Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

HIPOSPADIA

Pembimbing :
dr. Tri Budiyanto, Sp.U

Disusun Oleh:
Utiya Nur Laili

G4A014109

SMF BEDAH
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipresentasikan serta disetujui referat dengan judul :
HIPOSPADIA

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat ujian


kepanitraan klinik dokter muda SMF Bedah
RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh:
Utiya Nur Laili

G4A014109

Purwokerto, September 2015


Mengetahui,
Dokter Pembimbing,

dr. Tri Budiyanto, Sp.U

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan
nikmat dan karuniaNya, sehingga dapat menyelesaikan tugas
referat ini. Referat yang berjudul Hipospadia ini merupakan
salah satu syarat ujian kepanitraan klinik dokter muda SMF
Bedah RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Tri
Budiyanto, Sp.U sebagai pembimbing atas bimbingan, saran, dan
kritik yang membangun dalam penyusunan tugas referat ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini
masih belum sempurna serta banyak terdapat kekurangan. Oleh
karena

itu, penulis

tetap

mengharapkan saran dan kritik

membangun dari pembimbing serta seluruh pihak.


Purwokerto, September 2015

Penulis

I.

PENDAHULUAN

Hipospadia merupakan salah satu kelainan kongenital


dimana terjadi perkembangan urethrae yang tidak sempurna dan
meatus urathrae eksternus terletak di permukaan ventral penis
dan lebih ke proksimal dari letaknya yang normal pada ujung
glans penis. Insidensinya 3:1000 atau 3 dari 1000 kelahiran.
Berdasarkan
Congenital

data

yang

Defects

dicatat

Program

oleh

(MACDP)

Metropolitan

Atlanta

dan

Defects

Birth

Monitoring Program (BDMP) insidensi hipospadia mengalami dua


kali lipat peningkatan antara 1970 - 1990. Prevalensi yang
dilaporkan antara 0,3% menjadi 0,8% sejak tahun 1970-an,
beberapa laporan dari Amerika Serikat, Inggris, Hungaria telah
menunjukkan peningkatan. Tahun 1993 BDMP melakukan survei
mengenai
diketahui

insidensi
bahwa

hipospadia,

kasus

dari

hasil

survei

tersebut

hipospadia mengalami peningkatan

menjadi 20,2 per 10.000 kelahiran hidup.


Hipospadia merupakan konsekuensi dari suatu fusi yang
tidak lengkap,

kulit urethrae terdapat pada sisi alur urethrae

pada permukaan tengah dari lubang kelamin. Pada 8 minggu


perkembangan janin terjadi deferensiasi alat kelamin. Setelah itu,
pada pria tepi medial dari

lipatan urethrae secara progresif

menyatu di garis tengah pada ventrum dari lubang kelamin,


kemudian urethrae penis benar-benar tertutup pada minggu ke
14. Kelenjar dari urethrae dibentuk pada minggu ke 16.
Organogenesis

urethrae

sebagian

besar

tergantung

oleh

hormone androgen. Testosterone diproduksi oleh sel Leydig janin


di kompartemen testis interstisial dan kemudian dikonversi
dalam kulit kelamin menjadi dihidrotestosteron (DHT), yang
bertindak

sebagai

pengikat

reseptor

androgen.

Hipospadia

adalah contoh virilisasi lengkap di mana meatus uretra normal


ditempatkan pada bagian ventral penis bukan ujung glans.

Fungsi lainnya dari hormone androgen adalah diferensiasi alat


kelamin laki-laki seperti fusi lipatan labioscrotal, pembesaran
lubang kelamin, dan penurunan testis (Rey, 2005).
Masalah yang ditimbulkan dari hipospadia

adalah

gangguan pancaran air kemih, yang secara nyata akan mulai


dirasakan pasien sewaktu masuk sekolah dimana ia tidak dapat
melakukan miksi seperti teman-teman sejenisnya. Walaupun
secara fungsi sebenarnya belum terganggu, namun secara
psikologis sudah membebani kejiwaan si anak. Keluhan utama
akan

timbul

di

kemudian

hari

berupa

gangguan

fungsi

perkelaminan. Fungsi ini terganggu disebabkan bentuk penis


yang melengkung ke bawah terutama sewaktu ereksi yang
disebabkan adanya jaringan ikat yang timbul antara meatus dari
hipospadia ke arah glans penis yang dikenal sebagai chordae.
Seorang dokter dituntut memiliki kompetensi dalam
melakukan

pemeriksaan

fisik

untuk

mendiagnosis

adanya

kelainan pada pasien termasuk kelainan hipospadia. Hal ini


bertujuan

untuk

mempercepat

tindakan

penatalaksanaan

rekonstruksi alat kelamin oleh dokter spesialis bedah.

II.
A. Definisi
Hipospadia

TINJAUAN PUSTAKA
berasal

dari

bahasa

Yunani,

secara

terminologi memiliki dua arti kata yaitu hypo yang berarti


di bawah dan spadon yang berarti lubang. Secara
anatomi hypospadia adalah salah satu kelainan kelamin
akibat penyatuan lipatan uretra yang tidak sempurna dengan
gambaran

letak

Ostium

Urethra

Externa

di

sepanjang

permukaan anterior penis semenjak masa pertumbuhan janin


(kongenital) (Clayden et.al; 2002).
B. Anatomi

Gambar 1. Anatomi Sistem Reproduksi Laki-laki

Gambar 2. Regulasi Sistem Hormonal pada Laki-laki

Gambar 3. Spermatogenesis
C. Etiologi
Hipospadia

merupakan

hasil

dari

fusi

yang

tidak

lengkap dari lipatan uretra terjadi pada usia kehamilan


minggu ke-8 dan ke-14. Diferensiasi seksual laki-laki pada
umumnya

tergantung

pada

hormone

testosteron,

dihydrotestosteron, dan ekspresi reseptor androgen oleh sel


target. Gangguan dalam keseimbangan sistem endokrin baik
faktor-faktor endogen atau eksogen dapat menyebabkan
hipospadia.

Beberapa

etiologi

hipospadia

yang

telah

dilaporkan diantaranya (Brouwers, 2006):


a. Metabolisme Androgen
Diferensiasi seksual yang normal tergantung pada
testosteron

dan

metabolismenya

bersamaan

dengan

kehadiran reseptor androgen fungsional. Gangguan genetik


dalam jalur metabolisme androgen (misalnya disfungsi 5
-alfa-reduktase II atau gangguan reseptor androgen) dapat
menyebabkan

hipospadia.

Meskipun

kelainan

dalam

metabolisme androgen dapat menyebabkan hipospadia

yang berat, namun tidak dapat menjelaskan etiologi


terjadinya hipospadia yang sedang dan ringan. (Baskin,
2000).
b. Sinyal Seluler Abnormal
Hipotesis lain mengenai hipospadia adalah adanya
abnormalitas dari perantara seluler selama perkembangan
alat kelamin. Hipotesis ini berdasarkan penemuan terjadi
perubahan diferensiasi otot halus pada perkembangan
genitalia pria dan wanita. Teori perkembangan uretra pada
penis

manusia.

dijelaskan

Beberapa

dalam

teori

sebagian

seperti

besar

yang

buku

telah

pelajaran

embriologi, kelenjar uretra dibentuk karena perkembangan


epidermis

pada

perkembangan

ectodermal.

Pada

hipospadia pembentukan uretra secara keseluruhan terjadi


hanya melalui deferensiasi endodermal (Baskin, 2000).

Gambar 4. Teori Perkembangan Urethrae pada Penis Manusia


c. Gangguan Endokrin
Salah satu penyebab
disebabkan

adanya

hipospadia

kontaminasi

kemungkinan

lingkungan

yang

mengintervensi jalur androgen yang normal dan dapat


mengganggu sinyal seluler. Hal ini dapat diketahui dari
beberapa bahan yang sering dikonsumsi oleh manusia
yang banyak mengandung aktivitas estrogen, seperti pada
insektisida

yang

sering

digunakan

untuk

tanaman,

estrogen alami pada tumbuhan, produk-produk plastik, dan

produk farmasi. Selain itu, banyak bahan logam yang


digunakan untuk industri makanan, bagian dalamnya
dilapisi oleh bahan plastik yang mengadung substansi
estrogen. Substansi estrogen juga dapat ditemukan pada
air laut dan air segar, namun jumlahnya hanya sedikit.
Ketika estrogen tersebut masuk ke dalam tubuh hewan,
jumlah estrogen paling tinggi berada pada puncak rantai
makanan, seperti ikan besar, burung, mamalia laut dan
manusia, sehingga menyebabkan kontaminasi estrogen
yang cukup besar. Pada beberapa spesies, kontaminasi
estrogen dapat mempengaruhi fungsi reproduksi dan
kesehatan. Sebagai contoh, terjadi penipisan kulit telur
karena pengaruh estrogen (Baskin, 2000).
d. Faktor Genetik
Usia ibu saat melahirkan dapat menjadikan salah
satu faktor resiko terjadinya hipospadia. Sebuah langsung
korelasi

terlihat

antara

usia

ibu

yang

tua

dengan

meningkatkan kejadian hipospadia, dan lebih ditandai


dengan bentuk parah dari cacat lahir (Fisch, 2001).
D. Epidemiologi
Insidensi kasus hipospadia terbanyak adalah Amerika
Serikat,

Inggris,

dan

Hungaria

telah

menunjukkan

peningkatan. BDMP menyatakan bahwa insdensi hypospadia


meningkat dari 20,2 per 10.000 kelahiran hidup pada 1970
menjadi 39,7 per 10.000 kelahiran hidup pada tahun 1993.
Kajian populasi yang dilakukan di empat kota Denmark tahun
1989-2003 (North Jutland, Aarhus, Viborg dan Ringkoebing)
tercatat

65.383

angka

kelahiran

bayi

laki-laki

dengan

hipospadia sebanyak 319 bayi (Leung dan Robson, 2007).


Semakin ke proksimal letak meatus, makin berat
kelainannya dan makin jarang frekuensinya. Klasifikasi dari
hipospadia yang sering dipakai adalah glanduler, distal
penile, penoskrotal dan perineal. Tipe distal frekuensinya

hingga 90%, sedangkan penile, scrotal, dan perineal hanya


10% (Leung dan Robson, 2007).
E. Klasifikasi
Dilihat dari letah muara urethrae yang tidak normal
tersebut, hipospadia dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu
anterior,

middle

dan

posterior.

Hipospadia

anterior

merupakan tipe glandula karena muaranya dekat dengan


ujung penis. Tipe anterior sendiri terbagi atas glanular,
coronal, atau subcoronal. Untuk tipe middle hipospadia,
terdiri atas distal penile, proximal penile dan penoscrotal.
Adapun untuk tipe posterior muara urathraenya ada di
scrotum dan perineum (Wang, 2008).

Gambar 5. Klasifikasi Hipospadia


Secara teori derajat II dan derajat III yang biasanya
pada bagian anterior phallus (penis) disertai dengan adanya
chordee (pita jaringan fibrosa) yang menyebabkan kurvatura
(melengkung) pada saat ereksi. Hipospadia derajat ini akan
mengganggu aliran normal urin dan fungsi reproduksi, oleh
karena itu perlu dilakukan terapi dengan tindakan operasi
bedah.
F. Patogenesis
Jenis kelamin

pada

embrio

ditentukan

pada

saat

konsepsi oleh kromosom pada spermatozoa yang membuahi


ovum.

Sperma

yang

mengandung

kromosom

akan

membentuk individu XX (wanita), sedangkan kromosom Y


pada spermatozoa akan membentuk XY (laki-laki). Pada
embrio berumur 2 minggu baru terdapat 2 lapisan, yaitu
ektoderm dan endoderm. Baru kemudian terbentuk lekukanlekukan

di

tengah

yaitu

mesoderm

yang

kemuadian

bermigrasi ke perifer, memisahkan ektodern dan endoderm.


Di bagian caudal ektoderm dan endoderm tetap bersatu
membentuk membrana kloaka (Sadler, 2002).
Pada permulaan minggu ke-6, terbentuk tonjolan antara
umbilical cord dan tail yang disebut genital tubercle. Di
bawahnya pada garis tengah terbentuk lekukan yang mana di
bagian lateralnya ada 2 lipatan memanjang yang disebut
genital fold. Selama minggu ke-7 lengkap pada minggu 15,
genital tubercle akan memanjang dan membentuk glans. Ini
adalah bentuk primordial dari penis bila embrio adalah lakilaki. Bila wanita akan menjadi klitoris. Jika terjadi agenesis
dari mesoderm, maka genital tubercle tidak terbentuk,
sehingga penis juga tidak terbentuk. Bagian anterior dari
membrana kloaka, yaitu membrana urogenitalia akan ruptur
dan membentuk sinus. Sementara itu sepasang lipatan yang
disebut genital fold akan membentuk sisi-sisi dari sinus
urogenital. Apabila genital fold gagal bersatu di atas sinus
urogenitalia, maka akan timbul hipospadia. Selama periode
ini juga, terbentuk genital swelling di bagian lateral kiri dan
kanan. Hipospadia yang terberat yaitu jenis penoscrotal,
scrotal dan perianal, terjadi karena kegagalan genital fold dan
genital swelling untuk bersatu di tengah-tengah (Sadler,
2002).
Sebelum

minggu

ke-7

kehamilan,

struktur

gential

antara pria dan wanita tidak dapat dibedakan. Setelah itu,


terjadi diferensiasi jaringan termasuk pemanjangan lubang
kelamin, pembentukan uretra penis, dan pengembangan kulit

preputium

secara

genetik

dipengaruhi

oleh

aktivitas

hormonal dan enzimatik, yaitu dipengaruhi oleh ada atau


tidak adanya androgen dan sinyal dari gen SRY-. Penelitian
yang lebih baru mendukung teori diferensiasi endodermal.
Menurut teori ini, seluruh uretra berasal dari sinus urogenital.
Perkembangan terus-menerus uretra ke tuberkulum genital
diikuti oleh fusi ventral lipatan uretra. Gangguan pada
metabolisme androgen, misalnya, 5-Reduktase defisit, cacat
dari reseptor androgen, atau cacat gen adalah faktor etiologi
mungkin untuk hypospadia, yang hanya ditemukan pada
<5% dari pasien (Djacovic, 2008).
Pada hipospadia glans penis bentuknya lebih datar dan
ada lekukan yang dangkal di bagian ventral. Preputium tidak
ada di bagian ventral. Jaringan abnormal yang menimbulkan
chordae adalah jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus
dan membentang ke distal sampai basis dari glans penis.
Kulit penis di bagian ventral distal dari meatus sangat tipis.
Tunika dartos, fascia Buch dan corpus spongiosum tidak ada.
Bila meatus letaknya di scrotum atau di perineum, maka
terdapat scrotum bifida dimana ada lekukan yang tak
berambut. Raphe penis yang biasanya terdapat di bagian
tengah akan berpindah tempat ke salah satu sisi sesuai
dengan adanya torsi dari kulit penis. Kadang-kadang terdapat
saluran urethrae yang buntu di bagian distal dari meatus.
Juga dilaporkan adanya fistula urethrae kongenital yang
timbul

bersama-sama

hipospadia.

Sering

kali

scrotum

letaknya lebih ke anterior dari basis penis (engulfment).


Selain

itu,

kadang-kadang

ditemukan

penis

yang

kecil

(mikropenis) (Djacovic, 2008).


G. Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis
Ketika pasien pertama kali datang, pertanyaan dibuat
mengenai riwayat obat-obatan di awal kehamilan, riwayat

keluarga, arah dan kekuatan aliran kemih dan adanya


penyemprotan pada saat buang air kecil. Anamnesis Gejala
yang

timbul

biasanya

pada

datang

kebanyakan
dengan

penderita

keluhan

hipospadia

kesulitan

dalam

mengatur aliran air kencing (ketika berkemih). Hypospadia


tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan penderita
harus miksi dalam posisi duduk dan pada orang dewasa
akan mengalami gangguan hubungan seksual (Purnomo,
2007).

Gambar 6. A : Penis yang Normal

B : Hypospadias dengan

chorda
Selain terdapat tanda dan gejala klinis diatas dalam
beberapa penelitian juga membuktikan bahwa sebagian
besar hipospadia mengalami sedikit gangguan psikologis.
Roger dan Michel (2005) mengungkapkan bahwa pederita
hipospadia

memiliki

pola

pergaulan

yang

cenderung

menutup diri. Faktor psikososial 43% terjadi pada penderita


hipospadia. Beberapa sumber menyatakan bahwa faktor
yang mempengaruhi psikososial hipospadia pada orang

dewasa adalah hubungan antara hipospadia fungsi seksual


10%, namun belum dilakukan survei tentang korelasi
antara

hipospadia

dengan

fungsi

reproduksi

untuk

memdapatkan keturunan.
2. Pemeriksaan fisik
Kelainan hypospadia dapat diketahui segera setelah
kelahiran dengan pemeriksaan inspeksi genital pada bayi
baru lahir. Selain pada bayi baru lahir diagnosis hipospadia
sering dijumpai pada usia anak yang akan disirkumsisi (7-9
tahun). Jika pasien diketahui memiliki kelainan kelamin
(hipospadia) maka tindakan sirkumsisi tersebut tidak boleh
dilakukan karena hal tersebut merupakan kontra-indikasi
tindakan sirkumsisi (Basuki, 2007).
Pemeriksaan fisik meliputi kesehatan umum dan
perkembangan pertumbuhan dengan perhatian khusus
pada sistem saluran kemih seperti pembesaran salah satu
atau kedua ginjal dan amati adanya cacat lahir lainnya.
Khas pada hipospadia adalah meatus uretra pada bagian
ventral dan perselubungan pada daerah dorsal serta
terdapat defisiensi kulit preputium, dengan atau tanpa
chordee dan hipospadia berat berupa suatu skrotum bifida.
Ukuran meatus uretra dan kualitas dinding uretra (corpus
spongiosum) pada proksimal meatus juga berbeda (Basuki,
2007).
Derajat

hipospadia

sering

digambarkan

sesuai

dengan posisi meatus uretra dalam kaitannya dengan


penis dan skrotum. Ini harus dilakukan dengan sangat hatihati

untuk

kemungkinkunan

timbul

keraguan

karena

dengan adanya chordae yang signifikan. Sebuah meatus


yang berada di wilayah subcoronal mungkin sebenarnya
juga sangat dekat dengan persimpangan penoscrotal dan
karena itu setelah koreksi chordae, meatus akan surut ke
daerah proksimal batang penis memerlukan rekonstruksi

uretra yang luas. Sebaliknya, meatus yang terletak di


wilayah subcoronal dalam ketiadaan chordae cocok dengan
hipospadia ringan. Oleh karena itu karena kehadiran
chordae

yang signifikan,

dijelaskan

dalam

posisi meatus

kaitannya

dengan

uretra

harus

persimpangan

penoscrotal dan korona. Tingkat chordee dapat secara


akurat dinilai dengan induksi ereksi dengan mengompresi
kavernosum terhadap rami pubis. Kehadiran satu atau
kedua testis di skrotum harus dicatat. Pada sebagian besar
kasus, pasien dengan testis hipospadia ringan sampai
sedang dan kedua testis yang dapat turun secara genotif
adalah laki-laki normal. Namun dalam kasus hipospadia
yang berat, terutama bila dikaitkan dengan testis yang
tidak

turun

baik

unilateral

atau

bilateral,

muncul

pertanyaan tentang interseks (Basuki, 2007).


3. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mengetahui hipospadia pada masa kehamilan
sangat

sulit.

hipospadia

Berbagai

dapat

sumber

diketahui

menyatakan

segera

setelah

bahwa

kelahiran

dengan inspeksi genital pada bayi baru lahir. Beberapa


pemeriksaan

penunjang

yang

dapat

yaitu urethtroscopy dan cystoscopy untuk


organ-organ

seks

internal

dilakukan
memastikan

terbentuk

secara

normal. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi


ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan
ureter (Cafici, 2002).
H. Penatalaksanaan
Bedah rekonstruksi

mungkin

terapi

pilihan

untuk

hipospadia. Tujuan utama dari rekonstruksi adalah untuk


membuat celah vertikal meatus, untuk meluruskan penis
pada kasus kelengkungan dan menghasilakn bentuk yang
baik

secara

rekonstruksi

kosmetik.
adalah

Aspek

untuk

penting

menghindari

lainnya

untuk

penis

yang

memendek

dan

penggunaan

kulit

yang

optimal

tanpa

menggunakan kulit scrotum untuk menutup penis.

Usia

optimal untuk koreksi hypospadia adalah antara usia 6 dan


24 bulan. Adanya dihidrotestosteron memungkinkan untuk
mengoptimalkan ukuran penis pada usia awal bila dilakukan
operasi.

Dalam

sebagian

besar

kasus,

operasi

dapat

dilakukan dalam satu langkah. Operasi dua-langkah jarang


dilakukan, misalnya dalam kasus, insufisiensi dari kulit uretra
atau hipoplasia kulit seperti yang sering ditemukan dalam
hipospadia pasca operasi. Operasi hipospadia mengikuti
langkah: meluruskan penis (orthoplasty), rekonstruksi dari
uretra (urethroplasty), rekonstruksi meatus (meatoplasty),
rekonstruksi kelenjar (glanuloplasty) dan rekonstruksi kulit
penis serta skrotum bila diperlukan. (Djakociv, 2008)
a. Hipospadia Anterior
Teknik yang dilipih untuk hipospadia anterior
tergantung

pada

posisi

anatomi

dari

penis

yang

hipospadia. Teknik yang paling sering digunakan adalah


MAGPI

(Meatal

Advance

Glansplasty),

GAP

(Glans

Approximation Procedure), metode Mathieu atau disebut


flip-flap dan incise pipa uretroplasti (Baskin, 2000).
1) Teknik MAGPI (Meatal Advance Glansplasty)

Gambar 7. Teknik MAGPI dirancang oleh Duckett


pada tahun 1981 (20). Teknik ini akan memberikan hasil
yang maksimal jika pasien mengikuti dengan tepat.
Penis dengan hipospadia yang cocok untuk dilakukan
MAGPI adalah dengan jaringan pada punggung dalam
glands yang mengalirkan urin baik dari koronal atau
sedikit ke meatus subcoronal. Setelah pasien tertidur,
uretra itu sendiri harus memiliki dinding ventral yang
normal, tanpa ada bagian yang tipis atau atresia uretra
spongiosum. Uretra juga harus menjadi mobile sehingga
dapat maju ke glands (Baskin, 2000).
2) Teknik GAP (Glans Approximation Procedure)

Prosedur

GAP

berlaku

pada

pasien

dengan

hipospadia anterior kecil yang memiliki alur glands luas


dan mendalam. Pada pasien ini tidak memiliki jembatan
jaringan

kelenjar

yang

biasanya

mngalirkan

aliran

kemih, seperti yang terlihat pada pasien yang akan


lebih tepat diobati dengan teknik MAGPI. Dalam teknik
GAP, uretra yang berlubang lebar akan dilakukan
tubularisasi primer dengna mnggunakan stent. (Baskin,
2000)

3) Incisi Tubularirasi Urethroplasty

Secara historis, jika alur uretra tidak cukup lebar


untuk tubularisasi di situ, seperti pada teknik GAP atau
prosedur

Thiersch

alternatif

seperti

Duplay,
Mathieu

kemudian
atau

untuk

pendekatan
penanganan

hipospadia yang lebih parah, flap pedikel dengan


vascularisasi

bias

dilakukan.

Baru-baru

ini

konsep

sayatan di kulit uretra dan dilakukannya tubularisasi dan


penyembuhan
Snodgrass.

sekunder

Hasil

jangka

telah

diperkenalkan

pendek

sangat

baik

oleh
dan

prosedur ini memiliki popularitas yang luas. Salah satu


aspek

yang

menyerupai

menarik
meatus,

adalah
yang

adanya

dibuat

celah

dengan

yang

sayatan

pertengahan garis punggung. Baru-baru ini, teknik ini


telah

diterapkan

untuk

bentuk-bentuk

hipospadia

posterior. Secara teoritis, ada kekhawatiran tentang


kemungkinan stenosis meatus dari jaringan parut,
dimana sering terjadi striktur uretra pada pasien dengan
urethrotomy internal yang sering menyebabkan striktur
berulang. Pada hipospadia, pada jaringan dengan suplai
darah yang sangat baik dan aliran pembuluh darah yang
besar,

tampaknya

dapat

merespon

baik

terhadap

sayatan primer dan sekunder pada penyembuhan tanpa


meninggalkan bekas luka. (Baskin, 2000)
Pada perbaikan hipospadia distal, meskipun tingkat
morbiditas relative rendah, hasil kosmetik yang mungkin
sulit untuk menilai dan memuaskan dalam proporsi yang
signifikan, terutama setelah perbaikan Mathieu.

4) Hipospadia Posterior

Kita sudah cukup puas dengan teknik onlay island


flap untuk hipospadia untuk kasus pada hipospadia
pada batang penis dan kasus-kasus yang lebih parah
dari hipospadia. Onlay island flap telah berhasil diuji
dengan hasil jangka panjang yang sangat baik. Tidak
membuang kulit uretra pada teknik onlay island flap
telah

menyingkirkan

proksimal

dan

telah

striktur

anastomosis

mengurangi

kejadian

bagian
formasi

fistula. Ketika kelengkungan penis diperlukan, dapat


dikoreksi dengan lipatan punggung. Laporan terbaru
telah memperkenalkan teknik standar dan variasi yang
lebih

halus.

diperlukan

Kadang-kadang

dan

dalam

operasi

beberapa

yang

kasus,

luas

beberapa

operasi menyebabkan hasil yang kurang optimal pada


beberapa

anak,

pasien

kemudian

diklasifikasikan

sebagai " cacat hipospadia ". Untuk hipospadia yang


sangat parah, kulit preputium yang dapat dirancang
sebagai gaya tapal kuda untuk menjembatani jarak
yang luas. (Baskin, 2000)
I. Komplikasi
1. Fistula
Fistula uretrokutan merupakan masalah utama yang
sering muncul pada operasi hipospadia. Fistula jarang
menutup spontan dan dapat diperbaiki dengna penutupan
berlapis dari flap kulit lokal. Dilakukan fistuloraphy. (Arap,

2000).

Pembentukan

fistula

sebagian

besar

di

persimpangan neourethra dengan uretra asli, dan frekuensi


tinggi di kasus hipospadia proksimal (Ahmed, 2010).
2. Stenosis meatus
Stenosis atau menyempitnya meatus uretra dapat
terjadi. Adanya aliran air seni yang mengecil dapat
menimbulkan kewaspadaan atas adanya stenosis meatus.
(Arap, 2000). Masalah teknis seperti pembuatan meatus
lumen yang sempit atau terlalu ketat glanuloplasty dapat
menjadi penyebab stenosis meatus (Ahmed, 2010).
3. Striktur
Keadaan ini dapat berkembang sebagai komplikasi
jangka panjang dari operasi hipospadia. Keadaan ini dapat
diatasi dengan pembedahan, dan dapat membutuhkan
insisi, eksisi atau reanastomosis (Arap, 2000).
4. Divertikula
Divertikula uretra dapat juga terbentuk ditandai
dengan adanya pengembangan uretra saat berkemih.
Striktur pada distal dapat mengakibatkan obstruksi aliran
dan berakhir pada divertikula uretra. Divertikula dapat
terbentuk walaupun tidak terdapat obstruksi pada bagian
distal. Hal ini dapat terjadi berhubungan dengan adanya
graft atau flap pada operasi hipospadia, yang disangga dari
otot maupun subkutan dari jaringan uretra asal (Arap,
2000).
5. Terdapatnya rambut pada uretra
Kulit yang mengandung folikel rambut dihindari
digunakan dalam rekonstruksi hipospadia. Bila kulit ini
berhubungan dngan uretra, hal ini dapat menimbulkan
masalah berupa infeksi saluran kemih dan pembentukan
batu

saat

pubertas.

Biasanya

untuk

mengatasinya

digunakan laser atau kauter, bahkan bila cukup banyak


dilakukan eksisi pada kulit yang mengandung folikel

rambut lalu kemudian diulang perbaikan hipospadia (Arap,


2000).
J. Prognosis
Prognosis pasca operasi adalah baik.

III.

KESIMPULAN

1. Hipospadia adalah suatu kelainan kelamin akibat penyatuan


lipat uretra tidak sempurna dan terdapat mulut uretra yang
abnormal di sepangjang permukaan anterior phallus (penis).
2. Hipospadia
adalah suatu kelainan kongenital yang
dipengaruhi

beberapa

faktor

antara

lain

faktor

genetik,

hormonal, lingkungan, atau zat kimia dari hasil pencemaran


industri.
3. Secara morfologi hypospadia dibagi menjadi 5 bagian antara
lain

Glandular

Mediopeneal

hypospadia,

hypospadia,

Subcoronal

Pene-scrotal

hypospadia,

hypospadia,

dan

Perienal hypospadia.
4. Tanda-tanda klinis hipospadia yaitu lubang Osteum/orifisium
Uretra Externa (OUE) tidak berada di ujung glands penis,
preputium tidak ada dibagian bawah penis tetapi menumpuk
di bagian punggung penis, biasanya jika penis mengalami
kurvatura (melengkung) ketika ereksi, maka dapat disimpulkan
adanya chordae, dan dapat timbul tanpa chordae bila letak
meatus pada dasar dari glands penis.
5. Bedah rekonstruksi mungkin terapi pilihan untuk hipospadia.
Tujuan utama dari rekonstruksi adalah untuk membuat celah
vertikal

meatus,

untuk

meluruskan

penis

pada

kasus

kelengkungan dan menghasilakn bentuk yang baik secara


kosmetik.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, J. 2010. Transverse Preputial Island Flap For Hypospadias Repair.


Journal of Surgery Pakistan (International) 15 (3) July - September
2010.
Arap, S., Mitre, AI. 2000. Penoscrotal Hypospadias. Brazilian Journal of Urology.
Vol. 26 (3): 304-314, May - June, 2000.
Baskin, L. 2000. Hypospadias. Anatomy, Embryology, And Reconstructive
Techniques. Brazilian Journal of Urology. Vol. 26 (6): 621-629,
November - December, 2000.
Brouwers, MM., Feitz, WFJ. 2006. Hypospadias: a transgenerational effect of
diethylstilbestrol?. Society of Human Reproduction and Embryology.
Human Reproduction Vol.21, No.3 pp. 666669, 2006.
Cafici, D., Iglesias, A. 2002. Prenatal Diagnosis of Severe Hypospadias With
Two- and Three-dimensional Sonography. American Institute of
Ultrasound in Medicine J Ultrasound Med 21:14231426, 2002.
Clayden, graham, lissauer, tom.2002. Illustrated Text Book of Paediatrics.Ed.2.
Mosby: London.
Djacovic, N., Nyarangi-Dix, J. 2008. Hypospadias. Advances in Urology. Volume
2008, Article ID 650135, 7 pages.
Fisch, H., Golden, RJ. 2001. Maternal Age As A Risk Factor For Hypospadias.
The Journal Of Urology Vol. 165, 934936, March 2001.
Jong WD, Sjamsuhidayat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC;
2005. hal 672-75.
Leung Alexander K,C & Robson William L, M. 2007. Review Hypospadia an
Up-date, 26 November 2011.
Purnomo, Basuki B. 2007. Dasar-dasar Urologi. FK Brawijaya: Malang.
Rey, RA., Codner, E. 2005. Low Risk of Impaired Testicular Sertoli and Leydig
Cell : Functions in Boys with Isolated Hypospadias. J Clin Endocrinol
Metab, November 2005, 90(11):60356040.
Sadler, T, W. 2002. Embriologi Kedokteran Langman. Ed.7. EGC: Jakarta.
Wang, M. 2008. Endocrine Disruptors, Genital Review Development, and
Hypospadias. Journal of Andrology, Vol. 29, No. 5,
September/October 2008.