Anda di halaman 1dari 12

Mekanisme Penglihatan dan Kelainan Refraksi Miopi pada Anak

B6
Jeffry Pulyanto M. Simamora (102011414)
Yuniete Eiffelia (102012135)
Haswinanti Wilda (102012443)
Tria Usma Putra (102013053)
Martha Simona Putri (102013056)
Anjanete Viviandira Krisnadewi (102013204)
Reynaldi Sanjaya Iskandar (102013274)
Sarah Melisa (102013292)
Fransiska (102013369)
Jerrmias Salimulyo Nugroho (102013416)
Nadia Syariah Binti Abdul Aziz (102013495)

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta


Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 5631731

Abstrak
1

Mata adalah salah satu organ tubuh yang sangat penting untuk kelangsungan hidup karena
dengan mata kita dapat melihat semua yang ada di sekitar kita. Namun di lain sisi, mata juga
memiliki beberapa kelainan yang menyebabkan terganggunya system penglihatan kita.
Beberapa kelainan refraksi pada mata ini antara lain adalah miopi, hipermiopi, astigmatisma,
dan presbiopi yang umumnya sering di jumpai pada orang-orang yang berada di sekitar kita.
Miopi merupakan mata dengan lensa terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang sehingga
objek bayangan yang jauh akan terlihat kabur, ini dikarenakan bayangan jatuh di depan
retina. Kelainan mata jenis ini dapat dikoreksi dengan lensa cekung.
Kata kunci: kelainan refraksi
Abstract
The eyes are one organ that is essential for survival because of the eye we can see all that is
around us. But on the other hand, the eyes also have some abnormalities that can affect our
visual system. Some of the eye's refractive errors include myopia, hipermiopi, astigmatism,
and presbiopi are generally often encountered in people who are around us. Myopia is an eye
with too convex lens or the eyeball is too long so distant shadow object will look blurred, this
due to the shadow falling in front of the retina. This type of eye disorders can be corrected
with a concave lens.
Keywords: abnormal refractive
Pendahuluan
Mata adalah alat indera penglihatan. Agar dapat melihat, mata harus menangkap pola
pencahayaan di lingkungan sebagai gambar/ bayangan optis di suatu lapisan sel peka sinar,
retina, dan dapat pula dibayangkan seperti kamera nondigital yang menangkap bayangan
pada film. Seperti film yang dapat diproses menjadi salinan visual dari bayangan asli, citra
tersandi di retina disalurkan melalui serangkaian tahap pemrosesan visual yang semakin
rumit hingga akhirnya secara sadar dipresepsikan sebagai kemiripan visual dari bayangan
asli.1
Struktur Mata
Mata adalah struktur bulat berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari bagian
paling luar hingga paling dalam, lapisan-lapisan tersebut adalah (1) sklera/kornea; (2) koroid/
badan siliar; iris; (3) retina. Sebagian besar bola mata ditutupi oleh suatu lapisan kuat
2

jaringan ikat yaitu sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di sebelah anterior, lapisan
luar terdiri dari kornea transparan yang dapat ditembus oleh berkas cahaya untuk masuk ke
interior mata. Lapisan tengah di bawah sklera adalah koroid yang berpigmen banyak dan
mengandung banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi bagi retina. Lapisan koroid di
sebelah anterior mengalami spesialisasi membentuk badan siliar dan iris. Lapisan paling
dalam di bawah koroid adalah retina, yang terdiri dari lapisan berpigmen disebelah luar dan
lapisan jaringan saraf di sebelah dalam. Yang terakhir mengandung sel batang (rods) dan sel
kerucut (cones) yang merupakan fotoreseptor untuk mengubah energi cahaya menjadi impuls
saraf. Seperti dinding hitam sebuah studio foto, pigmen di koroid dan retina menyerap sinar
setelah sinar mengenai retina, ini digunakan untuk mencegah pantulan atau pembuyaran sinar
di dalam mata.
Bagian anterior mata terdiri dari dua rongga berisi cairan yang di pisahkan oleh
sebuah lensa elips yang semuanya transparan agar cahaya dapat menembus mata dari kornea
hingga ke retina. Rongga posterior yang lebih besar antara lensa dan retina mengandung
bahan setengah cair mirip gel yaitu humor vitreus. Humor vitreus sangat penting untuk
mempertahankan bentuk bola mata agar tetap bulat. Rongga anterior antara kornea dan lensa
mengandung cairan jernih encer yaitu humor aquosus. Humor aquosus membawa nutrisi
untuk kornea dan lensa yang merupakan dua struktur yang tidak memiliki aliran darah.
Adanya pembuluh darah di struktur-struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke
fotoreseptor.
Humor aquosus dihasilkan dengan kecepatan sekitar 5 ml/hari oleh suatu jaringan
kapiler di dalam badan siliar yang merupakan suatu turunan khusus lapisan koroid anterior.
Cairan ini mengalir ke suatu kanalis di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah.
Tidak semua cahaya yang melewati kornea dapat mencapai fotoreseptor peka cahaya,
karena adanya iris yaitu suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk struktur mirip
cincin di dalam aquous humor. Pigmen di iris memberi warna pada mata. Berbagai bercak,
garis, atau nuansa lain pada iris bersifat unik bagi setiap orang sehingga iris menjadi dasar
bagi teknologi identifikasi terkini. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya
cahaya ke interior mata adalah pupil. Ukuran lubang ini dapat disesuaikan oleh kontraksi
otot-otot iris untuk menerima sinar lebih banyak atau lebih sedikit, seperti diafragma yang
mengontrol jumlah cahaya yang masuk ke kamera. Iris mengandung dua set anyaman otot
polos, satu sirkular (serat-serat otot berjalan seperti cincin di dalam iris) dan satu radial (serat
3

mengarah keluar dari tepi pupil seperti jari-jari roda sepeda). Karena serat otot memendek
ketika berkontraksi maka pupil menjadi lebih kecil ketika otot sirkular (atau konstriktor)
berkontraksi dan membentuk cincin yang lebih kecil. Konstriksi pupil refleks ini terjadi pada
keadaan sinar terang untuk mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke mata. Jika otot radial
(atau dilator) berkontraksi maka ukuran pupil bertambah. Dilatasi pupil ini terjadi pada
cahaya termaram agar sinar yang masuk ke retina lebih banyak. Otot-otot iris dikendalikan
oleh sistem saraf otonom. Serat saraf parasimpatis menyarafi otot sirkular (menyebabkan
konstriksi pupil) sementara serat simpatis menyarafi otot radial (menyebabkan dilatasi
pupil).1-3 (Lihat gambar 1)

Gambar 1. Struktur Mata1

Masuknya Cahaya ke Dalam Mata


Sinar memasuki mata pertama-tama melewati neuron-neuron pada permukaan retina,
sebelum merangsang sel-sel yang sensitif terhadap cahaya. Sel-sel yang sensitif terhadap
cahaya ada 2 jenis: (1) sel batang, yang dapat berfungsi pada cahaya gelap, tetapi tidak
mengenali warna, hanya memberi penglihatan dalam bayangan abu-abu, (2)sel kerucut yang
bertanggung jawab untuk penglihatan warna. Impuls dari sel batang dan kerucut di
transmisikan pertama ke sel-sel bipolar dan kemudian ke sel-sel ganglion yang aksonnya
melewati retina dan meninggalkan mata pada diskus optikus sebagai saraf optikus. Granula
berpigmen pada sel-sel dalam lapisan koroid dapat menggerakkan ke atas dan kebawah
prosesus antara sel batang dan sel kerucut untuk membatasi penyebaran cahaya dari satu sel
ke sel berikutnya.1,4,5 (Lihat gambar 2)

Gambar 2. Mekanisme
penglihatan2

Sel Batang dan Sel Kerucut


Sel batang ditemukan di semua retina kecuali pada fovea. Sel-sel batang berisi
rhodopsin (penglihatan warna ungu) yang disintesis dari vitamin A. Pigmen ini berwarna
ungu pada keadaan gelap, tetapi pucat oleh cahaya yang dapat terlihat. Bila pucat impulsimpuls saraf di transmisikan dari sel batang. Sel kerucut paling banyak ditemukan pada
macula lutea meskipun mereka juga menyebar pada seluruh retina. Sel kerucut merupakan
satu-satunya sel pada fovea, tempatnya berkumpul dengan rapat. Setiap sel kerucut
mengandung satu dari tiga pigmen terpisah yang masing-masing dari ketiganya dipucatkan
oleh cahaya dari warna yang berbeda. Pola yang berbeda dari respons-respons sel kerucut ini
memungkinkan warna yang berbeda dapat dibedakan. Terdapat 120 juta sel batang dan 7 juta
sel kerucut pada setiap mata. Sedangkan saraf optic hanya mengandung 800.000 serabut
sehingga banyak sekali sel batang dan kerucut yang harus berbagi serabut saraf.
Namun, di fovea, setiap sel bipolar dihubungkan pada sedikit sekali sel kerucut. Hal
ini menjamin sensitivitas ekstrem dari bagian mata ini, mata normal melihat detil yang sangat
halus. Pada bagian perifer dari retina terdapat banyak sel-sel batang. Sekitar 300 atau lebih
sel batang mengisi setiap sel ganglion. Kumpulan sel batang ini membentuk bidang sirkuler
5

kecil pada retina. Batang tengah pada bidang ini membangkitkan sel ganglion sementara sel
batang bagian luar menghambatnya. Bayangan dari objek bergerak melewati bidang ini
pertama-tama menyebabkan penurunan kemudian peningkatan cepat, dan kemudian
penurunan kembali pada impuls dari sel ganglion. Karenanya bagian perifer retina lebih
sensitif terhadap gerakan-gerakan bayangan daripada detil halus.4,5 (Lihat gambar 3)

Gambar 3. Sel Batang dan Sel


Kerucut4

Fototransduksi Sinyal Fotoreseptor


Fototransduksi adalah proses pengubahan rangsangan cahaya menjadi sinyal listrik,
pada dasarnya sama untuk semua fotoreseptor, tetapi mekanismenya bertentangan dengan
cara biasa reseptor berespon terhadap stimulus adekuatnya. Reseptor biasanya mengalami
depolarisasi jika dirangsang, tetapi fotoreseptor mengalami hiperpolarisasi ketika menyerap
cahaya.1
Proses Refraksi
Sinar berjalan lebih cepat melalui udara dari pada melalui media transparan lain
misalnya air dan kaca. Ketika masuk ke suatu medium dengan densitas tinggi, berkas cahaya
melambat (yang sebaliknya juga berlaku). Arah berkas berubah jika cahaya tersebut
mengenai permukaan medium baru dalam sudut yang tidak tegak lurus. Berbeloknya berkas
sinar dikenal sebagai refraksi (pembiasan). Pada permukaan melengkung seperti lensa, akan
semakin besar derajat pembelokan dan semakin kuat lensa. Ketika suatu berkas cahaya
mengenai permukaan lengkung suatu benda dengan densitas lebih besar maka arah refraksi
bergantung pada sudut kelengkungan. Permukaan konveks melengkung keluar (cembung,
6

seperti permukaan luar sebuah bola), sementara permukaan konkaf melengkung kedalam
(cekung, seperti gua). Permukaan konveks menyebabkan konvergensi berkas sinar, membawa
berkas-berkas tersebut lebih dekat satu sama lain. Karena konvergensi penting untuk
membawa suatu bayangan ke titik fokus, maka permukaan refraktif mata berbentuk konveks.
Permukaan konkaf membuyarkan berkas sinar (divergensi). Lensa konkaf bermanfaat untuk
mengoreksi kesalahan refraktif tertentu mata, misalnya penglihatan dekat.1
Akomodasi adalah proses penyesuaian otomatis pada lensa untuk memfokuskan objek
secara jelas pada jarak beragam. Pada emetropia atau akomodasi normal, kontraksi otot
siliaris mengurangi tarikan ligament suspensorik pada lensa, yang kemudian menonjol ke luar
sehingga semakin konveks atau membulat untuk penglihatan dekat. Relaksasi otot siliaris
memperkuat tarikan ligament suspensorik pada lensa, sehingga semakin memipihkan lensa
untuk penglihatan jauh.5
Kelainan Refraksi Pada Mata
Mata manusia dapat mengalami kelainan. Secara klinik kelainan refraksi adalah
akibat kerusakan pada akomodasi visual, entah itu sebagai akibat perubahan biji mata,
maupun kelainan pada lensa. Beberapa kelainan refraksi tersebut akan diuraikan sebagai
berikut:
1. Miopia (Rabun Jauh)
Mata miopi adalah mata dengan lensa terlalu cembung atau bola mata terlalu
panjang. Dengan demikian, objek yang dekat akan terlihat jelas karena bayangan
jatuh pada retina, sedangkan objek yang jauh akan terlihat kabur karena bayangan
jatuh di depan retina. Kelainan mata jenis ini dikoreksi dengan lensa konkaf.6,7 (Lihat
gambar 4)

Gambar 4. Miopia7

2. Mata Hipermetropia (Rabun Dekat)

Mata hipermetropia adalah mata dengan lensa yang terlalu pipih atau bola mata
terlalu pendek. Objek yang dekat akan terlihat kabur karena bayangan jatuh di
belakang retina, sedangkan objek jauh akan terlihat jelas karena bayangan jatuh di
retina. Kelainan mata jenis ini dikoreksi dengan lensa konveks.6,7 (Lihat gambar 5)

3. Mata
Mata

Astigmatis
astigmatis adalah mata dengan

Gambar 5.

lengkungan permukaan kornea


atau lensa yang tidak rata.

Misalnya lengkung kornea yang

vertikal kurang melengkung dibandingkan yang horizontal. Bila seseorang melihat


suatu kotak, garis vertikal terlihat kabur dan garis horizontal terlihat jelas, mata orang
tersebut menderita kelainan yang disebut astigmatis regular. Astigmatis regular dapat
dikoreksi dengan lensa silindris. Bila lengkung permukaan kornea tidak teratur
disebut astigmatis irregular dan dapat dikoreksi dengan lensa kontak.6,7 (Lihat gambar
6)

4. Presbiopia (Mata Tua)


Gambar 6. Astigmatisma7
Mata presbiopia adalah suatu keadaan dimana lensa kehilangan elastisitasnya
karena bertambahnya usia. Dengan demikian, lensa mata tidak dapat berakomodasi
lagi dengan baik. Umumnya penderita akan melihat jelas bila objeknya jauh, tetapi
perlu kacamata cembung untuk melihat objek dekat.6,7
Pembiasan Cahaya
8

Sinar atau cahaya adalah suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri dari paketpaket energi mirip partikel yang dinamai foton yang berjalan dalam bentuk gelombang. Jarak
antara dua puncak gelombang dikenal sebagai panjang gelombang. Panjang gelombang
dalam spektrum elektromagnetik berkisar dari 10-14 m (sperkuadriliun meter, misalnya pada
berkas sinar kosmik yang sangat pendek) hingga 104 m (10km, misalnya gelombang radio
yang panjang). Fotoreseptor di mata hanya peka terhadap panjang gelombang antara 400 dan
700 nanometer (nm; sepermilyar meter). Karena itu, cahaya tampak hanyalah sebagian kecil
dari spektrum elektromagnetik total. Sinar dari berbagai panjang gelombang dalam rentang
sinar tampak dipresepsikan sebagai sensasi warna yang berbeda-beda. Panjang gelombang
yang lebih pendek dilihat sebagai warna ungu dan biru; panjang gelombang yang lebih
panjang diinterpretasikan sebagai oranye dan merah. (Lihat gambar 7)

Gambar 7. Spektrum gelombang cahaya1

Selain memiliki panjang gelombang bervariasi, energi cahaya juga bervariasi dalam
intensitasnya, yaitu amplitudo atau tinggi gelombang. Menyuramkan suatu cahaya merah
yang terang dan tidak mengubah warnanya, hanya menyebabkan warna menjadi kurang
terang atau kurang intens.
Gelombang cahaya mengalami divergensi (memancar keluar) ke semua arah dari
setiap titik sumber cahaya. Gerakan maju suatu gelombang cahaya dalam arah tertentu
dikenal sebagai berkas cahaya. Berkas cahaya divergen yang mencapai mata harus
dibelokkan ke dalam agar dapat difokuskan kembali ke suatu titik (titik fokus) di retina peka
cahaya agar diperoleh bayangan dari sumber cahaya.1-3
Jalur Saraf Penglihatan
Akson sel ganglion menyatu untuk membentuk saraf optikus mata (saraf kranial II).
Saraf optikus meninggalkan mata sebagai suatu berkas melalui daerah di retina yang disebut
diskus optikus. Diskus optikus tidak mengandung sel batang atau sel kerucut; dengan
demikian, diskus optikus tidak berperan dalam respons terhadap cahaya (yaitu diskus optikus
adalah bintik buta). Arteri sentralis retina masuk ke mata melalui diskus optikus. Daerah yang
disebut physiologic cup terletak di bagian tengah diskus optikus.
Saat saraf optikus mencapai batang otak, sebagian serabut dari mata kiri menyebrang
dan memproyeksikan diri ke sisi kanan otak. Pada saat yang sama, sebagian serabut dari mata
kanan menyebrang dan memproyeksikan diri ke sisi kiri otak. Penyeberangan ini
memungkinkan kedua hemisfer serebri mengakses informasi dari setiap mata. Serabut lain
tidak menyebrang ke sisi. Saraf optikus berakhir di thalamus, di daerah yang disebut nucleus
geniculatus lateral dorsal, dan di daerah tersebut mengaktivasi neuron lain yang kemudian
memproyeksikan diri ke lobus oksipitalis daerah otak yang menginterpretasikan sinyal listrik
sebagai bayangan visual yang bermakna. Integrasi bayangan dari nucleus geniculatus lateral
dorsal ke lobus oksipitalis dipastikan karena setiap sel di nucleus geniculatus lateral dorsal
menyalurkan informasi dalam susunan spasial yang persis sama ke korteks penglihatan.4
(Lihat gambar 7)
10

Gambar 8. Jalur Saraf Penglihatan4

Presepsi Kedalaman
Meskipun masing-masing dari separuh korteks penglihatan menerima informasi
secara bersamaan dari bagian yang sama lapang pandang seperti yang diterima oleh kedua
mata namun pesan dari kedua mata tidaklah identik. Masing-masing mata melihat suatu
benda dari titik pandang yang sedikit berbeda, meskipun banyak terjadi tumpah-tindih.
Daerah tumpang-tindih yang terlihat oleh kedua mata pada saat yang sama dikenal
sebagai lapang pandang binocular (dua mata) yang penting dalam presepsi kedalaman.
Seperti bagian-bagian korteks lainnya, korteks penglihatan primer tersusun menjadi
kolom-kolom fungsional, masing-masing memproses informasi dari suatu bagian kecil
retina. Kolom-kolom independen didedikasikan untuk informasi tentang titik yang sama
di lapang pandang kedua mata. Otak menggunakan perbedaan kecil dalam informasi yang
di terima dari kedua mata untuk memperkirakan jarak, memungkinkan anda
mempresepsikan benda tiga dimensi dalam kedalaman ruang. Sebagian dari presepsi
kedalaman dapat diperoleh dengan menggunakan satu mata, berdasarkan pengalaman dan
pembandingan dengan petunjuk-petunjuk lain. Sebagai contoh, jika penglihatan anda
dengan satu mata memperlihatkan sebuah mobil dan sebuah bangunan dan mobil tersebut
tampak jauh lebih besar, maka anda secara tepat dapat menginterpretasikan bahwa mobil
terletak lebih dekat dengan anda daripada bangunan tersebut.1
11

Kesimpulan
Terjadinya ganggguan untuk melihat jauh pada anak tersebut dikarenakan kelainan
refraksi akibat kerusakan pada akomodasi visual yang dapat terjadi karena bola mata terlalu
panjang atau kekuatan lensa yang terlalu cembung.
Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fisiologi manusia ed 6. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC;
2014.h.211-230.
2. Cambridge. Anatomi fisiologi: system lokomotor dan penginderaan. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran EGC; 1999.h.49-53.
3. Bloom, Fawcett. Bujku ajar histologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC;
2002.h.782-792.
4. Corwin EJ, Buku saku patofisiologi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC;
2009.h.359-364.
5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC; 2004.h.186-189.
6. Wong DL, Eaton MH, Wilson D, Winkelstein ML, Schwartz P. Buku ajar keperawatan
pediatric wong ed 6 vol 1. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC; 2009.h.726.
7. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic. Jakarta: Gramedia; 2009.h.388389.

12