Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

TONSILITIS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Keperawatan Medikal
Bedah III

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Akhditia Citratami W.
Bernadeta Lia Merdiana
Febriana Kurniawati
Henry Prihambodo
Ismaya Putri Utami
Jenia Dwi Khasanah
Liya Kurniasari
RatnaPratami
Ricky Hasto Amirudin

NIM. P07120110002
NIM. P07120110006
NIM. P07120110012
NIM. P07120110017
NIM. P07120110020
NIM. P07120110023
NIM. P07120110024
NIM. P07120110030
NIM. P07120110032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2012
A. Tonsilitis
1. Pengertian

Tonsilitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri


berlangsung sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam
(Megantara, Imam, 2006).
Tonsilitis akut adalah radang akut yang disebabkan oleh kuman
streptococcus

beta

hemolyticus,

streptococcus

viridons

dan

streptococcus pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer,


A. 2000).
Tonsilitis kronik merupakan hasil dari serangan tonsillitis akut yang
berulang. Tonsil tidak mampu untuk mengalami resolusi lengkap dari
suatu serangan akut kripta mempertahankan bahan purulenta dan
kelenjar regional tetap membesar akhirnya tonsil memperlihatkan
pembesaran permanen dan gambaran karet busa, bentuk jaringan
fibrosa, mencegah pelepasan bahan infeksi (Sacharin, R.M. 1993).
Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri
kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga
disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing,
2004).
2. Klasifikasi
Macam-macam tonsillitis menurut Imam Megantara (2006)
a. Tonsillitis akut
Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus
viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh
virus.
b. Tonsilitis falikularis
Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat
diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus.
Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang

terlepas akibat

peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.


c. Tonsilitis Lakunaris
Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuklekuk) permukaan tonsil.
d. Tonsilitis Membranosa (Septis sore Throat)
Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak
tersebut menyerupai membrane. Membran ini biasanya mudah
diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan.

e. Tonsilitis Kronik
Tonsillitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik
(rokok, makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang
tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk.
3. Etiologi
Menurut Adams George (1999) Tonsilitis bakterialis supuralis akut.
paling sering disebabkan oleh streptokokus beta hemolitikus grup A.
a. Pneumococcus
b. Staphilococcus
c. Haemalphilus influenza
d. Kadang streptococcus non hemoliticus atau streptococcus
viridens.
Menurut Iskandar N (1993) Bakteri merupakan penyebab pada 50
% kasus.
a. Streptococcus B hemoliticus grup A
b. Streptococcus viridens
c. Streptococcus pyogenes
d. Staphilococcus
e. Pneumococcus
f. Virus
g. Adenovirus
h. ECHO
i. Virus influenza serta herpes
Menurut Medicastore Firman S (2006) Penyebabnya adalah
infeksi bakteri streptococcus atau infeksi virus. Tonsil berfungsi
membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai
tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh
bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang,
menyebabkan tonsillitis.
4. Patofisiologi
Menurut Iskandar N (1993) yaitu :
Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis maka
jaringan

limfoid

superficial

mengadakan

reaksi.

Terdapat

pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poli morfonuklear.


Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak

kuning yang disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit,


bakteri dan epitel yang terlepas, suatu tonsillitis akut dengan detritus
disebut tonsillitis lakunaris, bila bercak detritus berdekatan menjadi
satu maka terjadi tonsillitis lakonaris.
Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membran
semu (Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi
karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan jaringan
limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan, jaringan limfoid
diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang
antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus,
proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul
perlengkapan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak
proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula.
Penyebab terserang tonsilitis akut adalah streptokokus beta
hemolitikus grup A. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan
tonsilitis akut adalah Haemophilus influenza dan bakteri dari
golongan pneumokokus dan stafilokokus. Virus juga kadang
kadang ditemukan sebagai penyebab tonsilitis akut.
a. Pada Tonsilitis Akut
Penularan terjadi melalui droplet dimana kuman menginfiltrasi
lapisan Epitel kemudian bila Epitel ini terkikis maka jaringan
Umfold superkistal bereaksi dimana terjadi pembendungan radang
dengan infiltrasi leukosit polimorfo nuklear.
b. Pada Tonsilitif Kronik
Terjadi karena proses radang berulang maka Epitel mukosa dan
jaringan limpold terkikis, sehingga pada proses penyembuhan
jaringan limpold, diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan
mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang
akan di isi oleh detritus proses ini meluas hingga menembus
kapsul dan akhirnya timbul purlengtan dengan jaringan sekitar
fosa tonsilaris.
Jadi tonsil meradang dan membengkak, terdapat bercak abu
abu atau kekuningan pada permukaannya, dan jika berkumpul maka

terbentuklah membran. Bercak bercak tersebut sesungguhnya


adalah penumpukan leukosit, sel epitel yang mati, juga kuman
kuman baik yang hidup maupun yang sudah mati.
5. Manifestasi klinik
Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika
penderita menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga (karena
tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama).
Gejala lain :
a. Demam
b. Tidak enak badan
c. Sakit kepala
d. Muntah
Menurut Mansjoer, A 1999 :
a. Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan
b. Tenggorokan terasa kering
c. Persarafan bau
d. Pada pemeriksaan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata,
kriptus membesar dan terisi detritus
e. Tidak nafsu makan
f. Mudah lelah
g. Nyeri abdomen
h. Pucat
i. Letargi
j. Nyeri kepala
k. Disfagia (sakit saat menelan)
l. Mual dan muntah
Gejala pada tonsillitis akut :
a. Rasa gatal / kering di tenggorokan
b. Lesu
c. Nyeri sendi
d. Odinafagia
e. Anoreksia
f. Otalgia
g. Suara serak (bila laring terkena)
h. Tonsil membengkak
Menurut Smelizer, Suzanne, 2000:
Gejala yang timbul sakit tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan
menelan.
Menurut Hembing :
a. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan hingga menjadi
parah, sakit saat menelan, kadang-kadang muntah.

b. Tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada
seluruh badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit pada telinga.
c. Pada tonsilitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit
tenggorokan dan keluar nanah pada lekukan tonsil.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri
yang ada dalam tubuh pasien merupkan akteri grup A, karena
grup ini disertai dengan demam renmatik, glomerulnefritis, dan
demam jengkering.
b. Pemeriksaan penunjang dengan Kultur dan uji resistensi bila
diperlukan.
c. Kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil.
d. Terapi dengan menggunakan antibiotic spectrum lebar dan
sulfonamide, antipiretik, dan obat kumur yang mengandung
desinfektan.
7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tonsilitis secara umum :
a. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik peroral (melalui
mulut) selama 10 hari, jika mengalami kesulitan menelan, bisa
diberikan dalam bentuk suntikan.
b. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
1) Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih / tahun.
2) Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun
waktu 2 tahun.
3) Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun
waktu 3 tahun.
4) Tonsilitis tidak

memberikan

respon

terhadap

pemberian

antibiotik.
Menurut Mansjoer, A 1999 :
a. Penatalaksanaan tonsilitis akut
1) Antibiotik golongan penicilin atau sulfanamid selama 5 hari dan
obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi
dengan diberikan eritromisin atau klindomisin.

2) Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder,


kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat
simptomatik.
3) Pasien diisolasi

karena

menular,

tirah

baring,

untuk

menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau


sampai hasil usapan tenggorok 3x negatif.
4) Pemberian antipiretik.
b. Penatalaksanaan tonsilitis kronik
1) Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap.
2) Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa
atau terapi konservatif tidak berhasil.
8. Perawatan bedah
a. Perawatan Prabedah
Diberikan sedasi dan premedikasi, selain itu pasien juga harus
dipuasakan, membebaskan anak dari infeksi pernafasan
bagian atas.
b. Teknik Pembedahan
Anestesi umum selalu diberikan sebelum pembedahan, pasien
diposisikan terlentang dengan kepala sedikit direndahkan dan
leher dalam keadaan ekstensi mulut ditahan terbuka dengan
suatu

penutup

dan

lidah

didorong

keluar

dari

jalan.

Penyedotan harus dapat diperoleh untuk mencegah inflamasi


dari darah. Tonsil diangkat dengan diseksi / quillotine.
Metode apapun yang digunakan penting untuk mengangkat
tonsil secara lengkap. Perdarahan dikendalikan dengan
menginsersi suatu pak kasa ke dalam ruang post nasal yang
harus diangkat setelah pembedahan. Perdarahan yang
berlanjut dapat ditangani dengan mengadakan ligasi pembuluh
darah pada dasar tonsil.
c. Perawatan Paska-bedah
1) Berbaringg ke samping sampai bangun kemudian posisi
mid fowler.
2) Memantau

tanda-tanda

perdarahan

seperti

Menelan

berulang, Muntah darah segar, Peningkatan denyut nadi


pada saat tidur

3) Diet yaitu memberikan cairan bila muntah telah reda


a) Mendukung posisi untuk menelan potongan makanan
yang besar (lebih nyaman dari ada kepingan kecil).
b) Hindari pemakaian sedotan (suction dapat menyebabkan
perdarahan).
c) Hindari jus jeruk, minuman panas, makanan kasar, atau
banyak bumbu selama 1 minggu.
4) Mengatasi ketidaknyamanan pada tenggorokan
5) Hindari latihan berlebihan, batuk, bersin, berdahak dan
menyisi hidung segera selama 1-2 minggu.
9. Komplikasi
Komplikasi tonsilitis akut dan kronik menurut Mansjoer, A 1999 :
a. Abses pertonsil
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum
mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut dan
biasanya disebabkan oleh streptococcus group A.
b. Otitis media akut
Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius
(eustochi) dan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat
mengarah pada ruptur spontan gendang telinga.
c. Mastoiditis akut
Ruptur spontan gendang telinga lebih jauh menyebarkan infeksi
ke dalam sel-sel mastoid.
d. Laringitis
e. Sinusitis
f. Rhinitis
B. Manajemen Keperawatan
1.
Pengkajian
Focus pengkajian menurut Firman S (2006) yaitu :
a. Wawancara
1) Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsillitis)
2) Apakah pengobatan adekuat
3) Kapan gejala itu muncul
4) Apakah mempunyai kebiasaan merokok
5) Bagaimana pola makannya
6) Apakah rutin / rajin membersihkan mulut
b. Pemeriksaan fisik
Data dasar pengkajian (Doengoes, 1999)
1) Intergritas Ego

Gejala

Perasaan

takut.

Khawatir

bila

pembedahan

mempengaruhi hubungan keluarga, kemampuan kerja, dan


keuangan.
Tanda : ansietas, depresi, menolak.
2) Makanan / Cairan
Gejala : Kesulitan menelan
Tanda : Kesulitan menelan, mudah terdesak, inflamasi,
kebersihan gigi buruk.
3) Hygiene
Tanda : Kesulitan menelan
4) Nyeri / Keamanan
Tanda : gelisah, perilaku berhati-hati
Gejala : sakit tenggorokan kronis, penyebaran nyeri ke telinga
5) Pernapasan
Gejala : riwayat merokok / mengunyah tembakau, bekerja
dengan serbuk kayu, debu.
Hasil pemerisaan fisik secara umum di dapat :
a) Pembesaran tonsil dan hiperemis
b) Letargi
c) Kesulitan menelan
d) Demam
e) Nyeri tenggorokan
f) Kebersihan mulut buruk
c. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan usap tenggorok. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan
sebelum

memberikan

pengobatan,

terutama

bila

keadaan

memungkinkan. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita dapat


mengetahui kuman penyebab dan obat yang masih sensitif
terhadapnya.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
fisik.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
a. Kerusakan menelan berhubungan dengan proses inflamasi.
b. Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.
c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
d. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
e. Cemas berhubungan dengan rasa tidak nyaman

3. Intervensi
Dx 1 : Kerusakan menelan berhubungan dengan proses inflamasi.
NOC : Perawatan Diri : Makan
Tujuan : Setelah dlakukan tindakan keperawatan terapi menelan
selama 3x24 jam diharapkan tidak ada masalah dalam makan
dengan skala 4 sehingga kerusakan menelan dapat diatasi
Kriteria hasil :
a. Reflek makan
b. Tidak tersedak saat makan
c. Tidak batuk saat menelan
d. Usaha menelan secara normal
e. Menelan dengan nyaman
Skala :
1.
Sangat bermasalah
2.
Cukup bermasalah
3.
Masalah sedang
4.
Sedikit bermasalah
5.
Tidak ada masalah
NIC : Terapi menelan
Intervensi :
a. Pantau gerakan lidah klien saat menelan
b. Hindari penggunaan sedotan minuman
c. Bantu pasien untuk memposisikan kepala fleksi ke depan untuk
menyimpkan menelan.
d. Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan dan penenangan
pasien selama makan / minum obat.
Dx 2 : Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan
tonsil.
NOC : Kontrol Nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manejemen nyeri
selama 3 x 24 jam diharapkan tidak ada masalah dalam nyeri
dengan skala 4 sehingga nyeri dapat hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
a. Mengenali faktor penyebab.
b. Mengenali serangan nyeri.
c. Tindakan pertolongan non analgetik
d. Mengenali gejala nyeri
e. Melaporkan kontrol nyeri
Skala :
1. Ekstream
2. Berat
3. Sedang

4. Ringan
5. Tidak Ada
NIC : Menejemen Nyeri
Intervensi :
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
b. Ajarkan teknik non farmakologi dengan distraksi / latihan nafas
dalam.
c. Berikan analgesik yang sesuai.
d. Observasi reaksi non verbal dari ketidanyamanan.
e. Anjurkan pasien untuk istirahat.
Dx 3: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia.
NOC : Fluid balance
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan manejemen nutrisi
selama 3 x 24 jam diharapkan tidak ada masalah nutrisi dengan
skala 4 sehingga ketidak seimbangan nutrisi dapat teratasi
Kriteria hasil :
a. Adanya peningkatan BB sesuai tujuan
b. BB ideal sesuai tinggi badan
c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
Skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang-kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Manajemen nutrisi
a. Berikan makanan yang terpilih
b. Kaji kemampuan klien untuk mendapatkan nutrisi

yang

dibutuhkan
c. Berikan makanan sedikit tapi sering
d. Berikan makanan selagi hangat dan dalam bentuk menarik.
Dx 4: Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
NOC : Termoregulasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan fever treatment
selama 3 x 24 jam diharapkan tidak ada masalah dalam suhu tubuh
dengan skala 4 sehingga suhu tubuh kembali normal atau turun.
Kriteria hasil :

a. Suhu tubuh dalam rentang normal


b. Suhu kulit dalam batas normal
c. Nadi dan pernafasan dalam batas normal.
Skala :
1. Ekstrem
2. Berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
NIC : Fever Treatment
a. Monitor suhu sesering mungkin
b. Monitor warna, dan suhu kulit
c. Monitor tekanan darah, nadi, dan pernafasan.
d. Monitor intake dan output
e. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam.
Dx 5: Cemas berhubungan dengan rasa tidak nyaman
NOC : Kontrol Cemas
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pengurangan
cemas selama 3 x 24 jam diharapkan tidak ada masalah dengan
kecemasan dengan skala 4 sehingga rasa cemas dapat hilang atau
berkurang
Kriteria hasil :
a. Ansietas berkurang
b. Monitor intensitas kecemasan
c. Mencari informasi untuk menurunkan kecemasn
d. Memanifestasi perilaku akibat kecemasan tidak ada
Skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang-kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
NIC : Pengurangan Cemas
a. Sediakan informasi yang sesungguhnya meliputi diagnosis,
treatmen dan prognosis.
b. Tenaggkan anak / pasien.
c. Kaji tingkat kecemasan dan reaksi fisik pada tingkat kecemasan.
(takhikardi, eskpresi cemas non verbal)
d. Berikan pengobatan untuk menurunkan cemas dengan cara yang
tepat.

e. Instruksikan

pasien

untuk

melakukan

ternik

relaksasi

4. Evaluasi
Dx 1 : Kerusakan menelan berhubungan dengan proses inflamasi.
a. Reflek makan 4
b. Tidak tersedak saat makan 4
c. Tidak batuk saat menelan 4
d. Usaha menelan secara normal 4
e. Menelan dengan nyaman 4
Dx 2 : Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jaringan
tonsil.
a. Mengenali faktor penyebab. 4
b. Mengenali serangan nyeri. 4
c. Tindakan pertolongan non analgetik 4
d. Mengenali gejala nyeri 4
e. Melaporkan kontrol nyeri 4
Dx 3: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia.
a. Adanya peningkatan BB sesuai tujuan 4
b. BB ideal sesuai tinggi badan 4
c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi 4
d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi. 4
Dx 4: Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
a. Suhu tubuh dalam rentang normal 4
b. Suhu kulit dalam batas normal 4
c. Nadi dan pernafasan dalam batas normal 4
Dx 5: Cemas berhubungan dengan rasa tidak nyaman
a. Ansietas berkurang 4
b. Monitor intensitas kecemasan 4
c. Mencari informasi untuk menurunkan kecemasn 4
d. Memanifestasi perilaku akibat kecemasan tidak ada 4

DAFTAR PUSTAKA
Adams, George L. 1997. BOISE Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta:EGC.
Doengoes, Marilynn D. 1999. Rencana Asuhan Keparawatan. Jakarta:EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Media Aeus Calpius.
Ngastiyah. 1997. Perawatan anak Sakit. Jakarta:EGC.
Pracy R, dkk.1985. Pelajaran Ringkasan Telinga hidung Tenggorokan.
Jakarta:Gramedia.
Price, Silvia.1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta:EGC.
Wilkinson, Judith.2000.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi
NIC dan Kriteria hasil NOC Edisi 7.Jakarta:EGC.