Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN


KOMODITAS TOMAT (Solanum Iycopersicum)

Disusun Oleh
David Christian Junior
Devita Ratnasari
Hengki Dwi P.
Sari Kusuma M. Nur

145040207111086
145040201111197
145040201111205
145040201111210
Kelas : T

Kelompok: Tomat (T4)

Asisten Kelas
Asisten Lapang

: Wahyu Setyaningsih
: Atiqah Aulia

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM


TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN
KOMODITAS TOMAT (Solanum Iycopersicum)

Disusun Oleh :

Asisten Kelas,

Asisten Lapang,

Wahyu
Setyaningsih
NIM.
125040201111254

Atiqah Aulia
NIM.
135040201111362

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sebab oleh
karena-Nya kami dapat menyelesaikan laporan praktikum kami yang berjudul
Teknologi Produksi Tanaman Tomat.
Laporan ini memuat pembahasan mengenai Teknologi Produksi Tanaman
Tomat yang didasarkan dari berbagai jurnal dan buku. Adapun tujuan penyusunan
laporan ini adalah untuk menambah pengetahuan dan untuk memenuhi tugas
Praktikum Teknologi Produksi Tanaman.
Sehingga penulisan laporan ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada
waktunya. Saya sebagai penulis menyadari bahwa makalah yang saya rancang
tidaklah sempurna dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya saya sebagai penulis
menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak agar
kekurangan yang ada dalam makalah ini untuk selanjutnya dapat diperbaiki dan
disempurnakan.
Penulis menyadari bahwa laporan hasil praktikum Teknologi Produksi
Tanman ini masih banyak kekurangan. Oleh Karena itu, Saran dan kritik membangun
dari semua pihak sangat kami harapkan. Kamiberharap semoga laporan hasil
praktikum Teknologi Produksi Tanaman dapat bermanfaat bagi semua.
Malang, 14 November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN......................................................................2
KATA PENGANTAR...............................................................................3
DAFTAR ISI.........................................................................................4
DAFTAR TABEL...................................................................................5
DAFTAR GAMBAR...............................................................................6
1.PENDAHULUAN................................................................................7
1.1 Latar Belakang...............................................................................7
1.2 Tujuan..........................................................................................8
2.TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................9
2.1 Produksi Tanaman Tomat di Indonesia..................................................9
2.2 Botani Tanaman............................................................................10
2.3 Teknik Budidaya Tanaman Tomat......................................................13
2.4 Perlakuan tanpa pewiwilan pada tanaman tomat....................................15
3.BAHAN DAN METODE.....................................................................16
3.1 Waktu dan Tempat........................................................................16
3.2 Alat dan bahan..............................................................................17
3.3 Cara Kerja...................................................................................17
3.4 Parameter Pengamatan....................................................................19
3.5 Denah Petak Praktikum...................................................................21
4.HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................22
4.2 Hasil..........................................................................................22
5. KESIMPULAN.................................................................................37

DAFTAR TABEL
No
Halaman

Teks

Tabel 1 Produksi Tanaman Tomat di Indonesia................................................9


Tabel 2 Timeline Kegiatan Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Tomat..........16
Tabel 3 Rerata Tinggi Tanaman Tomat........................................................22
Tabel 4 Rerata Jumlah Daun Tanaman Tomat...............................................23
Tabel 5 Rerata Jumlah Bunga Tanaman Tomat..............................................24
Tabel 6 Rerata Jumlah Buah Tanaman Tomat...............................................25
Tabel 7 Rerata Intensitas Penyakit Tanaman Tomat........................................26
Tabel 8 Keragaman serangga pada tanaman tomat.........................................27

DAFTAR GAMBAR
No
Halaman

Teks

Gambar 1 Morfologi Tanaman Tomat.........................................................11


Gambar 2 Buah Tomat...........................................................................13
Gambar 3 Tanaman Tomat.......................................................................13
gambar 4 Denah Petak Praktikum.............................................................21

1.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pertanian saat ini teknologi sangat diperlukan dalam langkah
meningkatkan hasil produksi maupun kualitas hasil produksi pertanian. Selain itu
juga banyak permasalahan yang memicu meningkatnya kebutuhan hasil pertanian
terutama dalam sektor pangan seperti peralihan fungsi lahan pertanian menjadi
bangunan sehingga menyempitnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian.
Perubahan iklim juga berpengaruh besar terhadap hasil produksi pertanian seperti
musim kering yang berkepanjangan sehingga pasokan air untuk pertanian berkurang
atau bahkan tidak ada sama sekali.

Dengan berbagai permasalahan tersebut perlu adanya suatu inovasi dalam


teknologi sehingga dapat mengatasi permasalahan yang terjadi agar kestabilan pangan
dapat tercapai. Inovasi tesebut dapat berupa pengaturan jarak tanam yang lebih
efisien dan efektif dimana hal tersebut sangat mempengaruhi iklim mikro pada daerah
tanamn tersebut seta dapt mengurangi persaingan penyerapan unsur hara maupun
sinar matahari. Selain itu juga dapat berupa perlakuan pewiwilan pada tanaman
tomat.

Tomat adalah tumbuhan dari

keluarga

solanaceae,

tumbuhan

asli Amerika

Tengah danSelatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat merupakan tumbuhan siklus
hidup singkat, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tumbuhan ini memiliki buah
berawarna hijau, kuning, dan merah yang biasa dipakai sebagai sayur dalam masakan
atau dimakan secara langsung tanpa diproses. Tomat memiliki batang dan daun yang
tidak dapat dikonsumsi karena masih sekeluarga dengan kentangdan Terung yang
mengadung Alkaloid. Perlakuan pewiwilan tomat dimana daun atau disebut dengan
tunas air dicabut sehingga buah yang dihasilkan tidak terlambat dalam
pematangannya selain itu juga dapat memacu pertumbuhan bunga.
1

Pada praktikum Teknologi Produksi Tanaman mahasiswa dapat mengetahui


teknik pembudidayaan tomat dengan baik dan benar dengan melakukan perlakuan
tanpa pewiwilan tanamaan akan jarang terkena penyakit karena pada perlakukan
pewiwilan dengan memangkas tunas daun dapat menyebabkan luka yang menjadi
tempat masuknya penyakit tanaman.

1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mampu meimplementasikan teknik
teknologi produksi tanman, mengetahui cara dan takaran pupuk yang ideal sesuai
dengan kebutuhan serta pemeliharaan untuk menghasilkan produksi yang tinggi pada
tanaman tomat.

2.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Produksi Tanaman Tomat di Indonesia


Menurut (Statistik, 2009), luas area budidaya tomat di Indonesia yang terus
meningkat menunjukkan bahwa tomat merupakan salah satu komoditas utama
hortikultura. Berdasarkan penelitian, luas areal budidaya tomat berbanding lurus
dengan meningkatnya produksi tomat di Indonesia.
Tabel 1 Produksi Tanaman Tomat di Indonesia

2.2 Botani Tanaman

Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik


kuantitas dan kualitas masih rendah. Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena
mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan.
Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat
juga adalah komoditas yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak,
buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai

kepada bahan kosmetik, obat-obatan dan bahan baku industri saus. Dengan tehnik
budidaya tomat yang baik diharapkan kualitas dan kuntitas produksi tomat dapat
ditingkatkan sehingga dapat dijadikan sebagai sebuah peluang usaha yang
menjanjikan (Cahyono, 2008).

Menurut

(Cahyono,

2008),

klasifikasi

tanaman

tomat

memiliki

divisi Spermatophyta (tanaman berbiji) dan sub divisi Angiospermae (tanaman berbiji
tertutup) kemudian kelas Dicotyledoneae (tumbuhan berbiji belah dan berkeping dua)

ordonya Solanales (Tubiflorae) sedangkan family Solanaceae genus Lycopersicon dan


terakhir spesiesLycopersicon esculentum Mill atau Solanum lycopersicum L

Gambar 1 Morfologi Tanaman Tomat


Tanaman tomat memiliki akar tunggang, akar cabang, serta akar serabut yang
berwarna keputihan dan berbau khas. Perakaran tanaman tidak terlalu dalam,
menyebar ke semua arah hingga kedalaman rata-rata 30-40 cm, namun dapat
mencapai kedalaman hingga 60-70 cm. Akar tanaman tomat berfungsi untuk
menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan unsur hara dari dalam

tanah. Oleh karena itu tingkat kesuburan tanah di bagian atas sangat berpengaruh
terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi buah, serta benih tomat yang dihasilkan
(Agromedia, 2007).

Batang tanaman tomat bentuknya bulat dan membengkak pada buku-buku.


Bagian yang masih muda berambut biasa dan ada yang berkelenjar. Mudah
patah,dapat naik bersandar pada turus atau merambat pada tali, namun harus dibantu
dengan beberapa ikatan. Tanaman tomat dibiarkan melata dan cukup rimbun
menutupi tanah. Bercabang banyak sehingga secara keseluruhan berbentuk perdu
(Rismunandar, 2001). Daun tomat berbentuk oval dengan panjang 20-30 cm. Tepi
daun bergerigi dan membentuk celah-celah yang menyirip. Diantara daun-daun yang
menyirip besar terdapat sirip kecil dan ada pula yan bersirip besar lagi (bipinnatus).
Umumnya, daun tomat tumbuh di dekat ujung dahan atau cabang, memiliki warna
hijau, dan berbulu (Agromedia, 2007).

Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan
jumlah 5-10 bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya. Kuntum bunganya
terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada serbuk sari bunga
terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung yang
mengelilingi tangkai kepala putik. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan
sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup
kemungkinan terjadi penyerbukan silang (Wiryanto, 2004).

Buah tomat adalah buah buni, selagi masih muda berwarna hijau dan berbulu
serta relatif keras, setelah tua berwarna merah muda, merah, atau kuning, cerah dan
mengkilat, serta relatif lunak. Bentuk buah tomat beragam: lonjong, oval, pipih,
merunc ing, dan bulat. Diameter buah tomat antara 2-15 cm, tergantung varietasnya.
Jumlah ruang di dalam buah juga bervariasi, ada yang hanya dua seperti pada buah
tomat cherry dan tomat roma atau lebih dari dua seperti tomat marmade yang beruang
delapan. Pada buah masih terdapat tangkai bunga yang berubah fungsi menjadi

sebagai tangkai buah serta kelopak bunga yang beralih fungsi menjadi kelopak bunga
(Wiryanto, 2004).

Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, dan berwarna putih, putih kekuningan
atau coklat muda. Panjangnya 3-5 mm dan lebar 2-4 mm. Biji saling melekat,
diselimuti daging buah, dan tersusun berkelompok dengan dibatasi daging buah.
Jumlah biji setiap buahnya bervariasi, tergantung pada varietas dan lingkungan,
maksimum 200 biji per buah. Umumnya biji digunakan untuk bahan perbanyakan
tanaman. Biji mulai tumbuh setelah ditanam 5-10 hari (Agromedia, 2007).

Gambar 2 Buah Tomat

Gambar 3 Tanaman Tomat

2.3 Teknik Budidaya Tanaman Tomat

Menurut (Syamsiah, 2006)teknik-teknik dari budidaya tomat adalah sebagai


berikut :

1.

Syarat Iklim dan Lahan

Tomat menghendaki tanah gembur dan kaya, serta pH antara 6,0-7,0.


Tanaman tomat dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi
(1500mdpl), dengan temperatur siang hari 24C dan malam hari antara 15C 20C. Tanaman ini emerlukan sinar matahari minimal 8 jam/hari dengan curah
hujan berkisar antara 750-1250 mm/tahun atau 100-200 mm/bulan.

2. Pengolahan Tanah dan Pembuatan Bedengan

Pengolahan dilakukan dengan bajak, cangkul atau traktor pada kedalaman 2030cm, dibiarkan beberapa hari agar terkena sinar matahari untuk menghinadari
kemungkinan adanya haam dan penyakit. Setelah tanah disisir dibuat bedengan
dengan lebar 110 cm dan panjang tergantung lahan. Bedengan sebaiknay
memanjang dari arah timur ke barat.

3. Persemaian

Benih tomat diperoleh dari buah tomat yang sehat dan tidak cacat serta
matang penuh. Berdasarkan hasil kajian BPTP Sulawesi tengah, varietas
Arthaloka, Permata, Zamrut, Mirah, Oval, dan Donna merupakan varietas yang
cocok untuk dataran rendah, dengan hasil yang bervariasi antara 1,5-2,6kg/pohon.

Sebelum biji diambil dari buahnya, buah diperam terlebih dahulu selama 3
hari sampai buah berwarna merah gelap dan lunak, kemudian bijinya dikeluarkan,
dicuci dengan air bersih di dalam ember, ditiriskan dan dikering anginkan tanpa
terkena cahaya matahari langsung selama 5-6 hari. Setelah kering, benih
disemaikan terlebih dahulu di persemaian (bedengan atau kantong plastik),
setelah berumur 2-3 minggu (berdaun 3 sampai 4 helai) sejak semai, bibit
dipindahkan ke kebun.

10

4. Penanaman

Penanaman dilakukan pada sore hari dengan jarak tanam 50-60 X 70 cm,
setelah ditanam segera dberi tutup dari dedauan atau pelepah pisang. Tutup
dibuka setelah 4-5 hari.

5. Pemeliharaan

Pemupukan diberikan disekeliling tanaman pada jarak 5-15 cm dari batang,


tergantung umut tanaman tomat dengan dosis berdasarkan analisis tanah.
Berdasarkan kajian BPTP dengan takaran pupuk 80-100kg urea + 350-450kg ZA
+ 200-250kg SP36 + 85-170kg KCl per hektar dapat meningkatkan produktivitas
di tingkat petani. Penyiraman dilakukan setiap 3 hari dimulai saat tanam sampai
berbunga dan setiap 2 hari setelah tanaman berbunga, atau tergantung curah
hujan. Agar btang dan cabang-cabang tidak menjalar di tanah atau roboh maka
batang dan cabang-cabang tersebut diikat pada ajir dengan ketinggian 1-1,75 cm
atau tergantung varietas. Penyiangan dapat dilakukan dengan mencabut gulma
disekitar tanaman dengan menggunakan tangan ataupun alat lainnya. Dilakukan
2-3 kali, tergantung keadaan gulma di lapangan.

6. Cara Pengendalian Hama dan Penyakit

Beberapa hama dan penyakit yang sering merusak tanaman tomat, antara lain:

I.

Hama

a. Agrotis epsilon, ulatnya merusak tanaman muda dengan cara


memotong batang dan tangka daun. Pengendaliannya dilakukan antara
lain dengan pemberian insektisida berbahan aktif Dazomet.

11

b. Heliothis armigera, menyerang buah hingga menjadi bolong kemudian


busuk. Pengendaliannya menggunakan insektisida berbahan aktif
betasilfutrin, deltametrin, dan karbosulfan.

II.

Penyakit

a. Busuk daun yang disebabkan Phytophtora infestans, menyebabkan


daun dan buah menjadi bernoda-noda hitam seperti cacar dan akhirnya
menjadi kering atau busuk. Pengendaliannya dengan cara pemilihan
waktu tanam yang tepat dan pemakaian fungisisda dengan bahan aktif
mankozeb 0,25 0,3% dan kaptafol.

b. Penyakit layu oleh Fusarium oxysporium, menyerang tanaman dengan


gejala tulang daun menjadi pucat, tankai daun merunduk, layu, dan
tumbuh merana kemudian mati. Cara pengendaliannya dengan
sterilisasi tanah persemaian, dan menanam varietas yang resisten.

c. Penyakit layu oleh bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejalanya


daun muda menjadi layu atau daun tua menjadi kuning. Gejala lebih
lanjut apabila batang dipotong akan keluar cairan berwarna putih susu
seperti lendir dari berkas pembuluh, sehingga penyakit ini juga disebut
penyakit lendir. Pengendaliannya dengan cara pergiliran tanaman yang
bukan tanaman inang bakteri dan menanam varietas yang resisten.

d. Penyakit yang disebabkan oleh virus diantaranya virus keriting dan


virus mosaik. Sampai daat ini pengendaliannya dilakukan dengan cara
mencabut tanaman yang terserang.

7. Panen

12

Waktu panen untuk setiap varietas berbeda-beda berkisar antar umur 2,5-3
bulan. Ciri buah toamat yang telah siap dipanen berwarna hijau, orange atau
merah dengan bentuk buah tidak terlalu keras lagi. Pemetikan dilakukan 10-15
kali/musim tanam dengan selang 2-3 hari sekali.

II.4

Perlakuan tanpa pewiwilan pada tanaman tomat

Pewiwilan adalah pembuangan tunas air atau cabang yang tidak diperlukan.
Tunas air harus dibuang karena tidak akan produktif dan hanya akan memanfaaatkan
hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain sehingga mengganggu pertumbuhan
cabang lainnya.Tanpa pewiwilan tunas air, pertumbuhan tanamn akan lambat.Ketika
Tanaman sudah berumur 15-20 HST perlu dilakukan pangkas atau wiwil terhadap
semua tunas samping (cabang) lateral yang muncul di bawah cabang (Syukur, 2012)

13

3.BAHAN DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu praktikum teknologi produksi tanaman pada komoditas tomat
dilaksanakan setiap minggu sekali pada jam 13.15-16.45 mulai bulan September s/d
desember berlokasi di kebun percobaan Kepuharjo Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya, Dukuh, Desa Ngijo,Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Berikut
adalah kegiatan yang dilakukan dalam praktikum teknologi tanaman;
Tabel 2 Timeline Kegiatan Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Tomat
No.

Hari/Tanggal

Kegiatan

1.

Senin, 28 Semptember 2015

Pengolahan lahan dan pemberian agen

2.

Senin, 05 Oktober 2015

hayati
Penanaman bibit tomat ke lahan dan
pemberian pelepah pisang pada bibit

3.

Senin, 12 Oktober 2015

tanaman yang sudah ditanam


Penyulaman dilakukan jika bibit yang

4.

Senin, 19 Oktober 2015

ditanam mati atu kering


Pengaplikasian pupuk pada tanaman

Selasa, 27 Oktober 2015

tomat
Perawatan

5.

dilakukan

dengan

penyiangan gulma, Pembumbunan dan


6.
7.

Selasa, 03 November 2015

penyiraman.
Perawatan dengan pemberian ajir pada

Senin, 09 November 2015

tanaman tomat
Perawatan tanaman dengan memasang
tali rafia ke tanman untuk ditali ke ajir
agar tanaman tidak roboh

14

3.2 Alat dan bahan


Alat yang diperlukan pada praktikum ini adalah cangkil Berfungsi untuk
mengolah lahan atau membalik tanah.Cetok berfungsi untuk menggemburkan tanah.
Tali raffia berfungsi untuk mengikat tanaman ke ajir agar tidah roboh. Ajir berfungsi
agar tanaman tomat tidak roboh.Gembor berfungsi sebagai wadah air untuk
menyiram tanaman tomat. Kamera digunakan untuk dokumentasi saat praktikum di
lahan. Penggaris digunakan untuk mengukur tinggi tanaman tomat. Buku catatan
digunakan untuk menulis hasil mengukur tanaman. Alat tulis digunakan untuk
menulis hasil pengukuran tanaman.

Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah pupuk urea adalah untuk
memenuhi unsur hara tanaman. Pupuk KCL digunakan untuk memenuhi unsur hara
tanaman unsur hara K. Pupuk SP36 digunakan untuk memenuhi unsur hara tanaman.
Agen hayati digunakan untuk pertumbuhan tanaman.Pupuk Kandang digunakan
untuk menambah unsur hara.Bibit tanaman tomat

3.3 Cara Kerja


Kegiatan pertama adalah pengolahan lahan dan pemberian agen hayati dan pupuk
kandang dengan dosis 10 kg dan perbandingan agen hayati dengan air sebanyak 10
ml agen hayati dan 10 L air di semprotkan ke tanah. Dalam kegiatan pada saat di
lapang, yaitu pengolahan lahan dan dilanjutkan dengan pemberian agen hayati pada
bedengan atau lahan yang akan ditanami. Pemberian agen hayati ini bertujuan untuk
mengendalikan penyakit. Aplikasi pemberiannya yaitu dengan cara menyemprot atau
menyiramkan agen hayati yang sudah dalam bentuk cair tersebut pada area
permukaan tanah pada bedengan.

15

Kegiatan kedua penanaman bibit tomat. Pada kegiatan ini, yaitu penanaman bibit
tomat. Penanaman bibit tomat dilakukan sehari setelah pengolahan dan pemberian
agen hayati. Sebelum menanam, terlebih dahulu dipilih bibit yang paling baik.
Kemudian bibit ditanam di lahan dengan jarak tanam 50 x 50cm, dengan jumlah bibit
kurang lebih 20 bibit. Seusai menanam, dilanjutkan dengan penyungkupan dengan
menggunakan pelepah pisang. Penyungkupan bertujuan untuk memberi topangan
pada tanaman tomat, agar tanaman tomat mampu berdiri tegak dan tidak tumbang.
Tidak lupa setelah itu dilakukan penyiraman pada masing-masing bibit yang sudah
ditanam sebelumnya.

Kegiatan ketiga penyulaman. Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman


yang tumbuh secara tidak maksimal atau tiba-tiba diketahui mati. Penyulaman itu
sendiri, yaitu kegiatan menanam bibit baru dan ditanam kembali untuk menggati
tanaman yang sudah mati sebelumnya.

Kegiatan keempat pengaplikasian pupuk. Pupuk yang diaplikasikan ke lahan


untuk tanaman tomat yaitu pupuk SP-36 dengan dosis 10 gr/tanaman. Fungsi pupuk
SP-36 adalah untuk menyuplai unsur hara P. Pengaplikasiannya yaitu dengan
dibenam disamping tanaman, dan kemudian ditimbun dengan tanah. Setelah itu
dilakukan penyiraman pada tanaman. Tujuan pemberian pupuk SP-36 dilakukan
pengaplikasian lebih awal karena pupuk slow release yaitu pupuk yang mampu melepas
unsur hara secara lambat dengan volume pelepasan mendekati kapasitas akar tanaman dalam
menyerap unsur hara, tetapi berlangsung dalam waktu yang lebih lama sehingga mengurangi
kehilangan unsur ke lingkungan.

Kegiatan kelima perawatan. Perawatan dilakukan dimulai dari penyiangan,


pembumbunan, dan penyiraman. Penyiangan dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan gulma yang tumbuh disekitar tanaman. Gulma perlu dihilangkan
karena apabila populasinya melebihi tanaman utama, maka akan terjadi kompetisi
antar keduanya, sehingga pertumbuhan dari tanaman utama akan terhambat.
Pembumbunan dilakukan yaitu bertujuan untuk memperkuat perakaran pada tanaman
tomat, agar tanaman lebih kuat dan tidak mudah tumbang. Karena tanaman tomat
16

membutuhkan air yang cukup banyak dalam proses tumbuh kembangnya, maka
penyiraman dilakukan pada saat pagi atau sore hari. Dengan demikian kebutuhan hara
dalam tanah akan terpenuhi. Kebutuhan pemupukan, pupuk yang digunakan yaitu
meliputi pupuk urea dengan dosis 6 gr/tanaman yang berfungsi untuk menyuplai
unsur hara N, SP-36 dengan dosis 10 gr/tanaman yang berfungsi untuk menyuplai
unsur P dan KCL dengan dosis 9 gr/tanaman berfungsi untuk menyuplai unsur K.

17

3.4 Parameter Pengamatan


3.4.1 Tinggi Tanaman
Parameter pengamatan yang pertama yaitu mengukur tinggi tanaman tomat.
Pengukuran tanaman tomat dilakukan 14hst. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan
secara manual. Terlebih dahulu memilih 5 sampel tanaman, lalu diukur tinggi masingmasing tanaman menggunakan penggaris. Pengukuran dimulai dari permukaan tanah
atau pangkal batang hingga ujung pada ruas-ruas daun, lalu mencatat hasilnya.
Pengukuran tinggi tanaman bertujuan untuk mengetahui perkembangan tanaman yang
diamati.
3.4.2 Jumlah Daun
Parameter pengamatan yang ke dua yaitu menghitung jumlah daun pada tanaman
tomat. Tidak jauh berbeda dengan pengamatan pada parameter tinggi tanaman,
perhitungan jumlah daun dilakukan bersamaan dengan menghitung tinggi tanaman.
Jadi dilakukan perhitungan pada tanaman tomat yaitu 14hst, dan dilakukan
perhitungan secara manual. Kemudian mencatat hasilnya. Tujuan menghitung jumlah
daun adalah sebagai tolak ukur indikator kesehatan tanaman.
3.4.3 Jumlah Bunga
Parameter pengamatan yang ketiga yaitu menghitung bunga yang sudah muncul
pada tanaman tomat, dan dilakukan perhitungan pada 31hst. Perhitungan dilakukan
pada tanaman yang sebelumnya sudah dipilih sebagai sampel, dan ada 5 sampel
tanaman tomat. Perhitungan menggunakan metode manual. Tujuan menghitung
jumlah bunga untuk mengetahui jumlah bunga yang akan berbuah.
3.4.4 Jumlah Buah
Parameter pengamatan selanjutnya yaitu menghitung jumlah buah pada tanaman
tomat. Setelah dilakukan pengamatan 45hst pada kelima sampel tanaman tomat,
belum diperoleh dalam kelima sampel tersebut jika tanaman berbuah. Sehingga data

18

masih kosong. Tujuan menghitung jumlah buah adalah mengetahui jumlah buah dari
hasil pengamatan.

3.4.5 Indeks Penyakit (IP)


Parameter pengamatan yang terakhir yaitu pengamatan indeks penyakit (IP) yang
menyerang pada tanaman tomat. Metode yang digunakan yaitu manual, mengamati
pada bagian yang terserang penyakit. Misal penyakit menyerang pada daun, maka
menghitungnya dalam satu tangkai berapa daun yang terkena penyakit tersebut.
Namun, pada kelima sampel tanaman tomat, belum ditemukan dari kelimanya
tanaman yang terserang penyakit. Sehingga data yang diperoleh masih kosong.

19

3.5 Denah Petak Praktikum

5m

50 cm

50 cm

X
X

1m
gambar 4 Denah Petak Praktikum
KETERANGAN :

: Sampel tanaman tomat

: Populasi tanaman tomat

Luas Bedeng

: 5 x 1 meter

Jarak Antar Tanaman : 50 x 50 cm

20

21

4.1.1

4.HASIL DAN PEMBAHASAN


4.2 Hasil
Tinggi Tanaman Tomat Dengan dan Tanpa Pewiwilan

Tabel 3 Rerata Tinggi Tanaman Tomat


No.

Perlakuan

1
2

Pewiwilan
Tanpa Pewiwilan

Umur Tanaman (Hari Setelah Tanaman)


14
21
28

35

13.8

20.6

40.9

63

12,5

18,1

60,8

48,6

70
60
50
40
Tinggi Tanaman (cm)

30

Pewiwilan
Tanpa Pewiwilan

20
10
0
14

21

28

35

Umur Tanaman (hst)

Gambar 5 Grafik Perbandingan Rerata Tinggi Tanaman (cm) Tomat akibat Tanpa
dan Pewiwilan

Pada hasil pengamatan tinggi tanaman tomat selama kurang lebih satu bulan
didapati rerata pada perlakuan pewiwilan pada 14 hst (hari setelah tanam) 13,8 cm,
pada 21 hst adalah 20,6 cm, pada 28 hst adalah 40,9 cm dan 35 hst adalah 63cm.
sedangkan rerata tinggi tanaman tomat tanpa pewiwilan pada 14 hst hingga 35 hst
berturut-urut 12,5 cm,18,1 cm,60,8 cm,48,6 cm.

22

4.1.2

Jumlah Daun Tanaman Tomat Dengan dan Tanpa Pewiwilan

Tabel 4 Rerata Jumlah Daun Tanaman Tomat


No.

Perlakuan

1
2

Pewiwilan
Tanpa Pewiwilan

Umur Tanaman (Hari Setelah Tanaman)


14
21
28

35

25

63.2

86.2

167.4

16,8

34

72,8

110,8

180
160
140
120
100
Jumlah Daun

80

Pewiwilan

60

Tanpa Pewiwilan

40
20
0
14

21

28

35

Umur Tanaman (hst)

Gambar 6 Grafik perbandingan rerata jumlah daun tomat akibat tanpa dan pewiwilan

Pada pengamatan jumlah daun tanaman tomat didapati hasil rerata tinggi
tanaman tomat dengan pewiwilan pada 14 hst (hari setelah tanam) 25 , pada 21 hst
memiliki rerata 63,2 sedangkan pada 28 dan 35 hari setelah tanam sebanyak 86,2 dan
167,4. Untuk rerata jumlah daun tomat tanpa pewiwilan pada 14 sampai 35 hari
setelah tanam berturut-turut 16,8; 34; 72,8; 110,8.

23

4.1.3

Jumlah Bunga Tanaman Tomat Dengan dan Tanpa Pewiwilan

Tabel 5 Rerata Jumlah Bunga Tanaman Tomat


Umur Tanaman (Hari Setelah Tanaman)
35
42
49
56

No.

Perlakuan

1
2

Pewiwilan
Tanpa Pewiwilan

3.6

3.5

4,4

7,8

9,4

20,6

25
20
15
Jumlah Bunga

Pewiwilan

10

Tanpa Pewiwilan
5
0
35

42

49

56

Umur Tanaman (hst)

Gambar 7 Grafik perbandingan rerata jumlah bunga tomat akibat tanpa dan
pewiwilan
Jumlah bunga tanaman tomat dengan perlakuan pewiwilan pada 35 hari
setelah tanam sebanyak 3,6 sedangkan pada 42 hari setelah tanam sebanyak 3.5
bunga, sedangkan pada 49 dan 56 hari setelah tanamn memiliki rerata yang sama
yaitu 8 bunga. Sedangkan pada tomat tanpa pewiwilan pada 35 hingga 56 hari setelah
tanam secara berturut-turut 4,4 bunga, 7,8 bunga, 9,4 bunga, 20,6 bunga.

24

4.1.4

Jumlah Buah Tanaman Tomat Dengan dan Tanpa Pewiwilan

Tabel 6 Rerata Jumlah Buah Tanaman Tomat


Umur Tanaman (Hari Setelah Tanaman)
42
49
56

No.

Perlakuan

1
2

Pewiwilan
Tanpa Pewiwilan

4.8

11

14.6

5,8

10,4

15,4

18
16
14
12
10
Jumlah Buah

Pewiwilan

Tanpa Pewiwilan

4
2
0
42

49

56

Umur Tanaman (hst)

Gambar 8 Grafik perbandingan rerata jumlah buah tomat akibat tanpa dan pewiwilan

Jumlah buah tanaman tomat dengan pewiwilan pada 42 hari setelah tanam
memiliki rerata 4,8 buah, pada 49 hari setelah tanam reratanya 11 buah sedangkan
pada 56 hari setelah tanam sebesar 14,6 buah tomat. Pada tanaman tomat dengan
perlakuan tanpa pewiwilan memiliki rerata secara berturut-turut dari 42- 56 hari
setelah tanam sebesar 5,8 buah, 10,4 buah dan 15,4 buah.

25

4.1.5

Intesitas Serangan Penyakit

Tabel 7 Rerata Intensitas Penyakit Tanaman Tomat


No
1
2

Perlakuan

Umur
Tanaman
Tanaman)
14
21

Tanpa
pewiwilan
Pewiwilan

(Hari

Setelah
28

0,00024

35
0
0.02

Pewiwila
Intesitas P enyakit
%
n

Umur Tanaman (hst)

Tanpa
Pewiwila
n

Gambar 9 Grafik perbandingan rerata intensitas penyakit tomat akibat tanpa dan
pewiwilan

Dari hasil pengamatan di lahan tidak terlihat adanya gejala dan tanda penyakit
pada tanaman tomat dengan intesitas 0 % selama 4 minggu pengamatan. Setiap
sempel yang diamati sangat sehat selama 4 minggu pengamatan.

26

4.1.6

Keragaman Serangga

Tabel 8 Keragaman serangga pada tanaman tomat


4.1.6.1 Tanpa pewiwilan
No

Spesies

Penggerek
tomat

Foto
buah

Populasi

Peran

Tidak
diketahui

`Hama

Agrotis ipsilon

(dokumentasi
pribadi,2015)

(Tohir,2010)

27

4.1.6.2 Pewiwilan
No
1

Spesies
Nama lokal :
belalang hijau
Nama latin : oxya
chinensis

Foto

(dokumentasi
pribadi.2015)

Populasi
Muncul
pada 28
hst
ditemuka
n
sebanyak
satu ekor

Peran
hama

Muncul
pada 56
hst,
ditemuka
n
sebanyak
satu ekor

hama

Muncul
pada 28
hst,
ditemuka
n
sebanyak
satu ekor

hama

Nurhamidah. 2015
2

Nama lokal :
belalang coklat
Nama latin :
Melanoplus
differentialis

(dokumentasi
pribadi.2015)

Fcps.2015
3

Nama lokal : ulat


grayak
Nama latin :
Spodoptera litura

Dokumentasi
pribadi.2015

28

Tohir.2010
Nama lokal : kutu
putih
Nama latin :
Pseudococus sp.

Dokumentasi
pribadi.2015

Muncul
pada 28
hst,
ditemuka
n
sebanyak
satu ekor

hama

Wiryanta.2008

Pada lahan hanya ditemukan bekas lubang pada buah tomat tanpa pewiwilan
namun tidak ditemukan serangga yang hinggap ataupun yang menempel pada
tanaman tomat. Dari bekas lubang tersebut dapat menjelaskan bahwa yang membuat
lubang tersebut adalah penggerek buah tomat. Sedangkan pada tanaman tomat dengan
pewiwilan didapati beberapa serangga yaitu ulat gerayak, kutu putih, belalang coklat,
dan belalang hijau dimana semua serangga tersebut termasuk kedalam hama pada
tanaman tomat.

29

4.2 Pembahasan
4.2.1 Tinggi Tanaman

Dari hasil pengamatan dari masing-masing perlakuan pada tanaman tomat yaitu
perlakuan tanaman tomat indeterminate tanpa pewiwilan dan perlakuan tanaman
tomat indeterminate pewiwilan dapat diketahui bahwa tanaman tomat yang perlakuan
pewiwilan tinggi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tomat yang
perlakuan tanpa pewiwilan. Dari rata-rata semua sampel tanaman tomat perlakuan
tanpa pewiwilan menunjukkan hasil yang lebih tinggi pada tinggi tanaman
dibandingkan tanaman tomat yang perlakuan pewiwilan. Pada umumnya perlakuan
tanaman tomat yang pewiwilan tinggi tanamannya lebih tinggi dibandingkan dengan
tanaman tomat yang tanpa pewiwilan. Karena nutrisi atau unsur hara akan terfokus
pada satu cabang. Pada hasil pengamatan ini di ketahui bahwa tanaman tomat
perlakuan pewiwilan tinggi tanamannya lebih tinggi. Hal ini di karenakan pada
tanaman tersebut mendapatkan nutrisi atau unsur hara yang optimal sehingga
pertumbuhannya cepat. Adapun juga faktor yang mempengaruhi seperti perawatannya
yang optimal, faktor lingkungan, dan lainnya. Pewiwilan adalah pembuangan tunas
air atau cabang yang tidak diperlukan. Tunas air harus dibuang karena tidak akan
produktif dan hanya akan memanfaatkan hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain
sehingga mengganggu pertumbuhan cabang yang lain. Sehingga pada tanaman
tersebut akan terfokus pada satu cabang dan akan membuat tanaman lebih tinggi.

Menurut Syukur (2005) pewiwilan adalah pembuangan tunas air atau cabang yang
tidak diperlukan. Tunas air harus dibuang karena tidak akan produktif dan hanya akan
memanfaatkan hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain sehingga mengganggu
pertumbuhan cabang yang lain.

Menurut Harjadi (1995) apabila laju pembelahan sel dan perpanjangan serta
pembentukan jaringan berjalan cepat demikian juga sebaliknya, hal ini semua
tergantung terhadap ketersediaan unsur hara makro dan mikro. Unsur hara makro

30

terdiri dari N,PK,Ca,Mg, dan S. Unsur hara mikro terdiri dari Fe, Mn,B,Cu,Cl,Zn,dan
Mo.

4.2.2 Jumlah Daun Tanaman

Dari hasil pengamatan dari masing-masing perlakuan pada tanaman tomat


yaitu perlakuan tanaman tomat tanpa pewiwilan dan perlakuan tanaman tomat
pewiwilan dapat diketahui bahwa tanaman tomat yang pewiwilan jumlah daun
tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tomat yang perlakuan tanpa
pewiwilan. Dari rata-rata semua sampel tanaman tomat perlakuan pewiwilan
menunjukkan hasil yang lebih tinggi pada jumlah daun tanaman dibandingkan
tanaman tomat yang perlakuan pewiwilan. Pada umumnya perlakuan pewiwilan akan
memberikan tunas-tunas baru yang lebih baik, sehingga tanaman akan tumbuh
dengan baik dan akan berproduktif dengan baik pula. Pada pengamatan ini diketahui
bahwa tanaman tomat perlakuan pewiwilan jumlah daunnya lebih tinggi
dibandingkan dengan tanaman tomat perlakuan tanpa pewiwilan, hal ini dikarenakan
tanaman tersebut mendapatkan nutrisi atau unsur hara yang optimal sehingga
pertumbuhannya cepat. Adapun juga faktor yang mempengaruhi lainnya seperti
faktor lingkungan, perawatannya, dan manusia.

Menurut Syukur (2005) pewiwilan adalah pembuangan tunas air atau cabang
yang tidak diperlukan. Tunas air harus dibuang karena tidak akan produktif dan hanya
akan memanfaatkan hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain sehingga mengganggu
pertumbuhan cabang yang lain.

Menurut Harjadi (1995) apabila laju pembelahan sel dan perpanjangan serta
pembentukan jaringan berjalan cepat demekian juga sebaliknya, hal ini semua
tergantung terhadap ketersediaan unsur hara makro dan mikro. Unsur hara makro
terdiri dari N,PK,Ca,Mg, dan S. Unsur hara mikro terdiri dari Fe, Mn,B,Cu,Cl,Zn,dan
Mo.

31

4.2.3 Jumlah Bunga Tanaman

Dari hasil pengamatan dari masing-masing perlakuan pada tanaman tomat


yaitu perlakuan tanaman tomat tanpa pewiwilan dan perlakuan tanaman tomat
pewiwilan dapat diketahui bahwa tanaman tomat yang tanpa pewiwilan jumlah bunga
tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tomat yang perlakuan pewiwilan.
Dari rata-rata semua sampel tanaman tomat perlakuan tanpa pewiwilan menunjukkan
hasil yang lebih tinggi pada jumlah bunga tanaman dibandingkan tanaman tomat yang
perlakuan pewiwilan. Pada umumnya pewiwilan akan mempercepat pembungaan dan
pewiwilan juga agar menghentikan pertumbuhan vegetatif sehingga akan terfokus
pada fase pembentukan buah nantinya. Pada pengamatan ini perlakuan tanpa
pewiwilan jumlah bunga tanaman tomat lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan
pewiwilan. Hal ini di karenakan tanaman tersebut mendapatkan nutrisi atau unsur
hara yang optimal sehingga pertumbuhannya cepat. Adapun juga faktor yang
mempengaruhi lainnya seperti faktor lingkungan, perawatannya, dan manusia. Pada
tanaman tomat perlakuan pewiwilan mungkin pada cara pewiwilannya kurang tepat
sehingga menimbulkan luka dan menghambat pertumbuhannya. Tanaman tomat tipe
indeterminate dicirikan oleh

cabang produktifitas yang lebih lambat jika

dibandingkan dengan tanaman tomat tipe determinate. Namun pertumbuhan pucuk


tunasnya tidak pernah berhenti berkembang. Karena itu, umur tanaman tomat tipe
indeterminate pada umumnya cenderung panjang dengan buah berukuran sedang
sampai besar.

Menurut Harjadi (1995) apabila laju pembelahan sel dan perpanjangan serta
pembentukan jaringan berjalan cepat demekian juga sebaliknya, hal ini semua
tergantung terhadap ketersediaan unsur hara makro dan mikro. Unsur hara makro
terdiri dari N,PK,Ca,Mg, dan S. Unsur hara mikro terdiri dari Fe, Mn,B,Cu,Cl,Zn,dan
Mo.

Menurut Syukur (2005) pewiwilan adalah pembuangan tunas air atau cabang
yang tidak diperlukan. Tunas air harus dibuang karena tidak akan produktif dan hanya

32

akan memanfaatkan hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain sehingga mengganggu
pertumbuhan cabang yang lain.

Menurut Wahyudi (2012) tanaman tomat tipe indeterminate dicirikan oleh cabang
produktifitas yang lebih lambat jika dibandingkan dengan tanaman tomat tipe
determinate. Namun pertumbuhan pucuk tunasnya tidak pernah berhenti berkembang.
Karena itu, umur tanaman tomat tipe indeterminate pada umumnya cenderung
panjang dengan buah berukuran sedang sampai besar.

4.2.4 Jumlah Buah Tanaman

Dari hasil pengamatan dari masing-masing perlakuan pada tanaman tomat


yaitu perlakuan tanaman tomat tanpa pewiwilan dan perlakuan tanaman tomat
pewiwilan dapat diketahui bahwa tanaman tomat yang tanpa pewiwilan jumlah bunga
tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tomat yang perlakuan pewiwilan.
Dari rata-rata semua sampel tanaman tomat perlakuan tanpa pewiwilan menunjukkan
hasil yang lebih tinggi pada jumlah bunga tanaman dibandingkan tanaman tomat yang
perlakuan pewiwilan. Jumlah buah juga dipengaruhi oleh jumlah bunga pada tanaman
tomat. Semakin banyak jumlah bunga maka akan semakin besar juga kemungkinan
untuk membentuk buah. Pada tanaman tomat yang perlakuan tanpa pewiwilan
memiliki jumlah buah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman tomat yang
pewiwilan, hal ini dikarenakan tanaman tomat yang perlakuan tanpa pewiwilan
memiliki percabangan yang banyak sehingga memiliki bunga yang banyak pula hal
ini juga akan semakin besar pula kemungkinan untuk membentuk buah. Ada juga
yang mempengaruhi seperti nutrisi atau unsur hara yang didapat pada tanaman
tersebut. Pada tanaman tomat perlakuan pewiwilan mungkin pada cara pewiwilannya
kurang tepat sehingga menimbulkan luka dan menghambat pertumbuhannya.

33

Menurut Harjadi (1995) apabila laju pembelahan sel dan perpanjangan serta
pembentukan jaringan berjalan cepat demikian juga sebaliknya, hal ini semua
tergantung terhadap ketersediaan unsur hara makro dan mikro. Unsur hara makro
terdiri dari N,PK,Ca,Mg, dan S. Unsur hara mikro terdiri dari Fe, Mn,B,Cu,Cl,Zn,dan
Mo.

Menurut Wahyudi (2012) tanaman tomat tipe indeterminate dicirikan oleh


cabang produktifitas yang lebih lambat jika dibandingkan dengan tanaman tomat tipe
determinate. Namun pertumbuhan pucuk tunasnya tidak pernah berhenti berkembang.
Karena itu, umur tanaman tomat tipe indeterminate pada umumnya cenderung
panjang dengan buah berukuran sedang sampai besar.

Menurut Syukur (2005) pewiwilan adalah pembuangan tunas air atau cabang
yang tidak diperlukan. Tunas air harus dibuang karena tidak akan produktif dan hanya
akan memanfaatkan hasil fotosintesis dari daun-daun yang lain sehingga mengganggu
pertumbuhan cabang yang lain. Pada tipe indeterminate tidak perlu pewiwilan karena
pertumbuhan vegetatif tunas pucuk akan terhenti dengan sendirinya.

4.2.4 Intensitas Serangan Penyakit

Dari data yang sudah ada, dapat dikatakan bahwa intensitas serangan penyakit
yang terdapat pada komoditas tomat yaitu berupa layu Fusarium oxyporum. Dari ke
lima sampel yang sudah diamati selama di lahan, tidak ada satu pun dari ke lima
sampel tersebut terkena penyakit tersebut. Namun, selain ke lima sampel tersebut,
terdapat beberapa tanaman tomat terserang penyakit tersebut. Layu Fusarium
oxyporum merupakan salah satu dari penyakit yang menyerang tanaman tomat,
disebabkan oleh jamur.

Menurut Bustaman (1997), Dalam budidaya tomat terdapat kendala di lapangan


yaitu gangguan hama dan penyebab penyakit tanaman baik bakteri, jamur, virus
maupun mikroorganisme lain. Salah satu penyakit yang mengganggu tanaman tomat

34

yaitu penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f.sp lycopersici
yang merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman tomat. Penyakit ini pernah
dilaporkan menimbulkan kerugian yang besar di Jawa Timur dengan tingkat serangan
mencapai 23%. Adanya serangan F. oxysporum menjadi salah satu pembatas yang
menyebabkan terjadinya penurunan produksi tomat. Penyebab layu fusarium juga
menyerang hampir seluruh bagian tanaman yang dibudidayakan termasuk tumbuhan
liar.

4.2.5 Keragaman Serangga

Selama pengamatan berlangsung di lahan pada komoditas tomat, tidak atau


belum sama sekali ditemukan seekor serangga yang sedang hinggap di sekitaran
tanaman. Namun, menurut perbandingan literatur ada beberapa faktor yang
mempengaruhi kunjungan

serangga pada bunga, diantaranya adalah kandungan

nektar, konsentrasi gula, kandungan senyawa kimia dan kelimpahan bunga Kandori
(2002);Hegland & Todland (2005). Pada bunga tomat, sedikitnya jumlah spesies (8
spesies) dan individu serangga yang berkunjung berkaitan dengan morfologi bunga,
serbuksari yang tersembunyi di dalam kerucut benang sari, dan kandungan nektar
yang tidak ada atau sangat sedikit (Cribb, 1990).

Keragaman serangga berkaitan dengan melimpahnya sumberdaya tanaman,


terutama serbuk sari dan nektar. Bagi serangga, serbuksari digunakan sebagai sumber
protein, sedangkan nektar sebagai sumber gula yang sangat dibutuhkan untuk
kehidupannya (Plowright et al. 1993). Thrips sp. (Thysanoptera) merupakan
pengunjung dominan pada bunga tanaman tomat. Thrips sp. memiliki ukuran tubuh
yang kecil (0,5-14 mm). Tidak menutup kemungkinan bahwa thrips ini juga
membantu penyerbukan tanaman tomat.

Serangga selanjutnya yaitu lebah yang ditemukan mengunjungi bunga tomat


adalah lebah soliter Hylaeus sp. Pada saat mengunjungi bunga tomat, lebah tersebut
mampu menggetarkan kerucut benangsari, sehingga serbuksari jatuh di kepala putik.

35

Lebah Hylaeus diamati membawa serbuksari di tungkai belakangnya. Kemampuan


lebah Hylaeus sp. dalam menggetarkan kerucut benangsari tersebut menjadikan
Hylaeus sebagai penyerbuk pada tanaman tomat (Atmowidi et al. 2007). Serangga
lain yang ditemukan pada bunga tomat ialah kepik predator Macrolophussp.
(Hemiptera) (Goula et al. 2002).

Disamping itu, bunga tomat juga dikunjungi oleh Aphis fabae (Homoptera)
yang umumnya berperan sebagai hama tanaman. Ngengat Amata sp. yang ditemukan
pada bunga tomat. Amata sp. Yang berkunjung populasinya sedikit sehingga kurang
berpengaruh dalam penyerbukan. Hal tersebut berhubungan dengan ketersediaan
nectar yang sedikit. Ada tiga spesies lalat (Diptera) ditemukan pada bunga tomat,
yaitu Drosophila sp., Tipula sp., dan satu spesies yang tidak teridentifikasi. Lalat
Drosophila sp. dikenal sebagai lalat buah, sedangkan Tipula sp.

sebagai hama

tanaman (McAlpine, 1981).

Keragaman serangga pengunjung bunga tomat dapat bervariasi pada setiap


wilayah. Hal tersebut dipengaruhi oleh perbedaan suhu, iklim, kondisi geografis, dan
vegetasi sehingga setiap wilayah mempengaruhi kekhasan spesies (Romoser, 1973;
Speight et al. 1999).

4.2.7 Pembahasan umum

Perlakuan pada komoditas tomat terdapat 2 perlakuan yaitu pewiwilan dan tanpa
pewiwilan. Pemangkasan tanaman tomat merupakan usaha untuk memperbaiki
kondisi lingkungan seperti: suhu, kelembaban, cahaya, sirkulasi angin sehingga
aktifitas fotosintesa agar berlangsung normal. Pada komoditas tomat T4
menggunakan perlakuan tanaman tanpa pewiwilan atau tidak dilakukan pemangkasan
pada bagian batang tanaman, sehingga nampak pada saat di lahan tanaman tomat
saling tumpang tindih dengan tanaman tomat yang lainnya. Selain itu juga
mempersulit pada saat pengamatan, karena kerapatan dan ketinggian tanaman

36

tersebut cukup tinggi dan rapat, sehingga tak jarang batang tanaman tomat tersebut
tidak sengaja patah.

Lewis, (1990) mengatakan bahwa pemangkasan dapat mejaga keseimbangan


antara pertumbuhan cabang dan buah. Jumlah cabang pada tanaman tomat akan
berpengaruh terhadap mutu buah maupun

mutu benih. Asimilat yang terbentuk

sepenuhnya dapat disimpan pada buah maupun biji dan menyebabkan buah maupun
biji menjadi lebih besar, sehingga mutu buah maupun benih meningkat. Sebaliknya
apabila jumlah cabang pada tanaman tomat banyak, maka asimilat banyak
dipergunakan untuk pertumbuhan tunas tunas baru, sehingga asimilat yang tersimpan
pada buah maupun biji berkurang dan selanjutnya rnenyebabkan asimilat yang
disimpan pada buah dan biji lebih sedikit. Oleh karena asimilat yang disimpan pada
buah sedikit, dapat mengakibatkan mutu buah maupun benih menurun.

Rahmi, (2002) dalam penelitiannya mengatakan bahwa pemangkasan tunas air


pada tanaman tomat varietas Epoch nyata meningkatkan hasil bila dibandingkan
tanpa pemangkasan tanaman tomat pada varietas yang sama. Hasil penelitian
terhadap pemangkasan pada tanaman tomat berpengaruh nyata pada diameter buah
dan jumlah buah pertanaman (Sutiastini, 1993).

37

5. KESIMPULAN

Dari hasil perbandingan data yang didapat antara tomat perlakukan pewiwilan
dengan tanpa pewiwilan dimana jumlah bunga dan buah buah tanaman tomat lebih
tinggi

tanaman tomat tanpa pewiwilan. Hal tersebut dapat disebabkan karena

perawatan tanaman selama masa pertumbuhan dan perkembangan tanaman tomat


Dimulai dari persiapan lahan, Pembibitan, Penyiraman, Pemupukan dan Penyiangan
gulma yang dilakukan. Apabila selama masa pertumbuhan dan perkembangan
tanaman tomat terganggu akan memnggangu kerja fisiologis tanaman sehingga
mempengaruhi proses pembungaan hingga pematangan buah yang maksimal dalam
penanaman tanaman tomat. Selain itu pada perlakuan pewiwilan tanaman tomat
dipangkas pada bagian pucuk tanaman sehingga menyebabkan luka yang dapat
menjadi jalur masuknya bakteri atau penyakit yang mengakibatkan tanaman terserang
penyakit sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman tomat terhambat atau bahkan
mati.

38

DAFTAR PUSTAKA
Agromedia, R. (2007). Tanaman Sayur. Bandung: PT. Agromedia Pustaka.
Atmowidi T, Buchori D, Manuwoto S, Suryobroto B, Hidayat P. 2007.Diversity of
insect pollinators and seed set of mustard (Brassica rapa:Brassicaceae).
Hayati 14:155-161.
Bustaman, M.1997.Laporan Survei Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Tomat
Di daerah Malang dan Sekitarnya. Lembaga Penelitian Hortikultura
Segunung.
Cahyono, B. (2008). Tomat Budidaya dan Analiss Usaha Tani. Jakarta: Kanisius.
Cribb D. 1990. Pollination of tomato crops by honey bees. Bee CraftDelaplane

Fcps.2015. Differential Grasshopper(Melanoplus differentialis)


http://www.fcps.edu/islandcreekes/ecology/differential_grasshopper.htm diakses pada
4 Desember 15
Goula M, Alomar O, Castane C. 2002. Predatory Mirids in Tomato Crops.Norwich:
European Whitefly Studies Network (EWSN). http://www.whitefly.org [11
Januari 2005]
Harjadi.1995. Pengantar Agronomi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Hegland SJ, Totland O. 2005. Relationships between species floral traits and
pollinator visitation in a temperate grassland. Oecologia 145:586594.
Kandori I. 2002. Diverse visitors with various pollinator importance and temporal
change in the important pollinators of Geranium thunbergii
(Geraniaceae).Ecol. Research 17:283294.
KS, Mayer DF. 2000. Crop Pollination by Bees. New York: CABI Publishing.

39

Lewis,1999.Production of Tomato within a High Tunnel. http : // www. hightunnels.


org/warm seasonvestomprod.htm. 6 Page.
McAlpine et al. 1981. Manual of Nearctic Diptera vol 1-2. Canada: Canadian
Government Publishing Centre.

Nurhamidah,dewi. 2015. Pengembangan insektarium disertai buku pedoman


pembuatan koleksi serangga sebagi media praktikum untuk siswa kelas X
SMA/MA. Skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh
gelar sajana S-1. Program Studi Pendidikan Biologi fakultas sains dan
teknologi universitas islam negeri sunan kalijaga yogyakarta
Plowright RC, Thomson JD, Lefkovitch LP, Plowright CMS.
1993.Anexperimental study of the effect of colony resource level
manipulation onforaging for pollen by worker bumble bees. Canad. J.
Zool. 71: 1393-1396.
Rahmi, 2002. Pengaruh Pemangkasan dan Cara Pemupukan Tomat terhadap Hasil.
Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. 28 hal. Skripsi.
Romoser WS. 1973. The Science of Entomology. New York: MacMillan Publishing.
Speight MR, Hunter MD, Watt AD. 1999. Ecology of Insects Concepts and
Applications. London: Blackwell Science Ltd.
Sutiastuti,l993. Pangaruh Dosis Pupuk N dan Pemrtngkasan terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Tontat (Lycopersicum esculentutlr Mil L).
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Skipsi.
Syamsiah, G. M. (2006). Budidaya Tomat. Sulawesi Tengah: Departemen Pertanian
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.
Syukur dkk.2000.Bertanam Tomat di Msim Hujan. Jakarta: Penebar Swadaya
Syukur, M. S. (2012). Teknik Pemuliaan Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.

40

Tohir Aji Mohamad. 2015. Teknik Ekstraksi dan Aplikasi Beberapa Pestisida Nabati
untuk Menurunkan Palatabilitas Ulat Grayak (spodoptera liturafabr.) Di
laboratorium. Buletin Teknik Pertanian vol. 15 no.1,2010: 37-40
Wahyudi.2012. Bertanam Tomat di Dalam Pot dan Kebun Mini. Jakarta: Agromedia
Pustaka
Wiryanto. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Grasindo.
Wiryanta,Bernardinus T. Wahyu. 2008. Bertanam Tomat. Jakarta : PT agromedia
pustaka

41

42

Lampiran data IP
Sampel
(14 hst)
1
2
3
4
5

Sampel
(21 hst)
1
2
3
4
5
Sampel
(28 hst)
1
2
3
4
5

Sampel
(35 hst)
1
2
3
4
5

0
19
17
20
16
12

0
31
37
44
33
25

0
55
77
81
80
71

0
93
110
109
125
117

1
-

Skoring
2
-

3
-

4
-

1
-

Skoring
2
-

3
-

4
-

1
-

Skoring
2
-

3
-

4
-

1
-

Skoring
2
-

3
-

4
-

Perhitungan

43

1. 14 hari setelah tanam


a. Sampel 1
IP

(n v)
(z N )

( 19 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
= =0
76
(4 19)
b. Sampel 2
IP

(n v)
(z N )

( 17 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4) 0
= =0
68
(4 17)

c. Sampel 3
IP

(n v)
(z N )

( 20 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
= =0
80
(4 20)
d. Sampel 4
IP

(n v)
(z N )

( 16 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4) 0
= =0
64
(4 16)
e. Sampel 5
IP

(n v)
(z N )

( 12 0 )+ ( 10 1 )+ ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4 ) 0
= =0
48
(4 12)

44

2. 21 hari setelah tanam


a. Sampel 1
IP

(n v)
(z N )

( 31 0 )+ ( 10 1 )+ ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4 ) 0
=
=0
124
(4 31)
b. Sampel 2
IP

(n v)
(z N )

( 37 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4) 0
=
=0
148
(4 37)
c. Sampel 3
IP

(n v)
(z N )

( 44 0 )+ ( 10 1 )+ ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
176
(4 44)
d. Sampel 4
IP

(n v)
(z N )

( 33 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
132
(4 33)
e. Sampel 5

45

IP

(n v)
(z N )

( 25 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
100
(4 25)
3. 28 hari setelah tanam
a. Sampel 1
IP

(n v)
(z N )

( 55 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
220
(4 55)
b. Sampel 2
IP

(n v)
(z N )

( 77 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4) 0
=
=0
308
(4 77)
c. Sampel 3
IP

(n v)
(z N )

( 81 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
324
(4 81)
d. Sampel 4
IP

(n v)
(z N )

( 80 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4) 0
=
=0
320
(4 80)
e. Sampel 5

46

IP

(n v)
(z N )

( 71 0 )+ ( 10 1 )+ ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4 ) 0
=
=0
284
(4 71)
4. 35 hari setelah tanam
a. Sampel 1
IP

(n v)
(z N )

( 93 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 ) +(10 4) 0
=
=0
372
(4 93)
b. Sampel 2
IP

(n v)
(z N )

( 110 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 )+ ( 0 3 ) +(10 4) 0
=
=0
440
(4 110 )
c. Sampel 3
IP

(n v)
(z N )

( 109 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
436
(4 109)
d. Sampel 4
IP

(n v)
(z N )

( 125 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 ) + ( 0 3 )+(10 4) 0
=
=0
500
(4 125)
e. Sampel 5

47

IP

(n v)
(z N )

( 117 0 ) + ( 10 1 ) + ( 0 2 )+ ( 0 3 ) +(10 4) 0
=
=0
708
(4 117 )

LAMPIRAN

48

49

50