Anda di halaman 1dari 3

Cendekiawan Muslim Dulu dan Sekarang :

Apa yang Akan Saya Lakukan?

Auliyaa Zahra Supriyatna,


1308010135,
Fakultas Farmasi,
Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012) menyatakan orang cerdik


pandai; orang intelek; atau orang yang memiliki sikap hidup yang terus-menerus
meningkatkan kemampuan berpikirnya untuk dapat mengetahui atau memahami
sesuatu.. Sedangkan menurut Haryanto A.G., Hartono Ruslijanto, dan Datu
Mulyono (2000:4) menyatakan cendekiawan adalah orang yang mampu berpikir
dengan tajam untuk memahami masalah dan menyumbangkan jalan keluar dari
masalah itu bagi kebaikan orang banyak. Dan pengertian cendekiawan itu sebenarnya
tidak terbatas pada yang mengenyam pendidikan sarjana atau berkedudukan tinggi.
Tanpa memandang kedudukannya, siapapun dapat menjadi cendekiawan. Namun
kenyataanya, cendekiawan memang berarti orang yang terpelajar atau pandai.1
Apabila membicarakan tentang cendekiawan muslim, rasanya kurang apabila
tidak membicarakan tentang peradaban Islam pada masa lampau. Peradaban Islam
memiliki peranan yang besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang ada saat ini. Terbukti dari cendekiawan muslim yang banyak dikenal dan
menghasilkan karya yang sangat berharga. Ibnu Sina,atau yang dikenal dengan
Avicenna di Barat merupakan salah satu cendekiawan Islam yang sangat berperan
dalam dunia medis. Ia mengeluarkan buku yang berjudul The Canon of Medicine
yang digunakan oleh dunia kedokteran sampai abad 18.2 Masih banyak cendekiawan
muslim yang berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun sayangnya kejayaan peradaban Islam di dunia mulai memudar dan
tanpa disadari semakin sunyi. Hal ini bermula saat kritik dari Al Ghazali yang
menentang pengaruh dari filsafat Yunani yang mejunjung tinggi logika dalam
1
2

Haryanto A.G., Hartono Ruslijanto, dan Datu Mulyono,2000,halaman 5.


Aslim,2014 dan seperti yang dikutip di wikipedia.org yang menyatakan The Canon of Medicine
remained a medical authority for centuries. It set the standards for medicine in Medieval Europe and
the Islamic world, and was used as a medical textbook through the 18th century in Europe.

penalaran ilmu dalam peradaban dunia Islam. Kendati Ibn Rushd bersikeras bahwa
tidak ada kontradiksi antara filsafat Avicenna dan Al Farabi dengan ajaran agama, Al
Ghazali tetap menyatakan "perang" terhadap pengaruh filsafat Yunani dan
menginginkan pemurnian ajaran agama Islam. Sejak perubahan filosofi pemurnian
itulah, Zaman Keemasan Islam mengalami kemunduran drastis, sehingga jarang
sekali menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti pada abad 9-11 silam.3 Dan
faktor lain yang turut mendorong runtuhnya era emas ini adalah serbuan dari bangsa
Mongol yang akhirnya meluluhlantakkan Baghdad bersama dengan perpustakaan
sekaligus

pusat

ilmu

pengetahuan

paling

lengkap

saat

itu, Bayt

Al

Hikmah. Penghancuran ini sering dianggap sebagai titik balik penurunan dunia Islam
di bidang pengetahuan. Untungnya, ratusan ribu manuskrip dari Bayt Al Hikmah
sempat diselamatkan oleh Al-Tusi ke Observatorium Maragheh, Azerbaijan yang
kemudian menjadi sumber referensi dan inspirasi para ilmuwan Eropa pada zaman
Renaissance dan Enlightenment.4
Kini, generasi sekarang dituntut untuk berwawasan luas dan banyak yang
mengenyam pendidikan ke jenjang yang tinggi. Banyak cendekiawan-cendekiawan
terlahir dari bangku perguruan tinggi, baik yang berasal dari muslim maupun nonmuslim. Hal ini dapat menjadi berita baik dan menjadi berita buruk. Berita baiknya,
masih ada peluang bagi Islam untuk bangkit dan mengulang kembali masa keemasan
peradaban Islam. Namun berita buruknya, tidak jarang cendekiawan-cendekiawan
muslim saat ini tergiur dengan hal-hal duniawi dan melupakan hal-hal yang
bersifat keagamaan, bahkan tidak segan menggunakan ilmunya untuk kepentingan
kelompok dan diri sendiri, sehingga tidak jarang malah menimbulkan kerugian untuk
orang lain.
Sebagai calon cendekiawan muslim masa depan, saya ingin menjadi seorang
cendekiawan yang memberikan berkontribusi positif pada perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi secara islami. Hal yang saya lakukan untuk
mewujudkannya untuk skala terkecil dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, dengan
memperkaya keilmuan sesuai dengan program studi yang saya tempuh diiringi
dengan pendalaman ilmu agama. Dengan memperkaya diri dengan ilmu kefarmasian
dan mendalami ilmu agama, harapannya pada kemudian hari saya dapat menjadi
seorang apoteker yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar dan mampu
mengamalkan apa yang telah saya peroleh dari pendidikan. Idealnya dilakukan secara
berimbang dan tidak berat sebelah, karena tidak akan didapatkan hasil yang
maksimal. Apabila hanya memberatkan pada ilmu keduniaan tanpa memperhatikan
aspek keagamaan (dalam hal ini ilmu kefarmasian), maka akan terlahir manusia yang
3

Aslim,2014, tersedia dalam https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-islam-ilmu-pengetahuan


diakses 16 Januari 2016.
Ibid.

hanya mementingkan materi dan bisa saja saya melakukan segala macam cara untuk
menghalalkan ambisi saya tanpa memperdulikan resiko ke depannya untuk diri
sendiri dan orang lain.
Dan untuk skala besar, melalui bidang kesehatan ini saya ingin mengabdikan
diri ke masyarakat sebagai tenaga medis yang tidak memilih-milih dan tidak
setengah-setengah dalam menjalankan tugas. Sesuai dengan semangat para
cendekiawan terdahulu yang tidak setengah-setengah dalam mengerjakan karyanya
sehingga dapat menghantarkan peradaban Islam ke masa jayanya, saya ingin
mencontoh mereka walaupun hanya dalam skala kecil. Dalam menjalankan misi ini
tentunya dilakukan secara islami dan berimbang, namun sesuai kaidah dan etika yang
ada di masyarakat supaya tidak terjadi pergesekan antar masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2002. The Canon of Medicine.
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Canon_of_Medicine . Diakses pada
tanggal 16 Januari 2016.
Direktorat Jendral Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. http://kbbi.web.id/cendekiawan . Diakses pada tanggal
16 Januari 2016.
Aslim, Faisal. 2014. Peran Peradaban Islam dalam Perkembangan Ilmu
Pengetahuan. https://www.zenius.net/blog/6100/sejarah-islam-ilmupengetahuan. Diakses pada tanggal 16 Januari 2016.
Haryanto,A.G.,dkk1. 2000. Metodologi Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah:Buku
Ajar untuk Mahasiswa.Jakarta: EGC.
Haryanto,A.G.,dkk2. 2000. Metodologi Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah:Buku
Ajar untuk Mahasiswa.Jakarta: EGC.