Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh
manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Racun adalah
zat / bahan yang apabila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung / inhalasi, suntikan
dan absorbsi melalui kulit atau di gunakan terhadap organisme hidup dengan dosis relatif
kecil akan merusak kehidupan / menggangu dengan serius fungsi satu / lebih organ atau
jaringan.
Kasus keracunan merupakan masalah masyarakat modern dan kejadiannya terus
meningkat dari tahun ke tahun, sehingga sering disebut sebagai epidemic modern.
Keracunan adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan fungsi organ tubuh karena
kontak dengan bahan kimia.
Karena adanya bahan- bahan yang berbahaya, menteri kesehatan telah
menetapkan peraturan no 435 / MEN. KES / X1 / 1983 tanggal 16 November 1983
tentang bahan bahan berbahaya. Karena tingkat bahayanya yang meliputi besar dan luas
jangkauan, kecepatan penjalaran dan sulitnya dalam penanganan dan pengamanannya,
bahan bahan berbahaya atau yang dapat membahayakan kesehatan manusia secara
langsung atau tidak langsung.

B. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1.

Agar mahasiswa dapat mengetahui konsep kegawatdaruratan pada intoksikasi obat

2.

Agar mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan teori tentang intoksikasi obat

C. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui konsep kegawatdaruratan pada intoksikasi obat
1

2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan teori tentang intoksikasi obat

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh
manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan
adalah keadaan sakit yang ditimbulkan oleh racun. Bahan racun yang masuk ke dalam
tubuh dapat langsung mengganggu organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati, ginjal
dan lainnya. Tetapi zat tersebut dapat pula terakumulasi dalam organ tubuh, tergantung
sifatnya pada tulang, hati, darah atau organ lainnya sehingga akan menghasilkan efek
yang tidak diinginkan dalam jangka panjang.
Intoksikasi atau keracunan merujuk pada suatu kejadian berupa efek samping
obat, zat kimia,atau substansi asing lainnya yang berhubungan dengan dosis. Terdapat
variasi respon dan kecenderungan individual terhadap dosis obat yang diberikan. Variasi
ini terjadi baik secara genetik maupun yang didapat, karena induksi enzim, inhibisi,
maupun toleransi.
Keracunan obat adalah suatu efek obat yang timbul pada pasien karena beberapa
faktor seperti miss use (salah penggunaan), miss dose (salah dosis), salah pemberian
obat,dan lain lain yang sifatnya tidak di sengaja atau disengaja. Sedangkan alergi obat
adalah suatu reaksi yang ditimbulkan oleh tubuh akibat pemberian senyawa asing.

B. Etiologi
Keracunan dapat disebabkan oleh beberapa hal, berdasarkan wujudnya, zat yang
dapat menyebabkan keracunan antara lain : zat padat (obat-obatan, makanan), zat gas
(CO2), dan zat cair (alkohol, bensin, minyak tanah, zat kimia, pestisida, bisa/ racun
hewan)
Racun racun tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui beberapa cara, diantaranya :
1.

Melalui kulit

2.

Melalui jalan napas (inhalasi)

3.

Melalui saluran pencernaan (mulut)

4.

Melalui suntikan

5.

Melalui mata (kontaminasi mata)

C. Manifestasi Klinis
Ciri-ciri

keracunan

umumnya

tidak

khas

dan

dipengaruhi

oleh

cara

pemberian,apakah melalui mata,paru,lambung atau melalui suntikan. Karena hal ini


mungkin mengubah tidak hanya kecepatan absorpsi dan distribusi suatu bahan
toksik,tetapi juga jenis dan kecepatan metabolismenya,pertimbangan lain meliputi
perbedaan respon jaringan. Hanya beberapa racun yang menimbulkan gambaran khas
seperti pupil sangat kecil (pinpoint),muntah,depresi,dan hilangnya pernapasan pada
keracunan

akut

morfin

dan

alkaloid.

Kulit

muka

merah,banyak

berkeringat,tinitus,tuli,takikardia dan hiperventilasi sangat mengarah pada keracunan


salisilat akut (aspirin).
Riwayat menurunnya kesadaran yang jelas dan cepat,disertai dengan gangguan
pernapasan dan kadang-kadang henti jantung pada orang muda sering dihubungkan
dengan keracunan akut dekstroprokposifen,terutama bila digunakan bersamaan dengan
alkohol.
Untuk zat aditif,gejala terdiri dari dua kelompok besar yaitu :
1. Kelompok Sindrom Simpatotimetik
Gejala yang sering ditemukan adalah dilusi, paranoid, takikardia, hipertensi, keringat
banyak midriasis, hiperefleksi, kejang (pada kasus berat), hipotensi (pada kasus
berat) dan aritmia.
Obat-obat dengan gejala tersebut adalah :Amfetamin, Kokain, Dekongestan,
Intoksikasi teofilin,Intoksikasi kafein
2. Golongan Opiat (morfin,petidin,heroin,kodein) dan sedatif
Tanda dan gejala yang sering ditemukan adalah koma, depresi napas, miosis,
hipotensi, bradikardi, hipotermia,edema paru, bising usus menurun, hiporefleksi dan
kejang. Obat pada kelompok ini yaitu :Narkotik, Barbiturat, Benzodiazepin,
Meprebamat,Etanol
D. Patofisiologi
4

Penyebab terbanyak keracunan adalah pada sistem saraf pusat dengan akibat
penurunan tingkat kesadaran dan depresi pernapasan. Fungsi kardiovaskuler mungkin
juga terganggu,sebagian karena efek toksik langsung pada miokard dan pembuluh darah
perifer,dan sebagian lagi karena depresi pusat kardiovaskular diotak. Hipotensi yang
terjadi mungkin berat dan bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal,
hipotermia terjadi bila ada depresi mekanisme pengaturan suhu tubuh. Gambaran khas
syok mungkin tidak tampak karena adanya depresi sistem saraf pusat dan hipotermia,
Hipotermia yang terjadi akan memperberat syok,asidemia,dan hipoksia
E. Patoflow
F. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis pada keracunan diperoleh melalui analisis laboratorium. Bahan analisis
dapat berasal dari bahan cairan,cairan lambung atau urin.
1. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi perlu dilakukan terutama bila curiga adanya aspirasi zat racun
melalui inhilasi atau adanya dugaan perforasi lambung.
2. Laboratorium klinik
Pemeriksaan ini penting dilakukan terutama analisis gas darah. Beberapa gangguan
gas darah dapat membantu penegakan diagnosis penyebab keracunan. Pemeriksaan
fingsi hati, ginjal dan sedimen urin harus pula dilakukan karena selain berguna untuk
mengetahui dampak keracunan juga dapat dijadiakan sebagai dasar diagnosis
penyebab keracunan seperti keracunan parasetamol atau makanan yang mengandung
asam jengkol.
3. Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan ini juga perlu dilakukan pada kasus keracunan karena sering diikuti
terjadinya gangguan irama jantung yang berupa sinus takikardi, sinus bradikardi,
takikardi supraventrikuler, takikardi ventrikuler, fibrilasi ventrikuler, asistol, disosiasi
elektromekanik. Beberapa faktor predosposisi timbulnya aritmia pada keracunan
adalah keracunan obat kardiotoksik, hipoksia, nyeri dan ansietas, hiperkarbia,
gangguan elektrolit darah, hipovolemia, dan penyakit dasar jantunmg iskemik.

G. Komplikasi
1. Kejang
2. Koma
5

3. Henti jantung
4. Henti napas
5. Syok

H. Penatalaksanaan Pre Hospital Dan Intra Hospital Pada Intoksikasi


a) Penatalaksanaan pada pre hospital pada intoksikasi adalah :
1. Pastikan ABC dalam kondisi baik
2. Melindungi jalan nafas, dan memberi bantalan atau ikatan jika perlu
3. Baringkan di tempat yang datar dengan posisi miring kesalah satu sisi tubuh
4. Letakan bantal atau benda lunat lain di bawah kepala
5. Keluarkan benda atau makanan yang ada di dalam mulut
6. Longgarkan baju atau aksesoris yang ketat
7. Beri obat, atau bawa ke UGD terdekat
b) Penatalaksanaan pada intra hospital pada intoksikasi adalah :
1. Pengobatan penunjang
Tetap pantau ABCD dalam keadaan baik
Merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan
pemberian sirup ipecac 15-30 ml. dapat diulang setelah 20 menit bila tidak

berhasil
Semua pakaian ketat dibuka
Posisi kepala miring untuk mencegah aspirasi pada lambung
Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen
Pantau fungsi vital seperti kesadaran, suhu, TD, RR, dan fungsi jantung harus

diawasi secara ketat


Cairan intra vena sebaiknya diberikan dengan monitoring untuk menilai

adanya kelainan metabolic dan elektrolit


Berikan obat anti dotum
Antropin sulfat (SA) bekerja dengan menghambat efek akumulasi pada tempat
penumpukan
Mula-mula diberikan bolus IV 1 2,5 mg
Dilanjutkan dengan 0,5-1 mg setiap 5-10-15 menit sampai timbul
gejala-gejala atropinisasi (muka merah, mulut kering, takikardi,
midriasis, febris, dan psikosis)
Kemudian interval diperpanjang setiap 15-30-60 menit selanjutnya
setiap 2-4-6-8 dan 12 jam.

Penatalaksanaan tambahan dalam kasus keracunan adalah sebagai berikut :


1. Penatalaksanaan Kegawatan
Walaupun tidak dijumpai adanya kegawatan,setiap kasus keracunan harus
diperlakukan seperti keadaan kegawatan yang mengancam nyawa. Penilaian terhadap
tanda-tanda Vital seperti jalan napas, sirkulasi,dan penurunan kesadaran harus
dilakukan secara cepat.
2. Resusitasi
Setelah jalan nafas dibebaskan dan dibersihkan,periksa pernafasan dan nadi.Infus
dextrose 5 % kec. 15- 20 tts/menit .,nafas buatan,oksigen,hisap lendir dalam saluran
pernafasan,hindari obat-obatan depresan saluran nafas,kalu perlu respirator pada
kegagalan nafas berat. Hindari pernafasan buatan dari mulut kemulut, sebab racun
organo fhosfat akan meracuni lewat mlut penolong.Pernafasan buatan hanya
dilakukan dengan meniup face mask atau menggunakan alat bag valve mask.
3. Eliminasi
Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan
pemeberian sirup ipecac 15 - 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak
berhasil. Katarsis, ( intestinal lavage ), dengan pemberian laksan bila diduga racun
telah sampai diusus halus dan besar. Kumbah lambung atau gastric lavage, pada
penderita yang kesadarannya menurun,atau pada penderita yang tidak kooperatif.
Hasil paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam 4 jam setelah keracunan.
Keramas

rambut

dan

memandikan

seluruh

tubuh

dengan

sabun.

Emesis,katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan


terjadi kurang dari 4 6 jam . pada koma derajat sedang hingga berat tindakan
kumbah lambung sebaiknya dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa
endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi pnemonia.
4. Pemberian antidot/penawar
Tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah mengatasi
keadaan sesuai dengan masalah.
Atropin sulfat ( SA ) bekerja dengan menghambat efek akumulasi Akh pada tempat
penumpukan.
a. Mula-mula diberikan bolus IV 1 - 2,5 mg
b. Dilanjutkan dengan 0,5 1 mg setiap 5 - 10 - 15 menitsamapi timbulk gejala-gejala
atropinisasi ( muka merah,mulut kering,takikardi,midriasis,febris dan psikosis).
c. Kemudian interval diperpanjang setiap 15 30 - 60 menit selanjutnya setiap 2 4
6 8 dan 12 jam.
7

d. Pemberian SA dihentikan minimal setelaj 2 x 24 jam. Penghentian yang mendadak


dapat menimbulkan rebound effect berupa edema paru dan kegagalan pernafasan
akut yang sering fatal.
5. Penilaian Klinis
6. Upaya yang paling penting adalah anamnese atau aloanamnesis yang rinci. Beberapa
pegangan anamnesis yang penting dalam upaya mengatasi keracunan,ialah :
a. Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang digunakan,termasuk
yang sering dipakai
b. Kumpulkan informasi dari anggota keluarga,teman dan petugas tentang obat yang
digunakan.
c. Tanyakan dan simpan sisa obat dan muntahan yang masih ada untuk pemeriksaan
toksikologi
d. Tanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilaktik
Pada pemeriksaan fisik diupayakan untuk menemukan tanda/kelainan fungsi
autonom yaitu pemeriksaan tekanan darah,nadi,ukuran pupil,keringat,air liur, dan
aktivitas peristaltik usus.
7. Dekontaminasi
Umumnya bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap melalui kulit sehingga
dekontaminasi

permukaan

dekontaminasi

saluran

sangat

cerna

agar

diperlukan.
bahan

Di

yang

samping
tertelan

itu,dilakukan
hanya

sedikit

diabsorpsi,biasanya hanya diberikan pencahar,obat perangsang muntah,dan bilas


lambung.
Induksi muntah atau bilas lambung tidak boleh dilakukan pada keracunan
parafin,minyak tanah, dan hasil sulingan minyak mentah lainnya.
Upaya lain untuk megeluarkan bahan/obat adalah dengan dialisis.
8. Terapi suportif,konsultasi,dan rehabilitasi
Terapi suportif,konsultasi dan rehabilitasi medik harus dilihat secara holistik dan
efektif dalam biaya.
9. Observasi dan konsultasi
10. Rehabilitasi
I. Prognosis
Prognosis dari kasus ini pada umumnya baik, bila pengobatan dilakukan secepat
mungkin, namun akan berdampak fatal hingga pada kematian jika terjadi kesalahan
dalam pengobatan. Beberapa kesalahan pengobatan yang sering terjadi, berupa :
1. Resusitasi kurang baik dikerjakan.
2. Eliminasi racun kurang baik.
3. Dosis atropin kurang adekuat, atau terlalu cepat dihentikan.
8

J. Pencegahan
A. Pencegahan Primer (pencegahan dini)
Ditujukan kepada individu yang sama sekali belum terpengaruh penyalagunaan dan
dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :

Penyuluhan tatap muka dalam bentuk ceramah dan diskusi, sarasehan, seminar

Pelayanan dan penyebaran informasi yang benar melalui media cetak (surat kabar,
majalah, buletin, leaflet, booklets, dll) dan media elektrolit (televisi, radio, website
dll)

Penyuluhan dengan mengintegrasikan informasi tentang bahaya penyalahgunaan


Napza dalam kegiatan-kegiatan KB, PKK, Kesehatan, Gizi Keluarga, Pertanian dll

Penyuluhan dengan mengintegrasikan informasi tentang bahaya penyalahgunaan


Napza kedalam pendidikan agama, moral dan hukum, serta dalam kurikulum SLTP
dan SLTA

Melalui kegiatan-kegiatan alternatif antara lain olaraga, perlombaan, kesenian,


keagamaan, bakti sosial, pramuka dll

B. Pencegahan Sekunder (pencegahan kerawanan)


Ditujukan kepada individu yang rawan terhadap pengaruh penyalah gunaan. Untuk
mencegah perluasan pengaruh dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :

Penyuluhan

dengan

ceramah,

sarasehan,

diskusi,

pementasan

drama/film,

peningkatan bakat (olaraga dan kesenian), keagamaan dan kegiatan sosial

Pelayanan dan penyebaran informasi yang benar melalui media cetak (surat kabar,
majalah, buletin, leaflet, booklets dll) dan media elektronik (televisi, radio, website
dll)

Mengadakan kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler antara lain UKS (Usaha Kesehatan


Sekolah ), PKS ( patroli Keamanan Sekolah ), Palang Merah Remaja, Pramuka,
OSIS, Pesantren kilat, Kegiata Seni Budaya seperti kesenian tradisional dll.

C. Pencegahan Tersier (pencegahan kekambuhan)


9

Ditujukan kepada individu yang pernah menjadi korban pengguna dan telah
Sembuh dari ketergantungan. Untuk mencegah kambuhnya kembali mantan
pengguna yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan niat dan tekat yang kuat untuk
tidak lagi menjadi pegguna dan kiat-kiat yang dapat dilakukan adalah:

Hindari teman pengguna Napza

Dalami spiritual

Diperlukan dukungan dan perhatian keluarga

K. Askep Teori
A. PENGKAJIAN
1.

Pengkajian Primer
a. Airway
Periksa klancaran jalan napas, gangguan jalan napas sering terjadi pada klien
dengan keracunan baygon, botulisme karena klien sering mengalami depresi
pernapasan seperti pada klien keracunan baygon, botulinun.
b. Breathing
Kaji keadekuatan ventilasi dengan observasi usaha ventilasi melalui analisa
gas darah atau spirometri.
c. Circulation
Kaji TTV, kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan darah, tekanan
vena sentral dan suhu. mungkin ini berhubungan dengan kerja kardio
depresan dari obat yang ditelan, pengumpulan aliran vena di ekstremitas
bawah, atau penurunan sirkulasi volume darah, sampai dengan meningkatnya
permeabilitas kapiler.
d. Disability (evaluasi neurologis)
Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran dan GCS,
ukuran dan reaksi pupil serta tanda-tanda vital. Penurunan kesadaran dapat
terjadi pada klien keracunan alcohol dan obat-obatan. Penurunan kesadaran
dapat juga disebabkan karena penurunan oksigenasi, akibat depresi
pernapasan seperti pada klien keracunan baygon, botulinum.

10

2. PengkajianSekunder
a. Riwayat Kesehatan
riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama diketahui
setelah keracunan, ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan sindroma
toksis yang ditimbulkan dan kapan terjadinya.
b. Pemeriksaan fisik head to toe
c. Pemeriksaan ADL (Activity Daily Living)
1. Aktifitas dan Istirahat
Gejala : Keletihan,kelemahan,malaise
Tanda : Kelemahan,hiporefleksi
2. Sirkulasi
Tanda : Nadi lemah (hipovolemia), takikardi,hipotensi (pada kasus
berat) ,aritmia jantung,pucat, sianosis,keringat banyak.
3. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih,distensi vesika urinaria,bising usus
menurun,kerusakan ginjal.
Tanda : Perubahan warna urin contoh kuning pekat,merah,coklat
4. Makanan Cairan
Gejala : Dehidrasi, mual , muntah, anoreksia, nyeri uluhati
Tanda : Perubahan turgor kulit/kelembaban,berkeringat banyak
5. Neurosensori
Gejala

Sakit

kepala,penglihatan

mengecil,kram otot/kejang

11

kabur,midriasis,miosis,pupil

Tanda

Gangguan

status

perhatian,ketidakmampuan

mental,penurunan
berkonsentrasi

lapang
kehilangan

memori,penurunan tingkat kesadaran(azotemia), koma,syok.


6. Nyaman / Nyeri
Gejala : Nyeri tubuh,sakit kepala
Tanda : Perilaku berhati-hati/distraksi,gelisah
7. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek,depresi napas,hipoksia
Tanda : Takipnoe,dispnoe,peningkatan frekuensi,kusmaul,batuk produktif
8. Keamanan
Gejala : Penurunan tingkat kesadaran,koma,syok,asidemia
9. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat terpapar toksin(obat,racun),obat nefrotik penggunaan
berulang

B.

DIAGNOSIS YANG MUNGKIN MUNCUL


1. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan distress pernapasan
2. Resiko kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan output yang berlebihan
3. Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan mual,muntah
5. Perubahan perfusi berhubungan dengan efek toksik pada miokard
6. Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan depresi mekanisme suhu tubuh
7. Cemas berhubungan dengan Tidak efektifnya koping individu.

C.
Diagnosa

RENCANA KEPERAWATAN
Tujuan dan Kriteria
Hasil

Intervensi
12

Rasional

1. Tidak
efektifnya
pola

nafas

berhubungan
dengan
distress
pernapasan

Tujuan
:
Mempertahankan
keefektifan pola
nafas.
Kriteria hasil :
RR dalam batas
normal,
nafas
sputum

a. Pantau tingkat,
irama

a. Efek insektisida mendepresi


SSP yang mungkin dapat

pernapasan

&

suara

napas

serta

pola

pernapasan

jalan

mengakibatkan

hilangnya

kepatenan aliran udara atau


depresi

pernapasan,

pengkajian yang berulang


kali sangat penting karena

bersih,

kadar

tidak

toksisitas

mungkin berubah-ubah

ada

secara drastis.
b. Menurunkan kemungkinan

b. Tinggikan
kepala tempat

aspirasi, diafragma bagian


bawah

tidur

untuk menigkatkan

inflasi paru.
c. Dorong

untuk

c. Memudahkan ekspansi paru

nafas

& mobilisasi sekresi untuk

batuk/
dalam

mengurangi

resiko

atelektasis/pneumonia.
d. Auskultasi
suara napas

d. Pasien beresiko atelektasis


dihubungkan

dengan

hipoventilasi & pneumonia.


e. Berikan O2 jika
dibutuhkan
f. Kolaborasi
untuk sinar X
dada,

Blood

Gas Analysis

e. Hipoksia

mungkin

akibat depresi pernapasan


f. Memantau

kemungkinan

munculnya

komplikasi

sekunder

seperti

atelektasis/pneumonia,
evaluasi

kefektifan

usaha pernapasan.

13

terjadi

dari

2. Resiko

Tujuan

a. Monitor

a. Dokumentasi yang akurat

kekurangan

Kekurangan

pemasukan

dapat

cairan tubuh

cairan

dan

mengidentifikasi pengeluran

berhubungan

terjadi

pengeluaran

dan penggantian cairan.

dengan
output yang
berlebihan

Kriteria

tidak

hasil

Tanda-tanda
vital

stabil,

Turgor

kulit

cairan.
suhu
palpasi

denyut perifer.

stabil,

lembab,

c. Observasi

Pengeluaran

adanya

urine normal 1

muntah,

BB/jam

yang

lemah

mengindikasikan penurunan
sirkulasi

perifer

cairan tambahan.
c. Mual,
muntah

mukosa

denyut

dan

dibutuhkan untuk pengantian

Membran

dalam

b. Kulit dingain dan lembab,

b. Monitor
kulit,

membantu

cc/kg

mual,

perdarahan
d. Pantau tandatanda vital

dan

perdarahan yang berlebihan


dapat

mengacu

pada

hipordemia.
d. Hipotensi,

takikardia,

peningkatan

pernapasan

mengindikasikan
kekurangan

cairan

(dehindrasi/hipovolemia).

e. Berikan
pemasukan

14

peroral

bergantung

kepada

pengembalian

kembali
oral

e. Pemasukan

secara

gastrointestinal.

fungsi

berangsurf. Cairan

angsur.

parenteral

dibutuhkan
f. Kolaborasi
dengan

mendukung volume cairan


tim

medis

untuk

/mencegah hipotensi.

dalam

pemberian
cairan

g. Antiemetik

parenteral
g. Kolaborasi

menyebabkan

pemberian

h. Pantau

perfusi

perfusi

jaringan
berhubungan
dengan efek
toksik
mioakrd

pada

jaringan

yang adekuat

ketidak

seimbangan pemasukan
h. Sebagai indikator untuk

antiemetic

Tujuan :
Mempertahankan

menghilangkan
mual/muntah yang dapat

dalam

3. Perubahan

dapat

studi

menentukan

volume

laboratorium

sirkulasi dengan kehilanan

(Hb, Ht).

cairan.

a. Kaji

adanya

a. Data

tersebut

berguna

perubahan

dalam

tanda-tanda

perubahan perfusi

vital.
b. Kaji

daerah

ekstremitas
dingin,lembab,
dan sianosis
c. Berikan
kenyamanan
dan istirahat
15

menentukan

b. Ekstremitas

yang

dingin,sianosis
menunjukan

penurunan

perfusi jaringan

c. Kenyamanan
memperbaiki

fisik

kesejahteraan
istirahat

pasien
mengurangi

komsumsi oksigen
d. Kolaborasi
dengan dokter

d. Obat

antidot

dapat

dalam

(penawar)

mengakumulasi

penumpukan racun.

pemberian
terapi
antidotum

4. Tidak

Tujuan :

efektifnya
pola

napas

berhubungan
dengan
depresi

Mempertahankan
pola napas tetap
efektif

a. Observasi

a. Untuk

tanda-tanda

keadaan

vital.

dalam

b. Berikan

O2

sesuai anjuran
dokter

mengetahui
umum

pasien

menentukan

tindakan selanjutnya
b. Terapi
oksigen
meningkatkan

suplai

oksigen ke jantung

pernapasan
c. Jika

c. Ventilator bisa membantu

pernafasan

memperbaiki depresi jalan

depresi

napas

,berikan
oksigen(ventil
ator)

dan

lakukan
suction.
d. Berikan
kenyamanan
16

d. Kenyamanan fisik akan


memperbaiki

dan

istirahat

pada

pasien

kesejahteraan pasien dan


mengurangi

dengan

kecemasan,istirahat

memberikan

mengurangi

asuhan

oksigen miokard

komsumsi

keperawatan
5. Penurunan
kesadaran
berhubungan
dengan
depresi
sistem saraf
pusat

individual
a. Monitor vital

Tujuan :
Setelah

dilakukan

tindakan perawatan
diharapkan

dapat

sign tiap 15

bermakna

merupakan

menit

indikasi

penurunan

kesadaran
b. Penurunan

kesadaran

b. Catat

tingkat

mempertahankan

kesadaran

tingkat

pasien

kesadaran

klien

c. Kaji

(komposmentis)

a. bila ada perubahan yang

sebagai
penurunan

adanya

tanda-tanda

indikasi
aliran

darah

otak.
c. Gejala tersebut merupakan
manifestasi dari perubahan

distress
pernapasan,na

pada otak, ginjal, jantung


dan paru.

di
cepat,sianosis
dan kolapsnya
pembuluh
d.

darah
Monitor
adanya

d. Tindakan

umum

yang

perubahan

bertujuan

untuk

tingkat

keselamatan

hidup,

kesadaran

meliputi

resusitasi

Airway,
e. Kolaborasi
dengan
medis
17

tim
dalam

sirkulasi
e. Anti dotum

breathing,
(penawar

racun) dapat membantu

pemberian anti
6. Cemas
berhubungan

Tujuan :

dotum
a. Kaji
tingkat

mengakumulasi
penumpukan racun
a. Tingkat kecemasan ringan

kecemasan

dan

sedang

bisa

pasien

ditoleransi

dengan
pengertian

dengan

Setelah
dilakukan

koping yang

tindakan

pemberian

tidak efektif

perawatan

sedangkan

kecemasan

diperlukan

tindakan

berkurang

medikamentosa
b. Pengetahuan

terhadap

b. Jelaskan
mekanisme
pengobatan

yang

mekanisme

pengobatan

diharapkan

dapat

mengurangi
pasien
c. Kecemasan
c. Tingkatkan
mekanisme
koping

yang

efektif
d. Jika keracunan
sebagai

usaha

untuk

bunuh

diri

maka

lakukan safety
precautions.

18

berat

kecemasan
akan

dapat

teratasi jika mekanisme


koping

yang

dimiliki

efektif
d. Konsultasi psikiatri atau
perawat

psikiatri

klinis

dapat membantu proses


pengobatan

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Intoksikasi atau keracunan adalah masuknya zat atau senyawa kimia dalam tubuh
manusia yang menimbulkan efek merugikan pada yang menggunakannya. Keracunan
adalah keadaan sakit yang ditimbulkan oleh racun. Bahan racun yang masuk ke dalam
tubuh dapat langsung mengganggu organ tubuh tertentu, seperti paru-paru, hati, ginjal
dan lainnya. Tetapi zat tersebut dapat pula terakumulasi dalam organ tubuh, tergantung
sifatnya pada tulang, hati, darah atau organ lainnya sehingga akan menghasilkan efek
yang tidak diinginkan dalam jangka panjang.
B. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan ilmu mengenai
keracunan dan penanganannya, apalagi kita sebagai calon pendidik harus mengetahui apa
saja penyebab dan solusi dari keracunan ini.
Bagi petugas kesehatan hendaknya mengetahui jenis-jenis anti dotum dan penanganan
racun berdasarkan jenis racunnya sehingga bisa memberikan pertolongan yang cepat dan
benar.
Bagi petugas kesehatan hendaknya melakukan penilaian terhadap tanda vital seperti jalan
nafas / pernafasan, sirkulasi dan penurunan kesadaran, sehingga penanganan tindakan
risusitasu ABC (Airway, Breathing, Circulatory) tidak terlambat dimulai.

19

DAFTAR PUSTAKA
Abadi, Nur. 2008. Buku Panduan Pelatihan BC & TLS (Basic Cardiac & Trauma Life
Support). Jakarta : EMS 119
https://fajrismart.wordpress.com/2011/02/22/keracunan-obat-dan-bahan-kimia-berbahaya/
diakses tanggal 25 Februari 2016. Jam 15:32:15 WITA
http://keperawatan-wn.blogspot.co.id/2012/10/asuhan-keperawatan-pada-kasus.html

diakses

tanggal 25 Februari 2016. Jam 15:40:10 WITA


http://lukmanfebriantonurse.blogspot.co.id/2013/05/asuhan-keperawatan-pada-kliendengan_3229.html diakses tanggal 25 Februari 2016. Jam 16:40:30 WITA
http://dokumen.tips/documents/keperawatan-gawat-darurat-55a0d03434cdc.html diakses tanggal
27 Februari 2016. Jam 20:20:10 WITA
http://www.artikelkedokteran.com/360/intoksikasi.html#sthash.XXGx6lIg.dpuf diakses tanggal
27 Februari 2016. Jam 17.34:00 WITA
http://dokumen.tips/documents/penanganan-pre-hospital-dan-intra-hospital-pada-intoksikasi.html
di akses tanggal 27 februari 2016 jam 18:05:00

20