Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG

EKOLOGI LAUT TROPIS


Oleh :
KELOMPOK 10
CITRA TRIMINARTI
(135080201111070)
ZAHRAH SAFITRI
(145080201111008)
EKA APRILIA NUR AZIZA
(145080200111019)
TRI WACHYUNI
(145080201111020)
MUHAMMAD TAUFIQ ILHAM (145080201111019)
RAHMAN R. YARFARYH
(145080200111084)

PROGRAM STUDI PEMANFAATAAN SUMBERDAYA PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG
EKOLOGI LAUT TROPIS
Oleh :
KELOMPOK 10
CITRA TRIMINARTI
(135080201111070)
ZAHRAH SAFITRI
(145080201111008)
EKA APRILIA NUR AZIZA
(145080200111019)
TRI WACHYUNI
(145080201111020)
MUHAMMAD TAUFIQ ILHAM (145080201111019)
RAHMAN R. YARFARYH
(145080200111084)

Menyetujui,
Koordinator Asisten

Mengetahui
Asisten Laporan

Candra Wijaya
125080600111101

Renardhi Abyan P.
125080600111103

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat
serta Hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah dalam memenuhi tugas mata
kuliah Manajemen Pelabuhan Perikanan mengenai Dermaga ini dapat
terselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini, telah mendapat banyak bantuan dan
dukungan dari beberapa pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan
terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah yang telah disusun sangat jauh dari
kata sempurna, baik dalam segi penyusunan maupun isi materi yang
disampaikan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan adanya kritik dan saran
yang membangun oleh pembaca guna memperbaiki kesalahan pada makalah
selanjutnya. Penyusun berharap agar makalah yang telah disusun ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca.

Malang, 6 Desember 2015

Penulis

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Konsep ekosistem merupakan suatu yang luas, karena di dalamnya terjadi
hubungan timbal balik dan saling ketergantungan antara komponen-komponen
penyusunnya,

yang

membentuk

hubungan

fungsional

dan

tidak

dapat

dipisahkan. Di dalam sebuah ekosistem terjadi transfer energi antara


komponennya yang bersumber dari sinar matahari melalui proses fotosintesis
yang dilakukan oleh tumbuhan hijau berklorofil. Makhluk hidup lain yang tidak
memiliki kemampuan berfotosintesis, menggunakan energi matahari ini dengan
cara mengkonsumsi makhluk fotosintesis tersebut diatas. Dan begitu selanjutnya
sehingga terbentuk suatu rantai makanan (Nontji,1987).
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem interface antara ekosistem
daratan dengan ekosistem lautan. Oleh karena itu, ekosistem ini mempunyai
fungsi spesifik yang keberkelangsungannya bergantung pada dinamika yang
terjadi di ekosistem daratan dan lautan. Dalam hal ini, mangrove sendiri
merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) yang
menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak
langsung) dan pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi,
pengendali intrusi air laut, mengurangi tiupan angin kencang, mengurangi tinggi
dan kecepatan arus gelombang, rekreasi, dan pembersih air dari polutan.
Kesemua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis
oleh ekosistem mangrove. Dengan perkataan lain, mangrove menyediakan
berbagai jenis produk dan jasa yang berguna untuk menunjang keperluan hidup
penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional,
maupun nasional serta sebagai penyangga.
Keberadaan sejumlah tumbuh-tumbuhan dan hewan yang berada di laut
tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sejumlah tumbuh-tumbuhan dan hewan
lain lingkungan itu. Mereka juga tidak dapat dipisahkan dari zat nir-hayati yang
terdapat di lingkungannya yang mereka butuhkan dan dari gaya-gaya fisik yang
mempengaruhi kehidupan mereka. Sebagai contoh, tumbuh-tumbuhan tidak
dapat tumbuh tanpa fosfat. Fosfat yang sudah dimanfaatkan akan terikat dalam
tubuh tumbuh-tumbuhan dan hewan yang memakan tumbuh-tumbuhan itu jika
mereka mati. Fosfat ini tidak akan terbebaskan jika tidak ada bakteri yang
menguraikannya. Fosfat yang terbebaskan akan dimanfaatkan lagi untuk
pertumbuhan tumbuh-tumbuhan. Pertukaran zat dan energi antara jasad hidup
dan jasad tak hidup atau lingkungannya yang tidak henti-hentinya dalam suatu

sistem mengikuti jalur berputar dalam suatu daur ulang yang terus menerus.
Sistem berdaur-ualng ini dinamakan sistem ekologik (ecological system) atau
ekosistem (ecosystem) (Romimohtarto dan Juwana, 2009).
I.2 Manfaat dan Tujuan
Maksud diadakannya praktikum Ekologi Laut Tropis di Pantai Kondang
Merak Kabupaten Malang adalah agar para praktikan dapat mengamati secara
langsung keadaan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang di Pantai
Kondang Merak serta dapat melihat secara langsung biota-biota yang terdapat
di ketiga ekosistem tersebut.
Tujuan diadakannya praktikum Ekologi Laut Tropis di Pantai Kondang
Merak Kabupaten Malang adalah untuk mengetahui presentase
ekosistem lamun, terumbu karang, dan mangrove di Pantai

penutupan

Kondang Merak

serta untuk mengetahui kondisi perairan di daerah tersebut.


I.3 Manfaat dan Kegunaan
Manfaat dari praktikum Ekologi Laut Tropis dimana materi tersebut
mencakup keterkaitan antara peranan mangrove, padang lamun dan juga
terumbu karang.
1. Mengetahui manfaat dari ekositem terkait yakni mangrove, lamun, dan
terumbu karang untuk organisme intertidal maupun lingkungan pesisir.
2. Mengetahu masing-masing peranan mangrove, lamun, dan terumbu
karang dalam proses fisika maupun proses biologi.
Adapun kegunaan yang dapat di ambil dari praktikum lapang Ekologi
Laut Tropis di Pantai Kondang Merak adalah, praktikan dapat mengetahui,
memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa
adanya mangrove, lamun, dan terumbu karang adalah ekosistem yang
saling berkaitan dalam kehidupan di wilayah pesisir. Selain itu khususnya
bagi prodi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan tiga ekosistem terkait
tersebut memiliki peran yang sangat bermanfaat dalam kelestarian serta
keberlangsungan

hidup

ikan

untuk

penangkapan

yang

lebih

berkesimbangun.

I.4 Tempat dan Waktu


Praktikum Ekologi Laut Tropis diadakan dua kali. Yang pertama
tanggal 22 November 2015 pukul 08:00 11:00 WIB di Lapangan Voly
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Yang kedua

Praktikum Lapang di Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang (Malang


Selatan) pada tanggal 28 November 2015 pukul 09.00 WIB sampai selesai.

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Ekologi Laut Tropis
II.1.1 Mangrove
Mangrove sebagai ekosistem yang sangat sering dijumpai di lingkungan
peisir memegang arti penting dalam kehidupan di kawasan pesisir baik untuk
manusia maupun organisme yang berlindung ataupun bergantung hidup pada
tumbuhan yang tahan akan kisaran salinitas tinggi. Peranan Mangrove sebagai
penahan abrasi sangat nyata di daerah pesisir karena sistem perakaran
mangrove yang bersifat unik. Sistem perakaran mangrove terutama spesies
Rhizophora sp. Dapat menahan sedimen dan mengurangi kuatnya hempasan
gelombang laut (Nyibakken, 1993).
Kata mangrove di duga berasal dari bahasa Melayu mangi-mangi, yaitu
nama yang diberikan kepada mangrove merah (Rhizophora spp.). Nama
mangrove diberikan kepada jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di pantai atau
goba-goba yang menyesuaikan diri pada keadaan asin. Ekosistem mangrove
didefinisikan sebagai mintakat pasut dan mintakat supra-pasut dari pantai
berlumpur dan teluk, goba dan estuari yang didominasi oleh halofita (Haophyta),
yakni tumbuh-tumbuhan yang hidup di air asin, berpokok dan beradaptasi tinggi,
yang berkaitan tinggi, yang berkaitan dengan anak sungai, rawa dan banjiran,
bersama-sama dengan populasi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ekosistem
mangrove teridiri dari dua bagian, bagian daratan dan bagian perairan. Ia juga
diartikan sebagai ekosistem yang mendapat subsidi energi, karena arus pasut
yang banyak membantu dalam menyebarkan zat-zat hara (Romimohtarto dan
Juwana, 2009).
Mangrove asosiasi adalah tumbuhan yang toleran terhadap salinitas, yang
tidak ditemukan secara eksklusif di hutan mangrove dan hanya merupakan
vegetasi transisi ke daratan atau lautan, namun mereka berinteraksi dengan true
mangrove. Tumbuhan asosiasi adalah spesies yang berasosiasi dengan hutan
pantai atau komunitas pantai dan disebarkan oleh arus laut. Tumbuhan ini tahan
terhadap salinitas, seperti Terminalia, Hibiscus, Thespesia, Calophyllum, Ficus,
Casuarina, beberapa polong, serta semak Aslepiadaceae dan Apocynaceae. Ke
arah tepi laut tumbuh Ipomoea pescaprae, Sesuvium portucalastrum dan
Salicornia arthrocnemum mengikat pasir pantai. Spesies seperti Porteresia
(Oryza) coarctata toleran terhadap berbagai tingkat salinitas. Ke arah darat
terdapat kelapa (Cocos nucifera), sagu (Metroxylon sagu), Dalbergia, Pandanus,

Hibiscus tiliaceus dan lain-lain. Komposisi dan struktur vegetasi hutan mangrove
beragam, tergantung kondisi geofisik, geografi, geologi, hidrografi, biogeografi,
iklim, tanah, dan kondisi lingkungan lainnya.
II.1.2

Lamun
Lamun (seagrass) adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan

berbunga yang terdapat di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat


perairan pantai yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka
mempunyai tunas berdaun tegak dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif
untuk berkembang biak. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut lainnya (alga
dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah, dan menghasilkan biji. Mereka juga
mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat-zat hara
(Romimohtarto dan Juwana, 2009).
Lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan menyebarkan
bibit seperti banyak tumbuhan darat. Dan klasifikasi lamun adalah berdasarkan
karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di daerah tropis memiliki morfologi
yang berbeda sehingga pembedaan spesies dapat dilakukan dengan dasar
gambaran morfologi dan anatomi.
Fungsi utama ekosistem lamun dapta memberikan nutrisi terhadap biota
yang berada diperairan sekitarnya. Ekosistem lamun merupakan produsen
primer dalam rantai makanan di perairan laut dengan produktivitas primer
berkisar antara 900-1650gC/m2/thau. Pertumbuhan morfologi kelimpahan dan
produktivitas prier lamun pada suatu perairan umumnya ditentukan oeh
ketersediaan zat hara fosfat, nitrat dan ammonium (Green dan Short, 2003)
II.1.3 Terumbu Karang
Terumbu karang ialah satu ekosistem marin yang unik, kompleks dan tinggi
produktivitinya. Terumbu karang telah wujud sejak beribu tahun, malah berjuta
tahun dahulu dan terbina daripada organisma-organisma yang sangat kecil
saiznya. Kebanyakan terumbu karang yang tua telah wujud sejak 25 juta tahun
dahulu. Hanya di kawasan terumbu karang kita boleh menjumpai organisma
yang telah melalui evolusi selama berjuta tahun. Dari segi pengelasan saintifik,
organisma yang membentuk terumbu karang adalah daripada famili Cnidari,
termasuklah karang laut (corals), sea anemone, obor-obor, hydra dan
sebagainya. Di bawah famili Cnidari, karang laut pula dikelaskan kepada tiga
subkelas, Octocorallia, Zoantharia dan Tabulata (koloni karang yang telah
pupus). Subkelas Octocorallia terdiri daripada gorgonian coral, sea pensies,
organ-pipe corals dan karang lembut (soft coral). Subkelas ini dikenal pasti

daripada tentakel lapan pinat dan kebanyakannya adalah berkoloni manakala


subkelas Zooantharia pula membentuk karang keras (hard coral) dan wujud
berkoloni atau secara individu ( Sahri dan Jusman, 2008).
Kehadiran terumbu karang merupakan ciri yang dominan dari perairan
dangkal di daerah katulistiwa. Terumbu karang merupakan salah satu dari
ekosistem-ekosistem pantai yang teramat produktif dan teramat beranekaragam. Terumbu karang memiliki sifat yang unik di antara asosiasi dan
masyarakat biota laut. Terumbu ini dibangun seluruhnya oleh kegiatan biologik. Ia
merupakan timbunan masif dari kapur CaCO 3 yang terutama telah dihasilkan
oleh hewan karang dengan tambahan penting dari alga berkapur dan organismeorganisme lain penghasil kapur (Romimohtarto dan Juwana, 2009).
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis
dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang
termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel.
Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau
Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul,
Morfologi dan Fisiologi.
II.2 Ciri Ekosistem Laut Tropis
Ekosistem laut tropis memiliki beberapa cirri yang berbeda dengan
ekosistem laut di daerah lain seperti : sinar matahari terus menerus sepanjang
tahun (hanya ada dua musim, hujan dan kemarau) hal ini merupakan kondisi
optimal bagi produksi fitoplankton, memiliki predator tertinggi, jaring-jaring
makanan dan struktur trofik komunitas pelagic, Secara umum terdiri dari algae,
herbivora, penyaring, predator

dan predator tertinggi, serta memilki tingkat

keragaman yang tinggi dengan jumlah sedikit apabila dibandingkan dengan tipe
daerah seperti subtropis dan kutub (den Hartog, 1977).
Ciri khas dari ekosistem laut tropis adalah tempreatur suhu tinggi,salinitas
atau kadar garam yang tinggi,penetrasi cahaya matahari yang tinggi,ekosistem
tidak terpegaruh iklim dan cuaca alam sekitar,aliran atau arus laut terus bergerak
karena perbedaan iklim, temperatur dan rotasi bumi,habitat di laut saling
berhubungan / berkaitan satu sama lain,komunitas air asin terdiri dari produsen,
konsumen, zooplankton dan decomposer (Kathler,2010)
Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik
beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimen
kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah
permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan
sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan

terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang
dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.
II.3 Rantai Makanan
Menurut Bayue (2013), daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui
jenjang makanan (tumbuhan-herbivora-carnivora-omnivora). Pada setiap tahap
pemindahan energi, 80% -90% energi potensial hilang sebagai panas, karena itu
langkah langkah dalam rantai makanan terbatas sampai 4-5 langkah saja.
Dengan perkataan lai, semakin pendek rantai makanan, semakin besar pula
energi yang tersedia.
Semua anggota masyarakat biota dihubungkan bersama oleh hubunganhubungan makan-dimakan. Untuk memulai memahami masyarakat tersebut, kita
ikuti hubungan-hubungan tersebut yang merupakan rantai panjang atau pendek
yang dinamakan rantai-makanan. Rantai makanan ini mengikuti pola umum,
yakni tumbuh-tumbuhan hijau dimakan oeh pemakan tumbuh-tumbuhan atau
herbivor. Herbivor dimakan oleh pemakan daging atau karnivor. Karnivor ini
dimakan oleh karnivor yang lebih besar dan seterusnya sampai tidak ada
karnivor yang lebih besar lagi yang memakannya.Jika digambarkan maka jumlah
seluruh rantai makanan dalam suatu masyarakat ini dinamakan jaringan
makanan (Romimohtarto dan Juwana, 2009).
Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya
tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhanherbivora-carnivora). Pada setiap tahap pemindahan energi, 80%90% energi
potensial hilang sebagai panas, karena itu langkahlangkah dalam rantai
makanan terbatas 4-5 langkah saja. Dengan perkataan lain, semakin pendek
rantai makanan semakin besar pulaenergi yang tersedia.
II.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekologi Laut Tropis
II.4.1 Faktor Fisika
Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan aut ke arah
darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih
dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air
asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh
proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,
Secara umum kerusakan yang terjadi tidak sedikit. Disamping kerusakan
bangunan fisik, ekosistem pesisir pun rusak berat. Masalah erosi, sedimentasi
dan abrasi pun dirasakan sangat mengganggu aktivitas pengembangan dan
pemanfaatan wilayah pesisir. Misalnya, hilangnya penyangga pantai, yaitu hutan

mangrove. Dilain pihak, pengembangan dan pemanfaatan yang dilakukan,


misalnya dengan adanya konversi lahan hutan bakau menjadi tambak tanpa
pertimbangan yang memadai pada gilirannya akan 14 memicu laju erosi,
sedimentasi dan abrasi secara tak terkendali (Anneahira,2010).
Faktor-faktor fisika yang mempengarhi ekologi laut yaitu, adanya
perpindahan panas antara udara dan perairan dengan sendirinya berpengaruh
terhadap distribusi dan pertumbuhan karang di lautan. Karang pembangun
terumbu terbatas hanya pada perairan tropik dan sub tropik, dengan suhu
permukaan perairan tidak berada di bawah 1800C. Meskipun batas toleransi
karang terhadap suhu bervariasi antarspesies atau antardaerah pada spesies
yang sama, tetapi dapat dinyatakan bahwa karang dan organisme-organisme
terumbu hidup pada suhu dekat dengan batas atas toleransinya, oleh karena itu
dapat dinyatakan bahwa hewan karang relatif sempit toleransinya terhadap suhu.
Cahaya matahari merupakan energi penggerak utama bagi seluruh
ekosistem termasuk di dalamnya ekosistem perairan. Cahaya matahari
menghasilkan panas sebesar 10 26 Kalori/detik, namun hanya sebagian kecil
dari panas tersebut yang mampu diserap dan masuk ekosistem perairan.Dari
bagian kecil yang memasuki ekosistem perairan hanya sebagian kecil yang
mampu diserap oleh organisme autotrop seperti fitoplankton.Cahaya adalah
sumber energi dasar bagi pertumbuhan organisme autotrop terutamafitoplankton
yang pada gilirannya mensuplai makanan bagi seluruh kehidupan di perairan.
Proses produksi di laut dimulai dari oraganisme autotrop yang mampu menyerap
energi matahari. Tingkatan produksi di laut digambarkan dengan bentuk piramida
makanan yang menunjukan tingkatan tropic atau rantai makanan antara
produser dan consumer.Organisme autotrop menempati dasar piramida yang
menunjukkan bahwa organisme ini memiliki jumlah terbesar dan menjadi
penopang seluruh kehidupan pada tingkat tropic di atasnya (Sunarto, 2008).
II.4.2 Faktor Kimia
Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan
sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah
minimum. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan
sebagai faktor pembatas. Pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi
oleh: jumlah dan variabilitas unsure unsur faktor lingkungan tertentu (seperti
nutrien, suhu udara) sebagai kebutuhan minimum, dan batas toleransi tumbuhan
terhadap faktor atau sejumlah faktor lingkungan (Nontji, 2005).
Salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada
setiap kilogram air laut. Secara praktis, adalah susah untuk mengukur salinitas di

laut, oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau
komponen yang terpenting saja yaitu klorida (Cl). Kandungan klorida ditetapkan
pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram ion klorida pada satu kilogram air
laut jika semua halogen digantikan oleh klorida.
Faktor-faktor kimia yang mempengaruhi ekologi laut yaitu salinitas.
Disamping suhu, salinitas adalah merupakan faktor abiotik yang sangat
menentukan penyebaran biota laut. Perairan dengan salinitas lebih rendah atau
lebihtinggi dari pada pergoyangan normal air laut merupakan faktor penghambat
(limiting factor) untuk penyebaran biota laut tertentu. Pergoyangan air laut normal
secara global berkisar antara 33 ppt sampai dengan 37 ppt dengan nilai tengah
sekitar 35 ppt. Walaupun demikian terdapat kodisi ekstrim alami, seperti di Laut
Merah pada saat tertentu salinitas air laut dapat mencapai 40 ppt ataupun seperti
contoh di Laut Baltik, terutama di sekitar Teluk Bothnia salinitas air laut dapat
mencapai titik terendah yaitu sekitar 2 ppt. Perairan muara sungai dan estuaria
biasanya mempunyai salinitas lebih rendah dari air laut normal dan disebut
sebagai perairan payau (brackish water). Batas pergoyangan air payau ini
berkisar 0,5ppt sampai dengan 30 ppt (Aziz, 2013).
II.4.3 Faktor Aktifitas Manusia
Tidak hanya factor fisika ataupun imia, tetapi aktivitas manusia uga sangat
berpengaruh besar terhadap ekologi laut. Seperti kegiatan manusia memiliki
dampak yang bervariasi terhadap ekosistem laut tropis, dari yang sifatnya
sementara atau dapat diatasi secara alami oleh sistem ekologi masing-masing
ekosistem hingga yang bersifat merusak secara permanen hingga ekosistem
tersebut hilang. Kerusakan yang terjadi terhadap salah satu ekosistem dapat
menimbulkan dampak lanjutan bagi aliran antar ekosistem maupun ekosistem
lain di sekitarnya. Khusus bagi komunitas mangrove dan lamun, gangguan yang
parah

akibat

kegiatan

manusia

berarti

kerusakan

dan

musnahnya

ekosistem. Bagi komunitas terumbu karang, walau lebih sensitif terhadap


gangguan, kerusakan yang terjadi dapat mengakibatkan konversi habitat dasar
dari komunitas karang batu yang keras menjadi komunitas yang didominasi biota
lunak seperti alga dan karang lunak (Dedi, 2007).
Peningkatan jumlah penduduk dunia akan

meningkatkan

aktivitas

pembangunan, termasuk di daerah pesisir dan sepanjang daerah aliran sungai


yang secara langsung menjadi ancaman terhadap keberadaan ekosistem
mangrove yang berfungsi sebagai penyaring sedimen dan hara. Hilangnya atau
berkurangnya fungsi mangrove dan bersamaan dengan semakin tingginya

frekuensi hujan selama kejadian La Nia akan menjadi ancaman langsung bagi
ekosistem terumbu karang akibat proses sedimentasi dan siltasi.
Pola pemanfaatan yang dilakukan dalam usaha mencukupi kebutuhan
hidup sesuai kemampuan yang masyarakat miliki belum tentu benar dengan apa
yang seharusnya dilakukan. Hal tersebut dikarenakan masih terdapat aktor-aktor
yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam memanfaatkan ekosistem di
ekologi

laut

tropis,seperti

mengkonversinya

menjadi

mengeksploitasi
tambak,

lahan

pemukiman,

hutan
lahan

mangrove
pertanian,

dan
lahan

perkebunan, industri dan/atau lainnya dalam skala besar tanpa memikirkan


keberlanjutan ekosistem pesisir itu serdiri. Berbagai aktivitas manusia tersebut
akan menyebabkan penurunan luas hutan mangrove dan berakibat juga pada
penurunan fungsi dan manfaat mangrove bagi penduduk dan lingkungan
sekitarnya. Untuk mengembalikan fungsi dan manfaat mangrove yang rusak
tersebut, maka diperlukan adanya upaya pengelolaan melalui rehabilitasi dan
konservasi mangrove. Keberhasilan rehabilitasi dan konservasi mangrove juga
ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah peran serta atau pertisipasi
penduduk kawasan itu sendiri (penduduk lokal), karena penduduk lokal
merupakan penduduk yang mempunyai kepentingan langsung, baik sebagai
sumberdaya maupun sebagai ekosistem dengan fungsi-fungsi ekologisnya
dengan wilayah rehabilitasi dan konservasi (Rusdianti dan Satyawan, 2012).
II.5 Hubungan Antara Ekosistem Mangrove, Lamun, Dan Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang, ekosistem padang lamun dan ekosistem
mangrove merupakan ekosistem yang paling menentukan dalam pengayan dan
pemulihan ketersedian sumberdaya ikan di laut. Semua ekosistem tersebut
merupakan tempat aktifitas ikan dan kaya akan unsure - unsur yang dibutuhkan
oleh ikan dalam aktifitas hidup.Berfungsi sebagai daerah pemijahan (Spawning
Ground), daerah asuhan atau pembesaran (Nursery Ground) dan daerah
mencari makan (Feeding Ground) Penurunan sumberdaya ikan merupakan
dampak dari interaksi antaranaktifitas penangkapan yang semakin intensif
sementara daya dukung perairan mengalami degredasi akibat rusaknya terumbu
karang, mangrove, padang lamun diperairan (Warman, 2013).
Hubungan keterkaitan ekosistem antara mangrove, lamun dan terumbu
karang sudah diduga sejak lama oleh para ahli ekologi. Namun kepastian
tentang bentuk keterkaitan antara ketiga ekosistem tersebut secara biologis
masih belum banyak dibuktikan. Salah satu penelitian yang dilakukan untuk
membuktikan adanya keterkaitan ekosistem antara mangrove, lamun dan

terumbu karang tersebut dilaksanakan oleh Nagelkerken et al., (2000), di Pulau


Curacao, Karibia (Syah,2011).
Terumbu karang, padang lamun, dan mangrove adalah suatu system
pendukung utama di wilayah pesisir, dan umumnya terdapat di daerah tropis.
Karena letaknya di daerah Indo-Pasifik tropis, perairan Indonesia sangat kaya
dengan keanekaragaman biota baik, baik ikan maupun biota biota lainnya.
Adanya berbagai ekosistem dengan temperature yang hangat sangat mungkin
biota untuk berkembang.
II.6 Manfaat
II.6.1 Ekosistem Mangrove
Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan, (2009) dalam Rusdianti dan
Satyawan, (2012), Mangrove merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai
peranan penting dalam upaya pemanfataan berkelanjutan sumberdaya pesisir
dan laut, yang memiliki fungsi penting sebagai penyambung ekologi darat dan
laut, serta gejala alam yang ditimbulkan oleh perairan, seperti abrasi, gelombang
dan badai. Disamping itu juga merupakan penyangga kehidupan sumberdaya
ikan, karena ekosistem mangrove merupakan daerah pemijahan (spawning
ground), daerah asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding
ground).
Menurut Kustanti (2011), fungsi mangrove kawasan mangrove adalah
sebagai berikut:

Menjaga garis pantai agar tetap stabil

Mencegah intrusi air laut

Mempercepat perluasan lahan

Mengendalikan intrusi air laut

Melindungi daerah belakang hutan mangrove dari hempasan gelombang


dan angina kencang

Mengolah limbah organic


Kawasan mangrove merupakan sumber devisa (pendapatan), baik bagi

masyarakat, industri, maupun bagi negara. Adapun fungsi ekonomi kawasan


mangrove sebagai sumber devisa yaitu : Penghasil kayu,Penghasil bahan baku
industri, Penghasil bibit ikan.
II.6.2

Ekosistem Lamun

Ekosistem lamun terdapat komponen biotik yang mendukung terjadinya


proses ekologi. Salah satu dari komponen tersebut adalah biota yang berasosiasi
erat dengan lamun, yaitu makrozoobentos. Adanya gangguan alam serta
kegiatan manusia mengancam keberlangsungan ekosistem lamun. Lamun hidup
di perairan dangkal yang agak berpasir. Sering pula dijumpai di terumbu karang
atau bahkan di lokasi yang lebih dalam dimana sinar matahari masih dapat
menembus perairan.

Dimana ada ruang tersedia, maka lamun dapat

berkembang jika substratnya sesuai. Kebanyakan dari spesies lamun tumbuh


terbatas hanya pada kawasan dengan substrat berpasir sampai berlumpur
walaupun ada juga yang hidup di substrat berbatu. Berbeda dengan alga yang
membutuhkan nutrien dalam air, lamun merupakan tumbuhan yang menyerap
nutrien dari sedimen atau substrat. Jadi lamun dapat mendaurulangkan nutrien
kembali ke dalam ekosistem agar tidak terperangkap di dasar laut (Nybakken,
1988 dalam Aziz, 2010).
Pada zaman modern lamun dimanfaatkan seperti Penyaring limbah
,stabilisator pantai,bahan untuk pabrik kertas,sumber bahan kimia penting,
Pupuk dan fodder,makanan dan obat-obatan.Lamun hidup di perairan dangkal
yang agak berpasir. Sering pula dijumpai di terumbu karang. Kadang-kadang ia
membentuk komunitas yang lebat hingga merupakan padang lamun (sea grass
bed) yang cukup luas. Pada padang lamun tersebut banyak biota yang menetap
dan ada juga yang hanya mengunjunginya untuk mencari makan. Beberapa jenis
biota laut mempunyai nilai niaga menggunakan daerah padang lamun ini sebagai
tempat asuhan antara lain ikan beronang. Dugong (Dugong dugon) merupakan
mamalia laut yang memakan jenis lamun terutama Syringodium isoetifolium.
Selain itu juga beberapa jenis lamun lain dijadikan sebagai bahan makanan,
samo-samo (Enhalus acoroides) misalnya bijinya dimanfaatkan bijinya oleh
penduduk Pulau-pulai Seribu yang dikumpulkan dan dimasak seperti menanak
nasi (Nontji, 1993).
Secara tradisonal lamun telah dimanfaatkan untuk :Dianyam,Dibakar untuk
garam, soda atau penghangat,Mengisi kasur dan atap rumbai,Bahan upholstery
dan

kemasan,Digunakan

untuk

pupuk

atau

kompos,Isolasi

suhu,Pengganti benang dalam membuat nitroselulosa.


II.6.3

Ekosistem Terumbu Karang


Menurut Nontji 2007, manfaat Terumbu Karang untuk kita :

suara

dan

1. Sumber ikan dan makanan laut lainnya yang mengandung protein


tinggi.
2. Melindungi pantai dan penduduk dari hantaman ombak dan arus.
3. Sumber penghasilan bagi nelayan (tangkapan ikan).
4. Kekayaan pariwisata bahari yang berdaya jual tinggi (memancing,
menyelam, snorkeling).
5. Sumber kekayaan laut yang bisa digunakan sebagai obat-obatan alami.
6. Sebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan penelitian.
Fungsi Terumbu Karang adalah : Bagaikan hutan lebat di daratan, Terumbu
Karang merupakan rumah bagi ribuan jenis hewan laut. Disini pula sebahagian
jenis hewan laut berkembang biak, membesarkan anak - anaknya serta mencari
makan. Bagaikan tembok raksasa yang kokoh, Terumbu Karang melindungi
pantai dari gempuran ombak yang dapat menyebabkan erosi dan rusaknya
pantai. Bagaikan tumbuhan di darat, Terumbu Karang menghasilkan oksigen (02)
yang sang at dibutuhkan oleh semua makhluk hidup di perairan. Bagaikan pasar
besar (supermarket), Terumbu Karang menyediakan bermacam-macam jenis
ikan, udang dan kerang - kerangan yang dapat kita gunakan sebagai bahan
makanan. Bagaikan taman yang indah, Terumbu Karang merupakan tempat yang
sangat menarik untuk di kunjungi (LIPI & Coremap,2007).
Ekosistem terumbu karang memberi manfaat langsung kepada manusia
dengan menyediakan makanan, obat-obatan, bahan bangunan, dan juga bahan
lain. Lebih penting lagi, terumbu karang menopang kelangsungan hidup
ekosistem-ekosistem lain disekitarnya yang juga menjadi tumpuan hidup
manusia.

III. METODE PRAKTIKUM


3.1 MANGROVE
3.1.1
NO
1
2
3
4
5
6

Alat dan Bahan

Alat/Bahan
Fungsi
1 buah Roll meter (100m)
Mengukur luasan area praktek
1 set Kamera digital
Mendokumentasikan kegiatan dan organime
Kantong sampel
Menyimpan specimen
1 buah Spidol permanen
Menulis pada kantong sampel
1 buah Buku identifikasi
Membantu identifikasi
1 set Alat tulis
Mencatat data
Tabel 1. Alat dan Bahan Praktikum Mangrove

3.1.2

Prosedur Kerja

MANGROVE
Mengunjungi stasiun mangrove yang telah ditentukan
Dalam stasiun mangrove terdapat 6 transek 10x10m
Dipilih min 3 transek untuk identifikasi
Diidentifikasi genus dari mangrove di setiap transek
Diamati jenis substrat dan kondisi lingkungan serta biota yang ada di setiap transek
Diambil foto mangrove secara keseluruhan dan bagian-bagiannya
Diidentifikasi sampel (bagian tubuh mangrove)
Dihitung index keanekaragaman, keseragaman, dan dominasi

HASIL

3.2 LAMUN
3.2.1

3.2.2

Alat dan Bahan


NO
1
2
3
4
5

Alat/Bahan
Fungsi
Termometer digital
Mengukur temperatur perairan
Refraktometer
Mengukur salinitas
Current meter
Mengukur kecepatan arus
Mistar/meteran
Mengukur kedalaman
DO meter
Mengukur kandungan oksigen terlarut
Tabel 2. Alat pengukur kondisi lingkungan perairan lamun

NO
1
2
3
4
5

Alat/Bahan
Fungsi
Roll meter 100m
Untuk pembuatan transek
Sabak dan pensil
Untuk mencatat data
Buku identifikasi lamun
Untuk membantu identifikasi spesies lamun
Skin dive tools
Untuk mempermudah praktikum lapang
Transek kuadrat 1x1m
Untuk mengetahui keanekaragaman jenis lamun
Tabel 3. Alat dan Bahan Praktikum Lamun

Prosedur Kerja

LAMUN
Dicatat line transek sepanjang 30m ke arah laut (vertikal dari garis pantai)

Transek kuadrat diletakkan dalam setiap line transek dengan jarak @10m dengan peletakkan secara zig

Dilakukan pengulangan beberapa kali pada transek kuadrat disetiap stasiun untuk mendapatkan hasil yang
Diamati dan dicatat jenis-jenis lamun pada tiap transek
Dicatat hasil identifikasi
HASIL

3.3 TERUMBU KARANG


3.3.1
Alat dan Bahan
NO
1
2
3
4
5
6

No
1
2
3
4

Alat/Bahan
Fungsi
Termometer digital
Mengukur temperatur perairan
Refraktometer
Mengukur salinitas
Current meter
Mengukur kecepatan arus
Mistar/meteran
Mengukur kedalaman
DO meter
Mengukur kandungan oksigen terlarut
pH meter
Mengukur pH suatu perairan
Tabel 4. Alat pengukur kondisi lingkungan perairan terumbu karang
Alat/Bahan
Fungsi
Roll meter 100m
Untuk mengukur transek
Sabak dan pensil
Untuk mencatat data
Buku identifikasi karang
Untuk membantu identifikasi karang
Skin dive tools
Untuk membantu proses lapang
Tabel 5. Alat dan Bahan Praktikum terumbu karang

3.3.2

Prosedur Kerja

TERUMBU KARANG
Ditarik Line Intercept Transek (LIT) sepanjang 50m sejajar garis pantai
Dicatat kategori/bentuk pertumbuhan karang yang berada tepat di bawah garis transek

Diidentifikasi jenis karang yang ada di bawah transek


Dicatat dalam form lapang terumbu karang
Dicatat hasil identifikasi
HASIL

IV. DATA DAN HASIL PENGAMATAN


4.1 Data Pengamatan
4.1.1 Mangrove
Transek A

Ukuran

Jenis Mangrove

Jumlah

Diameter rata-

Pohon

rata

Xylocarpus molucensis

11

16,92 cm

Xylocarpus rumpii

11,73 cm

5x5m

Xylocarpus molucensis

5,003 cm

1x1m

Xylocarmus molucensis 1
0,911cm
Tabel 6. Data Lapang Mangrove

Transek
10x10m

Biota yang ditemukan adalah semut, ulat bulu, nyamuk, pandan, ketapang.
Transek B

Ukuran

Jenis Mangrove

Jumlah

Diameter rata-

Pohon

rata

Xylocarpus molucensis

15,2 cm

Barringtonia asiatica

40,4 cm

5x5m

Xylocarpus molucensis

5,732 cm

1x1m

Xylocarpus molucensis 1
0,745 cmm
Tabel 7. Data Lapang Mangrove

Transek
10x10m

Biota yang ditemukan adalah semut, nyamuk, pandan, ketapang.

Transek C

Ukuran

Jenis Mangrove

Jumlah

Diameter rata-

Pohon

rata

Xylocarpus molucensis

29,857 cm

Spesies A

50,285 cm

5x5m

Xylocarpus molucensis

3,43 cm

1x1m

Xylocarpus granatum
5
0,286 cm
Tabel 8. Data Lapang Mangrove

Transek
10x10m

Biota yang ditemukan adalah semut, kepiting, gastropoda dan ulat.


Transek D

Ukuran

Jenis Mangrove

Transek

Jumlah

Diameter rata-

Pohon

rata

10x10m

Xylocarpus granatum

19,43 cm

5x5m

Xylocarpus molucensis

7,8cm

1x1m

Bruguiera sp.
2
1 cm
Tabel 9. Data Lapang Mangrove

Biota yang ditemukan adalah kerang, keong, belalang, kepiting, semut.


Transek E

Ukuran

Jenis Mangrove

Transek

Jumlah

Diameter rata-

Pohon

rata

10x10m

Xylocarpus rumpii

18,46 cm

5x5m

Xylocarpus rumpii

6,8cm

Aegiceras corniculatum

5,7 cm

1x1m

Xylocarpus rumpii
2
0,9 cm
Tabel 10. Data Lapang Mangrove

Biota yang ditemukan adalah semut, kepiting, laba-laba.

Transek F

Ukuran

Jenis Mangrove

Transek

Jumlah

Diameter rata-

Pohon

rata

10x10m

5x5m

Rhizopora sp.

1,84 cm

Aegiceras corniculatum

1,87 cm

1x1m

Rhizopora articulata
1
1,75 cm
Tabel 11. Data Lapang Mangrove

4.1.2 Lamun
Hasil pengamatan lamun di pantai Kondang Merak adalah sebagai berikut :
Transek 1 :
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1 5 5 5 5 4 1
3 5 5 5 5 0 0
0 4 5 5 4 5 1
0 0 0 5 5 3 4
0 0 0 1 1 3 3
0 0 0 1 1 3 3
0 0 0 1 0 3 3
0 0 0 0 0 3 3
0 0 0 0 1 1 2
0 0 0 2 2 3 5
Tabel 12. Data lapang lamun

0
0
0
4
2
3
3
2
3
1

0
0
0
0
1
2
4
1
1
1

Transek 2 :
1
1
0
5
5
5
5
5
5
4

2 5 5 5 3 3 3
3 4 4 0 3 5 5
5 5 5 5 5 5 5
5 5 5 5 5 5 5
5 5 5 4 5 5 5
5 3 3 4 5 5 5
5 3 4 5 5 5 5
5 5 5 5 5 5 5
5 5 5 5 5 5 4
5 4 5 5 5 5 5
Tabel 13. Data lapang lamun

4
1
3
4
2
5
5
2
4
5

3
0
5
3
1
5
5
1
5
4

2
3
4
4
3
4
4
4
3
3

2 1 4 4 4 3 2
2 0 4 4 4 5 3
2 0 4 4 5 4 4
3 2 5 5 5 3 3
3 1 5 5 5 4 0
4 3 5 5 5 5 5
3 4 5 5 5 5 5
4 4 5 5 5 5 5
4 5 5 5 5 5 5
4 5 5 5 5 5 5
Tabel 14. Data lapang lamun

5
5
3
5
4
3
3
1
1
1

5
5
3
3
3
3
3
2
2
1

Transek 3 :

4.1.3 Terumbu Karang


Hasil pengamatan terumbu karang di pantai Kondang Merak adalah
sebagai berikut :

Intercept

Length (l)

Category

Tawal

Takhir

(m)

(Lifeform)

5,00

5,00

SD

5,00

6,22

1,22

CM

6,22

9,00

2,78

SD

9,00

15,00

6,00

CS

15,00

20,00

2,00

SD

20,00

30,00

10,00

OT

Tabel 15. Data lapang terumbu karang

TAKSON*

4.2 Perhitungan Dan Analisa Hasil Pengamatan


4.2.1 Mangrove
Lokasi : Stasiun 1 dan Stasiun 2
Spesies :
A = Xylocarpus molucensis
B = Xylocarpus rumpii
C = Xylocarpus granatum
D = Barringtonia asiatica
E = Aegiceras corniculatum
F = Bruguiera sp.
G = Rhizopora sp.
H = Rhizopora apiculata

luas area

100m2 (0,01ha)

Jumlahtransek

Pohon

Ha

belta

Ha

Semai

Ha

10

0,06

0,015

0,0006

Tabel 16. Luas transek

Stasiun 1
Transek Jenis

Pohon
Ind/10m2

1 (A)

2 (B)

11

Belta

Ind/ha

Rata-

(Di)

rata

183,3
3
16,67
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
66,67
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

Ind/5m2

Sema

Ind/ha

Rata

(Di)

-rata

(cm)

(cm)

16,9

2
11,73
15,2
-

1
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0

200,0
0
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
66,67
0,00
0,00
0,00
66,67
0,00
0,00

5,00

5,73
5,7
-

Ind/1m2

Ind/ha
(Di)

1 1

1666,6

0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
1
0
0

0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0

1666,6
0
0
0
0
0
0

3 (C)

0,00

16,67

29,8

0,00

6
-

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

0
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0

0,00
133,3
3
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

3,43

1 0

0 0

8333,3

0
0
0
0
0

5
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0

Tabel 17. Data Perhitungan mangrove

Stasiun 2
Transek

Jeni

Pohon

Belta

Sema

s
Ind/10m2

Ind/ha Rata(Di)

4 (D)

0,00
0,00
16,67
0,00
0,00
0,00

Ind/5m2

rata

Ind/ha

Rata

(Di)

-rata

(cm)

(cm)

19,43
-

0
0
1
0
0
0

4
0
0
0
0
0

266,67
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

9,02
-

Ind/1m2

Ind/ha
(Di)

1
0
0
0
0
0

0
0
0
0
0
2

0,00
0,00
0,00
0,00
0,00

3333,3

5 (E)

6 (F)

A
B

0
0

0,00
0,00
0,00
50,00
0,00
0,00
16,67
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
66,67
0,00
0,00
0,00

18,46
53
20
-

0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0

0
0
0
6
2
0
2
2
2
2
0
0
0
0
3
0
9
0

Tabel 18. Data Perhitungan mangrove

Kerapatan Jenis (Di)


Rumus Di = ni/A
Di = kerapatan jenis i
ni = Jumlah total tegakan dari jenis i

0,00
0,00
0,00
400,00
133,33
0,00
133,33
133,33
133,33
133,33
0,00
0,00
0,00
0,00
200,00
0,00
600,00
0,00

6,8
5
6
6,5
6,5
6,5
4
1,84
-

0
0
0
1
1
0
1
1
1
1

2
2
0
1
0
0
0
4
4
4

0
0 0
0
0
1
0
1
0

0
0
3
0
0
1

3333,3

3333,3
0,00

1666,6
0,00
0,00
0,00

6666,6

6666,6

6666,6
0,00
0,00
0,00
0,00

5000,0
0,00
0,00

1666,6

A = Luas total area pengambilan sampel


TINGKAT POHON

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

266,67

JENIS (A)

666,67

JENIS (A)

3333,33

JENIS (B)

100,00

JENIS (B)

400,00

JENIS (B)

0,00

JENIS (C)

16,67

JENIS (C)

133,33

JENIS (C)

8333,33

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

83,33

JENIS (E)

400,00

JENIS (E)

5000,00

JENIS (F)

0,00

JENIS (F)

133,33

JENIS (F)

10000,00

JENIS (G)

0,00

JENIS (G)

733,33

JENIS (G)

10000,00

JENIS (H)

0,00

JENIS (H)

133,33

JENIS (H)

11666,67

466,67

2600,00

48333,33

Tabel 19. Kerapatan jenis pohon


Kerapatan jenis pohon :
Jenis A: Di= 266,67

Jenis E: Di= 83,33

Jenis B: Di= 100,00

Jenis F: Di= 0,00

Jenis C: Di=16,67

Jenis G: Di= 0,00

Jenis D: Di=0,00

Jenis H: Di= 0,00

Total kerapatan jenis pohon adalah 266,67 + 100 + 16,67 + 0 + 83,33 + 0 + 0 + 0


= 466,67
Kerapatan Jenis Belta
Jenis A: Di= 666,67

Jenis E: Di= 400,00

Jenis B: Di= 400,00

Jenis F: Di= 133,33

Jenis C: Di=133,33

Jenis G: Di= 733,33

Jenis D: Di= 0,00

Jenis H: Di= 133,33

Total kerapatan jenis belta adalah 666,67 + 400 + 133,33 + 0 + 400 + 133,33 +
733,33 + 133,33 = 2600
Kerapatan Jenis Semai
Jenis A: Di= 3333,33

Jenis E: Di= 5000,00

Jenis B: Di= 0,00

Jenis F: Di= 10000,00

Jenis C: Di=8333,33

Jenis G: Di= 10000,00

Jenis D: Di=0,00

Jenis H: Di= 11666,67

Total kerapatan jenis semai adalah 3333,33 + 0 + 8333,33 + 0 + 5000 + 10000 +


10000 + 11666,67 = 48333,33

Kerapatan Relatif Jenis (Rdi) (%)

Rumus RDi=

jumla h tegakan jenis i


x 100
jumla h tegakan seluru h jenis

TINGKAT POHON

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

57,14

JENIS (A)

25,64

JENIS (A)

6,90

JENIS (B)

21,43

JENIS (B)

15,38

JENIS (B)

0,00

JENIS (C)

3,57

JENIS (C)

5,13

JENIS (C)

17,24

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

17,86

JENIS (E)

15,38

JENIS (E)

10,34

JENIS (F)

0,00

JENIS (F)

5,13

JENIS (F)

20,69

JENIS (G)

0,00

JENIS (G)

28,21

JENIS (G)

20,69

JENIS (H)

0,00

JENIS (H)

5,13

JENIS (H)

24,14

100,00

100,00

100,00

Tabel 20. Kerapatan relatif jenis


Kerapatan relatif jenis pohon :
Jenis A: RDi= 57,14%

Jenis E: RDi= 17,86%

Jenis B: RDi= 21,43%

Jenis F: RDi= 0

Jenis C: RDi= 3,57%

Jenis G: RDi= 0

Jenis D: RDi= 0

Jenis H: RDi= 0

Total kerapatan relatif jenis pohon adalah (57,14 + 21,43 + 3,57 + 0 + 17,86 + 0 +
0 + 0)% = 100 %

Kerapatan relatif jenis belta :

Jenis A: RDi= 25,64%

Jenis E: RDi= 15,38%

Jenis B: RDi= 15,43%

Jenis F: RDi= 5,13%

Jenis C: RDi=5,13%

Jenis G: RDi= 28,21%

Jenis D: RDi=0

Jenis H: RDi= 5,13%

Total kerapatan relatif jenis belta adalah (25,64 + 15,43 + 5,13 + 0 + 15,38 + 5,13
+ 28,21 + 5,13) % = 100 %
Kerapatan relatif jenis semai :
Jenis A: Di=6,90%

Jenis E: Di= 10,34%

Jenis B: Di= 0

Jenis F: Di= 20,69%

Jenis C: Di=17,24%

Jenis G: Di= 20,69%

Jenis D: Di=0

Jenis H: Di= 24,14%

Total kerapatan relatif jenis semai adalah (6,90 + 0 + 17,24 + 0 + 10,34 + 20,69 +
20,69 + 24,14) % = 100 %

Frekuensi Jenis (Fi)

Rumus Fi =

jumla h petak sampel ditemukan jenis i


jumla htotal sampel yang diamati

TINGKAT POHON

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

JENIS (A)

1,5

JENIS (A)

JENIS (B)

JENIS (B)

JENIS (B)

JENIS (C)

JENIS (C)

JENIS (C)

JENIS (D)

JENIS (D)

JENIS (D)

JENIS (E)

JENIS (E)

JENIS (E)

JENIS (F)

JENIS (F)

JENIS (F)

JENIS (G)

JENIS (G)

JENIS (G)

JENIS (H)

JENIS (H)

JENIS (H)

14

30,5

29

Tabel 21. Frekuensi jenis


Frekuensi jenis pohon
Jenis A: Fi= 2

Jenis E: Fi= 3

Jenis B: Fi= 3

Jenis F: Fi= 0

Jenis C: Fi=6

Jenis G: Fi= 0

Jenis D: Fi=0

Jenis H: Fi= 0

Total frekuensi jenis pohon adalah 2 + 3 + 6 + 0 + 3 + 0 + 0 + 0 = 14

Frekuensi Jenis Belta

Jenis A: Fi= 1,5

Jenis E: Fi= 2

Jenis B: Fi= 6

Jenis F: Fi= 6

Jenis C: Fi= 6

Jenis G: Fi= 3

Jenis D: Fi= 0

Jenis H: Fi= 6

Total frekuensi jenis belta adalah 1,5 + 6 + 6 + 0 + 2 + 6 + 3 + 6 = 30,5


Frekuensi Jenis Semai
Jenis A: Fi= 3

Jenis E: Fi= 6

Jenis B: Fi= 6

Jenis F: Fi= 3

Jenis C: Fi= 6

Jenis G: Fi= 3

Jenis D: Fi= 0

Jenis H: Fi= 2

Total frekuensi jenis semmai adalah 3 + 6 + 6 + 0 + 6 + 3 + 3 + 2 = 29

Frekuensi Relatif Jenis (RFi) (%)

Frekuensi jenis i
Rumus RFi = t otal frekuensi seluru h jenis

TINGKAT POHON

X 100

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

14,29

JENIS (A)

4,92

JENIS (A)

10,34

JENIS (B)

21,43

JENIS (B)

19,67

JENIS (B)

20,69

JENIS (C)

42,86

JENIS (C)

19,67

JENIS (C)

20,69

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

21,43

JENIS (E)

6,56

JENIS (E)

20,69

JENIS (F)

0,00

JENIS (F)

19,67

JENIS (F)

10,34

JENIS (G)

0,00

JENIS (G)

9,84

JENIS (G)

10,34

JENIS (H)

0,00

JENIS (H)

19,67

JENIS (H)

6,90

100,00

100,00

100,00

Tabel 22. Frekuensi relatif jenis


Frekuensi relatif jenis pohon
Jenis A: RFi= 14,29%

Jenis E: RFi= 21,43%

Jenis B: RFi= 21,43%

Jenis F: RFi= 0

Jenis C: RFi= 42,86%

Jenis G: RFi= 0

Jenis D: RFi= 0

Jenis H: RFi= 0

Total frekuensi relatif jenis pohon adalah (14,29 + 21,43 + 42,86 + 21,43 + 0 + 0
+ 0) % = 100 %

Frekuensi relatif jenis belta

Jenis A: RFi= 4,92%

Jenis E: RFi= 6.56%

Jenis B: RFi= 19,67%

Jenis F: RFi= 19,67%

Jenis C: RFi= 19,67%

Jenis G: RFi= 9,84%

Jenis D: RFi= 0

Jenis H: RFi= 19,67%

Total frekuensi relatif jenis belta adalah (4,92 + 19,67 + 19,67 + 0 + 6,56 + 19,67
+ 9,84 + 19,67) %= 100 %
Frekuensi relatif jenis semai
Jenis A: RFi= 10,34%

Jenis E: RFi= 20,69%

Jenis B: RFi= 20,69%

Jenis F: RFi= 10,34%

Jenis C: RFi= 20,69%

Jenis G: RFi= 10,34%

Jenis D: RFi= 0

Jenis H: RFi= 6,90%

Total frekuensi relatif jenis semai adalah (10,34 + 20,69 + 20,69 + 0 + 20,69 +
10,34 + 10,34 + 6,9) % = 100 %

Penutupan Jenis (Pji)

Rumus PJi =

DBH 2
)
4
A

DBH = diameter pohon jenis i


A

= Luas area (pohon/belta/semai)


TINGKAT POHON

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

50259,89

JENIS (A)

28119,35

JENIS (A)

3605,24

JENIS (B)

1800,17

JENIS (B)

2419,89

JENIS (B)

1059,75

JENIS (C)

4939,28

JENIS (C)

1308,33

JENIS (C)

110,03

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

69721,08

JENIS (E)

12899,64

JENIS (E)

837,33

JENIS (F)

0,00

JENIS (F)

2211,08

JENIS (F)

4006,77

JENIS (G)

0,00

JENIS (G)

3640,08

JENIS (G)

1308,33

JENIS (H)

0,00

JENIS (H)

2211,08

JENIS (H)

16027,08

26954,55

126720,43

52809,46

Tabel 23. Penutupan jenis


Penutupan Jenis Pohon
Jenis A: PJi= 50,259,89

Jenis E: PJi= 69721,08

Jenis B: PJi= 1800,17

Jenis F: PJi= 0

Jenis C: PJi= 4939,28

Jenis G: PJi= 0

Jenis D: PJi= 0

Jenis H: PJi= 0

Total penutupan jenis pohon adalah 50,259,89 + 1800,17 + 4939,28 + 0 +


69721,08 + 0 + 0 + 0 = 126720,43

Penutupan Jenis Belta


Jenis A: PJi= 28119,35

Jenis E: PJi= 12899,64

Jenis B: PJi= 2419,89

Jenis F: PJi= 2211,08

Jenis C: PJi= 1308,33

Jenis G: PJi= 3640,08

Jenis D: PJi= 0

Jenis H: PJi= 2211,08

Total penutupan relatif jenis belta adalah 28119,35 + 2419,89 + 1308,33 + 0 +


12899,64 + 2211,08 + 3640,08 + 2211,08 = 52809,45
Penutupan jenis semai
Jenis A: PJi= 3605,24

Jenis E: PJi= 837,33

Jenis B: PJi= 1059,75

Jenis F: PJi= 4006,77

Jenis C: PJi= 110,03

Jenis G: PJi= 1308,33

Jenis D: PJi= 0

Jenis H: PJi= 16027,08

Total penutupan jenis semai adalah 3605,24 + 1059,75 + 110,03 + 0 + 837,33 +


4006,77 + 1308,33 + 16027,08 =26954,55

Penutupan Relatif Jenis (RPji) (%)

luas area penutupan suatu jenis i


RumusRPJi= luas total area penutupan untuk seluru h wilayah

x 100

Tabel 18
TINGKAT POHON

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

39,66

JENIS (A)

53,25

JENIS (A)

13,38

JENIS (B)

1,42

JENIS (B)

4,58

JENIS (B)

3,93

JENIS (C)

3,90

JENIS (C)

2,48

JENIS (C)

0,41

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

55,02

JENIS (E)

24,43

JENIS (E)

3,11

JENIS (F)

0,00

JENIS (F)

4,19

JENIS (F)

14,86

JENIS (G)

0,00

JENIS (G)

6,89

JENIS (G)

4,85

JENIS (H)

0,00

JENIS (H)

4,19

JENIS (H)

59,46

100,00

100,00

100,00

Tabel 24. Penutupan relatif jenis


Penutupan relatif jenis pohon :
Jenis A: RPJi=39,66

Jenis E: RPJi= 55,02

Jenis B: RPJi= 1,42

Jenis F: RPJi= 0

Jenis C: RPJi= 3,90

Jenis G: RPJi= 0

Jenis D: RPJi= 0

Jenis H: RPJi= 0

Total penutupan relatif jenis pohon adalah (39,66 + 1,42 + 3,90 + 0 + 55,02 + 0 +
0 + 0) % = 100 %
Penutupan relatif jenis belta
Jenis A: RPJi= 53,25

Jenis E: RPJi= 24,43

Jenis B: RPJi= 4,58

Jenis F: RPJi= 4,19

Jenis C: RPJi= 2,48

Jenis G: RPJi= 6,89

Jenis D: RPJi= 0

Jenis H: RPJi= 4,19

Total penutupan relatif jenis belta adalah (53,25 + 4,58 + 2,48 + 0 + 24,43 + 4,19
+ 6,89 + 4,19) % = 100 %
Penutupan relatif jenis semai
Jenis A: RPJi= 13,38

Jenis E: RPJi= 3,11

Jenis B: RPJi= 3,93

Jenis F: RPJi= 14,86

Jenis C: RPJi= 0,41

Jenis G: RPJi= 4,85

Jenis D: RPJi= 0

Jenis H: RPJi= 59,45

Total penutupan relatif jenis semai adalah (13,38 + 3,93 + 0,41 + 0 + 3,11 + 14,86
+ 4,85 + 59,45) % = 100%

Nilai Penting Jenis (INPi)


Rumus INPi = Rdi + Rfi + RPji
TINGKAT POHON

TINGKAT BELTA

TINGKAT SEMAI

JENIS (A)

111,09

JENIS (A)

83,81

JENIS (A)

30,62

JENIS (B)

44,28

JENIS (B)

39,64

JENIS (B)

24,62

JENIS (C)

50,33

JENIS (C)

27,28

JENIS (C)

38,34

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

94,31

JENIS (E)

46,37

JENIS (E)

34,14

JENIS (F)

0,00

JENIS (F)

28,99

JENIS (F)

45,90

JENIS (G)

0,00

JENIS (G)

44,93

JENIS (G)

35,89

JENIS (H)

0,00

JENIS (H)

28,99

JENIS (H)

90,49

300,00

300,00

300,00

Tabel 25. Nilai penting jenis


Nilai penting jenis pohon
Jenis A: INPi= 111,09

Jenis E: INPi= 94,31

Jenis B: INPi= 44,28

Jenis F: INPi= 0

Jenis C: INPi= 50,33

Jenis G: INPi= 0

Jenis D: INPi= 0

Jenis H: INPi= 0

Total nilai penting jenis pohon adalah 111,09 + 44,28 + 50,33 + 0 + 94,31 + 0 + 0
+ 0 = 300

Nilai penting jenis belta

Jenis A: INPi= 83,81

Jenis E: INPi= 46,37

Jenis B: INPi= 39,64

Jenis F: INPi= 28,99

Jenis C: INPi= 27,28

Jenis G: INPi= 44,93

Jenis D: INPi= 0

Jenis H: INPi= 28,99

Total nilai penting jenis belta adalah 83,81 + 39,64 + 27,28 + 0 + 46,37 + 28,99 +
44,93 + 28,99 = 300
Nilai penting jenis semai
Jenis A: INPi= 30,62

Jenis E: INPi= 34,14

Jenis B: INPi= 24,62

Jenis F: INPi= 25,90

Jenis C: INPi= 38,34

Jenis G: INPi= 35,89

Jenis D: INPi= 0

Jenis H: INPi= 90,49

Total nilai penting jenis semai adalah 30,62 + 24,62 + 38,34 + 0 + 34,14 + 25,90
+ 35,89 + 90,49 = 300

Nilai penting tiap spesies


Spesies

Nilai penting

JENIS (A)

225,51

JENIS (B)

108,54

JENIS (C)

115,94

JENIS (D)

0,00

JENIS (E)

174,82

JENIS (F)

74,89

JENIS (G)

80,82

JENIS (H)

119,48

900,00
Tabel 26. Nilai penting tiap spesies

Analisa
Berdasarkan pada nilai penting jenis dari setiap jenis mangrove pada
stasiun 1 dan 2 dapat diketahui peranan dan pengaruh jenis tersebut dalam
komunitasnya. Dari tabel diatas dapat diketahui spesies yang paling berpengaruh
di ekosistem mangrove pada stasiun 1 dan 2 adalah jenis Xylocarpus
moluccensis.

4.2.2 Lamun
1

Transek 1

Kelas

Frekuensi

Nilai

Mxf

(f)

tengah (M)

14

75

1050

37,5

225

14

18,75

26,25

9,38

56,28

15

3,13

46,95

45

Jumlah

100
1404,48
Tabel 27. Transek 1 lamun

Penutupan transek 1 :

C1 =

( M x f ) x 100
F

(1404,48 ) x 100

7500

= 18,73%
2

Transek 2

Kelas

Frekuens

Nilai tengah

i (f)

(M)
64

75

Mxf

4800

13

37,5

487,5

12

18,75

225

9,38

28,14

3,13

15,65

Jumlah

100

5556,2
9

Tabel 28. Transek 2 lamun


Penutupan transek 2 :

C2 =

( M x f ) x 100
F

(5556,29 ) x 100

7500

= 74,08%
3

Transek 3

Kelas

Frekuens

Nilai tengah

i (f)

(M)

Mxf

42

75

3208

21

37,5

787,5

20

18,75

375

9,38

75,04

3,13

187,8

Jumlah

100

4633,3
4

Tabel 29. Transek 3 lamun


Penutupan transek 3 :

C3 =

( M x f ) x 100
F

( 4633,34 ) x 100
7500

=61,78%

Rata-rata ketiga transek

C=

C 1+C 2+C 3
3

18,73+74,08+ 61,78
3

154,61
=
3

= 51,53%
Analisa
Berdasarkan pada persentase rata-rata penutupan lamun bernilai 51,52%.

4.2.3 Terumbu Karang

Persentase Penutupan=

Total Panjang Kategori


x 10 0
Panjang Transek

5+2,78+5
x 100
30

SD =

= 42,6%

1,22
x 100
30

CM =

= 4,07%

6
x 100
30

CS =

= 20%

10
x 100
30

OT =

= 33,3%
Analisa
Persentasi penutupan terumbu karang di pantai Kondang Merak adalah
4,07% dan 20%

V. KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum lapang Ekologi Laut Tropis diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :

Ekosistem mangrove di Kondang Merak didominasi oleh spesies


Xylocarpus moluccensi, sehingga spesies tersebut mempengaruhi
spesies lainnya.
Persentase rata-rata penutupan lamun pada transek 1,2, dan 3

sebesar 51,53%
Persentase penutupan terumbu karang di pantai Kondang Merak
adalah 4,07% dan 20%

5.2 Saran
Berdasarkan pada pentingnya ekosistem mangrove, lamun dan terumbu
karang, kami berharap agar kelangsungan siklus hidup ekosistem tersebut agar
dipelihara dan dijaga oleh masyarakat dan pemerintah, demi pertumbuhan
selanjutnya dan kelangsungan hidup biota yang hidup didalamnya. Ketiga
ekosistem tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA
Anneahira, 2013.Rantai makanan Di Laut.www.anneahira.com/rantai-makanandi-laut-1052.htm diakses pada tanggal 5 Desember 2015.
Aziz, Ikhsan Abdul. 2010. Keterkaitan Komunitas Makrozoobentos dengan
Ekosistem Lamun di Kawasan Rehabilitasi Lamun Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu. Institut Pertanian Bogor : Bogor
Aziz. 2013. Pengaruh Salinitas Terhadap Sebaran Fauna Echinodermata.
http://www.oseanografi.lipi.go.id// diakses pada tanggal 5 desember 2015
Pkl, 12.00 WIB
Bayue, 2013. Contoh Rantai Makanan Dilaut. http://articara.com/tips/contohranta-makanan-dilautdiakses pada 5 desember 2015 pukul 06.00 WIB
Dedi. 2007. Interaksi Dampak Manusia. http://web.ipb.ac.id// diakses pada
tanggal 5 desember 2015. Pkl. 12.10 WIB
Google Image.2014. http://www.googleimage.com// diakses tanffal 5 desember
2015 pukul 12.00 WIB
Green, P. E dan Short, F. T. 2003. World Atlas of Seagras. Prepared by the
UIMEP World Conservation Monitoring Centre.University of California
Press, Barkely, USA
Hartog, C.den.1970. Seagrass Of The World. North-Holland Publ.Co.,Amsterdam
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nontji, Anugerah. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta.
Nybakken, J .W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologi.
Nyibakken, J. W. 1993. Marine Biology : An Ecology Approach (third edition).
Harper Collins Collage Publis. New York
Romimohtatrto,2009. Biologi Laut. penerbit Djambatan : Jakarta

Rusdianti, Konny dan Satyawan Sunito.2012. Konversi Lahan Hutan Mangrove


Serta Upaya Penduduk Lokal Dalam Merehabilitasi Ekosistem Mangrove.
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor : BOGOR
Sahri, Darlis dan Jusman Muktar. 2008. Terumbu Karang. SMK Sandakan
Sunarto. 2008. Peranan Cahaya Dalam Proses Produksi Di Laut.
http://pustaka.unpad.ac.id// diakses pada tanggal 6 desember 2015 pukul
13.00 WIB
Warman, Indra. 2013. Kerusakan Terumbu Karang, Mangrove dan Padang
Lamun Ancaman terhadap Sumberdaya Ikan