Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ternak potong di Indonesia terutama sapi dan kerbau sebagian besar masih
dipelihara secara tradisional. Hal ini masih banyak dijumpai di daerah pedesaan.
Pemeliharaan ternak potong masih bersifat sebagai usaha sambilan disamping
usaha pokoknya sebagai petani. Ternak-ternak yang dipelihara biasanya
disesuaikan dengan selera petani peternak, ada yang menyukai memelihara sapi
atau kerbau (ternak potong besar) untuk mendukung usaha pertaniannya, ada pula
yang menyukai memelihara ternak kambing atau domba (ternak potong kecil) atau
keduanya, sedangkan babi hanya dipelihara di daerah tertentu. Petani tradisional
kebanyakan lebih memilih ternak dari bangsa lokal dibandingkan ternak impor
atau luar. Sejauh ini ternak sapi yang dipelihara di desa berasal dari bangsa sapi
PO (Peranakan Ongole) yang dikenal sebagai sapi-sapi putih. Ternak kerbau yang
biasanya banyak dipelihara adalah kerbau lumpur.
Pertumbuhan ternak potong meliputi pertumbuhan pre natal dan post natal.
Pertumbuhan pre natal adalah pertumbuhan yang terjadi atau berlangsung di
dalam kandungan induk dan pertumbuhan post natal adalah pertumbuhan yang
terjadi atau berlangsung mulai ternak dilahirkan sampai mati. Fase pertumbuhan
pada umur pedet, cempe berbeda dengan fase pertumbuhan pada ternak muda dan
dewasa. Mempelajari konsep pertumbuhan pada ternak maka praktikan dapat
mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memelihara sesuai dengan tujuan
tertentu (pembesaran, penggemukan dan sebagainya).

Ternak potong dipelihara bertujuan untuk meningkatkan produksi daging


sedangkan tenaganya dimanfaatkan untuk membantu para petani membajak
sawah. Berdasarkan fungsi yang berbeda tersebut, maka kedua jenis ternak ini
memiliki perototan yang berbeda pula. Ternak potong yang jarang digunakan
untuk bekerja memiliki bentuk otot yang tidak begitu menonjol (tidak kentara)
dibandingkan ternak kerja. Namun pada prinsipnya kedua ternak tersebut
mempunyai susunan perototan yang tidak berbeda dan bentuk susunan otot atau
perdagingan bisa diamati dengan jelas setelah ternak itu dipotong atau dikuliti.
Rumusan Masalah
Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan ternak potong?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Pertumbuhan
Istilah pertumbuhan mempunyai banyak definisi. Definisi pertumbuhan
yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat
hidup, bentuk, dimensi linear dan komposisi tubuh, termasuk perubahan
komponen-komponen kimia, terutama air, lemak, protein dan abu pada karkas.
Perubahan organ-organ dan jaringan berlangsung secara gradual hingga
tercapainya ukuran dan bentuk karakteristik masing-masing organ dan jaringan.
Pertumbuhan prenatal merupakan pertumbuhan organ atau hewan selama dalam
kandungan atau sebelum hewan dilahirkan, sedangkan pertumbuhan postnatal
adalah pertumbuhan hewan setelah dilahirkan.
Pertumbuhan seekor ternak merupakan kumpulan dari pertumbuhan
bagian-bagian komponennya.

Pertumbuhan komponen-komponen tersebut

berlangsung dengan kadar laju yang berbeda, sehingga perubahan ukuran


komponen menghasilkan diferensiasi atau pembedaan karakteristik individual sel
dan organ.

Diferensiasi menghasilkan perbedaan morfologis atau kimiawi,

misalnya perubahan sel-sel embrio menjadi sel-sel otot, tulang, hati, jantung,
ginjal, otak, saluran pencernaan, organ reproduksi dan alat pernafasan.
Pertumbuhan dapat terjadi dengan penambahan jumlah sel yang disebut
dengan hyperplasia dan dapat pula dengan penambahan ukuran sel, yang disebut
hypertrophy. Terjadi dua hal dasar pada pertumbuhan hewan, yaitu pertambahan
bobot badan yang disebut pertumbuhan dan perubahan bentuk yang disebut
perkembangan.

Pertumbuhan termasuk proses biologis, karena pertumbuhan merupakan


salah satu ciri dasar makhluk hidup. Begitu kompleksnya fenomena pertumbuhan
sehingga kadang-kadang sulit untuk menetapkan terminologi yang pasti tentang
apa itu pertumbuhan.

Fenomena-fenomena biologis

yang terlibat dalam

pertumbuhan antara lain :

Reproduksi
Perubahan dimensi
Peningkatan ukuran linear
Penambahan bobot/masa

Studi tentang pertumbuhan meliputi :

Konsep tentang pertumbuhan


Masalah genetik dari pertumbuhan
Dasar-dasar metabolisme pertumbuhan
Dimensi Lingkungan

Studi tentang pertumbuhan ini menjadi menarik setelah fenomena biologis ini
dimanfaatkan oleh manusia pada berbagai bidang usaha dan ilmu pengetahuan,
seperti peternakan, kedokteran, vateriner, biologi dan lain-lain.
Menurut para ahli nutrisi, pertumbuhan merupakan perubahan masa tubuh.
Ada yang mengemukakan bahwa pertumbuhan tidak identik dengan pertambahan
masa tubuh dan tidak identik dengan penambahan daging. Tapi memang proses
pertumbuhan berkaitan dengan berbagai produk yang dapat dinyatakan dengan
masa seperti : masa daging, woll, ataupun perubahan lainnya seperti lingkar dada,
panjang badan dan lain-lain.

Secara biologis, pertumbuhan berkaitan dengan

waktu (time independent). Dalam praktek peternakan pertumbuhan berkaitan


dengan perubahan masa sebagai hasil suatu management ataupun tata laksana.
Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Ternak

Kecepatan pertumbuhan relatif berbagai komponen tubuh ternak berbeda


satu dengan yang lainnya. Hal ini menghasilkan berbagai komposisi tubuh ternak
pada berbagai fase pertumbuhan dan berbagai keadaan lingkungan. Pertumbuhan
jaringan tubuh pada ternak daging dibedakan atas 3 tingkatan diantaranya adalah :

Pertumbuhan tulang dan organ lain.


Pertumbuhan jaringan otot.
Pertambahan bobot karena penimbunan lemak.
Proses penuaan berkaitan dengan proses metabolik dalam pembentukan

kolagen. Berdasarkan laju pertumbuhan maksimumnya, yang didasarkan atas


umur, urutan tumbuh jaringan tubuh adalah :

Syaraf
Tulang
Otot
Jaringan lemak
Lemak menumpuk pada berbagai depot lemak dengan kecepatan yang
berbeda, dengan urutan : Lemak mesentium, Lemak ginjal, Lemak
intermusculer, Lemak subcutan dan Lemak intramuscular

Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan


Diantara individu di dalam suatu bangsa atau diantara bangsa ternak
terdapat perbedaan respons terhadap pengaruh lingkungan seperti nutrisional, fisis
dan mikrobiologis. Perbedaan respon ini menyebabkan adanya perbedaan kadar
laju pertumbuhan. Faktor jenis kelamin, hormon dan kastrasi serta genotipe juga
mempengaruhi pertumbuhan.

Jenis, komposisi kimia dan konsumsi pakan

mempunyai pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan. Konsumsi protein dan


energi yang lebih tinggi akan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih cepat.
Pengaruh nutrisi akan lebih besar bila perlakuannya dimulai sejak awal periode

pertumbuhan. Jadi pertumbuhan ternak dapat dimanipulasi dengan perlakuan


nutrisi yang berbeda.
Genotipe ternak juga mempengaruhi laju pertumbuhan. Perbedaan laju
pertumbuhan di antara bangsa dan individu ternak di dalam suatu bangsa,
terutama disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh dewasa. Bangsa ternak yang
besar akan lahir lebih berat, tumbuh lebih cepat dan lebih berat pada saat
mencapai kedewasaan daripada bangsa ternak yang kecil.
Jenis kelamin dapat juga menyebabkan perbedaan laju pertumbuhan.
Dibandingkan dengan ternak betina, ternak jantan biasanya tumbuh lebih cepat,
dan pada umur yang sama lebih berat. Perbedaan laju pertumbuhan antar kedua
jenis kelamin tersebut dapat menjadi lebih besar sesuai dengan bertambahnya
umur.

Steroid kelamin terlibat dalam pengaturan pertumbuhan dan terutama

bertanggung jawab atas perbedaan komposisi tubuh antara jenis kelamin jantan
dan betina.
Hormon dan Pertumbuhan
Pertumbuhan ternak diatur oleh hormon, baik secara langsung maupun
tidak langsung.

Ada perbedaan-perbedaan di antara bangsa ternak mengenai

pengaruh hormon, misalnya pengaruh hormon pertumbuhan, insulin dan tiroksin.


Steroid

kelamin

juga

mempunyai

peranan

penting

dalam

pengaturan

pertumbuhan, terutama pengaruhnya terhadap perbedaan-perbedaan komposisikonposisi tubuh di antara jenis kelamin ternak. Hormon dapat mengubah reaksi
biokimia yang berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan
komponen tubuh.

Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dapat dibagi menjadi dua


kelompok, yaitu: (1) kelompok anabolik, dan (2) kelompok katabolik.

STH

( Somatotropic hormone) atau somatotropin atau GH (Growth hormone),


testosteron dan tiroksin termasuk hormon yang mempunyai pengaruh anabolik,
sedangkan estrogen termasuk hormon katabolik.

Hormon yang mempunyai

pengaruh langsung terhadap pertumbuhan, antara lain adalah somatotropin,


tiroksin, androgen, estrogen dan glukokortikoid (GC). Hormon-hormon tersebut
mempengaruhi pertumbuhan masa tubuh, termasuk pertumbuhan tulang dan
metabolisme nitrogen.
Somatotropin berasal dari kelenjar pituitari bagian anterior, dan
mempunyai fungsi mengatur pertumbuhan normal ternak muda serta metabolisme
normal pada ternak dewasa. Sekresi STH diatur oleh faktor pembebas STH dari
hipotalamus.

STH mengatur pertumbuhan kerangka, yaitu menstimulasi

pertumbuhan plat epipiseal tulang panjang. STH menstimulasi sintesis protein


dengan meningkatkan kemampuan ribosom untuk menginkorporasikan asamasam amino menjadi protein.
STH meningkatkan berat badan, konversi pakan dan produksi daging
ternak pedaging. Pada babi, STH plasma menurun sesuai dengan umur. Pada
domba, aktivitas STH memuncak pada saat lahir dan kemudian menurun. Steroid
anabolik seperti dietil stilbesterol diduga mempunyai pengaruh terhadap
pertumbuhan ternak ruminansia dengan menstimulasi peningkatan sekresi STH.
Bangsa sapi yang pertumbuhan awalnya cepat dan ukuran dewasanya besar,
mensekresi STH dalam jumlah yang relatif lebih besar daripada bangsa sapi yang
pertumbuhan awalnya lambat dan ukuran dewasanya kecil. STH secara tidak

langsung mempengaruhi penggunaan lipid untuk kebutuhan energi dan


pemeliharaan sintesis protein esensial pada kondisi yang kurang menguntungkan.
Pembebasan STH dihambat oleh suatu peptida yang disebut somatostatin. Di
dalam otot skeleral, somatostatin ini mungkin mempunyai peranan sebagai
pengatur metabolisme alanin dan glutamin.
Androgen adalah suatu hormon kelamin yang termasuk sebagai hormon
pengatur atau stimulan pertumbuhan. Androgen dihasilkan oleh sel-sel interstisial
dan kelenjar adrenal.

Salah satu steroid androgen adalah testosteron yang

dihasilkan oleh testes.

Sekresi testosteron yang tinggi menyebabkan sekresi

androgen yang tinggi pula.

Hormon kelamin jantan ini menyebabkan

pertumbuhan yang lebih cepat pada ternak jantan dibandingkan denga ternak
betina, terutama setelah munculnya sifat-sifat kelamin sekunder pada ternak
jantan. Seperti halnya STH, androgen juga menstimulasi sintesis protein terutama
di dalam otot, dan penurunan kandungan lemak tubuh, sehingga dampak kedua
macam hormon tersebut masih sulit diinterpretasikan.
Kepentingan STH sebagai stimulan pertumbuhan dipengaruhi oleh
somatomedin.

Somatomedin adalah keseluruhan keluarga polipeptida yang

tergantung pada STH dengan properti seperti insulin. Level yang tinggi dari salah
satu somatomedin mempunyai dampak negatif terhadap produksi STH, yaitu
meningkatkan pengaruh negatif somatostatin terhadap produksi STH. Insulin juga
menstimulasi sintesis protein seperti halnya STH dan androgen, yaitu dengan
aktivitasnya terhadap level rantai peptida.
somatomedin dengan serum anti insulin.

Insulin dapat dibedakan dari

Somatomedin tidak diblokade oleh

serum anti insulin. Konsentrasi insulin yang lebih tinggi dari normal di dalam

darah akan menstimulasi diferensiasi mioblast, seolah-olah insulin bertindak


analog dengan somatomedin.
Insulin mempunyai pengaruh langsung terhadap masukan glukosa ke
dalam sel-sel otot dan menstimulasi enzim sintetase glikogen yang bertanggung
jawab terhadap konversi glukosa-6-fosfat menjadi glikogen.

Insulin juga

mencegah pemecahan glikogen (glikogenolisis) hati dan otot yang berlebihan.


Jadi insulin mempunyai aksi hipoglisemik, yaitu menurunkan glukosa darah.
Insulin menstimulasi lipogenesis dengan cara mempromosikan masukan dan
pemanfaatan glukosa oleh jaringan adipose dan dengan cara mencegah lipolisis.
Stimulus utama untuk membebaskan insulin adalah konsentrasi glukosa plasma.
Glukagon dan adrenalin bekerja bertentangan dengan insulin, yaitu
mempengaruhi enzim fosfatase glikogen dan sintetase melalui reaksi-reaksi yang
kompleks. Kerja STH dan insulin sebagai stimulan masukan asam-asam amino ke
dalam sel-sel, dihambat oleh glukokortikoid, misalnya hidrokortison. STH dan
insulin menstimulasi enzim-enzim yang bertanggung jawab terhadap sintesis
protein, sementara glukokortikoid bekerja sebaliknya.

Insulin menstimulasi

enzim sintetase trigliserida yang mengkatalisis konversi gliserol dan asam lemak
bebas menjadi lemak di dalam jaringan adipose.

Glukagon, adrenalin dan

glukokortikoid mengaktifkan enzim lipase trigliserida yang membebaskan asamasam lemak bebas dan gliserol dari lemak. Konsentrasi glukosa darah diatur oleh
keseimbangan aktivitas insulin dan glukagon. Kerja pemecahan atau katabolik
banyak hormon dibantu oleh tiroksin.
Epineprin (adrenalin) dan norepineprin (noradrenalin) dari adrenal
medulla berfungsi membantu mobilisasi glikogen untuk menyediakan energi.

Namun, efek-efeknya juga mempengaruhi metabolisme protein dan lemak otot.


Pengaruh-pengaruh ini bisa berhubungan dengan kemampuan epineprin
mengaktifkan reseptor-reseptor tertentu dari jaringan yang dikenal sebagai betareseptor.

Senyawa seperti hormon yang disebut beta-adrenergic agonist

mempunyai struktur kimia yang mirip dengan epineprin dan norepineprin.


Senyawa ini disebut demikian karena keefektifannya dalam mengaktifkan betareseptor. Di samping itu, senyawa ini juga efektif dalam membagi aktivitas
agensia tertentu, misalnya mengubah atau membelokkan nutrien yang tersedia
untuk pembentukan lemak ke arah akresi protein.

Ternak yang menerima

senyawa ini akan menghasilkan karkas yang meningkat dan jumlah lemak karkas
yang menurun.
Somatomedin mungkin juga diproduksi di dalam otot. Ternak yang
memiliki lebih banyak otot, mungkin mampu memproduksi lebih banyak
somatomedin dan mempunyai tulang-tulang yang lebih panjang, karena adanya
pertumbuhan ekstra epipiseal tulang.

Pengaruh umum somatomedin adalah

menstimulasi: (1) transpor glukosa; (2) masukan dan inkorporasi asam-asam


amino ke dalam otot-otot ternak yang dihipopisektomi; (3) sintesis DNA di dalam
sel-sel serabut, dan (4) sintesis kolagen.

Laju pertumbuhan spesifik domba

dipengaruhi oleh level somatomedin serum. Domba muda yang tumbuh cepat
mempunyai level somatomedin serum lebih tinggi daripada domba yang tumbuh
lambat.
Ada beberapa somatomedin, yaitu: (1) somatomedin-A, fungsinya
menstimulasi masukan sulfat oleh kartilago anak ayam; (2) somatomedin-B,
menstimulasi sintesis DNA pada sel tertentu manusia; (3) somatomedin-C,

menstimulasi masukan sulfat oleh kartilago tikus, dan (4) somatomedin-P,


menstimulasi masukan sulfat oleh kartilago rusuk babi.
MSA (multiplication-stimulating activity) atau faktor yang menstimulasi
perbanyakan sel adalah suatu polipeptida yang mempunyai aktivitas seperti
insulin. Seperti somatomedin, MSA juga mempunyai aktivitas faktor sulfasi.
MSA dapat meningkatkan masukan asam-asam amino oleh mioblast sebelum
terjadi kenaikan jumlah sel dan kandungan protein. Chalone atau pembawa berita
kimia adalah glikoprotein yang dapat menghambat mitosis, jadi menghambat
pertumbuhan. Pengaruhnya dapat bertentangan dengan aktivitas hormon. Tipe
jaringan tubuh yang berbeda mempunyai chalone sendiri-sendiri, dan identik pada
banyak spesies yang berbeda.
Estrogen dihasilkan oleh ovarium, plasenta dan korteks adrenal dalam
bentuk estradiol, estron dan estriol. Estrogen termasuk hormon katabolik yang
antara lain menekan dan menghambat resorpsi tulang. Estrogen meningkatkan
masukan hormon pertumbuhan, dan pada ternak ruminansia, meningkatkan retensi
nitrogen. Tiroksin termasuk hormon steroid yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid
di sekitar trakhea. Hormon tiroid berfungsi mengatur metabolisme oksidatif dan
produksi panas di dalam tubuh serta sintesis protein. Kerja hormon-hormon tiroid
dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu: (1) mempromosikan
pertumbuhan dan perkembangan, dan (2) kerja katabolik.
Tiroksin menstimulasi pertumbuhan tubuh secara keseluruhan,
pertumbuhan tulang, sistem saraf, dan laju metabolisme. Defesiensi hormon ini
akan menyebabkan hambatan pertumbuhan dan perkembangan. Kerja metabolik
hormon-hormon tiroid adalah membantu pembebasan energi dan bekerja terhadap

mitokondria. Tiroksin mempengaruhi metabolisme kalsium dan magnesium, dan


membantu mengatur sekresi hidrokortison dari kelenjar adrenal dan STH dari
adenohipopisis. Sekresi hormon tiroid terutama diatur oleh TSH atau thyroid
stimulating hormone.
Perubahan Komponen Fisik dan Kimiawi Tubuh Selama Pertumbuhan dan
Perkembangan
Selama pertumbuhan dan perkembangan, bagian-bagian dan komponen
tubuh mengalami perubahan. Jaringan-jaringan tubuh mengalami pertumbuhan
yang berbeda dan mencapai pertumbuhan maksimal dengan kecepatan yang
berbeda pula. Komponen tubuh secara kumulatif mengalami pertambahan berat
selama pertumbuhan sampai mencapai kedewasaan.

Jadi pertumbuhan

mempengaruhi pula distribusi berat dan komposisi kimia komponen-komponen


tubuh termasuk tulang, otot dan lemak.

Tulang, otot dan lemak merupakan

komponen utama penyusun tubuh.


Selama periode pertumbuhan postnatal, tulang tumbuh lebih awal
dibandingkan dengan pertumbuhan otot dan lemak, dan rusuk merupakan tulang
yang perkembangannya paling akhir.

Perkembangan otot terhambat karena

terbatasnya ukuran serabut otot pada umur yang berbeda. Keterbatasan ini tetap
tidak dapat dilampaui, meskipun ternak yang dipelihara mengkonsumsi pakan
yang berkualitas tinggi.

Jadi setelah otot mencapai pertumbuhan maksimal,

pertambahan berat otot terjadi terutama karena deposisi lemak intramuskular.


Lemak akan ditimbun selama pertumbuhan dan perkembangan, dan karkas ternak
dewasa dapat mengandung lemak sampai sekitar 30-40 persen.

Kadar laju deposisi lemak intramuskular dapat diubah tanpa mengubah


pertumbuhan otot, yaitu dengan cara mengubah rencana nutrisi. Deposisi lemak
tidak tergantung pada pertambahan berat badan bebas lemak.

Jadi, untuk

menghasilkan karkas dengan kandungan lemak yang diinginkan, rencana


pemberian pakan tidak perlu memperhatikan perkembangan otot dan tulang,
karena selain kepala, jaringan bebas lemak relatif tahan terhadap kekurangan
nutrisi.
Pola pertumbuhan organ seperti hati, ginjal dan saluran pencernaan
menunjukkan adanya variasi, sedangkan organ yang berhubungan dengan digesti
dan metabolisme menunjukkan perubahan berat yang besar sesuai dengan status
nutrisional dan fisiologis ternak.

Kadar laju pertumbuhan relatif beberapa

pertumbuhan nonkarkas hampir sama dengan kadar laju pertumbuhan tubuh,


misalnya abomasum dan usus besar mencapai kedewasaan hampir bersamaan
dengan tubuh. Usus kecil tumbuh lebih cepat dan lebih cepat dewasa daripada
usus besar dan abomasum.

Berat rumen, retikulum dan omasum meningkat

dengan cepat pada awal kehidupan postnatal. Meskipun demikian, berat total
saluran pencernaan menurun pada saat mencapai kedewasaan.
Pakan dapat mempengaruhi pertambahan berat komponen nonkarkas.
Domba yang mengkonsumsi pakan dengan kandungan energi tinggi mempunyai
jantung, paru-paru dan ginjal yang lebih berat daripada domba yang
mengkonsumsi

pakan

dengan

kandungan

energi

rendah

pada

kondisi

pemeliharaan di dalam kandang individu. Konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan


berat hati, rumen, retikulum, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat
pencernaan, tetapi menurunkan berat kepala, kaki dan limpa.

Kurva Pertumbuhan
Bobot atau masa hewan yang dicatat semenjak konsepsi sampai dengan
saat kematian menunjukkan kurva pertumbuhan yang berbentuk sigmoid (huruf
S). Berdasarkan besarnya kecepatan pertumbuhan, dapat dibedakan dua macam
(fase) pertumbuhan yang dibatasi oleh titik belok (titik infleksi).

Fase

pertumbuhan yang dimaksud adalah (1) fase akselerasi atau fase pertumbuhan dini
dan (2) fase retardasi atau pertumbuhan senja atau fase pertumbuhan lambat.
Pada fase akselerasi terjadi pertumbuhan yang cepat dengan laju
pertumbuhan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan masa kian
meningkat dari waktu ke waktu selama fase tersebut.

Sebaliknya pada fase

retardasi terjadi pertumbuhan yang lambat dengan laju pertumbuhan yang kecil.
Pada fase akselerasi bekerja daya percepatan diri sedangkan pada fase retardasi
bekerja daya penghambatan diri. Pada fase pertama anabolisme lebih intensif dari
pada katabolisme, sedangkan yang tersebut berikutnya katabolik berperan lebih
aktif dari pada anabolisme.

BAB III
KESIMPULAN
Pertumbuhan dapat terjadi dengan penambahan jumlah sel yang disebut
dengan hyperplasia dan dapat pula dengan penambahan ukuran sel, yang disebut
hypertrophy. Terjadi dua hal dasar pada pertumbuhan hewan, yaitu pertambahan
bobot badan yang disebut pertumbuhan dan perubahan bentuk yang disebut
perkembangan.

DAFTAR PUSTAKA
Nuraeni. 2014. Konsep Pertumbuhan Ternak Sapi dan Kerbau.
http://eninuraeni190793.blogspot.co.id/. Di akses pada 20 Maret
2016.
http://be-ef.blogspot.co.id/