Anda di halaman 1dari 4

Keberadaan MEA bagi Profesi Dokter di Indonesia

Oleh: I Gusti Ayu Sherlyta


41150072

Di awal tahun 2016 ini topik mengenai MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) masih
marak diperbincangkan. Hal ini ditandai dengan banyaknya berita yang mengangkat topik
Masyarakat Ekonomi ASEAN diberlakukan di Indonesia sejak tahun 2015. Para anggota
ASEAN termasuk Indonesia telah menyepakati suatu perjanjian Masyarakat Ekonomi
ASEAN tersebut. Masyarakat Ekonomi ASEAN sendiri adalah istilah yang hadir dalam
Indonesia tetapi pada dasarnya MEA itu sama saja dengan AEC atau ASEAN ECONOMIC
COMMUNITY. Istilah MEA di Indonesia masih terdengar asing untuk sebagian besar
masyarakat, baik pada kalangan menengah atau menengah ke bawah. Tidak terlalu banyak
yang tahu dengan pasti, apakah yang dimaksud dengan MEA? MEA adalah sebuah pasar
tunggal yang bertujuan untuk menghilangkan, jika tidak, meminimalisasi hambatan-hambatan
di dalam melakkan kegiatan ekonomi lintas kawasan yang disetujui oleh negara-negara di
ASEAN pada dekade lalu. Masyarakat Ekonomi ASEAN dilakukan agar daya asing ASEAN
meningkat. MEA tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar
tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya yang memiliki
kebebasan bekerja di negara Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, MEA
secara langsung akan memengaruhi kualitas tenaga ahli di Indonesia. Dengan dibetnuknya
MEA ini diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah di bidang ekonomi antar negara
ASEAN. Untuk dapat memantapkan serta memaksimalkan dampak positif yang dapat
diperoleh melalui MEA, masyarakat Indonesia perlu memiliki persiapan yang matang.
Keberadaan MEA menjadi babak awal yang dimanfaatkan Indonesia untuk
mengembangkan berbagai kualitas perekonomian di kawasan Asia Tenggara dalam
perkembangan pasar bebas. MEA menjadi dua sisi mata uang bagi Indonesia karena satu sisi
menjadi kesempatan yang baik untuk menunjukkan kualitas dan kuantitas produk dan sumber
daya manusia (SDM) Indonesia kepada negara-negara lain dengan terbuka, tetapi di sisi yang
lain dapat memberikan dampak negatif jika Indonesia tidak dapat memanfaatkan perannya
dalam MEA dengan baik. Dilihat dari kata Masyarakat Ekonomi ASEAN, ini berarti yang
berperan di MEA tidak hanya Negara Indonesia saja akan tetapi beberapa negara yang

tergabung dalam ASEAN. Hal ini berarti Negara Indonesia perlu menyadari keberadaan
negara-negara lain yang dapat menyaingi pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia. Sampai
saat ini masih banyak kalangan yang merasa ragu dengan kesiapan Indonesia dalam
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Dari sekian banyak negara ASEAN, Indonesia
adalah negara berpenduduk terbesar, yakni 250juta orang atau 40% dari penduduk ASEAN.
Jumlah ini menandakan Indonesia merupakan potensi pasar terbesar sekaligus pemilik
sumber daya manusia terbanyak di ASEAN. Apakah dengan jumlah penduduk terbesar ini
dapat menjadikan Indonesia sebagai penguasa pasar ASEAN atau justru menjadi pasar yang
dikuasai oleh negara-negara di Asia Tenggara.
Salah satu profesi yang diharuskan bersaing pada era MEA ini adalah tenaga
kesehatan karena suka tidak suka bidang kesehatan pasti akan terimbas kenyataan era MEA
ini. Tenaga kesehatan yang banyak disoroti dengan adanya era MEA ini yakni dokter beserta
pendidikan dokter yang berada di Indonesia. Dokter di Indonesia adalah tenaga kesehatan
yang memiliki tugas untuk melayani masyarakat di Indonesia. Tentu kita sepakat bahwa
dokter adalah mereka yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang sakit.
Namun, tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Sebab, untuk
menjadi dokter, dibutuhkan pendidikan khusus agar profesional dengan diberi gelar dari
lembaga pendidikannya. Gelar dokter itu semakin menarik dan membanggakan karena di
masyarakat, hanya dokter yang dipanggil dengan menyebut gelar pendidikan tersebut.
Dampak dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mempengaruhi kinerja dokter akan
berimbas pada pelayanan masyarakat di Indonesia. Dari sudut pandang optimis, MEA adalah
kesempatan bagi kalangan medis Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan daya saingnya
sehingga tetap diperhitungkan oleh konsumen kesehatan Indonesia. Adapun dari sudut
pandang pesimisnya adalah tersingkirnya dokter dan tenaga kesehatan Indonesia dari arena
pelayanan kesehatan.
Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN di Indonesia menimbulkan berbagai
dampak bagi tenaga kesehatan (dokter). Dengan adanya ketentuan MEA, dikhawatirkan para
dokter asing yang menawarkan jasa keahlian tertentu akan datang ke Indonesia. Hal ini dapat
menimbulkan dampak negatif yang lebih besar yaitu tidak bisanya bersaing para dokter di
Indonesia dengan dokter asing yang kemudian akan memunculkan perusahaan asing di
bidang kesehatan. Jika dokter asing masuk dalam pendirian perusahaan dan bukan hanya
sekedar untuk praktik saja, dikhawatirkan hal ini bukan bertujuan untuk memberi
kemakmuran masyarakat, melainkan hanya untuk berbisnis dan mencari keuntungan.

Masuknya pihak asing tidak dapat menjamin meningkatnya derajat kesehatan di Indonesia.
Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas, Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga
kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Permasalahan yang memicu
dampak negatif tidak terlepas dari kualitas yang rendah, seperti tingkat pendidikan dan
keahlian yang belum memadahi. Disisi lain yang menjadi dampak positif dari MEA terhadap
profesi dokter yakni peluang yang sangat besar untuk mengisi lapangan pekerjaan yang
semakin luas terbuka. Di samping berbagai dampak yang diberikan oleh MEA, yang harus
ditekankan adalah kepentingan pasien harus didahulukan di atas segalanya. Sebagai
manusia, semua pasien tanpa kecuali berhak untuk memperoleh pelayanan dan perawatan
yang terbaik dari dokter. Indonesia sendiri harus memperhatikan kualitas dari dokter asing
yang masuk ke Indonesia untuk melakukan pelayanan kesehatan di negara ini. Tak hanya
kualitas kemampuan dalam melakukan pengobatan tetapi perlu juga memperhatikan
kemampuan dokter asing untuk memadukan pendekatan humanistik terhadap pasien yang
disertai dengan profesionalisme tinggi dan pertimbangan etika. Ada tidaknya empati, akan
sangat berpengaruh dalam persepsi pasien mengenai kualitas pengobatan yang diterimanya.
Untuk menghindari dokter asing yang masuk ke Indonesia hanya untuk mencari keuntungan
maka Indonesia perlu memberikan aturan-aturan tegas. Dokter asing hanya boleh masuk ke
lapangan pekerjaan di Indonesia jika bidang yang dikuasainya tidak ada di negara ini,
diharuskan melakukan proses transfer pengetahuan atau teknologi sehingga hanya boleh
bekerja di rumah sakit yang mengemban fungsi pendidikan, serta dokter asing melakukan
perjanjian bahwa dokter Indonesia juga boleh praktik di negara asal dokter tersebut. Hal-hal
tersebut merupakan aturan yang dapat diterapkan sehingga akan mengurangi dampak negatif
yang diakibatkan oleh MEA. Pengaturan ini diperlukan untuk menjaga agar profesi
kedokteran di era pasar bebas tetap menjamin rakyat atau pasien terlindung dari praktikpraktik yang merugikan.
Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan suatu perjanjian ekonomi yang pastinya
memperhatikan kesejahteraan ekonomi pada berbagai negara. Meskipun hal terkait ekonomi
negara merupakan hal yang penting, jika MEA dikaitkan dengan profesi kedokteran yang
merupakan profesi dalam pelayanan pasien, kepentingan kesehatan pasienlah yang
merupakan hal terpenting. Dengan memperhatikan kepentingan pasien, para dokter baik asing
maupun dalam negeri dapat melakukan kerja sama yang memberikan dampak positif bagi
kehidupan pasien. Kerja sama yang dilakukan juga menjadikan hubungan yang positif antar
negara di Asia Tenggara. Jadi, peran para profesi dokter harus senantiasa dikaitkan dengan

aturan yang ditetapkan untuk tercapainya tujuan pelayanan pasien dan meminimalkan
dampak negatif diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN di Indonesia ini.