Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kondisi Eksisting Wilayah Sampling
Praktikum pengukuran berat jenis dan komposisi sampah kali ini menggunakan
sampel yang diambil di kawasan Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Pengambilan sampel dilakukan pada Hari Selasa,9 Februari 2016 pukul 17.05
WIB. Sampling dilakukan di 5 titik yang tersebar di Fakultas Hukum. Kondisi
lokasi sampling pada saat pengambilan sampel cukup rapi dan bersih.
2.2. Teori
2.2.1 Pengertian Sampah
Sampah adalah buangan padat atau setengah padat yang dihasilkan dari aktivitas
manusia dan hewan yang tidak disukai atau tidak berguna lagi. Sedangkan
menurut SNI 19-2454-1991 tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah
Perkotaan, sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri atas zat organik dan
zat anorganik yang tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak mengganggu
lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Thobanoglous, 1993).
Suatu upaya ,usaha, atau kegiatan yang mengontrol jumlah timbulan sampah,
pewadahan, pengumpulan, transfer dan transport, daur ulang serta pembuangan
sampah dengan memperhatikan faktor kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik,
konservasi lingkungan, estetika, dan pertimbangan lingkungan lainnya dinamakan
pengelolaan sampah (Wahyu, 2008)
Sedangkan dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan sampah dianggap
baik jika sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembang biaknya bibit
penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebar luasnya
suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus terpenuhi dalam pengelolaan sampah
ialah tidak mencemari udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (segi estetis),
tidak menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya (Wahyu, 2008)

2.2.2 Komposisi Sampah


Komposisi sampah merupakan penggambaran dari masing-masing komponen
yang terdapat pada sampah dan distribusinya. Data ini penting untuk
mengevaluasi peralatan yang diperlukan, sistem, pengolahan sampah dan rencana
manajemen persampahan suatu kota. Pengelompokkan sampah yang paling sering
dilakukan adalah berdasarkan komposisinya, misalnya dinyatakan sebagai % berat
atau % volume dari kertas, kayu, kulit, karet, plastik, logam, kaca, kain, makanan,
dan sampah lain-lain (Wahyu,2008).
Komposisi sampah dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut (Thobanoglous,
1993):
1. Frekuensi pengumpulan
Semakin sering sampah dikumpulkan, semakin tinggi tumpukan sampah
terbentuk. Sampah kertas dan sampah kering lainnya akan tetap bertambah,
tetapi sampah organik akan berkurang karena terdekomposisi.
2. Musim
Jenis sampah akan ditentukan oleh musim buah-buahan yang sedang
berlangsung.
3. Kondisi Ekonomi
Kondisi ekonomi yang berbeda menghasilkan sampah dengan komponen yang
berbeda pula. Semakin tinggi tingkat ekonomi suatu masyarakat, produksi
sampah kering seperti kertas, plastik, dan kaleng cenderung tinggi, sedangkan
sampah makanannya lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh pola hidup
masyarakat ekonomi tinggi yang lebih praktis dan bersih.
4. Cuaca
Di daerah yang kandungan airnya cukup tinggi, kelembaban sampahnya juga
akan cukup tinggi.
5. Kemasan produk
Kemasan produk bahan kebutuhan sehari-hari juga akan mempengaruhi
komposisi sampah. Negara maju seperti Amerika banyak menggunakan kertas
sebagai pengemas, sedangkan negara berkembang seperti Indonesia banyak
menggunakan plastik sebagai pengemas.

2.2.3 Berat Jenis Sampah


Berat jenis merupakan berat material per unit volume (satuan lb/ft3, lb/yd3 atau
kg/m3). Data ini diperlukan untuk menghitung beban massa dan volume total
sampah yang harus dikelola.
Beberapa hal yang mempengaruhi berat jenis sampah (Thobanoglous, 1993):
1. Komposisi sampah;
2. Musim;
3. Lamanya penyimpanan;
4. Kondisi geografis.
Timbulan sampah adalah volume sampah atau berat sampah yang dihasilkan dari
jenis sumber sampah di wilayah tertentu per satuan waktu. Timbulan sampah
sangat diperlukan untuk menentukan dan mendesain peralatan yang digunakan
dalam transportasi sampah, fasilitas recovery material, dan fasilitas Lokasi
Pembuangan Akhir (LPA) sampah (Darmanhuri,2004).
Prakiraan timbulan sampah baik untuk saat sekarang maupun di masa mendatang
merupakan dasar dari perencanaan, perancangan dan pengkajian sistem
pengelolaan persampahan. Prakiraan rerata timbulan sampah merupakan langkah
awal yang biasa dilakukan dalam pengelolaan persampahan. Satuan timbulan
sampah biasanya dinyatakan sebagai satuan skala kuantitas per orang atau per unit
bangunan dan sebagainya. Rata- rata timbulan sampah tidak akan sama antara satu
daerah dengan daerah lainnya, atau suatu negara dengan negara lainnya. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain (Wahyu, 2008):
1. Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhannya, semakin tinggi jumlah
penduduk dan pertumbuhan penduduk di suatu daerah, maka semakin tinggi
pula tibulan sampah yang akan dihasilkan di daerah tersebut.
2. Tingkat hidup, perbedaan tingkatan kehidupan antar masyarakat dapat
menghasilkan timbulan sampah yang berbeda
3. Perbedaan musim, contohnya pada musim durian, timbulan sampah akan
didominasi dengan sampah kulit dan biji durian
4. Cara hidup dan mobilitas penduduk, perbedaan cara hidup dan mobilits
penduduk menyebabkan perbedaan jumlah timbulan sampah pada suatu daerah
tertentu

5. Iklim, perbeedaan iklim menyebabkan perbedaan komposisi sampah dan


nantinya menyebabkan perbedaan jumlah timbulan sampah
6. Cara penanganan makanannya.
2.2.4 Teknologi Pengolahan atau Pengelolaan Sampah
Teknologi Pengolahan Sampah Secara umum penerapan teknologi pengolahan
sampah perkotaan dan pemanfaatannya dapat dilihat gambar dibawah ini :
a. Pengomposan
Sampah Pengomposan merupakan salah cara dalam mengolah bahan padatan
organik untuk menjadi kompos yang secara nasional ketersediaan bahan organik
dalam sampah kota cukup melimpah yaitu antara 70 80 %. Sayangnya, sebagian
besar sampah kota belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai kompos. Pada
dasarnya pengomposan merupakan proses degradasi materi organik menjadi stabil
melalui reaksi biologis mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali. Teknologi
pengomposan sampah yang dilakukan saat ini sangat beragam ditinjau dari segi
teknologi maupun kapasitas produksinya antara lain : pengomposan dengan cara
aerobik, pengomposan dengan cara semi aerobik, pengomposan dengan reaktor
cacing, dan pengomposan dengan menggunakan additive. Kompos sebenarnya
mempunyai nilai pasar yang cukup tinggi, hanya saja belum banyak orang yang
mengetahui pangsa pasar yang luas. Kompos yang dihasilkan dari pengomposan
sampah ini dapat digunakan untuk menguatkan struktur lahan kritis,
menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali lahan
pertamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, reklamasi pantai, pasca
penambangan, dan sebagai media tanaman, mengurangi pupuk kimia.
b. Pembakaran
Sampah Teknologi pembakaran sampah dalam skala besar/skala kota dilakukan di
instalasi pembakaran yang disebut juga dengan insinerator. Dengan teknologi ini,
pengurangan sampah dapat mencapai 80 % dari sampah yang masuk, sehingga
hanya sekitar 20% yang merupakan sisa pembakaran yang harus dibuang ke TPA.
Sisa pembakaran ini relatif stabil dan tidak dapat membusuk lagi, sehingga lebih
mudah penanganannya. Keberhasilan penerapan teknologi pembakaran sampah

sangat tergantung dari sifat fisik dan kimia sampah serta kemampuan dana
maupun manajemen dari Pemerintah Daerah. Sifat fisik I.2 Prosiding Seminar
Nasional Sains dan Teknologi 2010 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim
Semarang I.3 dan kimia sampah yang sesuai diolah dengan teknologi ini menurut
instalasi-instalasi yang sudah beroperasi terdahulu adalah nilai kalor sampah
campuran antara 950 2.100 kkal/kg, kadar air antara 35 55 % dan kadar abu
antara 10 30 %. Pemanfaatan sisa abu hasil pembakaran ini dapat digunakan
antara lain sebagai pengganti tanah penutup lahan TPA, pasca penambangan,
sebagai tanah urug, sebagai campuran bahan konstruksi (batako, paving block,
dsb), dan sebagai campuran kompos. Teknologi ini kurang direkomendasi
mengingat proses pembakaran sampah menghasilkan gas-gas yang dibuang ke
udara dan bisa menyebabkan problem lain, seperti kerawanan gangguan kesehatan
akibat efek samping gas-gas pembakaran tersebut. Beberapa penelitian yang
dilakukan gas yang dihasilkandari pembakaran sampah berpotensi menyebabkan
karsinogenik.
c. Daur Ulang Sampah
Kegiatan daur ulang sampah sudah dimulai sejak beberapa tahun terakhir ini yang
dilakukan oleh sektor informal. Para pemungut barang bekas yang disebut pula
dengan pemulung, melaksanakan kegiatan pemungutan sampah dihampir seluruh
subsistem pengelolaan sampah. Komponen sampah yang mempunyai nilai tinggi
untuk dimanfaatkan kembali, berdasarkan penelitian BPP Teknologi tahun 2004,
adalah sampah kertas, logam dan gelas.
Beberapa pemanfaatan sampah kering yang dapat dihasilkan dari pengolahan
sampah untuk daur ulang dan mempunyai nilai ekonomis antara lain :
1. Sampah Kertas
2. Sampah Plastik Pada umumnya sampah plastik sebagian besar dapat diolah
baik menjadi produk baru ; alat rumah tangga seperti ember, bak tali plastik;
digunakan kembali seperti pembungkus, pot tanaman, tempat bumbu; sebagai
bahan industri daur ulang seperti pellet, biji plastik.
3. Logam Logam yang dihasilkan dari sampah kota dapat dimanfaatkan antara
lain digunakan kembali seperti kaleng susu, dijadikan produk baru, seperti

tutup botol kecap, mainan, sebagai bahan tambahan atau bahan baku industri
seperti industri logam.
4. Bahan lain Bahan lain seperti, gelas, karet mempunyai prosentase yang cukup
kecil dalam komponen sampah kecuali pada kasus tertentu. Oleh karena itu
dalam skala kecil tidak ekonomis untuk diolah. Aplikasi teknologi pengolahan
sampah, sedikitnya dapat memberikan solusi pada permasalahan kesulitan
lahan untuk TPA. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
dengan matang untuk menerapkan teknologi diatas. Teknologi yang saat ini
digunakan untuk pengolahan sampah skala besar, baik itu pengomposan
maupun pembakaran sampah, rata-rata menggunakan teknologi yang cukup
canggih, melalui sistem mekanis/hidrolis yang bekerja semi atau bahkan
otomatis penuh. Instalasi pengolahan tersebut biasanya memerlukan dana
yang cukup besar untuk operasi maupun investasi dan sumber daya manusia
yang mempunyai keahlian tertentu.
2.2.5 Peraturan yang Terkait Persampahan
KSNP-SPP digunakan sebagai pedoman untuk pengaturan, penyelenggaraan,
dan pengembangan sistem pengelolaan persampahan yang ramah lingkungan,
baik ditingkat pusat, maupun daerah sesuai dengan kondisi daerah setempat.
Peraturan Terkait Persampahan:
1. Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman;
2. Undang-Undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang;
3. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup;
4. Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
5. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
6. Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
7. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Nasional;

8. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;


9. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
10. Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional;
11. Peraturan Pemerintah No. 80 Tahun 1999 tentang Kawasan Siap Bangun
dan Lingkungan Siap Bangun Berdiri Sendiri;
12. Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum;
13. Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum;
14. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional 2005-2009;
15. Peraturan Presiden No. 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik
Indonesia.