Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal
ini disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sangat cepat sehingga informasi dengan cepat dapat diakses oleh semua
orang sehingga informasi dengan cepat diketahui oleh masyarakat.
Perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di
Indonesia harus menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di
negara yang telah berkembang, sosial ekonomi masyarakat semakin
meningkat sehingga masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang
berkualitas tinggi, tapi di lain pihak bagi masyarakat ekonomi lemah
mereka ingin pelayanan kesehatan yang murah dan terjangkau. Sehingga
memerlukan perawatan lebih lama di rumah sakit.
Lama perawatan di rumah sakit telah menurun secara dramatis
dalam era peningkatan biaya keperawatan kesehatan, potongan anggaran
yang besar, managed care, perkembangan teknologi yang cepat, dan
pemberian pelayanan yang maju, karena penyebab langsung, atau efek
langsung dari variabel ini, industri perawatan di rumah menjadi alat
untuk menurunkan biaya dan lama perawatan. Akibatnya, industri
perawatan di rumah berkembang menjadi masalah yang kompleks dan
harus diatasi dengan perhatian yang besar bila salah satu tujuannya
adalah memberi hasil yang terbaik bagi setiap individu.
Home care adalah pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien,
individu dan keluarga, direncanakan, dikoordinasikan, dan disediakan,
oleh pemberi pelayanan, yang diorganisir untuk memberi pelayanani
rumah melalui staf atau pengaturan berdasarkan perjanjian kerja atau
kontrak (Warola, 1980 Dalam Perkembangan Modal Praktek Mandiri
Keperawatan Di Rumah Yang Disusun Oleh PPNI dan DEPKES).
Salah satu tujuan dari home care adalah untuk memandirikan
pasien, hal ini sangat tepat untuk pasien-pasien dengan kebutuhan khusus
seperti autis dan retardasi mental. Bayi/Anak-anak yang berkebutuhan
khusus dan memerlukan pelayanan kesehatan khusus untuk tumbuh
1

kembang mereka. Anak-anak autistik yang non verbal, retardasi mental


atau mengalami gangguan serius motorik dan auditorinya dapat
dilakukan perawatan di rumah dengan bekerjasama dengan para terapis
dengan persetujuan keluarga.
Home care sangat penting untuk penderita autis dan retardasi
mental. Penderita autis dan retardasi mental membutuhkan bimbingan
dan pengawasan setiap waktu maka dengan perawatan di rumah,
keluarga dapat membimbing dan mengawasi anak mereka dengan tanpa
hambatan, serta dapat menghemat biaya, artinya keluarga tidak perlu lagi
mengeluarkan biaya (kamar) RS, transport PP Rumah Rumah Sakit
untuk menemani pasien di RS.
Dari penjelasan di atas, kelompok tertarik untuk membahas lebih
dalam mengenai home care pada anak dengan kebutuhan khusus,
makalah ini sekaligus memenuhi tugas di mata kuliah home care.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka didapatkanlah rumusan
masalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Apa saja indikasi home care pada anak dengan kebutuhan khusus?
Siapa saja yang bisa menjadi tim home care?
Bagaimana kemampuan homecare?
Bagaimana teknik-teknik untuk perawatan dirumah?
Bagaimana aspek legal dan etik homecare?

1.3 Manfaat
Makalah ini hendaknya dapat bermanfaat guna menambah pengetahuan
mengenai home care pada anak dengan kebutuhan khusus (autis dan
retardasi mental).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Indikasi Home Care Pada Anak Dengan Kebutuhan Khusus (Autis dan
RetardasiMental)
Pelayanan kesehatan di rumah (home care) merupakan penyediaan
pelayanan professional perawat bagi pasien dan keluarganya di rumah untuk

menjaga kesehatan, edukasi, pencegahan penyakit, terapi paliatif, dan


rehabilitative.
Perawat menangani pemulihan dan stabilitasi penyakit di rumah dan
mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan gaya hidup, keamanan,
lingkungan, dinamika keluarga, dan praktik layanan kesehatan.
Bayi/Anak-anak

yang

berkebutuhan

khusus

dan

memerlukan

pelayanan kesehatan khusus untuk tumbuh kembang mereka. Anak-anak


autistik yang non verbal, retardasi mental atau mengalami gangguan serius
motorik dan auditorinya dapat dilakukan perawatan di rumah dengan
bekerjasama dengan para terapis dengan persetujuan keluarga.
Tanda dan gejala dari anak autis serta retardasi mental itulah yang
menjadi alasan kenapa home care dilakukan, dimana tanda dan gejalanya
seperti gangguan pada interaksi sosial dengan kesulitan menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru di sekitar rumah sakit. Maka dari itu perawatan di
rumah akan sangat membantu bagi pasien untuk berinteraksi dengan
keluarganya maupun orang-orang disekitarnya dan agar keluarga dapat
memandirikan pasien dalam pemeliharaan kesehatan, resiko kekambuhan, dan
berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Perilaku dari penderita autis dan retardasi mental mengalami gangguan
dalam berperilaku dan cenderung emosional, dengan dilakukannya perawatan
di rumah akan efektif dalam terapi perilaku pasien tersebut dengan melibatkan
keluarga untuk mengajarkan anaknya dalam berperilaku yang sesuai.
Penderita autis dan retardasi mental membutuhkan bimbingan dan
pengawasan setiap waktu maka dengan perawatan di rumah, keluarga dapat
membimbing dan mengawasi anak mereka dengan tanpa hambatan, serta
dapat menghemat biaya, artinya keluarga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya
(kamar) RS, transport PP Rumah Rumah Sakit untuk menemani pasien di
RS.
Istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri
"Isme" yang berarti suatu aliran. Berarti suatu paham yang tertarik hanya pada
dunianya sendiri. Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang

kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi.


Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun.
Tanda dan gejala anak autis :
1. Komunikasi
Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi

kemudian sirna.
Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.
Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat

dimengerti orang lain.


Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi.
Senang meniru atau membeo (echolalia).
Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut

tanpa mengerti artinya.


Sebagian dari anak ini tidak berbicara ( non verbal) atau sedikit

berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.


Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia

inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu


2. Interaksi sosial
Penyandang autistik lebih suka menyendiri
Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan
Tidak tertarik untuk bermain bersama teman
Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh
3. Gangguan sensoris
sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk
bila mendengar suara keras langsung menutup telinga
senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda
tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut
4. Pola bermain
Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya,
Tidak suka bermain dengan anak sebayanya,
tidak kreatif, tidak imajinatif
tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu

rodanya di putar-putar
senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda

sepeda,
dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus

dan dibawa kemana-mana


5. Perilaku
4

Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif)


Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang,
mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata
ke pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang

diulang-ulang
Tidak suka pada perubahan
Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong
6. Emosi
sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis

tanpa alasan
temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak

diberikan keinginannya
kadang suka menyerang dan merusak
Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri
tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain
Menurut WHO (dikutip dari menkes 1990), retardasi mental adalah

kemampuan mental yang tidak mencukupi. Menurut Melly Budhiman,


seseorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Fungsi intelektual umum di bawah normal
Apabila IQ dibawah 70. Anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan
sekolah biasa, karena cara berpikirnya yang terlalu sederhana, daya
tangkap dan daya ingat lemah, demikian pula dengan pengertian bahasa
dan berhitungnya juga sangat lemah.
2. Terdapat kendala dalam perilaku adaptif sosial
Kemampuan seseorang untuk mandiri, menyesuaikan diri dan mempunyai
tanggung jawab sosial yang sesuai dengan kelompok umur dan budayanya.
Gangguan yang paling menonjol adalah kesulitan menyesuaikan diri
dengan masyarakat sekitarnya. Biasanya tingkah lakunya kekanakkanakan tidak sesuai dengan umurnya.
3. Gejalanya timbul dalam masa perkembangan yaitu dibawah umur 18 tahun
Karena kalau gejala timbul setelah berumur 18 tahun, bukan lagi disebut
retardasi mental tetapi penyakit lain sesuai dengan gejala klinisnya.
Tanda dan gejala anak retardasi mental :
1. Retardasi mental ringan

Golongan ini termasuk amampu didik, artinya selain dapat diajar baca tulis
bahkan bisa sampai kelas 4-6 SD, juga bisa dilatih keterampilan tertentu
sebagai bekal hidupnya kelak dan mampu mandiri seperti orang dewasa
yang normal. Tetapi mereka kurang mampu menghadapi stres, sehingga
tetap membutuhkan bimbingan dari keluarganya.
2. Retardasi mental sedang
Golongan ini termasuk mampu latih tetapi tidak mampu didik. Taraf
kemampuan intelektualnya hanya dapat sampai kelas 2 SD saja, tetapi
dapat dilatih menguasai suatu keterampilan tertentu misalnya pertukangan,
pertanian, dll, dan bila bekerja nanti mereka ini perlu pengawasan. Mereka
juga perlu dilatih bagaimana mengurus diri sendiri. Kelompok ini juga
kurang mampu menghadapi stres dan kurang dapat mandiri, sehingga
memerlukan bimbingan dan pengawasan.
3. Retardasi mental berat
Diagnosis mudah ditegakkan secara dini, karena selain adanya gejala fisik
yang menyertai juga berdasarkan keluhan dari orang tua dimana anak sejak
awal sudah terdapat keterlambatan perkembangan motorik dan bahasa.
Kelompok ini termasuk tipe klinik, mereka dapat dilatih hygiene dasar saja
dan kemampuan berbicara yang sederhana, tidak dapat dilatih ketrampilan
kerja, dan memerlukan pengawasan dan bimbingan sepanjang hidupnya.
4. Retardasi mental sangat berat
Diagnosis dini mudah dibuat karena gejala baik mental dan fisik sangat
jelas. Kemampuan berbahasanya sangat minimal, mereka ini seluruh
hidupnya tergantung pada orang disekitarnya.
2.2 Tenaga Home Care
Pelayanan kesehatan ini diberikan oleh para professional yang
tergabung dalam tim home care. Menurut Setyawati (2004) tim home care
tersebut antara lain:
1) Kelompok profesional kesehatan, termasuk di dalamya adalah ners atau
perawat profesional, dokter, fisioterapis, ahli terapi kerja, ahli terapi
wicara, ahli gizi, ahli radiologi, laboratorium, dan psikolog.
2) Kelompok profesional non kesehatan, yaitu pegawai sosial dan
rohaniawan atau ahli agama.
3) Kelompok non profesional, yaitu nurse assistant yang bertugas sebagai
pembantu yang menunggu untuk melayani kebutuhan atau aktivitas

sehari-hari dari klien. Kelompok ini bekerja di bawah pengawasan dan


petunjuk dari perawat.
Sedangkan menurut Allender (1997) pemberi pelayanan dalam home
health care meliputi:
1) Pelayanan keperawatan dapat diberikan oleh registered nurse, perawat
vokasional, pembantu dalam home health yang disupervisi oleh perawat;
2) Suplemental therapiest meliputi terapi fisik, terapi wicara, terapi
okupasional, dan terapi rekreasi;
3) Pelayanan pekerja sosial.
Unsure perawatan kesehatan di rumah( Ferry Efendi-Makhfudli,2009)
Perawatan kesehatan di rumah terdiri atas 3 unsur, yaitu : pengelolah
pelayanan, pelaksana pelayanan, dan klien.
a. Pengelolah pelayanan. Merupakan individu, kelomok, ataupun organisasi
yang bertanggung jawab terhadap seluruh pengelolaan pelayanan
kesehatan rumah baik penyediaan tenaga, sarana dan peralatan, serta
mekanisme pelayanan sesuai standar yang ditetapkan.
b. Pelaksana pelayanan. Merupakan tenaga keperawatan profesional bekerja
sama dengan tenaga profesional lain terkait dan tenaga non-profesional.
Pelaksana pelayanan terdiri atas koordinator kasus dan pelaksana
pelayanan.
c. Klien. Merupakan penerima perawatan kesehatan di rumah dengan
melibatkan salah satu anggota keluarga sebagai penanggung jawab yang
mewakili klien. Apabila diperlukan keluarga dapat juga menunjuk
sesorang yang akan menjadi pengasuh yang melayani kebutuhan seharihari klien.
Secara kelembagaan, home care melekat dengan Rawat Inap
(Palaran) sebagai salah satu bentuk layanan medis yakni Rawat Inap yang
memiliki hirarki baku. Dalam institusi layanan kesehatan (dalam hal ini milik
pemerintah) semua sistem ada aturannya, dan sudah tentu kompetensi medis
diserahkan kepada dokter. Selanjutnya dokter dapat mendelegasikan tindakan
medis kepada paramedis berdasarkan indikasi dan protap (prosedur tetap).
Ini dimaksudkan untuk melindungi pasien dan petugas, sehingga jika terjadi

sesuatu berkenaan dengan tindakan medis, dapat dipertanggung jawabkan


sesuai undang-undang dan kompetensi. Kecuali jika Homecare tidak ada
tindakan medis, maka perawatan bersifat follow up, bisa jadi tidak
diperlukan penanggung jawab dokter.
Adanya kelembagaan Home Care mengacu pada UU No. 12 Tahun
1992 dan UU No. 29 tahun 2004, kompetensi tindakan medis (praktek,
homecare, klinik, balai pengobatan, RS dan lain-lain) adalah seorang dokter
sesuai Ketentuan Konsil Kedokteran Indonesia. Artinya penanggung
jawabnya seorang dokter atau dokter gigi (dalam hal perawatan kesehatan
gigi dan mulut).
Health home care dilakukan oleh tiga kelompok lembaga berwenang,
yaitu:
Lembaga Kesehatan di Rumah Bersertifikat (certified home health agency /
CHHA); Program Perawatan Kesehatan di Rumah Jangka Panjang (the longterm home health care program (LTHHCP); dan Lembaga Berlisensi.
Rinciannya adalah sebagai berikut:
1). Lembaga Kesehatan di Rumah Bersertifikat (CHHA)
Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan bagi individu
yang mengalami penyakit akut untuk menerima perawatan terampil yang
dibutuhkan di rumah mereka sendiri. CHHA memenuhi kebutuhan
individu dengan memberi berbagai jenis pelayanan, termasuk pelayanan
keperawatan terampil, terapi wicara, terapi fisik dan terapi okupasi,
pelayanan sosial medis, asisten perawatan kesehatan di rumah (HHA),
konseling nutrisi, transportasi, peralatan, dan terapi pernapasan.
CHHA juga memiliki program khusus, seperti pelayanan kesehatan
mental, pelayanan pediatrik, program untuk anak dan ibu, dan program
AIDS, terdapat juga pelayanan berteknologi tinggi seperti terapi intravena,
kemoterapi di rumah, dan penatalaksanaan nyeri. CHHA dikenal sebagai
program jangka pendek karena pelayanan yang diberikan biasanya singkat.
2). Program Perawatan Kesehatan di Rumah Jangka Panjang (LTHHCP)
Program Perawatan Kesehatan di Rumah Jangka Panjang dibentuk
untuk memenuhi kebutuhan individu yang menderita penyakit kronis di
rumah. Merupakan program yang memberikan pelayanan sosial dan
kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan di
rumah dalam waktu yang lama. Biaya pelayanan kesehatan pasien tidak
8

boleh lebih dari 75% biaya rata-rata perawatan institusional jangka


panjang di wilayah setempat. Pelayanan keperawatan yang diberikan
meliputi terapi fisik, okupasi, dan wicara, pelayanan sosial medis,
dukungan nutrisi serta pelayanan perawatan personal.
2.3 Kemampuan Perawat Home Care Pada Anak Dengan Kebutuhan
Khusus.
Menyediakan perawatan berbasis rumah untuk anak-anak memberikan
perawat kesempatan untuk mengkaji dan berinteraksi dengan keluarga dan
lingkungannya. Pengkajian ini dapat membantu tim pemberi asuhan kesehatan
dengan informasi mengenai keamanan, system dukungan, nutrisi, kemampuan
orang tua dan praktek asuham kesehatan yang nyata. Kebutuhan keahlian
perawat ditentukan oleh kebutuhan pasien, kemampuan orang tua, struktur
keluarga dan lingkungan rumah. Dalam home care ini, perawatan pediatrik
bertanggung jawab terhadap pangkajian pada pasien dan keluarga dan evaluasi
ketepatan rencana asuhan.
Koordinasi asuhan keperawatan untuk anak-anak dengan kebutuhan
khusus diantaranya :
a.
b.
c.
d.
e.

Memfasilitasi akses terhadap pelayanan dan sumber daya


Promosi asuhan keperawatan yang berkelanjutan
Memastikan penerapan asuhan berkualitas tinggi dirumah
Menyediakan dukungan keluarga dan meningkatkan family well-being
Meningkatkan tujuan kesehatan, perkembangan, pendidikan, psikososial

dan fungsional
f. Memaksimalkan efisiensi dan keefektifan penggunaan sumber daya
Secara umum kualitas dan kemampuan yang harus dimiliki perawat
home care anak-anak kebutuhan khusus antara lain :
a.
b.
c.
d.

Kompetensi dalam keahlian serta manajemen kasus


Menunjukkan keahlian dalam berinteraksi dengan anak-anak
Memahami dan menyadari bahwa perawat adalah tamu di rumah klien
Menghormati kebudayaan keluarga dan mampu beradaptasi sesegera

mungkin
e. Bekerja sebagai bagian dari tim interdisiplin

f. Menunjukkan keahlian dalam perawatan anak-anak berkebutuhan khusus (


pengkajian dan keahlian teknis )
g. Memiliki dan menggunakan kemampuan komunikasi yang efektif
h. Memahami konsep pertumbuhan dan perkembangan nomal sesuai usia
i. Kemampuan berkolaborasi dengan orang tua dalam upaya pemberian
asuhan keperawatan berbasis-keluarga
Asuhan kolaboratif memperkenankan perawat dengan keluarga untuk
bekerja bersama. Pendekatan ini dicirikan sebagai berikut :
a. Mendorong aktivitas untuk mengembangkan kepercayaan dan harga diri
b. Memperlihatkan peningkatan kewaspadaan dan penghargaan untuk
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

pemberi asuhan di keluarga


Mengenali keragaman keluarga dalam mendefinisikan peran mereka
Berbagi pandangan, tidak hanya tugas dan fungsi
Mendukung keluarga dalam peran mereka sebagai pemberi asuhan
Membantu keluarga mengetahui kontribusi yang dapat mereka berikan
Mengindentifikasi kekuatan serta sumber daya anak dan keluarga
Negosiasi pilihan dan prioritas
Membiarkan keluarga menemukan arti pemberian asuhan pada anak
dirumah

2.4 Teknik-teknik Untuk Perawatan Di Rumah


Tujuan dari penanganan pada penyandang autisme dan retardasi mental
adalah:
a. Membangun komunikasi dua arah yang aktif.
b. Mampu melakukan sosialisasi ke dalam lingkungan yang umum dan bukan
hanya dalam lingkungan keluarga.
c. Menghilangkan dan meminimalkan perilaku tidak wajar.
d. Mengajarkan materi akademik.
e. Meningkatkan kemampuan Bantu diri atau bina diri dan keterampilan lain.
Banyak cara yang bisa dilakukan terhadap penderita autisme dan
retardasi metal ,antara lain (faisal,2003)

10

1. Melalui program pendidikan dan latihan diikuti pelayanan dan perlakuan


lingkungan yang wajar.
2. Pengasuh dan orang tua harus diajari cara menghadapi anak autisme untuk
mengurangi perlakuan yang tidak wajar.
3. Pengobatan yang dilakukan adalah untuk membatasi memberatnya gejala
dan keluhan sejalan dengan pertambahan usia anak.
4. Diusahakan agar anak meningkatkan perhatian dan dan tanggung jawab
terhadap orang sekitarnya.
5. Bimbingan dilakukan secara perorangan agar efektif.
1.

Terapi anak autisme di rumah dapat berupa:


Dimulai dari sering mengajak anak berbicara, membantu memfokuskan
pembicaraan, sampai meminta mengarahkan wajah saat kita atau anak
tengah

berbicara.

Bangun

pula

suasana

menyenangkan

dalam

berkomunikasi, seperti dengan menghadirkan aneka permainan berwarna2.

warni, buku cerita bergambar, atau permainan-permainan yang disukainya.


Setiap anak mengharapkan pujian, dan pada anak autis pujian dapat berguna
sebagai petunjuk 'jalan yang benar'. Berikan pujian lewat perkataan atau

3.

tunjukkan kasih saying Anda jika anak dapat menjawab dengan baik.
Melakukan senam atau gerakan-gerakan sederhana seperti permainan
menggerakkan anggota tubuh. Memiringkan kepala beberapa kali, memutar
badan ke kanan dan kiri, mengangkat tangan tinggi-tinggi, dll. Seluruh
gerakan ini akan mendukung terciptanya latihan motorik pada otak anak,

4.

sehingga terapi akan lebih mudah dijalankan.


Senantiasa menyiapkan diri tetap sabar berkomunikasi dengan anak. Tentu
bukan hal mudah disbanding memberikan kasih saying pada anak normal,
tetapi sebagai titipan Tuhan dan buah cinta kita, sudah semestinya mereka
tetap mendapat belaian kasih saying sesuai kebutuhannya.
Pendekatan teoritis terapi kepada anak autisme dapat berupa terapi
bermain. Sebagian besar teknik terapi bermain yang dilaporkan dalam literatur
menggunakan basis pendekatan psikodinamika atau sudut pandang analitis. Hal
ini sangat menarik karena pendekatan ini secara tradisional dianggap
membutuhkan komunikasi verbal yang tinggi, sementara populasi autistik tidak
dapat berkomunikasi secara verbal. Namun terdapat juga beberapa hasil

11

penelitian yang menunjukkan penggunaan terapi bermain pada penyandang


autisme dengan berdasar pada pendekatan perilakuan (Landreth, 2001).
Terdapat beberapa contoh penerapan terapi bermain bagi anak-anak
autistik, diantaranya adalah (Landreth, 2001):
1. Terapi yang dilakukan Bromfield terhadap seorang penyandang autisme yang
dapat berfungsi secara baik. Fokus terapinya untuk dapat masuk ke dunia
anak agar dapat memahami pembicaraan dan perilaku anak yang
membingungkan dan kadang tidak diketahui maknanya. Bromfield mencoba
menirukan perilaku obsessif anak untuk mencium/membaui semua objek
yang ditemui menggunakan suatu boneka yang juga mencium-cium benda.
Apa yang dilakukan Bromfield dan yang dikatakannya ternyata dapat
menarik perhatian anak tersebut. Bromfield berhasil menjalin komunikasi
lanjutan dengan anak tersebut menggunakan alat-alat bermain lain seperti
boneka, catatan-catatan kecil, dan telepon mainan. Setelah proses terapi yang
berjalan 3 tahun, si anak dapat berkomunikasi secara lebih sering dan
langsung.
2. Lower & Lanyado juga menerapkan terapi bermain yang menggunakan
pemaknaan sebagai teknik utama. Mereka berusaha masuk ke dunia anak
dengan memaknai bahasa tubuh dan tanda-tanda dari anak, seperti gerakan
menunjuk. Tidak ada penjelasan detil tentang teknik mereka namun
dikatakan bahwa mereka kurang berhasil dengan teknik ini.
3. Wolfberg & Schuler menyarankan penggunaan terapi bermain kelompok
bagi anak-anak autistik dan menekankan pentingnya integrasi kelompok
yang lebih banyak memasukkan anak-anak dengan kemampuan sosial yan
tinggi. Jadi mereka memasangkan anak-anak autistik dengan anak-anak
normal dan secara hati-hati memilih alat bermain dan jenis permainan yang
dapat memfasilitasi proses bermain dan interaksi di antara mereka.
Fasilitator dewasa hanya berperan sebagai pendukung dan mendorong
terjadinya proses interaksi yang tepat.
4. Mundschenk & Sasso juga menggunakan terapi bermain kelompok ini.
Mereka melatih anak-anak non-autistik untuk berinteraksi dengan anak-anak
autistik dalam kelompok.

12

5. Voyat mendeskripsikan pendekatan multi disiplin dalam penggunaan terapi


bermain bagi anak autisme, yaitu dengan menggabungkan terapi bermain
dengan pendidikan khusus dan melatih ketrampilan mengurus diri sendiri.
Efektivitas Terapi Bermain Bagi Penyandang Autisme, Efektivitas
penggunaan terapi bermain masih cukup sulit diketahui karena sampai saat ini
kebanyakan literatur masih memaparkan hasil kasus per kasus. Namun
Bromfield, Lanyado, & Lowery menyatakan bahwa klien mereka menunjukkan
peningkatan dalam bidang perkembangan bahasa, interaksi sosial, dan
berkurangnya perilaku stereotip, setelah proses terapi. Mereka dikatakan juga
dapat mentransfer ketrampilan ini di luar seting bermain.
Wolfberg & Schuler menyatakan bahwa model terapi bermain yang
terintegrasi dalam kelompok juga dapat berhasil, dimana program ini ditujukan
untuk meningkatkan interaksi sosial dan melatih ketrampilan bermain simbolik.
Mundschenk & Sasso juga melaporkan hal yang sama.
Beberapa Jenis terapi yang bisa dilakukan pada anak autisme sebagai
bentuk penanganan adalah sebagai berikut:
1. Terapi Perilaku
a. Terapi okupasi
Terapi okupasi

dilakukan

untuk

membantu

menguatkan,

memperbaiki koordinasi dan keterampilan otot pada anak autis.


b. Terapi wicara
Terapi wicara (speech therapy) merupakan suatu keharusan, karena
anak autis mempunyai keterlambatan bicara dan kesulitan berbahasa.
c. Sosialisasi dengan menghilangkan perilaku yang tidak wajar
2. Terapi Biomedik
Pada masa remaja, beberapa perilaku agresif bisa semakin sulit dihadapi
dan sering menimbulkan depresi. Kadang obat-obatan bisa membantu
meskipun tidak dapat menghilangkan penyebabnya. Haloperidol terutama
digunakan

untuk

membahayakan

mengendalikan

diri

sendiri.

perilaku

Fenfluramin,

yang

sangat

buspiron,

agresif

dan

risperidon

dan

penghambat reuptake serotonin selektif (fluoksetin, paroksetin dan sertralin)


digunakan untuk mengatasi berbagai gejala dan perilaku pada anak autis.

13

3. Sosialisasi ke sekolah reguler Anak autis yang telah mampu bersosialisasi


dan berkomunikasi dengan baik dapat dicoba untuk memasuki sekolah formal
sesuai dengan umurnya dengan tidak meninggalkan terapi perilakunya.
4. Sekolah (Pendidikan) Khusus Pada sekolah (pendidikan) khusus ini dikemas
khusus untuk penyandang autis yang meliputi terapi perilaku, wicara dan
okupasi, bila perlu dapat ditambahkan dengan terapi obat-obatan, vitamin dan
nutrisi yang memadai.
Program

pendidikan

untuk

anak

autis

sangat

terstruktur,

menitikberatkan kepada kemampuan berkomunikasi dan sosialisasi serta


teknik pengelolaan perilaku positif. Strategi yang digunakan di dalam kelas
sebaiknya juga diterapkan di rumah sehingga anak memiliki lingkungan fisik
dan sosial yang tidak terlalu berbeda. Dukungan pendidikan seperti terapi
wicara, terapi okupasional dan terapi fisik merupakan bagian dari pendidikan
di sekolah anak autis. Keterampilan lainnya, seperti memasak, berbelanja atau
menyebrang jalan, akan dimasukkan ke dalam rencana pendidikan individual
untuk meningkatkan kemandirian anak. Tujuan keseluruhan untuk anak adalah
membangun kemampuan sosial dan berkomunikasi sampai ke tingkat tertinggi
atau membangun potensinya yang tertinggi.
Ada beberapa persyaratan yang diperlukan untuk menjalankan terapi
anak autis di rumah, yaitu :
a. Pengetahuan orang tua akan metode terapi
b. Pengelolaan proses terapi yang menyangkut pengawasan dan pembinaan
terapis
c. Ruangan yang bebas distraksi, cukup sejuk dan cukup penerangan
d. Dibutuhkan meja dan kursi anak
e. Alat peraga dan peralatan latihan motorik dan sensoris yang sesuai
dengan materi yang akan diberikan
f. Evaluasi proses terapi secara periodic
g. Dana yang cukup untuk membayar 2 3 orang terapis
h. Terapis yang handal dalam melakukan terapi perilaku (Handojo, 2004:
40).

14

Apabila semua syarat di atas dapat disediakan, maka terapi di rumah


dapat menjadi pilihan utama. Tetapi apabila tidak mungkin menyediakan
persyaratan minimal ini, maka terapi sebaiknya dilakukan di institusi, terapi di
rumah dijadikan sebagai kelanjutan terapi di sekolah.
Anak dengan autisme juga perlu diajarkan bagaimana merawat diri
sendiri. Kemampuan merawat diri adalah kecakapan atau keterampilan untuk
mengurus atau menolong diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari sehingga
tidak tergantung pada orang lain.
Bagi anak autis, tujuan latihan merawat diri adalah :
a. Agar dapat melakukan sendiri keperluannya sehari-hari
b. Menumbuhkan rasa percaya diri dan meminimalkan bantuan yang
diberikan
c. Memiliki kebiasaan tertib dan teratur
d. Dapat menjaga kebersihan dan kesehatan badannya
e. Dapat beradaptasi dengan lingkungannya pada kondisi atau situasi di mana
ia berada
f. Dapat menjaga diri dan menghindar dari hal-hal yang membahayakan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua sebelum
mempraktekkan merawat diri pada anak :
a.Mengenal dan menerima keberadaan anak sehingga dapat merancang
program yang efektif
b.Memperhatikan kesiapan anak dalam menerima latihan-latihan
c.Belajar dalam keadaan rileks dengan instruksi yang tegas tanpa ragu-ragu
tetapi tidak menimbulkan ketegangan bagi anak
d.Guru atau pelatih menggunakan kata-kata instruksi yang tetap dan sama
begitu pula yang dilakukan orang tua dan anggota keluarga yang lain
e.Setiap melakukan kegiatan iringilah dengan percakapan dan gunakan katakata yang sederhana
f. Latihan diberikan dengan singkat dan sederhana, tahap demi tahap dan
satu
g.Tahapan dimulai dari hal termudah
h.Tetapkanlah disiplin, jangan menyimpang dari ketetapan utama, waktu
maupun tempat, karena akan membingungkan
i. Teruslah memberi motivasi bila anak belum berhasil dan berikan pujian
bila usaha yang dilakukan anak berhasil dengan baik
15

j. Kesalahan dan kecelakaan adalah hal biasa, mungkin saja anak jatuh
karena memasukkan kedua kakinya bersama-sama dalam lobang celana
k.Fleksibilitas.
Ruang Lingkup Materi Kemampuan Merawat Diri berupa materi
pelajaran. Materi pelajaran menunjukkan apa yang harus diajarkan serta sejauh
mana keluasan dan kedalamannya. Materinya adalah :
a. Kebersihan badan antara lain melatih
1) Cuci tangan
2) Cuci muka
3) Sikat gigi
4) Mandi
5) Keramas
6) Menggunakan kamar kecil/WC
b. Makan dan minum meliputi :
1) Makan menggunakan tangan
2) Makan menggunakan sendok
3) Minum menggunakan cangkir
4) Minum menggunakan gelas
5) Minum menggunakan sedotan
c. Berpakaian, antara lain :
1) Memakai pakaian dalam
2) Memakai baju kaos
3) Celana/rok
4) Kemeja
5) Kaos kaki dan sepatu
d. Berhias, meliputi :
1) Menyisir rambut
2) Memakai bedak
3) Memakai aksesoris
e. Keselamatan diri, meliputi :
1) Bahaya benda tajam atau runcing
2) Bahaya benda api dan listrik
3) Bahaya lalu lintas
4) Bahaya binatang
f. Adaptasi lingkungan, antara lain :
1) Mengenal keluarga dekat
2) Mengenal guru/pelatih
3) Mengenal dan bermain bersama teman.

16

Teknik-teknik untuk perawatan anak retardasi mental.


Retardasi mental (RM) merupakan suatu keadaan perkembangan
jiwa yang terhenti atau tidak lengkap sehingga berpengaruh pada tingkat
kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa,
motorik dan sosial (Maslim, 2007). Anak RM umumnya memiliki
kecakapan motorik yang lebih rendah dibandingkan kelompok anak
normal sebaya, hal ini ditunjukkan dengan kekurangmampuan dalam
aktivitas motorik untuk tugas-tugas yang memerlukan ketepatan gerakan,
belajar keterampilan manual, serta dalam melakukan reaksi gerak yang
memerlukan koordinasi motorik dan keterampilan gerak yang lebih
kompleks.
Perkembangan motorik dapat berarti perkembangan pengendalian
gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang
terkoordinasi. Perkembangan motorik terbagi menjadi 2 (dua) yaitu
motorik halus dan motorik kasar. Motorik halus berkaitan dengan gerakan
yang menggunakan otot halus. Sedangkan motorik kasar merupakan
gerakan yang terjadi karena adanya koordinasi otot-otot. Dari hasil studi
pendahuluan yang dilakukan pada awal Maret yaitu upaya yang sudah
dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Cerme upaya untuk
meningkatkan motorik halus yaitu dengan bermain kolase, origami, dan
meronce. Sedangkan untuk meningkatkan motorik kasar yaitu dengan
bermain bola, voli, dan senam. Selain hal tersebut ada pula permainan
lainnya yang dapat meningkatkan kemampuan motorik halus yaitu paper
toys. Permainan tersebut dibuat dari kertas dan dibentuk menjadi bangun
ruang. Sedangkan berlari dan melompat merupakan kegiatan yang dapat
meningkatkan motorik kasar. Pengaruh kegiatan tersebut terhadap
peningkatan kemampuan motorik anak RM belum dapat dijelaskan.

17

Menurut Hurlock (2005) perkembangan motorik anak dipengaruhi


sifat dasar genetik termasuk bentuk tubuh dan kecerdasan anak. Anak yang
mempunyai Intelligence Quantient (IQ) di bawah rata-rata menunjukkan
perkembangan motorik yang lambat dibandingkan dengan anak normal.
Adanya dorongan atau rangsangan untuk menggerakkan jari-jari tangan
akan mempercepat perkembangan motorik anak. Aktivitas kegiatan dasar
yang dilakukan untuk melatih motorik bisa dilakukan melalui permainan,
melenturkan otot-otot tangan agar mampu memainkan gerakan rumit.
Anak RM ini juga rata-rata tingkat kecerdasannya rendah dan

perlu

perbaikan dalam hal pola gerak dasarnya. Keterampilan motorik tidak


akan berkembang melalui kematangan saja, melainkan keterampilan itu
harus dipelajari. Tiga cara yang paling umum digunakan anak dalam
mempelajari kemampuan motorik adalah trial and error, meniru, dan
pelatihan (Hurlock, 2005). Pelatihan penting dalam tahap awal belajar
karena dapat meningkatkan kemampuan motorik jika dilakukan secara
berulang-ulang. Oleh karena itu bila anak RM tidak segera diberikan
pelatihan akan berakibat pada keterbatasan perkembangan motoriknya
(Mahmudah, 2002). Motorik halus sangat diperlukan untuk perkembangan
kemampuan mengendalikan suatu obyek yang dibutuhkan dalam suatu
pekerjaan atau aktivitas. Sedangkan perkembangan motorik kasar sama
pentingnya dengan aspek perkembangan yang lain. Apabila anak tidak
mampu melakukan gerakan fisik dengan baik akan menumbuhkan rasa
tidak percaya diri dan konsep diri negatif dalam melakukan gerakan fisik.
Terapi bermain merupakan salah satu bentuk aktivitas sosial yang
utama pada masa anak-anak. Permainan bagi anak-anak adalah suatu
bentuk aktivitas yang menyenangkan yang dilakukan semata-mata untuk
menyenangkan aktivitas itu sendiri, bukan ingin memperoleh suatu yang
dihasilkan dari aktivitas tersebut. Selain itu menurut Hurlock (1978:323),
menyebutkan

bahwa

bermain

aktif

penting

bagi

mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya.

2.5 Aspek Legal Dan Etik Di Home Care


18

anak

untuk

Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan mandiri


berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat dapat
mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di rumah tanpa
program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di bawah petunjuk
rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter. Perawat yang
memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan dan kemudian
bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana tindakan medis.
Dasar Hukum dalam Home Care
Dasar hukum dari praktik home care adalah praktik pelayanan mandiri
perawat yang diatur dalam beberapa undang-undang. Diantaranya yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

UU Kes. No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan


PP. No. 25 tahun 2000 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah
UU. No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
UU. No. 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
Kepmenkes No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat
Kepmenkes No. 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas
Kepmenkes No. 279 tahun 2006 tentang pedoman penyelenggaraan

Perkesmas
h. SK Menpan No. 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang jabatan fungsional
perawat.
i. PP. No. 32 tahun 1996 tentang pelayanan medik swasta
j. Permenkes RI No. HK. 02.02/MENKES/148/2010 tentang izin dan
Penyelenggaraan Praktik Perawat.

Perijinan dan Akreditasi Home Care


1. Perijinan
Perijinan praktik keperawatan home care diatur dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2014 tentang
Klinik. Hal tersebut diatur dalam bab V tentang penyelenggaraan dengan
isi pasal sebagai berikut:

19

Pasal 32
a. Klinik menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang
bersifat promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
b. Pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam
bentuk rawat jalan, rawan inap, pelayanan satu hari (one day care)
dan/ atau home care.
c. Pelayanan satu hari (one day care) sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) merupakan pelayanan yang dilakukan oleh pasien yang sudah
ditegakkan diagnosa secara definitif dan perlu mendapatkan tindakan
atau perawatan semi intensif (observasi) setelah 6 (enam) jam sampai
dengan 24 (dua puluh empat) jam.
d. Home care sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian
atau lanjutan dari pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan
komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat
tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan
atau memulihkn kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian
dan meminimalkan dampak penyakit.
Syarat bagi perawat home care sendiri adalah harus memiliki
registrasi dan lisensi, memiliki kemampuan tindakan keperawatan
profesional, memiliki knowledge, skill dan sikap yang profesional, etik
dan moral yang baik serta adanya standar profesi. (Handra, 2013).
Menurut

Permenkes

1239/2001

tentang

Registrasi

dan

Praktik

Keperawatan menyebutkan jika untuk melakukan praktik mandiri perawat


harus memiliki SIP (Surat Ijin Perawat), SIK (surat ijin kerja) dan SIPP
(Surat Ijin Praktik Perawat) yang dikeluarkan oleh organisasi profesi.
Pendirian home care yang bersifat swasta adalah berbadan hukum
yang ditetapkan dalam akte notaris kemudian mengajukan ijin usaha
Home Care Dinkes kepada kab/kota setempat dengan melampirkan:
a. Surat rekomendasi dari PPNI untuk mendirikan usaha Home Care
b. Ijin lokasi bangunan
c. Ijin dari lingkungan setempat

20

d. Ijin usaha
e. Persyaratan tata ruang bangunan meliputi: ruang direktur, ruang
manajemen pelayanan, gudang sarana dan peralatan, sarana komunikasi,
sarana transportasi
f. Ijin persyaratan tenaga meliputi ijin praktik profesi dan sertifikasi home
care.

Akreditasi Home Care


Akreditasi home care diatur dalam akreditasi fasilitas kesehatan
(Faskes) primer. Penerapan standar akreditasi mutu Puskesmas dan Fasyankes
primer dibedakan standar untuk fasyankes di perkotaan, pedesaan, dan DPTK
(daerah tertinggal). Akreditasi Faskes Primer meliputi: PKM, Klinik Pratama,
Balai/Lembaga Yankes dan Praktik Mandiri.
Komite Joint Commmission International (JCI) mengeluarkan standar
akreditasi khusus home care. Standar penilaian akreditasi ini merupakan
standar penilaian penerapan home care berfokus pada pasien. Penilaian
tersebut meliputi keselamatan pasien, askes dan asesmen pasien, hak dan
tanggung jawab pasien, perawatan pasien dan kontinuitas pelayanan,
manajemen obat dan pasien, serta pendidikan pasien dan keluarga.
Kebijakan Home Care mengacu pada hak perawat untuk melakukan
asuhan mandiri kepada klien. Aspek legal keperawatan mandiri sendiri sudah
tertulis dalam UU. No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan pasal 32 ayat 4 yang
berbunyi: Pelaksanaan pengobatan dan/atau perawatan berdasarkan ilmu
kedokteran dan/ilmu keperawatan hanya dapat dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyaki keahlian dan kewenangan untuk itu,. Dasar
hukum praktik mandiri lain adalah UU. No. 20 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran, pasal 73. KepMenkes 1239/2007 tentang Registrasi dan Praktik
perawat dan juga RUU Keperawatan tentang Praktik Keperawatan yang
berbunyi: Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawat melalui
kolaborasi dengan sistem klien dan tenaga kesehatan lain dalam memberikan
asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung jawabnya pada

21

berbagai tatanan pelayanan kesehatan, termasuk praktik keperawatan


individual dan berkelompok,.
Menurut PPNI kebijakan pembiayaan Home Care adalah:
Prinsip Penetuan Tarif
a.Pemerintah/masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara kesehatan
b.
Disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan keadaan sosial
c.Mempertimbangkan masyarakat berpenghasilan rendah/asas gotong
royong
Pembayaran dengan asuransi ditetapkan atas dasar saling

d.

membantu
e.Mencakup seluruh unsur pelayanan secara professional
Kebijakan pengelolaan pelayanan home care masih termasuk dalam
pelayanan keperawatan dalam keluarga. Menurut KMK No. 908 tentang
Pelayanan Keperawatan Keluarga, kebijakan yang diatur adalah sebagai
berikut:
a. Peningkatan Jangkauan Pelayanan
Peningkatan jangkauan pelayanan

keperawatan

keluarga

meliputi

penyediaan sumber dana dan sumber daya manusia yang professional serta
penyediaan sarana pelayanan secara merata dan terjangkau oleh
masyarakat.
b. Penetapan Prioritas Sasaran Pelayanan
Upaya pelayanan keperawatan keluarga diprioritaskan pada keluarga
rawan kesehatan maupun keluarga risiko tinggi serta keluarga yang
memerlukan tindak lanjut pelayanan keperawatan, sedangkan sasaran
untuk upaya perluasan jangkauan pelayanan lebih ditujukan kepada
kelompok keluarga berpenghasilan rendah, tinggal di daerah terpencil
(kepualuan dan perbatasan), daerah pemukiman baru, daerah kumuh
perkotaan.
c. Penggerakan dan Pemberdayaan Keluarga dan Lingkungan
Upaya pelayanan keperawatan keluarga merupakan pelayanan yang
difokuskan pada keluarga dengan melibatkan peran serta anggota keluarga
dan lingkungannya serta berkolaborasi dengan disiplin lain sesuai
kebutuhan.

22

d. Peiningkatan Kualitas Pelayanan


Peningkatan kualitas pelayanan keperawatan keluarga dilaksanakan
dengan pendekatan holistik dan koordinasi terpadu baik lintas program
maupun lintas sektor.
e. Pemantapan Tatanan Pelayanan Keperawatan Keluarga
Upaya pelayanan keperawatan keluarga dapat dilaksanakan pada tatanan
pelayanan kesehatan di Puskesmas (termasuk home care), rumah sakit
sebagai rujukan, klinik sesuai kebutuhan.
f. Peningkatan Pembiayaan Pelayanan Keperawatan Keluarga

Hak legal dan kerahasian klien.


Hak dan Tanggung Jawab Klien
Hak klien yang dilindungi oleh hukum meliputi beberapa hal berikut ini :
a. Klien berhak atas perawatan yang lengkap, dilakukan dengan kompeten,
dan memiliki kualitas tertinggi.
b. Klien harus mendapat respons yang cepat saat membutuhkan bantuan.
c. Klien harus diperlakukan sama dan tanpa membedakan ras, keyakinan,
jenis kelamin, umur, suku, kebangsaan, ketidakmampuan, atau sumber
asuransi.
d. Klien memiliki hak untuk mengetahui masalah, rencana perawatan, dan
pengobatannya.
e. Klien memiliki hak supaya property/perabotan-nya di rumah diperlakukan
dengan hormat.
f. Klien memiliki hak supaya informasi medisnya dirahasiakan.
g. Klien memiliki hak untuk mengungkapkan duka cita atau keberatan tanpa
suatu rasa takut bahwa ia akan dibalas.
h. Klien berhak mendapat informasi dari perawat jika ia akan dipulangkan.
i. Klien berhak untuk memformulasikan dokumen tertulis (advance
directive)
Tanggung jawab yang klien miliki dikomunikasikan oleh perawat pada
saat kunjungan pertama. Tanggung jawab ini meliputi:
1. Memberi tahu perawat atau dokter jika klien mengalami perubahan status
fungsi, sosial atau fisik

23

2. Memberi tahu perawat atau dokter jika terdapat masalah atau perubahan
yang akan mempengaruhi rencana perawatan
3. Bekerja sama seluas mungkin dengan perawat pelaksana perawatan
dirumah, ahli terapi, asisten, dan pemberi perawatan yang lain.
4. Mengikuti rencana perawatan yang disusun berdasarkan pemahaman,
perselujuan, dan kerja samanya sendiri.
Kerahasiaan Klien.
Ada beberapa langkah yang sangat mendasar yang harus diikuti perawat
dalam melindungi kerahasiaan klien, diantaranya:
a. Perawat tidak boleh meninggalkan catatan medis klien sembarangan,
seperti di dalam mobil atau di dalam tas.
b. Perawat tidak boleh menulis catatan klinis di tempat umum yang
memungkinkan orang lain memperoleh akses untuk mendapatkan
informasi medis klien.
c. Jika seorang perawat menggunakan pelayanan pengetikan untuk mengetik
catatan diktatnya, identitas klien harus dihapus. Gunakan inisial klien atau
nomor registrasi untuk mengidentifikasi klien.
d. Selalu lindungi catatan klinis dan akses yang tidak memiliki wewenang,
misalnya dengan menutup catatan klinis atau membalik catatan saat
meninggalkan ruangan atau meja tulis seseorang untuk sementara.

Kerahasiaan didalam Rumah Klien.


Pada perawatan di-rumah, anggota keluarga sangat sering
dilibatkan dengan perawatan klien. Terkadang, klien mungkin membagi
informasi dengan perawat, sedangkan anggota keluarga tidak diberitahu.
Perawat, sebagai advokat klien, harus melindungi dan menghormati hak
klien untuk merahasiakannya. Akibatnya, perawat tidak boleh secara
terbuka membagi rahasia pribadi klien dengan anggota keluarga tanpa
diketahui atau tanpa persetujuan klien. Hal ini khususnya berlaku pada
kerahasiaan kasus HIV, atau diskusi tentang faktor gaya hidup, seperti
perilaku seksual, penggunaan obat-obatan intravena. Kerahasiaan adalah

24

isu yang sangat penting dalam peninjauan terhadap kunjungan rumah.


Perawat tidak boleh membahas klien di luar lingkungan rumah, dan harus
membatasi diskusi dengan anggota keluarga di lokasi yang sepi.

25

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pelayanan kesehatan di rumah (home care) merupakan penyediaan
pelayanan professional perawat bagi pasien dan keluarganya di rumah
untuk menjaga kesehatan, edukasi, pencegahan penyakit, terapi paliatif,
dan rehabilitative.
Penderita autis dan retardasi mental membutuhkan bimbingan dan
pengawasan setiap waktu maka dengan perawatan di rumah, keluarga
dapat membimbing dan mengawasi anak mereka dengan tanpa hambatan,
serta dapat menghemat biaya, artinya keluarga tidak perlu lagi
mengeluarkan biaya (kamar) RS, transport PP Rumah Rumah Sakit
untuk menemani pasien di RS. Pelayanan kesehatan ini diberikan oleh para
professional yang tergabung dalam tim home care.
Dalam home care ini, perawatan pediatrik bertanggung jawab
terhadap pangkajian pada pasien dan keluarga dan evaluasi ketepatan
rencana asuhan.
Secara legal perawat dapat melakukan aktivitas keperawatan
mandiri berdasarkan pendidikan dan pengalaman yang di miliki. Perawat
dapat mengevaluasi klien untuk mendapatkan pelayanan perawatan di
rumah tanpa program medis tetapi perawatan tersebut harus diberikan di
bawah petunjuk rencana tindakan tertulis yang ditandatangani oleh dokter.
Perawat yang memberi pelayanan di rumah membuat rencana perawatan
dan kemudian bekerja sama dengan dokter untuk menentukan rencana
tindakan medis.
3.2 Saran
Melalui makalah ini diharapkan nantinya calon profesi perawat dapat
mengetahui dan memahami bagaimana homecare pada anak dengan
kebutuhan khusus memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan dapat
mempraktekkan tindakan-tindakan keperawatan yang sesuai dengan
konsep yang telah teruji kebenarannya sehingga kesalahan-kesalahan yang
terjadi di home care dapat diminimalisir dan tim perawat pun semakin
diakui kelayakkannya sebagai salah satu tim pelayanan kesehatan.
26

27

DAFTAR PUSTAKA
Awal Bros Panam. 2013. Home Care. Diakses pada tanggal 19 Maret
2015. Dari http://panam.awalbros.com/index.php/id/home-care
Agnintia, Dian., Rachmawati, Fauziah., Arsita, Riezky., Berti, P.L. 2013.
Quality Self Care And Home Care Solusi Kesehatan Gigi dan Mulut
Anak Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
Colledge of Allied Educators.Pendekatan Teoritis Terapi Bermain Pada
Penyandang Autisme. Diakses pada tanggal 19 Maret 2015 darihttp://caeindonesia.com/pendekatan-teoritis-terapi-bermain-pada-penyandangautismen/
Colledge of Allied Educators.Penanganan Bagi Anak Autis. Diakses pada
tanggal 19 Maret 2015 darihttp://cae-indonesia.com/penanganan-bagianak-autis/

Colledge of Allied Educators.Terapi Anak Autis di Rumah.


Diakses pada

tanggal 19 Maret 2015 darihttp://cae-

indonesia.com/terapi-anak-autis-di-rumah/
Efendi, Ferry & Makhfudli. Keperawatan Kesehatan Komunitas. 2009.
Jakarta: Salemba Medika
Faisal, Y. 2007. Autisme Suatu Gangguan Jiwa pada Anakanak. Jakarta: Pustaka Populer Obor
Handojo, Y. 2004. Autisma: petunjuk praktis dan pedoman
materi untuk mengajar anak normal, autis dan prilaku lain.
Jakarta: Bhuana Ilmu Populer
Helwiah.2004.Home Care Sebagai Bentuk Praktik Mandiri Perawat Di
Rumah dalam Juornal Kepewatan Universitas Padjadjaran Bandung Vol 5
No. IX Tahun 2004. PSIK FK Unpad Bandung.
Hockenberry, Marylin J. Wilson, David. 2009. Essentials of pediatric
Nursing Ed. 8, vol.2. Canada : Mosby Elsevier
Joint Commission International Akreditasi Rumah Sakit Edisi ke-4. 2011.
Jakarta: Gramedia

28

Landreth, G.L. 2001. Innovations In Play Therapy: Issues, Process, and


Special Populaton. New York: Brunner-Routledge
Syafwan,M.K.R.,sabri,R.,asterina. 2010. Pengalaman Hidup Orang Tua
Anak Penyandang Autis Setelah Terapi Berhasil. Jurnal Keperawatan
Ners,6(2),114-121.
Tunanetra di SDLB A-YKAB Surakarta. Diakses pada tanggal 19 Maret
2015.

Dari

http://www.google.com/url?

sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=6&cad=rja&uact=8&ved=0CE
sQFjAF&url=http%3A%2F%2Fartikel.dikti.go.id%2Findex.php
%2FPKMM%2Farticle%2Fdownload
%2F178%2F178&ei=xtoKVdudFov8ugSVv4DoCQ&usg=AFQjCNH8H35rDHR6F_Z_sG2TS2bnP56dQ&bvm=bv.88528373,d.c2E

29