P. 1
NL_FEBRUARI_ 2009

NL_FEBRUARI_ 2009

|Views: 138|Likes:
Dipublikasikan oleh AL-AZHAR PEDULI UMMAT
Di tengah keprihatinan mendalam atas bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di
Palestina. Di bawah mendung gelap yang dilahirkan asap peperangan. Di perih kesedihan
atas dera yang menimpa saudara-saudara kita yang menjadi korban, dan kesedihan bagi mereka yang mata hatinya selalu diliputi amarah. Marilah sejenak kita jedakan diri dari kesibukan duniawi. Marilah memohon ampun kepada Allah Sang Penguasa Semesta. Marilah berdo’a meminta ridhlo-Nya agar tragedi umat manusia di Palestina segera berakhir. Mari..
Di tengah keprihatinan mendalam atas bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di
Palestina. Di bawah mendung gelap yang dilahirkan asap peperangan. Di perih kesedihan
atas dera yang menimpa saudara-saudara kita yang menjadi korban, dan kesedihan bagi mereka yang mata hatinya selalu diliputi amarah. Marilah sejenak kita jedakan diri dari kesibukan duniawi. Marilah memohon ampun kepada Allah Sang Penguasa Semesta. Marilah berdo’a meminta ridhlo-Nya agar tragedi umat manusia di Palestina segera berakhir. Mari..

More info:

Published by: AL-AZHAR PEDULI UMMAT on Apr 27, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2010

pdf

text

original

Komplek Masjid Agung Al Azhar

Edisi
S h a f a r 1 4 30 H Februari-Maret 200 9

06/IV

Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan Telp. 021 7221504 Fax. 021 7265241

Assalamu’alaikum

D
M. Anwar Sani

Tabik
kecerdasan seni dan budaya, yang berbasis pada kecerdasan akal budi (ahlak) dan kecerdasan transendental (iman). Semua akan dikemas dalam program-program pendidikan non formal yang akan meningkatkan skill dan kecerdasan peserta sehingg value dirinya meningkat. Pilihan membekali ummat dengan halhal tersebut memiliki relevansi kuat dengan sumber penyakit yang telah membuat ummat terbodohkan. Bentuk-bentuk kecerdasan itulah yang kini mulai meninggalkan ummat, melarutkan mereka dalam keterbelakangan hampir di semua sektor kehidupan dan akhirnya menumbuhkan penindasan ekonomi, sosial, budaya, bahkan penindasan iman. Sekali lagi, mari kita bergandeng tangan mewujudkan cita-cita besar Rumah Gemilang Indonesia. *** Donatur yang dimuliakan Allah. Sebuah perubahan yang sudah menjadi keniscayaan, tak terelakkan. Media yang sedang Anda baca ini bermetamorfosa menjadi sebuah majalah cuma-cuma dari yang selama ini kami sebut newsletter. Tujuannya, supaya kampanye budaya zakat dan kedermawanan sosial lainnya semakin berkualitas. Sebuah desain sudah disiapkan agar CARE pada saat yang direncanakan nanti akan menjadi majalah yang diperhitungkan. “Sekarang baru fase ulat. Tapi kita akan terus berproses hingga pada waktunya seekor kupu-kupu cantik mengepakkan sayapnya,” kata Mas Joko, Media Assistance kami berfilosofi tentang visi majalah CARE. Fase ulat. Tahap pertama sebuah metamorfosa telah Anda rasakan. Selain perubahan pada isi, logo, konsep perwajahan dan tata letak, empat halaman kami tambahkan untuk memberi kesempatan kepada komunitas donatur saling bersilaturrahim melalui halaman iklan. Tentu saja, kami pun menyambut hangat e-mail, fax, maupun surat yang ditujukan kepada kami melalui rubrik baru bertajuk “Silaturrahim”. Do’akan kami. [A]

i tengah keprihatinan mendalam atas bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung di Palestina. Di bawah mendung gelap yang dilahirkan asap peperangan. Di perih kesedihan atas dera yang menimpa saudara-saudara kita yang menjadi korban, dan kesedihan bagi mereka yang mata hatinya selalu diliputi amarah. Marilah sejenak kita jedakan diri dari kesibukan duniawi. Marilah memohon ampun kepada Allah Sang Penguasa Semesta. Marilah berdo’a meminta ridhlo-Nya agar tragedi umat manusia di Palestina segera berakhir. Mari... ***

Donatur yang dimuliakan Allah. Dalam hitungan satu hingga dua bulan ke depan, Rumah Gemilang Indonesia (RGI) akan mencapai fase akhir tahap pertama, yakni pembangunan gedung. InsyaAllah, untuk semakin merekatkan silaturahim kita, Anda akan diundang menyaksikan soft launching RGI bersamaan dengan pengatapan (toping of) gedung. Waktu dan tempat akan disampaikan melalui undangan khusus kepada Anda.

Rumah Gemilang Indonesia, adalah manifestasi kepedulian Al Azhar Peduli Ummat atas dunia pendidikan nasional yang semakin tidak memihak kaum dhuafa. Hati kami rantas ketika dalam satu dan lain kesempatan menyaksikan gedung-gedung SD hampir roboh, anak-anak usia dini hingga sekolah menengah yang menganggur karena tidak mampu “membeli” bangku sekolah. RGI adalah sebuah ikhtiar besar mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menyasar ummat dari kalangan dhuafa. Dengan memberikan ilmu-ilmu praktis berlandaskan Al Qur’an dan Al Hadits, RGI hendak membekali mereka dengan kecerdasan ekonomi, kecerdasan sosial,

CARE
Edisi

free magazine S h a f a r 14 3 0 H

H. Mursjid Mahmud M. Anwar Sani Joko Windoro Muhammad Taufik Pane Fahri Mustolih

Penanggungjawab Pemimpin Redaksi Redaktur Pelaksana Redaksi Kontributor Kontributor

Komplek Masjid Agung Al Azhar Jl. Sisingamangaraja Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp. 021 7221504, 021 7204733 Fax. 021 7265241 Iklan: Sudayat Kosasih (0812 9083219) Warsito (0818 708587)

Dewan Pertimbangan: H. Ir. Adiwarman A Karim, SE, AK, MAEP H. Drs. Rusydi Hamka; H. Mahfud Makmun; H. Nasroul Hamzah, SH Komisi Pengawas: H. Drs. Soebroto Tirtoatmodjo; H. Arlinus Sampono; Agus Heryanto, SH; Dra. Massaina Daud; Drs. H. Tulus Badan Pelaksana: H. Mursjid Mahmud; H. Chairul Anwar, SE; Hj. Aty Nurchamid Direktur: M. Anwar Sani; General Affair:Suryaningsih (GM), Saripudin, Subakti, Fahmi; Marketing & Public Relations: Dwi Kartikaningsih, SEI (GM); Siti Syarifah; Harvina A. Tia Indrawan, M Taufik; Program/Pendayagunaan: Agus Budiono (GM), Iwan Rachmat, Nurli Keuangan:M. Farid (GM); Uci Media Assistance: Az Zahra Desain Graphics Percetakan: Az-Zahra (Isi di luar tanggungjawab percetakan)

Jejaring Al Azhar Peduli Ummat:

foto: denbei

Fokus

Banyak Jalan
Menuju Baghdad

SEMAKIN TERPEROSOK KE DALAM LIBERALISASI DAN KOMERSIALISASI DENGAN PENGESAHAN

DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA
UU BHP.

Gang Sempit
Anak-anak Majlis Hurin In berdoa sebelum belajar bersama dalam kelas teater yang diadakan di gang sempit di Kampung Jatibunder, Kel. Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat. foto: jw

adrasah ini memiliki sebuah auditorium megah. Perpustakaannya sungguh besar, yang memuat ribuan koleksi buku penunjang belajar-mengajar. Dilengkapi dengan rumah sakit beserta dokter yang siaga 24 jam. Pemandian pun tersedia. Semuanya gratis. Sudah begitu, setiap siswa menerima tunjangan pendidikan berupa emas 4,25 gram atau senilai 1 dinar (setara Rp 1,4 juta) per bulan. Dengan fasilitas yang lebih dari cukup, para santri tinggal belajar, beribadah, dan mencetak prestasi setinggi mungkin. Itulah Madrasah Al-Mustanshiriyah di Baghdad, yang didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir pada abad VI Hijriyah atau abad VII Masehi (Al Baghdadi: Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, 1996). Hari gini, perguruan tinggi semacam itu banyak bertebaran. Tapi, boro-boro gratis, murah pun tidak. Sangat muahal! Pasalnya, pemerintah memang tidak mau rakyatnya kelewat pintar. Cukuplah sampai tingkat menengah saja. Memang, tahun ini anggaran pendidikan naik. BOS (Bantuan Operasi Sekolah) dan BOM (Bantuan Operasi Madrasah) turut meningkat mendekati 100%. Tapi, untuk pendidikan tinggi, pemerintah malah berusaha menarik diri. Diwarnai berbagai aksi demo mahasiswa, DPR pada 17 Desember 2008 mengesahkan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Mahasiswa menuntut MK menganulir UU yang dinilai melegitimasi liberalisasi dan komersialisasi kampus itu. ‘’Undang-undang ini merupakan bentuk cuci tangan pemerintah dari tanggungjawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membiayai pendidikan nasional,’’ tutur Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM, Budiyanto. Dengan dibentuk sebagai badah hukum, katanya, institusi pendidikan dipaksa mencari pemasukan lain di luar subsidi pemerintah yang persentasenya tak seberapa. Misalnya, untuk tahun 2008, UI mendapat jatah APBN hanya Rp 125 Milyar atau hanya 14% dari total kebutuhannya. Dari sumbangan filantropi dan industri, UI hanya mampu menggaet 25% (Rp 229 M). Sedangkan sisanya sebesar
Alternatif Mendidik Anak Bangsa

M

3

Fokus
untuk mendiskriminasi peserta didik. Yang dhuafa silakan ke kejuruan saja, sedangkan yang berduit hayo mangga masuk pendidikan sekolah negeri favorit. Tapi memang, sekolah formal bukan segalanya. Buya Hamka, seorang ulama, politisi, filsuf, dan sastrawan besar, HIKMAH, kata Nabi Muhammad SAW, yang menerima penghargaan nasional maupun adalah mutiara yang hilang yang harus internasional yang pernah ditemukan setiap Muslim diterimanya, semisal Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI Mesir (1958) dan dari Universitas Kebangsaan Malaysia (1974). Juga tentang jalur, jenjang dan jenis gelar Datuk Indono dan Pengeran pendidikan bagian kesatu (umum) Wiroguno dari pemerintah Indonepasal 15 yang berbunyi: Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, sia. Toh Buya Hamka hanya “makan sekolahan’’ sampai kelas dua SD kejuruan, akademik, profesi, vokasi, (Darojah Dua atau Ongko Loro) di keagamaan, dan khusus. Maninjau, Sumatera Barat. Belakangan, pemerintah pun Di luar itu, beliau berguru gencar mengkampanyekan pendidipada ayahnya sendiri yang mendirikan kejuruan, yang berorientasi skill kan Pesantren Sumatera Thawalib di kerja. Namun, hal ini agaknya lebih 62% dibebankan kepada mahasiswa. Karenanya, banyak mahasiswa yang terancam DO lantaran tak kuat membayar kuliah. Regulasi pendidikan nasional memang mengakui pendidikan informal dan non-formal. UU Padang Panjang. Hamka juga ngangsu kawruh pada sejumlah ulama top di berbagai daerah seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, RM Surjoparonto, dan Ki Bagus Hadikusumo, HOS Tjokroaminoto, Haji Fachrudin. Dengan kemahiran Bahasa Arabnya, Hamka melahap sendiri karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui penguasaan bahasa asing pula, Hamka menelaah karya sarjana Perancis, Inggris, dan Jerman, seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Yang tekun dicari Buya Hamka bukanlah sekadar informasi pengisi memori otak. Tapi hikmah kehidupan. Hikmah, kata Nabi

Penjara
Aktivis Bimrohis Al Azhar sedang mengajar membaca Al Qur’an kepada seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak-anak, Tangerang. Melalui program “Bimrohis Napi dan Pasien”, Al Azhar Peduli Ummat berupaya hak atas pendidikan bagi narapidana dan pasien tidak terputus. foto: herry

4

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

Fokus

Taman
Home schooling bisa dilakukan di mana saja, setiap saat. Sambil berekreasi, seorang ibu membacakan dongeng di sebuah taman. foto: istimewa

Muhammad SAW, adalah mutiara yang hilang yang harus ditemukan setiap Muslim. Maka, tholabul ‘ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslim. Mencari ilmu wajib atas setiap Muslim. Kalau perlu, tuntutlah sampai ke Negeri Cina. Tentu saja prioritasnya ilmu agama, sebelum ilmu umum (kauniyah). Bukan main tingginya penghargaan bagi para ilmuwan. ‘’Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat.’’ ( Al-Mujadilah: 11). Tinta ilmuwan, bahkan dinilai lebih mulai ketimbang darah syuhada. Sampaisampai, setan pun tak berani menggoda orang yang sedang sholat di masjid karena di sampingnya sedang tidur seorang ilmuwan. Dan, ‘’Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.’’ Walhasil, sekolah formal bukan segala-galanya. Selain sekolah, lingkungan masyarakat dan keluarga juga sekolahan. Selain guru di sekolah, tokoh masyarakat, ustadz dan ustadzah di kampung, orangtua di rumah, juga guru bagi anak. Bahkan setiap orang bisa dijadikan guru dengan pengalaman masingmasing. Experience is the best teacher. Pendek kata, banyak jalan menuju Baghdad. (aya hasna)

Seto Mulyadi:

Alternatif Masa Depan
HOME SCHOOLING (HS) yang kini sedang menjadi bahan pembicaraan adalah sebuah sistem pendidikan atau pembelajaran yang diselenggarakan di rumah. Sistem ini bertumpu pada suasana keluarga. HS samakin menjadi perhatian antara lain sejak begitu banyaknya orangtua merasakan bahwa suasana pembelajaran di banyak sekolah (baik negeri, maupun swasta) kurang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Banyak orangtua menemukan anak mereka yang menjadi stres karena sekolah. Lebih parah, sekolah dinilai justru menghilangkan kreativitas dan potensi alamiah anak. Dari fenomena itu, muncul berbagai ide dari para pendidik dan orangtua untuk menciptakan sekolah yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan anak. Lalu, muncullah berbagai sekolah alternatif. Misalnya, sekolah alam, yang mengajak anak-anaknya belajar lebih banyak dari alam. Tujuannya untuk belajar dan menyaksikan langsung obyek mata pelajarannya. Kondusif Ada juga sekolah alternatif yang membebaskan anak didiknya
Alternatif Mendidik Anak Bangsa

agar belajar apa saja sesuai minatnya. Di sekolah ini, tidak ada kelas seperti halnya di sekolah formal. Guru fungsinya hanya membimbing dan mengarahkan minat anakanak dalarn mata pelajaran yang disukai. Masih banyak, sekolah alternatif lain yang masing-masing punya metode pelajaran sendiri. Tapi secara umum, sekolah alternatif ini menjadikan anak didik sebagai

5

Fokus
subyek kurikulum, bukan obyek kurikulum. Dengan kata lain, kurikulum itu untuk anak, bukan sebaliknya, anak untuk kurikulum! Dari berbagai alternatif sekolah itu, yang mencuat adalah home schooling. Secara etimologis HS adalah sekolah yang diadakan di rumah. Tapi secara hakiki, HS adalah sebuah sekolah alternatif yang menempatkan anak-anak sebagai subyek dengan pendekatan pendidikan secara at home. Dengan pendekatan at home inilah, anak-anak merasa nyaman belajar karena mereka bisa belajar apa pun sesuai keinginannya, kapan saja, dan di mana saja dengan nyaman seolah ia tengah berada di rumahnya. Jadi, meski disebut home schoooling, tidak berarti anak terus menerus belajar di rumah. Anak bisa belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan (kondusif) seperti at home. Kurikulum Khusus Namun demikian,dalam home schooling tidak berarti anak-anak bisa belajar semaunya. Mereka juga dilatih

ANAK DIDIK adalah subyek kurikulum, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, kurikulum didesain untuk kepentingan anak, bukan anak distimulasi untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum.
bertanggungjawab terhadap pilihanpilihannya sendiri. Seorang anak yang suka belajar matematika dan fisika, misalnya, perlu diarahkan agar menguasai pelajaran tersebut sedalam mungkin dan kemudian diarahkan mempelajari ilmuilmu modern sesuai dengan teori-teori yang dikuasainya. Begitu pula anak yang menyukai pelajaran seni, olahraga, biologi, dan lain-lain. Itulah sebabnya di Amerika Serikat, sudah banyak dikembangkan kurikulum untuk HS agar sistem pendidikan tersebut memiliki konsep dan visi yang jelas. Orangtua atau guru privat di HS tinggal menyesuaikannya dengan minat masing-masing anak didiknya. Saat ini di AS ada sekitar 1,8 juta anak yang belajar dengan sistem HS. Pada tahun 2007, misalnya, diperkirakan sudah ada 2,5 juta anak-anak di sana belajar dengan sistem tersebut. beberapa murid - namun esensinya dan metodanya tetap home schooling. Mereka belajar secara bebas, fleksibel, menyenangkan dan sesuai dengan minatnya. Jika lelah, mereka bisa beristirahat kapan pun. Begitu pula jika ingin belajar, mereka pun bisa belajar kembali dengan senang, kapan pun. Di HS tidak ada ketentuan waktu untuk belajar. Barangkali, itulah sebabnya ada seorang pakar pendidikan yang menyatakan bahwa sistem sekolahan formal yang kaku (terbatas pada lokasi dan waktu tertentu) kini telah mati. Belajar bisa dilakukan di mana saja. Ruang sekolah bisa di kamar tidur, dapur, warung, lapangan olahraga, dan lain-lain. Setara Sekolah Formal Di Indonesia, hingga kini belum ada data pasti berapa jumlah anak-anak yang mengikuti HS. Tetapi mulai terlihat semakin banyak orangtua yang berminat mendidik anaknya dengan sistem ini. HS sebagai salah satu elemen pendidikan alternatif sudah terakomodasi dalam sistem pendidikan nasional. Karena itu HS bisa didaftarkan sebagai komunitas belajar pendidikan nonformal dan pesertanya bisa mengikuti ujian kesetaraan Kejar Paket A (setara SD), Kejar Paket B (SMP), dan Kejar Paket C (SMU). Sebetulnya bangsa Indonesia sudah lama mengenal HS. Sebelum sistem pendidikan Belanda datang, HS telah berkembang di pesantren-pesantren. Para Kyai, Buya, dan Tuan Guru secara khusus mendidik anak-anaknya. Begitu pula para pendekar dan bangsawan zaman dahulu. Mereka lebih suka mendidik anak-anaknya secara pribadi di rumah atau padepokannya ketimbang mempercayakan kepada orang lain. Meski belum sempurna, HS telah banyak melahirkan tokoh pergerakan nasional. KH Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, dan Buya Hamka adalah tiga di antara tokoh-tokoh nasional yang belajar dengan sistem HS. Beliau dididik orangtuanya untuk belajar dan mencintai ilmu, bukan sekadar agar lulus ujian namun kemudian tidak mencintai dan mengembangkan ilmu. [must]

Di HS, orangtua yang mengetahui bakat dan hobi anak-anaknya bisa mengarahkan pendidikan mereka dengan jalan mendidiknya sendiri atau menyewa guru-guru yang berkualitas. Dengan banyaknya anak-anak yang belajar di HS, para orangtua pun membentuk network untuk membagi pengalamannya kepada orangtua lain yang mendidik anaknya secara HS. Bahkan jika minat anak-anaknya sama, beberapa orangtua membentuk kelompok pendidikan dan mengajak anak-anaknya belajar bersama (grouping) dengan anakanak lainyang satu minat. Dengan grouping, suasana HS jadi mirip seperti sekolah formal dengan

6

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

Sketsa

S

etiap anak bangsa berhak atas penidikan yang layak. Amanah Undang Undang Dasar ini, apa boleh buat, belum sepenuhnya bisa dilaksanakan. Sejak merdeka, rezim Orde Lama, Orde Baru, hingga rezim Reformasi sekarang ini, langkah yang diambil untuk memenuhi hak warga negara ini masih terseok-seok. Tak mau sekadar berteriak di lorong sunyi, banyak yang tergerak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan alternatif. Selain mempraktikkan metode home schooling, kelompok-kelompok studi bermunculan. Berikut beberapa di antaranya:

Sayap-sayap Pemberontak
SUDAH BEBERAPA WAKTU lamanya Raka Ibrahim tak mau sekolah. Sebagai ibunya Lovely merasa ada yang tidak beres dengan anaknya. Apalagi Raka selama ini dikenal sebagai anak yang memiliki lompatan intelegensia luar biasa. Kecerdasannya meninggalkan temanteman seusianya, tetapi prestasi akademisnya terus mengalami penurunan drastis. Usut punya usut, ternyata putra Raka punya masalah dengan guru di sekolah. Raka dianggap terlalu kritis sehingga selalu dapat hukuman. Bahkan ia diasingkan teman-temannya karena kelewat kritis. Sebagai ibu, Lovely tidak mau anaknya mendapatkan perlakuan diskriminatif saat belajar di sekolah. Lovely mencoba memindahkan anaknya ke beberapa sekolah lain, tapi selalu saja mengalami kendala. Setelah berunding dengan keluarga, termasuk mendengarkan pendapat Raka, akhirnya diputuskan mereka menggunakan cara pendidikan home schooling. Lovely tidak sendiri. Peristiwaperistiwa seperti itu ternyata banyak juga dirasakan oleh para orangtua di sekitar tempat tinggalnya. Berangkat dari tukar pengalaman, Lovely memimpin para orangtua yang gelisah dengan perkembangan pendidikan anak

Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLip)

mereka mendirikan Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (Kerlip). Sejak dicanangkan pada 25 Desember 1999, metoda home schooling yang diterapkan Kerlip semakin dikembangkan dan menjadi alternatif pendidikan yang banyak diminati. Yang bergabung dengan Kerlip umumnya tidak puas dengan kualitas pendidikan di sekolah reguler. Biaya sekolah yang tinggi juga menjadi pertimbangan. Sementara faktor keamanan dan pergaulan sekolah yang tidak kondusif bagi perkembangan anak juga menjadi perhatian. Selain alasan-alasan dari luar, pegiat home shooling di Kerlip menginginkan hubungan keluarga yang lebih dekat dengan anak dan transformasi nilai-nilai yang dibangun dalam keluarga bisa lebih efektif. Di sekolah, hal-hal itu tidak didapatkan. Banyak juga orangtua yang beralasan sering berpindah-pindah domisili atau melakukan perjalanan. Seperti Lovely, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus juga lebih tepat dididik dengan metoda home schooling. Di Kerlip, Lovely mengembangkan berbagai metoda HS. Sebagian peserta benar-benar dididik dengan metoda un schooling, yaitu si anak belajar sendiri
Alternatif Mendidik Anak Bangsa

7

Sketsa
tanpa terikat dengan guru atau kurikulum sebagaimana sekolah reguler. Metoda lain dengan memberikan bahan ajar sesuai “kurikulum” yang telah disusun. Ini disebut metoda eklektik. Metoda-metoda itu bisa diterapkan langsung oleh orangtua. Yang merasa tidak mampu mengajar sendiri anak-anaknya, biasanya mendatangkan guru privat di tempat anak tersebut belajar. Lovely semula sendirian menerapkan HS untuk Raka. Cara yang ditempuh Lovely berdasar klasifikasi disebut praktik HS Tunggal. HS Tunggal dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga secara soliter, tidak terhubung dengan pelaku HS lainnya. Dengan cara ini pendidikan berlangsung intens, tetapi sulit memperoleh dukungan/tempat bertanya, berbagi, dan mengkomparasi keberhasilan. Kendala lainnya, kurangnya tempat sosialisasi untuk mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan. Setelah banyak orangtua bergabung, Kerlip secara otomatis menerapkan HS Majemuk. Prinsipnya, kegiatan pokok tetap dilaksana-

kan oleh orangtua masing-masing, tetapi dalam beberapa bidang, dilakukan bersama-sama. Tidak mudah memang. Selain dituntut kreatif, anasir-anasir HS Majemuk harus bisa mengembangkan kompromi dan fleksibilitas. Jadwal kegiatan, membangun suasana, dan pengembangan fasilitas harus diputuskan bersamasama. Kelebihannya, kebutuhan perkembangan kecerdasan sosial anak terjaga. Selain itu, jika harus mendatangkan ahli dalam bidang tertentu, biaya bisa ditanggung bersama. Mengapa ‘memberontak’ dari metoda pendidikan sekolah? “Di sekolah, anak selalu

diarahkan, diajari, bahkan ‘dijejali’ berbagai materi. Padahal, sulit mendapatkan guru yang menguasai semua bidang pendidikan. Peran orangtua pun terbatas. Dengan cara seperti itu, kemampuan murid jarang yang bisa melebihi gurunya,” ujar Lovely. Seiring dengan berjalannya waktu Kerlip banyak diterima berbagai kalangan. Peserta didik yang tergabung mencapai 300-an murid lebih. Lovely pun mengembangkan sayap-sayap Komunitas Kerlip dengan mendirikan “Rumah Kerlip” dan “Sandi Kerlip”. Sayapsayap para ‘pemberontak’ ini sudah melebar hingga Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. [must]

8

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

Sketsa Harry’s English Course

Meets Richard
“Richard I’m sorry, no Mc D here,” “Oh, no problem my friend Aminah. I like endog bumbon very much.” “Oh yes? What do you think about it?” “It’s just like pizza or something like that.” “Javanese pizza?” “Yes, right, Javanese pizza.” Itu bukan percakapan “olalaah agus, agus”, tapi conversation antara Aminah dan Richard. Aminah, siswa Kursus Bahasa Inggris “Hary’s English Course” (HEC) Wonosobo, Jawa Tengah, tampak pede ber-casciscus dengan si bule asal Inggris. Dia bilang kepada Richard yang dia guide ke Komplek Wisata Dieng, bahwa di Wonosobo belum ada gerai makanan cepat saji Mc Donald. Eh, ternyata Richard malah ketagihan pada telur bumbu goreng buatan Hary Nirbaya, Direktur HEC. Aminah yang kelas 2 SMAN 1 Wonosobo, hanyalah satu di antara puluhan siswa HEC yang sudah fluent in speaking English. Padahal, “Tadinya kami hanya bermodal nekad olalaah agus agus,” seloroh Aminah menirukan iklan operator ponsel di televisi. Hary mengakui, general conversation (percakapan Bahasa Inggris umum) yang mengajarkan keterampilan berbahasa Inggris untuk komunikasi sehari-hari (daily conversation), merupakan program merupakan produk unggulan HEC. “Pesertanya banyak dan beragam dari pelajar sampai profesional, dengan kontinyuitas kesertaan paling tinggi,” ungkapnya. HEC dirintis Hary Nirbaya sejak Mei 1995. Bermula dari klub hobi, kini berkembang menjadi lembaga kursus dengan SK Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah Propinsi Jawa Tengah no : 0199/I03.10/MS 1998 tanggal 29 Januari 1998. Dari sebuah kontrakan agak kumuh di pinggiran kota, kini HEC menempati gedung seluas lebih kurang 200 m2 dengan halaman parkir, ruang kantor dan ruang tunggu, 3 ruang kelas, 1 ruang guru, dapur, mushola, dan 2 kamar kecil. Sejak berdirinya, HEC sudah mendidik sebanyak 6.876 orang atau rata-rata 57 orang per bulan. Tingkat kontinuitas belajar (murid yang melanjut dari satu level hingga 2 atau 6 level) tercatat sebesar 76% (5.226 orang), betah bertahan sampai satu level 19,4% (1334 orang), dan sisanya drop-out. Seperti lembaga kursus Bahasa Inggris lainnya, HEC menyelenggarakan pendidikan level pre-elementary sampai advance. Baik yang bersifat klasikal reguler, maupun privat. Namun, Hary lebih fokus pada ketrampilan percakapan, “Karena bahasa adalah budaya yang harus hidup dalam keseharian,” katanya. Alumnus BBC Jakarta ini berharap, alumni HEC dapat memanfaatkan potensi wisata Kabupaten Wonosobo yang besar untuk menunjang profesi dan karier. Karena itu, Hary juga menerapkan subsidi silang untuk siswa mampu dan dhuafa, agar semakin banyak remaja atau pemuda setempat yang mahir berbahasa Inggris. “Sekitar 20% siswa HEC mendapat beasiswa penuh maupun sebagian,” kata peraih penghargaan “Mas-Mbak” Wonosobo ini. HEC juga tidak latah pada liberalisasi. Meskipun mempelajari dan mempraktikkan Bahasa Inggris serta mengajarkan wawasan kosmopolitan, bukan berarti siswa harus mengorbankan keyakinan dan budaya Timur. Maka, di setiap kegiatan seperti Sunday Meeting, Gathering, Moving Class, dan Celebracy, HEC selalu menyelipkan pesan-pesan spiritual untuk meneguhkan keagamaan siswa. HEC juga aktif menggelar Peringatan Hari Besar Islam. “Alhamdulillah, kami juga dipercaya menjadi mitra penyalur kurban oleh LAZ Nasional seperti Al Azhar Peduli Ummat, LAZIS Dewan Dakwah, dan Dompet Dhuafa,” kata sekretaris RT dan pengurus DKM Mushola Komplek Manggisan Indah, Mudal, Wonosobo, ini. Walhasil, melalui HEC, Aminah berani ‘’menjual” Wonosobo Asri kepada bule-bule seperti Richard, tanpa kehilangan jati diri sebagai muslimah yang baik. [aya hasna]
Alternatif Mendidik Anak Bangsa

When Aminah

9

Sketsa Majlis Hurin In

Bidadari Kecil Menanam Sawi
ore itu (3/1/09) puluhan anak-anak usia dini berbusana muslim lengkap duduk rapi di dalam mushola Baiturrahman. Mushola mungil berukuran 4x6 meter2 yang berada di tengah pemukiman padat Kampung Jati Bunder, Tanah Abang, Jakarta Pusat itu adalah “kantor pusat” Majlis “Hurin In” (para bidadari). Selain di Baiturrahman, Hurin In memiliki kelas di ruang tamu Ustadz Ramli Azhaque, dan di rumah warga yang punya ruang agak luas. Sepintas, anak-anak itu tak beda dengan anak-anak lain. Mereka asyik mengikuti bacaan Qur’an yang dicontohkan Ustadz Ramli. Sebagian anak yang lebih besar terlihat membimbing “adik-adiknya” meniti lembar demi lembar buku Iqra’. “Anak-anak, ayo kumpul sebentar,” tiba-tiba Ustadz Ramli memanggil seluruh santrinya. “Ya, Ayah,” seru anak-anak itu serempak. Mereka biasa menyebut guru ngaji mereka itu “Ayah”. Sejenak kemudian mereka duduk melingkari “Ayah”. Lalu Ustadz Ramli memeragakan trik sulap yang membuat mata-mata bening itu terpana dan berbinar penuh kekaguman. Hurin In bukan “pesantren” biasa. “Jangan disebut pesantren, lah.., fasilitasnya belum memadahi,” ujar Ustadz Bukhori, adik Ramli. Santri-santrinya bukan hanya berasal dari anak-anak

S

warga Jati Bunder, tetapi banyak juga anak-anak yatim dari lokalisasi liar Bongkaran. Lokalisasi ini berada di emplasemen Stasiun KA Tanah Abang, persis di belakang Pasar Tanah Abang yang megah dan hanya berbatas ruas jalan Tanah Tinggi dengan Kampung Jati Bunder. Ya, sebagian santri Hurin In adalah anak-anak PSK lokalisasi Bongkaran. Hurin In dirintis oleh kakek Ramli pada 1974. Bersama Bukhori, Ramli yang lulusan Pesantren Tebu Ireng, Jombang, mewarisi Hurin In dari keluarga. Ia pun mengembangkan metode klasikal dengan menambahkan berbagai materi pendidikan bagi bidadaribidadari kecilnya. Sejak ditangani Ramli, Hurin In melirik anak-anak yatim yang ibunya berprofesi sebagai PSK sebagai santri. “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitri (suci),” ujar Ramli menyitir sebuah hadits. Tidak mudah mengajak anak-anak Bongkaran belajar di Hurin In. Selain resistensi dari warga biasa, orangtua mereka tidak begitu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. “Padahal keseharian mereka teramat memprihatinkan. Mereka tidur di kamar yang hanya berbatas dinding kayu tipis dengan “kamar praktik” ibunya.

10

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

Sketsa
Mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak sanggup membedakan kebaikan dan keburukan. Mereka harus dihijrahkan. Kalau tidak, anakanak itu hanya akan menjadi generasi penerus orangtuanya,” papar Ramli. Ketika mulai menerima anakanak Bongkaran, protes kerap datang dari warga. Mereka tidak mau anak-anaknya belajar bersama anakanak pelacur. Ramli pun tak segan mengkampanyekan misinya secara door to door . Upayanya tidak sia-sia, sekarang di majlisnya, Ramli mendidik sekitar dua ratus anak, hampir sepertiganya anak-anak pelacur. Melembutkan Jiwa Ramli inovatif. Ia bekerjasama dengan komunitas seniman jalanan GSJ (Generasi Seniman Jalanan) yang bermarkas di Sanggar Krida Wanita, Bulungan, Jakarta Selatan. Seminggu dua kali, anak-anaknya mengikuti kelas teater dan paduan suara di bawah bimbingan Angger, pentolan Teater Samudra. Angger cs. bekerja secara sukarela. “Komunitas ini tumbuh di lingkungan yang keras. Dengan seni budaya, kami berupaya melembutkan jiwa mereka,” tutur pria ceking asal Pekalongan yang terjun sebagai guru teater di Hurin In sejak 2004. Inovasi lain, Ramli menggagas kegiatan yang bertujuan menumbuhkan kecintaan anak-anaknya pada sesama mahluk Allah. “Kami ingin mengajari mereka bercocok tanam. Semula saya berpikir untuk mencoba bertani padi di media kantung plastik bekas,” tutur Ramli. Alasannya, kantung plastik bekas banyak bertebaran di sekitar kampung. Dengan cara itu, tidak dibutuhkan lahan yang luas karena media tanam bisa ditempatkan di lahan-lahan yang tersisa seantero kampung. Tapi setelah bertukar pikiran dengan pendamping dari Al Azhar Peduli Ummat, skema itu dirubah. Bertanam padi dengan cara seperti itu belum teruji keberhasilannya. Juga, pasca panen, untuk menghasilkan beras siap masak masih dibutuhkan perlakuan (pengeringan dan penggilingan) yang sulit dan mahal. “Kami akan mencoba bertani sayur-sayuran. Dengan media tanam yang sama, komoditas ini lebih mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan terlalu intensif. Kami akan mencoba sawi cay sim yang siklus panennya pendek,” ujar Bukhori dengan senyum mengembang, “hasil panen bisa dimasak
Angger, Seniman Teater

Harus Profesor
MENDIDIK ANAK-ANAK tidak gampang. Sekarang ini terjadi salah kaprah dalam kualifikasi guru di sistem pendidikan kita. Guru TK dan SD, yang berkewajiban menata pondasi dasar pendidikan anak harusnya para profesor yang telah terbukti karya ilmiahnya dalam bidang pendidikan anak. Anak-anak itu jiwa-jiwa yang masih murni, bagaimana dasar pendidikan mereka itulah yang harus ditata sebaik mungkin. Setelah melalui fase ini, di fase pendidikan menengah mereka telah mempunyai dasar yang kuat, siapapun gurunya. Kalau diserahkan kepada lulusan SPG, apalagi yang statusnya wiyata bhakti, wallahua’lam.
[jw]

orangtua mereka atau dijual. Ini bahasa keren-nya mendukung ketahanan pangan lokal,” tambah dia. Bukan keuntungan yang dikejar, tetapi bercocok tanam dan mengamati pertumbuhannya hari demi hari akan mengasah kepekaan anakanak pada sunatullah. Mereka akan menjadi saksi kebesaran “Dzat Yang Memberi Kehidupan” dengan mengamati pertumbuhan sawi-sawi mereka. Pekerjaan yang sungguh mulia. [jw/must]

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

11

Sketsa

M

Falsafah Alam
tetangga Dik. Sekarang KJ mendidik tiga ribu siswa lebih. KJ yang menjelma “Taman Impian Pendidikan” bagi anak-anak dhuafa rupanya menarik juga bagi orang berada. Orangtua yang ekonominya tergolong kelas menengah ke atas pun tak segan menyekolahkan putraputrinya di Kandank Jurank. Dik cerdik. Melihat potensi silaturahim yang meluas, ia mengadakan kelas khusus untuk para wali

Kandank Jurank Doank

eski mendung putih meneyelimuti langit pagi itu (10/1), suasana di Kandank Jurank Doank yang berada di Sawah Baru, Ciputat, Tangareng, sangat ramai seperti biasanya. Dua kegiatan sedang digelar. Di sebuah bangunan yang mirip pendopo agak luas, puluhan pasutri terlihat serius menyimak paparan seorang dokter. Dokter itu menerangkan seluk beluk penyakit Kanker Serviks. Sepelemparan batu dari pendopo, puluhan bocah dengan riang gembira bermain di atas rerumputan. Mereka sedang bermain permainan ‘kejujuran’ khas Kandank Jurank dipandu dua anak muda yang cergas. Tawa dan teriak suka cita sesekali terdengar memecah udara pagi segar yang berhembus dari hamparan sawah seluas mata memandang. Areal asri itu bukan tempat rekreasi, tapi Sekolah Alam yang didirikan di dekat rumah artis dan presenter Dik Doank. Pada 1993, Dik yang sejak lama bercita-cita menjadi pendidik generasi muda, mendirikan sekolah alternatif di kawasan Angkasa Pura, Kemayoran, Jakarta Pusat. Raden Rizki Mulyawan Kartanegera Kusuma alias Dik Doank pun terjun langsung mengelola Angkasa Pura. Tapi umur Angkasa Pura tidak panjang. Peminatnya tidak terlalu besar karena lokasinya berada di daerah rawan banjir. Tak mau obsesinya buyar karena kendala tempat, pada 1996 suami Myrna Yuanita memboyong Angkasa Pura ke taman asri nan alami di kawasan Ciputat, tak jauh dari rumahnya. “Alam adalah gambaran metamorfosa dalam kehidupan. Hidup harus memeiliki keseimbangan,” ujar Dik berfilsafat. Terinspirasi alam dan keajaiban alamiahnya, Dik mengubah kurikulum Angkasa Pura dengan konsep Sekolah Alam. Ia menamainya Kandank Jurank Doank. Seiring nama Dik yang meroket di dunia hiburan, Kandak Jurank (KJ) kecipratan rizki. Dari semula hanya menempati sepetak tanah, sekolah yang muridnya semakin hari semakin banyak pun melebarkan assetnya. Aktivitas pendidikan yang semula hanya seminggu sekali dengan mendatangkan guru profesional, frekuensinya ditambah. Bukan semata nama Dik yang membuat KJ populer. Metode yang diterapkannya bisa diterima orangtua siswa. KJ sangat inovatif, ia mengadakan “kelas-kelas” khusus seperti kelas Musik, Melukis, Drama, Sulap, Melawak, MC, dan sebagainya. Gebrakan Dik membuat KJ makin mahsyur. Orangtua pun berbondong menyekolahkan anaknya di “Sekola’ yang ora ada kelasnya,” kata seorang Mpok
Alternatif Mendidik Anak Bangsa

murid. Tiap Minggu, Dik mengundang Pakar-pakar bidang tertentu untuk berbagi ilmu dengan wali murid KD. Contohnya, Pak Dokter yang semakin bersemangat menjelaskan seluk beluk Kanker Serviks. Di KJ, Dik sedang getol mengembangkan metoda baru berbasis pengembangan karakter (Characters Building). Misalnya, dalam paket ceramahnya, Dik menekankan pentingnya budaya hidup bersih untuk membangun karakter bangsa. “Hidup itu harus bersih. Dalam hadits juga kan diajarkan. Kebersihan sebagaian daripada Iman. Jika kita konsisten menerapkannya, niscaya hidup ini akan menjadi indah. Negara tidak perlu repot-repot ada KPK. Tak perlu lagi ada Dinas Kebersihan,” ujar Dik menekankan. [must/jw]

12

Sketsa

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

13

Silaturrahim
“Wali Songo” Bayar Zakat
Toko Buku Wali Songo, salah satu toko kitab terbesar di Indonesia menyerahkan zakat atas penjualan buku-buku mereka tahun 2008. Zakat sebesar Rp. 6.000.000 ditunaikan melalui Al Azhar Peduli Ummat di gedung TB Wali Songo di Jl. Kwitang Raya, Jakarta Pusat, 19 Desember lalu. Secara simbolis, zakat diserahkan oleh Hartono, Direktur TB Wali Songo.

Infak
Assalamu’alaikum wr wb. Aduh... kalian ini bikin ibu gemes. Memang anak-anak muda seperti kalian harus berani membuat terobosan. Kalau nanti bisa berubah menjadi majalah beneran, jangan sungkansungkan mencantumkan angka infak yang harus ditunaikan pembaca. Tapi bagusnya walau ada “harga”nya, infak untuk CARE sifatnya sukarela. Jadi terserah donatur, mau ikut membantu mewujudkan perjuangan anak-anak muda ini seperti apa; mau cap banderol saja, atau berharap ridha Allah yang lebih besar? Wassalamu’alaikum wr. wb. Farida A. Orangtua murid SD Al Azhar Jati Bening, Bekasi. Tinggal di Komplek Perumahan AL Jati Bening

Chicken Soup Yusuf Mansyur
Assalamu’alaikum wr wb. Selamat atas berubahnya newsletter CARE menjadi free magazine. Semoga semakin gencar mengkampanyekan budaya zakat dan kedermawanan sosial lainnya. Saya berharap CARE tidak hanya menyajikan program-program Al Azhar Peduli Ummat, tetapi juga mewartakan perkembangan dunia Islam, baik Nasional maupun Global. Tentunya ini memerlukan awak redaksi yang lebih baik dan lengkap, nota bene biaya yang lebih besar. Tetapi dengan terbukanya CARE terhadap pemasangan iklan, saya yakin biaya tersebut tidak akan memberatkan apalagi ‘mengalihkan’ penyaluran zakat. O, ya, saya sering mengikuti pengajian Ustadz Yusuf Mansyur dan berharap CARE menambah selembar saja halaman yang memuat tulisan-tulisan hikmah Ustadz YM. Yah... semacam kolom chicken soup-nya Ustadz YM, lah... Jazaakallah, wassalamu’alaikum wr. wb. Ariyanti Jl. Garuda II, Pondok Salak Blok A7/2, Bhakti Jaya, Tangerang

Ganti Wajah
Assalamu’alaikum wr wb. Saya mendukung perubahan newsletter CARE menjadi free magazine. Mudahmudahan berkembang sesuai yang direncanakan. Sesuatu yang dimulai dari langkah kecil namun terencana insyaAllah akan menghasilkan sebuah lompatan besar. Salah satu “langkah kecil” itu menurut saya adalah perubahan performa. Sebagai majalah (walau masih kurus ya..), isi, perwajahan, dan tata letak merupakan salah satu unsur yang menentukan performa. Soal isi, menyimak perkembangan CARE bulan demi bulan rasanya saya berani menyerahkan sepenuhnya kepada kebijakan redaksi. Mungkin hanya perlu diperkaya dengan tulisan para pakar ekonomi syariah dan lembaga zakat. Mengenai perwajahan dan tata letak, walau selama ini “tidak mengecewakan” tetapi seyogyanya CARE berbenah serius di sisi ini. CARE harus berani ganti wajah. Saya tunggu keseriusan Al Azhar Peduli Ummat. Wassalamu’alaikum wr. wb. Toto Suroto Jati Padang, Pasar Minggu Assalamu’alaikum wr wb. Pembaca dan Donatur yang dirahmati Allah. Terimakasih atas dukungan Anda untuk penerbitan majalah cuma-cuma CARE. Kami sengaja merancang perubahan tersebut secara gradual, sehingga tidak melewatkan hikmah yang bertebaran dalam prosesnya. Semua karena sejarah. Dari lembaran-lembaran selebaran yang sering dibuang oleh pembacanya (dan kemudian mengotori masjid), CARE telah menjadi sebuah newsletter yang dibaca dan disimpan pembaca. Indikasinya, marbot Masjid Agung Al Azhar kini jarang-jarang harus memunguti newsletter CARE yang ditinggalkan pembacanya. Ketika kami melakukan jajak kecil mengenai referensi utama para donatur Al Azhar Peduli Ummat dalam menunaikan zakat melalui lembaga kami, CARE menempati urutan ke dua setelah Dialog Jum’at Republika. Itulah sejarah kami. Tentu saja ini potensi besar untuk menggencarkan kampanye budaya zakat dan kedermawanan sosial lainnya melalui CARE. Timbal baliknya, CARE perlahan tetapi pasti sanggup menjadi media yang mampu menjembatani silaturrahim para pengampu kepentingan, melalui pemasangan iklan. Kami tidak hendak melompat, tetapi berjalan bersama Anda, komunitas Donatur Al Azhar Peduli Ummat dan keluarga besar pembaca CARE, dan semua stakeholders, dalam mewujudkan cita-cita ini setahun ke depan. Edisi ini, kami menambah empat halaman bagi Anda. Edisi selanjutnya mudah-mudahan semakin “gemuk” dan “sehat” seperti harapan jeng Eri. Untuk itu, silaturahim Anda kami tunggu. Kepada yang kami sayangi Ibu Farida di Jati Bening, “Aduuuuhhh..., Ibu bikin kami malu...” Wassalamu’alaikum wr. wb. Redaksi

Konsultasi Ekonomi Syariah Gemuk Tapi “Sehat”
Assalamu’alaikum ... Waaa..., selamat ya buat teman-teman amil di Al Azhar Peduli Ummat atas keberaniannya menerbitkan free magazine. Mudahmudahan ke depan CARE makin gemuk dan berisi, tetapi tetap “sehat” (tau donk maksudnya...). Maju terus, doaku CARE nanti jadi majalah beneran yang “fokus”-nya selalu dalam rangka sosialisasi Ekonomi Syariah. Wassalam... Eri S.W. er_yie@yahoo.com Assalamu’alaikum wr wb. Keren! Aku harap isi CARE makin cakep sesuai dengan bungkusnya. Sesuai misi CARE, aku minta diadain rubrik Konsultasi Ekonomi Syariah yang diasuh misalnya Ustadz Adi (Adiwarman A. Karim -red) atau Ustadzustadz Al Azhar yang lain. Wassalam... Dian Mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia.

Silakan kirim “Silaturrahim” Anda melalui e-mail redaksi: komunikasimedia@gmail.com atau fax ke nomor 021 7265241 dan 021 7204733 Cantumkan alamat surat bagi pengirim surat melalui e-mail

Advertorial

Intermezo

Aku Sakit, Kau Tidak Menjenguk
Oleh: Joko Windoro
*)

J

um’at, 2 Januari 2009, petang merembang di Bulungan. Di atas karpet lusuh di pelataran gedung Sanggar Krida Wanita (markas sekelompok seniman jalanan), kami membuat kencan: besoknya pukul 04 sore, saya, Mas Angger, dan seorang kawan jurnalis akan mengunjungi bengkel kerja Mas Angger di bilangan Tanah Abang. Di sana, pria kurus bermata tajam itu membina seratus lebih anak-anak di sanggar teaternya. Jauh malam saya baru pulang. Apes, sepeda motor saya kejeblos lubang jalan yang cukup dalam saat kecepatan tinggi. Alhamdulillah, pengendaranya selamat. Cuma, pelek depan motor saya bengkok. Yang membuat hati sedih, gara-gara moda serba bisa itu mesti masuk bengkel, saya jadi tidak bisa memenuhi janji dengan Mas Angger. Duka kecil itu berkelanjutan dan berubah menjadi mimpi yang menghantui ketika malamnya saya membaca sebuah essei Danarto yang berkisah tentang penggusuran gubuk-gubuk kumuh para pemulung di Jakarta Utara. (Republika, 16 Juli 1995). Apa hubungannya? Di kawasan kumuh dekat pasar Tanah Abang, Mas Angger sedang menyiapkan anak-anak didiknya untuk sebuah pementasan. Rencananya, pentas teater anak-anak itu akan dihadiri sejumlah pengusaha dan orang top nomor dua RI: Yusuf Kalla. Pertemuan itu bakal menjadi istimewa karena anak-anak sanggar teater Mas Angger bukan anak-anak biasa. Mereka anak-anak yang dilahirkan oleh para pelacur! Anda bisa membayangkan.., seratus lebih “anakanak singkong” yang hidup berserak di gubuk-gubuk kumuh dengan segala sisi sosial yang rawan, dipandang sebelah mata, dianggap sampah Jakarta... menggelar pentas di hadapan Yusuf Kalla. Bukan agenda besar itu yang

membuat saya getun. Tetapi kesempatan bersilaturahim dengan anak-anak yatim (semoga definisi ini tidak ngawur mengingat sulit benar menemukan ayah biologis mereka) itu jadi tertunda. Ya, hasrat di hati saya untuk “menjenguk” mereka demikian besar. “Hampir tidak ada yang peduli pada komunitas itu. Padahal mereka hanyalah anak-anak, mahluk Allah yang suci. Tetapi mereka harus menyandang “cacat sosial” karena status orangtuanya,” ucap Mas Angger sore itu di Bulungan. “Sebagai muslim, antum menolak doktrin Dosa Asal bukan?” tambah dia penuh kecaman. Bagaimana anak-anak itu tumbuh, Mas Angger mengisahkan sepenggal episode dari pergaulan panjangnya dengan mereka. “Kami pernah membagikan kertas gambar dan pinsil, lalu mereka diminta menggambar sesuka hati. Saya menemukan banyak anak-anak yang menggambar adegan -maaf- persetubuhan, perempuan telanjang, dan berbagai ekspresi erotis yang tidak sepatutnya membayangi masa kanakkanak mereka.” Pengurus kelompok yang menamakan diri Generasi Seniman Jalanan (GSJ) itu bertutur dengan nada geram. Nah, ternyata perlakuan kita yang menyepelekan eksistensi anak-anak kurang beruntung itu mirip dengan perlakuan Pemda Jakarta Utara (waktu itu) saat melancarkan aksi penggusuran gubukgubuk pemulung seperti ditulis Danarto. Kolumnis dan cerpenis religius itu kental mengkritik kebijakan pemerintah terhadap para pemulung. Baik saya kutip paragrafparagraf yang melandasi penentangan Danarto. Tulis dia: Pertama, bagaimanapun mereka bangsa sendiri yang belum bisa kita angkat ke taraf yang layak. Mereka termasuk 27 juta jiwa yang masih hidup di bawah garis kemiskinan itu. Kedua, adalah sepenuhnya menjadi tanggungjawab kita atas kesejahteraan seluruh warga negara. Ketiga, di satu pihak kita telah mampu mengangkat suatu golongan, sedang golongan mereka, para pemulung dan lain-lainnya itu, kita belum mampu mengangkatnya, dus kesalahannya terletak pada kita. Keempat, jika para pemulung itu dengan caranya sendiri bisa mengatasi hidupnya sendiri, bukankah mereka sebenarnya sudah membantu kita, sehingga beban kita berkurang? Kelima, masalahnya ... (dan seterusnya)..., mereka secara hukum layak (1) Mendapat rumah secara cuma-cuma, (2) Mendapatkan pekerjaan tetap dan gaji layak, (3) Mendapat perlindungan hukum. Keenam,

kita ingat bahwa do’a orang yang didzalimi itu ampuh, selalu dikabulkan Allah. Jangan sampai para pemulung itu “berdoa yang tidak-tidak”. Ketujuh, melihat sepak terjang kita, mereka bisa mengajukan kita ke pengadilan dengan alasan kita telah menelantarkan mereka. Pembaca yang dirahmati Allah, dalam konteks tulisan saya, silakan Anda mengubah kata “pemulung” dalam essei Danarto dengan kata “anak-anak pelacur Tanah Abang”. Nah, saya perlu mengutip lagi paragraf berikut dari essei Danarto, bagian inilah yang membuat jiwa saya resah seperti dihantui mimpi buruk. Juga siapa tahu, kita bakal didatangi Rasulullah dalam mimpi, sambil menatap kita tidak berkedip, Beliau menyitir firman Allah, “Aku sakit, dan kamu tidak mau menjenguk-Ku.” Pembaca yang dirahmati Allah. Selengkapnya, hadits qudsi yang disitir Danarto itu begini bunyinya: “Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat, “Wahai anak Adam, Aku sakit dan kamu tidak menjengukKu.” Anak adam bertanya, “Bagaiman saya menjenguk Anda, sedangkan Anda adalah Tuhan Semesta Alam”. Allah menjawab, “HambaKu sakit, tapi kamu tidak menjenguknya, seandainya kamu menjenguknya, maka kamu akan menemukan (rahmat) Ku di sampingnya.” Allah bersabda lagi kepada anak Adam, “Hai anak Adam, Aku lapar akan tetapi kamu tidak memberiKu makan.” Anak Adam bertanya, “Bagaimana aku memberi Anda makan, sedangkan Anda Tuhan Semesta Alam?” Allah menjelaskan, “HambaKu lapar, akan tetapi kamu tidak memberinya makan, seandainya kamu memberinya makan, maka kamu akan menemukan (rahmat) Ku di sisinya.” Allah SWT bersabda, “Hai anak Adam, Aku haus, akan tetapi kamu tidak memberiKu minum.” Anak Adam bertanya, “Bagaimana aku memberi Anda minum sedangkan Anda adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah menjelaskan kembali kepada anak Adam, “Hambaku haus, akan tetapi kamu tidak memberinya minum. Seandainya kamu memberinya minum, maka kamu akan menemukan (rahmat) Ku di sisinya.” Pembaca yang dirahmati Allah, Anak-anak pelacur Tanah Abang itu “sakit”, haus, dan lapar sekaligus. Mari kita bersama menjenguk mereka. [A]

*)

Pelaksana Redaksi CARE

Laporan Aktivitas Bulanan
Penerimaan ZIS Nov. ‘08
Donasi (Rp) # Akad: 1.477.897.724 1 Saldo Dana Per 31 Oktober 2008 2 Zakat: 191.402.583 a. Zakat Maal 0 b. Zakat Fitrah 3 Infak: 55.799.002 a. Infak khusus 52.601.282 b. Infak umum 4 Khusus: 999.976 a. Bagi Hasil Bank 1.718.698 b. Kemanusiaan 6.000.000 c. Akikah 3.650.000 d. Wakaf 193.927.001 e. Qurban by Request 997.500 f. Penerimaan Lain-Lain 10.800.000 g. Penerimaan Hutang/Pelunasan Piutang 311.771 h. Dana non Syar’i Total Penerimaan Nop 2008 Saldo Penerimaan ZIS per Nop 2008: 518.207.813 1.996.105.537

Donatur Zakat Nop. ‘08
No. 2.408 2.409 2.410 2.411 2.412 2.413 2.414 2.415 2.416 2.417 2.418 2.419 2.420 2.421 2.422 2.423 2.424 2.425 2.426 2.427 2.428 2.429 2.430 2.431 2.432 2.433 2.434 2.435 2.436 2.437 2.438 2.439 2.440 2.441 2.442 2.443 2.444 2.445 2.446 2.447 2.448 2.449 2.450 2.451 2.452 2.453 2.454 2.455 2.456 2.457 2.458 2.459 2.460 2.461 2.462 2.463 2.464 Donatur Fajar Indrawan & kel. Irianto Pramono Agus Muji Karyawan Nopember AP Soepriyatni Yeti Hamba Allah Eka Prasetyo Ristiana Sari Zarda Afrieta Sri Rini Nur A Joko Suwanto Farida Edwarivel Hamba Allah Syarifatul Ulfah Bambang Uthoro Bagus Aditya Afrizal Yunita Ekaharini Bramantyo Adi N Denny Effendy Pungki Graha P Niko Puguh A Riski Miyardi Melinda Hamba Allah Noor Widi A Evy Widhasanti Ane Merlin F Endang Sri W Nurokhmah Marita Srilahati Erlinda Savitri Ristiandin Ida Hafnia Sudjatmiko Alivia Niralda Umar Issa Zubaidi Toni Cahyono Hamba Allah Sari Puspita W Ny. Ajar Setiadi Febri Budiyanto Lintang Herawati Sri Ratna Dewi M Dwinoto H Puji Astuti R. Yuda Indrawan Maya Ratna Sari Liany Andini Setyawati Erlina Nevy Elysa A Dwi Budi W Sonya Apolina Zuhria Rahma W Iriana Ekasari Donasi (Rp) 900.000 1.000.000 3.065 1.589.486 100.000 500.000 40.000 350.000 100.000 50.000 98.000 200.000 90.000 121.000 50.000 50.000 100.000 5.000.000 50.000 100.000 30.000 100.000 600.000 100.000 150.000 1.300.000 100.000 100.000 200.000 250.000 1.000.000 500.000 500.000 50.000 200.000 50.000 100.000 410.000 50.000 160.000 50.000 500.000 250.000 121.296 1.000.000 55.000 100.000 150.150 250.000 350.000 100.000 50.000 35.000 10.000 106.250 500.000 750.000

Pendayagunaan ZIS Nov. ‘08
# 1 2 3 Program: Layanan Mustahik Sahabat Mustahik Pendidikan dan Dakwah: a. Beastudi Yatim Dhuafa Berprestasi b. Pembinaan Rohani Pasien dan LP c. Penyaluran Dakwah d. Beastudi Pendidikan e. Bantuan Umum Pendidikan & Dakwah Layanan Jenazah Gratis: a. Akomodasi Layanan dan Sosialisasi Al Azhar Peduli Kesehatan: a. Poliklinik Umum dan Gigi Gratis Rumah Gemilang Indonesia: a. Pembangunan RGI Al Azhar Peduli Muslim Nias: a. Rehabilitasi Rumah Ibadah & dakwah Program Khusus: a. Bentang Sejadah b. Musholla For Sale Penyaluran Akikah Qurban by Request Sosialisasi ZISWAF Penyaluran Infak Khusus : a. Penggantian Karpet Masjid MAA Sub Total Biaya Program: Operasional dan ADM Lembaga: Amil Operasional Administrasi Perbankan Penguatan Jaringan dan Manajemen Sub Total Biaya Operasional & ADM: Total Pendayagunaan Nopember 2008: Saldo Per 31 Nopember 2008: Jumlah (Rp) 30.440.750 2.000.000 4.600.000 6.000.000 4.365.250 6.200.000 6.540.000 10.835.000 19.850.000 162.700.000 10.000.000 7.102.325 8.442.500 6.000.000 38.100.000 45.880.350 9.500.000 378.556.175 38.154.600 30.545.470 962.801 8.294.500 77.957.371 456.513.546 1.539.591.992

4 5 6 7 8 9 10 11 12

13 14 15 16

Donatur Zakat November 2008...
No. 2.465 2.466 2.467 2.468 2.469 2.470 2.471 2.472 2.473 2.474 2.475 2.476 2.477 2.478 2.479 2.480 2.481 2.482 2.483 2.484 2.485 2.486 2.487 2.488 2.489 2.490 2.491 2.492 2.493 2.494 2.495 2.496 2.497 2.498 2.499 2.500 2.501 2.502 2.503 2.504 2.505 2.506 2.507 2.508 2.509 2.510 2.511 2.512 2.513 2.514 2.515 2.516 2.517 2.518 2.519 2.520 2.521 2.522 2.523 2.524 2.525 2.526 2.527 2.528 2.529 2.530 2.531 2.532 2.533 2.534 2.535 2.536 2.537 2.538 2.539 2.540 2.541 2.542 Donatur Hamba Allah Cita Prahastuti Hamba Allah Santa Wahyudi S Hamdi Syarifudin Rono Gustopo Herni Yusnita Hesty Tri W Amirudin HS Wiranjani Ade S Samsul Hadi Giyarti Sundari Raracitta Gya M Rahayu Wijiastuti Djoko Trieyono Damay Zeisaputra Agustina Elly Hamba Allah Ida Hafnia Kemas Subchan Ami Jayanti Sari Insniwati Merlin Fainir Lanri Jaya Perkasa Dian Nursanti Merlin Fainir Hamba Allah Widyastrini O Merlin Fainir R Yuda Indrawan Deasy Maya P Irke Silvani R Moh. Ibrahim A Sisca Noviana Hamba Allah Merlin Fainir Ivonny Hawari Widodo Adibah Fahima Diny Linawati Diny Linawati Ida Hafnia Arbi Wibowo Henintyas M Achmad Reza W Merlin Fainir M. Johan Joko Merlin F Hengki Rivando Dewi Ramadhanti Hendra Reymon F indera Susilasari Hasinah Ngatilah Ngatilah Merlin Fainir Sotya Mayangwuri Boy Niayu Gusti I Ida Hafnia Ade Taufik P Hamba Allah Iin Nilawati Widodo Dwisusanto Hadiah T Yapri Rizal Etti Suhesti Ayu Fatmasari Dewi Ari Sulistya Merlin Fainir Dyah Retno A Misliyantih Indriasrini Hamba Allah Hamba Allah Yeti Sumiati Nelmy Siregar Donasi (Rp) 50.000 100.000 150.000 255.000 750.000 62.500 100.000 250.000 100.000 110.000 100.000 100.000 40.000 252.000 43.125 98.000 100.000 100.000 200.000 150.000 200.000 50.000 3.000.000 300.000 250.000 50.000 100.000 50.000 100.000 100.000 150.150 15.000 100.000 250.000 100.000 300.000 100.000 1.000.000 250.000 500.000 100.000 100.000 150.000 1.000.000 350.000 1.500.000 60.000 500.000 100.000 205.000 100.000 200.000 23.000 10.000.000 100.000 50.000 115.000 300.000 300.000 35.399 300.000 20.000 200.000 50.000 200.000 250.000 46.000 5.000.000 50.000 500.000 100.000 50.000 50.000 5.000.000 120.000 1.000.000 300.000 125.000 No. 2.543 2.544 2.545 2.546 2.547 2.548 2.549 2.550 2.551 2.552 2.553 2.554 2.555 2.556 2.557 2.558 2.559 2.560 2.561 2.562 2.563 2.564 2.565 2.566 2.567 2.568 2.569 2.570 2.571 2.572 2.573 2.574 2.575 2.576 2.577 2.578 2.579 2.580 2.581 2.582 2.583 2.584 2.585 2.586 2.587 2.588 2.589 2.590 2.591 2.592 2.593 2.594 2.595 2.596 2.597 2.598 2.599 2.600 2.601 2.602 2.603 2.604 2.605 2.606 2.607 2.608 2.609 2.610 2.611 2.612 2.613 2.614 2.615 2.616 2.617 2.618 2.619 2.620 Donatur Merlin Fainir Evalina Suharni Hestiningsih F Kirana Ratnamukti Rudy Kamal Hamba Allah Afifa Purbasari Hamba Allah Masud Ulum Ida Farida Merlin Fainir Deddy Wijaya Aditya Prabawa Merlin Fainir Saipul Bahri Nuskhiawati Siti Fauziah Siti Rokhimah Herdiani D Merlin Fainir Ivan Taufiq Rahma Mulidina Lufiandi Dyah Beilifian Ida Hafnia Merlin Fainir Indriasrini Azwar Septian Merlin Fainir Diaz Rizalfi Dorojatun Eka P Ida Hafnia Reviyanti Puspita Sari Dyah Retno A Cita Prahastuti Fanny Angelia Trianto Irawan Riza Verdizon Rina Suarina Kurniawati H Adi Pranata Prima Haripurwanti Santy Cassandra Adenan Sri Rahayu Herlambang Sukma S Sri Hapsari Rini H Ida Hafnia Hestiningsih F Kumala Ruby Riyadi Mas Achmad Daniri Yulistiana Chandra Rina Utami Cassandra Adenan Rifki Mudayat Lucky Susanto Bukhori Suwondo Jefry Agus P Kusnandar Fernantomo H Adriatik Ivanti Irawaty Muhamad Aziz Misliyantih Viera Agustya Joko Suwanto Ahmad Nahoi Nina HS Farah Ziska Andri Raharjo D Ida Hafnia Rahma Maulidina Badril Johan S Nurbaiti Kanta Wiguna Donasi (Rp) 100.000 50.000 50.000 70.000 5.000.000 1.500.000 200.000 250.000 200.000 200.000 150.000 200.000 50.000 100.000 1.000.000 500.000 500.000 30.000 100.000 100.000 300.000 25.000 500.000 100.000 100.000 125.000 5.000.000 700.000 100.000 3.000.000 200.000 100.000 250.000 50.000 150.000 330.077 250.000 72.000 50.000 100.000 150.000 400.000 200.000 50.000 63.000 100.000 100.000 100.000 106.000 500.000 110.000 500.000 100.000 500.000 25.000 500.000 95.000 200.000 100.000 100.000 100.000 25.000 125.000 550.000 50.000 50.000 60.000 200.000 90.000 40.000 50.000 150.000 50.000 100.000 50.000 1.000.000 30.000 50.000 No. 2.621 2.622 2.623 2.624 2.625 2.626 2.627 2.628 2.629 2.630 2.631 2.632 2.633 2.634 2.635 2.636 2.637 2.638 2.639 2.640 2.641 2.642 2.643 2.644 2.645 2.646 2.647 2.648 2.649 2.650 2.651 2.652 2.653 2.654 2.655 2.656 2.657 2.658 2.659 2.660 2.661 2.662 2.663 2.664 2.665 2.666 2.667 2.668 2.669 2.670 2.671 2.672 2.673 2.674 2.675 2.676 2.677 2.678 2.679 2.680 2.681 2.682 2.683 2.684 2.685 2.686 2.687 2.688 2.689 2.690 2.691 2.692 2.693 2.694 2.695 2.696 2.697 2.698 Donatur Donasi (Rp) Donny Sapta Subang 50.000 Niko Puguh Anindya 400.000 Madyarini Nurul A 50.000 Yudhistira H 50.000 Arie Mustofa 50.000 Agustin Leoni 50.000 Soegardi S 150.000 Bella Dwi C 50.000 Indra Arnaz 50.000 Ahmad Ridha 100.000 Windira K 50.000 Utamaningsih 150.000 Kusnanto H 68.000 Neneng Desi 100.000 Dina P 75.000 Farah, B M I 50.000 Hamba Allah 50.000 Mutiah, B M I 100.000 YW Al Muhajirien 779.350 Wuri 75.000 Hamba Allah 100.000 Ibu Her 57.700 Hamba Allah 150.000 Junalis M 1.250.000 Ibu Her 25.000 Hamba Allah 300.000 Vita R 37.000 Wuri 75.000 Sukma Hidayat 130.000 Hamba Allah 35.000 Hamba Allah 65.000 Hamba Allah 55.000 Mustofa Kamal 150.000 Hamba Allah 7.000.000 Zulkifli Zaini 300.000 Undah Wityastuti 200.000 Hamba Allah 203.000 Hamba Allah 350.000 Hamba Allah 500.000 Hamba Allah 200.000 William Runturambi 10.000.000 Hamba Allah 200.000 Hamba Allah 500.000 Hamba Allah 60.000 Hamba Allah 366.180 AP Sulistyo Tri 145.000 Hamba Allah 250.000 Febri Habibullah 350.000 Kirana L Hartati 50.000 Nilawati 250.000 Hadi Setiadi 50.000 Tasdikiah 2.000.000 Syahmida Syahrul B 100.000 Dony Fajar V 220.000 Muhamad Awan 300.000 Bambang Resti I 62.598 Kel. Soehardjo 2.500.000 Hildayanti 50.000 Hamba Allah 250.000 Hamba Allah 210.000 Teddy Marthanto 500.000 Nina Setiowati 50.000 Hamba Allah 300.000 Gito Kusbono 100.000 Indra Lukman 1.000.000 Nandang Prihadi 750.000 Nia Kurniati 200.000 Mahardhita F 250.000 Hildayanti 50.000 Teddy Marthanto 250.000 Iwan Setiawan 100.000 Nun Zairinah Husain 250.000 Setyo Hardiyanto 50.000 Padmasari 2.500.000 Muhammad Zulfan Arif 50.000 Hamba Allah 228.000 Joffy Adestian 1.150.000 Faried Syibli B 2.000.000 No. 2.699 2.700 2.701 2.702 2.703 2.704 2.705 2.706 2.707 2.708 2.709 2.710 2.711 2.712 2.713 2.714 2.715 2.716 2.717 2.718 2.719 2.720 2.721 2.722 2.723 2.724 2.725 2.726 2.727 2.728 2.729 2.730 2.731 2.732 2.733 2.734 2.735 2.736 2.737 2.738 2.739 2.740 2.741 2.742 2.743 2.744 2.745 2.746 2.747 2.748 2.749 2.750 2.751 2.752 2.753 2.754 2.755 2.756 2.757 2.758 2.759 2.760 2.761 2.762 2.763 2.764 2.765 2.766 2.767 2.768 2.769 2.770 2.771 2.772 2.773 2.774 Donatur Donasi (Rp) Nilawati S 250.000 Ika Nuraddini Rahmah 100.000 Muh. Sidik 150.000 Amilia Dewi 100.000 Puji Tri Hastuti 18.000 Amilia Dewi 100.000 Andy Wijaksono 30.000 Firmansyah 63.004 Hamba Allah 50.000 Wira Andrea 40.000 Lelly Andriani 175.000 Santi Syacita Kristanto 100.000 Hamba Allah 500.000 Bhaskoro Ekoputra 130.000 B. Oeli 1.000.000 Guru dan Karyawan SMP 19 Cibubur 111.000 Kel. Suryoseno 400.000 Supriyanto 200.000 Andhika dan Nia 500.000 Ika Nur A 100.000 Sidik 200.000 Edi 250.000 Todung Parlaungan H 500.000 Eni Tri L 50.000 Priscka Maharani 50.000 Ade Husmiarti 1.000.000 Hj. Ratu Nurhayati 250.000 Kel. Dodi Suhermanto 350.000 Dimas Hendra C 500.000 Lia Winata 100.000 Dali 200.000 M. Ridha 100.000 Apria 200.000 Kel. Wantya Sapardan 1.500.000 Yul Anggraini 1.000.000 Hamba Allah 500.000 Hamba Allah 1.500.000 Nurdianti 250.000 Fauzi 50.000 Hamba Allah 50.000 Kalugi 200.000 Prapti Wahyuni 28.600 Soraya A 200.000 Mersi Ayu 200.000 Ahmad Zaki 300.000 Aprilla Sari 100.000 Imran Johny 350.000 Hamba Allah 200.000 Bambang S dan Alisha 500.000 Neneng 150.000 PT Andesit Nata Deka 2.000.000 Syahria 500.000 Darmawaty Malik 800.000 Rini dan Dodi 250.000 Hj. Rosmida 13.000.000 Yanuar 200.000 Fauzi A, Depok 50.000 Ida 1.000.000 Rahmad Kurdi 211.000 Rina 1.462.000 Hamba Allah 888.253 Khemo S 10.000.000 Ny. Darlina 10.000.000 Ny. Utik Indrawati 3.250.000 Pramudya 250.000 Andhika Budi P 400.000 Korina 500.000 Supriyanto 500.000 Fauzi A 50.000 Karyawan dan Guru Al-Azhar Cibubur 408.400 Rif Abrar Raflis 50.000 Moch. Faisal Rizky 150.000 Rizki 200.000 Siti Qomariah 500.000 Aulia Firmansyah 200.000 Lia Winata 100.000 Jumlah: 191.402.583
Data per 30 November 2008

Donatur Wakaf Nov.‘08
No. 25 26 27 28 29 30 31 Donatur Armand S Soemardjo Kel. A.Yusuf Wresniwira Andi Husodo Almh.Hj.Rohanah Alm. Anis S Jumlah: Donasi 200.000 1.000.000 1.000.000 200.000 50.000 200.000 1.000.000 3.650.000

Donatur Akikah Nov.‘08
No. 6 7 8 9 Donatur Ardhanareswari Syaharani Prameshwari Budiristio Yuara Kameshwar R Ramadhan Azzahida Jumlah: Donasi 1.200.000 1.200.000 2.400.000 1.200.000 6.000.000

Donatur Kemanusiaan Nov.‘08 Perolehan Lain, Nov.‘08
No. 12 13 14 15 16 17 Donatur Hasna W, Depok Hamba Allah Amilia Dewi Amilia Dewi Firmansyah Hamba Allah Jumlah: Donasi 500.000 1.000.000 100.000 50.000 18.698 50.000 1.718.698 No. 8 9 10 Donatur Pengembalian Piutang Pendapatan Investasi Penerimaan Lain-lain Jumlah: Donasi 10.800.000 997.500 1.311.747 13.109.247

Data per 30 November 2008

Data per 30 November 2008

Donatur Qurban by Request Nop.‘08
No. Donatur 6 Donatur QBR Jumlah: Donasi 193.927.001 193.927.001

Data per 30 November 2008

Data per 30 November 2008

Data per 30 November 2008

20

Alternatif Mendidik Anak Bangsa

Donatur Infak Desember 2008...
No. 1.985 1.986 1.987 1.988 1.989 1.990 1.991 1.992 1.993 1.994 1.995 1.996 1.997 1.998 1.999 2.000 2.001 2.002 2.003 2.004 2.005 2.006 2.007 2.008 2.009 2.010 2.011 2.012 2.013 2.014 2.015 2.016 2.017 2.018 2.019 2.020 2.021 2.022 2.023 2.024 2.025 2.026 2.027 2.028 2.029 2.030 2.031 2.032 2.033 2.034 2.035 2.036 2.037 2.038 2.039 2.040 2.041 2.042 2.043 2.044 2.045 2.046 2.047 2.048 2.049 2.050 2.051 2.052 2.053 2.054 2.055 2.056 2.057 2.058 2.059 2.060 2.061 2.062 2.063 2.064 2.065 2.066 2.067 2.068 2.069 2.070 2.071 Donatur Indra Ari S Edwarivel Bambang Uthoro Suharman Rasjid DR Zuamah Afief Harry Adinanta Sucahyo W Alfino Romansjah Savitri Ristiandin Rochmad Erfandi Manto Yudhistira H Sri Ratna Dewi M Nurleli Fitrah Andayani S Iskandar Hamba Allah Andria Wijaya Irma Yanti Arqom Amirudin HS Mahsha Fitria A Neneng Martini Elly Suarti Zainal Syakhrudin Johan Yudhiasto Tartila Muhamad Sumitro RA Rosmala Dewi Endang Insartini RA Rosita Ulfian Ahmed Hamba Allah Henrizal Diana Fiba Dimitra P Sidiq Suryadi Angga Hidayat Harry Adinanta M. Khasani Ermon Awal Lukisianti Sutopo Yudhistira H Alfia Ashabur R Ratna Nirwana Nurullita Utami Tiara Kemalasari M. Sulaeman Rachman Ferry D Hamba Allah Didi Permana Zuamah Afief Hamba Allah Ibnu Aman Nurfatchiyah N Sonita Syarifah Tartila Rita Ismartini Hamba Allah Hadiah T Budi Heryadi Helmi L. Kurniawan Farida Saputri Intan Nurfitri Roni Syahroni Nany Susmiati Winondo Wirwahyu Yazid Akbar Mohamad Irian Haris Fauzan Yudhistira H Ali Wibowo A. Zulfiqo I Hartono Sukiman Dessy Eka S Zuamah Afief Hamba Allah Dwi Amanda R Feriyah Arqom Agustin Leoni Purnawati Rachma Murdiasari Yanti Adriani Yudhistira H Eryadi Djamzuli Donasi (Rp) 20.000 10.000 100.000 50.000 250.000 400.000 100.000 25.000 50.000 200.000 45.000 15.000 400.000 77.777 50.000 2.000.000 50.000 100.000 20.000 500.000 100.000 20.000 200.000 300.000 400.000 20.000 50.000 200.000 35.000 200.000 40.000 200.000 200.000 200.000 200.000 120.000 40.000 20.000 400.000 1.000.000 150.000 100.000 1.200.000 15.000 100.000 200.000 300.000 50.000 200.000 111.111 120.000 200.000 250.000 200.000 200.000 200.000 400.000 50.000 200.000 600.000 500.000 200.000 50.000 200.000 40.000 200.002 200.000 100.000 100.000 7.500.000 200.000 15.000 100.000 25.000 500.000 50.000 250.000 200.000 100.000 1.000.000 800.000 20.000 200.000 500.000 150.000 15.000 200.000 No. 2.072 2.073 2.074 2.075 2.076 2.077 2.078 2.079 2.080 2.081 2.082 2.083 2.084 2.085 2.086 2.087 2.088 2.089 2.090 2.091 2.092 2.093 2.094 2.095 2.096 2.097 2.098 2.099 2.100 2.101 2.102 2.103 2.104 2.105 2.106 2.107 2.108 2.109 2.110 2.111 2.112 2.113 2.114 2.115 2.116 2.117 2.118 2.119 2.120 2.121 2.122 2.123 2.124 2.125 2.126 2.127 2.128 2.129 2.130 2.131 2.132 2.133 2.134 2.135 2.136 2.137 2.138 2.139 2.140 2.141 2.142 2.143 2.144 2.145 2.146 2.147 2.148 2.149 2.150 2.151 2.152 2.153 2.154 2.155 2.156 2.157 2.158 Donasi (Rp) Donatur 50.000 Dyah K 200.000 Rahmalia 300.000 Beta Meidarifni 200.000 Firsyan R 100.000 Media Asyurawati 100.000 Hamba Allah 200.000 Susiantinah 50.000 Dina Damayanti 100.000 Suharno 150.000 Dien Yuniarti 1.000.000 H. Zaenab Darnis 100.000 Ayu Sidhiani 250.000 Endang Insartini 400.000 Abdul M. Achberia 22.500 Achmad Zulfiqo 250.000 Siti Mariyam 100.000 Musa Indradi 2.000.000 Thasya N Rahman 100.000 H. Abdul Rachim 100.000 Rini Yulianingsih 25.000 Restutiningsih 100.000 Gatot Sulistiyono 100.000 Edy Yuniardy 400.000 Hj. Dien Sri Riadiniah 200.000 M. Syaiful 100.000 Hamba Allah 11.000 Nellywati 150.000 Viera Agustya 300.000 Zuamah Afief 200.000 Flora Elba Maharin 150.000 Hamba Allah 120.000 Nurlaila Purnamasari 50.000 Arie Mustofa 50.000 Agustin Leoni 50.000 Ahmad F 400.000 Yuslina 10.000 Hamba Allah 500.000 A. Fadli M 200.000 Erwin I 50.000 Ahmad F 20.000 Noor I 50.000 Ekowidyarso 60.000 Hamba Allah 150.000 M. Sofiana 107.143 Hamba Allah 150.000 Hamba Allah 25.000 Hamba Allah 22.000 Noersiar S 200.000 Nurhayati Djamas 500.000 Hamba Allah 200.000 Hamba Allah 5.000 Hamba Allah 400.000 Hamba Allah 250.000 Hamba Allah 400.000 Hamba Allah 200.000 H. Azhar SE 2.500.000 H. Satri Rusad 1.000.000 Riki, Baby, Naufal & Najma 200.000 Meri Damayanti 50.000 Kirana L Hartati 200.000 Hamba Allah 100.000 Indah I 500.000 Hamba Allah 500.000 Hamba Allah 100.000 Syahmida Syahrul B 1.000.000 Argo Pribadi 200.000 Dony Fajar V 50.000 Helfajar Yudhistira 200.000 Fasikha 200.000 Hamba Allah 600.000 Zulvianti Zulyadi 75.000 Nur Fadilah 200.000 Sri Wijayati 200.000 Ngatini 200.000 Emmylia Soesanti 200.000 Fifi Fibrijanti 300.000 Reza Mahmudi 200.000 Nani Sumarni 200.000 Yoyo Tarsoyo 200.000 Zaenal Azis 200.000 Iswan Kadir 200.000 Sandhi Yudono 100.000 Nur Junaidi 400.000 Hafzal Hanief 200.000 Hamba Allah 600.000 Hamba Allah 200.000 Abdul Aziz H No. 2.159 2.160 2.161 2.162 2.163 2.164 2.165 2.166 2.167 2.168 2.169 2.170 2.171 2.172 2.173 2.174 2.175 2.176 2.177 2.178 2.179 2.180 2.181 2.182 2.183 2.184 2.185 2.186 2.187 2.188 2.189 2.190 2.191 2.192 2.193 2.194 2.195 2.196 2.197 2.198 2.199 2.200 2.201 2.202 2.203 2.204 2.205 2.206 2.207 2.208 2.209 2.210 2.211 2.212 2.213 2.214 2.215 2.216 2.217 2.218 2.219 2.220 2.221 2.222 2.223 2.224 2.225 2.226 2.227 2.228 2.229 2.230 2.231 2.232 2.233 2.234 2.235 2.236 2.237 2.238 2.239 2.240 2.241 2.242 2.243 Donatur Donasi (Rp) Nia Kurniati 200.000 Yasmina 2.000.000 Syahmida Syahrul B 150.000 Hamba Allah 200.000 K. Toyib 1.000.000 Bandi Suprayitno 200.000 Hamba Allah 200.000 W. Cahyono 600.000 Hamba Allah 1.000.000 Hamba Allah 200.000 Muhamad Al-Faatih 1.000.000 Tislinna Savitri 200.000 Ariyanto 200.000 Kurniati Oktoria 50.000 Nelly Murniati 200.000 Army Gulardi 11.000 Hamba Allah 200.000 Zaenal Azis 200.000 Padmasari 400.000 Asmawati 200.000 Satrio Harry Oetomo 500.000 Ika Nuraddini Rahmah 50.000 Hamba Allah 202.000 Farah Riziani 100.000 Kel. Fikry 22.000 Amilia Dewi 100.000 Amilia Dewi 50.000 Andy Wijaksono 30.000 Dwisatio Ariyanto 19.501 Hildayanti 150.000 Hamba Allah 300.000 Hamba Allah 300.000 Nani Sumarni 150.000 Novita S 60.000 Syahmida Syahrul B 100.000 Argo Pribadi 750.000 Dony Fajar V 80.000 Hildayanti 75.000 Rita Dwi L 50.000 Ahmad Zaky A 5.000.000 Hamba Allah 200.000 Lilik Widiyanto 75.000 Hildayanti 150.000 Gozali Ramli 550.000 Dewi 75.000 Nelly Murniati 75.000 Syafrudin Jalil 5.000.000 Rita Dwi Lindawati 100.000 Padmasari 150.000 Ajeng Oktaviani 60.000 Iznindar 500.000 Riad 211.000 Okto Yamandra 175.000 Hj. Ieke Mandas 11.000 Hj. Aslinda 11.000 Rifki 100.000 Fikih Ardani 56.000 Sudaryadi Ananto 20.000 M. Dwi Yoga K 44.000 Eeng S 1.000.000 Irwan A 75.000 Anggirena Angkasa 100.000 B. Oeli 500.000 Amanah 20.000 Hardiningsih 20.000 Soekarni 20.000 Sudarwati 20.000 Supriyanto 20.000 Andhika dan Nia 150.000 Samsudin 100.000 Widya 100.000 Ely Nurlaili 100.000 Hamba Allah 300.000 Hamba Allah 300.000 Ismail D, H.M.Djamin Hj.Rahmasiah dan Hj.Hafsah M 10.000.000 Ismail Djamil Z 100.000 Emil Iskandar 375.000 Dewi Ismitna 200.000 Darmawi 300.000 Amir Syarifudin 50.000 Harun 150.000 Sopiah 100.000 Badaruddin Oeli 211.000 M. Adiwibowo S 1.000 Eko Legowo 500.000 No. 2.244 2.245 2.246 2.247 2.248 2.249 2.250 2.251 2.252 2.253 2.254 2.255 2.256 2.257 2.258 2.259 2.260 2.261 2.262 2.263 2.264 2.265 2.266 2.267 2.268 2.269 2.270 2.271 2.272 2.273 2.274 2.275 2.276 2.277 2.278 2.279 2.280 2.281 2.282 2.283 2.284 2.285 2.286 2.287 2.288 2.289 2.290 2.291 2.292 2.293 2.294 2.295 2.296 2.297 2.298 2.299 2.300 2.301 2.302 2.303 2.304 2.305 2.306 2.307 2.308 2.309 2.310 2.311 2.312 2.313 2.314 2.315 2.316 2.317 2.318 2.319 2.320 2.321 2.322 2.323 2.324 2.325 2.326 2.327 2.328 2.329 2.330 Donatur Donasi (Rp) Sahrir Manan 1.000 Uli 75.000 Hj. Rosana Abidin 11.000 Hentyastuti 250.000 Sepiari Fitri 50.000 Kel. Arief Joko P 1.000.000 Subandi 400.000 Chairul 300.000 Achmad Suraedi 150.000 Ida 400.000 Rahmiati Asrina 311.000 Hasna W 94.000 Kun Hidayat 11.000 Nova Scotia Rosita 11.000 Sulastari 22.000 Khairudin 11.000 Hamba Allah 2.650.000 Mieke Marlina 250.000 Syahrul 50.000 Firmansyah 11.000 Hj. Aina Fachrina 44.000 Abdul Ronni 322.000 Hj. Darmawati 11.000 Meilana Sri R 11.000 Iswandar Intaran 33.000 Hilma 11.000 Gusril Bahar 11.000 Martina 22.000 Ismail Djamil Zae 100.000 Anwar Zawawi 11.000 Sudirto 11.000 Yulia Siti Maria 11.000 Mujilem D50.000 Sumiyati 22.000 Yusman E. Pawan 11.000 Almh. Basama H 250.000 Rian HA 11.000 Aswita Dewi 2.000.000 Untung Djoko Lelono 11.000 Ali Wibowo 61.000 H. Noojati 61.000 Hj. Khodijah 22.000 Bambang Sugiarto 800.000 H. Djedi 61.000 Syabrina Assyifa 11.000 Syarief Hidayatullah 61.000 M. Anwar Sani 350.000 Hamba Allah 200.000 Siti Qomariah 11.000 Ade Syaiful R 11.000 Iis Harningsih 11.000 M. Syahreza R. Razak 11.000 Soedirdjo 11.000 Syarief Muttaqin SE 1.000 Tutut Handayani 11.000 Yanti Elfina 11.000 Hilda 5.000.000 Andi H 50.000 Samsudin 100.000 Siti Qomariah 200.000 Widyamarta 50.000 Arini 211.000 Bambang 22.000 Fitria Prbandari 11.000 H. Soetiadji 11.000 Prio Utomo 22.000 Reza 322.000 Suryaningsih 11.000 Bizriyah 150.000 Supriamono, 300.000 Dedi 50.000 Hamba Allah 150.000 Hamba Allah 50.000 Adam George Coles 11.000 Gustav J. Brown 11.000 Rini binti Soetiman 11.000 Setiawan bin Zarlon 11.000 Diajeng H. Brown 11.000 Nur Fajri Arifiani 11.000 Jasmine Herawan 11.000 Samsul Bahrun 11.000 Widia R. Herawan 11.000 Mohammad Aprianto 33.000 Tommy Hutagalung 11.000 Winarno 211.000 Zulkarnaen 11.000 YISC Angk. Al Fath 2.303.250 Jumlah:
Data per 30 November 2008

CARE Quote of the Month:

“Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat, “Wahai anak Adam, Aku sakit dan kamu tidak menjengukKu.” Anak adam bertanya, “Bagaiman saya menjenguk Anda, sedangkan Anda adalah Tuhan Semesta Alam”. Allah menjawab, “HambaKu sakit, tapi kamu tidak menjenguknya, seandainya kamu menjenguknya, maka kamu akan menemukan (rahmat) Ku di sampingnya.” (Hadits Qudsi)

108.400.284

No. 2719 2720 2721 2722 2723 2724 2725 2726 2727 2728 2729 2730 2731 2732 2733 2734 2735 2736 2737 2738 2739 2740 2741 2742 2743 2744 2745 2746 2747 2748 2749 2750 2751 2752 2753 2754 2755 2756 2757 2758 2759 2760 2761 2762 2763

Donatur Devi Arsianty Rizky Artasari Dimas Fauzi, Jakpus Widawati A. Rauzy Nur Rahadi Sunaidi Ika Mukti S Endang Sri R Endang Dewanti M. Irwan Priyo Adhi P Fakhrul Mahdi Fakhrul Mahdi Evi Soria Nas Aris I M. Syamsul Amron Toeti Toerijah Silvita Jasril Tito Sumarwoto Ilyan Yusuf Hari S. Sastrawan Ratna Wike J Arif Firdaus Isti Dyah M Widyastuti Irma Dana Dolly S. Suparman Syailendra Budi R Tangguh Jati Rian Rachmanto Eldiant Muhammad Indira S Indira Ismail Ratu Shanty Asrining Pratiwi Yen Yen Nuryeni Angelique Masayu Kahartomi Mirza Tri Nugroho Bambang Hantoro Ajeng R. Andini Dina Andini Putri Talitha Gatot Samsubagyo Linda Ampriany

Donasi (Rp) 111.000 11.000 11.000 61.000 11.000 61.000 61.000 11.000 11.000 11.000 1.000 700.000 44.000 11.000 11.000 11.000 1.000 33.000 11.000 2.000 11.000 11.000 11.000 11.000 33.000 50.000 1.000 11.000 22.000 11.000 11.000 1.000 1.000 11.000 2.000 11.000 11.000 11.000 11.000 11.000 11.000 11.000 11.000 11.000 211.000

No. 2764 2765 2766 2767 2768 2769 2770 2771 2772 2773 2774 2775 2776 2777 2778 2779 2780 2781 2782 2783 2784 2785 2786 2787 2788 2789 2790 2791 2792 2793 2794 2795 2796 2797 2798 2799 2800 2801 2802 2803 2804 2805 2806 2807 2808

Donatur Donasi (Rp) Insyhira 22.000 Turipah 11.000 Sahnita 322.000 Cindy Harsya 11.000 Hartaniah Sadikin 33.000 Nindya Chinantya 11.000 F. Kamarudin 11.000 Haris Gondokoesoemo 22.000 Viera Agustya 33.000 Adi 22.000 Ridwan A 11.000 N.R.M Nasrun 11.000 Nilawati 111.000 Soetariningsih 1.000.000 Efi Rismawati 40.000 Hamba Allah 50.000 Fitri 50.000 Murniati 200.000 Andi Lesmana 1.450.000 Abdurrahman 250.000 Rudi Wahyudi 25.000 M. Husseyn Umar 22.000 Mohammad Noor Arif 51.000 Anik Sudarwati 61.000 Karyawan Kinokuniya 451.000 Syamsiar 11.000 R. Hayun Tirta T 322.000 Retno Peniwati 11.000 Hj. Badriah 22.000 Didiek Widiarto 11.000 Adi Firman Huda 11.000 Sekar Ayu Tungga Dewi 11.000 Rana Maharani 11.000 Azalia R. Nandita 11.000 Refly bin Jurin 11.000 Chaeruddin 22.000 Andi Sukma 11.000 Tri Ana Rahmawati 11.000 Rahmat Aulia 11.000 Hj. RR. Sri Irawati 11.000 Aleksander Hartawan 22.000 Ruhiyat 1.000 Ruslan Rustam 2.000 Kel. Budi Sulistyo 55.000 Meldawati 11.000

No. 2809 2810 2811 2812 2813 2814 2815 2816 2817 2818 2819 2820 2821 2822 2823 2824 2825 2826 2827 2828 2829 2830 2831 2832 2833 2834

Donatur Donasi (Rp) Salam Kartadiredja 11.000 Kel. Sri Sulastri 144.000 Winalisa T 11.000 Zuki Hidayat 11.000 Moh. Benny Baryanto 44.000 Ari Krisna Wibisono 11.000 Nani S Sundayani 11.000 Agung Ganefiati 22.000 Sri Hajati P 22.000 M. Andri Hakim A 11.000 Hj. Siti Wachidah A.M 11.000 Dewi Kindariwati 11.000 Saipullah Setiawan 11.000 Aditya Sidik W 11.000 Kel. Ivan Januadi 33.000 Ade Akbar, 11.000 Bayu Irawan 100.000 Andriani Pratiwi 11.000 Kel. Ariyanto Santoso 55.000 Kel. Ayu Dewita 33.000 Bambang S 22.000 M. Izza Lathiif 11.000 Dede Gusman, 211.000 Izumi Diana Nur 22.000 Rini Harjanti 11.000 Tirza S. R & Choirida P 22.000

No. 2835 2836 2837 2838 2839 2840 2841 2842 2843 2844 2845 2846 2847 2848 2849 2850 2851 2852 2853 2854 2855 2856 2857 2858 2859

Donatur Dhimas Awliya R Ridwan P & Reny H Fail Hair Wisnanda Haris Irsan Hanif Evi Pikar Jaya Sumarja Hamba Allah Cut Magdalena Arief Rizaldi Fahrul Anwar Hamba Allah Toko Buku Walisongo Usep Rusnandar BPN Elsy B. Yanty Hamba Allah Sri Judianti Hamba Allah Andy Wijaksono Aidil Muchammad Amilia Dewi Andy Wijaksono Bayu Adji Bawono Junita binti Sinjar Jumlah:

Donasi (Rp) 211.000 22.000 22.000 11.000 144.000 111.000 22.000 11.000 11.000 11.000 11.000 1.300.000 6.000.000 50.000 500.000 100.000 10.000.000 1.000.000 8.853.160 30.000 1.700.000 50.000 30.000 11.000 61.000 127.145.427

Qurban by Request 2008
No. Donatur Donasi (Rp) Donatur QBR 2008 1.071.950.969 Jumlah: 1.071.950.969

Donatur Akikah Des. 2008
No. 10 Donatur Evi Pikar Donasi (Rp) 1.200.000 Jumlah: 1.200.000

Donatur Wakaf Des. 2008
No. Donatur 32 Prima Wantya S 33 Herman P & Dewanti Jumlah: Donasi 750.000 150.000 900.000

Donatur Wakaf Des. 2008
No. 18 19 20 Donatur Abdurrahman Hamba Allah Hamba Allah Jumlah: Donasi 250.000 50.000 250.000 900.000

Donatur Wakaf Des. 2008
No. Donatur 32 Prima Wantya S 33 Herman P & Dewanti Jumlah: Donasi 750.000 150.000 900.000

Penerimaan Lain Des. 2008
No. 1 1 12 13 Jenis Penerimaan Pengembalian Piutang Pendapatan Investasi Penerimaan Lain-lain Jumlah: Donasi 8.600.000 817.000 562.237 9.979.237

Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat-amanat kepada yang layak (berhak) menerimanya. (QS. 4:58)

foto: jw

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->