Anda di halaman 1dari 22

Manik dengan Gejala Psikotik pada Perempuan Usia 25

Tahun
Anggelina Tania Woda Lado
102013316
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
Email: anggelinatania@gmail.com
Pendahuluan
Alam perasaan seseorang dapat berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi tertentu yang
dialaminya. Suasana alam perasaan seseorang mungkin normal, meninggi atau bahkan
terdepresi. Orang normal dapat mengalami berbagai macam suasana perasaan dan memiliki
ekspresi afektif yang sama luasnya; mereka mampu mengendalikan suasana perasaan dan
afeknya. Lain halnya dengan seseorang yang mengalami gangguan pada alam perasaannya.
Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengetahui tentang gangguan alam perasaan tersebut.1
Suasana perasaan/ mood mungkin normal, meninggi, atau terdepresi. Orang normal
mengalami berbagai macam mood dan memiliki ekspresi afektif yang sama luasnya ; mereka
merasa mengendalikan, kurang lebih, mood dan afeknya. Gangguan mood/ suasana perasaan
adalah suatu kelompok kondisi klinis yang ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan
pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Pasien dengan mood meninggi (elevated)
(yaitu mania), menunjukkan sikap meluap-luap, gagasan yang melonacat-loncat (flight of
ideas), penurunan kebutuhan tidur, peninggian harga diri, dan gagasan kebesaran. Pasien
dengan mood terdepresi (yaitu depresi), merasakan hilangnya energi dan minat, perasaan
bersalah, kesulitan berkonsentrasi, hilangnya nafsu makan, dan pikiran tentang kematian atau
bunuh diri. Tanda dan gejala lain adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif,
pembicaraan, dan fungsi vegetatif (seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual, dan irama
biologis lainnya). Perubahan ini hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal,
sosial, dan pekerjaan.1
Skenario
Seorang perempuan 25 tahun di bawa ke puskesmas oleh ibunya karena semangat
berlebihan dan yakin dirinya artis terkenal dengan penghasilan besar.
Anamnesis

Anamnesis dapat dilakukan secara autoanmnesis (kepada pasien langsung jika pasien
masih dalam keadaan kesadaraan penuh dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik) dan
alloanamnesis (kepada wali atau siapapun yang mengantar pasien kepada dokter).
Tujuan utama dari wawancara psikiatri ialah ( intitute of Psychiatry 1973 ) : Untuk
mendapatkan informasi, menilai emosi dan sikap pasien, Untuk berperan suportif dan
mempermudah memahami pasien. Hal ini merupakan dasar hubungan kerja selanjutkan
dengan pasien.2
Identitas
Nama, usia, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan, suku, dan agama
Keluhan Utama
Keluhan utama adalah alasan pasien datang memeriksakan dirinya atau mencari
pengobatan, yang dicatat sesuai dengan kata-kata pasien sendiri. Dengan demikian dapat
diketahui pula tingkat kemampuan pasien untuk mengobservasi dan mengevaluasi diri.
Apabila keluhan utama tersebut berbeda dengan kesan pemeriksa terhadap kondisi pasien,
masalah yang diutarakan pasien yang harus didahulukan daripada masalah yang
sesungguhnya menurut dokter. Keluhan utama ini yang akan dijabarkan lebih jauh dalam
riwayat penyakit sekarang. Ada baiknya jika pada permulaan, pasien diberi kebebasan untuuk
menceritakan kisahnya, membatasi jumlah pertanyaan dan menggunakan pertanyaan terbuka.
Hal ini akan menimbulkan kesan yang baik bahwa dokter bersedia mendengarkan, juga akan
membuat pasien menunjukkan proses berpikir dan pola bicara yang sebenarnya.2
Riwayat Penyakit Sekarang
Klasifikasi tentang keluhan utama dilakukan disini. Informasi yang dicari antara lain
mengenai gambaran detil dan akurat tentang kesulitan atau gejala yang dialami, onset, dan
lama penyakit, perjalanan gejala-gejala itu konstan, hilang timbul, atau makin memburuk,
faktor yang mencetuskan dan meringankan gejala, peristiwa yang baru terjadi seperti
keluarga yang sakit atau meninggal, masalah perkawinan, keluarga, keuangan, hukum,
pekerjaan, dan masalah sosial yang mungkin berhubungan dengan timbulnya gejala serta
pertolongan apa saja yang sudah diupayakan. Alasan penghentian pengobatan, penting untuk
mengetahui ketaatberobatan (compliance) pasien. Yang perlu juga ditanyakan adalah
penggunaan alkohol atau zat lainnya, seberapa banyak, frekuensi, dan kapan penggunaan
terakhir.2
Riwayat Psikiatrik Lampau
Bagian ini menggambarkan semua episode dan gejala yang pernah dialami dahulu
sebelum ini, diobati ataupun tidak. Dimulai dari pertama kali gejala atau episode tersebut
muncul sampai dengan yang terakhir. Harus digambarkan disini perjalanan longotudinal
gejala tersebut, apakah terus menerus, kambuhan, atau episode tunggal. Jika pasien pernah
mendapatkan pengobatan (termasuk psikoterapi) sebelum ini, tanyakan jenisnya, dosis, dan

lama pengobatan. Juga alasan penghentian pengobatan. Hal ini akan membantu membedakan
antara kondisis nonrespons dan pemberian dosis subterapeutik.2

Riwayat Medik Lampau


Tujuan pemeriksaan ini adalah menyaring penyakit medis dan menemukan penyebab
medis dari penyakit psikiatrik. Yang utama disini adalah riwayat penyakit medis yang relevan
terhadapa keluhan utama, termasuk penyakit medis sekarang dan pengobatannya serta
penyakit keuturunan. Juga digambarkan riwayat pembedahan yang pernah dialami.2
Riwayat Keluarga
Mengetahui siapa saja keluarga pasien yang menderita gangguan jiwa akan
bermanfaat untuk memperoleh gambaran diagnostik seutuhnya, karena banyak gangguan jiwa
bersifat familial dan mempunyai komponen genetik. Untuk masing-masing anggota keluarga
dapatkan informasi berikut: umur, jika meninggal: tahun, umur, dan penyebab meninggalnya;
juga hubungan interpersonal orang tersebut dengan pasien (dekat, asing, bermusuhan, pelaku,
atau korban penganiayaan fisik atau sexual).2
Riwayat Sosial
Kebiasaan sosial, pemakaian Napza, Hobi dan pengisian waktu luang, hubungan
antarmanusia, kondisi perumahan, relasi sosial, catatan hukum, kasus kriminal dan
penahanan, hukuman penjara.2
. Pemeriksaan Fisik
1

Status fisik
Sifat keluhan pasien penting untuk menentukan dibutuhkan atau tidaknya suatu
pemeriksaan fisik lengkap. Gejala fisik seperti nyeri kepala dan palpitasi memerlukan
pemeriksaan medis yang menyeluruh untuk menentukan bagian dari proses somatik. Bila
ada, yang berperan menyebabkan penderitaan tersebut. Hal yang sama dapat digunakan
pada gejala mental misalnya depresi, ansietas, halusinasi, dan waham kejar, yang bisa
jadi merupakan ekspresi dan proses somatik. Terkadang keadaan menyebabkan kita perlu
menunda pemeriksaan medis lengkap. Misalnya, pasien dengan waham atau panik dapat
menunjukkan perlawanan sikap bertahan atau keduanya. Pada keadaan ini, riwayat medis
harus diperoleh dari anggota keluarga bila memungkinkan. Namun, kecauali ada alasan
mendesak untuk melanjutkan pemeriksaan fisik, hal itu sebaiknya ditunda sampai pasien
menurut.3

Pemeriksaan Neurologis
Selama proses anamnesis pada kasus tersebut, tingkat kesadaran dan atensi pasien
terhadap detil pemeriksaan, pemahaman, ekspresi wajah, cara bicara, postur, dan cara
berjalan perlu diperhatikan. Pemeriksaan neurologis dilakukan untuk dua tujuan. Tujuan
pertama dicapai melalui pemeriksaan neurologis rutin, yaitu terutama dirancang untuk

mengungkap asimetri fungsi motorik, persepsi, dan refleks pada kedua sisi tubuh yang
disebabkan oleh penyakit hemisferik fokal. Tujuan kedua tercapai dengan mencari untuk
memperoleh tanda yang selama ini dikaitkan dengan disfungsi otak difus atau penyakit
lobus frontal. Tanda ini meliputi refleks mengisap, mencucur, palmomental, dan refleks
genggam serta menetapnya respons terhadap ketukan di dahi. Sayangnya, kecuali refleks
genggam, tanda seperti itu tidak berkaitan erat dengan patologi otak yang mendasari.3
2

Status mental
Deskripsi umum
a Penampilan
b Postur, pembawaan, pakaian, dan kerapihan. Penampilan pasien skizofrenia
dapat berkisar dari orang yang sangat berantakan, menjerit-jerit, dan teragitasi
hingga orang yang terobsesi tampil rapi, sangat pendiam, dan imobil.
c Perilaku dan aktivitas psikomotor yang nyata
d Kategori ini merujuk pada aspek kuantitatif dan kualitatif dari perilaku
motorik pasien. Termasuk diantaranya adalah manerisme, tik, gerakan tubuh,
kedutan, perilaku streotipik, ekopraksia, hiperaktivitas, agitasi, sikap melawan,
fleksibilitas, rigiditas, gaya berjalan, dan kegesitan.
e Sikap terhadap pemeriksa
f Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat dideskripsikan sebagai kooperatif,
bersahabat, penuh perhatian, tertarik, balk-blakan, seduktif, defensif,
merendahkan, kebingungan, apatis, bermusuhan, suka melucu, menyenangkan,
suka mengelak, atau berhati-hati.3
a. Episode Depresi

Deskripsi umum: Retradasi psikomotor menyeluruh merupakan gejala yang paling


umum, walaupun agitasi psikomotor juga sering ditemukan khususnya pada
pasien lansia. Secara klasik, seorang pasien depresi memiliki postur yang
membungkuk, tidak terdapat pergerakan spontan, pandangan mata yang putus asa
dan memalingkan pandangan.
Mood, afek dan perasaan: Pasien tersebut sering kali dibawa oleh anggota
keluarganya atau teman kerjanya karena penarikan sosial dan penurunan aktifitas
secara menyeluruh.
Bicara: Banyak pasien terdepresi menunjukkan kecepatan dan volume bicara yang
menurun, berespon terhadap pertanyaan dengan kata-kata tunggal dan
menunjukkan respon yang lambat terhadap suatu pertanyaan.
Gangguan persepsi: Pasien terdepresi dengan waham atau halusinasi dikatakan
menderita episode depresi berat dengan ciri psikotik. Waham sesuai mood pada
pasien terdepresi adalah waham bersalah, memalukan, tidak berguna, kemiskinan,
kegagalan, kejar dan penyakit somatik.
Pikiran: Pasien terdepresi biasanya memiliki pandangan negatif tentang dunia dan
dirinya sendiri. Isi pikiran mereka sering kali melibatkan perenungan tentang
kehilangan, bersalah, bunuh diri, dan kematian. Kira-kira 10% memiliki gejala

jelas gangguan berpikir, biasanya penghambatan arus pikiran dan kemiskinan isi
pikiran.
Sensorium dan kognisi: Kira-kira 50-70% dari semua pasien terdepresi memiliki
suatu gangguan kognitif yang sering kali dinamakan pseudodemensia depresif,
dengan keluhan gangguan konsentrasi dan mudah lupa.
Pengendalian impuls: Kira-kira 10-15% pasien terdepresi melakukan bunuh diri
dan kira-kira dua pertiga memiliki gagasan bunuh diri. Resiko untuk melakukan
bunuh diri meningkat saat mereka mulai membaik dan mendapatkan kembali
energi yang diperlukan untuk merencanakan dan melakukan suatu bunuh diri
(bunuh diri paradoksikal /paradoxical suicide).
Reliabilitas: Semua informasi dari pasien terlalu menonjolkan hal-hal yang buruk
dan menekan hal-hal yang baik.3

b. Episode Manik

Deskriksi umum: Pasien manik adalah tereksitasi, banyak bicara, kadang-kadang


mengelikan dan sering hiperaktif.
Mood, afek dan perasaan: Pasien manik biasanya euforik dan lekas marah.
Mereka memiliki toleransi yang rendah dan mudah frustasi yang dapat
menyebabkan perasaan marah dan permusuhan. Secara emosional mereka sangat
labil, mudah beralih dari tertawa menjadi marah kemudian menjadi depresi dalam
hitungan menit atau jam.
Bicara: Pasien manik tidak dapat disela saat mereka bicara dan sering kali rewel
dan menjadi pengganggu bagi orang-orang disekitarnya. Saat keadaan teraktifitas,
pembicaraan penuh dengan gurauan, kelucuan, sajak, permainan kata-kata dan
hal-hal yang tidak relevan. Saat tingkat aktifitas meningkat lagi, asosiasi menjadi
longgar, kemampuan konsentrasi menghilang menyebabkan gagasan yang
meloncat-loncat (flight of idea), gado-gado kata dan neologisme. Pada keadaan
manik akut, pembicaraan mungkin sama sekali inkoheren dan tidak dapat
dibedakan dari pembicaraan skizofrenik.
Gangguan persepsi : Waham ditemukan pada 75% pasien manik. Waham sesuai
mood seringkali melibatkan kesehatan, kemampuan atau kekuatan yang luar biasa.
Dapat juga ditemukan waham dan halusinasi aneh yang tidak sesuai mood.
Pikiran: Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan kebesaran diri, sering kali
perhatiannya mudah dialihkan. Fungsi kognitif ditandai oleh aliran gagasan yang
tidak terkendali.
Sensorium dan kognisi: Secara umum, orientasi dan daya ingat masih intak
walaupun beberapa pasien manik mungkin sangat euforik sehingga mereka
menjawab secara tidak tepat. Gejala tersebut disebut mania delirium (delirious
mania) oleh Emil Kraepelin.
Pengendalian impuls: Kira-kira 75% pasien manik senang menyerang atau
mengancam.

Perimbangan dan tilikan: Gangguan pertimbangan merupakan tanda dari pasien


manik. Mereka mungkin dapat melanggar peraturan.
Reliabilitas: Pasien manik sulit untuk dipercaya. Kebohongan dan penipuan sering
ditemukan pada pasien mania.3
c. Gejala Psikotik
Gejala psikotik yang mungkin timbul yaitu Harga diri yang membumbung dan
gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran (delusion of
grandeur), irritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of
persecution). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut (mood
congruent).3
Working Diagnosis
Mania dengan gejala psikotik
Gangguan mood cukup sering ditemui sekitar (3%-5%) populasi pada satu saat dalam
kehidupannya pernah mengalami gangguan mood dan ditemui hampir semua spesialis
kedokteran. Gangguan mood perlu diidentifikasi dan diobati atau dirujuk ke spesialis yang
sesuai.4
Dua bentuk gangguan mood yang dikenal yaitu depresi dan mania. Keduannya terjadi
sebagai kelanjutan dari keadaan normal ke bentuk yang jelas-jelas patologik. Gejala-gejala
ringan dapat merupakan perluasan dari kesedihan atau kegembiraan normal sedangkan
gejala-gejala berat dikatkan dengan sindrom yang jelas (gangguan mood) yang tampaknya
berbeda secara kualitatif dari proses normal dan membutuhkan terapi spesifik.
Manik menyebabkan kegelisahan mental disertai adanya flight of ideas (tidak pernah
bertahan pada suatu topik dalam waktu yang lama), percaya diri yang berlebihan disertai
waham tentang intelektualitas, kemampuan fisik, finansial atau seksual atau perasaan
mahakuat. Penderita secara fisik tidak mudah lelah dan mungkin tidak makan atau tidur.
Hipomanik, suatu bentuk manik yang ringan, terdiri dari euforia ringan, aktifitas yang
berlebih dan disinhibisi. Manik dapat timbul bergantian dengan depresi suatu penyakit
bipolar. Manik berat diterapi dengan obat penenang mayor dan serangan-serangan
selanjutnya bisa dicegah dengan lithium yang berfungsi untuk menstabilkan mood.4
Yang khas adalah bahwa penderita yakin dirinya baik-baik saja. Kurangnya pengertian akan
keadaannya sendiri disertai dengan aktivitas yang sangat luar biasa, bisa menyebabkan

penderita tidak sabar, mengacau, suka mencampuri urusan orang lain dan jika kesal akan
lekas marah dan menyerang.
Perhatian penderita mudah teralihkan dan selalu berpindah-pindah dari satu tema ke tema
lainnya. Penderita memiliki keyakinan yang salah mengenai kekayaan, kekuasaan, keahlian
dan kecerdasan seseorang; dan kadang menganggap dirinya adalah Tuhan. Penderita yakin
bahwa dirinya sedang dibantu atau dihukum oleh orang lain; atau memiliki halusinasi, yaitu
mendengar dan melihat benda-benda yang sesungguhnya tidak ada.
Penderita tidak henti-hentinya mengikuti berbagai kegiatan (misalnya usaha dagang yang
beresiko, judi atau perilaku seksual yang berbahaya), tanpa memikirkan bahaya sosial yang
mungkin terjadi.
Pada kasus yang berat, aktivitas fisik dan mental penderita sangat hiruk pikuk. Pada
keadaan ini diperlukan penanganan segera, karena penderita bisa meninggal akibat kelelahan
fisik yang luar biasa.4
Etiologi
Kelainan fisik yang bisa menyebabkan mania:
1. Efek samping obat-obatan
- Amfetamin, obat anti-depresi, bromokriptin, kokain, kortikosteroid, Levodopa,
Metilfenidat
2. Infeksi : AIDS, ensefalitis, influenza, sifilis (stadium lanjut)
3. Kelainan hormonal : Hipertiroidisme
4. Penyakit jaringan ikat : Lupus eritematosus sistemik
5. Kelainan neurologis : Tumor otak, cedera kepala, korea Huntington, sklerosis multiple,
stroke, korea Sydenham, epilepsi lobus temporalis.4

Epidemiologi

Mania merupakan suatu gangguan afektif dengan persentasi 12 % dari seluruh gangguan
afektif. Onset rata-rata umur pada pasien dewasa dengsn mania adalah 55 tahun dengan
perbandingan jumlah pria dan wanita 2 : 1. Prevalensi timbulnya mania sekitar 0,1%
pertahun.3
Gambaran Klinis
Pasien-pasien mania sering tidak mengeluh gejala-gejala mereka. Beberapa pasien meras
terlalu senang dan gembira sehingga tidak mengeluh, pasien lain merasa agitasi dan tidak
senang tetapi mereka tidak menyadari bahwa perilaku mereka luar biasa. Pasien hipomanik
sering iritabel atau benar-benar hidup atau keduanya.
Gambaran klinik yang dapat tampak pada pasien mania :4
Tampilan umum : bersemangat , banyak bicara , melawak, hiperaktif, dan memperlihatkan
gejala psikotik.
Alam perasaan : Mudah tersinggung, tidak mudah frustasi, mudah marah dan menyerang,
emosinya tidak stabil, bisa cepat berubah dan gembira ke depresi dalam beberapa saat.
Cara bicara : Bicaranya sukar dipotong, volume keras, loncatan gagasan (flight of
ideas),asosiasi menjadi longgar, konsentrasi berkurang, bisa inkoheren dan neologisme
sehingga sukar dibedakan dengan pasien skizofrenia.
Gangguan persepsi :75% pasien mania mengalami waham, biasanya berhubungan dengan
kekayaan, kemampuan yang luar biasa, kekuatan atau kehebatan yang luar biasa. Kadang ada
waham dan halusinasi yang kacau dan tidak serasi.
Gangguan pikiran : Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri yang berlebihan, merasa
hebat. Mereka mudah teralihkan perhatiannya, sangat produktif dan tidak terkendalikan.
Gangguan sensorium dan fungsi kognitif : Ada sedikit gangguan pada fungsi sensorium dan
kognitif, terkadang jawaban tidak sesuai pertanyaan meskipun tidak ada gangguan tidak ada
gangguan orientasi dan daya ingat.

Gangguan pengendalian diri : Sekitar 75% pasien mania suka mengancam dan menyerang.
Mereka sukar mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal merugikan kalau
tersinggung atau marah.
Reliabilitas : Pasien mania sering berbohong ketika memberikan informasi, Karena berdusta
dan menipu adalah biasa bagi mereka.4
Diagnosis
Berdasarkan tabel Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi 3 yang direvisi
(DSM-III-R), kriteria diagnostik episode mania adalah sebagai berikut :
a. Suatu masa yang berbatas jelas dengan afek yang abnormal,menetap, ekspansif, dan iritabel.
b. Saat terjadinya gangguan afek,sedikitnya ada 3 dari gejala di bawah ini ( 4 bila afeknya hanya
iritabel ) dan cukup dirasakan oleh lingkungannya.
i. Harga diri yang dibesarkan atau grandiosis
ii. Kebutuhan tidur berkurang
iii. Suka bicara lebih dari biasanya dan ada dorongan untuk bicara terus
iv. Loncat pikir atau ia merasa alur pikirnya seperti berpacu.
v. Mudah teralihkan perhatiannya
vi. Bertambahnya kegiatan yang bertujuan atau agitasi psikomotor.
vii. Ikut serta secara berlebih pada kegiatan yang menggembirakan yang beresiko tinggi untuk
mengakibatkan penderitaan.
c. Gangguan afek yang cukup gawat menyebabkan gangguan yang nyata dalam fungsi kerja,
kegiatan social, atau hubungan dengan orang lain, atau membutuhkan perawatan inap demi
mencegah menciderai diri atau orang lain.
d. Pada saat tiada gangguan afek yang menonjol, tak ada halusinasi atau waham selama 2
minggu.

e. Tidak bertumpang tindih pada skizofrenia, gangguan skizofreniform, gangguan waham, atau
gangguan psikotik yang tak ditentukan.
f. Tak dapat dibuktikan bahwa factor organic menyebabkan atau mempertahankan gangguan itu.5
Setelah menegakkan diagnosa suatu episode mania, maka harus dibedakan antara
hipomania, episode mania dengan tanpa gejala psikotik, dan episode mania dengan gejala
psikotik.
Dari ICD-10 Classification of Mental and Behavioral Disorders: Diagnostic Criteria for
Research, disebutkan pedoman diagnostic episode mania dengan gejala psikotik :5
A. Suasana perasaan meningkat dengan jelas, ekspansif, atau iritabel, dan abnormal bagi pribadi
yang bersangkutan. Perubahan suasana perasaan harus nyata dan menetap sekurangnya
selama 1 minggu( kecuali jika cukup berat dan membutuhkan perawatan rumah sakit).
B. Setidaknya ada 3 tanda yang harus menyertai ( 4 bila afeknya hanya iritabel ) :
1. Peningkatan aktivitas atau kegelisahan fisik.
2. Suka bicara ( ada dorongan untuk bicara terus )
3. flight of ideas atau alur pikirnya seperti berpacu.
4. hilangnya larangan sosial normal, menyebabkan perilaku yang tidak sesuai
kepada keadaan
5. kebutuhan tidur berkurang
6. meningkatnya harga diri atau grandiositas
7. distraktibilitas atau perubahan terus-menerus dalam aktivitas dan rencana.
8. Perilaku sembrono atau membabibuta dengan resiko yang tidak diketahui
9. Kecerobohan seksual.

C. Episode tidak dihubungkan dengan penggunaan zat psikoaktif atau gangguan mental organic
lain.
D. Episode tidak bertumpang tindih dengan kriteria skizofrenia atau gangguan skizoafektif tipe
mania.
E. Waham atau halusinasi muncul.
Dari Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa ( PPDGJ ) III, pedoman
diagnosis untuk Mania dengan Gangguan Psikotik :6
Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1 (Mania tanpa gejala
psikotik )
Harga diri yang membubung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham
kebesaran ( delusion of grandeur ), iritabilitas, dan kecurigaan menjadi waham kejar
( delusion of persecution ). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek
tersebut(mood congruent).6
Patopsikologi

Biopsikososial
Analisis ego menurut Erik Erikson (1902-) adalah seorang tokoh sentral dalam teori
psikoanalitik kontemporer. Ia menekankan hubungan social antara anak-anak bukan prosesproses tak sadar diri. Erikson melihat sebagai psikososial yang menekankan kecocokkan
timbale-balik antara individu dan lingkungan, artinya disatu pihak antara kapasitas individu
untuk berhubungan dengan suatu ruangan kehidupan yang terdiri atas manusia dan pranatapranata yang selalu bertambah luas dan di lain pihak kesiapan manusia dan pranata-pranata
ini untuk membuatnya menjadi bagian dari suatu keprihatinan budaya yang tengah
berlangsung (1975-102). Pandangan erikson yang sangat penting adalah pandangan tentang
tahap-tahap perkembangan. Tidak seperti freud yang berpendapat bahwa perkembangan
tahap-tahap psikoseksual berakhir dengan tahap genital yang mulai pada awal remaja,erikso
menekankan proses-proses perkembangan yang kontinu sampai dewasa. Ia mengemukakan
delapan tahap psikososial (lihat table 1). Setiap tahap kehidupan menggambarkan individu
dengan tugas-tugas yang harus dicapai. Kegagalan dalam memecahkan konflik-konflik dari
suatu tahap tertentu menyulitkan individu dalam menangani konflik-konflik pada tahap-tahap
berikutnya.7

Hasil-hasil positif dalam gahap-tahap psikososial yang dikemukakan erikson member


sumbangan kepada kepribadian yang sehat. Misalnya, adalah sehat membentuk kepercayaan
dasar dalam lingkungan pada masa bayi, menjadi rajin pada tahun-tahun sekolah dasar,
mengembangkan rencana-rencana pekerjaan dan tujuan-tujuan pada masa remaja,
membentuk hubungan intim pada masa dewasa awal, menjadi produktif dan memberikan
sumbangan kepada perkembangan generasi yang lebih muda pada masa dewasa menengah
dan seterusnya.7

Selain itu, penelitian-penelitian juga menunjukksan adanya kelompok neurotransmiter lain


yang berperan penting pada timbulnya mania, yaitu golongan neuropeptida, termasuk
endorfin, somatostatin, vasopresin dan oksitosin. Diketahui bahwa neurotransmiterneurotransmiter ini, dalam beberapa cara, tidak seimbang (unbalanced) pada otak individu
mania dibanding otak individu normal.5
Misalnya, GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal pada pasien
mania. Norepinefrin meningkat kadarnya pada celah sinaptik, tapi dengan serotonin normal.
Dopamin juga meningkat kadarnya pada celah sinaptik, menimbulkan hiperaktivitas dan
nsgresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia. Antidepresan trisiklik dan MAO inhibitor
yang meningkatkan epinefrin bisa merangsang timbulnya mania, dan antipsikotik yang memblok reseptor dopamin yang menurunkan kadar dopamin bisa memperbaiki mania, seperti
juga pada skizofrenia.5
1). Monoamin dan Depresi
Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa zat-zat yang menyebabkan
berkurangnya monoamin, seperti reserpin, dapat menyebabkan depresi.Akibatnya timbul
teori yang menyatakan bahwa berkurangnya ketersediaan neurotransmiter monoamin,
terutama NE dan serotonin, dapat menyebabkan depresi. Teori ini diperkuat dengan
ditemukannya obat antidepresan trisiklik dan monoamin oksidase inhibitor yang bekerja
meningkatkan monoamin di sinap. Peningkatan monoamin dapat memperbaiki depresi.5
2). Serotonin
Neuron serotonergik berproyeksi dari nukleus rafe dorsalis batang otak ke korteks serebri,
hipotalamus, talamus, ganglia basalis, septum, dan hipokampus. Proyeksi ke tempat-tempat
ini mendasari keterlibatannya dalam gangguan-gangguan psikiatrik. Ada sekitar 14 reseptor
serotonin, 5-HT1A dst yang terletak di lokasi yang berbeda di susunan syaraf pusat. Serotonin
berfungsi sebagai pengatur tidur, selera makan, dan libido. Sistem serotonin yang berproyeksi
ke nukleus suprakiasma hipotalamus berfungsi mengatur ritmik sirkadian (siklus tidurbangun, temperatur tubuh, dan fungsi axis HPA). Serotonin bersama-sama dengan
norepinefrin dan dopamin memfasilitasi gerak motorik yang terarah dan bertujuan. Serotonin
menghambat perilaku agresif pada mamalia dan reptilia.
Neurotransmiter serotonin terganggu pada depresi. Dari penelitian dengan alat pencitraan
otak terdapat penurunan jumlah reseptor pos-sinap 5-HT1A dan 5-HT2A pada pasien dengan

depresi berat. Adanya gangguan serotonin dapat menjadi tanda kerentanan terhadap
kekambuhan depresi. Dari penelitian lain dilaporkan bahwa respon serotonin menurun di
daerah prefrontal dan temporoparietal pada penderita depresi yang tidak mendapat
pengobatan. Kadar serotonin rendah pada penderita depresi yang agresif dan bunuh diri.
Triptofan merupakan prekursor serotonin. Triptofan juga menurun pada pasien depresi.
Penurunan kadar triptofan juga dapat menurunkan mood pada pasien depresi yang remisi dan
individu yang mempunyai riwayat keluarga menderita depresi. Memori, atensi, dan fungsi
eksekutif juga dipengaruhi oleh kekurangan triptofan. Neurotisisme dikaitkan dengan
gangguan mood, tapi tidak melalui serotonin. Ia dikaitkan dengan fungsi kognitif yang terjadi
sekunder akibat berkurangnya triptofan. Hasil metabolisme serotonin adalah 5-HIAA
(hidroxyindolaceticacid). Terdapat penurunan 5-HIAA di cairan serebrospinal pada penderita
depresi. Penurunan ini sering terjadi pada penderita depresi dengan usaha-usaha bunuh diri.5
Penurunan serotonin pada depresi juga dilihat dari penelitian EEG tidur dan HPA aksis.
Hipofontalitas aliran darah otak dan penurunan metabolisme glukosa otak sesuai dengan
penurunan serotonin. Pada penderita depresi mayor didapatkan penumpulan respon serotonin
prefrontal dan temporoparietal. Ini menunjukkan bahw adanya gangguan serotonin pada
depresi.5
3). Noradrenergik
Badan sel neuron adrenergik yang menghasilkan norepinefrin terletak di locus ceruleus (LC)
batang otak dan berproyeksi ke korteks serebri, sistem limbik, basal ganglia, hipotalamus dan
talamus. Ia berperan dalam mulai dan mempertahankan keterjagaan (proyeksi ke limbiks dan
korteks). Proyeksi noradrenergik ke hipokampus terlibat dalam sensitisasi perilaku terhadap
stressor dan pemanjangan aktivasi locus ceruleus dan juga berkontribusi terhadap rasa
ketidakberdayaan yang dipelajari. Locus ceruleus juga tempat neuron-neuron yang
berproyeksi ke medula adrenal dan sumber utama sekresi norepinefrin ke dalam sirkulasi
darah perifer. Stresor akut dapat meningkatkan aktivitas LC. Selama terjadi aktivasi fungsi
LC, fungsi vegetatif seperti makan dan tidur menurun. Persepsi terhadap stressor ditangkap
oleh korteks yang sesuai dan melalui talamus diteruskan ke LC, selanjutnya ke komponen
simpatoadrenalsebagai respon terhadap stressor akut tsb. Porses kognitif dapat memperbesar
atau memperkecil respon simpatoadrenal terhadap stressor akut tersebut. Rangsangan
terhadap bundel forebrain (jaras norepinefrin penting di otak) meningkat pada perilaku yang
mencari rasa senang dan perilaku yang bertujuan. Stressor yang menetap dapat menurunkan
kadar norepinefrin di forbrain medial. Penurunan ini dapat menyebabkan anergia, anhedonia,
dan penurunan libido pada depresi. Hasil metabolisme norepinefrin adalah 3-methoxy-4hydroxyphenilglycol (MHPG). Penurunan aktivitas norepinefrin sentral dapat dilihat
berdasarkan penurunan ekskresi MHPG. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MHPG
mengalami defisiensi pada penderita depresi. Kadar MHPG yang keluar di urin meningkat
kadarnya pada penderita depresi yang di ECT (terapi kejang listrik)

Episode Manik

Peningkatan perasaan seperti euforia, perasaan yang meluap-luap, atau mudah


tersinggung adalah tanda dari episode manik. Beberapa pasien manik dapat membuka
pakaiannya di tempat umum, mengenakan pakaian atau perhiasan yang mencolok, pasien
biasanya impulsive. Mereka mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan politik,
agama, keuangan, dan seksual.7
Kriteria diagnostik untuk episode manik berdasarkan DSM-IV-TR1:
A Adanya suatu periode yang jelas dimana terdapat peningkatan suasana perasaan
yang menetap dan abnormal, perasaan yang meluap-luap, atau mudah tersinggung,
sekurang-kurangnya satu minggu
B Selama periode gangguan mood, terdapat tiga (atau lebih), gejala di bawah ini
(empat jika gangguan mood hanya mudah tersinggung) dan telah ada derajat yang
tampak :
1 Peningkatan percaya diri
2 Penurunan kebutuhan tidur (merasa cukup beristirahat setelah tidur 3 jam)
3 Lebih banyak bicara daripada biasanya atau mempunyai tekanan untuk
terus berbicara
4 Fligt of ideas
5 Distraktibilitas
6 Agitasi psikomotor
7 Memiliki keinginan yang berlebihan dan kesenangan untuk melakukan
aktivitas yang dapat mencelakakan
C Gejala tidak termasuk dalam kriteria episode campur
D Gangguan mood cukup berat untuk menyebabkan kegagalan berfungsi dalam
pekerjaan, atau dalam kegiatan sosial sehari-hari atau dalam hubungan dengan
orang lain, atau sampai memerlukan perawatan di rumah sakit untuk mencegah
melukai diri sendiri atau orang lain, atau ada gambaran psikotik
E Gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari obat atau penyakit umum
Note : episode mirip manik yang jelas disebabkan oleh pengobatan somatik
antidepresan (seperti obat-obatan, ECT, terapi cahaya) tidak digolongkan pada
gangguan bipolar I.
Menurut PPDGJ III, gangguan suasana perasaan (mood [afektif]) dibagi
menjadi:
F30

Episode Manik
Kesamaan karakteristik dalam afek yang meningkat, disertai peningkatan
dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat
keparahan. Kategori ini hanya untuk satu episode manik tunggal (yang
pertama), termasuk gangguan afektif bipolar, episode manik tunggal. Jika ada
episode afektif (depresi, manik atau hipomanik) sebelumnya atau sesudahnya,
termasuk gangguan afektif bipolar. (F31).
F30.0 Hipomania

Derajat gangguan yang lebih ringan dari mania (F30.1), afek yang
meninggi atau berubah disertai peningkatan aktivitas, menetap selama
sekurang-kurangnya beberapa hari berturut-turut, pada suatu derajat
intensitas dan yang bertahan melebihi apa yang digambarkan bagi
siklotimia (F34.0), dan tidak disertai halusinasi atau waham.
Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang
sesuai dengan diagnosis hipomania, akan tetapi bila kakacauan itu berat
atau menyeluruh, maka diagnosis mania (F30.1 atau F30.2) harus
ditegakkan.

F30.1 Mania Tanpa Gejala Psikotik


Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya 1 minggu, dan cukup
berat sampai mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan
aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga
terjadi aktivitas berlabihan, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan
tidur yang berkurang, ide-ide perihal kebesaran/ grandiose ideas dan
terlalu optimistik.
F30.2 Mania Dengan Gejala Psikotik
Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1
(mania tanpa gejala psikotik).
Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang
menjadi waham kebesaran (delusion of grandeur), irritabilitas dan
kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of persecution). Waham dan
halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut (mood congruent).
F30.8 Episode Manik Lainnya
F30.9 Episode Manik YTT

Skizofrenia
Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia, pasien harus memenuhi kriteria DSM-IV:
a
b
c
d

Berlangsung pasling sedikit enam bulan


Penurunan fungsi yang cukup bermakna yaitu dalam bidang pekerjaan, hubungan
interpersonal, dan fungsi kehidupan pribadi.
Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selam periode tersebut.
Tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor,
autisme, atau gangguan organik.4

Gambaran klinis:

Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan mereka berada
dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama (bertahun-tahun) dalam
fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama
periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan aneh. Gejala-gejala
penyakit biasanya terlihat lebih jelas oleh orang lain.4
Gejala Positif dan Negatif:
Gejala positif mencakup waham dan halusinasi. Gejala negatif meliputi afek mendatar
atu menumpul, miskin bicara (alogia) atau isi bicara, bloking, kurang merawat diri, kurang
motivasi, anhedonia, dan penarikan diri secara sosial.4

Jenis Jenis Skizofrenia:4


a

Tipe paranoid
Skizofrenia tipe ini ditandai dengan preokupasi terhadap satu atau lebih waham atau
halusinasi auditorik yang sering serta tidak adanya perilaku spesifik yang sugestif untuk
tipe hebrefrenik atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid terutama ditandai
dengan adanya waham kejar atau kebesaran. Pasien skizofrenia paranoid biasanya
mengalami episode pertama penyakit pada usia yang lebih tua dibanding pasien
skizofrenia hebefrenik dan katatonik. Pasien skizofrenia paranoid menunjukkna regresi
kemampuan mental, respons emosional, dan perilaku yang lebih ringan dibandingkan
pasien skizofrenia tipe lain. Pasien skizofrenia paranoid biasanya tegang, mudah curiga,
berjaga-jaga, berhati-hati, dan terkadang bersikap bermusuhan atau agresif, namun
mereka kadang-kadang dapat mengendalikan diri mereka secara adekuat pada situasi
sosial. Inteligensi mereka dalam area yang tidak dipengaruhi psikosisnya cenderung tetap
utuh.4
b Tipe disorganized
Skizofrenia tipe disorganized (sebelumnya disebut hebefrenik) ditandai dengan regresi
nyata ke perilaku primitif, tak terinhibisi, dan kacau serta dengan tidak adanya gejala
yang memenuhi kriteria tipe katatonik. Onset subtipe ini biasanya dini, sebelum usia 25
tahun.4
c Tipe katatonik
Pasien mempunyai paling sedikit satu dari beberapa bentuk katatonia:
- Stupor katatonik atau mutisme yaitu pasien tidak berespons terhadap lingkungan atau
orang. Pasien menyadari hal-hal yang sedang berlangsung di sekitarnya.
- Negativsme katatonik yaitu pasien melawan semua perintah-perintah atau usahausaha untuk menggerakkan fisiknya.
- Rigiditas katatonik yaitu pasien secara fisik sangat kaku atau rigid.
- Postur katatonik yaitu pasein mempertahankan posisi yang tak biasa atau aneh.
- Kegembiraan katatonik yaitu pasien sangat aktif dan gembira. Mungkin dapat
mengancam jiwanya (misalnya, karena kelelahan).4
d Tipe tak terinci
Pasien mempunyai halusinasi, waham, dan gejala-gejala psikosis aktif yang menonjol
(misalnya: kebingungan, inkoheren) atau memenuhi kriteria skizofrenia tetapi tidak dapat

digolongkan pada tipe paranoid, katatonik, hebefrenik, residual, dan depresi pasca
skizofrenia.4
Tipe residual
Pasien dalam keadaan remmsi dari keadaan akut tetapi masih memperlihatkan gejalagejala residual (penarikan diri secara sosial, afek datar atau tak serasi, perilaku eksentrik,
asosiasi melonggar, atau pikiran tak logis).4
Skizofrenia simpleks
Skizofrenia simpleks adalah sulatu diagnosis yang sulit dibuat secara meyakinka karena
bergantung pada pemastian perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif dari
gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat halusinasi,
waham atau manifestasi lain tentang adanya suatu episode psikotik sebelumnya, dan
disertai degan perubahan-perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, kemalasan, dan penarikan diri
secara sosial.4

Skizoafektif
Pedoman Diagnostik:4
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive adanya
skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan
(simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu
episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode
penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau
depresif.
Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan
gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.
Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu
episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia). Beberapa
pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manik (F25.0)
maupundepresif (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami
satu atau dua episode skizoafektif terselip diantara episode manic dan depresif (F30F33)
F25.0 Gangguan skizoafektif tipe manic
Pedoman Diagnostik:4

Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manic yang tunggal
maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe
manic.
Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu
menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak.
Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua,
gejala skizofrenia yang khas.

Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui, tetapi empat model


konseptual telah diajukan :4
1
2
3
4

Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe
gangguan mood
Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia
dan gangguan mood
Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda,
tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood
Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok
gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan yang pertama.

Penelitian yang dilakukan untuk menggali kemungkinan-kemungkinan tersebut telah


memeriksa riwayat keluarga, petanda biologis, respon pengobatan jangka pendek, dan hasil
akhir jangka panjang.4
Walaupun banyak pemeriksaan terhadap keluarga dan genetika yang dilakukan untuk
mempelajari gangguan skizoafektif didasarkan pada anggapan bahwa skizofrenia dan
gangguan mood adalah keadaan yang terpisah sama sekali, namun beberapa data menyatakan
bahwa skizofrenia dan gangguan mood mungkin berhubungan secara genetic. Beberapa
kebingungan yang timbul dalam penelitian keluarga pada pasien dengan gangguan
skizoafektif dapat mencerminkan perbedaan yang tidak absolute antara dua gangguan primer.
Dengan demikian tidak mengejutkan bahwa penelitian terhadap sanak saudara pasien dengan
gangguan skizoafektif telah melaporkan hasil yang tidak konsisten. Peningkatan prevalensi
skizofrenia tidak ditemukan diantara sank saudara pasien yang pasien dengan skizoafektif,
tipe bipolar; tetapi, sanak saudara pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif,
mungkin berada dalam resiko yang lebih tinggi menderita skizofrenia daripada suatu
gangguan mood.4

Penatalaksanaan
Rawat Inap
Merawat pasien yang menderita mania (hipomania) sebagai pasien rawat inap
psikiatrik merupakan cara yang hampir selalu paling baik. Meskipun pasien melakukan protes
agar tetap mendapatkan pengobatan rawat jalan, insight buruk yang terjadi pada gangguan
ini, bersamaan dengan perasaan sehat yang sering menyertai, sangat mungkin menyebabkan
ketidakpatuhan dan risiko mania memburuk. Seperti yang telah disinggung, mania berat
dapat menyebabkan pengabaian diri dan dehidrasi hingga tingkat berbahaya. Pada kasus
episode pertama, keluarga pasien perlu dijelaskan secara cermat sifat dan kondisi tersebut dan
perlunya rawat inap, keluarga pasien yang sudah pernah dirawat sebelumnya biasanya sangat
setuju pasien dirawat setelah menyaksikan dampak sosial dan pengobatannya.9

Farmakoterapi
Secara umum
Penderita perlu dirawat di rumah sakit karena biasanya tidak mempunyai pandangan
dan kesadaran terhadap dirinya, sehingga dapat membahayakan kesehatan fisiknya seperti
kurang memperhatikan kebersihan diri, tidak mau makan, tidak tidur berhari-hari,membuang
banyak uang atau menghabiskan miliknya yang sudah secara rutin secara tidak
bertanggungjawab.7
2. Terapi kimiawi
a. Obat yang dapat diberikan ada beberapa senyawa :
- Senyawa phenothiazine :
o Promazine (prazine/verophen) 100 600 mg/hari
o Chlorpromazine(Largaktil / Megaphen / Propaphenin , Thorazine) 75 500 mg/hari
o Levomepromazine(Nozinan/Neurocil) 75 300 mg/hari
o Thioridazine (Melleril) 75 500 mg/hari
o Trifluoperazine (Stelazine) 3 30 mg/hari
- Senyawa alkaloid Rauwolfla :
o Reserpine (Serpasil) 3 9 mg/hari
- Senyawa butyrophenone :
o Haloperidol (Haldol/Serenace/ Vesalium) 3 5 mg/hari
3. Terapi elektrolit
Lithium Carbonat dapat diberikan dalam jumlah 1 gr/hari, umumnya dalam bentuk tablet.

Pilihan utama pengobatan adalah obat-obat antipsikotik (neuroleptik). Senyawa-senyawa


litium (litium karbonat dan litium sitrat) digunakan untuk profilaksis mania dan tentu saja,
gangguan bipolar. Garam litium juga dapat digunakan pada pengobatan mania akut, tetapi
pasien biasanya memerlukan waktu sekurang-kurangnya seminggu untuk memberikan
respons, sehingga obat-obat antipsikotik lebih dipilih. Litium mempunyai rasio terapeutik
rendah sehingga kadar dalam plasma perlu dipantau secara teratur. Melalui penyesuaian
dosis, konsentrasi obat dalam plasma dipertahankan antara 0,4 1,0 mmol/l (diukur 12 jam
setelah dosis terdahulu, biasanya saat mau tidur). Litium dan kation natrium saling
berkompetisi untuk di reabsorpsi di tubulus proksimal sehingga retensi litium dapat
disebabkan oleh defisiensi dan diuresis natrium. Kontraindikasi terhadap penggunaan litium
mencakup:9
-

Insufisiensi ginjal

Insufisiensi kardiovaskular

Penyakit addison

Hipotiroidisme yang tidak terobati

Efek samping litium berbeda-beda sesuai konsentrasi plasma dan diperlihatkan pada tabel
dibawah. Selain pemantauan kadar litium dalam plasma, uji-uji lain yang sebaiknya
dilakukan secara teratur meliputi kadar urea dan elektrolit serta uji fungsi tiroid. Pada kasus
gangguan bipolar yang resisten terhadap litium, pengobatan profilaktik alternatif dengan
carbamazephine dapat dicoba. Sekali lagi, kadar plasma harus dipantau secara teratur.9
0,5 1
1 1,5
2 2,5 / >>
Efek GI
Edema
Hupereflesia
dan
- Mual
Tremor kasar
hiperekstensi ekstremitas
- Muntah
Ataksia
Kejang
- Diare
Disatria
Psikosis toksik
Tremor halus
Nistagmus
Sinkop
Mulut kering
Gangguan ginjal
Oliguria
Poliuria dan polidipsi
Anoreksia
Kegagalan sirkulasi
Vertigo
Kelemahan otot
Koma
Penambahan BB
Kematian
Gambar Tabel : Efek samping litium berdasarkan kadar litium
Terapi elektrokonvulsif (ECT)
Tindakan ini digunakan untuk pengobatan stupor manik, yang jarang terjadi akhirakhir ini di negara-negara Barat. Tindakan ini juga digunakan pada mania resisten sebagai
pengobatan lini ketiga setelah antipsikotik (neuroleptik) dan litium.9
Penanganan Psikososial
Jika pasien menjadi sasaran ekspresi emosi yang tinggi, keluarga harus ditemui dan
diberitahu mengenai perlunya mengurangi komentar kritis untuk mengurangi kemungkinan

relaps. Terapi keluarga dapat ditawarkan, masalah perkawinan/matrial dapat ditangani dengan
terapi matrial. Sifat gangguan manic sebaiknya dijelaskan pada keluarga, serta pasien bila ia
sehat, dan perlunya meneruskan pengobatan profilaktik sebaiknya ditekan.
o Terapi

keluarga, terapi interpersonal, terapi tingkah laku, therapeutic community,


kurangi jumlah dan berat stressor.

Prognosis
Rata-rata durasi episode mania adalah sekitar 2 bulan. Dengan 95% sembuh
sempurna. Dhingra & Rabins (1991) mengamati pasien usia lanjur dengan mania selama 5
7 tahun dan menemukan 34% pasien meninggal. Selama pengamatan, 32% pasien mengalami
penurunan fungsi kognitif yang diukur dengan Mini Mental State Examination dengan skor
kurang dari 24. 72% pasien mengalami bebas dari gejala dan 80% dapat hidup independent. 8

Kesimpulan
Manik menyebabkan kegelisahan mental disertai adanya flight of ideas (tidak pernah
bertahan pada suatu topik dalam waktu yang lama), percaya diri yang berlebihan disertai
waham tentang intelektualitas, kemampuan fisik, finansial atau seksual atau perasaan
mahakuat. Penderita secara fisik tidak mudah lelah dan mungkin tidak makan atau tidur.
Manik berat diterapi dengan obat penenang mayor dan serangan-serangan selanjutnya bisa
dicegah dengan lithium yang berfungsi untuk menstabilkan mood.
Hipotesis diterima.

Daftar Pustaka
1

Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Anamnesis dan pemeriksaan klinis. Buku ajar
psikiatri; ed. 2 Jakarta: EGC, 2011.

Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Edisi ke-2. Surabaya: Airlangga
University Press; 2009.h.195-277.

Amir N. Skizofrenia. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G, penyunting. Buku ajar


psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2010.h.170-94.

Rusdi M. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:


Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa. 2001. p. 58-69.

Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Gangguan mood, bunuh diri dan upaya bunuh diri.
Gangguan bipolar. Buku ajar psikiatri; ed. 2 Jakarta: EGC, 2011.

Lubis NL. Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
2009. p. 61-85.

Semium Yustinus. Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta:


Kanisius.2006.h.20-22.

Kaplan

HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu

Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis edisi 7. Jakarta: Binarupa Aksara. 1997. p. 777858
9

Muslim, Rusdi. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta 2001.