Anda di halaman 1dari 65

A.

Tahap PraInteraksi
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
2. Mencuci tangan
3. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada
keluarga/pasien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan
dilakukan
C. Tahap Kerja
1. Mengatur posisi pasien dan pilih vena dari arah
distal
2. Memasang perlak dan alasnya
3. Membebaskan daerah yang akan di injeksi
4. Meletakkan tourniquet 5 cm proksimal yang akan
ditusuk
5. Memakai hand schoon
6. Membersihkan kulit dengan kapas alcohol
(melingkar dari arah dalam ke luar) biarkan kering
7. Mempertahankan vena pada posisi stabil
8. Memegang spuit dengan sudut 300,
9. Menusuk vena dengan kemiringan 300, dan lubang
jarum menghadap keatas
10. Melakukan aspirasi dan pastikan darah masuk spuit,
ambil darah sesuai kebutuhan
11. Membuka tourniquet
12. Memasukkan darah secara perlahan
13. Mencabut spuit sambil menekan daerah tusukan
dengan kapas
14. Menutup daerah tusukan dengan plester luka
15. Memasukkan darah kedalam botol specimen
16. Merapikan pasien
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Berpamitan dengan klien
3. Membereskan alat-alat
4. Mencuci tangan
5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan
keperawatan

Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomy yang berarti proses
mengeluarkan darah. Dalam praktek laboratorium klinik, ada 3 macam cara memperoleh darah,
yaitu : melalui tusukan vena (venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture) dan tusukan arteri atau
nadi. Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu istilah phlebotomy
sering dikaitkan dengan venipuncture.

PENGAMBILAN DARAH VENA


Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah

umumnya diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan siku). Vena
ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak ada pasokan saraf besar.
Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau vena basilica bisa menjadi pilihan
berikutnya. Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya
berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median.
Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka pengambilan darah dapat
dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan. Lakukan pengambilan dengan dengan sangat
hati-hati dan menggunakan jarum yang ukurannya lebih kecil.
Tujuan
1.

Untuk mendapatkan sampel darah vena yang baik dan memenuhi syarat untuk dilakukan
pemeriksaan.

2.

Untuk menurunkan resiko kontaminasi dengan darah (infeksi, needle stick injury) akibat vena
punctie bagi petugas maupun penderita.

3.

Untuk petunjuk bagi setiap petugas yang melakukan pengambilan darah (phlebotomy)
Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :

Lengan pada sisi mastectomy

Daerah edema

Hematoma

Daerah dimana darah sedang ditransfusikan

Daerah bekas luka

Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular

Daerah intra-vena lines Pengambilan darah di daerah ini dapat menyebabkan darah
menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau menurunkan kadar zat tertentu.

Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara manual
dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring), sedangkan cara vakum dengan
menggunakan tabung vakum (vacutainer).
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah vena adalah :

Pemasangan turniket (tali pembendung)


o pemasangan dalam waktu lama dan terlalu keras dapat menyebabkan
hemokonsentrasi (peningkatan nilai hematokrit/PCV dan elemen sel), peningkatan
kadar substrat (protein total, AST, besi, kolesterol, lipid total)
o melepas turniket sesudah jarum dilepas dapat menyebabkan hematoma

Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga mengakibatkan


masukknya udara ke dalam tabung dan merusak sel darah merah.

Penusukan
o penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya cairan jaringan
sehingga dapat mengaktifkan pembekuan. Di samping itu, penusukan yang
berkali-kali juga berpotensi menyebabkan hematoma.
o tutukan jarum yang tidak tepat benar masuk ke dalam vena menyebabkan darah
bocor dengan akibat hematoma

Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolisis sampel akibat
kontaminasi oleh alcohol, rasa terbakar dan rasa nyeri yang berlebihan pada pasien ketika
dilakukan penusukan.

Pengambilan Darah Vena dengan Syring


Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik (syring) merupakan cara yang masih
lazim dilakukan di berbagai laboratorium klinik dan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Alat
suntik ini adalah sebuah pompa piston sederhana yang terdiri dari sebuah sebuah tabung silinder,
pendorong, dan jarum. Berbagai ukuran jarum yang sering dipergunakan mulai dari ukuran
terbesar sampai dengan terkecil adalah : 21G, 22G, 23G, 24G dan 25G.
Pengambilan darah dengan suntikan ini baik dilakukan pada pasien usia lanjut dan pasien dengan
vena yang tidak dapat diandalkan (rapuh atau kecil).
Prosedur :

Persiapkan alat-alat yang diperlukan : handskun, syring, perlak, kapas alkohol 70%, tali
pembendung (turniket), plester, tabung dan pendokumentasian. Untuk pemilihan syring,
pilihlah ukuran/volume sesuai dengan jumlah sampel yang akan diambil, pilih ukuran
jarum yang sesuai, dan pastikan jarum terpasang dengan erat.

Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien senyaman
mungkin ( Fase Orientasi).

Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar permintaan.

Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat bila pasien minum
obat tertentu, tidak puasa dsb.

Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan aktifitas.

Minta pasien mengepalkan tangan.

Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat siku.

Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan (palpasi) untuk
memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah pipa kecil, elastis dan memiliki
dinding tebal. Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari arah pergelangan ke siku,
atau kompres hangat selama 5 menit daerah lengan.

Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas alcohol 70% dan biarkan
kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.

Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas. Jika jarum telah
masuk ke dalam vena, akan terlihat darah masuk ke dalam semprit (dinamakan flash).
Usahakan sekali tusuk kena.

Setelah volume darah dianggap cukup, lepas turniket dan minta pasien membuka kepalan
tangannya. Volume darah yang diambil kira-kira 3 kali jumlah serum atau plasma yang
diperlukan untuk pemeriksaan.

Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik jarum. Tekan kapas
beberapa saat lalu plester selama kira-kira 15 menit. Jangan menarik jarum sebelum
turniket dibuka.

Rapikan pasien dan lakukan pendokumentasian

Pengambilan Darah Vena Dengan Tabung Vakum


Tabung vakum pertama kali dipasarkan oleh perusahaan AS BD (Becton-Dickinson) di bawah
nama dagang Vacutainer. Jenis tabung ini berupa tabung reaksi yang hampa udara, terbuat dari
kaca atau plastik. Ketika tabung dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam
tabung dan berhenti mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang

dihubungkan oleh sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior digunakan untuk menusuk vena
dan jarum pada sisi posterior ditancapkan pada tabung. Jarum posterior diselubungi oleh bahan
dari karet sehingga dapat mencegah darah dari pasien mengalir keluar. Sambungan berulir
berfungsi untuk melekatkan jarum pada sebuah holder dan memudahkan pada saat mendorong
tabung menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak perlu membagi-bagi sampel

darah ke dalam beberapa tabung. Cukup sekali penusukan, dapat digunakan untuk beberapa
tabung secara bergantian sesuai dengan jenis tes yang diperlukan. Untuk keperluan tes biakan
kuman, cara ini juga lebih bagus karena darah pasien langsung dapat mengalir masuk ke dalam
tabung yang berisi media biakan kuman. Jadi, kemungkinan kontaminasi selama pemindahan
sampel pada pengambilan dengan cara manual dapat dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika vena tidak bisa
diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk mengatasi hal ini mungkin bisa
digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum kupu-kupu

hampir sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas. Perbedaannya adalah,
antara jarum anterior dan posterior terdapat dua buah sayap plastik pada pangkal jarum anterior
dan selang yang menghubungkan jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat mengenai
vena, darah akan kelihatan masuk pada selang (flash).

Prosedur :

Persiapkan alat-alat yang diperlukan : handskun, jarum, kapas alkohol 70%, tali
pembendung (turniket), plester, tabung vakum, pendokumentasian.

Pasang jarum pada holder, pastikan terpasang erat.

Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien senyaman
mungkin.

Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar permintaan.

Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat bila pasien minum
obat tertentu, tidak puasa dsb.

Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan aktifitas.

Minta pasien mengepalkan tangan.

Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat siku.

Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan (palpasi) untuk
memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah pipa kecil, elastis dan memiliki
dinding tebal. Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari arah pergelangan ke siku,
atau kompres hangat selama 5 menit daerah lengan.

Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas alcohol 70% dan biarkan
kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.

Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas. Masukkan tabung ke
dalam holder dan dorong sehingga jarum bagian posterior tertancap pada tabung, maka
darah akan mengalir masuk ke dalam tabung. Tunggu sampai darah berhenti mengalir.
Jika memerlukan beberapa tabung, setelah tabung pertama terisi, cabut dan ganti dengan
tabung kedua, begitu seterusnya.

Lepas turniket dan minta pasien membuka kepalan tangannya. Volume darah yang
diambil kira-kira 3 kali jumlah serum atau plasma yang diperlukan untuk pemeriksaan.

Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik jarum. Tekan kapas
beberapa saat lalu plester selama kira-kira 15 menit. Jangan menarik jarum sebelum
turniket dibuka.

Segera rapikan pasien dan lakukan pendokumentasian.

Menampung Darah Dalam Tabung


Beberapa jenis tabung sampel darah yang digunakan dalam praktek laboratorium klinik adalah
sebagai berikut :

Tabung tutup merah. Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah akan menjadi
beku dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank darah (crossmatching test)

Tabung tutup kuning. Tabung ini berisi gel separator (serum separator tube/SST) yang
fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah pemusingan, serum akan berada di
bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan kimia darah, imunologi dan serologi

Tabung tutup hijau terang. Tabung ini berisi gel separator (plasma separator tube/PST)
dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah pemusingan, plasma akan berada di bagian
atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan
kimia darah.

Tabung tutup ungu atau lavender. Tabung ini berisi EDTA. Umumnya digunakan
untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch)

Tabung tutup biru. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya digunakan untuk
pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)

Tabung tutup hijau. Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin, umumnya
digunakan untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia darah.

Tabung tutup biru gelap. Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam, umumnya
digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink, copper, mercury) dan toksikologi.

Tabung tutup abu-abu terang. Tabung ini berisi natrium fluoride dan kalium oksalat,
digunakan untuk pemeriksaan glukosa.

Tabung tutup hitam ; berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk pemeriksaan LED
(ESR).

Tabung tutup pink ; berisi potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan


imunohematologi.

Tabung tutup putih ; potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan molekuler/PCR dan
bDNA.

Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas ; berisi media biakan,
digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi - aerob, anaerob dan jamur

Beberapa hal penting dalam menampung sampel darah adalah :

Darah dari syring atau suntikan harus dimasukkan ke dalam tabung dengan cara melepas
jarum lalu mengalirkan darah perlahan-lahan melalui dinding tabung. Memasukkan darah
dengan cara disemprotkan, apalagi tanpa melepas jarum, berpotensi menyebabkan
hemolisis. Memasukkan darah ke dalam tabung vakum dengan cara menusukkan jarum
pada tutup tabung, biarkan darah mengalir sampai berhenti sendiri ketika volume telah
terpenuhi.

Homogenisasi sampel jika menggunakan antikoagulan dengan cara memutar-mutar


tabung 4-5 kali atau membolak-balikkan tabung 5-10 kali dengan lembut. Mengocok
sampel berpotensi menyebabkan hemolisis.

Urutan memasukkan sampel darah ke dalam tabung vakum adalah : pertama - botol
biakan (culture) darah atau tabung tutup kuning-hitam kedua - tes koagulasi (tabung tutup
biru), ketiga - tabung non additive (tutup merah), keempat - tabung tutup merah atau
kuning dengan gel separator atau clot activator, tabung tutup ungu/lavendet (EDTA),
tabung tutup hijau (heparin), tabung tutup abu-abu (NaF dan Na oksalat)

PENGAMBILAN DARAH KAPILER


Pengambilan darah kapiler atau dikenal dengan istilah skinpuncture yang berarti proses
pengambilan sampel darah dengan tusukan kulit. Tempat yang digunakan untuk pengambilan
darah kapiler adalah :

Ujung jari tangan (fingerstick) atau anak daun telinga.

Untuk anak kecil dan bayi diambil di tumit (heelstick) pada 1/3 bagian tepi telapak kaki
atau ibu jari kaki.

Lokasi pengambilan tidak boleh menunjukkan adanya gangguan peredaran, seperti


vasokonstriksi (pucat), vasodilatasi (oleh radang, trauma, dsb), kongesti atau sianosis
setempat.

Pengambilan darah kapiler dilakukan untuk tes-tes yang memerlukan sampel dengan volume
kecil, misalnya untuk pemeriksaan kadar glukosa, kadar Hb, hematokrit (mikrohematokrit) atau
analisa
gas
darah
(capillary
method).
Prosedur

Siapkan peralatan sampling : handskun, lancet steril, kapas alcohol 70%, sediakan strip
(glukosa, Hb dll) untuk bahan uji coba dan pendokumentasian.

Pilih lokasi pengambilan lalu desinfeksi dengan kapas alkohol 70%, biarkan kering.

Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri
berkurang.

Tusuk dengan lancet steril. Tusukan harus dalam sehingga darah tidak harus diperasperas keluar. Jangan menusukkan lancet jika ujung jari masih basah oleh alkohol. Hal ini
bukan saja karena darah akan diencerkan oleh alkohol, tetapi darah juga melebar di atas
kulit sehingga susah ditampung dalam wadah.

Setelah darah keluar, buang tetes darah pertama dengan memakai kapas kering, tetes
berikutnya boleh dipakai untuk pemeriksaan.

Pengambilan darah diusahakan tidak terlalu lama dan jangan diperas-peras untuk
mencegah terbentuknya jendalan.

PENYIMPANAN SPESIMEN

SPO LABORATORIUM PENYIMPANAN SPECIMEN


Pengertian :
Suatu tata cara pengawetan spesimen setelah dilakukan pemeriksaan dengan cara yang benar dan
sesuai ketentuan.

Tujuan :
Untuk persiapan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk pemeriksaaan lebih lanjut.

Kebijakan :
Penyimpanan specimen untuk tes yang ditunda harus sesuai standar prosedur operasional yang
berlaku (sesuai dengan tentang Kebijakan Instalasi Laboratorium.)

PROSEDUR :
Lakukan penyimpanan specimen sebagai berikut :
A. Untuk sampel kimia rutin, Imunologi serologi, sampel yang dirujuk :
1. Pisahkan sampel darah dengan serum .
2. Masukkan serum ke dalam sumple cup.
3. Tempelkan label identitas pasien.
4. Simpanlah/awetkan sampel pada suhu 2?C 8?C selama 3 hari.

B. Untuk sampel urine :


1. Lakukan penyimpanan urine selama 2 jam.
2. Buang urine setelah 2 jam.

C. Untuk sampel darah lengkap :


Lakukan penyimpanan sampel darah 1 x 24 jam pada suhu kamar.

PENGENDALIAN MUTU LABORATORIUM


PENGENDALIAN MUTU LABORATORIUM

II.1 PENGENDALIAN PRA ANALITIK


II.1.1 Pengertian
Pengendalian pra analitik adalah serangkaian kegiatan laboratorium saat pelayanan
dimulai pada pasien berupa penerimaan pasien, pengambilan spesimen, pelabelan spesimen,
penerimaan spesimen, penilaian spesimen, pengolahan spesimen hingga pengiriman spesimen
dengan maksud agar spesimen benar-benar representatif sesuai dengan keadaan pasien, tidak

terjadi kekeliruan jenis spesimen, dan mencegah tertukarnya spesimen-spesimen pasien satu
sama lainnya.

II.1.2 Tujuan
Untuk menjamin bahwa spesimen-spesimen yang diterima benar dan dari pasien yang
benar pula.

II.1.3 Cara Pengendalian


1. Menyediakan Katalog pemeriksaan, berisi informasi : Persyaratan pasien & Jenis spesimen.
2. Cara pengambilan & volume.
3. Wadah Spesimen
4. Pengiriman & Penyimpanan Spesimen
5.

Menyediakan Prosedur Operasi Baku (SOP), antara lain : SOP penanganan spesimen dan
sampel.

6.

Menyediakan pedoman-pedoman, antara lain : Pengambilan spesimen yang benar,


Persyaratan spesimen dan persiapan pasien, Persyaratan sampel

II.1.4 Kegiatan Pra Analitik


II.1.4.1 Persiapan Pasien Secara Umum dan yang mempengaruhi
a.

Mempersiapkan pasien untuk pengambilan spesimen sesuai persyaratan umum dengan


meminta pasien berpuasa antara 8 12 jam pada jam 22.00 dan pagi hari jam 07.00 09.00
dilakukan pengambilan spesimen.

b. Menghindari pemakaian obat-obatan sebelum spesimen diambil di laboratorium.


c. Menghindari aktifitas fisik/olah raga sebelum spesimen diambil
d. Memperhatikan efek postur, pengambilan darah paling baik dengan duduk tenang dibandingkan
berdiri karena keseimbangan cairan akan terganggu.
e. Diet makan dan minum pasien dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.
f.

Merokok dan minum alkohol mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.

g. Ketinggian suatu tempat (geografis) berpengaruh pada hasil pemeriksaan laboratorium.

h. Demam akan menyebabkan kenaikan dan penurunan beberapa parameter pemeriksaan, waktu
demam yang tepat akan dapat membantu menegakkan diagnosis.
i.

Trauma dapat menyebabkan terjadi hemostasis hingga pengenceran darah.

j.

Variasi Circadian Rythme merupakan perubahan dari waktu ke waktu pada tubuh yang
dipengaruhi waktu, siklus dan umur.

k. Umur, ras, dan jenis kelamin paling berpengaruh terhadap hasil pengukuran dan nilai rujukan
l.

Kehamilan pada wanita perlu dipertimbangkan lama kehamilan yang berpengaruh pada
pengenceran.

II.1.4.2 Pengambilan Spesimen


a. Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan tertentu :
- bersih, kering, tidak mengandung bahan kimia/deterjen,
- Terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi spesimen.
- Mudah dicuci atau dibersihkan dari sampel sebelumnya.
- Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan biakan harus menggunakan peralatan yang steril.
b. Wadah spesimen harus memenuhi :
-

Terbuat dari gelas atau plastik. Untuk spesimen darah harus terbuat dari gelas.

Tidak bocor atau merembes.

Harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir.

Besar wadah disesuaikan dengan volume spesimen

Bersih dan kering

Tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen

Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.

Untuk pemeriksaan zat dalam spesimen yang mudah rusak atau terurai karena pengaruh sinar
matahari, maka digunakan botol coklat.
Untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman wadah harus steril.

c.

Pengawet : Diberikan agar sampel yang akan diperiksa dapat dipertahankan kondisi dan
jumlahnya dalam waktu tertentu. Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah.

d.

Waktu : Pada umumnya pengambilan spesimen dilakukan pada pagi hari, terutama untuk
pemeriksaan Kimia klinik, Hematologi dan Imunologi karena umumnya nilai normal ditetapkan
pada keadaan basal.

e. Lokasi : Sebelum mengambil spesimen, harus ditetapkan terlebih dahulu lokasi pengambilan
yang tepat sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Spesimen untuk pemeriksaan
menggunakan darah vena umumnya diambil dari vena cubiti daerah siku. Spesimen darah
arteri umumnya diambil dari arteri radialis di pergelangan tangan atau arteri femoralis di daerah
lipat paha. Spesimen darah kapiler diambil dari ujung jari tengah tangan atau jari manis tangan
bagian tepi atau pada derah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki atau cuping telingan pada bayi.
Tempat yang dipilih tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti cyanosis
atau pucat, bekas luka dan radang
f.

Volume : Volume spesimen yang diambil harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan


laboratorium yang diminta atau dapat mewakili objek yang diperiksa.

g.

Teknik Pengambilan : Pengambilan spesimen harus dilaksanakan dengan cara yang benar,
agar spesimen tersebut mewakili keadaan yang sebenarnya.

II.1.4.3 Pemberian Identitas Spesimen


Pemberian identitas pasien dan atau spesimen merupakan hal yang penting baik pada
saat pengisian surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label
wadah spesimen. Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium
sebaiknya memuat secara lengkap :
-

Tanggal permintaan

Tanggal dan jam pengambilan spesimen

Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang) termasuk rekam medik.

Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)

Nomor laboratorium

Diagnosis.keterangan klinik.

Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian.

Pemeriksaan laboratorium yang diminta.

Jenis spesimen

Lokasi pengambilan spesimen

Volume spesimen

Pengawet yang digunakan

Nama pengambil spesimen.

II.1.4.4 Pengolahan Spesimen


Spesimen yang telah diambil dilakukan pengolahan untuk menghindari kerusakan pada
spesimen tersebut. Pengolahan spesimen berbeda-beda tergantung dari jenis spesimennya
masing-masing.
1). Serum
Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 2-30 menit, lalu di sentrifuge
3000 rpm selama 5-15 menit. Pemisahan serum dilakukan dalam waktu 2 jam setelah
pengambilan darah. Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
2). Plasma
Kocok darah EDTA atau citrat dengan segera secara perlahan-lahan.
Pemisahan plasma dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan spesimen. Plasma yang
memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh.
3). Whole blood
Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang telah berisi antikoagulan yang sesuai, lalu
dihomogenisasi dengan cara goyang perlahan tabung.
4). Urine
Urine yang didapatkan tidak perlu ada perlakuan secara khusus, kecuali pemeriksaan harus
segera dilakukan sebelum 1 jam, sedangkan untuk pemeriksaan sedimen harus dilakukan
pengolahan terlebih dahulu dengan cara dimasukkan tabung dan sentrifuge selama 5 menit
1500-2000 rpm, supernatan dibuang dan diambil sedimennya. Suspensi sedimen ini dicampur
dengan cat Sternheirmer-Malbin Stains untuk menonjolkan unsur sedimen dan memperjelas
strukturnya.
5). Sputum
Masukkan sputum ke dalam tabung steril yang berisi NaOH 4% sama banyak. Kocok dengan
baik. Inkubasi pada suhu kamar 25-30OC selama 15-20 menit dengan pengocokan teratur tiap 5
menit. Sentrifuge dengan kecepatan tinggi selama 8-10 menit. Endapan diambil dan supernatan
dibuang pada air lysol.

II.1.4.5 Menilai Spesimen Yang Tidak Memenuhi Syarat


1. Spesimen diterima oleh petugas loket dan sampling.
2. Penilaian spesimen harus dilakukan sesuai dengan jenis pemeriksaan.
3. Penilaian spesimen harus segera dilakukan setelah menerima spesimen.
4.

Petugas laboratorium wajib menolak dan mengembalikan spesimen yang tidak memenuhi
syarat pemeriksaan.

5.

Spesimen yang ditolak diberitahukan lewat via aiphone ruangan atau yang mengantar
spesimen.

6. Spesimen untuk pemeriksaan Patologi Aanatomi yang diantar ke laboratorium berupa jaringan
biopsi dan operasi yang telah lebih 1 hari, tidak menggunakan pengawet, ditempatkan suhu
ruang ditolak untuk pemeriksaan rujukan.
7. Kriteria penilaian dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

No

Pemeriksaan

Jenis Sampel

Mutlak Ditolak

Keterangan

Minimal
volume

Beku

Lisis

Keruh

3 ml

Hematologi rutin

Darah EDTA

Protein total

Serum

0,2 ml

Albumin/glob

Serum

0,2 ml

Bilirubin Total

Serum

0,5 ml

Bilirubin Direk

Serum

0,5 ml

Bilirubin Indirek

Serum

0,5 ml

AST (GOT)

Serum

0,5 ml

ALT (GPT)

Serum

0,5 ml

Ureum

Serum

0,2 ml

10

Creatinine

Serum

0,5 ml

11

Asam Urat

Serum

0,2 ml

12

Glukosa

Serum/plasma

0,2 ml

13

Cholesterol

Serum

0,2 ml

14

Trigliserida

Serum

0,2 ml

15

HDL

Serum

0,5 ml

16

LDL

Serum

0,5 ml

17

Natrium

Serum

0,5 ml

18

Kalium

Serum

0,5 ml

19

Calcium

Serum

0,5 ml

20

Chlorida

Serum

0,5 ml

21

Magnesium

Serum

0,5 ml

22

Alk. Phospatase

Serum

0,5 ml

23

HBsAg Stick

Serum/plasma

0,5 ml

24

Anti Hbs Stick

Serum/plasma

0,5 ml

25

HBsAg Titer

Serum

0,5 ml

Dirujuk

26

AntiHBs Titer

Serum

0,5 ml

Dirujuk

27

Anti Hbc IgM

Serum

0,5 ml

Dirujuk

28

Anti Hbe

Serum

0,5 ml

Dirujuk

29

Hbe Ag

Serum

0,5 ml

Dirujuk

30

Anti HCV IgM

Serum

0,5 ml

Dirujuk

31

Anti HAV

Serum

0,5 ml

Dirujuk

32

Anti HCV

Serum

0,5 ml

Dirujuk

33

HCV

Serum

0,5 ml

Dirujuk

34

FT3

Serum

0,5 ml

Dirujuk

35

FT4

Serum

0,5 ml

Dirujuk

36

TSHs

Serum

0,5 ml

Dirujuk

37

T3

Serum

0,5 ml

Dirujuk

38

T4

Serum

0,5 ml

Dirujuk

39

CEA

Serum

0,5 ml

Dirujuk

40

AFP

Serum

0,5 ml

Dirujuk

41

C-Peptida

Serum

0,5 ml

Dirujuk

42

Besi

Serum

0,5 ml

Dirujuk

43

TIBC

Serum

0,5 ml

Dirujuk

44

HbA1c

Serum

0,5 ml

Dirujuk

45

CRP

Serum

0,5 ml

Dirujuk

46

RAF

Serum

0,5 ml

Dirujuk

47

ASTO

Serum

0,5 ml

Dirujuk

48

VDRL

Serum

0,5 ml

Dirujuk

49

TPHA

Serum

0,5 ml

Dirujuk

50

Ca 125

Serum

0,5 ml

Dirujuk

61

Ca 15.3

Serum

0,5 ml

Dirujuk

62

Ca 19.9

Serum

0,5 ml

Dirujuk

63

Ferritin

Serum

0,5 ml

Dirujuk

64

Anti H Pillory

Serum

0,5 ml

Dirujuk

65

Anti Toxoplasma

Serum

0,5 ml

Dirujuk

66

Progesteron

Serum

0,5 ml

Dirujuk

67

Testosteron

Serum

0,5 ml

Dirujuk

68

Anti Rubella

Serum

0,5 ml

Dirujuk

69

D-Dimer

Serum

0,5 ml

Dirujuk

70

CMV

Serum

0,5 ml

Dirujuk

71

LH

Serum

0,5 ml

Dirujuk

72

CKMB

Serum

0,5 ml

Dirujuk

73

Anti TB

Serum

0,2 ml

74

HIV Stick

Serum

0,2 ml

75

Analisa Gas Darah

Darah Arteri

3 ml

Dirujuk

76

Troponin T

Serum

0,5 ml

Dirujuk

77

CK NAC

Serum

0,5 ml

Dirujuk

78

LDH

Serum

0,5 ml

Dirujuk

79

a-Amylase

Serum

0,5 ml

Dirujuk

80

APTT

Darah Citrat

0,5 ml

Dirujuk

81

Titer Fibrinogen

Darah Citrat

0,5 ml

Dirujuk

82

Protrombin Time

Darah Citrat

0,5 ml

Dirujuk

83

Trombin Time

Darah Citrat

0,5 ml

Dirujuk

84

Recalcifikasi Time

Darah Citrat

0,5 ml

Dirujuk

85

Urine Lengkap

Urine pagi

10 ml

86

Urine Esbach

Urine 24 jam

volume

87

PPT

Urine pagi

5 ml

88

BTA SPS

Sputum SPS

SPS

89

Sperma

Mani segar

90

LCS

Segar

3 ml

91

Transudat-eksudat

Segar

3 ml

92

Urine Narkoba

Segar di lab

5 ml

93

Creatinine klirens

Urine 24 jam

volume

94

Blood Smear

Darah EDTA

1 ml

95

Malaria

Darah Slide

1 ml

95

Filaria

1 ml

97

Reitz serum

Slide

98

Spesimen GO

Slide/sekret

99

Jamur Candida

Slide/sekret

10
0

Sediaan PA

+Formalin

Dirujuk

II.1.4.6 Penyimpanan Spesimen


Spesimen yang sudah diambil harus segera dikirim ke laboratorium untuk diperiksa,
karena stabilitas spesimen dapat berubah. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas
spesimen antara lain :
a. Terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.
b. Terjadi metabolisme oleh sel-sel hidup pada spesimen.
c. Terjadi penguapan.
d. Pengaruh suhu.
e. Terkena paparan sinar matahari.
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat disimpan dengan
memperhatikan jenis pemeriksaan yang akan diperiksa. Persyaratan penyimpanan beberapa

spesimen untuk beberapa pemeriksaan laboratorium harus memperhatikan jenis spesimen,


antikoagulan/pengawet dan wadah serta stabilitasnya. Beberapa cara penyimpanan spesimen :
a. Disimpan pada suhu kamar
b. Disimpan dalam lemari es suhu 2-8OC
c. Dibekukan suhu -20OC, -70OC atau -120OC
d. Dapat diberikan bahan pengawet
e. Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau lisat.

II.1.4.7 Pengiriman Spesimen


Spesimen yang akan dikirim ke laboratorium lain, sebaiknya dikirim dalam bentuk yang
reatif stabil. Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman spesimen antara lain :
a. Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas spesimen.
b. Tidak terkena sinar matahari langsung
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium termasuk pemberian label
yang bertuliskan Bahan Pemeriksaan Infeksius atau Bahan Pemeriksaan Berbahaya.
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat.

II.1.4 Mempertahankan Mutu Pra Analitik


1. Mengerjakan proses/prosedur sesuai standar (SPO) yang telah ditentukan.
2. Melaksanakan dan mengevaluasi program QC.
3.

Pengawasan dan monitoring kegiatan harian untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang


mungkin muncul.

4. Ketersediaan anggaran dana dan personil yang memadai untuk kegiatan.


5. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan staf laboratorium.
6. Adanya dukungan penuh dari pihak manajemen dalam melakukan pelayanan yang standar dan
bermutu.

1.

Alur Pra Analitik Pemeriksaan Dahak

2. Pasien datang ke balai Paru, rumah sakit, puskesmas atau poliklinik terdekat

3. Pasien mengikuti alur pemeriksaan di tempat tersebut


4. Pada waktu pasien datang pertama kali maka pasien dianjurkan untuk mengambil dahak
sewaktu dengan memberikan wadah/pot dahak yang sudah diberi identitas pasien.
5. Petugas mengarahkan ke tempat pengambilan dahak dan dijelaskan tentang bagaimana
mengambil dahak yang benar, menutup lalu membawa specimen dahak.
6. Dilakukan pengamatan specimen dahak oleh petugas, apabila dahak belum memenuhi
kriteria maka pengambilan bisa diulang dengan tata cara pengeluaran dahak yang benar.
7. Petugas memberikan arahan agar pasien diharuskan datang kembali esok hari dengan
membawa wadah sampel untuk pengambilan sampel dahak pagi.
8. Setelah mendapat sampel, maka sampel dibawa ke laboratorium untuk dilakukan
pemeriksaan.
1. Macam-macam dahak
Dahak yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna,
volume, dan konsistensinya, karena kondisi dahak biasanya memperlihatkan secara spesifik
proses kejadian patologik pada pembentukan dahak itu sendiri. Klasifikasi bentukan sputum dan
kemungkinan penyebabnya:
1. Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan berasal dari
sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian bawah.
2. Sputum banyak sekali & purulen proses supuratif (eg. Abses paru)
3. Sputum yg terbentuk perlahan&terus meningkat tanda bronkhitis/ bronkhiektasis
4. Sputum kekuning-kuningan proses infeksi.
5. Sputum hijau proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya
verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dalam sputum. Sputum hijau ini sering
ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkus
yang melebar dan terinfeksi
6. Sputum merah muda & berbusa tanda edema paru akut
7. Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih tanda bronkitis kronik.
8. Sputum berbau busuk tanda abses paru/ bronkhiektasis
9. Prosedur pengambilan sample sputum

10. Peralatan
1. Wadah specimen steril dengan penutup, bermulut lebar, bertutup ulir, terbuat dari
plastic, steril, tidak mudah pecah
2. Sarung tangan disposable (bila membantu klien),
3. Disinfektan dan alat pengusap, atau sabun cair dan air,
4. Handuk kertas,
5. Label yang berisi lengkap, meliputi :

Tanggal pengambilan spesimen

Identitas pasien (terutama nama dan nomor urut).

Jenis sampel
1. Slip permintaan laboratorium yang terisi lengkap, meliputi :

Nomor urut

Nomor identitas sediaan dahak

Nama tersangka penderita

Umur dan jenis kelamin

Alamat lengkap

Nomor registrasi laboratorium :


1. Obat kumur.

2. Prosedur pengambilan sample


Sebelum melaksanakan pengambilan sample terlebih dahulu mentukan metode pengumpulan dan
kumpulkan peralatan yang sesuai. Kemudian melakukan pengambilan sample yang prosedurnya
meliputi :
1. Memberikan penjelasan kepada klien tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian
memberikan informasi dan memberikan instruksi kepada Tujuan pemeriksaan, perbedaan
antara sputum dan saliva, dan cara mendapatkan spesimen sputum,

Meliputi :

Tidak menyentuh bagaian dalam wadah specimen,

Mengeluarkan sputum langsung ke dalam wadah sputum,

Untuk menjaga bagian luar wadah tidak terkena sputum, bila memungkinkan,

Cara memeluk bantal secara kuat pada insisi abdomen bila klien merasa nyeri saat batuk,

Jumlah sputum yang diperlukan (biasanya 1-2 sendok the (5-10 ml) sputum cukup
analisis),

Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lain yang sesuai.

1. Berikan privasi klien.


o Pengambilan dahak sebaiknya dilakukuan pada pagi hari, dimana kemungkinan
untuk mendapat dahak bagian dalam lebih besar.
o Agar dahak mudah dikeluarkan, pastinya dianjurkan mengonsumsi air yang
banyak pada malam sebelum pengambilan dahak
o Jelaskan pada pasien apa yang dimaksud dengan dahak agar yang dibatukkan
benar-benar merupakan dahak, bukan air liur/saliva ataupun campuran
o Sebelum mengeluarkan dahak, pasien disuruh berkumur-kumur dengan air dan
pasien harus melepas gigi palsu (bila ada)
o Dahak diambil dari batukan pertama (first cough)
o Cara membatukkan dahak: Tarik nafas dalam dan kuat(dengan pernafasan dada)
batukkan kuat dahak dari bronkus, trakea, mulut, wadah penampung.
Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar dan berpenutup (Screw Cap
Medium)
o Periksa dahak yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah air
liur/saliva, maka pasien harus mengulangi membatukkan dahak.
o Sebaiknya, pilih dahak yang mengandung unsur-unsur khusus, seperti, butir keju,
darah dan unsur-unsur lain.
o Bila dahak susah keluarkan, lakukan perawatan mulut
Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril guayakolat(expectorant) 200 mg
atau dengan mengonsumsi air teh manis saat malam sebelum pengambilan dahak.

o Bila dahak tidak dapat dikeluarkan dapat diambil secara Aspirasi transtracheal,
Bronchial lavage, Lung biopsy
2. Berikan bantuan yang diperlukan untuk mengumpulkan specimen.

Bantu klien mengambil posisi berdiri atau duduk (mis., posisi Fowler-tinggi atau- semi
atau pada tepi tempat tidur atau kursi). Posisi ini memungkinkan ventilasi dan ekspansi
paru yang maksimum.

Minta klien untuk memegang bagian luar wadah sputum, atau, untuk klien yang tidak
dapat melakukannya, pasang sarung tangan dan pegang bagian luar wadah tersebut untuk
klien.

Minta klien untuk bernapas dalam dan kemudian membatukan sekresi. Inhalasi yang
dalam memberikan udara yang cukup untuk mendorong sekresi keluar dari jalan udara ke
dalam faring.

Pegang wadah sputum sehingga klien dapat mengeluarkan sputum ke dalamnya, pastikan
sputum tidak kontak dengan bagian luar wadah. Memasukan sputum ke dalam wadah
akan mencegah penyebaran mikroorganisme ke tempat lain.

Bantu klien untuk mengulang batuk sampai terkumpul jumlah sputum yang cukup.

Tutup wadah segera setelah sputum berada di dalam wadah. Menutup wadah akan
mencegah penyebaran mikroorganisme secara tidak sengaja ke tempat lain.

Bila sputum mengenai bagian luar wadah, bersihkan bagian luar dengan disinfektan.
Beberapa institusi menganjurkan untuk membersihkan seluruh bagian luar wadah dengan
sabun cair dan air dan kemudian mengeringkannya dengan handuk kertas.

Lepas dan buang sraung tangan.

Beri label dan bawa spesimen ke laboratorium.

Patikan informasi yang benar tertulis pada label dan slip permintaan laboratorium.
Tempelkan label dan lampirkan perimintaan laboratorium pada wadah spesimen.
Identifikasi dan/atau informasi yang tidak akurat pada wadah spesimen dapat membuat
kesalahan diagnosis atau terapi.

Atur agar specimen dikirim segera ke laboratorium atau di dinginkan. Kultur bakteri
harus segera dimulai sebelum organisme yang mengkontaminasi tumbuh dan berkembang
baik sehingga memberikan hasil positif palsu.

Dokumentasikan semua informasi yang relevan.

Dokumentasikan pengumpulan spesimen sputum pada catatan klien. Pendokumentasian meliputi


jumlah, warna, konsistensi (kental, lengket, atau encer), adanya hemoptisis (darah pada sputum),
bau sputum, tibdakan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan sputum (mis., drainase postural),
jumlah sputum yang dihasilkan secara umum, adanya ketidaknyamanan yang dialami klien.
1. Waktu pengambilan sputum
Waktu yang diperlukan untuk pengambilan sputum adalah 3 kali pengambilan sputum dalam 2
kali kunjungan, yaitu Sputum sewaktu (S), yaitu ketika penderita pertama kali datang; Sputum
pagi (P) , keesokan harinya ketika penderita datang lagi dengan membawa sputum pagi ( sputum
pertama setelah bangun tidur), Sputum sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium,
penderita diminta mengeluarkan sputumnya lagi.
1. Teknik Pengambilan Sputum
Pengambilan sputum pada pasien tidak boleh menyikat gigi. Agar sputum mudah dikeluarkan,
dianjurkan pasien mengonsumsi air yang banyak pada malam sebelum pengambilan sputum.
Sebelum mengeluarkan sputum, pasien disuruh untuk berkumur-kumur dengan air dan pasien
harus melepas gigi palsu (bila ada). Sputum diambil dari batukkan pertama (first cough). Cara
membatukkan sputum dengan Tarik nafas dalam dan kuat (dengan pernafasan dada) batukkan
kuat sputum dari bronkus trakea mulut wadah penampung. Wadah penampung berupa pot steril
bermulut besar dan berpenutup (Screw Cap Medium).
Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah air liur/saliva, maka
pasien harus mengulangi membatukkan sputum. Sebaiknya, pilih sputum yang mengandung
unsur-unsur khusus seperti : darah dan unsur-unsur lain. Bila sputum susah keluarkan lakukan
perawatan mulut Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril guayakolat (expectorant) 200
mg atau dengan mengonsumsi air teh manis saat malam sebelum pengambilan sputum.
1. Cara Penyimpanan Dahak
1. Penyimpanan: < 24 jam pada suhu ruang.
2. Penyimpanan pada pot steril berpenutup
3. Penyimpanan pada pot steril berpenutup.
4. Dahak ditangani pada bagian sitologi dan termasuk dalam kriteria kental, sel
cukup banyak sehingga langsung dibuat preparat hapusnya.
5. Dahak langsung dihapus ke objek gelas dan langsung difiksasi dengan Alkohol
50-70%, dengan metode fiksasi pelapis(coating fixative).
1. Cara pengiriman spesimen

Baik spesimen yang dikirim dalam pot maupun wadah harus disertai dengan data/keterangan,
baik mengenai kriteria spesimen maupun pasien. Ada 2 data yang harus disertakan, yaitu:
Data 1: Pot/wadah dilabel dengan menempelkan label pada dinding luar pot. Proses direct
labelling yang berisi data: nama, umur, jenis kelamin, jenis spesimen, jenis tes yang diminta dan
tanggal pengambilan.
Data 2: Formulir/kertas/buku yang berisi data keterangan klinis: dokter yang mengirim, riwayat
anamnesis, riwayat pemberian antibiotik terakhir (minimal 3 hari harus dihentikan sebelum
pengambilan spesimen), waktu pengambilan spesimen, dan keterangan lebih lanjut mengenai
biodata pasien. Jadi, data mengenai spesimen harus jelas: label dan formulir. Spesimen tidak
akan diterima apabila:
Tidak dilengkapi dengan data yang sesuai.
Jumlah yang dibutuhkan untuk pemeriksaan kurang.
Cara pengambilan tidak sesuai dengan prosedur yang ada

PEMERIKSAAN SPUTUM

Sputum
Sputum adalah cairan yang diproduksi dalam alveoli dan bronkioli. Sputum
yang memenuhi syarat pemeriksaan harus betul-betul dari trakea dan bronki bukan
berupa air ludah. Sputum dapat dibedakan dengan ludah antara lain : ludah biasa
akan membentuk gelembung-gelembung jernih di bagian atas permukaan
cairan,sedang pada sputum hal ini jarang terjadi. Secara mikroskopis ludah akan
menunjukan gambaran sel-sel gepeng sedang pada sputum hal ini tidak
ditemukan . (Widman, 1994)
Sputum paling baik untuk pemeriksaan adalah sputum pagi hari, karena
sputum pagi paling banyak mengandung kuman. Sputum pagi di kumpulkan
sebelum menggosok gigi, tetapi sudah berkumur dengan air untuk membersihkan
sisa makanan dalam mulut yang tertinggal. (B. sandjaja, 1992).
Klasifikasi Sputum
Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi
sumber, warna, volume, dan konsistensinya, karena kondisi sputum biasanya
memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan
sputum itu sendiri.
klasifikasi bentukan sputum dan kemungkinan penyebabnya :
Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan

berasal dari sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian
bawah.
sputum banyak sekali&purulen proses supuratif (eg. Abses paru)
Sputum yg terbentuk perlahan&terus meningkat taanda bronkhitis/
bronkhiektasis.
Sputum kekuning-kuningan proses infeksi.
Sputum hijau proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya
verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dlm sputum. Sputum hijau ini sering
ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam
bronkus yang melebar dan terinfeksi.
sputum merah muda&berbusa tanda edema paru akut.
Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih tanda bronkitis kronik.
Sputum berbau busuk tanda abses paru/ bronkhiektasis.

Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum biasanya diperlukan jika diduga adanya penyakit paru.
Membran mukosa saluran pernapasan berespons terhadap inflamasi dengan
meningkatkan keluaran sekresi yang sering mengandung organisme penyebab.
Perhatikan dan catat volume, konsistensi, warna dan bau sputum. Pemeriksaan
sputum mencakup pemeriksaan :
1. Pewarnaan Gram,biasanya pemeriksaan ini memberikan cukup informasi tentang
organism yang cukup untuk menegakkan diagnose presumtif.
2. Kultur Sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnose
definitif. Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum
dilakukan terapi antibiotic dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi.
3. Basil Tahan Asam (BTA) menentukan adanya mikobacterium tuberculosis, yang
setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh
alcohol asam.

Pengumpulan Sputum
Sebaiknya klien diinformasikan tentang pemeriksaan ini sehingga akan
dapat dikumpulkan sputum yang benar-benar sesuai untuk pemeriksaan ini.
Instruksikan pasien untuk mengumpulkan hanya sputum yang berasal dari dalam
paru-paru. (Karena sering kali jika klien tidak di jelaskan demikian, klien akan
mengumpulkan saliva dan bukan sputum). Biasanya dibutuhkan sekitar 4 ml

1.
2.
3.
4.

sputum untuk suatu pemeriksaan laboraturium. Implikasi keperawatan untuk


pengumpulan sputum termasuk :
Klien yang kesulitan dalam pembentukan sputum atau mereka yang sangat banyak
membentuk sputum dapat mengalami dehidrasi, perbanyak asupan cairan klien.
Kumpulkan sputum sebelum makan dan hindari kemungkinan muntah karena
batuk.
Instruksikan klien untuk berkumur dengan air sebelum mengumpulkan specimen
untuk mengurangi kontaminasi sputum.
Instruksikan klien untuk mengingatkan dokter segera setelah specimen terkumpul
sehingga specimen dapat dikirim ke laboraturium secepatnya.

1.Pengambilan Spesimen
Pengumpulan sputum yang terbaik adalah sputum pagi hari atau sputum
semalam dengan jumlah yang terkumpul sebanyak 3-5 ml setiap wadah
penampung sputum.
Cara pengambilan sputum :
Pasien berkumur dengan air garam dahulu, kemudian di beri wadah yang
bermulut lebar, mempunyai tutup berulir, suci hama, tidak mudah pecah, tidak
bocor, sekali pakai dibuang (disposible). Pasien dalam posisi berdiri, jika tidak
memungkinkan dapat dengan duduk agak membungkuk. Pagi hari setelah bangun
tidur biasanya rangsangan batuk sangat kuat, tetapi penderita di anjurkan untuk
menahanya dan menarik nafas dalam-dalam. Kemudian segera di suruh batuk
sekuat-kuatnya sehingga merasakan dahak yang dibatukkan keluar dari
tenggorokan. Sputum yang keluar di tampung dalam wadah yang di sediakan,
mulut wadah penampung dibersihkan dari tetesan dahak lalu di tutup. Wadah diberi
label yang yang berisi nama, alamat, tanggal pengambilan serta nama pengirim.

2. Pembuatan Sediaan
a. Pembuatan Preparat
Gelas kaca di beri nomor kode, nomor pasien, nama pasien, pada sisi kanan
kaca obyek baru. Pilih bagian sputum yang kental, warna kuning kehijauan, ada
pus atau darah, ada perkejuan. Ambil sedikit bagian tersebut dengan menggunakan
ose yang sebelumnya dibakar dulu sampai pijar, kemudian didinginkan. Ratakan
diatas kaca obyek dengan ukuran + 2-3 cm. Hapusan sputum yang dibuat jangan
terlalu tebal atau tipis. Keringkan dalam suhu kamar. Ose sebelum dibakar
dicelupkan dulu kedalam botol berisi campuran alkohol 70% dan pasir dengan
perbandingan 2 : 1 dengan tujuan untuk melepaskan partikel yang melekat pada
ose (untuk mencegah terjadinya percikan atau aerosol pada waktu ose dibakar yang
dapat menularkan kuman tuberkulosis).Rekatkan / fiksasi dengan cara melakukan

melewatkan preparat diatas lidah api dengan cepat sebanyak 3 kali selama 3-5
detik. Setelah itu sediaan langsung diwarnai dengan pewarna Ziehl Neelsen.
b. Pembuatan Ziehl Neelsen.
Pada dasarnya prinsip pewarnaan mycobacterium yang dinding selnya tahan
asam karena mempunyai lapisan lemah atau lilin sehingga sukar ditembus cat.
Oleh pengaruh phenol dan pemanasan maka lapisan lemak dapat ditembus cat
basic fuchsin. Pada pengecatan Ziehl Neelsen setelah BTA mengambil warna dari
basic fuchshin kemudian dicuci dengan air mengalir, lapisan lilin yang terbuka
pada waktu dipanasi akan merapat kembali karena terjadi pendinginan pada waktu
dicuci. Sewaktu dituangi dengan asam sulfat dan alkohol 70% atau HCI alkohol,
warna merah dari basic fuchsin pada BTA tidak akan dilepas/luntur.Bakteri yang
tidak tahan asam akan melepaskan warna merah, sehingga menjadi pucat atau tidak
bewarna. Akhirnya pada waktu dicat dengan Methylien Blue BTA tidak mengambil
warna biru dan tetap merah, sedangkan bakteri yang tidak tahan asam akan
mengambil warna biru dari Methylien Blue.
c. Cara Pengecatan Basil Tahan Asam
Letakkan sediaan diatas rak pewarna, kemudian tuang larutan Carbol
Fuchsin sampai menutupi seluruh sediaan. Panasi sediaan secara hati-hati diatas
api selama 3 menit sampai keluar uap, tetapi jangan sampai mendidih. Biarkan
selama 5 menit (dengan memakai pinset). Cuci dengan air mengalir, tuang HCL
alkohol 3% (alcohol asam) sampai warna merah dari fuchsin hilang. Tunggu 2
menit. Cuci dengan air mengalir, tuangkan larutan Methylen Blue 0,1% tunggu 1020 detik. Cuci dengan air mengalir, keringkan di rak pengering.
d. Cara Melakukan Pemeriksaan
Setelah preparat terwarnai dan kering, dilap bagian bawahnya dengan kertas
tissue, kemudian sediaan ditetesi minyak imersi dengan 1 tetes diatas sediaan.
Sediaan dibaca mikroskop dengan perbesaran kuat. Pemeriksaan dimulai dari
ujung kiri dan digeser ke kanan kemudian digeser kembali ke kiri (pemeriksaan
system benteng). Diperiksa 100 lapang pandang (kurang lebih 10 menit).
Pembacaan dilakukan secara sistematika, dan setiap lapang pandang dilihat, kuman
BTA berwarna merah berbentuk batang lurus atau bengkok, terpisah, berpasangan
atau berkelompok dengan latar belakang biru.
3. Pelaporan Hasil
Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dahak dilakukan dengan
menggunakan skala International Union Against Tuberculosis (IUAT)
.Pemeriksaan sputum untuk Basil Tahan Asam biasanya dilakukan pemeriksaan
terhadap sputum sewaktu, sputum pagi dan sputum sewaktu (SPS). Hasil yang
positif ditandai dengan sekurang kurangnya 2 dari 3 spesimen sputum sewaktu,
pagi, sewaktu adalah positif ditemukannya Basil Tahan Asam (BTA).Pemeriksaan
mikrokopis BTA ini digunakan untuk menbantu diagnosis penyakit tuberculosis.

Metode yang dipakai biasanya dengan pengecatan langsung (metode pewarnaan


Ziehl Nelsen ), dan metode penghitungan BTA dengan skala IUAT (Intrenational
Union Against Tuberculosis) yaitu dalam 100 lapang pandang tidak ditemukan
BTA disebut negatif. Ditemukan :
1. 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan.
2. 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + atau (1+).
3. 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ atau (2+).
4. > 10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ atau (3+).
Penulisan gradasi hasil bacaan penting, untuk menunjuk keparahan penyakit dan
tingkat penularan penderita. (Departemen Kesehatan RI 2001).

APD DAN K3

1. Keselamatan Kerja Dalam Laboratorium Klinik


Bekerja dalam laboratorum klinik mempunyai resiko terkena bahan kimia maupun
bahan yang bersifat infeksius. Resiko tersebut dapat terjadi bila kelalaian dan sebab-sebab lain
diluar kemampuan manusi. Menjadi suatu tanggung jawab bagi manusia untuk mempelajari
kemungkinan adanya bahaya dalam pekerjaan agar mampu mengendalikan bahaya serta
mengurangi resiko sekecil-kecilnya melalui pemahaman mengenai berbagai aspek bahaya dalam
lingkungan laboratorium, mengarahkan para pekerja dalam melaksanakan keselamatan dan
kesehatan kerja.
Laboratorium harus merupakan tempat yang aman bagi pekerjanya, terhadap
setiap kemungkinan terjadinya kecelakaan, sakit maupun gangguan kesehatan. Hanya dalam
laboratorium yang bebas dari rasa kekhawatiran akan kecelakaan dan keracunan seseorang dapat
bekeraja dengan produktif dan efisien. Keadaan yang sehat dalam laboratorium, dapat diciptakan
apabila ada kemauan dari setiap pekerja untuk menjaga dan melindungi diri. Diperlukan suatu

kesadaran dan tanggung jawab, bahwa kecelakaan dapat berakibat pada diri sendiri dan orang
lain serta lingkungannya.
Tanggung jawab moral dalam keselamatan kerja memegang peranan penting dalam
pencegahan kecelakaan disamping dislipin setiap individu terhadap perautran juga memberikan
andil besar dalam keselamatan kerja.

2. Penanganan Spesimen
Dalam penanganan spesimen perlu diperhatikan cara pemeliharaan/mempertahankan
kualitas kerja (perfomance) pada setiap taraf/langkah dalam keseluruhan rantai prosesnya.
Pengambilan/pengumpulan spesimen, transportasi dan proses merupakan mata rantai yang
penting, tetapi justru sebagian besar menganggap tidak perlu diawasi secara khusus.
Masing-masing laboratorium mempunyai cara kerja yang bervariasi, oleh karena itu
perlu adanya kewaspadaan terhadap spesimen-spesimen kiriman /rujukan. Paling tepat adalah
bila laboratorium rujukan memberi petunjuk kepada laboratorium perujuk (yang merujuk)
mengenai cara persiapan, pengambilan, penanganan dan pengiriman spesimen, jenis spesimen
dan diagnosa penderita bila perlu, agar tidak terjadi kesalahan apabila hasil yang diperoleh tidak
sesuai dengasn klinis.
Idealnya petunjuk ini disusun secara sistematis per jenis pemeriksaan/parameter yang
mudah dimengerti oleh petugas di semua laboratorium perujuk. Selain petunjuk berdasarkan
parameter, perlu juga ditambahkan petunjuk umum tentang sampling berdasarkan jenis
spesimennya tentang bagaimana cara memperoleh dan menanganinya, bila perlu diberi label

terhadap diagnosa penyakit yang berbahaya seperti berlabel bulatan merah biala terinfeksi
HIV/AIDS.
3. Risiko Pemakaian Alat Pelindung Diri Bagi Petugas Laboratorium Kesehatan.
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Biasanya
kecelakaan menyebabkan kerugian material dan penderitaan dari yang paling ringan sampai pada
yang paling berat.
Untuk menghindari risiko dari kecelakaan dan terinfeksinya petugas laboratorium
khususnya pada laboratorium kesehatan sebaiknya dilakukan tindakan pencegahan seperti
pemakaian alat pelindung diri, apabila petugas laboratorium tidak menggunakan alat pengaman,
akan semakin besar kemungkinan petugas laboratorium terinfeksi bahan berbahaya, khususnya
berbagai jenis virus.
4. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan peralatan pelindung yang digunakan oleh
seorang pekerja untuk melindungi dirinya dari kontaminasi lingkungan. APD dalam bahasa
Inggris dikenal dengan sebutan Personal Protective Equipment (PPE). Dengan melihat kata
"personal" pada kata PPE terebut, maka setiap peralatan yang dikenakan harus mampu
memperoteksi si pemakainya. Sebagai contoh, proteksi telinga (hearing protection) yang
melindungi telinga pemakainya dari transmisi kebisingan, masker dengan filter yang menyerap
dan menyaring kontaminasi udara, dan jas laboratorium yang memberikan perlindungan
pemakainya dari kontaminisasi bahan kimia.

APD dapat berkisar dari yang sederhana hingga relatif lengkap, seperti baju yang
menutup seluruh tubuh pemakai yang dilengkapi dengan masker khusus dan alat bantu
pernafasan yang dikenakan dikala menangani tumpahan bahan kimia yang sangat berbahaya.
APD yang sering dipakai a.I., proteksi kepala (mis., helm), proteksi mata dan wajah (mis.,
pelindung muka, kacamata pelindung), respirator (mis., masker dengan filter), pakaian pelindung
(mis., baju atau jas yang tahan terhadap bahan kimia), dan proteksi kaki (mis., sepatu tahan
bahan kimia yang menutupi kaki hingga mata kaki).

1. Perlindungan Mata dan Wajah.


Proteksi mata dan wajah merupakan persyaratan yang mutlak yang harus dikenakan
oleh pemakai dikala bekerja dengan bahan kimia. Hal ini dimaksud untuk melindungi mata dan
wajah dari kecelakaan sebagai akibat dari tumpahan bahan kimia, uap kimia, dan radiasi. Secara
umum perlindungan mata terdiri dari :

Kacamata pelindung

Goggle

Pelindung wajah

Pelindung mata special (goggle yang menyatu dengan masker khusus untuk melindungi
mata dan wajah dari radiasi dan bahaya laser). Walaupun telah banyak model, jenis, dan
bahan dari perlindungan mata tersebar di pasaran hingga saat ini, Anda tetap harus

berhati-hati dalam memilihnya, karena bisa saja tidak cocok dan tidak cukup aman
melindungi mata dan wajah Anda dari kontaminasi bahan kimia yang berbahaya.
2. Perlindungan Badan
Baju yang dikenakan selama bekerja di laboratorium, yang dikenal dengan sebutan
jas laboratorium ini, merupakan suatu perlengkapan yang wajib dikenakan sebelum memasuki
laboratorium. Jas laboratorium yang kerap sekali dikenal oleh masyarakat pengguna bahan kimia
ini terbuat dari katun dan bahan sintetik. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika Anda
menggunakan jas laboratorium, kancing jas laboratorium tidak boleh dikenakan dalam kondisi
tidak terpasang dan ukuran dari jas laboratorium pas dengan ukuran badan pemakainya.
Jas laboratorium merupakan pelindung badan Anda dari tumpahan bahan kimia dan
api sebelum mengenai kulit pemakainya. Jika jas laboratorium Anda terkontaminasi oleh
tumpahan bahan kimia, lepaslah jas tersebut secepatnya.
Selain jas laboratorium, perlindungan badan lainnya adalah Apron dan Jumpsuits.
Apron sering kali digunakan untuk memproteksi diri dari cairan yang bersifat korosif dan
mengiritasi. Perlengkapan yang berbentuk seperti celemek ini biasanya terbuat dari karet atau
plastik.Untuk apron yang terbuat dari plastik, perlu digarisbawahi, bahwa tidak dikenakan pada
area larutan yang mudah terbakar dan bahan-bahan kimia yang dapat terbakar yang dipicu oleh
elektrik statis, karena apron jenis ini dapat mengakumulasi loncatan listrik statis.
Jumpsuits atau dikenal dengan sebutan baju parasut ini direkomendasikan untuk
dipakai pada kondisi beresiko tinggi (mis., ketika menangani bahan kimia yang bersifat
karsinogenik dalam jumlah yang sangat banyak). Baju parasut ini terbuat dari material yang
dapat didaur ulang. Bahan dari peralatan perlindungan badan ini haruslah mampu memberi

perlindungan kepada pekerja laboratorium dari percikan bahan kimia, panas, dingin, uap lembab,
dan radiasi.
3. Pelindungan Tangan
Kontak pada kulit tangan merupakan permasalahan yang sangat penting apabila Anda
terpapar bahan kimia yang korosif dan beracun. Sarung tangan menjadi solusi bagi Anda. Tidak
hanya melindungi tangan terhadap karakteristik bahaya bahan kimia tersebut, sarung tangan juga
dapat memberi perlindungan dari peralatan gelas yang pecan atau rusak, permukaan benda yang
kasar atau tajam, dan material yang panas atau dingin.
Bahan kimia dapat dengan cepat merusak sarung tangan yang Anda pakai jika tidak
dipilih bahannya dengan benar berdasarkan bahan kimia yang ditangani. Selain itu, kriteria yang
lain adalah berdasarkan pada ketebalan dan rata-rata daya tembus atau terobos bahan kimia ke
kulit tangan. Sarung tangan harus secara periodik diganti berdasarkan frekuensi pemakaian dan
permeabilitas bahan kimia yang ditangani. Jenis sarung tangan yang sering dipakai di
laboratorium, diantaranya, terbuat dari bahan karet, kulit dan pengisolasi (asbestos) untuk
temperatur tinggi.
Jenis karet yang digunakan pada sarung tangan, diantaranya adalah karet butil atau
alam, neoprene, nitril, dan PVC (Polivinil klorida). Semua jenis sarung tangan tersebut dipilih
berdasarkan bahan kimia yang akan ditangani. Sebagai contoh, sarung tangan yang terbuat dari
karet alam baik apabila Anda bekerja dengan Ammonium hidroxida, tetapi tidak baik bila bekerja
dengan Dietil eter.
4. Perlindungan Pernafasan

Kontaminasi bahan kimia yang paling sering masuk ke dalam tubuh manusia adalah
lewat pernafasan. Banyak sekali partikel-partikel udara, debu, uap dan gas yang dapat
membahayakan pernafasan. Laboratorium merupakan salah satu tempat kerja dengan bahan
kimia yang memberikan efek kontaminasi tersebut.
Oleh karena itu, para pekerjanya harus memakai perlindungan pernafasan, atau yang
lebih dikenal dengan sebutan masker, yang sesuai. Pemilihan masker yang sesuai didasarkan
pada jenis kontaminasi, kosentrasi, dan batas paparan. Beberapa jenis perlindungan pernafasan
dilengkapi dengan filter pernafasan yang berfungsi untuk menyaring udara yang masuk. Filter
masker tersebut memiliki masa pakai. Apabila tidak dapat menyaring udara yang terkontaminasi
lagi, maka filter tersebut harus diganti.
Dari informasi mengenai beberapa APD diatas, maka setiap pengguna bahan kimia
haruslah mengerti pentingnya memakai APD yang sesuai sebelum bekerja dengan bahan kimia.
Selain itu, setiap APD yang dipakai harus sesuai dengan jenis bahan kimia yang ditangani.
Semua hal tersebut tentunya mempunyai dasar, yaitu kesehatan dan keselamatan kerja di
laboratorium.
Ungkapan mengatakan bahwa "Lebih baik mencegah daripada mengobati". APD
merupakan solusi pencegahan yang paling mendasar dari segala macam kontaminasi dan bahaya
akibat bahan kimia. Jadi, tunggu apa lagi. Gunakanlah APD sebelum bekerja dengan bahan
kimia.
PEMANTAPAN MUTU LAB

PEMANTAPAN MUTU
Pemantapan mutu (quality assurance) laboratorium adalah semua kegiatan yang
ditujukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium. Kegiatan ini

terdiri atas empat komponen penting, yaitu : pemantapan mutu internal (PMI), pemantapan
mutu eksternal (PME), verifikasi, validasi, audit, dan pendidikan dan pelatihan.
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI)
Pemantapan mutu internal adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan yang
dilaksanakan oleh setiap laboratorium secara terus-menerus agar diperoleh hasil pemeriksaan
yang tepat. Kegiatan ini mencakup tiga tahapan proses, yaitu pra-analitik, analitik dan paska
analitik.
Beberapa kegiatan pemantapan mutu internal antara lain : persiapan penderita,
pengambilan dan penanganan spesimen, kalibrasi peralatan, uji kualitas air, uji kualitas reagen,
uji kualitas media, uji kualitas antigen-antisera, pemeliharaan strain kuman, uji ketelitian dan
ketepatan, pencatatan dan pelaporan hasil.
2. Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
PME adalah kegiatan pemantapan mutu yang diselenggaralan secara periodik oleh
pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai penampilan
suatu laboratorium di bidang pemeriksaan tertentu. Penyelenggaraan PME dilaksanakan oleh
pihak pemerintah, swasta atau internasional dan diikuti oleh semua laboratorium, baik milik
pemerintah maupun swasta dan dikaitkan dengan akreditasi laboratorium kesehatan serta
perizinan laboratorium kesehatan swasta.
PME harus dilaksanakan sebagaimana kegiatan pemeriksaan yang biasa dilakukan oleh
petugas yang biasa melakukan pemeriksaan dengan reagen/peralatan/metode yang biasa
digunakan sehingga benar-benar dapat mencerminkan penampilan laboratorium tersebut yang
sebenarnya. Setiap nilai yang diperoleh dari penyelenggara harus dicatat dan dievaluasi untuk

mempertahankan mutu pemeriksaan atau perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk


peningkatan mutu pemeriksaan.
3. Verifikasi
Verifikasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam
melakukan kegiatan laboratorium mulai dari tahap pra-analitik, analitik sampai dengan pascaanalitik. Setiap tahapan tersebut harus dipastikan selalu berpedoman pada mutu sesuai dengan
bakuan mutu yang ditetapkan.
4. Validasi hasil
Validasi hasil pemeriksaan merupakan upaya untuk memantapkan kualitas hasil
pemeriksaan yang telah diperoleh melalui pemeriksaan ulang oleh laboratorium rujukan.
Validasi dapat mencegah keragu-raguan atas hasil laboratorium yang dikeluarkan.
5. Audit
Audit adalah proses menilai atau memeriksa kembali secara kritis berbagai kegiatan
yang dilaksanakan di laboratorium. Audit ada dua macam, yaitu audit internal dan audit
eksternal.
Audit internal dilakukan oleh tenaga laboratorium yang sudah senior. Penilaian yang
dilakukan haruslah dapat mengukur berbagai indikator penampilan laboratorium, misalnya
kecepatan pelayanan, ketelitian laporan hasil pemeriksaan laboratorium dan mengidentifikasi
titik lemah dalam kegiatan laboratorium yang menyebabkan kesalahan sering terjadi.
Audit eksternal bertujuan untuk memperoleh masukan dari pihak lain di luar laboratorium
atau pemakai jasa laboratorium terhadap pelayanan dan mutu laboratorium. Pertemuan antara

kepala-kepala laboratorium untuk membahas dan membandingkan berbagai metode, prosedur


kerja, biaya dan lain-lain merupakan salah satu bentuk dari audit eksternal.
6. Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan bagi tanaga laboratorium sangat penting untuk meningkatkan
mutu pelayanan laboratorium melalui pendidikan formal, pelatihan teknis, seminar, workshop,
simposium, dsb. Kegiatan ini harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan dipantau
pelaksanaannya.
PERHATIAN PADA MUTU
Laboratorium

klinik

adalah

sarana

kesehatan

yang

melaksanakan

pelayanan

pemeriksaan di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, imunologi
klinik, atologi anatomi dan atau bidang lain yang berkaitan dengan kepentingan kesehatan
perorangan terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan (Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 364/MENKES/SK/III/2003).
Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi
terpenting dalam diagnostik invitro. Dengan pengukuran dan pemeriksaan laboratorium akan
didapatkan data ilmiah yang tajam untuk digunakan dalam menghadapi masalah yang
diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis dan merupakan bagian esensial dari data pokok pasien.
Indikasi permintaan laboratorium merupakan pertimbangan terpenting dalam kedokteran
laboratorium. Informasi laboratorium dapat digunakan untuk diagnosis awal yang dibuat
berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Analisis laboratorium juga merupakan
bagian integral dari penapisan kesehatan dan tindakan preventif kedokteran.

Prof. dr. Hardjoeno, SpPK-K dalam bukunya : Interpretasi Hasil Tes Laboratorium
Diagnostik, Bagian dari Standar Pelayanan Medik, mengemukakan tujuan dilakukannya
pemeriksaan laboratorium adalah :
1.

Menyaring berbagai penyakit dan mengarahkan tes ke penyakit tertentu misalnya dengan
urinalisis ditemukan bilirubin dan urobilin positif yang berarti ikterus, maka tes selanjutnya
adalah untuk melihat gangguan faal hati.

2. Menegakkan atau menyingkirkan diagnosis misalnya anemia, malaria, tbc, DM.


3. Memastikan diagnosis dari diagnosis dugaan, misalnya tifoid, hepatitis B, HIV.
4.

Memasukkan/mengeluarkan dari diagnosis diferensial misalnya pasien dengan panas; tifoid,


malaria, dengue hemorrhagic fever (DHF).

5. Menentukan beratnya penyakit, misalnya hepatitis, infeksi saluran kemih


6. Menentukan tahap penyakit, misalnya penyakit kronis: tbc paru, sirosis hati.
7. Menyaring penyakit dalam seleksi calon donor darah.
8. Membantu menentukan rawat inap, misalnya observasi tifoid, observasi leukemia.
9. Membantu dalam menentukan terapi atau pengelolaan dan pengendalian penyakit, misalnya
leukemia, diabetes.
10. Membantu ketepatan terapi, misalnya tes kepekaan kuman.
11. Memonitor terapi, misalnya tes HbA1c pada diabetes, widal pada tifoid.
12. Menghindari kesalahan terapi dan pemborosan obat setelah ditemukan diagnosis.
13. Membantu mengikuti perjalanan penyakit, misalnya diabetes, hepatitis.

14. Memprediksi atau menentukan ramalan (prognosis) penyakit, misalnya dislipidemia dengan
penyakit jantung, kanker dengan kematian.
15. Membantu menentukan pemulangan pasien rawat inap, misalnya bila hasil pemeriksaan
laboratorium kembali normal.
16. Membantu dalam bidang kedokteran kehakiman, misalnya tes untuk membuktikan perkosaan.
17. Mengetahui status kesehatan umum (general check up)
Oleh karena itu laboratorium klinik menempati kedudukan sentral dalam pelayanan
kesehatan. Karena kedudukan yang penting itulah maka tanggung jawab laboratorium klinik
bertambah besar, baik tanggung jawab professional (professional responsibility), tanggung
jawab teknis (technical responsibility) maupun tanggung jawab pengelolaan (management
responsibility).
Dinamika Globalisasi
Usaha pelayanan kesehatan saat ini baru dalam keadaan transformasi yang cepat untuk
memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat yang meningkat terus menerus. Selain
pentingnya peran dan kedudukan laboratorium klinik dalam upaya pelayanan kesehatan,
terdapat faktor lain yang mengharuskan setiap laboratorium berkomitmen terhadap penjaminan
mutu. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran
laboratorium serta pesatnya arus informasi, tingkat pendidikan masyarakat yang semakin maju,
dan adanya peraturan perundang-undangan dan hukum kesehatan telah mendorong tingginya
tuntutan akan mutu pelayanan laboratorium klinik.
Mutu Pemeriksaan Laboratorium Klinik

Hasil pemeriksaan laboratorium klinik yang terbaik adalah apabila tes tersebut teliti,
akurat, sensitif, spesifik, cepat, tidak mahal dan dapat membedakan orang normal dari
abnormal.
Teliti atau presisi adalah kemampuan untuk mendapatkan nilai yang hampir sama pada
pemeriksaan yang berulang-ulang dengan metode yang sama. Namun teliti belum tentu akurat.
Tepat atau akurat adalah kemampuan untuk mendapatkan nilai yang sama atau
mendekati nilai biologis yang sebenarnya (true value), tetapi untuk dapat mencapainya mungkin
membutuhkan waktu lama dan biaya yang mahal.
Sensitif adalah kemampuan menentukan substansi pada kadar terkecil yang diperiksa.
Secara teoritis tes dengan sensitifitas tinggi sangat dipilih namun karena nilai normalnya sangat
rendah misalnya enzim dan hormon, atau tinggi misalnya darah samar, dalam klinik lebih dipilih
tes yang dapat menentukan nilai abnormal.
Contoh :

Guaiac tes untuk menentukan darah samar dalam feses lebih dipilih daripada benzidin atau
orthotoluidin tes yang lebih sensitive. Dalam keadaan normal kedua tes terakhir dapat positif
karena + 3cc darah samar terdapat dalam faeses, sedangkan tes pertama positif dalam
keadaan abnormal saja.

Tes KED dan CRP sensitive untuk perubahan abnormal tetapi tidak spesifik untuk penyakit
tertentu.
Spesifik adalah kemampuan mendeteksi substansi pada penyakit yang diperiksa dan
tidak dipengaruhi oleh substansi yang lain dalam sampel tersebut, misalnya TPHA (Treponema
Palidum Haemaglutination Test). Secara teoritis spesifisitas sebaiknya 100% hingga tidak ada
positif palsu (false positive).

Contoh :
Pewarnaan Ziehl Nelson sputum, biakan Lowenstein Jensen dan PCR untuk tbc paru
spesitifitasnya 100% tetapi sensitifitasnya misalnya berturut-turut adalah 70%, 100% dan 98%.
Tes yang baik adalah bila sensitivitas dan spesitifitasnya 100% atau mendekati 100%.
Cepat berarti tidak memerlukan waktu yang lama dan lekas diketahui oleh dokter yang
merawat.
Tidak mahal dan tidak sulit, artinya dapat dimanfaatkan oleh banyak laboratorium dan
penderita/orang yang memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Pada umumnya untuk tes saring diperlukan tes yang sensitif, cepat dan tidak mahal,
sedangkan untuk diagnosis pasti diperlukan tes spesifik yang biasanya lebih mahal. Ketepatan
dalam pemanfaatan tes laboratorium untuk mendapatkan diagnosis akurat dan cepat serta
jaminan kualitas hasil pemeriksan laboratorium akan menghemat pembiayaan, baik untuk
diagnosis, terapi maupun lama rawat inap.
Nilai normal harus ditetapkan oleh masing-masing laboratorium dan dilaporkan
bersama-sama dengan hasil pemeriksan. Biasanya praktisi laboratorium melaporkan rentang
normal berdasarkan umur dan jenis kelamin, dan dokter menginterpretasi hasil tersebut lebih
jauh dengan melihat faktor spesifik lain (mis. diet, aktivitas fisik, kehamilan, dan pengobatan)
Hasil pemeriksan laboratorium dapat mengalami variasi dan bila variasi ini besar (lebih
dari 2 SD), maka dianggap menyimpang. Penyebab variasi hasil pemeriksaan laboratorium
secara garis besar dipengaruhi oleh faktor-faktor :
1. Pengambilan spesimen, seperti : antikoagulan, variasi fisiologis pasien (puasa dan tidak puasa,
umur, jenis kelamin, latihan fisik, pengobatan, kehamilan, konsumsi tembakau, dsb), cara
pengambilan, kontaminasi, dsb.

2. Perubahan spesimen, seperti : suhu, pH, lisis, bekuan darah lama tidak dipisahkan dari serum,
dsb. Perubahan bisa terjadi di dalam laboratorium atau selama pengiriman ke laboratorium.
3. Personel. Faktor personel yang dapat menimbulkan variasi yang besar pada hasil laboratorium
misalnya :
o Kesalahan administrasi, tertukar dengan pasien lain, kesalahan menyalin pada formulir hasil
o Kesalahan pembacan, kesalahan penghitungan
o Kesalahan teknis dalam prosedur pemeriksaan

4. Prasarana dan sarana laboratorium, misalnya :


o Gangguan aliran listrik, air bersih.
o Suhu tidak sesuai dengan suhu yang dianjurkan untuk penentuan tes.
o Air suling dengan pH yang tidak netral.

Reagensia yang tidak baik, tidak murni, rusak atau kadaluwarsa. Bahan standard kurang baik
atau tidak ada.

o Peralatan (fotometer, pipet, dsb) tidak akurat.

5.

Kesalahan sistematis (systematic error), yaitu berkaitan dengan metode pemeriksan (alat,
reagensia, dsb)

6. Kesalahan acak (random error). Variasi hasil yang tidak dapat dihindarkan apabila dilakukan
pemeriksaan berturut-turut pada sampel yang sama walaupun prosedur pemeriksaan dilakukan
dengan cermat.
Manajemen Mutu

Laboratorium klinik bagaikan sebuah industri, dimana sampel yang diterima merupakan
bahan bakunya, sedangkan hasil pemeriksaan yang dikeluarkan merupakan produk yang
dihasilkan. Hasil pemeriksaan yang dikeluarkan harus dapat dijamin mutunya. Untuk
meningkatkan dan mempertahankan mutu pemeriksaan, maka perlu penataan faktor-faktor
sebagai berikut :
1. Sumber Daya Manusia (SDM)
o SDM yang kompeten, handal, profesional
o Penerapan Continuing Education, Profesional Development Program untuk meningkatkan mutu

SDMb. Manajemen dan kepemimpinan, pembiayaan dan komunikasi berkesinambungan


bertumpu pada Total Quality Management (TQM) dan Continous Quality Improvement (CQI)
2. Sarana-prasarana dan alat (SPA)
o Penyediaan sumber energi dan air bersih
o Pengadan peralatan dan reagensia yang berkualitas

3. Sistem, prosedur & mekanisme kerja (SPM)


o Penetapan dan penerapan Standard Operating Procedure (SOP)
o Penerapan quality control (QC), baik intralab maupun ekstralab.

Program kontrol dalam laboratorium (intralab) atau Pemantapan Mutu Internal (PMI) ialah
program pemantapan mutu, pengecekan dengan nilai baku, penggunaan metode, alat, reagen
dan prosedur yang benar untuk melihat ketelitian, keakuratan, sensitifitas dan spesitifitas
pemeriksaan hingga menghasilkan hasil yang secara klinis dapat dipercaya.

Program kontrol kualitas ekstralab atau Pemantapan Mutu Eksternal (PME) ialah program
pemantapan mutu yang dikoordinasikan oleh Depkes atau perkumpulan profesi misalnya PDSPATKLIN sehingga hasil-hasil laboratorium tersebut dapat dipercaya kebenarannya.
Hasil yang baik juga menunjukkan mutu laboratorium tersebut baik, termasuk semua yang
berkaitan dengan tes yaitu dokter, teknisi, metode, reagensia, peralatan dan sarana lainnya. Di
pihak lain, mutu laboratorium klinik yang baik menunjukkan kepercayaan dokter terhadap hasil
tes laboratorium tersebut.
o

Penerapan manajemen mutu pelayanan laboratorium, seperti akreditasi, ISO 9001 (Quality
Management System), ISO 15189 yang merupakan perpaduan ISO 9001 dengan ISO/IEC
17025 (International Electrotechnical Commission)

o Implementasi TQM, CQI, service satisfaction, customer satisfaction, dsb.


o Penerapan Standar Keselamatan Kerja

Upaya mencapai tujuan laboratorium klinik yakni tercapainya pemeriksaan yang


bermutu diperlukan strategi dan perencanaan manajemen mutu yang didasari Quality
Management Science (QMS) dengan suatu model FiveQ, yaitu :
1. Quality Planning (QP)
Pada saat akan menentukan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan di laboratorium,
perlu merencanakan dan memilih jenis metode, reagen, bahan, alat, sumber daya manusia dan
kemampuan yang dimiliki laboratorium.
2. Quality Laboratory Practice (QLP)

Membuat pedoman, petunjuk dan prosedur tetap yang merupakan acuan setiap pemeriksaan
laboratorium. Standar acuan ini digunakan untuk menghindari atau mengurangi terjadinya
variasi yang akan mempengaruhi mutu pemeriksaan.
3. Quality Control (QC)
Pengawasan sistematis periodik terhadap : alat, metode, dan reagen. QC lebih berfungsi untuk
identifikasi ketika sebuah kesalahan terjadi
4. Quality Assurance (QA)
Mengukur kinerja pada tiap tahap siklus tes laboratorium: pra analitik, analitik dan pasca
analitik. Jadi, QA merupakan pengamatan keseluruhan input-proses-output/outcome, dan
menjamin pelayanan dalam kualitas tinggi dan memenuhi kepuasan pelanggan. Tujuan QA
adalah untuk mengembangkan produksi hasil yang dapat diterima secara konsisten, jadi lebih
berfungsi untuk mencegah kesalahan terjadi (antisipasi error).
Indikator kinerja QA adalah :
o Manajemen sampel : phlebotomy, preparasi spesimen

Manajemen proses : turn around time (waktu tunggu), STAT atau cyto, pelaporan hasil,
pemeliharaan alat

o Manajemen SDM : kompetensi, Continuing Education, Profesional Development Programm.


o Keselamatan kerja : kecelakaan jarum suntik (needle stick injury), kimiawi & biologis.

5. Quality Improvement (QI)


Dengan melakukan QI, penyimpangan yang mungkin terjadi akan dapat dicegah dan diperbaiki
selama proses pemeriksaan berlangsung.

Langkah-langkah Five Q merupakan implementasi manajemen mutu laboratorium yang


berujung pada Continous Quality Improvement (CQI), menjamin pelayanan berstandar tinggi
dan terwujudnya kepuasan pelanggan. Hal ini membutuhkan komitmen pimpinan (Top
Management).

PEMANTAPAN MUTU PRA-ANALITIK PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi penting
dalam diagnosis invitro. Setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa pemeriksaan
laboratorium diperlukan, yaitu : skrining, diagnosis, pemantauan progresifitas penyakit, monitor

pengobatan dan prognosis penyakit. Oleh karena itu setiap laboratorium harus dapat
memberikan data hasil tes yang teliti, cepat dan tepat.
Dalam proses pengendalian mutu laboratorium dikenal ada tiga tahapan penting, yaitu
tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik. Pada umumnya yang sering sering diawasi dalam
pengendalian mutu hanya tahap analitik dan pasca analitik yang lebih cenderung kepada
urusan administrasi, sedangkan proses pra analitik kurang mendapat perhatian.
Kesalahan pada proses pra-analitik dapat memberikan kontribusi sekitar 61% dari total
kesalahan laboratorium, sementara kesalahan analitik 25%, dan kesalahan pasca analitik 14%.
Proses pra-analitik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : pra-analitik ekstra laboratorium dan
pra-analitik intra laboratorium. Proses-proses tersebut meliputi persiapan pasien, pengambilan
spesimen, pengiriman spesimen ke laboratorium, penanganan spesimen, dan penyimpanan
spesimen.
PERSIAPAN PASIEN
Persiapan pasien dimulai saat seorang dokter merencanakan pemeriksaan laboratorium
bagi pasien. Dokter dibantu oleh paramedis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
tindakan apa yang akan dilakukan, manfaat dari tindakan itu, dan persyaratan apa yang harus
dilakukan oleh pasien. Informasi yang diberikan harus jelas agar tidak menimbulkan ketakutan
atau persepsi yang keliru bagi pasien. Pemilihan jenis tes yang kurang tepat atau tidak sesuai
dengan kondisi klinis pasien akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ketaatan pasien
akan instruksi yang diberikan oleh dokter atau paramedis sangat berpengaruh terhadap hasil
laboratorium; tidak diikutinya instruksi yang diberikan akan memberikan penilaian hasil
laboratorium yang tidak tepat. Hal yang sama juga dapat terjadi bila keluarga pasien yang
merawat tidak mengikuti instruksi tersebut dengan baik.

Ada beberapa sumber kesalahan yang kurang terkontrol dari proses pra-analitik yang
dapat mempengaruhi keandalan pengujian laboratorium, tapi yang hampir tidak dapat
diidentifikasi oleh staf laboratorium. Ini terutama mencakup variabel fisik pasien, seperti latihan
fisik, puasa, diet, stres, efek posisi, menstruasi, kehamilan, gaya hidup (konsumsi alkohol,
rokok, kopi, obat adiktif), usia, jenis kelamin, variasi diurnal, pasca transfusi, pasca donasi,
pasca operasi, ketinggian. Karena variabel tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap
beberapa variabel biokimia dan hematologi, maka gaya hidup individu dan ritme biologis pasien
harus selalu dipertimbangkan sebelum pengambilan sampel.

PERSIAPAN PENGUMPULAN SPESIMEN


Spesimen yang akan diperiksa laboratorium haruslah memenuhi persyaratan sebagai
berikut :

Jenisnya sesuai jenis pemeriksaan

Volume mencukupi

Kondisi baik : tidak lisis, segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, tidak berubah bentuk,
steril (untuk kultur kuman)

Pemakaian antikoagulan atau pengawet tepat

Ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat

Identitas benar sesuai dengan data pasien


Sebelum pengambilan spesimen, periksa form permintaan laboratorium. Identitas pasien
harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medis, dsb) disertai

diagnosis atau keterangan klinis. Periksa apakah identitas telah ditulis dengan benar sesuai
dengan pasien yang akan diambil spesimen.
Tanyakan persiapan yang telah dilakukan oleh pasien, misalnya diet, puasa. Tanyakan
juga mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, minum alkohol, merokok, dsb. Catat apabila
pasien telah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, minum alkohol, pasca transfusi,
dsb. Catatan ini nantinya harus disertakan pada lembar hasil laboratorium.

1. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

bersih, kering

tidak mengandung deterjen atau bahan kimia

terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen

sekali pakai buang (disposable)

steril (terutama untuk kultur kuman)

tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan volume
spesimen

2. Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah.
Jenis antikoagulan yang dipergunakan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang
diminta. Volume darah yang ditambahkan juga harus tepat.

3. Pemilihan Lokasi Pengambilan Spesimen


Tentukan lokasi pengambilan spesimen sesuai dengan jenis spesimen yang diperlukan,
seperti :

Darah vena umumnya diambil dari vena lengan (median cubiti, vena cephalic, atau vena
basilic). Tempat pengambilan tidak boleh pada jalur infus atau transfusi, bekas luka,
hematoma, oedema, canula, fistula

Darah arteri umumnya diambil dari arteri radialis (pergelangan tangan), arteri brachialis
(lengan), atau arteri femoralis (lipat paha).

Darah kapiler umumnya diambil dari ujung jari tengah atau jari manis tangan bagian tepi
atau pada daerah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki pada bayi. Tempat yang dipilih untuk
pengambilan tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti sianosis
atau pucat.

Spesimen untuk pemeriksaan biakan kuman diambil dari tempat yang sedang
mengalami infeksi, kecuali darah dan cairan otak.

4. Waktu Pengambilan
Penentuan waktu pengambilan spesimen penting untuk diperhatikan.

Umumnya pengambilan dilakukan pada waktu pagi (ideal)

Spesimen untuk kultur kuman diambil sebelum pemberian antibiotik

Spesimen untuk pemeriksaan GO diambil 2 jam setelah buang air yang terakhir

Spesimen untuk malaria diambil pada waktu demam

Spesimen untuk mikrofilaria diambil pada tengah malam

Spesimen dahak untuk pemeriksaan BTA diambil pagi hari setelah bangun tidur

Spesimen darah untuk pemeriksaan profil besi diambil pada pagi hari dan setelah puasa
10-12 jam

PENGAMBILAN SPESIMEN
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :
1. Tehnik atau cara pengambilan. Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan benar sesuai
dengan standard operating procedure (SOP) yang ada.
2. Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
o Seluruh sampel harus masuk ke dalam wadah (sesuai kapasitas), jangan ada yang menempel

pada bagian luar tabung untuk menghindari bahaya infeksi.


o Wadah harus dapat ditutup rapat dan diletakkan dalam posisi berdiri untuk mencegah spesimen

tumpah.
o Memindahkan spesimen darah dari syringe harus memperhatikan hal-hal seperti berikut :
Darah harus segera dimasukkan dalam tabung setelah sampling.
Lepaskan jarum, alirkan darah lewat dinding tabung perlahan-lahan agar tidak terjadi hemolisis.
Untuk pemeriksaan kultur kuman dan sensitivitas, pemindahan sampel ke dalam media

dilakukan dengan cara aseptik


Pastikan jenis antikoagulan dan volume darah yang ditambahkan tidak keliru.

Homogenisasi segera darah yang menggunakan antikoagulan dengan lembut perlahan-lahan.

Jangan mengkocok tabung keras-keras agar tidak hemolisis.


o Menampung spesimen urin
Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka,

mudah ditutup, dan bermulut lebar

Sebaiknya pasien diinstruksikan membuang urine yang mula-mula keluar sebelum


mengumpulkan urine untuk diperiksa.

Untuk mendapatkan specimen clean catch diperlukan cara pembersihan lebih sempurna :
Mulut uretra dibersihkan dengan sabun dan kemudian membilasnya sampai bersih.
Penderita wanita harus lebih dulu membersihkan labia minora, lalu harus merenggangkannya

pada waktu kencing.


Perempuan yang sedang menstruasi atau yang mengeluarkan banyak secret vagina, sebaiknya

memasukkan tampon sebelum mengumpulkan specimen.


Bagian luar wadah urine harus dibilas dan dikeringkan setelah spesimen didapat dan keterangan

tentang pemeriksaan harus jelas dicantumkan.


o Menampung spesimen tinja
Sampel tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Jika sangat diperlukan, sampel tinja juga

dapat diperoleh dari pemeriksaan colok dubur.


Masukkan sampel ke dalam wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan

apapun, dapat ditutup rapat, dapat dibuka dengan mudah dan bermulut lebar.

o Menampung spesimen dahakPenting untuk mendapatkan sekret bronkial dan bukan ludah atau

sekret hidung.
Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka,

mudah ditutup, dan bermulut lebar. Untuk pewarnaan BTA, jangan gunakan wadah yang
mengandung bercak lilin atau minyak, sebab zat ini dapat dilihat sebagai bintik-bintik tahan
asam dan dapat menyulitkan penafsiran.
Sebelum pengambilan spesimen, penderita diminta berkumur dengan air, bila mungkin gosok

gigi terlebih dulu. Bila memakai gigi palsu, sebaiknya dilepas dulu.
Pada saat pengambilan spesimen, penderita berdiri tegak atau duduk tegak
Penderita diminta untuk menarik nafas dalam 2 3 kali kemudian keluarkan nafas bersamaan

dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai dahak keluar.
Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan cara mendekatkan wadah

ke mulut.
Amati keadaan dahak. Dahak yang memenuhi syarat pemeriksaan akan tampak kental purulen

dengan volume cukup ( 3 5 ml )


Tutup wadah dengan rapat untuk menghindari kontaminasi dari udara dan secepatnya dikirim ke

laboratorium.
Sumber-sumber kesalahan pada pengambilan spesimen darah :
1. Pemasangan turniquet terlalu lama dapat menyebabkan :
o Protein (termasuk enzim) , Ca2+, laktat , fosfat, dan Mg2+ meningkat
o pH menurun, hemokonsentrasi

o PPT dan APTT mungkin memendek karena pelepasan tromboplastin jaringan ke dalam sirkulasi

darah
2.

Pemompaan menyebabkan kalium, laktat, glukosa, dan Mg2+ meningkat, sedangkan pH


menurun

3. Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk kena) dapat menyebabkan :
o trombosit dan fibrinogen menurun; PPT dan APTT memanjang
o kalium, LDH dan SGPT/ALT meningkat

4. Pengambilan darah pada jalur infus dapat menyebabkan :


o natrium meningkat pada infus saline
o kalium meningkat pada infus KCl
o glukosa meningkat pada infus dextrose
o PPT, APTT memanjang pada infus heparine.
o kreatinin, fosfat, LDH, SGOT, SGPT, Hb, Hmt, lekosit, trombosit, eritrosit menurun pada semua

jenis infus
5.

Homogenisasi darah dengan antikoagulan yang tidak sempurna atau keterlambatan


homogenisasi menyebabkan terbentuknya bekuan darah.

6. Hemolisis dapat menyebabkan peningkatan K+, Mg2+, fosfat, aminotransferase, LDH, fosfatase
asam total
IDENTIFIKASI SPESIMEN

Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus dilakukan
karena merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi pengisian formulir
permintaan pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya
harus cocok sama. Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau
nomor rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas dapat
merugikan.
Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus pada
label dan formulir permintaan laboratorium.

PENGIRIMAN SPESIMEN KE LABORATORIUM


Spesimen yang telah dikumpulkan harus segera dikirim ke laboratorium.
1.

Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen telah memenuhi


persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masing-masing pemeriksaan.

2. Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.


3. Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang lengkap. Pastikan bahwa
identitas pasien pada label dan formulir permintaan sudah sama.
4.

Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium. Penundaan pengiriman spesimen ke


laboratorium dapat dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan spesimen.

Penundaan terlalu lama akan menyebabkan perubahan fisik dan kimiawi yang dapat menjadi
sumber kesalahan dalam pemeriksaan, seperti :
o Penurunan kadar natrium ( Na+ ), glukosa darah, angka lekosit, angka trombosit.
o Perubahan morfologi sel darah pada pemeriksaan mikroskopik
o PPT / APTT memanjang.
o Peningkatan kadar kalium ( K+ ), phosphate, LDH, SGPT.
o Lisisnya sel pada sample LCS, transudat, eksudat.
o Perkembangbiakan bakteri
o Penundaan pengiriman sampel urine :
Unsur-unsur yang berbentuk dalam urine (sediment), terutama sel-sel eritrosit, lekosit, sel epitel

dan silinder mulai rusak dalam waktu 2 jam.


Urat dan fosfat yang semula larut akan mengendap, sehingga menyulitkan pemeriksaan

mikroskopik atas unsur-unsur lain.


Bilirubin dan urobilinogen teroksidasi bila berkepanjangan terkena sinar matahari.
Bakteri-bakteri akan berkembang biak yang akan menyebabkan terganggunya pemeriksaan

bakteriologis dan pH.


Jamur akan berkembang biak

Kadar

glukosa

mungkin

menurun

dan

kalau

semula

ada,

zat-zat

keton

dapat

menghilang.Apabila akan ditunda pengirimannya dalam waktu yang lama spesimen harus
disimpan dalam refrigerator/almari es pada suhu 2 8 oC paling lama 8 jam.

5. Pengiriman sample sebaiknya menggunakan wadah khusus, misalnya berupa kotak atau tas
khusus yang tebuat dari bahan plastik, gabus (styro-foam) yang dapat ditutup rapat dan mudah
dibawa.
PENANGANAN SPESIMEN

Identifikasi dan registrasi spesimen

Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius

Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar

Gunakan sentrifus yang terkalibrasi

Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain, tempeli label

Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan


PENYIMPANAN SPESIMEN

Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan dikirim ke
laboratorium lain

Lama penyimpanan harus memperhatikan, jenis pemeriksaan, wadah dan stabilitasnya

Hindari penyimpanan whole blood di refrigerator

Sampel yang dicairkan (setelah dibekukan) harus dibolak-balik beberapa kali dan terlarut
sempurna. Hindari terjadinya busa.

Simpan sampel untuk keperluan pemeriksaan konfirmasi / pengulangan

Menyimpan spesimen dalam lemari es dengan suhu 2-8C, suhu kamar, suhu -20C, -70C
atau -120C jangan sampai terjadi beku ulang.

Untuk jenis pemeriksaan yang menggunakan spesimen plasma atau serum, maka plasma
atau serum dipisahkan dulu baru kemudian disimpan.

Memberi bahan pengawet pada spesimen

Menyimpan formulir permintaan lab di tempat tersendiri

Waktu penyimpanan spesimen dan suhu yang disarankan :

Kimia klinik : 1 minggu dalam referigerator

Imunologi : 1 minggu dalam referigerator

Hematologi : 2 hari pada suhu kamar

Koagulasi : 1 hari dalam referigerator

Toksikologi : 6 minggu dalam referigerator

Blood grouping : 1 minggu dalam referigerator


Siapa yang Terlibat Dalam Proses Pra-Analitik?
Selalu ada beberapa orang yang terlibat dalam proses pra-analitik, yaitu pasien, dokter,
paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan dokter laboratorium; mereka
semua berbagi tanggung jawab terhadap mutu bahan spesimen dan harus memahami
pentingnya tahap pra-analtik, serta mengenali kemungkinan penyebab kesalahan dan
konsekuensi mereka untuk hasil pemeriksaan.
Komunikasi antara dokter, paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan
dokter laboratorium harus selalu ditingkatkan dalam bentuk komunikasi langsung, telepon, atau
media lainnya. Lebih baik kalau laboratorium dapat membuat pedoman atau semacam SOP

mengenai pengumpulan spesimen untuk penggunaan oleh bagian lain. Pedoman tersebut
harus ditinjau ulang oleh supervisor laboratorium. Laboratorium juga perlu menetapkan
prosedur untuk penanganan spesimen dan prosedur untuk manajemen spesimen (penerimaan
atau penolakan spesimen).

MUTU PELAYANAN LABORATORIUM KLINIK RUMAH SAKIT


Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan bagian integral yang tidak dapat
dipisahkan dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pada saat ini perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan semakin meningkat dan sudah mengarah pada
spesialisasi dan subspesialisasi. Semakin pesat lajunya pembangunan, semakin besar pula
tuntutan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Perlu disadari bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat,
tuntutan akan pelayanan kesehatan yang bermutu pun semakin meningkat. Di lain pihak
pelayanan Rumah Sakit yang memadai, baik di bidang diagnostik maupun pengobatan semakin
dibutuhkan. Sejalan dengan itu maka pelayanan diagnostik yang diselenggarakan oleh
laboratorium klinik Rumah Sakit sangat perlu untuk menerapkan sebuah standar mutu untuk
menjamin kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
UU No. 23 / 1992 tentang kesehatan menjadi landasan hukum yang kuat untuk
pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Sebagai penjabaran dari undang-undang
tersebut salah satunya adalah Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik Nomor HK
006.06.3.5.00788 tahun 1995 tentang pelaksanaan akreditasi Rumah Sakit (termasuk di

dalamnya adalah pelayanan laboratorium klinik) untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit.
Berkaitan

dengan

pengukuran

mutu

pelayanan

kesehatan

tersebut,

menurut

Donabedian ada 3 variabel yang dapat digunakan untuk mengukur mutu, yaitu :
1.

Input (struktur), ialah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan
kesehatan, seperti SDM, dana, obat, fasilitas, peralatan , bahan, teknologi, organisasi, informasi
dan lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu memerlukan dukungan input yang bermutu
pula. Hubungan input dengan mutu adalah dalam perencanaan dan penggerakan pelaksanaan
pelayanan kesehatan.

2.

Proses, ialah interaksi professional antara pemberi layanan dengan konsumen (pasien /
masyarakat ). Proses ini merupakan variable penilaian mutu yang penting.

3.

Output/outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi pada
konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan, laboratorium klinik yang terdapat dalam seluruh
Rumah Sakit perlu dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang tepat. Salah
satu pendekatan mutu yang digunakan adalah Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Magement, TQM).
Menurut Sulistiyani & Rosidah (2003) konsep TQM pada mulanya dipelopori oleh W.
Edward Deming, seorang doktor di bidang statistik yang diilhami oleh manajemen Jepang yang
selalu konsisten terhadap kualitas terhadap produk-produk dan layananannya. TQM adalah
suatu pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi masa kini untuk memperbaiki
otputnya, menekan biaya produksi serta meningkatkan produksi. Total mempunyai konotasi
seluruh sistem, yaitu seluruh proses, seluruh pegawai, termasuk pemakai produk dan jasa juga

supplier. Quality berarti karakteristik yang memenuhi kebutuhan pemakai, sedangkan


management berarti proses komunikasi vertikal dan horizontal, top-down dan bottom-up, guna
mencapai mutu dan produktivitas.
Pendekatan Manajemen Mutu Terpadu dalam pelayanan laboratorium menurut Sianipar
(1997) adalah menggunakan konsep dari Creech, yaitu suatu pendekatan manajemen yang
merupakan suatu sistem yang mempunyai struktur yang mampu menciptakan partisipasi
menyeluruh dari seluruh jajaran organisasi dalam merencanakan dan menerapkan proses
peningkatan yang berkesinambungan untuk memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan.
Terdapat lima pilar Manajemen Mutu Terpadu, yaitu kepemimpinan, proses, organisasi,
komitmen, produk dan service. Manajemen mutu terpadu berfokus pada peningkatan proses.
Proses adalah transformasi dari input, dengan menggunakan mesin peralatan, perlengkapan
metoda dan SDM untuk menghasilkan produk atau jasa bagi pelanggan.
PENINGKATAN MUTU PELAYANAN LABORATORIUM KLINIK
Menurut Pusorowati (2004), mutu pada hakekatnya adalah tingkat kesempurnaan suatu
produk atau jasa. Sedangkan mutu pelayanan laboratorium klinik Rumah Sakit diartikan
sebagai derajat kesempurnaan pelayanan laboratorium klinik untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan dengan menggunakan potensi sumber daya
yang tersedia secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan
sesuai dengan norma, etika, hukum, dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan
dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen.
Upaya peningkatan mutu pelayanan laboratorium klinik merupakan serangkaian
kegiatan yang komprehensif dan integral yang menyangkut struktur, proses dan outcome
secara obyektif, sistematik dan berlanjut, memantau dan menilai mutu dan kewajaran

pelayanan terhadap pasien, dan memecahkan maslah-masalah yang terungkapkan sehingga


pelayanan laboratorium yang diberikan berdaya guna dan berhasil guna.
Sasaran upaya meningkatkan mutu pelayanan laboratorium di rumah sakit adalah :
meningkatkan kepuasan pelanggan (pasien, dokter dan pemakai jasa laboratorium lainnya),
meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan laboratorium, dan efisiensi penggunaan
sumber daya yang dimiliki.
Cakupan kegiatan peningkatan mutu meliputi seluruh kegiatan teknis laboratorium dan
kegiatan-kegiatan yang bersifat administrasi, serta manajemen laboratorium. Kegiatan teknis
laboratorium meliputi seluruh kegiatan pra-analitik, analitik dan pasca-analitik. Kegiatan yang
berkaitan dengan administrasi meliputi pendaftaran pasien / spesimen, pelayanan administrasi
keuangan, dan pelayanan hasil pemeriksaan. Sedangkan kegiatan yang bersifat manajerial
meliputi pemberdayaan sumber daya yang ada, termasuk di dalamnya adalah penatalaksanaan
logistic dan pemberdayaan SDM.
Pendekatan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan laboratorium di
Instalasi Patologi Klinik adalah :
1. Pendekatan tidak langsung
o

Program menjaga mutu (quality assurance/quality improvement), seperti pemeriksaan kontrol


kualitas (quality control), Pemantapan Mutu Internal (PMI), Pemantapan Mutu Eksternal (PME)

o Quality Assesment, seperti akreditasi, ISO 9001:2000


o Total Quality Managemen (TQM)

Pengembangan standar profesi, seperti seminar / kursus / workshop / pelatihan, pendidikan


berkelanjutan. Program ini dilakukan baik untuk Pranata Laboratorium maupun tenaga
administrasi.

o Risk management, misalnya penanganan komplain dari pelanggan.

Program-program khusus, misalnya mengukur kepuasan pelanggan melalui pemberian


kuesioner.

2. Pendekatan pemecahan masalah


Pemecahan masalah merupakan suatu proses siklus (daur) yang berkesinambungan.
Langkah pertama dalam siklus ini adalah identifikasi masalah. Identifikasi masalah merupakan
bagian sangat penting dari seluruh proses siklus karena akan menentukan kegiatan-kegiatan
selanjutnya dari pendekatan masalah. Masalah akan timbul apabila :
o Terdapat penyimpangan antara hasil yang dicapai (output) dengan standar yang adab.
o Terdapat ketidakpuasan akan penyimpangan tersebut.

Pendekatan pemecahan masalah ini dapat dilakukan melalui kegiatan Gugus Kendali
Mutu (GKM) atau dengan program Problem Solving for a Better Hospital (PSBH) yang tengah
digalakkan oleh Manajemen Rumah Sakit. Pendekatan kegiatan PSBH mirip dengan GKM.