Anda di halaman 1dari 5

Aliran subkritis dan superkritis (subcritical and supercritical flows)

Untuk membedakan jenis aliran pada klasifikasi ini sering digunakanAngka Froude. Angka
Froude diperoleh melalui persamaan dibawah ini dan merupakan bilangan tak berdimensi,

: kecepatan rerata tampang

: percepatan gravitasi

: kedalaman aliran

penyebut pada persamaan diatas merupakan persamaan dari kecepatan rambat gelombang
(celerity). Setelah mendapatkan Angka Froude, penentuan jenis aliran melalui rentang berikut,
F < 1, aliran sub-kritik
F > 1, aliran super-kritik
F = 1, aliran kritik

Pengaruh akibat gravitasi

Dinyatakan dengan bilangan Froude (Froude Number), yaitu perbandingan antara gaya
inersia dengan gaya gravitasi.
Rumus :

v
(gL)
F=

v
(gD )
atau

F=

= Bilangan Froude

= Kecepatan

= Gravitasi bumi (9.81 m/dt2)

aliran rata-rata (m/dt)

= Panjang karakteristik (m), untuk saluran terbuka L adalah sama


dengan kedalaman hidraulik D yaitu perbandingan antara luas
penampang aliran A (m2) dengan lebar permukaan atas T (m).

D = Kedalaman hidraulik (m)


D = A/T
Berdasarkan Bilangan Froude kondisi aliran digolongkan menjadi :

Aliran Sub Kritis

terjadi jika bilangan Froude F < 1

Aliran Kritis

terjadi jika bilangan Froude F = 1

Aliran Super Kritis

: terjadi jika bilangan Froude F > 1

Kombinasi dari pengaruh kekentalan dan gravitasi akan menyebabkan suatu kondisi aliran
tertentu seperti :

Laminar Sub Kritis (Subcritical-laminar) :

Laminar Super Kritis (Supercritical-laminar)

F<1 dan bila Re 500.


:

F>1 dan bila Re

500.

Turbulen Sub Kritis (Subcritical-turbulen) :

F<1 dan bila Re

2000

Turbulen Super Kritis (Supercritical-turbulen) :

F>1 dan bila Re

2000
Kondisi aliran di atas bisa dinyatakan dalam suatu grafik hubungan antara
kedalaman aliran, kecepatan dan bilangan Froude F serta bilangan Reynolds Re.

Tipe aliran dalam fluida dapat dibedakan menjadi beberapa macam


aliran. Sebagai contoh, aliran tunak (steady) atau tak tunak (unsteady),
seragam (uniform) atau tak seragam (non-uniform), termampatkan (compressible)
atau tak termampatkan (incompressible), dan subkritis (sub critical) atau
superkritis (supercritical).
Aliran dikatakan tunak (steady flow) jika kecepatan (v) tidak berubah
(constant) selama selang waktu tertentu, sehingga akan berlaku:

dan apabila kecepatan aliran selalu berubah selama selang waktu tertentu,
maka dikatakan aliran tak tunak (unsteady flow), sebagai contoh, aliran banjir atau
pasang surut, sehingga akan berlaku:

Aliran dikatakan seragam (uniform flow) jika kedalaman aliran pada setiap
penampang saluran adalah tetap dan jika kedalamannya selalu berubah, maka
dikatakan aliran tidak seragam (non-uniform flow) atau aliran berubah
(varied flow).
Aliran seragam dapat dibedakan lagi menjadi aliran seragam tunak (steadyuniform
flow) jika kedalaman dan kecepatan alirannya tetap sepanjang saluran.

dan apabila kedalaman alirannya tetap tetapi kecepatan alirannya selalu berubah
sepanjang saluran, maka dikatakan aliran seragam tak tunak (unsteady
uniform flow), ini tidak mungkin terjadi.

Aliran tak seragam atau berubah juga dapat dibedakan lagi menjadi aliran berubah
tunak (steady varied flow), yaitu jika kedalaman aliran tidak tetap tetapi kecepatan
alirannya tetap.

dan apabila kedalaman maupun kecepatan alirannya selalu berubah sepanjang


saluran, maka dikatakan aliran berubah tak tunak (unsteady varied flow).

Aliran tak seragam atau berubah dapat juga dibedakan menjadi aliran berubah tibatiba ( rapidly varied flow), yaitu jika kedalaman aliran mendadak berubah pada
jarak yang cukup pendek, misalnya aliran yang melewati mercu, bending atau
terjunan. Apabila kedalaman aliran berubah pada jarak yang cukup panjang, maka
dikatakan aliran berubah lambat laun ( gradually varied flow).
Aliran dikatakan termampatkan (compressible flow), jika aliran tersebut
mengalami perubahan volume bila diberikan tekanan, dan sebaliknya jika tidak
mengalami perubahan volume, dikatakan aliran tersebut taktermampatkan
(uncompressible flow).
Jenis aliran berdasarkan besarnya bilangan Froude (F), dapat dibedakan
menjadi superkritis (supercritical flow), subkritis (sub critical flow) atau kritis
(critical flow).

di mana:
n = kecepatan aliran (m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
y = kedalaman aliran (m)
a = koefesien energi
jika > 1 r F dikatakan alirannya superkritis, < 1 r F dikatakan aliran subkritis,
dan jika = 1 r F dikatakan aliran kritis. Aliran juga dapat diklasifikasikan menjadi
aliran satu dimensi (onedimensional flow), dua dimensi (two-dimensional flow)
atau tiga dimensi (threedimensional flow), tergantung dari bilangan gradien
kecepatan yang ada. Aliran satu dimensi adalah aliran dimana seluruh fluida dan
parameter alirannya diasumsikan tetap terhadap penampang normal aliran, dan
hanya ada satu gradient kecepatan, yaitu dalam arah aliran. Di dalam kenyataannya,
tidak ada aliran satu dimensi karena adanya beberapa pembatas. Namun demikian,
aliran pada sungai dapat didekati dengan aliran satu dimensi (1-D flow). Aliran dua
dimensi adalah aliran dimana dibedakan dalam beberapa bidang secara paralel,
horisontal atau vertikal (2-DH atau 2-DV). Aliran dua dimensi memiliki dua gradien
kecepatan.
Aliran tiga dimensi adalah aliran dimana parameter alirannya berubah dalam
tiga dimensi, sehingga gradien parameter alirannya terdapat dalam tiga arah.