sehingga dapat
mengakibatkan hasil pengukuran termometer menjadi tidak akurat.

Tidak menggunakan termometer pada bagian tubuh yang tepat.

Terlalu cepat mengangkat termometer dari tubuh.

Baterai termometer lemah atau mati.

Tidak mengikuti petunjuk penggunaan termometer yang baik dan benar.

Mulut terbuka saat pengambilan suhu tubuh secara oral.

Pengambilan suhu tubuh dalam kurun waktu satu jam setelah olahraga
berat atau setelah mandi air panas.

Pengambilan suhu tubuh secara oral dalam waktu 20 menit setelah


merokok atau minum cairan panas atau dingin.

Memahami suhu tubuh sangatlah penting. Jadi sediakan selalu termometer di rumah
Anda sebagai langkah awal mendeteksi suhu tubuh apakah normal atau abnormal.

Suhu Tubuh Normal Manusia


Advertisement

Pada dasarnya, tubuh manusia memiliki suhu tubuh yang bervariasi dan beragam
tergantung dari banyaknya aktivitas yang dilakukan, serta kondisi cuaca dan suhu
yang terjadi pada lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini tentunya akan berbeda beda
setiap manusia.

Suhu tubuh pada manusia ini ternyata


dapat mengalami perubahan, baik kenaikan atau penurunan suhu tubuh dalam satu
hari. Secara umum, suhu terendah pada tubuh manusia terjadi pada pagi hari ketika
bangun tidur, dengan kondisi cuaca yang juga bersuhu dingin. Ketika anda
beraktivitas, terutama aktivitas di bawah suhu panas, seperti berjalan di bawah terik
matahari, maka suhu tubuh anda akan mengalam kemungkinan untuk mengalami
peningkatan kurang lebih sebesar 0.6 derajat.
Berapakah Suhu Tubuh yang Ideal pada Tubuh Manusia?
Apakah terdapat standar tertentu untuk mengklasifikasikan apakah suhu tubuh kita
normal atau tidak? Jawabannya adalah ya, namun kembali lagi bada kondisi
lingkungan sekitarnya. Selain itu, suhu tubuh normal pada anak anak dan pada
dewasa pun berbeda beda. Hal ini disebabkan oleh proses metabolism tubuh, serta

aktivitas aktivitas yang dilakukan antara anak anak dengan orang dewasa juga
berbeda beda. Berikut ini info lebih lengkapnya :
Suhu tubuh normal pada bayi

Suhu tubuh normal pada bayi (termasuk di dalamnya adalah balita, dan anak anak
usia sekolah dasar berbeda dengan orang dewasa. Bayi dan anak anak cenderung
memiliki suhu tubuh normal yang jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa atau
remaja. Hal ini disebabkan oleh tingginya proses metabolism tubuh yang terjadi pada
bayi dan anak anak.

Pada usia 3 bulan, bayi memiliki rata rata suhu tubuh 37.4 C,

Pada usia 1 tahun memiliki suhu tubuh 37.6 C.

Mungkin anda sering mengalami panic, ketika suhu tubuh bayi anda mencapai angka
37.6 C. Hal ini tidak perlu dikhawatirkan berlebihan, karena pada dasarnya, suhu
tubuh tersebut adalah normal, dan tidak menandakan bayi tersebut mengalami
demam.
Bagaimana cara mengukur suhu tubuh pada bayi?
Untuk mengukur rata rata suhu tubuh bayi dalam satu hari, perlu dilakukan
pengukuran shu tubuh lebih dari 1 kali, yaitu pada saat :

Pagi hari

Siang hari

Sore hari

Malam hari

Pengukuran ini dapat anda lakukan secara rutin dan teratur dalam satu hari, dan akan
menghasilkan rata rata suhu tubuh dari bayi tersebut. Pengukuran suhu tubuh, selain
dilakukan dalam rentang waktu tertentu, diperlukan juga teknik khusus dalam
melakukan pengukuran, yaitu :

Pada usia 0 3 bulan, pengukuran suhu tubuh dilakukan melalui anus dari
bayi.

Pada usia 3 bulan 4 tahun, pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan


dengan menggunakan thermometer anus dan thermometer mulut.

Ketika melakukan pengukuran, biasanya terdapat perbedaan suhu, yaitu suhu anus 1
derajat lebih tinggi daripada suhu di mulut, sedangkan suhu di ketiak 1 derajat lebih
rendah daripada suhu mulut.

Apabila bayi mengalami suhu tubuh sebesar 38 40 C atau lebih dan tidak
mengalami penurunan suhu, maka anda wajib untuk memeriksakan bayi tersebut ke
dokter untuk penanganan lebih lanjut.
Suhu tubuh normal pada orang dewasa ( dari remaja hingga tua )
sponsored links

Suhu tubuh normal pada orang dewasa ( dimulai dari remaja ) memiliki nilai sebesar
36.5 37.5 C. Hal ini menunjukkan bahwa, suhu tubuh orang dewasa masih lebih
rendah dibandingkan suhu tubuh pada bayi. Suhu tubuh pada orang dewasa sebaiknya
dilakukan dengan beberapa rentang waktu, namun biasanya orang orang lebih
senang mengukur suhu tubuhnya ketika sedang merasakan meriang.
Bagaimana mengukur suhu tubuh manusia dewasa?
Untuk mengukur suhu tubuh pada orang dewasa, dapat menggunakan beberapa
instrument thermometer yang banyak dijual di pasaran, baik dalam bentuk
thermometer raksa, ataupun thermometer digital.
Berikut ini jenis jenis thermometer yang bisa anda gunakan :

Termometer telinga

Thermometer elektronik

Thermometer dahi

Thermometer Arteri Temporal

Termometer dot

Itulah beberapa penjelasan singkat mengenai suhu tubuh pada manusia, baik itu usia
bayi hingga anak anak, dan juga remaja, dewasa, hingga lanjut usia.
Akibat Suhu Tubuh Tidak Normal

Setelah mealakukan pengukuran dengan menggunakan thermometer, maka anda akan


memiliki 3 kemungkinan. Pertama, ada kemungkinan suhu tubuh anda baik dan
normal, kedua suhu tubuh anda drop, dan jauh dibawah standar, dan yang terakhir
adalah suhu tubuh anda menjadi lebih tinggi.
1. Suhu tubuh di bawah standar dan rendah

Suhu tubuh yang rendah ini juga bisa disebut dengan istilah hipotermia. Hipotermia
ternyata sangat berbahaya, karena hipotermia dapat menyebabkan kematian pada
penderitanya.
Berkut ini beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipotermia :

Mandi di dalam sungai es

Berjalan jalan pada saat musim salju tanpa pakiaan pelindung

Ketika berada di puncak gunung

Lalu, untuk mengetahui seseorang memiliki atau terserang hipotermia adalah :

Badan menggigil

Akan mengalami kehilangan kesadaran

Wajah pucat

Kulit terasa sangat dingin

Tidak berenergi.

2. Suhu tubuh yang tinggi.

Suhu tubuh yang tinggi biasa disebut dengan istilah hipertermia. Pada kondisi inilah
seseorang, baik anak anak, hingga tua mengalam apa yang disebut dengan demam.
Biasanya suhu yang menjadi patokan adalah diatas 37.5 C. berikut ini adalah hal hal
yang mungkin akan terjadi ketika anda mengalami hipertermia, yaitu :

Rasa pusing dan sakit kepala

Merusak organ tubuh

Demam berdarah

Badan terasa tidak enak, dan sulit beraktifitas

Lemas

Sulit makan

Pada terasa pedih

Perlu Diperhatikan !!
Ketika suhu tubuh sudah berada dapa rentang 38 39 C, bahkan melebihi, atau
kurang dari 36 C, maka anda wajib melakukan pemeriksaan ke dokter, karena itu
tanda tanda ketidaknormalan suhu tubuh anda.
Itulah beberapa ulasan singkat mengenai suhu tubuh manusia, terutama pada anak
anak yang baru dilahirkan, hingga masa masa lanjut usia. Dari beberapa ulasan
sebelumnya dapat ditari kesimpulan berupa tips tips yang dapat anda lakukan untuk
menjaga suhu tubuh normal anda, yaitu :

Hindari kontak dengan lokasi yang terlalu panas, ataupun terlalu dingin.

Selalu gunakan pakaian pelindung yang baik, terutama ketika berada pada
daerah yang sangat panas dan sangat dingin.

Selalu mengkonsumsi makanan yang memiliki nilai gizi yang dan baik
untuk menjaga daya tahan tubuh.

Biasanya jenis obat yang dijadikan panduan orang ketika suhu tubuh tinggi adalah
parasetamol, namun efek samping parasetamol jangka panjang wajib anda ketahui dan
jangan asal memberikan jenis obat ini.

Kenali Si Pendeteksi Suhu Tubuh


Demam pada bayi dan batita termasuk hal yang paling membuat orang tua khawatir.
Demam biasanya gejala penyakit, sebagai manifestasi perlawanan tubuh terhadap
infeski kuman. Kemungkinannya sangat luas, mulai dari hanya selesma (cold) sampai
penyakit berbahaya seperti Sindrom Kawasaki. Karena itulah, orang tua dengan batita
harus selalu memantau suhu anak.
Umumnya suhu tubuh anak tergolong normal jika berada antara 36,5 C-37,5 C.
Jika di atas 37,5 C, bisa dikatakan suhunya tergolong tinggi dan menderita demam,
ujar Dr. Matheus Tatang Puspanjono, SpA, spesialis anak dari FKUI-RSCM. Batas
37,5 C adalah pengukuran suhu melalui mulut atau oral. Jika Anda mengukurnya
melalui ketiak, suhu tubuh normal batita adalah 37,3 C dan 37,8 C melalui rektal
atau anus.
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan orang tua segera
menghubungi dokter bila suhu rektal bayi usia 2 bulan mencapai 37,9 C; suhu rektal
bayi 3-6 bulan mencapai 38,3 C, dan bayi di atas 6 bulan 39,4 C. Anda harus segera
membawa anak ke dokter, berapa pun usianya, bila suhu rektalnya mencapai 40,5 C.
Selisih suhu 1-2 derajat bisa menunjukkan masalah menjadi lebih serius. Dan Anda
tidak mungkin menentukan suhu tubuh hanya dengan meraba kening atau leher anak.
Untuk itulah setiap orang tua disarankan mempunyai termometer. Pertanyaannya,
termometer seperti apa yang tepat untuk keluarga Anda dan bagaimana cara
menggunakannya dengan benar?
Raksa atau Digital?
Mungkin Anda sudah cukup familiar dengan termometer air raksa. Berbentuk sebuah
tabung gelas yang berisi cairan air raksa (merkuri), termometer ini memiliki garis-

garis dengan angka sebagai penunjuk skala temperatur pada sisinya. Termometer air
raksa sangat akurat jika dibandingkan dengan termometer digital. Ini karena air raksa
yang digunakan di dalam tabung merupakan logam mulia dan tidak terpengaruh
apapun. Berbeda dengan termometer digital yang tingkat akurasinya tergantung
baterai, jelas Dr. Tatang.
Sebelum menggunakannya, turunkan air raksa di dalam tabung dengan mengibaskibaskan termometer untuk mencapai hasil yang akurat. Hanya, walaupun akurat,
penggunaan termometer raksa juga harus berhati-hati agar tabung tidak pecah dan air
raksa tidak terkena kulit. Untuk bayi dan batita, penggunaan termometer digital akan
lebih aman. Dokter ini kembali menambahkan, Selain itu, pada termometer digital,
kita tidak perlu memperhatikan jam. Selain waktunya relatif sebentar, saat mencapai
suhu maksimal tubuh, termometer digital akan otomatis mengeluarkan bunyi bip.
Termometer Aksila/Ketiak
Cara Penggunaan: Sesuai dengan namanya, penggunaan termometer ini memang
diselipkan pada ketiak. Bagian yang diselipkan adalah ujung yang lebih kecil dan
memiliki indikator pada ujungnya. Pastikan Anda menyelipkannya di bagian puncak
ketiak.
Waktu: Karena diletakkan pada ketiak (bagian luar tubuh) dan tidak dimasukkan ke
dalam tubuh, waktu yang dibutuhkan untuk menuai hasilnya pun cukup lamasekitar
10 menit. Karena waktu yang dibutuhkan lebih lama, otomatis kita harus lebih sabar
menunggu agar hasil yang didapat pun benar, kata Dr. Tatang.
Tingkat Akurasi: Hasil pengukuran suhu pada aksila (ketiak) biasanya juga tidak
seakurat pengukuran yang dilakukan di dalam mulut atau rektal. Umumnya suhu
terukur yang didapat dengan menggunakan termometer aksila lebih rendah 1-2 derajat
dibandingkan suhu yang diukur dengan termometer oral atau rektal, jelas dokter
yang juga mengajar di Universitas Pelita Harapan ini. Termometer ini cocok
digunakan untuk usia balita ke atas.
Termometer Mulut
Cara penggunaan: Termometer ini dimasukkan ke dalam mulut. Namun perhatikan
penempatannya, karena Anda harus memastikan ujung termometer di bawah lidah
sejauh mungkin. Hal ini penting, karena masih banyak orang yang mengira
penggunaan termometer mulut adalah hanya dengan memasukkannya ke dalam mulut,
tapi di atas lidah dan cukup dengan dikulum.
Waktu: Sekitar 3-4 menit.
Tingkat akurasi: Dr. Tatang kembali berujar, Karena semakin dekat ke inti tubuh,

maka tingkat akurasi termometer mulut lebih tinggi dibandingkan dengan termometer
aksila. Pada termometer mulut, suhu tubuh anak baru digolongkan demam jika
mencapai 38 C. Jangan lupa, ini karena suhu pada termometer mulut biasanya 1-2
lebih tinggi daripada termometer aksila, tambahnya. Usahakan anak tidak minum
atau makan sesuatu yang panas atau dingin sekitar 20-30 menit sebelum dilakukan
pengukuran agar suhu di bawah lidah tidak berubah dan hasilnya pun akurat.
Termometer ini cocok digunakan untuk usia balita ke atas, karena bayi dan balita
belum memiliki kontrol yang baik untuk tetap menjaga termometer tetap berada stabil
di bawah lidah.
Termometer Rektal
Cara penggunaan: Termometer ini dimasukkan ke dalam anus bayi. Telungkupkan
bayi, beri pelicin yang larut dalam air pada ujung termometer, lalu masukkan ke
dalam anus sedalam 1-2 cm.
Waktu: Tunggulah sampai ada bunyi bip untuk membaca hasilnyabiasanya
sekitar 3 menit (disarankan menggunakan termometer digital pada rektal).
Tingkat akurasi: Selain paling cocok digunakan untuk mengukur suhu tubuh bayi,
termometer rektal juga paling akurat dibandingkan termometer mulut dan termometer
aksila, kata Dr. Tatang. Termometer ini juga paling cocok digunakan pada bayi.

Pengukuran Suhu Tubuh


PENGERTIAN SUHU
Suhu adalah pernyataan tentang perbandingan (derajat) panas suatu zat. Dapat pula
dikatakan sebagai
ukuran panas / dinginnya suatu benda. Sedangkan dalam bidang thermodinamika suhu
adalah suatu
ukuran kecenderungan bentuk atau sistem untuk melepaskan tenaga secara spontan.

SUHU TUBUH INTI DAN SUHU TUBUH PERMUKAAN


1. Suhu inti:

(core temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial,
toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif
konstan (sekitar 37C).

Tempat pengukuran suhu inti yang paling efektif : rectum, membrane timpani,
esophagus, arteri pulmonel, kandung kemih, rektal.

2. Suhu permukaan:

(surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan subkutan, dan
lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20C sampai 40C.

Tempat pengukuran suhu permukaan yang paling efektif : kulit, aksila oral.

SUHU TUBUH NORMAL SESUAI TINGKATAN UMUR

Umur

Suhu
(derajat
celcius)

3 bulan

37,5

1 tahun

37,7

3 tahun

37,2

5 tahun

37,0

7 tahun

36,8

9 tahun

36,7

13 tahun

36,6

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PENGUKURAN SUHU TUBUH PADA MEMBRAN TIMPANI,


REKTAL, ORAL, dan AKSILA

1. Membran Timpani

Keuntungan:

tempat mudah dicapai.

perubahan posisi yang dibutuhkan minimal.

memberi pembacaan inti yang akurat.

waktu pengukuran sangat cepat (2-5 detik).

Dapat dilakukan tanpa membangunkan atau mengganggu klien.

kerugian:

Alat bantu dengar harus dikeluarkan sebelum pengukuran.

Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah telinga atau membran
timpani.

Membutuhkan pembungkus probe sekali pakai.

Impaksi serumen dan otitis media dapat mengganggu pengukuran suhu.

Keakuratan pengukuran pada bayi baru lahir dan anak-anak dibawah 3 tahun masih
diragukan.

Pengukuran suhu membrane tympani:

Penempatan termometer adalah pada lubang terlinga,


masukan ujung prove thermometer secara perlahan
lahankedalam saluran telinga yang mengarah ketitik
tengah.Teknik yang benar adalah tergantung pada
bagaimana perangkat digunakan.
Probe termometer pada beberapa model harus

dimasukkan hanya cukup sampai mencapai segel


cahaya, sedangkan model lainnya memerlukan segel
penuh dan putaran dari termometer. Oleh karena itu
penting bahwa perawat dilatih dalam penggunaan yang
benar dari thermometer timpani di area klinis.

2. Rektal

keuntungan:

Terbukti lebih dapat diandalkan bila suhu oral tidak dapat diperoleh

Menunjukkan suhu inti

kerugian:

Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah rektal, kelainan rektal,
nyeri pada area rektal, atau cenderung perdarahan.

Memerlukan perubahan posisi dan dapat merupakan sumber rasa malu dan ansietas
klien.

Risiko terpajan cairan tubuh

Memerlukan lubrikasi

Dikontradiksikan pada bayi baru lahir

Pengukuran suhu tubuh rektal:

Letakan ujung termometer yang telah diberi pelumas,


instruksikan klien untuk mengambil napas dalamselama
memaseukan termeter, jangan paksakan termometer
jika dirasakan ada tahanan.masukan 1/2 inchi (3,5 cm)

pada orang dewasa dan 2,5 cm pada anak - anak.

3. Oral

keuntungan:

Mudah dijangkau dan tidak membutuhkan perubahan posisi

Nyaman bagi klien

Memberi pembacaan suhu permukaan yang akurat

kerugian:

Tidak boleh dilakukan pada klien yang bernapas lewat mulut

Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah oral, trauma oral, riwayat
epilepsi, atau gemetar akibat kedinginan

Tidak boleh dilakukan pada bayi, anak kecil, anak yang sedang menangis atau klien
konfusi, tidak sadar atau tidak kooperatif

Risiko terpapar cairan tubuh

pengukuran suhu tubuh oral:

Probe harus tetap pada sublingual untuk periode waktu


tertentu untuk memastikan pengukuran oral akurat.
Periode ini umumnya beberapa detik untuk
thermometer elektronik kontak dalam model prediktif,
tetapi pada model monitor pengukuran yang sama
mungkin memakan waktu tiga menitatau lebih.
Satu menit diperlukan untuk termometer kimia. Waktu
pengukuran yang diperlukan ditentukan oleh waktu
yang dibutuhkan untuk suhu probeuntuk
menyeimbangkan dengan yang area kontak.

3. Aksilla

keuntungan:

Aman dan non-invasif

Cara yang lebih disukai pada bayi baru lahir dank lien yang tidak kooperatif.

kerugian:

Waktu pengukuran lama

Memerlukan bantuan perawat untuk mempertahankan posisi klien

pengukuran suhu tubuh aksilla:

Penempatan yang benar dalam pengukuran suhu aksila


dan kontak kulit secalah langsung adalah penting.
Termometer ditempatkan dibawah lengan dengan
bagian ujungnya berada di tengah aksiladan jaga
agar menempel pada kulit, bukan pada pakaian, pegang
lengan anak dengan lembut agar tetap tertutup.
Termometer elektronik kontak membutuhkan waktu 5
menit untu mengukur suhu yang akurat.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUHU TUBUH

1. Kecepatan metabolisme basal


Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbedabeda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang
diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana
disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait
dengan laju metabolisme.

2. Rangsangan saraf simpatis


Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi
100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak
coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hampir seluruh
metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf
simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi
ephineprin dan norephineprin yang meningkatkan metabolisme.

3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga
meningkat.

4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hampir semua reaksi kimia dalam
tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme
menjadi 50-100% diatas normal.

5. Hormon kelamin
Hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira
10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada
perempuan, fluktuasi suhu lebih berfariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran
hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,30,6C di atas suhu basal.

6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme
sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10C.

7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20-30%. Hal
ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk
mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi

mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan
lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak
merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan
kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.

8. Aktifitas
Aktifitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan
antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas)
dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3-40,0 C.

9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat
menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat
pirogen yang dikeluarkan pada saat terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan
suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat
menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.

10.Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh
dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga
sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu
antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
PROSES PENGEUARAN PANAS

1. Radiasi
1.
1. Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk
gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang
dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20
mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke
segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan

panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme
kehilangan panas.
Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada
gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit.
Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak
terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga
udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.
2. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan bendabenda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan
mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi
dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan
tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada
paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan
panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.
3. Konveksi
Konveksi adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Panas dikonduksi
pertama kali pada molekul udara secara langsung dalam kontak dengan kulit. Arus
udara membawa udara hangat pada saat kecepatan arus udara meningkat, dan
kehilangan panas konventif meningkat.
4. Evaporasi
Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas
tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan
kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak
berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 600 ml/hari.

Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 16 kalori
per jam.
Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul
air secara terus
menerus melalui kulit dan system pernafasan.

HAL HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA SAAT PENGUKURAN SUHU TUBUH

Termometer harus dalam keadaan nol suhunya

Penggunaan termometer untuk tiap tempat pengukuran harus pisah

Cara menurunkan suhu harus dilakukan hati-hati jangan sampai thermometer jatuh
dan pecah

Sebelum melakukan pengukuran harus dijelaskan dengan benar tentang tempat dan
tujuan pengukuran suhu

Fungsi thermometer harus menghadap keluar untuk arah yang dibaca

Pembacaan thermometer harus ditempat yang cukup cahaya

KESEHATAN

sari indah

Blogger.

Blogroll
Blogger news
About

Blogger templates

Archives
o

2013 (1)

2012 (15)

(15)

Bahaya Kopi Bagi Kesehatan

5 Manfaat Daun Sirsak Untuk Kesehatan

SUHU TUBUH

SUHU TUBUH

SUHU TUBUH

ROKOK

ILMU KEPERWATAN DASAR

TIPS HIDUP SEHAT DARI RASULULLAH

LIVER

RUMUS YANG HARUS DIINGAT PERAWAT

RENCANA PENDIDIKAN KESEHATAN

RENCANA PENDIDIKAN KESEHATAN

RENCANA PENDIDIKAN KESEHATAN

RENCANA PENDIDIKAN KESEHATAN

SUHU TUBUH
sari indah |
undefinedundefined
undefined

DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL .........................................................................................
........

KATA
PENGANTAR ................................................................................
..............

ii

DAFTAR
ISI ..............................................................................................
................

iii

BAB

PENDAHULUAN.............................................................................
.............
1.1

Latar Belakang ........................................................................................


1

1.2

Tujuan .....................................................................................................
2
BAB

II

PEMBAHASAN..............................................................................
..............
2.1

Pengertian Suhu tubuh ............................................................................


2

2.2

Asal Panas Pada Tubuh Manusia ...........................................................


3

2.3

Macam-Macam Suhu Tubuh ...................................................................


4

2.4

Sistem Pengaturan Suhu Tubuh ..............................................................


4

2.5

Mekanisme Ketika Suhu Tubuh Berubah ...............................................


5

2.6

Reseptor suhu .........................................................................................


6

2.7

Penyaluran Sinyal Suhu Tubuh Pada Sistem Saraf .................................


7

2.8

Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh ..............................................


8

2.9

Ganguan pengaturan Suhu Tubuh ..........................................................


9

2.10 Fisiologi Terkait Dengan Mekanisme Pengaturan Suhu..........................


12
BAB

III

PENUTUP......................................................................................
..............
1.1

14

Kesimpulan .............................................................................................
14

1.2

Saran .......................................................................................................
14
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan
menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar
penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.Suhu
tubuh kita sering kali berubah-ubah tanpa kita tau sebab-sebabnya dan
mekanismenya,dikarenakan hal tersebut dalam makalah ini kami akan
membahas tentang mekanisme perubahan suhu tubuh.

1.2 Rumusan masalah


1.

Bagaimana perubahan suhu tubuh yag terjdi pada manusi?

2.

Bagaimana sistem dan mekanisme purubahan suhu tubuh?

1.3 Tujuan
1.

Menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang mekanisme


perubahan suhu tubuh.

2.

Dapat mengetahui tentang asal panas suhu tubuh manusia, system


pengaturan suhu tubuh, reseptor suhu, penjalaran sinyal suhu tubuh pada
system saraf.

3.

Mengetahui tentang faktor yang mempengaruhi suhu tubuh serta


gangguan suhu suhu tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Suhu Tubuh


Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang dproduksi
oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan
luar.adapun tempat pengukuran suhu tubuh:suhu inti yaitu suhu jaringan
dalam relatif konstan seperti rektum, membran timpani, esofagus, arteri
pulmoner, kandung kemiih dan suhu permukaan seperti kulit, aksila, oral.
Rasa suhu mempunyai dua submodalitas yaitu rasa dingin dan rasa panas.
Reseptor dingin/panas berfungsi mengindrai rasa panas dan refleks
pengaturan suhu tubuh. Reseptor ini dibantu oleh reseptor yang terdapat
di dalam system syaraf pusat. Dengan pengukuran waktju reaksi, dapat
dinyatakan bahwa kecepatan hantar untuk rasa dingin lebih cepat
dibandingkan dengan kecepatan hantaran rasa panas.
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor
yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan
suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu
tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed
back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus.
Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang

terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme


umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi
tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point).
Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37C.
Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan
merangsang

untuk

melakukan

serangkaian

mekanisme

untuk

mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan


meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.
Dengan anestesi blok rasa dingin/panas dapat diblok sehingga objektif
maupun subjektif rasa dingin dan panas dapat dipisah yaitu:
1. Rasa suhu kulit yang tetap ( rasa suhu static )
Bila seseorang berendam di air hangat maka mula-mula rasa hangat
akan dialami oleh orang tersebut. Lama-kelamaan rasa hangat tidak lagi
dirasakan dan kalau ia keluar dari air dan masuk kembali maka ia akan
merasakan hangat kembali. Hal ini terjadi karena suhu tubuh beradaptasi
secara penuh terhadap suhu kulit yang baru. Adaptasi penuh ini terjadi
pada uhu netral (suhu nyaman). Rasa hangat yang mantap akan dirasakan
bila suhu berada di atas 36C dan rasa dingin dirasakan pada suhu 17C.
2. Rasa suhu kulit yang berubah ( rasa suhu dinamik )
Pada pengindraan suhu kulit yang berubah tiga parameter tertentu.
Suhu awal kulit, kecepatan perubahan suhu dan luas kulit yang terpapar
tehadap rangsangan suhu. Pada suhu kulit yang rendah, ambang rasa
hangat tinggi sedangkan untuk rasa dingin rendah. Bila suhu meninkat
ambang rasa hangat menurun dan ambang rasa dingin meningkat.
Kecepatan

perubahan

suhu

berpengaruh

terhadap

timbulnya

rasa

panas/dingin. Luasnya daerah kulit yang terpapar juga berpengaruh pada


rasa timbulnya panas/dingin.
3. Titik rasa dingin dan panas
Pada permukaan kulit bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan
dingin dan panas terlokasi pada titik-titik tertentu. Kepadatan titik-titik
rasa suhu lebih rendah dibandingkan dengan titik rasa raba/tekan. Titik
rasa dingin lebih banyak dibandingkan dengan titik rasa panas. Kulit wajah

daerah yang paling peka terhadap rasa suhu. Kepadatan titik-titik rasa
dingin paling tinggi.

2.2 Asal Panas Pada Tubuh Manusia


Pembentukan

panas

(heat

production)

dalam

tubuh

manusia

bergantung pada tingkat metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh


tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh:
1.
2.

BMR, terutama terkait dengan sekresi hormon tiroid.


Aktivitas

otot,

terjadi

penggunaan

energi

menjadi

kerja

dan

menghasilkan panas.
3.

Termogenesis menggigil (shivering thermogenesis); aktivitas otot yang


merupakan upaya

4.

Termogenesis tak-menggigil (non-shivering thermogenesis) Hal ini terjadi


pada bayi baru lahir.
Sumber energi pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada bayi baru
lahir, brown fat ditemukan pada skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat
berbeda dengan lemak biasa, ukurannya lebih kecil, mengandung lebih
banyak mitokondria, banyak dipersarafi saraf simpatis, dan kaya dengan
suplai darah. Stimulasi saraf simpatis oleh suhu dingin akan meningkatkan
konsentrasi cAMP di sel brown fat, yang kemudian akan mengativasi
fosforilasi oksidatif di mitokondria melalui lipolisis. Hasil dari fosforilasi
oksidatif ialah terbentuknya panas yang kemudian akan dibawa dengan
cepat oleh vena yang juga banyak terdapat di sel brown fat. Brown fat ini
merupakan sumber utama diet-induced thermogenesis. Pengeluaran
panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung
secara

fisika.

Permukaan

tubuh

dapat

kehilangan

panas

melalui

pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air.


Radiasi ialah emisi energi panas dari permukaan tubuh dalam bentuk
gelombang

elektromagnetik

melalui

suatu

ruang.

Konduksi

ialah

perpindahan panas antara obyek yang berbeda suhunya melalui kontak


langsung obyek tersebut. Konveksi ialah perpindahan panas melalui aliran
udara/ air. Evaporasi ialah perpindahan panas melalui ekskresi air dari

permukaan kulit dan saluran pernapasan saat bernapas. Keseimbangan


panas (Silverthorn, 2004)

2.3 Macam macam suhu tubuh


Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007) :

Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C

Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 37,5C

Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40C

Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C

Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core


temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti
kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya
dipertahankan relatif konstan (sekitar 37C). selain itu, ada suhu
permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit,
jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi
sebesar 20C sampai 40C.

2.4 Sistem Pengaturan Suhu Tubuh


Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan
menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar
penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.
Suhu dapat di bagi, antara lain:
1.

Suhu inti (core temperature) Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ


dalam (kepala, dada, abdomen) dan C.dipertahankan mendekati 37

2.

Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu kulit


tubuh, jaringan subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi
oleh suhu lingkungan.

3.

Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu ratarata gabungan suhu inti dan suhu kulit.
Pengukuran suhu tubuh

Ada beberapa macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh:


1.

The mercury-in-glass thermometer

2.

The electrical digital reading thermometer

3.

A radiometer attached to an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu


timfani)

2.5 Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah


1.

Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :

a.

Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua
area tubuh. Vasodilatasi ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis
pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokontriksi sehingga
terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan
pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih
banyak.

b.

Berkeringat
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan
suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat
menyebabkan

peningkatan

pengeluaran

panas

melalui

evaporasi.

Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran


keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh
yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar. Pengeluaran
keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat
melampaui

ambang

kritis.

Pengeluaran

keringat

dirangsang

oleh

pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras


saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan
pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi

keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena


rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.
c.

Penurunan pembentukan panas


Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia
dan menggigil dihambat dengan kuat.

2.

Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :

a.

Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh

b.

Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus


posterior.
Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat
pada folikel rambut berdiri. Mekanisme ini tidak penting pada manusia,
tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya bulu ini akan berfungsi
sebagai isolator panas terhadap lingkungan.

c.

Peningkatan pembentukan panas


Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui
mekanisme menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis,
serta peningkatan sekresi tiroksin.

2.6 Reseptor Suhu


Setimulus dapat datang dari lingkungan luar salinitas, suhu udara,
kelembapan,cahaya. Alat penerima rangsang reseptor,sedangkan alat
penghasil

tanggapan

disebut

efektor.

Reseptor

saraf

yang

paling

sederhana hanya berupa ujung dendrit dari suatu sel syaraf (neuron) ,
tidak meliputi selubung / selaput myelin dan dapat di temukan pada
reseptor rasa nyeri (free nerve ending) atau nociresetor.
Berdasarkan Lokasi Sumber Rangsang
1.

INTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi untuk menerima


rangsang dari dalam tubuh.

2.

KHEMORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi memantau pH,kadar


gula dalam darah dan kadar kalsium dalam cairan tubuh atau darah.

3.

EKSTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi menerima rangsang


dari lingkungan di luar tubuh Reseptor penerima gelombang suara (pada
alat pendengaran) dan cahaya (dalam alat pengelihatan).

4.

HUBUNGAN ANTARA RESEPTOR DENGAN EFEKTOR Dalam system


syaraf,reseptor biasanya berhubungan dengan syaraf sensorik (AFFERENT)
sedang efektor erat dengan syaraf motorik(EFERENT). Reseptor berfungsi
sebagaipengubah energy, mengubah bentuk suatu energy menjadi bentuk
tertentu. dan di dalam reseptor semua energy di ubah menjadi energy
listrik dan selanjutnya akan membawa ke perubahan elektrolit sehingga
timbul potensial aksi. Apabila suatu resektor menerima rangsangan yang
sesuaimaka membrane reseptor akan mengalami peritiwa potensial aksi.
Jika rangsangan yang diterima reseptor cukup kuat potensial reseptor
yang timbul akan lebih kuat. Makin besar rangsangan yang di terima,
makin besar pula potensial local yang di hasilkan sehingga dapat
melampoi

batas

ambang

perangsangan

pada

membrane

potensial

generator.

2.7 Penjaluran Sinyal Suhu Tubuh Pada Sistem Saraf


Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh
adalah suatu kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus
yaitu: Preoptic area. Area ini menerima impuls-impuls syaraf dari
termoreseptor dari kulit dan membran mukosa serta dalam hipotalamus.
Neuron-neuron pada area peroptic membangkitkan impuls syaraf pada
frekwensi tinggi ketika suhu darah meningkat dan frekwensi berkurang jika
suhu tubuh menurun. Impuls-impuls syaraf dari area preoptic menyebar
menjadi 2 bagian dari hipotalamus diketahui sebagai pusat hilang panas
dan pusat peningkatan panas, dimana ketika distimulasi oleh area
preoptic,

mengatur

meningkatkan

dan

kedalam

serangkaian

menurunkan

suhu

respon

tubuh

operasional

secara

yang

berturut-turut.

Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi


dan koordinasi yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu
inti tubuh melawan perubahan suhu dingin atau hangat (Myers, 1984).

Pusat pengaturan tubuh manusia ada di Hipotalamus, oleh karena itu jika
hipotalamus terganggu maka mekanisme engaturan suhu tubuh juga akan
terganggu dan mempengaruhi thermostat tubuh manusia. Mekanisme
pengaturan suhu tubuh manusia erat kaitannya antara kerja sama system
syaraf baik otonom, somatic dan endokrin. Sehingga ketika membahas
mengenai pengaturan suhu oleh system persyarafan maka tidak lepas
pula kaitannya dengan kerja system endokrin terhadap mekanisme
pengaturan suhu tubuh seperti TSH dan TRH.

2.8 Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh


Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal
tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu :
1.

Exercise
Semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x,
sedangkan pada atlet dapat meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya.

2.

Hormon
(Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama
basal metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan
hormon pertumbuhan dapat meningkatkan metabolisme rate 5-15%.

3.

Sistem syaraf
Selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system
syaraf otonom terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan
norepinephrine (NE) dan juga merangsang pelepasan hormon epinephrine
dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal sehingga meningkatkan
metabolisme rate dari sel tubuh.

4.

Suhu tubuh
Meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate,
setiap peningkatan 1 % suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan
reaksi biokimia 10 %.

5.

Asupan makanan

Makanan dapat meningkatkan 10 20 % metabolisme rate terutama


intake tinggi protein.
6.

Berbagai macam factor seperti


Gender, iklim dan status malnutrisi.

7.

Usia
Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas
meningkatseiring dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak.
regulasi suhu akannormal setelah anak mencapai pubertas.Lansia sensitif
terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya mekanisme kontrolsuhu
(terutama

kontrol

vasomotor),

penurunan

jumlah

jaringan

subkutan,penurunan aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolism


8.

Olahraga
Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme
lemak dankarbohidrat.

9.

Kadar Hormon
Suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria

10. Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius
selama periode 24 jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00
dini hari.
11. Stres
Stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi
hormonal dan persyarafan
12. Lingkungan
Mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar.
Walaupun terjadi perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai
mekanisme

homeostasis yang

dapat

dipertahankan

dalam

rentang

normal. Suhu tubuh yang normal adalah mendekati suhu tubuh inti yaitu
sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami fluktuasi sebesar 0,5 0,7
0 C, suhu terendah pada malam hari dan suhu tertinggi pada siang hari.
Panas yang diproduksikan harus sesuai dengan panas yang hilang.

13. Demam ( peradangan ).


Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan
metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10C.

2.9 Gangguan Pengaturan Suhu Tubuh


Diantaranya disebabkan oleh:
1.

Demam
Demam

merupakan

mekanisme

pertahanan

yang

penting.

Peningkatan ringan suhu sampai 39C meningkatkan sistem imun tubuh.


Demam juga meruapakan bentuk pertarungan akibat infeksi karena virus
menstimulasi interferon (substansi yang bersifat melawan virus).Pola
demam berbeda bergantung pada pirogen. Peningkatan dan penurunan
jumlah pirogen berakibat puncak demam dan turun dalam waktu yang
berbeda.Selama demam, metabolisme meningkat dan konsumsi oksigen
bertambah. Metabolisme tubuh meningkat 7% untuk setiap derajat
kenaikan suhu. Frekuensi jantung dan pernapasan meningkat untuk
memenuhi kebutuhan metabolik tubuh terhadap nutrient. Metabolisme
yang

meningkat

menggunakan

energi

yang

memproduksi

panas

tambahan.
2.

Kelelahan akibat panas


Kelelahan
mengakibatkan

akibat

panas

kehilangan

terjadi

cairan

bila

dan

diaforesis

elektrolit

yang

secara

banyak

berlebihan.

Disebabkan oleh lingkungan yang terpajan panas. Tanda dan gejala kurang
volume cairan adalah hal yang umum selama kelelahan akibat panas.
Tindakan pertama yaitu memindahkan klien ke lingkungan yang lebih
dingin serta memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit.
3.

Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh
untuk

meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi

panas adalah hipertermia. Setiap penyakit atau trauma pada hipotalamus


dapat

mempengaruhi

mekanisme

pengeluaran

panas.

Hipertermia

malignan adalah kondisi bawaan tidak dapat mengontrol produksi panas,

yang

terjadi

ketika

orang

yang

rentan

menggunakan

obat-obatan

anastetik tertentu.
4.

Heat stroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan
suhu tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi
ini disebut heat stroke, kedaruratan yang berbahaya panas dengan angka
mortalitas yang tinggi. Klien beresiko termasuk yang masih sangat muda
atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme,
diabetes atau alkoholik. Yang termasuk beresiko adalah orang yang
mengkonsumsi

obat

yang

menurunkan

kemampuan

tubuh

untuk

mengeluarkan panas (mis. fenotiazin, antikolinergik, diuretik, amfetamin,


dan antagonis reseptor beta-adrenergik) dan mereka yang menjalani
latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. atlet, pekerja konstruksi dan
petani). Tanda dan gejala heatstroke termasuk gamang, konfusi, delirium,
sangat haus, mual, kram otot, gangguan visual, dan bahkan inkontinensia.
Tanda lain yang paling penting adalah kulit yang hangat dan kering.
Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangan elektrolit
sangat berat dan malfungsi hipotalamus. Heatstroke dengan suhu yang
lebih besar dari 40,5C mengakibatkan kerusakan jaringan pada sel dari
semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang
setinggi 45C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ
yang

terlebih

dahulu

terkena

karena

sensitivitasnya

terhadap

keseimbangan elektrolit. Jika kondisi terus berlanjut, klien menjadi tidak


sadar, pupil tidak reaktif. Terjai kerusakan neurologis yang permanen
kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai.
5.

Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus terhadap dingin
memengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas sehingga
akan mengakibatakan hipotermia.
Tingkatan hipotermia

~ Ringan 34,6 - 36,5C per rektal


~ Sedang 28,0 - 33,5C per rektal
~ Berat 17,0 - 27,5C per rektal

~ Sangat berat 4,0 - 16,5C per rektal


Hipotermia aksidental biasanya terjadi secara berangsur dan tidak
diketahui selama beberapa jam. Ketika suhu tubuh turun menjadi 35C,
orang yang mengalami hipotermia mengalami gemetar yang tidak
terkontrol, hilang ingatan, depresi, dan tidak mampu menilai. Jika suhu
tubuh turun dibawah 34,4c, frekuensi jantung, pernapasan, dan tekanan
darah turun. Jika hipotermia terus berlangsung, disritmia jantung akan
berlangsung, kehilangan kesadaran, dan tidak responsif terhadap stimulus
nyeri.
Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut:
1.

ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit

2.

anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit

3.

mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit


Adapun suhu tubuh normal menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut:
USIA

SUHU(DERAJAT
CELCIUS)

3 Bulan

37,5C

6 Bulan

37,5C

1 Tahun

37,7C

3 Tahun

37,2C

5 Tahun

37,0C

7 Tahun

36,8C

9 Tahun

36,7C

11
Tahun

36,7C

13
Tahun

36,6C

Dewasa
>70
Tahun

36,4C
36,0C

2.10Fisiologi Terkait Dengan Mekanisme Pengaturan Suhu


Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh
adalah hipotalamus anterior dan hipotalamus posterior. Hipotalamus
anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan hilangnya panas, vasodilatasi
dan menimbulkan keringat. Hipotalamus posterior (PH/ POA) berfungsi
meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil,
menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi hormon
tiroid dan mensekresi epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan
basal metabolisme rate. Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, maka akan
terjadi mekanisme homeostasis yang membantu memproduksi panas
melalui mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu
tubuh ke arah normal (Tortora, 2000). Thermoreseptor di kulit dan
hipotalamus mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic dan pusat
peningkata panas di hipotalamus, serta sel neurosekretory hipotalamus
yang menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon) sebagai
tanggapan.hipotalamus menyalurkan impuls syaraf dan mensekresi TRH,
yang sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior
untuk melepaskan TSH (Thyroid stimulating hormon). Impuls syaraf
dihipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan beberapa organ efektor.
Berbagai organ fektor akan berupaya untuk meningkatkan suhu tubuh
untuk mencapai nilai normal, diantaranya adalah :
1.

Impuls syaraf dari pusat peningkatan panas merangsang syaraf sipatis


yang menyebabkan pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi.
Vasokonstriksi menurunkan aliran darah hangat, sehingga perpindahan
panas dari organ internal ke kulit. Melambatnya kecepatan hilangnya
panas menyebabkan temperatur tubuh internal meningkatkan reaksi
metabolic melanjutkan untuk produksi panas.

2.

Impuls syaraf di nervus simpatis menyebabkan medulla adrenal


merangsang pelepasan epinephrine dan norepinephrine ke dalam darah.
Hormon sebaliknya, menghasilkan peningkatan metabolisme selular,
dimana meningkatkan produksi panas.

3.

Pusat peningkatan panas merangsang bagian otak yang meningkatkan


tonus otot dan memproduksi panas. Tonus otot meningkat, dan terjadi
siklus yang berulang-ulang yang disebut menggigil. Selama menggigil

maksimum, produksi panas tubuh dapat meningkat 4x dari basal rate


hanya dalam waktu beberapa menit.
4.

Kelenjar tiroid memberikan reaksi terhadap TSH dengan melepaskan


lebih hormon tiroid kedalam darah. Peningkatan kadar hormon tiroid
secara perlahan-lahan meningkatkan metabolisme rate, dan peningkatan
suhu tubuh. Jika suhu tubuh meningkat diatas normal maka putaran
mekanisme feed back negatif berlawanan dengan yang telah disebutkan
diatas.

Tingginya

mengirimkan

suhu

impuls

darah

syaraf

ke

merangsang
area

preoptic,

termoreseptor
dimana

yang

sebaliknya

merangsang pusat penurun panas dan menghambat pusat peningkatan


panas. Impuls syaraf dari pusat penurun panas menyebabkan dilatasi
pembuluh darah di kulit. Kulit menjadi hangat, dan kelebihan panas hilang
ke

lingkungan

melalui

radiasi

dan

konduksi

bersamaan

dengan

peningkatan volume aliran darah dari inti yang lebih hangat ke kulit yang
lebih dingin. Pada waktu yang bersamaan, metabolisme rate berkurang,
dan tidak terjadi menggigil. Tingginya suhu darah merangsang kelenjar
keringat kulit melalui aktivasi syaraf simpatis hipotalamik. Saat air
menguap melalui permukaan kulit, kulit menjadi lebih dingin. Respon ini
melawan efek penghasil panas dan membantu mengembalikan suhu
tubuh kembali normal. Skema Mekanisme Feedback Negatif Menghemat
Atau Meningkatkan Produksi Panas Menurun.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan
menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar
penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.
Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya
berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat Kehilangan panas
melalui

pertukaran

panas

secara

radiasi,

konduksi,

konveksi,

dan

evaporasi air. Alat penerima rangsang disebut reseptor,sedangkan alat


penghasil tanggapan disebut efektor. Suhu tubuh dipengaruhi oleh
exercize,

hormone,

system

saraf,

asupan

makanan,

gender

iklim

(lingkungan), usia, aktivitas otot, stress.

3.2 Saran
Sebaiknya kita selalu menerapkan cara hidup sehat,agar tubuh kita
selalu sehat dan tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari,agar suhu
tubuh selalu dalam keadaan normal dan dapat menyesuaikan dengn
kondisi lingkungan sekitar kita.