Anda di halaman 1dari 9

1

DILASERASI

Disusun Oleh :
Luthfiani
NIM : 1470280002

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2014

DILASERASI

PENDAHULUAN
Benih gigi mulai dibentuk sejak janin berusia tujuh minggu dan berasal
dari lapisan ektodermal serta mesodermal. Lapisan ektodermal berfungsi
membentuk enamel dan odontoblast, sedangkan mesodermal membentuk dentin,
pulpa, semen, membran periodontal dan tulang alveolar. Pertumbuhan dan
perkembangan gigi dibagi dalam tiga tahap, yaitu perkembangan, kalsifikasi, dan
erupsi. Tahap perkembangan gigi dibagi atas inisiasi (bud stage), proliferasi (cap
stage), histodiferensiasi (bell stage), morfodiferensiasi dan aposisi.1
Kelainan gigi geligi atau disebut anomali gigi yaitu gigi yang bentuknya
menyimpang dari bentuk aslinya. Faktor-faktor yang menyebabkan anomali gigi
antara lain adalah gangguan metabolisme, faktor herediter dan gangguan pada
waktu pertumbuhan serta perkembangan gigi. Anomali gigi yang sering terjadi
seperti kelainan jumlah gigi, ukuran gigi, bentuk gigi, struktur gigi, warna gigi
dan gangguan erupsi. Kelainan bentuk gigi dapat dibagi atas gigi fusi, gigi
geminasi, pembengkokan akar (dilaserasi), makrodonsia, mikrodonsia dan
taurodonsia.1,2
Prevalensi gigi dilaserasi menurut Anderson adalah 25% pada gigi
permanen, sedangkan dari 41 gigi yang diteliti Steward ditemukan 22% kasus
yang mengalami dilaserasi akibat trauma.3 Menurut Da Silva dilaserasi akar
ditemukan sebanyak 1-4,9% pada gigi permanen dengan frekuensi yang lebih
tinggi pada wanita, sedangkan Parolia dkk menyatakan prevalensi dilaserasi

berkisar antara 0,32%-7% tetapi sebanyak 0,45% pada molar pertama dan molar
tiga mandibula.4,5
Kelainan bentuk gigi dilaserasi pada perkembangan gigi masih ditemukan
di masa moderen ini maka diperlukan diagnosis dan manajemen yang benar. Oleh
sebab itu, penulis akan menjabarkan mengenai etiologi, gambaran secara klinis
dan radiografi, hubungan beberapa sindrom dan anomali yang bermanfaat dalam
menegakkan diagnosis dan manajemen perawatan pada gigi dilaserasi.

Etiologi Dilaserasi
Dilaserasi dalam bahasa latin berarti penyobekan, adalah suatu angulasi
akar yang abnormal terhadap aksis memanjang dari mahkota gigi. Umumnya
deviasi angulasi terlihat sangat tajam, hampir tegak lurus.6 Menurut Chohayeb
deviasi akar gigi dapat dikatakan dilaserasi apabila sudut antara akar dan panjang
aksis gigi lebih besar dari 20. Pada tahap morfodiferensiasi terjadi pembentukan
pola morfologi dan ukuran relatif dari gigi. Ameloblas, odontoblas dan
sementoblas mengendapkan enamel, dentin dan sementum serta memberi bentuk
dan ukuran yang khas pada gigi. Di ujung lamina dentis terbentuk lagi tonjolan
kedua yang nantinya akan menjadi gigi permanen, apabila terjadi gangguan pada
tahap ini maka akan mengakibatkan anomali pada bentuk dan ukuran gigi.2
Secara umum trauma pada gigi susu dapat menyebabkan gangguan yang
luas. Perubahan warna atau diskolorasi, duplikasi akar, dilaserasi akar ataupun
dilaserasi mahkota. Sampai saat ini etiologinya secara patogenesis masih
dipertanyakan.1 Dilaserasi dianggap berasal dari trauma pada jaringan keras yang
berhubungan dengan jaringan lunak.7 Trauma dapat menyebabkan mahkota

bergeser, akar memutar atau bengkok. Mahkota menekuk di atas akar atau akarnya
menunjukkan satu atau lebih tekukan. Akar dan mahkota gigi membentuk sudut
45 sampai lebih dan 90 setelah terjadinya trauma. 6 Selain trauma, gangguan
perkembangan bentuk juga dapat menyebabkan terjadinya dilaserasi akar ataupun
mahkota.
Patologi Dilaserasi mahkota gigi dapat dijelaskan dengan teori
perpindahan epithelium enamel dan mineralisasi gigi dihubungkan dengan dental
papila dan loop servikal. Perpindahan non-aksial dari bagian yang sudah terbentuk
dari gigi dapat menyebabkan perubahan yang berkelanjutan dalam kaitannya
dengan dental papila, epitelium dalam ataupun luar enamel dan loop servikal.
Ephitelium dalam enamel mampu menginduksi terjadinya differensiasi odontoblas
sehingga dentin tidak terpengaruh.7

Gambaran Klinis dan Radiografi Dilaserasi


Gambaran klinis gigi dilaserasi, yaitu:
a.

Gigi yang paling sering terlibat adalah gigi permanen insisivus maksila

diikuti dan diikuti dengan gigi anterior mandibula. Beberapa kasus gigi desidui
juga bisa terlibat.
b.

Dilaserasi terlihat pada kedua gigi permanen dan desidui.

c.

Gigi anterior maksila yang menunjukkan dilaserasi sering berakibat

kegagalan erupsi.
d.

Insisivus mandibula yang menunjukkan dilaserasi sering menunjukkan

erupsi yang sempurna, berbeda dengan gigi anterior maksila. Setelah erupsi, pada
gigi tersebut menunjukkan terjadinya inklinasi labial dan lingual.

e.

Gigi di mandibula dengan dilaserasi sering nonvital dan menunjukkan

inflamasi pada periapikal.6

B
Gambar 9. A. Dilaserasi akar B. Dilaserasi Mahkota6

Radiografi diperlukan untuk melihat tingkat formasi akar dan derajat


dilaserasi, penting untuk mengetahui morfologi dan posisi gigi didalam tulang.
Pengunaan periapikal, oklusal dan panoramik ataupun tomografi dapat
mendeteksi lokasi gigi dan struktur tulang.9
Gambar 10. Gambaran radiografis gigi dilaserasi9

Klasifikasi Dilaserasi
Klasifikasi dilaserasi tergantung dari derajat kurvatura, ringan, sedang dan
berat dengan mengukur sudut dari titik tengah pada panjang aksis gigi dengan
segmen yang menyimpang.4

Gambar 11. Klasifikasi sudut dilaserasi a) Mild, b) Moderate, c)


Severe5

Gambar 12. Klasifikasi dilaserasi (radiografi) a) Mild, b) Moderate, c) Severe4

Manajemen Perawatan
Dilaserasi merupakan pembengkokan abnormal pada akar dan mahkota
gigi. Dilaserasi pada akar gigi mungkin menyebabkan kesusahan dalam
pencabutan atau perawatan saluran akar. Bergantung pada derajat angulasi akar,

perawatan dan prognosis akar gigi dilaserasi bervariasi. Pada kasus ringan,
perawatan mungkin tidak diperlukan tapi pada beberapa kasus gigi harus
dilakukan pembedahan dan pergerakan ortodonti, dan pada kasus yang lebih
parah, mengarah pada perawatan yang tidak memungkinkan yaitu pembedahan
dan diikuti rahabilitasi prostetik diindikasikan.8
Nekrosis pulpa dan inflamasi periapikal pada gigi tanpa karies apapun
mungkin akan sering ditemukan. Hal ini karena bagian yang membengkok dengan
cacat enamel dan dentin (tubulus dentin yang terbuka) bertindak sebagai sumber
untuk masuknya bakteri ke dalam ruang pulpa. Perubahan warna kecoklatan
disebabkan oleh gangguan dalam lapisan ameloblastik menyebabkan cacat dalam
pembentukan matriks yang disebabkan oleh trauma. Epitel yang membentang
dalam enamel terus mendorong terjadinya diferensiasi odontoblast yang baru
maka, disini formasi dentin tidak terpengaruh.8
Pilihan perawatan untuk dilaserasi mahkota meliputi8:
a. Perawatan bedah dengan atau tanpa ortodonti
b. Pembuangan bagian dilaserasi pada mahkota
c. Mahkota sementara sampai pembentukan akar selesai
d. Semi restorasi atau permanen restorasi
e. Prostesa atau penutupan ruang dengan ortodontik diikuti dengan
ekstraksi.
PEMBAHASAN
Lesi traumatik pada gigi sulung memang sering terjadi. Gigi sulung yang
mengalami trauma mengakibatkan kelainan perkembangan pada pertumbuhan gigi
permanen yang menunjukkan prevalensi dari 12%-74%. Dilaserasi dapat terjadi

dimana saja sepanjang panjang gigi yaitu mahkota, cementoenamel junction,


panjang akar atau apeks. Akibat paling ringan bisa mulai dari diskolorasi kuning
atau kuning kecoklatan pada dilaserasi mahkota gigi, duplikasi mahkota, dilaserasi
akar, duplikasi akar, malformasi seperti odontoma dan kelainan dalam erupsi gigi
permanen. Tipe dan keparahan dari kelainan tergantung dari tahap perkembangan
gigi permanen.8
Radiografi panoramik dan periapikal merupakan alat penting yang dipakai
para klinisi sebagai penunjang diagnosis. Diagnosa awal dari gigi dilaserasi saat
masa gigi bercampur dan penanganan yang tepat dapat mencegah masalah
fungsional, estetik, fonetik dan psikologis pada pasien.9

KESIMPULAN
Kelainan bentuk gigi berupa dilaserasi disebabkan oleh gangguan pada
perkembangan benih gigi dan juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Walaupun kelainan gigi dilaserasi jarang ditemui, dokter gigi harus dapat
mengidentifikasi dan menangani kasus tersebut. Penegakkan diagnosis kelainan
gigi dengan melihat gambaran klinis dan didukung dengan gambaran radiografi.
Hal ini sangat penting untuk menentukan rencana perawatan pada gigi yang akan
dirawat nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.

Itjiningsih W. Anatomi Gigi. Jakarta: EGC. 1991: 223-39.


Serman N. Anatomical anomalis/variants. http://www.columbia.edu/itc/hs/

3.

dental/juniors/material/anomalie.pdf (10 Desember 2014).


Asokan S, Ravyen R. Crown dilaseration of maxillary right permanent central

4.

insisor - a case report. J Indian Soc Pedo prev 2004: 197 200.
Da silva BS, Costa Led. Prevalence assessment of root dilaceration in

5.

permanent incisors. Dental Press J Orthod 2012: 97-102.


Parolia A, Khosla M. Endodontic management of dilacerated and bayonet

6.

shaped roots. Int J Dent Case Reports 2012: 21-5.


Sudiono J. Gangguan tumbuh kembang dentokraniofasial. Jakarta : EGC.

7.

1991: 22-6.
Malcic A, Jukic S. Prevalence of root dilaceration in adult dental patients in

8.
9.

croatia. OOOOE 2006 : 104-9.


Ghimire N., Rao A. Crown dilaceration. Health Ranaissance. 2013 :86-8.
Xue J.J., Ye Nien S., Li Jing Y.,Lai Wen L. Managment of an impacted
maxillary central incisor with dilacerated root. Saudi Med J 2013 :1073-9.