Anda di halaman 1dari 4

TUGAS PENGEMBANGAN KURIKULUM

HUBUNGAN MODEL KONSEP KURIKULUM DENGAN ALIRAN


PENDIDIKAN
(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan
KurikulumYang Dibimbing oleh Dra. Hj. Lise Chamisijatin, M.Pd.)

Oleh
Anggi Gusti Kristyawan

(201310070311133)

PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

1. Kurikulum Subjek Akademis


Kurikulum subjek akademis merupakan salah satu model kurikulum yang
paling tua yang banyak digunakan di berbagai negara. Sesuai dengan namanya,
kurikulum model ini sangat mengutamakan isi (subject matter). Isi kurikulum
merupakan kumpulan dari bahan ajar atau rencana pembelajaran. Tingkat
pencapaian atau penguasan peserta didik terhadap materi merupakan ukuran
utama dalam menilai keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu, penguasaan
materi sebanyak-banyaknya merupakan salah satu hal yang diprioritaskan
dalam kegiatan belajar mengajar oleh guru yang menggunakan kurikulum jenis
ini. Hubungan kurikulum subjek akademis dengan aliran pendidikan yaitu pada
aliran pendidikan klasik (classical education), dimana pada aliran ini
berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Essensialisme, dan
Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya
memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Isi pendidikan
atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan
dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan
sistematis. Pada proses belajar mengajar peran guru sangatlah besar dan lebih
dominan sedangkan peran siswa pasif karena pada aliran pendidikan ini lebih
menekankan pada aspek kognitif siswa diharuskan menguasai apa yang telah
diajarkan oleh guru. Pendidikan klasik menjadi sumber bagi pengembangan
model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu kurikulum yang bertujuan
memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik menggunakan
ide-ide dan proses Penelitian, melalui metode ekspositori dan inkuiri.
2. Kurikulum Humanis
kurikulum humanistik lebih mengedepankan sifat humanisme dalam
pembelajaran. Hal ini dilakukan sebagai reaksi terhadap kurikulum yang terlalu
mengedepankan intelektualitas. Kurikulum humanistik didasarkan pada aliran
pendidikan humanisme atau pribadi. Aliran pendidikan ini bertolak dari asumsi
bahwa peserta didik adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Peserta
didik adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan, yang mempunyai
potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Kurikulum humanis ini
berhubungan erat dengan aliran pendidikan pribadi (personalized education),
dimana pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki

peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam
hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik
hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing,
pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik. Aliran pendidikan pribadi
menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu
model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi
kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri.
3. Kurikulum Rekontruksi Sosial
Kurikulum ini memiliki hubungan dengan kegiatan kemasyarakatan yang
di dalamnya terdapat kegiatan interaksi. Kurikulum ini dikembangkan oleh
aliran interaksional. Pakar di bidang ini berpendapat bahwa pendidikan
merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk menumbuhkan adanya
interaksi dan kerja sama. Tujuan utama kurikulum jenis ini adalah
mempersiapkan peserta didik untuk dapat menghadapi tantangan, termasuk di
dalamnya ancaman dan hambatan. Tantangan dianggap sebagai bidang garapan
salah satu disiplin ilmu, namun perlu juga di dekati dengan ilmu-ilmu lain.
Pendidikan interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model
kurikulum rekonstruksi sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan
utama menghadapkan para peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatanhambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Peserta didik
didorong untuk mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah
sosial yang mendesak (crucial) dan bekerja sama untuk memecahkannya.
Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru
kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Lebih dari itu,
interaksi ini juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan
dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Dalam
pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta. Peserta
didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut,
memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam
konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu
filsafat rekonstruk sisosial.Tujuan dan isi kurikulum ini setiap tahun bisa
berubah, tergantung dari perubahan masyarakat. Dalam pemilihan metode guru
berusaha membantu para siswa menemukan minat dan kebutuhannya. Dalam

kegiatan evaluasi siswa dilibatkan, terutama dalam memilih, menyusun, dan


menilai bahan yang akan diujikan.
4. Kurikulum Teknologis
Teknologi pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model
kurikulum teknologis, yaitu model kurikulum yang bertujuan memberikan
penguasaan kompetensi bagi para peserta didik, melalui metode pembelajaran
individual, media buku atau pun elektronik, sehingga mereka dapat menguasai
keterampilan-keterampilan dasar tertentu.
Model ini sangat mengutamakan

pembentukan

dan

penguasaan

kompetensi, dan bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya dan ilmu seperti
pada pendidikan klasik. Model kurikulum teknolgi berorientasi pada masa
sekarang dan yang akan datang, sedangkan pendidikan klasik berorientasi pada
masa lalu. Kurikulum ini juga menekankan pada isi kurikulum. Suatu
kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih kecil
sehingga akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.
Dalam konsep pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli
bidang-bidang khusus. Isi pendidikan berupa data-data obyektif dan
keterampilan-keterampilan

yang

yang

mengarah

kepada

kemampuan

vocational. Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran
dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para
peserta didik belajar secara individual.