Anda di halaman 1dari 59

TEKNIK PENGECATAN KENDARAAN

A. Pengertian Pengecatan Kendaraan


Pengecatan (painting) adalah suatu proses aplikasi cat
dalam bentuk cair pada sebuah obyek, untuk membuat
lapisan tipis yang kemudian, untuk membentuk lapisan
yang keras atau lapisan cat. (Herminanto Sofyan, tth: 38).
Jadi

pengecatan

mempunyai

fungsi

masing-masing

tergantung dari tujuan dari pembuatan bahan cat yang


digunakan, sebagai contoh cat primer dibuat oleh pabrik
difungsikan khusus sebagai pelindung metal atau pelat,
sedangkan cat warna dikhususkan untuk menambah nilai
estetika. Pada kendaraan baru, lapisan primer terdiri dari
EPOXY PRIMER yang diaplikasikan dengan proses Electro
Deposition (ED). Tujuan lain dari pengecatan adalah warna
cat untuk identitas suatu kendaraan, misal mobil polisi dan
mobil ambulan

mempunyai

warna

cat

yang

khusus

berbeda dengan mobil-mobil lainnya. Cat berupa cairan


yang kental, cat terdiri dari beberapa komponen yaitu
resin, pigment, solvent, dan bahan tambah lainnya. Cat
biasanya

dilarutkan

dengan

thinner,

agar

mudah

penggunaannya, dalam hal cat tipe dua komponen cat


ditambahkan dengan hardener. Seperti dijelaskan diatas,
pada dasarnya tiga lapisan pelindung diberikan pada
kendaraan baru untuk meyakinkan kualitas catnya secara
keseluruhan. Untuk itu, selama proses pengecatan ulang
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

jika ada lembaran logam yang terbuka ke udara harus


diutupi

dengan

primer

untuk

mencegah

karat

dan

meningkatkan daya rekat. Tanpa lapisan primer maka


apabila

tetap

dilakukan

pengecatan

akan

berdampak

timbulnya blister atau karat pada lapisan logam.

Gambar 1. Pengecatan lapisan primer/dasar pada pintu


kendaraan

B. Komponen Cat
Cat

tipe

komponen

biasanya

dicampur

dengan

hardener sebagai pelekat antar molekul di dalam resin,


thinner sebagai pengencer, maka dalam sub-bab ini
akan dibahas tentang komponen cat, hardener dan
thinner. Cat memiliki beberapa komponen yaitu:
1. Resin
Resin adalah unsur utama cat yang berbentuk
cairan kental yang dapat membentuk lapisan yang
padat dan transparan yang membentuk film atau
lapisan

setelah

diaplikasi

pada

suatu

obyek

dan

mengering. Kandungan resin mempunyai pengaruh


langsung

pada

kemampuan cat seperti misalnya:

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

kekerasan, ketahanan solvent serta ketahanan cuaca.


Demikian

pula

berpengaruh

atas

kualitas

akhir

misalnya tekstur, kilap (gloss), daya rekat suatu cat,


serta

kemudahan

penggunaan

diantaranya

waktu

pengeringan.
Resin yang digunakan pada cat, secara garis besar
terbagi menjadi tipe-tipe sebagai berikut,
Klasifikasi menurut material :
a. Resin

Netral,

diekstrak

terutama

dari

tumbuh-

tumbuhan, digunakan untuk membuat vernish dan


lacquer.
b. Resin Sintetik, resin buatan manusia, karena tersedia
dalam jumlah banyak, maka cat modern sebagian
besar dibuat dari resin sintetik
Klasifikasi menurut tipe lapisan (film) :
a. Thermoplastik
resin

Resin,

pengerasan

thermoplastic

adalah melalui penguapan solvent, tanpa

melibatkan reaksi kimia. Apabila dipanaskan, maka


akan

menjadi

lunak

dan

akhirnya

mencair.

Thermoplastic resin sangat fleksibel dan sangat


mudah larut dalam solvent.
b. Thermosetting

Resin,

thermosetting

resin

bila

dipanaskan akan mengeras melalui reaksi kimia.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

Apabila telah mengeras tidak akan melunak lagi


oleh pemanasan kembali.
2. Pigment
Pigment adalah zat pewarna yang tidak bercampur
dengan air, oli, atau solvent. Pigment tidak dapat
melekat pada obyek lain, akan tetapi

pigment dapat

melekat pada obyek lain apabila telah tercampur


dengan resin dan komponen lain dalam bentuk cat.
Pigment dibagi menjadi beberapa tipe yaitu (Anonim,
tth: 4):
a. Pigment warna, untuk menambah warna pada cat
dan meningkatkan daya sembunyi

(hiding power)

cat.
b. Pigment terang, menambah wana-warni metalik
pada coat.
c. Pigment
body

extender,

pada

menambah

kekuatan

dan

coat, meningkatkan viskositas dan

mencegah sedimentasi.
d. Pigment

pencegah

karat,

digunakan

pada

cat

dasar untuk mencegah karat.


e.

Pigment

fatting,

digunakan

untuk

mengurangi kilap pada coat.


Pigment

ini

dicampur

dengan

cat

apabila

dikehendaki kurang kilap.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

Gambar 2. Pigment Warna dan kombinasi warna sebagai


subtractive

3. Zat pengencer (Solvent/Thinner)


Solvent

adalah

suatu

cairan

yang

dapat

melarutkan resin dan memungkinkan pencampuran


pigment dan resin dalam proses pembuatan cat.
(Herminanto Sofyan, tth: 41). Solvent dan thinner
adalah

sama-sama

zat

pengencer

atau

pelarut,

bedanya dengan thinner adalah solvent digunakan


ketika

dalam

pembuatan

cat

sedangkan

thinner

digunakan untuk menentukan tingkat kekentalan cat


sebelum

cat

tersebut

diaplikasikan.

Menurut

Herminanto Sofyan (tth: 41) komponen pembentuk


solvent meliputi :
a)

Diluent,

merupakan

larutan

yang

membantu

melarutkan resin lacquer.


b)

Laten solvent, juga digunakan untuk mencampur


pelarut

yang baik, hasilnya sama dengan pelarut

yang berkualitas baik.


c)

Solvent

murni,

adalah

larutan

yang

mampu

melarutkan sesuatu yang mengakibatkan cairan


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

tersebut masuk ke dalam larutan. Solvent murni


melarutkan bahan residu dan binder.

Gambar 3. Thiner / Solvent dalam pengecatan

4. Additives
Terdiri dari bermacam-macam bahan kimia yang
masing-masing mempunyai
berbeda-beda,

sifat

ditambahkan

dan

fungsi

sesuai

yang

dengan

keperluannya untuk melengkapi sifat-sifat ketahanan


cat. (Kir Haryana, 1997: 40). Beberapa fungsi aditives
yang ditambahkan pada cat adalah menambah daya
lentur/daya

alir,

membantu

penyebaran

pigment,

mencegah terjadinya buih pada saat penyemprotan,


mencegah

timbulnya

kantong

udara

menimbulkan

kesan tekstur, meningkatkan kilap, dll.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

Gambar 4. Basic Additive dari Spies Hecker no seri 9050

A)Hardener
Pada cat tipe dua komponen maka ada hardener yang
harus

ditambahkan.

komponen

utama

Hardener
cat

dua

ditambahkan

komponen,

pada

hardener

bereaksi dengan molekul dari komponen utama untuk


membentuk molekul yang lebih besar. (Anonim, tth:
6).
C. Daya Sebar
Daya sebar dihitung berdasarkan isi kepadatan cat dan
ketebalan cat yang diinginkan dalam satuan mikron. Isi
kepadatan cat ditentukan oleh banyaknya kandungan
pigment dan

resin dalam

cat

tersebut. (Herminarto

Sofyan,tth: 71). Misalnya, cat dengan isi kepadatan 75%


berarti dalam 1 liter (1000cc) cat tersebut mengandung
750 cc pigment dan resin. Jika ketebalan yang diinginkan
cat setelah cat mengering adalah 40 micron, maka daya
sebar cat secara teoritis dapat dihitung sebagai berikut:
cc kepadatan cat
Ketebalan kering dalam
mikron

= (750 cc/ 40 micron)


=18,7 m2/ lt

Berarti daya sebar cat tersebut secara teoritis adalah 18,75


m2 dalam satu liter, jadi jika satu liter cat tersebut
disemprotkan dalam suatu bidang akan menjangkau 18,75
m2. Sering kali dijumpai cc kepadatan cat tersebut tidak
dicantumkan

dalam

data

sheet

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

oleh

pihak

pembuat
7

cat

tetapi langsung daya sebar. Dalam sebuah contoh

soal menjelaskan bahwa jika diketahui daya sebar cat 20


m2/lt, luasan kendaraan yang akan di cat 31,2 m2 dan
overlapping menggunakan , maka kebutuhan cat tersebut
adalah :

Luasan bidang
(m2)

= 31,2 / (20 x 0,5)


= 3,12 Lt cat

Daya sebar x

Dengan data-data tersebut maka dalam penggunaan


overlaping

cat

akan

pengecatan

lebih
daya

efisiens
sebar

karena
cat

sebelum

dapat

melakukan

dihitung

untuk

mengetahui luas jangkauan cat tersebut dan dengan daya


sebar cat akan dapat menghitung kebutuhan cat yang
akan digunakan. Walaupun dalam prakteknya daya sebar
tidak seperti perhitungan yang telah dilakukan, karena hal
tersebut banyak faktor yang mempengaruhi seperti media
aplikasi yang digunakan (apakah dengan semprot, rol atau
kwas), jika dengan semprot maka penyetelan spray gun
juga berpengaruh, dan orang yang melakukan pengacatan
(biasanya

orang

yang

belum

berpengalaman

dalam

pengecatan akan lebih boros cat) dan lain-lain. Jadi dengan


faktor-faktor tersebut kemungkinan penggunaan cat bisa
lebih boros.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

Tabel 1. Daya Sebar Cat


No
1
2
3
4

CAT
EPOXY PRIMER
EPOXY SURFACER
CAT
WARNA/TOP
COAT
CLEAR COAT

DAYA SEBAR
4,8 m2/Lt
13 m2/Lt
10 m2/Lt

SUMBER
Spies Hecker
Spies Hecker
Spies Hecker

6,6 m2

Spies Hecker

C. Peralatan Pengecatan
Pengecatan memerlukan peralatan pendukung untuk
membantu

dalam menyelesaikannya. Peralatan yang

dimaksud adalah:
C1.

Blok Tangan
Blok tangan atau hand block adalah alat bantu untuk

mengamplas di mana amplas ditempelkan dan digunakan


untuk

pengamplasan

manual

agar

permukaan

pengamplasan rata. Terdapat dalam berbagai ukuran,


bentuk, material, dan dapat dipilih sesuai dengan area dan
bentuknya.

Gambar 5. Blok Tangan

C2. Sikat Kawat Baja


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

Sikat

berfungsi

untuk

membersihkan

permukaan

benda kerja dari karat atau setelah pekerjaan mengikir,


mengelas, menyekrap dan sebagainya. (Gunadi, 2008:
102). Sikat kawat pada proyek akhir ini digunakan untuk
membersihkan pelat dari karat.

Gambar 6. Sikat Kawat baja

C3. Jidar
Berfungsi

untuk

meratakan

dempul

yang

telah

dioleskan pada permukaan yang lebar, membantu dalam


pembuatan membuat nut dan juga digunakan untuk
memeriksa kerataan permukaan. Jidar terbuat dari fiber,
plastik atau plat besi.
C4. Kompresor
Kompresor

berfungsi

untuk

menghasilkan

udara

bertekanan yang digunakan untuk penyemprotan cat.


Sebelum kompresor digunakan, kompresor harus dikuras
terlebih dahulu untuk menghilangkan air yang terdapat
pada

tangki

pengecatan

kompresor.
adalah

Tekanan
6

kg/cm2.

digunakan minimal dengan daya


tekanan kerja udara

kerja

udara

Kompresor

untuk
yang

1 HP karena ketentuan

dalam pengecatan 5 6 kg/cm2

sehingga membutuhkan tekanan dalam tabung yang lebih


tinggi dari 6 kg/cm2, hal ini bertujuan agar pada waktu
penyemprotan cat berlangsung tekanan udara tetap stabil
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

10

karena jika setelan spray gun sudah tepat dan dengan


tekanan kerja udara 5 6 kg/cm2 ketika penyemprotan cat
sedang berlangsung mendadak tekanan udara berkurang
dari

kg/cm2,

maka

hasil

atomisasi

kurang

baik

mengakibatkan cat yang disemprotkan berlebih dan akan


mengalir ke bawah (meleleh). Jadi ketika tekanan udara
berkurang mendekati 6 kg/cm2, kompresor secara otomatis
bekerja kembali untuk mengisi udara bertekanan dalam
tabung sehingga tekanan kerja dapat stabil 5 6 kg/cm2.

Gambar 7. Kompresor 2 piston dengan tenaga 2 Pk

C5. Selang Udara


Selang udara berfungsi untuk menyalurkan udara
bertekanan selama kompresor digunakan. Selang udara
yang biasa digunakan adalah selang udara fleksibel dan
selang udara biasa.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

11

Gambar 8. Selang Udara

C6. Water sedimenter


Water sedimenter adalah alat yang berfungsi

untuk

mengendapkan uap air karena udara di dalam ruang cat


tidak

boleh

terkandung

air.

Water

sedimenter

ini

merupakan alat pendukung yang harus ada pada ruang cat


atau oven.

Gambar 9. Water sedimenter

C7. Air drier


Alat
bertujuan

yang
agar

berfungsi
air

untuk

yang

mengeringkan

terkandung

dalam

udara,
udara

berkurang. Biasanya air drier dihidupkan sebelum ruang


cat digunakan supaya udara di dalam ruang cat kering. Air
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

12

drier ini juga merupakan alat pendukung yang harus ada


pada ruang cat atau oven.

Gambar 10. Air drier (Anonim, 2010)

C8. Regulator
Regulator adalah alat yang berfungsi untuk mengatur
tekanan kerja udara pada kompresor. Regulator biasanya
dilengkapi dengan penunjuk tekanan kerja.

Gambar 11. Regulator

C9. Ruang Pengecatan


Ruang pengecatan adalah ruang di mana proses
pengecatan itu dilakukan, ruang pengecatan ini biasanya
dilengkapi

dengan

water

sedimenter,

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

air

drier,

dan
13

kompresor beserta perlengkapannya (termasuk regulator


dan selang udara).

Ruang
Oven/Pemanas

Ruang Spray
Booth

Gambar 12. Ruang pengecatan biasa dan oven

C10. Spray Gun


Spray gun adalah alat untuk menyemprotkan cat
yang

mempergunakan

mengatomisasi

cat

udara

untuk

bertekanan

disemprotkan

pada

untuk
suatu

permukaan. Sacara garis besar terdapat tiga jenis spray


gun yaitu tipe umpan berat (gravity-feed), tipe umpan
hisap (suction- feed), dan tipe tekanan (compression).
Spray gun yang paling sering digunakan dalam dunia
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

14

perbengkelan cat adalah spray gun tipe umpan berat


(gravity-feed)

dan

tipe

umpan

hisap

(suction-feed)

karena lebih sesuai dengan obyek kerja yang tidak terlalu


luas seperti mobil, mini bus dll, sedangkan untuk spray gun
tipe tekanan (compression) biasanya digunakan

pada

pabrik otomotif pembuat mobil yang mengggunakannya


secara terus menerus.

Tipe Gravity

Tipe Suction /
Hisap

Gambar 13. Spray Gun

a. Cara memegang spray gun


Agar pengecatan bisa berjalan dengan baik tanpa
mengalami kelelahan dalam memegang spray gun, maka
harus diketahui cara memegang spray gun yang benar.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

15

Gambar 14. Cara memegang spray gun (Anonim, tth: 7)

Memegang
spray

spray

gunditahan

gun

harus

dengan

dengan

ibu

jari,

sikap

rileks,

telunjuk

dan

kelingking, sedangkan trigger ditarik dengan jari tengah


dan jari manis, seperti pada gambar 13.
b. Cara menggerakkan spray gun
Supaya hasil akhir penyemprotan baik, perlu diketahui
juga tentang cara menggerakkan spray gun yang benar.
Hal

penting tentang cara menggerakkan spray gun

adalah :
1) Jarak spray gun
Bila jarak spray gun terlalu dekat dengan permukaan yang
dicat, akan berakibat cat yang teraplikasikan terlalu banyak
sehingga akan membentuk lapisan yang lebih tebal dan
bisa meleleh. Sebaliknya jika jarak spray gun terlalu dekat
dengan permukaan

yang

dicat

maka

hasilnya

akan

menjadi kasar dan tipis. Jarak ideal menggunakan spray


gun ditentukan oleh tipe cat, spray gun, dan metode
pengecatan yang digunakan. Untuk warna solid biasanya
jarak yang ideal adalah 100 mm sampai 200 mm.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

16

Gambar 15. Jarak spray gun (Herminarto Sofyan, tth: 66)

2) Sudut spray gun


Dalam melakukan penyemprotan cat posisi badan harus
diposisikan

sejajar

dengan

benda

kerja

baik

itu

melengkung ataupun sejajar. Spray gun harus dipegang


agak lurus secara konsisten, baik pada arah vertikal
maupun

horizontal

terhadap

permukaan

panel

agar

hasilnya rata.
3) Kecepatan langkah
Kecepatan

langkah

spray

gun

sangat

berpengaruh

terhadap hasil pengecetan, apabila langkah spray gun


terlalu cepat maka terjadi lapisan yang tipis, sebaliknya
apabila terlalu rendah maka akan terjadi lapisan yang tebal
dan bisa meleleh, sebaiknya kecepatan langkah spray gun
sama agar diperoleh lapisan yang rata.
4) Pola tumpang tindih/overlapping
Overlapping

adalah

suatu

teknik

pengecatan

pada

permukaan benda kerja, sehingga penyemprotan yang


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

17

pertama dan berikutnya akan menyambung, sehingga akan


memperoleh ketebalan lapisan yang merata dan tidak
menimbulkan cacat pengecatan. Lebar pola tumpang tindih
antara sampai 2/3 pola semprotan.

Gambar 16. Pola overlap (Anonim, tth: 10)

c.

Penyetelan spray gun


Sebelum spray gun digunakan maka, spray gun harus

disetel atau diatur terlebih dahulu untuk memperoleh hasil


semprotan yang baik. Berikut ini adalah gambar konstruksi
spray gun:

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

18

Gambar 17. Konstruksi spray gun (Anonim, tth: 3)

Ada tiga sekrup yang harus diatur atau disetel, yaitu:


1) Sekrup penyetel fluida
Untuk mengatur jumlah cat yang keluar maka sekrup
penyetel fluida harus diatur, untuk menambah jumlah
pengeluaran cat maka sekrup penyetel fluida harus
dikendorkan,

dan

untuk

mengurangi

harus

dikencangkan.

Fluid Adjustment
Screw

mengendork
an

Jumlah keluaran
cat

mengencangk
an

Gambar 18. Sekrup Penyetel Fluida

2) Sekrup penyetel fan spreader


Untuk mengatur pola semprotan maka sekrup penyetel
fan spreader harus disetel, bila sekrup dikencangkan
maka pola semprotan akan menjadi lebih bulat. Dan jika
sekrup dikendorkan maka pola semprotan akan menjadi
oval.
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

19

Sekrup Penyetel Fan


Spreader

Mengendorkan Menyetel lebar pola


Mengencangkan

Gambar 19. Sekrup penyetel fan spreader

3) Sekrup Penyetel Udara


Untuk menyetel tekanan udara pada spray gun, maka
harus memutar baut penyetel udara pada spray gun.
Bila baut dikendorkan

maka

tekanan

udaranya

bertambah, jika dikencangkan maka tekanan udaranya


berkurang.

Sekrup Penyetel
Udara

Mengendorkan
Mengencangkan

Menyetel lebar pola

Gambar 20. Sekrup Penyetel Udara

d. Cara membersihkan spray gun


Setelah

menggunakan spray

gun,

baik

itu

untuk

pengaplikasian surfacer maupun cat warna harus segera


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

20

dibersihkan, hal ini dilakukan agar


tersumbat,

saluran

cat

tidak

caranya membersihkannya adalah sebagai

berikut:
1) Sisa cat yang masih tertinggal di dalam paint cup
dikeluarkan dengan cara menarik trigger.
2) Menguras paint cup dengan menuangkan thinner ke
dalam paint cup kemudian semprotkan thinner beberapa
kali.
3) Menyiapkan kain lap di

depan air cap, dan tarik

trigger untuk membilas spray gun menggunakan udara


kompresor.
4) Membersihkan paint cup dengan sikat bulu.
5) Mengulangi step 2, 3, dan 4 beberapa kali sampai
thinner jernih. Kemudian bersihkan spray gun dengan
menggunakan sikat bulu.
6) Melepaskan air cap dan bersihkan fuid tip menggunakan
sikat bulu. Jika air cap dan fuid tip terlalu kotor, maka
bagian ini dapat direndam ke dalam thinner untuk
beberapa saat baru dicuci dengan sikat bulu.
e. Standar penyemprotan spray gun
Menurut penjelasan dari Herminarto Sofyan (tth: 34)
tentang standar sirkulasi pengecatan (paint circulaiton)
dan operasi spray gun adalah:
PAINT CIRCULATION :
a)

Tekanan Udara/ kerja

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

5-6Kg/cm2
21

b)

Tekanan Cat

c)

Fluid

1,5-6 Kg/cm2
400-500 cc/menit

OPERASI PRAY GUN :


a)

Jarak Penyemprotan : 25-30 cm

b)

Penyebaran cat :

25-30 cm

c)

Arah semprot

Tegak lurus 90o

d)

Kecepatan ayun

1 m/ detik

e)

Overlapping

1/3-1/2

f)

Flash off time

minimal 2 menit disesuaiakan

dengan thiner

C11.Air Duster Gun


Digunakan untuk membersihkan permukaan benda
kerja dari debu cat dan kotoran-kotoran yang menempel
dipermukaan dengan cara meniupkan udara bertekanan
kepermukaan benda kerja.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

22

Gambar 21. Air Duster Gun (Anonim, tth: 15)

C12. Spatula
Spatula digunakan untuk mencampur dempul dan
untuk

mengaplikasikannya

kepermukaan

benda

kerja.

Spatula biasannya terbuat dari pelat, plastik, kayu atau


karet. Setelah spatula dipergunakan spatula langsung
dibersihkan karena jika tidak sisa dempul yang tertinggal
akan mengeras dan sulit untuk dibersihkan.

Gambar 22. Spatula

C13. Tempat Pencampur


Digunakan untuk mencampur cat dengan thinner atau
hardener. Terbuat dari plastik atau kaleng, untuk mengecat
mobil

dibutuhkan

menampung

tempat

minimal

pencampur

liter

cat.

yang

Setelah

dapat

digunakan

sebaiknya tempat pencampur langsung dibersihkan.


C14. Strainer
Strainer atau kain saring digunakan untuk menyaring
cat sebelum cat tersebut

dicampur

kedalam

tempat

pencampur. Saringan yang digunakan terbuat dari kain


tipis atau bisa juga kain majun yang berpori tidak rapat.
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

23

Gambar 23. Kain saring

C15. Batang Pengaduk (agitating rod)


Agitating rod digunakan untuk mencampur putty atau
surfacer, untuk membentuk suatu kekentalan yang merata
dan juga untuk membantu mengeluarkannya dari

dalam

kaleng. (Herminanto Sofyan, tth: 27). Batang pengaduk


terbuat dari kayu atau metal

dan beberapa diantaranya

memiliki skala untuk mengukur perbandingan thinner atau


hardener.

Gambar 24. Batang pengaduk

C16. Mixing Plate


Dipergunakan untuk mencampur dempul, terbuat dari
kayu, metal atau plastik. Pelat untuk mencampur dempul
sebaiknya lebih lebar dari spatula yang digunakan agar
lebih mudah dalam mencampurnya.
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

24

C17. Kertas Masking


Kertas yang digunakan untuk menutup bagian-bagian
mobil sebelum dilakukan penyemprotan seperti kaca pintu,
kaca depan dan belakang dan bagian-bagian lain yang
tidak dikerjakan.
C18. Tack Cloth
Tack cloth adalah material anyaman yang dicelup ke
dalam adhesive varnish. (Anonim, tth: 22). Tack cloth
digunakan

untuk

menghilangkan

debu,

kotoran

dan

partikel amplasan.
C19. Paint Hanger
Paint

Hanger

adalah

alat

yang

digunakan

untuk

menggantung komponen atau part supaya mudah untuk


menyemprotnya. Biasanya digunakan untuk mengecat kap
mesin, pintu, bumper, dan komponen yang dapat dilepas
lainnya.
C20. Ruang cat
Ruang cat adalah ruang khusus pengecatan yang
mempunyai sirkulasi udara yang baik dan didesain agar
bebas dari debu atau kotoran-kotoran lain yang dapat
menempel saat penyemprotan cat berlangsung sehingga
cat yang dihasilkan tidak ada cacat karena debu atau
kotoran yang menempel.
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

25

C21. Ruang Pemanas (oven)


Ruang oven adalalah ruang tertutup yang berfungsi
sebagai ruang pengering paksa dengan suhu yang dapat
disesuaikan dengan jenis cat yang digunakan

untuk

mempercepat proses pengeringan cat. Sumber panas


oven

berasal

dari

pembakaran

bahan

bakar

yang

disalurkan lewat saluran- saluran tertentu sehingga panas


di dalam ruang merata atau panas dari beberapa lampu
pijar yang dipasang di dalam ruangan. (Gunadi, 2008).
Ruang oven biasanya dilengkapi dengan water sedimenter,
air drier dan pemanas. Udara yang akan masuk ke ruang
oven pertama melelui water sedimenter, di sini kandungan
air dalam udara akan diendapkan kemudian melalui air
drier, pada air drier ini udara akan dikeringkan baru setelah
melalui tahap tersebut udara masuk ke ruang oven.

D. Bahan-bahan Pengecatan
Bahan pengecatan merupakan salah satu faktor yang
menentukan hasil pengecatan yang baik.
1. Cat primer
Digunakan pada lapisan bawah yaitu pada pelat body
bertujuan untuk mencegah karat dan meratakan daya lekat
antar lapisan pelat body dengan lapisan berikut. Cat primer

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

26

ini tidak memerlukan pengamplasan dan lapisan primer


ini tipis.
2. Dempul
Putty adalah lapisan dasar (under coat) seperti part,
digunakan

untuk

mengisi

bagian

yang

penyok

dan

membuat permukaan halus. (Anonim, tth: 3). Pengolesan


dempul

menggunakann

pengmplasan

untuk

spatula

dan

menghaluskannya.

dilakukan

Dempul

yang

digunakan berbeda- beda tergantung besar penyok yang


harus diisi dan bahan yang digunakan, berikut ini adalah
tipe-tipe dempul:
a. Polyester putty
Terbuat dari polyester resin tidak jenuh, merupakan
putty tipe dua-komponen
peroxide

yang

menggunakan

organic

sebagai hardener, pada umumnya putty ini

mengandung extender pigment dan dapat digunakan untuk


membentuk

lapisan

yang

tebal

dan

mudah

mengamplasnya, tetapi menghasilkan tekstur kasar.

b. Epoxy putty
Terdiri dari epoxy resin, merupakan putty tipe duakomponen yang menggunakan anime sebagai hardener.
Oleh karena sangat baiknya ketahanan karat dan adhesi
terhadap berbagai material dasar, maka epoxy putty sering
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

27

digunakan untuk memperbaiki resin part. Dalam

hal

pengeringan, pembentukan, pengamplasan material ini


lebih buruk dari polyester putty.
c.

Lacquer putty
Ini adalah putty satu komponen, yang utama terbuat

dari nitrocellulose dan alkyd atau acrylic resin. Digunakan


untuk mengisi goresan, lubang kecil atau penyok kecil
yang masih tertinggal setelah penggunaan surfacer.

Gambar 25. Lacquer putty

d. Amplas
Amplas berfungsi untuk menghaluskan permukaan
dengan cara digosokkan,

halus

dan

kasarnya

kertas

amplas ditunjukkan oleh angka yang tercantum di balik


kertas amplas tersebut. (Herminarto Sofyan, tth:21).
Semakin

besar

angka

yang

tercantum

pada

kertas

amplas tersebut maka semakin halus amplasnya, misalnya


grit #2000 berarti dalam 1cm2 terdapat 2000 biji material
abrasif. Amplas digunakan dalam pekerjaan perbaikan

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

28

body, persiapan permukaan dan pengamplasan cepat


pada cat warna atau top coat.

Gambar 26. Amplas

4. Surfacer
Surfacer adalah cat lapisan kedua yang disemprotkan di
atas primer, putty

atau

lapisan

dasar

(under

coat)

lainnya, karena memiliki sifat mengisi penyok kecil atau


goresan

kertas,

mencegah

meratakan adhesi di

penyerapan

top-coat,

dan

antara under-coat dan top-coat.

Apabila digunakan dengan kombinasi dengan primer yang


dijelaskan di atas, harus mengikuti petunjuk yang diberikan
oleh pabrik pembuatnya masing- masing.
4.1 Lacquer surfacer
Surfacer satu komponen ini digunakan secara luas
karena

kemudahannya

mengering,

akan

tetapi

digunakan

yaitu

dalam

pelapisannya,

hal

cepat

memiliki rate yang lebih rendah dari surfacer yang lain.


Bahan yang terkandung dalam surfacer ini adalah
nitrocellulose dan alkyd atau acrylic resin.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

29

4.2 Urethane surfacer


Surfacer
yang

tipe

ini

memberi

kemampuan

pelapisan

sangat baik, tetapi pada proses pegeringan

sangat lambat, memerlukan pengeringan


dengan

temperatur

60c

(140F).

paksa
Biasanya

dipahami bahwa semakin cepat surfacer mengering


semakin lemah kemampuan pelapisannya. Terbuat dari
poliyster, acylic dan alkyad resin, merupakan surfacer
dua komponen yang menggunakan polyisocyanate
sebagai hardener.
4.3 Thermosetting surfacer
Ini adalah surfacer tipe dua komponen, terutama
terbuat

dari

digunakan
pengecatan

melamine

sebagai

dan

primer

bake-finish.

akylik

resin,

yang

sebelum

penggunaan

Memerlukan

pengeringan

sampai 90 C sampai 120 C untuk memberikan


kemampuan pelapisan yang sama sebagaimana pada
mobil baru.
5. Cat Warna/ Top Coat
Peranan dari cat warna atau top coat adalah cat akhir
yang memberi warna, kilap, halus bersamaan dengan
meningkatkan kualitas serta menjamin keawetan kualitas
tersebut. Berdasarkan jenis cat dan proses pengecatan, cat
dapat digolongkan menjadi beberapa macam yaitu:
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

30

a. Cat bakar (Heat polymeriszation)


Tipe ini adalah cat tipe satu komponen, mengeras apabila
dipanaskan pada temperatur tinggi kira-kira 140C (248
F). Tipe ini banyak digunakan di pabrik perakitan otomotif,
tetapi jarang digunakan dalam pekerjaan repainting, karena
memerlukan backing equipment temperatur tinggi dan
melepas atau melindungi komponen plastik dan lain-lain.
Tipe-tipe cat bakar ini antara lain:
1) Thermosetting amino alkyd
Tipe ini mengandung alkyd dan melamine resin dan
sebagai komponen utama, digunakan untuk warna
solid. Cat ini memberikan kemampuan coating yang
sangat baik, termasuk kilap, keras, membangun dan
ketahanan solvent,
2) Thermosetting acrylic
Tipe ini mengandung acrylic dan melamine resin
sebagai

sebagai

komponen

utama

cat

tipe

ini

terutama digunakan warna metalik yang memerlukan


tembus pandang tingkat tinggi. Cat ini memberikan
kemampuan coating yang superior sebagaimana cat
thermosetting animo alkyd.
b. Cat kering udara
1) Cat nitro-celulloce

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

31

Cat ini disebut juga cat laquer atau cat solvent


evaporation, cat

ini

mengandung bahan

yang

disebut nitro celullose (NC). Disebut cat solvent


evaporation

karena

bersamaan

dengan

cat

ini

akan

pengencer

mengering

(solvent

atau

thinner). Cat nitro celullose mengering pada suhu


udara luar 250-300

C. Sifat cat NC ini adalah

sangat cepat kering dan bila diulaskan dengan baik


NC akan sangat megkilap, bagus dan mempunyai
daya tahan yang baik. (Kir Haryana, 1997: 44)
2) Cat sintetik
Cat ini juga disebut dengan cat sintetik enamel
karena memakai
Kepadatan

cat

zat
ini

perekat

dari

sintetik.

sangat tinggi, cukup 2 lapis

akan memberi kilap yang tinggi dan daya tutup


serta daya tahan yang baik. (Kir Haryana, 1997:
44)
c. Cat Dua Komponen
Cat ini mempunyai kemampuan coating yang sangat
baik, termasuk ketahan kilap, cuaca, solvent, serta tekstur
yang halus, tetapi cat ini mengeringnya lambat jika
dikeringkan
seharusnya

dengan
cat

menggunakan oven.

suhu
ini

udara

dikeringkan

normal
paksa

karena
dengan

Cat ini dapat kering dengan suhu

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

32

pengeringan paksa 600 C dalam waktu 30 menit, dan bisa


dipoles 2 jam setelah cat kering. Waktu 2 jam yang
diberikan dimaksudkan agar cat tersebut dingin.

6. Clear/gloss
Clear/gloss digunakan sebagai cat pernis akhir pada
pengecatan sistem dua lapis untuk memberikan daya kilap
dan daya tahan gores terhadap cat warna dasar metalik.
(Herminarto Sofyan, tth: 47).

Gambar 27. CLEAR

E. Peralatan Pengaman
1) Kacamata
Kacamata (goggles) berfungsi untuk melindungi mata dari
cat dan thinner, serta dari putty atau partikel metal yang
timbul pada saat pengamplasan.
Tth:

9).

Jika

tidak

(Herminanto

Sofyan,

memakai kacamata maka kotoran

yang berterbangan kemungkinan mengenai mata secara


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

33

langsung

mengakibatkan

ketidaknyamanan

dalam

penglihatan.

Gambar 28. Kacamata

2. Respirator
Terdapat dua tipe respirator yaitu respirator partikel dan
respirator masker gas.
a. Masker partikel
Masker partikel berguna untuk menyaring partikelpartikel kecil yang mungkin dapat masuk ke hidung,
seperti debu saat pengamplasan. Ada dua tipe masker
yaitu: tipe disposable dan tipe filter yang bisa diganti.
b. Masker gas
Masker gas adalah alat pelindung yang dirancang
untuk mencegah gas organik (udara yang bercampur
uap bahan pelarut organik), terhisap melalui mulut
atau hidung. (Herminanto Sofyan, tth: 10). Ada dua
tipe masker gas yaitu tipe air line dan tipe saringan.
Tipe air line memasok udara segar ke masker melewati
selang, sedangkan tipe saringan dilengkapi dengan
saringan

canister

untuk

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

menyerap

gas

organik.
34

Penggunaan masker gas ini sangat penting untuk


pekerjaan penyemprotan pengecatan

karena dengan

memakai masker gas pada saat penyemprotan cat, cat


tidak akan masuk ke saluran pernafasan.

Gambar 29. Masker gas tipe filter

3. Sarung tangan
Sarung
pada

tangan
saat

digunakan

menggunakan

untuk
sander

melindungi tangan
atau

pada

saat

mengangkat body part.


4. Sarung tangan tahan solvent
Sarung tangan ini digunakan untuk mencegah penyerapan
solvent ke dalam kulit, digunakan pada pekerjaan aplikasi
surfacer, cat warna, dan clear/gloss.

Gambar 30. Sarung tangan tahan solvent (Anonim, tth: 19)

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

35

5. Pakaian kerja dan topi paint technician


Berguna untuk melindungi

badan dari semprotan cat dan

debu, beberapa pakaian pelindung terbuat dari material


anti-static.

Gambar 31. Pakaian kerja dan topi paint technician

6. Sepatu pengaman
Sepatu ini dilengkapi dengan pelat metal yang terletak
pada ujung telapak kaki dan sol tebal untuk melindungi
kaki. Pelat berfungsi untuk melindungi ujung telapak kaki
dari

kemungkinan

tertimpa

benda

berat yang dapat

melukai.

Gambar 32. Sepatu pengaman

F. Persiapan Permukaan

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

36

Permukaan yang baik persiapannya akan menghasilkan


kualitas pengecatan yang maksimal, karena kagagalan
pengecatan dipengaruhi oleh persiapan permukaan yang
buruk.

(Herminarto

Sofyan,

tth:

52).

Kualitas

hasil

pengecatan salah satu faktornya tergantung dari persiapan


permukaan yang baik. Persiapan permukaan yang baik
bisa ditinjau dari kerataan, kehalusan, dan dengan tidak
adanya lemak, karat dan kotoran lain yang menempel.
Alasan

utama

dari

persiapan

permukaan

adalah

mencegah karat dan bintik- bintik, meratakan daya lekat


(adhesi) antar lapisan, memulihkan bentuk aslinya,dengan
mengisi bagian yang penyok dan goresan, dan mencegah
penyerapan

material

cat

yang

digunakan

pada

top-

coating. (Anonim, tth: 1). Berikut dijabarkan teori-teori


tentang material persiapan permukaan.
1. Aplikasi cat Primer
Cat primer adalah cat yang digunakan khusus untuk
mencegah karat pada pelat. Aplikasi cat primer biasanya
disemprotkan bisa juga dengan kuas. Jika daya sebar cat
primer adalah

4,8 m2/lt (Tabel 1), maka secara teoritis

kebutuhan cat primer dalam setiap luasan 1 m2 dan


dilakukan hanya satu kali pelapisan dan menggunakan
overlapping adalah sebagai berikut:
2. Aplikasi dempul

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

37

Dempul adalah cat dasar yang mengandung sangat


banyak pigment, jadi
padat.

(Kir

mengandung

Haryana,

1997:

lebih

banyak

zat

43). Dempul digunakan

untuk mengisi bagian yang penyok untuk membentuk


permukaan benda kerja sesuai bentuk permukaan body
aslinya. Dempul dapat dihaluskan dan disempurnakan
dibentuknya

dengan

menggunakan

amplas.

Terdapat

beberapa tipe dempul, tergantung kedalaman penyok yang


harus diisi dan material yang akan digunakan.
Dempul terdapat tiga jenis yaitu (1) polyester putty
(dempul plastik), pada umumnya mengandung extender
pigment dan dapat membentuk lapisan (coat) yang tebal
dan mudah mengamplasnya, tetapi menghasilkan tekstur
kasar, (2) epoxy putty, digunakan untuk memperbaiki resin
part,

tetapi

dalam

hal

kemampuan

pengeringan,

pembentukan, pengamplasan lebih buruk dari polyster, (3)


lacquer putty digunakan untuk mengisi goresan, lubang
kecil (paint hole) atau penyok kecil setelah surfacer.
(Herminarto Sofyan, Tth: 53-54). Proses pendempulan pada
suatu permukaan menggunakan polyester putty memelalui
beberapa tahapan, yaitu:
a. Mencampur dempul
Sebelum dempul dicampur, spatula dibersihkan terlebih
dahulu dari kotoran yang menempel. Dempul dicampur
dengan menambahkan 2%

hardener untuk tipe dempul

dua komponen, untuk tipe dempul satu komponen dapat


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

38

langsung diaplikasikan. Jika dalam mencampur dempul


hardener yang ditambahkan tepat (2%) maka dempul akan
cepat mengering.
b. Mengaplikasikan dempul
Setelah dempul dicampur dengan hardener dan dempul
siap digunakan, oleskan dempul untuk mengisi bagianbagian yang tidak rata.
c. Mengeringkan dempul
Menurut Herminarto Sofyan (tth: 54) cara mengeringkan
dempul adalah dibiarkan kering di udara selama 30 menit
atau dikeringkan dengan lampu infra merah pada suhu
50 C selama 10 menit.
d. Mengamplas dempul
Dempul

yang

menggunakan

sudah

amplas

kering

kering

diamplas

dengan

grit

dengan
#80,

dan

dilanjutkan dengan amplas basah grit #180 dan #240.


3. Masking
Masking

adalah

suatu

metode

perlindungan

yang

menggunakan adhesive tape atau kertas untuk menutup


suatu permukaan yang tidak akan dikerjakan. (Anonim,
tth:

1).

Masking

kendaraan
permukaan,

untuk

merupakan
mencegah

mencegah

proses

menutup

solvent

terkelupasanya

terkena
cat

bagian
pada
setelah

mengering, untuk mencegah pencemaran debu, untuk


mencegah adhesive didalam solvent merusak cat dan
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

39

mencegah tertinggalnya adhesive, oleh karena itu proses


masking harus baik.
Masking dapat diaplikasikan menurut area lapisan yang
akan dicat, area yang memisahkan bidang dicat dengan
bidang yang tidak dilakukan pengecatan disebut border
(batas).

Dalam

melakukan

masking

perlu

sekali

diperhatikan batasan-batasan yang akan dimasking. Batas


masking tersebut dapat didasarkan dari besarnya area
perbaikan dan kondisi cat yang lama. Hal ini untuk
menghindari terjadinya border yang nampak jelas. Border
yang baik tidak akan terlihat sama sekali oleh penglihatan
kita. Sebaliknya border yang salah akan nampak jelas
batas antara cat yang baru dan cat yang lama. Bahanbahan yang digunakan untuk prosedur masking adalah:
a. Kertas masking
Kertas masking yang digunakan untuk menutup bagian
yang tidak akan dicat. Kertas masking tersedia dalam
berbagai ukuran dan ketebalan.

Gambar 33. Kertas masking (Gunadi, 2008: 472)

b. Vynel sheet
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

40

Merupakan

material

vinyl

yang

sangat

tipis

yang

tersedia dalam ukuran yang lebar lebih besar dari


masking

paper.

Sangat

berguna

untuk

mencegah

overspray cat disekitar permukaan kerja.


c. Spesial masking cover
Special

masking

keseluruhan

kendaraan

cover
dan

berfungsi
hanya

menutup

memperlihatkan

(membuka) bagian yang akan dicat saja. (Gunadi, 2008:


472).
d. Masking tape
Masking tape adalah bahan perekat yang digunakan
untuk menempelkan/memegang masking paper pada
body kendaraan. (Gunadi, 2008: 473).

Gambar 34. Masking tape

e. Gap tape
Gap Tape adalah tipe masking material yang dirancang
untuk mencegah penetrasi cat ke dalam celah pada
engine hood atau pintu.
f. Masking material untuk weatherstrip
Untuk menjamin separasi (perpisahan) dalam masking
suatu jendela sangatlah sulit, karena weatherstrip atau
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

41

moulding tetap menempel pada body kendaraan, cat


akan melekat pada weatherstrip. (Gunadi, 2008: 475).
4. Aplikasi Epoxy Surfacer
Surfacer

adalah

lapisan

cat

(coat)

kedua

yang

disemprotkan di atas primer, dempul (putty) atau lapisan


dasar (under coat) lainnya. (Herminarto Sofyan, tth: 84).
Epoxy surfacer memiliki sifat dapat mengisi penyok kecil,
mencegah penyerapan top coat, meratakan adhesi antara
under coat dan top coat, semakin cepat surfacer mengering
maka semakin rendah kemampuan pelapisannya. Tahapan
pengaplikasian epoxy surfacer adalah:
1) Mencampur epoxy surfacer, hardener, dan thinner
dengan perbandingan sesuai ketentuan dari pabrik
(biasanya perbandingan campuran tercantum pada
kaleng), setelah didiamkan dalam beberapa saat
sebaiknya

epoxy

surfacer

ditambah

thinner

lagi

secukupnya karena epoxy surfacer akan mengendap


supaya kekentalannya sama seperti pada campuran
awal.
2) Mengaplikasikan

surfacer

pertama

pada

setiap

pinggir bidang dan pada area dempul terlebih dahulu.


Selanjutnya

menyemprotkan

permukaan.

Penyemprotan

surfacer
surfacer

ke

seluruh
dilakukan

sebanyak 2-3 lapis.

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

42

3) Setelah penyemprotan surfacer selesai dibiarkan


hingga kering selama 1-2 jam.
4)

Setelah lapisan surfacer kering dapat diamplas


dengan amplas kering no. 400 atau amplas basah no.
600

agar diperoleh permukaan yang baik untuk

menjamin hasil pengecatan yang memuaskan pada


cat warna. (Herminarto Sofyan, tth: 55). Jika daya
sebar epoxy surfacer adalah 13

m2/lt, maka secara

teoritis kebutuhan epoxy surfacer dalam setiap luasan


1 m 2 dan dilakukan hanya satu kali pelapisan dan
menggunakan overlapping adalah sebagai berikut:
1 m2

Luas bidang yang akan di epoxy


surfacer

0,154
Lt

(13 m /Lt) x

Daya sebar epoxy surfacer per

Jadi secara
liter x 1/2

teoritis

jika

(1/2)

cat

primer

atau

epoxy

surfacer tersebut disemprotkan dalam 1 lapisan, 2


lapisan,

atau

lapisan

maka

dapat diketahui

jumlah kebutuhan catnya seperti yang disajikan dalam


tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan cat primer dan epoxy surfacer dalam
setiap lapis
No

CAT

1
2

Cat Primer
Cat
Epoxy
Surfacer

Kebutuhan cat dalam liter/m2


Lapisan 1

Lapisan 2

Lapisan 3

0,417 Lt
0,154 Lt

0,834 Lt
0,308 Lt

1,251 Lt
0,462 Lt

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

43

F. Pengecatan
Pengecatan yang dibahas dalam sub-bab ini adalah teoriteori tentang cara pengecatan dan metode pengeringan
serta hal lain yang berkaitan dengan proses pengecatan,
karena

untuk

mendapatkan

hasil

yang

baik

maka

diperlukan pengetahuan tentang bagaimana pengecatan


itu dilakukan.
1) Cat Warna (Top Coat)
Cat

akhir

merupakan

cat

yang

memberikan

perlindungan permukaan sekaligus untuk menciptakan


keindahan

dalam

penampilan

corak/performance

kendaraan. (Herminarto Sofyan, Tth: 55). Oleh karena


itu dalam aplikasi cat warna harus dilakukan dengan
hati-hati sehinga akan mendapat hasil yang maksimal.
Persiapan untuk cat warna. Sebelum cat diaplikasikan
maka

beberapa

hal

harus

dipersiapkan

misalnya

membersihkan kendaraan, membersihkan spray gun,


dan mencampur cat.
2) Membersihkan kendaraan
Kendaraan

yang

akan

dicat

dibersihkan

terlebih

dahulu dengan cara dicuci. Kendaraan dicuci dengan


air

sabun

untuk

menghilangkan

lemak

kemudian

dikeringkan. Sebelum kendaraan disemprot dengan cat


warna kendaraan dilap dahulu dengan menggunakan
tack clocth (kain penarik debu).
3) Membersihkan spray gun
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

44

Sebelum digunakan spray gun dibersihkan terlebih


dahulu

dengan

thinner.

cara

Thinner

penampungan

cat

mengurasnya

dimasukkan
kemudian

menggunakan

kedalam

disemprotkan

tangki
hingga

thinner dalam tangki penampungan habis, cara ini


diulangi 1-2 kali untuk memastikan spray gun benarbenar bersih.
4) Mencampur cat.
Untuk mencampur cat, diperlukan petunjuk pabrik yang
membuat cat agar dapat mengukur campuran cat
dengan thinner, sehingga diperoleh campuran cat yang
sesuai. Viskositas cat pada keadaan aslinya terlalu tinggi
untuk aplikasi spray gun.
a.

Prosedur pengecatan pada warna solid dan


metalik

1)

Pada Warna Solid


Pada warna solid penyemprotan dilakukan 3-5 lapis
top coat solid yang sudah diencerkan dengan selang
waktu antara lapisan 2-5 menit dan biarkan kering di
udara selama 30 menit atau menggunakan sinar infra
merah pada suhu
(Herminarto

400 C

Sofyan,

tth:

dilakukan setelah 6

jam

55).

selama 15 menit
Pemolesan

atau cat

dapat

benar-benar

kering tetapi tidak sampai mengeras karena cat


yang sudah kering dan mengeras akan sulit untuk

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

45

dipoles. Pemolesan bisa menggunakan mesin poles


atau dengan cara manual menggunakan tangan.
2) Pada Warna Metalik
Menurut

Herminarto

Sofyan

(tth:

55-56)

dalam

tulisannya dijelaskan bahwa prosedur pengecatan


untuk

warna

metalik

adalah

dengan

menyemprotkan 3 lapis top coat metalik yang sudah


diencerkan dengan selang waktu antara lapisan 3-5
menit dan dibiarkan kering diudara selama 15 menit
atau dengan pengeringan menggunakan sinar infra
merah pada suhu 55 C selama
Setelah

kering

permukaan

top

menggunakan
Kemudian

sebelum
tack

15

disemprotkan clear/gloss

coat

dibersihkan

clocth

(kain

disemprotkan

menit.

penarik

clear/gloss

yang

dengan
debu).
telah

dicampur dengan hardener antara 2-3 lapis dan


diberi jeda antar lapisan yaitu 3-5 menit. Pemolesan
dapat dilakukan setelah 6 jam atau cat benar-benar
kering tetapi tidak sampai mengeras karena cat
yang sudah kering dan mengeras akan sulit untuk
dipoles.

Seperti

yang

telah

dijelaskan

dalam

pembahasan daya sebar cat, daya sebar clear/gloss


adalah 6,6m2/lt (Tabel 1), maka secara teoritis
kebutuhan cat kilap (clear/gloss) dalam setiap luasan
1m 2 dan dilakukan hanya satu kali pelapisan dan
menggunakan overlapping , adalah:
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

46

1 m2

Luas bidang yang akan di epoxy

2.

surfacer

(6,6 m2/Lt) x

Daya sebar epoxy surfacer per

(1/2)

Metode
pengeringan
liter x 1/2

0,303
Lt

Metode pengeringan yang digunakan tergantung pada


jenis cat yang digunakan misalnya cat jenis laquer
menggnakan metode pengeringan tanpa oven (kering
udara), metode pengeringan ada dua yaitu:
a) Pengeringan oven
Menggunakan ruang cat khusus
dengan pemanas (oven)

untuk

yang dilengkapi
mengeringkan cat

secara paksa. Suhu di dalam oven stabil dan dapat


diatur susuai dengan kebutuhan dan waktu yang dapat
ditentukan.

Sumber

panas

oven

pembakaran bahan bakar yang


saluran-saluran

tertentu

sehingga

berasal

disalurkan
panas

dari
lewat

di dalam

ruang merata atau panas dari beberapa lampu pijar


yang dipasang di dalam ruangan. (Gunadi, 2008: 448).
b. Pengeringan non-oven
Pengeringan tidak menggunalam oven atau pemanas
untuk mengeringkan cat tetapi cat mengering karena
udara normal (kering udara), pengeringan cat dalam
suhu udara luar 25 30 C. Pengeringan tanpa oven
biasanya dilakukan pada ruangan yang mempunyai
sirkulasi udara yang baik.
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

47

Seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan daya


sebar cat, daya sebar cat warna adalah

8-10 m2/lt ,

maka secara teoritis kebutuhan cat warna (top coat)


dalam setiap luasan 1m 2 dan dilakukan hanya satu
kali pelapisan dan menggunakan overlapping adalah
sebagai berikut:
Luas bidang yang akan dicat :
1 m2

Luas bidang yang akan di epoxy


surfacer

(6,6 m /Lt) x

Daya sebar epoxy surfacer per

(1/2)

0,303
Lt

liter
1/2
Jadi xsecara
teoritis jika cat warna atau clear tersebut

disemprotkan dalam 1 lapisan, 2 lapisan, atau 3 lapisan


maka dapat diketahui jumlah kebutuhan catnya seperti
yang disajikan dalam tabel 2.
Tabel 2. Kebutuhan cat dan clear dalam liter/m2
No

1
2

CAT

Cat
Coat
Cat
Gloss

Kebutuhan cat dalam liter/m2


Lapisan 1

Lapisan 2

Lapisan 3

Warna/Top

0,25 Lt

0,5 Lt

0,75 Lt

Kilap/Clear

0,303 Lt

0,606 Lt

0,909 Lt

G. Pengkilapan dan pemolesan (Polishing)


1.

Pengertian Polishing

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

48

Istilah polishing dalam pengecatan adalah pekerjaan


menghaluskan

permukaan

cat

setelah

melakukan

pengecatan. (Gunadi, 2008: 498). Pada permukaan


yang telah dicat dan mengering masih terdapat debu
dan terkadang ada kotoran lain yang menempel atau
akibat

lainnya

seperti

meleleh

dll,

selain

itu

permukaannya masih kasar maka diperlukan pemolesan


pada

permukaan

kasar

bisa

tersebut.

dilakukan

menggunakan

Jika

permukaan

terlalu

pengamplasan

dengan

halus

metode

amplas

dengan

pengamplasan basah.
2. Mekanisme Pemolesan (polishing)
Menurut Herminarto Sofyan (tth: 25) apabila tekstur dari
permukaan yang dicat kembali setelah pengecatan dan
pengeringan berbeda dengan permukaan asli coat,
maka

tonjolan

pada

permukaan

yang

dicat

harus

dihilangkan untuk mendapatkan permukaan yang mirip


dengan asli coat.
Tipe permukaan yang dicat kembali, yang memerlukan
polishing adalah sebagai berikut:
a.

Perbedaan tekstur di antara permukaan yang dicat


kembali pada permukaan aslinya.

b.

Timbul

bintik

pada

permukaan

cat

karena

menempelnya debu dan kotoran dan adanya cat yang


meleleh.
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

49

c.

Sedikit buram karena penguapan solvent atau thinner


selama proses pengeringan (drying) setelah shanding.

d.

Cat meleleh, karena cat yang mengalir ke bawah saat


penyemprotan.

3. Peralatan Dan Bahan Polishing


a. Amplas
Digunakan

untuk

menghilangkan

meratakan

bintik

dan

lelehan.

permukaan,
Amplas

yang

digunakan untuk pekerjaan polishing adalah amplas


grit #2000.
b. Bufng compound
Bufng

compound

adalah

partikel

abrasif

yang

dicampur solvent atau air, dan aplikasinya tergantung


pada ukuran partikel yang dikandungnya, biasanya
digunakan

bufng

compounds

kasar

dan

halus.

(Herminarto Sofyan, tth: 27).

Gambar 35. Bufng compound

c. Bufer
Bufer

adalah

dipasang

suatu

attachment

(alat)

yang

pada polisher dan digunakan bersama

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

50

bufng compound untuk memoles permukaan cat.


(Herminarto Sofyan, tth: 27). Ada dua jenis bufer
yaitu kasar dan halus. Bufer kasar digunakan untuk
menghilangkan

goresan-goresan

sedangkan

bufer

halus digunakan untuk mengkilapkan.


d. Polisher
Polisher adalah sebuah alat yang dapat membantu
pemolesan dengan efisien, polisher digunakan untuk
memutar bufer. (Herminarto Sofyan, Tth: 27). Dari
dua tipe yang tersedia, yaitu tipe elektrikal dan tipe
pneumatik,

tipe

elektrikal

polisher

lebih

banyak

digunakan.
e. Kain lap fannel
Kain lap fannel adalah sebuah kain halus yang
digunakan

untuk

memoles

dengan

tangan.

Menggunakan kain yang relatif lebih keras, seperti


handuk tangan adalah tidak dianjurkan, karena dapat
menimbulkan goresan pada permukaan cat. (Anonim,
tth: 11).
H. Mendeteksi Kerusakan Dalam Pengecatan
H.1 Kualitas Hasil Pengecatan
Kualitas

hasil

pengecatan

yang

baik

dipengaruhi

banyak faktor seperti ketrampilan, bahan yang digunakan,


dan lain-lain, sedangkan untuk mentukan hasil pengecatan
yang baik itu ditinjau dari beberapa faktor, seperti keratan
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

51

permukaan, daya kilap, dan lain-lain. Berikut akan dibahas


tentang

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

hasil

pengecatan dan faktor- faktor yang menentukan kualitas


hasil pengecatan.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pengecatan
1) Ketrampilan
Ketrampilan yang dmaksud di sini adalah ketrampilan
orang yang mengaplikasikan cat. Jika orang yang
mengaplikasikan

cat

kurang

trampil

maka

hasil

pengecatannya bisa meleleh atau buram, meleleh


karena jarak antara spray gun dan obyek terlalu dekat
atau jaraknya sudah benar yaitu 10-20 cm tapi
langkah penyemprotannya kurang pas atau lebih
pelan sehingga cat yang menempel pada obyek
terlalu berlebihan kemudian cat mengalir ke bawah
(meleleh).
2) Persiapan Permukaan
Hasil pengecatan dipengaruhi juga oleh persiapan
permukaan karena jika persiapan permukaannya baik
maka cat yang dihasilkan

maksimal.

Persiapan

permukaan yang baik adalah tidak ada cacat seperti


lubang kecil, goresan amplas atau permukaan yang
kurang rata. Jika salah satu cacat tersebut masih ada
dan pengecatan cat warna tetap berlangsung maka
cat yang dihasilkan kurang baik. Di dalam persiapan
permukaan juga dibutuhkan ketelitian yang tinggi
Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

52

untuk

mendeteksi cacat

misalnya

terdapat

tersebut karena

goresan

amplas

yang

jika
tidak

terdeteksi maka cat yang dihasilkan akan tmuncul


doresan amplas juga.
3) Kualitas cat
Cat yang dimaksud adalah

di sini adalah cat

warna (top coat). Kualitas cat mempengaruhi hasil


pengecatan karena jika mengiginkan hasil yang kilap
tetapi bahan yang digunakan kurang bagus maka
daya kilap yang dihasilkan tidak bagus juga. Cat yang
berkualitas seharusnya mempunyai daya kilap tinggi
dan daya tahan kilap serta daya tahan terhadap
cuaca juga bagus. Cat yang mempunyai daya tahan
terhadap cuaca bagus maka tidak akan cepat pudar.
4)Tempat pengecatan
Pengecatan jika dilakukan di dalam ruangan maka
akan lebih baik dari pada di luar ruangan karena
resiko terkena debu lebih rendah. Pengecatan yang
dilakukan di luar ruangan pada waktu penyemprotan
berlangsung jika ada angin maka kotoran di sekitar
tempat pengecatan akan menempel pada obyek dan
jika cat kering timbul cacat bintik.
5) Penyetelan spray gun
Sebelum
spray

melakukan

penyemprotan

sebaiknya

gun diatur terlebih dahulu. Pengaturan spray

gun meliputi mengatur besar kecilnya cat yang keluar,


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

53

besar kecilnya angin yang keluar dan besar kecilnya


kembang penyemprotan agar diperoleh hasil yang
maksimal. Bila penyetelan tidak dilakukan dengan
baik mengakibatkan hasil pengecatan yang kurang
sempurna,

sehingga

menyebabkan

permukaan

menjadi tidak rata, meleleh, kasar, kurang mengkilap.


H.2

Faktor-faktor yang menunjukkan kualitas hasil

pengecatan
Beberapa

hal

yang

menunjukkan

kualitas

hasil

pengecatan pada body


kendaraan antara lain :
a.Kerataan lapisan cat
Kerataan permukaan cat meliputi: ketebalan lapisan
cat, kehaluasan permukaan cat, dan tidak timbul
cacat

pengecatan.

Kerataan

lapisan

cat

dapat

dilakukan dengan cara meraba dengan tangan pada


permukaan cat.
b.Daya kilap
Daya kilap cat dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain: kualitas bahan yang digunakan yaitu
thinner, top coat, clear, dan proses pengeringan serta
teknik pengecatan. Daya kilap dapat dinilai dengan
cara pandangan langsung yaitu memandang secara
visual

dengan

beberapa

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

sudut

pandang

yang

54

berbeda-beda di mana penilai menghadap langsung


kilauan yang dipantulkan oleh permukaan cat.
c. Daya tahan cat
Lapisan cat / top coat harus memiliki sifat daya tahan
terhadap zat cair antara lain minyak solar, bensin, oli
mesin dan lain-lain. Disamping itu cat harus tahan
terhadap

segala

cuaca

terutama

panas

sinar

matahari dalam jangka waktu lama.


d.Tekstur cat
Meraba permukaan cat secara vertikal dan horizontal
untuk mengetahui tekstur permukaan cat.
3. Cacat Dalam Pengecatan
Cacat pengecatan dapat timbul karena banyak faktor
seperti persiapan permukaan yang buruk, kebersihan,
proses pengecatan yang kurang baik. Berikut ini cacat
(defects) selama painting atau setelah draying.

a.Bintik (seeds)
Debu atau kotoran yang menempel selama proses
pengecatan

sedang

berlangsung

atau

selesai

penyemprotan pengecatan. Debu dan kotoran ini


berasal dari sekitar tempat pengecatan atau berasal
dari cat itu sendiri, oleh karena itu sebelum cat

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

55

dituangkan untuk dicampur sebaiknya cat disaring


terlebih dahulu.
b.Butiran menyerupai kawah, mata ikan ( Beads/
cratering, fish eyes )
Beeds adalah suatu depresi yang terbentuk apabila
ada oli atau air yang mendorong lapisan cat, atau
suatu kekosogan yang terbentuk karena cat tidak
dapat membentuk lapisan di atas oli atau air.
(Herminarto Sofyan, tth: 41).
c. Kulit Jeruk (Orange Peel )
Suatu lapisan tidak rata menyerupai kulit jeruk, cacat
ini timbul apabila cat mengering terlampau cepat
sebelum selesainya perataan. (Herminarto Sofyan,
tth: 41).
d.Meleleh (Runs)
Meleleh

disebabkan

oleh

kelebihan

cat

yang

mengalir ke bawah dan mengering. Kelebihan cat ini


bisa

terjadi

ketika

penyemprotan

cat

sedang

berlangsung tekanan kerja udara mendadak menurun


sehingga atomisasi cairan cat dengan udara tidak
baik. Atomisasi antara cairan cat
dikatakan

baik

jika

semprotan

dengan
yang

udara

dihasilkan

seperti berkabut.

e. Mengkerut atau terangkat (Shrinkage)


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

56

Ada dua tipe kerutan yang terjadi yaitu kerutan yang


disebabkan oleh solvent

di dalam top coat segar

yang menembus cat lama, menyebabkan cat lama


berubah

secara

internal,

sehingga menimbulkan

kerutan pada top coat. Lalu kerutan yang terjadi


akibat top coat melunak dan mengembang di bawah
panas, dan mengkerut pada saat dingin.
f. Lubang Kecil/kerak keci (Pinholes/Scales)
Apabila

permukaan

cat

mengering

dan

keras

sebelum solvent di dalam coat menguap, maka


solvent yang terperangkap dipaksa untuk meletup
melalui lapisan, dan meninggalkan lubang kecil.
(Herminarto Sofyan, tth: 42).
g.Tanda Putty/dempul (Putty Marks)
Apabila penambahan antara cat asli dan putty
berbeda, maka top coat solvent mengakibatkan
penyusutan di sepanjang featheredges, sehingga
timbul tanda putty. (Herminarto Sofyan, tth: 42).
h.Goresan amplas (Sanding Scratches)
Goresan amplas dalam lapisan cat asli berkembang
dan nampak pada permukaan top coat pada saat top
coat

solvent

berpenetrasi

kedalam

lapisan

dibawahnya. (Herminarto Sofyan, Tth: 42).


i. Memudar (Fade)
Dikarenakan

pengaplikasian

compound

pada

permukaan cat yang belum benar-benar kering.


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

57

H.3

Alat uji pengecatan


Berikut adalah alat-alat yang digunakan untuk menguji

hasil pengecatan:
a. Alat ukur ketebalan lapisan (Coating thickness
meter)
Digunakan untuk mengetahui ketebalan (thickness)
cat di permukaan suatu material atau benda yang
dicat.

Gambar 37. coating thickness meter (Anonim, 2009a)

b.

Alat ukur daya rekat (adhesion tester)

Merupakan alat uji yang digunakan untuk mengukur


daya rekat suatu material.

Gambar 38. adhesion tester (Anonim, 2011-2016)


Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

58

c. Alat ukur daya kilap (gloss meter)


Alat yang digunakan untuk mengukur daya kilap suatu
permukaan kendaraan yang telah cat.

Gambar 39. Gloss meter (Anonim, 2009d)

d.

Alat ukur kerataan permukaan (surface profile

gauge)
Alat yang digunakan untuk mengetahui kerataan
permukaan kendaraan yang telah dicat.

Gambar 40. surface profile gauge (Anonim, 2009c)

Teknik Pengecatan/Ferriawan Yudhanto

59