Anda di halaman 1dari 18

Mekanisme Pertukaran Gas dalam Sistem Pernapasan

Anggelina Tania Woda Lado


102013316
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: anggelinatania@gmail.com

Pendahuluan
Setiap makhluk hidup termasuk manusia perlu bernapas untuk kelanjutan hidupnya. Dengan
bernapas, manusia memperoleh oksigen yang berguna bagi tubunya dan membuang karbon
dioksida yang dihasilkan dari dalam tubuhnya. Sistem pernapasan sendiri terdiri dari hidung,
faring, laring, trachea, bronkus, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorius,
duktus alveolaris, dan alveoli. Secara sederana mekanisme pernapasan merupakan proses
perukaran dan transportasi O2 dan CO2. Gangguan sistem pernapasan pada manusia bisa terjadi
karena gangguan mekanisme pernapasan dan kelainan struktur pernapasan. Salah satu gangguan
pernapasan yang dialami oleh manusia adalah sesak napas.

Sistem Respirasi dan Fungsinya


Ketika bernapas, setiap sel dalam tubuh akan menerima persediaan oksigen dan pada saat
yang bersamaan akan melepaskan produk oksidasinya. Oksien yang bersenyawa dengan karbon
dan hidrogen dari jaringan, memungkinkan setiap sel sendiri-sendiri melangsungkan proses

metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasil buangan dalam bentuk karbon dioksida
(CO2) dan air (H2O).1
Sistem respirasi mencakup dua proses yaitu respirasi dalam (internal respiration / celluler
respiration) dan respirasi luar (external respiration). Respirasi dalam meliputi metabolisme intra
sel yang terjadi di mitokondria termasuk konsumsi oksidegn dan produksi CO 2 selama
pegambilan energi dari molekul nutrien. Sementara pernapasan luar meliputi seluruh urutan
langkah kejadian antara sel tubuh dengan lingkungan luar.
Fungsi sistem pernapasan adalah untuk mengambil oksigen (O 2) dari atmosfer ke dalam selsel tubuh dan untuk mentranspor karbon dioksida (CO 2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke
atmosfer. Organ-organ respiratorik juga berfungsi dalam produksi wicara dan berperan dalam
keseimbangan asam basa, pertahanan tubuh belawan benda asing, dan pengaturan hormonal
tekanan darah.2
Sistem respirasi terdiri dari sistem saluran udara (tidak ada pertukaran gas), organ pertukaran
gas (sistem alveoli paru), struktur dinding dada, otot-otot pernapasan, pusat pernapasan, dan
sistem sirkulasi darah. Pada pembahasan kali ini, akan lebih dititik beratkan pada sistem saluran
udara atau sering juga disebut dengan saluran pernapasan.
Struktur Anatomi dan Histologi Saluran Pernapasan
Hidung
Hidung memiliki fungsi sebagai saluran udara, saringan udara dari partikel debu kasar
maupun halus, menghangatkan udara pernapasan, melembabkan udara pernapasan, dan sebagai
alat pembau. Hidung bagian luar berbentuk pyramid disertai dengan suatu akar dan dasar.
Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, tulang rawan hialin, otot bercorak, dan jaringan
ikat.3 Kulit luar hidung merupakan epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk. Terdapat
rambut sangat halus dengan kelenjar sebasea besar-besar.
Kearah inferior hidung memiliki dua pintu masuk berbentuk bulat panjang yaitu nostril atau
nares yang terpisah oleh septum nasi atau septum nasal. Septum nasal membagi hidung menjadi
sisi kiri dan sisi kanan rongga nasal (kavum nasi). 3 Lubang hidung bagian depan disebut nares
anterior sementara lubang hidung bagian belakang disebut nares posterior. Luas permukaannya
diperbesar oleh tiga tonjolan mirip gulungan dari dinding lateral, yang disebut konka nasalis
superior, konka nasalis media, dan konka nasalis inferior.4

Sinus paranasalis terdiri atas fontalis, etmoidalis, spgenoidalis dan maxillaries. Sinus
berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran
nasal untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk, memproduksi mukus, dan
memberi

efek

resonasi

dalam

produksi

wicara.2

Setiap bronkus primer bercabang 9-12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tertier dengan
diameter yang semakin kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang atau lempeng kartilago
mengganti cincin kartilago. Bronki disebut juga ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru,
setelah itu disebut intrapulmonar. Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan
bronchhial yang selanjutnya bronchi, bronchiolus, bronchiolus terminal, bronchiolus respiratorik,
duktus alveolar, dan alveoli.2
Epitel hidung terdiri atas sel-sel kolumnar bersilia, sel goblet, dan sel-sel basofilik kecil pada
dasar epitel, yang dianggap sebagai sel-sel induk bagi penggantian jenis sel yang lebih
berkembang. Pada msnusia, jumlah sel goblet berangsur bertambah dari anterior ke posterior.
Selain mukus, epitel juga mensekresi sedikit cairan yang membentuk laposan di antara bantalan
mukus dan permukaan epitel.4
Silia melecut di dalam lapis cairan yang membentuk laposan di antara bantalan mukus dan
permukaan epitel. Dibawah epitel terdapat lamina propria tebal yang mengandung kelenjar
submukosa, terdiri atas sel-sel mukosa dan serosa. Di dalam lamina propia juga terdapat sel
plasma, sel mast, dan kelompok jaringan lomfoid. Dibawah epitell konka inferior tedapat pelksus
vena luas yang merupakan tempat terjadinya mimisan.4
Reseptor bagi sensai mencium terdapat di dalam epitelolfaktoria, daerah khusus pada
mukosa hidung, yang terdapat di atap rongga hing dan meluas ke bawah sampai 8-10 mikro
meter pada kedua sisi septum.dan sedikit ke atas konka nasalis superior. Daerah khusus pada
epitel ini tidak rata dan mencakup sekitar 500 mm2.
Epitel olfaktorius adalah epitel bertingkat tinggi dengan tebal sekitar 60 mikro meter. Ia
terdiri atas tiga jenis sel yaitu sel sustentakular, sel basal dan sel olfaktorius. Sel olfaktorius adlah
neuron bipolar , tersebar merata di antara sel-sel sustentakular. Inti bulatnya menempati zona
lebih rendah dari yang berasal dari sel-sel penyokong. Terdapat kompleks Golgi supranuklear
kecil dan beberapa elemen tubuvestibular dan retikulum endoplasma licin. Bagian apikal sel
menyempit menjadi juluran silindris yang halus yang meluas ke atas ke permukaan epitel
tempatnya berakhir dengan melebar yang disebut bulbus olfaktorius. Merka sedikit menonjol di

atas permukaan sel-sel penyokong sekitarnya dan mengandung badan-badan basal daro enam
sampai delapan silia olfaktoria yang memancardari paralel terhadap permukaan epitel.
Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot wajah. Otot hidung tersusun dari
M.nasalis dan M.depressor septum nasi. Pendarahan hidung bagian luar disuplai oleh cabangcabang A.facialis, A.dorsalis nasi cabang, A.opthalamica dan A.infraorbitalis cabang
A.maxillaries interna. Pembuluh baliknya menuju V.facialis dan V.opthalamica. persarafan otototot hidung oleh N.facialis, kulit sisi medial punggung hidung sampai ujung hidung dipersarafi
oleh cabang-cabang infratrochlearis dan nasil externus N.opthalmicus. Kulit sisi lateral hidung
dipersarafi oleh cabang infraorbitalis N.maxillaries.3
Pembuluh-pembuluh nadi yang mendarahi rongga hidung adalah: Aa.etmoidalis anterior dan
posterior, cabang A.opthalmica yang mendarahi pangkal hidung, sinus-sinus ethmoidalis dan
forntalis. A.sphenopalatina, cabang A.maxillaries interna, mendarahi mukosa dinding-dinding
lateral dan medial hidung. A.palatina major, cabang palatina descendens A.maxillaries interna,
yang melewati foramen palatinum majus dan canalis incisivus serta beranastomosis dengan
A.sphenopalatina. A.labialis superior, cabang A.facialis, yang mendarai septum nasi daerah
vestibulum, beranastomosis dengan A.sphenopalatina dan seringkali menjadi lokasi kejadian
epistaxis.3
Faring
Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai perssambungannya
dengan usofagus dan ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang hidung (nasofarinx), di belakang mulut (oro-farinx) dan di belakang larinx (faring-laringeal). Nares posterior
adalah muara rongga-rongga hidung ke naso-farinx.1 Faring adalah tabung muskular berukuran
12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai esofagus. Faring terbagi
menjadi naofaring, orofaring, dan laringofaring.2

Nasofaring
Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal
melalui dua naris internal (koana). Dua tuba eustachius menghubungkan nasofaring dengan
telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gedang

telinga. Amadel (adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat
naris internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara.2
Naosfaring terdiri dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Dibawah membrana
basalis, pada lamina propia terdapat kelenjar campur. Pada bagian posterior terdapat jaringan
limfoid yang membentuk tonsila faringea. Terdapat muara dari saluran yang menghubungkan
rongga hidung dan telinga tengah disebut osteum faringeum tuba auditiva. Disekelilingnya
banyak kelompok jaringan limfoid disebut tonsila tuba faringea.
Orofaring
Orofaring dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muskular, suatu perpanjangan
paatum keras tulang. Uvula adalah prossesus kerucut kecil yang menjulur ke bawah dari bagian
tengah tepi bawah palatum lunak. Amandel palatinum terletak pada kedua sisi orofaring
posterior.2
Epitel penyusun orofaring adalah epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Osofaring
terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah. Orofaring akan dilanjutkan ke
bagian atas menjadi epitel mulut dan ke bawah ke epitel oesophagus. Disini terdapat tonsila
palatina yang sering meradang disebut tonsilitis.
Laringofaring
Laringofaring mengelilingi mulut esofagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk
sistem respiratorik selanjutnya.2 Epitel pada laringofaring bervariasi, sebagain besar epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Laringofaring terletak di belakang larings.
Laring
Laring (kotak suara) menghubungkan faring dengan trakea. Laring tersusun atas epitel
bertingkat torak bersilia bersel goblet kecuali ujung plika vokalis berlapis gepeng. Fungsi dari
laring adalah untuk membentuk suara (fonasi) dan mencegah benda asing memasuki jalan nafas
dengan adanya refleks batuk. Laring adalah tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular
dan ditopang oleh sembilan katilago (tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan).
Kartilago tidak berpasangan terdiri dari kartolago tiroid, kartilago krikoid, dan epiglotis.
Kartilago tiroid (jakun) terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid. Biasanya berukuran lebih
besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormon yang disekresi saat pubertas. Kartilago

krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.
Sementara epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago
tidorid. Saat menelan, eiglotis melekat pada tepian anterior menutupi laring untuk mencegah
masuknya makanan dan cairan.
Kartilago berpasangan terdiri dari kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, dan kartilago
kuneiform. Kartilago aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kertilago krikoid. Kartilagi
aritenoid melekat pada pita suara sejari, yaitu lipatan berpasangan dari epitelium skuamosa
bertingkat. Kartilago kornikulata melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid. Kartilago
kuneiform berupa batang-batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak.

Gambar 1. Anatomi laring.5


Laring berfungsi sebagai proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi dan fonasi. Fungsi
laring untuk proteksi adalah untuk mencegah agar makanan dan benda asing masuk ke dalam
trakea dengan jalan menutup aditus laring dan rima glottis yang secara bersamaan. Benda asing
yang telah masuk ke dalam trakea dan sekret yang berasal dari paru juga dapat dikeluarkan lewat
reflex batuk. Fungsi respirasi laring dengan mengatur besar kecilnya rima glottis. Dengan
terjadinya perubahan tekanan udara maka didalam traktus trakeobronkial akan dapat
mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Oleh karena itu laring juga mempunyai fungsi sebagai alat
pengatur sirkulasi darah. Fungsi laring dalam proses menelan mempunyai tiga mekanisme yaitu
gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laringeus serta mendorong bolus makanan

fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti berteriak, mengeluh, menangis, dan lain-lain yang
berkaitan dengan fungsinya untuk fonasi dengan membuat suara serta menentukan tinggi
rendahnya nada.

Trakea
Trakea adalah tuba dengan panjang 10-12cm dan diameter 2,5cm serta terletak di atas
pemukaan anterior esophagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks keenam
sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama. Trachea
dapat tetap terbuka karena adanya 16-20 cincin kartilago berbentuk C. Ujung posterior mulut
cincin diubungkan oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi esophagus.
Trakea juga dilapisi oleh epithelium repiratorik yang mengandug banyak sel goblet.3
Susunan demikian memberi trakea keleluasan gerak yang besar, sedangkan cincin-cincin
tulang rawabnnya memungkinkannya menahan tekanan dari luar yang dapat menutup jalan
napas. Di luar tulang wan terdapat lapis jaringan ikat padat dengan banyak serta elastin. Dinding
posterior trakea tidak dilengkapi tuang rawan terdapat lapis jaringan ikat padat dengan banyak
serat elastin. Dinding posterior trakea tidak dilengkapi tulang rawan. Seagai gantinya terdapat
pita tebal dari otot poloss yang terorientasi melintang, yang ujung-ujungnya berbaur dengan lapis
jaringan ikat padat di luar ruang rawan tadi.4
Dengan mikroskop elektron dapat dilihat 6 jenis sel. Yaitu sel bersilia, sel goblet, sel sikat, sel
basal, dan sel sekretorik/bergranula. Sel bersilia mempunyai silia yang panjang, aktif, motil yang
bergerak kearah faring. Sel goblet mensintesa dan mensekresi lendir, mempunyai apparatus golgi
dan retikulum endoplasma kasar di basal sel. Pada sel goblet ada mikrovili di apex dan
mengandung tetesan mukus yang kaya akan polisakarida.
Sel sikat mempunyai mikrovilli di apex yang berbentuk seperti sikat. Ada dua macam sel
sikat, yaitu sel sikat 1 (mempunyai mikrovili sangat panjang) dan sel sikat 2 (dapat berubah
menjadi sel pendek). Sel basal merupakan sel induk yang akan bermitosis dan beruba menjadi sel
lain. Sel sekretorik/bergranula memiliki diameter 100-300 milimikron.

Bronkus

Bronkus kanan dan kiri berjalan ke bawah dan ke luar dari bifurkasio trakea ke hilus maisngmasing paru.6 Bronkus utama kanan lebih pendek, lebih lebar, dan lebih vintrikal letaknya
daripada yang kiri. Oleh karena itu benda asing yang terhirup lebih cenderung masuk ke bronki
kanan dan terus ke lobus kanan tengah dan lobus bawah bronki. Bronkus uatama kiri memasuki
hilus dan terbagi menjadi brokus lobus superior dan inferior. Bronkus utama kanan bercabang
menjadi bronkus ke lobus atas seelum memasuki hilus dan bergitu masuk hilus terbagi menjadi
bronki lobus medial dan inferior.7
Bronkus primer atau ekstrapulmonal bercabang dan menghasilkan sederetan bronki
intrapulmonal yang lebih kecil. Bronki ini dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia,
lamina propia tipis jaringan ikat halus dengan banyak serat elastin dan sedikit limfosit. Duktus
dari kelenjar bronchial submukosa melalui lamina propria untuk bermuara ke dalam lumen
bronkus. Di antara lempeng tulang rawan, jaringan ikat submukosa menyatu dengan adventisia
yang tebal. Pembuluh bronchial yang tampak pada jaringan ikat bronkus mencakup sebuah
arteriol, sebuh venul, dan kapiler.8
Bronkiolus
Ini adalah segmen intraloburalis dengan garis tengah 1 mm atau kuarang. Bronkiolus tidak
mempunyai rawan atau kelenjar pada mukosanya dan hanya menunjukkan sel-sel goblet yang
tersebar dalam epitel segmen permulaan. Pada bronkiolusyang lebih besar , epitelnya bertingkat
toraks tinggi bersilia dan kekomplekkannya berkurang dan menjadi epitel kubis bersilia pada
bronkiolus terminalis.selain sel-sel barsilia , bronkus terminalis juga mempunyai sel-sel cl;ara
yang permukaan apikalnya berbentuk kubah yang menonjol ke dalam lumen. Pemeriksaan pada
sel-sel Clara manusia berkesimpulan bahwa meraka adalah sel-sel sekretoris akan tetapi hingga
sekarang fungsinya tidak diketahui.
Sebagian besar lamina propia adalah oto polos dan serabut-serabut elastin. Otot bronkus dan
bronkiolus dibawah pengawasan nervus vagus dan sistem simpatis. Perangsangan nervus vagus
mengurangi garis tengah susunan tersebut, sedangkan perangsangan simpatis menimbulkan efek
yang berlawanan.

Bronkiolus Terminalis

Bronkiolus terminalis memiliki diameter kecil. Terdapat banyak lipatan mukosa yang
menyolok dan epitelnya bertingkat semua silindris rendah bersilia dan sedikit sel goblet. Pada
bronkiolus terminal, epitelnya silindris bersilia tanpa sel goblet. Lapisan otot polos yang
berkembang baik mengelilingi lamina propia tipis, yang pada gilirannya dikelilingi ole
adventisia. Di dekat bronkiolus terdapat sebuah cabang kecil yaitu arteri pulmonaris. Bronkiolus
ini dikelilingi ole alveoli paru.9
Bronkiolus Respiratorius
Tiap-tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 bronkiolus atau lebih yang berperanan
sebagai daerah peralihan antara bagian konduksi dan respirasi sistem respirasi. Mukosa
bronkiolus respiratorius terminalis kecuali bahwa dindingnya diselilingi oleh banyak sakus
alveolaris. Bagian-bagian bronkiolus respiratorius dibatasi oleh epitel kubis bersilia, tetapi pada
pinggir lubang-lubang alveolaris, epitel bronkiolus dilanjutkan dengan epitel pembatas alveolus,
selapis gepeng. Makin ke distal bronkiolus , jumlah alveoli bertambah dgn nyata, dan jarak
antara alveoli jelas makin dekat. Antara alveoli, epitel bronkiolus terdiri atas epitel kubis bersilia:
akan tetapi, pada bagian yg lebih distal, silia mungkin tdk ada. Sepanjang dinding yg sangat
banyak mengandung alveoli, sifat bronkiolus hanya trdpt antara alveoli dan terdiri atas
sekelompok kubis-kubis yg terletak siatas pita otot poloss dan jaringan penyambung elastin.
Karna alveoli merupakan tempat pertukaran gas digunakan utk menggambarkan fungsi ganda
segmen jalan pernapasan ini.
Dinding bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel selapis kuboid. Pada bagian
proksimalnya terdapat silia, namun hulang di bagian disatal bronkiolus respiratorius. Sebuah
duktus alveolaris muncul dari bronkiolus respiratorius dan banyak alveoli bermuara ke dalam
duktus alveolaris. Pada setiap pintu masuk ke alveolus terdapat epitel selapi gepeng.9
Duktus Alveolaris
Duktus alveolaris dan alveoli dibatasi oleh sel-sel epitel selapis gepeng yg sangat tipis.
Dalam lamina propria sekitar pinggir alveoli merupakan suatu jala-jala sel-sel otot polos yg
saling menjalin. Berkas-berkas halus yg menyerupai sinkter ini tampak sbg tombol-tombol antara
alveoli yg berdekatan. Hanya matriks yg kaya akan serabut elastin dan kolagen yg menyokong
duktus dan alveolinya.

Duktus alveolaris bermuara ke dalam atria, ruang yg menghubungkan sakus multilokularis


alveoli, dua sakus alvelolaris atau lbh terbentyuk dari tia-tiap atrium. Serabut elastin dan kolagen
yg banyak sekali trdpt membentuk jaringan kompleks yg melingkari lubang2 atria, sakus
alveolaris, dan alveoli. Serabut2 elastin memungkinkan alveoli mengembang wkt inspirasi dan
secara pasif berkontraksi waktu ekspirasi. Kolagen berperanan sbg penyokong yg mencegah
peregangan berlebihan dan kerusakanbkapiler2 halus dan septa alveoli yg tipis.
Dari ujung duktus alveolaris terbuka pintu lebar menuju beberapa sakus alveolaris. Saluran
ini terdiri atas beberapa alveolus yang bermuara bersama membentuk ruangan serupa rotunda
yang disebut atrium. Alveolus paru merupakan kantong yang dibatasi oleh epitel selapis gepeng
yang sangat tipis, yang salah satu sisinya terbuka sehingga menyerupai busa atau mirip sarang
tawaon.10
Alveoli
Secara struktural, alveoli menyerupai kantong kecil yg terbuka pd salah satu sisinya, mirip
sarang tawon. Dalam struktur yg menyerupai mangkok ini, oksigen CO2 mengadakan pertukaran
antara udara dan darah.

Gambar 2. Anatomi sistem pernapasan atas.11


Pernapasan

Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara ototnatis walau dalam keadaan tertidur
sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otononi. Menurut tempat
terjadinya pertukaran gas, maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar
dan pernapasan dalam. Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam
alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan yang
terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru
dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar
tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya apabila
tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.12

Inspirasi dan Ekspirasi


Inspirasi merupakan proses aktif. Kontraksi otot inspirasi akan meningkatkan volume
intratoraks. Tekanan intrapleura di bagian basis paru akan turun dari nilai normal sekitar -2,5
mmHg (relatif terhadap tekanan atmosfer) pada awal inspirasi, menjadi -6 mmHg. Jaringan paru
akan semakin teregang. Tekanan di dalam saluran udara menjadi sedikit lebih negatif, dan udara
mengalir ke dalam paru. Pada akhir inspirasi, daya recoil paru mulai menarik dinding dada
kembali ke kedudukan ekspirasi, sampai tercapai keseimbangan kembali antara daya recoil
jaringan paru dan dinding dada. Tekanan di saluran udara menjadi sedikit lebih positif, dan udara
mengalir meninggalkan paru.
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan proses pasif yang ridak memerlukan
kontraksi otot untuk menurunkan volume intratoraks. Namun pada awal ekspirasi, sedikit
kontraksi otot inspirasi masih terjadi. Kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya recoil paru
dan memperlambat ekspirasi. Pada inspirasi kuat, tekanan intrapleura turun mencapai -30 mmHg
sehingga pengembangan jaringan paru menjadi lebih besar. Bila ventilasi meningkat, derajat
pengempisan jaringan paru juga ditingkatkan oleh kontraksi aktif otot ekspirasi yang
menurunkan volume intratoraks.
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan proses pasif yang tidak memerlukan
kontraksi otot untuk menurunkan volume intratoraks. Namun pada awal ekspirasi, sedikit
kontraksi otot inspirasi masih terjadi. Kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya recoil paru
dan memperlambat ekspirasi. Pada ekspirasi kuat, tekanan intrapleura turun mencapai -30 mm

Hg sehingga pengembangan jaringan paru menjadi lebih besar. Bila ventilasi meningkat, derajat
pengempisan jaringan paru juga ditingkatkan oleh kontraksi aktif otot ekspirasi yang
menurunkan volume intratoraks.

Gambar 3. Inspirasi dan ekspirasi.13


Transpor Oksigen
Sistem pengangkut O2 di tubuh terdiri atas paru dan sistem kardiovaskular. Pengangkutan O2
menuju jaringan tertentu bergantung pada jumlah O2 yang masuk ke dalam paru, adanya
pertukaran gas di paru yang adekuat, aliran darah yang menuju jaringan, dan kapasitas darah
untuk mengangkut O2. Aliran darah bergantung pada derajat konstriktusijalinan vaskular di

jaringan serta curah jantung. Jumlah O2 di dalam darah ditentukan oleh jumlah O2 yang larut,
jumlah hemoglobin dalam darah, dan afinitas hemoglobin terhadap O2.14
Terdapat tiga keadaan penting yang mempengaruhi kurva disosiasi hemoglobin-oksigen yaitu
pH suhu dan kadar 2,3 BPG. Peningkatan suhu atau penurunan pH mengakibatkan PO2 yang
lebih tinggi diperlukan agar hemoglobin dapat mengikat sejumlah O2. Sebaliknya, penurunan
suhu atau peningkatan pH dibutuhkan PO2 yang lebih rendah untuk mengikat sejumlah O2.
Suatu penurunan pH akan menurunkan afinitas emoglobin terhadap O2, yang merupakan suatu
pengaruh yang disebut pergeseran Bohr. Karena CO2 berekasi dengan air untuk membentuk
asam karbonat, maka jaringan aktif akan menurunkan pH di sekelilingnya dan menginduksi
hemoglobin supaya melepaskan lebih banyak oksigennya, sehingga dapat digunakan untuk
respirasi selular.14
Transpor Karbon Dioksida
Selain perannya dalam transpor oksigen, hemoglobin juga membantu darah untuk
mengangkut karbon dioksida dan membantu dalam penyanggah pH darah yaitu, mencegah
perubahan pH yang membahayakan. Sekitar 7% dari karbon dioksida yang dibebeaskan oleh selsel yang berespirasi diangkut sebagai CO2 yang terlarut dalam plasma darah. Sebanyak 23%
karbon dioksida terikat dengan banyak gugus amino hemoglobin.
Sebagain besar karbon dioksida, sekitar 70%, diangkut dalam darah dalam bentuk ion
bikaronat. Karbon dioksida yang dilepaskan oleh sel-sel yang berespirasi berdifusi masuk ke
dalam plasma darah dan kemudian masuk ke dalam sel darah merah, dimana CO2 tersebut
diubah menjadi bikarbonat.
Karbon dioksida pertama bereaksi dengan air untuk membentuk asam karbonat, yang
kemudian berdisosiasi menjadi ion hydrogen dan ion bikarbonat. Sebagian besar ion hydrogen
berikatan di berbagai tempat pada hemoglobin dan protein lain sehingga tidak mengubah pH
darah. Ion bikarbonat lalu berdifusi ke dalam plasma. Ketika darah mengalir melalui paru-paru,
proses tersebut dibalik. Difusi O2 keluar dari darah akan menggeser kesetimbangan kimiawi di
dalam sel darah merah ke arah perubahan bikarbonat menjadi CO2.14
Mekanika pernapasan
Paru-paru dapat di ibaratkan sebuah balon yang dibungkus rapat dalam sebuah bejana pompa,
dengan leher balon terbuka terhadap udara. Saat penghisap pompa ditarik, balon mengembang

sebagai vakum parsial yang diciptakan dalam pompa. Udara ditarik ke dalam balon dan
mengembangkannya.
Paru-paru dan rongga torak dilapisi oleh membrane tipis yang lembab yaitu pleura. Lapisan ini
ada di dalam rongga torak (pleura parietal) dan berjalan dari dasar paru ke seluruh permukaan
paru (pleura visceral) sebagai lapisan kontinu. Lapisan ini memungkinkan paru bergerak dengan
bebas dalam rongga torak.15
Pada keadaan normal paru-paru dikembangkan untuk mengisi rongga sepenuhnya. Pleura
parietalis dan viseralis bersentuhan satu sama lain dan ruang pleura diantaranya terisi oleh sedikit
cairan pelumas.
Paru-paru diregangkan untuk memenuhi torak. Bila lubang dibuat ke dalam dada misalnya luka
tusuk yang memungkinkan udara bocor masuk ke dalam rongga pleura maka paru elastik yang
teregang itu menjadi kempes (kolaps). Akumulasi udara dalam rongga pleura disebut sebagai
pneumotorak. Selama inspirasi udara mengalir ke dalam paru-paru karena mengingatkan semua
dimensi rongga torak.
Kedalaman torak bertambah bila diafragma berkontraksi dan turun. Otot-otot interkostalis
mengangkat tulang-tulang iga yang meningkatkan diameter depan-belakang dari torak dan
menyebabkan lebar kerangka iga meningkat.15
Volume pernapasan
Volume udara yang dihirupkan dan dikeluarkan selama proses bernapas dapat diukur pada
sebuah spirometer. Saat seseorang bernapas udara keluar dan masuk sehingga bejana (yang
terletak terbalik dalam bejana lain berisi air) naik dan turun.
Sebuah pena yang terikat pada bejana mencatat kedalaman inspirasi dan ekspirasi relatif pada
kertas yang ada pada silinder berputar.
Volume tidal (kira-kira 500 ml) adalah jumlah udara yang di inspirasi dan di ekspirasi selama
pernapasan tenang. Sedangkan cadangan inspirasi adalah udara yang dapat di inspirasi dengan
kuat setelah inspirasi normal kira-kira 2500 ml.
Cadangan ekspirasi adalah jumlah udara yang dapat di ekspirasi dengan kuat setelah ekspirasi
normal kira-kira 1000 ml.
Kapasitas vital adalah jumlah dari volume tidal ditambah volume cadangan inspirasi ditambah
volume cadangan ekspirasi (kira-kira 4000 ml). volume residu adalah jumlah sisa udara dalam
paru-paru setelah ekspirasi kuat kira-kira 1500 cc
Semua volume ini dapat mengalami perubahan karena penyakit.

Sumbatan bronkus yang lebih kecil (sebagai contoh pada bronchitis kronis dan asma)
menyebabkan perlambatan kecepatan ekspirasi. Keadaan ini dapat diukur dengan menentukan
kemungkinan kecepatan ekspirasi paling cepat (aliran puncak) dan volume yang dapat di
ekspirasikan dalam satu detik (volume ekspirasi kuat). Individu normal dapat mengekspirasikan
kira-kira 80% kapasitas vital dalam satu detik.
Penyempitan jalan napas besar, terutama bila ada penyakit pada laring, menyebabkan kesulitan
inspirasi dan pernapasan kemudian sangat berisik (stridor).15
Otot-Otot Pernapasan
Gerakan diafragma menyebabkan perubahan volume intratoraks sebesar 75% selama
inspirasi tenang. Otot diafragma melekat di sekeliling bagian dasar rongga toraks, yang
membentuk kubah di atas hepar dan bergerak kea rah bawah seperti piston pada saat
berkontraksi. Jarak pergerakan diafragma berkisar antara 1,5 cm sampai 7 cm saat inspirasi
dalam.
Diafragma terdiri atas tiga bagian: bagian kostal, yang dibentuk oleh serabut otot yang
bermula dari iga-iga di sekeliling bagian dasar rongga toraks; bagian krural, yang dibentuk oleh
serabut otot yang bermula dari ligamentum disepanjang tulang belakang; dan tendon sentral,
tempat insersi serabut kostal dank rural. Tendon sentral juga mencakup bagian inferior
pericardium. Serabut krural berjalan di kedua sisi esophagus dan dapat menekan esofgus saat
berkontraksi. Bagian kostal dank rural diafragma dipersarafi oleh bagian-bagian yang berbeda
dari nervus phrenicus dan dapat perkontraksi secara terpisah. Contohnya, pada waktu muntah
dan bersendawa, tekanan intra-abdomen meningkat akibat kontraksi serabut kostal diafragma,
sedangkan serabut krural tetap lemas sehingga memungkinkan bergeraknya berbagai zat dari
lambung ke dalam esophagus.
Otot inspirasi penting lainnya adalah muskulus interkostalis eksternus, yang berjalan dari iga
ke iga secara miring kearah bawah dank e depan. Iga iga berputar seolah bersendi di bagian
punggung sehingga ketika muskulus interkostalis eksternus berkontraksi, iga-iga di bawahnya
akan terangkat. Gerakan ini akan mendorong sternum ke luar dan memperbesar diameter
anteroposteior rongga dada. Diameter transversal juga meningkat, tetapi dengan derajat yang
lebih kecil. baik muskulus interkostalis eksternus maupun diafragma dapat mempertahankan
ventilasi yang adekuat pada keadaan istirahat.16

Transeksi medulla spinalis di atas segmen servikalis ketiga dapat berakibat fatal bila tidak
diberikan pernafasan buatan, namun tidak demikian halnya bila dilakukan transeksi di bawah
segmen servikalis kelima karena nervus phrenicus yang mempersarafi diafragma tetap utuh;
nervus phrenicus berasal dari medulla spinalis setinggi segmen servikalis 3-5. Sebaliknya, pada
penderita dengan paralisis otot interkostal yang masih utuh, pernafasan otot interkostal yang
masih utuh, pernafasan agak sukar tetapi cukup adekuat untuk mempertahankan hidup. Muskulus
skalenus dan sternokleidomastoideus di leher merupakan otot inspirasi tambahan yang ikut
membantu mengangkat rongga dada pada pernapasan yang sukar dan dalam.
Jika otot ekspirasi berkontraksi, volume intratoraks akan berkurang dan terjadi ekspirasi
paksa. Efek ini dimiliki oleh muskulus interkostalis internus karena otot-otot ini berjalan miring
kea rah bawah dan belakang dari iga ke iga sehingga pada waktu berkontraksi, otot ini akan
menarik rongga dada ke bawah . kontrksi otot dinding abdomen anterior juga ikut membantu
proses ekspirasi dengan cara menarik iga-iga kebawah dank e dalam serta dengan meningkatkan
tekanan intra-abdomen yang akan mendorong diafragma ke atas.12

Gambar 4. Otot-otot pernapasan.16

Laryngitis

Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri mungkin sekunder. Laryngitis
biasanya disertai rhinitis dan nasofaringitis. Awitan infeksi mungkin berkaitan dengan pemajanan
terhadap perubahan suhu mendadak, defisiensi diet, malnutrisi dan tidak adanya imunitas.
Laryngitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi seiring dengan
menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laryngitis ini
biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya. Hal ini akan
mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar mucus untuk
memproduksi mucus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut
akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan
memacu terjadinya inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat
pengeluaran mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang peningkatan suhu
tubuh.17

Kesimpulan
Manusia bernapas untuk mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan
untuk mentranspor karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer.
Sistem pernapasan sendiri terdiri dari hidung, faring, laring, trachea, bronkus, bronkiolus,
bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan alveoli. Masuk keluarnya
udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan
tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan
masuk. Sebaliknya apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.

Daftar Pustaka

1. Pearce EC. Anatomi & fisiologi u.ps. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005.
2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.
3. Santoso G. Anatomi sistem pernapasan. Edisi I. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.

4.

Bloom, Fawcett. Buku ajar histologi. Edisi 12. Jakarta: Penerbit Buku Kedoktreran EGC;
2002.
5. Anatomi Laring. Di unduh dari : http://ikadewimuriyati.blogspot.co.id/2012/10/anatomisistem-pernapasan_5.html 21 Februari 2016.
6. Gibson J. Fisiologi & anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit Buku Keodkteran
EGC; 2003.
7. Moffat D, Faiz O. At glance anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2008.
8. Eroschenko VP. Atlas histologi di fiore dengan korelasi fungsional. Edisi 9. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.
9. Arifin GF. Kumpulan foto mikroskopik histologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Universitas
Trisakti; 2007.
10. Cameron Jr. Grant RM, Skonfronick JG. Fisika tubuh manusia. Edisi 2. Jakarta: CV.
Sagung Seto; 2006.
11. Anatomi
sistem
pernapasan
atas.
Di
unduh
dari
:
http://ahmadgelegarpersada.blogspot.co.id/p/anatomi-saluran-pernapasan-bawah_23.html
21 Februari 2016.
12. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC; 2008.
13. Inspirasi
dan
ekspirasi.
Di
unduh
dari
:
http://artikelampuh.blogspot.com/2015/02/mekanisme-pernapasan-inspirasi-dan.html . 21
Februari 2016.
14. Admin.
Sesak
nafas.
Mei
2011.
Diunduh
dari:
http://www.klikdokter.com/healthnewstopics/read/2010/11/01/15031148/sesak-nafas, 22
Mei 2011.
15. Guyton AC. Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2005. h. 381-2.
16. 16. Otot-otot pernapasan. Di unduh dari :
17. http://asuhankeperawatan05.blogspot.co.id/2013/12/otot-pernapasan.html 21 Februari
2016.
18. John SD, Maves MD. Surgical anatomy the head and neck. In Byron Head and Neck
surgery Otolaryngology.ed3.Vol I, USA: Wilkins Publisher;2001.h.9.