Anda di halaman 1dari 8

Oleh : Drs. Muji Pramono, MSi, Apt.

Definisi (WHO, 1978)


Pengobatan tradisional adalah ilmu dan seni pengobatan berdasarkan
himpunan pengetahuan dan pengalaman praktek, baik yang dapat
diterangkan secara ilmiah ataupun tidak, dalam melakukan diagnosis,
prevensi, dan pengobatan terhadap ketidakseimbangan fisik, mental
maupun sosial. Pedoman utama adalah pengalaman praktek, yaitu hasilhasil pengamatan yang diteruskan dari generasi ke generasi baik secara
lisan maupun tulisan.
Kebijaksanaan Pemerintah yang tertulis dalam Gari Besar Haluan Negara
(GBHN) 1988, halaman 97, ayat f, berbunyi sebagai berikut :
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan secara lebih luas dan
merata, sekaligus mengembangkan warisan budaya bangsa, perlu terus
dilakukan penggalian, penelitian, pengujian dan pengembangan obatobatan serta cara pengobatan tradisional. Disamping itu perlu terus
didorong langkah-langkah pengembangan budaya tanaman obat-obatan
tradisional yang secara medis dapat dipertanggung jawabkan.

OBAT TRADISIONAL
Obat tradisional adalah ramuan bahan alami yang belum dimurnikan,
berasal dari tumbuhan, hewan dan mineral, yang digunakan untuk
pengobatan pada pelayanan kesehatan tradisional. Jamu misalnya adalah
obat tradisional yang merupakan ramuan yang berasal dari tumbuhtumbuhan.
Dalam rangka pemanfaatan obat tradisional, Departemen Keehatan telah
membuat beberapa program pembinaan. Dalam kaitan ini muncul beberapa
istilah yang perlu diketahui artinya :

1.

Tanaman Obat Keluarga (TOGA), diartikansebagai tumbuhan yang


berkhasiat yang dapat ditanam di pekarangan rumah, dan sewaktuwaktu dapat diman-faatkan untuk menanggulangi penyakit. Lengkuas
dan kunyit, disamping berguna sebagai bumbu masakan, diakui
bermanfaat untuk mengobati demam.

2.

Fitoterapi, adalah istilah yang digunakan untuk pengobatan dengan


ramuan obat yang berasal dari tumbuhan dan telah dibuktikan
khasiatnya.

3.

Fitofarmaka; ditinjau dari sudut ilmu kedokteran, perlu pula


diperkenalkan istilah fitofarmaka, yang berarti kandungan zat aktif
dari satu macam tumbuhan yang terbukti berkhasiat dan digunakan
dalam pengobatan.

SEDIAAN OBAT TRADISIONAL

Obat tradisional tersedia dalam berbagai bentuk yang dapat diminum,


ditempelkan pada permukaan kulit atau mukosa. Tetapi tidak tersedia
dalam bentuk suntikan atau aerosol. Dalam bentuk sediaan oral obat
tradisional ini dapat berbentuk bubuk yang menyerupai obat moderen,
seperti kapsul, tablet atau sediaan supositoria. Ketersediaan obat
tradisional dalam berbagai bentuk ini perlu dibina dan diawasi oleh
pemerintah supaya tidak terjadi pencemaran dengan bakteri atau bahan
alam lainnya. Disamping itu pula perlu diawasi pencampuran obat
tradisional dengan obat-obat modern. Hal yang terakhir ini perlu
dipikirkan bagaimana cara pengawaannya dengan sebaik-baiknya.

PENGGUNAAN OBAT TRADISIONAL


Dewasa ini banyak obat tradisional dalam bentuk jamu dikemas sama
seperti obat modern dan dihasilkan oleh industri. Jamu modern ini
dipromosikan secara luas dan distribusinya juga menandingi distribusi
obat modern, sehingga dengan mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
Dengan demikian, obat bebas dapat dibeli tanpa resep dokter, yang kini
beredar di masyarakat dapat dikelompokkan dalam 2 golongan, yaitu obat
bebas modern dan obat bebas tradisional. Dewasa ini perbedaan antara
kedua golongan obat bebas ini hanyalan ditentukan oleh kepercayaan dari
pengguna/konsumen.
Masyarakat yang mempercayai keampuhan obat bebas modern akan
membeli obat tersebut, sedangkan masyarakat yang percaya pada
keampuhan jamu atau obat tradisional akan membeli obat bebas
tradisional.

PERAN OBAT TRADISIONAL DALAM PELAYANAN


KESEHATAN FORMAL

Dewasa ini pemerintah mengemukakan gagasan untuk memasukkan obat


tradisional ke dalam sistem pelayanan kesehatan formal. Misalnya
Departemen Kesehatan RI sudah mencanangkan Program Jamu masuk
Puskesmas. Hal ini telah didukung dengan pernyataan dalam GBHN tahun
1988 seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Di pihak lain, terutama
produsen jamu modern, menganggap bahwa seyogianya jamu yang telah
dikemas secara modern dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan di
Puskesmas, karena bentuk ketersediaannya sudah sama dengan obat
modern.
Dalam menanggapi rencana pemerintah untuk memasukkan jamu atau obat
tradisional ini ke dalam pelayanan kesehatan modern, maka profesi
kedokteran perlu mengemukakan pendapatnya. Ditinjau dari riwayat
perkembangan ilmu kedokteran selama ini, profesi kedokteran tidak
apriori menerima atau menolak masuknya obat tradisional ke dalam
pelayanan kesehatan modern.

Sikap yang selama ini dianut adalah agar sebelum suatu bahan obat
digunakan dalam pelayanan kesehatan, perlu dilakukan serangkaian
penelitian guna mendapatkan bukti-bukti ilmiah tentang kebenaran khasiat
maupun keamanan bahan alami itu.
Atas dasar pemikiran ini, bila telah terbukti nyata bahwa bahan obat
tradisional itu berkhasiat dan aman maka terbukalah jalan bagi obat
tradisional untuk masuk dalam pelayanan kesehatan formal.