Anda di halaman 1dari 17

STANDAR AKUNTANSI

Makalah
Teori Akuntansi

Dosen Pengampu :
Farida, Msi, Ak, CA

Anggota Kelompok:
Aviana Nur A

12.0102.0085

Arum Fitera

13.0102.0058

Vanica Audi Prasety Muhari

13.0102.0071

Mega Arista Dewayani

13.0102.0089

Melai Rahmawati

13.0102.0090

Anas Afriyal Prasetyo

13.0102.0094

Anisa Agus Triana

13.0102.0104

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2016
1

STANDAR AKUNTANSI

A.

PRINSIP

AKUNTANSI

BERTERIMA

UMUM

(GENERALLY

ACCEPTED

ACCOUNTING PRINCIPLE)
Dalam praktik bisnis sering dijumpai bahwa laporan keuangan harus disusun
dan

disajikan

sesuai

dengan

prinsip

akuntansi

yang

berterima

umum

( generally accepted accounting principle atau sering disingkat dengan GAAP). Prinsip
tersebut pada dasarnya akan mencatumkan kualitas informasi yang disajikan dalam
laporan keuangan. Meskipun GAAP sering disinggung dalam praktik akuntansi, namun
istilah generally accepted accounting principles belum didefinisikan secara jelas.
Namun demikian, melihat substansi dari perdebatan yang selama ini muncul,
GAAP mungkin dapat didefinisikan sebagai sekumpulan konsep, standar, prosedur,
metode, konvensi, kebiasaan, dan praktik yang dipilih dan dianggap dapat diterima
secaraumum sehingga dijadikan pedoman umum dalam menyusun, menyajikan
danmengintreprestasikan laporan keuangan dalam lingkungan tertentu.
Dalam berbagai hal, GAAP mengandng suatu consensus, yang mana prinsipprinsip tersebuttergantung pada pernyataan seperti penerimaan umum (general
accepted) dan dukungan otoritas yang kuat (suubtansial authoritative support) yang
tidak didefiniskan secara jelas.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk

mendefinisikan istilah penerimaan umum adalah dengan menggambarkan kondisikondisi yang melandasi metode akuntansi keuangan sehingga dapat diterima secara
umum. Skinner (1972) menyatakan bahwa metode akuntasi harus memenuhi standar
sbb:
1) Metode

tersebut

dapat

diterapkan pada

berbagai

kasus sesuai

dengan

kondisilingkungan
2) Metode

tersebut

mendapat

dukungan

dalam

bentuk

pengumuman

(pronouncement),dari komunitas akuntansi professional atau badan otoritatif


lainnya, semacam komisi pasar modal di amerika serikat (the securities dan
exchange commission) .
3) Metode tersebut mendapat dukungan dari berbagai pemikir dan akademisi dibidang
akuntansi dalam bidang akuntansi , dalam bentuk tertulis.

Sumber lain dari GAAP adalah:


1) Pedoman akuntansi dan audit industri serta interprestasi akuntansi yang
dikeluarkanAICPA.
2) Publikasi FASB lainnya seperti bulletin teknis , dan pernyataan yang dikeluarkan
APB.
3) Publikasi-publikasi komisi pasar modal seperti Accounting Series Release
4) Praktik-praktik yang diakui seperti yang ditunjukkan dalam publikasi AICPA
tahunan yang dinamakan Accounting Trends and Techniques.

Paper yang membahas isu tertentu yang dikeluarkan AICPA pernyataan


konsep FASB,text book dan artikel lain. Meskipun unsur-unsur tersebut dapat
dikategorikan sebagai bagan dari GAAP, istilah peneriaan umum kemungkinan dapat
menimbulkan sesuatu yang membingungkan, khususnya pada situasi baru atau bila
suatu standar dipandang sebagai suatu kewajiban (mandatory). Skinner (1981)
menyatakan: Dalam situasi yang baru, tidak ada prinsip akuntansi berterima umum.
Jika entitas yang berbeda mengadopsi kebijakan (policy) yang berbeda, tidak ada
mekanisme untuk menentukan bahwa sesuatu yang dapat diterima secara umum (dalam
praktik kemungkinan terjadi bahwa semua akan dipandang sebagai sesuatu yang
diterima secara umum). Pada sisi lain, suatu rekomendasi yang dikeluarkan Badan
Pembuat standar secara otomatis dipandang dapat diterima umum sebagai sebagai
pengecualian praktik lain, tidak peduli rekomendasi tersebut tidak populer dalam
praktik (p.3-4).

Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa selama ini faktor penerimaan umum
merupakan acuan utama yang selama ini digunakan dalam menentukan isi/komponen
dari GAAP.

B.

STANDAR AKUNTANSI
1. PENGERTIAN
Standar akutansi merupakan pedoman umum penyusunan laporan keuangan
yang merupakan pernyataan resmi tentang masalah akuntansi tertentu yang
dikeluarkan oleh badan yang berwenang dan berlaku dalam lingkungan tertentu.
biasanya

berisi

tentang

definisi,

pengukuran/penilaian,

pengakuan,

dan

pengungkapan elemen laporan keuangan.

Standar akuntansi biasanya terdiri atas 3 bagian (Baxter, 1979) :


a. deskripsi tentang masalah yang dihadapi
b. diskusi logis cara pemecahan masalah
c. dalam kaitannya dengan keputusan teori, diajukan suatu solusi

Edey (1977) membagi standar dalam 4 tipe :


1) tipe 1 = akuntan harus memberitahukan kepada pemakai tentang apa yang
mereka kerjakan dengan cara mengungkapkan metode dan asumsi yang dianut
2) tipe 2 = membantu pencapaian beberapa keseragaman penyajian tentang
pernyataan akuntansi tertentu
3) tipe 3 = menghendaki pengungkapan hal-hal khusus yang mempengaruhi
pertimbangan pemakai
4) tipe 4 = menghendaki keputusan eksplisit/implisit yang harus dibuat tentang
penilaian aktiva dan penentuan laba yang disetujui

2. ARTI PENTING STANDAR AKUNTANSI


Beberapa alasan yang menyebabkan penentuan standar memiliki peranan
penting dalam penyajian laporan keuangan :
a. memberi informasi kepada pemakai tentang posisi keuangan, hasil usaha, dan halhal yang berkaitan dengan perusahaan. informasi tersebut diasumsikan jelas,
konsisten, dapat dipercaya, dan dapat diperbandingkan
b. memberi pedoman dn aturan bagi akuntan public untuk melaksanakan kegiatan
audit dan menguji validitas laporan keuangan
c. memberi data dasar bagi pemerintah tentang berbagai variable yang dipandang
penting dalam mendukung pengenaan pajak, pembuatan regulasi, perencanaan
ekonomi, dan peningkatan efisiensi dan tujuan social lainnya
5

d. menghasilkan prinsip-prinsip dan teori bagi mereka yang tertarik dengan disiplin
akuntansi

Pemakai Laporan Keuangan :

Pemakai Langsung :
1) pemilik perusahaan
2) kreditor dan supplier
3) manajemen
4) kantor perpajakan
5) karyawan perusahaan
6) pelanggan

Pemakai Tidak Langsung :


1) analis dan konsultan keuangan
2) pasar modal
3) pengacara
4) badan pembuat peraturan perundang-undangan
5) agen pelaporan
6) asosiasi pedagang
7) serikat pekerja
8) pesaing
9) masyarakat umum
10) departemen pemerintah

3. POLITISASI DALAM PENENTUAN STANDAR


Penentuan standar merupakan pilihan sosial sehingga suatu standar
mungkin bermanfaat bagi pihak tertentu dan merugikan pihak yang lain. Penentuan
standar memaksa badan yang berwenang untuk mengadopsi proses politik untuk
mengakomodasi kepentingan berbagai pihak.
Kebanyakan isu-isu yang berkaitan dengan akuntansi secara politik bersifat
sensitif. Hal ini disebabkan : a) kebutuhan terhadap standar akuntansi muncul
apabila ada pertentangan (kontroversi) dan b) informasi akuntansi dapat
mempengaruhi tingkat kemakmuran pemakainya. Akibatnya kelompok yang
berbeda berusaha untuk melakukan lobi agar standar akuntansinya yang dihasilkan
cenderung menguntungkan mereka.
6

Dalam menentukan standar ada dua pendekatan, yaitu:


a. Rrepresentative Faithfulness, pendekatan ini menghendaki pelaporan yang
bersifat netral dan penyajian wajar laporan keuangan melalui proses penentuan
standar. Pendekatan ini menyamakan akuntansi dengan proses pemetaan dimana
peta harus dibuat akurat dengan menggambarkan keadaan keuangan perusahaan
secara wajar.
b. Economic Consequences, pendekatan ini menghendaki asopsi standar yang
memiliki konsekwensi ekonomi menguntungkan. Pendekatan ini cenderung
mengarah penentuan standar yang meemiliki pengaruh positif.

Perbedaan kedua pendekatan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut


(Roland.1984):
Jika konsekuensi ekonomi yang dicari, maka pembuat kebijakan akuntansi harus
memberikan sinyal informasi yang mengarahkan keputusan pemakai informasi
secara pragmatis, sehingga kondisi tersebut menyebabkan pembuatan kebijakan
bertindak sebagai pengambil keputusan. Jika tujuannya diarahkan pada pemakaian
pengukuran, maka pembuatan kebijakan harus menyediakan informasi yang dapat
membantu pengambilan keputusan pemakai. Secara pragmatis, jika informasi yang
disajikan wajar dan dipilih berdasarkan kebutuhan pemakai, maka pemakai
bertindak sebagai pengambil keputusan.

4.

PROSES PENENTUAN STANDAR


Biasanya proses penentuan standar dilakukan melalui proses terbuka (dueprocees). FASB sebagai contoh dalam proses ini mengikuti prosedur sebagai
berikut:
1) Identifikasi masalah dari masalah yang muncul di catat dalam agendanya.
2) Penunjukkan group yang anggotanya terdiri dari masyarakat akuntansi dan
bisnis.
3) Discussion Memrorandum (DM) di sebarkan kepublik untuk di evaluasi
selama satu periode paling lambat 60 hari.
4) Dengan pendapat dilakukan untuk membahas keunggulan dan kelemahan
berbagai alternatif yang diajukan FASB

5) Atas berbagai komnentar yang diterima, FASB mengeluarkan exposure draft


(ED) mengenai standaar akuntansi yang diajukan. ED menentukan posisi yang
pasti dari FASB tentang masalah yang dibahas.
6) ED disebar luaskan ke masyarakat untuk di evaluasi paling lambat 30 hari
7) Dengan pendapat untuk membahas kelemahan dan kebaikan berbagai
alternatif yang diajukan FASB
8) Atas dasar berbagai komentar yang diterima, maka FASB mengambil langkah
sebagai berikut:

mengadopsi standar tersebut sebagai pernyataan rtesmi

mengajukan revisi terhadap standar yang diusulkan melalui prosedur due


process.

Menunda pengeluaran standar dan menyimpan masalah dalan agenda

Tidak mengeluarkan standar dan menghapus isu dari agenda

Proses penentuan standar di atas didasarkan pada Misi dan Fungsi FASB sbb:
Misi FASB
Membuat dan memperbaiki standar akuntansi dan pelaporan keuangan.
Fungsi FASB :
a.

Meningkatkan manfaat pelaporan keuangan dengan fokus pada kualitas :


relevansi, reliabilitas, daya banding dan konsistensi.

b.

Menyesuaikan standar sesuai dengan dinamika perubahan lingkungan

c.

Mengevaluasi kelemahan berkaitan dengan pelaporan keuangan

d.

Mempromosikan daya banding standar akuntansi internasional sejalan dengan


perbaikan kualitas pelaporan keuangan.

e.

Memperbaiki pemahaman tentang sifat dan tujuan informasi yang terdapat


dalam laporan keuangan.

C.

PENDEKATAN DALAM PENENTUAN STANDAR


1.

Pendekatan Pasar Bebas


dilandasi asumsi dasar bahwa informasi akuntansi merupakan komoditi ekonomi
serupa barang/jasa lain. atas dasar asumsi tersebut, jumlah informasi akuntansi
yang disajikan akandipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran.
permintaan muncul dari pemakai yang berkepentingan, sedangkan penawaran
dilakukan oleh perusahaan dalam bentuklaporan keuangan.

2.

Pendekatan Regulasi
adanya berbagai krisis dalam penentuan standar mendorong munculnya kebijakan
regulasiakuntansi. permintaan terhadap kebijakan atau standar didorong oleh
krisis yang muncul, pihak penentu standar akuntansi menanggapi dengan car
menyediakan kebijakan tersebut.kebijakan tersebut lebih menitikberatkan pada
kepentingan regulator/pemerintah sebagai penguasa. para pendukung regulasi
berargumen bahwa kegagalan pasar dapat terjadi karena berbagaifactor.
Factor tersebut antara lain.
a. Pengendalian monopoli terhadap informasi oleh manajemen
b. Hipotesis investor naf
c. Fiksasi fungsional
d. Angka angka yang menyesatkan
e. Keragaman prosedur
f. Kurangnya obyektivitas

D.

TEORI REGULASI
Atas dasarkelemahan yang melekat pada pendekatan pasar bebas(teoriagensi,perhatian
dalam penentuan standar akuntansi diarahkan pada alternatif yang lain.Adanya berbagai
krisis dalam penentuan standar mendorong munculnya kebijakan regulasiakuntansi.
Oleh karena itu permintaan terhadap kebijakan atau standar seaca itu didorongoleh
krisis

yang

muncul,pihak

penentu

standar

akuntansi

menanggapi

dengan

caramenyediakan kebijakan tersebut. Hubungan antara permintaan dan penawaran


tersebutmengarah pada terciptanya suatu keseimbangan. Dalam proses regulasi yang
dinamis,terdapat proses penyesuaian yang berlangsung terus menerus terhadap
kebijakan ataustandar sesuai dengan perubahan permintaan dan penawaran.

1.

Bentuk Teori Regulasi


Belkaoui (1985, p. 48) mengatakan bahwa regulasi umumnya diasumsikan
untukdirancang dan dioperasikan demi kepentingan industri yang ada Menurut
Stiglar (1971) dan Posner (1974), ada dua kategori teori regulasi dalam industri
tersebut, yaitu, Teori Kepentingan Publik (public-interest theories) dan teori
Kepentingan Kelompok (interest-group atau capture theories)
Teori kepentingan publik berpandangan bahwa regulasi diperlukan sebagai
tanggapan atas permintaan public terhadap perbaikan praktik pasar yang tidak
efisien dan tidak adil. Menurut teori kepentingan kelompok, regulasi disediakan
sebagai tanggapan atas permintaan kelompok tertentu untuk memaksimumkan
kemakmuran mereka.
TEORI KEPENTINGAN KELOMPOK 2 VERSI Teori elit politik
(political- Teoriekonomi regulasi (theruling elite theory of economic theory
ofregulation) yang dijukan olehregulation) yang diajukanPosne (1974) Peltman
(1976)Versi ini menggunakan Versi inididasarkan padakekuatan politik untuk
kekuatan ekonomi

2. Siapa Yang Harus Mengatur?


Beberapa

pendapat

tentang

siapa

yang

mengatur/menentukan

standar

akuntansidapat dilihat di bagian berikut:

Argumen yang mendukung Regulasi Sektor Swasta :


1) Regulasi sektor swasta berkaitan erat dengan profesi akuntansi
2) Suatu badan yang dibentuk oleh sektor swasta memiliki prestis/kebanggaan
tersendiri dan dapat diterima oleh masyarakat bisnis.
3) Oleh karena badan pemerintah beranggotakan birokrat, ada kecenderungan
efektifitas persyaratan pengungkapan tambahan menjadi tidak sensitif4)
4) Ada kecenderungan pihak pemerintah yang terlibat dalam badan tersebut
bertindak untukmelindungi kepentingan publik.
5)

proses legislatif dan otoritas pemerintah mudah dipengaruhi oleh lobi dan tekan
an politikdari pihak tertentu

6) standar yang dihasilkan pemerintah kemungkinan saling tumpang tindih, dan


dapatmenimbulkan judgement yang beragam dari para pemakainya
10

Argumen Yang mendukung Regulasi sektor publik


1) Badan regulasi sektor publik memiliki legitimasi dan kekuatan yang lebih kuat
dalam hal pemaksaan standar.
2) Badan Pemerintah cenderung susah untuk dipengaruhi oleh manajemen
perusahaansehingga dapat bekerja untuk menghasilkan pengungkapan yang
lebih baik bagi konsumen.
3) Badan Pemerintah dapat menjadi katalisator bagi perubahan.
4) Regulasi sektor publik muncul karena adanya motivasi untuk melindungi
kepentingan public.
5) Sektor Swasta harus selalu diawasi dan dikendalikan karenatujuannya
seringkali bertentangan dengan kepentingan public.
6) Standar akuntansi memiliki pengaruh hukum dan melibatkan konflik
kepentingan dari berbagai pihak, sehingga harus ditetapkan sesuai aturan dan
prosedur umum.

Atas dasar argumen yang salingbertentangan, Willmott, Puxty, Cooper dan


Lowe(1987) mengajukan model regulasi yang berbeda. Mereka mengidentifikasi
tiga kasus yang ideal: regulasi melalui pasar, pemerintah dan masyarakat. Atas
dasar tiga pihak tersebut, empatmodelregulasi diajukan yaitu Liberalism, Legalism,
Corporatism dan Associationism Pasar Negara Liberalism Legalism Corporatism
Associationism.

E.

OVERLOAD STANDAR AKUNTANSI


Kondisi yang mencerminkan adanya overload antara lain (Belkaoui, 1993) :
a. terlalu banyak standar.
b. standar yang terlalu rinci.
c. tidak ada standar yang berjenjang, sehingga pilihan sulit dilakukan.
d. standar akuntansi bertujuan umum gagal membedakan kebutuhan penyusun,
pemakaidan akuntan publik.
e. standar akuntansi berterima umum gagal membedakan antara :
entitas public dan non public

11

laporan keuangan tahuna dan interm


perusahaan besar dan kecil
laporan keuangan auditan dan non auditan
f. pengungkapan yang berlebihan, pengukuran

faktor yang menyebabkan timbulnya overload standar akuntansi:


a. dengan munculnya berbagai pertanyaan tentang apa yang harus diungkapkan dan
yang tidak perlu diungkapkan, akuntan mulai mengeluarkan begitu banyak standar
yang cenderung mengabaikan pertimbangan dan mengurangi permasalahan yang
melibatkan prinsip akuntansi
b. alasan untuk melindungi kepentingan public dan membantu investor menghasilkan b
erbagi regulasi dan pengungkapan professional dan pemerintahan
c. keinginan untuk memuaskan kebutuhan berbagai pemakai yang memerlukan standar
yang lebih rinci

PENGARUH OVERLOAD STANDAR AKUNTANSI


a.

akuntan mungkin kehilangan pandangan tentang pekerjaan riil karena data yang
begitu banyak diperlukan untuk menyesuaikan dengan standar yang ada.

b.

kegagalan audit mungkin disebabkan karena kondisi dimana akuntan kehilangan


focus audit dan melupakan prosedur audit yang baku. hal ini menyebabkan
terkikisnya profesi akuntan public karena ketidakpuasan klien yang terbebani
dengan standar tersebut

c.

pemakai juga bingung menghadapi jumlah dan kompleksitas catatan yang diperluk
an untuk menjelaskan persyaratan seperti yang dikehendaki oleh standar yang
berlaku.

d.

manajer mungkin mengalami masalah yang berkaitan dengan jumlah dankompleksi


tas standar yang berlaku. Mungkin dapat tergoda meninjau kembali kontrak dan
mengubah praktik bisnis sehingga menyimpang dari standar akuntansi yang ada.

12

SOLUSI TERHADAP MASALAH OVERLOAD STANDAR


AICPA melakukan evaluasi terhadap berbagai pendekatan yang berkaitan dengan
overload standar :
a.

Tidak ada perubahan (mempertahnkan status quo).

b.

Melakukan perubahan terhadap konsep GAAP menjadi dua jenis GAAP,


misalnyaGAAP khusus untuk pengusaha besar dan GAAP khusus untuk pengusaha
kecil.

c.

Melakukan perubahan GAAP untuk menyederhanakan penerapannya bagi


semua perusahaan.

d.

Menentukna pengungkapan dan pengukuran yang berbeda.

e.

Menentukan

perubahan

terhadap

standar

akuntansi

public

untuk

pelaporaninformasi keuangan.
f.

Memberi alternative bagi GAAP sebagai basis pilihan dalam penyajian


laporankeuangan

13

LAMPIRAN

EMPAT PILAR STANDAR AKUNTANSI INDONESIA

Standar Akuntansi di Indonesia kini berkembang menjadi 4 (empat) seturut dengan


perkembangan dunia usaha. Empat pilar standar itu adalah :
1. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK)
SAK digunakan untuk entitas yang memiliki akuntanbilitas publik, yaitu entitas
terdaftar atau dalam proses pendaftaran di pasar modal atau entitas fidusia (entitas yang
menggunakan dana masyarakat, seperti asuransi, perbankan dan dana pensiun)
Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
a.

Penerbit: Dewan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.

b.

Pengguna: Wajib diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas publik seperti: Emiten,
Perusahaan publik, perbankan, asuransi, BUMN dan dapat diterapkan oleh Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP) atau entitas lainnya.

c.

SAK di Indonesia saat ini sudah mengadopsi IFRS (International Financial


Accounting Standards).

2. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS


PUBLIK (SAK ETAP)
SAK ETAP digunakan untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik
signifikan dalam menyusun laporan keuangan untuk tujuan umum.
Beberapa penyederhanaan yang terdapat dalam SAK ETAP adalah:
Tidak ada Laporan Laba / Rugi Komprehensif. Pengaruh laba komprehensif
disajikan dalam laporan perubahan ekuitas atau komponen ekuitas dalam neraca
Penilaian untuk aset tetap, aset tak berwujud dan propersi investasi setelah
tanggal perolehan hanya menggunakan harga perolehan, tidak ada pilihan
menggunakan nilai revaluasi atau nilai wajar
Tidak ada pengakuan liabilitas dan aset pajak tangguhan. Beban pajak diakui
sebesar jumlah pajak menurut ketentuan pajak.
Entitas yang menggunakan SAK ETAP dalam laporan auditnya menyebutkan
laporan keuangan entitas telah sesuai dengan SAK ETAP. Standar ini efektif dapat
digunakan untuk laporan keuangan mulai tahun 2009. Entitas yang telah memenuhi
kriteria untuk menggunakan SAK ETAP pada tahun 2011 harus memilih menggunakan
SAK ETAP atau PSAK. Jika pada tahun 2011 tetap memakai PSAK maka di atahun
berikutnya harus konsisten menggunakan PSAK dan tidak boleh berubah memakai SAK
ETAP.
14

SAK-ETAP
a.

Penerbit: Dewan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia.

b.

Pengguna: Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik dan BPR seperti yang
diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/37/DKBU tanggal 31 Desember
2009.

c.

Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik adalah


1. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
2. menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial
statement) bagi pengguna eksternal (pemilik, kreditur dan lembaga pemeringkat
kredit.)

d.

Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika :


1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftarn, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan
penerbitan efek di pasar modal; atau
2. Entitas menguasai asset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek,dana
pensiun, reksa dana dan bank investasi.

e.

SAK-ETAP mengadopsi sebagian IFRS (International Financial Reporting Standards)


untuk usaha kecil-menengah (IFRS for Small-Medium-sized Entities/SMEs).

3. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN SYARIAH (SAK SYARIAH)


Standar ini digunakan untuk entitas yang memiliki transaksi syariah atau berbasis
syariah. Standar ini terdiri atas keraengka konseptual penyusunan dan pengungkapan
laporan, standar penyajian laporan keuangan dan standar khusus transaksi syariah seperti
mudharabah, murabahah, salam, ijarah dan istishna.
Bank syariah menggunakan dua standar dalam menyusun laporan keuangan.
Sebagai entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan, bank syariah menggunakan
PSAK, sedangkan untuk transaksi syariahnya menggunakan PSAK Syariah.
Standar Akuntansi Syariah (SAS)
a.

Penerbit: Dewan Standar Akuntansi Syariah.

b.

Pengguna: Entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga syariah
maupun lembaga non syariah.

15

4. STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH (SAP)


Standar ini digunakan untuk menyusun laporan keuangan instansi pemerintahan,
baik pusat ataupun daerah. SAP berbasis akrual ditetapkan dalam PP No. 71 Tahun 2010.
Instansi masih diperkenankan menggunakan PP No. 24 Tahun 2005, SAP berbasis kas
menuju akrual sampai tahun 2014.
SAP berbasis kas menuju akrual menggunakan basis kas untuk penyusunan laporan
realisasi anggaran dan menggunakan basis akrual untuk penyusunan neraca.
Pada SAP berbasis akrual, laporan realisasi anggaran tetap menggunakan basis kas
karena akan dibandingkan dengan anggaran yang disusun dengan menggunakan basis kas,
sedangkan laporan operasional yang melaporkan kinerja entitas disusun dengan
menggunakan basis akrual.
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
a.

Penerbit: Komite Standar Akuntansi Pemerintahan, ditetapkan dalam PP No. 24


Tahun 2005 dan PP. 71 Tahun 2010.

b.

Pengguna: Entitas pemerintah dalam menyusun LKPP dan LKPD (Instansi


Pemerintah Pusat dan Instansi Pemerintah Daerah sedangkan BUMN menggunakan
SAK), entitas sektor publik selain pemerintah menggunakan PSAK 45 (pelaporan
Keuangan Entitas Nirlaba).

Keempat pilar Standar Akuntansi tersebut akan digunakan oleh:


1. Perusahaan untuk menyusun laporan keuangan.
2. Auditor untuk mengaudit laporan keuangan sebuah perusahaan.
3. Pengguna laporan keuangan (Bank, Investor dan pihak-pihak lain) untuk mengevaluasi
laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan (pemberian kredit, pembelian saham dan keputusan-keputusan yang lain).

16

DAFTAR PUSTAKA

Adventure of the Lifetime. 2016. Empat Pilar Akuntansi Indonesia. http://yunan1.com/2012/


01/08/4-pilar-akuntansi-indonesia/. Diakses tanggal 18 Maret 2016
Belkaoui, Ahmed Riahi, 2006. Teori Akuntansi, Buku 1, Edisi kelima, Salemba Empat,
Jakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2007. Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba Empat,
Jakarta.
Mari belajar. 2016. Empat Pilar Standar Akuntansi. http://yangpentingberbagi.blogspot.co.id/
2012/04/empat-pilar-standar-akuntansi.html. Diakses tanggal 18 Maret 2016.

17