Anda di halaman 1dari 16

JOURNAL READING

Antibiotic Tratmen Strategies for


Community Acquired Pneumonia in
Adult
Disusun oleh :
Dimas Hervian Putera
Pembimbing:
dr. Rudi Dermawan, Sp.P
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit dalam
BLUD Sekarwangi
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2015

LATAR BELAKANG
Community Acquired Pneumonia (CAP) merupakan
penyebab utama rawat inap dan kematian di dunia.
Banyak pedoman antibiotik yang direkomendasikan
untuk pengobatan CAP
Pada pasien suspek CAP yang tidak dirawat di ICU,
diberikan guidlines rekomendasi Beta
laktam+Makrolida/ciproploxacin atau monoterapi
dengan moxifloxcacin/levofloxacin
Hal ini meningkatkan penggunaan macrolida dan
floroquinolon, yang akan meningkatkan resisten.
Sehingga diperlukan strategi pengobatan empiris
dengan beta laktam monoterapy, betalaktam
+makrolid , florokuinolon monoterapy

Metode
Study design :
dilakukan & Rumah sakit di Belanda dari februari
2011- agustus 2013
Rekrutmen pasien
Pasien dengan Usia >17 tahun dengan klinis suspek
CAP yang membutuhkan antibiotik dan di rawat di
ruangan non ICU yang sesuai kriteria tabel 1.
Yang dirawat sesuai dengan kriteria CURB-65

Intervention
selama 4 bulan berturut-turut diberikan, betalaktam monterapi,
betalaktam dengan makrolid, florokuinolon monoterapi sebagai
terapi pilihan
Randomization
Computer generated randomization
Outcomes
Primer : semua penyebab kematian 90 hari setelah masuk
Sekunder : waktu ketika di mulai pengobatan oral, lama di RS dan
kejadian komplikasi mayor minor saat di RS, dan diukur secara
individual

Pengumpulan Data
(Data dari Klinis, LAB, Uji mikrobiologi, agen
antibiotik yang digunakan, komplikasi dan
hasil klinis yang diambil dari medical record)
Data yang tidak terdapat di MD, ditanyakan
kepada perawat dan dokter yang
bertanggung jawab.

HASIL

Diskusi
Tidak ada perbedaan pengobatan klinis yang relevan
antara strategi pengobatan dalam lamanya dirawat
atau komplikasi yang di laporkan.
Fluorokuinolon pengobatannya lebih pendek, karena
banyak pasien selama periode mulai dengan
pengobatan empiris , tapi tidak menghasilkan
penurunan lamanya dirawat

Pendekatan penelitian ini dari penelitian


sebelumnya berbeda, ada 4 aspek yaitu :
1. Penelitian ini untuk strategi pengobatan,
daripada antibiotik individu dalam pengobatan
pasien yang dirawat dengan CAP
2. Menggunakan desain cluster randomize yang
memmungkinkan untuk segera memulai strategi
empiris
3. Untuk pasien yang digunakan mungkin sudah
dugunakan dalam praktek sehari-hari yang
meningkatkan hasil yang general
4. Kematian yang terjadi 90 hari. Karena CAP di
kaitkan dengan mortalitas jangka panjang yang
tinggi

Kesimpulan
Diantara pasien dengan Klinis suspek CAP yang tidak
dirawat di ICU. Dengan pengobatan empiris
menggunakan beta laktam monoterapi karena resiko
komplikasi yang rendah dan lama rawat inap di RS yang
lebih cepat dibandingkan strategi yang lain.