Anda di halaman 1dari 2

1.

Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan keadaan umum klien lemah, kesadaran
composmentis dengan GCS 15 yaitu E4V5M6, tekanan darah 100/60 mmHg, suhu
36,2C, pernapasan 21x/mnt, nadi 106x/mnt, dan skala nyeri 4.
Pemeriksaan fisik pada klien dilakukan secara head to toe. Pertama yang
dilakukan adalah melakukan pemeriksaan pada kepala dan didapatkan hasil Rambut
pasien panjang, rambut kering tidak rontok, tidak mudah dicabut, Kepala mesocepale,
tidak ada benjolan pada kepala klien, kulit kepala bersih, tidak ada ketombe dan tidak ada
laserasi pada kepala. Kedua adalah pemeriksaan leher tidak didapatkan adanya
pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak ada distensi vena jugularis. Pemeriksaan ketiga
yaitu telinga, telinga klien simetris antara kanan dan kiri, masih berfungsi dengan baik,
klien mampu mendengar dan menjawab pertanyaan dengan tepat, lubang telinga tengah
bersih tidak ada penumpukan serumen yang terlalu banyak, tidak ada radang telinga.
Pada pemeriksaan keempat yaitu mata didapatkan mata simetris, tidak juling, kelopak
mata tidak ada lingkaran hitam, pandangan tidak kabur, konjungtiva anemis, sclera tidak
icteric, pupil isokor berbentuk bulat berwarna hitam kecoklatan. Kelima, pemeriksaan
hidung didapatkan hidung simetris, tidak ada polip, tidak ada septum deviasi, tidak ada
penumpukan kotoran atau sekret yang bersarang dalam lubang hidung pasien dan tidak
terdapat pernafasan cuping hidung.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan selanjutnya adalah pemeriksaan pada thorax
yang meliputi pemeriksaan paru dan jantung. Hasil pemeriksaan thorax secara umum
yaitu bentuk dada simetris, perbandingan penampang anteroposterior dan lateral yaitu
2:1. Data yang didapatkan pada pemeriksaan paru adalah bentuk dada simetris, ekspansi
dada kanan dan kiri simetris saat dilakukan inspeksi. Pada saat dilakukan palpasi tactile
fremitus bergetar sama kuat pada dada kanan dan kiri pada apek intercosta 1 sampai basal
intercosta 6, sonor di seluruh lapang paru ketika diperkusi dan terdengar vesikuler pada
kedua lapang paru saat dilakukan auskultasi. Selanjutnya pemeriksaan jantung
didapatkan data ictus cordis tidak tampak pada intercosta IV-V pada mid clavicula sedikit
2cm medial sinistra saat inspeksi, namun ictus cordis teraba pada intercosta V pada mid
clavicula sedikit 2 cm medial sinistra saat dipalpasi. Suara perkusi redup diseluruh lapang

jantung, dan saat dilaukan auskultasi BJ 1, BJ II terdengar tunggal, tidak terdengar suara
gallop dan murmur .
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan bentuk cekung, tidak ada lesi pada saat
dilakukan isnpeksi. Auskultasi abdomen didapatkan bising usus terdengar 8x/ menit,
pemeriksaan dengan palpasi tidak didapatkan adanya massa, teraba lunak, terdapat nyeri
tekan dengan skala 2, turgor kembali < 2 detik, dan suara perkusi timpani. Setelah
pemeriksaan abdomen, dilakukan pula pemeriksaan ekstermitas klien yaitu pada
ekstermitas atas dan ekstermitas bawah. Pada pemeriksaan ekstermitas atas didapatkan
data kedua tangan sama panjang, simetris, tangan kiri terpasang infuse dengan cairan
infuse RL 40 tpm, tidak ada lesi, tida terdapat pembengkakan, tidak terdapat nyeri tekan,
tangan kanan dan kiri klien dapat berfungsi dengan normal namun lemah. Pasien dapat
merasakan nyeri, sentuhan, temperature dan skala kekuatan otot klien adalah 4. Hasil
pemeriksaan ekstermitas bawah adalah kedua kaki sama panjang dan simetris, tidak ada
pembengkakan, tidak ada lesi, tidak terdapat nyeri tekan, akral hangat, turgor kulit
kembali < 2 detik, kaki kanan dan kiri klien lemah, kaki klien masih dapat digerakkan,
dan klien dapat merasakan nyeri, sentuhan, temperature dan skala kekuatan otot 4.