Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN INDIVIDU

DEPARTEMEN KOMUNITAS

Untuk Memenuhi Tugas


Profesi Departemen Komunitas

Oleh
Dwi Handayani Sundoro
140070300011114
Kelompok 1

ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

BAB1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan
oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun riketsia, tanpa atau disertai radang
parenkim paru (Alsagaf, 2009). ISPA salah satu penyebab utama kematian pada anak di
bawah 5 tahun tetapi diagnosis sulit ditegakkan. World Health Organization (WHO)
memperkirakan insidensi ISPA di negara berkembang dengan angka kejadian ISPA pada
balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada 13 juta anak
balita di dunia golongan usia balita. Pada tahun 2000, 1,9 juta (95%) anak anak di seluruh
dunia meninggal karena ISPA, 70 % dari Afrika dan Asia Tenggara (WHO, 2002). Gejala
ISPA sangat banyak ditemukan pada kelompok masyarakat di dunia, karena penyebab ISPA
merupakan salah satu hal yang sangat akrab di masyarakat. ISPA merupakan infeksi akut
yang disebabkan oleh virus meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi
akut saluran pernapasan bagian bawah.
ISPA menjadi perhatian bagi anak-anak (termasuk balita) baik di negara berkembang
maupun di negara maju karena ini berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh. Anak- anak
dan balita akan sangat rentan terinfeksi penyebab ISPA karena sistem tubuh yang masih
rendah, itulah yang menyebabkan angka prevalensi dan gejala ISPA sangat tinggi bagi
anak-anak dan balita (Riskerdas, 2007). Prevalensi ISPA tahun 2007 di Indonesia adalah
25,5% (rentang: 17,5% - 41,4%) dengan 16 provinsi di antaranya mempunyai prevalensi di
atas angka nasional. Kasus ISPA pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit.
Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
Angka ISPA tertinggi pada balita (>35%), sedangkan terendah pada kelompok umur
15 - 24 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi sesuai dengan meningkatnya umur.
antara laki-laki dan perempuan relatif sama, dan sedikit lebih tinggi di pedesaan. ISPA
cenderung lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran per
kapita lebih rendah (Riskerdas, 2007). Program pemberantasan ISPA secara khusus telah
dimulai sejak tahun 1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh ISPA, namun
kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih tetap tinggi (Rasmaliah, 2004).
Kematian akibat ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di Indonesia pada akhir tahun 2000
sebanyak lima kasus di antara 1.000 bayi/balita. Berarti, akibat ISPA, sebanyak 150.000
bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban per bulan atau 416 kasus sehari atau
17 anak per jam atau seorang bayi/balita tiap lima menit (WHO, 2007). Di Indonesia,
prevalensi nasional ISPA 25% (16 Provinsi di atas angka rasional), angka kesakitan

(morbiditas) pneumonia pada bayi 2,2%, balita 3%, sedangkan angka kematian (mortalitas)
pada bayi 23,8% dan balita 15,5% (Riskerdas, 2007).
Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, Departemen Kesehatan RI menetapkan
10 program prioritas masalah kesehatan yang ditemukan di masyarakat untuk mencapai
tujuan Indonesia Sehat 2010, dimana salah satu diantaranya adalah Program Pencegahan
Penyakit Menular termasuk penyakit ISPA (Depkes RI, 2002). Menurut survey kesehatan
Indonesia, angka kematian Balita pada tahun 2007 sebesar 44/1000 kelahiran hidup,
sementara perkiraan kelahiran hidup diperoleh 4.467.714 bayi. Berdasarkan data tersebut
dapat dihitung jumlah kematian balita 196.579. Menurut Riskesdas penyebab kematian
balita karena ISPA adalah 15,5% dan jumlah kematian balita akibat ISPA setiap harinya
adalah 30.470 atau rata rata 83 orang balita ( Depkes, 2007). Prevalensi penyakit ISPA di
Kabupaten Malang pada tahun 2004 sebanyak 1.161 kasus dengan penderita balita
sebanyak 884 jiwa, tahun 2005 penderita pneumoni sebanyak 5056 jiwa dengan jumlah
penderita balita sebanyak 1866 jiwa, tahun 2006 sebanyak 1855 balita, dan tahun 2007
sebanyak 2486 balita (100% balita tertangani) serta tahun 2008 sebanyak 2.205 balita yang
semuanya tertangani.
Kejadian penyakit terbanyak di Desa Petungsewu berdasarkan hasil pengkajian
pada januari 2016 adalah ISPA sebanyak 35 kasus, sakit gigi, pusing dan panas sebanyak 9
kasus, hipertensi sebanyak 8 kasus, gastritis sebanyak 6 kasus, rheumatik sebanyak 5
kasus, gatal-gatal sebanyak 4 kasus, sakit mata sebanyak 3 kasus, diabetes mellitus
sebanyak 1 kasus dan lain-lain seperti diare sebanyak 5 kasus.. Oleh karena itu, kami
bermaksud menerapkan asuhan keperawatan komunitas pada desa Petungsewu terutama
RT 16,17,18,19, dan 20 di RW 4 desa Petungsewu untuk menanggulangi masalah dan
mencegah penularan penyakit ISPA.

1.2

Tujuan

1.2.1

Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengenali dan mengamati keadaan kesehatan masyarakat
serta mampu menanggulangi masalah kesehatan terkait ISPA bersama
masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi yang terdapat di
masyarakat.

1.2.2

Tujuan khusus
1. Berkomunikasi secara efektif dengan tokoh masyarakat dan semua lapisan
masyarakat.
2. Mengumpulkan, mengolah dan menganalisa data kesehatan masyarakat
terkait ISPA

3. Memotivasi masyarakat dalam upaya mengenali dan mengatasi masalah


ISPA
4. Bersama

masyarakat

menyusun

perencanaan

kegiatan

dalam

menanggulangi masalah ISPA yang terdapat pada masyarakat.


5. Mengenali dan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat guna
mengatasi masalah ISPA yang dihadapi.
6. Melaksanakan kegiatan bersama masyarakat dalam mengatasi masalah
ISPA yang dihadapi.
7. Mengevaluasi hasil pelaksanaan kegiatan dan tindak lanjut dari tiap
masalah keperawatan yang telah ditemukan.
1.3

Manfaat
1.2.1

Bagi Mahasiswa
1. Mengaplikasikan ilmu yang didapat kepada masyarakat tentang kesehatan
khususnya terkait ISPA.
2. Meningkatkan cara mengenali masalah kesehatan dan menentukan langkah
penyelesaiannya.
3. Meningkatkan

komunikasi,

kerjasama

dan

koordinasi

dengan

warga

masyarakat untuk penyelesaian masalah di masyarakat terkait ISPA.


1.2.2

Bagi Masyarakat
1. Masyarakat memahami permasalahan kesehatan terkait bahaya penyakit
ISPA dan termotivasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
2. Masyarakat dapat melakukan deteksi dini penyakit ISPA, serta dapat
memahami penanganan anggota keluarga dengan ISPA.
3. Masyarakat dapat menunjukkan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat
dalam usaha melakukan pencegahan penyakit

1.2.3

Bagi Pelayanan Kesehatan


Diharapkan dapat memberikan masukan berupa informasi tentang kondisi
kesehatan masyarakat terkait ISPA yang termasuk dalam wilayah kerja
puskesmas guna membantu program kesehatan pada masyarakat.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teori
2.1.1 Definisi ISPA
ISPA adalah penyakit infeksi yang sangat umum dijumpai pada anak-anak
dengan gejala batuk, pilek, panas atau ketiga gejala tersebut muncul secara
bersamaan (Meadow, Sir Roy. 2002:153).
ISPA adalah Infeksi saluran pernafasan yang berlangsung sampai 14 hari yang
dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin maupun udara pernafasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat (Depkes RI, 2012).
Infeksi saluran pernafasan adalah mulai dari infeksi respiratori atas dan
adneksanya hingga parenkim paru. Sedangkan pengertian akut adalah infeksi yang
berlangsung hingga 14 hari (Nastiti, 2008).
Infeksi pernafasan akut adalah proses inflamasi yang disebabkan oleh virus,
bakteri, atipikal (mikro plasma) atau aspirasi substansi asing, yang melibatkan suatu
atau semua bagian saluran pernafasan (Wong,D.L,2003:458).
a. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisma ke dalam tubuh manusia dan
berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
b. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ
adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara
anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian
bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan.
Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory
tract).
c. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari
diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang
dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
2.1.2

Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
Penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus,
Hemofilus, Bordetella dan Corinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan
Micsovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpessvirus
(Depkes RI, 2000).
Bakteri tersebut di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran
pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut

menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah misalnya saat perubahan


musim panas ke musim hujan (PD PERSI, 2002).
2.1.3

Manifestasi Klinis
Gambaran klinis infeksi saluran pernafasan akut bergantung pada tempat
infeksi serta mikroorganisme penyebab infeksi. Semua manifestasi klinis terjadi
akibat proses peradangan dan adanya kerusakan langsung akibat mikroorganisme.
Manifestasi klinis antara lain :
a. Batuk
b. Bersin dan kongesti nasal
c. Pengeluaran mukus dan rabas dari hidung
d. Sakit kepala
e. Demam
f.

Malaise (Corwin, 2008)


Menurut Suyudi,2002 gejala ISPA adalah sebagai berikut :

a. Gejala ISPA ringan


Seorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan gejala
sebagai berikut :
1) Batuk
2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
(misalnya pada waktu berbicara atau menangis).
3) Pilek yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak diraba
dengan punggung tangan terasa panas.
Jika anak menderita ISPA ringan maka perawatan cukup dilakukan di
rumah tidak perlu dibawa ke dokter atau Puskesmas. Di rumah dapat diberi obat
penurun panas yang dijual bebas di toko-toko atau Apotik tetapi jika dalam dua
hari gejala belum hilang, anak harus segera di bawa ke dokter atau Puskesmas
terdekat.
b. Gejala ISPA sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika di jumpai gejala
ISPA ringan dengan disertai gejala sebagai berikut :
1) Pernapasan lebih dari 50 kali /menit pada anak umur kurang dari satu tahun
atau lebih dari 40 kali/menit pada anak satu tahun atau lebih.
2) Suhu lebih dari 390C.
3) Tenggorokan berwarna merah.
4) Timbul bercak-bercak pada kulit menyerupai bercak campak

5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga


6) Pernafasan berbunyi seperti mendengkur.
7) Pernafasan berbunyi seperti mencuit-cuit.
Dari gejala ISPA sedang ini, orangtua perlu hati-hati karena jika anak
menderita ISPA ringan, sedangkan anak badan panas lebih dari 390C, gizinya
kurang, umurnya empat bulan atau kurang maka anak tersebut menderita ISPA
sedang dan harus mendapat pertolongan petugas kesehatan.
c. Gejala ISPA berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika ada gejala ISPA
ringan atau sedang disertai satu atau lebih gejala sebagai berikut:
1) Bibir atau kulit membiru
2) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernapas
3) Anak tidak sadar atau kesadarannya menurun
4) Pernafasan berbunyi mengorok dan anak tampak gelisah
5) Pernafasan menciut dan anak tampak gelisah
6) Nadi lebih cepat dari 60x/menit
7) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernapas
8)
2.1.4

Tenggorokan berwarna merah

Klasifikasi
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai
berikut:
a. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
b. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
c. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis
dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia

2.1.5

Hubungan Ispa dengan virus


Beberapa penelitian agen telah di lakukan di luar negeri. Seperti penelitian
yang di lakukan oleh debora tahun 2012, dalam penelitiannya tentang Rhinovirus
detection by real-time RT-PCR in children with acute respiratory infection in Buenos
Aires, Argentina, yaitu

deteksi rhinovirus pada anak dengan infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA).


ISPA merupakan penyakit yang sangat umum dan jenis infeksi bervariasi
yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti usia, lingkungan, dan kondisi

komorbiditas. Lebih dari 200 virus penyebab yang berbeda telah dijelaskan. Salah
satu penelitian yang dilakukan oleh Debora di Buenos Aires, Argentina menyatakan
bahwa rhinovirus (HRV)

merupakan penyebab utama flu biasa dan dapat

menyebabkan ISPA pada manusia. Rhinovirus Manusia (HRV) merupakan famili dari
Picornaviridae, dan di klasifikasikan dalam genus Enterovirus. Sampai saat ini, lebih
dari 100 serotipe telah dijelaskan dan diklasifikasikan menjadi 3 spesies: A, B dan C.
Spesies HRV C hanya dapat dideteksi dengan menggunakan metode molekuler.
Genom mereka adalah satu 7,2-kb RNA untai positif dengan satu bingkai bacaan
terbuka (Savolainen, 2003).
HRV merupakan penyebab paling sering pilek umum dan juga terkait dengan
otitis media akut pada anak dan sinusitis pada orang dewasa. Penelitian terbaru
telah menetapkan bahwa HRV dapat menginfeksi saluran pernafasan bagian bawah
sehingga

menyebabkan

pneumonia

dan

bronchiolitis

pada

anak-anak

(Papadopoulos, 2002). Infeksi HRV tanpa gejala juga dapat terjadi pada bayi, anakanak dan orang dewasa. Isolasi HRV dalam kultur sel sangat sulit dilakukan, tidak
sensitif dan memakan waktu yang lama. Pengembangan metode molekuler telah
meningkatkan kelayakan deteksi HRV. Beberapa reaksi berantai (RT-PCR) tes
transkripsi-polimerase terbalik telah dikembangkan untuk mendeteksi sensitif dan
diferensiasi HRV. Frekuensi HRV terdeteksi oleh metode molekuler pada anak-anak
yang dirawat di rumah sakit dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berkisar
antara 6%-35%. Meskipun HRV sering terdeteksi pada koinfeksi dengan virus
pernapasan lainnya, peran simultan belum diketahui. Beberapa penulis telah
mengusulkan bahwa koinfeksi virus meningkatkan keparahan penyakit, sementara
yang lain tidak menemukan perbedaan antara koinfeksi dan infeksi tunggal (Calvo,
2007).
2.1.6

Hubungan ISPA dengan bakteri


Bakteri dapat menyebabkan terjadinya ISPA secara langsung pada anak.
Penelitian yang dilakukan oleh Almasri tahun 2011 di Yunani menyebutkan bahwa
Mycoplasma pneumoni merupakan penyebab umum dari infeksi saluran pernafasan
(ISR) terutama pada anak-anak. Teknik diagnostik baru yang ditawarkan informasi
yang dapat diandalkan tentang epidemiologi infeksi oleh patogen ini.
Penelitian ini melibatkan 225 anak yang dirawat di rumah sakit Yunani selama
periode 15 bulan. Metode yang digunakan dengan menggunakan spesimen usap
tenggorokan lalu diuji dengan PCR untuk mendeteksi Mycoplasma pneumoni,
sedangkan IgG dan IgM ditentukan dengan metode ELISA.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Infeksi Mycoplasma pneumoni di


diagnosis sebagai satu-satunya patogen di 25 kasus atau sekitar (11,1%).
Mycoplasma pneumoni adalah agen penyebab kedua Infeksi saluran pernafasan
setelah RSV. Proporsi anak dengan Mycoplasma pneumoni meningkat dengan
bertambahnya usia, sementara sebagian besar kasus yang dilaporkan selama
musim panas dan musim gugur.
Mycoplasma pneumoni memainkan peran yang lebih signifikan dalam
menyebabkan infeksi saluran pernafasan (ISR) pada anak. Gambaran klinis infeksi
Mycoplasma pneumoni berbagai macam, termasuk faringitis, tracheobronchitis,
sementara sekitar sepertiga dari pasien yang terinfeksi menderita pneumonia.
Namun, penelitian lain melaporkan bahwa kasus pneumonia merupakan 3-10% dari
infeksi, sedangkan mayoritas adalah sakit pernapasan ringan. Pada anak-anak,
Mycoplasma pneumoni menyebabkan hingga 40% atau lebih penyakit pneumonia
dan sebanyak 18% dari kasus harus di rawat di rumah sakit. Wabah infeksi
Mycoplasma pneumoni dapat terjadi dalam masyarakat atau dalam pengaturan
tertutup atau semiclosed, seperti pangkalan militer, rumah sakit, komunitas
keagamaan, dan sekolah.
Diagnosis pneumonia didasarkan pada adanya infiltrat baru pada radiografi
dada (infiltrat, kekeruhan atau konsolidasi tunggal atau ganda), gejala (seperti
menggigil, suara serak, sakit tenggorokan dan nyeri dada), dan temuan pemeriksaan
fisik (rales atau crackles, mengeluarkan bunyi pada auskultasi pada pernapasan
bronkial).
2.1.7

Patofisiologi
Penyakit ISPA disebabkan oleh virus dan bakteri yang disebarkan melalui
saluran pernafasan yang kemudian dihirup dan masuk ke dalam tubuh, sehingga
menyebabkan respon pertahanan bergerak yang kemudian masuk dan menempel
pada saluran pernafasan yang menyebabkan reaksi imun menurun dan dapat
menginfeksi saluran pernafasan yang mengakibatkan sekresi mucus meningkat dan
mengakibatkan saluran nafas tersumbat dan mengakibatkan sesak nafas dan batuk
produktif.
Ketika saluran pernafasan telah terinfeksi oleh virus dan bakteri yang kemudian
terjadi reaksi inflamasi yang ditandai dengan rubor dan dolor yang mengakibatkan
aliran darah meningkat pada daerah inflamasi dengan tanda kemerahan pada faring
mengakibatkan hipersensitifitas meningkat dan menyebabkan timbulnya nyeri. Tanda
inflamasi berikutnya adalah kalor, yang mengakibatkan suhu tubuh meningkat dan
menyebabkan hipertermi yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan cairan yang

kemudian mengalami dehidrasi. Tumor, adanya pembesaran pada tonsil yang


mengakibatkan kesulitan dalam menelan yang menyebabkan intake nutrisi dan
cairan inadekuat. Fungsiolesa, adanya kerusakan struktur lapisan dinding saluran
pernafasan sehingga meningkatkan kerja kelenjar mucus dan cairan mucus
meningkat yang menyebabkan batuk.
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder
bakteri. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mucus bertambah banyak
dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga menimbulkan sesak nafas dan juga
menyebabkan batuk yang produktif.
Dampak infeksi sekunder bakteri pun bisa menyerang saluran nafas bawah,
sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran pernafasan
atas, setelah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-paru sehingga
menyebabkan pneumonia bakteri (Sylvia, 2005).

Pathway

2.1.8

Penatalaksanaan
Pengobatan ISPA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut (Rasmaliah,
2004):
a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,
oksigendan sebagainya.
b. Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik
pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.

c. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan


dirumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat
batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,
dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada
pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat)
disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai
radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi
antibiotik (penisilin) selama 10 hari.
2.1.9

Pencegahan
Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi
pencegahan ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA adalah:
a. Mengusahakan agar anak mempunyai gizi yang baik
1) Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah
makanan yang paling baik untuk bayi.
2) Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
3) Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu
mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak,
vitamin dan mineral.
4) Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein
misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi
atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan
mineral dari sayuran,dan buah-buahan.
5) Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui
apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah
ada penyakit yang menghambat pertumbuhan. ( Dinkes DKI,2005).
b. Mengusahakan kekebalan anak dengan imunisasi
Agar

anak

memperoleh

kekebalan dalam

tubuhnya

anak perlu

mendapatkan imunisasi yaitu DPT . Imunisasi DPT salah satunya


dimaksudkan untuk mencegah penyakit.

Pertusis yang salah satu

gejalanya adalah infeksi saluran nafas (Depkes RI, 2002).


c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi
pencegahan

penyakit

ISPA,

sebaliknya

perilaku

yang

tidak

mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit.

Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat,


desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).
d. Pengobatan segera
Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua tidak
memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada
tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung
vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang
terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter
(PD PERSI, 2002).

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA
IDENTIFIKASI DATA
1. Nama Keluarga

: Tn. Nur Kholid

2. Alamat

:RT. 20 RW 04 Desa Petungsewu Kec. Dau Kab. Malang

3. Komposisi Keluarga

NAMA
NO

JENIS

(AKHIR,

TEMPAT,
HUBUNGAN

TANGGAL

KK

LAHIR
05-08-1956

Petani

SD

KELAMIN

PEKERJAAN PENDIDIKAN

1.

DEPAN)
Tn. N

2.

Ny. L

Istri

08-07-1959

IRT

SD

3.

An. NR

Anak

06-04-2012

4. Genogram dan ecomap


1

Tn. N
60 th

: Laki laki

: perempuan

An.
NR 4
th
: meninggal karena tua
: Hipotensi

:Tinggal dalam satu rumah


X
1

: appendisitis+ca. Colon

: Meninggal
: Meninggal karena tua

5. Tipe Bentuk Keluarga:

5:

keracunan / intoksikasi

Ny, L
57th
HT

5. 1

Jenis tipe keluarga: keluarga inti

5. 2 Masalah yang terjadi dengan tipe tersebut:


Tidak ada masalah dengan tipe keluarga tersebut. Jika ada masalah ataupun
perbedaan pendapat, akan dirundingkan antar anggota keluarga, sehingga tidak
menimbulkan stress dan konflik yang besar.
6. Latar Belakang Budaya (Etnis)
6.1.

Latar Belakang Etnis Keluarga atau Anggota Keluarga


Kedua orang tua berasal dari jawa. Tn. N berdomisili di Desa Petungsewu sejak
lahir, sedangkan Ny. L berasal dari Kecamatan Klojen Kota Malang.

6.2.

Tempat Tinggal Keluarga (bagian dari sebuah lingkungan yang secara etnis
bersifat homogen). Uraikan.
Hampir seluruh masyarakat di sekitar rumah klien bersuku kebangsaan Jawa. Tn.
N dan Ny. L jarang hampir selalu mengikuti kegiatan di masyarakat yaitu tahlilan,
Ny. L juga ruting mengikuti posyandu bersama putrinya.

6.3.

Kegiatan-kegiatan Keagamaan, sosial, budaya, rekreasi, pendidikan (Apakah


kegiatan-kegiatan ini berada dalam kelompok kultur/budaya keluarga). Sebutkan.
Tn. N dan Ny. L rutin mengikuti kegiatan yang diadakan di lingkungannya yaitu
tahlilan setiap minggu. Ny. L aktif mengikuti PKK yang diselenggarakan di
lingkungannya. Tidak ada budaya khusus yang berkembang di dalam keluarga Tn.
N. Rekreasi dalam keluarga ini tidak harus selalu pergi ke tempat-tempat hiburan.
Rekreasi yang paling sering dilakukan adalah berkumpul bersama dengan
keluarga atau main kerumah sanak saudara.

6.4.

Kebiasan-kebiasan diet dan berbusana (tradisional atau modern). Sebutkan.


Tn. N biasanya hanya makan 1-2 kali sehari setelah bekerja, klien mengatakan
tidak terbiasa sarapan dan hanya minum air putih saja sebelum berangkat kerja.
Ny. L biasanya makan 2-3 kali sehari, dan An. NR biasa makan setidaknya 3 kali
dalam sehari. Ny. L mengatakan bahwa putrinya tidak mengalami kesulitan dalam
makan. Dalam keluarga selalu tersedia menu setidaknya nasi dan sayur, jarang
mengkonsumsi daging dan lebih sering ikan atau telur. Ny. L mengatakan bahwa
keluarga jarang mengkonsumsi buah hanya paling tidak satu atau dua minggu
sekali.
Dalam hal berbusana tidak ada perbedaan yang menonjol dengan lingkungannya,
keluarga jarang membeli baju, saat hari raya juga jarang membeli baju, terkadang
hanya membelikan baju untuk An. NR.

6.5.

Struktur kekuasaan keluarga tradisional atau modern. Sebutkan.

Modern, karena kekuatan kekuasaan sama antara ayah dan ibu, semua masalah
disikapi dengan demokratis dan keputusan diambil berdasarkan mufakat. Trdapat
pembagian tugas dalam keluarga. Ayah bertugas mencari dan memenuhi nafkah
bagi keluarga, sedangkan ibu bertugas mengatur urusan rumah tangga. Saat ada
anggota keluarga yang sakit keputusan berbobat berada di tangan ibu.
6.6.

Bahasa (bahasa-bahasa) yang digunakan di rumah


Tn. N dan Ny. L menggunakan bahasa jawa saat bekomunikasi dengan anaknya
dan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Dalam keluarga tidak terdapat
strata dalam penggunaan bahasa semua disampaikan

6.7.

Penggunaan jasa-jasa perawatan kesehatan keluarga dan praktisi.


Keluarga biasanya membeli sendiri obat di warung untuk penyakit-penyakit ringan
seperti influenza atau menggunakan bidan desa jika terdapat keluarga yang sakit.
Ibu rutin membawa anaknya mengunjungi Posyandu untuk mengukur berat
badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan.

7. Identifikasi Religius
7.1.

Apakah anggota keluarga berbeda dalam praktik keyakinan beragamaan mereka.


Jelaskan.
Keluarga memiliki satu keyakinan dalam beragama antar anggota keluarganya.

7.2.

Seberapa aktif keluarga tersebut terlibat dalam kegiatan agama atau organisasiorganisasi keagamaan lain. Jelaskan.
Keluarga selalu taat beribadah dengan shalat 5 waktu, mengaji dan melakukan
puasa senin kamis serta amalan-amalan yang lain. Keluarga selalu menanamkan
pentingnya beribadah pada anak sejak masih kecil. Baik ayah maupun ibu selalu
terlibat dalam acara tahlilan yang diadakan dilingkungan rumahnya. Tn. N sering
memimpin jalannya tahlil di lingkungan RT

7.3.

Keluarga menganut agama apa. Sebutkan.


Islam

7.4.

Kepercayaan-kepercayaan

dan

nilai-nilai

keagamaan

yang

dianut

dalam

kehidupan keluarga terutama dalam hal kesehatan. Sebutkan.


Keluarga selalu mengajarkan pentingnya kebersihan bagi diri kepada anaknya dan
keutamaan menjaga kebersihan menurut agama. Keluarga juga mengajarkan
kepada anaknya bahwa tidak diperkenankan mengkonsumsi makanan atau
minuman yang diharamkan oleh agama dan yang dapat mengganggu kesehatan.

8. Status Kelas Sosial (berdasarkan pekerjaan, pendidikan dan pendapatan)

8.1.

Status Ekonomi
Jumlah Pendapatan setiap kali panene @6 bulan : Rp 3.600.000
Jumlah Pendapatan per Bulan

: Rp 600.0000,00

Sumber-sumber Pendapatan per Bulan : Hail bertani dan merawat ternak orang
Jumlah Pengeluaran per Bulan

Anggaran belanja

: 30 x Rp 10.000,00 : Rp. 300.000

Bahan bakar (LPG) : 2 X Rp. 17.000

: Rp 34.000

Kendaraan

: Rp 50.000

: Rp 50.000

Air

: Rp 20.000

: Rp 20.000

Listrik

: Rp 50.000

: Rp 50.000

Lain-lain

: Rp 50.000

: Rp 50.000

Total

: Rp 504.000

Apakah Sumber Pendapatan mencukupi kebutuhan keluarga:


ya

tidak

9. Aktivitas Rekreasi atau Waktu Luang


9.1.

Tulislah aktivitas-aktivitas waktu luang dari subsistem keluarga.


Keluarga lebih banyak menghabiskan waktu luang untuk berkumpul bersama di
rumah atau mengunjungi sanak saudara. Setelah berkumpul bersama saudara
keluarga merasa lebih semangat dalam kembali bekerja.

RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


10. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga ini dalam tahap perkembangan keluarga dengan anak preschool
11. Sejauh mana keluarga memenuhi tugas-tugas perkembangan yang sesuai dengan tahap
perkembangan saat ini. Jelaskan.
Perkembangan keluarga sudah sesuai dengan tahap perkembangannya. Perlu
pembelajaran sosialisasiadat, nilai dan budaya yang dianut oleh keluarga sebagian
besar dilakukan oleh ibu,

pengawasan bermain dan belajar pada anak. Anak lebih

banyak menghabiskan waktu bersama ibu. Sedangkan ayah biasanya mengajak anak
bermain sore hari setelah bekerja.
12. Riwayat keluarga mulai lahir hingga saat ini, termasuk riwayat perkembangan dan
kejadian-kejadian dan pengalaman-pengalaman kesehatan yang unik atau yang
berkaitan dengan kesehatan (perceraian, kematian, hilang, dll) yang terjadi dalam
kehidupan keluarga. Sebutkan.
a)

Riwayat kesehatan keluarga saat ini:

Tn. N sering mengalami linu-linu.

Ny. L memiliki riwayat hipertensi, tekanan darah saat pengkajian 140/100


mmHg. Ny. L mengalami keterlambatan usia saat menikah, usia saat hamil

pertama adalah 53 tahun dan melahirkan dengan normal di bidan desa.

An. NR memiliki masalah kesehatan aalergi dingin, An. NR selalu pilek saat
malam datang ataupun saat udara lebih dingin dari biasanya. Status imunisasi
An. NR lengkap dan selalu mengikuti kegiatan posyandu yang diadakan rutin
setiap bulan dengan diantar oleh Ny. L

Tn. N dan Ny. L mengalami keterlabatan menikah sehingga di usianya saat ini
masih memiliki anak dengan usia 4 tahun

13. Keluarga asal kedua orang tua (seperti apa kehidupan keluarga asalnya; hubungan
masa silam dan saat dengan orang tua dari kedua orang tua). Ceritakan.
Tn. Penduduk asli Desa Petung Sewu, sedangkan Ny. L berasal dari Kecamatan Klojen
Malang , hubungan dengan orangtua sebelum orang tua meniggal sangat baik. Orang
tua Tn. N meninggal karena tua, sedangkan orangtua Ny. L meninggal karena sakit, yaitu
hipotensi yang dialami oleh ayah Ny. L dan ibu Ny. L mengalami usus buntu
(appendisitis) dan kanker usus besar (Ca. Colon)

DATA LINGKUNGAN
14. Karakteristik Rumah
14.1. Gambar tipe tempat tinggal (rumah, apartemen, sewa kamar, dll). Apakah keluarga
memiliki sendiri atau menyewa rumah ini

Keluarga tinggal di rumah sendiri

14.2. Gambarkan kondisi rumah (baik interior maupun eksterior rumah). Interior rumah
meliputi jumlah kamar dan tipe kamar (kamar tamu, kamar tidur, dll), penggunaanpenggunaan kamar tersebut dan bagaimana kamar tersebut diatur. Bagaimana
kondisi dan kecukupan perabot. Apakah penerangan ventilasi, pemanas. Apakah
lantai, tangga, susunan dan bangunan yang lain dalam kondisi yang adekuat.
Jelaskan.
Keluarga Tn. N tinggal di rumah dengan luas 9x11 meter dengan tipe bangunan
semi permanen, dinding terbuat dari anyaman bambu, lantai tanah. Hanya
terdapat dua jendela di dalam rumah yaitu di ruang tamu , namun jenis jendela
yang dimiliki adalah jendela mati yang tidak bisa dibuka. Hanya terdapat satu
kamar tidur dengan satu tempat tidur. Dapur terletak diluar rumah dengan
menggunakan tungku dan letak dapur berdekatan dengan kandang ternak
14.3. Di dapur, amati suplai air minum, penggunaan alat-alat masak, pengamanan untuk
kebakaran. Jelaskan.
Keadaan air bersih , tidak berwarna dan tidak berbau, berasal dalri tandon yang
dimiliki oleh desa. Penggunaan alat masak berasal dari tungku kayu bakar.
Terdapat kompor gas namun tidak digunakan oleh keluarga. Limbah rumah tangga
dibuang di sungai yang terletak di belakang rumah.
14.4. Di kamar mandi, amati sanitasi, air, fasilitas toilet, ada tidaknya sabun dan handuk.
Jelaskan.

Sanitasi air bersih , terdapat toilet berjenis leher angsa, terdapat sabun dan alat
mandi lainnya, namun handuk digunakan bersama oleh keluarga.
14.5. Kaji pengaturan tidur di dalam rumah. Apakah pengaturan tersebut memadai bagi
pada anggota keluarga, dengan pertimbangan usia mereka, hubungan dan
kebutuhan-kebutuhan khusus mereka lainnya. Jelaskan.
Hanya terdapat satu tempat tidur yang digunakan oleh keluarga, dilihat dari segi
kondisinya tidak dapat dikatan cukup untuk tiga orang karena tempat tidur yang
dimiliki tidak terlalu besar mengingat anak Tn. N dan Ny. L telah berusia 4 tahun
dan memiliki tubuh yang agak besar.
14.6. Amati keadaan umum kebersihan dan sanitasi rumah. Apakah ada serbuan
serangga-serangga kecil (khususnya di dalam) dan/atau masalah-masalah
sanitasi yang disebabkan oleh kehadiran binatang-binatang piaraan. Jelaskan.
Tidak ditemukan adanya serangga-serangga kecil di dalam rumah Tn. N dan Ny. L
14.7. Kaji perasaan-perasaan subjektif keluarga terhadap rumah. Apakah keluarga
menganggap rumahnya memadai bagi mereka. Jelaskan.
Keluarga mengatakan bahwa rumah yang saat ini dimilikinya masih belum cukup
baik terutama dari kebersihan karena lantai masih terbuat dari tanah, dan
dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu yang sering bocor ketika hujan
deras. Namun Tn. N dan Ny. L bersyukur dengan tempat tinggal yang mereka
punyai saat ini.
14.8. Evaluasi pengaturan privasi dan bagaimana keluarga merasakan privasi mereka
memadai. Jelaskan
Pengaturan privasi sudah dilakukan dengan baik di dalam keluarganya dan
keluarga merasa nyaman dengan pengaturan privasi yang telah berjalan.
14.9

Evaluasi

ada

dan

tidak

adanya

bahaya-bahaya

terhadap

keamanan

rumah/lingkungan.
Akses jalan menuju rumah masuk gang , keluar dari gang merupakan jalan utama
yang lumayan sering dilewati oleh kendaraan-kendaraan bermotor
14.10.Evaluasi adekuasi pembuangan sampah. Jelaskan.
Sampah rumah tangga dibuang ke sungai karena di desa petung sewu belum
memiliki TPA dan Tn. N takut rumahnya akan terbakar jika ia mengolah
sampahnya dengan dibakar.
14.11. Kaji perasaan puas/tidak puas dari anggota keluarga secara keseluruhan dengan
pengaturan/penataan rumah. Jelaskan.
Keluarga mengatakan sudah cukup puas dengan kondisi rumah mereka
15. Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang Lebih Luas

15.1. Apa karakteristik-karakteristik fisik dari lingkungan yang paling dekat dan
komunitas yang lebih luas?

Tipe lingkungan/komunitas (desa, kota, subkota, antarkota). Sebutkan.


Rumah klien dapat disebut berada pada komunitas desa dengan karakteristik
penduduknya bekerja sebagai petani dan buruh bangunan atau pekerja
serabutan.

Tipe tempat tinggal (hunian, industrial, campuran hunian dan industri kecil,
agraris) di lingkungan. Sebutkan.
Penduduk mayoritas ialah warga asli daerah Petungsewu Dau sehingga
rumah yang mereka tempati kebanyakan adalah milik pribadi

Keadaan tempat tinggal dan jalan raya (terpelihara, rusak, tidak terpelihara,
sementara diperbaiki). Jelaskan.
Jalan raya di desa ini lumayan cukup bagus walaupun masih ada sedikitsedikit jalannan yang berlubang tapi secara keseluruhan akses menuju desa
ini terbilang bagus

Sanitasi jalan, rumah (kebersihan, pengumpulan sampah, dll). Jelaskan.


Sanitasi cukup bagus terdapat selokan di depan rumah namun untuk sistem
pembuangan sampah masih dilakukan dengan dibuang ke sungai karena Desa
Petungsewu belum memiliki TPA.

Adanya dan jenis-jenis industri di lingkungan (udara, kebisingan, masalahmasalah polusi air). Jelaskan.
Sebagian besar lingkungan Desa Petungsewu merupakan kebun jeruk.
Terdapat pabrik permen dengan jarak 5 km dari desa. Sungai yang mengalir di
Desa Petungsewu tercemar oleh limbah rumah tangga yang dibuang oleh
masyarakat Desa Petungsewu.
15.2. Bagaimana karakteristik demografis dari lingkungan dan komunitas?

Kelas sosial dan karakteristik etnis penghuni. Sebutkan.


Secara umum penduduk bersuku jawa yang merupakan penduduk asli warga
Petungsewu,

Dau.

Mayoritas

pekerjaanya

sebagai

petani,

buruh

bangunan/serabutan atau pegawai pabrik

Perubahan-perubahan secara demografis yang berlangsung belakangan ini


dalam lingkungan/komunitas. Jelaskan.
Tidak ada
15.3. Pelayanan-pelayanan kesehatan dan pelayanan-pelayanan sosial apa yang ada
dalam lingkungan dan komunitas?

Fasilitas-fasilitas ekonomi (warung, toko, apotik, pasar). Sebutkan.

Di desa ini terdapat poskesdes , bidan desa, dan seorang mantri desa.
Fasilitas seperti warung kecil-kecilan cukup banyak ditemukan, untuk pasar di
desa ini letaknya cukup jauh, sehingga banyak pedagang keliling seperti
pedagang

sayur-

mayur,

peralatan

rumah

tangga

yang

berjualan

menggunakan mobil di desa ini .

Lembaga-lembaga kesehatan (klinik-klinik, rumah sakit, dan fasilitas-fasilitas


gawat darurat). Sebutkan.
Tidak terdapat fasilitas seperti klinik atau rumah sakit di desa ini, hanya
terdapat poskesdes saja.

Lembaga-lembaga pelayanan sosial (kesejahteraan, konseling, pekerjaan).


Sebutkan.
Tidak ada
15.4. Bagaimana mudahnya sekolah-sekolah di lingkungan atau komunitas dapat
diakses dan bagaimana kondisinya?. Jelaskan.
Terdapat dua sekolah dasar yang berada di lingkungan Desa Petungsewu
15.5. Fasilitas-fasilitas rekreasi yang dimiliki daerah ini. Sebutkan.
Terdapat balai RW dan balai desa yang sering digunakan sebagai tempat jika
ada acara
15.6. Tersedianya transportasi umum. Bagaimana pelayanan-pelayanan dan fasilitasfasilitas tersebut dapat diakses (dalam arti, jarak, kecocokan, dan jam, dll) kepada
keluarga. Jelaskan.
Tidak ada transportasi umum seperti angkutan umum yang masuk ke desa ini
15.7. Bagaimana insiden kejahatan di lingkungan dan komunitas? Apakah ada masalah
keselamatan yang serius?. Jelaskan.
Di Jalan menuju Desa Petungsewu sangant sepi dan rawan terhadap tindak
kejahatan terutama pada malam hari
16. Mobilitas Geografis Keluarga
16.1. Sudah berapa lama keluarga tinggal di daerah ini.
Tn. N merupakan penduduk asli Desa Petungsewu sejak lahir, sedangkan Ny. L
tinggal di Desa Petungsewu sejak menikah dengan Tn. N.
16.2. Apakah sering berpindah-pindah tempat tinggal? Jelaskan.
Tidak, keluarga Tn. N hanya bepergian di sekitar wilayah kota Malang
17. Hubungan Keluarga dengan Fasilitas-Fasilitas dalam Komunitas
17.1. Siapa di dalam keluarga yang sering menggunakan fasilitas pelayanan
kesehatan?. Sebutkan tempat pelayanan kesehatannya.

Keluarga ini tergolong jarang menggunakan fasilitas kesehatan, biasanya istrinya


pergi ke bidan desa setiap tiga bulan untuk suntik KB, dan mengikuti mengikuti
kegiatan posyandu untuk anak mereka
17.2. Berapa kali atau sejauh mana mereka menggunakan pelayanan dan fasilitas?
Sangat jarang sekali mereka menggunakan fasilitas kesehatan
17.3. Apakah keluarga memanfaatkan lembaga-lembaga yang ada di Komunitas untuk
Kesehatan Keluarga (JPS, JPKM, Dana Sehat, LSM)?. Sebutkan.
Keluarga ini tidak memanfaatkan fasilitas seperti BPJS karena terbukti mereka
mengatakan jika belum mendaftarkan diri sebagai anggota BPJS, mereka
mengatakan tidak memiliki biaya untuk dibayarkan setiap bulannya
17.4. Bagaimana keluarga memandang komunitasnya?
Mereka mengatakan warga dikampung mereka rukun- rukun dan saling bergotong
royong
18. Sistem Pendukung atau Jaringan Sosial Keluarga:
18.1. Siapa menolong keluarga pada saat keluarga membutuhkan bantuan, dukungan
konseling aktivitas-aktivitas keluarga (Sebutkan Lembaga Formal atau Informal;
Informal: Ikatan Keluarga, teman-teman dekat, tetangga; Formal: Lembaga Resmi
Pemerintah maupun Swasta/LSM)
Yang paling sering menolong keluarga jika memiliki permasalahan adalah
keluarga besar mereka dan tetangga-tetangga disebelah rumah
STRUKTUR KELUARGA
19. Pola-pola Komunikasi
19.1. Apakah mayoritas pesan anggota keluarga sesuai dengan isi dan instruksi?
iya

Apakah anggota keluarga mengutarakan kebutuhan-kebutuhan dan perasaanperasaan mereka dengan jelas?
Masing-masing anggota keluarga dapat mengutarakan kebutuhan dan
keinginan mereka dengan jelas kepada satu sama lainnya

Apakah anggota keluarga memperoleh dan memberikan respons dengan baik


terhadap pesan?
Iya

Apakah anggota keluarga mendengar dan mengikuti suatu pesan?


Iya

Bahasa apa yang digunakan dalam keluarga?


Bahasa jawa dan indonesia

Apakah keluarga berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung?.


Jelaskan.
Seluruh keluarga melakukan komunikasi secara langsung
19.2. Bagaimana pesan-pesan emosional (afektif) disampaikan dalam keluarga?
(Langsung,
terbuka)
Komunikasi yang digunakan dalam keluarga Tn. N yaitu komunikasi terbuka,
jika ada masalah maka akan dirembuk bersama dengan istri karena anak
masih kecil dan belum mampu memahami permasalahan yang ada.

Jenis-jenis emosi apa yang disampaikan dalam keluarga?. Sebutkan.


Marah, senang sedih

Apakah emosi-emosi yang disampaikan bersifat negatif, positif atau


keduanya?. Sebutkan.
Emosi yang disampaikan dapat bersifat keduanya, emosi dapat bersifat negatif
jika salah satu anggota keluarga melakukan perbuatan yang salah
19.3. Bagaimana frekuensi dan kualitas komunikasi yang berlangsung dalam
keluarga? Jelaskan
Komunikasi antar anggota keluarga sangat intens

Pola-pola umum apa yang digunakan menyampaikan pesan-pesan penting?


(langsung, tidak langsung, sebutkan caranya)
Biasanya komunikasi secara langsung dengan cara dibicarakan bersama jika
ada masalah
19.4. Jenis-jenis disfungsional komunikasi apa yang nampak dalam pola-pola
komunikasi keluarga?. Sebutkan.
Tidak ada
20. Struktur Kekuasaan
Keputusan dalam Keluarga
20.1. Siapa yang membuat keputusan dalam keluarga?
Kepala keluarga dalam hal ini Tn. N

Siapa yang memutuskan dalam penggunaan keuangan keluarga?


Istri dari Tn. N

Siapa yang memutuskan dalam masalah pindah pekerjaan atau tempat


tinggal?
Tn. N

Siapa yang mendisiplinkan dan memutuskan kegiatan-kegiatan anak?


Istri dan Tn. N

20.2. Bagaimana cara keluarga dalam mengambil keputusan (otoriter, musyawarah/


kesepakatan, diserahkan pada masing-masing individu)?
Keputusan diambil berdasarkan kesepakatan Tn. N dan Ny. L

Apakah keluarga merasa puas dengan pola pengambilan keputusan tersebut?


Ya
20.3. Atas dasar kekuasaan apa anggota keluarga membuat keputusan? (Kekuasaan
tak

berdaya,

keahlian,

penghargaan,

paksaan

kekuasaan

berdasarkan

kekuatan/berpengaruh, kekuasaan aktif). Sebutkan.


Atas dasar kekuasaan aktif dimana pengambil keputusan utama adalah ditangan
Tn. N sebagai kepala keluarga namun dengan memprtimbangkan masukan dari
anggota keluarga yang lain
20.4. Kekuasaan dalam keluarga didominasi oleh siapa?. Sebutkan dan Jelaskan
Tn. N selaku kepala keluarga
21. Struktur Peran
Struktur Peran Formal
21.1. Posisi dan peran formal apa pada setiap anggota keluarga?

Gambarkan bagaimana setiap anggota keluarga melakukan peran-peran


formal mereka.
Tn. N melakukan perannya sebagai seorang kepala keluarga yaitu mencari
nafkah
Ny. L melakukan perannya sebagai ibu rumah tangga yaitu mengurus keluarga
dan rumah serta mengelola keuangan keluarga
An. NR melakukan perannya sebagai anak

Adakah konflik peran dalam keluarga?. Jelaskan.


Sejauh ini tidak terdapat konflik
Struktur Peran Informal
21.2. Adakah peran-peran informal dalam keluarga?. Jelaskan.
Tidak ada

Siapa yang memainkan peran-peran tersebut dan berapa kali peran-peran


tersebut sering dilakukan atau bagaimana peran-peran tersebut dilaksanakan
secara konsisten?

Tujuan dari peran-peran informal yang dijalankan keluarga adalah: Sebutkan

21.3. Jika peran-peran informal bersifat disfungsional, siapa yang melaksanakan peranperan ini pada generasi sebelumnya?
21.4. Apa pengaruh/dampak terhadap orang (-orang) yang memainkan peran-peran
tersebut?
Analisa Model Peran
21.5. Siapa yang menjadi model dalam menjalankan peran di keluarga?. Sebutkan.
Tn. N selaku kepala keluarga
21.6. Apakah status sosial keluarga mempengaruhi dalam pembagian peran keluarga?
Tidak
21.7. Apakah budaya masyarakat, agama mempengaruhi dalam pembagian peran
keluarga?
Ya, kepala keluarga keluarga dalam hal ini Tn. N dianggap sebagai imam dan
tulang punggung keluarga
21.8. Apakah peran yang dijalankan oleh anggota keluarga sesuai dengan tahap
perkembangannya?
Ya
21.9.

Bagaimana masalah-masalah kesehatan mempengaruhi peran-peran

keluarga?
Dilakukan pembagian tugas kepada anggota keluarga yang lain yang tidak
dalam kondisi sakit

Adakah pengaturan kembali peran-peran baru dalam keluarga (sehubungan


dengan adanya yang sakit, meninggal, pindah, berpisah, dll)?
Tidak ada

Bagaimana anggota keluarga menerima peran-peran baru/menyesuaikan diri?


Tidak ada anggota keluarga yang menerima peran baru

Apakah ada bukti tentang stress atau konflik akibat peran? Tidak ada
Bagaimana respon anggota keluarga yang sakit bereaksi terhadap perubahan
atau hilangnya peran?
Menerima keadaan sakitanya dan peran atau tugasnya digantikan oleh orang
lain untuk sementara
22. Nilai-Nilai Keluarga
22.1. Apakah ada kesesuaian antara nilai-nilai keluarga dengan kelompok atau
komunitas yang lebih luas?. Jelaskan

Nilai yang ditanamkan dalam keluarga adalah menghormati orang yang lebih tua,
norma sopan santun dan mengamalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat
22.2. Bagaimana pentingnya nilai-nilai yang dianut bagi keluarga?. Jelaskan
Keluarga mengajarkan bahwa sesulit apapun keadaan keluarga tetap berusaha
keras menghadapi dan tidak putus asa apalagi sampai menyebabkan stress.
Saling membantu antar anggota keluarga. Nilai yang dianut dalam keluarga ialah
nilai agama tentang bagaimana seharusnya toleransi antar umat beragama serta
nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
22.3. Apakah nilai-nilai ini dianut secara sadar atau tidak sadar?
Nilai-nilai dianut secara sadar oleh keluarga
22.4. Apakah ada konflik nilai yang menonjol dalam keluarga?. Sebutkan
Tidak ada
22.5. Bagaimana kelas sosial keluarga, latar belakang kebudayaan mempengaruhi nilainilai keluarga?. Jelaskan.
Latar belakang budaya mempengaruhi keluarga yaitu budaya jawa, terutama
dalam hal berbicara dengan orang lain dan sopan santun
22.6. Bagaimana nilai-nilai keluarga mempengaruhi status kesehatan keluarga?.
Jelaskan.
Saat sakit selain berobat keluarga juga berdoa untuk meminta kesembuhan
FUNGSI KELUARGA
23. Fungsi Afektif
Pola Kebutuhan Keluarga Respons
23.1. Apakah anggota keluarga merasakan kebutuhan-kebutuhan individu-individu
lain dalam
keluarga?
Ya

Apakah orang tua (suami/istri) mampu menggambarkan kebutuhan-kebutuhan


psikologis anggota keluarganya?
Ya

Apakah setiap anggota keluarga memiliki orang yang dipercaya dalam


keluarga untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya?
Ya
23.2. Apakah kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, perbedaan dihormati oleh
anggota
keluarga yang lain?
Ya

Apakah dalam keluarga ada saling menghormati satu sama lain?


Ya

Apakah keluarga sensitif terhadap persoalan-persoalan setiap individu?


Ya
Saling Memperhatikan (Mutual Naturance), Keakraban, dan Identifikasi
23.3. Sejauh mana anggota keluarga memberikan perhatian satu sama lain?
Semua anggota keluarga selalu memperhatikan satu sama lain dan membantu
ketika salah satu anggota keluarga lain sedang mengalami masalah

Apakah mereka saling mendukung satu sama lain?


Ya
23.4. Apakah terdapat perasaan akrab dan intim diantara lingkungan hubungan
keluarga?
Ya

Apakah menunjukkan kasih sayang satu sama lain?


Ya
Keterpisahan dan Keterikatan
23.5. Bagaimana keluarga menghadapi keterpisahan dengan anggota keluarga?.
Jelaskan.
Keluarga menanggapi perpisahan dengan keluarga besarnya merupakan hal
yang sudah biasa terjadi dan harus dialami supaya dapat hidup mandiri dalam
berumah tangga. Dalam menghadapi kematian dalam anggota keluarga
besrnya, Tn. N dan Ny. L tidak mau bersedih berlarut-larut dan berupaya
mengikhlaskan karena percaya bahwa semua yang hidup juga akan
mengalami kematian.

Apakah keluarga merasa adanya keterikatan yang erat antara satu dengan
yang lainnya?
Ya
2.4 Fungsi Sosialisasi

24.1. Adakah otonom setiap anggota dalam keluarga?. Jelaskan.


Ya

Adakah saling ketergantungan dalam keluarga?


Ya, terutama An. NR dengan Ny. L
24.2. Siapa yang menerima tanggung jawab untuk peran membesarkan anak atau
fungsi
sosialisasi?
Peran membesarkan anak dilakukan bersama oleh Tn. N dan Ny. L namun
peran utama lebih dilakukan oleh Ny. L karena setiap harinya Tn. N pergi di
pagi hari dan pulang menjelang petang utnuk mencari nafkah sehingga waktu
yang dapat diberikan Ny. L untuk anaknya lebih banyak dibandingkan dengan
Tn. N

Apakah fungsi ini dipikul bersama?


Ya

Jika demikian, bagaimana hal ini diatur?


Untuk hal membesarkan anak dan menjaga kesehatan serta mencukupi nutrisi
sebagian besar dilakukan oleh Ny. L namun untuk pendidikan agama dilakukan
oleh Tn. N
24.3. Adakah faktor sosial budaya yang mempengaruhi pola-pola membesarkan
anak?. Jelaskan.
Tidak ada
24.4. Apakah keluarga saat ini mempunyai masalah/resiko dalam mengasuh anak?.
Sebutkan.
Ya, mengingat kondisi lingkungan rumah Tn. N yang belum dapat memenuhi
kriteria rumah sehat, memiliki resiko yang besar bagi terpenuhinya derajat
kesehatan keluarga terutama aAn. NR
24.5. Apakah lingkungan rumah cukup memadai bagi anak-anak untuk bermain
(cocok dengan
tahap perkembangan anak)?
Ya, terdapat halaman yang cukup luas sebagai tempat bermain anak

Apakah ada peralatan/permainan anak-anak yang cocok dengan usia?


Ya, terdapat beberapa permainan yang dimiliki oleh An. NR yaitu boneka dan
peralatan masak mainan.

24. Fungsi Perawatan Kesehatan


25.1. Keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, dan perilaku keluarga:

Nilai-nilai apa yang dianut keluarga terkait dengan kesehatan?


Bila keluarga sakit periksa ke bidan desa atau dokter, ibu merawat anggota
keluarga yang sakit.
Ny. L menganggap bahwa sakit batuk pilek yang sering dialami anaknya
merupakan dampak dari cuaca yang dingin sehingga tidak perlu dibawa
berobat, cukup diberi obat yang dibelikan di warung saja. Ny. L menganggap
bahwa imunisasi dasar bagi anaknya sangat penting sehingga untuk imunisasi
anaknya sudah lengkap.

Apakah terdapat kekonsistenan antara nilai-nilai kesehatan keluarga dengan


perilakunya?. Jelaskan.
Ya, meskipun anaknya sudah tidak lagi imunisasi namun Ny. L tetap rutin
membawa anaknya untuk ke Posyandu

Kegiatan-kegiatan

apa

saja

peningkatan

kesehatan

apa

saja

yang

dilaksanakan dalam keluarga?. Sebutkan.


Rutin mengunjungi Posyandu

Apakah perilaku dari semua anggota keluarga mendukung peningkatan


kesehatan keluarga?. Jelaskan.
Ya, seluruh keluarga mendukung usaha peningkatan kesehatan yang ada
dalam keluarga
25.2. Definisi dari keluarga tentang sehat/sakit dan tingkat pengetahuan mereka:

Bagaimana keluarga mendefinisikan kesehatan dan sakit bagi anggota


keluarga
Menurut Tn. N sehat adalah jika tidak terkena suatu penyakit

Dapatkan keluarga dapat melaporkan dan mengobservasi gejala-gejala dan


perubahan-perubahan penting pada anggota yang sakit?
Ya

Apa sumber-sumber informasi kesehatan dari anggota keluarga?


Bidan desa, penyuluhan yang pernah dilakukan oleh mahasiswa KKN

Bagaimana pengetahuan tentang kesehatan diteruskan kepada anggota


keluarga?

Pengetahuan yang sudah didapat tidak sepenuhnya didapat oleh keluarga,


mislanya tentang perilaku merokok.Tn. N masih merokok di dalam rumah yang
menimbulkan kepulan asap rokok di dalam rumah.

25.3. Status kesehatan keluarga dan kerentanan terhadap sakit yang dirasa/diketahui:

Apakah keluarga mengetahui bahwa anggota keluarga mengalami masalah


kesehatan?
Ya

Masalah-masalah kesehatan apa yang saat ini diidentifikasi oleh keluarga?.


Sebutkan.
Tn. N sedang mengalami linu-linu
Ny. L sedang merasa pusing dan terasa sakit di tengkuk
An. NR tidak sedang memiliki masalah kesehatan

Masalah kesehatan apa yang dianggap serius/sangat penting bagi keluarga?.


Sebutkan.
Sakit demam tinggi yang pernah dialami oleh anaknya beberapa waktu yang
lalu

Tindakan-tindakan yang telah dilakukan keluarga terhadap masalah kesehatan


saai ini. Sebutkan.
Tidak ada
25.4. Praktik diet keluarga:

Apakah keluarga mengetahui tentang makanan yang bergizi?. Jelaskan.


Tidak. Keluarga hanya mengolah makanan ala kadarnya saja tanpa
mempertimbangkan kandungan gizinya.

Apakah diet keluarga memadai? (catatan riwayat pola-pola makan keluarga


untuk tiga hari). Sebutkan.
Keluarga makan 3 kali perhari dengan menu yang sama dimasak untuk satu
hari. Untuk 3 hari sebelum pengkajian Ny. L menghidangkan nasi dan tempe
serta sayur lodeh, ikan pindang dan sayur lodeh, serta sayur yang ditumis.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap perencanaan, belanja, dan


penyiapan makanan?
Ny. L

Bagaimana makanan disiapkan? Apakah kebanyakan digoreng, direbus,


dipanggang, dimasak dengan microwave, atau disaji mentah?
Kebanyakan diolah dengan digoreng dan direbus

Jenis makanan yang dikonsumsi keluarga setiap hari?. Sebutkan.


Nasi, lauk, sayur

Apakah ada pembatasan-pembatasan anggaran?


Ya, dalam satu hari keluarga hanya membelanjakan Rp 10.000,00

Apakah makanan disimpan pada tempat yang benar?. Jelaskan.


Tidak. Makanan disimpan diatas meja makan tanpa ada penutup makanan

Jadwal makan keluarga (utama dan selingan). Sebutkan.


Pagi, siang, dan malam keluarga mengkonsumsi nasi dan lauk
25.5. Kebiasaan tidur dan istirahat:

Pada jam berapa keluarga biasa tidur?


Tn. N biasa tidur jam 01.00-04.00
Ny. L biasa tidur jam 09.00-03.00
An. NR biasa tidur jam 07.00-05.00

Apakah jumlah jam tidur setiap anggota keluarga cukup? Bila tidak,
alasannya?
Tidak. Tn. N mengatakan mengalami masalah sulit tidur beberapa hari ini
karena tubuhnya terasa sakit di semua bagian

Adakah kesulitan tidur pada keluarga?. Sebutkan.


Ya. Tn. N mengatakan mengalami masalah sulit tidur beberapa hari ini karena
tubuhnya terasa sakit di semua bagian

Di mana anggota keluarga tidur?


Di tempat tidur, didepan televisi
25.6. Latihan dan rekreasi:

Apakah keluarga amenyadari bahwa rekreasi dan lolah raga secara aktif
sangat dibutuhkan untuk kesehatan? (Menyadari/tidak)
Keluarga menyadari, namun pada pelaksanaannya keluarga mengatakan tidak
memiliki cukup waktu untuk berekreasi dan berolah raga karena harus bekerja.

Jenis-jenis rekreasi dan aktivitas-aktivitas fisik apa yang anggota keluarga


lakukan secara reguler?. Sebutkan.
Tidak ada

Apakah kegiatan-kegiatan ini diikuti oleh semua anggota keluarga atau hanya
anggota tertentu?. Jelaskan.

25.7. Kebiasaan penggunaan obat-obatan dalam keluarga:

Apakah ada kebiasaan penggunaan alkohol, tembakau, kopi, cola atau teh
(kafein dan teobromin, adalah stimulan) yang dilakukan oleh keluarga?
Tn. N memiliki kebiasaan merokok

Apakah anggota keluarga secara reguler menggunakan obat-obatan tanpa


resep atau dengan resep? (dengan resep/tidak)
Tidak

Apakah keluarga menyimpan obat-obatan dalam jangka waktu lama dan


menggunakannya kembali? (Ya/tidak)
Tidak, keluarga selalu membeli obat dalam jumlah sedikit dan hanya jika
dibutuhkan

Apakah obat-obatan diberi label secara tepat dan berada di tempat yang
aman, jauh dari jangkauan anak-anak? (Ya/tidak)
Tidak, obat-obatan hanya dimasukkan di dalam kresek dan diletakkan di atas
meja makan
25.8. Peran keluarga dalam praktek perawatan diri:

Apa yang keluarga lakukan untuk memperbaiki status kesehatan?. Jelaskan.


Ny. L rutin membawa anaknya ke Posyandu untuk memeriksakan berat badan
meskipun telah selesai imunisasi

Apa yang keluarga lakukan untuk mencegah sakit/penyakit?. Jelaskan.


Hanya mencukupi kebutuhan nutrisi keluarga saja

Siapa yang membuat keputusan dalam bidang kesehatan dalam keluarga?


Tn. N dan Ny. L

Apakah keluarga mengetahui cara perawatan pada anggota keluarga yang


sakit?. Jelaskan
Tidak, keluarga tidak benar-benar memahami cara perrawatan keluarga yang
sakit, contohnya adalah ketika anaknya menderita demam tinggi Ny. L
memberikannya kompres dengan air dingin dan memberinya obat penurun
panas yang dibelinya di warung dan baru membawanya berobat ketika
demamnya tidak kunjung menurun dalam beberapa hari
25.9. Praktik lingkungan:

Apakah saat ini keluarga terpapar polusi udara, air, suara dari lingkungan?.
Jelaskan.
Ya, polusi terutama berasal dari asap rokok Tn. N, asap dari sisa bahan bakar
kayu, polusi dari kandang ternak

Apakah anggota keluarga menggunakan pestisida, cairan pembersih, lem,


pelarut, logam berat, dan racun dalam rumah?. Sebutkan.
Tidak

Jelaskan bagaimana pola keluarga dalam mandi, cuci, penggunaan jamban.


Keluarga mandi secara rutin dua kali sedhari dengan menggunakan sabun. Ny.
N mengetahui kapan harus cuci tangan yaitu saat mau menyiapkan makan dan
setelah menceboki anaknya.
25.10.Cara-cara pencegahan secara medis:

Bagaimana pendapat keluarga tentang kondisi sehat?


Menurut keluarga kondisi sehat adalah kondisi dimana tubuh tidak sedang
terserang penyakit

Kapan pemeriksaan terakhir terhadap kesehatan dilakukan?


Tn. N dan Ny. L tidak pernah memeriksakan kesehatannya sedangkan An. NR
rutin dibawa ke posyandu oleh Ny.L

Apa status imunisasi dari keluarga pada bayi, balita, ibu hamil?. Jelaskan.
Status imunisasi lengkap
25.11. Praktik kesehatan gigi:

Apakah keluarga teratur dalam pemeriksaan gigi?. Jelaskan


Tidak

Jelaskan bagaimana keluarga melakukan perawatan gigi?


Hanya gosok sisi dua kali sehari

Apakah ada kebiasaan makan manis (permen, coklat)?


Ya, terutama An. NR
25.12.Riwayat kesehatan keluarga:

Buatlah riwayat genetika dan penyakit keluarga pada masa lalu maupun masa
sekarang diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stroke
dan reumatik, penyakit ginjal, tiroid, asma, keadaan alergi lain, penyakitpenyakit darah, dan penyakit keluarga lainnya.
Orang tua Tn. N meninggal karena tua, sedangkan orangtua Ny. L meninggal
karena sakit, yaitu hipotensi yang dialami oleh ayah Ny. L dan ibu Ny. L
mengalami usus buntu (appendisitis) dan kanker usus besar (Ca. Colon)

Apakah terdapat riwayat penyakit-penyakit keluarga yang berkaitan dengan


lingkungan?
Tidak ada

25.13.Pelayanan perawatan kesehatan yang diterima:

Dari praktisi perawatan kesehatan apa dan/atau lembaga perawatan


kesehatan apa anggota keluarga menerima perawatan?
Bidan Desa

Apakah praktisi atau lembaga ini bertemu dengan semua anggota keluarga
dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan perawatan kesehatan anggota
keluarga?
Tidak, hanya jika ada keluarga yang sakkit, keluarga akan mengunjungi tempat
praktik bidan desa
25.14.Perasaan dan persepi menyangkut pelayanan perawatan kesehatan:

Apa perasaan keluarga terhadap jenis-jenis pelayanan perawatan kesehatan


bagi keluarga yang tersedia dalam komunitas?. Jelaskan.
Keluarga merasa senang dengan tersedianya bidan desa dan pelayanan
posyandu

Apakah keluarga memiliki pengalaman masa lalu dengan pelayanan


perawatan kesehatan yang keluarga terima?. Jelaskan.
Keluarga merasa cocok dengan pelayanan kesehatan yang tersedia di
lingkungan rumahnya karena dekat dan tidak perlu mengantri lama

Apakah keluarga merasa puas, nyaman, percaya dengan perawatan yang


diterimanya dari pemberi pelayanan kesehatan?. Jelaskan.
Ya

Apa sikap dan harapan keluarga terhadap peran perawat?


Keluarga berharap perawat dan petugas kesehatan dan dinas terkait lebih
banyak memberikan sosialisasi tentang penyakit dan program kesehatan yang
diadakan pemerintah
25.15.Pelayanan kesehatan darurat:

Jika tidak ada pelayanan darurat, apakah keluarga tahu di mana pelayanan
darurat terdekat (menurut syarat-syaratnya) baik untuk anak-anak maupun
anggota keluarga yang dewasa?. Jelaskan.
Tidak, yang diketahui keluarga hanya memeriksakan anggota keluarganya
yang sakit ke bidan desa saja

Apakah keluarga tahu bagaimana memanggil ambulans dan perawatan


paramedis?. Jelaskan.
Tidak

Apakah keluarga memiliki suatu perencanaan kesehatan darurat?. Jelaskan.


Tidak
25.16.Sumber pembiayaan:

Bagaimana keluarga akan membayar pelayanan-pelayanan kesehatan?


Jelaskan.
Pembayaran dilakukan secara langsung jika ada anggota keluarga yang sakit
karena keluarga Tn. N tidak memiliki jaminan kesehatan

Apakah keluarga memiliki asuransi swasta atau bantuan medis; haruskan


keluarga membayar penuh atau sebagian?. Jelaskan.
Tidak

Apakah keluarga mendapat pelayanan gratis (atau mengetahui pelayanan


gratis bagi mereka)?
Tidak
Transportasi untuk mendapat perawatan:

Berapa jauh fasilitas perawatan dari rumah keluarga?


Kurang lebih satu km

Alat transportasi apa yang keluarga gunakan untuk mencapai fasilitas


perawatan?
Sepeda motor pribadi

Jika keluarga harus menggunakan angkutan umum, masalah-masalah apa


yang timbul dalam hubungannya dengan jam pelayanan dan lamanya
perjalanan ke fasilitas pelayanan kesehatan?. Jelaskan.
Tidak ada angkutan umum yang melewati Desa Petungsewu
25. Sebutkan stressor jangka pendek (< 6 bulan) dan stressor jangka panjang (> 6
bulan) yang saat
ini terjadi pada keluarga?
Tidak ada

Apakah keluarga dapat mengatasi stressor bisa dan ketegangan sehari-hari?.


Jelaskan.
Ya, keluarga selalu terbuka jika ada masalah dan menyelesaikan bersama
26. Bagaimana keluarga mengatasi masalah tersebut?. Jelaskan.
Semua masalah di keluarga didiskusikan dan diselesaikan bersama
27. Strategi koping apa yang digunakan oleh keluarga untuk menghadapi tipe-tipe
masalah?

Koping yang digunakan adalah beribadah dan bercerita kepada sesama anggota
keluarga

Apakah anggota keluarga berbeda dalam cara-cara koping terhadap masalahmasalah mereka sekarang?. Jelaskan.
Ya, Tn. N lebih banyak diam dalam menghadapi masalah dan lebih meningkatkan
ibadah saat dalam masalah, hanya beberapa masalah yang dirasanya penting untuk
diceritakan kepada istri saja yang ia kemukakan, sedangkan Ny. L lebih terbuka
ketika ada masalah.

Nama
An.

Tgl
Hasil Pemeriksaan Fisik
27-2-2016 1. Keluhan/ Riwayat Penyakit saat ini: imunisasi lengkap

NR

2. Riwayat Penyakit sebelumnya: Tidak ada

TTV
TD: N: 96 x/menit
S: 36,8 C
RR: 22 x/menit
BB: 17kg
3. Kepala: penyebaran rambut merata, bentuk normo cephal,

rambut hitam pendek


Mata: bentuk simetris ka/ki, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak

ikterik, fungsi penglihatan baik


Hidung : lesi (-), bentuk simetris, nyeri tekan (-)
Bibir : mukosa lembab, warna hitam, lesi (-)
Telinga: simetris, fungsi pendengaran baik
4. Leher : pembesaran kelenjar limfe (-),pembesaran tyroid (-),

massa (-), nyeri telan (-)


5. Dada
- Paru-paru
-

Inspeksi: Pergerakan dinding dada simetris

Palpasi: nyeri tekan (-)

Perkusi: sonor

Auskultasi: Rhonchi (-), Wheezing (-), Vesikular (+)

- Jantung
-

Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi: Ictus cordis teraba di ICS V midklavikula sinistra

Perkusi: Dullness

Auskultasi: S1 S2 tunggal
6. Abdomen:

Inspeksi: flat

Auskultasi: Bising Usus: 14x/menit

Perkusi: Timpany

Palpasi: Nyeri tekan (-)


7. Ekstremitas atas dan bawah:

Kekuatan otot:

Pergerakan sendi: bebas, lesi (-), kekakuan otot (-), edema (-), nyeri
tekan (-), deformitas (-)
8. Neurologi: GCS 456, kesadaran compos mentis
9. Kulit : akral hangat, lesi (-), kemerahan (-), turgor kulit: elastis

Ny. L

10. Kuku: CRT < 2 detik, clubbing finger (-)


27-2-20161. Keluhan/ Riwayat Penyakit saat ini: Pusing dan sakit pada tengkuk
2. Riwayat Penyakit sebelumnya: hipertensi

TTV

3.2 Analisa Data


No.
1.

Data Penunjang
DS:

Etiologi
Kurang pajanan

Problem
Defisit

informasi tentang

pengetahuan b.d

tingkat pendidikan terakhir

kesehatan dasar

kurang pajanan

keluarga SD

keluargaDefisit

informasi

- Keluarga mengatakan

- Keluarga mengatakan tidak

pengetahuan

pernah mengikuti
penyuluhan
- Keluarga mengatakan belum
pernah mendapatkan
informasi mengenai ISPA
- Keluarga mengatakan bahwa
batuk pilek diderita karena
pergantian cuaca
- Keluarga mengatakan bahwa
sakit batuk pilek yang
dideritanya dapat sembuh
sendiri tanpa diobati, atau
diobati dengan obat-obatan
di warung

DO:

Keluarga tidak bisa


menjawab saat
ditanyakan mengenai
konsep ISPA

Keluarga mencoba
mengajukan pertayaan
mengenai ISPA kepada
petugas kesehatan

DS:
-

Perilaku Kesehatan

Keluarga

mengatakan

informasi tentang

Cenderung

mencuci

tangan

kesehatan dasar

Beresiko b.d stasus

keluargamemunculka

ekonomi rendah,

tanpa sabun

n sikap yang kurang

kurangnya

Keluarga mengatakan

adaptif terhadap

kesadaran terhadap

menggunakan
-

Kurang pajanan

air

saja

tidak memiliki asuransi

kesehatan diri dan

pelayanan

kesehatan untuk berobat

pencegahan

kesehatan

Ibu mengatakan

penyakitkeluarga cuci

menggunakan KB suntik

tangan tanpa

Ibu mengatakan bahwa

menggunakan air

suaminya merokok dan

mengalir dan sabun,

sebagian besar dilakukan

lingkungan rumah sehat

di dalam rumah

yang terabaikan,

Keluarga mengatakan

perilaku merokok di

tidak tahu cara cuci

dalam rumah

tangan yang benar

perilaku kesehatan

Dalam keluarga hanya

cenderung beresiko

Tn. N yang bekerja


sebagai petani dan
mengurus ternak titipan
orang
Keluarga mengatakan

pendapatan per bulan


Rp 600.000,00
Keluarga mengatakan

masih membuang
sampah rumah tangga di
sungai
DO:
-

Dinding

rumah

terbuat

dari anyaman bambu


-

Hanya

terdapat

dua

jendela

namun

tidak

dapat dibuka
-

Pada siang hari cahaya


tidak dapat masuk ke
dalam

rumah

hanya

ruang tamu saja yang


memiliki

penerangan

cukup
-

Keluarga

memasak

menggunakan

tungku

kayu bakar
-

Dapur

berdekatan

dengan kandang ternak


-

Keluarga tidak dapat


menjawab dengan saat
ditanya tentang cara cuci
tangan yang benar

Pendapatan keluarga
dibawah UMR, keluarga
tergolong keluarga pra
sejahtera

Tidak terdapat penutup


makanan di meja makan

3.3 Daftar Diagnosa Keperawatan

3.3.1 Defisit Pengetahuan b.d kurang pajanan informasi


No
1

Kriteria

Skor

Pembenaran
Keluarga tidak bisa

Sifat masalah
Skala : Aktual

Resiko

Sejahtera/sehat

menjawab saat
ditanyakan
mengenai konsep
ISPA

3/3 x 1= 1
2

Keluarga mencoba

Kemungkinan masalah dapat diubah


Skala : Mudah

sebagian

Tidak dapat

mengajukan
pertayaan
mengenai ISPA

1/2 x 1= 1/2
3

Potensi masalah untuk dicegah


Skala : tinggi

cukup

rendah

kepada petugas
kesehatan
Keluarga
mengatakan tidak
pernah mengikuti
penyuluhan

3/3 x1= 1
4

Menonjolnya masalah
Skala : masalah dirasakan dan harus
segera ditangani

Keluarga

mengatakan bahwa

sakit batuk pilek

Ada masalah tetapi tidak perlu


ditangani
Masalah tidak dirasakan

yang dideritanya
dapat sembuh

sendiri tanpa diobati,

atau diobati dengan


obat-obatan di
warung

Skor total

2 1/2

3.3.2 Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko b.d stasus ekonomi rendah, kurangnya
kesadaran terhadap pelayanan kesehatan

No
1

Kriteria

Skor

Pembenaran
- Ibu mengatakan

Sifat masalah
Skala : Aktual

Resiko

Sejahtera/sehat

bahwa suaminya
merokok dan
sebagian besar
dilakukan di
dalam rumah

- Keluarga
mengatakan
tidak tahu cara
cuci tangan
yang benar

3/3 x 1= 1

- Keluarga
mengatakan
masih
membuang
sampah rumah

tangga di sungai
Keluarga

Kemungkinan masalah dapat diubah


Skala : Mudah

sebagian

Tidak dapat

mengatakan tidak
tahu cara cuci
tangan yang

1/2 x 1= 1/2
3

Keluarga

Potensi masalah untuk dicegah


Skala : tinggi

cukup

rendah

mengatakan
mencuci tangan
menggunakan air
saja tanpa sabun

2/3 x1= 2/3


4

Menonjolnya masalah
Skala : masalah dirasakan dan harus
segera ditangani

Keluarga

mengatakan tidak

mengetahui

Ada masalah tetapi tidak perlu


ditangani
Masalah tidak dirasakan

konsep rumah
sehat

0
0

Skor total

benar

2.17

3.3.2
a.

Diagnosa Keperawatan

Defisit pengetahuan b.d Kurang pajanan informasi


b.

Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko b.d stasus ekonomi rendah, kurangnya kesadaran
terhadap pelayanan kesehatan

3.4 Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga


Nama Keluarga: Tn. N
Tgl. Pengkajian: 1 Maret 2016

No

Tanggal

Dx. Keperawatan

Tujuan

.
1.

1 Maret

Defisit

2016

kurang Pajanan informasi

Pengetahuan

Kriteria Hasil

b.d TUM

Intervensi

1.1 Terdapat

Setelah

dilakukan

peningkatan

intervensi

pengetahuan

keperawatan selama 4

keluarga tentang

minggu

diharapkan

ISPA 70%

perilaku

keluarga

tentang

upaya

1.1.1

1.1.2

serta

upaya

pencegahan,

1.1.3

Ajarkan cara merawat anak


Evaluasi

penularan,
pencegahan,
penatalaksanaan
keperawatan,

dan

prognosis)

yang

disampaikan
Kesehatan TUM:

1 Maret

Perilaku

2016

Cenderung

Beresiko

kurang

pengetahuan, tindakan keperawatan

dilakukan
4

kurangnya

kesadaran maka

terhadap

pelayanan menimbulkan

dan

keperawatan ISPA

TUK 1 :
Keluarga menyatakan
ISPA (konsep, proses

kesehatan

penularan,

dengan ISPA

rendah, selama

pendidikan

proses

pencegahan ISPA

paham tentang materi

ekonomi

Memberikan

kesehatan tentang konsep,

keluarga

b.d Setelah

konsep

penatalaksanaan

kesehatan

stasus

pengetahuan

ISPA

peningkatan

2.

Kaji

minggu

perilaku

yang
resiko

terhadap

status

kesehtan

masyarakat

dapat teratasi

hasil

pendidikan

kesehatan tentang ISPA

3.5 Implementasi
Tgl
1 Maret

No.
Dx
1

Jam

Implementasi

Evaluasi

15.30

a. Memberi salam dan membina hubungan saling

S:

2016

percaya dengan keluarga binaan


b. Menjelaskan tujuan dan kontrak waktu
c. Menjelaskan dan memberi waktu kepada klien

untuk mengerjakan pretest


d. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang konsep
O:

ISPA
e. Memberikan leaflet tentang materi edukasi
f.

Memberikan pendidikan kesehatan tentang konsep


(Definisi, penyebab, tanda dan gejala) ISPA

g. Memberikan pendidikan kesehatan tentang proses


penularan ISPA
h. Memberikan

pendidikan

kesehatan

tentang

kesehatan

tentang

pencegahan ISPA
i.

Memberikan

pendidikan

penatalaksanaan keperawatan ISPA


j.

Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara

k. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk


bertanya terkait hal- hal yang belum dipahami
Membuat

kontrak

waktu

untuk

Klien kooperatif dalam diskusi


Klien aktif bertanya
Klien mendengarkan penjelasan dengan
baik
Hasil pre test 46 dan postest 80

A: Masalah teratasi

P : Intervensi dihentikan

merawat anak dengan ISPA

l.

Klien mengatakan mengerti tentang


informasi yang disampaikan
Klien mengatakan mengerti tentang apa
itu ISPA, penyebab, tanda dan geala,
proses penularan, pencegahan dan cara
merawataanak yang menderita ISPA

pertemuan

Tanda
Tangan

selanjutnya
a. Membangun hubungan terapeutik dengan
memberikan salam dan menanyakan kabar klien

S:

Klien

b. Menjelaskan tujuan pertemuan kepada klien


c. Menentukan kontrak waktu dengan klien
d. Menjelaskan dan memberi waktu kepada klien
untuk mengerjakan pretest

4 Maret
2016

Mengkaji pemahaman keluarga tentang konsep


cuci tangan yang benar

15.45

g. Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga


tentang cuci tangan
h. Mendemonstrasikan 6 langkah cuci tangan
i.

Mengajak keluarga untuk mempraktikkan


cucuitangan 6 langkah bersama-sama

j.

O:

Klien kooperatif

Klien terlihat antusias selama


penyuuhan dan diskusi

Kontak verbal dan non verbal baik


selama interaksi

Klien mampu mengikuti gerakan cuci


tangan 6 langkah dengan benar

Klien aktif bertanya selama diskusi

Hasil pre test tentang cuci tangan 60


dan hasil postest 80

Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk


bertanya terkait hal- hal yang belum dipahami

k. Mengakhiri pertemuan dan mengucapkan salam

senang

mendapatkan penyuluhan

e. Memberikan leaflet tentang materi edukasi


f.

mengatakan

A: masalah belum teratasi


P: lanjutkan intervensi dengan melakukan
monitoring dan evaluasi cuci tangan secara
berkala

6 Maret
2016

a. Membangun hubungan terapeutik dengan


memberikan salam dan menanyakan kabar klien

S:
-

informasi yang diberikan

b. Menjelaskan tujuan pertemuan kepada klien


c. Menentukan kontrak waktu dengan klien

Keluarga mengatakan dapat memahami

Keluarga mengatakan bahwa berusaha

d. Menjelaskan dan memberi waktu kepada klien

mengingatkan ayah untuk tidak merokok


di dalam rumah

untuk mengerjakan pretest


-

e. Memberikan poster tentang materi edukasi


f.

Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga


tentang merokok

g. Memberikan pendidikan kesehatan kepada


keluarga tentang bahaya merokok baik bagi

merokok di dalam rumah

O:

Klien kooperatif

Klien terlihat antusias selama


penyuuhan dan diskusi

perokok aktif maupun perokok pasif dan bahaya


merokok di dalam rumah

Kontak verbal dan non verbal baik


selama interaksi

h. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk


bertanya terkait hal- hal yang belum dipahami

Ayah mengatakan sepakat untuk tidak

Klien aktif bertanya selama diskusi

Mengakhiri pertemuan dan mengucapkan salam


A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi dengan melakukan
monitoring dan evaluasi perilaku merokok
7 maret

a. Membangun hubungan terapeutik dengan

2016

ayah secara berkala


S:

memberikan salam dan menanyakan kabar klien

informasi yang diberikan

b. Menjelaskan tujuan pertemuan kepada klien


c. Menentukan kontrak waktu dengan klien
d. Menjelaskan dan memberi waktu kepada klien
untuk mengerjakan pretest

O:

Klien tampak kooperatif

Klien mampu menyebutkan ciri-ciri


makanan sehat

e. Memberikan poster tentang materi edukasi


f.

Mengkaji pengetahuan keluarga tentang jajanan

Keluarga mengatakan dapat memahami

Klien terlihat antusias selama

sehat
g. Memberikan pendidikan kesehatan pada ibu

penyuuhan dan diskusi

Kontak verbal dan non verbal baik

tentang jajanan sehat

selama interaksi

h. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk

Klien aktif bertanya selama diskusi

bertanya terkait hal- hal yang belum dipahami

Hasil pretest 60 hasil post test 80

Mengakhiri pertemuan dan mengucapkan salam


A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi dengan melakukan
monitoring dan evaluasi perilaku jajanan
9 Maret

a. Membangun hubungan terapeutik dengan

2016

sehat
S:

memberikan salam dan menanyakan kabar klien

Keluarga mengatakan dapat memahami


informasi yang diberikan

b. Menjelaskan tujuan pertemuan kepada klien


c. Menentukan kontrak waktu dengan klien
d. Menjelaskan dan memberi waktu kepada klien
untuk mengerjakan pretest
e. Memberikan poster tentang materi edukasi
f.

O:

Klien kooperatif

Klien terlihat antusias selama


penyuuhan dan diskusi

Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga


tentang rumah sehat dan kebersihan lingkungan

dan kandang
g. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk

Kontak verbal dan non verbal baik


selama interaksi

Keluarga mampu menyebutkan

bertanya terkait hal- hal yang belum dipahami

kembali ciri-ciri rumah sehat dan syarat

Mengakhiri pertemuan dan mengucapkan salam

kebersihan kandang

Klien aktif bertanya selama diskusi

Hasil pre test rumah sehat 40 dan post


test 80

A: Masalah belum teratasi


P: Lanjutkan intervensi dengan melakukan
monitoring dan evaluasi rumah sehat,
kebersihan kandang

3.6 Evaluasi Formatif


No
Dx
1

Hari/tanggal

Kegiatan

Jumat,

Pendidikan kesehatan S :

Maret 2016

Evaluasi

tentang konsep ISPA,

a. Keluarga mengatakan bsenang telah

Penularan,

diberikan informasi mengenai penyakit

penatalaksanaan

infeksi saluran pernafasan


b. Keluarga
mengatakan

keperawatan,

dapat

memahami materi yang diberikan


c. Keluarga mengatakan tidak akan lagi

pencegahan ISPA

menyepelekan penyakit yang didierita


dalam keluarga sperti batuk pilek
O:
a. Keluarga kooperatif
b. Keluarga tampak antusias

selama

ceramah dan diskusi


c. Hasil pre test tentang penyakit ISPA 46
dan post test 80
A : Masalah teratasi

Sabtu,

19 Monitoring

Maret 2016

dan

P : Intervensi dihentikan
S:

evaluasi perilaku cuci

tangan keluarga

Keluarga mengatakan terkadang masih


lupa untuk melakukan cuci tangan 6

langkah
Keluarga mengatakan sekarang mulai
terbiasa cuci tangan menggunakan

sabun dan air mengalir


Keluarga mengatakan selalu mencucui
tangan sebelum dan sesudah makan,
setelah

BAB

atau

BAK,

setelah

membersihkan kandang dan setelah


memberi makan hewan ternak
O:
a. Keluarga kooperatif
b. Tampak terpasang poster 6 langkah
cuci tangan di kran tempat mencuci
dan cuci tangan
c. Terdapat sabun di sebelah keran

A:
Masalah teratasi sebagian
P:
Lanjutkan

intervensi

dengan

memotivasi

keluarga untuk meningkatkan perilaku cuci


2

Sabtu,

19 Monitoring

Maret 2016

evaluasi

dan

tangan
S:

perilaku

merokok

Keluarga mengatakan bahwa ayah


sudah tidak merokok di dalam
rumah, hanya beberapa hari yang
lalu masih merokok di dalam rumah
karena tidak ada orang di rumah,
namun setelah itu tidak pernah lagi

Keluarga mengatakan bahwa ibu


selalu mengingatkan ayah untuk
tidak merokok di dalam rumah

O:
-

Keluarga tampak kooperatif

Sabtu,

19 Monitoring

Maret 2016

evaluasi
jajanan

dan

A : Masalah Teratasi
P : hentikan Intervensi
S:

tentang
sehat

dan

Keluarga mengatakan anaknya masih


sulit untuk dilarang membeli jajanan,

makanan sehat
-

terutama di sekolah
Keluarga mengatakan
sekolah

terkadang

saat

anaknya

pulang
masih

sering membeli makanan yang dijual


didekat sekolah seperti cilok dan kue-

kue kering seperti ciki


Keluarga mengatakan meskipun tidak
memiliki tdung saji, aat ini mulai
membiasakan menutup makanan yang
ada di meja makan

O:
a. Keluarga kooperatif

b. Tampak di meja makan makanan


ditutup dengan piring
A:
Masalah teratasi sebagian
P:
2

Sabtu,

19 Monitoring

Maret 2016

dan

S:

evaluasi rumah sehat,


kebersihan

a. Keluarga

kandang

membiasakan

dan lingkungan

mengatakan
untuk

mulai

membersihkan

kandang setiap hari


b. Keluarga mengatakan masih belum
menggunakan sarung tangan ketika
membersihkan kandang
c. Keluarga
menggunakan

mengatakan
sepatu

selalu

boots

saat

membersihkan kandang
d. Keluarga mengatakan selalu mandi
dan

membersihkan

diri

setelah

membersihkan kandang
O:
a. Keluarga tampak kooperatif
b. Kandang tampak bersih

A:
Masalah teratasi sebagian
P:
3.7 Evaluasi Sumatif
. Pada diagnosa defisit pengetahuan masalah teratasi yaitu tercapainya nilai
minimal 80 pada kuesioner evaluasi tentang ISPA yang diketahui keluarga. Hal ini dapat
dikarenakan oleh pemberian edukasi menggunakan metode face to face sehingga klien
memiliki waktu yang lebih leluasa untuk bertanya dan memahami. Educator juga dapat
memilih komunkasi yang tepat untuk memudahkan klien memahami materi. Sebelum
edukasi diberikan, educator telah membangun hubungan yang baik sehingga klien
memiliki rasa percaya pada educator, maka materi yang disampaikan dapat dipahami

dengan baik. Selain itu educator memakai media leaflet, agar lebih mudah dipahami oleh
keluarga.
Pada diagnosa perilaku kesehatan cenderung beresiko masalah teratasi
dibuktikan dengan perilaku keluarga mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun dan
pada waktu-wkatu yang tepat. Hal ini dapat terjadi karena keluarga sadar akan
pentingnya kebersihan. Rasa takut terhadap kejadian yang tidak diinginkan mendorong
keluarga untuk merubah perilaku hidup sehatnya. Perilaku merokok keluarga juga
mengalami peningkatan dimana ibu berperan untuk selalu mengingatkan ayah supaya
tidak merokok di dalam rumah, dan hasilnya tercapai bahwa sebagian besar kegiatan
merokok dilakukan diluar rumah. Hal tersebut didasari kesadaran bahwa asap rokok
dapat membahayakan anggota keluarga yang lain. Pada perilaku anak yang
sebelumnya memiliki kecenderungan untuk membeli jajanan yang tidak sehat juga
berkurang, hal tersebut tidak lepas dari peran ibu yang lebih sering mengawasi makanan
yang dikonsumsi dalam keluarga. Sedangkan untuk perilaku rumah sehat hanya sebgian
yang teratasi, karena ventilasi atau jendela yang dimiliki oleh keluarga belum memenuhi
persyaratan rumah sehat dan letak kandang yang berdekatan dengan rumah.

BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan Alasan
Pengkajian dan intervensi yang dilakukan selama 4 minggu dengan total 5 kali
pertemuan membuahkan hasil yang baik. Keluarga Tn. N menunjukkan perilaku
kesehatan yang baik, selain itu terjadi peningkatan pengetahuan mengenai ISPA. Hal
tersebut dapat terjadi dengan beberapa intervensi, yaitu pendidikan kesehatan
mengenai konsep, cara penularan, pencegahan, penatalksanaan keperawatan dan cara
merawat anak dengan ISPA, cuci tangan, bahaya perokok aktif maupun pasif, rumah
sehat serta kebersihan lingkungan. Setelah pengetahuan keluarga ditingkatkan,
dilakukan sebuah kesepakatan dengan keluarga untuk merubah perilaku keluarga
menjadi lebih baik slah satunya adalah kesepakatan supaya Tn. N dapat merokok di luar
rumah supaya asap rokok tidak mengepul di dalam rumah. Keluarga diberikan leaflet
cuci tangan. Kemudian dilakukan evaluasi dan monitoring sebanyak 2 kali.
Pengetahuan keluarga yang kurang dapat disebabkan karena tingkat pendidikan
keluarga yang rendah, keinginnan keluarga untuk mengikuti penyuluhan yang kurang
sehingga tidak pernah mendapatkan informasi kesehatan. Kurangnya pengetahuan

tersebut dapat menyebabkan perilaku yang tidak baik atau kurang sehat. Pendidikan
kesehatan yang diberikan dengan komunikasi yang tepat dapat meningkatkan
pengetahuan keluarga. hal tersebut sesuai dengan review jurnal yang dilakukan oleh
Curtis dan Cairncross (2003) menyimpulkan pendidikan kesehatan beserta demonstrasi
yang langsung dilakukan dengan kunjungan rumah merupakan intervensi yang perlu
dilakukan. Demonstrasi yang dilakukan pada keluarga ini berupa demonstrasi cuci
tangan 6 langkah.
Demonstrasi tersebut didukung oleh leaflet. Leaflet tersebut dapat membantu
mengingatkan keluarga untuk mencuci tangan yang benar. Hal tersebut sesuai dengan
jurnal Jayawardhena, et all, (2012) yang mengemukakan bahwa dalam pemanfaatan
media seperti leaflet, poster, iklan, buku pedoman,booklet dll maka akan memudahkan
menyampaikan materi secara ringan sehingga mudah diterima oleh masyarakat. Selain
itu keterlibatan keluarga dalam ketersediaanya membaca booklet tersebut dapat
memengaruhi hasil intervensi itu sendiri, seperti dalam jurnal Rheinlander, et al, (2012)
yang menyebutkan bahwa strategi untuk mempromosikan masalah kebersihan dan
sanitasi diri dan lingkungan dapat dilakukan dengan cara melibatkan warga kedalam
intervensi yang diberikan secara langsung sehingga mereka dapat berperan aktif dalam
menunjang keberhasilan intervensi itu sendiri.
Perubahan perilaku yang dialami keluarga sesuai dengan suatu model
perubahan perilaku, yaitu Model Keyakinan Sehat. Empat keyakinan utama pada model
ini ialah keyakinan tentang kerentanan terhadap keadaan sakit, keyakinan tentang
keseriusan atau keganasan penyakit, keyakinan tentang kemungkinan biaya, dan
keyakinan tentang efektivitas tindakan ini sehubungan dengan adanya kemungkinan
tindakan alternatif. Dalam model ini juga terdapat unsur-unsur, seperti pertama kesiapan
seseorang untuk melakukan suatu tindakan ditentukan oleh pandangan orang itu
terhadap bahaya penyakit dan persepsi mereka terhadap kemungkinan akibatnya,
kedua penilaian seseorang terhadap perilaku kesehatan tertentu, dipandang dari sudut
kebaikan dan kemanfaatan(Sudarma, 2008).
Keluarga Tn. N mengetahui bahwa pentingnya mengetahui cara merawat anak
dengan ISPA untuk mencegah penularan, cuci tangan, bahaya rokok bagi perokok aktif
maupun pasif, hal tersebut membuat keluarga merasa takut dan ingin berubah.
4.2 Hambatan
Hambatan yang terjadiberupa waktu yang tepat untuk dilakukannya pengkajian
dan intervensi. Mayoritas pekerjaan warga di RW 04 adalah petani atau pekerja buruh,
sementara klien sendiri bekerja sebagai petani sehingga hanya dapat ditemui di waktuwaktu tertentu. Istri Tn.N pun terkadang tidak selalu ada dirumah. Solusi yang dapat
diberikan yaitu selalu melakukan kontrak dan menyesuaikan dengan kesibukan
keluarga.

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.1.1 Setelah dilaukan intervensi selama 1 minggu, diagnosa defisit pengetahuan diatasi
dengan pendidkan kesehatan tentang ISPA. Diagnosa kedua adalah perilaku
kesehatan cenderung beresiko diatasi dengan pendidikan kesehatan cuci tangan,
bahaya rokok bagi perokok aktif dan pasif, jajanan sehat, rumah sehat dan
kebersihan lingkungan telah dilakukan oleh keluarga dan terlihat dari hasil capaian
sebanyak 70%. Hasil capaian ini sesuai target capaian sebesar 70% sehingga dapat
diartikan tujuan umum diagnosa satu tercapai.
5.2 Saran
Pengontrolan perilaku cuci tangan sangatlah penting. Evaluasi dan monitoring
perlu dilakukan agar perilaku warga berubah menjadi kebiasaan. Promosi kesehatan
dan pendidikan kesehatan juga penting untuk diketahui masyarakt supaya mampu
menerapkan tindakan yang tepat untuk masalah kesehatan yang sedang dialaminya.

Anda mungkin juga menyukai