Anda di halaman 1dari 11

GEOLOGI REGIONAL (lap. struktur BATUKALASI kec. MALUSETTASI kab.

BARRU)
Geomorfologi Regional
Bentuk morfologi yang menonjol didaerah ini adalah kerucut Gunungapi
Lompobattang yang menjulang mencapai ketinggian 2876 meter diatas
permukaan laut. Kerucut Gunungapi Lompobattang ini dari kejauhan masih
mempelihatkan bentuk aslinya dan tersusun oleh batuan gunugapi berumur
Pliosen. Dua bentuk kerucut tererosi lebih sempat sebarannya terdapat disebelah
barat dan disebelah utara gunung Lompobattang. Disebelah barat terdapat
gunug Baturape mencapai ketinggian 1124 meter, dan disebelah barat terdapat
gunung Cindako, mencapai ketinggian 1500 meter. Kedua bentuk kerucut
tererosi ini disusun oleh batuan gunungapi berumur Pliosen. Di bagian Utara
terdapat dua daerah yang dicirikan oleh tofografi karst yang dibentuk oleh
batugamping formasi Tonasa. Kedua daerah bertofografi karst ini dipisahkan oleh
pegunungan yang tersusun oleh batuan gunungapi yang berumur Miosen Bawah
sampai Pliosen. Di sebelah barat gunung Cindako dan disebelah utara Baturape
merupakan daerah berbukit yang halus dibagian Barat. Bagian barat mencapai
ketinggian Kira-kira 500 meter diatas permukaan laut dan hampir
merupakansuatu dataran. Bentuk morfologi ini tersusun oleh batuan klastik
gunung api berumur Miosen. Bukit-bukit yang memanjang yang tersebar di
daerah ini mengarah ke gunung Cindako dan Baturape berupa retas-retas Basalt.
Pesisir barat merupakan dataran rendah yang sebagian besar terdiri dari daerah
rawa dan daerah pasang surut, beberapa sungai besar membentuk daerah banjir
di dataran ini. Di bagian timurnya terdapat bukit-bukit terisolir yang tersusun
oleh batuan klastik gunungapi Miosen Pliosen. Pesisir barat ditempati oeh
morfologi berbukit memanjang rendah dengan arah umum barat laut Tenggara.
Pantainya berliku-liku membentuk beberapa teluk. Daerah ini tersusun oleh
batuankarbonat dari Formasi Tonasa.

Stratigrafi
Qac : Endapan Aluvium, Danau dan Pantai; lempung, lanau, lumpur, pasir dan
kerikil di sepanjang sungai sungai besar dan pantai. Endapan pantai setempat
mengandung sisa kerang dan batugamping koral. Tmcv : Anggota Batuan
gunungapi ; batuan gunungapi bersisipan batuan sedimen laut; breksi
gunungapi, lava, konglomerat gunungapi, dan tufa berbutir halus hingga lapilli;
bersisipan batupasir tufaan, batupasir gampingan, batulempung mengandung
sisa tumbuhan, batugamping dan napal. Batuannya bersusunan andesit dan
basal, umumnya sedikit terpropilitkan, sebagian terkersikkan, amigdaloidal dan
berlubang-lubang, ditrobos oleh retas, sill dan stock bersusunan basal dan diorit;
berwarna kelabu muda, kelabu tua dan coklat. Penarikan Kalium/Argon pada
batuan basal oleh Indonesian Gulf Oil berumur 17,7 juta tahun, dasit dan andesit
berumur 8,93 juta tahun dan 9,92 juta tahun (J.D.Obradovich, 1972), dan basal
dari Barru menghasilkan 6,2 juta tahun (T.M. van Leeuwen, 1978). Beberapa

lapisan batupasir dan batugamping pasiran mengandung moluska dan serpian


koral. Sisipan tufa gampingan, batupasir tufa gampingan, batupasir gampingan,
batupasir lempungan, napal dan batugamping mengandung fosil foraminifera.
Berdasarkan atas fosil tersebut dan penarikan radiometri menunjukkan umur
satuan ini adalah miosen tengah-Miosen Akhir. Batuannya sebagian besar
diendapkan dalam lingkungan neritik sebagai fasies gunungapi Formasi camba,
menindih tidak selaras batugamping Formasi camba dan batuan Formasi
Mallawa; sebagian terbentuk dalam lingkungan darat, setempat breksi gunugapi
mengandung sepaian batugamping, tebal diperkirakan tidak kurang dari 4.000
meter. Tmsv : batuan gunungapi Soppeng; breksi gunungapi dan lava, dengan
sisipan tufa berbutir pasir sampai lapili dan batulempung; dibagian utara lebih
banyak tufa dan breksi, sedangkan dibagian selatan lebih banyak lavanya;
sebagian bersusunan basal piroksin dan sebagian basal leusit, kandungan
leusitnya semakin banyak ke arah Selatan; sebagian lavanya berstruktur bantal
dan sebagian terbreksikan; breksinya berkomponen antara 5 cm 50 cm,
warnanya kebanyakan kelabu tua sampai kelabu kehijauan. Batuan gunung api
ini pada umumnya terubah kuat , amigdaloidal dengan mineral sekunder berupa
urat karbonat dan silikat, diterobos oleh retas ( 0,5 m 1,0 m ) menindih tak
selaras batugamping Formasi Tonasa dan ditindih selaras batuan Formasi camba;
diperkirakan berumur Miosen Bawah.
Struktur Geologi Regional
Batuan tua yang tersingakap didaerah ini adalah sedimen flisch formasi Marada,
berumur kapur atas. Asosiasi batuannya memberikan petunjuk suatu endapan
lereng bawah laut, ketika kegiatan magma sudah mulai pada waktu itu. Kegiatan
magma berkembang menjadi suatu gunungapi pada waktu kira-kira 63 juta
tahun, dan menghasilkan batuan gunungapi terpropilitkan. Lembah Walanae di
Lembar Pangkajane Bagian Barat sebelah Utaranya menerus ke lembar Ujung
Pandang, Benteng dan Sinjai melalui sinjai di pesisir Timur. Lembah ini
memisahkan batuan berumur Miosen, yaitu sedimen klastika formasi
Salokalupang di sebelah timur dari Sedimen Karbonat Formasi Tonasa di sebelah
Baratnya. Rupanya pada Kala Eosen daerah sebelah barat lembah Walanae
merupakan paparan laut dangkal dan sebelah timurnya merupakan suatu
cekungan sedimentasi dekat dataran. Paparan Laut dangakal Eosen meluas
sampai ke seluruh lembar peta, yang bukitnya ditunjukan oleh sebaran formasi
Tonasa di sebelah barat barru, sebelah Timur Maros dan sekitar Takalar. Endapan
paparan berkembang selama Eosen sampai Miosen Tengah. Sedimentasi klastika
sebelah Timur Lembah Walanae rupanya berhenti pada akhir Oligosen, dan
diikuti oleh kegitan gunungapi yang menghasilkan Formasi Kalamaseng. Akhir
dari kegiatan gunungapi Miosen Awal yang diikuti oleh tektonik yang
mengakibatkan terjadinya permulaan terban Walanae yang kemudian terjadi
cekungan dimana formasi Walanae terbentuk. Peristiwa ini kemungkinan besar
tejadi pada awal Miosen tengah, dan menurun perlahan selama sedimentasi
sampai kala Pliosen. Menurut cekungan Walanae dibarengi dengan kegiatan
gunungapi yang terjadi secara luas di sebelah Bartnya dan mungkin secara lokal
di sebelah Timurnya. Peristiwa ini terjadi selama Miosen tengah sampai Pliosen.

Semula gunungapinya terjadi dimuka laut, dan kemungkinan sebagian muncul di


permukaan pada kala Pliosen. Kegiatan gunungapi selama Miosen menghasilkan
Formasi Camba, dan selama Pliosen menghasilkan Batuan gunungapi BaturapeCindako kelompok retas basal berbentuk radier memusat kegunungapi Cindako
dan gunung Baturape, terjadinya mungkin berhubungan gerakan mengkubah
pada kala Pliosen. Kegiatan gunungapi di daerah ini masih berlangsung dengan
kala Plistosen, menghasilkan batuan gunungapi Lompobattang. Berhentinya
kegiatan magma pada akhir Plistosen, diikuti oleh tektonik yang menghasilkan
sesar-sesar en echelon (merencong) yang melalui gunung Lompobattang berarah
Utara Selatan. Sesar-sesar en echelon mungkin akibat dari suatu gerakan yang
mendatar dekstral dari pada batuan alas dibawah Lembar Walanae. Sejak kala
Pliosen pesisir barat Ujung Lengan Sulawesi Selatan ini merupakan dataran
stabil, yang pada kala Holosen hanya terjadi endapan alluvium dan rawa-rawa.
GEOLOGI REGIONAL DAERAH BARRU (lap. X-Map dusun DACCIPONG desa
ANABANUA kec. BARRU)
Geomorfologi Regional
Lokasi penelitian termasuk dalam lembar Pangkajene dan Watampone bagian
Barat, Sulawesi. Dimana pada lembar tersebut terdapat dua baris pegunungan
yang memanjang hampir sejajar pada arah utara-barat laut dan terpisah oleh
lembar sungai Walanae. Pegunungan barat melebar di bagian selatan dan
menyempit dibagian utara. Puncak tertinggi 1694 meter dengan ketinggian ratarata 1500 meter. Pembentuknya sebagian besar batuan gunungapi. Di lereng
barat dan dibeberapa tempat di lereng timur terdapat topografi karts yang
merupakan pencermin adanya batugamping. Diantara topografi karst di lereng
barat terdapat daerah perbukitan yang dibentuk oleh Pra Tersier. Pegunungan ini
di bagian barat daya dibatasi oleh daratan Pangkajene, Maros yang luas sebagai
lanjutan dari dataran sekitarnya.
Stratigrafi Regional
Qac : Endapan Aluvium, Danau dan Pantai; lempung ,lanau, lumpur, pasir dan
kerikil di sepanjang sungai-sungai besar dan pantai. Endapan pantai setempat
mengandung sisa kerang dan batugamping koral. Qac : Endapan Undak; kerikil,
pasir, dan lempung membentuk daratan rendah bergelombang di sebelah utara
Pangkajene. Satuan ini dapat dibedakan secara morfologi dari endapan aluvium
yang lebih muda. Tmc : Formasi Camba; batuan sedimen laut berselingan
dengan batuan gunungapi; batupasir tufa berselingan dengan tufa, batupasir,
batulanau, dan batulempung; konglomerat dan breksi gunungapi, dan setempat
dengan batubara; berwarna putih, coklat, kuning, kelabu muda sampai
kehitaman; umumnya mengeras kuat dan sebagian kurang padat ; berlapis
dengan tebal antara 4-100 cm. tufanya berbutir halus hingga lapili; tufa
lempungan berwarna merah mengandung banyak mineral biotit; konglomerat
dan breksinya terutama berkomponen andesit dan basalt dengan ukuran antara
2 40 cm; batugamping pasiran dan batupasir gampingan mengandung

pecahan koral dan mollusca; batulempung gampingan kelabu tua dan napal
mengandung foram kecil dan mollusca. Fosil-fosil yang ditemukan pada satuan
batuan ini menunjukan kisaran umur Miosen Tengah-Miosen Akhir (N.9-N.15)pada
lingkungan neritik. Ketebalan satuan batuan ini sekitar 5.000 meter, menindih
tidak selaras batugamping Formasi Tonasa (Temt) dan Formasi Mallawa (Tem),
mendatar berangsur-angsur berubah menjadi bagian bawah dari Formasi
Walanae (Tmpw), diterobos oleh retas, sill dan stock bersusunan basal piroksin,
andesit dan diorit. Tmcv : Anggota Batuan gunungapi ; batuan gunungapi
bersisipan batuan sedimen laut; breksi gunungapi, lava, konglomerat gunungapi,
dan tufa berbutir halus hingga lapilli; bersisipan batupasir tufaan, batupasir
gampingan, batulempung mengandung sisa tumbuhan, batugamping dan napal.
Batuannya bersusunan andesit dan basal, umumnya sedikit terpropilitkan,
sebagian terkersikkan, amigdaloidal dan berlubang-lubang, diterobos oleh retas,
sill dan stock bersusunan basal dan diorit; berwarna kelabu muda, kelabu tua
dan coklat. Penarikan Kalium/Argon pada batuan basal oleh Indonesian Gulf Oil
berumur 17,7 juta tahun, dasit dan andesit berumur 8,93 juta tahun dan 9,92
juta tahun (J.D.Obradovich, 1972), dan basal dari Barru menghasilkan 6,2 juta
tahun (T.M. van Leeuwen, 1978). Beberapa lapisan batupasir dan batugamping
pasiran mengandung Moluska dan serpian koral. Sisipan tufa gampingan,
batupasir tufa gampingan, batupasir gampingan, batupasir lempungan, napal
dan batugamping mengandung fosil foraminifera. Berdasarkan atas fosil tersebut
dan penarikan radiometri menunjukkan umur satuan ini adalah miosen tengahMiosen Akhir. Batuannya sebagian besar diendapkan dalam lingkungan neritik
sebagai fasies gunungapi Formasi Camba, menindih tidak selaras batugamping
Formasi Camba dan batuan Formasi Mallawa; sebagian terbentuk dalam
lingkungan darat, setempat breksi gunugapi mengandung sepaian batugamping,
tebal diperkirakan tidak kurang dari 4.000 meter. Temt : Formasi Tonasa;
batugamping koral pejal sebagian terhablurkan berwarna putih dan kelabu
muda; batugamping bioklastik dan kalkarenitberwarna putih, coklat muda dan
kelabu sebagian berlapis, berselingan dengan Napal Globigerina tufaan; bagian
bawahnya mengandung batugamping berbitumen, setempat bersisipan breksi
batugamping dan batugamping pasiran. Berdasarkan kandungan fosilnya kisaran
umur Eosen Awal-Miosen Tengah. Dengan lingkungan pengendapan berupa
neritik dangkal hingga dalam dan lagoon. Tebal Formasi diperkirakan tidak
kurang dari 3000 meter, menindih tidak selaras batuan Mallawa dan tertindih
tidak selaras dengan Formasi Camba, diterobos oleh sill, retas, dan sctock
batuan beku yang bersusunan basalt, trakit diorit Tmsv : batuan gunungapi
Soppeng; breksi gunungapi dan lava, dengan sisipan tufa berbutir pasir sampai
lapili dan batulempung; dibagian utara lebih banyak tufa dan breksi, sedangkan
dibagian selatan lebih banyak lavanya; sebagian bersusunan basal piroksin dan
sebagian basal leusit, kandungan leusitnya semakin banyak ke arah Selatan;
sebagian lavanya berstruktur bantal dan sebagian terbreksikan; breksinya
berkomponen antara 5 cm 50 cm, warnanya kebanyakan kelabu tua sampai
kelabu kehijauan. Batuan gunung api ini pada umumnya terubah kuat ,
amigdaloidal dengan mineral sekunder berupa urat karbonat dan silikat,
diterobos oleh retas ( 0,5 m 1,0 m ) menindih tak selaras batugamping Formasi
Tonasa dan ditindih selaras batuan Formasi camba; diperkirakan berumur Miosen

Bawah.
Struktur Geologi Regional
Batuan tua yang masih dapat diuketahui kedudukan stratigrafi dan tektoniknya
adalah sedimen flysch Formasi Balangbaru. Formasi ini menindih tidak selaras
oleh batuan yang lebih tua, dan bagian atasnya ditindih tidak selaras oleh
batuan yang lebih mudah. Formasi Balangbaru merupakan endapan lereng di
dalam sistem busur-palung pada zaman kapur Akhir. Kegiatan gunungapi bawah
laut dimulai pada kala Paleosen. Pada kala Eosen Awal, daerah barat merupakan
tepi daratan yang dicirikan oleh endapan darat serta batubara di dalam Formasi
Mallawa. Pengendapan Formasi Malllawa kemungkinan hanya berlangsung
selama awal Eosen Pengendapan batuan karbonat yang sangat tebal dan luas di
barat berlangsung sejak Eosen Akhir hingga Miosen Awal. Gejala ini menandakan
bahwa selama waktu itu terjadi paparan laut dangkal yang luas, yang berangsurangsur menurun sejalan dengan adanya pengendapan. Proses tewktonik di
bagian barat ini berlangsung sampai Miosen Awal. Akhir kegiatan gunungapi
Miosen Awal itu diikuti oleh tektonik yang menyebabkan tewrjadinya permulaan
terban Walanae yang kemudian terjadi cekungan tempat pembentuk Formasi
Walanae. Menurunnya terban Walanae di batasi oleh dua sistem sesar normal
yaitu sesar walanae dan sesar Soppeng. Sesar utama berarah utara barat laut
terjadi sejak Miosen Tengah, dan tumbuh sampai setelah Pliosen. Perlipatan
besar yang berarah hampir sejajar dengan sesar utama diperkirakan terbentuk
sehubungan dengan adanya tekanan mendatar berarah kira-kira timur-barat
pada waktu sebelum akhir pliosen. Tekanan ini mengakibatkan pula adanya sesar
sungkup lokal yang menyesarkan batuan Pra-kapur Akhir. Perlipatan dan
pensesaran yang relatif lebih kecil di bagian barat di pegunungan barat yang
berarah barat laut-tenggara dan mencorong, kemudian besar terjadi oleh
gerakan mendatar ke kanan sepanjang sesar besar.

PENELITI TERDAHULU GEOLOGI REGIONAL BARRU DAN SEKITARNYA


Sebelum pelaksanaan praktek lapangan yang dilakukan pada daerah penelitian,
terdapat beberap ahli yang telah melakukan penelitian terlebih dahulu pada
daerah tersebut.
1. VAN BEMMELEN, 1949, yang menulis tentang lengan selatan pulau Sulawesi.
2. DJURI dan SUJATMIKO, 1974, meneliti geologi lembar Pangkajene dan bagian
barat lembar Palopo Sulawesi Selatan dengan skala 1:250.000.
3. S. SARTONO dan K.A.S. ATADIREJA, 1981, meneliti geologi kuarter Sulawesi
Selatan dan Tenggara.
4. SURTONO dan ASTADIREJA, 1981, Meneliti Geologi Karst Sulawesi Selatan dan
Sulawesi Tenggara.

5. RAB. SUKAMTO, 1982, membuat peta geologi regional lembar Pangkajene dan
Watampone bagian Barat, Sulawesi Selatan

Geomorfologi Regional Barru


Kabupaten Barru dan sekitarnya merupakan pegunungan dan padan umumnya
terdapat didaerah bagian timur,wilayah bagian barat merupakan pedataran yang
relative sempit dan dibatasi oleh selat makasar.Daerah ini menyempit ke Utara
dan dibatasi oleh perbukitan dengan pola struktur yang rumit,kemudian di
sebelah selatan dibatasi oleh pegunungan yang disusun oleh Batugamping.
Proses Geomorfologi merupakan perubahan yang dialami oleh permukaan bumi
baik secara fisik secara fisik maupun kimia (THORNBURY 1954) penyebab dari
proses perubahan tersebut dapat dibagi atas 2 golongan yaitu :
a)

Tenaga Eksogen

Tenaga ini bersifat merusak,dapat berupa angina,suhu,dan air.Dengan adanya


tenaga Eksogen dapat terjadi proses denudasi berupa erosi,pelapukan,dan
degradasi.
b)

Tenaga Endogen

Tenaga ini cenderung untuk membangun,dapat berupa gempa,gaya-gaya


pembentuk struktur dan vulkanisme akibat dari adanya tenaga endogen maka
dapat terbentuk struktur gunung api dan agradasi.
Dengan adanya tenaga-tenaga tersebut diatas maka terbentuknya bentang alam
dengan kenampakan yang berbeda satu sama lainnya sesuai dengan tenaga
yang mempengaruhi pembentukannya.
Kenampakan bentang alam di daerah Barru umumnya merupakan daerah
perbukitan dan pegunungan dimana puncaknya sudah nampak meruncing dan
sebagian lagi nampak membulat.Perbedaan tersebut disebabkan oleh
karakteristik masing-masing batuannya.Pengaruh struktur dan tingkat
perkembangan erosi yang telah berlangsung dan akhirnya menghasilkan
kenampakan bentang alam seperti yang nampak sekarang ini. Berdasarkan hal
tersebut diatas maka pengelompokan satuan morfologi di daerah Barru dapat
dibagi berdasarkan pada struktur geologi dan batuan penyusunnya serta proses
geomorfologi yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi yang nampak
sekarang pembagian satuan morfologi adalah sebagai berikut :
Satuan morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua.
Satuan morfologi pegunungan denudasi B.Masula-B.Pitu
Satuan Morfologi perbukitan Gawir sesar Aledjang-Buludua

Penamaan satuan morfologi ini didasarkan atas struktur geologi yang lebih
dominant terdapat pada daerah tersebut dan memberikan pengaruh terhadap
pembentukan bentang alamnya.

Stratigrafi Regional Daerah Barru


Daerah Barru disusun oleh beberapa satuan batuan dan tersebar pada jenis
bentang alam yang berbeda atau berfariasi dan telah mengalami gangguan
struktur sehingga menyebabkan jurus dan kemiringan perlapisan batuan menjadi
tidak beraturan.Sebagian batuannya telah mengalami pelapukan dan peremukan
hingga nampak kurang segar terutama pada napal.
Pengelompokkan dan penamaan satuan batuan didasarakan atas cirri-ciri fisik
dilpangan, jenis batuan, posisi stratigrafi dan hubungan tektonik antar batuan
dapat dikorelasikan secara vertical maupun lateral dan dapat dipetakan dalam
skala 1 : 25.000.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka satuan batuan dapat digolongkan
dalam 5 (lima) satuan,mulai dari satuan batuan yang tua sampai yang ke
termuda yaitu sebagai berikut :
1)

Satuan serpih balangbaru

2)

Satuan batupasir mallawa

3)

Satuan breksi batugamping tonasa

4)

Satuan napal

5)

Satuan breksi

6)

Satuan batuan beku intrusi

Pembahasan lebih lanjut dari setiap satuan batuan dari yang tertua ke yang
termuda sebagai berikut :
1)

Satuan serpih balangbaru

Penyebaran batuan ini tidak terlalau meluas yang menempati bagian sungai
umpung dengan arah umum perlapisan baratdaya-timur laut. Ciri litologi
berwarna segar ungu dan jika lapuk berwarna abu-abu dengan tekstur klastik
halus berukuran lempung, dan ketebalan perlapisan berukuran antara 1-10 cm.
Ukuran butir lempung dan struktur berlapis.
Lingkungan pengendapannya dari satuan serpih ini didasarkan ciri-ciri litologi
dimana dijmpai perlapisan tipis dengan ukuran butir lempung yang menunjukkan
lingkungan pengendapan tenang atau laut dalam. Penentuan umur serpih
diperkirakan berumur kapur termasuk dalam formasi Balangbaru. Hubungan
stratigrafi dengan litologi diatasnya adalah tidak selaras.

2)

Satuan batupasir Mallawa

Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi dan pelemparan batuan
penyusunnya serta cirri-ciri litologi. Penyebaran satuan batupasir ini meliputi
bagian barat daerah Barru dengan arah umum perapisan berarah Utara-Selatan.
Kenampakan satuan batuan ini menunjukkan adanya kesan perlapisan, dalam
keadaan segar berwarna kuning kecoklatan, tekstur klastik kasar, mengandung
mineral kuarsa. Dalam satuan ini terdapat angota-anggota berupa batupasir,
konglomerat, batulanau, batulempung dan napal.Dengan sisipan batubar berupa
lensa.
Umur satuan batuan ini diperkirakan antar Paleosen sampai Eosen Bawah,
hubungan stratigrafi dengan satuan batuan dibawahnya adaklah tidak selarasa
dengan satuan batuan diatasnya.
3)

Satuan breksi batugamping

Penamaan satuan batuan ini didasarakan pada dominasi dan pelemparan batuan
penyusunnya. Ciri litologi kompak dan keras serta bersifat karbonatan. Batruan
ini terdiri atas fragmen berupa sekis,glaukonit,kuarsit, batugamping dan fosil
serta matriks berupa lempung. Berdasarkan hal tersebut diatas makasatuan
batuan ini dinamakan satuan breksi batugamping.
Penyebaranm satuan ini meliputi sebelah barat alut dan sebagaian didaerah
Buludua, yang pada umumnya menempati daerah satuan morfologi perbukitana
gawir sesar Aleojang Buludua denga nsudut kemiringan lereng antara 10-20 %.
Arah umum perlapisan batau relatif berarah baratlaut-tenggara dengan sudut
kemiringan 25-37. ketebalan relative satuan breksi batugaming adalah 264 m.
Kenampakan satuan breksi batugamping menunjukkan adanya kesan perlapisan
umum namun adapula yang terdapat dalam bentuk bongkahan. Tebal lapisan
antara 16-60 cm. berwarna putikh kekuning-kuningan dalam keadaan segar dan
lapuk berwarna abu-abu kehitaman. Klastik kasar dengan sortasi jelek dan
mengandung fosil,mineral glukonit,muskovit,dan sekis.
Fosil yang dijumpai berupa foraminifera besar yaitu Nummulites
gizehensis TAMARCK dan Discocyline indopacticia GALLOWAY. Berdasarkan cirriciri litologi dimana ada dijumpai perlapisan dengan tebal yang berbeda, disusun
oleh mineral mineral berbutier kasar dengan pemilahan jelek dan kehadiran
mineral glaukonit.
Penetuan umur dari satuan ini dari satuan ini didasarkan atas kandungan fosil
yang dijumpai antar Eosen Awal sampai Eosen Tengah. Hubungan
stratigrafi antar satuan breksi batugamping dengan satuan di bawahnya adalah
selaras adan menjemari denga nsatuan Batunapal yang tidak selaras dengan
breksi vulkaik yang berasda diatasnya. Satuan batuan ini ternmasuk dalam
formasi tonasa.
4)

Satuan Napal

Penyebaran satuan ini meliputi daerah Galungsalawe, Bale, dan Ampele dan
sebagian terdapat di daerah timur laut.Sebagian dar isatuan batuan ini
menempati daerah satuan morfologi perbukitan sesar,gawir aledjang buludua
dan sebagian lagi terdapat pada daerah yang daerahnya relative datar arah
umum perlapisan batuan beraraha baratlaut-tenggara dengan sudut kemiringan
antara 23-840
Kenampakan satuan napal menujukkan adanya perlapisan denga n ketebalan
anatar 25-50 cm. dalam keadaan segar, batuan ini berwarna putih keabuan dan
lapuk berwarna kuning keabuan, tekstur klastik.
Dari hasil analisa secara mikro paleontology dijumpai fosil foraminifera plantonik
yaitu Globigerina boweci HOLL dan Glubegeris indeks FINLAY sedang fosil
foraminifera bentonik yaitu Textularia agglutinans D` ORBTONY. Berdasarkan
kandungan fosi lini ditentukan lingkungan pengendapanya yaitu pada inner
neritik-middle neritik denga n kedalaman 0-100m, atau lingkungna laut
dangkal(TIPSWORD & SITTZER 1975)
Umur satuan ini yaitu Eosen Tengah bagian bawah(POSTUMA 1970) yang
ditentukan dari kandungan fosilnya. Hubungan stratigrafi antara satuan in
derngan batuan yang ada disekitarnya yaitu ssatuan breksi
batugamping menjemari dan dengan satuan breksi vulkanik yang berada
diatatasnya adalah tidak selaras. Satuan ini termasuk dalam formasi Tonasa
5)

Satuan Breksi Vulkanik

Satuan breksi vulkanik penyebaranya meliputi beberapa pegunungan yaitu B.


laposso, B. masula, B. matonrong, B. Pitu, B. kaluku serta pemukiman seperti
menrong,parjiro adjenga,baitu,wuruwue dan litae ssebagian pula tersingkap di
daerah aliran sungai kampong Litae, satuan ini menempati daerah satuan
morfologi pegununga ndenudasi B. masula,B. pitu denganarah perlapisan batuan
umumnya barat laut timur tenggara denga nsudut kemiringan antara 16 25 %.
Kenampakan dari satuan brekasi vulaknik ini menampakkan adanya perlapisan
denag nkletebalan lapisan antara 35-100 cm. Fragmen batuan breksi vulkainik
berupa batuan beku yaitu Basalt, andesit, matriks tufa yang disemen oleh silica
denga nsortasi buruk. Ukuran fragmen yaitu antara 5-60 cm dan bentuk
menyudut tanggung.
Pada satuan ini tidak dijumpai adanya fosil mikro dan makro sehingga satuan ini
disebandingkan dengan batuan vulkanik camba yang barumur Miosen Tengah
sampai Miosen Akhir. Hubungan stratigrafi dengan batuan yang ada di atasnya
maupun yang ada diaatasnya adalah tidak selaras.
6)

Satuan batuan beku intrusi

Satuan in terdiri dar idua anggota yaitu batuan diorite dan batuan
andesit. Batuan beku diorite penyebarannya meliputi daerah B. Matjekke dan
sebagian kecil terdapat disebelah selatan barat laut. Batuan ini menempati
daerah satuan morfologi pegunungan denudasi B.masula, B.pitu, dalam keadaa

segar batua ini berwarna abu-abu dengan struktur kompak,tekstur faneritik dan
bentuk kristal subhedral-anhedral ukuran mineral 1-2,3mm.
Penentuan umur batua ndiorit disebandingkan dengan hasil peneliti terdahulu
(RA SUKAMTO 1982) yaitu berumur Miosen. Kenampakan batuan ini dalam
keadaan segara menampakkan warna abu-abu kehitaman, struktur
vasikuler,tekstur afanitik, komposisi mineral plagioklas,hornblend. Umur batuan
beku andesit ini adalah Miosen berdasarkan hasil radiometri K/Ar terhadap
mineral Hornblende.

Struktur Geologi Regional Barru


Batuan tua yang masih dapat diketahui kedudukannya stratigrafinya dan
tektoniknya adalah sedimen Flysch formasi balang baru dan formasi
malada.Bagian bawah tidak selaras menindih batuan yang lebih tua dan bagian
utaranya ditindih tidak selaras oleh batuan yang lebih muda.Batuan yang lebih
tua merupakan masa yang terimbrikasi melalui sejumlah sesar sungkup,
terbreksikan,tergerus,terdaunkan dan sebagian tercampurkan menjadi
melange.Oleh karena itu kelompok batuan ini dinamakan komplek tektonik
bantimala.Berdasarkan himpunan batuannya diduga formasi balang baru dan
marada merupakan endapan lereng dalam sistem busur palung pada zaman
kapur akhir.Gejala ini menunjukka bahwa malange didaerah bantimala tejadi
sebelum kapur akhir.
Kegiatan gunung api bawah laut,dimulai pada kala paleosen yang hasil
erupsing=ya terlihat di timur bantimala dan di daerah barru pada kala iosen
awal,rupanya daerah barat merupakan tepi daratan yang dicirikan oleh endapan
darat serta batu bara didalam formasi mallawa,sedangkan didaerah timur
berupa cekungan laut dangkal tempat pengendapan batu-batu klastik.Bersisipan
karbonat salo kulapang pengendapan formasi mallawa kemungkinan hanya
berlangsung selama awal eosen akhir sampai milosen awal.Gejala ini
menandakan bahwa selama itu terjadi paparan laut dangkal yang luas,yang
berangsur-angsur menurun sejalan dengan adanya pengendapan proses tektonik
di bagian barat ini berlangsung sampai meosen awal,sedangkan di bagian timur
kegiatan gunung api sudah mulai lagi selama miosen awal yang diwakili oleh
batuan gunung api kalamiseng dan soppeng.
Akhir kegiatan miosen awal itu diikuti oleh tektonik yang menyababkan
terjadinya permulaan terbentuk walanae.Peristiwa ini kemungkinan besar
berlangsung sejak awal miosen tengah dan menurunya terban walanae yang
seluruhnya nampak tersngkap tidak menerus disebelah barat.
Selama terbentuknya terban Walanae,di timur kegiatan gunung api terjadi hanya
dibagian selatan sedangkan di bagian barat terjadi kegiatan gunung api yang
hampir merata dari selatan ke utara,berlangsung dari miosen tengah sampai
plioesen.Bentuk kerucut gunung api masih dapat diamati di daerah sebelah
barat ini,diantaranya puncak maros dan G.Tendongkarambu.Suatu tebing

melingkar mengelilingi G.Benrong diutara,G.Tendongkarambu mungkin


merupakan sisa sustu kaldera.
Sesar utama yang utama barat laut yang terjadi sejak miosen tengah sampai
pilosen.Perlipatan besar yang berarah hampir sejajar dengan adanya tekanan
mendatar berarah kira-kira timur-barat pada waktu sebelum akhir
pliosen.Tekanan ini mengakibatkan pula adanya sesar sungkup lokal yang
menyesarkan batuan pra-kapur akhir didaerah bantimala keatas batuan
tersier.Perlipatan dan penyesaran yang relatif lebih kecil dibagian timur lembah
walanae dan dibagian barat pegunungan barat,yang berarah laut tenggara dan
melancong,kemudian adanya kemungkinan besar terjadi oleh gesekan mendatar
kekanan sepanjang sesar besar.